Macam macam Biota Laut di Pulau Tidung.

22 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pulau Tidung adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia. Pulau tidung ini terbagi dua yaitu, Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Penggunaan wilayah di pulau ini berkembang ke arah wisata bahari seperti menyelam serta penelitian terhadap terumbu karang. Luas wilayah dari Pulau Seribu ini mencapai 109 ha, dengan penduduk yang menempati diwilayah itu sebanyak ± 5000jiwa, pada kepadatan 50 jiwa/km2 (Anonim, 2015).

Pulau Tidung yang terdiri dari Tidung Besar dan Tidung Kecil yang dihubungkan oleh jembatan panjang yang dinamakan Jembatan Cinta oleh penduduk setempat ini terletak di Kepulauan Seribu Selatan bagian barat, dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan dari Muara Angke dengan kapal penumpang. Sebagai salah satu tujuan favorit paket wisata, pulau tidung ini dapat ditemui perkampungan penduduk dan beberapa warung yang menyediakan makanan dan minuman ringan, selanjutnya jalan setapak yang panjang ini ini akan melewati fasilitas umum, seperti kantor polisi, sekolah setingkat SMU untuk para pelajar dari pulau sekeliling, kumpulan warung dan menuju ke jembatan cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil tanpa penduduk.

(2)

Lebih dari sejuta spesies hewan masih hidup saat ini, dan terdapat kemungkinan bahwa setidaknya sejuta organisme baru akan diidentifikasi oleh generasi ahli biologi masa depan. Hewan dikelompokkan sekitar 35 filum, namun jumlah sebenarnya bergantung pada perbedaan pandangan para ahli sistematika. Hewan menempati hampir semua lingkungan di bumi, tetapi anggota terbanyak sebagian besar filum adalah spesies akuatik. Lautan, yang kemungkinan merupakan rumah bagi sejumlah besar filum hewan. Fauna air tawar sangatlah banyak, tetapi tidak sekaya keanekaragaman fauna laut (Romimohtarto, 2005).

Kebanyakan istilah dalam Zoologi itu berasal dari bahasa Latin atau Yunani. Contoh analisis asal kata adalah sebagai berikut : proto (Yunani) artinya pertama dikombinasikan dengan zoa (Yunani) artinya ‘hewan’ , jadi protozoa adalah nama untuk hewan-hewan yang paling primitif. Zoologi merupakan sebagian dari ilmu pengetahuan yang disebut biologi (bios = hidup), ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari jasad-jasad makhluk hidup, seperti dapat dibedakan dari benda-benda yang tidak hidup seperti batu (Nizkon, 2010).

Yang melatar belakangi dilaksanakan kuliah lapangan ini agar kita dapat melihat secara langsung habitat dan spesies yang didapatkan di Pulau Tidung, Kepualauan Seribu, mahasiswa untuk lebih memahami mata kuliah ini dan mengenal langsung spesies yang diamati baik itu secara morfologi ataupun anatomi serta lebih mengenal habitat dari spesies yang diamati (Anonim, 2015).

1.2. Tujuan Kuliah Lapangan

Kuliah lapangan ini dilaksanakan untuk :

1.2.1. Mampu mengidentifikasi beberapa hewan khusus biota laut yang ada dikawasan Pulau Tidung.

1.2.2. Untuk mempelajari dan mengenal organisme-organisme yang tergolong hewan-hewan invertebrata pada habitatnya masing-masing. 1.2.3. Untuk mengumpulkan hewan-hewan tersebut untuk membantu proses

belajar untuk mempelajari cara mengawetkan hewan-hewan tersebut. 1.2.4. Untuk mengoleksi hewan-hewan tersebut dilaboratorium guna

(3)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Sebesar 70 % wilayah bumi ini adalah perairan. Wilayah perairan terbesar merupakan perairan samudra yang telah dikenal luas memiliki volume terbesar yang memenuhi permukaan bumi. Dari wilayah tersebut hanya 10 % nya saja yang merupakan wilayah yang berbatasan dengan benua dan pulau dari samudra yang dapat didiami oleh organisme-organisme umum yang mudah dikenali. Berati sebesar 90 % nya merupakan suatu wilayah yang sulit dijangkau dan memiliki karakteristik khusus yang sulit untuk didiami mahluk hidup. Inilah bagian dasar samudra yang gelap dan dingin sepanjang tahun itu. Bagian terluas dari lautan ini merupakan bagian yang tidak mudah untuk dijangkau, gelap dan dingin sepanjang tahun tersebut dinamakan zona laut dalam (Nyibakken, 1988).

