• Tidak ada hasil yang ditemukan

IRIGASI TETES PADA BUDIDAYA TANAMAN CABA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IRIGASI TETES PADA BUDIDAYA TANAMAN CABA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

IRIGASI TETES PADA BUDIDAYA TANAMAN CABAI

(Capsicum annum)

OLEH:

TOMI FUSANTO

1000854211007

FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN AGROTEKNOLOGI

UNIVERSITAS BATANGHARI

JAMBI

(2)

IRIGASI TETES PADA BUDIDAYA TANAMAN CABAI

(Capsicum annum)

KARYA ILMIAH I

OLEH:

TOMI FUSANTO 1000854211007

DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN

STUDI TINGKAT SARJANA PADA FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BATANGHARI

Mengetahui :

Ketua Program Studi Agroteknologi Dosen Pembimbing

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang tiada henti-hentinya

memberi hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah I yang

berjudul “Irigasi Tetes Pada Budidaya Tanaman Cabai (Capsicum annum)”, yang merupakan salah satu mata kuliah yang harus diselesaikan pada Fakultas Pertanian

Universitas Batanghari.

Pada kesempatan ini penulis banyak terima kasih kepada Bapak Ir. Nasamsir,

MP. Selaku dosen pembimbing yang telah membantu dalam menyusun Karya Ilmiah

I ini.

Penulis sepenuhnya menyadari bahwa Karya Ilmiah I ini sangat jauh dari

kesempurnaan. Untuk kritik dan saran sangatlah penulis harapkan guna

kesempurnaan lebih lanjut.

Jambi, Juni 2014

(4)

DAFTAR ISI

II. RUANG LINGKUP DAN MANFAAT IRIGASI TETES ... 3

2.1. Ruang Lingkup Irigasi Tetes ... 3

2.2. Keuntungan dan Kerugian Irigasi Tetes ... 7

2.3. Metode Irigasi Tetes ... 8

III. KOMPONEN IRIGASI TETES ... 10

IV. IRIGASI TETES PADA TANAMAN CABAI ... 14

4.1. Morfologi Tanaman Cabai ... 14

4.2. Syarat Tumbuh Tanaman ... 15

4.3. Kadar Air Optimum ... 17

4.4. Distribusi Air Dalam Tanah ... 19

V. KESIMPULAN ... 20

(5)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

1. Kelembaban Tanah Pada Setiap Interval Pemberian Air Pada Tanaman Cabai .. 18

(6)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

1. Irigasi Tetes ... 6

(7)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bagi negara agraris seperti Indonesia, irigasi adalah prasarana yang cukup

menentukan dalam pembangunan pertanian. Irigasi didefinisikan sebagai usaha

penambahan air pada tanah dengan tujuan memelihara dan menambah kelembaban tanah

sesuai dengan kebutuhan tanaman untuk pertumbuhannya. Jumlah air yang diberikan

tergantung kepada kebutuhan tanaman dan curah hujan di daerah tersebut. Pada prakteknya

penambahan air hanya dilakukan bilamana penambahan air secara alami tidak mencukupi

kebutuhan tanaman (Sumarna, 1998)

Air itu sendiri di dalam tanaman berada dalam keadaan aliran yang kontinyu.

Selama pertumbuhannya tanaman terus-menerus mengabsorpsi air dari tanah dan

mengeluarkan pada saat transpirasi. Ketersediaan air secara langsung mempengaruhi proses

fisiologi yang terjadi di dalam sel-sel tanaman. Adanya defisit air walaupun ringan dapat

menghambat proses fisiologi tersebut, sehingga laju pertumbuhan di bawah normal. Defisit

air yang terus menerus dapat menyebabkan kelayuan pada tanaman yang tidak dapat balik

(irreversible) dan mengakibatkan kematian.

Suatu kenyataan di Indonesia menunjukkan, bahwa dengan perkembangan

teknologi pertanian yang sangat pesat menyebabkan kebutuhan air irigasi menjadi besar,

keadaan dimana air sangat berharga menyebabkan sistem irigasi yang efisien sangat

dibutuhkan (Sumarna, 1998)

Irigasi tetes adalah sistem untuk memasok air (dan pupuk) tersaring ke dalam tanah

(8)

tekanan rendah. Air akan menyebar di tanah baik ke samping maupun ke bawah karena

gaya kapiler dan gravitasi. Bentuk sebarannya tergantung pada jenis tanah, kelembaban,

permeabilitas tanah dan jenis tanaman. Cocok untuk tanaman buah-buahan dan

sayur-sayuran (Ilyas dan Mansur, 2013)

