• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mata Kuliah Tentang Filsafat Komunikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mata Kuliah Tentang Filsafat Komunikasi"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah : Filsafat Komunikasi

Jawaban soal A :

a. Apa filsafat komunikasi itu?

Apa hubungan falsafah dengan ilmu?

Arti kata Filsafat Secara etimologis (ilmu asal usul kata), kata Filsafat berasal dari Yunani Philosophia yang berasal dari 2 kata : Philia = cinta , Sophos = kearifan/kebijaksanaan atau wisdom.

Jadi, filsafat atau philosophia berarti cinta akan kearifan (love for wisdom).

Namun, Cinta bukan sekedar sayang, tapi suatu dinamika yang menggerakkan subjek untuk bersatu dengan objeknya dalam arti dipengaruhi dan diliputi oleh objeknya. Kebijaksanaan/kearifan atau wisdom diartikan sebagai ketepatan bertindak.

Filsafat merupakan suatu ilmu yang berlandasan pemikiran dari ilmu yang bersangkutan, titik tolak ilmu itu bermaksud mencapai tujuan yaitu kebenaran. Sebenarnya setiap ilmu ditujukan pada mencapai kebenaran serta pengabdiannya kepada umat manusia, hanya cara ataupun jalan bagaimana masing-masing ilmu mencapai tujuan ini adalah berbeda-beda.

Filsafat dan ilmu mempunyai beberapa persamaan. Keduanya tumbuh dari sikap reflektif dan sikap bertanya. Ilmu-ilmu bersangkutan dengan bidang-bidang khusus atau bidang yang terbatas. Tujuan ilmu adalah untuk memaparkan dunia sehingga dapat ditafsirkan dengan istilah-istilah yang pasti atau matematik, dan bila mungkin kemudian mengadakan kontrol (pengendalian) secara mekanis.

Komunikasi dapat disebut sebagai ilmu karena telah memenuhi syarat berikut :

1. Mempunyai obyek tertentu

Ilmu merupakan suatu bentuk pengetahuan yang mempelajari suatu obyek. Obyek dalam ilmu harus dibedakan antara obyek material, yaitu apa yang dipandang dan obyek formal, yaitu sudut pandang dalam arti dari sudut mana obyek itu dipandang.

Obyek formal ilmu komunikasi adalah perilaku manusia, termasuk di dalamnya perilaku individu, kelompok dan masyarakat. Obyek formalnya situasi yang mengarah pada perubahan sosial, termasuk perubahan perilaku, perasaan, sikap dan perilaku individu, kelompok, masyarakat.

(2)

Sistematis berati menurut suatu sistem tertentu. Sistem diartikan sebagai kumpulan hal-hal yang disatukan ke dalam suatu keseluruhan yang konsisten karena saling terkait. Dalam bentuknya yang formal, ilmu pengetahuan dinyatakan dalam suatu definisi.

3. Berlaku umum

Komunikasi diberbagai negara, termasuk di Indonesia sudah dipelajari, diteliti, dipraktekkan dan dikembangkan, karena pada dasarnya komunikasi memang sangat diperlukan bagi kepentingan manusia dan masyarakat

4. Mempunyai metode tertentu

Sebagaimana ilmu sosial lainnya, komunikasi menggunakan metode penelitian untuk mengembangkan ilmunya, dan ada yang spesifik untuk mengembangkan ilmu komunikasi.

Menurut Prof. Onong Ucahana Efendy, Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin ilmu yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metodologis, sistematis, analisis, kritis, dan holistis tentang teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, teknik dan perannya.

b. Mengapa

Filsafat komunikasi? Sifat manusia dan masyarakat adalah dinamis, kedinamisan itu tercermin adanya selalu keinginan untuk berubah

Hubungan antara filsafat dengan komunikasi secara teoritis komunikasi dimulai sejak masa yunani kuno. Ketika itu Corax mengajarkan teori berbicara di depan pengadilan yang kemudian dianggap sebagai cikal bakal keterampilan persuasi (membujuk). Salah satu murid murid Corax yang terkenal adalah Tisias, yang kemudian mengambil istilah Rhetoric sebagai nama bagi keterampilan tersebut. Jadi

