7
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
HRIS
HRIS dapat didefinisikan sebagai suatu sistem terintegrasi yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisa informasi tentang manusia organisasi sumber daya yang terdiri dari database, komputer aplikasi, perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mengumpulkan, merekam, menyimpan, mengelola, memberikan, menyajikan dan memanipulasi data untuk fungsi-fungsi sumber daya manusia (Hendrickson, 2003).
HRIS dapat melakukan sejumlah fungsi dari penyimpanan sederhana dan komunikasi informasi untuk transaksi yang lebih kompleks. Seiring kemajuan teknologi, beberapa fungsi HRIS pun ikut terkena impact yang positif. Sebenarnya HRIS diperuntukan lebih kepada departemen SDM itu sendiri (Ruel, Bondarouk & Looise, 2004). Tetapi penggunaan/keuntungan dari HRIS dapat memberikan sejumlah manfaat tidak hanya untuk fungsi SDM, tetapi juga manajer lini, dan kepada organisasi secara lebih luas (Parry, 2009).
untuk memberikan informasi yang lebih baik dimana hal ini dapat digunakan sebgagai bahan pertimbangan dalam pengambilan suatu keputusan (Beadles, Lowery & Johns, 2005).
Sebuah organisasi harus memperlakukan informasi sebagai sumber daya (resources) ataupun sebagai aset berharga. Hal ini harus diatur, dikelola dan disebarkan secara efektif dan baik agar sebuah informasi yang berkualitas dapat berfungsi secara maksimal dan tepat sasaran. Informasi pada sebuah organisasi dapat mengalir dalam empat arah dasar yakni atas, ke bawah, horizontal dan luar / ke dalam (Haag & Cummings, 2008). Dengan mempertimbangkan bahwa ada sejumlah besar arus informasi dalam organisasi, maka diperlukan suatu usaha untuk memahami pentingnya untuk mengimplementasikan sistem informasi pada organisasi tersebut.
Singkatnya HRIS adalah sistem yang didesain agar input datanya berhubungan dengan sumber daya manusia dan outputnya dapat memberikan data yang efektif yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Menurut Mahdi Mahmoudi pada tahun 2008 berikut beberapa alasan penggunaan HRIS :
• Meningkatkan keunggulan kompetitif organisasi.
• Proses yang kontiniu.
• Mengembangkan kualitas reporting.
• Integrasi informasi sumber daya manusia.
2.2
E-Human Resource Management (E-HRM)
al., 2007). Pada beberapa literatur, E-HR digunakan bergantian dengan virtual HRM, HR intranet, web-based HR, computerized Human Resource Information System (CHRIS), dan HR portal (Ruel et al., 2004).
Menurut Voermans dan Van Veldhoven (2007), E-HRM dapat didefinisikan secara sempit sebagai dukungan administrasif dari fungsi SDM pada sebuah organisasi dengan penggunaan teknologi berbasis internet. Lengnick-Hall dan Moritz (2003) menyarankan penggunaan atas E-HR untuk melakukan bisnis transaksi (dan HRM khususnya) dengan penggunaan Internet bersama-sama dengan teknologi lainnya. Ruel et al. pada tahun 2004 dan 2007 mendefinisikan bahwa E-HRM adalah suatu cara untuk menerapkan strategi, kebijakan, dan praktik SDM dalam sebuah organisasi melalui dukungan dengan penggunaan penuh teknologi berbasis web.
2.3
Cloud Computing
Cloud computing adalah sebuah model yang memungkinkan akses
dimanapun (dengan koneksi internet), tingkat kenyamanan yang tinggi, dan on-demand akses kepada sumber daya komputasi yang dapat dengan mudah
dikonfigurasi (misalnya, jaringan, server, penyimpanan (storage), aplikasi, dan layanan) yang dapat dengan cepat ditetapkan dan dirilis dengan upaya manajemen atau interaksi dengan penyedia layanan yang minimal.
ini digunakan oleh kebanyakan organisasi di seluruh dunia (Vanhegan S., 2013).
