Mengembalikan Kepercayaan Masyarakat Pada Fiskus Dan
Pajak
"When there's a single thief, it's robbery. When there are a thousand thieves, it's taxation." – Vanya Cohen
ndonesia tahun 1908, perhatian kita dalam buku sejarah hanya mengenal Budi Utomo, torehan emas dalam lembar sejarah yang membangkitkan desir merdeka di sanubari kita. Padahal di tahun yang sama, Kamang-Sumatera Barat, rakyat bergelora berperang karena dihimpit pajak kolonial yang semena-mena. Bukan perang Padri yang termahsyur dan telah selesai seabad sebelumnya, melainkan perang Belasting Kamang,1 sebuah pemberontakan terhadap sistem perpajakan yang diterapkan
Belanda. Di benua lain, rakyat Inggris tidak akan lupa bagaimana ratu Boudica memukul mundur penjajah romawi yang diperkuat 3 resimen elit di abad I, kebencian mendalam kepada imperialis ditambah pajak tinggi membuat rakyat Inggris berprinsip “Jauh lebih baik dibantai daripada hidup dibebani pajak!” Di Prancis, kebencian terhadap gabelle, pajak garam, turut memicu Revolusi Prancis di abad 18, suatu masa manakala para pemungut pajak dipancung dengan guillotine. Setiap tahun, gaji yang kita peroleh dengan susah payah menguap dalam bentuk pajak. Kita tidak bisa melihat langsung ke mana perginya uang-uang itu. Dengan begitu banyaknya anggaran pemerintah ditambah utang, tidak banyak yang masyarakat terima, bahkan seiring meledaknya jumlah penduduk Indonesia maka lebih sedikit pelayanan yang bisa diterima daripada yang sudah-sudah. Di Tahun ini, 2015, 1.300 Triliun harus dikumpulkan ke negara melalui pajak di Indonesia, dimana pembangunan masih seperti apa adanya yang mencerminkan uang dari pajak seperti tidak berguna apa-apa. Ditambah polemik oknum pemungut pajak tak beretika yang berkasus, masyarakat sudah mulai antipati dengan perpajakan Indonesia. Sebuah status hubungan yang rumit antara wajib pajak dan pemerintah yang tidak mungkin mencapai mahligai kemandirian pendanaan nasional. Sistem self asessment yang diterapkan indonesia sangat bergantung pada bagaimana kemauan dan kejujuran wajib pajak melaporkan penghasilannya, dalam setiap kejujuran pasti harus diikuti rasa sadar diri, ikhlas, dan nasionalis (cinta negara) yang tinggi. Tiga kata dalam satu kriteria yang disebut “kesadaran” wajib pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak. Namun, sejarah membuktikan bahwa pajak bukan hal yang mudah untuk dicintai bahkan bisa jadi memicu pemberontakan. Young Dahl Song meneliti bagaimana masyarakat menganggap pajak sebagai sesuatu yang mempersulit kehidupan dibanding memberi manfaat, hal ini karena pajak dianggap memiliki tarif yang tinggi, sistemnya memiliki celah, dan peraturannya sangat rumit dipahami. Hal yang sangat penting disini adalah bukan
I
11 Perang Belasting Kamang dipelopori H. Abdul Manan melawan Belanda akibat penerapan pajak
bagaimana caranya membenci pajak, melainkan mempelajari persepsi apa yang harus dihindari dari kebijakan pajak sehingga tidak menimbulkan kebencian. Oleh karena itu, ketiga hal tersebut perlu dikendalikan agar rasa sukarela patuh pada diri wajib pajak itu tumbuh perlahan dan DJP mendapat atensi yang baik dari wajib pajak.
Pertama, pemerintah harus menjaga pajak selalu berada dalam jangkauan masyarakat dan menghindari tarif tinggi. Pengenaan pajak yang tinggi kepada masyarakat tentu akan membuat rasa antipati yang tinggi terhadap pemungutan pajak itu sendiri. Pajak yang tinggi tidak hanya melihat tingkat tarif saja, melainkan juga banyaknya item yang dikenakan pajak sehingga secara kumulatif masyarakat akan membayar pajak yang sangat besar. OECD Observer, sebuah publikasi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, mengingatkan kita bahwa selain pajak yang dibayarkan kepada pemerintah pusat, orang yang memperoleh penghasilan mungkin harus membayar pajak penghasilan kepada pemerintah setempat, regional, provinsi atau negara lain selain kepada pemerintah pusat.2 Dengan demikian, akan sangat besar jumlah pajak yang
dibebankan kepada masyarakat. Pemerintah harus mengkaji dengan cermat tarif dan banyaknya pajak yang harus ditanggung masyarakat sehingga beban pajak masih bisa diterima dengan baik dan wajib pajak mau membayar secara sukarela apa yang menjadi kewajibannya. Langkah yang bisa ditempuh oleh pemerintah adalah melakukan kajian terhadap jenis pajak pusat dan daerah, yang melibatkan dua pemungut berbeda. Pajak pusat yang dalam hal ini dikelola oleh DJP dan pajak daerah yang dikelola oleh masing-masing pemerintah daerah harus disinergikan sehingga total pajak yang dibebankan kepada masyarakat tetap rendah. Wajib pajak tentu akan merasa keberatan bila berulang kali dipungut pajak atas kegiatan yang sama dan pada akhirnya jumlah yang dibayar baik pada DJP maupun Pemda menjadi sangat besar. Sebagai contoh sederhana adalah bagaimana mensinergikan antara PPN dan pajak kendaraan bermotor sehingga total pajak yang harus dibayar karena wajib pajak memiliki motor mulai dari membeli hingga menggunakannya bisa lebih rendah. Sepertinya tidak terlihat, namun kenyataannya masyarakat sudah mulai menghindari salah satu jenis pajak tersebut dalam kesehariannya.
