BULAN SABIT
TERBIT DI ATAS
POHON BERINGIN:
Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede sekitar 1910-2010
MITSUO NAKAMURA
BULAN SABIT TERBIT DI ATAS POHON BERINGIN:
Studi tentang pergerakan Muhammadiyah di Kotagede sekitar 1910–2010 (Edisi kedua)
Penulis:
Mitsuo Nakamura
Diterjemahkan dari The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town, c.1910s–2010 (Second Enlarged Edition), Singapore: Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), 2012
Penerjemah : Muhammad Yuanda Zara Penyunting : Aditya Pratama
Periksa aksara : Imron Nasri Desain sampul : Amin Mubarok Tataletak isi : padangatine
Diterbitkan oleh:
Penerbit Suara Muhammadiyah atas seizin penulis dan ISEAS JI. KHA Dahlan No. 43, Yogyakarta 55122
Telp. : (0274) 376955, Fax. (0274) 411306 SMS/WA : 0812 1738 0308
Facebook : Penerbit Suara Muhammadiyah E-mail : [email protected] (Redaksi)
[email protected] (Admin) Homepage : www.suaramuhammadiyah.id
Cetakan I, Juni 2017 lxviii + 488 hlm, 15 x 23 cm
Hak cipta ©Institute of Southeast Asian Studies, 2012
Hak cipta edisi terjemahan bahasa Indonesia ©Penerbit Suara Muhammadiyah, 2017 Hak cipta dilindungi undang-undang
Daftar Isi
Pengantar Penerbit__ vii Pengantar LP3M UMY__ xi
Pengantar Edisi Kedua: Masyarakat yang Berubah dan Muhammadiyah yang Berubah__ xiii
Pengantar Penulis Edisi Kedua__ xix Pengantar Edisi Pertama__ xxix
Pengantar Penulis Edisi Pertama__ xxxvii Catatan Penulis__ xlv
Catatan Penulis untuk Edisi Bahasa Indonesia__ xlvii
Ğȱȏȏȱȱ¡¡ Ğȱ ȏȏȱȱ
Glosarium__ lv
Bagian I
PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH DI KOTAGEDE, 1910-AN-1972__ 1
BAB 1 PENDAHULUAN: Islamisasi Jawa__ 3
Muhammadiyah dalam Islamisasi Jawa__ 4
Pendekatan dan Sumber yang Digunakan dalam Studi Ini__ 11 Paradoks-paradoks Muhammadiyah di Kotagede__ 13
Abangan, Santri, Priayi: masalah konseptualisasi__ 17
BAB 2 KOTAGEDE DI BAWAH POHON BERINGIN: Masyarakat dan Agama Tradisional__ 19
l
Ekonomi Tradisional di Kotagede__ 44
Dampak Pembaruan Administratif di Kotagede__ 51
BAB 3 AWAL MULA MUHAMMADIYAH: Pejabat Agama Keraton dan Kelas Menengah Kota__ 57
Abdi Dalem Santridi Kauman, Yogyakarta__ 57 Pertumbuhan Kelas Menengah di Kotagede__ 63 Awal Mula Muhammadiyah di Kotagede__ 69 Konfrontasi dengan PKI (1924)__ 79
BAB 4 PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH: Agama dan Aksi Sosial__ 87
Para Pendiri Muhammadiyah di Kotagede__ 88
Sekolah dan Klinik: aktivisme sosial Muhammadiyah__ 104 Zaman Perak dan Masjid Perak__ 117
BAB 5 SOSIOLOGI UMAT ISLAM: Struktur dan Antistruktur__ 135
Perkembangan Pascaperang__ 136
Kemerosotan Ekonomi pada Masa Pascaperang__ 142 Siapa Saja Anggota ¢ǵȏȏȱŗśŚ
ȱ ęȏȏȱŗśś
Usia dan Jenis Kelamin__ 157 Pendidikan__ 158
Tahun Bergabung dengan Muhammadiyah__ 159 Komposisi Pekerjaan__ 161
Kerja Keras, Hidup Sederhana, dan Pendidikan Anak__ 164
£DZȱȱȱĤǵȏȏȱŗŝŚ
Umat Islam__ 177
BAB 6 IDEOLOGI MUHAMMADIYAH: Tradisi dan Transformasi__ 189
