1
NASKAH PUBLIKASI
PERILAKU KEKERASAN TERHADAP ANAK
DITINJAU DARI STATUS SOSIAL EKONOMI
Oleh: Doni Maradona
01320302
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2007
2
PERILAKU KEKERASAN TERHADAP ANAK DITINJAU DARI STATUS SOSIAL EKONOMI
Doni Maradona Uly Gusniarti
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku kekerasan terhadap anak ditinjau dari status sosial ekonomi. Dugaan awal yang diajukan pada penelitian ini adalah ada perbedaan perilaku kekerasan terhadap anak ditinjau dari status sosial ekonomi, dimana perilaku kekerasan terhadap anak pada orang tua yang berstatus sosial ekonomi rendah lebih tinggi dari pada orang tua yang berstatus sosial sedang dan perilaku kekerasan terhadap anak pada orang tua yang berstatus sosial sedang lebih tinggi dari pada orang tua yang berstatus sosial tinggi.
Subjek yang dipakai pada penelitian ini adalah para orang tua yang memiliki anak di Bawah usia 18 tahun. Adapun alat ukur yang digunakan dalam penilitian ini berupa skala dan angket, skala kekerasan terhadap anak disusun berdasarkan aspek- aspek : kekerasan anak secara fisik, kekerasan anak secara psikis dan kekerasan anak secara sosial, untuk angket status sosial ekonomi merupakanadaptasi dari penelitian sebelumnya yang disusun oleh Pudjono dan berdasarkan aspek- aspek :
pendidikan, pekerjaan dan keadaan ekonomi.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan fasilitas program
SPSS versi 12.0 untuk menguji perbedaan perilaku kekerasan terhadap anak ditinjau dari status social ekonomi. Hasil analisis statistik uji hipotesis yang memakai anova satu jalur menunjukkan F = 39.703 dengan p = 0.000 (p < 0.001), berarti ada perbedaan yang sangat signifikan perilaku Kekerasan terhadap anak ditinjau dari status sosial ekonomi. Dengan demikian hipotesis yang diajukan pada penelitian ini bahwa ada perbedaan perilaku kekerasan terhadap anak ditinjau dari status sosial ekonomi dapat diterima.
3
PENGANTAR Anak
-anak adalah tunas bangsa atau generasi penerus yang dapat mewujudkan cita-cita suatu bangsa dan di pundak merekalah eksistensi suatu bangsa dapat ditentukan. Oleh karena itu mereka harus mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, psikis, sosial, maupun spiritual dan mereka juga perlu mendapatkan hak- haknya, perlu dilindungi dan disejahterakan. Karenanya, segala bentuk-bentuk tindak kekerasan terhadap anak perlu dicegah dan diatasi sebagaimana tercantum dalam pasal 2 undang- undang nomor 4 tahun 1976 tentang kesejahteraan anak dan konvensi hak anak yang telah diratifikasi dengan dikeluarkanya Keputusan Presiden RI No. 28 tahun 1990, bahwa anak harus mendapatkan perlindungan dan dipenuhi hak-haknya untuk tumbuh dan berkembang secara normal, dan anak
- anak diberikan kesempatan berpartisipasi yaitu dengan didengarkan suara hatinya, diberi kesempatan mengembangkan potensinya sesuai dengan keinginan anak (Tursilarini, 2005). Orang tua merupakan manusia pertama yang harus memberikan kepada anak berupa hak-hak mereka sebagaimana yang telah diatur dalam undang- undang perlindungan anak yaitu antara lain memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada seorang anak, agar anak- anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang baik. Tetapi sangat disayangkan bahwa kebanyakan para pelaku kekerasan terhadap anak merupakan orang-orang terdekat dari anak itu sendiri,
4
terutama orang tua mereka sendiri, di mana seharusnya para anak-anak merasa damai dan aman bila berada di dekat orang tuanya tetapi orang tua lah yang menjadi pelaku kekerasan. Setiap dua menit sekali terjadi kasus kekerasan terhadap
anak di Indonesia. Itu artinya, ada 788 ribu kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia setiap tahunnya. Ironisnya, sebagian besar kasus kekerasan terjadi dalam
rumah tangga,catatan jelangperingatan H
ari Anak Nasional (HAN) dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, pelaku kekerasan terhadap anak tidak hanya orang luar, bahkan orang terdekat seperti ayah, ibu dan guru. Ketua Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI),Wiyogo di Jakarta, mengatakan, sejak sebulan terakhir, pihaknya bahkan telah menerima sedikitnya 100 pengaduan masyarakat soal anak- anak
yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga
(http//www.waspada.co.id).Peristiwa kekerasan terhadap anak (child abuse) akhir -akhir ini marak terjadi. Ada contoh
kasus dimana seorang ibu yang bernama Yeni berusia 22 tahun tega
11 bulan, hingga menyebabkan Indah tak bisa diselam atkan nyawanya,
sedangkan
adiknya, Lintar masih bi sa dise
lamatkan, meski
tubuhnya penuh balutan perban, dan
menurut tim dokter perlu waktu 3 bulan untuk penyembuhan. Dalam kasus Indah dan
Lintar, sang ibu tak kuasa menahan emosinya menghadapi kenyataan suaminya yang bernama Saiful yang berusia 31 tahun menghambur-hamburkan uang untuk
mabuk- mabukan, tak peduli lagi pada pemenuhan keperluan rumah tangga (
http:// www.azayaka
’ s.com
).
