BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pekanbaru merupakan salah satu kota besar yang menjadi tujuan perpindahan penduduk dengan berbagai tujuan, namun salah satu tujuan yang paling besar ialah untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik. Hal itulah yang membuat masyarakat yang tinggal di kota Pekanbaru mau tidak mau harus meningkatkan kemampuan agar tidak kalah saing dari pendatang. Maka dari itulah lembaga-lembaga pendidikan dituntut untuk meningkatkan mutu dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing.
Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya pada bidang desain arsitektur, menuntut calon pendesain untuk memahami dan menyerap perkembangan dan kemajuan teknologi sebagai bekal penunjang dalam kaitannya dengan profesi yang akan dihadapi di masa yang akan datang.
Di Perguruan Tinggi, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan ialah dengan melaksanakan Praktek Profesional. Dalam menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, mahasiswa mendapat pembelajaran mengenai teori-teori serta praktek dari teori tersebut berupa tugas-tugas yang harus dikerjakan. Namun tugas-tugas yang biasanya dikerjakan mahasiswa sangat berbeda dengan keadaan di dunia kerja. Karenanya kebutuhan perkuliahan Praktek Profesional sangat penting untuk mendapatkan bekal dan pengalaman penerapan teori-teori secara langsung di lapangan termasuk segala proses yang harus dilalui dan masalah yang dihadapi. Perkuliahan Praktek Profesional merupakan suatu kegiatan latihan kerja mahasiswa yang terencana dan terstruktur oleh jurusan yang bersifat wajib diikuti oleh semua mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Riau yang telah memenuhi syarat tertentu.
mencari solusi (penyelesaian) berbagai permasalahan yang dihadapi di dalam kasus nyata dalam suatu proyek. Berdasarkan hal tersebut diatas penulis memilih melaksanakan kegiatan Praktek Profesional di perusahaan PT. Holistika Prima Grahita, sebuah perusahaan perencanaan desain dan konsultan.
Pada akhirnya dengan adanya kegiatan mata kuliah Praktek Profesional ini mengharapkan mampu membangun kepekaan dan belajar meningkatkan efektivitas kerja lapangan yang mengarah kepada profesionalitas seorang calon sarjana arsitektur (S1).
1.2 TUJUAN PRAKTEK PROFESIONAL
Praktek Profesional merupakan suatu sistem pembelajaran yang dilakukan di luar Proses Belajar Mengajar dan dilaksanakan pada perusahaan/industri atau instansi dibidang Arsitektur.
Secara umum pelaksanaan program Praktek Profesional ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Mahasiswa di bidang pengalaman lapangan, penyesuaian diri dengan situasi yang sebenarnya, mengumpulkan informasi dan menulis laporan yang berkaitan langsung dengan tujuan khusus.
Setelah siswa melaksanakan program Praktek Profesional secara khusus mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman yang mencakup tinjauan tentang perusahaan, dan kegiatan-kegiatan praktek yang berhubungan langsung dengan bidangnya. Dan mempersiapkan para Mahasiswa untuk belajar bekerja secara mandiri, bekerja dalam suatu tim dan mengembangkan potensi dan keahlian sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Penyelenggaraan Kerja Praktek bagi Mahasiswa bertujuan untuk:
1. Menambah wawasan pengetahuan kepada mahasiswa akan keanekaragaman wilayah profesi arsitektur, sebagai sarana untuk melengkapi pengetahuan praktisi mahasiswa disamping pengetahuan yang bersifat teori.
kerjasama, kualitas kerja, ketepatan waktu dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas.
3. Membangun kepekaan mahasiswa dalam menangkap permasalahan kerja, menganalisis permasalahan, dan menyelesaikan sesuai kondisi dan konteks lingkungan kerja.
1.3 POLA, MODEL, DAN OBJEK PRAKTEK PROFESIONAL
Berdasarkan SOP dan pedoman pelaksanaan MK Praktek Profesional nomor TAS 3641 – 06022012 – 1, bahwa pola Praktek Profesional yang direkomendasikan bagi mahasiswa pada Program Studi Arsitektur Universitas Riau adalah sebagai berikut:
1. Praktek Profesional Perencanaan
Suatu kegiatan Praktek Profesional yang berkaitan dengan proyek perencanaan tata bangunan, kawasan, dan atau lingkungan binaan.
2. Praktek Profesional Perancangan
Suatu kegiatan Praktek Profesional yang berkaitan dengan proyek perancangan arsitektur. Objek Praktek Profesional dapat berupa interior, bangunan, lansekap, dan utilitas bangunan.
3. Praktek Profesional Pelaksanaan
Suatu kegiatan Praktek Profesional yang berkaitan dengan proyek pelaksanaan pembangunan. Objek Praktek Profesional pelaksanaan dapat berupa pembangunan gedung, kawasan, dan atau lingkungan binaan. 4. Praktek Profesional Manajemen Proyek
Adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan pengawasan (monitoring) dan manajemen (konstruksi) proyek perancangan dan pelaksanaan pembangunan gedung, kawasan, dan atau lingkungan binaan.
Sementara untuk model Praktek Profesional berdasarkan SOP dan pedoman pelaksanaan MK Praktek Profesional nomor TAS 3641 – 06022012 – 1, bahwa model Praktek Profesional yang dapat dipilih oleh mahasiswa meliputi: 1. Model 1 : Praktek Konvensional pada Perusahaan
2. Model 2 : Magang Profesional pada Perusahaan
3. Model 3 : Magang Profesional pada Individu Berlisensi Praktek Profesional
4. Model 4 : Magang Mandiri
5. Model 5 : Praktek Profesional Luar Negeri
Tabel 1.1 Tabel Model dan Pola Praktek Profesional
Model 1 Model 2 Model 3 Model 4 Model 5
Pola 1 O O O O
Pola 2 O O O O O
Pola 3 O O O O O
Pola 4 O O O O O
Sumber : SOP dan Pedoman Pelaksanaan MK.Praktek Profesional. 2012
Berdasarkan pilihan terrsebut praktikan menggunakan model praktek profesional 1 (satu), yaitu Praktek Konvensional pada Perusahaan, perusahaan yang bergerak di bidang Rancang bangunan Arsitektur dan berbadan hukum yang jelas.
