• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perbandingan Struktur Aktan Ver

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Perbandingan Struktur Aktan Ver"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Penelitian tentang Analisis Perbandingan Struktur Aktan Versi Film dan Sinetron “Surat Kecil untuk Tuhan” ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan versi film dan sinetron “Surat Kecil untuk Tuhan” dari perspektif struktur aktan. Perbandingan dilakukan untuk menemukan cara masing-masing versi media memperlakukan atau menyajikan cerita “Surat Kecil untuk Tuhan”. Penelitian ini menggunakan teori struktur aktan dari AJ. Greimas yang terdiri dari enam elemen aktansial yaitu pengirim, penerima, subjek, objek, penolong dan penentang. Berdasarkan hasil kajian dapat diambil kesimpulan bahwa perbandingan versi sinetron lebih mengeksplorasi struktur aktan dibandingkan versi film. Mood cerita versi film lebih sedih daripada versi sinetron. Masing-masing versi dipengaruhi oleh konsep serialisasi dan durasi yang menyebabkan cara masing-masing versi berbeda dalam memperlakukan cerita Surat Kecil untuk Tuhan.

(2)

A. Latar Belakang

Sinetron termasuk salah satu komoditas bisnis yang cukup menggiurkan di bidang

pertelevisian Indonesia. Hal ini dapat diketahui dari jumlah program utamanya sinetron

yang ada di Indonesia. Terhitung sejak tanggal 10 Oktober 2013 terdapat 15 sinetron asli

Indonesia di 4 stasiun televisi swasta nasional Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk

sinetron yang tayang di televisi berlangganan dan sinetron import dari luar negeri, seperti

drama seri Korea. Jumlah sinetron yang banyak dan tingginya rating yang diperoleh

sinetron tidak kemudian menjadikan para pelaku industri sinetron lebih kreatif untuk

membuat sinetron yang lebih bervariasi. Justru kiblat keberhasilan suatu program televisi

yang bergantung pada rating membuat program-program acara di televisi menjadi

monoton.

Sujarwa menjelaskan bahwa rating dianggap sebagai “dewa” oleh stasiun televisi

yang kemudian memunculkan produksi kejar tayang. Produksi dilangsungkan secara cepat

untuk mengantisipasi rating sehingga kualitas sinetron akhirnya diabaikan (Sujarwa,

2010:22). Kualitas yang dimaksud tidak hanya terletak pada segi sinematik tetapi juga dari

segi naratif. Keinginan mendapatkan keuntungan sesegera mungkin sebelum selera

masyarakat berubah membuat pihak-pihak terkait terburu-buru meniru konsep cerita dari

tayangan yang telah ada sebelumnya tanpa memberi sentuhan inovasi yang kreatif.

Program acara televisi seperti sinetron pada beberapa stasiun televisi akhirnya hanya

mampu menyajikan konsep program atau cerita sinetron yang hampir sama atau monoton.

Beberapa sinetron mengambil alternatif ide dengan mengadaptasi cerita dari media

lain, seperti novel atau film layar lebar. Contohnya, sinetron Anak Kaki Gunung yang

pernah tayang di SCTV tanggal

merupakan hasil adaptasi dari novel serial berjudul Anak-Anak Mamak karya Tere Liye.

Tanggal 7 Oktober 2013 muncul satu lagi sinetron berjudul Bidadari-Bidadari Surga hasil

adaptasi dari novel karya Tere Liye yang sebelumnya juga pernah diadaptasi menjadi film

berjudul sama yang tayang di bioskop pada 6 Desember 2012 (www.acara-acara.com

diakses pada 18 Maret 2014 pukul 23:36).

Tanggal 9 September 2013 sebuah sinetron berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan

tayang di stasiun televisi RCTI. Sinetron ini sebenarnya merupakan kisah nyata seorang

anak perempuan bernama Gita Sesa Wanda Cantika (Keke) yang menderita kanker ganas

(3)

merupakan kasus pertama di Indonesia. Kisah tersebut kemudian diangkat menjadi sebuah

novel garapan Agnes Davonar yang laris dipasaran hingga akhirnya difilmkan. Kesuksesan

novel dan film Surat Kecil Untuk Tuhan membuat beberapa pihak tertarik untuk

mengadaptasinya menjadi sebuah sinetron.

Kepopuleran Surat Kecil Untuk Tuhan membawa peneliti tertarik dengan

penceritaan antara versi film dan sinetron. Perbedaan media dari dua karya audio visual ini

membuat keduanya dipastikan memiliki versi cerita dan cara bercerita yang berbeda.

Pemikiran tersebut membawa penelitian ini mencoba membandingkan cerita dari versi film

dan sinetron Surat Kecil Untuk Tuhan. Latar belakang dan inti cerita yang sama tidak

menjadi jaminan atas kesamaan penyajian dari segi naratif antara film dan sinetron Surat

Kecil Untuk Tuhan.

Film yang tayang dan diputar di bioskop membatasi durasi tayang maksimal selama

dua jam. Kebanyakan dari film tersebut merupakan film utuh satu kali tayang dan tidak

bersambung. Berbeda dengan sinetron yang tayang di layar televisi yang hampir setiap

rumah memilikinya. Sinetron selalu menayangkan potongan-potongan cerita dalam

beberapa episode yang berdurasi maksimal satu jam dalam satu kali tayang. Jumlah

episode sinetron di Indonesia tidak memiliki batasan pasti. Beberapa sinetron populer

seperti Cinta Fitri ditayangkan lebih dari 600 episod. Sementara sinetron Tukang Bubur

Naik Haji hingga saat ini telah tayang lebih dari 1200 episode. Format durasi yang berbeda

antara film serta sinetron ini jelas mempengaruhi bentuk penyajian ceritanya.

Cerita (story) dapat dimaknai sebagai rangkaian kronologis beberapa peristiwa

(Herman-Vervaeck, 2001). Saat sebuah cerita disampaikan oleh pencerita, munculah

semacam struktur dalam cerita tersebut. Struktur sebuah cerita terbangun dari atas ke

bawah, dari struktur yang paling konkret atau yang paling terlihat hingga mencapai

struktur yang paling abstrak. Struktur dalam sebuah cerita dapat dibedah melalui konsep

yang akrab disebut strukturalisme.

