PERKEMBANGAN FILSAFAT BARAT DAN ILMU PENGETAHUAN SERTA HUBUNGAN KEDUANYA
oleh
Danang S, Heda W.R, Fajarini L, Zainal A
A. Filsafat Ilmu dan Sejarah Pemikiran Filsuf Barat
Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia yang diturunkan dari kata kerja filosofein, yang berarti: mencintai kebijaksanaan (Hadiwijono, 1980). Dalam hal ini pengertian tersebut merujuk pada usaha untuk mencari sebuah kebijaksanaan atau kebenaran. Sehingga dapat dirumuskan definisi dari filsafat menurut Hadiwijono (1980) adalah usaha manusia dengan akalnya untuk memperoleh suatu pandangan dunia dan hidup yang dapat memuaskan hati. Filsafat juga dapat didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan manusia yang diperoleh melalui proses berpikir yang sangat logis.
Dalam mencari sebuah kebenaran tentunya orang saling mengoreksi agar diperoleh kebenaran sejati. Terdapat tiga jenis kebenaran yang menjadi tolak ukur untuk mengetahui kebenaran pengetahuan manusia, yaitu koherensi, korespondensi, dan pragmatis. Koherensi merupakan pengetahuan dinyatakan benar jika terdapat pernyataan-pernyataan sebelumnya yang mendukung kebenaran tersebut. Korespondensi merupakan pengetahuan dinyatakan benar jika sesuai denga fakta yang ada. Sedangkan kebenaran pragmatis merupakan jenis kebenaran yang dapat diukur kegunaan dari pengetahuan itu (Abidin, 2012).
Pemikiran filsafat yang sekarang ini diterapkan tentu saja tidak langsung muncul dengan sendirinya, ada tokoh-tokoh yang mempelopori adanya suatu pemikiran filsafat. Awalnya pemikiran filsafati berasal dari pemikiran orang-orang Barat yang tentunya pada masa itu sudah memiliki peradaban yang maju, seperti peradaban Yunani Kuno. Berikut adalah pembabakan lahirnya pemikiran filsafati Barat:
Periode Pra-Socrates
maupun manusia. Pada masyarakat Yunani kuno awal percaya akan mite-mite yang sedang berkembang pada saat itu, mite-mite tersebut berfungsi sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai teka-teki atau misteri alam semesta dan kejidupan yang dialami langsung oleh masyarakat Yunani pada saat itu (Abidin, 2012). Hingga akhirnya diyakini dan dipercaya bahwa alam dengan gejala-gejalanya itu ada yang mengatur, sehingga terciptanya kepercayaan terhadap dewa-dewa. Dalam mempertanyakan mengenai asal-usul alam ini juga melahirkan filsafat alam, yang dipelopori oleh Thales (624-546 SM), Anaximandros (610-564 SM), Anaximenes (585-528 SM), dan filsuf-filsuf lainnya.
Periode Socrates, Plato, dan Aristoteles
Kemudian pemikiran masyarakat Yunani Kuno berkembang lagi dengan munculnya tokoh Socrates (470-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322SM). Tokoh-tokoh ini lahir pada zaman para sofis hidup dan dibesarkan diantara mereka. Kaum sofis ini adalah suatu kaum intelek Yunani pada masa itu. Ajaran kaum sofis ini berbeda dengan para filsuf sebelumnya, mereka tidak terlalu tertarik pada filsafat alam, mereka lebih tertarik pada hal-hal yang lebih konkret seperti makna hidup manusia, moral, norma, dan politik. Hal-hal inilah yang dianggap perlu diajarkan paa generasi muda dan dikembangkan untuk kelangsungan negara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fokus pemikiran mereka terarah pada manusia, yaitu mereka yakin bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya. Cara mengajarkan ajarannya para sofis berkeliling dari kota ke kota dengan menarik upah kepada yang diajarkan, dan memberikan penjelasan yang harus dipercaya. Kebenaran dan moralitas yang dibuat oleh mereka bersifat relatif dan hanya subjektif.
negarawan. Jika seorang berbicara tentang kebaikan dan keadilan, maka ia kemudian bertanya apa adil dan baik itu? Dengan itu ia mengaku tidak menyampaikan pengetahuan, melainkan dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaannya ia dapat melahirkan pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain agar keluar dalam bentuk ide-ide (Abidin, 2012).