Indonesia terletak pada garis 6° LU – 11° LS dan 95° BT – 141° BT. Dengan demikian, Indonesia terletak di daerah beriklim tropis dan dilewati oleh garis khatulistiwa. Letak ini menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Indonesia juga memiliki berbagai jenis ekosistem, seperti ekosistem perairan, ekosistem air tawar, rawa gambut, hutan bakau, terumbu karang, dan ekosistem pantai. Keanekaragaman Spesies, secara historis, spesies merupakan unit dasar deskriptif dari kehidupan di dunia. Saat ini diperkirakan ada sekitar 1,7 juta spesies yang ada, perkiraan konservatif menunjukkan mungkin ada sekitar 12,5 juta spesies (Anonim, 2015).

(4)

Untuk itu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mulai menyadari pentingnya laut dan potensi sumberdaya di dalamnya. Birowo (1991), mengemukakan bahwa laut bermanfaat sebagai sumber atau media seperti sebagai pangan, transportasi, sumber mineral, bahan baku, industri, bahari, tambang, pertahanan dan keamanan, sumber energi, pemukiman, pariwisata dan tempat limbah.

Tidak kurang dari 833 jenis tumbuh-tumbuhan dilaut (alga, lamun dan mangrove), 910 jenis karang (Coelenterata), 850 jenis spon (Porifera), 2500 jenis kerang dan keong (Mollusca), 1502 jenis udang dan kepiting (Crustacea), 745 hewan berkulit duri ( Echinodermata), 2000 jenis ikan ( Pisces), 148 jenis burung laut (Aves), dan 30 jenis hewan menyusui (Mammalia), diketahui hidup di laut. Di samping itu tercatat juga tujuh jenis penyu dan tiga jenis buaya (Reptilia). (Romimohtarto, 2005).

Wilayah pantai merupakan kawasan yang selalu berubah-ubah, dimana pada daerah ini terjadi interaksi antara tiga unsur utama yaitu daratan, lautan dan atmosfer. Wilayah pantai juga berfungsi sebagai zone penyanggga (buffer zone) bagi banyak binatang yang bermigrasi (ikan, udang, maupun burung), untuk mencari makan, memijah dan membesarkan anaknya (Pariwono, 1987).

Biologi laut yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat yang mengungkap kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah dan jenisnya cukup banyak. Tingginya keanekaragaman jenis biota laut hanya dapat ditandingi oleh keanekaragaman jenis biota di hutan hujan tropik di darat (Romimohtarto, 2005).

Pada daerah intertidal atau litoral, pantai laut ini bentuknya bermacam-macam. Pada beberapa tempat ada lereng pantainya membentuk landai, di sini terdapat jarak yang besar antara tanda-tanda air pasang tertinggi dan air pasang terendah. Selain bentuk landai ini ada juga lereng pantainya yang berbentuk curam. Pada pantai yang demikian tanda-tanda air pasang akan kelihatan saling berdekatan (Nyibakken, 1988).

(5)

menggali lubang atau membenamkan diri pada substrat dasar lautan (perairan), misalnya cacing, tiram, remis, bivalva dan lain-lain.

Secara Geografis pulau tidung terletak di gugusan kepulauan seribu, provinsi DKI Jakarta, Memiliki 2 pulau yang terpisah yaitu pulau tidung kecil dan pulau tidung besar, dengan di hubungkan dengan jembatan yang sebagai ikon terkenal yang bernama jembatan cinta. Pulau tidung besar adalah pulau penduduk yang memiliki warga sekitar +/- 4700 jiwa. Untuk pulau tidung kecil sendiri bukan pulau penduduk dan hanya di tempati oleh badan konservasi. Menjulur dari timur ke barat, pulau tidung kecil terletak di bagian timur dan pulau tidung besar di bagian barat. Untuk jembatan cinta letaknya di bagian antara kedua pulau dan sebagai pusat wisata (Anonim, 2015).

