BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu upaya strategis Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman, Ditjen Cipta Karya, dalam rangka percepatan penanganan kawasan kumuh dan gerakan 100-0-100 pada tahun 2015-2019, adalah Strategi Pembangunan Infrastruktur berbasis Masyarakat. Strategi Pembangunan Infrastruktur di Perkotaan diantaranya dilakukan melalui pelaksanaan National Slum Up-grading Program (NSUP) atau Program Kota Tanpa Kumuh (Program Kotaku) periode 2016-2020. Program KOTAKU menggunakan sinergi pendekatan antara Pembangunan Infrastruktur Berbasis Masyarakat, Penguatan
Peran Pemda sebagai Nakhoda dan Kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan
pemangku kepentingan lainnya di Kabupaten/Kota. Melalui sinergi ketiga pendekatan tersebut diharapkan dapat lebih mempercepat penanganan kumuh perkotaan dan gerakan 100-0-100 dalam rangka mewujudkan permukiman yang layak huni, produktif dan berkelanjutan
“Kota layak huni, produktif dan berkelanjutan” merupakan tujuan yang akan dicapai melalui Program KOTAKU (Program Kota Tanpa Kumuh). Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut dilakukan serangkaian kegiatan di tingkat kabupaten/kota dan tingkat kelurahan/desa. Program KOTAKU diterjemahkan ke dalam dua kegiatan yaitu peningkatan kualitas permukiman dan pencegahan permukiman kumuh yang dilakukan melalui pendekatan partisipatif. Pendekatan tersebut mempertemukan perencanaan makro (top-down) dengan perencanaan mikro (bottom-up). Pemerintah kabupaten/kota memimpin keseluruhan proses kegiatan penanganan tersebut. Di tingkat kelurahan/desa, masyarakat bekerja bersama dengan pemerintahan kelurahan/desa dan kelompok peduli lainnya berpartisipasi aktif dan turut serta dalam seluruh proses pengambilan keputusan untuk penanganan permukiman kumuh di wilayahnya.
▸ Baca selengkapnya: contoh mou sekolah dengan kelurahan
(2)BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 2 35.291 Ha permukiman kumuh perkotaan yang tersebar di hampir seluruh wilayah indonesia sesuai hasil perhitungan pengurangan luasan permukiman kumuh perkotaan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. Kondisi tersebut diperkirakan akan terus mengalami penambahan apabila tidak ada bentuk penanganan yang inovatif, menyeluruh, dan tepat sasaran. Permukiman kumuh masih menjadi tantangan bagi pemerintah kabupaten/kota, karena selain merupakan masalah, di sisi lain ternyata merupakan salah satu pilar penyangga perekonomian kota. Mengingat sifat pekerjaan dan skala pencapaiannya yang sangat kompleks, diperlukan kolaborasi beberapa pihak antara pemerintah mulai tingkat pusat sampai dengan tingkat kelurahan/desa, pihak swasta, masyarakat, dan pihak terkait lainnya.
Pelibatan beberapa pihak secara kolaboratif diharapkan memberikan berbagai dampak positif, antara lain peningkatkan komitmen pemerintah daerah dalam pencapaian kota layak huni, meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat dalam memanfaatkan dan memelihara hasil pembangunan, menjamin keberlanjutan, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan swasta terhadap Pemerintah.
Oleh karena itu, sebagai salah satu langkah mewujudkan sasaran RPJMN 2015 -2019 yaitu kota tanpa permukiman kumuh di tahun -2019, Direktorat Jenderal Cipta Karya menginisiasi pembangunan platform kolaborasi melalui Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Program KOTAKU pendukung Pemerintah Daerah sebagai pelaku utama penanganan permukiman kumuh dalam mewujudkan permukiman layak huni diantaranya melalui revitalisasi peran Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).
Program KOTAKU adalah Program Pencegahan dan peningkatan kualitas Permukiman Kumuh Nasional yang merupakan penjabaran dari pelaksanaan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat tahun 2015-2019 (RPJMN). Sasaran program ini adalah tercapainya pengentasan permukiman kumuh perkotaan menjadi 0 (nol) Ha pada tahun 2019 melalui Pencegahan & peningkatan kualitas permukiman kumuh seluas 38.431 Ha, serta meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar dikawasan kumuh perkotaan untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.
1.2. Visi, Misi Kelurahan Mariana
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 3
“Mewujudkan Mariana Sejahtera Dengan Kawasan Permukiman Yang Layak, Sehat, Bersih, Produktif dan Berdaya Saing Yang Berkelanjutan”
Misi Kelurahan Mariana dalam mewujudkan visi yaitu :
Memberdayakan masyarakat dan PEMDA
Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana lingkungan permukiman
Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana air minum, sanitasi, drainase dan
pengolahan limbah
Mengembangkan dan memitrakan usaha ekonomi kreatif dengan Urban Economics
Chain
Memadukan perencanaan penataan kumuh dengan perencanaan kota
Mengintegrasikan kebijakan dan mengkolaborasikan kelembagaan
Meningkatkan kerja sama antar berbagai unsur masyarakat dengan Pemda dan swasta
Mengembangkan dan meningkatkan Sumber Daya Manusia
Membangun masyarakat yang mandiri secara efektif dan berkelanjutan
1.3. Maksud, Tujuan Dan Sasaran
Dokumen RPLP merupakan dokumen yang menjadi acuan dan dasar dalam perencanaan penataan lingkungan permukiman terutama permukiman kumuh.
Adapun maksud, tujuan dan sasaran penyusunan dokumen RPLP ini yaitu : a. Maksud penyusunan dokumen RPLP ;
Menyiapkan perwujudan ruang dalam rangka pelaksanaan program pembangunan
perkotaan.
Penerapan prinsip-prinsip "komplementaritas" dalam rencana struktur ruang dan
rencana pola ruang Rencana Penataan Lingkungan Permukiman Kelurahan Mariana Menyiapkan acuan pembangunan, yang dijadikan arahan dalam pemanfaatan dan
pengendalian ruang melalui perumusan indikasi program utama jangka menengah
lima tahunan.
Menyiapkan rencana tata ruang yang mampu mendukung pengelolaan lingkungan
hidup yang berkelanjutan dan tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas
ruang.
Penyiapan rencana tata ruang yang dijadikan arahan dalam peraturan zonasi,
perizinan, pemberian insentif dan disinsentif.
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 4
Menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan perkotaan melalui pengendalian
program-program pembangunan Perkotaan.
Rencana Pengembangan Permukiman diharapkan mampu Pengembangkan
komunitas yang berbasis nilai sehingga mendorong pengembangan ekonomi
masyarakat.
Mampu mendukung transformasi menuju masyarakat madani melalui sejumlah
intervensi pembelajaran kemitraan dan sinergi antara Pemerintah, masyarakat dan
kelompok peduli
b. Tujuan Penyusunan Dokumen RPLP menyusun Rencana Penataan Lingkungan Permukiman yang berwawasan lingkungan untuk menghadapi tantangan
Perkembangan kota yang semakin kompleks pada masa mendatang dan dapat menjadi
pedoman untuk:
Pemberian perizinan bangunan,
Pengaturan dan pengendalian pemanfaatan ruang
Penyusunan rencana teknik ruang kawasan perkotaan atau rencana tata bangunan
dan lingkungan.
Penyusunan Program Pembangunan dan Investasi Pelaksanaan program pembangunan.
Mampu mendukung transformasi menuju masyarakat madani melalui sejumlah
intervensi pembelajaran kemitraan dan sinergi antara Pemerintah, masyarakat dan
kelompok peduli.
Meningkatkan partisipatif masyarakat dalam merencanakan lingkungan
huniannya, mampu memandang potensi dan masalah sebagai upaya untuk
mengembangkan peluang dan rencana tindakan ke depan.
Mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis dengan
lingkungan hunian yang sehat, tertib, Selaras, produktif, berjatidiri dan
berkelanjutan.
c. Sasaran penyusunan Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) Kelurahan Mariana adalah sebagai berikut :
Terumuskannya dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman yang
berkelanjutan dan mengintegrasikan perencanaan tata ruang wilayah darat guna
menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kelestarian lingkungan
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 5
Tumbuh dan berkembangnya komitmen seluruh stakeholder kota (Kelurahan
Mariana) untuk mengembangkan Kelurahan Mariana dengan berpedoman kepada
rencana tata ruang.
Terumuskannya sistem, prosedur, dan mekanisme yang aplikatif dalam aktivitas
utama penataan ruang Kelurahan Mariana yang meliputi perencanaan, pemanfaatan,
dan pengawasan yang demokratis dan transparan.
Terselenggaranya kegiatan penataan ruang Kelurahan Mariana secara partisipatif
yang mencerminkan proses perencanaan yang demokratis.
1.4. Lingkup Penyusunan Dok. Review RPLP dan Ruang Lingkup Perencanaan
Secara lingkup pekerjaan penyusunan Review RPLP Kelurahan Mariana meliputi lingkup wilayah dan lingkup subtansial yaitu :
1.4.1. Lingkup Wilayah
Wilayah yang dijadikan sebagai kawasan perencanaan dalam Rencana Penataan Lingkup Permukiman (RPLP) adalah Kelurahan Mariana, Kecamatan Pontianak Kota - Kota Pontianak. Adapun batas-batas Kelurahan Mariana adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kelurahan Sungai Jawi Dalam;
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kelurahan Tengah;
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Sungai Kapuas Besar;
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Sungai Jawi.
Kecamatan Pontianak Kota
Kota Pontianak
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 6
1.4.2. Lingkup subtansial
Subtansi materi yang diatur dalam dokumen Review Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) ini meliputi :
• Visi dan misi permukiman Kelurahan;
• Permasalah dan potensi permukiman kelurahan;
• Konsep penanganan yang dilengkapi dengan Roadmap Pencegahan dan Peningkatan Kualitas yang disusun secara 5 (lima) tahun dengan pencapaian 0% luasan kumuh tercapai di tahun 2019;
• Kajian Safeguard • Aturan bersama; • Rencana Livelihood.
• Rencana teknis kawasan terpilih;
• Rencana kegiatan investasi dan kolaborasi;
1.5. Landasan Hukum
Landasan hukum Program KOTAKU sebagai acuan kebijakan pembangunan di Kelurahan Mariana merupakan integral dari kebijakan di Kota Pontianak. Sebagai acuan Landasan Hukum dalam penyusunan model perencanaan tersebut, antara lain:
I. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
II. Undang-undang Nomor1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman
III. Undang-undang Nomor23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah IV. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan
V. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perumahan Dan Kawasan Permukiman
VI. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
VII. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 01/PRT/M/2014 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang VIII. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan RakyatNomor 02/PRT/M/2016
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 7 IX. Surat Edaran Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat Nomor : 40/SE/DC/2016 tentang Pedoman Umum Program Kota Tanpa Kumuh.
X. Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor : 297/DIS PU/2013 tentang Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Perencanaan dan Pengendalian Provinsi Kalimantan Barat untuk Penyusunan Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Provinsi Kalimantan Barat.
XI. Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 3 Tahun 2008 tentang Bangunan Gedung di Kota Pontianak.
XII. Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 5 Tahun 2016 tentang Drainase.
XIII. Peraturan Daerah Kota Ponianak Nomor 7 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Bencana
XIV. Keputusan Walikota Pontianak Propinsi Kalimantan Barat No. 398/D-CKTRP/Tahun 2015 tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kota Pontianak.
1.6. Sistematika Penyusunan
Sistematika penulisan dalam dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) Kelurahan Mariana akan diuraikan dalam beberapa bab yakni :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang dari dokumen RPLP, maksud, tujuan, dan sasaran dari dokumen RPLP, serta tinjauan ruang lingkup penyusunan dengan landasan hukum yang mendukung dalam penyusunan RPLP yang menerangkan manfaat dokumen dan sistematika pembahasan.
BAB II GAMBARAN UMUM KELURAHAN MARIANA
Bab ini membahas tentang gambaran umum pada Kelurahan Mariana yang memuat karakteristik wilayah dan kondisi fisik dasar dan kondisi permukiman Kelurahan Mariana, serta 7 indikator dalam permasalahan permukiman kumuh dan kondisi ekonomi, sosial dan budaya yang ada di Kelurahan Mariana.
BAB III ANALISA PENCEGAHAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN
Bab ini membahas tentang analisis pencegahan dan peninggkatan kualitas permukiman yang didalamnya memuat analisis kebijakan terkait dan analisis kebutuhan penanganan permukiman kumuh di Kelurahan Mariana.
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 8 Bab ini membahas tentang road map dalam pencegahan permukiman kumuh, scenario peningkatan kualitas permukiman kumuh, scenario penetapan lokasi prioritas peningkatan kualitas permukiman kumuh yang terbagi menjadi 3 kawasan wilayah permukiman kumuh.
BAB V RENCANA DAN TEKNIS PENCEGAHAN SERTA PENINGKATAN KUALITAS
PERMUKIMAN KUMUH
Bab ini membahas tentang rencana pencegahan dan peningkatan permukiman kumuh yang ada di 3 kawasan deliniasi permukiman kumuh, serta rencana pola ruang dan rencana sarana prasarana yang didukung dengan rencana pengembangan penghidupan berkelanjutan masyarakat.
BAB VI RENCANA INVESTASI PROGRAM DAN KOLABORASI
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 9
BAB II
GAMBARAN UMUM KELURAHAN MARIANA
KECAMATAN PONTIANAK KOTA
2.1. Letak Geografis dan Batas Administratif
Kelurahan Mariana secara administrasi masuk dalam kecamatan Pontianak Kota, adapun Luas wilayah kelurahan 55,09 Ha yang terdiri dari 10 RW dengan 44 RT. Adapun batas wilayah kelurahan Mariana adalah :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kelurahan Sungai Jawi Dalam;
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kelurahan Tengah;
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Sungai Kapuas Besar;
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Sungai Jawi.
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 10
2.2. Kondisi Fisik Dasar
Kelurahan Mariana merupakan bagian dari kecamatan Pontianak Kota, yang terletak -0.019461 Lintang selatan 109.33 Bujur timur. Luas wilayah di Kelurahan Mariana adalah 55,09 Ha, yang terdiri dari 44 RT. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Kota Pontianak Tahun 2011 - 2031 disebutkan bahwa Kelurahan Mariana masuk pada Rencana Pengembangan sistem perkotaan yaitu sebagai pusat kegiatan wilayah ( PKW ) yang meliputi kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan peruntukan permukiman serta pusat Pelabuhan.
Secara umum ketinggian tanah di Kelurahan Mariana relatif merendah ditengah dan
meninggi di pinggiran kota. Menurut keadaan topografi, Kelurahan Mariana ketinggian
tanah 1-3 meter di atas permukaan laut dan mempunyai kemiringan lahan melandai ke
arah aliran sungai dan kemiringan rata rata 0,8-1,5 meter.
Keadaan pasang surut Sungai Kapuas merupakan aspek hidrologis yang sangat berperan dan berpengaruh terhadap aspek hidrologis ini, yaitu keadaan topografi yang rata-rata rendah di atas permukaaan laut dan posisi geografis kota yang berada pada garis khatulistiwa. Besarnya pengaruh pasang dan curah hujan yang tinggi terutama terjadi pada daerah daerah pinggiran sungai. Besarnya pengaruh pasang surur ini berkisar 1-2 meter.
Berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi dan Geofosika Direktorat Jendral
Perhubungan Udara Supaadio Pontianak, keadaan klimatologi Kelurahan Mariana dan
sekitarnya dapat dijelaskan sebagai berikut : Banyaknya curah hujan rata-rata dalam
setahun berkisar antara 2000-3500 milimeter per bulan, rata-rata tekanan udara berkisar
1,010-1,012 milibar per bulan, rata-rata penyinaran matahari berkisar antara 40-60 persen
per bulan, rata temperatur udara berkisar 26-32 °C tiap bulan, kecepatan angin
rata-rata berkisar antara 4-5 knots.
Keadaan Geologi atau struktur tanah di Kelurahan Mariana termasuk dalam wilayah peneplant dan sedimen aluvial yang secara fisik merupakan jenis tanah liat. Jenis tanah ini berupa gambut bekas endapan lumpur sungai kapuas. Keadaan ini sangat labil dan mempunyai daya dukung yang sangat rendah.
2.3. Kondisi Demografi
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 11
Tabel 2.1.
Jumlah Penduduk Kelurahan Mariana
Jumlah Penduduk Jumlah
Jumlah laki-laki 4278 jiwa
Jumlah perempuan 4481 Jiwa
Jumlah total 8759 Jiwa
Jumlah kepala keluarga 2445 KK
Kepadatan Penduduk - jiwa/Km2
Sumber : Profil Kelurahan Mariana Tahun 2015
Tabel 2.2.
Jumlah Penduduk Menurut Usia Kelurahan Mariana
Usia Laki-Laki Perempuan (Jiwa) (Jiwa)
0-12 Bulan 33 33
1- 5 Tahun 333 378
6-10 Tahun 406 424
11-15 Tahun 395 413
16-20 Tahun 319 320
21-25 Tahun 342 324
26-30 Tahun 329 348
31-40 Tahun 755 748
41-50 Tahun 600 603
51-60 Tahun 414 469
61-70 Tahun 236 252
>70 Tahun 132 184
Total 4294 4496
Sumber : Profil Kelurahan Mariana Tahun 2015
Tabel 2.3.
Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan Kelurahan Mariana
Tingkatan Pendidikan Laki-Laki Perempuan (Jiwa) (Jiwa)
Usia 3-6 Tahun Yang Belum Masuk TK 187 248
Usia 3-6 Tahun Yang Sedang TK/Play Group 101 115
Usia 7-18 Tahun Yang Tidak Pernah Sekolah 0 0
Usia 7-18 Tahun Yang Sedang Sekolah 891 923
Usia 18-56 Tahun Tidak Pernah Sekolah 0 0
Usia 18-56 Tahun Pernah SD Tetapi Tidak Tamat 109 141
Tamat SD/Sederajat 467 634
Jumlah Usia 12 – 56 Tahun Tidak Tamat SLTP 113 92
Jumlah Usia 18 – 56 Tahun Tidak Tamat SLTA 78 27
Tamat SMP/Sederajat 651 673
Tamat SMA/Sederajat 1392 1220
Tamat D-1/Sederajat 25 41
Tamat D-2/Sederajat 25 41
Tamat D-3/Sederajat 95 121
Tamat S-1/Sederajat 233 175
Tamat S-2/Sederajat 7 11
Tamat S-3/Sederajat 3 2
Tamat SLB A 0 0
Tamat SLB B 1 0
Tamat SLB C 0 0
Tidak/Belum Sekolah 0 0
Total 4378 4464
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 12
Tabel 2.4.
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Kelurahan Mariana
Jenis Pekerjaan Laki-Laki Perempuan (Jiwa) (Jiwa)
Petani 7 2
Buruh tani 1 1
Buruh migran perempuan 0 0
Buruh migran laki-laki 0 0
Pegawai Negeri Sipil 132 90
Pengrajin industri rumah tangga 2 0
Pedagang keliling 29 0
Peternak 1 0
Nelayan 18 0
Montir 7 0
Dokter swasta 2 5
Bidan swasta 0 4
Perawat swasta 0 12
Pembantu rumah tangga 0 22
TNI 3 0
POLRI 18 2
Pensiunan PNS/TNI/POLRI 52 22
Pengusaha kecil dan menengah 1 0
Pengacara 1 0
Notaris 0 1
Dukun Kampung Terlatih 0 0
Jasa pengobatan alternatif 1 1
Dosen swasta 6 8
Pengusaha besar 0 0
Arsitektur 0 0
Seniman/Artis 1 0
Karyawan perusahaan swasta 1398 456
Karyawan perusahaan pemerintah 22 9
Buruh harian lepas 235 4
Pedagang 78 0
Total 2015 639
Tabel 2.5.
Jumlah Penduduk Menurut Agama Kelurahan Mariana
Agama Laki-Laki (Jiwa)
Perempuan (Jiwa)
Islam 2907 3082
Kristen 251 289
Katholik 303 360
Hindu 2 2
Budha 809 746
Khonghucu 6 2
Jumlah 4278 4481
Sumber : Profil Kelurahan Mariana Tahun 2015
2.4. Kondisi Ekonomi, Sosial dan Budaya
a. Profil Kemiskinan
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 13 penilaian masyarakat terhadap kemiskinan, serta harapan dan aspirasai masyarakat terhadap kemiskinan yang berada di lingkungan mereka sendiri. Adapun sebaran MBR di Kelurahan Mariana dapat dilihat dibawah ini :
b. Faktor Penyebab Kemiskinan
Kemiskinan sudah menjadi masalah nasional bahkan Internasional. Kemiskinan harus dituntaskan secara serius dan berkelanjutan. Sehingga penyebab kemiskinan bisa diketahui dan masyarakat miskin dapat dikurangi. Peyebab Kemiskinan tiap daerah berbeda. Sesuai dengan hasil musyawarah, faktor penyebab kemisikinan itu :
Kurangnya lapangan pekerjaan
Tidak punya modal usaha
Banyak anak/tanggungan
Pendidikan rendah
Tidak punya ketrampilan
Pendapatan tidak sesuai dengan pengeluaran
Kepedulian orang kaya terhadap yang miskin kurang
Hilangnya kejujuran dan hati nurani ( individualis)
Biaya kebutuhan hidup mahal
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 14
c. Sarana dan Prasarana Umum
Struktur perekonomian Kelurahan Mariana didominasi oleh Perdagangan dan Jasa.Perdagangan yang berkembang di kawasan perencanaan pada umumnya
berupa perdagangan eceran, sementara bentuk perdagangan besar masih relatif
sedikit. Bentuk perdagangan di dalam kawasan permukiman diantaranya warung –
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 15
Tabel 2.6.
Sarana Kesehatan Kelurahan Mariana
No Sarana Kesehatan Jumlah (Unit)
1. Rumah Sakit Umum 1
2. Puskesmas Pembantu 1
3. Toko Obat 1
4. Posyandu 8
5. Apotik 3
6. Praktek Dokter 5
7. Rumah Bersalin 1
Sumber : Profil Kelurahan Mariana Tahun 201
Tabel 2.7.
Sarana Ekonomi Kelurahan Mariana
No Sarana Ekonomi Jumlah (Unit)
1. Warung Makan 12
2. Toko Kelontong -
3. Industri Makanan 12
4. Industri Meubel 1
5. Industri Kerajinan 6
6. Bengkel 6
7. Swalayan 22
8. Percetakan 4
9. Pasar 1
10. Usaha Perdagangan 80
Sumber : Profil Kelurahan Mariana Tahun 2015
Tabel 2.8.
Sarana Pendidikan Kelurahan Mariana
No Jumlah Penduduk Jumlah (Unit)
1. TK 5
2. SD / Sederajat 4
3. SLTP / Sederajat 2
4. SLTA / Sederajat 1
5. PAUD 3
Sumber : Profil Kelurahan Mariana Tahun 2015
Tabel 2.9.
Sarana Olahraga Kelurahan Mariana
No Jumlah Penduduk Jumlah (Unit)
1. Lapangan Sepakbola 0
2. Lapangan Bulutangkis 2
3. Lapangan Volly 4
4. Lapangan Golf 0
5. Lapangan Basket 0
6. Lapangan Futsal 0
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 16
Tabel 2.10.
Sarana Ibadah Kelurahan Mariana
No Jumlah Penduduk Jumlah (Unit)
1. Masjid 3
2. Surau / Musholla 8
3. Gereja 1
4. Wihara 1
Sumber : Profil Kelurahan Mariana Tahun 2015
2.5. Kondisi Fungsi Penggunaan Lahan
Dikelurahan Mariana tata guna lahan diperuntukkan untuk perdagangan, pelayanan jasa, pendidikan dan permukiman. Melihat kondisi yang ada diKelurahan Mariana untuk di area koridor Jalan Pak kasih merupakan kawasan perdagangan sedangkan dijalan Merdeka Barat merupakan kawassan pendidikan dan area permukiman.
LEGENDA
Fasilitas Kesehatan
Industri & Pergudangan Pelabuhan
Perdagangan & Jasa
Permukiman
Ruang Terbuka Hijau Fasilitas Pendidikan
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 17
2.6. Kondisi Fisik Bangunan
Status kepemilikin bangunan di Kelurahan Mariana terbagi atas Hak Milik, Kontrak dan Hak Guna Bangunan. Kondisi bangunan dari hasil pemetaan swadaya, dapat dimasukkan dalam kategori permanen, semi permanen dan panggung. Sedangkan material bangunan yang digunakan bervariasi. Lantai terdiri dari dari keramik, dan semen. Dinding terdiri dari semen, papan, tripleks dan seng. Sedangkan untuk atap terdiri dari atap daun, seng dan metal roof.
Gambar 2.1.
Kondisi Rumah di Kelurahan Mariana
2.7. Kondisi Jaringan Jalan
Jalan perumahan yang baik, harus memberikan rasa yang aman dan nyaman bagi pergerakan pejalan kaki, pengendara sepeda dan kendaraan bermotor. Selain itu,h arus didukung pula oleh ketersediaan prasarana pendukung jalan seperti perkerasan jalan, trotoar, drainase, lansekap, rambu lalu lintas, parkir dan lain-lain. Idealnya jalan lokal dengan lebar perkerasan 6-7 Meter mempunyai bahu jalan selebar 1,5 – 2 M, trotoar lebar 1 M dan drainase lebar 0,5 M. Sedangkan jalan lingkungan dengan lebar perkerasan 1,2 – 2 M mempunyai bahu jalan dan drainase yang masing-masing lebarnya adalah 0,5 M. Analisis Kondisi Umum Jalan yang berada di Kelurahan Mariana adalah berikut :
Jalan Lokal yang yang ada pada kawasan Pada umumnya dalamkondisi baik, disebelah kiri kanan belum terdapat trotoar kecuali di jalan sunu, sedangkan untuk jalan lingkungan menggunakan paving blok. Sebagian jalan trotoar beralih fungsi menjadi tempat PKL (pedagang kaki lima).
Gambar 2.2.
Kondisi Jaringan Jalan di Kelurahan Mariana
2.8. Kondisi Jaringan Drainase
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 18 drainase di jalan lingkungan sebagian besar terputus disebabkandisebabkan karena beberapa masyarakat membangun diatas drainase, dan di tutup karena dijadikan jalan. Melihat kondisi sistem drainase tersebut di Lingkungan Mariana perlu dilakukan penataan kembali sehingga drainase akan berfungsi dengan baik.
Gambar 2.3.
Kondisi Jaringan Drainase di Kelurahan Mariana
2.9. Kondisi Persampahan
Menurut Standar Nasional Indonesia, setiap orang dalam 1 harimenghasilkan sampah 2,5 lt. di Kelurahan Mariana sampah merupakan merupakan permasalahan utama, di Kelurahan Mariana masih kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya walaupun di wilayah tersebut telah terdapat TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara) yang tidak terkelolah dengan baik sehingga sampah menumpuk.
Gambar 2.4.
Kondisi Persampahan di Kelurahan Mariana
2.10. Kondisi Air Minum
Sumber air bersih di Kelurahan Mariana berasal dari PAM dan air sungai, tapi tidak semua masyarakat memiliki fasilitas air PAM,sehingga masyarakat mengambil air dari sungai ataumasyarakat membeli air untuk di minum. Sehingga untuk air minum masyarakat Kelurahan Mariana menggunakan air hujan dan air galon.
2.11. Kondisi Pengelolaan Air Limbah
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 19 Sedangkan untuk penggunaan WC sebagian masyarakat ada yang menggunakan MCK umum dikarenakan tidka memiliki MCK pribadi. Dan MCK pribadi juga masih ada beberapa masyarakat yang kondisinya tidak layak secara teknis.
2.12. Aspek Legalitas Lahan
Berdasarkan hasil baseline didadapatkan bahwa kepemilikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pada masyarakat di Kelurahan Mariana sedikit. Kepemilikan IMB masih terbatas pada rumah-rumah yang dibangun ditepian jalan raya dan bangunan rumah baru. Sedangkan untuk kawasan tepian sungai Kapuas hampir sebagian besar rumah tidak memiliki IMB. Untuk legalitas lahan hampir seluruhnya masyarakat memiliki minimal adanya SKT (Surat Keterangan Tanah).
2.13. Potensi Dan Resiko Bencana
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 20
BAB III
ANALISIS PENCEGAHAN DAN
PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN
3.1. Analisa Kebijakan Perencanaan Kota terkait Kelurahan Mariana
Analisa kebijakan adalah salah satu tinjuan untuk mengetahui apa saja perencanaan yang akan dilakukan dan pencegahan apa saja yang dapat di tanggulangi sebelum peningkatan perkembangan permukiman di Kelurahan Mariana. Berikut adalah Analisa Kebijakan terkait yang disesuaikan khusus di Kelurahan Mariana – Pontianak Kota :
3.1.1. Analisis Visi dan Misi
Dalam sub bab ini menjelaskan keterkaitan antar visi dan misi dalam Dokumen RTRW Kota Pontianak, RPJP Kota Pontianak, RPJMD Kota Pontianak, RP4D dan SPPIP yang terkait dengan pembangunan serta capaian peningkatan kedepan dalam keberlangsungan Kota Pontianak, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.1. Analisa Visi dan Misi sesuai Dokumen RTRW, RPJP, RPJMD dan SPPIP
Pontianak SPPIP
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 21
Pontianak SPPIP
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 22
Pontianak SPPIP
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 23
Pontianak SPPIP
Tinjuan (fasos) di setiap unit lingkungan
3.1.2. Analisis Struktur Ruang
Dalam sub bab ini menjelaskan keterkaitan kebiajakan struktur ruang yang ada di RTRW Kota Pontianak dengan peningkatan dan arahan rencana yang ada di Pontianak Kota yang terkhusus di Kelurahan Mariana, untuk lebih jelasna dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3.2. Analisis Struktur Ruang
Rencana Struktur Ruang Rencana Pengembangan Arahan Rencana Kebijakan
Rencana Sistem Pusat Pelayanan Kota
Kelurahan Mariana Pusat Pelayanan Kota (PPK) → Sub PPK III
a.perdagangan dan jasa;
b.Pendidikan menengah dan tinggi c.Pelayanan kesehatan
d.Perumahan kepadatan sedang e.perkantoran
Rencana Sistem Jaringan Prasarana Kota 1 rencana sistem prasarana
utama (rencana sistem jaringan transportasi darat)
Sistem Jaringan Jalan Arteri Primer
(Ruas Jalan Pak Kasih) -
Sistem Jaringan Jalan Arteri
Sekunder (K.H. Wahid Hasyim) -
Sistem Jaringan jalan kolektor
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 24 Rencana Struktur Ruang Rencana Pengembangan Arahan Rencana Kebijakan
2 Sistem jaringan pelayanan jalan
Jalur Angkutan barang regional Jalur angkutan barang dari pelabuhan ke wilayah Regional seperti:
1. Jalan Kom Yos. Sudarso – Jalan Pak Kasih – Jalan Rahadi Usman – Jl. Tanjung Pura – Jalan Imam Bonjol – Jalan Adi Sucipto – Jembatan Kapuas II.
Jalur Angkutan barang dari
pelabuhan ke kawasan industri dan pergudangan seperti :
1. Jalan Kom Yos.Sudarso – Jalan Pak Kasih – Jalan Rahadi Usman – Jl. Tanjung Pura – jalan parallel Tol –Jalan Ya’ M Sabran – Jalan Tritura – Jalan Selat Panjang – Jalan Gusti Situt Mahmud – Jalan
Khatulistiwa.
2. Jalan Kom Yos. Sudarso – Jalan Pak Kasih – Jalan Rahadi U 3 Rencana sistem prasarana
lainnya (Sistem jaringan infrastruktur perkotaan)
Sistem Penyediaan Air Minum Meningkatkan cakupan wilayah pelayanan distribusi air minum untuk seluruh wilayah Kota Sistem Pengelolaan Air Limbah Pengelolaan air limbah domestik
dilakukan dengan sistem Septic Tank.
Pengelolaan air limbah non domestik yang mencakup limbah berupa
bahan kimia dan bahan berbahaya dan beracun (B3) ditampung di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada masing-masing penggunaan lahan yang
menghasilkan limbah berbahaya dan
beracun (B3)
Pengembangan jaringan dan pengolahan limbah domestik wilayah
kota pontianak
Sistem Persampahan Pengembangan program pengelolaan sampah secara berkelanjutan
dengan mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di setiap kecamatan Pengembangan sistem
pengangkutan sampah lingkungan
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 25 Rencana Struktur Ruang Rencana Pengembangan Arahan Rencana Kebijakan
Sistem Drainase Sistem Jaringan Drainase Tersier adalah parit-parit yang tersebar mengikuti sistem jaringan jalan lokal
Prasarana dan Sarana Jaringan Jalan Pejalan Kaki
Peningkatan jalur pejalan kaki di kawasan komersial dan
perkantoran
Jalur Evakuasi Bencana Jalur Evakuasi di Kecamatan Pontianak Kota dan Pontianak Barat
meliputi Jalan Pattimura, Jalan Hassanuddin, Jalan Zainuddin, Jalan Pak Kasih, Jalan Gusti Hamzah, Jalan Putri Candramidi, Jalan Sutan Syahrir, jalan Prof. M Yamin, Jalan Ampera, Jalan Kom. Yos Sudarso dan jalan R.E. Martadinata.
