• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KINERJA PETUGAS DENGAN KEPUASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN KINERJA PETUGAS DENGAN KEPUASAN"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

`BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, berbagai upaya kesehatan telah diselenggarakan. Salah satu bentuk upaya kesehatan melalui puskesmas dan rumah sakit sebagai rujukannya, yang merupakan sistem pelayanan kesehatan yang dianut dan dikembangkan dalam sistem kesehatan nasional dengan melibatkan peran serta masyarakat. Beberapa upaya kesehatan masyarakat yang memerlukan dukungan dan peran serta aktif masyarakat antara lain adalah berbagai pelayanan dasar puskesmas khususnya dalam hal kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi, keluarga berencana, kesehatan lingkungan, pemberantasan dan pencegahan penyakit menular, penyuluhan kesehatan dan lain-lain yang mencakup 18 usaha kesehatan pokok puskesmas dan upaya perawatan kesehatan masyarakat melalui pos pelayanan terpadu (posyandu) (Effendy, 1995).

Posyandu didirikan untuk mengutamakan pelayanan KB dan Kesehatan, khususnya untuk pelayanan ibu hamil dan anak-anak. Di harapkan juga Posyandu nantinya dapat menjadi wadah bagi keluarga untuk mengoptimalkan delapan fungsi keluarga menurut UU no 10 tahun 1992. Tenaga yang bekerja di posyandu adalah bidan, perawat, dokter, sukarelawan, dan petugas dari BKKBN itu sendiri yang nantinya mengatur kegiatan di lapangan (Suyono, 2007).

(2)

Meja 5: Pelayanan KB dan kesehatan lain termasuk Immunisasi, pembagian pil KB, atau konsultasi kesehatan lain (Effendy, 1998).

Pada saat terjadi krisis di tahun 1997-1998, kegiatan Posyandu dalam bidang KB dan Kesehatan menurun. Jumlah Posyandu yang aktif menurun dari sekitar 500.000 buah menjadi hanya sekitar setengahnya. Begitu juga peranan bidan di desa. Jumlah bidan yang aktif dalam Posyandu di desa merosot dari sekitar 65.000 menjadi hanya sekitar 20.000 sampai 22.000 bidan. Hal ini berdampak pada tingginya angka kematian ibu dan bayi. Menurut Direktur Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Prof. dr. Azrul Azwar, MPH, angka kematian ibu mencapai 307 kasus per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi mencapai 35 kasus per 1000 kelahiran hidup. Itu berarti setiap tahun ada 13.778 kematian ibu atau setiap dua jam ada dua ibu hamil, bersalin, nifas yang meninggal karena berbagai penyebab. Bisa dipastikan hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya ibu hamil mengenai cara memelihara kesehatan selama hamil dan kurang menggunakan pelayanan kesehatan untuk memeriksakan kehamilan (Syafrudin, 2008). Pemerintah berupaya mengaktifkan kembali Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk meningkatkan koordinasi penanganan keluarga berencana (KB) dan kesehatan di Pedesaan. Koordinasi ini diwujudkan dengan menggabungkan pos-pos KB dan pos-pos-pos-pos kesehatan yang telah ada menjadi Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

(3)

kegiatan utama adalah; 1) pelatihan, untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas kader; 2) pelayanan, mencakup pelayanan lima program prioritas yang merupakan paket minimal dengan sasaran khusus balita dan ibu hamil serta menyusui dan; 3) penggerakan masyarakat (Ridwan, 2007).

Menurut Mangkunegara, (2000) hal yang sangat penting selain program yang diselenggarakan Posyandu, kinerja petugas posyandu juga sangat perlu untuk di tingkatkan. Kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini, seorang petugas posyandu berperan besar untuk meningkatkan kinerja secara optimal. Misalnya dengan mengoptimalkan jumlah pengguna satu posyandu dengan jumlah petugas pada posyandu tersebut. Satu unit Posyandu, idealnya melayani sekitar 100 balita (120 kepala keluarga) atau sesuai dengan kemampuan petugas dan keadaan setempat. Pelaksanaan kegiatan Posyandu umumnya dibuka satu bulan sekali oleh anggota masyarakat yang sudah dilatih menjadi kader kesehatan setempat di bawah bimbingan Puskesmas (suaramerdeka.com; 14 September 2009).

(4)

(BKKBN, 2004). Berdasarkan data temuan IFLS (Indonesian Family Life Survey) tahun 1997-2000, terdapat penurunan kinerja Posyandu yang mempengaruhi tingkat kepuasan ibu-ibu pengguna Posyandu. Terbukti sejak satu dekade terakhir terjadi penurunan cakupan kedatangan ibu yang membawa balitanya ke Posyandu. Data tersebut menyebutkan terjadi penurunan sebesar 12% terhadap pengguna Posyandu oleh balita baik laki-laki maupun perempuan dalam rentang tahun 1997 hingga 2000 (Strauss et al, 2002). Menurut Marks (2003), selain cakupan, kualitas layanan Posyandu itu sendiri juga menurun, dengan indikasi adanya 14% penurunan cakupan pemantauan pertumbuhan dan rendahnya kepemilikan KMS (Kartu Menuju Sehat) hingga menurun sebesar 24% pada kurun waktu yang sama (Tria, 2007).

Dari data IFLS (Indonesian Family Life Survey) diketahui bahwa pada saat terjadinya penurunan cakupan Posyandu, pemanfaatan terhadap layanan kesehatan pribadi atau swasta meningkat dengan cukup signifikan sebanyak 10%. Angka ini mengindikasikan kecenderungan masyarakat untuk menggunakan layanan kesehatan hanya saat membutuhkan misalnya saat mereka sakit, bukan untuk mendapatkan layanan monitoring atau meningkatkan pengetahuan kesehatan dan gizi seperti yang diberikan di Posyandu. Pergeseran kebutuhan inilah yang menyebabkan Posyandu makin ditinggalkan (Strauss et al, 2002 dalam Tria, 2007).

(5)

wilayah kerja Puskesmas Lombakasi relatif sedikit, berikut data rata-rata jumlah kunjungan ibu dari bulan januari hingga bulan mei 2014 diwilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya yaitu dengan rincian sebagai berikut : posyandu desa pasare apua sebanyak 19 ibu (42,2%), posyandu desa lantari sebanyak 24 ibu (33,8%), posyandu desa anugerah sebanyak 25 ibu (39,6%), posyandu desa rarongkeu sebanyak 12 ibu (57,9%), posyandu desa lombakasi sebanyak 25 ibu (50,0%), posyandu desa kalaero sebanyak 21 ibu (48,8%), posyandu desa langkowala sebanyak 20 ibu (46,5%), posyandu desa watu-watu 19 ibu (32,7%), dan posyandu desa tinabite sebanyak 15 ibu (28,3%), dengan total kunjungan ibu secara keseluruhan yaitu sebanyak 180 ibu (38,1% dari 472 sasaran yang ditetapkan), sedangkkan rata-rata jumlah kunjungan balita perposyandu dari bulan Januari hingga Mei 2014 yaitu, posyandu desa pasare apua sebanyak 10 balita (52,6%), posyandu desa lantari sebanyak 16 balita (53,3%) , posyandu desa anugerah sebanyak 15 balita (57,6%), posyandu desa rarongkeu sebanyak 13 balita (57,1%), posyandu desa lombakasih sebanyak 10 balita (47,6), posyandu desa kalaero sebanyak 13 balita (72,2%), posyandu desa langkowala 14 (58,3%), posyandu desa watu-watu sebanyak 9 balita (36,0%) dan posyandu desa tinabite sebanyak 11 balita (11,0%) dengan total kunjungan balita secara keseluruhan yaitu sebanyak 110 balita (54,1% dari 203 sasaran yang ditetapkan). ( Laporan bulanan KIA Puskesmas Lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014)

(6)

juga diperkuat dari hasil wawancara yang dilakukan dengan 30 orang ibu yang berkunjung di posyandu, 30% (9 orang) ibu menyatakan bahwa petugas posyadu senantiasa tidak tepat waktu dalam memberikan pelayanan, 45% (14 orang) menyatakan kurangnya kejelasan petugas dalam menyampaikan informasi kepada pengunjung posyandu dan 25% (7 orang) ibu menyatakan Kurangnya pemanfaatan fasilitas yang ada diposyandu karena masyarakat pengguna Posyandu kurang pengetahuan mengenai pelayanan dan biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka di Posyandu. Sedikitnya masyarakat yang menggunakan fasilitas kesehatan di Posyandu, mengindikasikan rendahnya kinerja petugas Posyandu. Kinerja petugas Posyandu yang rendah menyebabkan kepuasan masyarakat terhadap Posyandu juga rendah. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Kinerja Petugas dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasi Kecamatan Lantari Jaya Tahun 2014.