Konsep ini membedakan antara permukaan sebuah cerita atau “teks” (istilah konsep

strukturalisme) dan apa yang ada di bawah permukaan tersebut. Dengan demikian, konsep

ini lalu membagi cerita ke dalam tiga struktur, mulai dari level struktur paling konkret

hingga level struktur paling abstrak (Herman-Vervaeck, 2001). Level yang paling konkret

dari cerita adalah narasi (narration). Narasi adalah cara cerita yang disampaikan secara

langsung dan jelas. Penyusunan kalimat dalam novel atau penyusunan shot dalam film

(4)

Sementara level yang kedua, level yang sedikit lebih abstrak dibanding level narasi

adalah naratif (narrative). Naratif memperhatikan bagaimana cerita diperlakukan dalam

sebuah teks dalam konsep hubungan sebab akibat. Naratif mengurusi cara

peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh disampaikan. Level naratif berurusan dengan prinsip-prinsip

organisasi cerita, seperti urutan penceritaan atau perspektif (Herman-Vervaeck, 2001).

Level yang paling abstrak dari narasi dan naratif adalah cerita (story).

Story, sebagaimana telah dibahas, adalah rangkaian kronologis peristiwa-peristiwa.

Level ini tidak dapat dilihat oleh pembaca atau penonton. Level ini berada di bawah

permukaan sebuah teks. Penonton hanya dapat mencapai level ini setelah mengkonstruksi

abstrak sebuah teks. Konstruksi ini dibangun melalui reduksi elemen naratif menjadi

rangkaian kronologis. Tokoh utama direduksi menjadi peran dalam sebuah sistem abstrak

dan seting direduksi menjadi karakteristik-karakteristik yang abstrak, semacam tinggi atau

rendah maupun gelap atau terang.

Pada level story, cerita atau teks dapat ditelaah pada bagian yang paling dalam, di

mana cerita sudah menjadi bagian paling kecil dari struktur pembentuknya. Satuan terkecil

inilah yang kemudian memulai dan menggerakkan cerita, dari mulai diceritakan hingga

diakhiri oleh pencerita. Satuan terkecil ini muncul dalam konsep aktan yang ditawarkan

oleh A. J. Greimas.

Teori aktan yang dikembangkan oleh A.J. Greimas merupakan model pendekatan

alur. Aktan adalah figur-figur yang berperan dalam satu peristiwa. Figur-figur ini

beroperasi pada sistem yang abstrak dan tidak tampak, namun sangat berpengaruh pada

jalannya cerita. Aktan, sebagai bagian dari story, level paling abstrak dari teks, meletakkan

tokoh konkret dalam cerita ke dalam fungsi yang dijalankan tokoh tersebut. Tokoh konkret

pun direduksi menjadi peran-peran yang menjalankan fungsinya masing-masing dalam

menggerakkan cerita. Peran siapa/apa yang berusaha meraih apa dan peran siapa/apa yang

menghalanginya dalam cerita adalah hal-hal yang dibahas oleh konsep aktan. Aksi-aksi

muncul setelah aktan menjalankan fungsinya dan peristiwa juga terjadi saat aktan

menjalankan fungsinya dalam cerita. Dengan demikian, aktan adalah asal muasal cerita.

Perbandingan dua versi media dalam penelitian ini bertujuan untuk

mengungkapkan bagaimana masing-masing media menceritakan cerita Surat Kecil Untuk

Tuhan dan lebih lanjut lagi memperlihatkan sejauh mana pengembangan kreatif dilakukan

oleh pencerita dari masing-masing versi. Cara bercerita dan sudut pandang masing-masing

(5)

menjadi objek penelitian ini. Dengan demikian, penelitian ini dapat menyumbangkan titik

awal penelitian lanjutan yang menelaah produk Surat Kecil Untuk Tuhan ke dalam

konteks-konteks yang lebih luas tadi. Kepopuleran objek yang ditunjukkan oleh

kesuksesan tiga versi Surat Kecil Untuk Tuhan dalam media yang berbeda menunjukkan

sisi penting dan kelayakannya untuk menjadi objek penelitian ini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat

dikemukakan beberapa rumusan permasalahan, antara lain:

1. Bagaimana struktur aktan pada film Surat Kecil untuk Tuhan?

2. Bagaimana struktur aktan pada sinetron Surat Kecil untuk Tuhan?

3. Bagaimana perbandingan struktur aktan pada film dan sinetron Surat Kecil

untuk Tuhan?

4. Mengapa masing-masing versi memperlakukan cerita Surat Kecil untuk Tuhan

dengan berbeda?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui struktur aktan pada film Surat Kecil untuk Tuhan.

2. Mengetahui struktur aktan pada sinetron Surat Kecil untuk Tuhan.

3. Mengetahui perbandingan struktur aktan pada film dan sinetron Surat Kecil

untuk Tuhan.

4. Mengetahui penyebab masing-masing versi memperlakukan cerita Surat Kecil

untuk Tuhan dengan berbeda.

D. Metode Penelitian

Menurut Eriyanto (2013:9) analisis naratif adalah analisis mengenai narasi, baik

narasi fiksi (novel, puisi, cerita rakyat, dongeng, film, komik, musik dan sebagainya)

ataupun fakta seperti berita. Menggunakan analisis naratif berarti menempatkan teks

sebagai sebuah cerita (narasi). Teks dilihat sebagai sebuah rangkaian peristiwa, logika dan

tata urutan peristiwa atau bagian dari peristiwa yang dipilih dan dibuang.

a. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah film Surat Kecil untuk Tuhan yang berdurasi 105 menit

(6)

membutuhkan keseluruhan cerita agar dapat dianalisis secara utuh dan sempurna. Oleh

karena itu pada sinetron Surat Kecil untuk Tuhan keseluruhan potongan-potongan

peristiwa yang terpisah dalam 81 episode akan diteliti seluruhnya. Kedua karya drama

tersebut sama-sama dilatar belakangi oleh satu kisah nyata yang ditulis dalam sebuah blog

dan diangkat menjadi sebuah novel karya Agnes Davonar.

b. Metode Pengambilan Data

1. Kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data dengan memakai literatur.

Literatur yang dipakai adalah novel Surat Kecil Untuk Tuhan. Novel Surat

Kecil Untuk Tuhan tidak dipergunakan secara langsung dalam penulisan

penelitian ini. Namun novel ini sangat penting dibaca untuk mengetahui

latar belakang cerita yang menjadi fondasi untuk diproduksinya film dan

sinetron berjudul sama.