2.3.1 Karakteristik Cloud Computing (Bhadauria R, et al., 2012):
On-demand self-service. Pelanggan dapat secara sepihak
(uniletarally) memiliki kemampuan komputasi, seperti setting waktu server dan penyimpanan jaringan, sesuai kebutuhan secara otomatis tanpa memerlukan adanya interaksi manusia pada masing-masing penyedia layanan.
Broad network access. Kemampuan yang tersedia melalui jaringan
dan diakses melalui mekanisme standar yang mengijinkan penggunaan oleh beberapa platform yang heterogen esperti thin client atau thick client (misalnya, ponsel, tablet, laptop, dan workstation).
Resource pooling. Resource dari penyedia dikumpulkan untuk
Rapid elasticity. Kemampuan yang elastis yang artinya kemampuan
ini dapat beradaptasi sesuai dengan permintaan pelanggan, dalam beberapa kasus setting dapat dikonfigurasi secara otomatis, dan untuk skala lebih cepat dapat disesuaikan dengan permintaan. Untuk konsumen, akses yang tersedia untuk melakukan perubahan terhadap sistem menjadi sering muncul dan tidak terbatas sehingga dapat disesuaikan sesuai keinginan pelanggan setiap saat.
Measured service. Sistem Cloud otomatis mengontrol dan
mengoptimalkan penggunaan resources dengan memanfaatkan fitur capability metering pada beberapa tingkat abstraks yang dapat disesuaikan
dengan jenis layanan (misalnya, penyimpanan, pengolahan, bandwidth, dan account pengguna aktif). Penggunaan resources dapat dipantau, dikendalikan, dan dilaporkan sehingga akan memberikan transparansi bagi penyedia dan konsumen mengenai informasi terkait layanan digunakan.
2.3.2 Model layanan Cloud Computing :
Software as a Service (SaaS). Menurut Bhat et al tahun 2010 SaaS
server dan diakses melalui Internet dengan cache yang bersifat sementara
pada perangkat keras klien yang dapat berupa desktop, tablet komputer, notebook, perangkat genggam, ponsel, dll, hal ini dikenal dengan Software sebagai Service (SaaS).
Platform as a Service (PaaS). Kemampuan yang diberikan kepada
konsumen adalah untuk utilisasi atas infrastruktur cloud yang disediakan oleh penyedia layanan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti programming, penyimpanan data, dan lain-lain. Konsumen mempunyai akses untuk mengelola atau mengendalikan infrastruktur cloud yang basic termasuk jaringan, server, sistem operasi, atau penyimpanan, namun memiliki kontrol atas aplikasi yang digunakan dan control atas pengaturan konfigurasi untuk environment dari hosting application.
Infrastruktur as a Service (IaaS). Kemampuan yang diberikan
Berikut perbandingan infrastruktur beberapa jenis cloud vs on-premises menurut Sasko Ristov, Marjan Gusev and Magdalena Kostoska
pada tahun 2012 :
Gambar 0.1. Perbandingan layanan cloud computing vs On-Premises.
2.3.3 Deployment Model:
Private Cloud. Private cloud adalah model yang diperuntukan
kepada penggunaan eksklusif oleh satu organisasi yang terdiri dari beberapa konsumen (misalnya, unit usaha). Hal ini dapat dimiliki, dikelola, dan dioperasikan oleh organisasi itu sendri, ataupun kepada pihak ketiga. Private cloud memberikan pengguna akses yang cukup bebas terhadap cloud itu sendiri, tingkat keamananpun dapat diset sesuai kebutuhan organisasi (Bhat, M, A, et al., 2010).
Public Cloud. Infrastruktur dari model ini adalah model yang
cloud bukan berarti data pribadi organisasi dapat diakses oleh siapapun, pada umumnya vendor akan menyediakan hak akses kontrol bagi para pengguna (Bhat, M, A, et al., 2010).