B. Rumusan Masalah

Dari permasalahan tersebut diatas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu:

1. Apakah ada hubungan Specific kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014?

(7)

3. Apakah ada hubungan Attributable kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014?

4. Apakah ada hubungan Relevant kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014?

5. Apakah ada hubungan Timely kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Menganalisis hubungan kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari Jaya Tahun 2014.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk menganalisis hubungan Specific kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014.

(8)

c. Untuk menganalisis Attributable kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014.

d. Untuk menganalisis Relevant kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014.

e. Untuk menganalisis Timely kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi khasanah yang dapat memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu bahan bacaan bagi peneliti berikutnya dimasa yang akan datang.

2. Manfaat Praktis

a. Merupakan suatu acuan atau masukan bagi kepala puskesmas lombakasi khususnya dalam hal peningkatan kinerja petugas posyandu.

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Puskesmas 1. Pengertian Puskesmas

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatam kabupaten atau kota yang menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja (Depkes RI, 2004)

2. Fungsi Puskesmas

Fungsi puskesmas itu sendiri meliputi a. Fungsi Pokok

1) Pusat pengerak pembangunan berwawasan kesehatan Pusat pemberdayaan

2) masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan 3) Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama

b. Peran Puskesmas

(10)

c. Cara-cara yang ditempuh

1) Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri.

2) Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif.

3) Memberikan bantuan teknis

4) Memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat 5) Kerjasama lintas sektor

5) Pemberantasan dan pencegahan penyakit menular

6) Pengobatan termasuk penaganan darurat karena kecelakaan 7) Penyuluhan kesehatan masyarakat

(11)

kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil

b. Puskesmas Keliling

Pengertian puskesmas Keliling yaitu Unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor dan peralatan kesehatan, peralatan komunikasi serta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas. dengan funsi dan tugas yaitu Memberi pelayanan kesehatan daerah terpencil ,Melakukan penyelidikan KLB,Transport rujukan pasien, Penyuluhan kesehatan dengan audiovisual.

c. Bidan desa

Bagi desa yang belum ada fasilitas pelayanan kesehatan ditempatkan seorang bidan yang bertempat tinggal di desa tersebut dan bertanggung jawab kepada kepala puskesmas.Wilayah kerjanyadengan jumlah penduduk 3.000 orang. Adapun Tugas utama bidan desa yaitu :

1) Membina PSM

2) Memberikan pelayanan

3) Menerima rujukan dari masyarakat 4. Tujuan Puskesmas

Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran , kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang bertempat tinggal diwilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesiam Sehat 2010.

5. Tugas Puskesmas

(12)

kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu , dan berkesinambungan, yang meliputi pelayanan kesehatan perorang (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods). Puskesmas melakukan kegiatan-kegiatan termasuk upaya kesehatan masyarakat sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan. Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara mrnyeluruh kepada masyarakat dalam satu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok.Jenis pelayan kesehatan disesuaikandengan kemampuan puskesmas, namun terdapat upaya kesehatan wajib yang harus dilaksanakan oleh puskesmas ditambah dengan upaya kesehatan pengembangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada serta kemampuan puskesmas. Upaya-upaya kesehatan wajib tersebut adalah ( Basic Six):

a. Upaya promosi kesehatan b. Upaya kesehatan lingkungan

c. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana d. Upaya perbaikan gizi masyarakat

e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular f. Upaya pengobatan

B. Tinjauan Umum Tentang Posyandu 1. Pengertian Posyandu

(13)

Shakira (2009) menyebutkan, Posyandu adalah suatu forum komunikasi, alih tehnologi dan pelayanan kesehatan masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Posyandu juga merupakan tempat kegiatan terpadu antara program Keluarga Berencana Kesehatan di tingkat desa. Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera).

Istilah Posyandu yang dikenal sebagai Pos Pelayanan Terpadu adalah suatu tempat yang kegiatannya tidak dilakukan setiap hari melainkan satu bulan sekali diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan dan terdiri dari beberapa pelayanan kesehatan yaitu:

a. Pelayanan Pemantauan Pertumbuhan Berat Badan Balita b. Pelayanan Imunisasi

c. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak. Pelayanan Ibu berupa pelayanan ANC (Antenatal Care), kunjungan pasca persalianan (Nifas) sementara Pelayanan Anak berupa Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Balita dengan maksud menemukan secara dini kelainan-kelainan pada balita dan melakukan intervensi segera.

d. Pecegahahan dan Penanggulangan diare Dan Pelayanan Kesehatan lainnya (Arali, 2008).

Berdasarkan pelayanan yang diberikan, sasaran Posyandu terdiri atas pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita (Shakira, 2009). 2. Tujuan Posyandu

(14)

a. Menunjang percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.

b. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

c. Mempercepat penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) atau keluarga berkualitas .

d. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat.

e. Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi.

f. Meningkatkan dan membina peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk mampu mengelola usaha-usaha kesehatan masyarakat secara mandiri.

g. Meningkatkan peran lintas sektor dalam penyelenggaraan Posyandu terutama berkaitan dengan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

3. Fungsi Posyandu

Fungsi Posyandu adalah sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan keterampilan dari petugas kepada masyarakat dan antar sesama masyarakat dalam rangka mempercepat penurunan AKI dan AKB dan sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitandengan penurunan AKI dan AKB (Depkes RI, 2006).

4. Manfaat Posyandu

Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2006 antara lain : a. Bagi masyarakat

1) Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. 2) Memperoleh bantuan secara professional dalam pemecahan masalah

(15)

3) Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan terpadu kesehatan dan sektor lain terkait.

b. Bagi kader, pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat

1) Mendapatkan informasi terdahulu tentang upaya kesehatan yang terkait dengan penurunan AKI dan AKB.

2) Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu masyarakat menyelesaikan masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI dan AKB.

c. Bagi Puskesmas

1) Optimalisasi fungsi Puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

2) Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan sesuai kondisi setempat.

3) Meningkatkan efisiensi waktu, tenaga dan dana melalui pemberian pelayanan secara terpadu.

d. Bagi sektor lain

1) Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah sektor terkait, utamanya yang terkait dengan upaya penurunan AKI dan AKB sesuai kondisi setempat.

2) Meningkatkan efisiensi melalui pemberian pelayanan secara terpadu sesuai dengan tugas pokok seksi masingmasing sektor.

