• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bantuan IMF terkait Krisis Moneter Indon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Bantuan IMF terkait Krisis Moneter Indon"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Bantuan IMF Terkait Krisis Moneter 1998

SEJARAH EKONOMI INDONESIA

Pengajar: Dr. Bondan Kanumayoso, M. Hum

Oleh:

Ausaf Ali Athiyah, 1106057033 Kartika Chandra Hermawati, 1106056926

Mutya Widyalestari, 1106005162 Nida Karima, 1106056983 Yoga Bagas Satwika, 1106056895

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

UNIVERSITAS INDONESIA

FEBRUARI 2013

(2)

Di tahun 1990-an, terjadi dua peristiwa mencengangkan di dunia, yaitu bubarnya Uni Soviet dan krisis ekonomi Asia. Tidak ada yang menduga bahwa negara-negara di bagian Timur (Asia Tenggara dan Asia Timur) akan mengalami krisis ekonomi yang parah setelah bubarnya Uni Soviet. Tetapi dalam dua dekade selanjutnya, negara-negara di bagian Timur itu berhasil mengembalikan kestabilan ekonomi dan politik dan bahkan mendapat gelar membanggakan yaitu “The Miracle of Asia”. Negara-negara Asia yang berhasil melampaui kawasan negara Dunia Ketiga lainnya seperti Amerika Latin dan Afrika adalah Korea Selatan, Malaysia, Thailand dan Indonesia.

Namun di akhir dekade 1990, negara Asia yang di dekade sebelumnya mengalami pertumbuhan ekonomi yang dahsyat satu per satu mulai tumbang. Dimulai dari Thailand, kemudian meluas ke Malaysia, Korea Selatan, dan Indonesia, dimana di Indonesia inilah krisis ekonomi paling parah. Gelar atas kawasan ini pun dibalik dari

“The Miracle of Asia” menjadi “The Melt down of Asia”.1

Pada sisi internal, krisis ini terjadi karena suatu negara tidak dapat memecahkan permasalahan yang mendasar pada sektor luar negerinya, yaitu hilangnya kepercayaan para investor asing untuk meneruskan kerjasama karena dilihat dari posisi neraca transaksi berjalan yang selalu defisit dari tahun ke tahun.

Sedangkan pada sisi eksternal, krisis ini terjadi karena liberalisasi yang terlalu cepat di sektor keuangan tidak didukung liberalisasi yang serupa di sektor riilnya. Kondisi seperti ini ternyata rentan terhadap gejolak eksternal. Sektor keuangan global yang berkembang sangat pesat, tetapi tidak kukuh fondasinya telah menyebabkan gejolak yang krusial bagi negara-negara baru yang sangat terbuka dalam menampung investasi keuangan dan portofilio lainnya.

Modal keuangan yang besar jumlahnya dan bergerak dari satu negara atau satu kawasan ke negara atau kawasan lainnya seringkali membawa dampak ketidakstabilan bagi perekonomian suatu negara. Jika negara yang dilintasinya tidak betul-betul kuat, maka nilai tukar dan cadangan devisanya akan dengan mudah diserang dari luar. Ketahanan ekonomi internal juga akan menentukan apakah mudah terpengaruh gejolak eksternal yang tidak bisa dipastikan kapan datangnya.2

1 Denny J.A. Jatuhnya Soeharto Dan Transisi Demokrasi Indonesia. (Yogyakarta: LKIS Yogyakarta. 2006). Hlm. 3.

(3)

Kesalahan penanganan dan misdiagnosa yang dilakukan oleh pemerintah atas tekanan lembaga moneter internasional, International Monetary Fund (IMF) terhadap krisis moneter berkembang menjadi krisis politik. Di Korea Selatan, Thailand dan Indonesia, krisis ekonomi itu berujung kepada pergantian kekuasaan politik, baik pengambilalihan kekuasaan oleh pihak oposisi maupun penguasa politik yang diturunkan di tengah jalan.

Krisis Moneter di Indonesia 1997-1998

Pada dasawarsa pertama pemerintahan rezim Orde Baru (1971-1981), perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat mengesankan. Tingkat pertumbuhan ekonomi selalu berada dia atas 5% per tahun. Dan bahkan di awal 1990-an, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu mencapai rata-rata 7%. Faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia ini adalah minyak, dimana terjadinya peningkatan harga minyak mencapai 350% pada 1981. Tetapi, ada juga sektor lain yang menopang ekonomi Indonesia yaitu sektor non-migas lainnya yang mulai digalakkan oleh pemerintah Orde Baru pada awal 1980-an.