Sistem irigasi tetes dapat menghemat pemakaian air, karena dapat meminimumkan

kehilangan-kehilangan air yang mungkin terjadi seperti perkolasi, evaporasi dan aliran

permukaan, sehingga memadai untuk diterapkan di daerah pertanian yang mempunyai

sumber air yang terbatas. Irigasi tetes pada umumnya digunakan untuk tanaman-tanaman

bernilai ekonomi tinggi, termasuk tanaman cabai. Hal ini sejalan dengan diperlukannya

biaya awal yang cukup tinggi, akan tetapi untuk biaya produksi selanjutnya akan lebih kecil

karena sistem irigasi tetes dapat menghemat biaya pengadaan peralatan yang biasanya

dapat digunakan untuk beberapa kali musim tanam serta menghemat biaya tenaga kerja

untuk penyiraman, pemupukan dan penyiangan (Sumarna, 1998)

1.2Tujuan Penulisan

Karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui manfaat irigasi tetes pada budidaya

tanaman cabai (Capsicum annum).

1.3 Batasan Masalah

Karya ilmiah ini membahas tentang irigasi tetes pada budidaya tanaman cabai,

aspek-aspek yang di bahas adalah tentang komponen irigasi tetes dan manfaat irigasi tetes

(9)

II. RUANG LINGKUP IRIGASI DAN MANFAAT IRIGASI TETES

2.1. Ruang Lingkup Irigasi Tetes

Menurut Kartasapoetra dan Sutedjo (1994), irigasi adalah kegiatan penyediaan dan

pengaturan air untuk memenuhi kepentingan pertanian dengan memanfaatkan air yang

berasal dari air permukaan dan air tanah.

Pengaturan irigasi (pengairan pertanian) akan menjangkau beberapa tahapan

pekerjaan atau bidang sebagai berikut:

a. Pengembangan sumber air dan penyediaan air bagi keperluan usaha tani,

b. Penyaluran air irigasi dari sumbernya ke daerah atau lahan-lahan usaha tani,

c. Pembagian dan pemberian air di daerah atau lahan-lahan usaha tani,

d. Pengaliran dan pembuangan air yang melimpah dari daerah pertanian.

Yang kesemuanya mempunyai tujuan utama yaitu membasahi tanah guna

menciptakan keadaan lembab sekitar daerah perakaran agar tanaman tumbuh dengan baik

dengan tercukupi kebutuhan airnya. Selain itu dengan terairinya lahan pertanian dengan

baik akan di peroleh manfaat dan kemudahan sebagai berikut:

a. Pengolahan tanah bagi pertanaman akan mudah dan ringan dalam pelaksanaannya,

b. Tanaman pengganggu (gulma) akan mudah dalam pemberantasannya,

c. Pengaturan temperatur tanah dapat berlangsung sesuai dengan yang dikehendaki

tanaman,

d. Berlangsungnya perbaikan dan peningkatan kesuburan tanah,

(10)

Menurut Akhmad (2013), dalam perkembangannya irigasi dibagi tiga tipe, yaitu:

a. Irigasi Sistem Gravitatif

Irigasi gravitasi merupakan sistem irigasi yang telah lama dikenal dan diterapkan dalam

kegiatan usaha tani. Dalam sistem irigasi ini, sumber air diambil dari air yang ada di

permukaan bumi yaitu dari sungai, waduk dan danau di dataran tinggi. Pengaturan dan

pembagian air irigasi menuju ke petak-petak yang membutuhkan, dilakukan secara

gravitatif.

b. Irigasi Sistem Pompa

Sistem irigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan, apabila pengambilan secara

gravitatif ternyata tidak layak dari segi ekonomi maupun teknik. Cara ini membutuhkan

modal kecil, namun memerlukan biaya ekspoitasi yang besar.

c. Irigasi Pasang Surut

Yang dimaksud dengan sistem irigasi pasang surut adalah suatu tipe irigasi yang

memanfaatkan pengempangan air sungai akibat peristiwa pasang surut air laut. Areal

yang direncanakan untuk tipe irigasi ini adalah areal yang mendapatkan pengaruh

langsung dari peristiwa pasang surut air laut.

Menurut Sudjarwadi (1990) dalam Temang (2013), ditinjau dari proses penyediaan,

pemberian, pengelolaan dan pengaturan air, sistem irigasi dapat dikelompokkan menjadi 3

(11)

1. Sistem Irigasi Permukaan

Sistem irigasi permukaan terjadi dengan menyebarkan air ke permukaan tanah dan

membiarkan air meresap (infiltrasi) ke dalam tanah. Air dibawa dari sumber lahan

melalui saluran terbuka melalui pipa dengan head rendah.