1.4 NAMA PROYEK
Lingkup pekerjaan yang diusulkan oleh penulis meliputi proses perancangan pada kegiatan PERANCANGAN MARKAS KOMANDO SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KEP. DOMPAK, TANJUNG PINANG. Dalam pekerjaan tim ini penulis mendapat tugas untuk “PERANCANGAN UTILITAS KANTOR MARKAS KOMANDO SATPOL PP”. Penulis dibimbing langsung oleh Bapak Mashuri ST, MSc sebagai Tim Ahli Perancangan PT. Holistika Prima Grahita.
1.5.1 Tempat Praktek Profesional
Praktek profesional dilaksanakan di PT. Prima Grahita yang berada di Jalan Selamat Gg. Makmur No. 6, Pekanbaru.
1.5.2 Waktu Pelaksanaan Praktek Profesional
Waktu untuk melaksanakan Kerja Praktek adalah mulai dari tanggal 29 Januari s/d 15 Februari 2015.
1.5.3 Daftar Hadir
Untuk waktu kehadiran telah disepakati antara kedua belah pihak yakni 8 jam mulai dari pukul 09.00 – 17.00 selama 6 hari kerja.
1.6 SPESIFIKASI PT. HOLISTIKA PRIMA GRAHITA 1.6.1 Data Perusahaan
Nama Perusahaan : PT. HOLISTIKA PRIMA GRAHITA Alamat Kantor : Jl. Selamat Gg. Makmur No. 6, Pekanbaru Telepon : (0761) 26702
HP : 081365798889
Direktur : Roi Soproi, ST
1.6.2 Bidang Usaha
PT. HOLISTIKA PRIMA GRAHITA merupakan perseroan terbatas yang bergerak dalam bidang engineering servis, design, dan consultant.
1.7 SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN PRAKTEK PROFESIONAL
Penulisan Laporan Praktek Profesional terdiri atas V (lima) bab dengan perincian sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
tempat Praktek Profesional, Badan Hukum Perusahaan dan Sistematika Penulisan Laporan Kerja Praktek
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada Bab ini membahas tinjauan pustaka yang berhubungan dengan judul proyek yakni Kawasan Edukasi dan Kreatifitas Mahasiswa Universitas Riau.
BAB III PENJELASAN FAKTA LAPANGAN
Pada Bab ini membahas deskripsi umum proyek yang terdiri dari latar belakang proyek, tahap pelaksanaan proyek.
BAB IV PEMECAHAN MASALAH
Bab ini membahas cara pengatasan permasalahan yang disesuaikan dengan fakta di lapangan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA 2.1.1 Bangunan Gedung
Yang dimaksud dengan bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat dan kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatan, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus.
2.1.2 Bangunan Gedung Negara
Bangunan Gedung Negara adalah bangunan gedung untuk keperluan dinas yang menjadi/akan menjadi kekayaan milik negara dan diadakan dengan sumber pembiayaan yang berasal dari dana APBN, dan/atau perolehan lainnya yang sah, antara lain seperti: gedung kantor, gedung sekolah, gedung rumah sakit, gudang, rumah negara, dan lain-lain.
2.2 ASAS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA
Pelaksanaan pembangunan bangunan gedung negara berdasarkan azas dan prinsip:
1. kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan serta keserasian /keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya;
2. hemat, tidak berlebihan, efektif dan efisien, serta sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan teknis yang disyaratkan;
2.3 KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG NEGARA BERDASARKAN TINGKAT KOMPLEKSITAS
2.3.1 Bangunan Sederhana
Klasifikasi bangunan sederhana adalah bangunan gedung negara dengan karakter sederhana serta memiliki kompleksitas dan teknologi sederhana. Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama 10 (sepuluh) tahun. Yang termasuk klasifikasi Bangunan Sederhana, antara lain:
gedung kantor yang sudah ada disain prototipenya, atau bangunan gedung kantor dengan jumlah lantai s.d. 2 lantai dengan luas sampai dengan 500 m2;
bangunan rumah dinas tipe C, D, dan E yang tidak bertingkat;
gedung pelayanan kesehatan: puskesmas;
gedung pendidikan tingkat dasar dan/atau lanjutan dengan jumlah lantai s.d. 2 lantai
2.3.2 Bangunan Tidak Sederhana
Klasifikasi bangunan tidak sederhana adalah bangunan gedung negara dengan karakter tidak sederhana serta memiliki kompleksitas dan/atau teknologi tidak sederhana. Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama paling singkat 10 (sepuluh) tahun. Yang termasuk klasifikasi Bangunan Tidak Sederhana, antara lain:
gedung kantor yang belum ada disain prototipenya, atau gedung kantor dengan luas di atas dari 500 m2, atau gedung kantor bertingkat lebih dari 2 lantai;
bangunan rumah dinas tipe A dan B; atau rumah dinas C, D, dan E yang bertingkat lebih dari 2 lantai, rumah negara yang berbentuk rumah susun;
gedung Rumah Sakit Klas A, B, C, dan D;
gedung pendidikan tinggi universitas/akademi; atau gedung pendidikan
dasar/lanjutan bertingkat lebih dari 2 lantai.
2.4.1 Gedung Kantor
Dalam menghitung luas ruang bangunan gedung kantor yang diperlukan, dihitung berdasarkan ketentuan sebagai berikut:
a. Standar luas ruang gedung kantor pemerintah yang termasuk klasifikasi sederhana rata-rata sebesar 9,6 m2 per-personil;
b. Standar luas ruang gedung kantor pemerintah yang termasuk klasifikasi tidak sederhana rata-rata sebesar 10 m2 per-personil;
c. Untuk bangunan gedung kantor yang memerlukan ruang-ruang khusus atau ruang pelayanan masyarakat, kebutuhannya dihitung secara tersendiri (studi kebutuhan ruang) diluar luas ruangan untuk seluruh personil yang akan ditampung.