Hybrid cloud. Infrastruktur dari model ini adalah model yang
menggabungkan dari dua infrastruktur cloud yang berbeda (private & public) namun tetap merupakan suatu entitas yang unik, namun tetap
mempunyai hubungan dengan teknologi standar atau kepemilikan yang memungkinkan akses data dan aplikasi (misalnya, cloud bursting untuk load balancing antar cloud).
2.4
HRIS Tipe SaaS
Menurut Affinity salah satu perusahaan consulting HR bahwa perusahaan di seluruh dunia telah menyadari nilai software HRM dalam mengelola departemen HR mereka. Setengah dari pendapatan dari pasar software 9,5 miliar USD HRM dalam HRIS aplikasi jenis suite, yang berarti
perusahaan secara aktif menginginkan software yang terintegrasi dibandingkan stand alone software. (sumber : http://affinityes.com.au/hris-saas-is-rapidly-growing).
Porsi revenue dari jenis aplikasi HRIS yang on-premises, dimana perusahaan harus membeli lisensi dan perangkat lunak yang diinstal pada sistem mereka. Sistem perlu dikonfigurasi untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dan perusahaan juga akan harus membayar biaya maintenance untuk mendukung keberlangsungan dari sistem tersebut.
perangkat lunak memerlukan waktu yang tidak pendek. Untuk sebuah perusahaan yang memiliki beberapa lokasi, implementasi perangkat lunak di setiap lokasi akan memakan waktu tambahan. Bisa dibayangkan berapa banyak waktu yang dibutuhkan bagi perusahaan yang secara global untuk mengimplementasikan sebuah sistem, belum lagi berapa banyak uang yang harus mereka keluarkan untuk membayar biaya lisensi dan maintenance.
Ini adalah beberapa alasan mengapa HRIS SaaS bertumbuh pada tingkat yang lebih cepat daripada pasar HRIS secara keseluruhan. Banyak perusahaan yang menyadari manfaat SaaS dan lebih condong ke arah penerapan ini dibandingkan dengan cara implementasi application on-premises.
SaaS HRIS menyediakan semua fungsi on-premis software, tetapi dengan beberapa keuntungan utama:
Fast Implementation - Sebagai akses ke HRIS SaaS
SaaS bisa mempersingkat waktu implementasi menjadi 1 – 2 bulan.
Automatic Software Upgrades - Tidak seperti sistem
on-premises dimana sebuah perusahaan sangat bergantung
pada produsen perangkat lunak untuk menyediakan upgrade, dengan SaaS HRIS, sebuah perusahaan tidak lagi perlu khawatir tentang software upgrade. Penyedia SaaS mengakomodir semua tanggung jawab untuk memastikan bahwa perangkat lunak yang up to date dengan upgrade terbaru.
Mengurangi biaya dalam infrastruktur TI - Ketika sebuah
perusahaan memiliki software HRIS yang bersifat on-premises, maka perusahaan juga perlu untuk berinvestasi
dalam komputer, server, dan tenaga kerja untuk memastikan bahwa sistem berfungsi dengan baik. Biaya investasi tersebut bisa sangat besar tergantung dari skala perusahaan. Dengan SaaS HRIS, perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk infrastruktur TI mereka. Biaya pemeliharaan sistem semua ditangani oleh penyedia SaaS.
perkembangan (updates), mereka memiliki HRIS yang cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sistem HRIS dapat diimplementasikan di lebih cepat dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menerapkan sistem on-premises, dan maintenance sistem menjadi tanggung jawab penyedia layanan SaaS. Pertumbuhan HRIS sistem SaaS sangatlah menakjubkan karena banyak perusahaan lebih telah mulai menyadari manfaatnya.
2.5
Keterbatasan HRIS berbasis Web
Personel SDM perlu menyadari bahwa ada beberapa keterbatasan saat teknologi web digunakan untuk penyokong HRIS. Mirip dengan kebanyakan usaha e-bisnis, keamanan informasi employee pada sistem SDM merupakan prioritas utama. Organisasi yang serius dalam penggunaan internet mendukung ataupun mengelola SDMnya maka mereka harus mengevaluasi masalah-masalah seperti otentikasi, keamanan, akses aturan, dan jejak audit yang terkait dengan jaringan penyedia layanan, server, dan aplikasi (Karakanian, 2000).