5. Tingkatan dalam Posyandu

Posyandu secara umum dibedakan atas 4 tingkat sebagai berikut a. Posyandu Pratama

Posyandu Pratama adalah Posyandu yang belum mantap, yang ditandai oleh kegiatan bulanan Posyandu belum terlaksana secara rutin serta jumlah kader sangat terbatas yakni kurang dari 5 orang (Depkes RI, 2006). b. Posyandu Madya

(16)

sebanyak 5 orang atau lebih, tetapi cakupan kelima kegiatan utamanya (KIA, KB, imunisasi, peningkatan gizi, penanggulangan diare) masih rendah, yaitu kurang dari 50% (Depkes RI, 2006).

c. Posyandu Purnama

Posyandu Purnama adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan ratarata jumlah kader sebanyak 5 orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya (KIA, KB, imunisasi, peningkatan gizi, penanggulangan diare) lebih dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% kepala keluarga di wilayah kerja Posyandu (Depkes RI, 2006).

d. Posyandu Mandiri

Posyandu Mandiri adalah Posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan ratarata jumlah kader sebanyak 5 orang atau lebih, cakupan kelima kegiatan utamanya (KIA, KB, imunisasi, peningkatan gizi, penanggulangan diare) lebih dari 50%, mampu menyelenggarakan program tambahan, serta telah memperoleh sumber pembiayaan dari dana sehat yang dikelola oleh masyarakat yang pesertanya lebih dari 50% kepala keluarga yang bertempat tinggal di wilayah kerja Posyandu (Depkes RI,2006)

6. Sasaran Posyandu

Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat, utamanya ; bayi, anak balita, ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas, ibu menyusui dan pasangan usia subur (Depkes RI, 2006)

(17)

Pada hakikatnya Posyandu didirikan dari, oleh dan untuk masyarakat dalam mencapai pelayanan kesehatan yang baik. Penyelenggaraannya dilakukan oleh kader yang telah dilatih di bidang kesehatan dan KB dan keanggotaannya berasal dari PKK, tokoh masyarakat, dan pemuda atau pemudi. Pengelola Posyandu sendiri adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua RW yang berasal dari kader PKK, tokoh masyarakat formal dan informal serta kader kesehatan yang ada di wilayah tersebut (Effendy, 1998).

(18)

mereka lakukan itu terbatas pada bidang-bidang atau tugas-tugas yang pernah diajarkan kepada mereka (Heru, 1995).

8. Aktivitas Operasional Posyandu

Menurut Hasdi (2007), beberapa kegiatan diposyandu diantaranya terdiri dari lima kegiatan Posyandu antara lain:

a. Kesehatan Ibu dan Anak, yang termasuk didalamnya Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, melahirkan dan menyusui, serta bayi, anak balita dan anak prasekolah; Memberikan vitamin dan mineral; Pemberian nasehat tentang perkembangan anak dan cara stimilasinya; Penyuluhan kesehatan meliputi berbagai aspek dalam mencapai tujuan program KIA.

b. Keluarga Berencana, mencakup: Pelayanan keluarga berencana kepada pasangan usia subur dengan perhatian khusus kepada mereka yang dalam keadaan bahaya karena melahirkan anak berkali-kali dan golongan ibu beresiko tinggi; Cara-cara penggunaan pil, kondom dan sebagainya.

c. Immunisasi. Imunisasi tetanus toksoid 2 kali pada ibu hamil dan BCG, DPT 3x, polio 3x, dan campak 1x pada bayi.

d. Peningkatan gizi dengan cara Memberikan pendidikan gizi kepada masyarakat; Memberikan makanan tambahan yang mengandung protein dan kalori cukup kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun dan kepada ibu yang menyusui; Memberikan kapsul vitamin A kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun.

e. Penanggulangan Diare.

Lima kegiatan Posyandu selanjutnya dikembangkan menjadi tujuh kegiatan Posyandu (Sapta Krida Posyandu), yaitu:

a. Kesehatan Ibu dan Anak, b. Keluarga Berencana, c. Immunisasi,

d. Peningkatan gizi,

(19)

f. Sanitasi dasar, yang meliputi : Cara-cara pengadaan air bersih, pembuangan kotoran dan air limbah yang benar, pengolahan makanan dan minuman.

g. Penyediaan Obat essensial (Shakira, 2009).

Posyandu dilaksanakan sebulan sekali yang ditentukan oleh Kader, tim penggerak PKK Desa/ Kelurahan dan petugas kesehatan dari Puskesmas. Kegiatan pelayanan masyarakat dilakukan dengan sistem 5 (lima) meja, yaitu: a. Meja Pertama disebut meja pendaftaran

b. Meja Kedua disebut meja penimbangan balita c. Meja Ketiga adalah meja pengisian KMS d. Meja Keempat adalah Penyuluhan Kesehatan

e. Meja Kelima adalah Meja pemberian paket pertolongan gizi.

Untuk meja satu sampai empat dilakukan oleh kader kesehatan dan meja lima dilaksanakan oleh petugas kesehatan seperti, dokter, bidan, perawat, juru imunisasi dan sebagainya (Arali, 2008).

C. Tinjauan Umum Tentang Kinerja 1. Pengertian Kinerja

Kinerja adalah istilah yang populer di dalam manajemen, yang mana istilah kinerja didefinisikan dengan istilah hasil kerja, prestasi kerja dan performance (Sambas, 2009).

Samsudin (2005) menyebutkan bahwa: “Kinerja adalah tingkat pelaksanaan tugas yang dapat dicapai seseorang, unit atau divisi dengan menggunakan kemampuan yang ada dan batasan-batasan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan organisasi/perusahaan”.

(20)

kinerja sebagai, Hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang adan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mendapai tujuan organisasi bersangkutan secara ilegal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.

Dari pendapat Prawirosentono di atas terungkap bahwa kinerja merupakan hasil kerja atau prestasi kerja seseorang atau organisasi. Berkaitan dengan hal tersebut, Gomes (2003) mengatakan bahwa “Kinerja adalah catatan hasil produksi pada fungsi pekerjaan yang spesifik atau aktivitas selama periode waktu tertentu”. Sementara Rivai (2005) mengemukakan bahwa: “Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.”

Mink (1993) mengemukakan pendapatnya bahwa individu yang memiliki kinerja yang tinggi memiliki beberapa karakteristik, yaitu diantaranya:

a. Berorientasi pada prestasi, b. Memiliki percaya diri, c. Berpengendalian diri, d. Kompetensi.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dilakukan seseorang. Kinerja dianggap baik jika memenuhi indikator kinerja yaitu:

(21)

b. Measurable : dalam melaksanakan tugas, petugas diharapkan mampu mempresentasikan tentang sesuatu yang berkaitan dengan tugas yang diemban dengan ukuran yang jelas.

c. Attributable : tugas yang dilaksanakan mampu memberikan manfaat dan hasil yang maksimal.

d. Relevant : kesesuaian antara kompetensi dan tugas yang harus dilaksanakan.

e. Timely : ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas. (Soegoto, 2007). Tinggi rendahnya kinerja pegawai tergantung kepada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini Jones (2002) mengatakan bahwa “Banyak hal yang menyebabkan terjadinya kinerja yang buruk, antara lain:

a. Kemampuan pribadi, kinerja individu tenaga kerja, yaitu:

a. Kemampuan mereka, b. Motivasi,

c. Dukungan yang diterima,

d. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan e. Hubungan mereka dengan organisasi

(Mathis & Jackson, 2001).

(22)

Selain beberapa faktor di atas, ada hal yang paling penting yang dapat mempengaruhi kinerja individu yaitu penghargaan atau reward. Penghargaan atau reward ini sangat penting untuk menunjang peningkatan kinerja. Sama halnya dengan petugas posyandu yang sebahagian besar adalah kader sukarela dari masyarakat, sangat memerlukan penghargaan atas pekerjaan yang sudah dilakukan. Mereka mungkin tidak mengharapkan penghargaan dalam bentuk gaji yang besar, karena mereka bekerja dengan sukarela. Namun, mereka memerlukan penghargaan dalam bentuk pujian atau seminar seputar Posyandu yang dapat dijadikan strategi dalam rangka memberdayakan dan mendorong para kader sebagai pengelola Program KB Nasional di lini lapangan untuk meningkatkan motivasi kerja serta sekaligus sebagai ajang untuk bertukar pengalaman, wawasan tentang apa yang telah lakukan dan sumbangkan bagi Negara.

