• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problema pendidikan Keluarga TKW Analisi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Problema pendidikan Keluarga TKW Analisi"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat berangkaikan salam tak lupa kita sampaikan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kebodohan kepada zaman yang berisi ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan draf proposal ini tepat pada waktunya.

Penulis mengajukan draf proposal ini guna menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Metodologi Penelitian dan agar kalangan intelektual terutama mahasiswa sebagai calon pengganti pemimpin bangsa di masa mendatang dapat memahami Problematika Pengiriman Tenaga Kerja Wanita Ke Luar Negeri sehingga dilakukan kajian yang bersifat ilmiah.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan pihak perpustakaan yang telah meminjamkan berbagai buku mengenai tema yang penulis angkat sehingga draf proposal ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.

Penulis juga minta maaf kepada semua pihak, apabila masih banyak terdapat kesalahan dalam penyelesaian draf proposal ini, karena penulis juga masih dalam proses belajar dan masih membutuhkan bimbingan dalam penyelesaian proposal ini.

Kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan proposal tahap selanjutnya. Mudah-mudahan draf proposal ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Batu, 15 Oktober 2015

(2)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……… i

Daftar Isi ……… ii

A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Perumusan Masalah ………. 10

C. Tujuan Penelitian ………. 10

D. Metodologi Penelitian ………. 11

E. Proposisi Penelitian ……….. 11

F. Penelitian Pendahuluan ……… 12

G. Unit Analisis ……… 12

(3)

Problematika Pendidikan Keluarga Tenaga Kerja Wanita Dalam Menanggapi Tantangan Kontemporer

A. Latar Belakang Masalah

Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat, merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Keluarga juga berperan menanam-kan nilai-nilai agama terhadap anggota keluarga.

Menurut Nick dan De Frain, dalam bukunya “The National Study On Family Strength” mereka mengemukakan ada beberapa hal tentang pegangan atau kriteria menuju hubungan keluarga yang sehat dan bahagia, yaitu : (1) Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga, (2) Tersedianya waktu untuk bersama keluarga, (3) Interaksi segi tiga (ayah, ibu, anak), (4) Saling harga menghargai dalam interaksi ayah, ibu, dan anak, (5) Jika keluarga mengalami krisis, prioritas utama adalah keluarga.1

Pendidikan agama di lingkungan keluarga berguna untuk mengatasi masalah yang kita hadapi saat ini dan untuk mengantisipasi masalah yang mungkin muncul pada masa yang akan datang.2

Menurut Muhammad Abduh (1849-1905 ) Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dalam prosesnya mampu mengembangkan seluruh fitrah, ter-utama fitrah akal dan agamanya. Dengan fitrah ini, seseorang akan dapat mengembangkan daya berfikir secara rasional. Sementara melalui fitrah agama, akan tertanam pilar-pilar kebaikan pada diri seseorang yang kemudian terimplikasi dalam seluruh aktivitas hidupnya.3

1 A. Tafsir, dkk, Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung : Mimbar Pustaka, 2004), h. 92-93.

2 Darmiyati Zuchdi, Humanisasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), h. 133.

(4)

Demikian juga halnya Pendidikan Islam tidak membeda-bedakan terhadap semua orang baik wanita, laki-laki, maupun anak-anak berhak untuk memperoleh pendidikan agar hidupnya dapat bermanfaat. Pendidikan bagi seorang muslim merupakan anugerah Allah SWT yang tiada terhingga sebagai sarana, media, sekaligus alat untuk menghadirkan hayatan thoyyibah dalam maknanya yang luas dan mencakup seluruh bidang kehidupan dalam semua segmennya, baik segala individu, keluarga, masyarakat, maupun skala bangsa dan negara. Karenanya, pendidikan dalam Islam adalah keseluruhan hidup manusia itu sendiri, seperti juga keseluruhan hidup manusia adalah pendidikan.4

Islam telah memberikan sistem hidup yang memudahkan, melindungi, dan memuliakan kaum wanita. Namun jika seorang wanita tidak dapat menerima haknya dan melaksanakan kewajibannya sebagai istri dalam keluarganya, sedangkan suami juga tidak mampu menjalankan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan untuk istri dan anak-anaknya maka haruskah wanita Indonesia bermigrasi ke luar negeri untuk mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan pekerja pabrik di luar negeri sehingga meninggalkan anak dan suaminya.

Peran kaum wanita dalam keluarga adalah mengurusi anak-anak, rumah, serta suami. Semua perbuatan ini, sangat sesuai dengan kodratnya dan dapat menumbuhkan suasana kerjasama dengan suaminya dalam menangani kehidupan bersama.

Suami dan istri sebagai orang tua, merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.5

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Baik tidaknya suatu masyarakat ditentukan oleh baik tidaknya keadaan keluarga umumnya pada masyarakat tersebut. Oleh karena itu apabila kita menghendaki terwujudnya suatu masyarakat yang baik, tertib dan diridhoi Allah, mulailah dari keluarga.6

Dalam QS. At-Tahrim ayat 6; Allah SWT berfirman :

4 Majalah Gontor Edisi Rajab-Sya’ban 1436/Mei 2015, h. 32.

5 Zakiah Daradjat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), h. 35.

(5)

اران مكيلهأو مكسفنأ اوق اونمآ نيذلا اهيأاي

Artinya : “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari

api neraka”….

Ali bin Abi thalib R.A. berkata mengenai Firman Allah di atas : “ jagalah diri kalin beserta keluarga kalian dari api neraka” yaitu ajarkan kebaikan kepada diri kalian dan keluarga kalian.

Imam Ibn Qayyim pernah berkata, wasiat Allah SWT kepada para orang tua adalah agar mendahulukan pendidikan bagi anak-anaknya di atas wasiat untuk berbakti kepada orang tua. Kemudian beliau berkata “barangsiapa menyepelekan pendidikan anaknya tentang hal-hal yang bermanfaat baginya dan meninggalkannya dengan sia-sia, sungguh, dia telah melakukan perbuatan yang sangat buruk. Dan rusaknya anak mayoritas disebabkan oleh faktor orang tua dan sikap acuhnya terhadap anak-anaknya, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban di dalam agama beserta sunnah-sunnahnya kepada anak-anaknya. Sehingga para orang tua itu menyia-nyiakan sang anak diwaktu kecilnya, dan hal itu mengakibatkan anak-anaknya menjadi tidak dapat memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang tua tatkala mereka sudah dewasa.7

Lembaga keluarga yang seharusnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak akan menjadi tidak sinkron dan tidak integrated dalam mewujudkan keluarga sakinah. Hal ini disebabkan seorang ibu yang seharusnya bertugas untuk memenuhi kewajibannya dalam melayani suami dan mendidik anak di rumah, dengan alasan kemiskinan harus pergi meninggalkan keluarga demi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal pada hakikatnya perempuan TKW yang sudah berkeluarga, mereka menyadari untuk berangkat menjadi seorang TKW adalah ibarat memakan buah simalakama. Akibatnya anak tidak akan mendapatkan pendidikan dari ibunya, peran ibu dalam keluarga tidak berfungsi sebagaimana mestinya, adalah sebuah dilema yang dihadapi menjadi seorang TKW di luar negeri, belum lagi kewajiban istri terhadap suami tidak terpenuhi baik lahir maupun batin.

(6)

Menghadapi persoalan-persoalan seperti ini sudah pasti akan menimbulkan pengaruh-pengaruh yang tidak baik bagi anggota keluarga. Terutama pada perkembangan anak yang tidak mendapat pendidikan dan kurang perhatian dari seorang ibu akan menimbulkan kenakalan remaja, pergaulan bebas, penggunaan obat terlarang dan lain-lain. Di samping itu suami merasa jenuh, kurang perhatian dan tidak ada komunikasi, tidak ada kehangatan dan tidak ada suasana yang menyenangkan.

Keadaan di atas yang dijadikan alasan seorang suami, sehingga merasa tega untuk membunuh istrinya. sebagaimana kasus yang terjadi pada pertengahan Agustus 2015, seorang TKW berasal dari Jawa, baru beberapa hari pulang ke Indonesia sudah dihabisi oleh suaminya sendiri karena suami merasa benci terhadap istri yang meninggalkannya dan tidak memenuhi kewajibannya sebagai istri.

Fenomena yang terjadi di Indonesia banyaknya wanita-wanita Indonesia yang berstatus sebagai istri pergi ke luar negeri untuk mencari nafkah. Ditinjau dari beberapa asumsi, ada sebagian orang berpendapat, bahwa wanita yang bekerja di luar rumah dapat menunjang kemajuan bangsa dan menambah produktivitas. Akan tetapi pendapat ini dibantah oleh Wahbi Sulaiman, menurutnya : keluarnya wanita dari rumah untuk bekerja sebagaimana yang dilakukan laki-laki akan berakibat : “Mengabaikan kasih sayang dan pembinaan anak-anak, sedangkan pendidikan dapat terlaksana karena adanya cinta, kepercayaan, perhatian, dan waktu yang cukup lama. Tanpa itu semua, pendidikan yang baik tidak akan terwujud”. Apabila pengasuhan anak-anak diserahkan kepada orang lain, itu menunjukkan bahwa ibunya tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya, karena pengasuh anak meskipun memiliki dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang pendidikan, namun ia tidak memiliki naluri keibuan, tidak memiliki kesabaran, tidak dapat menjaga anak dengan baik, dan tidak memiliki cinta kasih seperti seorang ibu.8

Era globalisasi yang sedang berproses telah meniupkan angin optimisme yang tinggi dalam bidang ekonomi melebihi masa lalu dalam peradaban manusia.

(7)

Hal ini terjadi demi untuk mengejar dolar dan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Era ini ditandai antara lain dengan terbentuknya pasar global dalam perekonomian dunia, pada sisi lain, pergerakan modal termasuk mobilitas sumber daya manusia sedemikian menarik sehingga fenomena TKW tidak terelakkan.

Meningkatnya jumlah pekerja TKW dari tahun ke tahun, untuk bekerja di luar negeri merupakan salah satu indikator dari globalisasi atau migrasi inter-nasional. Indonesia sebagai bagian integral dari ekonomi global tidak dapat melepaskan diri dari dinamika tersebut. Sehingga pengiriman TKW ke luar negeri berdampak signifikan pada makro ekonomi.9

Kurangnya lapangan kerja dan realitas sosial terhadap kemiskinan di Indonesia merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri sebagai alasan banyaknya migran tenaga kerja ke berbagai negara di luar negeri. TKI yang berangkat ke luar negeri 68,5 % adalah perempuan (feminisasi migran).

Pengalaman yang dialami beberapa TKW, menggambarkan berbagai kesedihan. Sebagai contoh banyaknya kasus–kasus yang menimpa TKW Indone-sia, antara lain : tidak menerima gaji selama 27 tahun bekerja di Arab Saudi, menahan paspor dan melanggar hak-hak pekerja rumah tangga, masalah-masalah ini terjadi karena tidak mengertinya komunikasi antara majikan dan migran tenaga kerja, di samping itu kurangnya pendidikan dan keterampilan yang dimiliki para TKW menyebabkan sering terjadinya masalah dalam menggunakan berbagai perangkat alat rumah tangga. Ironis dan mirisnya lagi, bahwa tujuan para TKW ke luar negeri adalah untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Contoh lainnya : Pengalaman yang dialami seorang TKW berinisial W. Dalam perjalanannya ia mengurus paspor untuk menjadi TKW ke Arab Saudi, namun ternyata di Paspornya tertulis tujuan ke negara Maroko. Mulai dari keberangkatan dari kampung halamannya di Cirebon sampai ke negara tujuan tempat dia bekerja, ia mendapatkan kendala dan masalah terus menerus, awalnya W mempunyai tujuan untuk menjadi PRT di Arab Saudi, namun tanpa

(8)

sepengetahuan dan kurangnya pemahaman baca tulis W dia sudah berada di negara berbeda yaitu Maroko, setelah bekerja di rumah majikannya di Maroko, W dituntut untuk melakukan berbagai pekerjaan, tetapi dengan tidak pahamnya W terhadap bahasa majikannya, sehingga W tidak mengerti perintah apa yang ia terima. Belum lagi W tidak mengerti untuk menggunakan alat-alat rumah tangga yang canggih yang selama ini belum pernah ia gunakan.

Contoh lain lagi pengalaman seorang TKW yang sudah berumah tangga dan mempunyai dua orang anak kecil yang ditinggalkan di Indonesia, berasal dari Jawa Barat, Sudah tiga tahun menjadi TKW tidak mempunyai apa-apa dan dipulangkan oleh KBRI Maroko ke daerah asal karena bermasalah dengan pekerjaannya. Ia berangkat dari Maroko tanpa membawa uang serupiah pun, hingga di Bandara Cassablanca Maroko, penulis satu kendaraan dengannya, dan ia memohon bantuan untuk memberikan bantuan ongkos setibanya nanti di Jakarta menuju kampung halamannya.

Masalah-masalah di atas, sebenarnya tidak boleh terjadi, karena pada umumnya TKW yang akan dikirim ke luar negeri, sebelumnya sudah dididik dan dilatih oleh beberapa lembaga ataupun agency yang menangani pemberangkatan TKW tersebut. Dengan berbekal keahlian yang dimiliki, seharusnya mereka mendapatkan imbalan dari pekerjaannya tersebut. “Namun inilah ironisnya…” belum lagi terkadang perlakuan kejam sering dialami TKW, seperti disekap, tidak diberi makan, ditinggalkan atau dibuang dan diterlantarkan di negara berbeda, tak jarang TKW yang bekerja di Arab Saudi diterlantarkan dan ditinggalkan oleh majikannya di pusat-pusat perbelanjaan yang berbeda dari negara asal tempat bekerjanya. Kemudian melalui pihak keamanan negara setempat mereka memohon perlindungan untuk diantar kepada KBRI .

(9)

akhirnya tergantikan dengan membayar denda izin tinggal dan hukuman mati di luar negeri.

Fenomena yang dialami beberapa TKW di luar negeri, dapat dilihat dari dua aspek. Pertama disebut sebagai derita internal, yaitu berbagai masalah yang dihadapi secara pribadi ketika berada di luar negeri. Kedua, derita yang dihadapi karena harus meninggalkan anak-anak dan suami disebut dengan derita eksternal yaitu kepedihan harus berpisah dengan keluarga.

Namun demikian tidak sedikit juga kontribusi mereka terhadap perekonomian makro di Indonesia”, karena sekalipun TKW mengorbankan tenaganya untuk bekerja di luar negeri dan meninggalkan keluarga di kampung halamannya, akan tetapi mereka dapat memberikan sumbangan dana ke negara Indonesia, sehingga pemerintah menyebutnya dengan : ratu devisa. Dan banyak juga TKW yang sudah berhasil merubah kehidupan keluarganya di Indonesia, dengan membangun rumah, mencukupi kebutuhan sandang pangan dan pendidikan anak, hingga dapat merubah kemiskinan menjadi kehidupan yang lebih mapan.10

Wilfrida bekerja di Malaysia sebagai TKW pada November 2010. Padahal pemerintah Indonesia telah memberlakukan kebijakan moratorium (penghentian sementara)11 TKI ke negeri jiran itu terhitung sejak 29 juni 2009 hingga 1

Desember 2011, yang berarti masih dalam moratorium. “Namun yang lebih mencengangkan lagi, adanya pemalsuan data yang dilakukan beberapa oknum dalam hal ini beberapa pihak yang terkait, mulai dari sponsor (calo), perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI), perangkat desa hingga keluarga merupakan pihak yang harus bertanggung jawab terhadap kasus Wilfrida. Pihak yang memberangkatkan (Ap Master dan calonya) memalsukan umur Wilfrida tiga tahun lebih tua. Dalam paspor, Wilfrida lahir 8 Juni 1989, padahal menurut surat baptis gereja Khatolik Paroki Roh Kudus di Belu NTT, Wilfrida dilahirkan 12

10 Majalah Gontor, Edisi Dzulhijjah-Muharram, 1434/November, 2013, h. 59.

(10)

Oktober 1993”. Banyak pihak menyayangkan kejadian itu bahkan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) NTT mengecam keras perbuatan tersebut dan menyebut hal itu sebagai perdagangan manusia (trafficking) yang sangat melanggar hukum. Karena itu, ketua KSPSI NTT Stanis Tefa meminta pemerintah menghukum pihak-pihak yang bertanggung jawab dan melepaskan Wilfrida dari hukuman mati.12 Jelasnya beberapa kasus di atas bertentangan

dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 2004 dan Peraturan Presiden RI Tahun 2011 tentang Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri.13

Arus globalisasi telah membuka berbagai peluang karier bagi kaum wanita, tidak sedikit wanita-wanita Indonesia berjibaku di negeri orang demi untuk menopang kelanjutan hidup keluarganya. Namun, semua itu justru menempatkan wanita Indonesia di persimpangan jalan. Pilihan karier sebagai pembantu rumah tangga dan pekerja pabrik di luar negeri sebagai pilihan, sementara rumah tangga ditinggalkan, anak-anak tidak mendapatkan pendidikan keluarga. Antara suami dan istri, berjauhan tidak dapat mewujudkan bimbingan dan pendidikan kepada anak-anak secara bersama.

Fenomena pengiriman TKW Indonesia yang bekerja di luar negeri seharusnya jangan sampai terjadi, karena melihat sumber daya alam Indonesia yang begitu banyak tetapi belum ada hak bagi wanita-wanita Indonesia untuk berdikari di negerinya sendiri, dan malah membuat hati miris, wanita-wanita Indonesia di luar negeri kariernya hanya sebagai pembantu rumah tangga. Selain itu mereka telah mengabaikan peranannya sebagai seorang ibu yang mempunyai kewajiban mengurusi anak. Akhirnya problem yang ada pada anak-anak yang ditinggal ibunya untuk bekerja ke luar negeri menjadi anak-anak yang perkembangannya kurang baik, dan ada dari anak-anak mereka, akibatnya menjadi anak anak korban narkotika dan pergaulan bebas.

12 Majalah Gontor, Edisi Dzulhijjah-Muharram, 1434/November, 2013, h. 59.

(11)

Anak-anak yang semestinya dalam masa pertumbuhannya membutuhkan refrence person ( suri tauladan) yang ideal, ternyata hal itu tidak didapatkan oleh anak.14 Suasana seperti ini menjadikan anak mendapatkan standar nilai kurang

kasih sayang dari seorang ibu.

Oleh karena itu jika dianalisa dari pendidikan keluarga, seharusnya TKW yang sudah berstatus sebagai ibu mempunyai kewajiban mendidik anak dan melayani suami. Demi untuk melaksanakan kodratnya sebagai seorang guru utama dalam mendidik anak-anaknya di rumah, dan bertugas sebagai pendamping suami dalam memenuhi hak dan kewajibannya sebagai istri.

Seorang suami harus menyadari, bahwa setiap ucapan dan tindakannya

Berbagai masalah yang terjadi pada TKW menurut penulis dapat dilihat dari dua faktor. Pertama faktor interen berasal dari masalah pribadi dari diri TKW sendiri yang banyak mengalami kepedihan dalam melakukan tugasnya sebagai problema besar. Kedua faktor eksteren, yaitu terabaikannya kewajiban sebagai seorang istri dan ibu selama berada di luar negeri merupakan tindakan menyimpang bagi pendidikan Islam. Hal ini disebabkan oleh peran ibu sebagai madrasah utama tidak terealisasikan dan sehingga nantinya peran perempuan sebagai i’madul bilad tidak terwujud, disebabkan oleh fungsi ibu untuk memberikan kasih sayang dalam membimbing dan membina anak sebagai penerus bangsa terabaikan.

(12)

tersebut guna dilakukan untuk melihat sejauh mana akibat-akibat yang timbul bagi anak dan suami yang ditinggalkan oleh seorang TKW yang berstatus sebagai ibu rumah tangga.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka perhatian utama penelitian ini akan diarahkan kepada analisis terhadap penjelasan dan komentar beberapa TKW dan dihubungkan relevansinya dengan perkembangan waktu selanjutnya untuk menganalisis keluarga TKW yang berada di desa …. Oleh karena itu, dalam tulisan ini hanya dibatasi pada problema yang terjadi pada faktor ekstern yaitu menganalisa problema keluarga TKW, melihat kepada aspek pendidikan, pshikologi, Sosiologi dan Hukum Islam dalam menanggapi pendidikan Keluarga TKW.

Permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini dibatasi pada :

B. Batasan Masalah

Secara deskriptif penelitian ini akan menguraikan beberapa pertanyaan : 1. Apakah yang dimaksud dengan problema dalam aspek pendidikan, pshikologi,

sosiologi dan hukum Islam dalam keluarga TKW ?

2. Siapakah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak TKW ? Sedangkan secara eksploratoris penelitian ini akan menjelaskan :

3. Mengapa sering terjadi ketidak harmonisan dalam keluarga yang ibunya sebagai TKW ?

4. Bagaimana solusi terhadap pendidikan keluarga bagi seorang ibu TKW ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi problema yang ada dalam keluarga TKW di tinjau dengan pendekatan pendidikan, pshikologi, sosiologi dan hukum Islam .

2. Untuk mengetahui bagaimana konsep Pendidikan keluarga dan teori-teori pendidikan keluarga dalam melindungi pendidikan anak TKW.

3. Untuk mencari sebab-sebab mengapa sering terjadi problema dalam pendidikan keluarga TKW.

(13)

C. Metodologi Penelitian

Oleh karena itu penelitian ini akan meneliti problema keluarga TKW dengan menggunakan pendekatan pendidikan, pshikologi, sosial dan hukum Islam, serta menjelaskan konsep pendidikan keluarga. Dengan demikian metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan rancangan disertasi ini adalah penelitian kualitatif ditinjau dari studi kasus, yaitu salah satu metode penelitian sosial yang digunakan sebagai usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi sosial secara luas dan mendalam serta menemukan hipotesis dan teori15. Nantinya penulisan ini akan melihat beberapa aturan hukum yang terkait

dengan pengiriman TKW ke luar negeri sebagai penelitian hukum normatif.16

Secara umum penelitian ini adalah merupakan strategi untuk menjawab beberapa pertanyaan penelitian tentang bagaimana dan mengapa selalu ada problema dalam keluarga bagi seorang ibu sebagai TKW.17

Objek penelitian tulisan ini adalah

E. Proposisi Penelitian

Penelitian ini akan menganalisis, tentang problematika keluarga, yang ibunya sebagai TKW ke luar negeri ditinjau dari pendekatan pendidikan, pshikologi, sosiologi dan hukum Islam. Serta penelitian ini akan menganalisis akibat-akibat apa saja yang dialami bagi anak dan suami seorang TKW. Adapun beberapa faktor yang terjadi pada TKW dapat dilihat dari dua faktor.Pertama faktor interen yaitu kesulitan yang dihadapi dari diri TKW sendiri sewaktu bekerja di luar negeri. Kedua Faktor eksteren yaitu terabaikannya tanggung jawab seorang ibu setelah berada di luar negeri dalam mendidik anak dan memenuhi kewajibannya sebagai istri. Sehingga dengan kedua faktor ini akan ditemukan teori dan solusi dalam mengatasi problema-problema tersebut. Khususnya lagi dalam memberikan solusi terhadap problema eksteren.

F. Penelitian Pendahuluan

15 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung : Alfabeta, 2009), h. 212.

16 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 118.

(14)

1. Dalam penulisan rencana disertasi ini pada penelitian pendahuluan, penulis melakukan observasi, mengumpul data dan mencari informan dari beberapa orang TKW, khususnya TKW yang telah berkeluarga dan mempunyai anak, dengan mewawancarai mereka, “ternyata alasan mereka untuk menjadi TKW adalah karena kesulitan ekonomi”. Sehingga mereka terpaksa untuk meninggalkan anak dan suami.

2. Penulis mengidentifikasi beberapa tulisan berupa makalah, jurnal dan disertasi yang membahas tentang pendidikan keluarga, khususnya pembahasan dalam keluarga TKW. Namun sejauh yang penulis ketahui, bahwa pembahasan yang sudah ada adalah beberapa kajian yang membahas tentang pendidikan keluarga secara umum, bukan pembahasan dalam bidang problematika pendidikan keluarga pada TKW.

Adapun beberapa tulisan yang telah penulis temukan antara lain :

a. Tulisan dari : Ramadan lubis, dengan judul : Materi Pendidikan Islam dalam Keluarga ditulis dalam Jurnal Pendidikan anak Usia Dini Vol. 2 No.2 Juli-Desember 2014. Diterbitkan oleh IAIN Press, Sumatera Utara.

b. Heri Jauhari Muchtar, dengan tema : Pendidikan Keluarga dalam bukunya Fikih Pendidikan, diterbitkan oleh Remaja Rosdakarya Bandung, 2005.

G.Unit Analisis

Adapun objek penulisan disertasi ini adalah sebagai berikut :

1. Penulis mengamati beberapa kejadian yang dialami beberapa orang TKW. 2. Penulis mengadakan observasi dan wawancara dengan TKW tentang problema

yang mereka alami dalam pendidikan keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004).

Arabic Magazine Halo Indonesia, Edisi : 107, Maret-April 2014.

Daradjat Zakiah dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011).

(15)

http.www.com. Kendala-kendala Pengiriman TKE ke luar negeri.

Jauhari Muchtar Heri, Fikih Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005).

Majalah Gontor Edisi Rajab-Sya’ban 1436/Mei 2015.

Majalah Gontor, Edisi Dzulhijjah-Muharram, 1434/November, 2013.

Rahman an-Nahlawi Abdur, Pendidikan Islam Di Rumah, sekolah dan Masyarakat, (Jakarta : Gema Insani Press, 1995).

Robert K. Yin, Studi Kasus Desain & Metode, (Jakarta : Rajawali Pers, 2014).

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung : Alfabeta, 2009).

Sulaiman Wahbi, Al-Mar’atu al- Muslimah, terj. Sosok Wanita Muslim, (Jakarta : Trigenda Karya, 1990).

Suprayogo Imam, Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an, (Malang : UIN Malang Press, 2004).

Tafsir. A, dkk, Cakrawala Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung : Mimbar Pustaka, 2004).

UU RI NO. 39 Tahun 2004 dan PERPRES RI Tahun 2011 Tentang TKI di Luar Negeri, (Bandung : Citra Umbara, 2012).

Zuchdi Darmiyati, Humanisasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009).

Referensi

Dokumen terkait

Kebutuhan keluarga ibu Gusti Nyoman Suriadi tidak dapat dipenuhinya sendiri. karena beliau sudah tidak mampu lagi bekerja untuk mendapatkan

Masalah ekonomi yang dihadapi oleh keluarga Ibu Ni Ketut Renti adalah beliau tidak memperoleh pendapatan karena beliau sudah tidak mampu bekerja.. Dana yang beliau pakai

DAMPAK IBU BEKERJA SEBAGAI TENAGA KERJA WANITA (TKW) DI LUAR NEGERI TERHADAP BERUBAHNYA FUNGSI DAN PERAN ANGGOTA KELUARGA. Universitas Pendidikan Indonesia

4 Ibu tidak mendapatkan informasi dari anggota keluarga (suami, orang tua, mertua, dan saudara) tentang masalah kesehatan yang dapat terjadi jika anak tidak mendapatkan

Pada penelitian ini sebagian kecil ibu yang terdeteksi HIV tidak mendapatkan dukungan baik dari pasangan maupun anggota keluarga yang lain setelah mengetahui status ibu

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Ibu sebagai Orang Tua Tunggal ... Macam-macam Ibu sebagai Orang Tua Tunggal ... Peran Ibu dalam Keluarga.... Sikap Ideal Keluarga Single

Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, 2019. Latar belakang penelitian ini adalah dalam perkembangan pendidikan anak sangat diperlukan peran dari keluarga

Pasien hipertensi yang tidak mendapatkan dukungan keluarga dapat menjadikan sulitnya pasien untuk selalu mejaga dalam perawatan hipertensi secara baik.9 Dukungan keluarga dan peran