2. Sistem Irigasi Bawah Permukaan (Sub Surface Irrigation System)

Sistem irigasi bawah permukaan dapat dilakukan dengan meresapkan air ke dalam

tanah di bawah zona perakaran melalui sistem saluran terbuka ataupun dengan

menggunakan pipa porus. Lengas tanah digerakkan oleh gaya kapiler menuju zona

perakaran dan selanjutnya dimanfaatkan oleh tanaman.

3. Irigasi Dengan Perencanaan (Sprinkle Irrigation)

Irigasi curah atau siraman (sprinkle) menggunakan tekanan untuk membentuk tetesan

air yang mirip hujan ke permukaan lahan pertanian. Disamping untuk memenuhi

kebutuhan air tanaman. Sistem ini dapat pula digunakan untuk mencegah pembekuan,

mengurangi erosi angin, memberikan pupuk dan lain-lain.

Irigasi tetes termasuk salah satu sistem irigasi permukaan (surface irrigation)

dengan cara pemberian air di antara jalur-jalur tanaman. Air diberikan melalui

jaringan-jaringan pipa di atas permukaan tanah yang dipasang menurut jalur-jalur tanaman. Cara ini

tidak memerlukan pembuatan parit-parit atau selokan-selokan seperti pada sistem irigasi

lainnya, tetapi diperlukan peralatan khusus seperti pipa-pipa (utama, sub-utama dan lateral),

alat penetes, pompa air, saringan, katup-katup, pengontrol tekanan dan umumnya

dilengkapi dengan alat injektor pupuk.

Setiap tanaman secara langsung akan menerima air irigasi melalui penetes yang

(12)

menerima air berupa tetesan-tetesan yang debitnya tergantung kepada tekanan yang

diberikan. Tekanan yang diberikan umumnya rendah, dengan mengatur besarnya tekanan

sistem irigasi ini mampu memberikan jumlah serta kecepatan pemberian air yang sesuai

dengan kebutuhan tanaman. Efisiensi pemakaian air dengan sistem irigasi tetes pada

pertanaman sayuran dapat mencapai antara 90-100 persen, bila dilaksanakan dengan cermat,

terampil dan beraturan (Sumarna, 1998)

Gambar 1. irigasi tetes

Pemberian air pada tanaman disesuaikan dengan jenis dan umur tanaman, karena

jenis dan umur tanaman menentukan perkembangan akar yang selanjutnya menentukan

volume daerah perakaran. Pada irigasi tetes, hal ini sangat penting karena pemberian air

hanya mencakup daerah volume perakaran dengan kadar air optimum. Permukaan tanah

tidak seluruhnya dapat dibasahi, akan tetapi hanya di sekeliling tanaman, secara gravitasi

dan kapiler air dari penetes bergerak menembus profil tanah sehingga secara umum

pertumbuhan akar tanaman cenderung terpusat di daerah dimana kondisi untuk

mengabsorpsi air lebih besar. Bila pemberian air kurang dari volume daerah perakaran,

(13)

akan mengurangi efisiensi pemberian air atau terjadi pemborosan pemakaian air (Sumarna,

1998)

2.2. Keuntungan dan Kerugian Irigasi Tetes

Menurut Ilyas dan Mansur (2013), Irigasi Tetes mempunyai kelebihan, yaitu:

1. Efisiensi penggunaan air sangat tinggi karena evaporasi minimum, tidak ada gerakan air

di udara, tidak ada pembasahan daun, tidak ada run off, serta pengairan dibatasi di

sekitar tanaman pokok. Penghematan air 30-50%. Efisiensi mendekati 100%.

2. Respon tanaman terhadap sistem ini lebih baik dalam hal produksi, kualitas, dan

keseragaman produksi.

a. Tidak mengganggu aerasi tanah, dapat dipadu dengan unsur hara, tekanan rendah

sehingga tidak mengganggu keseimbangan kadar lengas,

b. Mengurangi perkembangan serangga, penyakit dan jamur karena air yang diberikan,

c. Penggaraman atau pencucian garam lebih efektif karena ada isolasi lokasi. Gulma

tidak tumbuh tanpa air.

3. Lahan tidak terganggu karena pengolahan tanah, siraman dan lain-lain. Serta,

mengurangi run off dan meningkatkan drainase permukaan.

4. Perencanaan dan konstruksi irigasi tetes murah bila penyumbatan tidak terjadi dan

pemeliharaan emiter minimum.