Coelenterata berasal dari kata Yunani: koilos atau enteron ; Koilos = rongga, enteron = usus, sering disebut hewan berongga. Coelenterata ,merupakan hewan yang tidak mempunyai usus yang sesungguhnya, tetapi pemberian nama dengan istilah “Hewan Berongga“ itupun masih belum tepat, mengingat coelentrata adalah hewan yang tidak mempunyai rongga tubuh yang sebenarnya (coelom), yang dimiliki hanyalah sebuah rongga sentral yang ada di dalam tubuh yang disebut coelenterata. Dalam kenyataan coelenteron tersebut merupakan alat yang berfungsi ganda, yaitu sebagai alat pencernan makanan dan sebagai alat pendengar sari-sari makanan keseluruh bagian tubuh. Coelenterata hidup di air laut, hanya beberapa yang hidup di air tawar ( Jasin, 1992 ).

(6)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat

Kuliah lapangan ini dilaksanakan pada Hari Sabtu, 21 Maret 2015 pukul 08.00-13.00 WIB di Taman Wisata Alam Punti Kayu, Palembang.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada kuliah lapangan ini adalah insecting net, kamera dan toples.

3.3. Cara Kerja

(7)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Portunus pelagicus

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Malacostraca Ordo : Decapoda Famili : Portunidae Genus : Portunus

Spesies : Portunus pelagicus Nama lokal : Rajungan

Deskripsi

Secara umum, rajungan mempunyai karapas yang lebar, berbentuk bulat pipih dengan warna yang sangat menarik. Lebar karapas dapat mencapai ukuran 2 1/3 ukuran panjang. Permukaan karapas mempunyai granula halus dan rapat atau malah kasar dan jarang. Pada kanan dan kiri karapas terdapat duri besar dengan jumlah sembilan buah dan empat buah antara kedua matanya serta mempunyai lima pasang kaki jalan. Kaki jalan yang pertama disebut sebagai capit yang berfungsi memegang mangsa. Kaki jalan ke-2, ke-3, ke-4 tetap berfungsi sebagai mana biasanya. Sedangkan kaki jalan yang terakhir mengalami modifikasi pada dua ruas terakhir. Modifikasi berbentuk pipih dan ada bundar seperti sebuah dayung, berfunsi sebagai alat renang.

Ciri-ciri rajungan jantan mempunyai ukuran lebih besar dengan capit yang lebih panjang dibanding betina. Mempunyai warna dasar kebiru-biruan dengan bercak putih terang. Organ kelaminya menempel pada bagian perut berbentu segitiga dan agak meruncing. Cir-ciri rajungan betina mempunyai ukuran yang lebih kecil dibanding jantan. Berwarna kehijau-hijauan dengan warna agak kusam. Organ kelamin membulat berbentuk huruf V atau U terbalik. Rajungan dapat hidup diberbagai habitat, termaksud tambak-tambak ikan diperairan pantai yang mendapatkan masukan air laut dengan baik.

(8)

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Malacostraca Ordo : Decapoda Famili : Cancridae Genus : Cancer

Spesies : Cancer pagurus Nama lokal : Kepiting Deskripsi

Cancer pagurus, umumnya dikenal sebagai kepiting kepiting dimakan atau

coklat, adalah jenis kepiting yang ditemukan di Laut Utara, Samudera Atlantik Utara dan mungkin di Laut Mediterania. Ini adalah kepiting kuat dari warna coklat kemerahan, memiliki karapas oval dengan "pie crust" pinggir karakteristik dan tips hitam ke cakar. Memiliki lebar karapas hingga 25 cm (10 inci) dan beratnya sampai dengan 3 kg (6,6 lb). Cancer pagurus adalah predator malam, menargetkan berbagai moluska dan krustasea.

Kepiting adalah hewan golongan krustasea yang termasuk ke dalam ordo Decapoda, Subordo Pleocyemata, dan infraordo Brachyura, yang umumnya dicirikan dengan adanya tonjolon "ekor" yang sangat pendek (Latin: brachys = pendek, οura = ekor), atau denngan ciri bagian abdomen yang mengecil yang seluruhnya terlindung di bawah thorax.

Tubuh kepiting umumnya dilindungi oleh cangkang luar (eksoskeleton) yang tebal, dan memiliki sepasang senjata berupa cakar tunggal (chelae). Kepiting dapat ditemukan di seluruh lautan di dunia, sedangkan kepiting yang hidup di air tawar atau darat, kebanyakan hidup di daerah tropis. Kepiting dapat ditemukan dalam berbagai ukuran, mulai dari kepiting kacang (pea crab) yang memiliki ukuran lebar hanya beberapa milimeter saja. Kepiting biasanya berjalan dengan arah menyamping. Hal ini dikarenakan sendi-sendi kaki kepiting yang hanya memungkinkan cara berjalan kepiting yang lebih efisien ke arah samping.