Model mencari kebenaran dengan cara berdialog atau tanya jawab tersebut, tercapai pula tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Oleh karena itu Socrates mengatakan bahwa budi adalah tahu, maksudnya budi-baik timbul dengan pengetahuan. Budi ialah tahu, adalah inti sari dari ajaran etika Socrates. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbuat baik. Paham etikanya ini merupakan kelanjutan dari metodenya. Siapa yang mengetahui hukum, mestilah bertindak sesuai dengan pengetahuannya. Apa yang pada hakekatnya baik, adalah juga baik untuk siapa pun. Oleh karena itu, menuju kebaikan adalah yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup.
Tokoh selanjutnya adalah Plato (427-347 SM), ia merupakan murid Socrates. Intisari pemikiran filsafat Plato adalah pendapatnya tentang Idea. Konsep ‘pengertian’ yang dikemukakan Sokrates diperdalam oleh Plato menjadi idea. Idea itu berbeda sekali dengan ‘pendapat orang-orang’. Berlakunya idea itu tidak bergantung kepada pandangan dan pendapat orang banyak. Idea timbul semata-mata dari kecerdasan berpikir.’Pengertian’ yang dicari dengan pikiran adalah idea. Idea pada hakekatnya sudah ada.
Plato juga menyatakan konsep Negara Ideal. Negara yang ideal harus berdasar pada keadilan. Keadilan adalah hubungan antara orang-orang yang bergantung pada suatu organisasi sosial’. Sebab itu masalah keadilan dapat dipelajari dari struktur masyarakat. Oleh karena struktur masyarakat bergantung kepada kelakuan manusia, maka kelakuan manusia itulah yang harus dibangun dan dibentuk melalui pendidikan. Negara, menurut Plato adalah manusia dalam ukuran besar. Kita tidak dapat mengharapkan negara menjadi baik, apabila kelakuan warga negara tidak bertambah baik.
penjaga atau pembantu dalam urusan negara. Golongan ini bertugas untuk mempertahankan negara dari serangan musuh, dan menjamin peraturan dapat berlaku dalam kehidupan masyarakat. (3) Golongan pemerintah atau filosof. Mereka terpilih dari yang paling cakap dan terbaik dari kelas penjaga, setelah menempuh pendidikan dan latihan special untuk tugas tertentu. Tugas mereka adalah membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaannya.
Tokoh berikutnya adalah Aristoteles, yang merupakan murid kesayangan Plato. Aritoteles di kenal dengan bapak Logika. Logika merupakan cara berpikir secara teratur menurut urutan yang tepat atau berdasarkan hubungan sebab dan akibat. Intisari dari ajaran logikanya adalah silogistik, yang berarti menarik kesimpulan dari pernyataan yang umum atas hal yang khusus. Aristoteles membagi logika dalam tiga bagian, yaitu mempertimbangkan, menarik kesimpulan, dan membuktikan atau menerangkan. Suatu pertimbangan itu ‘benar’, apabila isi pertimbangan itu sepadan dengan keadaan yang nyata. Pandangan ini sepadan dengan pendapat Sokrates yang menyatakan bahwa ‘buah pikiran yang dikeluarkan itu adalah gambaran dari keadaan yang objektif. Melalui cara berpikir inilah Aristoteles mengembangkan sejumlah kajian yang menjadi cikal-bakal sejumlah ilmu pengetahuan modern.
Aristoteles juga menyatakan tiga bentuk negara. Pertama, monarki atau basilea. Kedua, aristokrasi, yaitu pemerintahan oleh orang-orang yang sedikit jumlahnya. Ketiga, Politea atau timokrasi, yaitu pemerintahan berdasarkan kekuasaan keseluruhan rakyat. Dalam istilah sekarang disebut demokrasi. Dari tiga bentuk negara tersebut, yang terbaik menurutnya adalah kombinasi antara aristokrasi dan demokrasi.
Periode Abad Pertengahan
2012). Sehingga Copernicus menahan dirinya untuk tidak memublikasikan temuannya tersebut.
Periode Modern
Filsafat Modern (1600-1900 M) berawal dari gerakan Renaissance dan Humanisme di Eropa Barat yang terjadi pada pertengahan abad 14-17 M. Gerakan ini merupakan reaksi atas kekuasaan gereja. Menurut gerakan ini, manusia pada prinsipnya merupakan pusat dari alam semesta, sehingga memiliki kebebasan untuk mencari kebenarannya sendiri, bukan bersandar pada ajaran yang telah diberikan oleh gereja dan agama (Abidin, 2012). Pemikiran-pemikiran filosofi Yunani kuno, yang selama ini “disembunyikan” dan dimonopoli oleh kalangan elit gereja, kembali dipelajari. Kemunculan era renaisans, tidak terlepas dari sumbangan para filosof Islam, yang menerjemahkan pemikiran Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Dan terjemahan inilah yang dipelajari oleh filosof barat yang akhirnya melahirkan gerakan reformasi, era renaisans. Tokoh yang melopori filsafat modern ini sangat banyak, diantaranya ada Hegel dan Marx.