Sumber : Hasil Analisa RTRW ( 2013-2033) Kota Pontianak,2017
3.1.3. Analisis Pola Ruang
Dalam sub bab ini menjelaskan keterkaitan Kebijakan Pola Ruang yang ada di RTRW Kota Pontianak (2013-2033) dengan peningkatan arahan rencana yang ada di Pontianak Kota yang terkhusus di Kelurahan Mariana, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Rencana Pola Ruang Rencana Pengembangan Arahan Kebijakan KAWASAN LINDUNG
1 Kawasan yang Memberikan Perlindungan terhadap Kawasan Dibawahnya
- -
2 Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan sempadan sungai
Di daratan sepanjang tepian Sungai Kapuas Rencana pengelolaan kawasan perlindungan setempat meliputi:
Pembuatan tata batas kawasan;
Melakukan rehabilitasi lahan pada kawasan yang telah rusak;
Penanaman vegetasi/penghijauan pada sempadan sungai sebagai
ruang terbuka hijau;
Pembangunan jalan Inspeksi pada sempadan Sungai
Pengembangan tembok/tanggul penahan daya rusak air;
Melakukan pembebasan lahan pada kawasan sempadan yang
termasuk lahan milik Negara; dan
Penataan, pengamanan dan penertiban pemanfaatan lahan pada
sempadan sungai sesuai peruntukannya. 3 Kawasan Ruang
Terbuka Hijau Kota
RTH Privat kurang lebih
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 26 Rencana Pola Ruang Rencana Pengembangan Arahan Kebijakan
(sembilan ratus empat puluh lima) hektar atau sekitar 8,76 % dari luas wilayah kota meliputi: RTH pekarangan rumah, kantor, pelayanan umum, pertokoan dan tempat usaha.
RTH Publik seluas 2.659 (dua ribu
enam ratus lima puluh sembilan) hektar atau sekitar 24,60% dari luas wilayah kota terdiri atas :
RTH taman;
- Kawasan rawan terdapat di bagian wilayah kota yang mempunyai tingkat kepadatan
dan kerapatan bangunan yang tinggi terutama kawasan pusat pelayanan kota dan sub pusat pelayanan kota.
KAWASAN BUDIDAYA
1 Kawasan Perumahan Kawasan peruntukan perumahan seluas 4.358 hektar
-
2 Kawasan
Perdagangan dan Jasa
Pasar Tradisional -
Pusat perbelanjaan -
3 Kawasan Perkantoran
Kawasan peruntukan perkantoran swasta
Kawasan peruntukan perkantoran swasta dikembangkan secara merata di pusat pelayanan kota dan subpusat pelayanan kota.
4 Kawasan Industri dan Pergudangan
Industri rumah tangga/kecil
Industri rumah tangga/kecil dikembangkan di seluruh kawasan permukiman
5 Kawasan Pariwisata - -
6 Kawasan Ruang Terbuka Non Hijau
Kawasan peruntukan ruang terbuka non hijau seluas kurang lebih 277 hektar, meliputi:
Kawasan Sepanjang Kanan Kiri Tepian Sungai Kapuas Mulai dari
Persimpangan Sungai Kapuas-Sungai Landak sampai Kelurahan Parit Mayor;
Lahan Parkir Komunal yang diperkeras di pusat-pusat perdagangan dan perkantoran;
Plaza dan pedestrian yang telah diperkeras
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 27 Rencana Pola Ruang Rencana Pengembangan Arahan Kebijakan
tersebar di bagian wilayah kota;
Lapangan Olahraga terbuka yang diperkeras; dan
Ruang terbuka biru berupa Alur Sungai Kapuas, Sungai Landak serta parit-parit primer. 7 Kawasan Ruang
Evakuasi Bencana - -
8 Kawasan Ruang bagi Kegiatan Sektor Informal
Kawasan peruntukan ruang bagi kegiatan sektor informal
kawasan pujasera di pelataran pusat pertokoan, di sekitar pasar, terminal
dan pelabuhan
kawasan pedagang kaki lima yang merupakan bagian dari taman-taman
kota
Pemanfaatan beberapa ruas jalan pada waktu-waktu tertentu yang diatur
melalui peraturan walikota 9 Kawasan Peruntukan
Lainnya
Kawasan peruntukan
perikanan -
Kawasan peruntukan
pelayanan umum -
Kawasan peruntukan kesehatan
Puskesmas dan balai pengobatan diarahkan di setiap pusat lingkungan
Kawasan peruntukan peribadatan
Kawasan peruntukan peribadatan diarahkan menyebar dan merata di seluruh kawasan kota dan/atau permukiman
Sumber : Hasil Analisis RTRW (2013-2033) Kota Pontianak, 2017
3.2. Analisis Kebutuhan Penanganan Permukiman Kelurahan
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 28 Terbentuknya pemukiman kumuh, yang sering disebut sebagai slum area sering dipandang potensial menimbulkan banyak masalah perkotaan, karena dapat merupakan sumber timbulnya berbagai perilaku menyimpang, seperti kejahatan, dan sumber penyakit sosial lainnya. Adapun salah satu penyebab terjadinya kumuh :
1. Terjadinya pertambahan penduduk yang lebih pesat dari padakemampuan pemerintah dalammenyediakan hunian serta layananprimer lainnya secaralayak/memadai;
2. Tumbuhnya kawasan perumahan dan permukiman yang kurang layak huni, yang pada berbagai daerah cenderung berkembang menjadi kumuh, dan tidak sesuai lagi dengan standar lingkungan permukiman yang sehat;
3. Kurangnya perhatian / partisipasi masyarakat akan pendayagunaan prasarana dan sarana lingkungan permukiman guna kenyamanan dan kemudahan dukungan kegiatan usaha ekonomi.
Guna mengidentifikasi kawasan kumuh yang terdapat di kelurahan, terdapat 7 (tujuh) indikator kumuh, yaitu: (1). Kondisi Bangunan (keteraturan, kepadatan dan persyaratan teknis bangunan); (2). Kondisi Jalan Lingkungan (cakupan pelayanan, kualitas infrastruktur); (3). Kondisi Drainage Lingkungan (cakupan pelayanan, kualitas infrastruktur); (4). Kondisi Penyediaan Air Minum (cakupan pelayanan, kualitas infrastruktur); (5). Kondisi Pengelolaan Limbah (Cakupan pelayanan, kualitas infrastruktur); (6). Kondisi Pengelolaan Sampah (cakupan pelayanan, kualitas infrastruktur); (8). Kondisi Pengamanan Kebakaran (cakupan pelayanan, kualitas infrastruktur).
Berdasarkan pertimbangan potensi dan masalah di lapangan, hasil analisis dan kajian, serta mengacu kepada tata ruang kota Pontianak, maka konsep pendekatan perencanaan pola pemanfaatan ruang di Kelurahan Mariana yaitu kombinasi planning style: (1) Ameliorative Problem-Solving, atau pendekatan perencanaan tata ruang yang bersifat untuk memperbaiki dan ataumenyelesaikan permasalahan dan (2) exploitive opportunity seeking ,atau perencanaan dengan memperhatikan peluangperkembangan di masa yang akan datang.
Konsep perencanaan Ameliorative Problem-Solving berdasarkan permasalahan penataan ruang di Kelurahan Mariana yaitu :
• Permukiman padat penduduk . • Minimnya ruang terbuka hijau.
• Banjir yang disebabkan saluran air yang ada tidak cukupmenampung air hujan, dikarenakan saluran air yang sempit dan tersumbat oleh sampah.
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 29 • Pasar Pagi di Mariana yang kurang tertata
Dalam rencana pengembangan ruang suatu kawasan,konsep tata hijau menjadi penting untuk mendapat perhatian khusus terkait Undang-Undang No. 20 tahun 2007 tentang penataan ruang bahwa suatu kawasan perkotaan harus tersedia minimal 20% RTH. Di kelurahan Mariana tata hijau belum tertata dengan baik,Rencana Tata Hijau di Kelurahan Mariana adalah sebagai berikut:
1. Mempertahankan kawasan hijau (menghijaukan jalur hijau) 2. Mempertahankan Ruang Terbuka Hijau yang masih ada
3. Potensi lahan yang tidak dimanfaatkan agar dibuat menjadi Ruang Terbuka Hijau. 4. Dibuat tanaman-tanaman hias di setiap pekarangan rumah,sehingga lingkungan
menjadi lebih hijau dan asri.
5. Menghijaukan lorong-lorong dengan tanaman pot.
3.2.1. Analisa Demografi
Berdasarkan profil baseline 100-0-100 Kelurahan Mariana, jumlah penduduk Tahun 2015 adalah 8759 Jiwa dengan laju pertumbuhan 0.55% pertahun.
Tabel 3.11. Proyeksi Penduduk
Tahun Jumlah penduduk
Jumlah Rumah Tangga (KK)
Kepadatan penduduk (Ha/jiwa)
2015 8759 2445 159
2016 8807 2458 160
2017 8856 2472 161
2018 8904 2486 162
2019 8953 2499 163
2020 9003 2513 163
2021 9052 2527 164
2022 9102 2541 165
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 30 Kebutuhan ruang kawasan permukiman dapat mengikuti standarnya 60% hunian : 30% SPU : 10% RTH. Berdasarkan SNI 03-1733-2004, Standar Kebutuhan luas lantai minimum per KK (5 orang) adalah 51 m2. Untuk standar ideal KDB bagi kawasan hunian
adalah 50%. Dari standar tersebut maka ditentukan Kebutuhan Luas Kavling Minimum adalah 100 m2/KK atau 0,01 ha/KK.