Komunikasi Agama di Antara Muslim Jawa__ 189 Muslim Gado-gado vs Muslim Sejati__ 193 Tingkatan dalam Pidato Berbahasa Jawa__ 207 Lahir vs Batin__ 210
BAB 7 KESIMPULAN: Re-Islamisasi Jawa__ 239
CATATAN TAMBAHAN BAGIAN I__ 243
Bagian II
KUNJUNGAN KEMBALI KE KOTAGEDE 1972-2010 247
PENGANTAR BAGIAN II__ 249
BAB 8 PERUBAHAN SOSIAL DI KOTAGEDE, 1972–2010__ 255
Perancangan Ulang Administratif__ 255 Urbanisasi__ 258
Tumbuhnya Keragaman Etnik dan Agama__ 270 Keragaman dalam Pilihan Politik__ 273
Globalisasi__ 282
BAB 9 PENCAPAIAN-PENCAPAIAN MUHAMMADIYAH__ 291
Latar Belakang: “Lubang Hitam” Sejarah__ 291 Dakwah__ 293
Sekolah-sekolah Muhammadiyah__ 301
Iqro’ dan TK Al-Qur’an__ 309
PKU vs Puskesmas: persaingan dan penyempurnaan pelayanan kesehatan__ 315
Wakaf: pondasi kekuatan institusional Muhammadiyah__ 316
BAB 10 DINAMIKA INTERNAL MUHAMMADIYAH__ 323
Tiga Generasi Kepemimpinan__ 323
Generasi Kedua Kepemimpinan Muhammadiyah__ 324 Pak Bashori: pemimpin khas generasi kedua__ 325 Oposisi yang Layu Sebelum Berkembang__ 327
Ibu Umanah dan Ibu Mardi: pemimpin khas ‘Aisyiyah__ 327 Kritik atas Rasa Puas Diri dan Stagnasi__ 331
Perubahan Kepemimpinan__ 337
Dimensi Sosial Kepemimpinan Baru__ 342 Keanggotaan Umum Muhammadiyah__ 344 Pembaru yang Memperbarui:
lii
Menghadapi Masalah Kemasyarakatan Bersama__ 349 Prospek Kepemimpinan Baru__ 350
BAB 11 TANTANGAN-TANTANGAN YANG MENGHADANG MUHAMMADIYAH__ 353
Tantangan Pluralisme dan Demokrasi__ 353 Masalah Kemiskinan__ 358
Mengatasi “Budaya Kemiskinan”__ 367 Mengatasi Kemiskinan Budaya__ 375
BAB 12 FESTIVAL DZȱĚȱȱȏȏȱȱřŞŝ
Awal Mula: keberhasilan Festival Kotagede ‘99__ 387 Fk 2000: demokrasi, keretakan, dan harmoni __ 392 FK 2002: terpecah lagi__ 396
Implikasi dari “Kotagede Ewuh”__ 397
BAB 13 GEMPA BUMI MEI 2006 DAN REKONSTRUKSI KOTAGEDE__ 403
BAB 14 CATATAN PENUTUP: Masa Depan Muhammadiyah__ 409
Latar Belakang Keberhasilan Muhammadiyah__ 409 Muhammadiyah dan Pemerintahan Suharto__ 411 Stagnasi Kepemimpinan Muhammadiyah__ 412 Kritik dari Generasi Muda__ 413
Reformasi, Politik, dan Muhammadiyah__ 415 Festival Kotagede: kegembiraan dan frustrasi__ 416 Tantangan Kepentingan Bersama __ 418
Cinta untuk Kotagede__ 419
Perhatian untuk Orang Miskin__ 421 Masa Depan Muhammadiyah__ 421
CATATAN TAMBAHAN BAGIAN II__ 423
LAMPIRAN 447
Komposisi Pekerjaan__ 450 Pendapatan__ 451
DAFTAR PUSTAKA__ 453 INDEKS__ 471
PASCAWACANA:
Mitsuo Nakamura
dan
Studi tentang Muhammadiyah*
1
Karya-karya akademik awal tentang Islam Indonesia hampir seluruhnya ditulis oleh misionaris Kristen dan para pegawai yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda, semisal Snouck Hurgronje. Informasi, data, dan buku-buku yang ditulis oleh generasi awal pengkaji Islam Indonesia inilah yang sering menjadi referensi tentang Islam Indonesia sebelum Perang Dunia II, terutama oleh mereka yang berada di negeri Barat. Barulah seusai PD II, para sarjana dari Amerika Serikat datang langsung dan melakukan penelitian di negara yang mayoritas
¢ȱȱǯȱȱȱȱȱěȱ Geertz dan Harry Benda. Mereka melakukan penelitian antara tahun 1940-an hingga 1960-an.