Kebutuhan total luas gedung kantor dihitung berdasarkan jumlah personil yang akan ditampung dikalikan standar luas sesuai dengan klasifikasi bangunannya. Standar Luas Ruang Kerja Kantor Pemerintah tercantum pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.1. Standar Ruang Luas Gedung Kantor A. Ruang Kerja
B. Ruang Penunjang 1. Ruang Rapat = 40 m2
2. Ruang Studio = 4 m2/ orang (pemakai = 10% dari staf) 3. Ruang Arsip = 0,4 m2/ orang (pemakai = staf)
4. WC = 2 m2/ 25 orang
5. Musholla = 0,8 m2/ orang (pemakai 20% dari personil
2.5 PENGERTIAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja memberikan defenisi yang sama dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Yaitu aparatur pemerintah daerah yang melaksanakan tugas kepala daerah dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum, menegakkan peraturan daerah dan keputusan daerah.
Satuan Polisi Pamong Praja disingkat Satpol PP adalah perangkat Pemerintah Daerah dalam memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah. Organisasi dan tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Wikipedia, 2014).
Satpol PP dapat berkedudukan di Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.
1. Di Daerah Provinsi, Satuan Polisi Pamong Praja dipimpin oleh Kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah
2. Di Daerah Kabupaten/Kota, Satuan Polisi Pamong Praja dipimpin oleh Kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah
Polisi Pamong Praja didirikan di Yogyakarta pada tanggal 3 Maret 1950 dengan moto Praja Wibawa. Polisi Pamong Praja dibentuk untuk mewadahi sebagian tugas pemerintah daerah. Pada tanggal 10 November 1948, lembaga ini berubah menjadi Detasemen Polisi Pamong Praja.
Di Jawa dan Madura Satuan Polisi Pamong Praja dibentuk tanggal 3 Maret 1950. Inilah awal mula terbentuknya Satpol PP sehingga setiap tanggal 3 Maret ditetapkan sebagai Hari Jadi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan diperingati setiap tahun.
2.5.2 Fungsi dan Wewenang Pamong Praja
Pasal 3 Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja menyelenggarakan fungsi yaitu:
1. Penyusunan program dan pelaksanaan ketentraman dan ketertiban umum, penegak Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah
2. Pelaksanaan kebijakan pemeliharaan dan penyelenggarakan kententraman dan ketertiban umum di Daerah.
3. Pelaksanaan kebijakan penegakkan Peraturan Daerah Pelaksanaan kebijakan 4. Pelaksanaan koordinasi pemeliharaan dan penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum serta Penegakan Peraturan Daerah, Keputusan Kepala Daerah dengan aparat Kepolisian Negara, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) penegakkan Peraturan Daerah dan atau wewenang lainnya.
5. Pengawasan terhadap pemerintah agar mematuhi dan mentaati Peraturan Daerah dan Keputusan Daerah
Sedangkan kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2010 adalah:
1. Menertibkan dan menindak warga masyarakat atau badan hukum yang mengganggu ketentraman dan ketertiban umum
3. Melakukan tindakan represif non yustisial terhadap warga masyarakat atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Peraturan Daerah dan keputusan Kepala Daerah.
2.5.3 Tugas Pokok dan Pembagian Divisi
Satuan Polisi Pamong Praja bertugas membantu Kepala daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang Keamanan dan Ketertiban serta menegakkan Peraturan Daerah Kota Surabaya yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah.
Sedangkan fungsi dari Satuan Polisi Pamong Praja adalah:
1. Pelaksanaan kebijakan pemeliharaan dan penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum di daerah;
2. Pelaksanaan pengawasan terhadap Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan atau Keputusan Bupati;
3. Pelaksanaan pembinaan ketentraman dan ketertiban umum sesuai program, pedoman dan petunjuk teknis;
4. Pelaksanaan koordinasi pemeliharaan dan ketertiban umum, menegakkan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan atau Keputusan Bupati dengan Aparat Kepolisian Negara, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan atau aparatur lainnya dalam rangka pelaksanaan penindakan, penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan atau Keputusan Bupati;
5. Pengawasan terhadap masyarakat agar mematuhi dan mentaati Peraturan Daerah dan Keputusan Bupati;
6. Pelaksanaan pengembangan kemampuan organisasi meliputi pembinaan personil, administrasi umum, ketatalaksanaan, sarana dan prasarana satuan kerja Satuan Polisi Pamong Praja;
Adapun pembagian tugas dan divisi serta fungsi dalam struktur Satuan Polisi Pamong Praja adalah sebagai berikut:
1. Kepala Tata Usaha
Kepala tata usaha bertugas pokok melaksanakan sebagian fungsi Satuan di bidang pengelolaan Ketata Usahaaan. Adapun fungsi dari kepa tata usaha adalah:
a) Pelaksanaan koordinasi dalam penyusunan rencana dan program kerja di lingkungan Satuan
b) Pelaksanaan tugas administrasi umum dan administrasi kepegawaian, perlengkapan, keuangan, kearsipan dan kerumahtanggaan
c) Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan 2. Kepala Penyidikan Dan Penindakan
Kepala penyidikan dan penindakan bertugas melaksanakan sebagian fungsi bidang penegakkan Peraturan Daerah dibidang penyidikan dan penindakan, dan berfungsi :
a) Penyiapan bahan perumusan kebijakan dan bimbingan teknis penyidikan dan penindakan;
b) Penyiapan bahan pelaksanaan kegiatan penyidikan dan penindakan; c) Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan kegiatan penyidikan dan
penindakan.
d) Kepala Pengendalian Dan Operasional
Kepala pengendalian dan operasi bertugas melaksanakan sebagian fungsi Satuan di bidang pengendalian dan operasional. Adapun fungsinya adalah: 1. Perumusan kebijakan dan bimbingan teknis di bidang pengendalian dan
operasional;
2. Pelaksanaan dan pengkoordinasian kegiatan di bidang pengendalian dan operasional;
Pengembangan Kapasitas dipimpin oleh seorang kepala pengembangan Kapasitas yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi Satuan di bidang Pengembangan Kapasitas. Adapun fungsinya adalah: 1. Pelaksanaan koordinasi dalam penyusunan rencana dan program kerja di
lingkungan Satuan
2. Pelaksanaan tugas administrasi umum dan administrasi kepegawaian, perlengkapan, keuangan, kearsipan dan kerumahtanggaan
3. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan.