D. Tinjauan Umum Tentang Kepuasan

1. Pengertian Kepuasan dan Teori Kepuasan

(23)

Oliver, (1980) menekankan bahwa kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingka kinerja/ hasil yang dirasakan dengan harapan. Kepuasan klien adalah upaya penyelenggara pelayanan (provider) di dalam memberikan apa yang betul-betul dibutuhkan dan diinginkan oleh klien (UNFPA, 1999).

Kepuasan berarti keinginan dan kebutuhan seseorang telah terpenuhi sama sekali. Kepuasan seorang penerima jasa pelayanan dapat dicapai apabila kebutuhan, keinginan dan harapannya dapat dipenuhi melalui jasa atau layanan yang dikonsumsinya. Kepuasan klien bersifat subjektif barorientasi pada individu dan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk. Kepuasan klien dapat berhubungan dengan berbagai aspek diantaranya mutu pelayanan yang diberikan, kecepatan pemberi layanan, prosedur serta sikap yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan itu sendiri (Anwar, 1998 dalam Awinda, 2004).

Dari pengertian di atas, suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Pelanggan atau klien harus dipuaskan. Jika mereka tidak dipuaskan maka akan meninggalkan pelayanan tersebut dan beralih ke pelayanan lain. Sama halnya dengan Posyandu. Jika pengguna Posyandu merasa tidak terpuaskan oleh kinerja petugasnya maka klien akan meninggalkan Posyandu dan beralih kepada pelayanan kesehatan lain. Akhirnya produktivitas Posyandu menurun dan menyebabkan tidak sedikit Posyandu yang harus ditutup.

(24)

kepuasan adalah fungsi dari harapan klien tentang jasa dan performasi ayang diterimanya. Jika jasa sesuai dengan harapannya ia akan puas; jika jasa kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, ia akan merasa tidak puas. Kepuasan atau ketidak puasan klien akan meningkat jika ada jarak yang lebar antara harapan dan kenyataan performasi pelayanan. Beberapa klien cenderung memperkecil kesenjangan dan mereka akan terkurangi rasa ketidak puasannya (Purnomo, 2002).

Teori Kotler (1997) dalam Service Quality, kepuasan pelanggan merupakan kondisi terpenuhinya harapan pelanggan atau service/pelayanan yang diberikan. Apabila pelayanan yang diberikan sesuai atau melebihi harapan/ekspektasi pelanggan, mereka akan puas. Sebaliknya apabila pelayan yang diberikan ternyata di bawah ekspektasi, mereka cenderung tidak puas. Oleh karena itu, mengetahui ekspektasi pelanggan sangat penting untuk dipahami.

Sedangkan teori Wexley dan Yukl (1998) bahwa seorang akan terpuaskan jika tidak ada selisih antara kondisi yang dibutuhkan dengan kondisi aktual. Semakin besar kekurangan dalam banyak hal penting yang dibutuhkan, maka semakin besar rasa ketidak puasan (Utama, 2005).

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan

(25)

serta memaksimalkan pelayanan terhadap populasi sasaran (Hadisugito, 2005). Bila seorang pelanggan tidak puas harus segera diketahui faktor penyebabnya dan segera dilakukan perbaikan. Tanpa adanya tindakan perbaikan hasil pengukuran tingkat kepuasan pelanggan menjadi tidak bermanfaat. Padahal tujuan pengukuran tingkat kepuasan pelanggan ialah untuk segera mengetahui faktor-faktor yang membuat pelanggan tidak puas, segera diperbaikik sehingga pelanggan tidak kecewa.

Menurut Muninjaya (2004) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan pengguna jasa:

a. Pemahaman pengguna jasa tentang jenis pelayanan yang akan diterimanya. Dalam hal ini, aspek komunikasi memegang peranan penting karena pelayanan kesehatan adalah high personal contact.

b. Empati (sikap peduli) yang ditunjukkan oleh petugas kesehatan. Sikap ini akan menyentuh emosi pasien. Faktor ini akan berpengaruh pada tingkat kepatuhan pasien (compliance).

c. Biaya (cost). Tingginya biaya pelayanan dapat dianggap sebagai sumber moral hazzard bagi pasien dan keluarganya. Sikap kurang peduli (ignorance) pasien dan keluarga menyebabkan mereka menerima saja jenis perawatan dan tehnologi kedokteran yang ditawarkan oleh petugas kesehatan. Akibatnya, biaya perawatn menjadi mahal. Informasi terbatas yang dimiliki oleh pihak klien dan keluarganya tentang perawatan yang diterima dapat menjadi sumber keluhan klien. Sistem asuransi kesehatan dapat mengatasi masalah biaya kesehatan.

(26)

e. Jaminan keamanan yang ditunjukkan oleh petugas kesehatan (assurance). Ketepatan jadwal pemeriksaan dan kunjungan dokter juga termasuk pada faktor ini.

f. Keandalan dan keterampilan (reliability) petugas kesehatan dalam memberikan perawatan.

g. Kecepatan petugas memberikan tanggapan terhadap keluhan klien (responsiveness).

Berdasarkan data yang diperoleh dari BKKBN, (2009) fungsi dan kinerja petugas Posyandu menurun dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal tersebut disebabkan, antara lain pembinaan program sektor yang kurang, keterbatasan kemampuan dari petugas kesehatan, jumlah kader yang kurang dibandingkan dengan beban kerja, dan alasan-alasan tersebut bergeser menjadi tidak sesuainya waktu penyelenggaraan Posyandu dengan jadwal imunisasi menyebabkan banyak ibu yang membawa bayi dan balitanya ke praktek klinis swasta. Untuk itulah guna meningkatkan fungsi dan peran Posyandu diperlukan langkah-langkah taktis dan strategis, seperti kegiatan revitalisasi. Termasuk dukungan dari Lembaga kemasyarakatan, PKK, LSM, tokoh agama dan beberapa sektor terkait dalam pemerintahan.

(27)

akhirnya berdampak pada kunjungan selanjutnya. Tingkat kepuasan ini digunakan untuk melihat gambaran persepsi pengguna jasa pelayanan terhadap mutu pelayanan, kinerja petugas pemberi pelayanan, keterampilan dan kecepatan petugas menanggapi keluhan pengguna jasa.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan atau kualitas dapat dilakukan dengan cara:

a. Meningkatkan perolehan klien,

b. Mempekerjakan petugas pelayanan kesehatan dengan lebih baik,

c. Memberi kommpensasi yang lebih pada karyawan, petugas medis dan kader,

d. Meningkatkan produktifitass,

e. Memotivasi perawat untuk menawarkan nilai kepada klien dan membangun struktur kepemimpinan yang lebih baik (Tjiptono, 1997).

3. Klasifikasi Kepuasan

Menurut Gerson (2004), untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan dapat diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan sebagai berikut:

a. Sangat memuaskan

Diartikan sebagai ukuran subjektif hasil penilaian perasaan klien yang menggambarkan pelyanan kesehatan sepenuhnya atau sebahagian besar sesuai keinginan atau kebutuhan klien, seperti sangat bersih (untuk prasarana), sangat ramah (untuk hubungan antara petugas kesehatan atau petugas kesehatan dengan klien), dan sangat cepat (untuk pelayan dan administrasi), yang seluruhnya menggambarkan kualitas tingkat pelayanan yang paling tinggi.

b. Memuaskan

(28)

cepat, atau kurang ramah, yang semuanya ini menggambarkan tingkat kualitas kategori sedang.

c. Tidak memuaskan

Diartikan sebagai ukuran subjektif hasil penelitian perasaan klien rendah, yang menggambarkan pelayanan kesehatan tidak sesuai sesuai kebutuhan atau keinginan seperti tidak terlalu bersih, agak lambat, atau tidak ramah. d. Sangat tidak memuaskan

Diartikan sebagai ukuran subjektif hasil penelitian perasaan klien yang rendah, menggambarkan pelayanan kesehatan tidak sesuai kebutuhan atau keinginan seperti tidak bersih, lambat, dan tidak ramah. Seluruh hal ini menggambarkan tingkat kualitas pelayanan kategori rendah.