3. Ophiotrix fragilis

(9)

Kingdom : Animalia Filum : Echinodermata Kelas : Ophiuroidea Ordo : Ophiurae Famili : Ophiothridae Genus : Ophiotrix

Spesies : Ophiotrix fragilis Nama lokal : Bintang ular Deskripsi

Ophiuroidea (Yunani, ophio = ular) adalah Echinodermata yang berbentuk bintang dengan pisin pusat kecil (1-3 cm) dan memiliki lima lengan yang panjang dan langsing, yang terkadang bercabang-cabang. Ophiuroidea disebut sebagai bintang mengular. Kaki tabung pada Ophiuroidea tidak memiliki ampula dan alat pengisap. Madreporit terletak di bagian oral. Ophiuroidea memiliki mulut di bagian oral tetapi tidak memiliki anus. Sisa pencernaan makanan dimuntahkan (dikeluarkan) melalui mulut.

Ophiuroidea mencari makanan pada malam hari, berupa hewan kecil yang hidup maupun yang mati. Lengan Ophiuroidea rapuh dan mudah putus, namun akan segera ditumbuhi lengan baru. Alat reproduksi bersifat gonokoris dan pembuahan terjadi secara eksternal menghasilkan larva berbentuk simetri bilateral yang berenang bebas. Ophiuroidea adalah hewan avertebrata yang sering disebut juga bintang ular. Ophiuroidea berasal dari kata Yunani yaitu (ular), oura (ekor) dan eidos (bentuk).

Ciri-ciri Kelas Ophiuroidea antara lain bentuk tubuhnya memipih, seperti bintang atau pentamerous dengan lengan yang ramping dan fleskibel (elastis). Tidak mempunyai kaki amburakral dan anus sehingga sisa makanan dikeluarkan melalui mulut. Lekukan ambulakralnya tertutup dan kaki tabung tidak memiliki sucker. Madreporit terdapat pada permukaan oral. Tidak mempunyai pediselaria. Contoh hewan dari kelas Ophiuroidea adalah Gorgonocephalus sp.,

Ophiopholis sp., dan Opiotrix fragilis. 4. Diadema setosum

Klasifikasi :

(10)

Filum : Echinodermata Kelas : Echinoidea Ordo : Cidaroidea Famili : Diadematidea Genus : Diadema

Spesies : Diadema setosum Nama lokal : Bulu babi Deskripsi

Echinoidea adalah hewan avertebrata yang sering disebut juga landak laut. Echinoidea berasal dari kata Yunani yaitu echinos (landak) dan eiodes (bentuk). Ciri-ciri Kelas Echinoidea antara lain ciri utama Echinoidea adalah memiliki banyak pediselaria di seluruh permukaan tubuh, berupa duri-duri seperti batang yang panjang. Kerangka tersusun atas lempengan-lempengan zat kapur dan membentuk cangkang yang kaku dengan bentuk seperti kotak.

Bulu babi merupakan hewan laut yang memiliki duri tajam yang bisa untuk melindungi diri dari musuh. Duri tersebut mudah patah. Rangka dari bulu babi cukup keras sehingga dapat digunakan untuk mempertahan kan diri juga. Bulu babi umumnya berwarna gelap. Bulu babi tidak mempunyai lengan, tetapi mempunyai lima baris kaki tabung yang berguna untuk pergerakan lambat. Bulu babi kuga mempunyai otot untuk memutar durinya yang panjang yang membantu dalam pergerakan

Tubuhnya berbentuk globuler dan bulat (oval). Tidak memiliki lengan. Memiliki duri-duri tubuh yang panjang. Duri ini digerakkan oleh otot dan berfungsi untuk berjalan. Lekukan ambulakral tertutup dan kaki tabung dilengkapi dengan sukers. Memiliki tiga pediselaria yang bentuknya seperti rahang. Mulutnya terletak di tengah dan dikelilingi oleh selaput peristoma. Contoh hewan dari kelas Echinoidea adalah landak laut (Echinus sp.), bulu babi (Diadema sp.), dan dolar pasir (Echinarachinus sp.).