Aliran-aliran filsafat yang muncul pada zaman modern yaitu sebagai berikut: a. Humanisme
Humanisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Humanisme telah muncul pada masa Yunani kuno. Sejak zaman dahulu manusia telah menginginkan adanya aturan untuk mengatur manusia. Tujuanya ialah agar manusia itu hidup teratur. Hidup teratur itu sudah menjadi kebutuhan manusia sejak dahulu. Untuk menjamin tegaknya kehidupan yang tertur itu diperlukan aturan. Manusia juga perlu aturan untuk mengatur alam. Pengalaman manusia menunjukan bila alam tidak diatur maka alam itu akan menyulitkan kehidupan manusia. Sementara itu manusia tidak mau dipersulit oleh alam. Bahkan sebailiknya kalau dapat manusia ingin alam itu mempermudah kehidupannya. Karena itu harus ada aturan untuk mengatur alam.
berdasarkan agama atau mitos, maka akan sulit sekali mengahasilkan aturan yang disepakati. Sumarna (2008) mengatakan bahwa ‘Penyebab yang pertama mitos itu tidak mencakupi untuk dijadikan sumber membuat aturan untuk mengatur manusia, dan yang kedua, mitos itu amat tidak mencukupi untuk dijadikan sumber membuat aturan untuk mengatur alam”. Kalau berdasarkan agama semua agama menyatakan bahwa dirinya benar, yang lain salah.
Jadi, seandainya aturan itu dibuat berdasarkan agama banyak orang yang menolaknya padahal aturan itu seharusnya di sepakati oleh semua orang. Menurut mereka aturan itu harus dibuat berdasarkan dan bersumber pada suatu yang ada pada manusia. Alat itu ialah akal. Akala di anggap mampu dan akal pada setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama. Aturan itu ialah logika alami yang ada pada akal setiap manusia. Akal itulah alat dan sumber yang paling dapat disepakati. Maka humanisme melahirkan rasionalisme.
b. Rasionalisme
Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pecari dan pengukur pengetahuan. Surjasumantri (2009) mengatakan bahwa “Rasionalisme adalah proses memahami sebagai jalan menuju kebenaran”. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula. Dicari dengan akal ialah dicari dengan berpikir logis. Diukur dengan akal artinya di uji apakah temuan itu logis atau tidak. Bila logis benar; bila tidak, salah. Dengan akal itulah aturan untuk mengatur manusia dan alam itu dibuat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersember pada akal. Dalam proses pembuatan aturan itu ternyata temuan akal sering kali bertentangan. Kata seorang ini logis, tapi kata orang lain itu logis juga padahal ini dan itu tidak sama dan kadang-kadang bertentangan. Berpikir logis tidak menjamin diperolehnya kebenaran yang di sepakati, dengan demikian perlu di perlukan alat bantu. Alat bantu tersebut adalah empirisme.
c. Empirisme
ini belum operasional dan belum terukur sehingga memperlukan alat lain. Alat lain yang digunakan adalah Positivisme.
Empirisme merupakan aliran yang di anut oleh pemikir Inggris yang mengikuti jejak Francis Bacon. Tokoh pertama Inggris yang mengikuti aliran empirisme adalah Thomas Hobbes (1588-1679) yang mempunyi perbedaan dengan Francis Bacon. Pada Fancis Bacon terletak pada bidang metode penelitian, bukan pada doktrin atau ajaran. Dalam bukunya Hadiwijono (1980) “Hobbes menyusun sesuatu sistem yang lengkap yang berdasarkan pada empirisme secara konsekuen akan tetapi dipersatukan dengan rasionalisme matematis dalam bentuk suatu filsafat materialistis dengan konsekuen terhadap zaman modern”. Menurut Hobbes ini filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum yang dikarenakan filsafat yaitu ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat atau penampakan-penampakan yang demikian dengan diperoleh melalui merasionalkan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya. Sasaran dari filsafat adalah fakta-fakta yang diamati sedangkan maksudnya yaitu mencari penyababnya, dengan alat yang berupa pengertian yang di ungkapkan melalui kata-kata yang meggambaranfakta tersebut.
