• Tidak ada hasil yang ditemukan

kognitif anak psikologi anak and remaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "kognitif anak psikologi anak and remaja"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN KOGNITIF

PADA ANAK

Disusun oleh :

Tsinta Miftakhul Fauziah

(14104241006)

Margareta Reni K

(14104241007)

Khalida Luthfiana Layli

(14104241008)

Latifia Nazalati

(14104241009)

Lia Rofiatun

(14104244009)

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehi gga akalah de ga judul Perkembangan kognitif pada anak dapat terselesaikan tanpa ada halangan sedikit apapun. Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

a. Rita Eka Izzaty, M.Si.,P.Si,Dr. selaku dosen pengampu mata kuliah Perkembangan Peserta Didik Anak Dan Remaja yang telah memberikan

kesempatan dan banyak membantu sehingga makalah ini dapat selesai

dengan lancar.

b. Kedua orangtua yang telah memberikan bantuan material maupun

do‟anya, sehingga pembuatan makalah ini dapat terselesaikan.

c. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang

membantu pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari

sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar

makalah ini dapat lebih baik lagi.

Dengan ini penulis mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa

terimakasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Yogyakarta, 20 November 2014

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Secara kodrati manusia selalu ingin mendidik keturunanya yang dilakukan

pada setiap tahapan umur. Baik tahapan janin, bayi, balita, kanak-kanak,

remaja, dewasa maupun usia lanjut. Anak-anak memasuki tahapan dimana

mereka sudah cukup mengerti dan memahami sesuatu serta mampu

memahami mana yang baik dan mana yang buruk.

Pada tahapan ini, seorang individu sedang menggali potensi dirinya yang

digunakan dalam rangka mencapai kematangan ketika individu tersebut

beranjak dewasa. Namun, emosi anak-anak kadang kala labil sehingga harus

diarahkan dan diolah sedemikian rupa agar tidak terjerumus pada sesuatu

yang dapat merugikan dirinya maupun orang lain di sekitarnya.

Pada masa inilah, setiap individu akan mengalami masa-masa sekolah

dimana mereka akan berinteraksi ke dalam lingkup yang lebih luas dengan

berbagai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, harus dipelajari

dan dipahami setiap karakter anak usia sekolah agar dapat memberikan tugas

dengan tepat yang dapat mengoptimalkan potensi mereka yang sesuai dengan

umur mereka.

2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak usia 7-12

tahun?

b. Bagaimana perkembangan kognitif pada kanak-kanak (7-12 tahun)

berdasarkan pendekatan Piaget (Anak Operasional Kongkret)?

3. Tujuan Penulisan

a. Untuk mengetahui perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak usia

(4)

b. Untuk mengetahui perkembangan kognitif pada kanak-kanak (7-12 tahun)

berdasarkan pendekatan Piaget (Anak Operasional Kongkret).

4. Manfaat Penulisan

a. Dapat mengoptimalkan perkembangan pada masa kanak-kanak.

b. Dapat memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang

perkembangan kognitif pada kanak-kanak akhir.

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

1. Perkembangan Kognitif Pada Anak (7-12 Tahun)

Perkembangan kognitif atau pengertian pada akhir masa kanak-kanak (Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Elizabeth B. Hurlock, edisi kelima)

Dengan masuk sekolah, dunia dan minat anak-anak bertambah luas. Dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan benda-benda yang sebelumnya kurang atau tidak berarti. Anak-anak sekarang memasuki apa yang oleh Piaget disebut

sebagai “tahap operasi konket” dalam berfikir, suatu masa dimana konsep

yang pada awal masa kanak-kanak merupakan konsep yang samar-samar dan tidak jelas sekarang menjadi konkret dan tertentu.