5. Bisa diletakkan di bawah mulsa plastik, tidak terpengaruh angin, bisa diterapkan di

(14)

Sedangkan kelemahan atau kekurangan dari metode irigasi tetes adalah:

1. Memerlukan perawatan yang intensif

Penyumbatan pada penetes merupakan masalah yang sering terjadi pada irigasi tetes,

karena akan mempengaruhi debit dan keseragaman pemberian air. Untuk itu diperlukan

perawatan yang intensif dari jaringan irigasi tetes agar resiko penyumbatan dapat

diperkecil.

2. Penumpukan garam

Bila air yang digunakan mengandung garam yang tinggi dan pada daerah yang kering,

resiko penumpukan garam menjadi tinggi.

3. Membatasi pertumbuhan tanaman

Pemberian air yang terbatas pada irigasi tetes menimbulkan resiko kekurangan air bila

perhitungan kebutuhan air kurang cermat.

4. Keterbatasan biaya dan teknik

Sistem irigasi tetes memerlukan investasi yang tinggi dalam pembangunannya. Selain

itu, diperlukan teknik yang tinggi untuk merancang, mengoperasikan dan memelihara

(Ilyas dan Mansur, 2013)

2.3Metode Irigasi Tetes

Beberapa metode irigasi tetes, antara lain:

1. Drip Irrigation

Air diaplikasikan ke tanah pada satu titik dalam bentuk tetesan-tetesan melalui emitter

(15)

2. Subsurface Irrigation

Air diaplikasikan di bawah permukaan tanah menggunakan emiter point maupun line

source.

3. Bubbler Irrigation

Air diaplikasikan ke permukaan tanah dengan aliran kecil.

4. Spray Irrigation

Air diaplikasikan melalui Microsprinkler untuk membuat semprotan kecil di dekat

(16)

III. KOMPONEN IRIGASI TETES

Sistem irigasi tetes di lapangan umumnya terdiri dari jalur utama, pipa pembagi,

pipa lateral, alat aplikasi dan sistem pengontrol.(Ilyas dan Mansur, 2013)

1. Unit utama (head unit)

Unit utama terdiri dari pompa, tangki injeksi, filter (saringan) utama dan komponen

pengendali (pengukur tekanan, pengukur debit dan katup).

2. Pipa utama (main line)

Pipa utama umumnya terbuat dari pipa polyvinylchloride (PVC), galvanized steel atau

besi cord dan berdiameter antara 7,5-25 cm. Pipa utama dapat dipasang di atas atau di

bawah permukaan tanah.

3. Pipa pembagi (sub-main, manifold)

Pipa pembagi dilengkapi dengan filter kedua yang lebih halus (80-100 µm), katub

solenoid, regulator tekanan, pengukur tekanan dan katub pembuang. Pipa sub-utama

terbuat dari pipa PVC atau pipa HDPE (high density polyethylene) dan berdiameter

antara 50-75mm.

4. Pipa Lateral

Pipa lateral merupakan pipa tempat dipasangnya alat aplikasi, umumnya dari pipa

(17)

Gambar 2. Komponen irigasi tetes

Jaringan Pipa pada Irigasi tetes

Pipa yang digunakan pada irigasi tetes terdiri dari pipa utama, pipa sekunder.

Pipa-pipa ini merupakan komponen penting dari irigasi tetes. Tata letak dari irigasi tetes dapat

sangat bervariasi tergantung kepada berbagai faktor seperti luas tanah, bentuk, dan keadaan

topografi. Dalam sistem irigasi tetes tersusun atas pipa dan emitter. Air di alirkan dari pipa

dengan banyak percabangan yang biasanya dari plastik yang berdiameter 12 mm (1-2 inch)

– 25 mm (1 inch)

Ukuran pipa harus cocok dengan pompa yang harus digunakan. Jaringan irigasi

tetes menggunakan pipa PVC (Poly Vinyl Chloride) dan PE (Poly Ethylene). Seluruh pipa

tersebut diatur sedemikian rupa sehingga terdapat pipa utama, pipa sekunder, dan kalau

pipa tersier. Pipa yang digunakan biasanya berukuran 0,5-1 inchi (1,27-2,54 cm) dan pipa

sekunder 0,24-0,5 inchi (0,61-1,27 cm) (Najiyanti dan Danarti, 1993 pada Milala, 2010)

Emiter (Penetes)

Emiter merupakan alat pengeluaran air yang disebut pemancar. Emiter

(18)

yang dibasahi emiter tergantung pada jenis tanah, permeabilitas tanah. Emiter harus

menghasilkan aliran yang relatif kecil dan menghasilkan debit yang menghasilkan konstan.