2. Dokumentasi, yakni teknik pengumpulan data dengan merekam objek

penelitian yang akan diteliti agar dapat diamati secara cermat dan

berulang-ulang. Proses pengumpulan dokumentasi tidak dilakukan dengan merekam

tayangan televisi, mengingat objek penelitian telah berhenti tayang di

televisi. Pengumpulan video dilakukan dengan mengunduh data yang telah

tersedia di Youtube. Video film dan sinetron Surat Kecil untuk Tuhan telah

tersedia lengkap pada beberapa channel di Youtube, antara lain LayarTV

dan Rezky Aditya Full.

3. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan

pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap permasalahan yang

tengah diteliti.

c. Analisis Data

Analisis data dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Keterangan:

1.OBSERVASI 2.ABSTRAKSI 3.AKTANISASI

4.READING 5.KOMPARASI

(7)

1. Melakukan proses observasi atau pengamatan pada data dokumentasi yang

telah terkumpul guna mengetahui bagaimana penyajian cerita antara Surat

Kecil untuk Tuhan versi film dan versi sinetron. Pengamatan dilakukan

melalui hasil rekaman video yang diperoleh dari beberapa sumber.

2. Hasil observasi atau pengamatan rekaman video baik film maupun sinetron

Surat Kecil untuk Tuhan terlebih dahulu disusun menjadi sebuah uraian

cerita yang menyajikan secara utuh urutan kronologis peristiwa pada kedua

versinya. Uraian cerita tersebut kemudian disederhanakan kembali dalam

bentuk format story untuk memudahkan langkah selanjutnya.

3. Cerita film serta sinetron Surat Kecil untuk Tuhan kemudian dipetakan ke

dalam struktur aktan yang sesuai dengan terlebih dahulu mencari pola-pola

yang kemungkinan dapat menuntun temuan terhadap struktur aktan lainnya.

4. Melakukan analisis data aktan dari film dan sinetron Surat Kecil untuk

Tuhan yang telah terbentuk dari proses sebelumnya.

5. Hasil analisis struktur aktan dari kedua objek penelitian ditelaah lebih dalam

untuk mengetahui perbandinganya.

6. Tahap terakhir yakni mendeskripsikan temuan-temuan berupa kesimpulan

atas perbandingan dari penelitian yang telah dilakukan.

E. LANDASAN TEORI

Aktan dalam teori Greimas menempati enam peran, yaitu subjek, objek, pengirim

atau sender, penerima atau receiver, penolong atau helper, dan penentang atau opposant.

Herman dan Vervaeck (2001:63) menjelaskan bahwa pada umumnya pejuang (subjek)

terdiri atas pelaku sebagai manusia, sedangkan tujuan (objek) terdiri atas berbagai

kehendak yang mesti dicapai, seperti kebebasan, keadilan, kekayaan dan sebagainya.

Perjuangan pejuang meraih tujuannya dimulai setelah diperintahkan atau didorong atau

dimotivasi oleh seorang penguasa atau suatu kehendak atau suatu latar belakang

(pengirim). Suatu perjuangan pada umumnya dihalangi oleh kekuasaan (penghalang) tetapi

apabila berhasil maka pelaku (penerima) menerimanya sebagai hadiah.

Pengirim (sender)

Penerima (receiver) Objek

Penolong

(helper) Subjek

(8)

F. PEMBAHASAN

a. Film Surat Kecil untuk Tuhan 1. Analisis Struktur Aktan

Aktanisasi dimulai dengan menemukan pola para pelaku tindakan dalam

menjalankan aksi atau mengalami peristiwa dalam cerita. Pelaku utama yang selalu

difokuskan dalam cerita adalah subjek dan dari sini aktan-aktan yang lain dapat ditemukan.

Secara keseluruhan, ada 9 pola subjek dalam film Surat Kecil untuk Tuhan. Pola-pola ini

kemudian membentuk skema aktansialnya masing-masing dengan sendirinya. Hasilnya,

dari film Surat Kecil untuk Tuhan dapat ditemukan 11 skema aktan dari 9 pola subjek.

Ke-11 aktan ini kemudian dibaca pola dan kecenderungannya sehingga bisa diketahui inti

cerita versi film Surat Kecil untuk Tuhan. Berikut ini adalah skema aktan yang terbentuk

dari pola Keke sebagai subjek yang berusaha mendapatkan objeknya, yaitu Kesembuhan.

Pola Subjek : Keke

Gambar 4.1 Skema aktan film I

Harapan Keke dan keluarga agar Keke kembali hidup normal dan sehat (pengirim)

menjadi motivasi bagi Keke (subjek) untuk mendapatkan kesembuhan (objek). Melalui

berbagai macam cara pengobatan yang Keke jalani, Keke menginginkan kesembuhan bagi

dirinya sendiri. Namun Keke harus berjuang keras untuk melawan kanker (penghalang).

Keke beruntung sebab ada (penolong) Ayah yang selalu menemani, membiayai

pengobatan Keke dan selalu berusaha mencarikan pengobatan untuk Keke. Ibu Keke juga

membantu dengan menyarankan pada Ayah Keke agar Keke dibawa pada Profesor Mulkis

agar penyakit Keke dapat segera ditangani. Andi kekasih Keke juga selalu mendukung SEHAT

AYAH, PROFESOR, KELUARGA,

ANDI, SAHABAT

KANKER KEKE

(9)

Keke agar kuat dalam usahanya menjalani pengobatan demi mendapatkan kesembuhan,

begitu pula dengan sahabat-sahabat Keke yang selalu setia pada Keke. Keke sempat

memperoleh hasil atas usahanya untuk memperoleh kesembuhan. Namun hal tersebut

hanya berlangsung selama enam bulan sebelum akhirnya Keke meninggal karena kanker

tersebut kembali menyerang. Meninggalnya Keke setelah kanker menyerang untuk yang

kedua kalinya membuat Keke batal menerima hasil usahanya dalam menjalani pengobatan.

