I. Pendahuluan - Pengembangan Program Pendidikan Konservasi: Sebuah Pembelajaran di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Teks penuh

(1)

Pengembangan Program Pendidikan Konservasi:

Sebuah Pembelajaran di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Anton Ario1 dan Jatna Supriatna 1,2

1. Conservation International Indonesia;

Jalan Pejaten Barat No.16A, Kemang, Jakarta 12550, 2. Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Indonesia, Depok,

E-mail: aario@conservation.org; jatna.supriatna@gmail.com;

jatna.supriatna@unitedindiversity.org

Abstrak

Conservation International Indonesia telah mengembangkan program pendidikan konservasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sejak tahun 1998. Bersama dengan mitra dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Yayasan Alam Mitra Indonesia (Yayasan Alami), CI mengembangkan Pusat pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKA Bodogol). CI juga mengembangkan program pendidikan konservasi keliling Moli dan Telsi sejak tahun 2002. Strategi pendekatan yang dikembangkan yaitu pendekatan low volume-high value, mempertahankan batas jumlah kunjungan dengan masih memberikan pendapatan, untuk memastikan dampak yang rendah pada lingkungan, dan pendekatan sistem reservasi dalam pengelolaan pengunjung. Pendidikan konservasi yang berkelanjutan di kawasan konservasi menjadi hal utama dalam pegembangan program. Kolaborasi multi stakeholders juga dapat meningkatkan pengembangan program konservasi di kawasan taman nasional. Metode pendekatan yang dilakukan berupa interaksi langsung dengan alam, presentasi slide, film konservasi, pra test dan post test, diskusi dua arah, permainan alam, dan musik konservasi.

Kata kunci: pendidikan konservasi, taman nasional, keanekaragaman hayati, siswa dan masyarakat

I. Pendahuluan

(2)

masyarakat desa setempat melalui pembelajaran keterampilan dan hidup ramah lingkungan (http://www.pplhselo.or.id/PPLH)

Saat ini, inisiatif kegiatan pendidikan lingkungan sebagian besar telah berbasis sekolah, dengan mempromosikan konsep lingkungan dalam kurikulum sekolah, buku biologi atau kegiatan terkait seperti Klub Pencinta Alam di universitas. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga telah memainkan peran penting dalam mengembangkan pusat-pusat kajian ilmu lingkungan yang terkait dengan kawasan konservasi; dan secara proaktif bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mengembangkan muatan konservasi keanekaragaman hayati yang diperlukan dalam kurikulum (Indrawan et al, 2007).

Inisiatif pendidikan konservasi yang dilakukan LSM dimulai dari WWF Indonesia pada tahun 1995. WWF menciptakan program pendidikan konservasi yang ditujukan bagi masyarakat sekitar kawasan hutan melalui pemutaran film-fim tentang alam dan brosur pendidikan bagi anak-anak sekolah, masyarakat dan pemangku kepentingan (http://www.wwf.or.id/en/about_ wwf / whatwedo / pds/whatwedo/environmental education). Hal serupa juga dilakukan Conservation International Indonesia (CI) yang memulai programnya di kawasan konservasi dan sekitarnya di tiga lokasi berbeda, yaitu di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Gunung, Jawa Barat; di Sibolangit, Sumatera Utara dan program pendidikan konservasi kelautan di Raja Ampat, Papua.

CI menilai bahwa mengembangkan program pendidikan konservasi di daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan, pendidikan, perekonomian, dapat bermanfaat sebagai jendela informasi konservasi bagi para pemangku kepentingan (stakeholders). CI mengembangkan konsorsium melalui pendekatan kolaboratif dalam upaya peningkatan kesadaran konservasi keanekaragaman hayati di kawasan konservasi, yang meliputi lembaga pemerintah, LSM, lembaga penelitian, lembaga pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat setempat.

Dalam tulisan ini, kami akan memperkenalkan sebuah program pendidikan konservasi yang dikembangkan CI khususnya program Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKA Bodogol) di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan program pendidikan keliling yang dilakukan disekitar kawasan konservasi melalui berbagai metode pendekatan interaktif. Program yang dikembangkan diharapkan dapat memperkenalkan dan mempromosikan kenakearagaman hayati dan ekosistemnya kepada siswa dan masyarakat luas, serta sebuah pembelajaran dalam pengembangan program pendidikan yang berkelanjutan di kawasan konservasi.

Pengembangan Program di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKA Bodogol)

Kawasan TNGGP merupakan kawasan konservasi yang dibentuk pada tahun 1980, sebagai salah satu taman nasional pertama di Indonesia, dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu dari enam Cagar Biosfer di Indonesia (Whitten et al, 1999). Kawasan hutan tropis pegunungan yang memiliki luasan 22.975 hektar ini, berlokasi dekat kota-kota besar termasuk Jakarta, Bandung, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Depok, Bekasi dan Tangerang. Hanya membutuhkan waktu sembilan puluh menit dari Jakarta untuk menjangkau taman nasional tersebut (Wardojo, 1997). Kawasan konservasi ini merupakan habitat bagi beberapa satwa endemik dan terancam punah, antara lain elang jawa (Nisaetus bartelsi), surili

(3)

dan kukang jawa (Nycticebus javanicus) (Supriatna, 2006). Selain itu, kawasan ini merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi jutaan orang yang berada di sekitarnya. Potensi air di daerah ini bernilai sekitar US $ 100 juta / tahun; itu dikumpulkan dan dijual untuk dikonsumsi lebih dari 20 juta orang di 144 desa dan lima kota di dekatnya, termasuk Ibukota, Jakarta (CI, 2009).

Pengembangan program PPKA Bodogol dilakukan sejak tahun 1998. CI bersama dengan mitra yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Yayasan Alam Mitra Indonesia (Alami), berupaya memperkenalkan kepada siswa dan masyarakat umum tentang hutan hujan tropis serta berbagai keunikan yang terkandung didalamnya.

Tujuan dari program PPKA Bodogol antara lain:

1. Mengembangkan model pengelolaan daerah penyangga kawasan taman nasional;

2. Memperkenalkan, mempromosikan dan mengembangkan konsep low-impact

ekowisata, mengedepankan high quality dalam program pendidikan konservasi di taman nasional.

3. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi

4. Membangun model kemitraan antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, Sektor swasta dan masyarakat setempat.

Program pendidikan konservasi di PPKA Bodogol dirancang sebagai kegiatan pendidikan bernuansa ekowisata, dengan program utama yaitu pendidikan konservasi, ekowisata dan penelitian keanekaragaman hayati. Memiliki tema “menyingkap rahasia hutan

hujan tropis”, pengunjung diajak berinteraksi langsung dengan alam melalui pengembangan

progam yang ditawarkan seperti jungle tracking, mengenal satwa hutan tropis, mengenal tanaman obat, menyusuri asal usul air, yang kesemuanya dikemas dalam bentuk paket program. PPKA Bodogol juga menyediakan penginapan dalam bentuk asrama bagi siswa maupun masyarakat umum yang akan mengikuti paket program yang ditawarkan.

Untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan low-impact, PPKA Bodogol memberlakukan dua pendekatan. Pertama, strategi low volume-high value dengan menekankan penggunaan dan menghormati pengetahuan tradisional dan nilai-nilai lokal. PPKAB Bododol berupaya mempertahankan batas jumlah kunjungan dengan masih memberikan pendapatan, untuk memastikan dampak yang rendah pada lingkungan. Pendekatan kedua adalah sistem reservasi, yang bertujuan untuk membatasi jumlah pengunjung tersebut dan dapat mengontrol akses malam hari pengunjung ke dalam kawasan, sehingga memungkinkan dalam mengelola dampak pengunjung. Dengan pemanfaatan yang tepat, pengunjung dapat menikmati dan menyerap materi pendidikan konservasi secara maksimal.

(4)

Sejak beroperasinya pada tahun 1998 hingga saat ini, lebih dri 50.000 orang yang telah mengunjungi dan beraktifitas di PPKA Bodogol. Data pengunjung PPKA Bodogol dapat terlihat pada gambar 1, berikut data pendapatan dan pengeluaran dari hasil pengembangan program yang dilakukan. PPKA Bodogol telah menunjukkan arah program pendidikan konservasi yang berkelanjutan. Pendapatan dari program saat ini, cukup untuk membiayai perawatan fasilitas rutin harian, program pendidikan bulanan untuk anak-anak sekolah di sekitar wilayah tersebut, dan untuk membayar gaji dua staf dari masyarakat setempat.

Gambar 1. Data pengunjung, pendapatan dan pengeluaran PPKA Bodogol periode 1998-2013

Dalam rangka meminimalkan dampak pengunjung di kawasan konservasi, CI mengembangkan program penelitian dan pemantauan keanekaragaman hayati di PPKA Bodogol. Bekerjasama dengan mahasiswa dari berbagai universitas di Jawa, PPKA Bodogol berupaya mengumpulkan data ilmiah tentang flora dan fauna. Data yang terkumpul dapat bermanfaat dalam pengembangan program pendidikan yang dikemas lebih menarik, dan dimasukkan ke dalam permainan tentang alam. Selain itu, hasil pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan ekowisata menghasilkan manfaat timbal balik, yaitu dapat membantu mengantisipasi dan mengurangi dampak dari pengunjung, sementara pada saat yang sama pengunjung dapat terlibat aktif dalam pemantauan yang dilakukan khususnya untuk jenis-jenis satwa target seperti owa jawa. Dengan demikian pemantauan ilmiah juga dapat berkontribusi dalam pemasaran paket pendidikan konservasi yang dilakukan.

Pengembangan Pendidikan Keliling Mobil Unit Konservasi Moli dan Telsi

(5)

di sekolah-sekolah keagamaan, seperti Pondok Pesantren, Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliah yang juga banyak tersebar disekitar habitat owa jawa.

Dilengkapi dengan alat-alat multimedia dan audio visual, perpaduan berbagai metode pendekatan dalam setiap kegiatan, menjadikan program ini sarat akan berbagai informasi dan pengetahuan konservasi. Presentasi slide mengenai konservasi secara umum yang disesuaikan dengan target sasaran, pemutaran film konservasi yang berperan sebagai salah satu bahan pengetahuan juga sekaligus sebagai hiburan bagi target sasaran. Penyajian pra test dan post test yang diselingi dengan diskusi dua arah dengan mengajak target sasaran berdiskusi seputar konservasi, dipadukan dengan berbagai permainan, musik konservasi yang dapat menghibur sekaligus berisikan pesan-pesan konservasi. Selain itu perpustakaan keliling yang memuat berbagai buku, cerita dan majalah yang bernuansa informasi seputar konservasi, menghiasi setiap kegiatan dalam program ini.

Program ini dilakukan sejak tahun 2003, di lima kabupaten yaitu Bogor, Sukabumi, Cianjur Lebak dan Bandung. Hingga saat ini lebih dari 50.000 orang yang telah mendapatkan pengetahuan konservasi melalui program ini, baik dari kalangan siswa sekolah (SD, SMP dan SMU) maupun masyarakat lokal. Target sasaran tidak hanya sekolah-sekolah umum saja, namun dilakukan di sekolah-sekolah keagamaan, seperti Pondok Pesantren, Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliah yang juga banyak tersebar disekitar kawasan konservasi.

Untuk mengetahui sejauhmana materi konservasi dapat diterima oleh para siswa selama perjalanan mobil unit ini, maka diperlukan studi kemampuan siswa dalam menyerap informasi yang disampaikan oleh pemateri. Sebagai contoh dalam pengujian pengetahuan ini telah dilakukan studi pada bulan Januari-Februari 2014 dengan mengambil sampel beberapa siswa dari berbagai tingkatan sekolah yaitu SD, SMP dan SMA. Pada masing-masing tingkatan sekolah diambil sampel sebanyak 3 sekolah , dengan total masing-masing siswa tiap tingkatan sekolah antara lain SD (N=132), SMP (N=142), SMA (N=86).

Pengujian dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan tertulis yang diberikan pada siswa sebelum kegiatan dilakukan (pra test). Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan yang dapat diserap atau diterima oleh siswa dari materi pendidikan yang disampaikan, maka diberikan beberapa pertanyaan tertulis kembali yang diberikan pada saat kegiatan berakhir (post test). Diberikan 10 pertanyaan bagi setiap siswa dengan pertanyaan yang sama dan bobot pertanyaan yang berbeda setiap tingkatan sekolah. Pengetahuan dasar diberikan kepada tingkatan SD, pengetahuan nalar diberikan kepada siswa SMP dan pengetahuan analisa diberikan kepada siswa SMU. Setiap jawaban yang diberikan secara tertulis oleh siswa diberi skor yang kemudian diberi nilai rata-rata.

Gambar 2. Diagram pengetahun siswa berdasarkan hasil pra dan post test

Berdasarkan hasil rata-rata pra test siswa sekolah dari berbagai tingkatan diketahui berturut-turut SD 63,72%, SMP 70,50% dan SMA 47,60%. Sedangkan berdasarkan hasil

(6)

rata post test dari berbagai tingkatan tingkatan diketahui berturut-turut SD 92,30%, SMP 92,63% dan SMA 97,88%. Hal ini menunjukkan rata-rata siswa dari tingkatan SD, SMP dan SMU, setelah melakukan kegiatan program mengalami peningkatan sebesar 28,58% untuk tingkat SD, 22,13 % untuk tingkat SMP dan 50,28 % untuk tingkat SMA. Hasil evaluasi ini dapat berguna sebagai pengembangan kegiatan program, khsususnya pengembangan materi program yang diberikan kepada siswa. Penguatan-penguatan materi dan penyampaian akan disesuaikan berdasarkan tingkatan sekolah masing-masing.

II.KESIMPULAN

Upaya pelestarian keanekaragaman hayati dikawasan konservasi dapat dilakukan dengan melibatkan multi pihak melalui pendidikan dan penyadaran dari tingkatan sekolah hingga para pemangku kepentingan. Upaya yang dilakukan CI melalui program pendidikan baik di PPKA Bodogol maupun mobil unit konservasi merupakan salah satu contoh pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Program ini telah berhasil dalam membantu siswa memahami pentingnya spesies dalam ekosistem, dan meningkatkan peran jasa lingkungan dalam mendukung mata pencaharian masyarakat setempat.

III. DAFTAR PUSTAKA

Boulton, M.N., & Knight, D. 2010. Conservation Education. In: ConservationBiology, Ian Spelerberg (ed), Pp. 70-79, Longman Group, London.

Conservation International Indonesia. 2009. Promoting Ecosystem Services Value from Hydrological

Processes in the Gedepahala

Indrawan, M. Primack, R. & Supriatna, J. 2007. Biologi Konservasi (Conservation Biology). Yayasan Obor, Jakarta, 502 p.

Jacobson, S.K. 1995. Introduction: Wildlife Conservation Through Education. In: Conserving Wildlife : International Education and Communication Approaches

http://www.pplhselo.or.id/PPLH. Consulted on 10 November 2014.

http://www.wwf.or.id/en/about_ wwf/whatwedo/pds/whatwedo/ environmentaleducation. Consulted on 14 September (2014).

Supriatna, J. 2006. Conservation Programs for the Endangered Javan gibbons (Hylobates moloch).

Primate Conservation, 21: 155-162.

Wardojo, W. 1997. Keanekaragaman Hayati dan Status Kawasan Konservasi Gunung Gede-

Pangrango dan Gunung Halimun, serta kendala pengelolaannya. In: Prosiding Diskusi

Figur

Gambar 1. Data pengunjung, pendapatan dan pengeluaran PPKA Bodogol periode 1998-2013

Gambar 1.

Data pengunjung, pendapatan dan pengeluaran PPKA Bodogol periode 1998-2013 p.4
Gambar 2. Diagram pengetahun siswa berdasarkan hasil pra dan post test

Gambar 2.

Diagram pengetahun siswa berdasarkan hasil pra dan post test p.5

Referensi

Memperbarui...