Dalam pengamatan fakta dipaparkan dalam bentuk pengertian yang terdapat dalam kesadaran manusia, yang dihasilkan melalui perantara pengertian ruang, waktu, bilangan serta gerak dengan mengamati benda-benda yang bergerak. Dalam bukunya Hadiwijono (1980) Hobbes menyatakan, “tidak semua yang di amati pada benda itu nyata kareana yang danggab benar-benar nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil bend a itu sendiri.Sehingga segala yang ada ditentukan oleh sebab dengan hukum yang sesui dengan ilmu pasti dan ilmu alam”. Dunia merupakan keseluruhan seban-akibat termasuk juga situasi kesadaran manusia yang ada didalamnya.
yang disebabkan oleh keharusan. Segala sesuatu yang terjadi peda manusia dapat diterangkan dengan cara yang sama seperti menerangkan kejadian-kejadia alamiah.
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pengenalan atau pengetahuan diperoleh dari pengalaman. Pengalaman merupakan awal dari pengetahuan juga tentang pengetahuan asas-asas yang di peroleh yang di kuatkan oleh pengalaman. Segala ilmu pengetahuan di turunkan dari pengalaman, sehingga hanya pengalaman yang memberi jaminan kepastian. Pengenalan dengan menggunakan akal dapat mewujudkan suatu proses penjumlahan dan pengurangan. Pengenalan dengan akal ini dimulai dengan menggunakan kata (pengertian-pengertian). Yang di katakan dengan pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas segala pengamatan, yang disimpan dalam ingatan serta digabungkan dengan suatu pengharapan terhadap masa depan. Pengamatan inderawi terjadi karena adanya gerak benda, sedankan sarana yang di amatai yaitu sifat-sifat inderawi. Pengindraan ini terjadi karena tekanan obyek atau sarana.
Ajaran Hobbes tentang negara lebih modern dibandingkan dengan teori tentang negara yang telah ada terlebih dahulu. Menurut Hobbes semua perilaku manusia itu sama, setiap manusia ingin mempertahakan dirinya sendiri. Thomas hobbes merupakan seorang empiris yang kagum terhadap metode matematika, yang berupa matematika murni beserta penerapannya.
Abidin (2012) mengatakan bahwa “ dalam karya utama Hobbes menuliskan bahwa tingkah laku manusia pada dasarnya sejalan dengan hukum alam”. Selain itu dalam bukunya Abidin (2012) Hobbes juga menjelaskan bahwa “ manusia pada dasarnya adalah serigala bagi serigala lainnya kareana selalu mempunyai kecenderungan untuk menerkam, bersaing dan berperang”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa manusia selama hidupnya di penuhi dengan persaingan , Hobbes juga menjamin teori dari Newton yang menjelaskan tentang hukum gerak pertama. Hukum gerak ini menyatakan bahwa benda-benda akan bergerak secara tetap kecuali memperoleh gaya dari luar. Dengan demikian pemikiran Hobbes mengenai ilmu pengetahuan bersal dari pengalaman yang diturunkan.
d. Positivisme
positivisme. Ukuran-ukuran yang operasional, dan kuantitatif tidak memungkinkan adanya perbedaan pendapat, karena aturan untuk mengatur manusia serta turan untuk mengattur alam yang kita miliki sekarang bersifat pasti dan rinci atau dapat dikatakan telah operasional. Sehingga positivisme telah dapat disetujui untuk usaha membuat aturan yang mengatur manusia dan mengatur alam. Akan tetapi untuk mengetahui caranya diperlukan alat lain yang di sebut dengan metode ilmiah, sedangkan pada metode ilmiah ini hanya mengulang ajaran positivisme yang sudah ada, akan tetapi lebih operasional. Dengan menggunakan rumus logico-hypothetico-verificartif seperti yan terdapat dalam Tafsir (2007) yang mengatakan bahwa “metode Ilmiah mengatakan, untuk memperoleh pengetahuan pengetahuan yang benar lakukan langkah sebagai berikut: Logico-hypothetico-verificartif”. Sehingga lankah awal yang harus di lakukan adalah pertama dengan membuktikan bahwa itu logis, kemudian membuat hipotesis yang didasarkn pada logika, setelah itu dilakukan pembuktian hipotesis secara empiris.
