JUAL BELI SALAM JUAL BELI PEMBAYARAN DI

Teks penuh

(1)

JUAL BELI SALAM (JUAL BELI PEMBAYARAN DI MUKA)

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqh Muamalah

Dosen Pengampu: Imam Mustofa, M.Si

Disusun Oleh:

Desva Rini Kusuma Zahra

Npm. 1502100170

Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam

Program Studi S1 Perbankan Syariah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI

(STAIN) JURAI SIWO METRO

(2)

PENDAHULUAN

Diantara bukti kesempurnaan agama islam ialah dibolehkanya jual beli dengan cara salam, yaitu akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang telah disepakati dan dengan pembayaran tunai pada saat akad dilaksanakan. Yang demikian itu, dikarenakan dengan akad ini kedua belah pihak mendapatkan keuntungan tanpa ada unsur tipu menipu atau gharar (untung-untungan).

Pembelian (biasanya) mendapatkan keuntungan berupa jaminan untuk mendapatkan barang sesuai dengan yang ia butuhkan dan pada waktu yang ia inginkan. Sebagaimana ia juga mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan pembelian pada saat ia membutuhkan kepada barang tersebut. Sedangkan penjual juga mendapatkan keuntungan yang tidak kalah besar di banding pembeli, diantaranya penjual mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya dengan cara-cara yang halal, sehingga ia dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya tanpa harus membayar bunga.

Dengan demikian selama belum jatuh tempo, penjua dapat menggunakan uang pembayaran tersebut untuk menjalankan usahanya dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa ada kewajiban apapun. Penjual memiliki keleluasaan dalam memenuhi permintaan pembeli, karena biasanya tenggang waktu antara transaksi dan penyerahan barang pesanan berjarak cukup lama.

(3)

JUAL BELI SALAM

A. Rukun-rukun Jual beli Salam

Adapun rukun salam menurut jumhur ulama ada tiga yaitu: 1. Sigat yaitu ijab kabul1

Syarat dalam sigat :

a) Tempat akad harus bersatu

b) Pengucapan ijab dan qobul tidak terpisah

c) Diantara ijab dan qobul tidak boleh ada pemisan yang mengandung unsur penolakan aqid secara adat.2

2. Aqidani (dua orang yang melakukan transaksi),yaitu orang yang memesan dan orang ang menerima pesanan.3

Syarat aqid adalah penjual atau pembeli.dalam hal ini terdapat 3 syarat,ditambah 1 bagi penjual:

a) Penjual dan pembeli harus mumayiz

b) Keduanya merupakan pemilik barang atau yang dijadikan wakil

c) Keduanya dalam keadaan suka rela.jual beli berdasarkan paksaan adalah tidak sah.

d) Penjual harus sadar dan dewasa.4

3. Objek transaksi,yaitu harga dan barang yang di pesan.5

Syaratnya adalah: hasil produksi merupakan objek barang yang akan di serahkan pada saat akhir kontrak oleh penjual sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dalam akad.hasil produksi tidak termasuk dalam kategori barang yang di larang (barang najis, haram, samar/tidak jelas/syubhat) atau barang yang dapat menimbulkan kemudharatan.

Sedangkan harga disepakati pada saat awal akad antara pembeli dan penjual, dan pembayaranya di lakukan pada saat awal kontrak. Hargabarang harus jelas ditulis dalam kontrak, serta tidak boleh berubah selama masa akad.6

1 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001), hlm.81

2 Ibid.,hlm.81.

3 Mardani, Fiqh Ekonomi Syari’ah,(Jakarta: Kencana, 2012), hlm.114.

4 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah,(Bandung: Cv Pustaka Setia, 2001), hlm.81. 5 IsmaiL, Perbankan Syari’ah,(Jakarta:Kencana, 2011), hlm.154.

(4)

Oleh sebab itu,unsur harga barang yang harus diserahkan ketika akad sangat menentukan sah atau tidaknya jual beli ini.7

Rukun salam diatas bila dipilah-pilah sebenarnya ada lima hal, yaitu: a) orang yang memesan (muslim) atau pembeli

b) orang yang menerima pesanan (muslim ilaih) atau penjual c) barang yang dipesan (muslam fih)

d) modal (ra’su mal al-salam) e) akad (ijab dan kabul).8

B. Syarat jual beli salam

ulama telah sepakat bahwa salam diperbolehkan dengan syarat sebagai berikut:

1 jenis objek jual beli salam harus jelas 2 sifat objek jual beli salam harus jelas

3 kadar atau ukuran jual beli salam harus jelas

4 jangka waktu pemesanan objek jual beli salam harus jelas

5 asumsi modal yang dikeluarkan harus diketahui masing-masing pihak.9

Persyaratan salam, khususnya syarat modal dan barang secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Syarat modal