(3)

Kebenaran berasal dari kata dasar “benar”. Secara etimologi “benar” mempunyai arti tidak salah, lurus, susngguh-sungguh dan tidak bohong. Sedangkan secara epitemologi (istilah), pengertian kebenaran dapat kita lihat pembahasan dibawah ini. Pembahasan tentang kebenaran, maka kita akan menemukan dua hal, yakni “kebenaran apoteriori atau kebenaran yang berasal dari fakta”, dan “Kebenaran apriori atau kebenaran berasal dari akal budi”. Kebenaran apriori dapat dibuktikan dengan melihat keterkaitannya dengan proposisi yang sama, sedangkan kebenaran aposteriori hanya bisa dilihat sebagai benar berdasarkan pengalaman.

Ada dua pandangan tentang kebenaran, kebenaran secara rasional atau berdasarkan akal budi dan kebenaran secara empiris atau berdasarkan pengetahuan. Hal ini sebagaimana dikatakan Immanuel Kant dalam yang dikutip oleh A. Sonny Keraf, bahwa ada dua cara yang saling terkait dan menunjang satu sama lain untuk bisa sampai pada suatu pengetahuan.

1. Secara empiris, yaitu dengan mengacu pada pengalaman dan pengamatan indrawi, pada bagaimana benda atau objek tertentu tampak pada kita melalui pancaindra. Jadi untuk mengetahui bahwa suatu konsep atau proposisi benar, saya mengacu pada objek dari proposisi itu menampakkan diri pada saya. Artinya, saya selalu menceknya pada fakta dan data yang bisa ditangkap dengan pancaindra. Dengan kata lain untuk mengetahu bahwa proposisi benar kita tidak mengacu pada akal budi, bagaimana akal budi memikirkannya, melainkan bagaimana pada objek yang dinyatakan dalam proposisi itu tampak pada saya. Ini lah yang disebut sebagai kebenaran atau pengetahuan empiris.

(4)

sendiri menyesuaikan diri dengan bentuk-bentuk yang telah ada dalam akal budi.

Berkomunikasi merupakan aktivitas yang sangat mendasar pada setiap manusia. Sejak lahir manusia telah memiliki tabiat untuk selalu berkomunikasi dengan orang disekitarnya. Setiap individu memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan teknik berkomunikasinya, maka dalam hal ini setiap orang diberikan kebebasan berekspresi. Namun kebebasan tidaklah selalu menjanjkan keselarasan dan kesesuaian, terkadang kebebasan yang dipercayakan disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi tanpa mengindahkan kepentingan orang lain. Untuk menghindari hal tersebut maka harus ada sebuah kontrol yang tidak hanya memantau aspek kebebasan, tetapi juga menekankan pada aspek tanggung jawab sebagai implikasi dari kebebasan tersebut.

Sifat manusia dan masyarakat adalah dinamis, kedinamisan itu tercermin adanya selalu keinginan untuk berubah Ketika manusia melihat atau mengalami suatu peristiwa, akan terdorong naluri ingin tahunya, ia pun akan bertanya: apakah ini? Dari mana datangnya? Apa sebabnya demikian? Mengapa demikian? Manusia yang semula tidak tahu, ia akan berusaha untuk mencari tahu kemudian mencari tahu, hingga keingintahunya terpenuhi. Jika keingintahuannya terpenuhi, sementara waktu ia akan merasa puas. Namun, masih banyak hal yang mengelilingi manusia, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, ada atau yang mungkin ada, yang berarti masih harus diuji kebenarannya. Hal ini kembali mendorong naluri ingin tahu, membuat pertanyaan lain yang yang terus bermunculan.