Jika luas kawasan hunian (X) adalah 60% dari total kebutuhan luas ruang wilayah (Z), maka kebutuhan luas untuk SPU (Y) adalah 20% dan kebutuhan lahan RTH adalah 10% dari total kebutuhan luas ruang permukiman (Z). Sebelum mengetahui kebutuhan ruang ruang SPU, maka
terlebih dahulu harus diketahui Kebutuhan Ruang Total.
Adapun kebutuhan ruang total (Z) yaitu 70% x Z = X (Luas kebutuhan ruang hunian) atau jika disederhanakan menjadi:
Z = 100 (Luas kebutuhan ruang hunian) / 60
Jadi, kebutuhan luas untuk SPU (Y) = 30% x total kebutuhan luas ruang permukiman (Z) Kebutuhan luas untuk RTH = 10% x total kebutuhan luas ruang permukiman (Z)
Tabel 3.12. Analisa Kebutuhan Ruang
Tahun
Kebutuhan Ruang (Ha)
Kebutuhan
Sumber : Hasil Analisa,2017
3.2.2. Analisa Ekonomi, Sosial dan Budaya
Ekonomi Mayoritas Sektor Informal
Kawasan kota dengan bentuk cluster permukiman kampung, bukan dengan tipe distrik kota yang terbentuk dari improvisasi gaya hidup, teknologi dan ekonomi modern menjadikan masyarakat dapat memilih beragam profesi sesuai kebutuhan dan keadaan dan warisan dari keluarga tidak terikat pada satu mata pencaharian
Memunculkan jiwa entrepreneur yang
mengandalkan kreatifitas dan inovasi dalam berusaha mengbah lingkungan permukiman yang lebih baik
Sosial Penduduk multi etnis
Penduduk lokal berbaur dengan
Dikunjungi dari berbagai daerah untuk kepentingan perdagangan dan jasa
Tidak ada pendataan jumlah
Keberagaman multi budaya-etnis berkontribusi
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 31
pendatang penduduk yang akurat perspektif kajian masyarakat
Keberagaman multi-budaya-etnis berkontribusi
perumusan aturan bersama
Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat merata
Lokasi strategis memudahkan akses ke sarana pendidikan
Tergolong urbanist dengan tingkat kesadaran pendidikan sedang
Memudahkan penataan lingkungan, perumusan kebijakan dan melahirkan ide kreatif dengan dukungan SDM yang capable
Kesehatan Akses pelayanan kesehatan terbatas :posyandu, puskesmas
Lahan terbatas dan mahal harga tanah lebih memprioritaskan land use komersil dibanding pelayanan umum
Kurangnya sosialisasi tentang pelayanan publik termasuk kesehatan dan administrasi kependudukan dan pemerintahan
Melakukan pendataan dan sosialisatsi tentang pelayan publik
3.2.3. Analisa Fisik Bangunan
Analisa fisik bangunan yaitu melihat fungsi bangunan baik berupa permukiman, maupun fasilitas umum, adapun Kelurahan Mariana dapat dilihat dibawah ini :
Fungsi Bangunan di pergunakan sebagai tempat tinggal dan tempat usaha
Fungsi Bangunan di pergunakan sebagai tempat tinggal Fungsi Bangunan Komersil
41,24 % Bangunan hunian memiliki luas lantai ≤ 7,2 m2 per orang
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 32
3.2.4. Analisa Prasarana Permukiman
Analisa Jaringan Jalan
Tabel 3.13.
Masalah Akibat Potensi Peluang
Kondisi beberapa jalan lingkungan tidak sesuai beban muatan
Konstruksi jalan sebagian rusak
Terjadi cekungan di sebagian ruas jalan lingkungan yang membuat genangan bila terjadi hujan
Adanya kemauan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pemeliharaan
Masyarakat siap berswadaya dan untuk upaya perbaikan jalan wilayah
perkotaan
Perbaikan Jalan sesuai umur jalan
Adanya aturan bersama tentang penanganan jalan berlubang
Analisa Jaringan Drainase
Tabel 3.14.
Masalah Akibat Potensi Peluang
Drainase tidak mengalir dan menimbulkan bau
Terjadi genangan dan banjir
Konstruksi bangunan drainase tidak dilengkapi bak kontrol
Konstruksi drainase sebagian rusak dan tersumbat karena sampah dan sedimentasi
Volume bangunan drainase tidak sesuai dengan curah hujan dan produksi aliran air
Drainase tidak terintegrasi dengan saluran induk/tidak terhubung dengan system drainase kota
Adanya kemauan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam penataan dan
pembersihan drainase
Masyarakat siap berswadaya dan untuk upaya perbaikan drainase wilayah perkotaan
Rehabilitasi dan normalisasi drainase sekunder dan tersier
Pembuatan drainase yang terintegrasi dengan saluran induk/ terhubung dengan drainase kota
Penerapan eco-manhole drainage
Adanya aturan bersama tentang pembersihan drainase
Penyuluhan dan Sosialisasi mengenai pentingnya drainase
Analisa Jaringan Kebutuhan Air Minum
Tabel 3.15.
Masalah Akibat Potensi Peluang
Sumber Air PDAM dan sumur gali dan sumur bor SPAM tidak memenuhi persyaratan teknis di beberapa bagian wilayah
Cakupan pelayanan SPAM belum
Masyarakat siap berswadaya dan
bergotong royong dalam melakukan perbaikan.
Masyarakat yang berpenghasilan rendah dan akses jalan ke permukiman yang cukup sulit
Lingkungan
permukiman yang padat dan kotor
Peningkatan kualitas pelayanan SPAM
Peningkatan cakupan pelayanan SPAM
Peremajaan sumur lingkungan
Penyuluhan dan Sosialisasi mengenai Pentingnya air minum dan sanitasi
Pengembangan alternative cadangan air : pemanfaatan sumur lingkungan
Pemeliharaan sumber air bersih
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 33
Analisa Sistem Pengelolaan Air Limbah
Tabel 3.17.
Masalah Akibat Potensi Peluang
Sistem
khususnya di area permukiman lorong
Peletakan penampungan limbah dan sumber air tanah perletakannya
Permukiman padat tanpa pengaturan terhadap sanitasi dan khususnya hidup sehat
Adanya kemauan masyarakat untuk ikut berpartisipasi
Ketersediaan space masih
memungkinkan untuk penataan limbah kawasan
Penataan saluran pembuangan limbah yang baik dan teratur
Pembuatan
septiktank komunal
Pembuatan IPAL rumah tangga
Penyuluhan dan Sosialisasi mengenai
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 34
Analisa Sistem Pengelolaan Persampahan
Tabel 3.19.
Masalah Akibat Potensi Peluang
Pengelolaan
Jumlah dan distribusi tempat sampah belum sebanding dengan
Tidak ada pemisah jenis sampah
Adanya kemauan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam penataan dan pembersihan
Penataan Kawasan Tanpa Kumuh
Pemenuhan standar kebutuhan sarana
3.2.5. Analisa Safeguard dan Resiko Bencana
Keteraturan Bangunan
Lahan ilegal
Tidak Memiliki IMB
Bermukim sejak lahir Rehabilitasi Permukiman
Jalan Lingkungan
Genangan pada Jalan
Beban muatan yang melawati Badan Jalan dibuat miring untuk mencegah genangan
Drainase Lingkungan
Tangkapan air pada drainase di lingkungan permukiman kurang efektif
Kondisi permukiman tidak memberikan ruang untuk drainase
Saluran drainase
lingkungan harus menyatu pada saluran induk
Pelayanan Air Minum
Menggunakan Air Hujan
Sebagian penduduk tidak menggunakan PDAM
Sosialisasi dampak kesehatan dalam
mengkosumsi air minum sesuai kualitas air yang memenuhi syarat kosumsi
Pengelolaan Air Limbah
Menyatu dengan drainase
Limbah buangan rumah tangga Pembuatan tangki septik sesuai kebutuhan
penduduk pengguna yang belum memiliki
Sistem Persampahan
Jangkauang buangan Sampah
Kondisi permukiman padat penduduk
Sosialisasi pemilahan sampah pada rumah tangga (organik – non organik)
Banjir Hujan lebat tiba Buruknya kondisi kontruksi bangunan drainase
Saluran dranase ada yang tidak terintegrasi secara menyeluruh pada kawasan
Banyaknya sampah dan sedimentasi pada saluran drainase
Kurangnya kesadaran warga terhadap lingkungan
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 35 Kebakaran Permukiman
padat penduduk
Bangunan dengan kepadatan tinggi tanpa IMB dan standar teknis
Kawasan Kampung Sawah dan sekitarnya
Kawasan permukiman yang bangunannya tergolong semi permanen dengan material yang mudah terbakar
Instalasi listrik yang tidak sesuai kelayakan
Kelalaian personal
Ruang pergerajan dan sirkulasi lingkungan yang sempit
Isu dan motif ekonomi dan politik yang kerap memicu kebakaran yang terorganisir
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 36
BAB IV
SKENARIO / ROAD MAP PENCEGAHAN
DAN PENINGKATAN KUALITAS
PERMUKIMAN KUMUH
4.1. Skenario Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh
Salah satu sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 –
2019 Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat dalam Program Permukiman Berkelanjutan adalah: terpenuhinya penyediaan air
minum untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sebanyak 100%, pemenuhan
kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung (Kawasan
Kumuh 0%) dan terpenuhinya penyehatan lingkungan permukiman (Sanitasi 100%).