Gambar 2.1: bagan struktur Satpol PP Sumber : Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Utilitas Bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang digunakan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudian kominikasi dan mobilitas dalam bangunan.
Perancangan bangunan arus selalu memperhatikan dan menyertakan fasilitas utilitas yang dikoordinasikan dengan perancangan yang lain, seperti perancangan arsitektur, perancangan struktur, perancangan interior dan perancangan lainnya.
2.7 PENGERTIAN SISTEM PEMIPAAN DAN SANITASI BANGUNAN Sistem pemipaan adalah suatu sistem penyediaan atau pengeluaran air ke tempat-tempat yang dikehendaki tanpa adanya gangguan atau pencemaran terhadap daerah-daerah yang dilaluinya dan dapat memenuhi kebutuhan penghuninya dalam masalah air (Aldy, 2011).
2.7.1 Jenis Peralatan Pemipaan
Pemipaan meliputi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam suatu kompleks perkotaan, perumahan, dan bangunan. Peralatan pemipaan terdiri dari:
a. Peralatan untuk penyediaan air bersih b. Peralatan untuk penyediaan air kotor c. Peralatan untuk penyediaan air kotoran d. Peralatan untuk penyediaan air hujan
Sedangkan persyaratan bahan untuk pemipaan yaitu: 1. Tidak menimbulkan bahaya kesehatan
2. Tidak menimbulkan gangguan suara 3. Tidak menimbulkan bahaya radiasi 4. Tidak merusak perlengkapan bangunan 5. Instalasi harus kuat dan bersih
2.7.2 Sistem Pemipaan
Sistem pemipaan adalah cara untuk mengalirkan air ketempat yang memerlukan. Terdapat 2 cara pengaturan air, yaitu:
1. Sistem Horizontal
Sistem horizontal adalah suatu system pemipaan yang banyak digunakan untuk mengalirka kebutuhan air pada suatu kompleks perumahan atau rumah-rumah tinggal yang tidak bertingkat. Ada dua cara yang dipakai untuk system pemipaan horizontal yaitu sebagai berikut:
a. Pemipaan yang menuju ke satu titik akhir
Keuntungan pemipaan ini adalah pemakaian bahan yang lebih efesien, dan kerugiannnya adalah daya pancar pada titik kran air tidak sama, semakin jauh semakin kecil daya pancarnya.
b. Pemipaan yang melingkar/membentuk ring
Pemipaan ini menuntut penggunaan bahan pipa yang banyak, padahal kekuatan daya pancar air kesemua titik-titik akan menghasilkan air yang sama
2. Sistem Vertikal
Sistem pengaliran/distribusi air bersih dengan system vertical banyak digunakan pada bangunan-bangunan bertingkat tinngi. Cara pendistribusiannya adalah dengan menampung lebih dulu pada tangki air (ground reservoir) yang
terbuat dari beton dengan kapasitas sesuai dengan kebutuhan air pada bangunan tersebut. Kemudian air dialirkan dengan menggunakan pompa untuk langsung ke titik-titik kran yang diperlukan. Sistem ini lebih menguntungkan pada penggunaan pipa, tetapi sering mengalami kesulitan kalau sumber tenaga untuk pompa mengalami pemadaman.
Cara lain dengan menggunakan pompa untuk diteruskan pada tangki di atas bangunan. Kemudian dari tangki dialirkan ke tempat-tempat yang memerlukan, dengan menggunakan system gravitasi/diturunkan secara langsung.
2.7.3 Jaringan Pipa dalam Bangunan Rendah A. Jaringan pipa air bersih
Tediri dari dua pipa yaitu jaringan air bersih untuk air dingin dan jaringan pipa untuk air panas. Kebutuhan air dalam bangunan artinya air yang dipergunakan baik oleh penghuninya ataupun oleh keperluan-keperluan lain yang ada kaitannya dengan fasilitas bangunan. Kebutuhan air didasarkan sebagai berikut:
a) Kebutuhan untuk minum, memasak/dimasak. Untuk keperluan mandi, buang air kecil dan air besar. Untuk mencuci, cuci pakaian, cuci badan, tangan, cuci perlatan dan untuk proses seperti industry
b) Kebutuhan yang sifatnya sirkulasi: air panas, water cooling/AC, kolam renang, air mancur taman
c) Kebutuhan yang sifatnya tetap: air untuk hidran dan air untuk sprinkler Kebutuhan air terhadap bangunan tergantung fungsi kegunaan bangunan dan jumlah penghuninya. Besar kebutuhan air khususnya untuk kebutuhan manusia dihitung rata-rata perorang per hari tergantung dari jenis bangunan yang digunakan untuk kegiatan manusia tersebut.
Tabel 2.2. Kebutuhan air menurut tipe bangunan
Sekolahan ditampung disesuaikan dengan keperluan seluruh penghuni, dihitung per 8 jam. Penyimpanan air bersih dapat disimpan didalam ground resevoir dan tangki air.
Ground Resevoir
Gambar 2.3: ground resevoir Sumber : google
Tangki Air
Tangki air merupakan tempat penampungan air yang diletakkan di atas bangunan. Persyaratan bahan terbuat dari bahan yang ringan seperti fibre glass atau plat-plat yang disusun.
Gambar 2.4: tangki air Sumber : google
B. Jaringan pipa air kotor
a. Air bekas buangan, adalah air yang digunakan untuk mencuci, mandi, dan bermacam-macam penggunaan.
b. Air limbah khusus, adalah air bekas cucian dari kotoran-kotoran dan alat-alat tertentu seperti air bekas dari rumah sakit, laboratorium, restoran, dan pabrik.
Pembuangan dua jenis air ini dapat digabung dan dipisahkan setelah diproses tersendiri. Pipa yang digunakan pada jaringan air kotor ini antara pipa berdiameter 3-6 inchi dengan kemiringan tertentu untuk memudahkan pengaliran air kotor tersebut. Persyaratan pipa pembuangan berbahan PVC atau pipa beton yang diperhitungkan ukurannya. Pembuangan air kotor ini dapat dialirkan ke saluran lingkungan atau saluran kota.
Gambar 2.5: berbagai pipa PVC untuk jaringan air kotor Sumber : google
C. Jaringan pipa air kotoran
Gambar 2.6: potongan septic tank Sumber : google
D. Jaringan pipa air hujan
Air hujan dialirkan ke saluran-saluran tertentu. Air hujan yang jatuh tidak sama yang dialami oleh setiap bangunan, tergantung dari letak dan kondisi bangunan berada. Diperlukan pipa-pipa tersendiri yang dihitung dan diukur dari atap tersebut. Air hujan disalurkan dengan pipa khusus terpisah dari pipa air bekas. Untuk daerah penyerapan air tanahnya yang cukup bagus dibuat penampungan air hujan lalu diresapkan pada tanah.
Gambar 2.7: sumur resapan Sumber : google
Bangunan sumur resapan adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa bak penampungan dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh di atas atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya ke dalam tanah. Beberapa manfaat sumur resapan adalah:
b) Mempertahankan dan meningkatkan tinggi permukaan air tanah.
c) Mengurangi erosi dan sedimentasi
d) Mengurangi / menahan intrusi air laut bagi daerah yang berdekatan dengan kawasan pantai
e) Mencegah penurunan tanah (land subsidance)
f) Mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah.
2.8 SISTEM ELEKTRIKAL
Sistem elektrikal adalah sistem jaringan listrik yang diperlukan oleh suatu bangunan dan mendapat daya dari sumber listrik.
2.3.1 Distribusi Listrik dalam Bangunan
Daya listrik diperoleh dari pemasokan Pembangkit Tenaga Listrik melalui kabel TT (>20.000 volt), TM (1.000-20.000 volt) dan TR (<1000 volt)
a. Distribusi daya listrik melalui kabel bawah tanah b. Distribusi daya listrik melalui kabel udara tiang listrik c. Distribusi daya listrik melalui pelat lantai
2.3.2 Jaringan Listrik dalam Bangunan Rendah
Dalam membuat skematik jaringan dalam bangunan rendah, hal yang harus direncanakan terlebih dahulu adalah:
1. Letak distribusi dari sumber (PLN) yaitu meteran
2. Pembagian panel sehingga terjadi pendistribusian aliran dalam bangunan 3. Menentukan titik lampu, saklar, dan stop kontak.
Tabel 2.3: Estimasi Beban Listrik Suatu Bangunan
(Watt/m2)
Selain untuk memberikan pencahayaan buatan pada ruangan ruangan perlu diperhatikan pencahayaan ditempat-tempat lain, seperti tangga, toilet, ruang AC, panel, gudang, lobby, selasar, halaman dan tempat parker.
2.9 PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN
Utilitas yang berada di dalam dan di luar bangunan gedung negara harus memenuhi SNI yang dipersyaratkan. Spesifikasi teknis utilitas bangunan gedung negara meliputi ketentuan-ketentuan:
A. Air minum
1) Setiap pembangunan baru bangunan gedung negara harus dilengkapi dengan prasarana air minum yang memenuhi standar kualitas, cukup jumlahnya dan disediakan dari saluran air berlangganan kota (PDAM), atau sumur, jumlah kebutuhan minimum 100 lt/orang/hari;
2) Setiap bangunan gedung negara, selain rumah negara (yang bukan dalam bentuk rumah susun), harus menyediakan air minum untuk keperluan pemadaman kebakaran dengan mengikuti ketentuan SNI yang dipersyaratkan, reservoir minimum menyediakan air untuk kebutuhan 45 menit operasi pemadaman api sesuai dengan kebutuhan dan perhitungan; 3) Bahan pipa yang digunakan dan pemasangannya harus mengikuti
ketentuan teknis yang ditetapkan.
B. Pembuangan air kotor
1) Pada dasarnya pembuangan air kotor yang berasal dari dapur, kamar mandi, dan tempat cuci, harus dibuang atau dialirkan ke saluran umum kota;
2) Semua air kotor yang berasal dari dapur, kamar mandi, dan tempat cuci, pembuangannya harus melalui pipa tertutup dan/atau terbuka sesuai dengan persyaratan yang berlaku;
pembuangan air kotor harus dilakukan melalui proses pengolahan mengeluarkan limbah domestik cair atau padat harus dilengkapi dengan tempat penampungan dan pengolahan limbah, sesuai dengan ketentuan; 2) Tempat penampungan dan pengolahan limbah dibuat dari bahan kedap
air, dan memenuhi persyaratan teknis yang berlaku sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan;
3) Ketentuan lebih lanjut mengikuti SNI yang dipersyaratkan.
D. Pembuangan sampah
1) Setiap bangunan gedung negara harus menyediakan tempat sampah dan penampungan sampah sementara yang besarnya disesuaikan dengan volume sampah yang dikeluarkan setiap harinya, sesuai dengan ketentuan, produk sampah minimum 3,0 lt/orang/hari;
2) Tempat penampungan sampah sementara harus dibuat dari bahan kedap air, mempunyai tutup, dan dapat dijangkau secara mudah oleh petugaspembuangan sampah dari Dinas Kebersihan setempat;
3) Gedung negara dengan fungsi tertentu (seperti: rumah sakit, gedung percetakan uang negara) harus dilengkapi incenerator sampah sendiri; 4) Ketentuan lebih lanjut mengikuti SNI yang dipersyaratkan.
E. Saluran air hujan
2) Air hujan dapat dialirkan ke sumur resapan melalui proses peresapan atau cara lain dengan persetujuan instansi teknis yang terkait;
3) Ketentuan lebih lanjut mengikuti SNI yang dipersyaratkan.