(5)

c. Di mana

Filsafat komunikasi? Salah satu aplikasi atau penerapan komunikasi adalah untuk

Di dalam komunikasi adanya etika komunikasi, etika komunikasi dapat mengelaborasi standar etis yang digunakan oleh komunikator dan komunikan. Etika komunikasi berhubungan juga dengan praktek institusi, hukum, komunitas, struktur sosial, politik dan ekonomi. Selain itu, etika komunikasi selalu dihadapkan dengan berbagai masalah, yaitu antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab terhadap pelayanan publik itu.

Ada dua jenis etika, yaitu :

a. Etika umum : bagaimana manusia itu bertindak secara etis.

b. Etika khusus : moral di bidang khusus. Kode etik jurnalis, etika bisnis dll.

Etika komunikasi memiliki 3 dimensi yang terkait satu dengan yang lain, yaitu:

1. Aksi komunikasi

Dimensi yang langsung terkait dengan perilaku aktor komunikasi. Perilaku aktor komunikasi hanya menjadi salah satu dimensi etika komunikasi yaitu bagian dari aksi komunikasi.

2. Sarana komunikasi

Pada tingkat sarana ini terdapat analisis yang kritis, pemihak kepada yang lemah atau korban dan berperan sebagai penengah diperlukan karena akses ke informasi tidak berimbang. Serta karena besarmya godaan media ke manipulasi dan aliensi. Dalam masalah komunikasi keterbukaan akses juga ditentukan oleh hubungan kekuasaan, penggunaan kekuasaan dalam komunikasi tergantung pada penerapan fasilitas baik ekonomi, budaya, politik atau teknologi. Semakin banyak fasilitas yang dimiliki semakin besar akses informasi, semakin mampu mendominasi dan mempengaruhi perilaku pihak lain atau publik.

3. Tujuan

Dimensi tujuan menyangkut nilai demokrasi terutama kebebasan untuk berekspresi kebebasan pers, dan juga hak akan informasi yang benar. Dalam negara demokratis, para aktor komunikasi peneliti asosiasi warga negara dan politis harus mempunyai komitmen terhadap nilai kebebasan tersebut. Negara harus menjamin serta memfasilitasi terwujudnya nilai tersebut.

d. Bilamana

(6)

Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator, sedangkan orang yang menerima pesan dinamakan komunikan. Lebih jelasnya, komunikasi

berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Jika dianalisis pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, pertama, isi pesan, kedua, lambang (simbol). Konkritnya isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa. Pikiran dan perasaan sebagai isi pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan, selalu menyatu secara terpadu; secara teoritis tidak mungkin hanya pikiran saja atau perasaan saja.

Dalam ilmu filsafat, dikenal ada tiga aspek yang menjadi penyangga filsafat, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara singkat ontologi dapat diartikan sebagai hakikat yang membahas apa pengetahuan itu sendiri, epistemologi diartikan sebagai teori atau metoda yang mengkaji mengenai bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan tersebut, sedangkan aksiologi dapat diartikan sebagai kajian mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan. Ketiga aspek tersebut dikenal pula sebagai tiga pilar filsafat. Karena komunikasi merupakan suatu ilmu, maka komunikasi termasuk dalam keluarga filsafat.

e. Siapa

Filsafat komunikasi? Untuk siapa komunikas itu

Menurut Hoeta Soehoet

Ilmu komunikasi adalah suatu ilmu yang mempelajari usaha manusia dalam menyampaikan isi pesannya kepada manusia lain.

Menurut Richard Lanigan, Filsafat komunikasi adalah upaya menjawab pertanyaan: a) Apa yang aku ketahui ?

b) Bagaimana aku mengetahuinya ? c) Apakah aku yakin ?

d) Apakah aku benar ?

 Objek kajian Ilmu Komunikasi adalah “usaha manusia dalam menyampaikan isi

(7)

 Objek kajian ilmu komunikasi terdiri dari satu golongan masalah, yaitu bagaimana

usaha manusia menyampaikan isi pesannya kepada manusia lain, bukan usaha manusia mencari nafkah, bukan usaha manusia mencari keadilan, dan lain-lain.