(29)

BAB III

KERANGKA KONSEP A. Dasar Pemikiran

Kinerja merupakan tolak ukur untuk menilai keberhasilan suatu pelayanan kesehatan ( Gilbert dalam Heru, 2008). Kinerja dianggap baik jika memenuhi indikator kinerja yaitu: Specific yaitu kejelasan dalam melaksanakan tugas sehingga tidak ada kemungkinan kesalahan interpretasi, Measurable yaitu dalam melaksanakan tugas, petugas diharapkan mampu mempresentasikan tentang sesuatu yang berkaitan dengan tugas yang diemban dengan ukuran yang jelas, Attributable yaitu tugas yang dilaksanakan mampu memberikan manfaat dan hasil yang maksimal, Relevant merupakan kesesuaian antara kompetensi dan tugas yang harus dilaksanakan. dan Timely adalah ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas. (Soegoto, 2007).

Kepuasan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan kebutuhan pelanggan terpenuhi (Hadi Sugito, 2005). Suatu pelayanan dianggap efisien dan efektif jika pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan klien secara holistik. Untuk memenuhi kepuasan klien dituntut kinerja petugas yang optimal dan biaya yang murah. Kepuasan dapat dilihat dari bukti langsung (tangibles), kehandalan (reliabelity), daya Tanggap (responsiviness), jaminan (assurence), dan kepedulian (empaty) Parasurama et al (dalam Tangkilisan, 2007), yang dinyatakan secara subyektif terhadap kesesuaian antara harapan dan kenyataan tentang kinerja petugas yang diterima oleh ibu diposyandu.

B. Bagan Kerangka Konsep

(30)

Variabel Bebas Variabel Terikat

Kinerja Petugas Posyandu

Gambar 3.1 Kerangka penelitian kinerja petugas Posyandu dan kepuasan ibu pengguna Posyandu.

C. Variabel Penelitian

Variabel adalah suatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang konsep pengertian sesuatu (Notoatmodjo. S, 2005)

1. Variabel Independent (bebas) adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen (variabel terikat) yang mana dalam penelitian ini variabel independen adalah kinerja petugas posyandu yang meliputi: Specific, Measurable, Attributable, Relevant, dan Timely

2. Variabel Dependent (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel indepent (variabel bebas) yang dalam penelitian ini variabel dependen adalah kepuasan ibu pengguna posyandu yang meliputi : bukti langsung (tangibles), kehandalan (reliabelity), daya Tanggap (responsiviness), jaminan (assurence), dan kepedulian (empaty) Parasurama et al (dalam Tangkilisan, 2007), yang Kepuasan ibu pengguna Posyandu

Spesific Measurable

(31)

dinyatakan secara subyektif terhadap kesesuaian antara harapan dan kenyataan tentang kinerja petugas yang diterima oleh ibu diposyandu.

D. Definisi Operasional Dan Kriteria Objektif

Definisi operasional dari variabel akan mengkhususkan tindakan yang harus dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi data yang diperlukan (Saryono, 2011).

1. Variabel Independent (bebas)

Kinerja petugas posyandu adalah hasil dari suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi petugas Posyandu yang meliputi : a. Specific

Yaitu kejelasan dalam melaksanakan tugas sehingga tidak ada kemungkinan kesalahan interpretasi. Cara pengukuran dilakukan dengan wawancara pada responden tentang kejelasan kinerja petugas dengan menggunakan instrumen kuesioner dengan alternatif jawaban menggunakan skala likert yaitu : sangat baik (bobot 4), baik (bobot 3), kurang baik (bobot 2), tidak baik (bobot 1) (Sugiono, 2013).

Kejelasan kinerja petugas dapat dikategorikan dan dikuantifikasikan dalam dua kategori yaitu baik dan kurang, dengan jumlah pertanyaan berjumlah 4 pertanyaan sehingga interval kelas dapat ditentukan sebagai berikut :

Interval (I)= Range(R) Kategori(K)

Dimana

(32)

R = Range (kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah) K = Jumlah kategori ( jumlah kriteria adalah 2)

Maka :

Skor tertinggi = 4 x 4 = 16

= 1616 X100=100

Skor terendah = 1 x 4 = 4

¿ 4

16 X100=25

Range (R) = nilai skor tertinggi – nilai skor terendah = 100% - 25% = 75%

Kategori terbagi atas 2 yaitu baik dan kurang

Interval (I) = 75%2 = 37,5%

Sehingga penentuan antara dua kategori adalah 37,5% dengan penentuan kriteria objektif adalah berdasarkan perhitungan skor tertinggi – nilai interval antara kategori

= 100% - 37,5% = 62,5%

Kriteria Objektif :

Baik : Apabila total skor jawaban responden atas pertanyaan dari seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu ≥ 62,5% Kurang : Apabila total skor jawaban responden atas pertayaan dari

(33)

b. Measurable

Yaitu dalam melaksanakan tugas, petugas diharapkan mampu mempresentasikan tentang sesuatu yang berkaitan dengan tugas yang diemban dengan ukuran yang jelas.

Cara pengukuran dilakukan dengan wawancara pada responden tentang kinerja petugas dengan menggunakan instrumen kuesioner dengan alternatif jawaban menggunakan skala likert yaitu : sangat baik (bobot 4), baik (bobot 3), kurang baik (bobot 2), tidak baik (bobot 1) (Sugiono, 2013). Kinerja petugas dapat dikategorikan dan dikuantifikasikan dalam dua kategori yaitu baik dan kurang, dengan jumlah pertanyaan berjumlah 4 pertanyaan sehingga interval kelas dapat ditentukan sebagai berikut :

Interval (I)= Range(R) Kategori(K)

Dimana

I = Interval kelas

R = Range (kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah) K = Jumlah kategori ( jumlah kriteria adalah 2)

Maka :

Skor tertinggi = 4 x 4 = 16

= 16

16 X100=100

(34)

¿ 4

16 X100=25

Range (R) = nilai skor tertinggi – nilai skor terendah = 100% - 25% = 75%

Kategori terbagi atas 2 yaitu baik dan kurang

Interval (I) = 75%

2 = 37,5%

Sehingga penentuan antara dua kategori adalah 37,5% dengan penentuan kriteria objektif adalah berdasarkan perhitungan skor tertinggi – nilai interval antara kategori

= 100% - 37,5% = 62,5% Kriteria Objektif :

Baik : Apabila total skor jawaban responden atas pertanyaan dari seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu ≥ 62,5% Kurang : Apabila total skor jawaban responden atas pertayaan dari

seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu < 62,5% c. Attributable

(35)

Kinerja petugas dapat dikategorikan dan dikuantifikasikan dalam dua kategori yaitu baik dan kurang, dengan jumlah pertanyaan berjumlah 4 pertanyaan sehingga interval kelas dapat ditentukan sebagai berikut :

Interval (I)= Range(R) Kategori(K)

Dimana

I = Interval kelas

R = Range (kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah) K = Jumlah kategori ( jumlah kriteria adalah 2)

Maka :

Skor tertinggi = 4 x 4 = 16

= 16

16 X100=100

Skor terendah = 1 x 4 = 4

¿ 4

16 X100=25

Range (R) = nilai skor tertinggi – nilai skor terendah = 100% - 25% = 75%

Kategori terbagi atas 2 yaitu baik dan kurang

Interval (I) = 75%

2 = 37,5%

Sehingga penentuan antara dua kategori adalah 37,5% dengan penentuan kriteria objektif adalah berdasarkan perhitungan skor tertinggi – nilai interval antara kategori

(36)

Kriteria Objektif :

Baik : Apabila total skor jawaban responden atas pertanyaan dari seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu ≥ 62,5% Kurang : Apabila total skor jawaban responden atas pertayaan dari

seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu < 62,5% d. Relevant

Yaitu kesesuaian antara kompetensi dan tugas yang harus dilaksanakan. Cara pengukuran dilakukan dengan wawancara pada responden tentang kinerja petugas dengan menggunakan instrumen kuesioner dengan alternatif jawaban menggunakan skala likert yaitu : sangat baik (bobot 4), baik (bobot 3), kurang baik (bobot 2), tidak baik (bobot 1) (Sugiono, 2013). Kinerja petugas dapat dikategorikan dan dikuantifikasikan dalam dua kategori yaitu baik dan kurang, dengan jumlah pertanyaan berjumlah 4 pertanyaan sehingga interval kelas dapat ditentukan sebagai berikut :

Interval (I)= Range(R) Kategori(K)

Dimana

I = Interval kelas

R = Range (kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah) K = Jumlah kategori ( jumlah kriteria adalah 2)

Maka :

Skor tertinggi = 4 x 4 = 16

= 16

(37)

Skor terendah = 1 x 4 = 4

¿ 4

16 X100=25

Range (R) = nilai skor tertinggi – nilai skor terendah = 100% - 25% = 75%

Kategori terbagi atas 2 yaitu baik dan kurang

Interval (I) = 75%

2 = 37,5%

Sehingga penentuan antara dua kategori adalah 37,5% dengan penentuan kriteria objektif adalah berdasarkan perhitungan skor tertinggi – nilai interval antara kategori

= 100% - 37,5% = 62,5% Kriteria Objektif :

Baik : Apabila total skor jawaban responden atas pertanyaan dari seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu ≥ 62,5% Kurang : Apabila total skor jawaban responden atas pertayaan dari

seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu < 62,5% e. Timely.

(38)

Kinerja petugas dapat dikategorikan dan dikuantifikasikan dalam dua kategori yaitu baik dan kurang, dengan jumlah pertanyaan berjumlah 4 pertanyaan sehingga interval kelas dapat ditentukan sebagai berikut :

Interval (I)= Range(R) Kategori(K)

Dimana

I = Interval kelas

R = Range (kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah) K = Jumlah kategori ( jumlah kriteria adalah 2)

Maka :

Skor tertinggi = 4 x 4 = 16

= 16

16 X100=100

Skor terendah = 1 x 4 = 4

¿ 4

16 X100=25

Range (R) = nilai skor tertinggi – nilai skor terendah = 100% - 25% = 75%

Kategori terbagi atas 2 yaitu baik dan kurang

Interval (I) = 75%

2 = 37,5%

Sehingga penentuan antara dua kategori adalah 37,5% dengan penentuan kriteria objektif adalah berdasarkan perhitungan skor tertinggi – nilai interval antara kategori

(39)

Kriteria Objektif :

Baik : Apabila total skor jawaban responden atas pertanyaan dari seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu ≥ 62,5% Kurang : Apabila total skor jawaban responden atas pertayaan dari

seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu < 62,5% 2. Variabel Dependent (terikat)

Kepuasan Ibu adalah Persepsi atau ungkapan yang diterima Ibu setelah menerima pelayanan dari petugas posyandu yang meliputi: bukti langsung (tangibles), kehandalan (reliabelity), daya Tanggap (responsiviness), jaminan (assurence), dan kepedulian (empaty), Parasurama et al (dalam Tangkilisan, 2007), yang dinyatakan secara subyektif terhadap kesesuaian antara harapan dan kenyataan tentang kinerja petugas yang dirasakan ibu diposyandu.

Cara pengukuran dilakukan dengan wawancara pada responden tentang kepuasan ibu dengan menggunakan instrumen kuesioner dengan alternatif jawaban menggunakan skala likert yaitu : sangat puas (bobot 4), puas (bobot 3), kurang puas (bobot 2), tidak puas (bobot 1) (Sugiono, 2013). Kepuasan ibu dapat dikategorikan dan dikuantifikasikan dalam dua kategori yaitu puas dan kurang puas, dengan jumlah pertanyaan berjumlah 20 pertanyaan sehingga interval kelas dapat ditentukan sebagai berikut :

Interval (I) = Range(R) Kategori(K)

Dimana

(40)

R = Range (kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah) K = Jumlah kategori ( jumlah kriteria adalah 2)

Maka :

Skor tertinggi = 4 x 20 = 80

= 8080X100=100

Skor terendah = 1 x 20 = 20

¿20

80 X100=25

Range (R) = nilai skor tertinggi – nilai skor terendah = 100% - 25% = 75%

Kategori terbagi atas 2 yaitu puas dan tidak puas

Interval (I) = 75%2 = 37,5%

Sehingga penentuan antara dua kategori adalah 37,5% dengan penentuan kriteria objektif adalah berdasarkan perhitungan skor tertinggi – nilai interval antara kategori

= 100% - 37,5% = 62,5% Kriteria Objektif :

Puas : Apabila total skor jawaban responden atas pertanyaan dari seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu ≥ 62,5% Kurang : Apabila total skor jawaban responden atas pertayaan dari

seluruh variabel penelitian yang diajukan yaitu < 62,5%

(41)

Hipotesis adalah dugaan sementara dari masalah yang diteliti yang kebenarannya akan dibuktikan melalui penelitian (Setiadi, 2007). Hipotesis alternatif adalah hipotesis yang diterima yang dinyatakan dengan simbol Ha (Budiarto, 2002).

Secara statistik dirumuskan sebagai berikut:

H0 :  = 0 lawan Ha:  > 0

Atau dalam bentuk hipotesis kalimat sebagai berikut: 1. specific

Ho : Tidak ada hubungan Specific kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014

Ha : Ada hubungan Specific kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014

2. measurable

Ho : Tidak ada hubungan Measurable kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014

Ha : Ada hubungan Measurable kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014

3. attributable

(42)

Ha : Ada hubungan Attributable kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014

4. relevant

Ho : Tidak ada hubungan Relevant kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014

Ha : Ada hubungan Relevant kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014

5. timely

Ho : Tidak ada hubungan Timely kinerja petugas dengan kepuasan ibu pengguna posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasi kecamatan lantari jaya tahun 2014

(43)

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional (Notoatmodjo, S, 2005). Pada penelitian dengan studi cross sectional dilakukan pengukuran dan pengumpulan data pada variabel sebab dan akibatnya sesaat dalam satu waktu.

B. Waktu Dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian

(44)

Penelitian ini akan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Lombakasi Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana.

C. Populasi Dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007). Dalam penelitian ini populasi adalah seluruh ibu pengguna posyandu diwilayah kerja Puskesmas Lombakasi kecamatan lantari jaya yang meliputi ibu hamil, ibu nifas, dan pasangan usia subur (PUS). Dari hasil survei awal diperoleh data jumlah rata-rata kunjungan ibu diposyandu setiap bulan yaitu sebanyak 180 ibu (38,1% dari 472 sasaran yang ditetapkan) (Laporan bulanan KIA Puskesmas Lombakasi Kecamatan lantari jaya)

2. Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang berkunjung keposyandu.

(45)

Penentuan besar sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus menurut Slovin (Syah, 2003)

n= N

d : Nilai presisi yang diinginkan (0,5%)

maka n= 180

Karena populasi dalam penelitian ini terdiri dari unit yang memiliki karakteristik yang heterogen maka sampel diambil dengan teknik proppartional stratified sampling dengan proporsi sebagai berikut :

(46)

d.

Posyandu desa Rarongkeu

(47)

a. Posyandu desa Pasare Apua 4 orang sampel

b. Posyandu desa Lantari 4 orang sampel c. Posyandu desa Anugerah 5 orang sampel d. Posyandu desa Rarongkeu 2 orang sampel

e. Posyandu desa Lombakasih 5 orang sampel f. Posyandu desa Kalaero 4 orang sampel

g. Posyandu desa Langkowala 4 orang sampel h. Posyandu desa Watu-watu 3 orang sampel i. Posyandu desa Tinabite 3 orang sampel

Sehingga jumlah total sampel sebanyak 33 sampel (Notoatmodjo, 2010). dengan kriteria sebagai berikut :

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi merupakan karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target terjangkau yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2010). Kriteria inklusi dari penelitian ini terdiri dari:

1) Ibu yang berkunjung dan menerima pelayanan diposyandu; 2) Ibu yang bersedia untuk diwawancarai.

b. Kriteria Eksklusi

(48)

menjadi subjek penelitian (Notoatmodjo, 2010). Kriteria eksklusi penelitian ini adalah ibu yang menolak untuk menjadi responden.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah dan hasilnya lebih baik (cermat, lengkap, sistematis) sehigga lebih mudah diolah (Saryono, 2011). Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Instrument ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang mewakili seluruh variabel yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bersifat tertutup, artinya responden hanya memilih satu diantara beberapa alternatif jawaban yang telah disediakan.

E. Pengumpulan Data 1. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer merupakan sumber data pertama yang dimiliki peneliti dengan cara wawancara atau pengisian kuesioner yang didapatkan dari perorangan (Budiarto, 2002). Data primer pada penelitian ini adalah data hasil pengisian kuesioner yang mencakup kinerja petugas dan kepuasan ibu pengguna posyandu.

(49)

Data sekunder adalah data yang sudah ada, peneliti memperolehnya dari instansi atau lembaga yang secara rutin mengumpulkan data (Setiadi, 2007). Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari profil tempat penelitian yang mencakup data jumlah kunjungan ibu diposyandu, data jumlah tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan serta data demografi sarana dan prasarana tempat penelitian.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan membagikan kuesioner kepada ibu yang berkunjung diposyandu dan memberikan penjelasan tentang tujuan, manfaat, proses pengisian kuesioner, serta pengisian lembar informed consent. Peneliti memberikan arahan jika responden mengalami kesulitan dalam mengisi kuesioner.

F. Pengolahan Data Dan Analisa Data 1. Pengolahan Data

a. Editing, yaitu pemeriksaan data yang telah dikumpulkan. Dalam proses ini, data dijumlahkan apakah jumlahnya sudah lengkap atau belum dan dikoreksi apakah jawaban sudah terjawab semua atau belum (Budiarto, 2002).

(50)

c. Entry, yaitu Proses memasukkan data ke dalam program computer (Setiadi, 2007). Data selanjutnya diinput kedalam lembar kerja SPSS untuk masing-masing variabel. Urutan input data berdasarkan nomor responden dalam kuesioner.

d. Tabulasi, yaitu membuat tabel-tabel data sesuai dengan tujuan penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti.

e. Cleaning, yaitu pembersihan data atau penghapusan data-data yang sudah tidak terpakai (Setiadi, 2007). Cleaning dilakukan pada semua lembar kerja untuk membersihkan kesalahan yang mungkin terjadi selama proses input data. Proses ini dilakukan melalui analisis frekuensi pada semua variabel. Data missing dibersihkan dengan menginput data yang benar.

2. Analisis Data

Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program siap pakai SPSS versi 20.0. Teknik analisis data yang digunakan dalam pengolahan data penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Analisis Univariat

(51)

X=f nxk

Keterangan:

f = frekuensi kategori variabel yang diteliti n = jumlah sampel yang diteliti

k = konstanta (100%)

X = Persentase hasil penelitian (Arikunto, 2006) b. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel dependent dan independent. Karena rancangan penelitian ini adalah dekskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study maka digunakan uji statistik yang bertujuan untuk membandingkan antara variabel independent dan variabel dependent, dimana uji yang digunakan adalah uji statistic Chi Square (X2). Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent dengan menggunakan uji Chi Square (X2) dengan tingkat kepercayaan 95% ( α=0,05 ). Dengan rumus sebagai berikut :

X2 =  (fof h) 2

f h

Keterangan:

X2 : Chi kuadrat fO : Frekuensi yang diobservasi fh : Frekuensi yang diharapkan  : Sigma

(52)

Hasil uji dapat disajikan dalam bentuk tabel uji kontingensi sebagai berikut :

Tabel 1 korelasi kontingensi

Variabel Variabel Jumlah

Kategori Kategori

Kategori A b a+b

Kategori C d c+d

Jumlah a+c b+d N

(Budiarto, 2002)

Berdasarkan hasil uji tersebut ditarik kesimpulan dengan kriteria sebagai berikut:

a. Jika nilai X2 hitung > X2 tabel maka H0 ditolak, berarti ada hubungan antara variabel dependent dengan variabel independent

b. Jika nilai X2 hitung < X2 tabel maka H0 diterima, berarti tidak ada hubungan antara variabel dependent dengan variabel independent. Selanjutnya kekuatan hubungan atau nilai yang menyatakan derajat keeratan hubungan ditentukan dengan kontingensi koefisien C, dengan rumus sebagai berikut :

C=

X

2

N+X2

Dimana :

C = merupakan ukuran derajat keeratan hubungan antara dua variabel dengan skala nominal yang bersifat dikotomi (dipisahduakan).

(53)

Dengan interpretasi sebagai berikut : 0,01 – 0,25 = hubungan lemah 0,25 – 0,55 = hubungan sedang 0,56 – 0,75 = hubungan kuat

0,75 – 1,00 = hubungan sangat kuat (Arikunto, 2006) G. Penyajian Data

Penyajian data dilakukan secara tabulasi dan presentatif dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi kemudian dinarasikan.

H. Etika Penelitian

Dalam penelitian ini, masalah etika sangat diperhatikan dengan menggunakan metode:

1. Informed concent

Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan (informed concent). Informed concent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed concent adalah agar responden mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengetahui dampaknya.

2. Anonimity (tanpa nama)

Dilakukan dengan cara tidak memberikan nama responden pada lembar alat ukur, hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.