F. Sarana pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
Setiap bangunan gedung negara harus mempunyai fasilitas pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam:
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan dan Lingkungan; dan
Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Daerah tentang Penanggulangan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran; beserta standar-standar teknis yang terkait.
G. Instalasi listrik
1) Pemasangan instalasi listrik harus aman dan atas dasar hasil perhitungan yang sesuai dengan Peraturan Umum Instalasi Listrik;
2) Setiap bangunan gedung negara yang dipergunakan untuk kepentingan umum, bangunan khusus, dan gedung kantor tingkat Kementerian/Lembaga, harus memiliki pembangkit listrik darurat sebagai cadangan, yang catudayanya dapat memenuhi kesinambungan pelayanan, berupa genset darurat dengan minimum 40 % daya terpasang; 3) Penggunaan pembangkit tenaga listrik darurat harus memenuhi syarat
keamanan terhadap gangguan dan tidak boleh menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, knalpot diberi sillencer dan dinding rumah genset diberi peredam bunyi.
H. Penerangan dan pencahayaan
bangunan tersebut, sehingga kesehatan dan kenyamanan pengguna bangunan dapat terjamin;
2) Ketentuan teknis dan besaran dari pencahayaan alami dan pencahayaan buatan mengikuti standar dan pedoman teknis yang berlaku.
I. Penghawaan dan pengkondisian udara
1) Setiap bangunan gedung negara harus mempunyai sistem penghawaan/ventilasi alami dan buatan yang cukup untuk menjamin sirkulasi udara yang segar di dalam ruang dan bangunan;
2) Dalam hal tidak dimungkinkan menggunakan system penghawaan atau ventilasi alami, dapat menggunakan sistem penghawaan buatan dan/atau pengkondisian udara dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip konservasi energi;
J. Sarana transportasi dalam bangunan gedung
1) Setiap bangunan gedung negara bertingkat harus dilengkapi dengan sarana transportasi vertikal yang aman, nyaman, berupa tangga, ramp, eskalator, dan/atau elevator (lif);
2) Penempatan, jumlah tangga dan ramp harus memperhatikan fungsi dan luasan bangunan gedung, konstruksinya harus kuat/kokoh, dan sudut kemiringannya tidak boleh melebihi 35°, khusus untuk ramp aksesibilitas kemiringannya tidak boleh melebihi 7°;
4) Penggunaan lif harus diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan, jumlah pengguna, waktu tunggu, dan jumlah lantai bangunan;
5) Pemilihan jenis lif harus mempertimbangkan kemudahan bagi penyandang cacat, lanjut usia dan kebutuhan khusus;
6) Salah satu ruang lif harus menggunakan selubung lif dengan dinding tahan api yang dapat digunakan sebagai lif kebakaran;
7) Ketentuan teknis tangga, ramp, eskalator dan elevator (lif) yang lebih rinci harus mengikuti standar dan pedoman teknis.
K. Sarana komunikasi
1) Pada prinsipnya, setiap bangunan gedung Negara harus dilengkapi dengan sarana komunikasi intern dan ekstern;
2) Penentuan jenis dan jumlah sarana komunikasi harus berdasarkan pada fungsi bangunan dan kewajaran kebutuhan;
3) Ketentuan lebih rinci harus mengikuti standar dan pedoman teknis.
L. Sistem Penangkal/proteksi petir
1) Penentuan jenis dan jumlah sarana system penangkal/proteksi petir untuk bangunan gedung negara harus berdasarkan perhitungan yang mengacu pada lokasi bangunan, fungsi dan kewajaran kebutuhan;
2) Ketentuan teknis sistem penangkal/proteksi petir yang lebih rinci harus mengikuti standar dan pedoman teknis.
M. Instalasi gas
1) Instalasi gas yang dimaksud meliputi:
a. instalasi gas pembakaran seperti gas kota dan gas elpiji;
b. instalasi gas medis, seperti gas oksigen (O2), gas dinitro oksida (N2O), gas carbon dioksida (CO2) dan udara tekan medis.
N. Kebisingan dan getaran
1) Bangunan gedung negara harus memperhitungkan batas tingkat kebisingan dan atau getaran sesuai dengan fungsinya, dengan mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan sesuai diatur dalam standar teknis yang dipersyaratkan;
2) Untuk bangunan gedung negara yang karena fungsinya mensyaratkan baku tingkat kebisingan dan/atau getaran tertentu, agar mengacu pada hasil analisis mengenai dampak lingkungan yang telah dilakukan atau ditetapkan oleh ahli.
O. Aksesibilitas dan fasilitas bagi penyandang cacat dan berkebutuhan khusus
1) Bangunan gedung negara yang berfungsi untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan bagi penyandang cacat dan yang berkebutuhan khusus antara lain lansia, ibu hamil dan menyusui, seperti rambu dan marka, parkir, ram, tangga, lif, kamar mandi dan peturasan, wastafel, jalur pemandu, telepon, dan ruang ibu dan anak;
2) Ketentuan lebih lanjut mengenai aksesibilitas bagi penyandang cacat dan yang berkebutuhan khusus mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Aksesibilitas dan Fasilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
2.10 PERSYARATAN SARANA PENYELAMATAN
Setiap bangunan gedung negara harus dilengkapi dengan sarana penyelamatan dari bencana atau keadaan darurat, serta harus memenuhi persyaratan standar sarana penyelamatan bangunan sesuai SNI yang dipersyaratkan. Spesifikasi teknis sarana penyelamatan bangunan gedung negara meliputi ketentuan-ketentuan:
1) Setiap bangunan gedung negara yang bertingkat lebih dari 3 lantai, harus mempunyai tangga darurat/penyelamatan minimal 2 buah dengan jarak maksimum 45 m (bila menggunakan sprinkler jarak bias 1,5 kali);
2) Tangga darurat/penyelamatan harus dilengkapi dengan pintu tahan api, minimum 2 jam, dengan arah pembukaan ke tangga dan dapat menutup secara otomatis dan dilengkapi fan untuk memberi tekanan positif. Pintu harus dilengkapi dengan lampu dan petunjuk KELUAR atau EXIT yang menyala saat listrik/PLN mati. Lampu exit dipasok dari bateri UPS terpusat;
3) Tangga darurat/penyelamatan yang terletak di dalam bangunan harus dipisahkan dari ruang-ruang lain dengan pintu tahan api dan bebas asap, pencapaian mudah, serta jarak pencapaian maksimum 45 m dan min 9 m; 4) Lebar tangga darurat/penyelamatan minimum adalah 1,20 m;
5) Tangga darurat/penyelamatan tidak boleh berben-tuk tangga melingkar vertikal, exit pada lantai dasar langsung kearah luar;
6) Ketentuan lebih lanjut tentang tangga darurat/penyelamatan mengikuti ketentuan ketentuan yang diatur dalam standar teknis.
B. Pintu darurat
1) Setiap bangunan gedung negara yang bertingkat lebih dari 3 lantai harus dilengkapi dengan pintu darurat minimal 2 buah;
2) Lebar pintu darurat minimum 100 cm, membuka ke arah tangga penyelamatan, kecuali pada lantai dasar membuka kearah luar (halaman); 3) Jarak pintu darurat maksimum dalam radius/jarak capai 25 meter dari
setiap titik posisi orang dalam satu blok bangunan gedung;
4) Ketentuan lebih lanjut tentang pintu darurat mengikuti ketentuan-ketentuan yang diatur dalam standar yang dipersyaratkan.
C. Pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah EXIT
susun), asrama, sekolah, dan tempat ibadah harus dilengkapi dengan pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah KELUAR/EXIT yang menyala saat keadaan darurat;
2) Tanda KELUAR/EXIT atau panah penunjuk arah harus ditempatkan pada persimpangan koridor, jalan ke luar menuju ruang tangga darurat, balkon atau teras, dan pintu menuju tangga darurat;
3) Ketentuan lebih lanjut tentang pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah KELUAR/EXIT yang lebih rinci harus mengikuti standar dan pedoman teknis.
D. Koridor/selasar
1) Lebar koridor bersih minimum 1,80 m;
2) Jarak setiap titik dalam koridor ke pintu darurat atau arah keluar yang terdekat tidak boleh lebih dari 25 m;
3) Koridor harus dilengkapi dengan tanda-tanda penunjuk yang menunjukkan arah ke pintu darurat atau arah keluar;
4) Panjang gang buntu maximum 15 m apabila dilengkapi dengan sprinkler dan 9 m tanpa sprinkler.
E. Sistem Peringatan Bahaya
1) Setiap bangunan gedung negara untuk pelayanan dan kepentingan umum seperti: kantor, pasar, rumah sakit, rumah negara bertingkat (rumah susun), asrama, sekolah, dan tempat ibadah harus dilengkapi dengan sistem komunikasi internal dan sistem peringatan bahaya;
2) Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal tersebut mengacu pada ketentuan SNI yang dipersyaratkan.
F. Fasilitas Penyelamatan
perlindungan saat terjadi bencana mengacu pada ketentuan SNI yang dipersyaratkan Penerapan persyaratan teknis bangunan gedung negara.
Tabel 2.4. Spesifikasi Teknis BGN/Lembaga Pemerintah/Lembaga Tertinggi
Sumber: Pedoman Teknis Pembangunan BGN, 2007
Sumber: Pedoman Teknis Pembangunan BGN, 2007
Sumber: Pedoman Teknis Pembangunan BGN, 2007
BAB III
Lokasi Detail Engineering Design (DED) Markas Komando berada di area perkantoran Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Dompak, Tanjungpinang. 3.1 DESKRIPSI UMUM PROYEK
Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau dengan obyek lokasi Detail Engineering Design (DED) Markas Komando berada di area perkantoran Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Dompak, Tanjungpinang.
Gambar 3.1: Lokasi Penyusunan Detail Engineering Design (DED) Markas Komando berada di area perkantoran Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau
3.2 KONDISI EKSISTING 3.2.1 Site Plan
Beberapa kebutuhan dan bangunan Markas Komando Satuan Polisi Pamong Praja adalah markas komando, gudang penyimpanan peralatan polisi pamong praja, area penyimpanan persediaan air, area penyimpanan mesin genset, lapangan serbaguna (apel,upacara dan latihan fisik), area parkir kendaraan operasional kantor dan kendaraan pribadi, pelabuhan guna mendukung kegiatan patroli di laut, lapangan sepak bola, area taman; dan, tempat pembuangan limbah.
Gambar 3.2: Site Plan
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Gambar 3.3: Site Plan 2
3.2.2 Denah
Gambar 3.4: Denah lantai 1
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Gambar 3.5: Denah lantai 2
Gambar 3.6: Tampak Atas
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
3.2.3 Tampak
Gambar 3.7: Tampak Depan
Gambar 3.8: Tampak Belakang
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Gambar 3.9: Tampak samping kiri
Gambar 3.10: Tampak samping kanan
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
3.2.4 Potongan
Gambar 11: Potongan A
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Gambar 3.11: Potongan B
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
3.2.5 Perspektif/3D perancangan
Perspektif 1
Gambar 3.12: Perspektif Keseluruhan Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Gambar 3.13: Perspektif
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Perspektif 3
Gambar 3.14: Perspektif
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Gambar 3.15: Perspektif
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
3.3 Arsitektur Bangunan
Gambar 4. 1.
