Teks penuh

(1)

TAFSIR AYAT AL-QUR’AN TENTANG KEDILAN, KEJUJURAN,

DAN MORAL.

Di susun oleh

SYUKRIZAL IWAN SUDIRJA

KHARISMA BUSTANUL IRVAN

ARAFAT RISKI RAMADHAN

DOSEN PEMBIMBING: DR. Muhammad Abizal

FAKULTAS DAKWAH & KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY

JURUSAN KOMUNIKASI & PENYIARAN ISLAM

(2)

TAFSIR AYAT AL-QUR’AN TENTANG KEDILAN, KEJUJURAN,

DAN MORAL.

SURAT AN-NISA AYAT 58-59 DAN

SURAT AL-MUKMINUN AYAT 1-8

A. PENDAHULUAN

kelompok masyarakat memiliki tolak ukur atau standar moral yang harus diterapkan dan dipatuhi oleh setiap orang di dalam masyarakatnya. Yaitu standar moral yang berhubungan dengan berbagai persoalan apa saja yang dapat menguntungkan atau merugikan manusia atupun anggota kelompoknya. Dan penentuan standar moral merupakan bagian dari Etika.

(3)

B. PEMBAHASAN

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

Sesungguhnya allah menyuruh agar menyampaikan amanat kepada ahlinya. dalam hadits al-Hasan yang diterima dari samurah mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Sampaikanlah amanat kepada orang yang memberi amanat kepadamu dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu” (H.R. Imam Ahmad).1

Ayat ini termasuk salah satu ayat yang terpenting dalam persoalan hukum syariat, dan menurut zahir ayat khitab-nya ditunjukan kepada segenap umat Islam, yang berhubungan dengan amanat. Menurut yang diriwayatkan dari Ali, Zaid bin Asham dan Syahar bin Hasyab, ayat ini ditunjukan kepada wali-wali orang Islam.

(4)

Ijtihad seorang hakim, yang mengetahui dengan baik akan hukum Allah dan Rasul.2

Surat An-Nisaa ayat 59

























































Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Persoalan amanah, ketaatan kepada Allah, Rasul, Ulul Amri dan sebagaimana yang terdapat surat An-Nisaa ayat 58 dan 59 diatas adalah merupakan dasar-dasar pokok bagi hukum-hukum Islam. Andaikan Allah tidak menurunkan ayat-ayat yang lain dalam Al-Quran, cukuplah kedua ayat itu bagi kaum muslimin, asal saja hukum-hukum itu diletakkan diatas dasar pokok kedua ayat tadi.

Amanat ialah “sesuatu yang dipercayakan”. Termasuk didalamnya segala apa yang dipercayakan kepada seorang, baik harta maupun ilmu pengetahuan dan sebagainya. Seorang pelajar memikul amanat, maka wajib ia menjaga waktu dan memperthatikan pelajarannya dengan sebaik-baiknya.

2. Syekh H. abdul Halim Hasan Binjai. Tafsir Al-Ahkam. Jakarta; Kencana,

(5)

Dalam kitabnya yang terkenal “Ihya Ulumuddin,” Imam Ghazali dengan panjang lebar menerangkan bagaimana kewajiban guru dan murid, sebagai menunaikan amanah Allah ringkasnya amanat itu terbagi lima, yaitu3:

1. Amanat ilmu.

2. Amanat kehakiman-peradilan. 3. Amanat Tuhan kepada hamba-Nya 4. Amanat manusia sesama manusia. 5. Amanat manusia kepada dirinya sendiri.

Asbabun nuzul

Kedua ini diturunkan sehubungan dengan kasus Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah, penjaga Ka’bah yang mulia. Ayat ini diturunkan karena tatkala Rasulullah SAW. Mengambil kunci Ka’bah pada peristiwa penaklukan Mekkah, beliau mengembalikan kepada Ustman. Sebagai ahli ilmu menceritakan kepada ku bahwa Rasulullah berdiri dipintu ka’bah, lalu bersabda:” Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Esa dan tidak sekutu bagi-Nya; Maha benar janji-Nya. Dia Yang Esa menolong hambanya dan mengalahkan berbagai golongan. Ketahuilah, segala kehormatan, darah, atau kekayaan yang diadukan, maka ia berada dibawah kaki-Ku ini kecuali soal pemeliharaan Baitullah dan pemberian air minum kepada jamaah haji”.4

Tafsir Surat Al-Mukminun Ayat 1-8

























































3 Syekh H. abdul Halim Hasan Binjai, Tafsir Al-Ahkam.... hal 282.

(6)















































1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

4. dan orang-orang yang menunaikan zakat, 5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.

7. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.

8. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khatab, dia berkata:

(7)

Dalam tafsirnya, Imam Nasa’i meriwayatkan dari Yazid bin Babanus dia berkata:

“Kami bertanya kepada Aisyah Umul Mukminin, ‘ Bagaimanakah akhlak Rasulullah Saw?’ Beliau menjawab, ‘akhlak Beliau adalah Al-Quran.’ Kemudian Aisyah membaca ayat, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman... dan orang-orang yang memelihara shalat-shalatnya.’ Aisyah berkata, ‘Seperti dikemukakan ayat itulah akhlak Rasulullah Saw...’”

Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,” yakni beruntung karena meraih surga, sedang mereka memiliki sifat-sifat ini. “Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,” yakni kalbu mereka khusyu’, lalu memejamkan penglihatan mereka dan merendahkan diri, serta penglihatan mereka tidak melampaui tempat shalat. Khusyu’ dalam shalat tercapai oleh orang yang mengkonsentrasikan kalbunya terhadap shalat, mencurahkan seluruh perhatian kepada shalat dan meprioritaskan shalat dari perbuatan lainnya.

Firman Allah Ta’ala, “ Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perilaku yang tidak berguna,” yakni dari kebathilan yang meliputi syirik kemaksiatan, dan hal-hal yang tidak berfaedah yang menyangkut perkataan dan perbuatan. Firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang menunaikan zakat,”

yakni zakat mal sebelum di fardhu kan nisabnya. Ditafsirkan demikian, karena ayat ini merupakan ayat Makkiyah. Asal zakat diwajibkan di Mekkah. Allah berfirman dalam surat Al-An’aam, “Dan berikanlah hak nya pada saat memanen.” Zakat yang difardhukan di Madinah ialah yang sudah memiliki nisab dan kadar khusus. Adapula yang menafsirkan ayat diatas dengan penyucian diri dari kemusyrikan dan kotoran sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya berutunglah orang-orang yang menyucikan diri dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori diri.” Mukmin yang sempurna ialah orang yang mnyucikan dirinya dan hartanya.

(8)

balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas”. Yakni, orang-orang yang memelihara farjinya dari perbuatan haram seperti berzina atau sodomi, dan mereka hanya mendekati istri atau suaminya. Barang siapa yang menerima apa yang telah dihalalkan Allah kepadanya, maka tiada celaan atau dosa diatasnya. Barang siapa yang memilih selain istri atau suami dan budak sahaya dan mereka itu lah yang melampaui batas”.

Firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,”. Jika mereka diserahi amanat maka mereka tidak mengkhianatinya. Namun, menyampaikan kepada yang berhak menerimanya. Jika mereka berjanji atau berakad, maka mereka memenuhinya. Tidak seperti kaum munafik yang disifati oleh Rasulullah SAW. “Tanda orang munafik ada tiga apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diserahi amanat ia berkhianat. (HR Muslim).5

Asbabun Nuzul

Imam Hakim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Saw. Bila mana melakukan shalat selalu mengangkat pendangannya kelangit. maka turunlah ayat ini: “(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,”Maka sejak saat itulah Rasulullah menundukan kepalanya jika sedang mengerjakan shalat.6

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Sirin, hadits ini mursal. Bahwa apabila para shahabat shalat, mereka suka memandang ke langit. Maka turunlah ayat ini (Al-Mu’minuun: 2) sebagai petunjuk bagaimana seharusnya shalat.

5 Tafsir Surat Al-Mukminun ayat 1-8 diambil dari Muhammad Nasib

Ar-Rifal. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3. Jakarta: gema Insani Pers. 1999. Hal 405-409

6 Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, tafsir

(9)

C. KESIMPULAN

Berikut ini kesimpulan tafsir surat An-nisa ayat 58-59:

1. Hukumlah dengan adil, artinya menghukum dengan hukum Al-qur’an dan Hadist

2. Seorang hakim harus mengetahui hukum Allah dan Rasul 3. Kita senantiasa harus mentaati Allah, Rasul dan Ulil Amri

4. Semua dari kita mendapat amanah dari Allah dan kita menjaga harus menjalankan amanah Allah, sebagai mahasiswa Allah memberi amanah berupa ilmu yang harus aplikasikan dalam kehidupan.

Kesimpulan dari tafsir surat Al-Mukminun ayat 1-8, Allah akan memberi keberuntungan kepada:

1. Orang beriman akan beruntung dunia dan akhirat, karena orang berman menjaga diri sikap tercela dan sikap orang munafik

2. Orang yang hatinya khusyuk dalam shalat, hanya Allah saja didalam hatinya maka ia akan beruntung

3. Dan orang yang menjaga diri dari kemasiatan dan perbuatan dosa 4. Serta orang yang meberi zakat yang menyucikan dirinya dan hartanya 5. orang-orang yang memelihara farjinya dari perbuatan haram seperti

berzina atau sodomi, dan mereka hanya mendekati istri atau suaminya. Barang siapa yang menerima apa yang telah dihalalkan Allah kepadanya, maka tiada celaan atau dosa diatasnya. Barang siapa yang memilih selain istri atau suami dan budak sahaya dan mereka itu lah yang melampaui batas”.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

1. Muhammad Nasib Ar-Rifal, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 1. Jakarta; gema Insani Pers, 1999.

2. Syekh H. abdul Halim Hasan Binjai. Tafsir Al-Ahkam. Jakarta; Kencana, 2006

3. Tafsir Surat Al-Mukminun ayat 1-8 diambil dari Muhammad Nasib Ar-Rifal. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3. Jakarta: gema Insani Pers. 1999

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (11 Halaman)