 Ilmu komunikasi jg mempunyai satu golongan masalah yang sama tabiatnya maupun

menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunnya baik dilihat dari dalam, yaitu:

a) Usaha manusia untuk menyampaikan isi pesannya kepada manusia lain bukan usaha binatang, bukan usaha angin, bukan usaha pohon beringin, tetapi usaha manusia yang dapat menggunakan akal budinya, bukan usaha manusia yang tidak dapat menggunakan akal budinya.

b) Usaha manusia dalam menyampaikan isi pesannya kepada manusia lain bukan usaha manusia dalam menyampaikan isi pesannya kepada Tuhan.

Maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan hal terpenting dalam berhubungan antara manusia dalam menyampaikan keinginan atau masalah yang terjadi, agar tidak timbul adanya kesalahpahaman. Di mana rasa keinginan tau manusia akan “sesuatu hal akan kebenaran” maka akan selalu di cari informasi yang akurat, dengan hal itu ilmu komunikasi salah satu jembatan yang paling efektif antara hubungan satu sama lain sesama manusia. Bahwa cara berbicara tentang komunikasi ada beberapa unsur yang dipikirkan yaitu source (sumber), communicator (pengirim pesan), communicate (pesan), channel (saluran atau media), communicant (penerima pesan),dan effect (hasil).

Jawaban soal B :

(8)

Filsafat ilmu pengetahun memiliki tiga “jalan masuk” utama, yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Louis O. Kattsoff menjelaskan dalam bukunya Pengantar Filsafat (1986), menjelaskan ketiganya secara terpisah. Kattsoff menjelaskan Ontologi sebagai pembuka kenyataan yang paling dalam, sebagai penjelas antara kenampakkan dan kenyataan. Ontologi sesungguhnya merupakan cabang filsafat yang sangat penting. Menjawab pertanyaan apakah hakekat dari sesuatu yang ada itu, dan apakah hakekat dari suatu kenyataan itu. Yang merupakan sifat dari ilmu (kebenaran teori).

Jalan kedua yaitu epistimologi. Kattsoff menyatakan bahwa epistimologi merupakan sebuah cabang filsafat yang mempertanyakan tentang kebenaran, kevalidan dari sesautu. Serta bahwa makna itu sangatlah penting. Epistimologi berjalan sebagai cabang yang mengantar bagaimana sesuatu itu dimaknai dan menjadi suatu pengetahuan yang jelas kebenarannya. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkikan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu.

Terakhir yaitu aksiologi. Kattsoff menyatakan bahwa aksiologi merupakan cabang filsafat yang menanyakan tentang apa yang baik itu, makna dari yang baik itu, dan tentang makna sebuah nilai. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Disimpulkan bahwa aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai dan kebaikkan sebuah ilmu pengetahuan.

Filsafat ilmu pengetahuan adalah bagian dari filsafat, dan ilmu komunikasi merupakan anak yang ada dalam silsilahnya. Sebagaimana tujuan filsafat, tentu saja, kita mempelajari filsafat ilmu pengetahuan agar dapat bersikap kritis dan menilai teori yang lahir di dalam ranah ilmu komunikasi. Agar nantinya pemahaman yang lahir

dari sikap tersebut dapat membawa dampak yang lebih baik bagi studi ilmunya.

(9)

Tapi kadangkalanya pihak pemerintah tidak menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat, seperti contohnya harga cabai atau harga bahan pokok sehari-hari yang melambung tinggi karena faktor cuaca yang tak menentu (pancaroba), membuat kepanikan masyarakat yang tidak tahu informasi kepastian yang seperti itu. Di mana media salah satu jembatan komunikasi antara kedua belah pihak sehingga menjadi tranparansi keadaan perekonomian atau di lapangan seperti apa pada kenyataanya. Agar masyarakat awam tidak hanya bertanya-tanya? Apa yang terjadi? Kenapa harus begitu? Kenapa tidak ada kebijakan untuk masyarakat miskin? Salah satu solusinya adalah menjalin komunikasi dengan masyarakat dan memutuskan keputusan lebih mengedepankan sifat humanisme dan berbasis pada keadilan sosial.

b. Kearah manakah perubahan perilaku masing-masing perilaku perlu terjadi?