Langkah awal untuk melakukan pencegahan terhadap munculnya kawasan
permukiman kumuh dan peningkatan kualitas permukiman kumuh sebagaimana
disyaratkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 37 Mengadopsi dari skenario fokus pembangunan kota dalam RPJM Kota Pontianak tahun 2015-2019 fokus pembangunan pada tahun 2017direncanakan untukmereduksi kemiskinan, pemerataan infrastruktur perkotaan dan meningkatkan aksesantar wilayah.Sejalan denganarahan ini,skenario pengurangan kawasan kumuh di Kota Pontianak pada tahun pertama berfokus pada penyiapan masyarakat untuk menerima program terutama yang berada dikawasan prioritas1, pemenuhanakses air bersih dan perbaikan sanitasi kawasan permukiman kumuh, pembangunan jalan,drainaseserta saluran limbah berturut-turut sesua idengan urutan prioritas penanganannanya.
Pada tahun kedua yakni tahun 2018 masih difokuskanpada upaya untukmengurangikemiskinan, pemantapan infrastruktur perkotaan. Pengurangan permukiman kumuhmelalui pembangunan lingkungan permukiman,memperkuat sistem sanitasi perkotaan serta meningkatkan interconection wilayah. Sehingga dalam skenario pengurangan kawasan kumuh pada tahun kedua masih lanjutan penyiapan masyarakat bisa berupa penyuluhan,sosialisasi dan penyadaran masyarakat terkait lingkungan permukiman sehat sekaligus melanjutkan pembangunan fisik tahun sebelumnya.
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 38 pengurangan kumuh juga pada pemerataan kualitas dan kuantitas infrastruktur permukiman dan lanjutan peningkatan kapasitas masyarakat.
4.2. Skenario Penetapan Lokasi Prioritas Peningkatan Kualitas Permukiman
Kumuh
A. Lokasi Kawasan Kampung Sawah
Tabel 4.20.
Aspek Permasalahan Kebutuhan Penanganan
Pencegahan Peningkatan
Bangunan Gedung
0 % atau sama dengan 0 unit bangunan hunian tidak memiliki keteraturan
Pendekatan sosialisai pencegahan permukiman kumuh perkotaan
Perubahan fungsi dan masa bangunan
Sosialisasi & edukasi terkait aturan dan ketentuan teknis kawasan sempadan sungai
Menata & relokasi
permukiman yg melanggar garis sempadan
Peningkatan peran serta pemerintah daerah dalam pengawasan dan
pengendalian pembangunan permukiman di daerah bantaran sungai
Untuk rumah yg berada di lahan pasang surut sungai rumah disyaratkan untuk menghadap sungai
151 unit/Ha tingkat kepadatan bangunan
Sosialisasi & edukasi aturan bangunan dan lingkungan di daerah bantaran sungai
Pengendalian dan
pembatasan perkembangan permukiman
3,97% (12 Unit) bangunan pada lokasi tidak memenuhi persyaratan teknis
Sosialisasi, edukasi dan promosi rumah dan lingkungan sehat
Bantuan langsung
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 39 Aspek Permasalahan Kebutuhan Penanganan
Pencegahan Peningkatan
Jalan Lingkungan
100 % area tidak terlayani oleh jaringan jalan lingkungan yang layak
Pemeliharaan jalan lingkungan
Pembangunan akses jalan yang menghubungkan dalam kawasan 57 % area memiliki kualitas
permukaan jalan yg buruk
Peningkatan kualitas jaringan jalan sesuai peruntukan, kelas dan standar teknis Air Minum 0 % rumah penduduk tidak
dapat mengakses air minum yg aman
Pemasangan jaringan pipa PDAM disetiap rumah yang belum terpasang
Pengembangan akses sumber air minum baik perpipaan dan non perpipaan
50 % penduduk rumah tangga tidak tercukupi kebutuhan air minum minimal
Pembuatan sistem pengolahan air minum sederhana yang airnya layak konsumsi
Peningkatan system cakupan pelayanan air minum perpipaan PDAM & non PDAM
Drainase Lingkungan
90,84% jalan tidak memiliki saluran/drainase
Normalisasi dan pemeliharaan saluran drainase yg sudah ada
Rehabilitasi dan pembuatan saluran drainase sesuai dengan kapasitas & standar teknis Saluran drainase tidak
terhubung dengan system drainase kota
Pembuatan saluran drainase yg terhubung dengan saluran di dalam kawasan juga sistem drainase kota Pengelolaan
Sanitasi
Terdapat 16 Unit Rumah tangga tidak memiliki akses jamban keluarga
Sosialisasi dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Pembuatan jamban sesuai persyaratan teknis
16 rumah memiliki jamban tidak sesuai persyaratn teknis
Pengelolaan Air Limbah
Sistem air limbah yg tidak sesuai dengan standar teknis yang berlaku
Mengoptimalkan kelembagaan dalam pengelolaan air limbah domestic pada tingkat kawasan
Meningkatkan penggunaan tangki septic berspesifikasi aman oleh rumah tangga
100% wilayah tidak memiliki sapras air limbah sesuai syarat teknis
Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan sector swasta dalam pengelolaan air limbah domestic pada tingkat kawasan
Peningkatan cakupan pelayanan sistem air limbah kawasan (septic tank komunal)
Seluruh saluran
pembuangan air limbah bercampur dg drainase lingkungan
Meningkatkan koordinasi antar organisasi perangkat daerah dalam pengelolaan air limbah domestik
Rehabilitasi sistem saluran air limbah
Pengelolaan Persampahan
81,79 % Rumah tangga sampah tidak terangkut ke TPA minimal 2 kali seminggu
Sosialisasi pengelolaan persampahan dengan metode 3R dan/atau pemisahan organic dan non-organic
Meningkatkan cakupan pelayanan infrastruktur persampahan melalui peningkatan infrastruktur pewadahan &
pengangkutan sampah baik secara konvensional maupun 3R dan/atau pemisahan organic dan non-organic
Sistem Proteksi Kebakaran
Terdapat sarana proteksi kebakaran namun belum menjangkau ke seluruh kawasan
Penyuluhan, sosialisasi dan edukasi pentingnya memiliki sapras proteksi kebakaran
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 40 Aspek Permasalahan Kebutuhan Penanganan
Pencegahan Peningkatan
melalui peningkatan jalan, sumber air dan pompa hydrant
B. Lokasi Kawasan Tantina
Tabel 4.21.