5. Hippocampus cuvier

Klasifikasi :

(11)

Kelas : Actinopterygii Ordo : Syngnathiformes Famili : Syngnathidae Genus : Hippocampus Spesies : Hippocampus cuvier Nama lokal : Kuda Laut

Deskripsi

Ciri umum ikan kuda laut adalah bentuk tubuhnya yang menyimpang dari ikan pada umumnya, bentuk kepala yang menyerupai kepala kuda dengan moncong yang panjang menyerupai paruh seekor burung penghisap madu, terdiri dari rahang atas dan rahang bawah serta tidak mempunyai gigi seperti kebanyakan ikan pada umumnya sepanjang permukaan tubuh ikan kuda laut seakan-akan dilapisi oleh tulang pipih menonjol yang menyerupai perisai dan berbentuk seperti cincin yang berfungsi sebagai kerangka luar (eksoskeleton).

Ikan kuda laut tidak memiliki tulang iga dan walaupun bentuk tubuhnya tidak seperti ikan pada umumnya, tetapi ikan kuda laut memiliki sirip punggung yang berfungsi untuk bergerak, insang digunakan untuk menyerap zat asam dari sekeliling tubuhnya dan memiliki tulang punggung untuk menunjang kerangka tubuhnya. Secara morfologi tubuh ikan kuda laut tergolong unik dan berbeda dari jenis ikan pada umumnya. Kepala ikan kuda laut berbentuk segitiga dan menyerupai kepala kuda, moncongnya panjang dan membentuk sudut 90 derajat dari badannya.

Bagian tubuh ikan kuda laut tidak ditutupi oleh sisik tetapi oleh segmen tulang yang menyerupai perisai. Memiliki sirip antara lain satu sirip punggung (dorsal fin), sepasang sirip dada (pectoral fin) dan satu sirip anus (anal fin). Ikan kuda laut sangat lambat dalam hal berenang, karena ia berenang dengan posisi vertikal sehingga tekanan air terhadap permukaan tubuhnya akan besar dan dapat menghambat serta memperlambat gerakan ikan kuda laut dalam air.

6. Turbo sp.

Klasifikasi :

(12)

Ordo : Arceogastropoda Famili : Turbinidae Genus : Turbo Spesies : Turbo sp

Nama lokal : Mata lembu/ Kentong Deskripsi

Spesies dalam genus ini memiliki aperture bulat dan padat, berbentuk kubah berkapur operkulum. Operkulum melingkar ini dimulai sebagai disc multispiral, seperti itu dari Trochus, pada sisi luar yang diendapkan lapisan kapur tipis oleh lobus dari kaki yang memproyeksikan sebagian atasnya. Susunan ini menghasilkan operkulum yang menunjukkan semua uliran bawah, tapi yang hanya lemah, atau tidak jelas spiral di atas, dari kurang lebih umum distribusi materi berkapur. Biota ini biota lebih banyak keluar di sore hingga malam hari atau saat matahari mulai turun, seperti cypraea dan turbo yang lebih banyak keluar pada saat matahari mulai tenggelam.

Radula yang luas dan umumnya agak pendek. Median, gigi lateral dan marginal selalu hadir, dan formula adalah selalu ∞.5.1.5.∞. Gigi pusat tidak mengandung katup. Median gigi terdiri dari kuadrat lonjong piring basal yang sempit, sering dengan piring aksesori dari berbagai bentuk, dengan ujung bawah yang melekat tubuh oval gigi, -a piring sederhana tanpa titik puncak, bantalan sayap mendukung di sisi. Sering gigi sentral asimetris dalam kelompok ini. Laterals menanggung sayap mendukung di sudut luar mereka, dan berbagai formulir, dengan atau tanpa katup. The marginal dalam sangat besar, dengan katup yang besar. Spesies Turbo pertama ditemukan di Upper Cretaceous, sekitar 100 juta tahun yang lalu.

7. Fungia sp.

Klasifikasi :

(13)

Ordo : Scleractinia Famili : Fungiidae Genus : Fungia Spesies : Fungia sp Nama lokal :

Deskripsi:

Merupakan karang yang berbentuk seperti jamur, bisanya berkoloni dan berkembang ke samping. Terdapat skeleton yang dibuat oleh epidermis. Tubuh radial simetris dengan warna putih keruh. Dingding rongga anteron memgadakan pelipatan secara konsentris yang biasa disebut septe. Lapisan mesoglea bersifat seluler, letek mulut tidak langsung berhubungan kerongkongan sebelah dalam. Gonad berasal dari lapisan gastroderma. Spermatozoa pada jantang dipancarkan masuk kedalam air lalu berenang – renang mencari tubuh betina. Secara aseksual dilakukan dengan cara bertunas. Dalam hal pernapasan baik pemasuka O2 maupun keluar Co2 berlangsumg, secara difusi osmosis secara langsung melalui semua permukaan tubunya (Jasin, 1992).

