• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERANG SIPIL DI SUDAN SELATAN P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PERANG SIPIL DI SUDAN SELATAN P"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH INTRODUCTION TO INTERNATIONAL LAW

ANALISIS PERANG SIPIL DI SUDAN SELATAN PADA TAHUN 2013

DISUSUN OLEH :

Wiendy Yolanda Baresi 372017020

Herdwita Priesma Dewanti 372017049 Chika Ramona Felicia Weni 372017052

Winston Jody Panggey 372017062

Alfadhea Ajeng Avishanic Z.A 372017066

Matheo Manoe 372017089

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU KOMUNIKASI

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap manusia atau individu mempunyai hak yang melekat pada dirinya sendiri dan sering disebut dengan hak asasi manusia (HAM). Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang dimiliki manusia ketika ia dilahirkan. Ini berarti bahwa manusia memiliki hak yang mutlak dari penciptanya yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan hak itu secara tidak langsung melekat pada diri manusia yang dikodratkan untuk hidup. HAM menurut John Locke yaitu hak yang telah diberikan secara langsung oleh Tuhan sebagai sesuatu yang memilki sifat secara kodrati. Yang berarti bahwa hak yang dipunyai manusia menurut kodratnya tidak bisa dipisahkan dari apa yang menjadi hakikatnya karena hak asasi manusia itu sifatnya suci.

Dalam konteks negara hukum, HAM merupakan unsur dan asas yang keberadaannya harus terpenuhi karena sebagai negara, hukum harus ada pernyataan tentang pengakuan, penghormatan, dan perlindungan terhadap HAM yang mengarah pada penghormatan atas martabat manusia. Jadi, perlu adanya penghormatan, pengakuan, dan perlindungan kepribadian manusia dari negara hukum sebagai asas yang fundamental (mendasar). Menurut hukum HAM internasional, bentuk terpenting dari HAM yaitu hukum bukan politik. Hukum hak asasi manusia internasional merupakan cabang hukum publik internasional, yakni hukum yang mengatur hubungan antara kelompok-kelompok dengan kepribadian yang sifatnya internasional seperti negara, organisasi internasional, dan bisa jadi individu. Jika dilihat dari hak asasi manusia, hukum internasional memiliki kualitas ganda karena dapat menciptakan penghalang atau penghambat bagi perlindungan hak asasi yang efektif serta menyediakan sarana dalam mengatasi rintangan atau gangguan yang ada. Individu dijadikan sebagai hukum internasional karena secara pribadi individu dianggap dapat bertanggung jawab terhadap kejahatan perang, genosida, penganiayaan, dan apartheid. 1

1

Starke, J.G. 1992 . Pengantar Hukum Internasional . Sinar Grafika : Jakarta diakses pada 23 Maret 2018. 19.45 WIB

(3)

Dalam hak asasi manusia (HAM) ada juga perilaku menyimpang yang melanggar HAM salah satunya yaitu perang sipil yang terjadi di Sudan Selatan. Sudan Selatan merupakan negara yang terletak di Afrika Timur dengan ibu kotanya yaitu Juba. Sudan Selatan memutuskan untuk memisahkan diri dari Republik Sudan dan membentuk negara baru pada 9 Juli 2011. Sudan Selatan juga merupakan negara termuda di dunia yang terdaftar sebagai anggota PBB. Sebagai negara yang merdeka, Sudan Selatan tentu menjadi negara yang aman, tenteram, dan damai namun nyatanya tidak demikian. Hal ini terbukti dengan kondisi yang tidak kondusif, dimana masih terjadi pemberontakan maupun konflik yang mengarah pada perang sipil. Konflik yang terjadi di Sudan Selatan bermula ketika berdirinya gerakan Sudan People’s Liberation Movement (SPLM). Dimana Salva Kiir selaku presiden Sudan Selatan dan Wakilnya yaitu Riek Machar masuk dalam anggota SPLM. Walaupun keduanya sama-sama anggota dari SPLM, namun mereka bersaing secara politis. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pendapat mengenai visi dan kepemimpinan yang menuju pada perjuangan internal dua partai. Pada dasarnya, perbedaan dalam SPLM sifatnya taktis dan ideologis.

Dalam konflik Sudan Selatan, bukan hanya kubu internal partai SPLM yang berpengaruh tetapi juga etnis dari kedua pemimpin pemberontak tersebut. Presiden Salva Kiir berasal dari etnis Dinka, sedangkan Riek Machar berasal dari etnis Nuer yang memberikan dampak tersendiri terhadap hubungan antar dua etnis terbesar yang ada di Sudan Selatan. Konflik yang dipicu oleh persaingan politik internal atau dalam negeri dan sengketa kekuasaan antara presiden Salva Kiir dan Riek Machar menyebar luas menjadi perang sipil. Sudan Selatan sendiri mempunyai kurang lebih 60 kelompok etnis dengan populasi terbesar yaitu etnis Dinka yang berjumlah 35,8% dan etnis Nuer sebanyak 16% kemudian diikuti dengan etnis Shilluk dan kelompok etnis lainnya. 2