Salah satu aspek penting lain dari implementasi HRIS berbasis web adalah tingkat kepuasan pengguna, banyak hal yang dapat mengakibatkan kualitas kepuasan pengguna yang rendah antara lain, kualitas aplikasiyang buruk, kurangnya level expertise dari konsultan, tidak sesuainya hasil aplikasi dengan harapan pengguna, dan lain-lain. Oleh sebab itu hal ini sering disarankan sebagai indikator keberhasilan implementasi dari sebuah system informasi.
Banyak peneliti empiris IS telah menganggap kepuasan pengguna sebagai faktor penting keberhasilan sebuah implementasi IS, hal ini merupakan ukuran yang paling akurat terhadap kesuksesan proyek sistem informasi karena penerapannya dan kemudahannya dalam penggunaan. Dalam beberapa literatur karakteristik ini telah menjadi elemen inti pada faktor-faktor kepuasan pengguna yang didefinisikan sebagai sikap bahwa pengguna mendukung ketersedian dari sebuah sistem informasi (Shibly, 2011).
2.6
Resiko dan Kesiapan HRIS Cloud Computing
Sistem Cloud sering berbeda dari infrastruktur IT tradisional yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri karena mereka biasanya layanan ini disediakan oleh pemasok pihak ketiga, sehingga perusahaan tidak memiliki banyak kontrol atas sistem cloud karena mereka akan melalui infrastruktur IT mereka sendiri.
internet dalam cloud (karena mungkin akan mengakses email berbasis web untuk memindahkan dokumen keluar lingkungan cloud), dan sering mungkin dengan lingkungan cloud sang karyawan dapat mengambil data dan memperbanyak atau mengcopy menjadi data pribadi (Vanhegan S., 2013).
Mengapa hal ini dapat mempengaruhi HR? Bagi perusahaan mempertimbangkan untuk pindah ke sistem berbasis cloud (atau bagi mereka yang baru saja melakukannya) oleh sebab itu sangat penting bagi tim HR mereka untuk memastikan kebijakan staf IT yang cukup untuk melindungi perusahaan diera cloud terhadap resiko karyawan menghapus informasi perusahaan untuk tujuan tidak sah (Vanhegan S., 2013).
Sebagai langkah pertama, HR harus duduk dengan tim IT untuk memastikan bahwa mereka memahami teknologi dan apa yang terlibat dengan sistem cloud tertentu yang perusahaan menggunakan atau dapat menggunakan. Jika setelah didiskusikan ternyata mengungkap resiko yang potensial maka hal ini dapat mempengaruhi keputusan perusahaan terhadap layanan cloud yang akan dipilih (Vanhegan S., 2013).
Beralih ke buku pegangan staf, HR juga harus memeriksa apakah pertanyaan berikut ini tercakup secara memadai dalam setiap kebijakan IT:
• Apakah kebijakan IT membuat jelas bahwa email dan internet
dan umum aktivitas IT di tempat kerja dapat dipantau?
• Ketika perusahaan akan menggunakan cloud untuk semua
infrastruktur IT atau hanya sebagian aplikasi.
• Apakah perusahaan memungkinkan karyawan untuk
mengakses webmail pribadi di tempat kerja? Apakah akses diperbolehkan dalam atau di luar cloud?
• Apakah staf diizinkan untuk email sendiri ke account pribadi
mereka, misalnya untuk memfasilitasi pekerjaan di luar kantor? • Apakah perusahaan memungkinkan karyawan untuk
mengakses sistem penyimpanan cloud, seperti Dropbox, di tempat kerja? Apakah perusahaan memungkinkan karyawan untuk menaruh informasi perusahaan ke dalam sistem tersebut? • Apakah karyawan dapat menggunakan perangkat pribadi untuk
tujuan kerja misalnya, laptop atau komputer tablet, untuk log-in jarak jauh?
