• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abstract. Abstrak. Katakunci: analisa microgenetic; error correction; perkembangan kognitif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Abstract. Abstrak. Katakunci: analisa microgenetic; error correction; perkembangan kognitif"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

Dampak

error correction

Terhadap Perkembangan Kognitif Siswa

Dalam Proses Penguasaan Bahasa Inggris

Fitrina Harmaini

Staff Pengajar Universitas Bung Hatta Padang, Indonesia

[email protected]

Abstract

English acquisition is a process taking place in a communicative interaction. Within such interaction, errors are happening in learners’ utterances as a part of their cognitive delepoment. This study aims to find out the kinds of error correction which scaffold students’ cognitive development. Socio-cultural approach is implemented in this study. The observation focuses to interactions that contain error correction either by students or lecturer. Data is collected at Speaking 3 class of English Teaching and Education Department University of Bung Hatta. The data is analysed by using microgenetic analysis. The result shows us that some kinds of error correction, i.e.; clarification, repetition, and metalinguistic feedback scaffold the students’ cognitive development in the process of English acquisition.

Keywords: cognitive development; error correction; microgenetic analysis

Abstrak

Penguasaan bahasa Inggris adalah suatu proses yang terjadi dalam interaksi berbahasa Inggris. Dalam interaksi tersebut sering terjadi error yang dilakukan siswa sebagai proses perkembangan kognitif dalam penguasaan bahasa Inggris. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe-tipe error correction dalam interaksi kelas pembelajaran Speaking 3 yang dapat membantu perkembangan kognitif siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan sociocultural. Fokus pengamatan adalah interaksi yang terjadi ketika adanya tindakan error correction oleh peserta pembelajaran baik dosen maupun teman sejawat. Data diambil dari kelas Speaking 3 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Bung Hatta. Data kemudian dianalisa menggunakan metode microgenetic. Analisa hasil penelitian menjelaskan bahwa tipe-tipe error correction; klarifikasi, pengulangan, dan umpan balik metalinguistik mampu mengembangkan kognitif siswa dalam penguasaan bahasa Inggris.

(2)

2 1. PENDAHULUAN

Dalam aktifitas speaking di kelas pembelajaran bahasa Inggris, siswa-siswa sering mengalami kesulitan dan membuat kesalahan dalam membangun kalimat. Ketika hal itu terjadi, dosen atau teman sejawat dituntut untuk mampu mengkoreksi kesalahan (error correction) tersebut karena error correction adalah “variabel penting dalam pembelajaran” (van Lier, 1991, 29). Interaksi yang terjadi ketika guru atau teman sejawat mengkoreksi kesalahan (error correction) adalah salah satu bentuk interaksi sosial yang diyakini dapat membantu meningkatkan kemampuan kognitif siswa dalam proses penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as Foreign Language / EFL). Namun, error correction yang dilakukan oleh guru atau teman sejawat terhadap tata bahasa tidaklah selalu efektif, kadang bahkan dapat menghambat kelancaran tuturan siswa ketika menyampaikan pendapat sehingga dikhawatirkan berdampak negatif terhadap psikologi siswa ketika melakukan percakapan dalam bahasa asing. Karena itu perlu diketahui beberapa bentuk error correction untuk mengetahui bentuk mana yang efektif membantu meningkatkan kemampuan kognitif siswa dalam penguasaan bahasa asing.

Berikut ini adalah tipe-tipe error correction yang digunakan dan terjadi dalam beberapa penelitian (Ellis, 2008, 227):

Strategi koreksi Penjelasan Tipe

Klarifikasi Ungkapan yang berusaha mendorong

objek untuk mengklarifikasi

ungkapannya

Tersirat

Konfirmasi Ungkapan yang lansung mengulang

ungkapan objek dengan tujuan

mengkonfirmasi apakah objek

mengerti dengan ungkapan yang telah dibuat

Tersirat

Pengulangan Ungkapan yang mengulang kesalahan

ungkapan objek dengan memberi penekanan pada bagian yang salah

(3)

3 Umpan balik

metalinguistik

Ungkapan yang memberikan

komentar, informasi, atau pertanyaan yang berhubungan dengan kebenaran ungkapan objek

Lansung (ekplisit)

Koreksi ekplisit Ungkapan yang lansung mengkoreksi

error objek dan menunjukkan error

apa yang telah dibuat objek

Lansung

Dampak error correction terhadap perkembangan kognitif siswa dalam kelas pembelajaran Speaking 3 penting untuk diteliti agar diketahui bentuk-bentuk error correction yang efektif dalam pembelajaran Speaking. Dengan diketahuinya dampak-dampak tersebut, dapat memberi acuan bagi para pengajar pembelajaran Speaking dalam melakukan error correction yang berdampak positif terhadap perkembangan kognitif. Sehingga pada akhirnya penerapan hasil penelitian ini diharapkan membuat interaksi sosial dalam pembelajaran menjadi lebih efektif membantu proses penguasaan keahlian

Speaking siswa.

Oleh karena itu, penelitian ini merumuskan dua permasalahan untuk dijawab, yaitu:

1. Bentuk error correction apa yang dapat menyebabkan berkembangnya kognitif siswa?

2. Bagaimana error correction tersebut menyebabkan terjadinya perkembangan kognitif siswa?

2. METODE PENELITIAN Metode mikrogenetik

Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiokultural karena bertujuan untuk menjelaskan bentuk-bentuk error correction yang terjadi antar peserta pembelajaran selama interaksi komunikatif dalam kelas matakuliah Speaking 3. Peneliti bertindak sekaligus sebagai dosen pegampu dikelas tersebut. Kelas Speaking 3 dipilih agar mendapatkan data yang natural, dan peneliti tidak merekayasa interaksi kelas untuk

(4)

4 tujuan penelitian ini (Nunan, 1992, 102). Interaksi kelas diinvestigasi dengan metode mikrogenetik karena fokus penelitian ini adalah perkembangan mikrogenetik partisipan penelitian selama interaksi sosial di dalam kelas. Domain metode mikrogenetik adalah 'bagaimana perkembangan terjadi selama serangkaian interaksi dalam situasi

sociocultural tertentu' (Ellis, 2008, 521). Interpretasinya adalah bahwa metode mikrogenetik fokus pada interaksi dalam konteks situasi tertentu selama proses pembelajaran dimana terjadi proses perkembangan kognitif siswa.

Data diambil dari kelas A mata kuliah Speaking 3 selama 6 sesi pertemuan dengan durasi 2,5 jam per sesi. Tujuan dari mata kuliah Speaking 3 adalah untuk memfasilitasi siswa-siswa mencapai kefasihan dan keakuratan berbahasa inggris lisan tentang topik-topik terkini. Pola interaksi kebanyakan berbentuk percakapan berpasangan antara siswa (Ss) dan presentasi individu (S) di depan kelas.

Interaksi kelas selama 6 sesi tersebut direkam menggunakan audio recorder.

Untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk error correction yang dilakukan, 6 rangkaian interaksi komunikatif yang mengindikasikan adanya error correction di ambil untuk di analisa, sebelumnya rangkaian interaksi tersebut telah di transkripsikan dengan mengadopsi sistem transkripsi yang digunakan Butler (2008, 34). Dalam transkripsi tersebut dosen disebut L, dan siswa-siswa yang terlibat dalam interaksi yang ditranskripsikan disebut E, K, L, S, dan T. Ss artinya beberapa siswa. Dalam suatu penelitian deskriptif, transkripsi penting dilakukan untuk menunjukkan bentuk-bentuk

error correction yang terjadi dan menjelaskan bagaimana proses error correction

tersebut berdampak terhadap kognitif siswa (Cohen, Manion, & Morrison, 2007)

Untuk menjawab dua pertanyaan dalam perumusan masalah diatas, data dianalisa dan diinterpretasi dengan menggunakan metode analisa mikrogenetik dan tahap-tahap perkembangan kognitif oleh Aljafreeh & Lantolf (1994). Kenapa menggunakan metode mikrogenetik? Karena dengan metode ini, setiap detik-detik proses pembentukan ide di zone internal otak manusia sampai pada kondisi telah terjadinya tuturan dapat dianalisa (Vygotsky, 1978, 61, and Wertsch, 1985, 55).

(5)

5 Level transisi kognitif

Aljafreeh & Lantolf (1994) mengklasifikasikan tingkat transisi mental siswa dalam zona perkembangan kognitif (ZPD):

1. Siswa tidak mampu mengidentifikasi error bahkan dengan adanya intervensi guru (object-regulation).

2. Kemudian, guru memperbaiki atau memperjelas intervensi sehingga siswa mampu mengidentifikasi error tapi belum mampu mengkoreksinya ( other-regulation).

3. Siswa mampu menginterpretasi dan merespon intervensi guru sehingga mereka mampu mengkoreksi error dengan adanya intervensi tersebut (other-regulation). 4. Siswa mampu mengkoreksi error dengan intervensi guru yang makin berkurang

tapi masih butuh konfirmasi (partial stage of self-regulation).