Tubuhnya terdapat skeleton yang dibuat oleh epidermis (ektoderm) dari CaCO3dan bentuknya seperti mangkuk. Bagian oral agak melebar seperti corong yang dihiasi denganrangkaian tentakel-tentakel yang membentuk seperti daun bunga, panjang tubuh sekitar 7 –10 cm, tetapi ada juga yang berukuran raksasa hingga 1 meter. Tubuh radial simetrisdengan warna tubuh putih kekuningan. Tubuh terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu bagiancakram pedal atau bagian kaki, bagian kolumna atau skapus atau bagian batang tubuh danbagian cakram oral atau kapikulum. Antara bagian cakram pedal dengan bagian skapus dihubungkan oleh bagian yang disebut limbus.

8. Crassostrea gigas

Klasifikasi :

(14)

Famili : Ostreidae Genus : Crassostrea Spesies : Crassostrea gigas Nama lokal : Kerang Tiram Deskripsi

Pasifik tiram adalah memakan filter- pengumpan fitoplankton dan detritus di payau pesisir dan perairan laut. Kedua katup memanjang adalah variabel dibentuk dan ukuran dengan menetap individu liar disemen oleh salah satu katup pada substrat perusahaan. Katup kiri cenderung sedikit cembung dan katup kanan berbentuk cangkir. itu kerang menunjukkan lipatan radial yang tidak teratur. Kerang biasanya 80- 200 mm. Terbesar individu yang ditemukan di Laut Wadden adalah 310 mm, meskipun spesimen yang lebih besar telah dilaporkan di tempat lain.

Lebih suka air dangkal. Pada berlumpur serta di dasar berbatu di daerah terlindung , jarang di pantai terbuka. Sangat kerang besar biasanya dikeruk pada kedalaman antara 20 dan 40 m. Prodissoconch dibedakan dan kerang dewasa, ditambah kemudahan hibridisasi, mendukung anggapan bahwa Portugis tiram C. angulata dan Jepang C. gigas adalah spesies yang sama. Berbeda dari O. edulis Linnaeus, 1758 di bekas luka otot adduktor berat berwarna, di jauh lebih muda atau pola warna ungu.

Tiram memiliki jenis kelamin yang terpisah dengan fertilisasi eksternal . Pemijahan biasanya berlangsung pada suhu 18-26°C dalam kisaran salinitas 20-35 psu. Setiap individu dapat melepaskan sebanyak 100 juta telur. Larva menetap setelah 11 sampai 30 hari, pada panjang cangkang ~ 290 m, di permukaan keras yang mereka menjadi disemen. Mereka jatuh tempo setelah 1 tahun dan dapat hidup sampai 10 tahun.

9. H. edulis

Klasifikasi :

(15)

Genus : Holothuria Spesies : H. edulis

Nama lokal : Timun laut atau Teripang Deskripsi

Cukup tinggi dan sudah banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan dengan kandungan gizi yang cukup tinggi (Hartati et al., 2009b). Teripang juga sangat bermanfaat sebagai komponen utama ekosistem laut. Menurut Massin (1982) dan Birkeland (1998) fungsi utama teripang yang berasosiasi dengan karang adalah sebagai pengaduk partikel sedimen (bioturbasi) berguna untuk meningkatkan kandungan oksigen pada lapisan substrat tempat hidupnya.

Pada umum, teripang lembut, makhluk sederhana yang sebagian besar terlihat seperti mentimun lama layu-up, maka nama. Di alam liar banyak spesies mentimun-laut dalam tinggal, tetapi mereka dalam perdagangan akuarium, termasuk Holothuria edulis, berasal dari karang dangkal dan daerah pesisir. Karena hampir tidak pernah terdengar untuk akuarium memiliki cukup detritus untuk mempertahankan teripang untuk waktu yang lama.

Jenis teripang yang terdapat di perairan Karimunjawa, antara lain Holothuria edulis dan H. leucospilota. Menurut Uthicke (1997) dan Conand et al., 1997) teripang H. edulis dan H. leucospilota merupakan jenis teripang fissiparous yang mampu melakukan reproduksi aseksual secara alami dengan fission. Fission, sebagai cara reproduksi aseksual, adalah kemampuan alami teripang untuk membelah tubuhnya menjadi dua bagian (anterior dan posterior) dan tiap bagian tersebut akan beregenerasi menjadi individu yang baru.