Filsafat yang disebut dengan positivisme berasal dari apa yang diketahui, faktual, dan positif. Positivisme membatasi filsafat serta ilmu pengetahuan terhadap bidang gejala-gejala. Manusia harus berusaha menentukan syarat-syarat agar sebuah fakta-fakta tertentu dapat tampil, selain itu juga menghubungkan fakta-fakta menurut persamaannya serta urutannya. Menurut Hadiwijono (1980) “hubungan yang tetap yang tampak dalam persamaan itu disebut ‘pengertian’; sedangkan hubungan -hubungan yang tetap yang tampak pada urutannya disebut hukum-hukum”. Sehingga hubugan dalam fakta-fakta jika dikatkan maka akan mempunyai perbedaan dalam makna. Persamaan anatara positivisme dan empirisme yaitu sama-sama mengutamakan pengalaman, hal ini tamak seperti yang terjadi di Inggris. Sedangkan pada perbedaannya positivisme dibatasi pada pengalaman-pengalaman obyektif, sedangkan empirisme juga menerima pengalaman-pengalaman yang subyektif.
perubahan dewa dengan kkeuatan yang abstrak. Pada zaman ke tiga yaitu zaman positif dengan manusia yang berusaha untuk menemukan kesamaan serta urutan yang terdapat dalam fakta-fakta yang telah dikenal, yang diamati menggunakan akal.
Pada ilmu pengetahuan menurut Hadiwijono (1980) bahwa “pengaturan ilmu pengetahuan yang berarti harus disesuaikan dengan pembagian gejala-gejala atau penampakan-penampakan yang dipelajari oleh ilmu tersebut”. Sehingga pengelompokan terjadi dalam ilmu pengetahuan, pengelomkokan ini atas dasar pada tingkatan sifat tunggal atau tingkat sifat umum yaitu gejala yang paling sederhana, karena tidak mempunyai kehususan hal-hal yang tersendiri. Comte dalam bukunya Hadiwijono (1980) “membagi-bagikan segala gejala pertama dalam gejala yang terdapat dalam dengan semua organis”. Semua yang organis dapat di pelajari, jika telah diketahui sebab pada makhluk hidup terdapat proses mekanis serta kimiawi yang berasal dari alam anorganis, selain itu juga terdapat hal-hal lain yang lebih. Pada ajaran ini di bagi menjadi dua bagian yaitu astronomi dan fisika serta kimia.
Sedangkan pada ajaran organis juga di bagi menjadi dua yaitu proses yang berlangsung pada individu dan proses yang berlangsung dalam jenisnya yang lebih rumit. Comte kemudian menyusun ilmu pengetahuanyang berupa ilmu sosial atau sosiologi yang kemudian menjadi puncak dari bangunan ilmu pengetahuan. Dalam bukunya Harun (1980) comte mengatakan bahwa “ilmu pasti adalah dasar segala filsafat”. Sehinga Comte setuju dengan Descrates serta Newton yang dikarenakan ilmu pasti mempunyai dalil-dalil yang bersifat umum yang paling sederhana serta abstrak, dn ilmu yang paling bebas. Sehingga dalam sistem Comete ini Psikologi tidak mempunyai tempat. Sehingga dengan adany apertimbangan-pertimbangan tersebut ilmu pengetahuan yaitu: ilmu pasti, astronomi, fisika, kimia, biologi dan sosiologi.
B. Ilmu pengetahuan dan Dasar-dasarnya
bahwa “semakin lama kita berinteraksi tentang ilmu pengetahuan makin sadarlah kita tentang tempat sentral ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia.”
Ilmu pengetahuan ini muncul karena terjadinya gejala-gejala yang ingin diketahui oleh manusia, ilmu pengetahuan ini bersifat metodis, sistematis dan logis. Metodis merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan cara yang terperinci, yang telah di tentukan sebelumnya. Sedangkan sistematis merupakan suatau keseluruhan yang mandiri dan berasal dari hal-hal yang saling berkaitan atau berhubungan untuk dapat sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Logis yaitu antara pernytaan-pernyataan yang satu dengan yang lainnya memiliki hubungan yang rasional sehingga dapat di tarik kesimpulan yang rasional.
Ilmu pengetahuan di dalam bahasa Inggris disebut dengan science, dalam bahasa Yunani disebut dengan episteme (Akhadiah & Listyasari, 2011) sejalan dengan pernyataan berikut, Brubacher (dalam Syam, 2006) mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah science. Selain Brubacher, Syam (2006) juga menyebutkan banyak pengertian mengenai ilmu pengetahuan ini. Adapun pengertian dari ilmu pengetahuan ini adalah sebagai berikut:
1. Semua yang telah diamati ataupun dimengerti oleh jiwa lewat belajar sehingga menjadi jelas (Webster’s New World Dictionary);
2. Suatu kesadaran penuh dan terbukti dari suatu kebenaran mengenai sesuatu: bersifat praktis, sesuatu kenyataan yang teratur, tersusun tentang apapun yang secara definitif dapat diterima sebagai realita (American Peoples Encyclopedia).