2 Armed Conflict Database. 23 Desember 2013. South Sudan: Fragile and Divided. Diakses dari

<https://acd.iiss.org/en/news/2013-3e27/south-sudan-divided-and-fragile-1d16> pada 22

Maret 2018. 17.00 WIB

(4)

Tim peneliti mengambil kasus di Sudan Selatan karena termasuk pelanggaran HAM yang menarik perhatian dunia internasional dan berkaitan dengan topik yang ada. Pembahasannya pun menyangkut permasalahan kekuasaan politik antar kedua belah pihak yang ingin memegang kekuasaan penuh hingga berujung pada konflik bersenjata dan perpecahan antar etnis. Terkait adanya tindakan yang melanggar hak asasi manusia, maka organisasi internasional mulai memperhatikan konflik yang terjadi di Sudan Selatan. Selain itu, perlu adanya penanganan dalam kasus tersebut melalui hukum yang terkait dengan hak kemanusiaan khususnya di ranah internasional.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan :

1. Bagaimana perang sipil dapat terjadi di Sudan Selatan ? 1.3 Kerangka Pikir

1.3.1. Kebijakan Domestik

Kebijakan publik dibuat oleh pemerintah berupa tindakan-tindakan yang berdasarkan kepentingan publik. Jadi, kebijakan publik merupakan tindakan untuk dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah demi terwujudnya kepentingan publik. Menurut Chandler dan Plano, kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah publik atau pemerintah.

Seorang kepala negara harus mengetahui permasalahan atau kebutuhan yang dibutuhkan oleh negaranya sehingga kebijakan publik dapat dibuat untuk menentukan kebijakan publik dari suatu negara. Untuk memenuhi kepentingan nasional, negara-negara maupun aktor dari negara tersebut melakukan berbagai macam kerjasama bilateral dan multilateral.

1.3.2 Kebijakan Luar Negeri

(5)

pada umumnya dibuat agar dapat mempengaruhi negara lain yang dimana menjaga keamanan nasional buat negaranya. Menurut Joshua Goldstein, kebijakan luar negeri adalah kebijakan atau strategi yang diambil oleh pemerintah dalam menentukan aksi mereka di dunia internasional. Menurut Rosenau tujuan dari kebijakan luar negeri ini sebenarnya merupakan fungsi dari proses dimana tujuan negara tersebut. Tujuan tersebut didasarkan dari sasaran yang dilihat dari masa lalu dan inspirasi dari masa yang akan datang. Kj Holisti membagi tujuannya menjadi 3 yaitu: Nilai, yang diletakan pada tujuan negara, sebagai hal utama dalam membuat kebijakan, hal ini dibuat berdasarkan sumber daya dimiliki oleh negara untuk mencapai tujuan. Unsur Waktu, jangka waktu untuk mencapai tujuan. Tuntutan tujuan, negara tujuan akan dibebankan dari negara yang mengeluarkan kebijakan luar negeri.

Tujuan Nasional yang hendak di capai di jangkau melalui kebijakan luar negeri dan dibuat dimana dengan kepentingan nasional terhadap situasi internasional yang sedang berlangsung serta power yang dimiliki untuk menjangkaunya, tujuan dibuat untuk untuk di pilih dan ditetapkan oleh pembuat keputusan dan dikendalikan untuk mengubah kebijakan atau mempertahankan kebijakan di lingkungan internasional. Konsep ini nantinya akan dianalisis lebih lanjut dalam pembahasan dan keterkaitannya dengan kasus HAM yang terjadi di Sudan Selatan.

1.4 Landasan Teori 1.4.1 Teori Kekerasan

(6)

adanya keinginan untuk memenuhi suatu kepentingan politik, lama kelamaan menjalar ke rakyat-rakyat kecil sampai terbentuknya 2 kubu etnis yang bertentangan yaitu suku Dinka yang berpihak pada Presiden Kiir dan Suku Nuer yang berpihak pada Wakil Presiden Machar. Permasalahan yang muncul menyebabkan terjadinya polarisasi masyarakat dan militer dalam garis etnis dan ketidakseimbangan dalam hubungan sosial kemasyarakatan di Sudan Selatan. Dan pada akhirnya konflik ini berujung pada jatuhnya banyak sekali korban dan pertumpahan darah.