10. Acanthaster planci

Klasifikasi :

(16)

Genus : Acanthaster Spesies : Acanthaster planci Nama lokal : Bintang Laut Deskripsi

Acanthaster planci muda yang baru terbentuk pada awalnya hanya memilki 5 lengan dan dua pasang kaki tabung pada tiap-tiap lengan serta tidak memliki mulut (Birkeland dan Lucas, 1990). Setelah 7 bulan A. planci mulai mengalami pertambahan lengan sampai organisme ini mencapai ukuran dewasa. Acanthaster planci akan menjadi individu dewasa setelah mencapai diameter tubuh sekitar 200 mm dengan jumlah lengan sekitar 17 buah.

Acanthaster planci dapat melepaskan berjuta-juta telur dalam waktu seminggu pada musim panas di Great Barrier Reef Australia dan telur yang dilepaskan berbentuk larva planktonik. Setelah 21 minggu A. planci mulai memakan hewan-hewan planktonik, coralline algae, dan epifit. Dalam waktu 4 sampai 5 bulan, A. planci akan mengalami pertumbuhan dengan pertambahan jumlah lengan dan mulai memangsa polip karang.

Acanthaster planci cenderung untuk hidup pada habitat yang cukup terlindung yaitu daerah dimana A. planci tidak dapat dengan mudah dihempaskan oleh ombak yang kuat atau terlempar keluar dari karang akibat arus yang kuat. Alasan inilah yang menyebabkan A. planci cenderung untuk menghindari daerah perairan terbuka atau perairan yang dangkal, sehingga terumbu karang pada daerah tersebut seringkali luput dari pemangsaannya.

11.Periopthalmus barbarus

Klasifikasi :

(17)

Spesies : Periopthalmus barbarus Nama lokal : Ikan Glodok

Deskripsi

Alam bhs Inggris ikan ini di kenal dengan nama Mudskipper, lantaran kebiasaannya melompat-lompat di lumpur. Sedang nama lain dari ikan ini cukup banyak salah satunya ; Gelodok, Belodok, Belodog atau Blodog. Menurut klasifikasi ilmiah, ikan ini terhitung ke dalam anak suku Oxudercinae. Wujud ikan ini benar-benar khas. Ke-2 matanya menonjol diatas kepala seperti mata kodok, muka yang dempak, serta sirip-sirip punggung yang terkembang menawan. Tubuhnya bulat panjang seperti torpedo, sesaat sirip ekornya membulat. Panjang badan beragam dimulai dari sebagian sentimeter sampai mendekati 30 cm.

Mata yang menonjol dan berdekatan dengan kali lipat kelopak mata bawah moncong yang mendalam mulut horisontal. Dua sirip punggung yang terpisah, yang pertama tinggi, dengan 11 duri fleksibel, kedua yang lebih rendah , basisnya lebih panjang dari jarak dari ujung ke ekor dengan asal sirip sirip dada dengan lobus otot panjang, sirip perut menyatu di dasar, sirip ekor dengan sinar yang lebih rendah pendek, dan gemuk . Warna kecoklatan dengan bar gelap miring, perut lebih ringan, punggung sirip dengan distal memanjang pita gelap luas dan tepi pucat ada frenum menyatukan sirip perut ukuran dewasa besar, mendekati 150 mm SL hitungan skala memanjang 86-107. Kepala lebar 15,4-21,8 % SL.

(18)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia Filum : Cnidaria Kelas : Anthozoa Ordo : Scleractinia Famili : Agariciidae Genus : Gardineroseris

Species :Gardineroseris planulata

Deskripsi

Terumbu karang merupakan kumpulan organisme karang yang hidup di dasar perairan laut dangkal terutama di daerah tropis. Terumbu karang tersusun oleh hewan-hewan karang klas Anthozoa dari ordo Scleractinia, yang mampu membuat kerangka karang dari kalsium karbonat. Menurut Veron (1986), Karang adalah hewan sessile renik yang termasuk ke dalam phylum Cnidaria (Coelenterata) bersama hewan laut lain seperti soft coral, hydra, dan anemone laut, umumnya disebut dalam terumbu karang.

Komponen biota terpenting di suatu terumbu karang adalah karang batu (stony coral), hewan yang tergolong dalam ordo Scleretinia yang kerangkanya terbuat dari rangka kapur. Karang dapat hidup berkoloni atau sendiri, tetapi hampir semua karang penghasil terumbu (hermatipik) membentuk koloni dengan berbagai individu hewan karang atau polip.