Sehingga berdasarkan hal tersebut ilmu pengetahuan merupakan semua hal-hal yang telah diamati dengan kesadaran penuh serta kebenarannya terbukti atau bisa dibuktikan secara empiris yang telah diterapkan oleh manusia.
Ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia menurut kodratnya mempunyai tugas untuk memberikan manusia sebanyak mungkin kejelasan tentang dirinya (Melsen, 1985). Tentu saja untuk mencapai kejelasan dari ilmu pengetahuan ini manusia diharuskan melalui sebuah proses. Proses ini berkaitan dengan hal-hal yang ilmiah di mana menurut Berling, Kwee, dan Peursen (1990) merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengapa suatu hal itu bisa terjadi ataupun berlangsung. Serta proses yang lainnya adalah empiris, sehingga tidak semua yang kita ketahui bisa di sebut dengan ilmu pengetahuan.
Supaya suatu hal tersebut bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan, maka hal tersebut memerlukan syarat supaya bisa dikatakan sebagai ilmu pengetahuan. Sehingga di sini suatu pengetahuan bisa di sebut sebagai ilmu pengetahuan jika telah memenuhi syarat-syarat dari ilmu pengetahuan ini. Adapun menurut Semiawan & Listyasari (2011) syarat-syarat dari ilmu pengetahuan ini adalah dasar pembenaran, sifat sistematik, dan sifat intersubjektif.
1. Dasar pembenaran
Ilmu pengetahuan ini benar asalkan rasional dan empiris (Tafsir, 2007). Dasar pembenaran mengharuskan seluruh cara kerja ilmiah diarahkan untuk memperoleh derajat kepastian yang setinggi mungkin pada pengetahuan yang dihasilkan (Semiawan & Listyasari (2011). Ada tahapan ataupun tingkatan dari pengetahuan tersebut sebelum menjadi ilmu pengetahuan. Pertama, pemahaman mengenai pembenaran yang akan diuji harus dapat dibenarkan secara a priori, di mana hal tersebut berasal dari pengalaman empirik. Kedua cara pengujian tersebut harus memiliki dasar pembenaran yang sudah teruji, sehingga hal tersebut bersifat ilmiah. Ketiga, setelah hal tersebut teruji secara ilmiah dan rasional maka bisa disebut sebagai a posteriori.
2. Sifat sistematik
3. Sifat intersubjektif
Seperti halnya yang dikatakan oleh Akhadiah & Listyasari (2011) bahwa sebuah ilmu menghendaki validasi dan verifikasi atas semua keyakinan subjektif seseorang. Intersubjektif dalam ilmu pengetahuan ini berarti ilmu pengetahuan yang telah diperoleh seorang subjek harus mengalami verifikasi oleh subjek-subjek yang lain supaya terjamin keabsahannya (Semiawan & Listyasari, 2011). Supaya pengetahuan yang telah diperoleh seorang subjek tersebut menjadi “intersubjektif” maka verifikasi itu diperlukan, yaitu dengan cara penelitian oleh subjek-subjek yang lain secara berulang-ulang. Pada verifikasi ini cara penelitian harus sama, baik dalam metode maupun hasil harus dari penelitian tersebut. Jika metode dan juga hasil menunjukkan hal yang sama (tidak berubah-ubah) maka ilmu pengetahuan tersebut sudah terverifikasi maka intersubjektif dari ilmu pengetahuan tersebut bisa tercapai, sehingga hal tersebut menjadi bersifat universal, dapat dikomunikasikan, dan progresif.
Dalam ilmu pengetahuan terdapat dasar-dasar dari pengetahuan yang bersifat keilmuan yaitu sebagai berikut:
a. Pengalaman
Contoh riil dari pengalaman ini adalah di saat kita merasakan gula, dan rasanya tersebut manis. Maka hal inilah yang menjadikan pengalaman kita bahwa kita akan memiliki pengalaman kalau rasa dari gula itu manis, dan ketika kita mencoba lagi maka kita akan merasakan manis. Pada saat kita mencoba mencoba sesuatu hal dan rasanya tidak manis maka berdasarkan pengalaman yang kita peroleh akan menyimpulkan bahwa apa yang baru dirasakan tersebut bukan gula. Maka dari itulah ilmu pengetahuan salah satu dasarnya adalah pengalaman yang telah terbangun di dalam ingatan kita.
b. Ingatan
Selain pengalaman, pengetahuan juga didasari dengan ingatan. Dalam kedudukannya dalam ilmu pengetahuan, baik pengalaman indrawi maupun ingatan saling mengandaikan, tanpa ingatan pengalaman indrawi tidak akan berkembang menjadi pengetahuan (Sudarminta, 2002). Namun ingatan tidak selalu benar, dan karenanya tidak selalu merupakan suatu bentuk pengetahuan.
