BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
1. Permasalahan
Manusia adalah makhluk yang istimewa di bumi ini yang berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia diciptakan dengan memiliki akal-budi, kehendak moral, dan perasaan (hati), yang mampu berpikir dan dapat membedakan sesuatu yang baik dan yang tidak.
Manusia sebagai makhluk bermoral/berbudi yaitu bahwa manusia yang normal pada intinya dapat mengambil keputusan dan mampu membedakan hal-hal yang baik dan buruk.Manusia juga mampu membedakan hal-hal yang benar dan yang salah untuk kemudian mengarahkan hidupnya ke tujuan. Tujuan yang berarti sesuai dengan pilihan dan keputusan hati nurani dalam mempertimbangkan baik atau buruk dan benar atau salah. Manusia untuk mempertimbangkan hal itu dilengkapi dengan akal-pikiran dan perasaan untuk mempertahankan kehidupannya.
Kehidupan manusia menjadi sentral di bumi, karena cara pandang dan tindakannya sangat berpengaruh bagi kelestarian lingkungan. Cara pandang yang
baik akan membawa dampak yang positf bagi lingkungan, sedangkan cara pandang yang buruk akan berdampak negatif yang dapat merusak lingkungan.
Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia.Lingkungan hidup harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti atau dirusak.Alam memiliki nilai terhadap dirinya sendiri.Integritas ini menyebabkan setiap perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya.Perilaku positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari dan perilaku negatif dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak.Integritas ini pula yang menyebabkan manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dengan kehidupan di sekitarnya.Kerusakan alam diakibatkan dari sudut pandang manusia yang antroposentris, memandang bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta.Alam dipandang sebagai objek yang dapat dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan manusia.
Lingkungan hidup, secara yuridis formal, pengertian lingkungan hidup sebagaimana ditegaskan dalam ketentuan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Masalah lingkungan hidup merupakan masalah global yang semakin disadari sebagai masalah yang kompleks dan serius yang dihadapi oleh umat manusia di dunia.Jumlah penduduk yang semakin padat, terbatasnya sumber daya alam, dan penggunaan teknologi modern untuk mengeksploitasi alam secara semena-mena, membawa kepada semakin menurunnya kualitas lingkungan hidup. Erosi, pengurasan sumber-sumber daya alam, lapisan ozon yang rusak, pengotoran dan perusakan lingkungan, menghasilkan ketidakseimbangan ekosistem, yang pada gilirannya akan sangat membahayakan kelangsungan hidup umat manusia.
Keraf (2010: 1-2) mengatakan bahwa tidak dapat disangkal bahwa berbagai kasus lingkungan yang terjadi sekarang ini, baik pada lingkup global maupun lingkup nasional, sebagian besar bersumber dari perilaku manusia.Kasus-kasus pencemaran dan kerusakan, seperti di laut, hutan, atmosfer, air, tanah, dan seterusnya bersumber pada perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli dan hanya mementingkan diri sendiri.Manusia adalah penyebab utama dari kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.
Sumber daya alam dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya dengan melakukan berbagai kegiatan.Manusia dalam mengambil sumber daya alam tidak memperhitungkan untung ruginya, sehingga merusak alam untuk memenuhi kebutuhannya. Perbuatan manusia inilah yang dapat
mengubah permukaan bumi dan cepat atau lambat maka sumber daya alam akan habis karena dimanfaatkan oleh manusia secara berlebihan.
Persoalan lingkungan hidup adalah persoalan moral.Penyelesaian masalah lingkungan hidup tidak dapat hanya didekati secara teknis parsial.Persoalan lingkungan hidup harus didekati secara lebih komprehensif-holistik, termasuk secara moral.
Naess dalam Keraf (2010: 2) mengatakan, bahwa krisis lingkungan dewasa ini hanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam dengan melakukan perubahan yang fundamental dan radikal. Naess menjelaskan lebih lanjut, dibutuhkan sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang, tetapi juga budaya masyarakat secara keseluruhan. Etika lingkungan, artinya dibutuhkan manusia untuk berinteraksi dengan alam semesta.