Anak menghubungkan arti baru dengan konsep lama berdasarkan dengan apa yang dipelajari setelah masuk sekolah. Disamping itu anak mendapatkan arti baru dari media massa terutama film, radio, dan televisi. Dalam menambah konsep sosial, misalnya, anak mengkaitkan stereotip budaya dengan orang-orang dari ras, agama, sex, atau kelompok sosial ekonomi yang berbeda-stereotip yang sebagian besar dipelajari dari media massa.

Ketika anak membaca buku pelajaran disekolah dan mencari keterangan dari esiklopedia atau sumber informasi lain, anak tidak hanya mempelajari arti baru untuk konsep tetapi juga memperbaiki arti yang salah yang dihubungkan dengan konsep lama. Pengalamannya sendiri juga memberikan makna bagi konsepnya.

(6)

misalnya, anak dapat meghubungkan bobot emosi yang baik dengan kematian. Kemudian, ketika anak menonton film atau acara televisi yang melibatkan kematian atau melihat gambar orang mati didalam majalah atau surat kabar, ia akan mengembangkan konsep yang sama sekali berbeda dan bobot emosi yang berbeda terhadap konsep kematian yang diwarnai oleh pengalaman yang dialami sendiri. Seperti diterangkan oleh Barchlay :

Dalam kehidupan sekarang ini anak-anak terus menerus

dihadapkan pada contoh-contoh kematian yang mengerikan ditelevisi,

kematian yang bersifat dingin, tidak berdarah, tidak disesali, kejam. Pada

saat yang bersamaan, warta berita, surat kabar dan majalah bergambar

menunjukkan bukti-bukti grafis tentang kematian dan reaksi terhadap

kemtian-ada yang merasa terpukul, ada yang tidak berperasaan, dan ada yang menyeringai sadar diri…Kalau anak merasa sedih melihat kematian di televisi atau film, orangtua membesarkan hatinya dengan mengatakan bahwa adegan yang menyedihkan itu hanya “pura-pura” saja. Tetapi ia mengerti bahwa disaat lain dan ditempat lain kejian-kejadian itu

benar-benar terjadi.

Karena pengalaman anak yang lebih besar lebih beragam daripada pengalaman anak pra sekolah, dapatlah dimengerti bahwa konsepnya berubah ke berbagai arah dan menjadi semakin beragam. Namun, konsep-konsep tertentu biasanya ditemui pada anak yang lebih besar dalam kebudayaan Amerika saat ini. Konsep yang paling sering berubah dan konsep baru yang paling banyak berkembang pada akhir masa kanak-kanak. Dicantumkan dalam kotak 0.1

Kotak 0.1

KATEGORI KONSEP YANG UMUM PADA AKHIR

MASA KANAK-KANAK

Kehidupan

Meskipun beberapa anak sulit untuk mengerti bahwa banyak hal

Waktu

(7)

yang bergerak seperti sungai, misalnya bukan merupakan sesuatu yang hidup, namun mereka semakin sadar bahwa gerakan bukanlah satu-satunya kriteria dari kehidupan.

Kematian

Anak yang mengalami kematian anggaota keluarga atau matinya hewan peliharaan, mempunyai pengertian yang baik tentang makna kematian, dan bobot emosi dan konsepnya tentang kematian diwarnai oleh reaksi-reaksi orang disekitarnya.

Kehidupan Setelah Mati

Konsep tentant kehidupan setelah mati terutama tergantung pada perintah agama yang diterima anak dan pada apa yang diyakini oleh teman-temannya.

Fungsi-Fungsi Tubuh

Sampai anak mulai mempelajari kesehatan di sekolah dasar, banyak konsep tentang fungsi tubuh yang kurang tepat dan kurang lengkap, terutama tentang fungsi tubuh internal.