Hal ini juga penting bahwa kebijakan IT yang jelas tentang apa yang bisa dan tidak bisa mengenai akses informasi dan properti perusahaan, dimana hal ini secara eksplisit mencakup dokumen softcopy (Vanhegan S., 2013).
di tempat kerja, untuk meminimalkan risiko penggunaan tidak sah dari informasi perusahaan, kebijakan tersebut harus diperjelas bahwa tidak boleh mempergunakan informasi perusahaan untuk tujuan pribadi tanpa ijin, atau mereka harus digunakan, mengirim atau menyimpan informasi perusahaan di luar perusahaan (Vanhegan S., 2013).
Akhirnya, kebijakan IT juga harus didukung oleh up-to-date dan klausa kerahasiaan perusahaan properti dalam kontrak kerja perusahaan.
Dengan kemungkinan baru bahwa cloud computing menimbulkan untuk perusahaan, sangat penting bahwa bisnis memperbarui kebijakan TI dan kontrak kerja untuk membantu melindungi perusahaan dari pencurian karyawan (Vanhegan S., 2013).
2.7
Information Technology Consulting
Information Technology consulting (atau biasa yang disebut dengan IT
Consulting, Computer Consultancy, and IT Advisory, etc) adalah bidang
ilmu yang berfokus kepada pemberian nasihat terhadap suatu bisnis atas bagaimana sebuah teknologi informasi dapat digunakan untuk membantu bisnis dalam mencapai tujuannya. Selain memberikan saran, konsultan TI sering memperkirakan, mengelola, melaksanakan, menyebarkan, dan mengelola sistem IT atas nama bisnis, yang dikenal sebagai Outsourcing.
2.7.1 4 Prinsip Dasar
• Fokus pada relasi: mendapatkan pengertian secara mendalam atas
• Mendefinisikan peran secara jelas : definisi secara jelas dari peran
dan tanggung jawab antara pelanggan, para stakeholder dan tim konsultan.
• Visualisasi kesuksesan : membantu pelanggan untuk melihat akhir
dari project pada saat project di mulai.
• Konsultant memberikan saran pelanggan yang memutuskan :
pelanggan merupakan pilihan terbaik untuk menentukan keputusan.
2.7.2 Kendala & Persyaratan
Setelah pemilik bisnis mendefinisikan kebutuhan untuk membawa bisnis ke tingkat berikutnya, seorang pengambil keputusan akan menentukan ruang lingkup, biaya dan waktu-frame proyek. Peran perusahaan konsultasi IT adalah untuk mendukung dan memelihara perusahaan dari awal proyek sampai akhir, dan menyelesaikan proyek tidak hanya dalam waktu, ruang lingkup dan biaya tetapi juga berfokus atas kepuasan pelanggan yang baik (Schwalbe, K., 2005). Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan:
• Perencanaan ruang lingkup proyek : Masalah yang biasa dihadapi
adalah bahwa pemilik bisnis (pelanggan) tidak mengetahui detail dari apa hasil proyek ini sampai proses dimulai. Dalam banyak kasus, penambahan usaha ataupun ruang lingkup dalam beberapa proyek dapat menyebabkan kerugian keuangan yang signifikan. • Proses bisnis dan desain sistem : Ruang lingkup proyek ini terkait
adalah untuk menghasilkan berbagai produk baru atau menghentikan proses bisnis yang tidak menguntungkan, perubahan akan memiliki beberapa dampak pada proses bisnis dan system organisasi. Pendokumentasian atas proses bisnis dan persyaratan system (system requirement) adalah sebagai dasar scope proyek sebagai panduan rencana akan untuk menetapkan biaya dan pembatasan ruang lingkup.
• Dukungan manajemen proyek: Proyek-proyek bisnis yang paling
2.8
Value Chain
Value Chain untuk perusahaan berjenis layanan (services) proses pada
perencanaan bisnis ini terdiri dari aspek Primary dan Supporting (Gabriel, 2006).