Dari segi periode, maka Mitsuo Nakamura termasuk generasi sarjana yang hadir dan mengkaji Islam di Indonesia setelah dua generasi awal tersebut. Bersama James L. Peacock, Nakamura mengerjakan risetnya pada 1970-an. Bisa dikatakan, Nakamura adalah sarjana asing non-Amerika dan non-Eropa pertama yang mengkaji Islam di Indonesia pada era modern ini. Meskipun ia adalah didikan perguruan tinggi di Amerika Serikat juga, yaitu Cornell University, namun Nakamura adalah
orang Asia Timur, Jepang.
Buku ȱȱȱȱȱ¢ȱȱ yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul sedikit berbeda, yaitu ȱȱ
ȱȱȱȱ ,ȱini didasarkan pada penelitian dua
ȱȱěȱ Geertz melakukan penelitian di Pare, Kediri pada 1953–1954. Di antara tujuannya adalah mengoreksi Geertz dalam mengambil lokasi penelitian, yaitu Pare atau “Modjokuto”, yang tidak bisa dipakai untuk melihat hubungan antara agama dan kejawaan karena usia kota itu belumlah tua. Nakamura memilih Kotagede sebagai kota yang sudah berdiri beberapa abad, sejak Kerajaan Mataram Islam berdiri. Nakamura juga mengoreksi kesalahan kalimat dalam dedikasi yang dibuat oleh Geertz di halaman awal bukunya, dan yang paling penting, Nakamura ingin mengoreksi tesis utama Geertz mengenai hubungan Islam dan kejawaan, bahwa islam tak memiliki pengaruh kuat dalam masyarakat Jawa.
Bagi Nakamura, Islam adalah keimanan yang hidup dan berperan vital dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bahwa Islam Muhammadiyah adalah kekuatan dinamis yang mampu mentransformasikan kompleksitas sosio-kultual dari tradisi kejawen. Dalam konteks Muhammadiyah Kotagede, Jawa dan Islam melebur menjadi satu dalam nilai-nilai etika. Muhammadiyah berhasil mentransformasikan Kotagede dari sebuah kota yang sebelumnya memiliki dengan identitas kejawaan yang sangat kuat menjadi kota yang juga penuh dengan semangat Islam yang reformis. Bisa jadi peran politik umat Islam di negeri ini mengalami pasang surut, namun peran sosial dan kultural dari Islam akan terus nyata dalam kehidupan masyarakat.