Dengan begitu Keke tidak dapat menduduki aktan sebagai penerima.

Di bawah ini adalah tabel hasil rekapan keseluruhan aktan dan perannya dari film

Surat Kecil untuk Tuhan.

No Aktan Kelas Aktan Pola Waktu cerita (poros objek)

1 Keke Subjek Keke sebagai

subjek

kesembuhan, sosok kakak, kerukunan keluarga

2 Keke Objek Andi, Kanker

sebagai subjek

Cinta Keke, mengirim Keke kepada kematian

3 Keke Penerima Ayah, Ibu, Profesor, Keke sebagai subjek

Mendapatkan pengobatan untuk Keke, meminta Profesor

mengobati Keke, memberi obat kepada Keke, mendapat sosok kakak

kebahagiaan Keke, kesembuhan

6 Ayah subjek Ayah sebagai

subjek

Mendapatkan pengobatan untuk Keke

7 Ayah Penolong Ibu, Keke

sebagai subjek

Meminta Profesor mengobati Keke, kesembuhan

Sosok kakak, kerukunan keluarga

10 Ayah pengirim Profesor sebagai subjek

Memberi obat kepada Keke

11 Andi subjek Andi sebagai

subjek Sahabat Keke sebagai subjek

Kebahagiaan Keke

15 Sahabat Keke

Penolong Keke sebagai subjek

(10)

16 Ibu Subjek Ibu sebagai subjek

Meminta Profesor mengobati Keke

17 Ibu Penolong Ayah sebagai subjek

Mendapatkan pengobatan untuk Keke

18 Ibu Penerima Keke sebagai subjek

Kerukunan keluarga

19 Profesor Subjek Profesor sebagai subjek

Memberi obat kepada Keke

20 Profesor penolong Keke sebagai subjek

kesembuhan

21 Profesor objek Ibu sebagai subjek

Meminta Profesor mengobati Keke

Kebahagiaan, sosok kakak, kerukunan keluarga

24 Kak Chika Pengirim Keke sebagai subjek

Sosok kakak

25 kanker subjek Kanker sebagai subjek

Mengirim Keke kepada kematian

26 kanker Pengirim Ayah, Ibu sebagai subjek

Mencari pengobatan untuk Keke, meminta Profesor mengobati Keke

Cinta Keke, mencari pengobatan untuk Keke, meminta Profesor mengobati Keke, memberi obat kepada Keke, kebahagiaan Keke, kesembuhan

28 kanker Penolong Keke sebagai subjek

Sosok kakak, kerukunan keluarga

Mencari pengobatan untuk Keke

31 Keluarga penolong Keke sebagai subjek

kesembuhan

32 Kerukunan objek Keke sebagai subjek

Kerukunan keluarga

33 Obat/kemo objek Ayah, Profesor sebagai subjek

Mencari pengobatan untuk Keke, memberi obat kepada Keke

34 Obat/kemo penghalang Kanker sebagai subjek

Mengirim Keke kepada kematian

35 Obat/kemo Penolong Profesor sebagai subjek

(11)

Skema aktansial pada Film Surat Kecil untuk Tuhan memperlihatkan

kecenderungan aktan Keke yang mempengaruhi pergerakan cerita di hampir seluruh skema

aktan. Aktan Keke muncul dalam 10 skema aktan dengan menjalankan fungsi aktan

sebagai subjek, objek, penerima dan penolong. Tokoh Keke berperan sebagai subjek

sebanyak tiga kali dan membentuk tiga skema setelah berhubungan dengan objek ketika

berusaha untuk sembuh, mendapatkan sosok seorang kakak, serta berusaha membuat

keluarganya rukun. Ketiga hubungan poros hasrat tersebut kemudian menarik poros

hubungan subjek objek lainnya. Seperti pada subjek Ayah, Ibu, Profesor, Kak Chika, Pak

Yus, Para Sahabat dan Kanker. Tarik menarik antar skema aktansial yang terpusat pada

Keke membentuk semacam sistem pusat atau inti yang dikelilingi oleh para aktan.

Satu skema lagi yang belum masuk dalam sistem berpusat ini, yaitu skema

aktansial Andi yang berusaha mendapatkan Keke karena rasa cintanya. Skema ini juga

sama-sama dipengaruhi oleh aktan Keke tetapi tidak dapat ditarik masuk oleh pengaruh

poros Keke sebagai subjek karena aktan Keke dalam skema ini berperan sebagai objek.

Artinya, ada pusat baru yang tebentuk dari hubungan poros ini, yaitu hubungan cinta Andi

dan Keke. Sehingga terbentuklah tiga pusat yang mencakup seluruh skema aktansial yang

dipengaruhi oleh Keke sebagai tokoh penggerak cerita yang utama pada film ini.

Tiga sistem pusat aktansial ini menggerakkan jalannya cerita dari awal hingga akhir

film Surat Kecil untuk Tuhan. Sistem pusat aktansial yang dapat menggerakkan jalannya

cerita ini tak lain adalah inti dari cerita film itu sendiri. Dengan demikian, dapat

disimpulkan inti jalan cerita film ini terdiri dari :

1. Cerita tentang cinta antara Keke dan Andi.

2. Cerita perjuangan Keke untuk sembuh dari kanker.

3. Cerita usaha Keke untuk mendamaikan keluarganya.

b. Sinetron Surat Kecil untuk Tuhan The Series 1. Analisis Struktur Aktan

Sama halnya seperti proses aktanisasi dan pembacaan pada versi film Surat Kecil

untuk Tuhan, versi sinetron juga melalui proses aktanisasi dan pembacaan dengan metode

yang tidak jauh berbeda. Pola aktan ditentukan dari sumbu atau poros hubungan subjek

dengan objek. Setelah aktan ditemukan, pembacaan pun dilakukan atas skema-skema

aktansial ini sampai ke tingkatan inti cerita. Skema aktan pada sinetron Surat Kecil untuk

(12)

story sineteron Surat Kecil untuk Tuhan. Berikut ini adalah tabel hasil rekapan aktan dan

perannya pada sinetron Surat Kecil untuk Tuhan.