Kedua, pemerintah harus menjaga persepsi masyarakat terhadap pajak dengan mengurangi celah yang ada pada sistem perpajakan. Celah yang dimaksud disini adalah kelemahan sistem perpajakan yang dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi oknum pegawai pemerintah dalam bentuk korupsi, kolusi, maupun nepotisme. Hal ini sejalan dengan konsep good governance dimana pemerintah sebagai wakil dari seluruh rakyat wajib menjaga kepercayaan dari rakyatnya dengan menjamin tata kelola pemerintahan
yang baik. Kasus yang paling terkenal di Indonesia adalah bagaimana celah perpajakan dimanfaatkan oleh pegawai pajak berinisial GT, satu kasus yang secara masif menghancurkan kredibilitas otorita pemungut pajak satu-satunya di negeri ini, DJP. Respon antipati dari masyarakat langsung bermunculan seperti wacana boikot pembayaran pajak. Tentunya hasil dari upaya membangun kesadaran patuh pajak selama bertahun-tahun runtuh begitu saja karena masyarakat tidak senang dengan apa yang dilakukan pemungut pajak terhadap kepercayaan yang diberikan kepadanya. Pemerintah harus aktif memperbaiki celah-celah penyelewangan kekuasaan terkait pemungutan pajak ini mulai dari perbaikan sistem, prinsip keterbukaan, pembinaan aparatur, sampai memberi peluang pada masyarakat untuk ikut serta melaporkan perilaku menyimpang para pemungut pajak. Jika pemerintah konsisten memperbaiki celah ini maka antusias wajib pajak akan meningkat dan memberi peluang peningkatan kepatuhan yang selama ini diidam-idamkan.
Ketiga, Pemerintah harus melakukan simplifikasi aturan perpajakan. Aturan memang dibuat untuk dipatuhi, tetapi bila sulit dimengerti tentu masyarakat juga tidak tahu apa yang harus diikuti, bagaimana, kapan, dan dimana hal tersebut harus dipatuhi. Rumitnya peraturan perpajakan yang jumlahnya mencapai ribuan dari peraturan pajak pusat hingga peraturan pajak daerah tentu tidak akan mudah dipahami oleh masyarakat yang awam dengan perpajakan. Sebenarnya, setiap kali suatu pajak baru diusulkan, pemerintah mencoba menutup setiap kemungkinan adanya celah hukum pajak. Namun hasilnya? Hukum perpajakan cenderung rumit dan sangat teknis. Menurut laporan Doing Business tahun 2009, suatu kegiatan bisnis di Indonesia setidaknya perlu membayar 22 jenis pajak dan menghabiskan 344 jam kerja untuk memenuhi kewajiban perpajakannya selama setahun.3 Fakta ini menjadikan sistem perpajakan Indonesia yang terumit
se-Asean bahkan menduduki posisi 104 dari 181 dari negara dengan sistem perpajakan termudah. Kerumitan ini akan menimbulkan rasa malas mematuhi, enggan mempelajari karena pajak dianggap suatu yang memberatkan dalam otak wajib pajak. Simplifikasi bisa diterapkan seperti halnya penerapan pajak penghasilan final sesuai dalam PP46 yang bisa mendorong keinginan wajib pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.
Tahun 2015 ini merupakan tahun pembuktian bagi pemerintah khususnya DJP, dimana semua perhatian telah dialihkan kepada organisasi ini melalui penambahan insentif, lonjakan target, dan ancaman sanksi bagi pegawainya bila tidak mampu memenuhi target. Namun pencapaiaan target bukan seperti membalik telapak tangan melainkan seperti membalik persepsi yang sama artinya mencuci otak masyarakat yang belum
sukarela patuh pajak. Dukungan persepsi masyarakat dan antusiasme yang membaik tentu akan memudahkan langkah DJP sebagai pemungut pajak memenuhi targetnya. Dengan sistem perpajakan yang mengedepankan beban pajak rendah, tata kelola yang bersih, dan didukung peraturan yang sederhana akan mengembalikan minat masyarakat pada proses pemungutan pajak. Kredibilitas ini penting untuk meningkatkan trust dari masyarakat yang akan mempercayakan uangnya kepada pemerintah melalui DJP. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka cinta dari wajib pajak akan sulit didapat yang berimbas pada pekerjaan rumah panjang untuk menuntaskan masalah penghindaran pajak. Oleh karena itu, pemerintah harus serius dalam menuntaskan krisis kepercayaan pajak yang sekarang ada untuk tidak lain dan tidak bukan kemakmuran negara.
Referensi
Asian Development Bank. 2009. Indonesia Critical Development Constraints.
Brys, Bert, and Marika Mannisto.2010. The Income Taxes You Still Pay. http://www.oecdobserver.org/news/archivestory.php/aid/3302/The_income_taxes_y ou_still_pay.html. diakses pada 27 Juni 2015.