TUGAS MATA KULIAH SEMINAR EKONOMI PUBLIK
ANALISIS PENGARUH PENERIMAAN PAJAK, BELANJA MODAL DAN
TINGKAT INFLASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI
( Studi Kasus di Indonesia Periode Tahun 1985-2014)
Dosen Pengampu
:
Deden Dinar Iskandar, SE, MA.OLEH :
Hapsari Ayu K 12020114120036
Ridoan Sipahutar 12020114120040
Gabriella Faustina Santi Santoso 12020114120041 Shintia Prissillia Nainggolan 12020114120042
Rizky Ayu 12020114120043
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi menurut Sadono Sukirno (2006) adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil (sustainable) merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi suatu negara. Hal ini menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan ekonomi sebuah negara. Meskipun bukan satu-satunya indikator untuk menilai prestasi ekonomi suatu negara, pendekatan pertumbuhan ekonomi lazim digunakan dewasa ini.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, jumlah penduduk Indonesia akan terus mengalami peningkatan yang berarti kebutuhan ekonomi juga akan semakin bertambah. Hal ini hanya bisa diperoleh melalui peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau sering disebut PDB atas dasar harga berlaku setiap tahun. Untuk meningkatkan PDB tersebut, Pemerintah memiliki peran yang besar, terutama sebagai pembuat regulasi dan kebijakan-kebijakan. Pemerintah bertanggung jawab untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik yang dapat berpengaruh secara positif pada peningkatan kemakmuran masyarakat tanpa melupakan keberlangsungan kenegaraan. Dalam perannya ini, Pemerintah dibekali kebijakan ekonomi makro yang terwujud dalam dua instrumen utama, yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.
Kebijakan ekonomi makro didefinisikan sebagai penetapan tujuan oleh pemerintah terhadap perekonomian negara dan penggunaan instrument pengendalian untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Tujuan ekonomi yang dimaksud adalah kesempatan kerja penuh (full employment), penghindaran inflasi (avoidance of inflation), pertumbuhan ekonomi (economic growth), dan keseimbangan neraca pembayaran (balance-of-payments equilibrium).
pembangunan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pajak dipungut dari warga Negara Indonesia dan menjadi salah satu kewajiban yang dapat dipaksakan penagihannya. Pembangunan nasional Indonesia pada dasarnya dilakukan oleh masyarakat bersama-sama pemerintah. Oleh karena itu peran masyarakat dalam pembiayaan pembangunan harus terus ditumbuhkan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kewajibannya membayar pajak. Hal tersebut membuktikan bahwa kebijakan pemerintah di bidang perpajakan merupakan bagian dari kebijakan fiskal yang pada akhirnya akan berpengaruh pada perekonomian suatu Negara. Paper ini akan mengambil studi kasus di Indonesia dengan melihat bagaimana pengaruh pajak , inflasi dan belanja modal terhadap perekonomian di Indonesia
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka pertanyaan-pertanyaan penelitian yang dirumuskan dalam penelitian ini, yaitu :
a. Bagaimana pengaruh penerimaan pajak terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?
b. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Apa manfaat bulog dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia?
c. Bagaimana pengaruh belanja modal terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia ?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah :
a. Mengetahui bagaimana pengaruh penerimaan pajak terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia?
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi menurut Sumitro Djojohadikusumo (1991) adalah suatu proses yang berpokok pada proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat (Pirade, 2006:9). Menurut Dr. Boediono (1985) pertumbuhan ekonomi adalah adalah suatu proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. (Kuncoro, 2004:129; Tarigan, 2007:46). Indikator pengukuran pertumbuhan ekonomi yang memenuhi kriteria tersebut adalah gross domestic bruto (GDP) atau istilah dalam bahas Indonesia diartikan sebagai produk domestik bruto (PDB), yang didefinisikan total nilai atau harga pasar dari seluruh barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian selama kurun waktu tertentu (biasanya 1 tahun) (Nanga, 2005:13).
Menurut Arsyad (2004:14), PDB/GDP diartikan sebagai jumlah nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa akhir yang dihasilkan oleh sektor-sektor produktif, yaitu pertanian; industri pengolahan; pertambangan dan galian; listrik; air dan gas; bangunan; pengangkutan dan komunikasi; perdagangan; bank dan lembaga keuangan; sewa rumah; pertahanan; dan jasa-jasa lainnya selama satu tahun fiscal.
Kesimpulam yang dapat ditarik berdasarkan beberapa definisi sebelumnya adalah bahwa GDP/PDB merupakan salah satu ukuran atau indikator secara luas yang digunakan untuk mengukur kinerja ekonomi atau kegiatan makro ekonomi suatu negara yang dilihat dari 11 atau 9 sektor produktif, meliputi pertanian; industri pengolahan; pertambangan dan galian; listrik; air dan gas; bangunan; pengangkutan dan komunikasi; perdagangan; bank dan lembaga keuangan; sewa rumah; pertahanan; dan jasa-jasa lainnya selama satu tahun fiskal.
B. Penerimaan Pajak Negara
Menurut UU No. 17 tahun 2003 pasal 1 huruf 9 dan pasal 11 ayat 3, bahwa penerimaan negara adalah semua penerimaan kas yang masuk ke negara terdiri dari penerimaan pajak dan bukan pajak serta hibah. Berkaitan dengan penerimaan pajak, berdasarkan UUD 1945 (Amandemen IV) pasal 23 ayat 1 dinyatakan bahwa segala pajak digunakan untuk keperluan negara berdasarkan undang- undang. Pengklasifikasian penerimaan pajak terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Pajak dalam negeri meliputi pajak penghasilan (migas dan non-migas), pajak pertambahan nilai (PPN), pajak bumi dan bangunan (PBB) serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), cukai dan pajak lainnya. Sedangkan pajak perdagangan internasional meliputi bea masuk dan pajak ekspor.
Definisi pajak yang dapat disimpulkan dari beberapa definisi sebelumnya adalah pajak sebagai salah satu sumber penerimaan terpenting negara yang digunakan untuk membiayai kegiatan kepemerintahan.
C. Belanja Pembangunan/Modal
Definisi belanja pembangunan, menurut Soetrisno (1984:340) adalah pengeluaran untuk pembangunan baik pembangunan fisik, seperti jalan, jembatan, gedung, kendaraan, dan lain-lain, maupun pembangunan non-fisik termasuk penataran-penataran, training, dan lain-lain.
Menurut Mardiasmo (2002:67) dan Halim (2007:101) adalah pengeluaran yang manfaatnya cenderung melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah asset atau kekayaan pemerintah. Sedangkan menurut Halim dan Subiyanto (2008:5), investasi didefinisikan sebagai penggunaan asset untuk memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga, royalti, manfaat sosial/manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan masyarakat. Sedangkan dalam PP No. 58 Tahun 2005 disebutkan bahwa belanja modal (capital expenditure) adalah pengeluran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan asset tetap dan asset lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan.
tetap berwujud yang mempunyai masa mafaat lebih dari 1 tahun untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan.
D. Inflasi
Menurut Nanga (2005:237) Inflasi adalah suatu gejala dimana tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus menerus. Venieris dan Sebold (1978:603) dalam (Nanga, 2005:237), mendefinisikan inflasi sebagai suatu kecenderungan meningkatnya tingkat harga umum secara terus menurus sepanjang waktu. Berdasarkan definisi inflasi tersebut, ada tiga komponen yang dipenuhi agar dapat dikatakan inflasi, yaitu kenaikan harga, bersifat umum, dan berlangsung terus- menerus.
E. Hubungan Penerimaan Pajak Negara, Belanja Pembangunan/Belanja Modal, Inflasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Negara dalam membiayai pengeluaran belanja pembangunan/modal untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya bersumber dari penerimaan pajak. Hubungan penerimaan pajak dengan pertumbuhan ekonomi dijelaskan teori yang dikemukakan oleh Peacock dan Wiseman, yaitu “bahwa perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah akan memberikan dampak pada meningkatnya penerimaan pajak sehingga menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat. Oleh karena itu, dalam keadaan normal, meningkatnya GNP/GDP menyebabkan penerimaan pemerintah yang semakin besar, begitu juga dengan pengeluaran pemerintah menjadi semakin besar pula” (Mangkoesoebroto, 1993:173).
Sehingga berdasarkan latar belakang penelitian yang diperkuat landasan teori dengan didukung hasil penelitian terdahulu, maka diajukan suatu hipotesis, yaitu penerimaan pajak, belanja pembangunan/modal dan tingkat inflasi berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia .
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Data PenelitianData yang digunakan dalam penelitian ini adalah data PDB, Penerimaan pajak, belanja modal dan inflasi dalam kurun waktu dari tahun 1985 hingga tahun 2013.
Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
TAHU
N PDB PAJAKP. B. MODAL INFLASI
1986 747875.82 6617 52.4 8.83
2012 2613180.68 1016237 1548.3 4.3
2013 2769053 1148365 1726.2 8.38
2014 2909181.5 1246107 1876.8 8.36
198519871989199119931995199719992001200320052007200920112013
Deskripsi Penerimaan Pajak
1985 1988 1991 1994 1997 2000 2003 2006 2009 2012 0
200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000
P. PAJAK
P. PAJAK
Grafik di atas merupakan gambaran pergerakan jumlah penerimaan pajak di Indonesia dari tahun 1985 hingga tahun 2013. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa penerimaan pajak dari tahun 1985 hingga tahun 1999 cenderung konstan, dimana grafik penerimaan pajaknya seolah olah bergerak pada angka sekitaran 0 saja. Namun pada tahun 1999, penerimaan pajak mengalami peningkatan secara signifikan hingga tahun 2013. Pada periode tahun 1990 – 1996, penerimaan pajak dalam negeri Indonesia mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebesar 21,43 persen. Meskipun terjadi krisis finansial yang melanda Asia Tenggara dan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia pada akhir 1997, ternyata tidak mempengaruhi penerimaan pajak dalam negeri. Hal ini dapat di lihat dari realisasi penerimaan pajak dalam negeri Indonesia selama periode tahun 1997 – 1998 yang meningkat sebesar 36,36 persen. Pada tahun 2000 pemerintah melakukan reformasi di bidang perpajakan yang kemudian berdampak pada peningkatan penerimaan pajak dalam negeri selama periode tahun 2000 – 2007 dengan peningkatan rata-rata pertahun sebesar 19,34 persen.
Grafik diatas menunjukkan pergerakan tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang dipengaruhi oleh Belanja Modal dari tahun 1985 sampai tahun 2013. Dapat dilihat dari grafik diatas bahwa Belanja Modal secara signifikan mengalami peningkatan tiap tahunnya. Namun, pada tahun 1999, Belanja Modal mengalami penurunan sekitar 120 miliar dari tahun 1998. Hal ini terjadi karena adanya dampak dari krisis ekonomi pada tahun 1998, dimana krisis yang terjadi semakin dalam dan telah menyentuh semua sendi-sendi perekonomian nasional. Kemudian pemerintah berusaha untuk mempercepat proses stabilisasi, seperti di bidang fiskal, yaitu dengan merevisi RAPBN 1998/1999. Sehingga belanja modal dapat kembali meningkat hingga tahun 2013
198519871989199119931995199719992001200320052007200920112013 0
10 20 30 40 50 60 70 80 90
INFLASI
INFLASI
Sumber : Website BI dan Jurnal Acuan
B. Analisis data
Dependent Variable: PDB Method: Least Squares Date: 09/04/17 Time: 20:41 Sample: 1985 2014
Included observations: 30
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
PAJAK 6.356405 2.516821 2.525569 0.0180
BELANJA_MODAL -3215.143 1685.929 -1.907045 0.0676
INFLASI 4704.321 2983.393 1.576836 0.1269
C 1126246. 61434.73 18.33241 0.0000
R-squared 0.909972 Mean dependent var 1575117. Adjusted R-squared 0.899585 S.D. dependent var 615162.4 S.E. of regression 194935.2 Akaike info criterion 27.32229 Sum squared resid 9.88E+11 Schwarz criterion 27.50911 Log likelihood -405.8343 Hannan-Quinn criter. 27.38205 F-statistic 87.60002 Durbin-Watson stat 0.474744 Prob(F-statistic) 0.000000
Hasil uji kesesuaian model (uji F) pada hasil regresi menunjukkan Fhitung sebesar 87.60002 dengan tingkat signifikan sebesar 0.000000, karena nilai probabilitas < 0,05 (sig < 5%) maka Hipotesis penelitan dapat diterima. Selanjutnya koefisien determinasi (R2) adalah sebesar 0.909972
makas dapat diperoleh informasi bahwa kecocokan model regresi untuk memprediksi pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 90 %, sedangkan 10 % lainnya dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian.
Secara keseluruhan hasil pengujian analisis regresi linier berganda terhadap hipotesis penelitian dapat membuktikan bahwa variabel penerimaan pajak, belanja modal dan tingkat inflasi teruji secara signifikan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia ( periode tahun 1985 sampai dengan 2014 ) dengan tingkat signifikan 0.000000 ( sig < 0,05 ).
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hasil pengujian analisis regresi linier berganda terhadap hipotesis penelitian ini adalah penerimaan pajak, belanja pembangunan/modal dan tingkat inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependennya yaitu pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Ardani Rezka.,Joko Setiawan, Rida Sari. 2012. Analisis Pengaruh Penerimaan Pajak, Belanja Pembangunan/Modal dan Tingkat Inflasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Selama Tiga Dekade Terakhir. Jakarta: Akademi Akuntansi Permata Harapan. September 2012. Vol : I. No 01 ISSN: 2302-6847.Vol. 14,No. 4:49-61
Hamzah, Ardi. 2007. Pengaruh Belanja dan Pendapatan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan dan Pengangguran (Studi Pada APBN 1999-2006). Konferensi Penelitian Akuntansi dan Keuangan Sektor Publik Pertama: Membangun Pondasi Komunikasi Dalam Mewujudkan Akuntabilitas Publik, Pascasarjana Universitas Pembangunan Nasional “Vateran” Jatim, Surabaya, 25-26 April 2007, Hal 1-18.
Sadikin, Ferry Imanudin. 2010. Identifikasi Faktor yang mempengaruhi Inflasi di Indonesia ( Bagian Pendahuluan). Jakarta : FE UI.
Website Kementerian Keuangan. www.kemenkeu.go.id. Website Bappenas. www.bappenas.go.id