No Aktan Kelas Aktan Pola Subjek Waktu Cerita (poros objek) 1 Keke subjek Keke sebagai subjek Mencari kesembuhan dari

kanker, menjadi dokter, dan berbuat untuk sesama 2 Keke penerima Kak Dika, Ibu,

Alan, Teman-teman Keke, dan Pak Beni sebagai subjek

Kebahagiaan Keke, menjadi ibu terbaik, kebahagiaan Keke, semangat Keke, kebahagiaan Keke

3 Keke Kemungkinan

penerima

Keke, Ayah, Dokter Orlando sebagai subjek

Kesembuhan Keke, menjadi dokter, kesembuhan Keke tanpa operasi dan rasa takut, kesembuhan Keke,

mewujudkan cita-cita Keke, Kesembuhan Keke

4 Keke penolong Ayah, Kak Dika, Ibu, Alan, Alina dan Adinda, Teman-teman Keke, Angel, Morgan, Nana, Ibu Desi, Pak Ruby sebagai objek

Mewujudkan cita-cita Keke, kebahagiaan Keke, menjadi ibu terbaik, membahagiakan ibu Alan, keteraturan hidup, kekuatan menghadapi kenyataan, Keke bersemangat, keluarga bahagia, cinta Kak Dika, menjadi pelukis, rukun dengan Pak Beni, Kesembuhan Nana,

keluarga, kebahagiaan Alan, kesembuhan Pak Ruby 5 Keke penghalang Alan, Angel,

Morgan, Pak Beni sebagai subjek

Membahagiakan Keke, mengalahkan Keke, rukun dengan Pak Beni, menjadi pelukis, membahagiakan Keke

6 Keke pengirim Dokter Orlando Kesembuhan Keke 7 Ayah subjek Ayah sebagai subjek Kesembuhan Keke tanpa

operasi dan rasa takut, kesembuhan Keke,

mewujudkan cita-cita Keke 8 Ayah penolong Keke, Ibu, Alina

dan Adinda, Nana, Dokter Orlando sebagai subjek

Kesembuhan Keke, menjadi dokter, berbuat untuk orang lain, menjadi ibu terbaik, kekuatan menghadapi kenyataan, keluarga, kesembuhan Keke 9 Ayah penghalang Alan, Angel, Pak

Beni sebagai subjek

(13)

10 Ayah pengirim Dokter Orlando Kesembuhan Keke 11 Kak Dika subjek Kak Dika sebagai

subjek

Kebahagiaan Keke

12 Kak Dika penolong Keke, Ayah, Angel, Pak Ruby sebagai subjek

Menjadi dokter, kesembuhan Keke,

mewujudkan cita-cita Keke, cinta Kak Dika,

kesembuhan 13 Kak Dika penghalang Alan dan Angel

sebagai subjek

Cinta Keke, mengalahkan Keke

14 Ibu subjek Ibu sebagai subjek Menjadi ibu terbaik 15 Ibu penolong Keke, Ayah sebagai

subjek

Kesembuhan Keke, Kesembuhan Keke tanpa operasi dan rasa takut 16 Ibu penghalang Keke, Ayah, Angel

sebagai subjek

Menjadi dokter,

mewujudkan cita-cita Keke, mengalahkan Keke

Alina dan Adinda, Teman-teman Keke, Angel, Pak Ruby, Dokter Orlando

Kesembuhan, menjadi dokter, keinginan berbuat untuk orang lain,

kebahagiaan Keke, kekuatan menghadapi kenyataan, Keke bersemangat, keluarga bahagia, cinta Kak Dika, kesembuhan, kesembuhan Keke

19 Alan penghalang Angel, Morgan Mengalahkan Keke, cinta Keke,

20 Alan penerima Ibu Desi sebagai subjek

Membahagiakan Alan

21 Teman Keke subjek Teman-teman Keke sebagai subjek

Keke bersemangat

22 Alina dan Adinda

subjek Teman-teman Keke sebagai subjek

Kekuatan menghadapi kenyataan

23 Teman Keke penolong Keke, Ayah, Alan, Alina dan Adinda

Kesembuhan Keke, keinginan berbuat untuk orang lain, kesembuhan Keke, cinta Keke, membahagiakan Keke, kekuatan menghadapi kenyataan,

24 Teman Keke penghalang Angel Mengalahkan Keke 25 Teman Keke penerima Keke, Teman-teman

Keke

(14)

bersemangat 26 Alina dan

Adinda

penerima Alina dan Adinda Kekuatan menghadapi kenyataan

27 Angel subjek Angel sebagai subjek

Mengalahkan Keke,

keluarga bahagia, cinta Kak Dika

28 Angel Penerima Keke, Angel Keinginan berbuat untuk orang lain, keluarga bahagia, cinta Kak Dika 29 Angel penghalang Keke, Alina dan

Adinda, Teman-teman Keke, Pak Beni

Kesembuhan, keinginan berbuat untuk orang lain, kekuatan menghadapi kenyataan, Keke bersemangat,

membahagiakan Keke 30 Morgan subjek Morgan sebagai

subjek

Menjadi pelukis, rukun dengan Pak Beni, cinta Keke

31 Morgan Penerima Keke, Morgan Keinginan berbuat untuk orang lain, menjadi pelukis, rukun dengna Pak Beni 32 Morgan Penolong Keke, Ayah, Alan,

Nana, Pak Beni, Dokter Orlando

Kesembuhan, menjadi dokter, keinginan berbuat untuk orang lain,

kesembuhan Keke, 33 Morgan Penghalang Alan, Angel, Pak

Beni

Cinta Keke, mengalahkan Keke, membahagiakan Keke

34 Nana Subjek Nana sebagai subjek Kesembuhan, keluarga 35 Nana Penerima Keke, Nana Keinginan membantu orang

lain, kesembuhan, keluarga 36 Nana Penolong Morgan, Pak Beni Cinta Keke,

membahagiakan Keke

37 Nana penghalang Angel Mengalahkan Keke

38 Pak Beni subjek Pak Beni sebagai subjek

Membahagiakan Keke

39 Pak Beni Penolong Keke, Alan, Morgan, Nana

Menjadi dokter, keinginan berbuat untuk orang lain, membahagiakan ibunya, menjadi pelukis, cinta Keke, kesembuhan, keluarga 40 Pak Beni penerima Keke, Morgan Keinginan berbuat untuk