Gambar 0.2. Value Chain for Services (VACSE) (Sumber : Gabriel, 2006)
Primary Attributes
1. Service Design
Karya desain seharusnya berorientasi pelanggan. Karena itu saya menyarankan bahwa ada kebutuhan untuk riset pasar yang baik untuk mendahului pekerjaan merancang. Siklus hidup produk untuk layanan berubah sangat cepat. Ini merupakan design yang dibutuhkan untuk menjadi sensitif dan adaptif untuk perubahan pada pasar.
Dalam setiap kasus, para pemilik usaha harus menjadi seinovatif mungkin. Mereka seharusnya tidak hanya akan menemukan lebih banyak pelanggan untuk produk yang sudah ada tetapi juga menjual lebih banyak produk untuk yang ada dan calon pelanggan. Dalam kegiatan merancang maka akan ditemui pertanyaan tentang harga dari sebuah produk.
Perancangan harga sangat penting karena ketika hal ini tidak dilakukan dengan benar maka dapat membahayakan investor atau nasabah. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk memastikan bahwa harga yang tepat diperuntukan untuk produk yang tepat pula sehingga keseimbangan diperoleh. Harus ada strategi harga yang jelas untuk mengakomodir hal ini
Sektor manufaktur, di industri jasa tidak memiliki bahan baku langsung. Ide, informasi, tempat, peristiwa, kepribadian, ekuitas merek, dll, merupakan aspek utama untuk menjadi diperhitungkan ketika merancang produk-layanan. Layanan adalah tentang persepsi, sehingga desain harus diarahkan untuk meyakinkan pelanggan bahwa mereka akan bisa sepenuhnya puas dengan apa yang mereka dapatkan.
Manajemen Pengetahuan memiliki dua sisi, seperti koin. Satu sisi dari koin adalah tentang bagaimana penyedia layanan mengetahui kebutuhan rumit pelanggan tersebut. Sisi lain dari koin adalah tentang bagaimana pelanggan mengetahui (knowledgable) tentang tipe layananan yang dia perlukan dan perlu di deliver kepada pelanggan.
3. Delivery System Management
Dalam industri manufaktur, sistem pengiriman sederhana, jelas dan langsung. Hal ini dapat menjadi pra-direncanakan dan digunakan sebagai Blue Print. Ini sekarang, dan akan pernah terjadi di industri jasa.
Mengingat beberapa karakteristik layanan; (perishability and inseparability) tahan lama dan tidak terpisahkan, jelas bahwa, pelanggan
tidak bisa menyetok layanan untuk penggunaan masa depan, mereka juga tidak bisa terpisah dari si penyedia layanan.
4. Moment of truth
Terkadang terdapat perbedaan persepsi antara penyedia layanan dan pelanggan, mungkin penyedia layanan Penyedia layanan harus memastikan impresi yang didapat oleh pelanggan bernilai baik, merasa sudah melayani dengan baik namun sebaliknya pelanggan belum puas dengan layanan yang sudah ada, oleh sebab itu diperlukan encounter antara penyedia layanan dan pelanggan untuk meluruskan persepsi-persepsi yang salah.
Kompetisi harus selalu tersedia untuk menciptakan situasi bahwa pelanggan mempunyai kekuatan untuk memilih diantara para penyedia layanan. Hal ini akan menstimulate para penyedia layanan untuk lebih inovatif dan tidak pernah berhenti untuk mengembangkan layanannya.
Support Attributes
1. People
Berbeda dari produk, service bentuknya tidak berwujud dan harus selalu disediakan dan digunakan secara bekesinambungan. Value dari orang-orang yang bekerja pada sistem services delivery, pemilihan orang yang tepat dapat memberikan value pada produk layanan yang di deliver
2. Process Information
Penyedia layanan harus memiliki pengetahuan yang baik tentang bagaimana layanan itu di ciptakan dan di sampaikan kepada pelanggan. Oleh sebab itu aspek komunikasi dan strategi memiliki peranan penting dalam penyampaian informasi. Proses information adalah segala sesuatu tentang natura dari value creation dan delivery system. Karena pelanggan tidak bisa melihat sebuah layanan maka kepercayaan terhadap layanan terletak pada bagaimana informasi tersebut di sampaikan oleh penyedia layanan tentang keseluruhan bisnis proses dari layanan tersebut.
3. Physical Aspect (Customer Service)
4. Punctuality & Reliability
Dalam industri jasa, Ketepatan waktu adalah sangat penting. Hal ini untuk mengatakan bahwa waktu adalah fungsi kualitas pelayanan dalam industri jasa. Aspek waktu memiliki signifikan mengingat nilai yang melekat pada layanan pelanggan. Selain menjadi tepat waktu,reliabilitas juga diperlukan. Keandalan menunjukkan tingkat konsistensi dan jaminan bahwa sistem pemberian pelayanan akan memberikan apa yang telah dijanjikan kepada pelanggan.Perananan IT sangat dibutuhkan dalam proses memberikan informasi yang cepat dan tepat.
2.9
SWOT Analysis
Analsis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut.
(weakness) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.
Teknik analisis SWOT yang digunakan adalah sebagai berikut : Analisis Internal :
• Analisis Kekuatan (Strenght)
Setiap perusahaan perlu menilai atau mengkaji keunggulan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan. Penilaian tersebut dapat didasarkan pada beberapa faktor-faktor seperti teknologi, sumber daya finansial, kemampuan kemanufakturan, kekuatan pemasaran, dan basis pelanggan yang dimiliki.
• Analisis Kelemahan (Weakness)
Merupakan keadaan perusahaan dalam menghadapi pesaing mempunyai keterbatasan dan kekurangan. Yang dimaksud ialah keterbatasan atau kekurangan dalam hal sarana dan prasarana yang tidak dimiliki, kemampuan manajerial yang rendah, keterampilan pemasaran yang tidak sesuai dengan tuntutan pasar, produk yang tidak atau kurang diminta oleh para pengguna atau calon pengguna dan tingkat perolehan keuntungan yang kurang memadai.
Analisis Eksternal:
Analisis peluang adalah suatu kesempatan untuk yang dapat mendorong seseorang untuk memulai usaha.
• Analisis Ancaman (Threats)
Ancaman adalah suatu kecenderungan atau suatu perkembangan yang tidak menguntungkan dalam lingkungan yang akan menyebabkan kemerosotan kedudukan perusahaan. Ancaman merupakan kebalikan pengertian peluang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ancaman adalah faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan suatu satuan bisnis. Jika tidak diatasi, ancaman akan menjadi ganjalan untuk bisnis yang sedang berjalan atau baru dibangun.
Sedangkan pengertian SWOT menurut salah satu pakar SWOT Indonesia, yaitu Freddy Rangkuti. Kurang lebih seperti ini : “Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisa ini didasarkan pada hubungan atau interaksi antara unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, terhadap unsur unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman”.
Gambar 0.3. Diagram Analisis SWOT
Kuadran I : Pada kuadran I ini perusahaan sangat diuntungkan dengan berbagai peluang dan kekuatan yang dimiliki, sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. strategi yang harus digunakan didalam kuadran ini adalah dengan mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth oriented strategy).
Kuadran II : Pada situasi ini meskipun perusahaan dihadapkan dengan berbagai ancaman, perusahaan masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan perusahaan adalah dengan menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi (produk/pasar).
peninjauan kembali teknologi yang telah digunakan yakni dengan cara menawarkan produk-produk baru dalam industri mikro komputer.
Kuadran IV : Situasi pada kuadran ini merupakan situasi yang paling tidak menguntungkan, karena perusahaan mengalami berbagai ancaman dari luar dan juga terdapat kelemahan pada internal perusahaan.