Penampang aliran perlu relatif lebar untuk mengurangi tersumbatnya emiter(Hansen, dkk.,

1992 pada Milala, 2010).

Fungsi penetes sangat penting dalam suatu sistem irigasi tetes. Air dikeluarkan

melalui penetes dalam debit air yang rendah secara konstan dan kontinyu, kondisi ini

tergantung pada tekanan dalam pipa untuk menghasilkan debit air yang diinginkan.

Karakteristik dari penetes akan menunjukkan debit air yang dapat melewati penetes

tersebut.

Efisiensi sistem irigasi tetes secara langsung tergantung pada air yang dikeluarkan

dari penetes dalam ke seluruhan sistem. Dewasa ini banyak dipasarkan penetes dengan tipe

yang bermacam-macam. Setiap jenis penetes mempunyai desain dan karakteristik tertentu.

Dalam hal ini variasi pembuatan penetes tidak dapat diabaikan, karena berpengaruh

terhadap keseragaman emisi irigasi tetes untuk mencapai tujuan efisiensi. (Sumarna, 1998)

Menurut Sumarna (1998), penetes yang diharapkan untuk irigasi tetes harus

mempunyai persyaratan sebagai berikut :

1) Menghasilkan debit yang rendah, seragam dan konstan untuk setiap kerja tekanan,

2) Mempunyai lubang pengeluaran yang cukup besar untuk mecegah penyumbatan

benda-benda asing atau endapan bahan kimia,

3) Harganya murah, kuat dan seragam.

Tekanan

Menurut Erizal (2003) pada Milala (2010) keseragaman pemberian air ditentukan

(19)

tekanan operasi, maka variasi tekanan operasi merupakan faktor keseragaman aliran. Oleh

karena tekanan berpengaruh pada debit emiter maka semakin besar tinggi air tangki

penampung akan semakin tinggi pula tekanan. Sehingga debit akan semakin besar.

Debit

Debit adalah banyaknya volume air yang mengalir persatuan waktu. Pada irigasi

tetes debit yang diberikan hanya beberapa liter perjam. Umumnya debit rata-rata dari

emiter tersedia dari suplier peralatan. Debit untuk irigasi tetes bergantung dari jenis tanah

dan tanaman. Debit irigasi tetes yang umum digunakan adalah 4 liter per jam, namun ada

beberapa pengolahan pertanian menggunakan debit 2,6,8 liter per jam. Penggunaan debit

berdasarkan jarak tanam dan waktu operasi (Keller dan Bliesner, 1990. Pada Milala (2010)).

Menurut Milala (2010) frekuensi pemberian air dilakukan 6-9 kali sehari tergantung

kondisi cuaca. Pemberian air dilakukan antara 07.00-16.00 WIB dengan selang waktu

sekitar 1 jam. Jumlah air yang diberikan disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman

dan kondisi tanah. Jika pada fase vegetatif kebutuhan air pengairan dibutuhkan sekitar 200

ml/hari/tanaman, maka pada jarak tanam 60-70 cm, dibutuhkan 4 liter air per jam tiap

luasan 1 hektar.

(20)

IV. IRIGASI TETES PADA TANAMAN CABAI

4.1 Morfologi Tanaman Cabai

Tanaman cabai (Capsicum annuum) termasuk dalam kingdom Plantae, Divisi

Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Solanales , Famili Solanaceae, Genus

Capsicum dan Species Capsicum annum L. (Zulfa, 2014)

Tanaman cabai termasuk tanaman berbentuk perdu, berdiri tegak dan bertajuk lebar.

Tanaman ini juga mempunyai banyak cabang dan setiap cabang akan muncul bunga yang

pada akhirnya berkembang menjadi buah. Batang cabai tumbuh tegak berwarna hijau tua

dan berkayu. Batangnya berbentuk silindris, berukuran diameter kecil dengan tajuk daun

lebar dan buah cabai yang lebat. Daun cabai berbentuk lonjong dan di bagian pangkal dan

ujung daun meruncing. Pada permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua, sedang

dibagian bawah berwarna hijau muda. Panjang tangkai daunnya berkisar 2-4 cm yang

melekat pada percabangan, sedangkan tulang daunnya berbentuk menyirip (Samadi, 1997).

Akar tanaman cabai tumbuh menyebar dalam tanah terutama akar cabang dan akar

rambut. Bagian ujung akarnya hanya mampu menembus tanah sampai kedalaman 25-30 cm.

Oleh karena itu penggemburan tanah harus dilakukan sampai kedalaman tersebut agar

perkembangan akar lebih sempurna (Samadi, 1997).

Bunga cabai termasuk berkelamin dua, karena pada satu bunga terdapat kepala sari

dan kepala putik. Bunga cabai tersusun dari tangkai bunga, kelopak bunga, mahkota bunga

dan alat kelamin yang meliputi kepala sari dan kepala putik. Mahkota bunganya berwarna

putih dan Jumlah mahkota bunga bervariasi antara 5-6 kelopak bunga. Kepala putik

(21)

biasanya muncul dari percabangan atau ketiak daun dengan posisi buah menggantung.

Berat cabai sangat bervariasi, yakni berkisar 5-25 gram (Samadi, 1997).

4.2Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

Tanaman cabai mempunyai daya adaptasi yang cukup luas. tanaman ini dapat

diusahakan di daratan rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 1400 m di atas

permukaan laut, tetapi pertumbuhan di dataran tinggi lebih lambat. Suhu udara yang baik

untuk pertumbuhan tanaman cabai adalah 25-27 0C pada siang hari dan 18-20 0C pada

malam hari (Jaya, 2014)

Curah hujan yang tinggi atau iklim yang basah tidak sesuai untuk

pertumbuhan tananam cabai. Pada keadaan tersebut tanaman akan mudah terserang

penyakit, terutama yang disebabkan oleh cendawan, yang dapat menyebabkan bunga gugur

dan buah membusuk. Curah hujan yang baik untuk tanaman cabaiadalah sekitar 600-1200

mm per tahun. Cahaya matahari sangat dibutuhkan sejak pertumbuhan bibit hingga

tanaman berproduksi. Pada intensitas cahaya yang tinggi dalam waktu yang cukup lama,

masa pembungaan cabai terjadi lebih cepat dan proses pematangan buah juga berlangsung

lebih singkat (Jaya, 2014)

Tanah yang ideal untuk penanaman cabai adalah tanah yang gempur, remah,

mengandung cukup banyak organik, unsur hara dan air, serta bebas dari gulma. Tingkat

kemasaman (Ph) tanah yang sesuai adalah 6-7. Kelembaban tanah dalam keadaan kapasitas

lapang (lembab tetapi tidak becek) dan temperatur tanah antara 24-30 0C sangat mendukung

pertumbuhan tanaman cabai. Temperatur tanah yang rendah akan menghambat

(22)

Air berfungsi sebagai pelarut dan pengangkut unsur hara ke organ tanaman, air

berperan dalam proses fotosintesis (pemasakan makanan) dan proses respirasi (pernafasan).

Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati. Air yang

diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang bersih yang membawa

mineral atau unsur hara yang dibutuhkan tanaman, bukan air yang berasal dari suatu daerah

penanaman cabai yang terserang penyakit, karena air ini dapat menyebabkan tanaman cabai

yang sehat akan segera tertular, dan bukan air yang berasal dari limbah pabrik yang

berbahaya bagi tanaman cabai (Tani, 2014)

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat esensial bagi produksi

pertanian, dan air menentukan potensi perluasan areal tanam ekstensifikasi dan intensifikasi

pertanaman, serta kualitas hasil produk (Kurnia, 2004 dalam Purwani, 2012)

Ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan produksi tanaman, baik secara

vegetatif maupun generatif. Oleh karena itu, air sangat diperlukan dalam pertumbuhan

tanaman. Kekurangan air pada cabai akan menyebabkan tanaman kerdil, buah menjadi

kerdil dan mudah gugur, maka penggunaan air harus dilakukan seefesien mungkin. Kualitas

air pengairan harus memenuhi syarat kualitas agar tidak berbahaya bagi tanaman yang akan

diairi, karena dalam jangka panjang dapat mempengaruhi kualitas hasil (Setiadi, 1987 dan

Schwab et al, 1981 dalam Purwani, 2012)

Pengairan bertujuan untuk memberikan tambahan air pada air hujan dalam jumlah

yang cukup dan pada waktu di perlukan tanaman. Secara umum, pengairan berguna untuk

mempermudah pengolahan tanah, mengatur suhu tanah dan iklim mikro, membersihkan

(23)

kotoran dalam saluran air dan menggenangi tanah untuk memberantas tanaman pengganggu

dan hama penyakit (Setiadi, 1987 dalam Purnawati, 2012)

Beberapa pertimbangan utama di dalam menentukan berapa banyaknya air yang

akan diberikan (Sumarna, 1998), diantaranya adalah :

4.1. Kadar Air Tanah Optimum

Pemberian air yang cukup adalah yang paling utama dibutuhkan oleh pertumbuhan

tanaman. Setiap tanaman mencoba mengabsorpsi air secukupnya dari tanah untuk

pertumbuhan. Jadi yang terpenting untuk tanaman itu adalah, bahwa air dalam tanah itu

berada dalam keadaan yang mudah diabsorpsi (Sumarna, 1998)

Interval pemberian air sangat berpengaruh terhadap kelembapan tanah, baik untuk

setiap jenis tanaman maupun fase pertumbuhannya (Kurnia, 2002). Apabila air diberikan

setiap hari, kelembapan tanah masih di atas 30% volume, sehingga pemberian air tersebut

tidak efesien (tabel 1). Pemberian air dengan interval 2-4 hari masih memungkinkan

tanaman tumbuh dengan baik, karena kelembapan tanah masih cukup. Namun, pemberian

air setiap 4 hari dapat menurunkan hasil tanaman cukup signifikan (tabel 2) (Kurnia, 2002

dalam Purwani, 2012).

Berbeda dengan fase inisiasi, pemberian air setiap 3 hari pada fase vegetatif dan 5 hari

pada fase generatif menyebabkan perbedaan kelembapan tanah. Semakin bertambah umur

tanaman, kebutuhan air tanaman untuk evapotranspirasi dan perkolasi juga bertambah,

sehingga kelembapan tanah pada fase generatif semakin rendah, karena air yang ada di

dalam tanah digunakan untuk pembungaan dan pembentukan buah atau biji (Purwani,

(24)

Tabel 1. Kelembaban Tanah pada Setiap Interval Pemberian Air pada Tanaman Cabai

Fase Pertumbuhan Interval pemberian air (% volume)

Setiap hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari

Fase inisiasi (0 – 10 hari) 32,20 23,10 22,40 21,40 20,10

Fase vegetatif (11 – 45 hari) 32,20 23,10 21,40 19,50 18,60

Fase generatif (45 – 60 hari) 32,20 23,10 22,40 21,40 20

Sumber: Kurnia et al, 2002 dalam Purwani 2012

Tabel 2. Hasil Cabai pada Berbagai Interval Pemberian Air

Jenis tanaman Interval pemberian air (hari)

2 3 4 5

Cabai (kg/m2) 15,60 13 7 6

Sumber: Kurnia 2002 dalam Purwani 2012

Hasil cabai masih cukup baik sampai interval pemberian air setiap 3 hari, namun bila

interval pemberian air lebih dari 3 hari, hasilnya menurun drastis. Berdasarkan hasil

penelitian tersebut secara umum dapat dinyatakan bahwa interval 2 hari memberikan hasil

yang paling tinggi. Semakin sering air diberikan, semakin cepat pertumbuhan dan

perkembangan tanaman. Namun, bila jumlah air yang diberikan semakin banyak, kelebihan

air menjadi tidak bermanfaat atau tidak efisien (Kurnia 2002 dalam Purwani 2012)

Tanaman cabai merupakan tanaman yang sangat sensitif terhadap kelebihan ataupun

kekurangan air. Jika tanah telah menjadi kering dengan kadar air di bawah limit, maka

tanaman akan kurang mengabsorpsi air sehingga menjadi layu dan lama kelamaan akan

mati. Demikian pula sebaliknya, ternyata pada tanah yang banyak mengandung air akan

menyebabkan aerasi tanah menjadi buruk dan tidak menguntungkan bagi pertumbuhan akar,

(25)

untuk tanaman cabai akan sejalan dengan pertumbuhan tanaman lainnya. Untuk fase

vegetatif rata-rata dibutuhkan air pengairan sekitar 200 ml/hari/tanaman, sedangkan untuk

fase generatif sekitar 400 ml/hari/tanaman (Sumarna dan Kusandriani 1992 dalam Sumarna,

1998).

4.2. Distribusi Air dalam Tanah

Besarnya volume tanah yang dapat dibasahi oleh irigasi tetes menentukan

perkembangan perakaran tanaman. Akar tanaman akan tumbuh lebih baik pada tanah yang

lembab dari pada di tanah yang kering, kadangkala akar tanaman tidak dapat menembus

tanah yang kering. Penambahan debit air dan lamanya pemberian air akan semakin

memperluas daerah/volume tanah yang basah. (Sumarna, 1998)

Setiap jenis tanah mempunyai pola pembasahan yang berbeda, tergantung kepada

teksturnya. Pada tanah yang banyak mengandung pasir cenderung terbentuknya pola

infiltrasi yang memanjang ke arah vertikal, sedangkan pada tanah yang banyak

(26)

V. KESIMPULAN

Air merupakan faktor penting dalam bercocok tanam di mana suatu sistem

pemberian air yang baik secara teratur akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang

optimal. Yang terpenting bagi tanaman bahwa air dalam tanah itu berada dalam keadaan

yang mudah di absorpsi.

Sistem irigasi tetes dapat menghemat pemakaian air, karena dapat meminimumkan

kehilangan-kehilangan air yang mungkin terjadi seperti perkolasi, evaporasi dan aliran

permukaan, sehingga memadai untuk diterapkan di daerah pertanian yang mempunyai

sumber air yang terbatas. Irigasi tetes pada umumnya digunakan untuk tanaman-tanaman

bernilai ekonomi tinggi, termasuk tanaman cabai.

Tanaman cabai merupakan tanaman yang sangat sensitif terhadap kelebihan dan

kekurangan air. Tanah yang banyak mengandung air akan menyebabkan aerasi tanah

menjadi buruk dan tidak mengguntungkan bagi pertumbuhan akar. Tanah yang kering akan

menyebabkan tanaman kurang mengabsorpsi air sehingga menjadi layu dan lama kelamaan

akan mati.

Air pengairan yang digunakan harus memenuhi syarat kualitas agar tidak

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad, 2013. Sistem Irigasi dan Klasifikasi Jaringan Irigasi.

http://akhmad113.mywapblog.com/sistem-irigasi-dan-klasifikasi-jaringan.xhtml

Ilyas, M. A dan Mansur, M. 2013. Penerapan Irigasi Tetes Pada lahan Perkebunan. http://Infotaucantik.blogspot.com/2013/05/artikel-teknologi-penerapan-irirgas-tetes-pada-lahan-perkebunan.html

Jaya, F. 2014. Tanaman Cabai. http://blog.faedahjaya.com/petunjuk-budidaya/tanaman-cabai

Kartasapoetra, A. G dan Sutedjo, M. M. 1994. Teknologi Pengairan Pertanian (Irigasi). Bumi Aksara. Jakarta.

Kurnia, U. 2004. Prospek Pengairan Pertanian Tanaman Semusim. Balai Penelitian Litbang Pertanian. Bogor.

Kusandriani, Y. dan Sumarna A. Respon varietas cabai pada beberapa tingkat kelembaban tanah. Bul.Penel.Hort.Vol. XXV. No. 1.

Milala, Desnatalia. 2010. Analisis Irigasi Tetes dengan Infus Sebegai Emiter Pada Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.). Universitas Sumatera Utara. Medan.

Purnawani, D. A. 2012. Pengaruh Pengairan Pada Tanaman Cabai. Politeknik Negeri Lampung. Lampung.

Samadi, B. 1997. Budidaya Cabai Secara Komersial. Yayasan Pustaka Nusatam, Yogyakarta.

Sumarna, A. 1998. Irigasi Tetes pada Budidaya Cabai.

http://balitsa.litbang.deptan.go.id/ind/images/isi.../M-09.pd

Temang, Kristo. 2013. Sistem Irigasi Ditinjau Dari Cara Pemberian/Distribusinya ke Lahan. http://kristotemang.blogspot.com/2013/05/sistem-irigasi-ditinjau-dari-cara.html

Zulfa, M.G.A. 2014. klasifikasi dan morfologi tanaman cabai.

Gambar

Gambar 1. irigasi tetes
Gambar 2. Komponen irigasi tetes
Tabel 2. Hasil Cabai pada Berbagai Interval Pemberian Air

Referensi

Dokumen terkait

Air Irigasi Berdasarkan Jumlah dan Jarak Penetes pada Sis- tem Irigasi Tetes untuk Tanaman Palawija.. Dibawah

Menurut Wardi (2001), irigasi mikro merupakan suatu sistem irigasi yang menggunakan air secara efisien dan bekerja secara pasti, tetes demi tetes memenuhi kebutuhan setiap

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.. Irigasi Tetes pada

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah pemberian air irigasi tetes terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman cabai keriting serta dapat

Terkait dengan permasalahan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pelaksanaan teknik budidaya tanaman cabai merah ( Capsicum annum L)

Untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan air pada musim kemarau, perancangan irigasi tetes sangat diperlukan, untuk memenuhi kebutuhan air pada tanaman Cabai

Grafik Pengujian Alat Ukur Kelembaban Tanah Hasil Pengujian Sistem Keseluruhan Pengukuran yang telah dilakukan dalam sistem irigasi tetes pada budidaya tanaman terong ungu dengan

4.1.1 Tata Letak Instalasi Sistem Irigasi Tetes Pada screen house seluas 25,5 x 8,8 m yang menggunakan sistem irigasi tetes dengan emitter yang digunakan yaitu drip stick, dimana pada