Ruang

Dengan menggunakan skala dan penggaris, anak mempelajari apa arti dari ons, pon, inci, kaki dan bahkan mil. Dari laporan tentang penjelajahan ruang dalam media massa, anak-anak mengembangkan konsep tentang ruang angkasa

Bilangan

Bilangan memperoleh arti baru setelah anak menggunakan uang dan memecahkan soal-soal berhitung. Pada saat berusia Sembilan atau sepuluh tahun, anak mengerti konsep bilangan sampai lebih dari 1.000.

mengembangkan konsep tentang apa yang dapat dicapai dalam jangka waktu tertentu. Pelajaran pengetahuan sosial di sekolah dan media massa ia mengenal dirinya sendiri melalui pandangan guru-kemampuan dan prestasi teman-temannya.

Peran Seks

(8)

Hubungan Sebab-Akibat

Konsep tentang penyebab fisik biasanya berkembang lebih dulu daripada konsep tentang penyebab psikologis. Misalnya, anak-anak lebih dulu mengerti apa yang menyebabkan hujan atau salju daripada apa yang menyebabkan seseorang menjadi marah.

Uang

Anak mengerti nilai berbagai uang logam dan uang kertas bilamana ia mulai menggunakan uang. Kesempatan untuk menggunakan uang sangat beragam dan lebih besar pada keluarga yang status sosial ekonominya lebih rendah daripada yang tinggi.

kelompok dan, dalam beberapa hal, terhadap prasangka sosial.

Keindahan

Anak cenderung menilai keindahan sesuai dengan standar kelompok, bukan sesuai dengan standar kehidupannya sendiri. Apa yang oleh kelompok

2. Perkembangan Kognitif pada Anak (7-12 tahun) Berdasarkan Pendekatan Piaget: Anak Operasional Kongkret

Menurut Piaget seperti yang dipaparkan pada Human

Development/Diane E. Papalia, dkk, 2009, pada sekitar usia 7 tahun,

anak-anak memasuki tahap operasional kongkret di mana mereka bisa

(9)

masalah-masalah kongkret (nyata), seperti di mana harus mencari sarung

tangan yang hilang. Anak-anak pada usia ini dapat mempertimbangkan

banyak aspek dari situasi. Namun demikian, pemikiran mereka masih

terbatas pada situasi-situasi nyata saat ini dan sekarang.

a. Kemajuan Kognitif

Pada tahap operasional kongkret, anak-anak sudah memiliki pemahaman yang lebih baik daripada anak-anak praoperasional mengenai konsep spasial, sebab-akibat, pengelompokan, penalaran induktif, konservasi, serta angka (lihat uraian berikut).

Berbagai Kemajuan di dalam Kemampuan Kognitif Terpilih Selama Masa Kanak-Kanak :

1) Kemampuan Spasial, contohnya Daniel dapat menggunakan peta

atau model untuk membantunya mencari objek tersembunyi dan dapat memberikan arah untuk menemukan objek kepada orang lain. Ia dapat menegtahui jalan menuju dan dari sekolah, dapat memperkirakan jarak, dan dapat menilai berapa lama waktu yang diperlukan baginya untuk pergi dari suatu tempat ke tempat lain.

2) Kemampuan Sebab Akibat, contohnya Douglas mengetahui

atribut fisik suatu objek pada tiap sisi timbangan yang akan mempengaruhi hasil (misalnya, jumlah objek penting, tetapi warna tidak). Ia belum mengetahui faktor-faktor spasial, seperti posisi atau penempatan objek, yang membuat perbedaan.

3) Kemampuan Pengelompokkan, contohnya Elena dapat memilah

objek menjadi kelompok-kelompok, seperti bentuk, warna, atau keduanya. Ia mengetahui bahwa suatu subkelas (mawar) memiliki anggota yang lebih sedikit dibandingkan kelas di mana ia menjadi bagiannya (bunga).

4) Kemampuan Penyimpulan Seriasi dan Transitif, contohnya

(10)

menegtahui jika satu tongkat lebih panjang dari tongkat kedua, dan tongkat kedua lebih panjang dari tongkat ketiga, maka tongkat pertama lebih panjang dari tongkat ketiga.