437
Kajian Nakamura sebetulnya tidak terbatas pada Muhammadiyah. Ia, misalnya, pernah menulis tentang NU (Nahdlatul Ulama) setelah diundang oleh Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) untuk menghadiri Muktamar NU ke-26 di Semarang pada 1979. Judul tulisannya adalah “The Radical Traditionalism of the Nahdlatul Ulama in Indonesia: A Personal Account of Its 26th National Congress, June 1979, Semarang,” yang diterbitkan dalam ȱȱ¢ (Southeast Asian Studies), 19:2, (CSEAS, Kyoto University, 1981). Nakamura juga menulis tentang Gulen Movement, gerakan Islam yang berasal dari Turki dan dipimpin oleh Fethullah Gulen, sebagai perbandingan dalam studi tentang Muhammadiyah dengan judul “Rationality and enlightenment: A comparison of educational reforms promoted by Gülen Movement and Muhammadiyah”. Nakamura juga menulis topik yang berkaitan dengan demokrasi dan etnis seperti “Religious, Ethnic and Social Problems in Indonesia and Prospects for its National Re-Integration” yang terbit dalam Bahasa Jepang di ȱȱ No.25 dan tulisan booklet yang diterbitkan oleh Islamic Legal Studies Program, Harvard Law School dengan judul “Islam and Democracy in Indonesia: Observations on the 2004 General and Presidential Elections” (December 2005). Namun karya-karya utama Nakamura adalah tentang Muhammadiyah.
***
atau di salah satu amal usaha milik Muhammadiyah. Ini tentu berkaitan dengan hubungan dekat antara Nakamura dengan keluarga almarhum Gus Dur. Namun Muhammadiyah yang memiliki sejumlah amal usaha akan lebih baik jika memberi fasilitas kepada Nakamura.
Seperti pernah diceritakan kepada penulis dan juga ditulis di bagian akhir buku ini, sebagai spesialis tentang Islam di Indonesia, Nakamura pernah merasa kesepian atau terkucilkan di lingkungan akademisi di Jepang dan di dunia secara umum pada 1970-an. Ia menyebutnya dengan istilah ȱ, terisolasi secara akademik atau dalam jaringan intelektual. Sedikit sekali orang yang memiliki minat yang sama dengan dirinya. Tidak banyak dana penelitian diberikan untuk kajian seperti yang ia lakukan. Ini karena agama dianggap akan kehilangan peran atau bahkan musnah akibat perkembangan modernisasi. Kondisi seperti ini membuat beberapa akademisi yang mengkaji agama kemudian beralih fokus kajian. Namun itu tidak terjadi pada Nakamura, ia tetap konsisten dengan kajian yang dipilih. Karena itulah ia kini menjadi orang yang selalu dirujuk ketika berbicara tentang Islam di Indonesia, terutama Muhammadiyah.
Jika kita hendak pergi ke Jepang untuk melihat kajian tentang Islam di Asia Tenggara, maka Nakamura adalah satu pilar utamanya. Jika kita sudah diperkenalkan olehnya ke berbagai institusi di Jepang, maka semuanya akan menjadi lancar. Ini yang dialami penulis ketika mendapat tugas dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk membangun kerja sama dengan berbagai universitas di Jepang. Berkat bantuan Nakamura, tim LIPI bisa melakukan pertemuan dan pembicaraan awal dengan Museum of Ethnology Osaka, Tokyo University, Rikkyo University, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), dan beberapa universitas lain di Jepang.
Mengenai karya tulis, buku Nakamura tentang Muhammadiyah yang paling terkenal dan paling sering menjadi referensi adalah disertasinya yang berjudul ȱȱȱȱȱ¢ȱDZȱȱ¢ȱ
439
organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan tahun 1912 lalu ini. Namun, menurut pengakuannya sendiri, ia sudah mulai hadir di tengah-tengah Muhammadiyah dan melakukan penelitian di Kotagede pada 1971. Artinya, ia sudah menjadi pemerhati Muhammadiyah selama lebih dari 47 tahun.
Pada 1983, disertasi ini kemudian diterbitkan menjadi buku setebal sekitar 250 halaman oleh Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Edisi Bahasa Indonesia dari buku ini berjudul ȱȱȱȱ
ȱȱDZȱȱȱȱ¢ȱȱǰȱ ¢ȱdengan ketebalan sekitar 280 halaman. Edisi ini diterjemahkan
ȱȱęȱȱȱȱȱ ȱȱ¢ȱ
Press pada 1983. Sayangnya, baik buku yang berbahasa Inggris maupun terjemahannya tidak terdistribusi secara luas. Sehingga hanya kalangan akademik terbatas saja yang membacanya.