Keraf (2010: 2-3) menjelaskan bahwa krisis lingkungan global yang dialami dewasa ini sebenarnya bersumber pada kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya sendiri, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Kekeliruan cara pandang ini melahirkan perilaku yang keliru terhadap alam. Manusia keliru memandang alam dan keliru menempatkan diri dalam konteks alam semesta seluruhnya.Inilah awal dari semua bencana lingkungan hidup yang di alami sekarang. Pembenahannya harus pula menyangkut pembenahan cara pandang dan perilaku manusia dalam
berinteraksi baik dengan alam maupun dengan mansuia lain dalam keseluruhan ekosistem.
Kesalahan cara pandang manusia bersumber dari paham Antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat alam semesta, dan hanya manusialah yang memiliki nilai, sedangkan alam beserta isinya hanya sebagai alat untuk kepentingan dan kebutuhan hidup manusia. Pandangan yang seperti ini akan melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif tanpa rasa kepedulian terhadap alam beserta isinya dianggap tidak memiliki nilai pada diri sendiri.
Hutan mangrove merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat
diberdayakan.Pemberdayaan hutan mangrove haruslah secara bijak dan pengelolaan secara baik serta, tidak memanfaatkan secara berlebihan.
Hutan mangrove sebagai suatu kawasan memiliki nilai potensial yang lebih, tidak lengkap jika hanya didekati dari salah satu aspek ilmu pengetahuan saja.Hutan mangrove mempunyai sifat multidisiplin, karena hampir semua cabang ilmu pengetahuan dapat diaplikasikan.Program pengelolahan hutan mangrove dibutuhkan kerjasama yang bersifat proaktif di antara sektor-sektor yang terkait, dengan melibatkan semua disiplin ilmu yang ada.Bagian rencana tersebut adalah pemberian peran-serta dan pemberdayaan masyarakat setempat, sehingga diperoleh kesatuan gerak yang bersifat holistik.Pengelolaan sumber daya alamnya haruslah berwawasan lingkungan.
Luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 1999 mencapai 8,60 juta hektar dan yang telah mengalami kerusakan sekitar 5,30 juta hektar. Kerusakan tersebut antara lain disebabkan oleh konversi mangrove menjadi kawasan pertambakan, pemukiman, dan industri. Mangrove berfungsi sangat strategis dalam menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan organisme akuatik. Keseimbangan ekosistem lingkungan perairan pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan mangrove dipertahankan karena mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter, agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, kepiting pemakan detritus, dan bivalvia pemakan plankton sehingga akan memperkuat fungsi mangrove sebagai biofilter alami (Mulyadi, dkk, tt: 52).
Kawasan ekosistem mangrove di Kecamatan Belakang Padang menjadi aset potensial bagi perkembangan wilayah ini.Pengelolaan kawasan ini juga tidak terlepas dari permasalahan, salah satu permasalahan yang ada ialah lingkungan, di antaranya banyak hutan mangrove yang lebat terbengkalai, belum diolah di sepanjang pesisir laut. Kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan, yang menjadikan mangrove sebagai tempat berkumpulnya sampah-sampah. Mangrove banyak ditebang oleh ,masyarakat untuk dijadikan sebagai kayu bakar, fondasi rumah, dan dijadikan lahan perumahan, sehingga menyebabkan hutan mangrove rusak.
Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang sangat penting bagi lingkungan terutama di daerah pesisir, karena mangrove mempunyai fungsi sebagai pelindung daerah pesisir dari gelombang laut yang menyebabkan abrasi dan terpaan angin yang kencang agar tidak merusak rumah yang berada di pinggir pantai.Kesadaran masyarakat harus dibangun tentang kepedulian terhadap hutan mangrove, yaitu dengan menjaga kelestarian mangrove karena mangrove sangat penting bagi daerah pesisir seperti Kecamatan Belakang Padang.
Fungsi dan kedudukan manusia di kawasan mangrove menjadi lebih penting karena manusia mempunyai kemampuan untuk melestarikan atau malah merusak lingkungan di hutan mangrove tersebut.Etika lingkungan penting dalam pengelolaan hutan mangrove diperlukan manusia untuk menentukan baik dan buruknya tindakan manusia menjaga kelestarian hutan mangrove di Kecamatan Belakang Padang.
Etika lingkungan deep ecology mempunyai peran yang sangat sentral untuk mengubah cara pandang dan pemahaman manusia dalam memahami dan melestarikan lingkungan hidup yang terdapat di dalam hutan mangrove Kecamatan Belakang Padang.
