• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resiko Kontijensi pada Bank Syariah Di I (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Resiko Kontijensi pada Bank Syariah Di I (1)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Judul : Resiko Kontijensi pada Bank Syariah Di Indonesia 2015-2016 Syalsyabilla,Farha

Universitas Trilogi

A. Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya fungsi utama bank adalah untuk menghimpun dana dan masyarakat dan secara tepat dan cepat . Dalam beroperasi bank harus menyalurkan dana yang telah mereka himpun dengan tepat supaya sesuai perencanaan pengajuan pembiayaan yang dilakukan setiap nasabah. Munculnya Bank Syariah di Indonesia merupakan suatu solusi yang tepat dan halal bagi setiap nasabah yang ingin melakukan transaksi didalamnya, dikarenakan Bank Syariah mengikuti Syariat (hukum islam) yang berlaku. Adanya Bank Syariah tentu sebagai wadah Penduduk Indonesia yang sebagaian warganya adalah islam. Di Indonesia pelopor pertama dalam Bank Syariah ialah Bank Muamalat tahun 1991.Saat ini keberadaan Bank Syariah di Indonesia telah diatur dalam undang-undang yaitu UU no. 10 tahun 1998 Tentang Perubahan UU no. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Seiring dengan perkembangan perbank kan syariah juga diikuti berbagai permasalahan dan risiko perbankan. Diantaranya tekanan pada tingkat profitabilitas bank yang dipengaruhi oleh pembentukan beban pencadangan yang lebih tinggi.

Adanya Kontijensi pada bank juga turut memberikan resiko pada bank. Kontijensi yang dimiliki bisa berbentuk tagihan pada setiap bank yang juga akan memberikan pengaruhi terhadap jalannya Bank.

Dalam hal ini akan menimbulkan masalah atau efek bagi jalannya sistem Perbankkan Syariah yang ada di Indonesia.

B. Tujuan Masalah

1. Menjelaskan Bank Syariah yang ada di Indonesia 2. Menjelaskan Konsep Dasar Bank Syariah

(2)

5. Menjelaskan Resiko Kontijensi Pada Bank Syariah C. Literatur

1. Menjelaskan Bank Syariah yang ada di Indonesia

Bank Syariah merupakan bank yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang terdiri atas Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

Bank Syariah muncul pada tahun 1992 ini adalah hal yang baru dalam mekanisme sistem perbankkan pada umumnya. Bank Syariah adalah solusi pada terjadinya krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997 membuat sistem bank yang ada di Indonesia menjadi lumpuh karna macetnya kredit. Bank Syariah sangat berbeda dari bank konvesional yang ada karena bank syariah memiliki konsep sistem berbagi hasil, tata cara perhitungan nya menggunakan sistem syariah (hukum islam).

Pelopor pertama Bank Syariah di Indonesia adalah Bank Muamalat dengan disetujui oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1991. Adanya Perbankan syariah di Indonesia bertujuan untuk mewadahi penduduk di Negara Indonesia yang hampir seluruh penduduknya beragama Islam.Dengan adanya bank tersebut diharapkan tidak adanya kerancuan dalam proses muamalah bagi para pemeluk agama islam,sehingga mereka terjaga dari keharaman akibat tidak adanya suatu wadah yang melayani mereka dalam bidang muamalah yang bersifat islami.

2. Menjelaskan Konsep Dasar Bank Syariah

A. Konsep Titipan atau Simpanan ( Al Wadiah)

Al-Wadi‟ah atau dikenal dengan nama titipan atau simpanan, merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikain kapan saja bila si penitip menghendaki.

(3)

Yaitu akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana , dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

 Al Mudharabah

Yaitu perjanjian antara pemilik modal dengan pengusaha, dimana pemilik modal bersedia membiayai sepenuhnya suatu proyek dan pengusaha setuju untuk mengelola proyek tersebut dengan pembagian hasil sesuai dengan perjanjian . pemilik modal tidak dibenarkan untuk ikut dalam pengelolaan , pembagian hasil sesuai denagn perjanjian.