5) Kemampuan Penalaran Induktif dan deduktif. Contohnya,

domenik dapat memecahkan masalah induktif dan deduktif dan mengatahu abhwa kesimpulan induktif (berdasarkan premis particular) kurang pasti dibandingkan kesimpulan deduktif (berdasarkan premis umum).

6) Kemampuan Konservasi. Contohnya, Velipe, pada usia 7 tahun

mengetahu bahwa jika sebuah bola tanah liat dibentuk menjadi sosis, maka jumlahnya masih sama (konservasi substansi). Pada usia 9 tahun, ia mengetahu bahwa bola dan sosis memiliki berat yang sama. Tidak sampai remaja awal, ia akan memahami bahwa mereka memindahkan jumlah cairan yang sama jika dituang pada sebuah gelas air.

7) Kemampuan Angka dan Matematika. Contohnya, Kevin dapat

menghitung dalam pikirannya, dapat emnambah dengan menghitung dari angka yang lebih kecil, dan dapat memecahkan masalah cerita sederhana.

b. Hubungan Spasial dan Sebab Akibat

(11)

meningkat seiring bertambahnya usia (Diane E. Papalia, dkk. 2009:443). Penilaian mengenai sebab dan akibat juga meningkat. Ketika anak berusia 5-12 tahun diminta untuk meramalkan bagaimana tuas dan timbangan akan bekerja di bawah kondisi ya g bervariasi, anak yang lebih tua memberikan jawaban yang lebih benar. Nak-anak memahami pengaruh atribut fisik (jumlah objek pada tiap sisi timbangan) lebih dahulu dibandingkan mereka menegnali pengaruh faktor spasial (jarak objek dari tengan timbangan) (menurut Amsel, Goodman, Savoie, dan Clarck, 1996 yang dikutip pada buku Human Development Perkembangan Manusia (Diane E. Papalia, dkk 2009).

c. Pengelompokan

Kemampuan mengelompokkan membantu anak-anak berpikir secara logis. Pengelompokan meliputi berbagai kemampuan yang relative canggih, seperti seiasi, penyimpulan transitif, dan inklusi kelas, yang secara bertahap meningkat antara masa kanak-kanak awal dan tengah. Anak-anak menunjukkan bahwa mereka memahami seriasi (seriation) ketika mereka dapat menyusun banyak objek dalam suatu urutan menurut satu atau lebih dimensi, seperti berat (paling ringan ke paling berat) atau warna (paling terang ke paling gelap). Pada usia 7 atau 8 tahun, anak-anak dapat memahami hubungan antara sekelompok tongkat segera setelah melihatnya dan menyusunnya berdasarkan ukuran (menurut Piaget, 1952 yang dikutip pada buku dapat memahami hubungan antara sekelompok tongkat segera setelah melihatnya dan menyusunnya berdasarkan ukuran (menurut Piaget, 1952 yang dikutip pada buku Huamn Development Perkembangan Manusia, Diane E. Papalia, dkk:2009).

 Penyimpanan Transitif

(12)

hijau, dan biru. Ia ditunjukkan bahwa tongkat kuning lebih panjang dari tongkat hijau dan tongkat hijau lebih panjang dari tongkat biru. Tanpa membandingkan secara fisik tongkat kuning dan biru, ia dengan segera mengatakan bahwa tongkat kuning lebih panjang dari tongkat biru (Chapman & Lindenberger, 1988; Piaget & Inhelder, 1967 yang dikutip pada buku Human Development Perkembangan Manusia, Diane E. Papalia, dkk 2009).

 Inklusi kelas

(13)

d. Penalaran Induktif dan deduktif

Menurut Piaget, anak-anak pada tahap operasioanl pengamatan mengenai anggota particular dari kelas orang-orang, hewan, objek, atau kejadian, kemudian mereka mengambil kesimpulan umum

mengenai kelas sebagai keseluruhan. (“Anjing saya menggonggong.