(15)

41 Pak Beni penghalang Alan, Angel, Morgan

Keteraturan hidup,

mengalahkan Keke, menjadi pelukis, rukun dengan Pak Beni

42 Ibu Desi subjek Ibu Desi sebagai subjek

Membahagiakan Alan

43 Ibu Desi penerima Alan sebagai subjek Membahagiakan ibunya 44 Ibu Desi penolong Alan sebagai subjek Cinta Keke

43 Ibu Desi Penghalang Alan sebagai subjek Cinta Keke 44 Pak Ruby subjek Pak Ruby sebagai

subjek

Kesembuhan

45 Pak Ruby penolong Keke, Kak Dika, Alan sebagai subjek

Berbuat untuk orang lain, kebahagiaan Keke, keteraturan hidup

46 Pak Ruby penerima Keke sebagai subjek Berbuat untuk orang lain 47 Pak Ruby Kemungkinan

penerima

Pak Ruby sebagai subjek

Kesembuhan

48 Dokter Orlando

Subjek Dokter Orlando sebagai subjek

Kesembuhan Keke

49 Dokter Orlando

Penerima Keke sebagai subjek Keinginan berbuat untuk orang lain

50 Dokter Orlando

Penolong Keke, Ayah sebagai subjek

Kesembuhan, Kesembuhan Keke

51 Dokter Orlando

Penghalang Alan sebagai subjek Cinta Keke

52 Kanker penghalang Keke, Ayah, Alan, teman-teman Keke, Nana, Pak Ruby, Dokter Orlando sebagai subjek

Kesembuhan, menjadi dokter, keinginan berbuat untuk orang lain,

kesembuhan Keke, cinta Keke, Keke bersemangat, kesembuhan, kesembuhan 53 Kanker pengirim Ayah sebagai subjek Kesembuhan Keke tanpa

operasi dan rasa takut, kesembuhan Keke 54 kanker penolong Angel sebagai

subjek

Mengalahkan Keke

55 Efek kemo penghalang Keke, teman-teman Keke, Dokter Orlando sebagai subjek

Kesembuhan, keinginan berbuat untuk orang lain, Keke bersemangat, kesembuhan Keke 56 Efek kemo penolong Angel sebagai

subjek

Mengalahkan Keke

57 Kesembuhan Objek Keke, Nana, Pak Ruby sebagai subjek

Kesembuhan

58 Keinginan sembuh

pengirim Keke, Nana, Pak Ruby sebagai subjek

Kesembuhan

59 Kurang uang penghalang Keke, Ayah, Kak Dika, Nana sebagai

(16)

subjek untuk orang lain, kesembuhan Keke,

mewujudkan cita-cita Keke, kebahagiaan Keke,

kesembuhan 60 Cinta pengirim Alan, Angel,

Morgan sebagai subjek

Cinta Keke, cinta Kak Dika, menjadi pelukis, cinta Keke

61 Kasih sayang

pengirim Kak Dika, Ibu, Alan, teman-teman Keke, Ibu Desi, Dokter Orlando sebagai subjek

Kebahagiaan Keke, menjadi ibu terbaik, membahagiakan ibunya, Keke bersemangat, kebahagiaan Alan,

kesembuhan Keke 62 Kemoterapi penolong Nana, Pak Ruby,

Dokter Orlando

penolong Keke, Ayah, Dokter Orlando sebagai subjek

Kesembuhan, Kesembuhan Keke, Kesembuhan Keke

64 Profesor Anwar

penghalang Morgan sebagai subjek

Menjadi pelukis

65 Pak Yus penolong Keke, Ayah sebagai subjek

Menjadi dokter, membantu orang lain, kesembuhan Keke tanpa operasi dan rasa takut, mewujudkan cita-cita Keke

66 Bi Inah Penolong Keke, Ayah sebagai subjek

Menjadi dokter,

kesembuhan Keke tanpa operasi dan rasa takut, mewujudkan cita-cita Keke

Seluruh skema aktansial pada sinetron, sama seperti skema aktansial pada film,

juga memiliki pola dan kecenderungan untuk memusatkan diri pada sistem-sistem yang

terbentuk oleh aktan yang paling berpengaruh. Aktan Keke adalah aktan yang paling

banyak muncul di seluruh skema aktansial sinetron. Aktan Keke muncul dalam 25 skema

dari 26 skema aktansial dengan menjalankan fungsi sebagai subjek, pengirim, penerima,

penolong, dan penghalang. Aktan Keke membentuk pusat sistem yang menarik hampir

seluruh skema aktan dan mengelilinginya

Jadi, jumlah pusat sistem secara keseluruhan ada tujuh. Seluruh jumlah pusat

sistem tersebut dapat dianggap sebagai inti yang menggerakkan cerita versi sinetron.

Dengan demikian dapat disimpulkan inti cerita versi sinetron terdiri dari tujuh point, antara

lain:

(17)

2. Cerita orang-orang terdekat Keke yang ingin membahagiakan Keke.

3. Cerita keinginan dan usaha untuk menggapai cita-cita.

4. Cerita cinta antara Keke, Alan dan Morgan.

5. Cerita upaya Keke dalam membantu orang lain yang membutuhkan.

6. Cerita usaha dan keinginan untuk mendapatkan keluarga bahagia.

7. Cerita pergaulan dan persaingan remaja di sekolah.

c. Perbandingan Aktan Surat Kecil untuk Tuhan Versi Film dan Sinetron

Perbandingan aktan film dan sinetron menghasilkan point-point penting, yaitu

jumlah skema aktan secara keseluruhan pada dua objek, jumlah pola subjek yang muncul

dari keseluruhan skema aktan pada masing-masing objek dan inti cerita yang sudah

ditemukan. Perbandingannya ada dalam tabel berikut ini.

No Poin Perbandingan

Film Sinetron

1 Jumlah skema

3 Inti cerita 4. Cerita tentang cinta antara Keke dan Andi. 5. Cerita perjuangan

Keke untuk sembuh dari kanker.