Pada 2012, versi yang diperpanjang dan diperbarui dari buku tersebut diterbitkan ulang oleh Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapura dengan judul ȱȱȱȱȱ¢ȱ
DZȱȱ¢ȱȱȱ¢ȱȱȱȱȱȱ ǰȱ ǯŗşŗŖȬŘŖŗŖ (Second Enlarged Edition). Jika terbitan sebelumnya hanya memotret secara antropologis kondisi Muhammadiyah di Kotagede hingga 1976, edisi terbitan Singapura ini menambah bahasan dari tahun 1976 hingga 2010. Nakamura memasukkan perkembangan Muhammadiyah selama 35 tahun di Kotagede dan menjadikannya sebagai bagian kedua dari buku itu. Makanya, dari segi ketebalan, edisi ini memiliki 429 halaman. Buku yang di tangan pembaca sekarang ini adalah terjemahan dari buku yang diterbitkan oleh ISEAS itu. Saya yakin terbitan kali ini bisa mengatasi kekuarangan dan kelemahan penerbitan sebelumnya.
Selain ȱȱitu, Nakamura juga menulis sejumlah artikel dan ȱȱ(bab buku) tentang Muhammadiyah. Di antara tulisan
tentang ideologi “The reformist ideology of Muhammadiyah” dalam buku J.J. Fox yang berjudul DZȱȱȱȱȱ (Canberra: Australian National University, 1980), dan seterusnya.
Sebetulnya karya Nakamura tentang Muhammadiyah tidaklah terlalu banyak. Namun itu tak mengurangi kepakarannya tentang Islam di Indonesia, khususnya tentang Muhammadiyah. Dan lagi, nilai seorang akademisi itu memang tidak hanya diukur dari bertumpuk-tumpuknya karya tulis yang dihasilkan. Seseorang bisa dianggap sebagai pakar jika karyanya, meski sedikit, sering menjadi referensi atau rujukan bagi karya-karya yang lain. Istilahnya, karya akan dinilai tinggi bila ia memiliki ȱȱyang tinggi. Ini biasanya dilihat dari berapa banyak karya itu dikutip oleh orang lain. Intelektual semisal Talal Asad dari CUNY (City University of New York) juga tak terlalu banyak menulis buku. Namun buku-buku dan artikel yang ditulisnya selalu ditunggu, menjadi referensi, dan inspirasi bagi akademisi lain. Demikian pula halnya dengan karya-karya Nakamura.
Satu hal lagi, karya seorang akademisi juga tidak semata dilihat dari karya tulisnya, tapi juga seberapa banyak atau seberapa berhasil murid-murid yang dibimbingnya. Mungkin saja seorang profesor hanya menulis buku secukupnya, namun mahasiswa bimbingannya merasa betul-betul dididik olehnya dan banyak muridnya yang berhutang budi akademik kepadanya. William Liddle, misalnya, dikenal sebagai profesor yang memiliki banyak murid dan orang yang bertangan dingin
ȱȱȬ¢ǯȱȱȱȱȱěȱ
Geertz yang memiliki banyak karya berpengaruh namun memiliki sedikit murid. Nah, dalam konteks murid ini, Nakamura juga tak banyak memiliki murid. Ada beberapa muridnya yang menjadi spesialis Indonesia, seperti Aoki Takenobu. Namun dari Indonesia, Nakamura hampir tak memiliki penerus kecuali penulis artikel ini sendiri (jika bisa disebut sebagai murid).