Begitu pula dengan anjing Tery dan Melissa. Jadi, kehilatannya

seluruh anjing menggonggong.”) Kesimpulan induktif harus bersifat

sementara karena selalu mungkin akan datang informasi baru (seekor anjing yang tidak menggonggong) yang tidak mendukung kesimpulan. Penalaran deduktif (deductive reasoning), di mana Piaget meyakini tidak berkembang sampai masa remaja, dimulai dengan pernyataan umum (premis) mengenai suatu kelas dan menerapkannya ke anggota kelas particular. Jika premis benar untuk seluruh kelas dan penalaran

logis, maka kesimpulan pasti benar: “Seluruh anjing menggonggong. Spot adalah seekor anjing. Spot menggonggong.”

Para peneliti memberikan 16 permasalahan induktif dan deduktif kepada 16 anak taman kanak-kanak, 17 anak kelas dua, 16 anak kelas empat, dan 17 belas anak kelas enam. Permasalahan dirancang agar tidak berkaitan dengan pengetahuan dunia nyata. Misalnya, satu permasalahan deduktif adalah “Semua poggop mengenakan sepatu boot biru. Tombor adalah poggop. Apakah Tombor mengenakan

sepatu boot biru?” permasalahn induktif yang mirip adalah „Tombor

(14)

e. Konservasi

Dalam memecahkan berbagai jenis masalah konservasi, anak-anak pada tahap operasioanl konkret dapat mencari jawaban dengan menegrjakan di dalam kepala mereka; mereka tidak harus mengukur dan menimbang objek (seperti yang tertulis pada uraian pada kemampuan konservasi di atas).

f. Angka dan Matematika

(15)

BAB III

KESIMPULAN

Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana kemampuan berfikir

akan berkembang dan berfungsi. Anak menggunakan operasi mental untuk

memecahkan masalah-masalah yang aktual, Anak mampu menggunakan

kemampuan mentalnya untuk memecahkan masalah yang bersifat konkret.

Mampu berfikir logis meski masih terbatas pada situasi sekarang. Berkurang rasa

egonya dan mulai bersikap sosial. Terjadi peningkatan dalam hal pemeliharaan.

Anak mulai banyak menerima pandangan orang lain. Pemahamannya

tentang konsep ruangan, kausalitas, kategorisasi, konversi dan penjumlahan lebih

baik. Mereka mempunyai ide yang lebih baik tentang jarak dari satu tempat ke

tempat lain, lama waktu tempuhnya, dan dapat mengingat rute dan tanda-tanda

jalan. Keputusan tentang sebab akibat akan meningkat. Mengerti

perubahan-perubahan dan kejadian-kejadian yang lebih kompleks serta saling hubungannya.

Pengalaman hidupnya memberikan andil dalam mempertajam konsep. Anak

sudah lebih mampu berfikir, belajar, mengingat, dan berkomunikasi, karena

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Papalia,Diane E., dkk. 2009. Human Development. Jakarta: Salemba Humanika.

B. Elizabeth, dkk. Edisi Kelima. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan

Referensi

Dokumen terkait

RKSS SEL SEOUL

Keluarga Berencana (KB); 2) ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan; 3) bayi mendapat imunisasi dasar lengkap; 4) bayi mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif;

Sementara itu, Arends mengungkapkan bahwa Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga

Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas dan terlibat dalam perilaku pasca pembelian ( postpurchase behavior ) yang harus diperhatikan oleh

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH UNTUK KOMODITAS PERTANIAN DI KECAMATAN MEMBALONG KABUPATEN BELITUNG. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Daerah Kota Serang Provinsi Banten, dalam mengemban tugasnya dalam mendukung program pembangunan infrastruktur permukiman secara terpadu

Pada gambar tersebut terlihat bahwa struktur mikro hasil pengecoran aluminium skrap, unsur silikon (Si) tersebar tidak merata dan didominasi oleh aluminium (Al).

Tujuan penelitian ini adalah untuk: Mengungkap kondisi potensi sumberdaya individu petani, ketepatan proses pemberdayaan, peran SDM pemberdayaan, keefektifan