Modal dalam salam harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a harus jelas jenisnya, misalnya satuan rupiah, dolar atau mata uang lainya bila modal berupa uang tunai; bisa juga barang yang bernilai dan terukur, misalnya satuan kilogram atau satuan meteran dan sejenisnya bila modal berupa barang.

b Harus jelas macamnya, bila dalam suatu negara terdiri dari beberapa mata uang. Bila modal berupa barang, misalnya beras, harus jelas beras jenis apa; c Harus jelas sifatnya dan kwalitasnya, baik sedang atau buruk; ketiga syarat

ini menghindari ketidakjelasan modal yang diberikan pmbeli kepada penjual, sehingga mencegah terjadinya perselisihan antara penjual dan pembeli;

7 Nasrun Haroen,Fiqh Muamalah,(Jakarta:Gaya Media Pratama, 2007), hlm.151. 8 Imam Mustofa,Fiqih Muamalah Kontemporer,(Jakarta:Pt Rajagrafndo

(5)

d Harus jelas kadar modal bila modal memang suatu yang berkadar. Hal ini tidak cukup dengan isyarat, harus jelas dan eksplisitt;

e Modal harus segera diserahkan di lokasi akad atau transaksi sebelum kedua belah pihak berpisah; apabila kedua belah pihak berpisah sebelum pemesan memberikan modal, maka akan di anggap rusak dan tidak sah.10

2. Syarat barang yang di pesan (muslam fih)

Barang yang menjadi objek jual beli salam harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a Harus jelas jenisnya; seperti beras, jagung dan sejenisnya;

b Harus jelas macamnya; seperti beras rojo lele, pandan wangi, dan sejenisnya c Harus jelas sifat dan kwalitasnya; seperti beras IR yang bagus, sedang, atau

yang berkwalitas rendah

d Harus jelas kadarnya, seperti dalam satuan kilogram, takaran, cm, bilangan atau satuan ukuran-ukuuran lainya

e Barang tidak di barter dengan barang sejenis yang akan menyebabkan terjadinya riba

f Barang yang di pesan harus dapat dijelaskan spesifikasinya, apabia barang tidak dapat dijelaskan spesifikasinya,seperti mata uang, rupiah atau dirham maka salam tidak sah

g Penyerahan barang harus diwaktu kemudian, tidak bersamaan dengan penyerahan harga pada waktu penyerahan akat; bila barang disrahkan langsung maka tidak disebut salam,akan tetapi jual beli biasa; menurut ulama hanafiah jangka waktu salam adalah satu bulan atau lima belas hari, karena hal tersebut yang umum terjadi pada pemesanan barang

h Kadar objek akad dalam salam harus jelas dan pasti,karena dalam jual beli salam tidak berlaku khiyar syara kedua belah pihak atau salah satunya; i Tempat penyerahan barang harus jelas,ini adalah persyaratan menurut

hanafiah;

j Objek akad salam atau barang yang diperjualbelikan merupakan barang yang dapat di jelaskan sifat,jenis kadar, macam dan kwalitasnya.11

k Para ulama melarang penggantian muslam fih dengan barang lainya. penukaran atau penggantian barang assalam ini tidak diperkenankan, karena meskipun belum diserahkan, barang tersebut tidak lagi milik muslam alaih, tetapi sudah menjadi milik muslam (fidz-dzimmah). Bila barang tersebut di

(6)

ganti dengan barang yang memiliki spesifikasi dan kwalitas yang sama meskipun sumbernya berbeda,para ulama membolehkanya. Hal demikian tidak di anggap sebagai jual beli, melainkan penyerahan unit yang lain untuk barang yang sama.12

C. penerimaan pembayaran salam

Kebanyakan ulama mengharuskan pembayaran salam dilakukan di tempat kontrak.hal tersebut dimaksudkan agar pembayaran yang diberikan oleh al-muslam (pembeli) tidak dijadikan sebagai utang penjual.lebih khusus lagi, pembayaran salam tidak bisa dalam bentuk peembebasan utang yang harus dibayar dari muslam alaih (penjual). Hal ini adalah untuk mencegah praktik riba melalui mekanisme salam. 13

Adapun syarat-syarat ijab qabul yang harus dipenuhi dalam jual beli salam adalah:

1 Tujuan yang terkandung di dalam pernyataan ijab dan qabul harus jelas dan terdapat kesesuaian, sehingga dapat dipahami oleh masing-masing pihak.