Aspek Permasalahan Kebutuhan Penanganan
Pencegahan Peningkatan
Bangunan Gedung
0 % atau sama dengan 0 unit bangunan hunian tidak memiliki keteraturan
Pendekatan sosialisai pencegahan permukiman kumuh perkotaan
Perubahan fungsi dan masa bangunan
Sosialisasi & edukasi terkait aturan dan ketentuan teknis kawasan sempadan sungai
Menata & relokasi
permukiman yg melanggar garis sempadan
Peningkatan peran serta pemerintah daerah dalam pengawasan dan
pengendalian pembangunan permukiman di daerah bantaran sungai
Untuk rumah yg berada di lahan pasang surut sungai rumah disyaratkan untuk menghadap sungai
180 unit/Ha tingkat kepadatan bangunan
Sosialisasi & edukasi aturan bangunan dan lingkungan di daerah bantaran sungai
Pengendalian dan
pembatasan perkembangan permukiman
0% bangunan pada lokasi tidak memenuhi
persyaratan teknis
Sosialisasi, edukasi dan promosi rumah dan lingkungan sehat
Bantuan langsung
stimulant perbaikan rumah tidak layak huni
Jalan Lingkungan
100 % area tidak terlayani oleh jaringan jalan lingkungan yang layak
Pemeliharaan jalan lingkungan
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 41 Aspek Permasalahan Kebutuhan Penanganan
Pencegahan Peningkatan
0 % area memiliki kualitas permukaan jalan yg buruk
Peningkatan kualitas jaringan jalan sesuai peruntukan, kelas dan standar teknis Air Minum 0 % rumah penduduk tidak
dapat mengakses air minum yg aman
Pemasangan jaringan pipa PDAM disetiap rumah yang belum terpasang
Pengembangan akses sumber air minum baik perpipaan dan non perpipaan
100 % penduduk rumah tangga tidak tercukupi kebutuhan air minum minimal
Pembuatan sistem pengolahan air minum sederhana yang airnya layak konsumsi
Peningkatan system cakupan pelayanan air minum perpipaan PDAM & non PDAM
Drainase Lingkungan
100% jalan tidak memiliki saluran/drainase
Normalisasi dan pemeliharaan saluran drainase yg sudah ada
Rehabilitasi dan pembuatan saluran drainase sesuai dengan kapasitas & standar teknis Saluran drainase tidak
terhubung dengan system drainase kota
Pembuatan saluran drainase yg terhubung dengan saluran di dalam kawasan juga sistem drainase kota Pengelolaan
Sanitasi
Terdapat 0 Unit Rumah tangga tidak memiliki akses jamban keluarga
Sosialisasi dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Pembuatan jamban sesuai persyaratan teknis
0 Unit Rumah memiliki jamban tidak sesuai persyaratan teknis Pengelolaan
Air Limbah
Sistem air limbah yg tidak sesuai dengan standar teknis yang berlaku
Mengoptimalkan kelembagaan dalam pengelolaan air limbah domestic pada tingkat kawasan
Meningkatkan penggunaan tangki septic berspesifikasi aman oleh rumah tangga
100% wilayah tidak memiliki sapras air limbah sesuai syarat teknis
Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan sector swasta dalam pengelolaan air limbah domestic pada tingkat kawasan
Peningkatan cakupan pelayanan sistem air limbah kawasan (septic tank komunal)
Seluruh saluran
pembuangan air limbah bercampur dg drainase lingkungan
Meningkatkan koordinasi antar organisasi perangkat daerah dalam pengelolaan air limbah domestik
Rehabilitasi sistem saluran air limbah
Pengelolaan Persampahan
100 % Rumah tangga sampah tidak terangkut ke TPA minimal 2 kali seminggu
Sosialisasi pengelolaan persampahan dengan metode 3R dan/atau pemisahan organic dan non-organic
Meningkatkan cakupan pelayanan infrastruktur persampahan melalui peningkatan infrastruktur pewadahan &
pengangkutan sampah baik secara konvensional maupun 3R dan/atau pemisahan organic dan non-organic
Sistem Proteksi Kebakaran
Terdapat sarana proteksi kebakaran namun belum menjangkau ke seluruh kawasan
Penyuluhan, sosialisasi dan edukasi pentingnya memiliki sapras proteksi kebakaran
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 42
C. Lokasi Kawasan Walet
Tabel 4.22.
Aspek Permasalahan Kebutuhan Penanganan
Pencegahan Peningkatan
Bangunan Gedung
0 % atau sama dengan 0 unit bangunan hunian tidak memiliki keteraturan
Pendekatan sosialisai pencegahan permukiman kumuh perkotaan
Perubahan fungsi dan masa bangunan
Sosialisasi & edukasi terkait aturan dan ketentuan teknis kawasan sempadan sungai
Menata & relokasi
permukiman yg melanggar garis sempadan
Peningkatan peran serta pemerintah daerah dalam pengawasan dan
pengendalian pembangunan permukiman di daerah bantaran sungai
Untuk rumah yg berada di lahan pasang surut sungai rumah disyaratkan untuk menghadap sungai
180 unit/Ha tingkat kepadatan bangunan
Sosialisasi & edukasi aturan bangunan dan lingkungan di daerah bantaran sungai
Pengendalian dan
pembatasan perkembangan permukiman
2,83% bangunan pada lokasi tidak memenuhi persyaratan teknis
Sosialisasi, edukasi dan promosi rumah dan lingkungan sehat
Bantuan langsung
stimulant perbaikan rumah tidak layak huni
Jalan Lingkungan
100 % area tidak terlayani oleh jaringan jalan lingkungan yang layak
Pemeliharaan jalan lingkungan
Pembangunan akses jalan yang menghubungkan dalam kawasan 31 % area memiliki kualitas
permukaan jalan yg buruk
Peningkatan kualitas jaringan jalan sesuai peruntukan, kelas dan standar teknis Air Minum 0 % rumah penduduk tidak
dapat mengakses air minum
Pemasangan jaringan pipa PDAM disetiap rumah yang
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 43 Aspek Permasalahan Kebutuhan Penanganan
Pencegahan Peningkatan
yg aman belum terpasang perpipaan dan non
perpipaan 34 % penduduk rumah
tangga tidak tercukupi kebutuhan air minum minimal
Pembuatan sistem pengolahan air minum sederhana yang airnya layak konsumsi
Peningkatan system cakupan pelayanan air minum perpipaan PDAM & non PDAM
Drainase Lingkungan
73,6% jalan tidak memiliki saluran/drainase
Normalisasi dan pemeliharaan saluran drainase yg sudah ada
Rehabilitasi dan pembuatan saluran drainase sesuai dengan kapasitas & standar teknis Saluran drainase tidak
terhubung dengan system drainase kota
Pembuatan saluran drainase yg terhubung dengan saluran di dalam kawasan juga sistem drainase kota Pengelolaan
Sanitasi
Terdapat 4 Unit Rumah tangga tidak memiliki akses jamban keluarga
Sosialisasi dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Pembuatan jamban sesuai persyaratan teknis
0 Unit Rumah memiliki jamban tidak sesuai persyaratan teknis Pengelolaan
Air Limbah
Sistem air limbah yg tidak sesuai dengan standar teknis yang berlaku
Mengoptimalkan kelembagaan dalam pengelolaan air limbah domestic pada tingkat kawasan
Meningkatkan penggunaan tangki septic berspesifikasi aman oleh rumah tangga
100% wilayah tidak memiliki sapras air limbah sesuai syarat teknis
Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan sector swasta dalam pengelolaan air limbah domestic pada tingkat kawasan
Peningkatan cakupan pelayanan sistem air limbah kawasan (septic tank komunal)
Seluruh saluran
pembuangan air limbah bercampur dg drainase lingkungan
Meningkatkan koordinasi antar organisasi perangkat daerah dalam pengelolaan air limbah domestik
Rehabilitasi sistem saluran air limbah
Pengelolaan Persampahan
100 % Rumah tangga sampah tidak terangkut ke TPA minimal 2 kali seminggu
Sosialisasi pengelolaan persampahan dengan metode 3R dan/atau pemisahan organic dan non-organic
Meningkatkan cakupan pelayanan infrastruktur persampahan melalui peningkatan infrastruktur pewadahan &
pengangkutan sampah baik secara konvensional maupun 3R dan/atau pemisahan organic dan non-organic
Sistem Proteksi Kebakaran
Terdapat sarana proteksi kebakaran namun belum menjangkau ke seluruh kawasan
Penyuluhan, sosialisasi dan edukasi pentingnya memiliki sapras proteksi kebakaran
Meningkatkan aksesbilitas kawasan permukiman padat untuk sistem proteksi kebakaran dan keadaan darurat lainnya melalui peningkatan jalan, sumber air dan pompa hydrant
BKM “MARIANA” KELURAHAN MARIANA 44 a. Pengoptimalan SDM dalam penanganan permukiman kumuh
b. Pengembangan permukiman dengan memanfaatkan potensi lokal/ daerah agar dapat mengakomodasi berkembangnya budaya multi-culture untuk mendukung pelaksanaan Undang – Undang tentang perumahan dan kawasan permukiman
c. Peningkatan kerjasama dan peran swasta dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan infrastruktur permukiman secara terpadu, sinergi dan berkelanjutan d. Peningkatan revitalisasi sarana dan prasarana perumahan dan permukiman untuk
memenuhi akses masyarakat terhadap pelayanan sarana dan prasarana permukiman yang memadai
e. Penguatan kelembagaan pembiayaan perumahan dan permukiman
f. Peningkatan sarana prasarana dinas sebagai pendukung upaya penanganan kawasan permukiman kumuh
g. Pengoptimalan pengawasan dan evaluasi hasil program kegiatan penanganan permukiman kumuh dengan melibatkan masyarakat
h. Pengoptimalan dalam penyusunan database sasaran program penanganan permukiman kumuh secara integratif