BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kondisi pertanian di Indonesia belum memaksimalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh setiap daerahnya masing-masing. Petani sebagai pelaku utama di dalam kegiatan pertanian masih terus mengalami penjajahan secara ekonomi maupun mental. Kesejahteraan petani belum mengalami banyak perubahan hingga zaman modern. Kesejahteraan yang kurang ini disebabkan oleh pendapatan dan penerimaan petani yang masih kurang.
Pertanian di Indonesia masih menjadi sektor utama dan penyumbang devisa bagi negara. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya mampu berdampak positif bagi tersedianya lapangan kerja dari sektor pertanian begitu besar. Terbukti jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani masih tergolong tinggi. Mengelola lahan seperti sawah, perkebunan, dan subsistem lainnya serta mengusahakan pertenakan atau perikanan menjadi pekerjaan seorang petani. Disisi lain tujuan pekerjaan mereka bukan sekedar untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga masing-masing tetapi juga untuk diperjualbelikan dan memenuhi kebutuhan pasar.
Potensi pertanian di Indonesia menjadi perekonomian negara yang stabil ditengah kondisi perekonomian global yang mengalami kekacauan. Kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak merupakan potensi dalam perkembangan pertanian di Indonesia. Pada realita yang ada Indonesia sampai saat ini belum mampu memanfaatkan potensi tersebut secara optimal. Salah satu faktor yang menyebabkan kurang majunya pertanian di Indonesia adalah sebagian besar petani masih bersifat tertutup atas inovasi dan belum mampu memanfaatkan berbagai terobosan teknologi baru di bidang pertanian yang sebenarnya berdasarkan hasil penelitian dapat meningkatkan produktifitas usahatani dan pendapatan petani. Peran pemerintah dalam membuat kebijakan sangat berpengaruh bagi perkembangan pertanian. Kondisi yang terjadi saat ini, adanya beberapa kebijakan yang masih merugikan dan belum memihak kepada kepentingan petani di Indonesia.
Perkembangan pertanian erat kaitannya dengan pola kehidupan yang dijalani oleh para petani yang sebagian besar hidup di pedesaan. Kehidupan masyarakat pedesaan memang masih sangat sederhana, baik dari segi sosial maupun dari segi budaya. Dengan mengandalkan pendapatan yang berasal dari usahatani, mereka berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya, baik untuk konsumsi pangan, konsumsi non pangan, pakaian, perumahan, dan lain-lain.
Sebagian besar dari masyarakat desa berusaha mencukupi kebutuhan mereka dengan mengandalkan alam di sekitarnya. Bagi petani yang memiliki lahan pertanian, mereka berusaha untuk menggarap lahan yang dimiliki secara optimal. Mereka menanam tanaman pokok seperti padi, ubi kayu, ubi jalar dan jagung dengan maksud agar hasil panennya dapat dikonsumsi oleh keluarga untuk mencukupi kebutuhan konsumsi.
Berdasarkan uraian di atas sangat menarik untuk dipelajari dan ditelusuri secara mendalam khususnya oleh mahasiswa. Mahasiswa dapat terjun langsung ke lapangan dalam melakukan penelitian, khususnya mengenai karakteristik perekonomian pedesaan. Faktor sosial budaya dan pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di desa oleh masyarakat yang dapat menunjang kegiatan perekonomian desa tersebut. Dengan terjun langsung ke lapangan, mahasiswa dapat ikut merasakan dan menyelami pola kehidupan masyarakat desa.
Atas dasar alasan yang telah tertera di atas, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Tidar melaksanakan praktikum Ekonomi Pertanian di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Kondisi pertanian di Kabupaten Magelang memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan. Komoditi tanaman yang diusahakan antara lain komoditi tanaman hortikultura, tanaman pangan, tanaman obat dan tanaman sayuran. Mata pencaharian penduduk di Kabupaten Magelang juga masih didominasi oleh petani atau penduduk yang mengusahakan lahan-lahan pertanian.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah karakteristik Desa Dawung di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang ?
2. Bagaimanakah karakteristik rumah tangga responden petani dengan luas lahan garapan kurang dari 0,5 ha, 0,5 – 1 ha dan diatas 1 ha yang ada di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang ? 3. Bagaimanakah pendapatan rumah tangga responden petani dengan luas lahan garapan kurang dari 0,5 ha, 0,5 – 1 ha dan diatas 1 ha yang ada di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang ?
C. Tujuan Praktikum Ekonomi Pertanian
Adapun tujuan dan kegunaan praktikum Ekonomi Pertanian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk melatih mahasiswa mengenal kehidupan rumah tangga petani di pedesaan, serta mengetahui secara nyata tentang karakteristik rumah tangga petani di pedesaan.
b. Untuk melatih mahasiswa menganalisis secara ekonomi mengenai pendapatan rumah tangga petani baik dari usaha tani maupun dari luar usaha tani.
c. Untuk melatih mahasiswa menganalisis konsumsi, tabungan, serta investasi oleh rumah tangga petani
D. Kegunaan praktik Ekonomi Pertanian
a. Bagi pemerintah Magelang, hasil praktikum ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dari mahasiswa mengenai kondisi dan karakteristik pedesaan serta kehidupan rumah tangga petani di Kecamatan Tegalrejo.
b. Bagi fakultas Pertanian Universitas Tidar, hasil praktikum ini diharapkan dapat mendukung kelengkapan dalam penerapan kurikulum pendidikan pertanian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Karakteristik Pedesaan
Desa adalah suatu persekutuan hidup bersama yang mempunyai kesatuan hukum organisasi, batas geografs tertentu. Desa diawali dari manusia yang hidup bergerombol baik dalam satu lingkungan yang besar atau kecil dan bertempat tinggal pada tempat tertentu. Segala perkembangannya yang mereka alami, dan pertumbuhan jumlah jiwa yang semakin banyak kemudian mulai dipikirkan masalah keamanan dan tata tertib pergaulan sesamanya dengan maksud untuk memelihara ketentraman serta tatanan hidup yang harmonis dan pantas sebagai keluarga besar (Kusnaedi, 2005).