2 Pelaksanaan ijab dan qabul harus berhubungan langsung dalam suatu majlis. Apabila kedua belah pihak hadir dan saling bertemu dalam satu tempat untuk melaksanakan transaksi, maka tempat tersebut adalah majlis akad. Adapun jika masing-masing pihak saling berjauhan maka majlis akad adalah tempat terjadinya qabul. Pernyataan ijab dan qabul dapat dilakukan dengan cara lisan, tulisan atau surat menyurat, atau isyarat yang memberikan pengertian dengan jelas tentang adanya ijab dan qabul, dan dapat juga berupa perbuatan yang telah menjadi kebiasaan dalam ijab qabul.

3 Menggunakan kata as-salam atau as-salaf. Bila menggunakan kata-kata jual beli (al-bay’) maka tidak sah, menurut pendapat yang lebih kuat. Alasan yang dikemukakan adalah karena jual beli pesanan termasuk jual beli yang secara qiyas tidak diperbolehkan, akan tetapi pelarangan ini telah dihapuskan dengan pertimbangan kebutuhan masyarakat terhadap kontrak salam. Sehingga para ulama berpendapat perlu adanya sebuah pembatasan terhadap penggunaan kata yang hanya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh syara’. Oleh karena itu, syara’ membolehkan akad ini hanya dengan menggunakan kata-kata salam dan salaf. Tetapi ada pula pendapat yang membolehkan akad ini dengan

12 Muhammad Syafi ntonio, Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktik,(Jakarta:Gema Insani,2001), hlm.110.

(7)

menggunakan kata jual beli (al-bay’) biasa dan tetap sah sebagai transaksi jual beli salam.14

Syarat yang berhubungn dengan semua bentuk jual beli yang telah di tetapkan syara’di antaranya adalah harus terhindar kecacatan jual beli. Yaitu ketidakjelasan, keterpaksaan, pembatasan dengan waktu (taukid), penipuan (gharar), kemadaratan dan persyaratan yang merusak lainya, kedua syarat khusus adalah syarat-syarat yang hanya ada pada barang-barang tertentu.jual beli ini harus memenuhi persyaratan berikut:

1. Barang yang di perjual belikan harus dapat di pegang yaitu pada jual beli benda yang harus di pegang, sebab apabila di lepaskan akan rusak atau hilang.

2. Harga awal harus di ketahui, yatu pada jual beli amanat.

3. Serah terima benda dilakukan sebelum berpisah, yaitu pada jual beli yang bendanya ada di tempat.

4. Terpenuhi syarat penerimaan.

5. Harus seimbang dalam ukuran timbangan, yaitu dalam jual beli yang memakai ukuran atau timbangan.

6. Barang yang di perjual belikan sudah menjadi tanggung jawabnya.oleh karena itu,tidak boleh menjual barang yang masih ada di tangan penjual.15

Salam tidak dapat dilakukan untuk jual beli komoditas tertentu, atau produk dari lahan pertanian atau perternakan tertentu.contoh: jika penjual bermaksud memasok gandum dari lahan tertentu atau buah dari pohon tertentu, akad salam tidak sah karena ada kemungkinan bahwa hasil panendari lahan tertentu rusak sebelum waktu penyerahan.hal ini membuka kemungkinan waktu penyerahan yang tidak tentu.ketentuan yang sama berlaku untuk setiap komoditas yang pasokanya tidak tentu.16

Tujuan utama jual beli seperti ini adalah untuk saling membantu antara konsumen dengan produsen. Kadangkala barang yang di jual oleh produsen tidak memenuhi selera konsumen.untuk membuat barang sesuai dengan selara konsumen, produsen memerlukan modal. oleh sebab itu dalam rangka saling membantu produsen bersedia membayar uang barang yang di pesan itu ketika

14 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah,(J K RT : G Y MEDI PR T M ),cet 1,2007.hlm.151.

15 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah.,hlm.79.

(8)

akad sehingga produsen boleh membeli bahan dan mengerjakan barang yang di pesan itu.17

Melihat kriteria-kriteria as salam bentuk kontrakan ini dapat dikatakan kebalikan dari jual beli murabahah, dimana pembayaran dilakukan terakhir.18

D. Berakhirnya akad salam

Hal-hal yang membatalkan kontrak salam adalah:

1 Barang yang di pesan tidak ada pada waktu yang ditentukan

2 Barang yang di kirim cacat atau tidak sesuai dengan yang dispakati dalam akad 3 Barang yang di kirim kwalitasnya lebih rendah,dan pembeli memilih untuk

menolak dan membatalkan akad.19

Semua syarat-syarat dasar suatu akad jual beli biasa masih tetap ada pada jual beli salam. Namun ada beberapa perbedaan antara keduanya, misalnya:

1. Harga barang dalam jual beli salam tidak boleh di rubah dan harus di serahkan seluruhnya pada waktu akad berlangsung, sedangkan jual beli biasa pembeli boleh saja membayar barang yang ia beli dengan utang penjual kepada pembeli. Dalam artian,utang di anggap lunas dan barang di ambil oleh pembeli.