2.10
TOWS Analysis
Menurut Shahzad Trading & Consulting FZE analisa SWOT akan menjadi sia-sia jika tidak dilanjutkan dengan mengaplikasikan analisa TOWS dimana kekuatan (Strength) yang digunakan untuk memanfaatkan peluang (Opportunity) untuk melawan ancaman (Threat), dan kelemahan (Weakness) sedaya upaya diminimalkan dengan menggunakan peluang (Opportunity) dan bersama-sama kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threat) sebisa mungkin dihindari.
yang kemudian untuk dicocokan dengan keunggulan ataupun kemampuan perusahaan itu sendiri (Weihrich, 2004)
Gambar 0.4. Proses strategi perusahaan dan analisa TOWS
2.11
Porter Five Forces Analysis
Gambar 0.5. Lima kekuatan bersaing pada 5 porter forces
Porter’s Five Forces Analysis terdiri dari lima analisis yaitu :
Ancaman Produk atau Jasa pengganti (Threat Of Subtitute Product and Services), dimana cara mudah masuknya produk atau jasa yang dapat
menjadi alternatif dari produk atau jasa yang sudah ada, khususnya yang dibuat dengan biaya lebih murah.
Persaingan di antara pemain yang sudah ada (Rivalry Among Existing Firms), dimana analisis Bagaimana kuatnya persaingan diantara pemain
yang sudah ada.Apaka ada pemain yang sangat dominan atau semuanya sama.
Masuknya Kompetitor (The Threat of New Entrants), dimana di dalam analisis ini melihat bagaimana Cara yang mudah atau sulit untuk kompetitor baru untuk mulai bersaing industri yang sudah ada.
banyak supplier atau hanya beberapa supplier saja, bisa jadi mereka memonopoli supply barang.
Daya tawar dari pembeli (Bargaining Power of Customers), dimana analisis ini Bagaimana kuatnya posisi pembeli. Pembeli mempunyai kekuatan utk menentukan kemana dia akan melakukan transaksi
2.12
Marketing Strategy
Menurut Armstrong dan Kotler (2000 : 5), marketing adalah “A societal process by which individuals and groups obtain what they need and
want through creating, offering and freely exchanging products and services
of value with others”.
Sedangkan pengertian Marketing strategy menurut Armstrong dan Kotler (2000:37), yaitu “The marketing logic by which the business unit hopes to achieve its marketing objective”. Menurut Guiltinan dan Paul
(1992), definisi strategi pemasaran adalah pernyataan pokok tentang dampak yang diharapkan dan dicapai dalam hal permintaan pada target pasar yang ditentukan. Zikmund dan D’Amico (1989, p.669) yang menyatakan bahwa “Marketing strategy includes the identification and evaluation of opportunities, analysis of market segments, selection of a target market or of
target markets, and planning an appropriate marketing mix.”
pemasaran, kita akan merujuk pada pengertian strategi pemasaran yang disampaikan oleh William Zikmund dan Michael D’Amico.
2.13
Marketing Mix
(Bauran Pemasaran)
Menurut Ibidunni (2011) bahwa "Marketing Mix (Bauran Pemasaran) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya., dalam sasaran pasar" Sifat internet dapat memberikan dampak besar dalam marketing mix dan membawa hal yang berbeda untuk setiap marketing mix (Radbata, 2011). Dalam marketing mix terdapat istilah 7P untuk pemasaran jasa, sedangkan untuk pemasaran non-jasa sendiri terdiri dari 4P (Gabriel, 2005).
Marketing mix terdiri dari 7P berisi (Enache, 2011) :
1. Product (produk), merupakan produk tidak berwujud yang ditawarkan.
2. Price (harga), merupakan harga yang harus dibayar berdasarkan biaya, jumlah permintaan, dan harga pesaing dari jasa yang ditawarkan.
3. Place (tempat), merupakan tempat atau media yang digunakan untuk mentransfer informasi dari penjual ke pembeli di dalam pasar.
4. Promotion (promosi), merupakan cara yang digunakan untuk mentransfer informasi dari penjual ke pembeli di dalam pasar. 5. People (orang), merupakan penyedia jasa yang memberikan