Dari informasi yang dihimpun, sebelum membakar 5
anaknya, Yeni bertengkar dengan suaminya, Saifu l yang pulang lewat tengah malam
dengan mulut berbau minuman keras. Murni, nenek dua anak itu menuturkan hampir
dua bulan terakhir Saiful menganggur sejak tidak berdagang buah lagi. Sejak itu, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman
-temannya dari pada tinggal di
rumah petak kontrakanya
(http//www.kompas.com).
Menurut Suharto (2004) kemiskinan seringkali bergandengan dengan rendahnya tingkat pendidikan, pengangguran, dan tekanan mental umumnya dipandang
sebagai
faktor dominan yang mendorong terjadin ya kasus kekerasan pada anak. Lemahnya
penegakan hukum dan praktik budaya bisa pula berdampak pada fenomena kekerasan
terhadap anak. Misalnya hukuman badan (corporal punishment)
pada masyarakat
hukum dan secara budaya diterima sebagai hal yang wajar dilakukan terhadap anak.
Kekerasan terhadap anak cenderung diturunkan, anak yang pernah menerima kekerasan kelak akan melakukan hal yang sama terhadap anaknya. Suami yang
sering m
elakukan perlakuan salah terhadap anaknya, cenderung melakukan hal serupa terhadap istrinya (Huraerah, 2006).
Rusmil (Huraerah, 2006) menjelaskan bahwa penyebab atau resiko terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor, y
aitu: (a)
faktor orang tua/keluarga yang meliputi praktik
-praktik yang merugikan anak,
dibesarkan dengan penganiyaan, gangguan mental, pencandu minuman keras, (b) faktor lingkungan sosial/komunitas yang meliputi kemiskinan dalam masyarakat
dan tekanan nila
i matrealistis, kondisi sosial ekonomi yang rendah, adanya nilai dalam 6
masyarakat bahwa anak adalah milik orang tua sendiri, status wanita yang dipandang
rendah, sistem keluarga patriarkhal dan nilai masyarakat yang terlalu individualistis,
(c) faktor anak
itu sendiri yang meliputi penderita gangguan perkembangan, menderita penyakit kronis dan perilaku menyimpang pada anak.
Menurut Fitriati
(http//pikiranrakyat.com) kasus
-kasus kekerasan fisik, psikis,
dan seksual terhadap anak yang mencuat di media massa e nam bulan terakhir ini,
sebagian besar terjadi karena alasan ekonomi. Walaupun sebenarnya ada juga kekerasan fisik, psikis, dan seksual yang terjadi pada masyarakat menengah atas.
Faktor kemiskinan dan tekana n hidup yang semakin meningkat,
disertai kemarah
an/kekecewaan pada pasangan karena ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah ekonomi, menyebabkan orang tua mudah sekali meluapkan emosi, kemarahan, kekecewaan dan ketidak mampuannya kepada orang terdekatnya.
sebagai makhluk lemah, rentan, dan diangga p sebagai "milik" orang tua, paling
mudah menjadi sasaran .
Status sosial ekonomi diperoleh oleh seseorang karena tiga hal yaitu: pendidikan, pekerjaan
dan pendapatan.
Sedangkan status sosial ekonomi memiliki tiga tingkatan, yaitu kelas sosial atas yang ter
diri dari orang
-orang kaya, kelas sosial menengah yang terdiri dari orang
-orang yang berkecukupan, kelas sosial bawah yang terdiri dari orang
-orang miskin. 7 1.