Bukan hanya indikator pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi saja yang menunjukkan perkembangan mengesankan, melainkan juga jumlah masyarakat miskin yang secara signifikan mengalami pengurangan. Pada tahun 1993, jumlah penduduk miskin Indonesia tinggal 15% dari jumlah penduduk padahal pada tahun 1970 mencapai 60% dari total penduduk Indonesia. Pendapatan per kapita pun meningkat dikarenakan tingkat pengangguran mengalami pengurangan yang signifikan hingga di bawah 10% dari total angkatan kerja.

(4)

Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang konsisten dan mengesankan ini telah menyebabkan Indonesia masuk dalam kategori the newly industrializing economy

(NIEs). Tak hanya itu, World Bank bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa ekonomi yang tinggi di Asia (HPAEs—High Performing Asian Economics).3

Perekonomian Indonesia kemudian mengalami penurunan drastis setelah pada pertengahan tahun 1997 muncul krisis moneter di Thailand karena devaluasi bath yang menular ke Indonesia. Untuk menangani hal itu, pemerintah melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah. Pada bulan Agustus 1997, Pemerintah membuat keputusan drastis, antara lain pengalihan dana BUMN dari bank-bank komersial ke SBI dan menaikkan tingkat suku bunga SBI (30% untuk satu bulan dan 28% untuk 3 bulan). Sayangnya kebijakan tersebut justru mengakibatkan kurs rupiah terus merosot hingga Rp 3.100 per US$ atau terdepresiasi hingga 32% sejak 1 Januari 1997. Sampai akhir tahun 1997 keadaan rupiah tidak stabil hingga akhirnya rupiah ditutup pada nilai Rp 4.650 atau terdepresiasi hingga 68,7%. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus meluncur dengan cepat ke lever sekitar Rp 17.000 per US$ pada 22 Januari 1998.4

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut berdampak negatif terhadap posisi neraca pembayaran, terutama karena utang luar negeri makin membengkak. Pada 1997, total utang luar negeri secara riil telah mencapai 64,2% dari GDP dan membengkak menjadi 95,3% dari GDP. Pada Maret 1998, dari total utang luar negeri mencapai US$ 138 Milyar, sekitar US$ 72,5 Milyar adalah utang swasta yang dua pertiganya jangka pendek, sekitar US$ 20 Milyar jatuh tempo pada tahun 1998. Sedangkan saat itu cadangan devisa hanya tinggal sekitar US$ 14,44 Milyar.

Sementara itu, angka inflasi pada akhir tahun 1997 mencapai 11,1% per tahun dan terus meningkat hingga mencapai 77,6% per tahun pada 1998. Sedangkan pertumbuhan ekonomi mengalami kontradiksi, yaitu pertumbuhan positif 3,4% pada kuartal ketiga 1997 hingga 0% pada kuartal terakhir 1997. Terus menciut tajam pada tahun 1998, hingga akhirnya pada kuartal ketiga tahun 1998 menjadi -17,9%.

Anjloknya rupiah secara dramatis menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank nasional dalam kesulitan besar dan begitu pula dengan

bank-3 Fadli Zon. Politik Huru-Hara Mei 1998. (Jakarta: Institute of Policy Studies (IPS). 2004). hlm. 4-5.

(5)

bank besar internasional. Bahkan surat utang pemerintah juga terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah. Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah, 292,12 poin pada 15 September 1998, dari 467,339 pada awal krisis 1 Juli 1997. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 trilyun pada awal Juli 1998.5

Krisis tersebut berdampak pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, mulai dari skala kecil hingga konglomerat. Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan. Tumbangnya perusahaan-perusahaan itu melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Dengan asumsi pertumbuhan GDP 0% pada 1998, maka tingkat pengangguran diperkirakan mencapai 7,9 juta orang (8,3% dari angkatan kerja). Akibatnya pada 1998 dengan kontraksi pertumbuhan yang lebih dari 15%, tingkat pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20% lebih dari angkatan kerja.

Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50% dari total penduduk. Pendapatan per kapita yang mencapai US$ 1.155 per kapita tahun 1996, menciut menjadi US$ 610 per kapita pada tahun 1998.6

Peranan IMF terhadap Krisis Moneter di Indonesia

Krisis ekonomi yang terjadi pada Indonesia pada tahun 1997 berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Dalam penanganannya, pemerintah juga berusaha untuk menyelesaikan masalah krisis tersebut dengan berbagai kebijakan seperti dengan kebijakan moneter, fiskal, perbankan, dll. Namun, hal itu masih sulit untuk dilakukan sehingga Presiden Soeharto meminta bantuan kepada IMF untuk membantu menyelesaikan krisis ekonomi tersebut.