2. Harga yang diberikan berbentuk uang tunai, bukan berbentuk cek mundur.jika harga yang diserahkan oleh pemesan adalah cek mundur, maka jual beli pesanan batal, karena untuk membantu modal produsen tidak ada, sedangkan jual beli biasa, harga yang di serahkan boleh saja berbentuk cek mundur.

3. Pihak produsn tidak di benarkan menyatakan bahwa uang pembeli di bayar kemudian, karena jika ini terjadi maka jual beli ini tidak lagi bernama jual beli pesanan.sedangkan jual beli biasa pihak produsen boleh berbaik hati untuk menunda penerimaan harga barang ketika barang telah selesai dan di serahkan. 4. Menurut ulama Hanafiyah modal atau harga beli boleh di jamin oleh seseorang

yang hadir waktu akad dan penjamin ini bertanggung jawab membayar harga pada saat itu juga. akan tetapi,menurut Zufar ibn Huzail, pakar fiqh Hanafi, harga itu tidak boleh di jamin oleh seseorang karena dengan adanya jaminan ini akan menunda pembayaran harga yang seharusnya dibayarkan tunai waktu akad. Sedangkan dalam jual beli biasa persoalan harga yang di jamin oleh seseorang

17 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah.,hlm.147.

18 Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah,(Yogyakarta:Uii Press,2008), hlm.31.

(9)

atau dibayar dengan borog (barang jaminan)tidak menjadi masalah asal keduanya sepakat.20

Dewan Syariah Nasional menetapkan aturan tentang Jual beli Salam sebagai berikut:

1 Pertama : Ketentuan tentang pembayaran :

a. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang atau manfaat.

b. Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati c. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang. 2 Kedua : Ketentuan tentang barang

a Harus jelas cirri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang b Harus dapat dijelaskan spesifikasinya

c Penyerahan dilakukan kemudian

d Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.

e Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya

f Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.

3 Ketiga : Ketentuan tentang salam paralel.

Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat: a Akad kedua terpisah dari akad pertama.

b Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sarih atau jelas 4 Keempat : Penyerahan barang sebelum atau pada waktunya :

a. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakati.

b. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi penjual tidak boleh meminta tambahan harga.

c. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah dan pembeli rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga (diskon)

d. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan syarat: kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh menuntut tambahan harga

(10)

e. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak menerimanya, maka ia memiliki dua pilihan. Pertama, Membatalkan kontrak dan meninta kembali uangnya. Kedua, Menunggu sampai barang tersedia.

5 Kelima : Pembatalan kontrak

Pada dasarnya pembatalan salam boleh dilakukan, selama tidak merugikan kedua belah pihak. Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Akuntansi Salam memberikan karakteristik salam sebagai berikut:

a. Entitas dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika entitas bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam paralel.

b. Salam paralel dapat dilakukan dengan dua syarat. Pertama, akad antara entitas (sebagai pembeli) dan Produsen (penjual) terpisah dari akad antara entitas (sebagai penjual) dan pembeli akhir. Kedua, kedua akad tidak saling bergantung (ta'alluq).

c. Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad. Dalam hal bertindak sebagai pembeli, entitas dapat meminta jaminan kepada penjual untuk menghindari risiko yang merugikan. d. Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi:

jenis, spesifikasi teknis, kualitas dan kuantitasnya. Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah disepakati antara pembeli dan penjual. Jika barang pesanan yang dikirimkan salah atau cacat maka penjual harus berlanggung jawab atas kelalaiannya.21

(11)

DAFTAR PUSTAKA

scarya. Akad dan Produk Bank Syariah. Jakarta:Rajawali Pers. 2013.

Imam Mustofa.Fiqih Muamalah Kontemporer. Jakarta:Pt Rajagrafndo Persada.

2016.

IsmaiL. Perbankan Syari’ah. Jakarta:Kencana. 2011. Mardani. Fiqh Ekonomi Syari’ah. Jakarta: Kencana. 2012.

Muhammad Syafi ntonio. Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktik. Jakarta:Gema

Insani. 2001.

Muhammad. Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah.

Yogyakarta:Uii Press. 2008.

Nasrun Haroen. Fiqh Muamalah. Jakarta: Gaya Media Pratama. cet 1. 2007. Rachmat Syafei. Fiqih Muamalah. Bandung: CV Pustaka Setia. 2001.

Siti Mujiatun. Jual Beli Dalam Perspektif Islam: Salam Dan Istisna’. Jurnal Riset

kuntansi Dan Bisnis. vol 13 no 2. 2013.

Sri Nurhayati dan Wasilah. Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta: Salemba

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...