Gambar 3.16: Konsep perancangan pada tampilan bangunanMarkas Komando Satuan Polisi Pamong Praja Kepulaun Riau
Parkir Mobil dan Kendaraan operasional Akses Dari laut
Akses Dari Jalan Masuk Keluar
Parkir Motor
Akses Masuk dan keluar dari jalan (Mobil dan kendaraan lainnya)Akses utama bangunanSirkulasi dari arah laut (Hanya bisa untuk jalan kaki) Parkir Mobil dan Kendaraan operasional Gambar 3.17: Konsep atap melayu pada bangunan Markas Komando Satuan Polisi Pamong
Praja
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
Gambar 3.18. Konsep fasade bangunan yang mencerminkan rumah panggung pada bangunan Markas Komando Satuan Polisi Pamong Praja
Sumber: Arsip PT. Holistika Prima Grahita
3.4 Tata Sirkulasi
Pada bangunan ini menggunakan system sirkulasi horizontal linier, yang mana pada setiap titik berhubungan dengan fungsi ruang didalamnya. Sirkulasi vertical dibagi menjadi 2 bagian, pertama sebagai akses utama lantai dua dengan diletakkan pada tengah bangunan, yang kedua berada pada belakang bangunan sebagai secondary akses yang dapat digunakan sebagai jalur darurat banguna
Lapangan Serbaguna 2
Fungsi : Untuk kegiatan latihan dan juga olahraga
Lapangan Sebaguna 1
Fungsi : Untuk kegiatan upacara dan kegiatan lainnya
Parkir Mobil dan Kendaraan operasionalBentukan atap arsitektur melayu
Parkir Motor
Markas :
Fungsi : Bangunan untuk kegiatan perkantoran Satpol PP Pelabuhan:
Fungsi : Akses keluar/masuk dari laut
Taman Taman Taman
Taman
Service
Service Area PublikBentukan fasade yang mencerminkan konsep rumah panggung Koridor
Private Area Ruang Unit kantor Private Area Ruang Unit kantor
Private Area Ruang Unit kantor
Private Area Ruang Unit kantor Koridor
BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
4.1 PERENCANAAN SISTEM PEMIPAAN (PLUMBING)
Meliputi pekerjaan air bersih, instalasi air limbah (air kotoran) dan drainase air hujan.
A. Lingkup Penyediaan air bersih :
Sumber air bersih (air tanah dan/atau PDAM).
Instalasi dari sumber air ke upper tank berupa menara air. Instalasi distribusi ke alat-alat sanitasi (fixture unit).
Unit-unit sanitasi (closed urinoir, kran-kran kamar mandi, kran taman). Instalasi pompa di ruang pompa.
B. Instalasi Air Limbah
Instalasi ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Instalasi air kotoran dari water closet dan urinoir.
Instalasi pipa di dalam gedung dari unit-unit sanitasi (water closet,
urinoir)
Instalasi pengelolaan air kotoran di luar gedung / septic tank
Pipa ventilasi.
Dll.
2. Instalasi air hujan
Pipa datar dari atap
Pipa tegak dari atap ke saluran yang sudah ada.
C. Sistem Buangan Limbah Saniter
Air limbah dari seluruh alat saniter disalurkan secara gravitasi melalui pipa masuk ke septic tank dan ke luar ke saluran kota. Limbah sanitasi digolongkan menjadi 2 (dua) :
1. Limbah kotoran
Air ini berasal dari closet dan urinoir, limbah ini diolah pada pembuangan akhir dengan menggunakan septic tank.
2. Air kotoR
Air ini berasal dari floor drain wastafel. Limbah ini dibuang langsung ke pembuangan terdekat / sungai melalui saluran di luar gedung yang ada bersamaan dengan saluran air hujan.
4.2 PERENCANAAN SISTEM MEKANIKAL
Untuk daerah publik dan ruangan yang berhubungan dengan area pamer, utilitas bangunan akan diekspose terbuka atau menggunakan dummy equipment, didukung dengan keterangan. Contoh: pipa jalur springkler dicat berwarna merah, pipa jalur air bersih dicat berwarna biru, dst.
Dengan metode ini diharapkan konsep “learning by seeing” dapat tercapai. Sesuai dengan isu hemat energi, maka didimungkinkan pada bangunan ini :
1. Penggunaan lampu hemat energi / LED.
BAB V
KESIMPULAN & SARAN
5.1 KESIMPULAN
1. Kepulaun Dompok, Kepulauan Riau mempunyai letak yang strategis yaitu di tepi laut. Lokasi ini merupakan tanah pemerintah yang direncakan akan dibangun Markas Komando Satuan Kepolisian Pamong Praja setempat.
2. Markas Komando Satuan Kepolisian Pamong Praja merupakan markas tempat berlatih dan mewadahi kegiatan administrasi daerah setempat. Satuan Polisi Pamong Praja merupakan perangkat Pemerintah Daerah dalam memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah.
3. Perancangan utilitas merupakan perancangan sistem kelengkapan fasilitas bangunan yang digunakan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudian kominikasi dan mobilitas dalam bangunan.
4. Perancangan utilitas pada Markas Komando Satuan Kepolisian dirancangan khusus untuk memenuhi persyaratan teknik bangunan pemerintah.
5.1 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Aldy, pedia; (2011); Diktat Bahan Ajar Utilitas Edisi Pertama
Wikipedia bahasa Indonesia; (2014); [online] Available at: https://id.wikipedia.org/wiki/Polisi_Pamong_Praja [accessed 13 Januari 2016]
Wikipedia bahasa Indonesia; (2014); [online] Available at: https://id.wikipedia.org/wiki/Tugas_dan_Wewenang [accessed 13 Januari 2016]
Wikipedia bahasa Indonesia; (2013); Utilitas Bangunan; [online] Available at: http:// id.wikipedia.org/wiki/Utilitas_Bangunan [accessed 12 Januari 2016]
Sumardi, Umar; (2015); Sistem Instalasi Plumbing (Pemipaan); [online] Available at: http://umarcivilengineering.blogspot.co.id/2015/02/sistem-instalasi-plumbing-pemipaan.html [accessed 12 Januari 2016]
Sumardi, Umar; (2015); Sistem Plumbing Jaringan Air; [online] Available at: http://umarcivilengineering.blogspot.co.id/2015/02/sistem-instalasi-plumbing-pemipaan.html [accessed 12 Januari 2016]
Desain Markas Komando Satuan Pamong Praja Kep. Dompak, Tanjung Pinang
Sumber : Arsip PT. Holistika