 Al Muzhara‟ah

Yaitu bank memberikan biaya kepada nasabah yang bergerak dalam bidang pertanian/perkebunan atas dasar bagi hasil setelah panen.

 Al Mushaqah

yaitu bentuk lebih yang sederhana dari muzara'ah, di mana nasabah hanya bertanggung-jawab atas penyiramaan dan pemeliharaan, dan sebagai imbalannya nasabah berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen.

3. Menjelaskan Pengertian Kontijensi

(4)

sangat tergantung terjadi atau tidak terjadinya peristiwa yang berkaitan dengan kontinjensi ini di masa yang akan datang.

4. Menjelaskan Jenis – jenis Kontijensi

Jenis jenis kontijensi dapat berbentuk tagihan dan berbentuk tunggakan (Kewajiban).

Kotenjesi tagihan terdiri dari :

1) Bank Garasi yang diterbitkan oleh bank lain adalah semua bentuk garasi atau jaminan yang diterima oleh Bank yang akan mengakibatkan tagihan kepada pihak bank pinjamin yang menjamin melakukan ingkar janji atau warnpestasi pada kemudian hari.

2) Pembelian Valuta asing opsi adalah bentuk perjanjian asing yang memberikan hak pilihan kepada pembeli opsi untuk menggunakan atau tidak menggunakan dalam kontrak jual beli valuta asing.

Kotenjensi tunggakan (kewajiban) : a) Garasi yang diberikan

Bank Garasi yang diberikan adalah semua bentuk garasi atau jaminan yang diberikan oleh Bank yang mengakibatkan pembayaran kepada pihak yang dijamin oleh bank yang bersangkutan ingkar janji.

b) Surat Kredit Berdokumen Dalam Negri (SKBDN) yang dapat dibatalkan dalam rangka perdagangan luar negri.

c) Penjualan Opsi Valuta Asing

Opsi Jual adalah opsi yang memberikan hak kepada pemegang opsi. Pemegang Opsi jual tentu akan melakukan bila underlying assets pada akhir periode memiliki harga dibawah strike price.

5. Menjelaskan Resiko Pada Bank Syariah

(5)

transaksi perbankan sehari hari yg apabila dikumpulkan terus menerus dalam satu periode dapat menghasilkan nilai yg cukup atau bahkan sangat materil.

Dalam Manajemen Perbankan Resiko Kontijensi tentu memiliki pengaruh terhadap setiap Bank.

Kita akan mengambil resiko yang terjadi pada Bank Syariah jika terjadinya Bank garasi didalamnya.

Di dalam hal Bank mengeluarkan garansi bank artinya Bank membuat suatu pengakuan tertulis, yang isinya Bank penerbit mengikat diri kepada penerima jaminan (Beneficiary) dalam jangka waktu dan syarat-syarat tertentu apabila dikemudian hari ternyata nasabahnya (si terjamin/Applicant) tidak memenuhi kewajibannya kepada si penerima jaminan (Beneficiary). Di Bank Syariah Bank garansi disebut „Al Kafalah‟ yang artinya bank memberi bank garansi sebagai jaminan pelaksanaan proyek. Pihak yang dijamin (Applicant) menyetor sejumlah uang dengan prinsip „Al Wadiah‟.

Di dalam pemberian Bank Garansi ada tiga pihak yang terlibat, yaitu sebagai berikut :

1) Bank sebagai pihak pemberi jaminan disebut Penjamin (Bank Penerbit/issuing bank).

2) Nasabah sebagai pemohon (Applicant) pihak yang dijamin disebut Terjamin.

3) Pihak Ketiga yang menerima jaminan disebut penerima jaminan (Beneficiary).