Menurut Kusnaedi (2005), berdasarkan mata pencaharian masyarakat dominan di daerah pedesaan, di bagi menjadi 8 bagian yaitu Desa nelayan, Desa persawahan, Desa perladangan, Desa perkebunan, Desa peternakan, Desa kerajinan (Industri kecil), Desa industri besar, Desa jasa dan perdagangan. Pada umumnya selain bertani masyarakat di pedesaan merangkap sebagai pedagang untuk menambah penghasilan mereka. Hal ini menunjukkan keinginan masyarakat pedesaan untuk maju dan memperbaiki keadaan dan kesejahteraan mereka.
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang batu dan lain-lain. Akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian (Sajogyo et al., 2002).
Angka Beban Tanggungan tersebut berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi di suatu daerah khususnya di bidang pertanian. Apabila ABT-nya dari tahun ke tahun menurun artinya setiap tahun beban yang ditanggung (usia non-produkti/tidak bekerja) semakin sedikit sehingga menyebabkan perkembangan ekonomi khususnya bidang pertanian akan meningkat dengan cepeat. Dibanding dengan ABT yang dari tahun ke tahun yang meningkat, maka perkembangan ekonominya akan sangat lambat sehingga kemajuan desa tersebut akan terhambat (Suryana et al., 2003).
Tingkat pendidikan pada suatu daerah dapat digunakan untuk menentukan maju atau tidaknya pada daerah tersebut. Jika tingkat pendidikan pada daerah tersebut tinggi maka daerah tersebut akan menjadi maju, dan sebaliknya jika tingkat pendidikan pada daerah tersebut rendah maka daerah tersebut akan menjadi mundur (Anonim a, 2009).
B. Pertanian dan Produktifitas Usahatani
Sifat khusus dari masyarakat petani adalah mempunyai hubungan dengan tanah dengan ciri spesifk produksi pertanian berakar pada keadaan khusus petani. Usahatani keluarga merupakan satuan dasar pemilikan, produksi, konsumsi dan kehidupan sosial petani, kepentingan pokok pekerjaan dalam menentukan kedudukan sosial, peranan, serta kepribadian petani dikenal secara baik oleh masyarakat bersangkutan. Struktur sosial desa merupakan keadaan khusus bagi daerah tertentu dan waktu tertentu; masyarakat petani merupakan sebuah kesatuan sosial pra-industri yang memindahkan unsur -unsur spesifk struktur sosial-ekonomi dan kebudayaan lama ke dalam masyarakat kontemporer (Triyono et al., 2002).
Setiap masyarakat mempunyai pola penyembuhan penyakit / pengobatan tertentu, baik yang bersifat ilmiah maupun tidak. Tolak ukur penyakit dan perawatan tergantung pada perbedaan-perbedaan individual dan sosial, maka pengukurannya juga sulit untuk dilaksanakan. Organisasi pemberian jasa-jasa perawatan kesehatan pada suatu masyarakat sangat tergantung pada perkembangan ilmu kedokteran pada khususnya (Maulana, 2004).
Pertanian merupakan basis Indonesia walaupun sumbangan nisbi dalam sektor pertanian di ukur berdasarkan proporsi nilai tambahnya dan bentuk produk domestic atau pndapatan nasional tahun demi tahun mengecil, hal ini bukanlah berarti nilai dan pertambahannya dari waktu ke waktu tetap selalu meningkat kecuali peranan sektor pertanian ini dalam menyerap tenaga kerja terpenting.
Melalui peningkatan produksi, produktivitas, dan pendapatan usahatani, perbaikan distribusi serta kualitas konsumsi dan gizi masyarakat, akan tercapai meningkatnya ketersediaan pangan dalam jumlah dan mutu yang cukup dengan tingkat distribusi dan harga yang terjangkau oleh masyarakat sepanjang waktu (Anonim c, 2010).
Lahan, terutama sawah masih merupakan aset utama bagi keluarga petani, baik sebagai sumber maupun dalam memenuhi konsumsi pangan (beras) keluarga, oleh sebab itu pemilik atas penguasa lahan sawah seringkali dijadikan ukuran tingkat kesejateraan petani. Sistem sewa tanah lebih populer dibandingkan dengan sistem sakap atau gadai, terutama disepanjang jalur pantai utara. Para penyewa harus harus membayar uang sewa di awal musim tanam (Anonim d, 2010).
C. Pendapatan Penduduk Pedesaan
terhadap sumber non pertanian, yang pada gilirannya melahirkan proses akumulasi modal dan investasi yang saling menunjang baik di bidang pertanian atau non pertanian di antara golongan elit pedesaan (Hagul, 2002).
Pada umumnya keluarga petani mempunyai penghasilan yang tidak berwujud uang, jauh lebih besar daripada keluarga dari yang bukan pertanian. Kenyataan hampir semua keluarga petani mengkonsumsi hasil yang diproduksi di pertanian itu (Bishop dan Toussaint, 2001).