Pengertian Perilaku Kekerasan terhadap Anak D
alam buku teori
-teori kekerasan (Santoso, 2002) istila h kekerasan digunakan
untuk menggambarkan perilaku, baik yang terbuka ( overt
) atau tertutup ( covert
), dan
baik yang bersifat menyerang ( offensive
) atau bertahan ( defensive ) yang disertai
penggunaan kekuatan pada orang lain, oleh karena itu ada 4 jenis keke rasan yang
dapat diidentifikasi, yaitu : a.
Kekerasan tertutup, kekerasan tersembunyi atau tidak dilakukan langsung seperti mengancam.
c.
Kekerasan agresif, kekerasan yang dilakukan tidak untuk perlindungan, tetapi
untuk mendapatkan sesuatu. d.
Kekerasan defensive
, kekerasan yang dilakukan sebagai tindakan perlindungan diri.
Suyanto (Tursilarini, 2005) mendefinisikan kekerasan terhadap anak sebagai peristiwa perlukaan fisik, mental dan seksual yang
umumnya dilakukan oleh orang
-orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak yang semua ini
diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan serta kesejahteraan
anak. Sedangkan Sa ’
abah mendefinisikn kekerasan anak ( Child abuse
) merupakan
suatu tindakan orang dewasa terhadap anak dengan cara yang disadari ataupun tidak
yang berakibat menggangu proses pada anak.
Menurut Barker (Huraerah, 2006) kekerasan adalah perilaku tidak layak yang mengakibatkan kerugian atau bahaya secara fi
sik, psikologis, atau finansial, baik 8
yang dialami individu maupun kelompok. Masih menurut Barker kekerasan terhadap
anak adalah tindakan melukai yang berulang
-ulang secara fisik dan emosional
terhadap yang ketergantungan melalui desakan hasrat, hukuman ba dan yang tak
terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya dilakukan orang tua atau pihak lain yang seharusnya merawat anak. Sedangkan
kekerasan terh
adap anak adalah perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak
-anak secara fisik maupun emosional. Istilah kekerasan terhadap anak (
child abuse
) meliputi berbagai macam bentuk tingkah
-laku, dari
tindakan ancaman fisik langsung ora ng tua atau orang dewasa lainnya sampai kepada
penelantaran kebutuhan
-kebutuhan dasar anak.
Menurut Pope (Patnani, Ekowarni dan Bhinnety, 2002) kekerasan fisik merupakan salah satu bentuk dari apa yang disebut
child maltreatment , yaitu
memperlakukan anak d
engan cara yang salah. Selain kekerasan fisik, child
maltreatment
mencakup kekerasan seksual ( sexual abuse
), penelantaran atau penolakan (
neglect
) dan kekerasan emosi atau psikologis. Menurut
U.
S. Departement of Health, Education and Welfare , perlakuan sa
lah terhadap anak (
child abuse
) adalah kekerasan fisik atau mental, kekerasan seksual,
dan penelantaran terhadap seorang anak di bawah usia 18 tahun yang dilakukan oleh
orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, sehingga kesehatan
atau kesejahteraan anak tersebut terancam (Sukamto, 2000). 9
yang dilakukan secara sengaja atau pun tidak sengaja, baik secara fisik maupun psikis, dari pengertian di atas dapat disim
pulkan bahwa kekerasan terhadap anak
merupakan perbuatan negatif berupa tindakan melukai, penganiyaan, penghinaan, pemberian hukuman, pelanggaran seksual yang dapat menimbulkan kerugian bagi
perkembangan fisik dan psikologis sang anak. 2.
Pengertian status so sial ekonomi
Status adalah kedudukan seseorang dalam suatu kelompok dan hubungannya dengan anggota lain dalam kelompok itu, atau kedudukan sesuatu kelompok berbanding dengan kelompok lain yang lebih banyak jumlahnya. Sedangkan status
sosial selalu mengacu
kepada kedudukan khusus seseorang dalam masyarakatnya
berhubungan dengan orang lain dalam lingkungan yang disertainya, martabat, yang diperolehnya, dan hak serta tugas yang dimilikinya. Kelas sosial adalah suatu
kelompok manusia yang tidak teratur yang men jadi anggota melalui kelahiran
anggota atau dengan memasuki kelompok itu kemudian, yang menganggap bahwa satu sama lain sebagai hampir sama, yang hubungan antara satu dengan lain lebih
erat
ketimbang hubungan dengan kelompok lain, dan yang mempunyai hubung an yang
hampir sama tentang pertinggian dan perendahan kepada orang
-orang dari kelompok
-kelompok lain dalam masyarakat itu (Joseph and Roland, 1984).
Status mempunyai dua pengertian, yakni arti objektif dan subjektif. Arti status secara objektif ialah su
atu tatanan ( order
) hak dan kewajiban secara hierarki
dalam