Presiden Soeharto sebenarnya keberatan untuk meminta bantuan kepada IMF. Namun, karena mendapat desakan dari para penasehat ekonominya, maka pada 31 Oktober 1997, ditandatangani Nota Kesepakatan (Letter of Intent / LoI) pertama dengan

(6)

IMF oleh Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Sudradjad Djiwandono dalam Memorandum on Economic and Financial Policies.7

Nota Kesepakatan itu mencakup: sasaran anggaran berimbang, sasaran-sasaran pengadaan uang dan inflasi, kebijakan nilai tukar uang, keseimbangan perdagangan dan kebijakan perdagangan, reformasi hukum perburuhan, reformasi struktur PNS, privatisasi, dan perubahan perundang-undangan. Dalam syarat jangka pendek, IMF menekankan kebijakan: (a) devaluasi nilai tukar uang, unifikasi dan peniadaan kontrol uang; (b) liberalisasi harga: peniadaan subsidi dan harga; (c) pengetatan anggaran. Sedangkan untuk jangka panjang yaitu: (a) liberalisasi perdagangan: mengurangi dan meniadakan kuota impor dan tarif; (b) deregulasi sektor perbankan sebagai “program penyesuain sektor keuangan”; (c) privatisasi perusahaan-perusahaan milik negara; (d) privatisasi lahan pertanian, mendorong agrobisnis; (e) reformasi pajak: meningkatkan pajak tak langsung; dan (f) mengelola kemiskinan melalui penciptaan sasaran dana-dana sosial.8

Perwakilan IMF yang berada di Indonesia justru cenderung mendukung kebijakan memangkas KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) dibanding stabilisasi rupiah yang pada saat itu lebih penting. KKN memang jelas memperburuk keadaan tetapi sulit untuk dikatakan bahwa itu menjadi penyebab krisis. Selama Soeharto memimpin Indonesia, IMF dan World Bank sebenarnya mengetahui tindakan-tindakan KKN tersebut tetapi mereka justru menutup mata. Di sisi lain, IMF menuduh bahwa kegagalan paket IMF justru dikarenakan pemerintah tidak mengikuti arahan dari IMF.

Dengan adanya bantuan dari IMF tersebut, praktis Indonesia pada saat itu bergantung kepada utang luar negeri. Meskipun hal itu membantu untuk penanganan krisis, tetapi justru membuat utang luar negeri Indonesia semakin meningkat. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh IMF untuk menangani krisis moneter tidak memperhatikan keadaan politik Indonesia pada saat itu dan kebijakan IMF dalam LoI juga cenderung inkonsisten. Kesalahan IMF yang besar yaitu ditutupnya 16 bank swasta yang diduga bank kroni, tanpa menyiapkan perangkat pengamanannya terlebih dahulu. Hal itu membuat kondisi perbankan yang ada di Indonesia pada saat itu rusak dan kepanikan dunia finansial muncul. Barisan antrian orang yang panjang untuk mengambil uang mereka di bank terlihat di bank. Kepercayaan orang kepada bank

(7)

menjadi merosot dan cadangan rupiah di Bank Indonesia pun berkurang. Pola yang digunakan oleh IMF untuk menangani krisis juga gagal. Ketidakseriusan IMF dalam menangani krisis ekonomi tersebut justru membuat permasalahan ekonomi di Indonesia semakin kompleks.

Pada 15 Januari 1998, Presiden Soeharto menandatangani kesepakatan LoI yang kedua. Dalam LoI tersebut, tercantum 50 pernyataan yang harus dijalankan oleh Pemerintah Indonesia, seperti kebijakan moneter, kebijakan fiskal, kebijakan perbankan, dan juga kebijaksanaan sektor riil melalui penyesuaian secara struktural.

Penandatangan LoI yang kedua tidak mendapat tanggapan yang positif sehingga LoI yang kedua ini gagal menyelesaikan masalah utama pada saat itu yaitu jatuhnya rupiah. Dengan gagalnya LoI yang kedua, pada 10 April 1998 ditandatangi kesepakatan yang ketiga. Fokusnya tidak berbeda jauh dari beberapa kesepakatan sebelumnya mengenai ekonomi mikro, bukan pada krisis mata uang pada saat itu. Pada 4 Mei 1998, atas desakan IMF, pemerintah menaikkan harga BBM sampai 71%, tarif listrik dinaikkan secara gradual.9 Pada pertengahan 1998, perekonomian Indonesia masih

terpuruk. Diperkirakan 113 Juta orang penduduk Indonesia (56% dari jumlah penduduk) berada dibawah garis kemiskinan. Ada yang mengatakan bahwa 40 juta orang penduduk Indonesia tidak mampu membeli makanan dan dalam kondisi rawan pangan. 10

Penarapan Perjanjian IMF dengan Pemerintah Indonesia

Krisis Ekonomi yang terjadi di Indonesia menurut IMF disebabkan angka rupiah yang sangat terdepresiasi. Menurut IMF juga langkah paling tepat untuk memulihkan kaadaan ini adalah dengan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap rupiah caranya adalah dengan memperbaiki dan strukturisasi sektor finansial.