Ilmu komunikasi dianggap sebagai jalan tengah atau jalan penghubung antara ilmu sosial dan ilmu humaniora. Bisa dibilang sebagai ilmu yang lengkap, ilmu komunikasi berdiri di “tengah” ilmu sosial dan ilmu humaniora. Baik dari segi fenomena maupun realitasnya.

Melalui pandangan fenomena, ilmu sosial menelaah kehidupan manusia sebagai objeknya. Segala aspek yang terjadi dalam kehidupan manusia menjadi bidang yang didekati oleh ilmu sosial. Ilmu sosial juga mendefinisikan realitas empiris sebagai sifat bidang yang ditelaahnya. Bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telinga apa yang menjadi fenomena di dalamnya. Pendekatan atas fenomenanya bisa dilakukan secara rasionalisme maupun empiris. Baik kualitatif maupun kuantitatif.

Ilmu humaniora sendiri merupakn ilmu yang mempelajari atribut kehidupan manusia. Ekspresi yang terjadi dari manusia menjadi objek pendekatan fenomena itu sendiri. Oleh karena itu, ilmu humaniora memahami realitas simbolik atau refleksi sebagai sifat fenomena yang ditelaahnya. Humaniora juga mendifinisi rasionalisme dan kualitatif sebagai metode pendekatannya.

(10)

tidak ada lagi kepanikan dari masyrakat karena sudah mempersiapkan mental, materi dan situasi lingkungan.

Humanisme adalah istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu. Humanisme modern dibagi kepada dua aliran. Humanisme keagamaan/religi berakar dari tradisi Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan para cendekiawan dalam kesenian bebas.

Pandangan mereka biasanya terfokus pada martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan umat manusia. Humanisme sekular mencerminkan bangkitnya globalisme, teknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama. Humanisme sekular juga percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan agama.

Ciri utama humanisme Renaissance adalah, pertama, bahwa para humanis adalah orang-orang terdidik yang memiliki minat besar dan proyek untuk melanjutkan dan mengembangkan kembali tradisi retorika dalam dunia Barat. Ciri kedua adalah bahwa para humanis Renaissance menjadikan tujuan umum pendidikan humanistik sebagai persiapan atas tugas pelayanan publik.

(11)

sebagai ‘individualisme.’ Perbahan perilaku dalam kasus ini lebih tepat dengan sifat humanisme, karena martabat manusia lebih tinggi di atas alam semesta ini. Jadi harus adanya keadilan sosial sesama makhluk hidup.

c. Jelaskan program komunikasi dan metoda yang tepat

Metode komunikasi yang tepat disini adalah secara institusional dan developmental.Komunikasi institusional merupakan di mana terkait pada peraturan institusi yang bersangkutan komunikasi ini bersifat fungsional dan struktural, misalnya pejabat pemerintahan terhadap bawahannya, panglima dengan anak buahnya penyampaian amanat dilakukan menurut formalitas tertentu, seperti penata laksana (protokuler).

Sedangkan Komunikasi interpersonal (developmental) adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih, yang biasanya tidak diatur secara formal. Dalam komunikasi interpersonal, setiap partisipan menggunakan semua elemen dari proses komunikasi. Misalnya, masing-masing pihak akan membicarakan latar belakang dan pengalaman masing-masing dalam percakapan tersebut. Komunikasi sangat penting bagi semua aspek kehidupan manusia. Dengan komunikasi manusia dapat mengekspresikan gagasan, perasaan, harapan dan kesan kepada sesama serta memahami gagasan, perasaan dan kesan orang lain. Komunikasi tidak hanya mendorong perkembangan kemanusiaan yang utuh, namun juga menciptakan hubungan sosial yang sangat diperlukan dalam kelompok sosial apapun. Komunikasi memungkinkan terjadinya kerja sama sosial, membuat kesepakatan-kesepakatan penting dan lain-lain. Individu yang terlibat dalam komunikasi memiliki latar belakangsosial, budaya dan pengalamanpsikologis yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat mempengaruhi efektifitas sebuah komunikasi. Sangat penting bagi setiap individu untuk memahami simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi, baik simbolverbal maupun nonverbal.

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang melibatkan dua orang atau lebih. Setiap pihak dapat menjadi pemberi dan pengirim pesan sekaligus pada waktu yang bersamaan.

(12)

maupun non verbal sehingga masing-masing bisa memahami satu sama lain dan berinteraksi secara efektif.

Menurut Rogers (dalam Rakhmat, 2012) mengatakan bahwa makin baik komunikasi interpersonal, maka makin terbuka seseorang mengungkapkan dirinya dan makin positif persepsinya terhadap orang lain melebihi persepsi dirinya.

d. Jelaskan prinsip-prinsip komunikasi atau paradigman yang perlu dikembangkan?

Secara etimologi paradigma beerasal dari bahasa Yunani yaitu paradeigma, dan bahasa Indo-Euro paradeiknunai yang artinya membandingkan. Jadi paradigma merupakan sebuah acuan dalam membandingkan.

Khun, dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions, mengdefinisikan paradigma sebagai berikut:

1. What is to be observed and scrutinized,

2. The kind of questions that are supposed to be asked and probed for answers in relation to this subject,

3. How these questions are to be structured,

4. How the results of scientific investigations should be interpreted

Khun mendefinisikan paradigma sebagai apa yang akan diteliti dan di observasi, apa yang seharusnya ditanyakan dan jawaban atasnya, struktur dari pertanyaan-pertanyaan itu, bagaimana investigasi menjadi terang untuk dipahami, yang berarti paradigma merupakan kunci dari sebuah analisis permasalahan ataupun wacana.

Dalam memahami fenomena sosial pun dibutuhkan paradigma sosial untuk menelusurinya. Berikut beberapa paradigma atau cara pandang dalam memahami fenomena sosial. Paradigma “Residual” yang hanya memberikan umpan-umpan saja pada masyarakat yang bersifat “charity” dan “filantrophi”, pembangunan yang selama ini hanya bisa kita amati oleh masyarakat dan tidak lebih memanjakan masyarakat untuk tidak mandiri.

(13)

dari paradigma tersebut. Dalam pandangan komunikasi dapat dicontohkan dengan , dalam suatu wilayah terdapat sekelompok orang yang memiliki perbedaan kepribadian. Tiap orang berhak untuk berdapat, namun juga berhak untuk diam jika pendapatnya menyakiti orang lain. hal ini semata karena makna yang terkandung dari setiap perbuatan itu akan mempengaruhi orang lain.

Referensi

Dokumen terkait

Manager Stasiun Lothar Stöckmann (kiri) menyimpulkan detil teknis untuk Stasiun Bumi Usingen kepada Luo Shigang (kanan), editor teknis dari majalah khusus China “TV Satelit

Tes Strip untuk Uji Kualitatif Asam Mefenamat, Aspirin, dan Parasetamol dengan Menggunakan Reagen Spesifik yang Diimmobilisasi pada Membran Nata de Coco-Al203; Siti

Yang dimaksud dengan indikator mikro adalah indikator yang digunakan dalam rangka menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan PLN Perusahaan per sektor ekonomi

Poerwowidodo,(2010),“Telaah Kesuburan Tanah”,Penerbit ANGKASA, Bandung Sarifuddin,(2011),“Kimia Tanah Teori Dan Aplikasi”,Cetakan Pertama, Penerbit.

Pada tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa (Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan) dalam ayat ini terkandung iltifat dari orang yang ketiga menjadi

Tujuan pengelolaan zakat yang ingin mengatasi masalah sosial kemasyarakatan berujung dari pendistribusian dana zakat terkumpul. Dengan kebijakan “Zakat sebagai Pengurang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan penguasaan pengetahuan pada mata pelajaran laundry oleh peserta didik SMKN 3 Cimahi meliputi pengetahuan, pemahaman dan

Tugas akhir ini merupakan syarat untuk mencapai gelar sarjana Teknik Sipil bidang struktur Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, dengan