Deep ecology salah satu versi teori Ekosentrisme yang diperkenalkan oleh seorang filsuf Norwegia tahun 1973 yaitu Arne Naess.Keraf (2002: 93) deep ecology menuntut suatu etika baru yang tidak berpusat pada manusia, tetapi
berpusat pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup.
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pandangan etika lingkungan deep ecology Arne Naess?
b. Apa yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove di Kecamatan Belakang
Padang?
c. Apa analisis deep ecology terhadap kerusakan hutan mangrove di Kecamatan Belakang Padang?
3. Keaslian Penelitian
Penelitian mengenai Pengelolaan Kawasan Hutan Mangrove di Kecamatan
Belakang Padang Kota Batam dalam Perspektif Etika Lingkungan Deep Ecology
Arne Naess sejauh penelusuran yang penulis lakukan belum pernah ada. Penelitian yang mirip dengan objek material yaitu diantaranya sebagai berikut:
a. Irmadi Nahib, 2009. Analisis Ekonomi Ketertarikan Perubahan
HutanMangrove dan Udang di Kecamatan Belakang Padang Kota Batam. Jurnal ilmiah. Penelitian ini menganalisis tentang hubungan dinamik keterkaitan hutan mangrove dan udang dampak dari perubahan luas hutan mangrove.
b. Melisa Yohana Sitorus. 2014. Perencanaa Pembangunan Hutan Mangrove
dengan Pendekatan Ekowisata di Pulau Penawar Rindu Kecamatan Belakang Padang Kota Batam. Skripsi Fakultas Ilmu Budaya UGM. Skripsiinimengkaji
hutan mangrove di Kecamatan Belakang Padang dengan sudut pandang ekowisata.
Skripsi ini membahas mengenai pengelolaan kawasan hutan mangrove di Kecamatan Belakang Padang Kota Batam dalam kajian etika lingkungan deep ecology.Sejauh pengamatan peneliti belum pernah ada penelitian mengenai pengelolaan kawasan hutan mangrove di Kecamatan Belakang Padang yang kaji dengan etika lingkungan deep ecology dan penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keasliannya.
4. Manfaat Penelitian
a. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat menambah
inventarisasi penganalisaan terhadap kasus lingkungan, khususnya pengelolaan kawasan hutan mangrove
b. Bagi filsafat, penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan
mengenai permasalahan lingkungan ditinjau dari pemikiran yang menyeluruh dibidang etika lingkungan
c. Bagi masyarakat dan bangsa Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat
memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai permasalahan hutan mangrove, sehingga masyarakat menyadari pentingnya menjaga hutan mangrove untuk kelangsungan hidup
B. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menjelaskan pandangan etika lingkungan deep ecology Arne Naess
2. Menjelaskan persolan yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove di
Kecamatan Belakang Padang
3. Menganalisis pandangan deep ecology Arne Naess terhadap kerusakan hutan
mangrove di Kecamatan Belakang Padang
C. Tinjauan Pustaka
Hutan Mangrove adalah komunitas pantai tropis, dan merupakan komunitas
yang hidup di dalam kawasan yang lembab dan berlumpur serta dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove disebut juga sebagai hutan pantai, hutan payau atau hutan bakau.Pengertian mangrove sebagai hutan pantai adalah pohon-pohonan yang tumbuh di daerah pantai (pesisir), baik daerah yang dipengaruhi pasang surut air laut maupun wilayah daratan pantai yang dipengaruhi oleh ekosistem pesisir (Harahad, 2010: 27).
Mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut didaerah pasang surut.Hutan mangrove adalah tipe hutan yang secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, tergenang pada saat pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah.Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas lingkungan biotik
dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove.“Mangrove” adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut. Vegetasi hutan mangrove di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi hutan mangrove ditempat lainnya karena perbedaan faktor lingkungannya (Martiningsih, dkk, 2015: 30).
Muis dalam Ilyas (Ilyas, dkk, tt: 92) mengakatan bahwa, hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang mempunyai fungsi ekologis, biologis dan sosial ekonomi. Secara ekonomi, hutan mangrove dimanfaatkan kayunya untuk bahan bangunan, arang, dan bahan baku kertas.
Fungsi hutan mangrove adalah sebagai peredam hempasan gelombang, sistem perakarannya dapat berperan sebagai pemecah gelombang sehingga pemukiman yang ada di belakangnya dapat terhindar dari tekanan gelombang dan badai, kondisi tersebut terjadi apabila hutan mangrove masih terjaga dengan baik. Suryawan dalam Hidayatullah dan Pujiono (2014: 152) mengatakan bahwa kerapatan hutan mangroveyang semakin menurun akan berdampak pada semakin menurunnya
kemampuan mangrove untuk menjalankan fungsinya. Lebih lanjut Wibowo dan
Handayani dalam Hidayatullah dan Pujiono menambahkan, bahwa semakin meningkatnya aktivitas pembangunan pada kawasan mangrove memberi dampak negatif pada keberadaan ekosistem mangrove, sehingga fungsi dan manfaat dari ekosistem mangrove menjadi tidak maksimal.
Hutan mangrove merupakan sumber daya alam yang sangat potensial bagi perkembangan daerah apabila mampu mengolah secara baik.Saptarini dalam Hilmiati dan Kagungan menejlaskan bahwa dengan potensi yang cukup potensial, maka perlu untuk melakukan pengelolaan hutan mangrove. Pengelolaan di sini adalah suatu usaha yang di dalamnya meliputi beberapa aspek seperti kebijakan, perencanaan dan pelaksanaan yang setiap fungsi saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Tujuan utama pengelolaan sumber daya kelautan dan wilayah pesisir termasuk hutan mangrove adalah merencanakan cara-cara kerja dimana manusia dapat hidup secara serasi, selaras dan seimbang dengan lingkungan alam laut dan pesisir (Hilmiati dan Kagungan, 2011: 359).
Upaya pemulihan hutan mangrove sangat diperlukan mengingat peran dan nilai
kawasan mangrove dari aspek ekologi, ekonomi dan jasa lingkungan. Pengelolaan
dan pelestarian mangrove yang terdegradasi dapat dengan cara merehabilitasi. Potensi ekologi yang mendukung nilai ekonomi hutan mangrove diantaranya adalah fauna laut yang menjadi sumber ekonomi masyarakat pantai.Jasa lingkungan yang diperoleh adalah nilai stok karbon pada tegakan, penghasil nutrisi bagi perairan pantai dan, habitat untuk pelestarian satwa liar.Peran dan keterlibatan masyarakat dalam restorasi ekosistem mangrove sangat penting. Daya tumbuh mangrove yang rendah, selain akibat gangguan hama dan manusia juga dari gangguan fisik perairan pantai. Guna mengatasi hal tersebut diperlukan keikutsertaan masyarakat dalam rehabilitasi yang dirancang dalam model silvofishery.Upaya peningkatan pengelolaan,
pemanfaatan dan konservasi ekosistem perlu mempertimbangkan kemungkinan pembentukan pewilayahan pengelolaan mangrove yang dapat dikelola oleh sektor-sektor dengan tujuan utama peningkatan nilai ekonomi sesuai bidang tugas dan tanggungjawabnya. Strategi pemulihan ekosistem mangrove selain upaya rehabilitasi dan restorasi ekosistem hutan mangrove perlu didukung peraturan pemerintah khusus tentang pengelolaan hutan mangrove yang memberikan tanggungjawab pengelolaan dan konservasi mangrove di wilayah pengelolaan masing-masing sector (Bismark, tanta tahun: 95).
Kecamatan Belakang Padang merupakan salah satu wilayah di Kota Batam yang mempunyai potensi mangrove yang cukup signifikan.Jenis mangrove yang ditemukan di darah studi adalah bakau (rhizopora spp) san nipah (nypahfruticans). Lebih lanjut masyarkat di sekitar wilayah pesisir Pulau Belakang Padang, telah mulai memanfaatkan komunitas mangrove untuk pengambilan kayu bakar, dengan menebang kayu secara tebang pilih, namun ada juga sebagian areal mangrove yang diubah menjadi pemukiman (Nahib, 2009: 45).
Perencanaan pengembangan hutan mangrove sebagai ekowisata menjadi salah satu alternatif wisata di Pulau Penawar Rindu Kecamatan Belakang Padang Kota Batam.Wisata yang dikembangkan merupakan ekowisata (Wisata Ekologis) yang mencerminkan wawasan lingkungan, dan mengikuti kaidah keseimbangan dan kelestarian yang bertujuan mengintegrasikan tujuan konservasi alam dengan tujuan
mengalami kerusakan tingkat sedang, sehingga diperlukan upaya rehabilitasi hutan mangrove sebagai langkah awal penataan ruang untuk kegitan ekowisata yang berkelanjutan.Konsep wisata yang dikembangkan merupakan wisata pendidikan, sehingga selain memberikan hiburan, kawasan juga berguna untuk memberikan informasi, pengetahuan dan pengalaman kepada para pengunjung agar lebih memperhatikan sumber daya alam, flora, fauna, dan pariwisata yang ada di Pulau Penawar Rindu Kecamatan Belakang Padang (Sitorus, 2014: 76).
D. Landasan Teori
Etika lingkungan dipandang (oleh kebanyakan filsuf moral berpandangan Antroposentrisme) sebagai suatu disiplin filsafat yang berbicara mengenai hubungan moral antara manusia dengan lingkungan atau alam semesta, dan tata perilaku manusia yang seharusnya terhadap lingkungan hidup. Etika lingkungan hidup dipahami sebagai disiplin ilmu yang berbicara mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur manusia dalam hubungan dengan alam serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam (Keraf, 2010: 40).
Etika lingkungan memiliki teori-teori. Teori-teori tersebut antara lain: Antroposentrisme, Biosentrisme, Ekosentrisme, Hak Asasi Alam, dan Ekofenimisme.
Ekosentrisme menekankan hubungan seluruh makhluk ciptaan di dalam relitas ekosistem, karena satu sama lain saling terkait. Kewajiban dan tanggung jawab moral
bukan hanya memiliki komunitas makhluk hidup melainkan juga milik seluruh realitas ekosistem (Keraf, 2010: 92-93).
Eksofeminisme seperti halnya Biosentrisme dan Ekosentrisme, adalah teori etika lingkungan yang menganut pandangan yang integral, holistik, dan intersubjektif yang memandang kehidupan menusia dan masyarakat sebagai bagian integral dari-dan berada dalam satu kesatuan dengan alam semesta seluruhnya (Keraf, 2010: 156).
Salah satu dari teori Ekosentrisme yang terkenal adalah deep ecology (ekologi dalam).Deep ecology pertama kali dikenal sebagai istilah untuk permasalahan lingkungan oleh Arne Naess, seorang filsuf asal Norwegia, pada tahun 1973 (Keraf, 2010: 75). Naess memperkenalkan istilah deep ecology pada tulisannya yang berjudul “The Shallow and the Deep, Long-range Ecology Movement”, Naess membedakan antara Shallow Ecology (ekologi dangkal) dan Deep Ecology (ekologi dalam), seperti berikut:
“The emergence of ecologist from their former relative obscurity marks a turning point in our scientific communities. But their messege is twisted and misused. A shallow, but presently rather powerful, movement, and a deep, but less influential, movement, complete for our attention. I shall make an effort to sharacteristic the two: The Shallow ecology movement and The deep ecology movement” (Naess, 1989: 27).
(Kemunculan pemahaman ekologi dari para pendahulu relatif tidak dikenal secara jelas yang ditandai sebuah point penting pada komunitas ilmiah.Tetapi pesan dari (para pendahulu) adalah membingungkan dan disalah gunakan.Dangkal, namun di masa kini lebih kuat, sebuah gerakan, dan dalam, namun kurang berpengaruh, sebuah gerakan, menyeluruh untuk perhatian. (Naess) akan membuat sebuah upaya untuk mengkhaskannya menjadi dua: Ekologi dangkal dan Ekologi dalam).
Naess merumuskan dasar gerakan/aksi deep ecology yang dinamakannya Platform aksi.Naess merumuskan Platfrom aksi menjadi delapan butir (Keraf, 2010: 102-103).
Naess dalam perkembangannya juga merumuskan 5 prinsip dasar dari gerakan deep ecology (Keraf, 2010: 91-95), antara lain:
1. Prinsip Kesamaan status organisme (Biospheric egalitarianism-in principle) 2. Prinsip Non-Antroposentrisme
3. Prinsip Realisasi diri (Self-realization)
4. Pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman dan kompleksitas
ekologis dalam suatu hubungan simbiosis 5. Perubahan politik menuju Ecopolitics
E. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pengambilan data yang dilakukan melalui studi pustaka dan didukung dengan observasi lapangan serta wawancara. Wawancara dan observasi lapangan dimaksudkan untuk mengumpulkan data melalui wawancara dengan dinas terkait dan pengamatan langsung lapangan. Penelitian ini menggunakan model penelitian tentang masalah aktual.
1. Bahan Penelitian
a. Sumber Primer
1) Harahab, Nuddin, 2010, Penilaian Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove
& Aplikasinya dalam Perencanaan Wilayah Pesisir, GRAHAILMU, Yogyakarta
2) M. Ghufran H. Kordi K., 2012, Ekosistem Mangrove: Potensi, Fungsi,
danPengelolaan, Renika Cipta, Jakarta
3) Badan Pusat Statistik. 2015, Kecamatan Belakang Padang dalam Angka
2015
b. Sumber Sekunder
Penelitian ini juga memanfaatkan sumber data sekunder lainnya sebagai tambahan dan pendukung. Bahan data sekunder terdiri dari buku:
1) Borrong, Robert P., 2000, Etika Bumi Baru: Akses Etika dalam
Pengelolaan Lingkungan Hidup, BPK Gunung Mulia, Jakarta
2) Soemarwoto, Otto, 2004, Ekologi, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan,
Djambatan, Jakarta
3) Keraf, Sonny, 2010, Etika Lingkungan, Kompas, Jakarta
Jurnal penelitian, wawancara, dan website internet yang sehubungan dengan penelitian ini.
2. Jalannya Penelitian
1) Pengumpulan data; mengumpulkan sumber pustaka sebanyak mungkin yang berkaitan dengan objek formal dan objek materi.
2) Pengolahan data; mengolah semua data yang terkumpul meliputi
klasifikasi dan deskripsi sesuai dengan apa yang dibahas di dalam penelitian.
3) Penyususnan penelitian; yaitu melakukan penyususan data yang meliputi analisis data yang kemudian dituangkan ke dalam laporan penelitian yang dalam bentuk skrpisi.
3. Analisis Hasil
Penelitian ini menggunakan hermeneutika filosofis dengan menggunakan unsur-unsur metodis merujuk pada buku Metode Penelitian Filsafat (Bakker dan Zubair, 1993: 107-113), antara lain:
a. Verstehen; pada tahap pengumpulan data, data yang dikumpulkan dipahami berdasarkan karakteristik masing-masing. Kemudian peneliti berusaha agar dapat mengerti dan memahani persoalan hutan mangrove di Kecamatan Belakang Padang.
b. Interpretasi; usaha mengungkapkan konsepsi filosofis dari data tentang
c. Hermeneutika; usaha menangkap makna esensial sesuai dengan konteksnya, dilakukan dengan penafsiran terhadap pengelolaan kawasan mangrove, sehingga esensi makna dapat ditangkap dan dipahami sesuai dengan konteks waktu sekarang.
d. Deskripsi; uraian dan gambaran menyeluruh mengenai data yang terkait
dengan objek formal dan objek materi.
e. Induksi; usaha untuk mengumpulkan data dan mengindetifikasi mengenai
pengelolaan kawasan hutan mangrove.
f. Holistika; usaha memahami konsep deep ecology yang tersirat dalam
pengelolaan kawasan hutan mangrove.
g. Heuristik; penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan pemahaman baru mengenai permasalahan yang telah dianalisis sebagai upaya menunjukkan jalan baru.
F. Hasil yang Dicapai
Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memperoleh pemahaman mengenai persoalan kerusakan kawasan hutan
mangrove di Kecamatan Belakang Padang
2. Memperoleh pandangan konsep etika lingkungan deep ecology Arne Naess
3. Memberikan wawasan baru yang dapat digunakan sebagai cara pengelolaan kawasan hutan mangrove dengan menggunakan etika lingkungan deep ecology Arne Naess
G. Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan: latar belakang masalah, permasalahan, rumusan masalah, keaslian penelitian, manfaat penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil yang dicapai, sistematika penulisan. Bab II bertakitan dengan objek formal: pengertian etika, pengertian lingkungan, ekologi, dan ekosistem, pengertian etika lingkungan, pemikiran deep ecology Arne Naess.
Bab III berkaitan dengan objek material: kondisi wilayah dan kehidupan masyarakat, lingkungan fisik dan biofisik kawasan hutan mangrove, fungsi hutan mangrove, faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan hutanmangrove. Bab IV analisis deep ecology terhadap kerusakan kawasan hutan mangrove di Kecamatan Belakang Padang.