Oleh karena itu berdasarkan perjanjian pertama pada 31 oktober 1997, bantuan yang akan diberikan IMF adalah bantuan pada bidang:

1. Penyehatan sektor keuangan 2. Kebijakan Fiskal

3. Kebijakan moneter 4. Penyesuaian struktural

9 Fadli Zon, Op. Cit., hal. 10

(8)

Lalu untuk mendukung program tersebut maka IMF meminjamkan uang sejumlah US$ 11,3 Milyar. Jumlah US$ 3,04 milyar dicairkan langsung, dan sisanya disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehatannya telah berjalan sesuai persetujuan. Di samping dana bantuan IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan negara - negara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai kurang lebih US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan).

Namun karena dalam pelaksanaannya ada beberapa program yang kurang terlaksana dengan baik oleh pemerintah Indonesia kemudian diajukanlah perjanjian kedua dengan IMF yang ditandatangani pada 15 Januari 1998. Perjanjaina itu menghasilkan 50 butir poin perjanjian yang inti programnya juga berfokus pada penstabilan nilai rupiah. Pokok-pokok perjanjiannya adalah

A. Kebijakan makro-ekonomi - Kebijakan fiskal

- Kebijakan moneter dan nilai tukar B. Restrukturisasi sektor keuangan

- Program restrukturisasi bank

- Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. Reformasi struktural

- Perdagangan luar negeri dan investasi - Deregulasi dan swastanisasi

- Social safety net - Lingkungan hidup.

Setelah berjalan beberapa waktu program yang disarankan IMF ini kembali mengalami hambatan dalam pelaksanaannya sehingga pemerintah kembali melakukan negoisasi ulang dengan IMF untuk mencari program yang sesuai. Maka setelah negoisasi ketiga ini ditandatanganilah supplementary memorandum pada 10 April 1998 yang menghasilkan poin-poin yang cakupannya lebih luas dari sebelumnya, karena mencakup masalah utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia. untuk memenuhi poin perjanjian dengan IMF maka strategi pemerintah adalah:

1. Menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia;

(9)

3. Memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing.

4. Menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta;

5. Kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal, sehingga ekspor bisa bangkit kembali.

Hambatan Pelaksanaan Tuntutan IMF

Krisis moneter berdampak luas dalam mempengaruhi berbagai sektor ekonomi. Indonesia mencapai puncak krisis pada tahun 1998 dengan jumlah US$ 80 milyar. Indonesia meminta bantuan International Monetery Fund (IMF), Bank World (Bank dunia), dan Asia Development Bank (ADB) dengan harapan mendapat dukungan negara sahabat dalam mengembalikan kepercayaan pasar dan masyarakat. Pemerintah meminta fasilitas IMF, diberikannya paket bantuan IMF dengan meminjamkan dana sebersar US$ 43 Miliar untuk menstabilkan keuangan Indonesia, sebagai implementasi dari bantuan tersebut, pemerintah mengeluarkan Letter of Intent 1 (LoI 1) tanggal 31 oktober 1997. Isi dari LoI 1 sebagai berikut:

1. Kebijakan moneter akan diperketat untuk menunjang kestabilan nilai tukar rupiah.

2. Adanya intervensi dari pasar valas. Intervensi tersebut dilakukan tanpa mengurangi cadangan devisa dalam jumlah besar.

3. Tujuan lain adalah adanya depresiasi nilai tukar rupiah terhadap tingkat inflasi. Dengan sasaran tingkat inflasi mencapai 10%, BI akan mengurangi laju kenaikan peredaran uang (M2) dari 27% (tahun 1996/1997) menjadi 18% (tahun 1997/1998) dan 11% (1998/1999).

4. Menurunkan laju kenaikan M2 dengan mengendalikan peredaran uang primer melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT). yang berakhir dengan kegagalan penerapan kebijakan OPT tersebut.

Setelah menandatangai LoI 1, IMF memberikan bantuan siaga sebesar US$ 10 milyar, Bank dunia US$ 4,.5 milyar, dan ADB US$ 3 milyar. Sedangkan cadangan BI sendiri sebesar US$ 20 milyar.11

(10)

IMF pernah kecewa dan menyalahkan pemerintah yang tidak serius dalam reformasi ekonomi Indonesia, karena terjadi inflasi. Inflasi diukur dengan indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat hingga 11.5% sejak 1984. Hal tersebut dikarenakan adanya kekeringan berkepanjangan dan kebakaran yang menyebabkan menghambatnya penyaluran makanan. Memasuki 1998, perekonomian Indonesia semakin memburuk dengan pertumbuhan uang beredar (M2) menlonjak menjadi 54.9% pada Januari 1998 dibanding dengan sebelumnya 23.2% di bulan sebelumnya. IMF menganggap bahwa Indonesia tidak sungguh-sungguh dalam memperbaiki perekonomian. Tetapi program pemulihan terus dilanjutkan antara pemerintahan Indonesia dengan IMF dan Bank Dunia, diadakannyalah LoI 2 pada 15 januari 1998, mengenai bidang fiskal dan moneter.

1. Bidang fiskal: koreksi terhadap RAPBN dengan menurunkan target pertumbuhan ekonomi 0%, inflasi dinaikkan dari 9% menjadi 20%, kurs dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.000, deficit anggaran sebatas 1% dari PDB dengan mengurangi BBM, mencabut keringanan pajak untuk mobil Mobnas, menonaktivkan anggaran dan nonanggaran untuk proyek IPTN. Sebelumnya IMF tidak menyetujui adanya deficit atau APBN yang seimbang.

2. Bidang moneter: mendukung stabilitasnya nilai tukar rupiah dengan likuidasi melalui kenaikan suku bunga SBI secara tajam.

LoI 3 pada tanggal 10 april 1998. Disini dilakukannya penyesuaian terhadap program yang telah disusun sebelumnya. Dicantumkan juga Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP).

LoI 4 pada tanggal 24 Juni 1998, mencantumkan Second Supplementary MEFP. Mengingat nilai tukar rupiah masih melemah dan rentan akan inflasi, sehingga harus lebih ketat dalam menjalankan program sebelumnya. Tidak lupa membuat cadangan untuk pembayaran cicilan utang antarbank dalam negri ataupun luarnegri. Selain itu BI melakukan percepatan dalam melaksanakan kebijakan moneter di Indonesia.

(11)

sampai US$ 24 milyar danggap cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 5,5 bulan impor.

LoI 6, 11 September 1998. Pelaksanaan restrukturisasi perekonomian Indonesia, sesuai dalam program EFF. Langkah-langkah dalam restrukturisasi dan peminjaman luar negeri untuk menunjang kepercayaan pasar. Tidak lupa untuk terus memperketat kebijakan moneter di Indonesia.

LoI 7, 13 November 1998. Dalam LoI ini tercapainya perkembangan perekonomian yang mantap.

Reaksi dan Dampak yang Terjadi terhadap Campur Tangan IMF dalam Menangani Krisis

Paket pertama IMF gagal menunjukkan pada dunia bahwa Soeharto serius soal reformasi. Misalnya penutupan 16 bank yang tidak hanya membuat penyetor tapi juga bank sebagai debitur panik, juga paksaan pengetatan fiskal kendati Pemerintah tidak mengalami defisit keuangan seperti negara korban krisis lainnya. Ditambah lagi, IMF sama sekali tidak menyentuh jaringan patronisasi Soeharto.12

Sebelumnya, diketahui bahwa terdapat tiga elemen pendukung hagemoni

patron-client Soeharto yakni teknokrat13, militer14, dan sanak keluarganya.15 Bambang

Trihatmodjo, anak tengah Soeharto, menuduh IMF mencoba menjatuhkan ayahnya dengan menginstruksikan teknokrat menusuk punggung Soeharto lewat penandatanganan paket tersebut. Teknokrat tidak berdaya menghentikan kroni Soeharto dalam usahanya merongrong pendapat IMF ini. Sementara itu, ketimbang mencari sedikit informasi akan kompleksnya institusi politik dan ekonomi Indonesia, IMF menepis nasihat World Bank dan Asian Development Bank, yang mana keduanya justru lebih punya kehadiran besar di lapangan.

Soeharto menyetujui second package (15 Januari 1998) tanpa banyak bicara. Barangkali ia berpikir, menandatangani paket saja dapat megembalikan kepercayaan

12 Adam Schwarz, A Nation in Waiting: Indonesia's Search for Stability, Ed. ke-2, 1999, NSW: Allen & Uwin, hlm. 339

13 Ekonom nasional yang umumnya lulusan perguruan tinggi luar negeri. Beberapa kalangan menyebutnya sebagai ‘Mafia Barkeley’ karena banyak dari mereka yang lulus dari universitas tsb.

14 ABRI, dwifungsi

(12)

pada ekonomi Indonesia yang terhuyung-huyung.16 Sementara itu, orang-orang muslim

radikal menganggap bahwa ketentuan IMF tidak masuk akal dan mengehendaki penutupan negeri saja seperti Myanmar.17 Pihak asing di Jakarta juga sempat bingung.

PM Jepang Ryutaro Hashimoto dan Kanselir Jerman Helmut Kohl menelpon Soeharto. PM Singapura Goh Chok Tong datang dengan kunjungan kilat. Presiden AS Bill Clinton mengirim Wakil Sekretaris Bendahara Lawrence Summer ke Jakarta pada Januari dan seorang utusan khusus, yakni mantan wakil presiden Walter Mondale, pada bulan Maret. Pesan dari semua kunjungan ini kurang lebih sama: tetap pada program IMF dan bangun kembali kepercayaan investor. Namun, pesan-pesan ini hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.18

Bagi kalangan teknokrat, paket 15 Januari berisi banyak indikator yang diinginkan mereka sejak lama, seperti distopnya dukungan pemerintah terhadap proyek mobil nasional Tommy Soeharto dan ekspansi rencana manufaktur-pesawat terbang Habibie.19 Begitu pula dengan peniadaan bertahap subsidi BBM, minyak goreng, dan

gula pasir. Tak ketinggalan akhir dari aksi monopolistik curang keluarga Soeharto. Akhirnya, Soeharto yang mula-mula setuju kini menyatakan konflik terbuka dengan IMF,20 dibuktikan dengan banyaknya program paket yang gagal

diimplementasikan, misalnya seperti pembatalan proyek infrastruktur, pembukaan kembali salah satu bank milik kroni Soeharto yang telah ditutup, dan ditemukannya celah-celah agar monopoli cengkeh dan kayu lapis tetap berjalan.

Perwakilan World Bank di Indonesia kecewa dengan pelaksanaan paket. Orang-orang Indonesia sendiri, dibandingkan IMF dan investor asing, mengerti betul bahwa Soeharto sama sekali tidak berniat untuk patuh. Dalam beberapa minggu, kroni-kroni Soeharto bertindak. Bob Hasan dengan monopoli sektor kehutanan (HPH). Tommy Soeharto dan proyek mobil nasional. Titiek tak ketinggalan berkomentar, "Ya, kita memang butuh IMF, tapi tidak jika kita tetap ditekan dengan syarat ini dan itu".

Banyak yang mengkritik teknokrat karena terlalu menekan paket 15 Januari. Ini agaknya keliru. Ketika negosiasi paket kedua dimulai, teknokrat hanya berperan sedikit sekali, karena Soeharto telah kehilangan rasa percaya terhadap mereka. Faktanya,

16 Ibid

17 Ibid, hlm. 348 18 Ibid, hlm. 343 19 Ibid, hlm. 340 – 341

(13)

kepala teknokrat, Wijoyo Nitisastro, begitu marah pada cara IMF dan World Bank menangani negosiasi itu hingga ia menolak bicara pada mereka selama sebulan penuh.

Adalah pendapat yang tidak benar mengatakan bahwa IMF harus menyingkir jauh-jauh dari reformasi struktural. Indonesia paling menderita dari ‘Asian Flu’ bukan hanya karena situasi ekonominya yang mengerikan atau karena IMF memberikan obat yang keliru, melainkan karena sistem politiknya yang bobrok.21 Ikatan antara pemimpin

dan rakyat telah lama hilang akibat korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Jadi, bukan cuma investor asing yang menyangsikan Soeharto mampu menangani krisis, rakyat Indonesia pun demikian.

Kebingungan yang meliputi paket 15 Januari adalah faktor penting dalam terjun bebasnya rupiah, tapi tidak hanya itu, beberapa perkembangan politik lainnya juga berperan. Pertama, pada Sidang Umum MPR 1 Maret 1998, Soeharto kembali terpilih sebagai Presiden. Seminggu kemudian, Soeharto mengumumkan kabinet baru. Terjadi kontroversi, utamanya ketika Bob Hasan ditunjuk sebagai menteri perdagangan. Hasan adalah seorang Cina-Indonesia yang dekat dengan Soeharto. Ia mengontrol monopoli ekspor kayu lapis yang dicekal IMF dua bulan lalu. Sebagai menteri pertama dari etnis Cina, Soeharto berharap kehadiran Hasan bisa menenangkan kaum Cina-Indonesia. Adapun sejak pertengahan Januari 1998, Soeharto telah menyatakan akan mengangkat Menteri Riset dan Teknologi B. J. Habibie, musuh lama para teknokrat, sebagai wakilnya.22

Kedua, Soeharto telah jelas-jelas menyatakan ketidakpercayaannya pada teknokrat karena dianggap gagal menangani krisis. Untuk membuktikannya, bulan Februari, Soeharto memecat Gubernur BI, Soedradjat Djiwandono. Ada yang bilang ini karena dia menentang rencara currency board.23

Meski diberi waktu sampai Oktober oleh IMF, 4 Mei 1998, Pemerintah mengumumkan pengurangan subsidi BBM dan menaikkan harga bensin hingga 70%. Soeharto percaya bahwa dirinya imun terhadap protes publik sehingga memutuskan memotong subsidi serempak sekali jalan, tapi itu salah besar24, Riot terjadi di

mana-21 Catatan kaki no. 113 Chapter 11, dalam Adam Schwarz, A Nation in Waiting: Indonesia's Search for Stability, Ed. ke-2, 1999, NSW: Allen & Uwin, hlm. 342 22 Catatan kaki no. 117, Chapter 11, dalam Ibid, hlm. 343

23 Ibid.

(14)

mana. Dua hari setelah itu, tim IMF tiba di bandara Jakarta pada senja hari untuk mendiskusikan program reformasi ekonomi.

Setelah Soeharto tumbang pada pertengahan 1998, B. J. Habibie secara otomatis naik sebagai Presiden. Tugas utamanya adalah sebagai Pemerintahan transisi menuju reformasi. Ini berarti mengontrol kestabilitasan ekonomi lebih dulu, dan Habibie bermaksud menggunakan blueprint IMF untuk melakukannya.25 Secara ironis, meski

rencana manufaktur pesawat terbangnya terkena cekal, kebijakan baru Habibie yang terkuat adalah permintaan bantuan komunitas internasonal, termasuk IMF. Letter of Intent ditandatangani kembali pada 29 Juli 1998 untuk menyatakan komitmen ulang Pemerintah yang dibuat melalui persetujuan terdahulu dengan ditambahkannya ketentuan baru terhadap perbankan dan restrukturisasi korporat.26

Habibie kemudian menunjuk Ginanjar Kartasasmita (menteri koordinator ekonomi di kabinet terakhir Soeharto) sebagai menteri ekonomi senior dan mempekerjakan kembali dua teknokrat lama, Wijoyo Nitisastro dan Ali Wardhana sebagai penasihat ekonominya. Tiga orang ini dipilih karena punya hubungan baik dengan komunitas keuangan internasional yang telah dibangun selama lebih dari 30 tahun lamanya.27

Oktober 1998, rupiah telah menguat kira-kira Rp 8.000,00 per dolar.28 Inflasi

juga jatuh secara dramatis. Tidak seorang pun memprediksi, bahwa di awal tahun 1999 krisis ekonomi Indonesia terlihat akan segera berkahir.29

Dibandingkan negara-negara lainnya yang sama-sama terkena krisis, Indonesia termasuk negara yang cukup lama bergantung pada bantuan IMF, karena Pemerintah baru membatalkan seluruh program IMF di akhir tahun 2003—sejak pertama kali diluncurkan akhir tahun 1997—setelah kekuasaan Presiden berpindah 4 kali dalam rentang 6 tahun.30

Terlepas dari kontroversi peran IMF dalam membantu Pemerintah Indonesia, keduanya sama-sama mendapat pelajaran berharga dari kesalahan ini. Bagi kaum

25 Leonardo Martinez-Diaz, 'Pathways Through Financial Crisis: Indonesia', Global Governance 12, 2006, hlm. 395 – 412

26 Ibid.

27 Adam Schwarz, A Nation in Waiting: Indonesia's Search for Stability, Ed. ke-2, 1999, NSW: Allen & Uwin, hlm. 373

28 Catatan kaki no. 154, Chapter 12, dalam Ibid, hlm 408 29 Ibid, hlm 408 – 409

(15)

legislatif di Indonesia, pengalaman yang mereka dapat dari menanggulangi Krisis Keuangan Asia terbukti berguna ketika menghadapi efek negatif dari Krisis Keuangan Global tahun 2008 dengan tetap menempel erat pada kebijakan ekonomi makro, selagi menyuntikkan dorongan keuangan untuk membuat ekonomi tetap tumbuh. Tidak heran karena sejak krisis terlewati, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun terakhir (berdasarkan waktu ditulisnya jurnal ybs.) tumbuh rata-rata 2,5 % per tahun dan prestasi paling baik dicapai pada tahun 2007 ketika pertumbuhan mencapai 6,3 %.31

Kesimpulan

Pada dasawarsa pertama pemerintahan rezim Orde Baru (1971-1981), perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat mengesankan karena adanya minyak. Namun masa tersebut berakhir sampai adanya dampak domino dari krisis internasional menjalar ke Indonesia, krisis di indonesia terjadi setelah krisis terjadi di Thailand. Dengan adanya krisis, timbulnya berbagai masalah dalam sektor ekonomi, perbankan, bahkan berujung pada masalah politik. Permasalahan juga ada pada sektor luar negeri, dimana hilangnya kepercayaan para investor asing untuk meneruskan kerjasama di indonesia. Indonesia mencapai puncak krisis pada tahun 1998 dengan jumlah US$ 80 milyar. Indonesia meminta bantuan International Monetery Fund (IMF), Bank World (Bank Dunia), dan Asia Development Bank (ADB) dengan harapan mendapat dukungan negara sahabat dalam mengembalikan kepercayaan pasar dan masyarakat. Diantara 3 sumber pinjaman (IMF, BW, dan ADB), IMF memberikan fasilitas bantuan lebih kepada Indonesia dibandingkan dengan sumber pinjaman lainnya. Disamping itu, IMF tidak hanya membantu dengan meminjamkan dana bantuan ke Indonesia saja, juga turut ikut campur tangan dalam perekonomian Indonesia dengan mengatur perekomian melalui kebijakan-kebijakannya, hingga berdampak pada permasalahan politik.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

31 Thee Kian Wie, 'Understanding Indonesia: the Role of Economic Nationalism',

(16)

Bank Indonesia. Sejarah Bank Indonesia Periode V: 1997-1999 Bank Indonesia pada masa krisis ekonomi, moneter, dan perbankan. 2006. Jakarta: BI.

J, Denny A. Jatuhnya Soeharto Dan Transisi Demokrasi Indonesia. 2006. Yogyakarta: LKIS Yogyakarta.

Rachbini, Didik J, Suwidi Tono, dkk. Bank Indonesia Menuju Independensi Bank Sentral. 2000. Jakarta: PT. Mardi Mulyo.

Ricklefs, M. Sejarah Indonesia Modern. 2001. Jakarta: Serambi.

Schwarz, Adam. A Nation in Waiting: Indonesia's Search for Stability, 2nd Edition.

1999. New South Wales: Allen & Uwin.

Tarmidi, Lepi T. Krisis Moneter Indonesia:Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran.

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan: Maret 1999.

Zon, Fadli. Politik Huru-Hara Mei 1998. 2006. Jakarta: Institute of Policy Studies (IPS).

Jurnal

Martinez-Diaz, Leonardo. 'Pathways Through Financial Crisis: Indonesia'. Global Governance 12. 2006. Hlm. 395 – 412.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian adalah untuk melihat (1) karakteristik pasien meliputi jenis kelamin, kelompok usia, riwayat merokok dan penyakit penyerta, (2) profil golongan

Meskipun menggunakan bahasa Jawa humor ini lebih bersifat kontemporer, seperti dalam bukunya James Dananjaya menjelaskan bahwa kontemporer artinya masih beredar

 Arbitrage Pricing Theory merupakan model alternatif dari Arbitrage Pricing Theory merupakan model alternatif dari CAPM u/menilai aset keuangan dikembangkan oleh Ross..

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya buku "Panduan Dapodik Versi 2021.b" dapat diselesaikan. Buku ini

Selanjutnya untuk memberikan gambaran arah dan sasaran yang jelas serta sebagaimana pedoman dan tolok ukur kinerja Pengadilan Negeri Pasarwajo diselaraskan dengan arah

Logika Fuzzy merupakan peningkatan dari logika Boolean yang berhadapan dengan suatu konsep kebenaran tidak penuh (sebagian), dimana peran logika klasik menyatakan bahwa segala

Lebih dari itu buku teks menantang, merangsang, dan menunjang kreatifitas siswa (Tarigan 2009: 18). Pencapaian target materi pembelajaran yang digariskan kurikulum sangat

Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk dapat mengelola kelas, penggunaan metode mengajar, strategi mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam proses