(19)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia Filum : Echinodermata Kelas : Asteroidea Ordo : Valvatida Famili : Oreasteridae Genus : Culcita

Species : Culcita novaeguineae

Deskripsi

Bintang laut merupakan hewan invertebrata yang termasuk dalam filum Echinodermata, dan kelas Asteroidea. Echinodermata adalah kelompok hewan triopoblastik selomata yang memilki ciri khas adanya rangka dalam (endoskeleton) berduri yang menembus kulit. Walaupun dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan sebutan starfish, hewan ini sangat jauh hubungannya dengan ikan. Sesuai dengan namanya itu, menurut Syamsul (2013), jenis hewan ini berbentuk bintang dengan 5 lengan. Bintang laut termasuk hewan simetri radial dan umumnya memiliki lima atau lebih lengan. Mereka bergerak dengan menggunakan sistem vaskular air. Bintang laut sebenarnya adalah makhluk hidup yang bebas, namun dikarenakan ketiadaannya organ gerak yang memadai, bintang laut hanya bergerak mengikuti arus air laut.

Bintang laut berbentuk seperti bantal, meninggi, tebal dan berat, warna sangat beragam. Menurut Susylowati (2011), Apabila bintang laut ini terjebak air surut maka kandungan air yang terkumpul di dalam tubuhnya akan dikeluarkan sehingga tubuhnya menjadi pipih dengan tujuan agar tubuhnya dapat terendam dalam air.Tubuh yang berat menyebabkan Culcita novaeguineae sangat lamban menghindari jebakan air surut pada siang hari.

(20)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia Filum : Mollusca

Kelas : Pelecypoda (Bivalvia) Ordo : Filibrachia

Famili : Pernaidae Genus : Perna

Deskripsi

Kehidupan bivalvia sering ada di perairan yang dipermukaannya terdapat substrat pasir atau lumpur. Menurut Odum (1994), Bivalvia biasanya hidup dengan membenamkan dirinya di pasir,lumpur atau permukaaan subtrat. Tetapi ada juga yang hidup dengan menempel di permukaan benda yang keras. Binatang infauna seringkali memberikan reaksi yangmencolok terhadap ukuran butir atau tekstur dasar laut, sehingga habitat bivalvia dari berbagai lereng pasir lumpur akan berbeda.

(21)

KESIMPULAN

Berdasarkan kuliah lapangan yang telah dilakukan dan pengambilan spesies diberbagai tempat perairan, maka didapatkan beberapa kesimpulan : 1. Epifauna adalah semua hewan yang hidup di atas substrat dasar lautan atau

perairan, misalnya kepiting, siput laut, bintang laut, timun laut dan lain-lain. 2. Infauna adalah semua hewan yang hidupnya di bawah substrat yaitu dengan

cara menggali lubang atau membenamkan diri pada substrat dasar lautan (perairan), misalnya cacing, tiram, remis, bivalva dan lain-lain.

3. Coelentrata adalah hewan yang tidak mempunyai rongga tubuh yang sebenarnya (coelom).

4. Tingginya keanekaragaman jenis biota laut hanya dapat ditandingi oleh keanekaragaman jenis biota di hutan hujan tropik di darat.

5. Wilayah pantai juga berfungsi sebagai zone penyanggga (buffer zone) bagi banyak binatang yang bermigrasi.

(22)

Anonim. 2015. Kajian Pustaka. http://media.unpad.ac.id/thesis/230110/2009/ 230110090050_2_6026.pdf. Diakses pada tanggal 19 April 2015. Pukul 16.34.

Anonim. 2015. Peta Lokasi Pulau Tidung. http://www.tidungbaba.com/pulau-tidung/. Diakses pada tanggal 27 April 2015. Pukul 22.03.

Cooke, R.U. and J.C. Doornkamp. 1990. Geomorphology in Environmental Management. 2nd ed. New York, USA : Oxford Univ. Press, inc.

Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting dan J. Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta : PT. Pradnya Paramita.

Feliatra et al. 2003. Pengantar Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Sinar Jaya.

Kamal, Mustafa. 2015. Penuntun Praktikum Taksonomi Hewan. Inderalaya : Universitas Sriwijaya.

Nizkon. 2010. Zoologi Invertebrata. Palembang : Tunas Gemilang Press.

Nyibakken, W James. 1988. Biologi Laut Sebagai Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : Gramedia.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...