Pertemuan pertama penulis dengan Nakamura terjadi pada acara World Peace Forum (WPF) di Jakarta pada 2005. Ketika itu hanya terjadi sekilas pembicaraan tentang bukunya ȱȱȱȱȱ¢ȱ
441
Conference on Muhammadiyah). Ide dari IRCM itu adalah ¢ identitas dan peran Muhammadiyah yang sepertinya agak memudar ketika gerakan ini memasuki abad kedua. Seperti ditulis Nakamura dalam artikelnya yang berjudul “Identitas Muhammadiyah” (ǰȱ 23 November 2012), tantangan yang dihadapi oleh Muhammadiyah itu tidak hanya bersifat ideologis seperti kehadiran berbagai kelompok
ȱȱȱęȱȱȱȱȱ
tertentu, namun juga persaingan dalam amal usaha dengan korporasi internasional dan revivalisme kelompok-kelompok tradisional dan lokal. Beberapa pertanyaan yang diajukan Nakamura adalah:
Dengan kecepatan globalisasi dan teknologi yang luar biasa, masih mampukah Muhammadiyah menjadi organisasi Islam yang progresif
ǻǼȱȱǵȱȱȱȱęȱȱǰȱ
mampukah Muhammadiyah tegak mempertahankan dan merevitalisasikan
¢ǵȱȱȱȱȱȬȱȱȱȱ
sebagian karena desentralisasi, khususnya kejawen, bagaimanakah
ȱȱȱǵ
Seperti yang dilakukan Nakamura dalam ICRM, buku ini secara nyata juga menunjukkan kegelisahan Nakamura terhadap masa depan Muhammadiyah. Ia, misalnya, memuji sikap Muhammadiyah dalam mendukung demokrasi dan pluralisme. Namun ia merasa belum begitu jelas dengan semangat dan gerak Muhammadiyah yang kadang berjalan seiring dengan kelompok Islamis yang agak eksklusif dengan kelompok non-Muslim. Ini yang kadang membuat sikap Muhammadiyah agak ambigu dalam kaitannya dengan toleransi dan kerja sama dengan kelompok agama yang berbeda. Nakamura mengamati fenomena ini begitu nyata, terutama di berbagai cabang dan ranting Muhammadiyah. Muhammadiyah sering acuh atau tak bergerak dalam kaitannya dengan
ȱ (kebaikan bersama) yang melibatkan banyak pihak di luar umat Islam atau umat Muhammadiyah, seperti dalam peristiwa Festival Kotagede. Bagian penutup dari buku ini hampir seluruhnya merupakan kritik yang cukup tajam terhadap Muhammadiyah.
bersama Nakamura, termasuk mengunjungi makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang, Jawa Timur) pada Desember 2012.
Memang, hubungan penulis dengan Nakamura tidak dalam bentuk hubungan mahasiswa S3 yang sedang menulis disertasi dengan pembimbingnya. Namun hubungan yang selama ini terjadi tidak kalah dengan hubungan dalam konteks akademik mahasiswa doktoral
ȱ¢ǯȱ¢ȱȱȱħȱ¢ȱȱȱȱ
Nakamura selama menjadi “cantrik”-nya. Misalnya, ketika menghadapi orang yang ditunggu-tunggu emailnya namun ia terlalu lambat dalam merespon, Nakamura tidak marah kepadanya. Ia mengawali email dengan mengatakan, “Saya yakin ȱ ȱȱȱȱ ”.