Contoh dari ingatan ini tidak jauh berbeda dengan kasus gula yang telah disebutkan di atas. Pada saat kita mencoba gula maka rasanya akan manis, dan itu akan mengendap pada pengalaman kita. Sehingga pada saat kita dihadapkan oleh dua buah benda (gula dan larutan garam misalkan) dengan mata tertutup, maka kita akan bisa mengetahui mana yang larutan gula dan mana yang termasuk larutan garam.
c. Kesaksian
d. Minat dan rasa ingin tahu
Tidak semua pengalaman dapat berkembang menjadi pengetahuan, subjek mengalami sesuatu perlu memiliki minat dan rasa ingi tahu tentang apa yang dialaminya. Maka, hal lai yang mendasari adanya pengetahuan adalah adanya minat dan rasa ingin tahu manusia.
Minat mengarahkan perhatian terhadap hal-hal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan. Sedangkan Rasa ingin tahu mendorong orang untuk bertanya dan melakukan penyelidikan atas apa yang dialami dan menarik minatnya(Sudarminta, 2002).
e. Pikiran dan Penalaran
Untuk dapat memahami dan menjelaskan apa yang dialami, manusia perlu melakukan kegiatan berpikir mengandaikan adanya pikiran. Pengalaman dan rasa ingin tahu manusia sendiri sebenarnya sudah mengandaikan pikiran. Tetapi kegiatan pokok pikiran dalam mencari pengetahuan adalah penalaran. Maka, pikiran dan penalaran merupakan hal yang mendasari dan memungkinkan pengetahuan (Sudarminta, 2002). Penalaran sendiri merupakan proses bagaimana pikiran menarik kesimpulan dari hal-hal yang sebelumnya telah di ketahui. Penalaran bisa berbentuk induksi, deduksi maupun abduksi (Sudarminta, 2002).
f. Logika
Kegiatan penalaran tidak dapat dilakukan lepas dari logika. Tidak sembarang kegiatan berpikir disebut dengan penalran. Penalaran adalah kegiatan berpikir seturut asas kelurusan berpikir atau sesuai dengan hokum logika. Penalaran sebagai kegiatan berpikir logis memang belum menjamin bahwa kesimpulan yang ditarik atau pengetahuan yang dihasilkan pasti benar (Sudarminta, 2002).
g. Bahasa
h. Kebutuhan Hidup Manusia
Dalam interaksinya dengan dunia dan linkungan sosial sekitarnya manusia membutuhkan pengetahuan. Maka, kebutuhan hidup manusia dapat dikatan juga merupakan factor yang mendasari dan mendorong berkembangnya pengetahuan manusia. Dalam artian ini kegiatan mengetahui merupakan bagian hakiki dari cara berada manusia. Buak hanya cara instingtif, tetapi juga cara kreatif sebagai sara yang dibutuhkan untuk hidup, bagi manusia pengetahuan juga merupakan suatu alat, strategi, dan kebijaksanaan manusia dalam beriteraksi dengan dunia dan lingkungan sosial sekitarnya (Sudarminta, 2002).
C. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
2.3.1. Hubungan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Gerard Beekman dalam bukunya (1973) filsafat, para filsuf, berfilsafat menyatakan bahwa filsafat memainkan peranan dalam hubungannya dengan semua ilmu pengetahuan. Filsafat tidak harus mengirim informasi dari sisi ilmu pengetahuan, tapi harus memberikan ilmu pengetahuan. Sebelum Ilmu Pengetahuan lahir, filsafat telah mendasarinya. Sejarah ilmu pengetahuan berasal dan berkembang dari filsafat.Dalam hal ini ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan lanjutan sistem pengetahuan manusia yang telah dihasilkan oleh hasil kerja filsafat kemudian dibukukan secara sistematis dalam bentuk ilmu yang terteoritisasi. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta. Sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu, dari mana awalnya dan akan kemana akhirnya. Berbagai gambaran di atas memperlihatkan bahwa filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu pengetahuan, namun di sisi yang lainnya ia juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan.