Secara umum sumber pendapatan petani bersumber dari dua macam, yaitu dari pertanian dan non-pertanian. Pendapatan dari pertanian terdiri dari hasil usahatani sendiri dan dari hasil berburuh tani. Sumber pendapatan dari usahatani sendiri adalah dari hasil pertanian yang meliputi komoditas pangan, hortikultura, perkebunan, ternak, dan perikanan. Pendapatan hasil berburuh tani adalah pendapatan dari luar kegiatan usahatani sendiri. Pendapatan dari luar usahatani adalah pendapatan yang berasal dari bukan usaha pertanian. Kelompok pendapatan secara garis besar dibagi lima sub sumber pendapatan, yaitu dari hasil perdagangan, menjual jasa (jasa transportasi, jasa kesehatan, jasa alat pertanian, dan lain-lain), dan kegiatan industri (industri besar, menengah, skala rumah tangga) dari kegiatan berburuh di antaranya adalah dari pertukangan, dan buruh di luar pertanian lainnya (Sudana et al., 2002).
Sekitar empat perlima dari pendapatan penduduk desa diperoleh dari kegiatan pertanian tanaman pokok yang mereka kerjakan di lahan yang mereka miliki sementara pendapatan lainnya berasal dari pengumpulan makanan ternak, tanaman obat, dan kayu. Pendapatan masyarakat yang diperoleh dari pertanian lebih kurang sama dengan jumlah yang mereka gunakan untuk keperluan hidupnya sehari-hari (Anonim e, 2010).
Pendapatan petani yang rendah terutama disebabkan karena hasil produksinya yang rendah pula, karena luas garapan yang sempit dengan tingkat produktiftas yang rendah, karena hanya diusahakan dengan teknologi sederhana memakai peralatan dan sarana produksi lain yang sangat terbatas (Anonim f, 2010).
D. Konsumsi, Tabungan dan Investasi
Berdasarkan sensus 1990, lebih dari 60% pengeluaran dikonsumsikan untuk kebutuhan pangan, dimana padi-padian merupakan 23% dari total konsumsi rumah tangga pedesaan dan 11% bagi rumah tangga perkotaan. Telah lebih jauh dengan memisahkan kelompok pendapatan menunjukkan bahwa konsumsi padi-padian kelompok 40% penduduk berpendapatan terendah masih sangat menonjol, yaitu 30% dari total pengeluaran (Anwar et al., 2002).
stabilisator konsumsi menunjukkan penggunaan tabungan menjadi salah satu pilihan strategi dalam menghadapi ancaman rawan pangan (Hardono, 2003).
Pola konsumsi dapat dikenali berdasarkan alokasi penggunaannya. Secara garis besar alokasi pengeluaran konsumsi digolongkan ke dalam dua kelompok penggunaan yaitu konsumsi untuk makanan dan konsumsi untuk kelompok bukan makanan (Fauzi, 2000).
Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan berarti juga produksi) dari kapita atau modal barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi), misalkan pembangunan rel kereta api atau suatu pabrik, pembukaan lahan atau seseorang sekolah di universitas (Anonim g, 2010).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM A. Penentuan Sampel
1. Sampel Desa
Penentuan desa praktikum secara purposive (sengaja) dipilih dari sejumlah desa yang ada dalam kecamatan terpilih, yaitu Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Penentuan desa dilakukan dengan metode sensus, yaitu sebagian besar desa yang ada di Kecamatan Tegalrejo sebanyak 40 desa dari 49 desa.
2. Sampel Responden
Dalam praktik ini penentuan responden dengan cara cluster sampling, yaitu mewawancarai rumah tangga petani untuk setiap desa. Rumah tangga petani yang dijadikan responden terdiri dari rumah tangga petani pemilik penggarap, penyewa dan penyakap. Wawancara dilakukan dengan menggunakan bantuan lembar kuisioner yang telah dipersiapkan. Dalam praktikum ini mengambil satu sampel kecamatan, kemudian satu sampel desa, sampai akhirnya mengambil beberapa responden yang sesuai dengan tujuan praktikum.
B. Data yang Dikumpulkan Data Primer
Data primer diperoleh dari wawancara secara langsung dengan responden yang dipandu dengan lembar kuisioner. Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden atau petani sampel, meliputi hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi pertanian di daerah penelitian.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari suatu organisasi atau instansi terkait yang dapat berupa data yang diperoleh dari kantor kepala desa. Data sekunder juga bisa disebut data monografi desa/kelurahan yang meliputi keadaan alam, kependudukan, sarana dan prasarana, adat istiadat, serta organisasi sosial ekonomi.
C. Metode Analisis Data 1. Tabulasi silang
Tabulasi silang merupakan perluasan dari analisis distribusi relatif. Tabulasi silang menyajikan hubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya. Tabulasi silang ini digunakan untuk mengetahui secara kuantitatif data yang diperoleh.
2. Angka rata-rata
Angka rata-rata adalah angka untuk mengetahui taksiran secara kasar untuk melihat gambaran dalam garis besar dari suatu karakteristik yang ada. Angka ini diperoleh dari pembagian jumlah semua data angka yang diperoleh dengan jumlah populasi yang ada.
3. Analisis Persentase
Analisis Persentase adalah analisis mengenai data yang dibagi dalam beberapa kelompok yang dinyatakan dan diukur dalam persentase. Dengan cara ini dapat diketahui kelompok yang paling banyak jumlahnya yaitu ditunjukkan dengan persentase yang paling tinggi.
4. Analisis Usahatani
Analisis usahatani adalah analisis mengenai penerimaan, pendapatan, maupun biaya-biaya dari usahatani. Besarnya pendapatan usahatani dapat ditentukan atau dapat dihitung dengan mengurangi jumlah penerimaan usahatani dengan jumlah biaya usahatani yang dikeluarkan.
PdU = PrU – BE Dimana,
PdU : Pendapatan usaha tani PrU : Penerimaan usaha tani
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS DATA A. Karakteristik Desa
1. Karakteristik Wilayah
Wilayah Desa Dawung terletak di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Luas desa ini mencapai 175,532 hektar dengan 168,532 hektar diantaranya digunakan untuk pemukiman, persawahan serta perkebunan. Jalanan di Desa Dawung ini masih berupa makadam. Adapun batas-batas Desa Dawung ini adalah :
Batas Barat : Desa Wonokerto, Kecamatan Selang Batas Utara : Desa Pirikan, Kecamatan Tegalrejo Batas Timur : Desa Klopo, Kecamatan Tegalrejo Batas Selatan : Desa Dlimas, Kecamatan Tegalrejo 2. Penduduk
a. Jumlah Penduduk dan Jumlah Rumah Tangga
Tabel 4.1.2.1. Tabel Jumlah Penduduk dan Jumlah Rumah Tangga Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Jumlah Penduduk Jumlah Rumah Tangga
2,596 746
Dari jumlah penduduk dan jumlah rumah tangga desa Dawung pada tahun 2012 sebanyak 2,596 jiwa dengan jumlah kepala rumah tangganya sebanyak 746 Kepala Keluarga, sesuai dengan angka yang tercantum di dalam data monografi desa. Data ini menunjukkan bahwa desa Dawung ini mempunyai penduduk yang cukup padat.
b. Jumlah Penduduk Menurut Umur
Tabel 4.1.2.2. Tabel Jumlah Penduduk Menurut Umur di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
Dari jumlah penduduk menurut umur di Desa Dawung dapat diketahui kelompok umur dengan jumlah penduduk paling banyak di desa Dawung adalah pada kelompok umur 11 – 20 tahun, lalu urutan kedua ialah kelompok umur 31 – 40 tahun. Sedangkan yang paling sedikit adalah pada kelompok umur 71 tahun keatas, ini dapat memperlihatkan bahwa Desa Dawung cukup produktif jika dilihat dari segi kelompok umur.
Usia 7 - 18 tahun yang tidak pernah sekolah
22 0,89
Usia 7 - 18 tahun yang sedang sekolah 529 21,47
Usia 18 - 56 tahun tidak pernah sekolah 23 0,93
Usia 18 - 56 tahun pernah SD tapi tidak
tamat 40 1,62
Usia 18 - 56 tahun tidak tamat SLTA 170 6,90
Tamat SD/Sederajat 119 4,83
Tamat SMP/Sederajat 350 14,21
Tamat SMA/Sederajat 555 22,53
Tamat D-1/Sederajat 5 0,20
Tamat D-2/Sederajat 9 0,36
Tamat D-3/Sederajat 9 0,36
Tamat S-1/Sederajat 42 1,70
Jumlah 2,463 100
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
Dari jumlah penduduk menurut pendidikan Desa Dawung, terlihat jelas bahwa mayoritas penduduk desa ini rata-rata mengenyam pendidikan hanya sampai jenjang SD. Meskipun ada yang melanjutkan ke SLTP, SMA atau bahkan menempuh gelar diploma maupun sarjana, tetapi itupun kalau dijumlah hanya sekitar 31,8 %, tidak sampai separuh dari jumlah total penduduk.
d. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Tabel 4.1.2.4. Tabel Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Mata Pencaharian Jumlah %
Petani 372 34,00
Buruh Tani 140 12,80
Pegawai Negeri Sipil 21 1,92
Pengrajin Industri Rumah Tangga 14 1,28
Pedagang Keliling 21 1,92
Peternak 37 3,38
Montir 7 0,64
Pembantu Rumah Tangga 11 1,01
TNI 1 0,09
POLRI 2 0,18
Pensiunan PNS/TNI/POLRI 68 6,22
Pengusaha Kecil dan Menengah 46 4,20
Jasa Pengobatan Alternatif 2 0,18
Seniman/Artis 4 0,37
Karyawan Perusahaan Pemerintah 2 0,18
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
Dari jumlah penduduk menurut mata pencaharian penduduk Desa Dawung kebanyakan bekerja di sektor pertanian baik sebagai petani penggarap lahan sendiri maupun sebagai buruh tani. Adapun sektor lain yang menjadi penyumbang tenaga terbanyak selain sektor pertanian dari penduduk Desa Dawung adalah pekerja serabutan yang menyumbang 187 orang dari total 2463 orang yang bekerja di Desa ini.
3. Tata Guna Lahan
a. Tata Guna Lahan Secara Umum
Tabel 4.1.3.1 Tabel tata Guna Lahan Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
tanah kering berupa tegal dan pemukiman, tanah perkebunan yang hanya milik perorangan dan tanah untuk fasilitas umum.
b. Luas Panen dan produksi Lahan Pertanian Umum
Tabel 4.1.3.2 Tabel Jenis Tanaman, Luas Panen dan Produksi Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo,
2. Padi Sawah 25 10,000 400
3. Cabe 2 1,000 500
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
Dari jenis tanaman, luas panen dan produksi Desa Dawung terlihat jelas bahwa masyarakat paling banyak menanam padi sebagai komoditi pertanian utamanya dan menghasilkan hingga mencapai 100 ton per tahun. Selain padi, masyarakat Desa Dawung menanam jagung dan cabe sebagai komoditi lain dan cukup menghasilkan.
c. Peternakan
Tabel 4.1.3.4 Tabel Jumlah Hewan Ternak di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Jenis Ternak Jumlah Pemilik Perkiraan Jumlah Populasi
Sapi 12 18
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
Dari jumlah hewan ternak terlihat bahwa kebanyakan penduduk di Desa Dawung adalah peternak ayam dan bebek. Jenis ayam yang biasanya di ternakan di desa ini adalah ayam kampung.
4. Kegiatan Sosial Ekonomi Pedesaan
a. Pasar, kios/toko/warungan dan bakul keliling
Pasar Mingguan 1 35 260
Usaha Toko/Kios 2 1 2
Toko Kelontong 35 50 80
Usaha Perikanan 2 1 4
Pengolahan Kayu 1 1 4
Jumlah 41 88 350
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
Dari jumlah sarana perekonomian diketahui bahwa di Desa Dawung terdapat beberapa macam jenis sarana perekonomian yang dapat mendukung kegiatan perekekonomian di desa tersebut. Dengan jumlah 41 sarana perekonomian maka hal tersebut dapat menyuplai semua kebutuhan penduduk di Desa Dawung.
b. Prasarana dan sarana Transportasi
Tabel 4.1.4.2. Tabel Sarana Perhubungan di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Jenis Saranna Perhubungan Jumlah atau Unit atau Km
Jalan Desa Beraspal 1,75 Km
Kendaraan Umum ke Ibukota Kecamatan 2 unit
Kendaraan Umum ke Ibukota Kabupaten/Kota 4 unit
Kendaraan Umum ke Ibukota Provinsi 4 unit
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
Dari sarana perhubungan, diketahui bahwa sarana jalan di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang ini sudah memadai, namun memadai jika takarannya adalah jumlah.Kemudian kendaraan pun juga sudah dapat dikatakan menunjang sarana dan prasarana di Desa Dawung ini.
c. Pendidikan dan Kesehatan
Tabel 4.1.4.3 Tabel Sarana Kesehatan di Desa Dawung,Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Jenis Sarana Kesehatan Jumlah
Bidan 1 orang
Dukun Pengobatan Alternatif 2 orang
Jumlah 3 orang
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
d. Penyediaan Sarana dan Produksi Pertanian
Di Desa ini belum dapat ditemukan kios-kios SAPROTAN, bahkan menurut informasi kios SAPROTAN ini hanya bisa ditemui di Ibukota Kabupaten.
e. Sarana Lain
Tabel 4.1.4.4. Tabel Sarana-sarana penunjang lain-lain di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Jenis Sarana Jumlah
Masjid 7 Buah
Langgar/Surau/Mushola 4 Buah
Meja Pingpong 2 Buah
Lapangan Voli 1 Buah
Sumber : Data Monografi Desa Dawung 2012
Dari sarana-sarana penunjang lain dapat dilihat bahwa sarana pendukung di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang ini sudah dikatakan memenuhi dilihat dari jumlah sarana yang mereka miliki. Hanya beberapa sarana yang perlu ditambahkan.
f. Karakteristik Rumah Tangga Responden 1. Identitas Responden
a. Jumlah Anggota Rumah Tangga
Tabel 4.2.1.1. Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden Petani di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
No Keterangan Jumlah Rata-rata
1. Suami 18 1
2. Istri 22 1
3. Anak 44 3
Jumlah 84 5
Sumber : Data Primer
Dari jumlah anggota rumah tangga responden dapat diketahui bahwa jumlah anggota rumah tangga responden petani di Desa Dawung ada 84 orang. Dengan rincian jumlah suami 18 orang, istri 22 orang, anak laki-laki dan anak perempuan sejumlah 44 orang.
b. Umur Suami (KK) dan Umur istri
Tabel 4.2.1.2. Umur Suami dan Umur Istri Responden Petani di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Suami Istri
Dari umur suami dan umur istri responden keluarga petani di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang diketahui bahwasuami yang berusia antara 21-30 tahun sebanyak 2 orang, suami yang berusia antara 31-40 tahun sebanyak 2 orang, suami yang berusia antara 41-50 tahun sebanyak 5 orang, suami yang berusia antara 51-60 tahun sebanyak 5 orang, suami yang berusia antara 61-70 tahun sebanyak 1 orang dan suami yang berusia lebih dari 80 tahun ada 1 orang. Istri responden petani di Desa Dawung yang berusia antara 21-30 tahun ada 3 orang , yang berusia 31-40 tahun sebanyak 5 orang,yang berusia antara 41-50 tahun sebanyak 4 orang , yang berusia antara 51-60 tahun sebanyak 5 orang, yang berusia antara 61-70 tahun sebanyak 4 orang, sedangkan yang berusia lebih dari 70 tahun ada 1 orang. c. Pendidikan Suami (KK) dan Istri
Tabel 4.2.1.3. Pendidikan Suami (KK) dan Istri Responden di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2008/2009
No Pendidikan (th) Jumlah Responden Petani
d. Jenis Pekerjaan yang Menghasilkan
Tabel 4.2.1.4. Jenis Pekerjaan Responden Petani yang Menghasilkan di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
No Jenis Pekerjaan Suami Istri
1. Usahatani Lahan Sendiri 17 19
2. Usahatani Lahan Menyakap 1 0
Jumlah 18 19
Sumber : Data Primer
Dari jenis pekerjaan responden keluarga petani di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, dapat diketahui bahwa banyaknya suami yang bekerja di usaha lahan sendiri sebanyak 17 orang, sedangkan istri sebanyak 19 orang. Suami yang yang bekerja pada usaha tani lahan menyakap sebanyak 1 orang. Dari data di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden baik suami maupun istri di Desa Dawung bekerja pada usaha tani lahan sendiri.
2. Penguasaan Aset Rumah Tangga a. Luas pekarangan dan luas bangunan
Tabel 4.2.2.1 Luas pekarangan dan luas bangunan di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
No Aset Rumah Tangga Jumlah
1. Luas Pekarangan 3,229 m2
2. Luas Bangunan 2,120.5 m2
Jumlah Sumber : Data Primer
Dari luas pekarangan dan luas bangunan dapat diketahui bahwa di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang dari 20 responden didapatkan data bahwa luas pekarangan 3,229 m2 dan
luas bangunan 2,120.5 m2 Sehingga dapat disimpulkan bahwa Desa Dawung, kebanyakan memiliki
pekarangan yang luas.
b. Pemilikan alat elektronik, komunikasi dan transportasi
Tabel 4.2.2.3. Pemilikan alat elektronik kamar utama, ruang tamu, kursi tamu dan lemari di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
No Macam Kepemilikan Jumlah
1. Radio 9
2. TV 19
3. VCD 6
5. Sepeda 18
6. Sepeda Motor 26
Jumlah 102
Sumber : Data Primer
Dari pemilikan alat elektronik, komunikasi dan transportasi dapat diketahui bahwa di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang dari tiap responden tidaklah sama. Jumlah keseluruhan kepemilikan yang ada yaitu 102 buah.
c. Bahan bakar masak dan penerangan rumah
Tabel 4.2.2.4 Macam bahan bakar masak dan penerangan rumah di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
No Jenis Bahan Bakar dan Kepemilikan Jumlah
1. Kayu Bakar 16
2. Minyak Tanah 0
3. Gas 20
4. Listrik 20
Jumlah 56
Sumber : Data Primer
Dari macam bahan bakar masak dan penerangan rumah dapat diketahui bahwa di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang dari 20 responden diketahui menggunakan bahan bakar kayu, minyak tanah dan gas sebanyak 36 dan semuanya sudah menggunakan listrik sebagai penerangannya. d. Pemilikan kamar mandi, WC, dan kondisinya
Tabel 4.2.2.5 Pemilikan kamar mandi, WC dan kondisinya di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
No Pemilikan Jumlah Kondisi
1. Kamar Mandi 20 Baik
2. WC 20 Baik
Sumber : Data Primer
Dari pemilikan kamar mandi, WC dan kondisinya diketahui bahwa di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang masyarakatnya sudah memiliki kamar mandi dan WC sendiri dengan kondisi yang baik.
e. Pemilikan alat transportasi
Tabel 4.2.2.6 Pemilikan alat transportasi di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
o
1. Sepeda 18
2. Sepeda Motor 26
3. Mobil 0
Jumlah 44
Sumber : Data Primer
Dari pemilikan alat transportasi dapat diketahui bahwa di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang pada 20 responden memiliki alat transportasi berupa sepeda, sepeda motor, dan mobil sebanyak 18, 26 dengan jumlah 44 unit.
3. Akses terhadap pendidikan dan pelayanan kesehatan a. Akses Terhadap Pendidikan
Tabel 4.2.3.1. Akses terhadap Pendidikan Rumah Tangga Petani di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Tingkat Pendidikan Jumlah %
SD/Sederajat 15 55,55
SMP/Sederajat 3 11,11
SMA/SMK/MA/Sederajat 9 33,33
Perguruan Tinggi 0 0
Jumlah 27 100
Sumber : Data Primer
Pada data yang telah diperoleh dapat diketahui bahwa akses terhadap pendidikan sudah cukup bagus yaitu masing-masing untuk SD, SMP dan SMAsekitar 55.55%, 11.11% dan 33.33%. Selain menunjukan bahwa warga desa telah mendapatkan akses terhadap pendidikan data ini juga menunjukan bahwa keadaan ekonomi petani Desa Dawung Kecamatan Tegalrejo kabupaten Magelang sudah cukup baik sehingga dapat bersekolah dan membiayai sekolah anaknya hingga ke bangku SMA.
4. Pola Pangan Pokok dan Frekuensi Makan Keluarga
Tabel 4.2.4.1. Pola pangan Penduduk Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Pola Pangan Jumlah %
Nasi Sepanjang Tahun 20 100
Tidak Nasi Sepanjang Tahun 0 0
20 100
Sumber : Data Primer
Frekuensi Makan Jumlah Keluarga %
3 Kali Sehari 15 85
Kurang dari 3 Kali Sehari 5 15
Jumlah 20 100
Sumber : Data Primer
Pola pangan keluaraga petani di Desa Dawung Kecamatan Tegalrejo kabupaten Magelang seluruhnya adalah nasi sepanjang tahun dan frekuensi makannya hampir seluruhnya mengkonsumsi makanan 3 kali dalam sehari. Hal ini dikarenakan seluruh keluarga petani menanam padi di sawah garapan mereka sehingga untuk mendapatkan gabah yang selanjutnya akan diproses dalam bentuk nasi dan dikonsumsi oleh keluarga petani tersebut termasuk mudah. Selain itu mengkonsumsi nasi 3 kali sehari juga merupakan kebiasaan dari seluruh warga desa tersebut, bukan hanya petani. Namun ada pula yang mengkonsumsi makanan kurang dari 3 kali sehari hal tersebut disebabkan karena lahan yang dikelola luasnya tidak cukup untuk berproduksi agar dapat memenuhi kebutuhan makan 3 kali sehari.
B. Pendapatan dan Konsumsi Rumah Tangga
1. Penerimaan, Biaya dan Pendapatan dari Usahatani Sendiri
Tabel 4.3.1.1. Penerimaan, Biaya dan Pendapatan dari Usahatani Sawah pada 20 responden di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Penerimaan Biaya Pendapatan
Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata Jumlah Rata-rata
95.750.000 4.787.500 90.045.153 4.502.258 5.704.847 285.242 Sumber: Data Primer
Dari penerimaan, biaya dan pendapatan dari usahatani sawah responden rumah tangga petani di Desa Dawung, rata-rata penerimaan hasil usaha tani per tahun dengan sistem pengusahaan sawah berupa padi adalah Rp. 95,750,000 dan biaya yang harus dikeluarkan Rp. 90,045,153 sedangkan pendapatan usaha tani sebesar Rp. 5,704,847. Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa pengusahaan sawah di Desa Dawung masih belum memberikan hasil yang cukup baikl, hal ini ditunjukkan dengan pendapatan yang diterima hanya sekitar 6 % dari penerimaan petani.