Linda M. Woolf, Ph.D mengatakan “We live in a time of unparalleled instances of democide, genocide and ethnocide. The Holocaust, the genocides in Darfur, Turkey, Cambodia, Tibet, & Bosnia, the disappearances in Argentina & Chile, the death squad killings in El Salvador, Stalin's purges, the killing of the Tutsi in Rwanda . . . . and the list goes on”.4 Perkataan itu menyatakan bahwa pemusnahan suatu kelompok etnis akan terus bertambah dimana atas nama Negara penghilangan kesempatan / kebebasan bahkan nyawa dihilangkan secara paksa. Freud dan Lorenz yang menyatakan bahwa ke agresifan manusia merupakan sebuah naluri yang digerakan oleh sumber energi yang selalu mengalir, dan tidak selalu berasal dari rangsangan luar.5 Pada tahap ini jelas menunjukan bahwa potensi kekerasan pada hakekatnya sudah melekat dalam diri manusia. Pemahaman terhadap kekerasan juga disampaikan oleh Gidens yang meminjam pandangan Clausewitz, “...lazimnya berada di sisi yang berseberangan dengan persuasi; kekerasan merupakan salah satu bagi sekian cara individu, kelompok atau Negara yang berupaya memaksakan kehendak mereka kepada orang –orang lain”. 6 Pokok pemahaman kekerasan menurut Clausewitz adalah pemaksaan kehendak, yang tentu saja bisa dilakukan oleh individu, kelompok maupun oleh Negara. Setelah itu muncul pemahaman bahwa kekerasan akan dianggap legal ketika mendukung satu tujuan tertentu atau dimungkinkan menuju apa yang disebut sebagai tertib sosial. Kemudian kekerasan seperti contohnya perang berkaitan dengan motif atau kepentingan yang ada, seperti halnya perang ekonomi dan politik yang mengacu pada orang

4 http://faculty.webster.edu/woolflm/holocaust.html (diakses pada 25/4/2018, 20.03 WIB) 5 Fromm, Erich., Akar Kekerasan : Analisis Sosio-Psikologis atas Watak Manusia (Yogyakarta ;Pustaka Pelajar, 2000) hal. 8

(7)

–orang yang melakukan perang untuk mendapatkan wanita, budak, bahan pangan dan lahan, disamping untuk mempertahankan dinasti dan kelas penguasa. Teori ekonomi-politik secara spesifik mengacu pada determinan resiko konflik dari aspek ekonomi, politik dan sosial yang kemudian memberikan penjelasan mengenai kegagalan dalam mengembangkan aspek-aspek tersebut sehingga siklus konflik kekerasan terjadi. Terdapat 6 determinan yang masing-masing berasal dari berbagai macam literatur yang dikembangkan7, yaitu:

1. Rapid Change and Rising Expectations : Konflik sosial dan politik dapat timbul ketika suatu lembaga pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk mengatur banyaknya permintaan masyarakat. Inequality yang dialami suatu kelompok, baik yang bersifat relative deprivation yaitu suatu pihak percaya bahwa ia atau kelompoknya diperlakukan tidak adil ataupun absolute deprivation yaitu adanya perampasan mutlak terhadap suatu pihak sehingga pihak tersebut tidak dapat menjalani hidupnya secara layak.

2. Failing to credibly agree to abstain from violence : pada dasarnya komitmen berasal dari “commitments problems”, yaitu situasi ketika sebuah kelompok memiliki kepentingan yang bertentangan namun tidak dapat menggunakan tindakan lain selain kekerasan. Susahnya suatu kelompok atau individu untuk tidak menggunakan paksaan atau kekerasan. Kekerasan dalam konflik sipil merupakan konsekuensi dari low state capasity. Yaitu lemahnya negara untuk mengelola konflik.

3. Greed and Grievance : permasalahan ekonomi, sosial dan politik, rendahnya laba, kurangnya modal, dan permasalahan populasi dapat meningkatkan permintaan masyarakat, sehingga keluhan dan protes yang lama kelamaan dapat memicu resiko konflik sipil.

4. Horizontal Inequality and Identity : suatu kelompok merasa tidak adanya keseimbangan, menyebabkan terjadinya konflik sipil.

5. Ethnic Devides and Commitment problems : adanya pengelompokan berdasarkan etnis yang membuat komitmen untuk tidak menggunakan kekerasan sulit diimplementasikan.

6. Avenues for peaceful contests : sistem hukum dan peran negara yang kurang dalam mengatur kebutuhan masyarakat menjadi perlindungan

(8)

yang buruk jika terdapat tekanan yang terjadi, padahal kualitas lembaga politik adalah hal utama dibandingkan faktor lain dalam menentukan resiko krisis dan perang sipil.

Perang di suatu negara dapat terjadi kembali karena legitimate institution yang lemah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan dalam menghadapi berbagai macam tekanan yang mampu memicu sebuauh resiko sehingga terjadinya konflik dan kekerasan berulang, tidak adanya kehadiran suatu lembaga yang mampu menengahi perselisihan dan mengurangi kekerasan, serta masyarakat yang tidak mampu melindungi diri dari tekanan menyebabkan terjadinya konflik, akan rentan untuk terjadi kembali. Interlinked Stresses atau tekanan-tekanan tersebut antara lain adalah security stresses, economic stresses, dan injustce. Security Stresses timbul ketika suatu kelompok tertentu merasa terancam oleh kelompok lain sebagai akibat dari penindasan yang dialaminya di masa lampau, yang kemudian memandang pihak tersebut dalam pandangan yang buruk, kemudian memperkuat dirinya untuk bertahan atau membela diri. Ia percaya bahwa suatu pihak, etnis, atau kelompok dari golongan agama sedang mempersiapkan diri untuk menyerangnya kembali, sehingga ia memlindungi dirinya dan melakukan serangan lebih dulu (preemptive move). Kelompok ini kemudian menggunakan kekerasan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah, baik masalah yang terjadi dalam kelompoknya maupun yang terjadi diluar kelompoknya, hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki media ke sistem hukum untuk mengadili pihak yang diduga melakukan kesalahan dan membatasi berbagai penyimpangan yang terjadi. Kekerasan menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan kepentingan. Tekanan keamanan yang datang dari dalam (internal) misalnya perpecahan antar-etnis, sedangkan yang datang dari luar (eksternal) misalnya gerakan teroris atau pemberontak yang dapat memperburuk kondisi negara. Economic Stresses misalnya income shocks, energy shocks, kurangnya pangan, ataupun hal lain yang dialami kelompok tertentu dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Salah satu faktor lain yaitu political stresses, injustice and unfairness, muncul ketika terjadi penindasan dan pelanggaran terhadap HAM yaitu eksklusi politik kepada kelompok-kelompok tertentu berdasarkan ras, etnis, agama, atau lokasi geografis secara nyata menjadi motif bagi terjadinya perlawanan bersenjata. 8Dewasa ini beberapa wilayah di dunia memiliki sistem representasi politik yang

(9)

tidak adil. Penelitian menunjukkan bahwa negara-negara dengan eksklusi politik atau eksklusi etnis yang tinggi akan berkapasitas untuk mengalami pergolakan berulang dan kekerasan konflik. Ketimpangan ekonomi dan sosial yang dirasakan itu berhubungan dengan ketidakadilan. Tekanan keamanan dapat diperkuat dengan cara bagaimana orang melihat dan memperlakukan mereka didasarkan pada aspek identitasnya, misalnya, ketidaksetaraan antara kelompok identitas berbasis agama, kasta, suku, atau wilayah. Konflik-konflik kelanjutan tersebut kemudian berubah menjadi ancaman kekerasan yang saling berhubungan dengan aspek-aspek lain.

1.5 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui alasan terjadinya perang sipil di Sudan Selatan.

2. Untuk menjelaskan apa dasar dari kedua belah pihak sehingga melakukan penyerangan.

1.6 Manfaat Penelitian

1. Tim peneliti berharap dengan mengangkat kasus ini, kesadaran akan HAM di dunia ini lebih diperhatikan.

2. Bermanfaat untuk para pembaca agar saat pemilihan pemimpin dapat dipilih dengan lebih cermat agar masa depan negara dibawa ke arah yang lebih jelas

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah Sudan Selatan

(10)

Sudan selatan meliputi kawasan rawa yang luas yang di bentuk oleh sungai nil dan biasanya disebut dengan Bahrul Jabal.

Sudan Selatan bergabung menjadi anggota Uni Afrika bahkan ingin menjadi bagian dari Persemakmuran Komunitas Afrika Timur, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia. Dalam Sudan Selatan, terdapat beberapa etnis termasuk etnis Dinka yang mendominasi atau yang mayoritas dan etnis Nuer yang termasuk dalam kelompok minoritas. Sudan Selatan awalnya termasuk bagian dari Sudan, namun karena adanya konflik politik, agama, dan suku atau etnis maka mereka memisahkan diri dari wilayah Sudan. Pada tahun 1991, konflik internal SPLM (Sudan People's Liberation Movement) pernah terjadi yang melibatkan pemimpin SPLM yang dahulu yakni John Garang dan Riek Machar. Hal tersebut disebabkan karena adanya pernyataan dari Riek Machar mengenai kudeta kepemimpinan Garang pada 28 Agustus 1991 yang tujuannya untuk mengakhiri kedudukan pemerintahan Dinka. Tetapi upaya kudeta itu tidak berhasil dan berlanjut dengan konflik besar seperti adanya peristiwa pembantaian yang disebut Bor Massacre atau Dinka Massacre pada tanggal 15 November 1991, dimana warga sipil Dinka di Bor dibunuh secara massal selama 2 bulan dan akibatnya kurang lebih 2000 orang tewas dan 100.000 orang mengungsi. 9

2.2 Sejarah Hubungan Etnis Dinka dan Etnis Nuer

Pada tahun 1984, dibawah kepemimpinan John Garang dari etnis Dinka beserta Samuel Gai Tut dari etnis Nuer terjadi perebutan kekuasaan antara Dinka dan Nuer. Kedua pemimpin tersebut berjuang untuk membebaskan Sudan Selatan, namun keduanya memiliki ideologi yang berbeda. Dan pada akhirnya John Garang membunuh lawannya yaitu Samuel Gai Tut dan merebut kepemimpinannya.10 Setelah Samuel Gai Tut meninggal, seorang pemimpin militer Nuer yang bernama William Abdallah Chuol menguasai pasukan Gai Tut yang hampir semuanya merupakan suku Nuer untuk melanjutkan perang melawan pasukan John Garang. Pada saat itulah perpecahan ideologi antara John Garang dan pendukung Gai Tut berkembang menjadi suatu pertempuran Nuer melawan Dinka, namun William tidak memiliki dampak yang penting terhadap

9World Directory Minorities and Indigenous People. Juli 2008. Dinka. Diakses dari

&lt;http://www.minorityrights.org/4006/sudan/dinka.html&gt; pada 22 Maret 2018. 17.00 WIB

10 Thon Agany Ayiei, The New Sudan Vision (NSV),understanding the tribal , political, economic,aspects,

(11)

warga sipil, sehingga pertempuran itu hanya sebatas pada antar pasukan bersenjata.11

Pada tahun 1991, karena adanya ketidaksepakatan politik antara John Garang dan Riek Machar dan konflik etnis Dinka dan Nuer semakin meluas. Hal itu didorong pemberontakan beberapa anggota SPLM yang salah satunya adalah Riek terhadap kepemimpinan John dalam SPLM yang dianggap terlalu memusat pada suatu hal. Selain itu, perselisihan antara Riek dengan John didasarkan pada perbedaan ideologis tentang tujuan gerakan yang juga pemicu awal ketegangan tersebut. Riek selaku separatis mendukung pemisahan Sudan Selatan dari Sudan, sementara John yang berasal dari serikat yang mempunyai tujuan untuk membentuk Sudan baru yang bersatu. Namun, pertempuran yang terjadi tersebut berbeda dengan perang yang terjadi pada tahun 1984.12 Perang yang terjadi tahun 1991 itu adalah pertempuran besar pertama yang terjadi anatar etnis Dinka dan Nuer. Tahun 2002 John Garang dan Riek berdamai dan kembali bekerjasama menuju kebebasan Sudan Selatan dari Sudan.13

2.3 Dinamika Perang Sipil di Sudan Selatan

Pada tahun 1924, masa kolonialisasi Inggris sejarah Sudan Selatan sudah ditelusuri. Dimana Inggris menjalankan politik isolasi dalam kebijakan pemisahan pemerintahan Sudan menjadi dua, yaitu Sudan Utara dan Sudan Selatan dimana Sudan Utara wilayah penduduknya didominasi oleh etnis arab yang memeluk agama islam. Dan Sudan Selatan wilayah penduduknya merupakan mayoritas etnis kulit hitam Afrika yang menganut paham kristen dan animisme. Dengan adanya kebijakan Inggris yaitu larangan berpergian karena untuk mencegah penyebaran penyakit malaria, justru membuat dampak di wilayah Sudan Utara dan Sudan Selatan yang semakin terisolasi satu sama lain. Akibatnya sikap saling tidak percaya antar dua wilayah itu semakin meningkat. 14

Pada tahun 1946, Inggris mempunyai keputusan untuk menggabungkan Sudan Utara dan Sudan Selatan menjadi wilayah administratif dengan menjadi kesatuan negara tunggal.

Pada tahun 1955, setahun sebelum Inggris memerdekakan Sudan, telah terjadi kasus pemberontakan pada beberapa kota di Sudan wilayah selatan,

11 Ibid.

12 Op.Cit. Delta Angara Putri. hal.12

13 Ibid. The Sudd Institute, South Sudan’s Crisis: Its Drivers, Key Players, and Post-conflict Prospectshal.3

(12)

dimana sejumlah anggota Korpse Equatorial yang pada awalnya sudah menjadi penjaga keamanan di Sudan wilayah selatan justru menjadi penggerak atau akar dari pemberontakan tersebut. Penyebab terjadinya pemberontakan tersebut adalah karena adanya ketakutan masyarakat Sudan wilayah selatan akan rencana yang sudah dibuat Inggris untuk memerdekakan Sudan menjadi satu wilayah negara, dimana wilayah Sudan Utara sebagai pusat pemeritahannya. Masyarakat Sudan Selatan sangat khawatir akan dominasi oleh komunitas masyarakat dari utara, apalagi tidak ada perwakilan dari Sudan wilayah selatan sewaktu perun[[dingan perencanaan kemerdekaan dengan Inggris terjadi.

Perang Sipil pertama terjadi pada tahun 1955 sampai dengan 1972. Pada bulan Januari 1971, Joseph Lagu selaku mantan Letnan Tentara Sudan membentuk suatu gerakan baru dengan mengumpulkan dan menyatukan semua kelompok gerakan pemberontak yang setuju terhadap Sudan Selatan ke dalam sebuah gerakan yang bernama Southern Sudan Liberation Movement (SSLM), atau yang disebut juga Gerakan Pembebasan Sudan Selatan. Dimana gerakan tersebut telah melakukan berbagai cara negosiasi dengan pihak pemerintahan pusat demi mencapai suatu perjanjian yang telah disepakati bersama.

Karena tertekan oleh adanya gerakan pemberontakan yang terjadi di daerah Sudan Selatan, akhirnya pemerintah dari Sudan yang dipimpin oleh Jaafar Nimeiry dan SSLM yang dipimpin oleh Joseph Lagu, mereka sepakat untuk memberhentikan perang yang terjadi dengan perjanjian Addis Ababa pada tanggal 27 Maret 1972 di Addis Ababa, ibukota Ethiopia. Perjanjian itu berisi pembentukan pemerintahan otonomi tunggal yang memiliki otoritas diseluruh wilayah Sudan Selatan, menetapkan konsul eksekutif tinggi untuk mengurusi tata daerah terkecuali urusan militer, hubungan luar negeri, keuangan, serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa utama di wilayah Sudan Selatan.15 Perjanjian itu sudah disepakati dan diikuti berakhirnya perang sipil pertama pada tahun 1955 sampai 1972.

(13)

sebab itu, penyebab terjadinya Perang Sipil Kedua yang berawal pada tahun 1983 itu adalah realisasi perjanjian Addis Ababa yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat Sudan Selatan. Dalam penerapannya, pemerintahan pusat justru melanggar padahal awalnya telah menjanjikan sebuah pemerintahan otonomi bagi Sudan Selatan. Pengabaian terhadap perkembangan sosio-ekonomi Sudan Selatan dan kasus intervensi dalam pemilihan umum, mewarnai 11 tahun diterapkannya perjanjian Addis Ababa. Namun, sampai pada tanggal 19 November 2004, negosiasi perdamaian masih terus berlanjut.

Sebelum bulan Desember 2004, sebuah deklarasi yang memberikan komitmen kedua belah pihak untuk melakukan finalisasi perjanjian perdamaian komprehensif (Comprehensive Peace Agreement) telah ditandatangani. Dan akhirnya pada bulan Januari 2005, melalui perundingan di Nairobi, Kenya perjanjian damai antara pemerintah Sudan dan pemberontak di Selatan (SPLA) telah dicapai. Ada beberapa poin penting dalam perjanjian damai tersebut, yaitu referendum yang akan dilakukan pada 2011 dengan maksud untuk menentukan apakah wilayah tersebut tetap menjadi wilayah Sudan atau merdeka. Dengan demikian, Perang Sipil Sudan yang telah terjadi selama 21 tahun secara resmi berakhir pada tahun 2011.

Referendum untuk menentukan nasib Sudan Selatan telah dilaksanakan pada bulan Januari 2011. Kedua belah pihak (SPLA dan pemerintahan Khartoum) telah menyetujui sebuah referendum dalam perjanjian perdamaian komprehensif tahun 2005. Hasil dari referendum itu adalah hampir 100% masyarakat Sudan Selatan memilih untuk di merdekakan. Dan akhirnya pada 9 Juli 2011, Sudan telah merdeka dengan seorang Presiden yang bernama Salva Kiir serta kota Juba sebagai Ibukotanya.

Konflik perang sipil yang berkepanjangan selama beberapa dekade sampai saat ini telah dialami oleh Republik Sudan Selatan. Dan negara tersebut merupakan negara paling muda di dunia yang mendapatkan kemerdekaan dari hasil perjanjian perdamaian komprehensif tahun 2005. Namun kondisi Sudan Selatan justru tidak membaik setelah memisahkan diri, justru Sudan Selatan kembali terjebak dalam konflik, baik itu konflik internal maupun eksternal. Hal itu ditandai dengan terjadinya perang sipil di sudan selatan.

(14)

Liberation Movement (SPLM)16 yang beranggotakan Salva Kiir dan Riek Machar. Walaupun keduanya merupakan anggota SPLM, namun secara politis mereka saling bersaingan. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan pendapat atas visi maupun kepemimpinan, yang menuju kepada perjuangan internal dua partai. Salah satu dari kedua partai itu terdiri atas golongan separatis yang menyatakan kemerdekaan langsung dari Sudan Selatan sebagai tujuan utama dari gerakan tersebut. Sementara partai yang lainnya, terdiri dari golongan Serikat yang memiliki tujuan memperjuangkan transformasi Sudan yang lama menjadi The New Sudan.17

Oleh karena itu, perbedaan ideologi sampai dengan perebutan kekuasaan sering dialami oleh SPLM sebagai masalah atau kendala internal. Walaupun perbedaan dalam SPLM memiliki sifat ideologis, namun perselisihan yang terjadi di antara dua partai tersebut menyebabkan identitas anggotanya menjadi berbeda. Yaitu etnis Nuer melawan etnis Dinka. Hal itu disebabkan dan dipicu oleh persaingan politik yang dilakukan oleh keduanya.18 Dari apa yang sudah terjadi sebelumnya, dapat dilihat jelas bahwa SPLM sebagai salah satu gerakan yang terdiri atas berbagai kelompok, tentara maupun pemimpin – pemimpin suku yang memiliki berbagai kepentingan. Dimana di antara mereka terjalin persatuan, yang tidak benar – benar dilandaskan oleh kepentingan kolektif. Dalam kata lain, tidak ada hal lain selain keinginan besar memerdekakan diri dari Khartoum untuk mempersatukan mereka. 19

Selain perbedaan ideologi antara Presiden dan wakil presiden, konflik terjadi saat Presiden menuduh wakil presiden bahwa ia telah melakukan kudeta dan berdasarkan asumsi belaka. Riek Machar selaku wakil presiden tidak mengakui bahwa ia telah melakukan apa yang dituduhkan oleh Salva Kiir. Akhirnya Riek Machar melarikan diri karena tidak dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk masalah tersebut. Selama pelariannya Riek Machar memantau pergerakan Kiir dan meminta Kiir untuk turun dari jabatannya. Konflik antara Salva Kiir dan Riek Machar merambat ke masyarakat sipil di Sudan Selatan, dimana etnis Nuer dan etnis Dinka saling melawan untuk memperjuangkan kekuasaan, etnis Dinka

16 SPLM merupakan gerakan tertua yang di bentuk pada tahun 1983, gerakan ini bertujuan untuk membebaskan Sudan Selatan dari kekuasaan rezim Khartoum pada saat itu (Sudan Utara).

17 Peter adwok Nyaba. 1996. The politics of liberation in south sudan : an insiders view. Africa : Fountain

Publication. (Hal 51)

18 The Sudd Institute. 2014. South Sudan’s Crisis: Its Drivers, Key Players, and Post-conflict Prospects.

(hal.2)

(15)

condong ke Salva Kiir dan etnis Nuer condong ke Riek Machar. Masyarakat sipil dilucuti hak mereka untuk hidup dan mendapatkan kebebasan. Masyarakat di Sudan Selatan tidak bisa bergerak sama sekali karena jika masyarakat sipil condong ke etnis Nuer maka etnis Dinka akan memperkosa, membakar dan membunuh mereka. Begitupun sebaliknya. 20

2.4 Analisis konflik di Sudan dalam konteks Hukum Internasional

Berpisahnya Sudan Selatan dari Republik Sudan dapat dikelompokkan sebagai suatu pemisahan negara, sebab terjadi pergantian pemegang kedaulatan atau suatu wilayah dari negara satu ke negara lainnya yang diwujudkan melalui pengambilan seperangkat kekuasaan dari suatu negara.21 Dalam praktiknya, ada dua macam pemisahan, yaitu pemisahan secara umum dan pemisahan secara sebagian.22 Pemisahan yang dialami Sudan Selatan adalah suatu proses pemisahan suatu negara yang terjadi secara sebagian, karena Sudan Selatan terbentuk sebagai suatu negara yang baru dari sebagian daerah yang awal mulanya dikuasai negara lain, yaitu Republik Sudan.23

Pemisahan negara yang dialami Sudan Selatan termasuk akibat dari perang sipil yang terjadi di wilayah itu, sehingga bentuk bentuk pelanggaran Hukum Internasional tidak dapat dihindari. Bentuk bentuk dari pelanggaran Hukum Internasional tersebut antara lain yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, maupun kejahatan genosida. Adanya dugaan yang terkait dengan pelanggaran Hukum Internasional, solusi hukum terhadap pelanggaran tersebut sudah diproseskan. Solusi dari hukum tersebut berupa tuntutan dari jaksa International Criminal Court (ICC) terhadap beberapa individu di Sudan yang dianggap memiliki tanggung jawab terhadap pelanggaran yang terjadi yaitu kejahatan perang.

Meskipun Sudan dan Sudan Selatan bukan salah satu dari negara peserta Statuta Roma, namun ICC tetap memiliki yurisdiksi24 yang bertujuan untuk

20 https://www.google.co.id/amp/hukamnas.com/penyebab-konflik-sudan/amp

21 Budi Lazarusli dan Syakmin A.K. 1986. Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan Perjanjian Internasional. Penerbit Remadja Karya: Bandung. (hal. 14).

22 Sefriani. 2010. Hukum Internasional: Suatu Pengantar. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.

(hal.294-295).

23 S. Tasrif. 1966. Pengakuan Internasional dalam Teori dan Praktek. PT Media Raya: Jakarta.

(hal. 14).

(16)

mengadili pelanggaran yang terjadi di Sudan Selatan. Hal itu dapat terjadi karena kasus pelanggaran tersebut telah diajukan oleh dewan keamanan PBB.25

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Jadi berdasarkan pembahasan yang telah dibuat, dapat disimpulkan bahwa landasan perang sipil yang terjadi di Sudan Selatan terjadi karena adanya konflik yang terus berkepanjangan. Asumsi belaka yang dituduhkan oleh Presiden yang bernama Salva Kiir ke wakilnya yang bernama Riek Machar, sehingga menyebabkan konflik yang berlanjut menjadi perseteruan antar kelompok. Timbulnya konflik disebabkan oleh kelompok gerakan yang terpecah belah dan perbedaan pendapat antara Presiden dengan wakil presiden, sehingga banyak menelan korban jiwa yaitu warga sipil.

3.2 Saran

Ada beberapa saran yang diberikan oleh tim peneliti yang nantinya dapat menjadi suatu solusi bagi penelitian ini, yaitu :

(17)

2. Penyelesaian konflik seharusnya dilakukan dengan cara mengurangi bantuan senjata yang diberikan oleh negara lain agar dapat mengurangi konflik yang terjadi.

3.3 Kritik

Tim penulis memiliki beberapa kritikan terhadap penelitian maupun studi kasus ini, yaitu :

1. Tim peneliti memiliki kesulitan dalam mencari informasi yang jelas terutama buku yang digunakan untuk melakukan penelitian.

2. Tim peneliti mengakui bahwa penelitian yang dilakukan masih belum sempurna dan masih perlu pengkajian beberapa hal lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Starke, J.G. 1992 . Pengantar Hukum Internasional . Sinar Grafika : Jakarta

Mansyur Effendi. 1994. Dimensi dan Dinamika Hak Azasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional. Jakarta : Ghalia Indonesia

Armed Conflict Database. 23 Desember 2013. South Sudan: Fragile and Divided.

Diakses dari

https://acd.iiss.org/en/news/2013-3e27/south-sudan-divided-and-fragile-1d16 BBC.South Sudan Profile.http://www.bbc.com/news/worldafrica

http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/_7_%20Thomas.pdf http://faculty.webster.edu/woolflm/holocaust.html

Fromm, Erich., Akar Kekerasan : Analisis Sosio-Psikologis atas Watak Manusia (Yogyakarta ;Pustaka Pelajar, 2000) hal. 8

Giddens, Anthony., Melampaui Ekstrim Kiri dan Kanan : Masa Depan Politik Radikal (Yogyakarta ; Pustaka Pelajar, 2009) hal. 370

(18)

Thon Agany Ayiei, The New Sudan Vision (NSV),understanding the tribal , political, economic,aspects, of the current south sudan civil war and their complications in achieving a peaceful, lasting solution.

Ibid. The Sudd Institute, South Sudan’s Crisis: Its Drivers, Key Players, and Post-conflict Prospectshal.3

Abdul Rahman Abu Zayed Ahmed. 1988. Why the violence? . London: Panos Institute. (hal.19)

Sudan - First Civil War. http://www.globalsecurity.org/military/world/war/sudan-civil-war1.htm

Peter adwok Nyaba. 1996. The politics of liberation in south sudan : an insiders view. Africa : Fountain Publication.

The Sudd Institute. 2014. South Sudan’s Crisis: Its Drivers, Key Players, and Post-conflict Prospects. (hal.2)

https://www.google.co.id/amp/hukamnas.com/penyebab-konflik-sudan/amp

Budi Lazarusli dan Syakmin A.K. 1986. Suksesi Negara dalam Hubungannya dengan Perjanjian Internasional. Penerbit Remadja Karya: Bandung. (hal. 14). Sefriani. 2010. Hukum Internasional: Suatu Pengantar. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.(hal.294-295)

S. Tasrif. 1966. Pengakuan Internasional dalam Teori dan Praktek. PT Media Raya: Jakarta. (hal. 14).

Yurisdiksi merupakan tempat berlakunya sebuah Undang-Undang yang berdasarkan hukum.

PLAGIARISM CHECKER

(19)

Referensi

Dokumen terkait

Berbagai macam kebutuhan pada diri seseorang diiringi dengan menjamurnya tempat- tempat yang menyediakan barang untuk memenuhi kebutuhan.. Umumnya manusia lebih memilih

Pembangunan konstruksi tidak terlepas dari berbagai macam kebutuhan seperti sumber daya dan kontrak kerja. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka perlu dilakukan

Fasilitas WiFisemakin banyak diterapkan pada berbagai lembaga/instansi guna memenuhi kebutuhan akan terjaminnya koneksi internet untuk beragam macam kebutuhan.Pada swalayan,

Melihat kondisi Sudan Selatan yang semakin parah membuat IGAD mengirimkan menteri luar negerinya yang terdiri dari negara Republic Federal Ethiopia, Kenya dan

Misi ICRC tersebut adalah melindungi kehidupan dan martabat para korban perang dan kekerasan dalam negeri dan memberi mereka bantuan, berusaha untuk mencegah

Jumlah penduduk yang besar sebenarnya tidak perlu menjadi masalah bila daya dukung ekonomi yang efektif di Negara ini cukup kuat memenuhi berbagai macam

multipurpose yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan selain kebutuhan air irigasi. Salah satunya yaitu sebagai sumber air baku untuk memenuhi

NICA dalam menghadapi para pejuang di Bali pada masa revolusi fisik sudah menggunakan peralatan perang modern seperti: kapal terbang pipercub, kapal terbang lucked, motor