6. Cerita usaha Keke untuk mendamaikan keluarganya.

1. Cerita perjuangan untuk sembuh dari penyakit kanker. 2. Cerita orang-orang

terdekat Keke yang ingin membahagiakan Keke.

3. Cerita keinginan dan usaha untuk menggapai cita-cita.

4. Cerita cinta antara Keke, Alan dan Morgan.

5. Cerita upaya Keke dalam membantu orang lain yang

membutuhkan. 6. Cerita usaha dan

keinginan untuk mendapatkan keluarga bahagia.

(18)

d. Konklusi Perbandingan Aktan versi Film dan Sinetron Surat Kecil untuk Tuhan Perbandingan aktan versi film dan sinetron Surat Kecil untuk Tuhan secara

keseluruhan menghasilkan point-point sebagai berikut :

1. Jumlah skema aktansial, dan pola subjek pada versi sinetron lebih banyak daripada

versi film.

2. Jumlah inti cerita versi sinetron lebih banyak daripada versi film.

3. Struktur aktan pada versi sinetron lebih dinamis daripada versi film. Ini ditunjukkan

oleh keberadaan aktan yang berperan sebagai penghalang pada versi sinetron

seiring berjalannya cerita perlahan-lahan bertransformasi menjadi penolong.

Sementara itu, transformasi semacam ini tidak terdapat pada versi film.

4. Inti cerita versi sinetron lebih luas cakupan permasalahannya dibandingkan versi

film. Versi film hanya memfokuskan inti ceritanya pada kehidupan pribadi Keke di

tingkat keluarga dan sahabatnya saja. Sementara itu, versi sinetron memperlebar

fokus inti cerita dengan memasukkan penambahan inti cerita.

5. Mood versi film lebih sedih dan kelam dibanding versi sinetron. Hal ini

ditunjukkan oleh keberadaan aktan kanker yang membawa kesan negatif dan

kesedihan sebagai penerima dan penghalang pada banyak skema aktansial dalam

versi film. Sementara pada versi sinetron, keberadaan aktan kanker sebagai

penghalang tidak muncul sebagai penghalang satu-satunya. Terdapat aktan lain

seperti aktan Angel atau faktor ekonomi yang mengurangi kesan negatif dan

kesedihan pada aktan kanker sebagai penghalang utama. Selain itu, jumlah pola

subjek pada versi sinetron yang lebih banyak daripada versi film membantu

mengurangi fokus cerita pada kesan kesedihan akibat aktan kanker. Inti cerita versi

sinetron yang punya cakupan lebih luas daripada versi film juga membantu

mengurangi timbulnya mood kesedihan pada cerita versi sinetron.

Point-point di atas menuntun penelitian ini kepada dua konklusi, yaitu:

1. Melalui pola struktur aktan yang ditemukan pada versi sinetron, cerita pada versi

ini lebih dikembangkan oleh pembuat cerita dibandingkan pada versi film.

Konklusi ini didapat setelah melihat poin pertama sampai poin keempat di atas.

Jumlah aktan, skema aktan, pola subjek dan inti cerita yang lebih banyak, struktur

(19)

pada versi sinetron menunjukkan adanya upaya lebih untuk mengeksplorasi

struktur aktan oleh versi sinetron dibandingkan versi film.

2. Struktur aktan pada versi film membawa mood yang lebih sedih dan kelam

dibandingkan versi sinetron, seperti yang dijelaskan pada poin kelima di atas.

G. KESIMPULAN

Hasil penelitian pada ini memberikan beberapa kesimpulan, antara lain :

1. Struktur aktan versi film Surat Kecil untuk Tuhan membentuk 9 pola subjek yang

terdiri dari aktan dengan pola subjek Keke, Ayah, Ibu, Kak Chika, Pak Yus,

Profesor Mulkis, Para Sahabat Keke, Andi dan Kanker. Pola-pola subjek tersebut

kemudian menghasilkan 11 skema aktansial.

2. Struktur aktan versi sinetron Surat Kecil untuk Tuhan membentuk 13 pola subjek

yang terdiri dari aktan Keke, Ayah, Ibu, Kak Dika, Alan, Para Sahabat Keke,

Dokter Orlando, Angel, Nana, Morgan, Ibu Desi, Pak Ruby dan Pak Beni.

Pola-pola subjek tersebut kemudian membentuk 26 skema aktansial.

3. Perbandingan struktur aktan dua versi tersebut menghasilkan beberapa temuan,

antara lain :

a. Jumlah aktan, skema aktansial, dan pola subjek pada versi sinetron lebih

banyak daripada versi film.

b. Jumlah inti cerita versi sinetron lebih banyak daripada versi film.

c. Struktur aktan pada versi sinetron lebih dinamis daripada versi film. Ini

ditunjukkan oleh keberadaan aktan yang berperan sebagai penghalang pada

versi sinetron seiring berjalannya cerita perlahan-lahan bertransformasi

menjadi penolong. Sementara itu, transformasi semacam ini tidak terdapat

pada versi film.

d. Inti cerita versi sinetron lebih luas cakupan permasalahannya dibandingkan

versi film. Versi film hanya memfokuskan inti ceritanya pada kehidupan

pribadi Keke di tingkat keluarga dan sahabatnya saja. Sementara itu, versi

sinetron memperlebar fokus inti cerita dengan memasukkan kisah cerita

orang-orang terdekat Keke yang ingin membahagiakan Keke, cerita

keinginan dan usaha untuk menggapai cita-cita, Cerita upaya Keke dalam

membantu orang lain yang membutuhkan, dan cerita pergaulan serta

(20)

e. Mood versi film lebih sedih dan kelam daripada versi sinetron. Ini

ditunjukkan oleh keberadaan aktan kanker yang membawa kesan negatif

dan kesedihan sebagai penerima dan penghalang pada banyak skema

aktansial dalam versi film. Sementara pada versi sinetron, keberadaan aktan

kanker sebagai penghalang tidak muncul sebagai penghalang satu-satunya.

Ada aktan lain seperti aktan Angel yang mengurangi kesan negatif dan

kesedihan pada aktan kanker. Selain itu, jumlah pola subjek pada versi

sinetron yang lebih banyak daripada versi film membantu mengurangi fokus

cerita pada kesan kesedihan akibat aktan kanker. Inti cerita versi sinetron

yang punya cakupan lebih luas daripada versi film juga membantu

mengurangi mood sedih pada cerita versi sinetron. Imbas dari perlakuan ini,

versi sinetron terlihat seperti sedang memanjang-manjangkan cerita

dibandingkan versi filmnya.

4. Penyebab masing-masing media berbeda dalam memperlakukan cerita Surat Kecil

untuk Tuhan adalah konsep serialisasi dan durasi yang mempengaruhi

masing-masing media. Konsep serialisasi tidak dikenal dalam sistem industri perfilman

sehingga versi film lebih memilih fokus pada struktur aktan Keke dan tegas

membentuk mood sedih pada film. Sementara versi sinetron yang memang

beroperasi dengan konsep serialisasi menyebabkan versi sinetron memilih untuk

mengeksplorasi atau tampak memanjang-manjangkan struktur aktan cerita Surat

Kecil untuk Tuhan dan tidak tegas dalam membentuk mood. Konsep serialisasi

terjadi akibat sistem industri pertelevisian yang berorientasi mendapatkan

penghasilan dari iklan dengan menggaet dan mempertahankan penonton golongan

tertentu yang bersifat memonitor tayangan televisi untuk tetap menonton sinetron

Surat Kecil untuk Tuhan.

Demikianlah kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditemukan setelah semua proses

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Agnes Davonar. 2011. Surat Kecil untuk Tuhan. Jakarta : Inandra Published.

Astri Ekawijayanti. 2012. “Analisis Isi Perbandingan Novel Surat Kecil untuk

Tuhan karya Agnes Davonar dan Film Surat Kecil untuk Tuhan Karya Harris

Nizam.” Skripsi S-1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana,

Jakarta.

Eriyanto. 2013. Analisis Naratif. Jakarta : Kencana.

Herman, Luc and Bart Vervaeck. 2001. Handbook of Narrative Analysis. Lincoln :

University of Nebraska Press.

Lutters, Elizabeth. 2004. Kunci Sukses Menulis Skenario. Jakarta : Gramedia.

Marissa Saraswati. 2007. “Struktur Penokohan dan Ideologi Gender dalam Shrek.”

Skripsi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Jakarta.

Marselli Sumarno. 1994. “Studi Perbandingan Estetika Skenario Film Bioskop

dengan Film TV.” Skripsi Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.

Naratama. 2004. Menjadi Sutradara Televisi dengan Singel dan Multi Camera.

(22)

Stoke, Jane. 2006. How To Do Media & Cultural Studies. Terjemahan Santi Indra Astuti, Bentang, Yogyakarta.

Sujarwa. 2010. Mitos di Balik Kisah-Kisah Sinetron dalam Perspektif Hegemoni dan Kapitalisasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

DAFTAR SUMBER ONLINE www.kompasiana.com diakses tanggal 11 Oktober 2013 pukul 5:21

www.kompas.com diakses 7 Mei 2014 pukul 02:19

www.acara-acara.com diakses pada 18 Maret 2014 pukul 23:36

www.suaramerdeka.com diakses pada tanggal 11 Oktober 2013 pukul 4:39

w

www.facebook.com Sinetron Surat Kecil untuk Tuhan The Series

www.celebrity.yahoo.com diakses tanggal 17 Maret 2014 pukul 14:05

DAFTAR SUMBER AUDIO VISUAL Youtube channel ‘Rezky Aditya Full’

Youtube channel ‘LayarTV’

DAFTAR NARASUMBER

Agnes Davonar selaku penulis novel Surat Kecil untuk Tuhan dan Asisten Penulis

(23)

PROFIL PEMBICARA

DATA PRIBADI

Nama : Maria Ulfa

Tempat Tanggal Lahir : Malang, 2 November 1991

Alamat : Jl. Parangtritis Km. 5, RT 6 Tarudan, Sewon, Bantul, DIY

Email

LATAR PENDIDIKAN

1998-1999 TK Aishiyah Bustanul Athfal Batu 1999-2004 MI. Miftahul Ulum Batu

2004-2007 MTs. Hasyim Asyari Batu

2007-2010 SMKN 03 Batu

(24)

PROFIL PEMBAHAS

Nama : Dr. Aprinus Salam, M.Hum.

Jabatan : Kepala Pusat Studi Kebudayaan Universitas Mada, Yogyakarta

Alamat Kantor : Jl. Trengguli No. E-9, Bulaksumur, Yogyakarta

Email

LATAR PENDIDIKAN

2003-2010 Doctor, Faculty of Literature & Culture, Gadjah Mada University, Disertasi : Negara dan Perubahan Sosial : Kajian Wacana dan Sosiologi Sastra atas Novel-Novel Indonesia Tahun 1980-an – 1990-an

2000-2002 Master, Ilmu-Ilmu Humaniora, Universitas Gadjah Mada, Thesis : Latar Sosial-Politik Munculnya Puisi Sufi Pada Tahun 1980-an Hingga 1990-an di Yogyakarta

Gambar

Gambar 4.1 Skema aktan film I

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari pemberian infus kelopak kering bunga Rosella dalam menurunkan kadar kolesterol total

Pencegahan S Sekunder – – P Pasien D Dengan R Risiko T Tinggi Pasien yang memulai hubungan seksual saat usia < 18 tahun dan wanita yang mempunyai banyak partner (multipel

[r]

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk identifikasi suku Poaceae, membuat data fotografi suku Poaceae sehingga dapat digunakan sebagai suplemen keanekaragaman

Namun pada gel yang memiliki swelling degree yang sama, jumlah ion Zn 2+ yang teradsorpsi akan meningkat seiring kenaikan konsentrasi dari larutan Zn(NO 3 )

Acara Silatara merupakan kepanjangan dari silaturahmi lewat udara. Target pendengar dalam acara ini kategori remaja yang berusia 15 - 25 tahun. Musik-musik yang disiarkan

Luaran dari kegiatan ini adalah adanya paket teknologi pengolahan keripik singkong dan kerupuk udang yang terdiri dari mesin perajang singkong, peniris minyak, penggiling