2. Total Pendapatan Rumah Tangga Responden
Tabel 4.3.4.1. Total Pendapatan Rumah Tangga Petani dari dalam dan Luar Pertanian di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Keterangan Jumlah (Rp) Rata-rata (Rp) Usaha Pertanian 1.082.278.173 54.113.909 Sumber : Data Primer
3. Pendapatan, Konsumsi, Tabungan, dan Investasi 4. Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga
Tabel 4.3.5.1. Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Responden di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Tahun 2012
Aktif bekerja di luar sektor pertanian: Merantau : Bekerja di perkotaan Dagang : Bakul warungan Buruh dan lain-lain
Memanfaatkan bantuan pemerintah Memanfaatkan bantuan pihak lain
Menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan saat itu
Menghemat produk/tanaman sendiri Memanfaatkan pekarangan
Berhutang kepada
Tidak menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi
BAB V PEMBAHASAN
Desa Dawung merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang yang memiliki luas wilayah kurang lebih 175.532 ha. Sebagian besar warga di desa ini berprofesi sebagai petani, khususnya pemilik penggarap. Hal itu dapat dilihat dari kepemilikan lahan pertanian yang terbentang luas mengelilingi desa tersebut. Pertanian sebagai sumber utama pendapatan bagi para warga di wilayah ini. Jumlah penduduk Desa Dawung pada tahun 2012 yaitu 5293 orang yang terbagi dalam 2463 KK. Menurut jenis kelamin penduduk perbandingan antara jumlah penduduk pria dan wanita di Desa Dawung lebih banyak penduduk pria. Jumlah penduduk pria yaitu sejumlah 866
sedangkan penduduk wanitanya sejumlah 840 orang.
Penguasaan aset rumah tangga sebagian besar responden menggunakan batubata dan bambu sebagai kerangka dan dinding rumahnya dengan atap yang sudah bergenting dan lantai ubin. Pada responden sebagian besar sudah memiliki TV sebagai sarana hiburan. Banyak dijumpai alat transportasi yang biasa digunakan responden adalah sepeda, dan sepeda motor karena mudah untuk dikendarai dan lebih efektif dalam menjangkau daerah yang jauh, selain itu adanya angkutan umum memudahkan responden yang tidak memiliki alat transportasi sendiri dalam bepergian apabila harus menjangkau daerah yang jauh. Hampir seluruh responden memilih puskesmas sebagai pelayanan kesehatan karena selain jaraknya yang dekat dan mudah dijangkau, biayanya juga lebih murah bahkan ada juga yang bebas biaya untuk warga yang benar-benar tidak mampu dengan memiliki bukti kartu sehat yang harus dibawa saat berobat. Pola makanan pokok pada semua responden adalah nasi sepanjang tahun, yaitu dengan pola makan nasi dua kali sehari.
Rata-rata responden pada di Desa Dawung mempunyai lahan usahatani berupa sawah dan pekarangan dengan luas lahan yang cukup besar mencapai lebih dari seratus ubin setiap kepala keluarga. Berkaitan dengan hal tersebut maka diperlukan biaya yang relatif besar baik untuk pembibitan, kebutuhan pupuk dan untuk pemakaian tenaga kerja luar guna membantu mengolah tanah, walaupun pada umumnya diutamakan tenaga kerja keluaga dan pemeliharaan tanaman dengan baik agar diperoleh hasil yang optimal dalam mencukupi kebutuhan, baik untuk konsumsi pangan maupun non pangan.
untuk dijadikan benih padi. Sadangkan pada masa tanam III petani menanami sawahnya dengan kedelai, yang pada umumnya bervarietas rawung.
Total pendapatan pada responden di Desa Dawung sebagian besar diperoleh dari usaha pertanian dan di luar usaha pertanian. Pada usaha pertanian diperoleh dari usaha tani sawah, pekarangan, dan ternak sendiri. Pada usaha tani sawah sebagian hasil panennya digunakan untuk konsumsi keluarga dan sebagian lagi dijual untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain. Sedangkan untuk usaha tani ternak sendiri dan pekarangan hasilnya digunakan untuk pemenuhan konsumsi keluarga. Di luar usaha pertanian usaha yang dilakukan adalah usaha dagang dan warung kecil.
Penerimaan dari usaha tani sebesar Rp.99.268.587dengan biaya Rp. 54.113.909 dan pendapatan Rp.70.447.948
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil praktikum Ekonomi Pertanian yang telah dilaksanakan pada tanggal 26 maret-12 april 2015 di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Karakteristik Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang.
a. Karakteristik Wilayah Desa Dawung terletak pada dataran rendah dengan ketinggian 175,532ha/m di atas permukaan laut .
b. Karakteristik penduduk di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang:
1) Jumlah penduduk Desa Dawung tahun 2012 adalah 2596 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 746 KK.
2) Jumlah penduduk menurut umur paling banyak di atas 22 tahun.
3) Tingkat pendidikan rata-rata orang tua penduduk Desa Dawung Sebagian besar tingkat SD ada 607 orang, sedangkan untuk SMP ada 170, SMA/SMK ada 119 orang dan Perguruan Tinggi 65 orang. 4) Sebagian besar penduduk Desa Dawung bermata pencaharian sebagai petani pemilik. Adapun mata pencaharian lain yaitu buruh tani, buruh bangunan, dagang, dsb.
c. Karakteristik tata guna lahan di Desa Dawung, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang secara umumdgunakan untuk persawahan dengan komoditas utama padi dan kedelai. Tanaman keras di Desa Dawung berupa kelapa dan Kebanyakan para petani beternak ayam kampung.
d. Karakteristik Kegiatan sosial ekonomi pedesaan hanya terdapat sedikit warung dan kondisi prasarana dan sarana transportasi cukup memadai. Sarana kesehatan sangat kurang, sarana saprodi juga belum ditemukan, sedangkan untuk sarana penunjang lain dapat dikatakan sudah memnuhi.
a. Jumlah anggota rumah tangga responden ada 96 orang, dengan rata-rata umur suami 41-50 dan umur istri dari 31-40 dan 51-60. Pendidikan suami kebanyakan 9 tahun sedangkan istri 6 tahun dan jenis usaha yang menghasilkan yaitu usaha tani lahan sendiri.
b. Penguasaan lahan di Desa Dawung termasuk luas dengan luas pekarangan 24.378,4 m2 dan luas
bangunan 2.055.5 m2. Keadaan bangunan rumah penduduk hampir seluruhnya adalah berdinding tembok
dan beratap genting.
c. Seluruh penduduk di Desa Dawung sudah menggunakan penerangan listrik. Sedangkan untuk
penggunaan bahan bakar, sebagian besar penduduk masih banyak yang menggunakan kayu dan sebagian kecil menggunakan minyak tanah.
d. Kepemilikan kamar mandi dan WC sudah cukup baik dan untuk kepemilikan a;at transportasi masih didominasi oleh sepeda dan sebagian sudah ada yang memiliki sepeda motor.
e. Akses terhadap pendidikan sudah cukup bagus dan merata, akses terhadap kesehatan masih terbatas pada puskesmas yang biayanya murah dan letaknya dekat, sedangkan untuk pola pangan pokok berupa nasi sepanjang tahun dengan frekuensi makan 3 kali sehari.
3. Pendapatan dan Konsumsi Rumah Tangga Petani di Desa Dawung, Kecamata tegalrejo, Kabupaten Magelang.
a. Besar penerimaan usaha tani sawah Rp. 99.268.948 dan pendapatan Rp. 70.447.948.
b. Strategi Bertahan hidup rumah tangga responden diantaranya dengan penyesuaian konsumsi dengan pendapatan, hemat barang, memanfaatkan bantuan pemerintah, memanfaatkan linkungan/ pekarangan dan menuggu kiriman keluarga yang merantau.
B.SARAN
1. Perlu adanya pengarahan tentang pentingnya faktor pendidikan agar kualitas Sumber Daya Manusia penduduk dapat meningkat pada masa yang akan datang.
Perlu adanya pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga para penduduk di Desa Dawung tidak perlu pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Perlu mengoptimalkan pembinaan dan penyuluhan pertanian, karena petani di Desa Dawung menganggap penyuluhan yang dilakukan kurang efektif dan efisien.
Pemerintah perlu membangun sarana, prasarana, dan fasilitas sosial terutama fasilitas kesehatan social yang lebih baik. Selain itu diperlukan perbaikan sarana transportasi terutama perbaikan jalan.
Perlu adanya penambahan jaringan komunikasi untuk memperlancar arus komunikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim a. 2009. Pendapatan Penduduk Pedesaan. http://www.polexdetail.com. Diakses tanggal 26 November 2010.
_______ b. 2010. Karakteristik Masyarakat Pedesaan. http://www.bagais.go.id. Diakses tanggal 26 November 2010.
_______ c. 2010. Produktivitas Usahatani. http://www.Bainfokom-online.org. Diakses tanggal 26 November 2010.
_______ d. 2010. Klasifkasi Lahan Pertanian. http://www.e-dukasi.net/.com. Diambil tanggal 26 November 2010.
_______ e. 2010. Menanggulangi Kemiskinan Desa. www.ekonomirakyat.org. Diakses tanggal 26 November 2010.
_______ f. 2010. Teknologi Sarana Produksi. http://emperordeva.wordpress.com/. Diakses tanggal 26 November 2010.
_______ g. 2010. Investasi dalam Teori Ekonomi. http://id.wikipedia.org. Diakses tanggal 26 November 2010.
Anwar, M. A, dkk. 2002. Prospek Ekonomi Indonesia dalam Jangka Pendek. PT Gramedia. Jakarta
Bishop, C. dan Toussaint, W. D. 2001. Pengantar Analisa Ekonomi Pertanian. Mutiara. Jakarta.
Fauzi, N. 2000. Petani dan Penguasa. Pustaka Pelajar Ofset. Yogyakarta.
Hagul, P. 2002. Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Rajawali Pers. Jakarta.
Hardono, G. S. 2003. Simulasi dampak perubahan faktor-faktor ekonomi terhadap ketahanan pangan rumah tangga pertanian. Jurnal Agro Ekonomi, XXI (I) : 1-25. Kusnaedi. 2005. Membangun Desa. Penebar Swadaya. Jakarta.
Maulana, M. 2004. Peranan lahan, intensitas pertanaman dan produktivitas sebagai sumber pertumbuhan padi sawah di Indonesia. Jurnal Agro Ekonomi, XXII (I) : 74-95. Mustafa, H. 2000. Teknik Sampling. Unpar Press. Bandung.
Sajogyo dan P. Sajogyo. 2002. Sosiologi Pedesaan I. UGM Press. Yogyakarta. Sudana, W. et al. 2002. Karakterisik rumah tangga tani di Lima Agroekosistem Wilayah Pengembangan SUT di Jawa Timur. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, V (II) : 83-96.
Suharsimi. 2000. Referensi Penelitian Kualitatif. PT Gramedia. Jakarta.
Suryana, A. et al. 2003. Isu Strategi dan Alternatif Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian Memasuki REPELITA VII. Analisis Kebijaksanaan : Pembangunan Agribisnis di Pedesaan dan Analisis Dampak Krisis. Monograph series no.18.