Dalam memberikan Garansi Bank ini, Bank juga dikenakan pembatasan dalam h al jumlah (nilai) yang bolah dikeluarkan. Maksimal pemberian Garansi Bank diambil dari jumlah yang tertinggi dari perhitungan : 40% x dana pihak ketiga (giro, deposito, tabungan dalam rupiah maupun valuta asingt), atau dari 2 X modal sendiri.

(6)

masa berlakunya Garansi Bank, pada umumnya pemohon harus menyetor sejumlah uang yang di deponir, yang lazimnya kita sebut sebagai “setoran jaminan”. Setoran jaminan umumnya 10% x nilai Garansi Bank yang diminta. Selain itu pemohon dikenakan provisi.

D. Rekomendasi pada bank tentang manajemen resiko

Risiko operasional (operational risk) adalah risiko terjadinya kerugian bagi bank yang diakibatkan oleh ketidak cakapan atau kegagalan proses dalam memanajemen bank, sumber daya manusia, dan sistem. Risiko kerugian tersebut dapat pula terjadi sebagai akibat dari faktor-faktor diluar bank. Risiko ini mencakup lima hal yaitu, risiko risiko kepatuhan (reputation risk), risikom transaksi (compliance risk), risiko strategis (strategic risk), dan risiko hukum (legal risk) (Adiwarman, 2006: 275). Dampak dari risiko opersaional tersebut dapat betrupa:

– Penarikan besar-besaran terhadap dana pihak ketiga – Timbul masalah likuidasi

– Ditutup oleh Bank Indonesia (BI)

Kegiatan mobilisasi dan penanaman dana (opersaioanal) sangat ditentukan dapat tidaknya bank dalam mengelola berbagai risiko yang berklaitan dengan usaha tersebut.

E. Kesimpulan

(7)

F. Daftar Pustaka

1. Kisman, Z., & Shintabelle Restiyanita, M. The Validity of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage Pricing Theory (APT) in Predicting the Return of

Stocks in Indonesia Stock Exchange.American Journal of Economics, Finance and

Management Vol. 1, No. 3, 2015, pp.184-189

2. Fahmi, I. 2010. Manajemen Risiko. Bandung: Alfabeta 3. Shabrina, Blog, Makalah Syariah ;

http://makalahbanksyariah.blogspot.co.id/2016/11/. Diakses 01 November 2016 4. Pohan,M,Syahreza Blog, Makalah Akuntansi Komitmen dan Kotijensi

Referensi

Dokumen terkait

telah bekerja sama dengan pihak Bank. Emas yang telah dibeli akan disimpan dan dipelihara oleh bank sebagai. barang jaminan atas pembiayaan yang telah diberikan

Bank Garansi adalah merupakan jaminan pembayaran yang diberikan oleh bank kepada suatu pihak, baik perorangan, perusahaan atau badan / lembaga lainnya dalam bentuk

Dalam proses manajemen risiko Bank Jatim Syariah melakukan identifikasi dengan analisis 5C yang diterapkan paling utama oleh pihak bank yaitu, kepribadian, kemampuan dan juga

• Bank garansi yaitu jaminan pembayaran yang diberikan oleh bank kepada suatu pihak, baik perorangan, perusahaan atau badan/lembaga lainnya dalam bentuk surat jaminan. •

Unsur lain dari risiko yang berhubungan dengan perbankan adalah risiko modal (capital risk) yang merefleksikan tingkat leverage yang dipakai oleh bank. Salah satu fungsi modal

Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas sebuah bank dalam memenuhi kembali penarikan dana yang dilakukan nasabah

Liabilitas Kepada Bank Indonesia Liabilitas Kepada Bank Lain Liabilitas Spot dan Forward Surat Berharga Diterbitkan Liabilitas Akseptasi Pembiayaan Diterima Setoran Jaminan

TINJAUAN PUSTAKA Piutang Piutang adalah tagihan yang diperkirakan akan diterima oleh perusahaan umumnya dalam bentuk uang tunai dari pihak lain sebagai akibat dari penyerahan barang