Filsafat yang sering disebut sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of science) dapat menjadi pembuka dan sekaligus ilmu pamungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu. Hal ini dikarenakan filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai pencabangan ilmu.
kepentingan perkembangan ilmu itu sendiri, lahir suatu disiplin filsafat untuk mengkaji ilmu pengetahuan, pada apa yang disebut sebagai filsafat pengetahuan, yang kemudian berkembang lagi yang melahirkan salah satu cabang yang disebut sebagai filsafat ilmu.
Beda Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan
Seperti yang telah dijelaskan diatas, filsafat bukanlah sebuah ilmu pengetahuan. Menurut Abidin (2012), filsafat memiliki perbedaan dengan ilmu pengetahuan, diantaranya adalah sebagai berikut:
Pembeda Filsafat Ilmu Pengetahuan
Pertanyaan Inti Apa? (hakikat)
Mengapa? (sebab-akibat yang bersifat pokok) Berapa banyak? (kuantifikasi,
persentase, frekuensi)
Ruang Lingkup Luas, mencakup semua hal yang
memungkinkan untuk dipikirkan
Terbatas pada gejala atau aspek-aspek tertentu, sejauh yang dapat diukur
Metode Logis-rasional Ilmiah, mencakup rasional,
empiris, dan terukur
Kritis (karena berkaitan dengan nilai)
Khusunya dalam IPS: terbatas pada populasi dan “kelas” objek yang diteliti
Antara Benar dan Tepat dalam Ilmu Pengetahuan
Banyak orang yang menganggap bahwa benar dan tepat itu sama, akan tetapi di dalam ilmu pengetahuan kedua hal yang mirip tersebut dibedakan. Kedua hal tersebut adalah dua hal yang berbeda. Karena di dalam ilmu pengetahuan tidak ada yang tepat, karena jika ada “tepat” tersebut maka trial and error tidak akan ada, dan otomatis ilmu pengetahuan tersebut tidak akan berkembang, padahal menurut Semiawan & Listyasari (2011) sifat dari ilmu pengetahuan tersebut adalah progresif atau berkembang.
bahwa sebuah ilmu menghendaki validasi dan verifikasi atas semua keyakinan subjektif seseorang. Sehingga inilah yang disebutkan sebagai sebuah kebenaran, bahwa kebenaran tersebut merupakan hasil dari validasi atau kesepakatan dari para ilmuwan (intersubjektif ).
Sementara itu di dalam ilmu pengetahuan sesuatu yang tepat itu belum ada. Karena apa yang disebut tepat tersebut berada di dalam langkah-langkah dari penemuan ilmu tersebut. Di sinilah perhatian dari seorang peneliti harus di fokuskan, karena menurut Hegel (1956) “tiada sesuatu yang dapat dicapai tanpa perhatian dari pihak pelaku”. Maka di sini dari si pelaku (peneliti) harus bisa meluangkan perhatiannya atas apa yang dia teliti, dan bukan hal yang tidak mungkin ketika pelaku tersebut lengah sedikit saja maka langkah dari peneliti tersebut akan tidak tepat (karena pelaku adalah manusia, dan kesalahan pada manusia itu adalah hal yang pasti). Di sinilah maka akan muncul trial and error.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2012. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: Rajawali Pers.
Akhadiah, S, Listyasari, W.D. 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Beekman, G dan Rivai, RA.. 1973. Filsafat, Para Filsuf, Berfilsafat. Jakarta: Erlangga.
Berling, Kwee, Peursen, M. 1990. Pengantar Filsafat Ilmu. Terjemahan oleh Soejono Soemagono. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya
Hadiwijono, H. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius. _____________.1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius
Hegel, G.W.F. 1956. Filsafat Sejarah G.W.F Hegel. Diterjemahkan oleh Cuk Ananta Wijaya. 2012. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Melsen, A.G.M. 1985. Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita. Terjemahan oleh Dr. K. Bertens. Jakarta: PT Gramedia
Pranaka, A.M.W. 1987. Epistemologi Dasar : Suatu Pengantar. Jakarta: Yayasan Proklamasi CSIS
Semiawan, C.R, Listyasari, W.D. 2011. Spirit Inovasi Dalam Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Indeks
Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar Pengantar Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Kanisius.
Sumarna, C. 2008. Filsafat Ilmu. Bandung:CV. Mulia Press
Surjasumantri. J.S. 2009. Filsafat Ilmu Sebagai Pengantar Populer. Jakarta:Pustaka Sinar Harapan
Syam, N.M. 2006. Filsafat Ilmu. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang