• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional dan Bedah Buk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional dan Bedah Buk"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR BERBASIS KURIKULUM 2013

Oleh: Sukardi Sugiyanti

[email protected]

ABSTRAK

Pelaksanaan pendidikan karakter dalam pembelajaran di sekolah dasar berbasis kurikulum 2013, sudah selayaknya segera diwujudkan dengan sabaik-baiknya. Hal ini dimaksud agar keterpurukan karakter siswa dapat segera diatasi. Keterpurukan karakter siswa dapat diperhatikan pada kejujuran, tanggungjawab, semangat belajar, keingintahuan, kerjasama dan lain sebagainya. Untuk memperbaiki terterpurukan karakter tersebut dapat diselesaikan dengan ditenerapkan sintak Scientific yang merupakan amanat dari kurikulum 2013.

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, nomor 54 tahun 2013

tentang standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah. Dinyatakan

bahwa Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A memiliki sikap, pengetahuan, dan

keterampilan. Hal ini sesuai dengan misi yang dimuat dalam Garis-Garis Besar

Haluan Negara yaitu mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang

demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif,

berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan bertanggungjawab,

berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka

mengembangkan kualitas manusia Indonesia Terlihat dengan jelas GBHN

mengamanatkan arah kebijakan di bidang pendidikan yaitu: meningkatkan

kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan

tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal

terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat

mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan.

Sistem pendidikan nasional yang dimuat dalam UU 20 tahun 2003

dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional Pendidikan nasional berfungsi

(2)

bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung

jawab.

Berdasarkan hal tersebut diatas, secara formal upaya menyiapkan kondisi,

sarana/prasarana, kegiatan, pendidikan, dan kurikulum yang mengarah kepada

pembentukan watak dan budi pekerti generasi muda bangsa memiliki landasan

yuridis yang kuat. Namun, sinyal tersebut baru disadari ketika terjadi krisis akhlak

yang menerpa semua lapisan masyarakat. Tidak terkecuali juga pada anak-anak

usia sekolah. Untuk mencegah lebih parahnya krisis akhlak, kini upaya tersebut

mulai dirintis melalui pendidikan karakter bangsa. Dalam pemberian pendidikan

karakter bangsa di sekolah, para pakar berbeda pendapat. Setidaknya ada tiga

pendapat yang berkembang. Pertama, bahwa pendidikan karakter bangsa

diberikan berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran. Pendapat kedua,

pendidikan karakter bangsa diberikan secara terintegrasi dalam mata pelajaran

PKn, pendidikan agama, dan mata pelajaran lain yang relevan. Pendapat ketiga,

pendidikan karakter bangsa terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran.

Menyikapi hal tersebut diatas, penulis lebih memilih pada pendapat yang ketiga.

Untuk itu dalam makalah ini penulis mengambil judul “Pendidikan Karakter

dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar”

2. Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan yang terurai diatas maka penulis

membuat rumusan masalah sebagai berikut :

a. Apakah Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar”

b. dapat terintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran?Bagaimanakah cara

mengimplementasikan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di

c. Sekolah Dasar” terintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran?

Bagaimanakah proses pengembangan Pendidikan Karakter dalam

(3)

3. Ruang Lingkup Ruang lingkup pembahasan ditekankan pada upaya pendidik

mengembangkan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar

dengan mengkritisi implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di

Sekolah Dasar dalam keterpaduan pembelajaran. Pembahasan selengkapnya

mencakup rasionalisasi keterpaduan, bentuk-bentuk pembelajaran terpadu,

skenario penerapan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar.

B. PEMBAHASAN

Rasionalisasi Keterpaduan Pendidikan yang difokuskan pada

terbentuknya karakter siswa merupakan tanggungjawab semua guru. Oleh karena

itu, pembinaannya pun dilaksanakan oleh semua guru. Dengan demikian, kurang

tepat jika dikatakan bahwa mendidik para siswa agar memiliki karakter bangsa

hanya ditimpahkan pada guru mata pelajaran tertentu, contoh guru pendidikan

agama. Walaupun dapat dipahami bahwa porsi yang dominan untuk mengajarkan

pendidikan karakter adalah para guru yang relevan dengan pendidikan karakter.

Guru berupaya menjadikan dirinya sebagai sosok teladan yang berwibawa

bagi para siswanya. Sebab tidak akan memiliki makna apapun jika seorang guru

menyelesaikan suatu masalah yang bertentangan dengan kesepakatan yang telah

ditetapkan, sedangkan guru lain dengan cara yang bertentangaqn dengan

ketentuan yang telah disepakati.. Setiap guru yang mengajar hendaknya sesuai

dengan tujuan utuh pendidikan. Tujuan utuh pendidikan jauh lebih luas dari misi

pengajaran yang dikemas dalam Kompetensi Dasar (KD). Rumusan tujuan yang

berdasarkan pandangan behaviorisme dan menghafal saja sudah tidak dapat

dipertahankan lagi Guru sebaiknya dapat membuka diri dalam mengembangkan

pendekatan rumusan tujuan, sebab tidak semua kualitas manusia dapat dinyatakan

terukur berdasarkan hafalan tertentu.

Hasil belajar atau pengalaman belajar dari sebuah proses pembelajaran

dapat berdampak langsung dan tidak langsung. Menurut (Joni, 1996) mengatakan

Dampak langsung pengajaran dinamakan dampak instruksional (instrucional

effects) sedangkan dampak tidak langsung dari keterlibatan para siswa dalam

(4)

dampak pengiring (nurturant effects) contoh pembelajaran utuh yang disiapkan

seorang guru melalui RPP yang berkarakter.sebagai berikut.

CONTOH RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuanpendidikan: SEKOLAH DASAR Kelas / semester : 1 / 1

Tema / Sub Tema : Diri Sendiri/Aku dan Teman Baru Pembelajaran : 1/ RKH 1

Semester : 1 (Satu) Alokasiwaktu : 1 Hari

A. KOMPETENSI INTI

1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya

2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya diridalam berinteraks dengan keluarga, teman dan guru

3. Memahami pengetahuan factual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin ahu tentang dirinya, makhluk ciptaanTuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah

4. Menyajikan pengetahuan factual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

B. KOMPETENSI DASAR PPKn

4.2.. Melaksanakan tata tertib di rumah dan di sekolah

BAHASA INDONESIA

4.2Menyampaikan teks cerita diri/personal tentang keluarga secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN

4.3. Mempraktikkan pola dasar manipulatif yang dilandasi konsep gerak dalam berbagai bentuk permainan sederhana dan atau permainan tradisional

(5)

4.1 Menggambar ekspresi dengan mengolah garis, warna dan bentuk berdasarkan hasil pengamatan di lingkungan sekitar

C. INDIKATOR PPKn

1. Menjalankan contoh sikap perilaku patuh pada aturan/kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari – hari di sekolah (Menjalankan peraturan pada permainan di sekolah)

BAHASA INDONESIA

1. Memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap 2. Memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama panggilan 3. Menyebutkan nama temannya

PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN 1. Melakukan gerakan melempar

2. Melakukan gerakan menangkap

SENI BUDAYA, DAN PRAKARYA 1. Memberi hiasan pada kartu nama

D. TUJUAN

1. Dengan melakukan permainan lempar bola, siswa dapat memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama panggilan secara benar

2. Dengan melakukan permainan dan bernyanyi, siswa dapat menyebutkan nama lengkap secara benar

3. Melalui peragaan guru menghias kartu nama, siswa dapat menghias kartu nama dengan rapi.

E. MATERI PPKn

1. Menjalankan peraturan pada permainan di sekolah.

BAHASA INDONESIA

1. Memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap 2. Memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama panggilan 3. Menyebutkan nama temannya

PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN 1. Praktik gerakan melempar bola

2. Praktik gerakan menangkap bola

(6)

F. PENDEKATAN & METODE Pendekatan : Scientific

Metode : Observasi, Penugasan, Tanya Jawab, Diskusi Dan Ceramah

G. KEGIATAN PEMBELAJARAN (UNTUK PEER TEACHING)

Kegiatan DeskripsiKegiatan Alokasi

Waktu Pendahuluan 1. Mengajak siswa berdo’amenurut agama dan

keyakinan masing-masing (untuk mengawali kegiatan pembelajaran)

2. Mengajak semua siswa menyanyi

3. Dilanjutkan dengan bertanya jawab tentang syairlagu, dan menanyakan apakah siswa sudah berkenalan dengan teman sekelasnya

4. Meminta informasi dari siswa tentang pentingnya saling mengenal

5. Menginformasikan tema yang akan dibelajarkan yaitu tentang

“Aku dan Teman Baru”

5 menit

Inti 1. Meminta satu siswa untuk memperkenalkan diri kepada teman-temannya dan meminta siswa lainnya untuk menanyakan apa yang ingin diketahui dari siswa tersebut (mengamati, menyimak, mendengar)

Jawaban berkembang sesuai dengan hasil eksplorasi serta kemampuan siswa

20menit

2. Meminta siswa untuk menanyakan nama lengkap dan nama panggilan teman lainnya sehingga membentuk kelompok (menyimak, menanya, menalar)

3.Guru memulai permainan lempar bola dengan menjelaskan aturan mainnya yaitu kelompok yang berhasil menangkap bola harus memperkenalkan nama lengkap dan nama panggilan kepada teman-teman pada kelompok lainnya (mencoba)

4.Guru meminta salah satu anggota kelompok untuk memperkenalkan nama panggilan semua teman dalam satu kelompoknya

5.Guru melempar bola secara acak dan siswa yang berhasil menangkap bola diminta sebanyak mungkin menyebutkan nama panggilan teman-temannya

(7)

Kegiatan DeskripsiKegiatan Alokasi Waktu 7. Guru membagikartu nama pada setiap siswa

8. Siswa diminta untuk menghias kartu nama mereka

(menyimak, menanya, menalar)

Penilaian proses:

a. Guru mengamati cara siswa memperkenalkan diri

b. Mengamati kemampuan siswa dalam menjalankan peraturan dalam permainan lembar bola

c. Mengamati kemampuan siswa dalam melempar dan menangkap bola

d. Mengamati kemampuan siswa dalam menyebutkan nama panggilan teman sekelasnya

e. Menilai kemampuan siswa dalam

menghias kartu nama

f. Menilaidenganlembarpengamatanperilaku.

Penutup 1. Bersama-sama siswa membuat kesimpulan / rangkuman hasil belajar selama sehari dengan menanyakan pentingnya mengenal sesama teman

5menit

2. Melakukan penilaian hasil belajar

3. Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan meyakinkan masing-masing (untuk menutup kegiatan pembelajaran)

H. SUMBER DAN MEDIA

 Diri anak

 Lingkungan sekolah  Kartu nama

 Bola plastik

 BukuTematik Kelas I

I. PENILAIAN

1. Prosedur Penilaian

Penilaian Unjuk Kerja

Menggunakan format pengamatan dilakukan dalam kegiatan

(8)

2. Instrumen Penilaian PenilaianUnjuk Kerja

1)Penilaian Pengamatan 2)Penilaian Produk

Mengetahui Guru Kelas 1

KepalaSekolah,

(...) (………..)

Berdasarkan contoh di atas dapat disimak bahwa pada kompetensi inti

secara utuh dapat menggambarkan pengalaman belajar yang dapat menampilkan

pendidikan karakter siswa sekolah dasar. Perhatikan cuplikan kompetensi inti

berikut pada kata yang bergaris di bawahnya.

KOMPETENSI INTI

1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya

2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya

diri dalam berinteraks dengan keluarga, teman dan guru

3. Memahami pengetahuan factual dengan cara mengamati [mendengar,

melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,

makhluk ciptaanTuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya

di rumah, sekolah

4. Menyajikan pengetahuan factual dalam bahasa yang jelas dan logis dan

sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak

sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan

berakhlak mulia

Selanjutnya penilaian yang dilaksanakan dengan penilaian unjuk Kerja

(Penilaian Pengamatan, Penilaian Produk) dapat membentuk karakter seperti ketelitian, kejujuran, kenyakinan, keuletan terhadap semua yang dihadapi siswa

ketika melakasakan ujian.

Berdasarkan pada pemikiran-pemikiran dan prinsip-prinsip tersebut maka

(9)

dasar, keterpaduan dalam pembelajaran pada semua mata pelajaran. Pendidikan

karakter pada siswa sekolah dasar diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran,

dengan demikian efektifitas dalam proses pembelajaran dapat terpenuhi dan

menjadikan kegiatan belajar mengajar lebih kondusif.

1. Bentuk-Bentuk Pembelajaran Terpadu Yang Bekarakter

Menurut Cohen dalam Degeng (1989), terdapat tiga kemungkinan variasi

pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan

dalam suasana pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated

curriculum), hari terpadu (integrated day), dan pembelajaran terpadu (integrated

learning). Kurikulum terpadu adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi

mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan

yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau

boleh dikatakan tidak ada. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan siswa dari

sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai

kegiatan sesuai dengan minat mereka. Sementara itu, pembelajaran terpadu

menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur

yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik

pusatnya (center core/center of interst).

Lebih lanjut, model-model pembelajaran inovatif dan terpadu yang

mungkin dapat diadaptasi, seperti yang ditulis oleh Trianto, 2009, dalam bukunya

yang berjudul Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik adalah sebagai

berikut. (1) Fragmen tasi Dalam model ini, suatu disiplin yang berbeda dan

terpisah dikembangkan merupakan suatu kawasan dari suatu mata pelajaran (2)

KoneksiDalam model ini, dalam setiap topik ke topik, tema ke tema, atau konsep

ke konsep isi mata pelajaran dihubungkan secara tegas (3) Sarang Dalam model

ini, guru mentargetkan variasi keterampilan (sosial, berpikir, dan keterampilan

khusus) dari setiap mata pelajaran. (4) Rangkaian/Urutan

Dalam model ini, topik atau unit pembelajaran disusun dan diurutkan selaras

dengan yang lain. Ide yang sama diberikan dalam kegiatan yang sama sambil

(10)

perencanaan dan pembelajaran menyatu dalam dua disiplin yang

konsep/gagasannya muncul saling mengisi sebagai suatu sistem. (6) Jala-jala

Dalam model ini, tema/topik yang bercabang ditautkan ke dalam kurikulum.

Dengan menggunakan tema itu, pembelajaran mencari konsep/gagasan yang tepat.

(7) Untaian Simpul: Dalam model ini, pendekatan metakurikuler menjalin

keterampilan berpikir, sosial, intelegensi, teknik, dan keterampilan belajar melalui

variasi disiplin .(8)Integrasi Dalam model ini, pendekatan interdisipliner

memasangkan antar mata pelajaran untuk saling mengisi dalam topik dan konsep

dengan beberapa tim guru dalam model integrasi riil. (9) Peleburan Dalam model

ini, suatu disiplin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keahliannya, para

pebelajar menjaring semua isi melalui keahlian dan meramu ke dalam

pengalamannya. (10) Jaringan: Dalam model ini, pebelajar menjaring semua

pembelajaran melalui pandangan keahliannya dan membuat jaringan hubungan

internal mengarah ke jaringan eksternal dari keahliannya yang berkaitan dengan

lapangan

2. Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar Pendidikan karakter dalam pembelajaran di sekolah dasar terintegrasi

dengan semua mata pelajaran. Sasaran integrasinya adalah materi pelajaran,

prosedur penyampaian, serta pemaknaan pengalaman belajar para siswa.

Konsekuensi dari pembelajaran terpadu, maka modus belajar para siswa harus

bervariasi sesuai dengan karakter masing-masing siswa Variasi belajar itu dapat

berupa membaca bahan rujukan, melakukan pengamatan, melakukan percobaan,

mewawancarai nara sumber, dan sebagainya dengan cara kelompok maupun

individual.

Terselenggaranya variasi modus belajar para siswa perlu ditunjang oleh

variasi modus penyampaian pelajaran oleh para guru. Kebiasaan penyampaian

pelajaran secara eksklusif dan pendekatan ekspositorik hendaknya dikembangkan

kepada pendekatan yang lebih beragam seperti diskoveri dan inkuiri. Kegiatan

penyampaian informasi, pemantapan konsep, pengungkapan pengalaman para

siswa melalui monolog oleh guru perlu diganti dengan modus penyampaian yang

(11)

maupun secara emosional (dihayati kemanfaatannya) sehingga lebih responsif

terhadap upaya mewujudkan tujuan utuh pendidikan. Dengan bekal varisai modus

pembelajaran tersebut, maka skenario pembelajaran yang di dalamnya terkait

pendidikan karakter bangsa seperti contoh berikut ini dapat dilaksanakan lebih

bermakna.

Penempatan Pendidikan karakter bangsa diintegrasikan dengan semua

mata pelajaran tidak berarti tidak memiliki konsekuensi. Oleh karena itu, perlu

ada komitmen untuk disepakati dan disikapi dengan saksama sebagai kosekuensi

logisnya. Komitmen tersebut antara lain sebagai berikut. Pendidikan karakter

(sebagai bagian dari kurikulum) yang terintegrasikan dalam semua mata pelajaran,

dalam proses pengembangannya haruslah mencakupi tiga dimensi yaitu

kurikulum sebagai ide, kurikulum sebagai dokumen, dan kurikulum sebagai

proses (Hasan, 2000) terhadap semua mata pelajaran yang dimuati pendidikan

karakter bangsa. Lebih lanjut, Hasan (2000) mengurai bahwa pengembangan ide

berkenaan dengan folisifi kurikulum, model kurikulum, pendekatan dan teori

belajar, pendekatan atau model evaluasi. Pengembangan dokumen berkaitan

dengan keputusan tentang informasi dan jenis dokumen yang akan dihasilkan,

bentuk/format Silabus, dan komponen kurikulum yang harus dikembangkan.

Sementara itu, pengembangan proses berkenaan dengan pengembangan pada

tataran empirik seperti RPP, proses belajar di kelas, dan evaluasi yang sesuai.

Agar pengembangan proses ini merupakan kelanjutan dari pengembangan ide dan

dokumen haruslah didahului oleh sebuah proses sosialisasi oleh orang-orang yang

terlibat dalam kedua proses, atau paling tidak pada proses pengembangan

kurikulum.

Dalam pembelajaran terpadu agar pembelajaran efektif dan berjalan sesuai

harapan ada persyaratan yang harus dimiliki yaitu (a) kejelian profesional para

guru dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai kemungkinan arahan pengait

yang harus dikerjakan para siswa untuk menggiring terwujudnya kaitan-kaitan

koseptual intra atau antarmata bidang studi dan (b) penguasaan material terhadap

(12)

Pendidikan karakter sebagai pembelajaran yang terpadu dengan semua mata

pelajaran arahan pengait yang dimaksudkan dapat berupa pertanyaan yang harus

dijawab atau tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh para siswa yang mengarah

kepada perkembangan pendidikan karakter dan pengembangan kualitas

kemanusiaan.

C. PENUTUP 1. Simpulan

Berdasarkan landasan teori dan pembahasan yang terurai ditas maka dapat

disimpulkan sebagai berikut:

a. Cukup beralasan bila Pendidikan karakter dalam pembelajarannya

diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Alasan-alasan itu adalah karena

meningkatkan akhlak luhur para siswa adalah tanggung jawab semua guru,

semua guru harus menjadi teladan yang berwibawa, tujuan utuh pendidikan

adalah membentuk sosok siswa secara utuh, pencapaian pendidikan harus

mencakupi dampak instruksional dan dampak pengiring.

b. Implementasi pendidikan karakter terintegrasikan ke dalam semua mata

pelajaran, pengembangannya lebih memadai pada model kurikulum terpadu

dan pembelajaran terpadu dengan menentukan center core pada mata pelajaran

yang akan dibelajarkan.

c. Proses pengembangan Pendidikan karakter sebagai pembelajaran terpadu harus

diproses seperti kuriklum lainya yaitu sebagai ide, dokumen, dan proses;

kejelian profesional dan penguasaan materi; dukungan pendidikan luar sekolah;

arahan spontan dan penguatan segera; penilaian beragam; difusi, inovasi dan

sosialisasi adalah komitmen-komitmen yang harus diterima dan disikapi dalam

pencanangan pembelajaran terpadu Pendidikan karakter.

2. Saran

a. Keterpaduan pendidikan karakter adalah kegiatan pendidikan. Pendidikan

karakter diharapk menjadi kegiatan-kegiatan diskusi, simulasi, dan penampilan

berbagai kegiatan sekolah untuk itu guru diharapkan lebih aktif dalam

(13)

b. Lingkungan sekolah yang positif membantu membangun karakter. Untuk itu

benahi lingkungan sekolah agar menjadi lingkungan yang positif.

c. Guru harus disiplin lebih dulu siswa pasti akan mengikuti disiplin.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun Materi. 2013. Bahan Ajar Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) dalam Jabatan. Semarang. Panitia Sertifikasi Guru Rayon 112 UNNES.

Rachman, Maman. 2000. Reposisi, Reevaluasi, dan Redefinisi Pendidikan Nilai Bagi Generasi Muda Bangsa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun Ke-7.

Degeng, S Nyoman,1989,Taksonomi Variabel , Jakarta, Depdikbud.

Depdiknas, 2003, Undang-undang No. 20 tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, http://www.depdiknas.go.id.

Hasan, S. Hamid. 2000. Pendekatan Multikultural untuk Penyempurnaan Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Joni, T. Raka. 1996. Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Dirjen Dikti Bagian Proyek PPGSD.

Mulyana, 2003, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurhadi, Burhan Yasin, Agus Genad Senduk, 2004, Pendekatan Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Malang,Universitas negeri Malang.

Trianto, 2009, Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Jakarta, Prestasi Pustaka Publisher.

Referensi

Dokumen terkait

Pokja Pada Dinas Pekerjaan Um um Kabupat en Sint ang Unit Layanan Pengadaan ( ULP ) Pem erint ah Kabupat en Sint ang akan m elaksanakan Pelelangan ulang dengan M et ode

Mengemukakan kajian kepustakaan yang mana di dalamnya menguraikan tentang segala hal yang berkaitan dengan tinjauan tentang supervisi pendidikan kepala sekolah baik dari

kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat • Menggunakan

(4) Dalam hal mekanisme pengisian keanggotaan Badan Permusyawaratan Desa ditetapkan melalui proses musyawarah perwakilan, calon anggota Badan Permusyawaratan Desa

[r]

hidayah, dan karunia- Nya sehingga skripsi yang berjudul “ Upaya Meningkatkan Kemandirian dan Prestasi Belajar Siswa Melalui Permainan Monopoli Dengan Menggunakan

Metode kontrak selesai digunakan perusahaan dalam pengakuan pendapatan, karena kontrak yang dimiliki perusahaan dengan klien adalah kontrak jangka pendek serta

Penilaian atau evaluasi merupakan langkah evaluasi dari proses keperawatan atau kemajuan klien kearah pencapaian tujuan ( potter & perry, 2005).Evaluasi yang yang