BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak dapat diganggu gugat keberadaannya.Hak-hak tersebut telah dibawa sejak lahir dan melekat pada diri manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Disini setiap manusia memiliki derajat dan martabat yang sama.Sebagai warga negara yang baik, kita harus menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia tanpa membedakan status, golongan, keturunan, jabatan dan lain sebagainya.
Sejarah tentang HAM sesungguhnya dapat dikatakan hampir sama tuanya dengan keberadaan manusia di muka bumi. Mengapa dikatakan demikian, karena HAM memiliki sifat yang selalu melekat (inherent) pada diri setiap manusia, sehingga eksistensinya tidak dapat dipisahkan dari sejarah kehidupan umat manusia.
Berbagai upaya untuk mewujudkan HAM dalam kehidupan nyata –sejak dahulu hingga saat sekarang ini– tercermin dari perjuangan manusia dalam mempertahankan harkat dan martabatnya dari tindakan sewenang-wenang penguasa yang tiran. Timbulnya kesadaran manusia akan hak-haknya sebagai manusia merupakan salah satu faktor penting yang melatarbelakangi dan melahirkan gagasan yang kemudian dikenal sebagai HAM.
Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia.1Dengan demikian, faktor-faktor seperti ras, jenis kelamin, agama maupun bahasa tidak dapat menegasikan eksistensi HAM pada diri manusia.
Pelanggaran terhadap HAM seseorang memiliki arti bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.Organisasi yang menjadi wadah pengurus permasalahan seputar hak asasi manusia diIndonesia adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM). Kasus pelanggaran ham di Indonesia masih banyak yang belum tuntas, sehingga diharapkan
1 Jack Donnely, Universal Human Rights in Theory and Practice, Ithaca and London: Cornell University
perkembangan ham di Indonesia[ dapat menuju ke arah yang lebih baik. Salah satu tokoh HAM di Indonesia adalah Munir,ia tewas dibunuh di atas pesawat udara saat menuju Belanda dari Indonesia.
Contoh hak-hak yang tergolong ke dalam hak asasi manusia (HAM), diantaranya:2
Hak untuk hidup.
Hak untuk memperoleh pendidikan.
Hak untuk hidup bersama-sama seperti orang lain.
Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama.
Hak untuk mendapatkan pekerjaan.
Aturan tentang Hak asasi manusia terdapat di dalam UUD 1945 perubahan ke 2 pasal 28a sampai 28 J.
Permasalahan HAM yang banyak terjadi dewasa ini, tidak hanya meliputi antar masyarakat dengan masyarakat yang memiliki berbagai perbedaan seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan saja, subjeknya bisa negara dalam artian Pemerintah, maunpun aparat penegaknya.
Hal ini cukup meresahkan banyak pihak terutama masyarakat atau rakyat pada umumnya, karena orang atau pihak yang seharusnya menjadi pelindung dan penjamin keamanan, kehidupan dan kesejahteraannya justru harus menjadi pihak yang ditakuti.
Salah satunya adalah kasus penembakan sekaligus pembunuhan secara tidak manusiawi terhadap empat tersangka pembunuh Serka Heru Santoso oleh Kopassus Grup II Kandang Menjangan.
Oleh karena hal-hal tersebut diatas, Kami akan membahas Makalah dengan Judul “Kasus Penyerangan Lapas Cebongan : Penerapan Teori, Konsep dan Prinsip HAM”.
B. Identifikasi Masalah
Identifikasi Masalah yang akan kami bahas adalah mengenai :
Bagaimana penerapan Teori, Konsep, dan Prinsip HAM dalam Kasus Penyerangan Lapas Cebongan oleh Kopasus Grup II Kandang Menjangan?
2 Dikutip darihttp://fatah33.blogspot.com/2011/02/pengertian-dan-pelanggaran-pelanggaran.html pada
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian dan Ruang Lingkup HAM3
HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia,tanpa hak-hak itu manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia.Menurut John Locke HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”.
Sedangkan ruang lingkup HAM meliputi:
Hak pribadi: hak-hak persamaan hidup, kebebasan, keamanan, dan lain-lain;
Hak milik pribadi dan kelompok sosial tempat seseorang berada;
Kebebasan sipil dan politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan; serta
Hak-hak berkenaan dengan masalah ekonomi dan sosial.
Hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu, pemeritah (Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer),dan negara.
Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.
b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.
B. Teori HAM
a. Teori hukum alam / teori hukum kodrati
Teori ini berpandangan bahwa HAM adalah hak yang dimiliki oleh seluruh manusia pada segala waktu dan tempat berdasarkan takdirnya sebagai manusia.
b. Teori hukum Positif
Teori ini menolak teori hak-hak kodrati.Keberatan utama dari teori ini dikarenakan sumber dari hak-hak kodrati dianggap tidak jelas.Menurut positivism, suatu hak harus berasal dari sumber yang jelas, seperti dari peraturan perundang-undangan atau konstitusi yang dibuat oleh Negara.Kaum positivis berpendapat bahwa eksistensi hak hanya dapat diturunkan dari hokum Negara.
c. Teori Universal-Absolut4
Teori ini melihat HAM sebagai nilai-nilai universalseperti yang dirumuskan didalam The Internasional Bill of Human Right. Penganut pandangan ini adalah negara-negara maju sedangkan bagi negara-negara berkembang seringkali dipandang eksploitatif karena menerapkan HAM sebagai instrumen penilai.
d. Teori Universal-Relatif
Teori ini memandang HAM sebagai masalah universal, namun pengecualian yang didasarkan atas asas-asas hokum internasional tetap diakui keberadaannya.Sebagai contoh ketentuan yang diatur dalam pasal 29 UDHR.
e. Teori Partikularistik-Absolut
4 Bagir Manan, Kedaulatan Rakyat, Hak Asasi Manusiadan Negara Hukum, Jakarta : Gaya Media Pratama,
Teori ini memandang HAM sebagai persoalan bangsa tanpa alasan yang kuat khususnya dalam penolakan terhadap berlakunya dokumen-dokumen internasional.Pandangan ini bersifat egois,depensif dan pasif tentang HAM.
f. Teori Partikularistik-Relatif
Teori ini memandang HAM sebagai masalah universal dan masalah nasional bangsa.Berlakunya dokumen-dokumen internasional harus diserasikan dan diseimbangkan serta memperoleh dukungan dalam budaya bangsa.Pandangan ini tidak depensif tapi juga secara aktif berusaha mencari pembenaran karakteristik HAM yang dianutnya.
C. Konsep Dasar Hak Asasi Manusia5
Konsep atau pengertian dasar hak asasi manusia (HAM) beraneka ragam antara lain dapat ditemukan dari penglihatan dimensi visi, perkembangan, Deklarasi Hak Asasi Universal/PBB (Universal Declaration of Human Right/UDHR), dan menurut UU No. 39 Tahun 1999.
Konsep hak asasi manusia dilihat dari dimensi visi, mencakup visi filsafati, visi yuridis -konstitusional dan visi politik ( Saafroedin Bahar,1994:82).
Visi filsafati sebagian besar berasal dari teologi agama-agama, yang menempatkan jati diri manusia pada tempat yang tinggi sebagai makhluk Tuhan.
Visi yuridis konstitusional, mengaitkan pemahaman hak asasi manusia itu dengan tugas, hak,wewenang dan tanggungjawab negara sebagai suatu nation-state.
Sedangkan visi politik memahami hak asasi manusia dalam kenyataan hidup sehari-hari, yang umumnya berwujud pelanggaran hak asasi manusia, baik oleh sesama warga masyarakat yang lebih kuat maupun oleh oknum-oknum pejabat pemerintah.
Dilihat dari perkembangan hak asasi manusia, maka konsep hak asasi manusia mencakup generasi I, generasi II, generasi III, dan pendekatan struktural (T.Mulya Lubis,1987: 3-6).
Generasi I konsep HAM , sarat dengan hak-hak yuridis, seperti tidak disiksa dan ditahan, hak akan equality before the law (persamaan dihadapan hukum), hak akan fair trial (peradilan yang jujur), praduga tak bersalah dan sebagainya. Generasi I ini merupakan reaksi terhadap kehidupan kenegaraan yang totaliter dan fasistis yang mewarnai tahun-tahun sebelum Perang Dunia II.
5 Dikutip dari http://desentralisasi-otonomi.blogspot.com/2012/04/konsep-dasar-hak-asasi-manusia.html pada
Generasi II konsep HAM, merupakan perluasan secara horizontal generasi I, sehingga konsep HAM mencakup juga bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Generasi II, merupakan terutama sebagai reaksi bagi negara dunia ketiga yang telah memperoleh kemerdekaan dalam rangka mengisi kemerdekaananya setelah Perang Dunia II.
Generasi III konsep HAM, merupakan ramuan dari hak hukum, sosial, ekonomi, politik dan budaya menjadi apa yang disebut hak akan pembangunan (the right to development). Hak asasi manusia di nilai sebagai totalitas yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Dengan demikian, hak asasi manusia sekaligus menjadi satu masalah antar disiplin yang harus didekati secara interdisipliner.
Pendekatan struktural (melihat akibat kebijakan pemerintah yang diterapkan) dalam hak asasi manusia. seharusnya merupakan generasi IV dari konsep HAM. Karena dalam realitas masalah-masalah pelanggaran hak asasi manusia cenderung merupakan akibat kebijakan yang tidak berpihak pada hak asasi manusia. Misalnya, berkembangnya sistem sosial yang memihak ke atas dan memelaratkan mereka yang dibawah, suatu pola hubungan yang "repressive". Sebab jika konsep ini tidak dikembangkan, maka yang kita lakukan hanya memperbaiki gejala, bukan penyakit. Dan perjuangan hak asasi manusia akan berhenti sebagai pelampiasan emosi (emotional outlet).
D. Prinsip HAM6
Prinsip-prinsip Dasar Hak-Hak Asasi Manusia: 1. HAM bersifat universal (universality).
Semua orang di seluruh dunia terikat pada HAM.Universality merujuk pada nilai-nilai moral dan etika tertentu yang dimiliki bersama di seluruh wilayah di dunia, dan Pemerintah serta kelompok masyarakat harus mengakui serta menjunjungnya. Meskipun begitu, universalitas dari hak bukan berarti bahwa hak-hak tersebut tidak dapat berubah ataupun harus dialami dengan cara yang sama oleh semua orang. Universalitas HAM tercakup pada kata-kata di pasal 1 DUHAM: “Semua manusia dilahirkan bebas dan setara dalam martabat dan hak.
2. HAM tidak dapat direnggut (inalienability).
6Dikutip dari http://herizal-effendi-arifin.blogspot.com/2011/08/ringkasan-pasal-pasal-deklarasi.html Pada
Ini berarti hak yang dimiliki tiap orang tidak dapat dicabut, diserahkan atau dipindahkan. 3. HAM tidak dapat dipisah-pisah (indivisibility).
Hal ini merujuk pada kepentingan yang setara dari tiap-tiap hak asasi manusia, apakah itu sipil, politik, ekonomi, sosial ataupun budaya.Seluruh hak asasi manusia memiliki status yang setara, dan tidak dapat ditempatkan pada pengaturan yang bersifat hirarkis. Hak seseorang tidak dapat diingkari oleh karena orang lain memutuskan bahwa hak tersebut kurang penting atau bukan yang utama. Prinsip indivisibility ini diperkuat kembali oleh Deklarasi Wina, 1993.
4. HAM bersifat saling tergantung (interdependency).
Hal ini merujuk pada kerangka kerja pelengkap dari hukum hak asasi manusia. Pemenuhan satu hak seringkali tergantung, sepenuhnya atau sebagian, pada pemenuhan hak yang lain. Sebagai contoh, pemenuhan hak atas kesehatan mungkin tergantung pada pemenuhan hak atas pembangunan, atas pendidikan atau informasi. Sama saja, kehilangan satu hak juga akan menyebabkan terabainya hak-hak yang lain.
5. Prinsip kesetaraan (Equality)
Merujuk pada pandangan bahwa seluruh manusia diberkati dengan hak asasi manusia yang sama tanpa ada perbedaan. Kesetaraan bukan berarti memperlakukan orang secara sama, tetapi lebih pada mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk lebih memajukan keadilan sosial untuk semua.
6. Prinsip tanpa diskriminasi (non-discrimination)
Adalah satu kesatuan dengan konsep kesetaraan. Prinsip non-diskriminatif melingkupi pandangan bahwa orang tidak dapat diperlaukan secara berbeda berdasarkan kriteria yang bersifat tambahan dan tidak dapat diijinkan. Diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, kesukuan, jender, usia, bahasa, ketidak-mampuan, orientasi seksual, agama, politik atau pendapat lainnya, asal-usul secara sosial atau geografis, kepemilikan, kelahiran atau status lainnya yang dibuat oleh standard HAM internasional, melanggar HAM.
Pandangan tentang partisipasi dan inklusi (mengikutsertakan), seperti juga akuntabilitas dan supremasi hukum (rule of law”) adalah paradigma penting ketika kita berbicara tentang HAM.
7. Prinsip partisipasi dan inklusi (participation and Inclusion)
kehidupan dan keberadaannya. Pendekatan berbasis-hak membutuhkan partisipasi yang tinggi dari komunitas, masyarakat sipil, minoritas, perempuan, pemuda/i, masyarakat adat dan kelompok-kelompok lain.
8. Prinsip akuntabiltias dan supremasi hukum (accountability andrule of law).
Negara dan para pemangku kewajiban harus bisa menjawab mengenai kinerja HAM. Dalam hal ini, mereka harus mematuhi norma-norma dan standard hukum yang dinyatakan dalam instrumen HAM internasional.Jika mereka gagal mermatuhinya, para pemegang hak yang menjadi korban memiliki hak untuk mengajukan penggantian yang sesuai di hadapan pengadilan yang kompeten atau pengadil lainnya sesuai dengan aturan dan prosedur yang diatur oleh hukum. Pribadi, media, masyarakat sipil dan komunitas internasional memainkan peranan penting dalam membuat pemerintah akuntabel tentang kewajibannya untuk menjunjung tinggi HAM.
BAB III
A. KASUS
Source:
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/09/130905_gariswaktu_kasus _cebongan.shtml
Garis waktu kasus Cebongan
Pembunuhan terhadap empat tahanan Lapas Cebongan berawal dari pengeroyokan Sersan Kepala Santoso, anggota Komando Pasukan Khusus TNI AD dari Grup II Kandang Menjangan, Kartasura, Jawa Tengah 23 Maret silam.
Berikut garis waktu kasus ini berdasarkan catatan BBC.
19 Maret 2013: Empat orang pria mengeroyok Sersan Kepala Heru Santoso di Hugo's Cafe yang terletak di Jalan Adisucipto Yogyakarta. Santoso tewas dengan luka tusukan di dada.
Keempat pria itu belakangan diidentifikasi sebagai Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Diki, dan Yohanes Juan Manbait.
21 Maret 2013: Keempat pengeroyok ditangkap di sebuah asrama di Lempuyangan, Yogyakarta dan ditahan di Mapolda DIY.
22 Maret 2013: Polisi menitipkan keempat tahanan ke Lapas Cebongan.
Beberapa jam sesudah menerima titipan polisi, Kepala Penjara Sukamto meminta bantuan pengamanan kepada polisi dan berencana mengembalikan mereka ke Mapolda DIY keesokan harinya.
23 Maret 2013: Pada pukul 01:30 WIB sekelompok orang dengan penutup kepala mendatangi Lapas dan memaksa dibukakan pintu.
Mereka memasuki sel A5 tempat keempat tersangka pengeroyok ditahan dan melepaskan tembakan ke arah mereka.
29 Maret 2013: TNI membentuk tim investigasi khusus untuk menyelidiki pembunuhan Cebongan.
Kopassus grup 2 Kandang Menjangan, Kartasura, dan mengatakan mereka telah menyerahkan diri pada 31 Maret.
20 Juni 2013: Sidang perdana digelar di Mahkamah Militer Yogyakarta.
31 Juli 2013: Empat terdakwa yang menjadi eksekutor pembunuhan dituntut hukuman 12 tahun dan dipecat dari kesatuan.
Source : http://www.hrw.org/news/2013/09/09/indonesia-seek-just-punishments-military-murderers
Indonesia: Seek Just Punishments for Military Murderers
Amend Laws to Allow Civilian Prosecutions of Military Rights Abuses
SEPTEMBER 10, 2013
“Yogyakarta’s military judges sent a long overdue message that soldiers shouldn’t expect to get off easy for serious crimes against civilians. But for these verdicts to have real impact, the prosecutors should appeal the sentences to make sure the punishment fits the crime, in this case, murder."
Phelim Kine, deputy Asia director
(New York) – Indonesian military prosecutors should appeal insufficient sentences imposed on 12 Special Forces soldiers convicted in the murders of four detained criminal suspects, Human Rights Watch said today.
“Yogyakarta’s military judges sent a long overdue message that soldiers shouldn’t expect to get off easy for serious crimes against civilians,” said Phelim Kine, deputy Asia director. “But for these verdicts to have real impact, the prosecutors should appeal the sentences to make sure the punishment fits the crime, in this case, murder.”
Eleven Kopassus members were arrested on April 2 for allegedly breaking into the Cebongan prison in Yogyakarta, on March 23, and fatally shooting four criminal suspects who were being detained for the murder of a Kopassus colleague three days earlier. A twelfth soldier was arrested later.
Military prosecutors said that the Kopassus defendants, disguised with ski masks and carrying AK-47 assault rifles, forced their way into the prison, threatened and beat 12 prisons guards, two of whom required hospitalization. The soldiers then executed four detainees: Hendrik Angel Sahetapi, Yohanes Juan Manbait, Gameliel Yermianto Rohi Riwu, and Adrianus Candra Galaja. When leaving after the 15-minute attack, the assailants seized the prison’s closed circuit television recordings, prison guards said. Investigators alleged that murders were revenge for the killing on March 20 of Kopassus First Sgt. Heru Santoso. Santoso and the 12 defendants all served with Kopassus Group II in Kartasura, about a two-hour drive from Yogyakarta.
The trial was characterized by an atmosphere of intimidation. Hundreds of members of the Sekber Keistimewaan, a coalition of Yogjakarta royalist and paramilitary groups, wore jungle camouflage and noisily protested outside the court building in support of the Kopassus defendants. Sekber Keistimewaan and its coalition members inside the courtroom repeatedly disrupted the court proceedings, loudly praising the Kopassus defendants as “heroes” and “warriors” and demanding their release. On several occasions, they locked the court compound gate while prosecutors were presenting their case and attempted to intimidate journalists, human rights monitors, and academics in the spectators’ gallery. Sekber Keistimewaan members also shouted racist remarks at court attendees from East Nusa Tenggara province, the home province of the four murdered detainees.
Although the Yogyakarta verdicts provide a measure of accountability absent from many past military abuses against civilians, Indonesia’s military justice system continues to lack the transparency, independence, and impartiality required to properly investigate and prosecute serious human rights violations.
Under Indonesian law, military personnel cannot be tried in civilian courts, with only a few rarely invoked exceptions. The 1997 Law on Military Courts provides that such courts have jurisdiction to prosecute all crimes committed by soldiers. Additionally, the 1997 Law on Military Courts states that military courts can only apply one of two laws: the Military Penal Code and the general Criminal Code. This means that while civilians are subject to a criminal liability under a host of criminal laws outside the Criminal Code, soldiers are not. While the 2000 Law on Human Rights Courts authorizes human rights courts to assert jurisdiction over cases involving allegations that military personnel committed serious human rights violations, at present the law applies only to allegations of genocide and crimes against humanity, and not to the broad spectrum of conduct that constitutes human rights abuses.
During the United Nations Universal Periodic Review of Indonesia’s human rights record in 2007 and again in 2012, the Indonesian government committed to reforming the military tribunal system. Those promised reforms includes adding torture and other acts of violence to the military criminal code of prosecutable offenses and ensuring the definition of those offenses are consistent. However, to date the government has not added those offenses to the military criminal code.
Although the 2004 Armed Forces Law placed the military courts under the supervision of Indonesia's Supreme Court, in practice, the military continues to control the composition, organization, procedure, and administration of the military courts. Military judges can be dismissed by an Honorary Board of Judges whose members are designated by the military commander.
“Empowering civilian courts to prosecute military personnel implicated in human rights abuses against civilians is an essential step in ending Indonesia’s long and pervasive culture of impunity for military abuses,” Kine said.
The sentences handed down in the Yogyakarta case were as follows:
o Tigor “Ucok” Simbolon, Second Sergeant. Sentence of 11 years in prison and dishonorable discharge for premeditated murder and other charges;
o Sugeng Sumaryanto, Second Sergeant. Sentence of eight years and dishonorable discharge for premeditated murder and other charges;
o Kodik, First Corporal. Sentence of six years and dishonorable discharge for premeditated murder and other charges;
o Tri Juwanto, First Sergeant. Sentence of one year and nine months for involvement in premeditated murder and other charges;
o Anjar Rahmanto, First Sergeant. Sentence of one year and nine months for involvement in premeditated murder and other charges;
o Martinus Robertus Banani, First Sergeant. Sentence of one year and nine months for involvement in premeditated murder and other charges;
o Suprapto, First Sergeant. Sentence of one year and nine months for involvement in premeditated murder and other charges;
o Hermawan Siswoyo, First Sergeant. Sentence of one year and nine months for involvement in premeditated murder and other charges;
o Ikhmawan Suprapto, Second Sergeant. Sentence of 15 months for assisting the commission of an assault;
o Sutar, Chief Sergeant. Sentence of four months and 20 days for failing to notify his superiors about the attack;
o Rokhmadi, Major Sergeant. Sentence of four months and 20 days for failing to notify his superiors about the attack; and
B. ANALISIS
a. Analisis Kasus dari Segi T eori H ak A sasi M anusia
Apabila kasus Cebongan ini dikaitkan dengan Teori HAM maka analisisnya adalah sebagai berikut:
Teori Hak kodrati
Hak kodrati salah satunya adalah hak hidup, pada kasus ini hak hidup dari keempat korban cebongan tersebut telah dicabut oleh Kopassus Grup II Kandang Menjangan yang pada hakikatnya hak hidup tersebut tidak dapat dicabut oleh siapapun juga.
Teori Universalime
Teori universalime ini berarti hak asasi manusia tersebut dipandang sebagai nilai-nilai universal yang diakui dan dijunjung tinggi oleh masyarakat Internasional.Misalnya dalam kasus cebongan ini adalah hak untuk memperoleh keadilan. Keempat korban cebongan itu masih berstatus tersangka, sehingga mereka seharusnya mendapat kesempatan melalui proses peradilan yang sah secara hokum sebelum dinyatakan sebagai terdakwa dan dipidana sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan. Dengan kata lain, Kopasus ini telah melanggar asas praduga tak bersalah yang diakui oleh masyarakat internasional.
Teori Partikularisme
Indonesia menganut Partikularisme relative, dimana selain peraturan nasional, peraturan internasional juga digunakan namun tetap peraturan internasional tersebut harus diselaraskan dan diseimbangkan dengan budaya atau karakteristik bangsa Indonesia. HAM yang dilanggar oleh Kopassus dalam kasus Cebongan tersebut berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 pasal 9 tentang Hak Untuk Hidup, dan pasal 28 sampai dengan pasal 35 Tentang Hak atas Rasa Aman sebagai sumber hokum nasional. Sedangkan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia terkait juga dengan :
Pasal 3
Pasal 5
Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, diperlakukan atau dikukum secara tidak manusiawi atau dihina.
Pasal 6
Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana saja ia berada.
Pasal 7
Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi. Semua berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk diskriminasi yang bertentangan dengan Deklarasi ini, dan terhadap segala hasutan yang mengarah pada diskriminasi semacam ini.
Teori Positivisme
Berkaitan dengan teori Positivisme mengenai Hak Asasi Manusia tersebut tidak serta merta ada seketika saat manusia lahir kedunia, namun juga timbul karena adanya regulasi dan konstitusi suatu negara.Perundang-undangan mengenai HAM tersebut di Indonesia merupakan turunan dari Undang-Undang Dasar.Seperti yang dipaparkan dalam teori Partikularisme, Perundang-Undangan yang mengatur HAM yaitu Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999.
Teori Tanggung Jawab Negara
negara juga dianggap gagal menjamin hak hidup keempat tersangka yang pada akhirnya menjadi korban dalam lapas Cebongan.
b. Analisis Kasus dari Segi Konsep Dasar H ak A sasi M anusia
Dikaitkan dengan kasus Cebongan yang sedang kami bahas maka sudah jelas bahwa kasus ini merupakan pelanggaran baik dilihat dari konsep dimensi visi HAM maupun konsep perkembangan HAM itu sendiri.Dari sisi visi filsafati misalnya, penembakan ini merupakan pelanggaran hak hidup manusia sebagai mahluk tuhan, dimana hak itu sudah ada sejak dia lahir. Visi yuridis juga tercoreng karena kegagalan Negara melindungi hak warganya, yang seharusnya mendapat perlindungan karena sedang menjalani proses hokum. Visi politik pun demikian, seharusnya oknum-oknum pemerintah tidak boleh mengeksekusi mati begitu saja seseorang tanpa hak sekalipun hal itu dianggap sesuatu yang benar, hendeknya pihak kopasus mengikuti jalur hukum yang ada.
Lebih lanjut jika ditinjau dari konsep perkembangan HAMnya maka kasus ini melanggar salah satu HAM yang paling awal berkembang yaitu HAM generasi I.
“Generasi I konsep HAM , sarat dengan hak-hak yuridis, seperti tidak disiksa dan ditahan, hak akan equality before the law (persamaan dihadapan hukum), hak akan fair trial (peradilan yang jujur), praduga tak bersalah dan sebagainya. Generasi I ini merupakan reaksi terhadap kehidupan kenegaraan yang totaliter dan fasistis yang mewarnai tahun-tahun sebelum Perang Dunia II.”
Jelas sekali bahwa kasus penembakan di Cebongan ini melanggar hak akan fair trial dan equality before the law, yang seharusnya dijunjung tinggi pemerintah bahkan oleh Kopasus sekalipun.
c. Analisis Kasus dari segi Prinsip-Prinsip H ak A sasi M anusia
Apabila kasus ini di analisis dari segi pelanggaran terhadap prinsip-prinsip HAM, maka kasus ini melanggar beberapa prinsip HAM yaitu:
Apabila dirujuk pada nilai-nilai moral dan etika, kasus ini jelas melanggar hak asasi manusia, karena para anggota Kopassustersebut dengan semena-mena merenggut kehidupan seseorang.Kasus ini tidak menghargai moral dan martabat manusia yang diakui secara universal di dunia.
Prinsip Inalienability
Dilihat dari prinsip ini yang mendefinisikan bahwa hak setiap individu tidak dapat dicabut, maka para anggota Kopassus disini mencabut hak untuk hidup dari para korban yang terbunuh dalam kasus penyerangan LP Cebongan.
Prinsip Indivisibility
Prinsip ini mengacu pada hak asasi manusia yang tidak dapat dipisah-pisah, dimana HAM baik sipil, politik, social budaya merupakan satu kesatuan yang inheren yaitu menyatu dalam harkat martabat manusia.Jadi hak hidup korban yang dirampas dalam kasus ini juga berkaitan dengan hak-hak lainnya.
Prinsip Interdependency
Pemenuhan suatu hak seringkali bergantung sepenuhnya atau sebagian terhadap pemenuhan hak yang lain. Dalam kasus ini, ketika para korban direnggut hak hidupnya, maka hak-hak lainnya tidak dapat dijalankan oleh para korban.Seperti hak sipil, hak politik, hak social, hak ekonomi dan hak budaya. Contohnya ketika para korban merupakan pencari nafkah di dalam keluarganya, mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya karena hak hidupnya sudah terenggut karena hilangnya suatu hak dapat membuat terabainya hak lain.
Prinsip Equality
Prinsip Non Discrimination
Sebagai manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, sudah seharusnya manusia tidak mendiskriminasi satu sama lain. Dalam kasus ini, para korban tidak dapat diperlakukan secara berbeda meskipun mereka telah melakukan kesalahan terhahdap salah satu anggota Kopassus.Main hakim sendiri dengan menghabiskan nyawa dari para korban yang masih diproses di peradilan merupakan tindakan diskriminasi.
Prinsip Accountability and Rule of Law
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Menurut kelompok kami, kasus Cebongan ini merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM karena mencabut hak hidup dari para tersangka, dari analisis kami kasus ini juga telah melanggar atau berkaitan dengan Teori, Konsep dan Prinsip HAM. Kopasus sebagai aparat penegak hokum dan aparat negara seharusnya dapat melindungi, menjamin serta menegakan keadilan dan kepastian hokum kepada keempat tersangka, bukan menyalahgunakan wewenang untuk dapat membalas dendam dan mengabaikan proses hokum yang berlaku.
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Buku-Buku:
Manan, Bagir. (1996), “Muladi: Hukum dan Hak Asasi Manusia”, Kedaulatan Rakyat, Hak Asasi Manusia dan Negara Hukum, Gaya Media Pratama, Jakarta.
Donnely, Jack. (2003), Universal Human Rights in Theory and Practice, Cornell University Press,Ithaca and London.
Cranston, Maurica. (1973), What are Human Rights?, Taplinger, New York.
Smith, Rhona K. M. (2008), et. al., Hukum Hak Asasi Manusia,PUSHAM-UII, Yogyakarta.
Kutipan-kutipan:
http://desentralisasi-otonomi.blogspot.com/2012/04/konsep-dasar-hak-asasi-manusia.html
(15 September 2013 pukul 22.55 WIB)
http://herizal-effendi-arifin.blogspot.com/2011/08/ringkasan-pasal-pasal-deklarasi.html
(14 September pukul 19.35 WIB)
http://makalahhakasasimanusiaham.blogspot.com/ (16 September 2013 pukul 20.10 WIB)
http://fatah33.blogspot.com/2011/02/pengertian-dan-pelanggaran-pelanggaran.html
(14 September 2013 pukul 16.43 WIB)
Sumber kasus:
http://www.hrw.org/news/2013/09/09/indonesia-seek-just-punishments-military-murderers http:// www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/09/130905_gariswaktu_kasus_cebongan.shtml