(54)

Yaitu menjamin kerahasiaan hasil penelitian baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Informasi yang dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Visi dan Misi UPTD Puskesmas Lombakasih 2. Letak Geografis UPTD Puskesmas Lombakasih

3. Sarana dan Prasarana UPTD Puskesmas Lombakasih B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Hasil Penelitian

a. Distribusi Frekuensi Demografi Responden

1) Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur

Tabel

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasih

No. Umur Jumlah Persentase (%)

(55)

2. 16-20

Sumber : Data Primer, Diolah 2014

2) Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tabel

Distribusi Responden Menurut Kelompok Pendidikan Di Ruang Rawat Inap RSUD Kabupaten Bombana

3) Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan b. Analisis Univariat

a) Kinerja Petugas Posyandu

1) Specific

Tabel 2

Distribusi Responden Menurut Spesific Kinerja Petugas Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasih

No. Spesific Jumlah Persen (%)

(56)

2. Kurang Jumlah Sumber: data primer, 2014

2) Measurable

Tabel 2

Distribusi Responden Menurut Measurable Kinerja Petugas Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasih

No. Measurable Jumlah Persen (%)

1. Baik

2. Kurang

Jumlah Sumber: data primer, 2014

3) Attributable

Tabel 2

Distribusi Responden Menurut Attributable Kinerja Petugas Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasih

No. Atributable Jumlah Persen (%)

1. Baik

2. Kurang

Jumlah Sumber: data primer, 2014

4) Relevant

Tabel 2

(57)

No. Relevant Jumlah Persen (%)

1. Baik

2. Kurang

Jumlah Sumber: data primer, 2014

5) Timely

Tabel 2

Distribusi Responden Menurut Timely Kinerja Petugas Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasih

No. Timely Jumlah Persen (%)

1. Baik

2. Kurang

Jumlah Sumber: data primer, 2014

b) Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu

Tabel 2

Distribusi Responden Menurut Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasih

No. Measurable Jumlah Persen (%)

1. Baik

2. Kurang

Jumlah Sumber: data primer, 2014

c. Analisis Bivariat

1) Hubungan Spesific Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu

(58)

Distribusi Responden Menurut Hubungan Spesific Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu di

Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasih

Distribusi Responden Menurut Hubungan Measurable Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu di

(59)

3) Hubungan Attributable Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu

Tabel 16

Distribusi Responden Menurut Hubungan Attributable Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu di

Wilayah Kerja Puskesmas Lombakasih

4) Hubungan Relevant Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu

Tabel 16

Distribusi Responden Menurut Hubungan Relevant Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu di

(60)

N % n %

Distribusi Responden Menurut Hubungan Timely Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu di Wilayah

Kerja Puskesmas Lombakasih

a. Hubungan Spesific Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu

(61)

c. Hubungan Attributable Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu

d. Hubungan Relevant Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu

e. Hubungan Timely Kinerja Petugas Posyandu dengan Kepuasan Ibu Pengguna Posyandu

C. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian yang terdiri:

1. Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa kuesioner dalam bentuk skala Likert dengan 4 pilihan jawaban yaitu: sangat baik, baik, kurang baik dan tidak baik. Hal ini memungkinkan terjadi kebingungan pada ibu dalam memberikan jawaban yang berkaitan dengan kinerja petugas posyandu.

2. Jumlah pertanyaan yang cukup banyak pada kuesioner terhadap kepuasan ibu mungkin membuat responden sulit memahami dengan cermat setiap pertanyaan dan mengisinya sesuai dengan kenyatan yang sebenarnya.

3. Hasil penelitian ini memiliki keterbatasan penelitian yaitu terkait teknik pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang mengukur kinerja petugas posyandu dengan kepuasan ibu pengguna posyandu. Pengumpulan data menggunakan kuesioner cenderung bersifat subyektif sehingga kejujuran responden menentukan kebenaran data yang diberikan. 4. Penelitian ini hanya melihat beberapa variabel dari banyak variabel yang

(62)

penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan ibu secara keseluruhan terhadap kinerja petugas posyandu di wilayah kerja puskesmas lombakasih.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang dilakukan di Ruang Rawat Inap RSUD Kabupaten Bombana, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Ada hubungan yang sedang antara Pelaksanaan Pelayanan Perawat: penerimaan perawat dengan kepuasan pasien rawat Inap di RSUD Kabupaten Bombana.

2. Ada hubungan yang kuat antara Pelaksanaan Pelayanan Perawat: perhatian perawat dengan kepuasan pasien rawat Inap di RSUD Kabupaten Bombana. 3. Ada hubungan yang sedang antara Pelaksanaan Pelayanan Perawat:

komunikasi perawat dengan kepuasan pasien rawat Inap di RSUD Kabupaten Bombana.

(63)

B. Saran

1. Bagi Institusi Pendidikan

Institusi pendidikan berperan andil dalam perkembangan sebuah layanan keperawatan, institusi pendidikan dapat melakukan kegiatan praktik langsung untuk menilai tindakan pelayanan keperawatan yang dapat meningkatkan kepuasan pasien.

2. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

(64)

3. Bagi Keperawatan

Perawat perlu lebih meningkatkan pelayanan keperawatan dengan lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan pasien untuk mencapai pelayanan yang lebih maksimal.

4. Bagi Pemerintah

Pemerintah perlu memperhatikan pelayanan kesehatan yang dilaksanaan oleh rumah sakit agar Pelaksanaan Pelayanan Perawat kesehatan yang diberikan pada masyarakat terjamin dari segi aspek pelayanan baik pelayanan medis, pelayanan adminstrasi dan tidak mempersulit pasien serta biaya pelayanan yang sesuai, dan memberi dorongan baik berupa reward pada rumah sakit yang sudah memberikan pelayanan lebih baik.

5. Bagi Masyarakat

Kepada masyarakat agar lebih selektif dan teliti dalam menilai pelayanan keperawatan yang dirasakan dan diperoleh dari suatu tempat pelayanan keperawatan, demi memperoleh pelayanan keperawatan dan kesembuhan yang diingingkan

6. Bagi Peneliti

(65)

DAFTAR PUSTAKA

Arali, 2008. Cakupan pelayanan ANC (K1 dan K4) salah dan tidak terkendali. Polewari Mandar Sulawesi Barat.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Ed. Revisi 6 Rineka Cipta. Jakarta.

Awinda, D. (2004). Tingkat kepuasan pasien perusahaan dan pasien pribadi terhadap mutu pelayanan ruang rawat inap kelas III RS. Permata Bunda Medan. Tesis Master tidak pernah diterbitkan, Universitas Sumatera Utara: Medan, Indonesia.

Badan Pusat Statistik.1999. Panduan Pelatihan Tindak Lanjut Pengolahan dan Analisis Data Susenas. BPS dan UNFPA , Jakarta

BKKBN. (2004). Pelayanan Posyandu. Diakses pada tanggal 4 Mei 2014 dari http://bkkbn.go.id/news_detail.php?nid=132

BKKBN. (2009). Penurunan Fungsi dan Kinerja Posyandu. Diakses pada tanggal 4 Mei 2014 dari http://kalteng.bkkbn.go.id/news_detail.php?nid=132

Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Depertemen Kesehatan R.I. 2006. Pedoman umum pengelolaan posyandu. Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat.

Gambar

Gambar 3.1 Kerangka penelitian kinerja petugas Posyandu dan kepuasan ibu
Tabel 1 korelasi kontingensi
Tabel 2Distribusi Responden Menurut Spesific Kinerja Petugas
Tabel 2Distribusi Responden Menurut Measurable Kinerja Petugas
+5

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu evaluasi media audio untuk PAUD model permainan anak nusantara (Permata Nusantara), menunjukkan bahwa dengan Permata Nusantara dapat meningkatkan

Dari hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa mesin pemilah warna yang telah direalisasikan berhasil memilah tiga dan empat warna yang berbeda dengan

Tabel di atas membuktikan bahwa peluang dan kekuatan Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak lebih kuat dari pada kelemahan dan ancamannya, maka dari itu hal yang

UJI EFEKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN KRIM EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L.) dalam BASIS VANISHING CREAM (Emulgator Asam Stearat, TEA, Tween 80, dan Span 20)”

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat terselesaikannya Skripsi dengan judul “ANALISIS FAKTOR PENYEBAB

Hal utama yang selalu dibuat Yesus dalam pelayanan konseling adalah penyelesaian masalah dosa dan mempertajam pengenalan yang benar kepada Allah karena hal

Modal Sendiri mempunyai pengaruh yang kecil terhadap perolehan Sisa Hasil Usaha pada Koperasi Keluarga Pegawai ITB Kota Bandung. Modal Sendiri mempengaruhi perolehan Sisa Hasil

2) Sebagai kriteria penilaian pada setiap unit pusat pertanggungjawaban. 3) Sebagai bahan eveluasi guna meningkatkan performa kinerja manajerial dalam sebuah