Membaca buku ini pun, sebagaimana yang saya alami, tidak hanya mendapatkan ilmu, namun juga belajar tentang kerendahhatian dan kejujuran menjadi ilmuwan. Di berbagai tempat di buku ini, misalnya, Nakamura mengakui kelemahannya dalam melakukan penelitian tanpa merendahkan posisinya sebagai ilmuwan. Justru pengakuan dan kejujurannya itulah yang membuatnya memiliki tempat tinggi di lingkungan akademik. Nakamura, misalnya, memuji kritik Achmad Charris Zubair tentang karyanya ini. Ia merasa senang dan bersyukur bahwa karya yang ia tulis ini bisa menjadi situmus bagi Zubair untuk membetulkan dan melengkapinya dengan sudut pandang . Interaksi intelektual antara peneliti asing dan sarjana Indonesia seperti itulah yang justru akan meningkatkan dan memperkaya pengetahuan
ęȱȱȱǯ
443
Kedekatan penulis dengan Nakamura selama ini barangkali yang membuat Nakamura berkirim email ke penulis ketika dia mengalami krisis kesehatan dan merasa ajalnya sudah begitu dekat. Ini terjadi pada Juli 2013 lalu. Dia mengatakan, “¢ȱȱȱȱȱȱȱȱ
ȱ—‘kapan saja akan dipanggil.’” Ketika itu dia menderita kanker prostat dan tidak mungkin dilakukan operasi karena umurnya sudah 80 tahun dan tidak memungkinkan pula melakukan terapi radiasi karena efek sampingnya. Itulah yang menyebabkannya berpikir bahwa umurnya tinggal beberapa bulan lagi. “Semoga masih diberikan waktu buat saya [bukan] dalam tahunan melainkan dari bulanan”, begitu Nakamura menulis surat pada 1 Juli 2013. Namun berkat kemajuan teknologi kedokteran di Jepang, penyakit Nakamura bisa disembuhkan dengan terapi hormon. Setelah melewati masa kritis itu, kini Nakamura bisa melanjutkan aktivitas akademiknya lagi dan kembali menjadi saksi untuk Muktamar Muhammadiyah 2015.
ȱĚ¢ȱȱȱ¢ȱȱȱȱ
berjudul “Personal Impressions on Muktamar NU and Muktamar Muhammadiyah with their Respective Themes—Islam Nusantara (NU) and Islam Berkemajuan (Muhammadiyah)” dan disampaikan di Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) pada 18 Agustus 2015, Nakamura meringkaskan pengamatannya terhadap dua Muktamar itu dalam kalimat singkat “Jombang Gaduh, Makassar Teduh.” Menurut Nakamura, pindah dari Muktamar NU di Jombang ke Muktamar
¢ȱȱȱȱȃħȱȱȱȱȄǯȱ
Secara total, Nakamura sudah menghadiri tujuh kali Muktamar Muhammadiyah, dimulai dari Muktamar ke-41 di Surakarta pada 1985.
***
Minorities in Muslim Majority Country of Indonesia”, melakukan kunjungan ke Sophia University untuk melihat Southeast Asian Kitabs Collection dan ke Nanzan Catholic University di Nagoya serta berkunjung untuk melakukan dialog di Japan Foundation, Nippon Foundation, dan Sasakawa Foundation. Saya juga mengadakan panel dengan menungdang Nakamura dalam International Seminar tentang
ȱȱǰȱȱȱDZȱȱȱȱȱ , kerja sama antara KASEAS (Korean Association of Southeast Asian Studies) dan CSES (Center for Southeast Asian Studies) di Kyoto University, 19–20 Maret 2016. Tema dari panel tersebut adalah “The Impact of Globalization in Creating Sectarianism in Indonesia, Singapore, & Malaysia”.
Pertemuan selanjutnya adalah di Jakarta pada World Peace Forum (WPF) 2016 yang diselenggarakan oleh CDCC (Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations) di Hotel Sahid. Seusai WPF tersebut, Nakamura hadir pada peluncuran 12+ buku baru tentang Muhammadiyah yang dilakukan bersamaan dengan Aksi Bela Islam II atau Aksi 411 pada 4 November 2016. Pada saat itulah Nakamura memberikan kritik yang tajam terhadap buku-buku yang diterbitkan. Buku-buku itu hampir semuanya adalah kumpulan tulisan, tidak ada buku monograf atau tulisan utuh tentang monograf. Ini adalah tantangan bagi Muhammadiyah. Karena itulah seusai acara, Pak Haedar Nashir langsung bicara dengan saya dan Nakamura bahwa ia akan ikut membantu dan mendorong penulisan monograf tentang Muhammadiyah.
Program berkaitan dengan Islam di Indonesia yang banyak melibatkan Nakamura saat ini adalah ȃȱ ȱȱȄȱȱ
445
untuk menjelaskan tentang Islam dan meng- anggapan bahwa
ȱȱȱȱȱȱȱȱǯȱȊ
Ahmad Najib Burhani Peneliti Senior LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia