• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Sumber Daya Laut (Studi Deskrifip Terhadap Nelayan di Desa Bogak Kec. Tanjung Tiram Kab. Batubara)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengelolaan Sumber Daya Laut (Studi Deskrifip Terhadap Nelayan di Desa Bogak Kec. Tanjung Tiram Kab. Batubara)"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang berbeda-beda dan

merupakan negara kepulauan. Dalam catatan sejarah Bangsa Indonesia sejak

zaman dahulu sudah dikenal dengan jiwa baharinya. Jika dilihat dari luas wilayah

Indonesia yang sebahagian merupakan lautan maka, potensi ekonomi di Indonesia

banyak dari wilayah pesisir dan lautan yang terdiri dari berbagai macam kekayaan

alam dari laut diantaranya, seperti sumber daya perikanan, hutan mangrove,

kekuatan ombak untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL),

minyak, gas maupun pariwisata bahari.

Sumatera Utara merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang memiliki

garis pantai yang cukup luas dan dibarengi dengan potensi kelautan yang cukup

banyak. Potensi kelautan dan perikanan Sumatera Utara terdiri dari potensi

perikanan tangkap dan perikanan budidaya, dimana potensi perikanan tangkap di

Selat Malaka sebesar 276.030 ton/tahun dan potensi di Samudera Hindia sebesar

1.076.960 ton/tahun. Sedangkan produksi perikanan budidaya terdiri budidaya

tambak 20.000 Ha dan budidaya laut 100.000 Ha, budidaya air tawar 81.372,84

Ha dan perairan umum 155.797 Ha, kawasan Pesisir Sumatera Utara mempunyai

panjang pantai 1300 Km yang terdiri dari panjang Pantai Timur 545 Km, panjang

Pantai Barat 375 Km dan Kepulauan Nias dan pulau-pulau baru sepanjang 350

(2)

Sedangkan wilayah pengembangan kelautan dan perikanan di Provinsi

Sumatera Utara dibagi menjadi 3 wilayah pengembangan yang terdiri dari :

1. Wilayah Pantai Barat Sumatera Utara

Terdiri dari 12 kabupaten/kota yang berada di wilayah Pantai Barat yaitu

Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias

Utara, Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten

Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan,

Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara.

Dimana potensi pengembangan pada wilayah ini adalah penangkapan ikan,

pengolahan ikan. Budidaya laut yang terdiri dari rumput laut, ikan kerapu dan

kakap, budidaya tawar yang terdiri dari mas, nila, lele, patin, gurame, tawes dan

nilam. Budidaya tambak yang terdiri dari udang vaname, udang windu, kerapu,

kakap, bandeng.

2. Wilayah Dataran Tinggi Sumatera Utara

Kabupaten/kota yang termasuk pada wilayah dataran tinggi Sumatera

Utara adalah wilayah yang berada di wilayah tengah Provinsi Sumatera Utara

yang terdiri dari 10 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten

Toba Samosir, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten

Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, Kota Pematang Siantar, Kota

Tebing Tinggi, Kabupaten Pakpak Bharat. Sedangkan Potensi Pengembangan

pada wilayah ini terdiri dari penangkapan ikan di perairan umum, pengolahan

(3)

3. Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara

Terdapat 11 Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah Pantai Timur

Sumatera Utara yang terdiri dari Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten

Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten

Labuhan Batu, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara,

Kabupaten Batu Bara, Kota Medan, Kota Tanjung Balai, Dimana potensi

pengembangan di wilayah Timur Sumatera Utara adalah penangkapan ikan,

pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari kerapu, kakap, dan kerang hijau,

Budidaya Tawar yaitu Mas, Nila, Lele, Patin, Gurame, Grass carp, Lobster air

tawar, Bawal tawar dan Ikan hias, Budidaya Tambak yaitu Rumput Laut, Udang

Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng, sedangkan Budidaya perairan

umum yaitu Mas, Nila dan lainnya.

Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi penelitian di Kabupaten

Batu Bara. Secara geografis, posisi daerah ini cukup strategis. Merupakan salah

satu kabupaten di Sumatera Utara dengan luas wilayah 92.220 hektare terdiri dari

tujuh kecamatan yakni Air Putih, Limapuluh, Medang Deras, Sei Balai, Sei Suka,

Talawi, dan Tanjung Tiram. Kabupaten yang letaknya lebih kurang 145 km arah

tenggara Kota Medan ini berbatasan dengan Bandar Khalipah (Kabupaten

Serdang Bedagai) dan Selat Malaka di sebelah utara, di sebelah selatan berbatasan

dengan Meranti (Kabupaten Asahan) dan Ujung Padang (Kabupaten Simalungun),

di sebelah barat berbatasan dengan Bosar Maligas, Bandar, Bandar Masilam,

Dolok Batunanggar (Kabupaten Simalungun) dan Tebing Tinggi (Kabupaten

Serdang Bedagai). Sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Air Joman

(4)

Masyarakat pesisir yang tinggal di Kabupaten Batu Bara dalam hal ini

memiliki berbagai macam cara mengelolah hasil dari sumberdaya alam yang ada

di laut. Ada banyak cara masyarakat Kabupaten Batu Bara untuk memanfaatkan

dan mengelola sumber daya tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dimulai

dari suatu pemikiran yang diterapkan oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Batu-

Bara untuk mengolah hasil laut dengan baik dan bijaksana.

Pada masyarakat di Kabupaten Batu Bara tepatnya di Desa Bogak yang

berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Tiram atau Pelabuhan Bom dalam usaha

pengelolaan sumberdaya laut yang dilihat dari tangkapannya tidak hanya ikan

melainkan udang, cumi dan lainya. Ada pun diantaranya, udang diolah menjadi

terasi dan ikan bukan hanya dijual langsung ke pasar tetapi ada yang diasinkan.

Bahkan bila hasil tangkapan yang rusak atau busuk maka akan diolah menjadi

pakan untuk ikan karena sebagian masyarakat juga mempunyai tambak ikan.

Di sisi lain dalam usaha melestarikan dan menjaga sumberdaya laut

masyarakat Kabupaten Batu Bara muncul sebuah kepercayaan bahwa di dalam

laut tersebut, terdapat roh yang menghuni laut tersebut dan menjadi tugas mereka

untuk menjaga ketenangan roh dan tempat dimana roh itu berada. Masyarakat

tidak ingin hasil laut mereka rusak atau berkurang karena ulah manusia itu sendiri

dan juga mengangap laut adalah bagian dari kehidupan masyarakat lokal. Namun,

seiring berjalannya waktu kerusakan lingkungan laut dan pesisir mencapai

ambang batas kekhawtiran cukup tinggi, semua ini terjadi disebabkan oleh sering

kali dalam proses mendapatkan sumber daya laut ada beberapa warga masyarakat

(5)

tangkap ikan lainnya yang dalam pengoprasiannya sering kali merusak habitat

ikan itu sendiri.

Akibat hal tersebut, tentu saja mengurangi hasil tangkapan yang diperoleh

dari laut. Sumber daya laut yang dulunya sangat melimpah akan menjadi barang

yang sulit dicari jika dalam pemanfaatannya tidak diolah dengan baik. kegiatan

eksploitasi penangkapan ikan secara berlebih yang memberikan dampak negatif

pada tingkat kelimpahan ikan dan jumlah jenis-jenis ikan sebenarnya sudah

dilarang dan sudah dibuat undang-undangnya yaitu UU no 4 tahun 1982. Dalam

Undang-undang nomor 4 tahun 1982 tersebut dikatakan bahwa

“Lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup yang termasuk di dalamnya manusia dan perilaku yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.1

Dalam pengelolaan sumber daya laut masyarakat Kabupaten Batu Bara

memiliki beberapa cara tradisional untuk menangkap ikan. Cara tradisional

tersebut merupakan bagian dari sebuah kristalisasi pengalaman masyarakat selama

bertahun-tahun dalam menghadapi alam tempatnya tinggal atau yang biasa kita

sebut sebagai kearifan lokal. Lebih jelasnya lagi kearifan lokal adalah

pengetahuan suatu kelompok masyarakat terhadap pemanfaatan dan pengelolaan

sumberdaya alam, dan pengetahuan tersebut dapat diperolah dari pengalaman

masyarakat ataupun pengetahuan dari luar. Ada pun menurut Haryati Soebadio

Kearifan Lokal itu sendiri pun merupakan identitas atau kepribadian suatu suku ”

1

(6)

bangsa dengan demikian membuat bangsa tersebut dapat menyerap dan mengolah

pengetahuan dari luar atau budaya asing sesuai dengan pemikiran, watak dan

kemampuan mereka sendiri2

Masyarakat mengkonsepsikan bahwa di alam dan sekitar pemukiman serta

tempatnya mencari nafkah (muara, laut dan hutan) juga dihuni oleh mahluk lain

yang memiliki kekuatan supranatural. Mahluk ini dengan kekuatannya dapat .

Ada banyak kegitan-kegiatan masyarakat lokal dalam mengelolah sumber

daya alam yang berbasis kearifan lokal terutama pada masyarakat pesisir yang

sumber kehidupan mereka berasal dari laut diantaranya, kearifan lokal Ritual

Petik Laut yang berasal dari masyarakat nelayan Sendang Biru, Malang. Ritual ini

dilakukan setiap tahunnya yang jatuh pada tanggal 27 September. Upacara ini

dilakukan untuk menunjukan rasa syukur atas hasil panen laut yang berlimpah,

selain itu ritual ini merupakan bagian dari adat istiadat dan kebudayaan mereka.

Sementara itu pada masyarakat di Kabupaten Batu Bara mengenal kearifan

lokal dalam bentuk Ritual Jamu Laut. Ritual Jamu Laut merupakan tradisi

masyarakat pesisir, yang sudah hampir punah. Hanya sebagian kecil desa yang

masih melakukannya secara reguler. Di beberapa desa, terkadang masih

melakukannya yang disponsori pihak luar namun telah kehilangan sakralitasnya.

Di Kabupaten Batu Bara, hanya ada beberapa desa yang masih tetap ikut

melaksanakannya. Ritual Jamu Laut yang dilaksanakan di Kabupaten Batu Bara

merupakan bahagian dari kearifan lokal, karena sebagai bentuk hubungan yang

harmonis manusia dengan alam.

(7)

memberikan kebaikan berupa hasil tangkapan yang berlimpah, tetapi juga

berbagai penyakit yang bisa menyebabkan kematian. Sikap terbaik dalam

konsepsi masyarakat adalah membangun hubungan yang harmonis dengan

mahluk tersebut melalui cara tidak merusak alam dan memberikan makanan

melalui Ritual Jamu Laut.

Banyaknya kearifan lokal masyarakat Kabupaten Batu Bara dalam

mengelola sumberdaya laut nya menjadi garis besar topic penelitian ini. Peneliti

merasa permasalahan ini sangat penting untuk dijelaskan mengingat gerak laju

perkembangan zaman saat ini yang sangat cepat dan dinamis membuat kehidupan

para nelayan semakin terhimpit oleh pengelolaan sumberdaya laut yang tidak

teratur. Mendeskripsikan secara luas merupakan tugas penting bagi peneliti dan

diharapkan penelitian ini akan membawa banyak manfaat untuk banyak pihak.

1.2. Tinjauan Pustaka

Manusia memiliki budaya yang tidak lepas dari bagian lingkungan biotik

dan abiotik, sehingga untuk tujuan kelestarian alam dan kelestarian manusia

menjaga keseimbiangan antara ke tiga unsur tersebut budaya, lingkungan biotik

dan abiotok. Ruang aktivitas hidup manusia akan dipengaruhi oleh kondisi cuaca,

iklim, air, tanah, tumbuhan dan hewan. Maka dengan ini menunjukan aktifitas

budaya manusia tidak boleh menyebabkan rusaknya atau terganggunya

lingkungan biotik dan abiotik sebagai sumber daya untuk memenuhi semua

aktivitas hidup manusia (Hillmanto, 2010: 33-36)

Berdasarkan hal di atas, terkait dengan antropologi yang menekankan

(8)

(action)dan kelakuannya (behaviour) merupakan aspek penting sebagai objek

penelitian dan analisisnya. Koetjaraningrat mendefenisikan kebudayaan

merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam

rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Selanjutnya Honigman membedakan ada fenomena kebudayaan atau wujud

kebudayaan, ialah sistem budaya, sistem sosial dan artefak atau kebudayaan fisik.

Kemudian membagi kebudayaan meliputi bagian yang tampak (Overt Culture)

yaitu yang dapat dilihat oleh panca indra dan bagian yang tidak tampak (Covert

Culture) yaitu ide atau gagasan dan sesuatu yang abstrak (Poerwanto, 2010:

51-54). Kebudayaan dalam hal ini dijadikan pedoman bagi masyarakat untuk

menginterpretasikan lingkungan seperti melakukan pengelolahan lingkungan itu

sendiri.

Berbicara mengenai pengelolaan, tentu sangat berhubungan dengan sistem

pengetahuan masyarakat dan pengetahuan ini merupakan ide atau gagasan abstrak

yang selanjutnya berwujud pengelolaan lingkungan contohnya pengelolahan

sumberdaya laut yang berbasis kearifan lokal. Sumberdaya laut merupakan mata

pencaharian masyarakat pesisir. Menurut Naping3

3

Agus Budi Wibowo, dkk, sistem pengetahuan kenelayanan pada masyarakat nelayan Aceh besar.

(Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, Banda Aceh:2000), 2

, dengan sistem pengetahuan

yang dimiliki masyarakat pesisir tersebut menyebabkan mereka sudah biasa

dengan kehidupan laut. Selain itu, kegiatan masyarakat pesisir terutama nelayan

menangkap ikan dan mengolah sumberdaya laut, bukan hanya merupakan

kegitatan rutin dengan semata-mata tumpuan ekonomi keluarga, tetapi juga

ditempatkan sebagai suatu kebulatan yang memberi arti hidup dan kehidupan

(9)

Dalam kerangka fikir ini para nelayan menempatkan kegiatan melaut

mereka dalam konteks nilai budaya mereka. Pengetahuan nelayan terakumulasi

dalam sejarah dan pengalaman mereka melalui proses sosialisasi. Kegiatan dan

pengetahuan kenelayanan diwariskan dan dialihkan pada generasi berikutnya.

Menurut Supriharyono4

Pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir pada dasarnya memiliki tujuan

untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat (social well-being) secara

berkelanjutan, terutama komunitas masyarakat lokal yang bermukim di wilayah

pesisir (coastal zone). Oleh karena itu, dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir,

aspek ekologi dalam hal kelestarian sumberdaya dan fungsi-fungsi ekosistem

harus dipertahankan sebagai landasan utama untuk mencapai kesejahteraan

tersebut

Pengelolahan sumberdaya alam pada hakikatnya adalah

suatu proses pengontrolan tindakan manusia atau masyarakat di sekitar kawasan

pesisir agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana

dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan.

5

Menurut kesepakan Internasional, wilayah pesisir didefenisikan sebagan

wilayah pemeliharaan antara laut dan daratan, ke arah darat mencangkup daerah

yang masih terkena pengaruh percikan air laut pasang surut, dan ke arah laut

meliputi daerah paparan benua (countinental shelp)

.

6

4

Stefanus Stanis, Dkk, pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut Melalui pemberdayaan kearifan lokal di kabupaten lembata Propinsi nusa tenggara timur. (Jurnal Pasir Laut, Vol.69 2, No.2, Januari 2007 : 67-82)

5

Bahtiar, Kearifan Lokal Orang Bajo dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut. (Jurnal Seni Budaya, Volume 27, Nomor 2, Juli 2012

p 178 – 185)

6

Indra Surya Darma, lembaga pengolahan sumberdaya pesisir dan laut. (Skripsi Fisip USU, Medan, 2008) 7-9.

. Wilayah pesisir adalah

(10)

mempengaruhi kondisi pengetahuan masyarakat. Terdapat beberapa pengetahuan

lokal masyarakat pesisir dalam mengelola sumberdaya laut atau pesisir yang

berdampak positif bagi lingkungan dan kehidupan sehingga lingkungan sumber

daya laut tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pengetahuan lokal masyarakat pesisir adalah bagian dari budaya maritim.

Secara struktural budaya Maritim masyarakat kita telah berlaku secara turun

temurun. Seperti Ritual Jamu Laut di Desa Bogak Kecamatan Tanjung Tiram

Kabupaten Batu Bara. Ritual Jamu Laut ini merupakan pengetahuan lokal dalam

pengelolahan sumberdaya laut dan pengelolahan yang berbasisi karifan lokal.

Banyaknya terminologi yang mengandung makna sebagai kearifan lokal yaitu

local wisdom (kearifan lokal), local knowledge (pengetahuan lokal), indigenous

technical knowledge (pengetahuan teknis pribumi), indigenous knowledge

(pengetahuan pribumi), traditional knowledge (pengetahuan tradisional), social

capital (modal sosial), dan juga ecologi wisdom (kearifan lingkungan).

Sementara di Indonesia sering digunakan istilah kearifan lokal (local

wisdom). Keragaman terminologi diatas merupakan cerminan adanya variasi

epistemologis dan ideologis yang mendasarinya. Potensi kearifan lokal diatur

dalam Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang pengelolahan lingkungan hidup

di defenisikan sebagai “nilai-nilai leluhur yang berlaku dalam tata kehidupan

masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengolah lingkungan hidup secara

lestari”7

7

(11)

Pengelolaan berbasis kearifan lokal merupakan sistem pengetahuan dari

masyarakat. Kearifan Lokal menurut Keraf8

Etika yang berarti adat istiadat atau kebiasaan, dalam arti kebiasaan hidup

yang baik, tata cara hidup yang baik, baik pada diri seseorang atau pada kelompok

masyarakat. Kebiasaan hidup yang baik ini dianut dan diwariskan dari satu

generasi ke generasi yang lain (Keraf, 2002). Kebiasaan hidup yang baik ini “bahwa kearifan lokal/tradisional adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yanag menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Dijelaskan pula bahwa kearifan lokal/tradisional merupakan bagian dari etika dan moralitas yang membantu manusia untuk menjawab pertanyaan moral apa yang harus dilakukan, bagaimana harus bertindak khususnya di bidang pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam.”

Kearifan lokal sesungguhnya merupakan bagian dari etika dan moralitas

yang membantu manusia untuk menjawab pertanyaan moral apa yang harus

dilakukan, bagaimana harus bertindak khususnya dibidang pengelolaan

lingkungan dan sumberdaya alam. Bahasan ini sangat membantu kita dalam hal

mengembangkan perilaku, baik secara individu maupun secara kelompok dalam

kaitan dengan lingkungan dan upaya pengelolaan sumberdaya alam. Selain itu

membantu kita untuk mengembangkan sistem sosial politik yang ramah terhadap

lingkungan serta mengambil keputusan dan kebijakan yang berdampak terhadap

lingkungan atau sumberdaya alam termasuk sumberdaya alam pesisir dan laut.

8

(12)

kemudian dibakukan dalam bentuk kaidah, aturan, norma yang disebarluaskan,

dikenal, dipahami dan diajarkan dalam masyarakat.

Oleh karena itu etika dipahami sebagai ajaran yang berisikan aturan

tentang bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia dan juga etika

dipahami sebagai ajaran yang berisikan perintah dan larangan tentang

baik-buruknya perilaku manusia yaitu perintah yang harus dipatuhi dan larangan yang

harus dihindari.

Dijelaskan pula bahwa kearifan lokal/tradisional bukan hanya menyangkut

pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang manusia dan bagaimana relasi

yang baik di antara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan,

pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan bagaimana relasi di

antara penghuni komunitas ekologis ini harus dibangun. Pengertian di atas

memberikan cara pandang bahwa manusia sebagai makhluk integral dan

merupakan satu kesatuan dari alam semesta serta perilaku penuh tanggung jawab,

penuh sikap hormat dan peduli terhadap kelangsungan semua kehidupan di alam

semesta serta mengubah cara pandang antroposentrisme ke cara pandang

biosentrisme dan ekosentrisme.

Nilai-nilai kerarifan lokal yang terkandung dalam suatu sistem sosial

masyarakat, dapat dihayati, dipraktekkan, diajarkan dan diwariskan dari satu

generasi ke genarasi lainnya yang sekaligus membentuk dan menuntun pola

perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap alam maupun terhadap alam. Menurut

Nababan (2003), mengatakan bahwa masyarakat adat umumnya memiliki sistem

(13)

terus-menerus secara turun temurun. Pengertian masyarakat adat disini adalah

mereka yang secara tradisional tergantung dan memiliki ikatan sosio-kultural dan

religius yang erat dengan lingkungan lokalnya.

Karakteristik Sosial dan Sistem Pengetahuan Masyarakat Pesisir

Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakteristik masyarakat agraris

karena perbedaan sumberdaya yang mereka hadapi atau miliki. Masyarakat

agraris menghadapi sumberdaya yang terkontrol yakni lahan untuk memproduksi

suatu jenis komoditas dengan hasil yang dapat diprediksi. Dengan sifat yang

demikian memungkinkan tetapnya lokasi produksi sehingga menyebabkan

mobilitas usaha yang relatif rendah dan faktor resiko pun relatif kecil. Tohir

(2002), mengemukakan bahwa terdapat fenomena yang menarik mengenai

melimpahnya sumberdaya alam laut dengan masih rendahnya minat masyarakat

pesisir untuk mengeksplorasi kekayaan laut.

Lebih lanjut, Tohir (2002), mengatakan fenomena ini jika dicermati secara

mendalam maka sebenarnya terdapat fakta bahwa masyarakat pesisir yang

bermatapencaharian sebagai nelayan maupun melakukan aktivitas hidup di laut

jumlahnya relatif kecil dibanding dengan yang beberja sebagai petani sawah,

maupun jasa. Hal ini berarti jenis-jenis matapencaharian masyarakat pesisir

heterogen dan warga masyarakat yang memilih sebagai nelayan atau melakukan

aktivitas di pesisir pada dasarnya masih merupakan kelompok kecil saja. Dari

jumlah yang relatif kecil itu, dilihat dari tingkat kesejahteraan hidupnya rata-rata

masih belum menggembirakan karena sebagai nelayan kecil mereka menghadapi

(14)

Nelayan adalah orang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Di

Indonesia para nelayan biasanya bermukim di daerah pinggir pantai atau pesisir

laut. Komunitas nelayan adalah kelompok orang yang bermata pencaharian hasil

laut dan tinggal di desa-desa pantai atau pesisir (Sastrawidjaya 2002). Ciri

komunitas nelayan dapat dilihat dari berbagai segi, sebagai berikut :

a. Dari segi mata pencaharian, nelayan adalah mereka yang segala

aktivitasnya berkaitan dengan lingkungan laut dan pesisir, atau mereka yang

menjadikan perikanan sebagai mata pencaharian mereka.

b. Dari segi cara hidup, komunitas nelayan adalah komunitas gotong

royong. Kebutuhan gotong royong dan tolong menolong terasa sangat penting

pada saat untuk mengatasi keadaan yang menuntut pengeluaran biaya besar dan

pengerahan tenaga yang banyak, seperti saat berlayar, membangun rumah atau

tanggul penahan gelombang di sekitar desa.

c. Dari segi keterampilan, meskipun pekerjaan nelayan adalah pekerjaan

berat namun pada umumnya mereka hanya memiliki keterampilan sederhana.

Kebanyakan mereka bekerja sebagai nelayan adalah profesi yang di turunkan oleh

orang tua, bukan yang dipelajari secara profesional.

Dari bangunan struktur sosial, komunitas nelayan terdiri atas komunitas

yang heterogen dan homogen. Masyarakat yang heterogen adalah mereka yang

bermukim di desa-desa yang mudah dijangkau secara transportasi darat,

sedangkan komunitas yang homogen terdapat di desa-desa nelayan terpencil

biasanya menggunakan alat-alat tangkap ikan yang sederhana, sehingga

(15)

juga akan menjadi penyebab rendahnya harga hasil laut di daerah mereka.

(Sastrawidjaya 2002)

Subri (2005) nelayan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu nelayan

buruh/anak buah kapal, nelayan juragan (Toke) dan nelayan perorangan. Nelayan

buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik orang lain,

sedangkan nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang

dioperasikan oleh orang lain. Nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki

peralatan tangkap sendiri, dan dalam pengoperasiannya tidak melibatkan orang

lain.

1.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya

maka masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana pengelolahan sumber daya laut dilakukan oleh nelayan di Desa

Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara ?

2. Bagaimana tradisi Jamu Laut apa yang dilakukan oleh masyarakat pesisir

di Desa Bogak Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara dalam

(16)

1.4. Tujuan Dan Manfaat

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sebenarnya

pengetahuan yang ada pada masyarakat pesisir atau nelayan yang melakukan

pengelolahan sumberdaya laut dengan pengetahuannya agar dalam pengelolahan

sumberdaya laut tidak merusak kelestarian laut dan menjaganya agar

kelangsungan sumberdaya laut tidak terhenti. Sehingga sumberdaya laut tersebut

dapat dimanfaatkan dalam waktu jangka panjang, serta menjelaskan sejauh mana

kearifan lokal tersebut berpengaruh pada peningkatan kualitas lingkungan tempat

dimana sumber daya laut tersebut berada.

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai pengetahuan bagi peneliti

sendiri dan pembaca dalam hal ini masyarakat luas untuk mengetahui bagaimana

kearifan lokal yang ada pada masyarakat pesisir di Kabupaten Batubara dalam

pengelolahan sumberdaya laut terutama perikanan yang dilihat dari pengetahuan

masyarakat setempat, menambah pengetahuan tentang pengelolahan sumberdaya

alam yang sejalan dengan pelestarian dan juga pengetahuan-pengetahuan tersebut

akan terus dilestarikan dan dilaksanakan terus-menerus untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat pesisir.

1.5. Metode Penelitian

1.5.1 Observasi

Observasi adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh peneliti

kehidupan suatu komunitas masyarakat yang akan diteliti. Tujuan utama dari

observasi adalah melihat kegiatan-kegiatan masyarakat pesisir dalam mengelolah

(17)

membangun rapport dengan informan. Membangun raport adalah salah satu cara

membangun hubungan kedekatan yang harmonis antara peneliti dengan informan

agar tidak menimbulkan jarak antara keduanya sehingga lebih mempermudah

dalam kegiatan penelitian.

Pada saat melakukan observasi, peneliti diharuskan melihat dengan detail

kegiatan–kegitan masyarakat atau dilakukan masyarakat, pengambilan gambar

sebagai alat bantu dalam pengamatan dan nantinya sebagai data pendukung

terutama pengelolahan sumberdaya laut masyarakat pesisir di Desa Bogak,

Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara. Dengan cara tersebut peneliti

data dari pemahaman dan pengamatan yang didapat dari pemikiran masyarakat

yang diteliti (emic view).

Secara spesifik dalam penelitian ini peneliti mengobservasi Tempat

Pelelangan Ikan yang ada di Desa Bogak. Observasi yang dilakukan di Tempat

Pelelangan Ikan bertujuan untuk melihat aktifitas jual beli ikan. Peneliti juga

melakukan observasi di tempat sandar kapal, rumah nelayan, dan lokasi biasa

diadakannya Jamu Laut.

1.5.2 Wawancara

Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (depth

interview). Burhan Bungin (2007:111) metode wawancara mendalam adalah

proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab,

sambil bertatap muka antara pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan

sosial yang relatif lama. Metode wawancara digunakan untuk mendapatkan

(18)

peneliti juga mampu mengetahui apa hasil yang mereka rasakan dengan

mengelolah sumberdaya laut terutama ikan yang mereka lakukan dengan

pengetahuan yang mereka terapkan.

Peneliti menggunakan pedoman wawancara yang disusun sebelum

melakukan penelitian, selanjutnya akan ada pertanyaan berkembang berdasarkan

jawaban atau tanggapan dari responden. Keseluruhan data yang diperoleh direkam

dengan menggunakan alat perekam (recorder), kemudian catatan–catanan

lapangan yang sudah dirapikan (field note) sebelum disempurnakan dalam bentuk

laporan. Field note adalah catatan yang diperoleh dari hasil wawancara maupun

pengamatan yang ditemukan di lapangan sebagai acuan atau pedoman dalam

menuliskan laporan. Hal ini sangat penting bagi si peneliti dalam penelitian

kualitatif dengan melihat informasi yang telah diperoleh sebelumnya untuk

melakukan analisa data dalam menyusun hasil laporan. Adapun informan yang

sudah peneliti wawancarai adalah Bapak Yusuf sebagai informan kunci pertama

bagi peneliti, Bapak Ibrahim sebagai informan kunci Nelayan Tradisional

kemudian Bapak Sarbaini, Bapak JM, Bapak Khidir dan Bapak Sulaiman sebagai

informan tambahan untuk melengkapi data-data yang ada.

1.5.3 Analisis data

Semua data–data yang diperoleh dari hasil obsevasi dan wawancara di

lapangan akan dianalisis secara kualitatif. Dalam proses analisis data berdasarkan

apa yang didapat dari pengamatan di lapangan yang telah dijelaskan dalam bentuk

(19)

dilapangan dan sumber–sumber lain yang berkaitan dengan masalah yang akan

diteliti yang didapat dari buku majalah dan sumber lainnya.

Pada proses analisa data peneliti melakukan analisi yang dilakukan

langsung di lapangan. Peneliti langsung menganalisa setiap jawaban yang didapat

dari hasil wawancara untuk melihat apakah data yang didapat tersebut sesuai

dengan fokus pada masalah penelitian selanjutnya hasil–hasil data dilapangan

tersebut disusun sesuai dengan fokus yang menjadi masalah penelitian dan

kemudian peneliti akan melakukan tahap pendeskripsian terhadap masalah yang

diteliti.

1.6. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian di lakukan di Desa Bogak Kecamatan Tanjung Tiram

Kabupaten Batu Bara. Pemilihan penelitian dilokasi tersebut karena Desa Bogak

ini merupakan tempat dimana Pelabuhan Tanjung Tiram berada dan merupakan

tempat aktifitas nelayan yang ada di Desa Bogak. Di samping itu Desa Bogak juga

merupakan tempat pelaksanaan suatu ritual yang berkaitan dengan aktifitas

nelayan yang dilaksanakan sebagai rasa syukur dan menjaga ekosistem laut.

1.7. Pengalaman Penelitan

Pada hari pertama untuk melakukan penelitan lapangan yang tepatnya di

Desa Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, saya melihat

sekeliling setibanya di lokasi. Awalnya saya hanya melihat deretan kebun kelapa

sawit, sedikit lebih dekat dari lokasi penelitian, saya melihat sebelah kanan saya

sambil mengendarai sepeda motor ada beberapa tambak yang dikelola oleh

(20)

saya masih berfikir itu hal yang biasa pada masyarakat pesisir jika memiliki

tambak. Saya sambil terus berjalan menuju lokasi yaitu rumah informan saya dan

mulai terlihat kapal bersandar ketika saya melewati jembatan.

Berapa saat pun saya sampai di rumah informan saya, pada saat itu saya

tidak sendirian. Namun, bersama orangtua saya dalam melakukan kunjungan di

rumah informan penelitian saya untuk melakukan penelitan skripsi. Di hari

pertama ini saya hanya banyak mengobrol dengan informan saya dan juga dengan

orangtua saya. Saya pun sempat mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait

dengan penelitian skripsi saya terutama ritual yang dilakukan masyarakat

setempat yang di sebut dengan jamu laut. Di hari pertama ini tidak begitu banyak

data yang didapat karena hari ini hanya banyak mengobrol saja dengan informan

saya tersebut. Hari terlihat sudah sore dan saya dengan orang tau saya

memutuskan untuk kembali sebelum malam menjelang, sembarinya di jalan

terlihat bekas tambak yang tidak terpakai lagi dan tampak hamparan tanah kosong

begitu saja.

Pada hari kedua penelitian saya pergi pada pagi hari, yaitu pada pukul

09.00 pagi, dari Kota Kisaran menuju Kabupaten Batu Bara. Untuk hari ini saya

pergi dengan seorang diri dengan mengendarai sepeda motor. Ketika saya sampai

di sana saya langsung menyambangi rumah informan saya yang pertama dan pada

hari sebelumnya sudah pernah bertemu denganya. Seperti biasa pada umunya

ketika bertamu membicarakan hal- hal yang ringan, biasa orang–orang banyak

mengatakan dengan istilah basa-basi. Akhirnya tak lama kemudian saya

mengajukan pertanyaan kepada informan saya terkait dengan judul awal skripsi

(21)

Tiram, Kabupaten Batu Bara. Saya terus memberikan pertanyaan kepada informan

saya melalui panduan interview dan pertannyaan yang muncul secara spontanitas.

Dan ketika itu juga informan tersebut memberikan penjelasannya secara jelas,

walaupun terkadang sulit dipahami karena ketika ia berbicara terdapat kata–kata

dengan bahasa melayu pesisr, itu salah satu hal yang menyulikan saya untuk

memahami apa yang ia maksud dalam pernjelasananya terkait dengan pertanyaan–

pertanyaan yang saya berikan terhadapnya. Bahkan saya terkadang juga bisa

mengulangi pertanyaan yang sama kepada beliau. Di sela–sela wawancara

informan saya berdiri dari bangkunya dan mengambail sesuatu dari yang ia

simpan dari lemari tepat diruang tamunya. Saya merasa heran sekaligus penasaran

apa yang cari dalam lemari itu, tak beberapa saat kemudian iya kembali dan

ternyata yang ia bawa dan di tunjukan dengan saya sebuah miniatur kapal nelayan

yang berukuran besar. Ternyata ia mengeluarkan itu untuk membantu ia dalam

menjelaskan apa yang saya ingin tahu. Memang terlihat sederhana kapal miniatur

yang ia tunjukan kepada saya, tetapi dengan adanya itu saya terbantu untuk

mudah memahami apa yang ia jelaskan kepada saya. Tak terasa sudah beberapa

jam berlalu dan saya dan informan saya tidak terlalu membahas apa yang saya

tanyakan. Namun, kami hanya berbiacara hal–hal yang ringan saja sambil

bercanda–canda. Hari sudah menjelang sore saya pun memutuskan pamit pulang.

Pada hari ketiga untuk saya kelapangan. Seperti biasa berangkat pagi dari

kisaran menuju kabupaten Batubara. Sesampai disana saya singgah sebentar di

rumah informan saya yang pertama tepatnya di kecamatan talawi desa Selebar

Dahari. Kali ini saya memutuskan untuk berjalan menelusuri sekitar desa Dahari

(22)

sebagai nelayan saja. Namun, ada beberapa berinisiatif untuk membuka dekai

kecil - kecilan untuk menambah pengasilan ini saya ketahui karena saya sempat

bertanya – tanya tentang masyarakat disini. Sehabis itu saya kembali ke rumah

informan saya yang pertama, sesampainya saya juga sempat menanyakaan

bagaimana masyarakat disini terkait untuk kebutuhan ekonomi dan ternyata ada

juga masyarakat disini sebagai petani sawit ada milik sendiri dan ada juga hanya

menjaga milik orang lain. Langit sore pun mulai terlihat dan saya memutuskan

kembali ke kota kisaran dimana saya tinggal.

Pada hari ketiga ini saya langsung menuju kerumah infoman saya yang

pertama kalinya untuk mengali kembali data data yang ingin saya ketahui.

Perjalan kali ini cukup melelahkan karena terik matahari begitu panas, di tambah

lagi lokasi penelitian dekat dengan laut. Sebelum saya berangkat saya sudah

berjanji ke pada informan saya untuk memastikan saya bisa ketemu dengannya.

Sesampai disana saya langsung di awali dengan obrolan riangan, obrolan terus

belanjut dan saya pun mulai bertanya hal–hal terkait apa yang saya cari terutama

tentang alat tangkap yang digunakan saat melaut dan ukuran–ukuran kapal yang

digunakan. Saya sedikit terheran ketika ia memaparkan alat–alat tangkap yang

banyak digunakan pada masyarakat yang tinggal dekat dengan Pelabuhan Tanjung

Tiram ini atau yang biasa masyarakat sebut Pelabuhan Bom. Salah satu alat

tangkap yang digunakan adalah Pukat. Namun, saya pun ketika saat itu tidak

mencoba menggali lebih dalam akan terkait alat tersebut karena saya pun belum

tahu sepenuhnya tentang alat yang dilarang digunakan untuk menangkap ikan di

(23)

dimodifikasi. Kemudian pun saya terus melanjutkan pertanyaan–pertanyaan yang

saya miliki.

Ada hal yang membuat saya terkejut, saya mengira informan saya

memang lepas untuk mengatakan alat–alat tangkap ikan yang di paparkannya tadi,

ternyata tak beberapa lama ia sontak mengatakan dengan nada pelan kepada saya

jangan masukan ya itu dek, masalah pukat itu. Iya, saya tahu itu dilarang”. Saya

pun langsung menjawab dengan senyum.

“. . . gak la pak, kalau pun iya nama bapak saya samarkan. Lagian saya juga belum begitu tahu mana yang dilarang, karena setahu saya pukat ini banyak namanya”. . .”

Terlihat informan saya pun senyum, seakan iya merasa lega ketika saya

katakan hal tersebut. Sepertinya pada hari ketiga saya kelapangan ini mulai terasa

hal–hal yang sedikit menegangkan ketika saya memberikan pertanyaan–

pertanyaan yang sedikit sensitif terutama masalah alat tangkap tersebut. Dengan

itu saya terus melanjutkan pertanyaan yang ada, sempat terhanti karena saya

teringat apa yang saya lihat beberapa kali dalam perjalanan untuk kelapangan,

mengenai tambak yang ada disekitaran lokasi penelitian. Sedikit saya

menyinggung pertanyaan terhadap tambak–tambak yang ada di daerah tersebut.

ternyata tambak-tambak tersebut juga dikelola para nelayan secara pribadi. Disisi

lain, informan saya mengatakan tambak–tambak yang ada didaerah tersebut

merupakan kerja sampingan dari nelayan ketika tidak dapat melaut dan juga untuk

menambah penghasilan para nelayan yang ada. Senja pun sudah sudah mulai

(24)

Hari ke empat saya pergi kelapangan dengan harapan banyak yang saya

peroleh pada hari ini. Untuk hari ini pun saya tidak pergi sendirian saya di temani

oleh bapak saya kembali, sekirannya untuk bersilaturahmi. Setibanya disana saya

dan bapak saya pun langsung di sambut oleh informan saya secara langsung

diiringi dengan tawa dan canda gurau. Sembari masuk kedalam rumah saya pun

langsung di tanya oleh informan saya “apa yang mau ditanya lagi, Tyo?. Banyak

biar kita gasak lagi”. Sambil tertawa. Saya pun menjawab menantang sambil

bercanda “iya pak, banyak kali pun pak”. Ketika itu saya langsung memulainya

dan kali ini bapak saya ikut membantu dengan mengajukan beberapa

pertanyaannya kepada informan saya. Disini justru saya sedikit heran ternyata

bapak saya memberikan pertanyaan cukup mendalam. Hari ini pun saya banyak

memperoleh data-data yang diinginkan bahkan saya dan bapak saya berlajar

beberapa doa–doa yang jarang terdengar salah satunya doa Arwah Junjuangan,

doa ini pun di ajarkan kepada kami berdua terutama bapak saya.

Doa arwah junjungan sendiri merupakan doa yang di bacakan atau

dibawakan saat uparaca atau ritual jamu laut dilaksanakan di daerah tersebut yang

membawakan doa tersebut tidak semua orang bisa hanya beberapa yang bisa

membawakan doa arwah junjungan itu.

Syarat–syarat orang yang membawakannya pun tidak begitu di tetapkan

hanya saya mereka yang di percaya oleh masyarakat dan yang biasa membawakan

doa-doa dalam kegaitan pada masyarakat seperti kenduri atau kegiatan dalam

ibadah. Doa tersebut diltuliaskan dalam sebuah kertas untuk di hafal oleh bapak

saya dan saya juga merekam doa tersebut. Sudah banyak data yang saya dapatkan.

(25)

terutama lagi foto-foto belum saya dapatkan sebagai penguat penelitian, disini pun

informan saya menawarkan kepada saya esok hari ia akan membawa saya ke

Pelabuhan Bom atau Tanjung Tiram saya ketika itu tanpa mikir panjang langsung

menerima ajakan dari informan saya untuk pergi ke Pelabuhan Bom atau Tanjung

tiram. Hari ini pun waktu habis dengan memperolah data cukup banyak dan

mendapat hal baru dalam beribadah 5 waktu, kemudain kembali ke kisaran dan

dilanjutkan lagi esok hari kembali kelapangan.

Pada hari ke lima ini saya akan melajutkan kembali penelitian ini dan akan

pergi sesuai dengan apa yang di janjikan oleh informan saya untuk pergi ke

Pelabuhan Bom, melihat beberapa kapal dan alat tangkap yang nelayan gunakan

di daerah tersebut. Sesampainya saya masuk kedalam rumahnya menunggu ia

bersiap. Selang beberapa lama pun ia sudah siap dan kami pun berangkat.

Awalnya saya berharap akan banyak alat tangkap yang terlihat di pelabuhan bom.

Namun, hanya beberapa kapal yang bisa di naiki itu dikarenakan kapal bersandar

tidak pada pelabuhannya melainkan di seberang seperti pulau kecil, diseberang itu

berdiri bangunan tempat pengasinan ikan–ikan dari hasil nelayan. Banyak saya

lihat berbagai macam ukuran kapal walau pun tidak banyak dan alat tangkapnya

pun banyak yang sama, di sisi lain ada yang menjadi perhatian saya pada saat

informan saya memanggil saya untuk melihat kapal yang berukurang sedang

melintas dari arah hulu sungai meninggalkan pelabuhan. Informan saya

mengatakan “itu lah salah satu kapal nelayan yang menggunakan pukat tarik”.

Sangat di sayangkan ketika saya ambil gambar yang terlihat hanya kapalnya saya

alat tangkap tidak terlihat, karena jaraknya cukup jauh ketika saya mengambil

(26)

ikan, ditepat itu juga kapal banyak bersandar rata–rata ukuran kapal yang saya

lihat berukuran besar.

Ketika saya menyeberang ternyata tidak gratis saya harus membayar jasa

sebesar 2 ribu rupiah untuk sekali menyeberang dengan menggunakan kapal yang

cukup kecil hanya muat 2 sampai 4 orang saja, itu belum termasuk yang

mengemudikan kapalnya atau disebut sampan karena ukurannya yang begitu

kecil. Sampan atau kapal kecil ini tidak hanya membawa atau mengantarkan

orang saja. Namun, juga di gunakan sebagai angkutan barang kebutuhan

sehari-hari di seberang tempat pengasinan ikan. Saya juga sempat melihat sampan atau

kapal kecil membawa beberapa galon air untuk kebutuhan air minum di

pengasinan, tidak satu pun saya melihat kapal besar bersandar tepat di

pelabuhannya yang hanya ada beberapa kapal yang sedang saja. Sesampainya di

tempat pengasikan ikan saya pun harus melangkai kapal–kapal yang bersandar

disana, ada yang mengalihkan perhatian saya pada saat diatas kapal yang

bersandar itu.

Terlihat sebuah katrol yang memanjang seperti derek dan tepat di ada

jaring yang terbentang panjang, saya penasaran ketika itu saya langsung

menanyakan alat itu. Ternyata itu merupakan alat bantu untuk menarik jaring

kapal yang sudah di tebar dan nama jaring kapal itu adalah jaring tali cincin,

karena di jaring tersebut terdapat tali yang di kaitkan dengan cincin dengan

jumlah banyak dan itu tergantung berapa panjang tali dan jaringnya. Jika saya

lihat cukup panjang ketika saya melihat alat tangkap tersebut di kapal, tak selang

beberapa langkah saya dan informan saya yang pertama ini bertemu dengan salah

(27)

Bapak Heri ini merupakan anak dari pemilik salah satu tempat pengasinan,

ia meneruskan usaha ayahnya. Sebelum berjumpa saya melakukan pengambilan

gambar di tempat pengasinan tersebut Pak Heri sempat heran dengan tindakan

saya dan pada saat itu saya juga tidak menyadari bahwa ia merupakan pemilik

tempat tersebut. ”ngapai dek difoto–foto?” tanyanya dengan nada pelan.

Informan pertama saya pun memberikan penjelaskan kepada bapak Heri yang

sebelum sudah mengetahui tujuan saya. Di sini saya memulai obrolan dengan pak

heri terkait pengolahan ikan di daerah tersebut termasuk kapal–kapal dan alat

tangkap secarah menyeluruh.

Pak Heri awal sangat sungkan untuk menjelaskan apa yang saya tanyakan

terkait dengan pengolaan ikan yang ada disini, akhirnya dengan didahului

perbincangan ringan dan di bantu oleh informan pertama saya Pak Heri pun mau

menjelaskannya. Dengan demikian saya pun memperolah data yang saya cari,

sehabis itu saya tidak langsung meninggalkan tempat pengasinan ikan yang di

jaga oleh Pah Heri saya kembali melihat apa–apa saja yang terdapat atau alat– alat

yang terdapan di dalam tempat pengasinan ikan, ada yang saya sayang kan pada

saat itu saya tak melihat ikan–ikan yang dijemur dan hanya ada sedikit udang

terasi yang saya lihat. Tempat penjemurannya pun lumayan luas bahkan saya juga

melihat beberapa orang yang sedang memperbaiki jaring ikan yang cukup besar.

Setelah beberapa saat kemudian saya memutuskan kembali kerumah informan

pertama saya.

Saya pun harus kembali meniti untuk melalui kapal–kapal yang bersandar

di tempat pengasinan ikan tersebut dan naiki kapal yang berukuran kecil lagi

(28)

dirumah informan saya yaitu Bapak Yusuf saya berdiskusi kembali dengan beliau

terkait apa – apa yang saya dapat bersama bapak Heri untuk lebih menjelaskan,

kemudian pun saya membuat janji dengan beliau kembali untuk mencari tahu

lebih lengkap terkait tradisi nelayan di sini. Saya pun kembali ke kisaran dengan

kondisi cuaca yang berubah–ubah terkadang gerimis, hujan dan kembali panas

rasanya tidak enak baju sempat basah dan terakhir kering di jalan. Cukup lumayan

buat hari ini.

Pada hari ke enam ini saya berangkat ke Batubara menjelang siang hari

karena cuaca sempat hujan di pagi hari. Sesampainya disana saya langsung

kerumah Bapak Yusuf, hari ini yang ingin tahu mengenai kegiatan masyarakat

nelayan terkait dengan pengolahan sumber daya laut, yaitu tradisi Ritual Jamu

Laut bapak Yusuf yang belumnya sudah sedikit dijelaskan pada pertemuan

sebelumnya oleh beliau. “kalau mau tahu lebih dalam tentang itu kita jumpai Pak

Haji ibrahim”. Kata Pak Yusuf sambil tersenyum. “Baik Pak” jawab saya. Saya

pun dengan Pak Yusuf langsung pergi untuk bertemu dengan orang yang

dimaksud oleh Pak Yusuf. Bapak H Ibrahim sendiri dipercaya masyarakat untuk

melaukan penyembelian hewan termasuk untuk hewan persembahan. Awalnya

saya ingin menanyakan beberapanya tentang pengolaan ikan dan alat–alat tangkap

yang ada di daerah tersebut. Namun, mereka selalu menunjukan saya kepada

Bapak Yusuf karena beliau dipercaya juga oleh masyarakat terkait doa–doa yang

di bawah untuk Ritual Jamu laut. Disini saya kesulitan untuk memperoleh data,

beruntung dengan adanya bapak Yusuf apa yang saya cari bisa saya dapat begitu

(29)

Pada hari ini saya akan mencari tahu bagaiamana kegiatan Ritual Jamu

Laut secara menyeluruh begitu panjang Pak H ibrahim menjelaskan bagaimana

ritual jamu laut tersebut diselingi obrolan–obrolan ringan yang menggelitik terkait

dengan Ritual Jamu Laut. Apa lagi ketika pak Haji menjelaskan bagaimana dulu

nya orang memotong hewan persembahan dengan meminum darahnya dan

memakan pasir pantai yang di anggap pasir itu adalah gula. “Seram gak itu” kata

pak Ibrahim sambil tertawa. Dari berbagai hal yang dijelaskan oleh Pak H Ibrahim

begitu juga Bapak yusuf mengatakan memakan pasir dan meminum darah hewan

sudah ditinggalkan karena melanggar aturan agama yang di anggap syirik.

Sore telah terlihat saya pun berpamitan kepada Pak H Ibrahim untuk

pulang dan mengantar Bapak yusuf yang menemani saya. Saya pun singgah

sejenak dirumah Pak Yusuf dan menayakan penggunaan–pengunaan alat tangkap

di daerah ini. Pak Yusuf mengarah kan saya kepada seseorang yang tidak bisa di

sebutkan namanya karena Pak Yusuf tidak ingin terjadi hal hal yang tidak

diinginkan terkait alat tangkap yang digunakan, sebelumnya Pak Yusuf pernah

mengatakan kepada saya tentang alat tangkap yang digunakan di daerah ini ada

beberapa alat yang digunakan telah dilarang dan meresahkan sebagian nelayan

dan dilarang oleh pemerintah dengan penggunaan alat tangkap tersebut. saya pun

mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Yusuf dengan hal itu. Dan saya pun

memutuskan untuk melanjutkan kelapanagan besok untuk mencari tahu

penggunaan–penggunaan alat tangkap yang ada di sekirtan daerah Desa Selebar

Dahari ini.

Masuk pada hari ke tujuh kelapangan pada hari ini saya sedikit ragu untuk

(30)

semalam. Namun, saya sendiri membutuhkan informasi tersebut dengan membaca

bismillah saya pun berangkat kelapangan dan langsung menuju kerumah Bapak

Yusuf untuk bertemu dengan orang yang dimaksud. Sesampainya dirumah Bapak

Yusuf saya pun menanyakan kembali untuk saya berhati - hati apa yang saya

tanyakan nantinya. Dan saya dengan Bapak Yusuf pergi untuk bertemu dengan

orang yang dikenal oleh beliau. Orang yang dimaksud ini merupakan orang yang

menggunakan salah satu menggunakan alat tangkap yang digunakan yaitu pukat

Grandong.

Sesampainya disana saya pun langsung berkenalan dengan beliau dan

memberitahu siapa saya dan apa tujuan saya yang saya katakan saya hanya

mahasiswa yang sedang penelitian skripsi dan masalah sumberdata yang beliau

berikan akan disajikan dan nama beliau akan disamarkan. Awalnya saya pikir

akan terjadi sesuatu yang menegangkan karena ini pertama kalinya saya penelitian

dan mencari data yang sedikit panas jika di gali. Namun respon beliau saya liat

cukup tenang dengan pertanyaan–pertaanyaan yang saya ajukan kepadanya

mengenai alat–alat yang digunakan untuk menangkap ikan secara keseluruhan

sampai dengan jenis–jenis kapal yang digunakan nelayan setempat. Pak JM

menekankan ia menggunakan alat tangkap tersebut karena faktor ekonomi

walaupun tahu alat tangkap yang ia gunakan dilarang dan merugikan kedepannya.

Cukup saya mendapatkan data tersebut saya berterima kasih banyak kepada

beliau, karena berkenan untuk memberi infromasi yang saya butuhkan dan saya

cukup senang karena dipercayanya. Terutama juga kepada bapak Yusuf yang mau

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa respon masyarakat terhadap Program Bina Desa adalah positif, respon tersebut sejalan dengan partisipasi masyarakatnya yang

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa respon masyarakat terhadap Program Bina Desa adalah positif, respon tersebut sejalan dengan partisipasi masyarakatnya yang

Wawancara pertama dilakukan terhadap seorang narasumber yang dianggap memiliki pengetahuan tentang pengelolaan air di Desa Tajuk, kemudian metode snowballing digunakan

Uraian hasil penelitian berupa deskripsi hasil wawancara yang didapat dari Nasabah, semua data yang didapat peneliti tentunya sesuai dengan permasalahan yang menjadi fokus

Dari hasil data yang telah di kumpulkan dan di analisa terkait dengan apakah terdapat pengaruh Implementasi Good Governance Dalam Pengelolaan Sumber Daya Hasil Laut Di Kawasan Bintaro,

Pembahasan Temuan Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data yang sudah dilakukan serta berdasarkan pada fokus masalah,maka dalam hal ini peneliti akan