5. Siswa mampu membangun ekspresi L2 dengan pola yang benar secara konsisten pada tugas-tugas berikutnya karena zona kognitif (Zone of Proximal Development) telah terbentuk dalam fungsi kognitif siswa (fully self-regulation).

3. Hasil dan Pembahasan

Bentuk-bentuk error correction yang teridentifikasi selama interaksi kelas dijelaskan melalui beberapa sekuel transkripsi rekaman. Namun dalam artikel ini hanya diambil tiga sekuel karena keterbatasan halaman yang disediakan dalam penulisan artikel:

a. Klarifikasi, pengulangan, dan umpan balik meta-linguistik

Dalam sekuel 1 dibawah ini teridentifikasi adanya bentuk error correction yang dilakukan dosen (L) dan seorang siswa (K) terhadap seorang siswa lainnya (T) atas kesalahan grammar yang dilakukannya. L (no.2) melakukan error correction bentuk ‘klarifikasi’. Karena T (no.3) masih mengulangi kalimat yang sama maka L (no.4) melakukan error correction ‘pengulangan’ dengan maksud membantu siswa melakukan perbaikan atas kesalahan yang dialukannya- self-repair (Lyster, 1998, 190). Error

(6)

6

correction selanjutnya yang dilakukan dosen berupa ‘umpan balik metalinguistik’ terhadap jawaban K (no.5) yaitu; 'Do is now, but last year....' (no. 6). Sekuel 1 ini menunjukkan bahwa K membutuhkan beberapa petunjuk tentang kesalahan tata bahasa yang dilakukannya:

Sekuel 1

1. T : why you go to Bali?

2. L : right, Okey. Say it again the question?

3. T : why you go to Bali?

4. L : why you go?...(while writing it on the whiteboard) 5. K : why do (try to help)

6. L : why do ? Do is now, but last year... ?

Why?...

7. K : did

8. L : did you go ! Why did you go, good question ! Why did you go ?...

(thinking the answer) I went because I wanted to see Bali, hahahha (laughing)

9. Ss : hahaha (laughing)

10.L : Okey! I went because I wanted to see Bali, all right A ? 11.T : Did (in a low volume), hehehhe

Analisa sekuel diatas adalah; kesalahan bentuk kalimat tanya yang dibuat T (no.1) menunjukkan bahwa T masih dalam tingkatan mental other-regulation dan membutuhkan bimbingan yang lebih ahli. Lalu, L (no.2) meminta T mengulangi tuturannya untuk mengklarifikasi bangunan kalimatnya (error correction- klarifikasi). Namun, zona kognitif T (no.3) tidak mampu memahami hal itu sebagai bentuk error correction

sehingga T gagal meresponnya dengan benar. Selanjutnya L (no.4) terus berusaha melakukan error correction bentuk ‘pengulangan’ dengan mengulangi dan menulis tuturan T di papan tulis. Tingkat ZPD siswa K (no.5) mampu menginterpretasikan error correction tersebut dan berusaha membantu T namun masih ada sedikit kesalahan tense

kalimat, artinya K juga masih berada pada level mental other-regulation. Karena siswa-siswa masih tetap melakukan kesalahan, L melakukan error correction bentuk ‘umpan

(7)

7 balik meta-linguistik’ (no.6): 'why do ?! Do is now,'. Artinya, dosen menunjukkan bagian yang salah dalam tuturan K. Dan kata-kata 'but last year...' mendorong siswa untuk mengingat kalimat pola masa lampau untuk membuat kalimat yang benar. Bentuk error correction ini berhasil membantu K mengembangkan ZPD nya dengan menjawab ‘did’ (no.7) dan T juga mengalami perkembangan ZPD (no.11).

Sampai pada tahapan diatas disebut K dan T telah mampu mengembangkan ZPD

mereka. Konsep ZPD dalam pembelajaran bahasa asing menurut Ohta (1995, 96) adalah perbedaan antara tingkat kognitif bahasa asing siswa dengan potensi perkembangan kognitif ketika bahasa digunakan dalam interaksi sosial dengan penutur yang lebih ahli. Dan, ZPD terbentuk ketika siswa mampu memahami mediasi ekstenal untuk membangun tuturan bahasa asing dalam perkembangan kognitif potensialnya (Ellis, 2008, 533). Dalam konteks diatas mediasi eksternal adalah error correction yang diberikan dosen,

Tujuan utama kelas speaking adalah memberikan kesempatan proses penguasaan bahasa Inggris kepada siswa lewat interaksi lisan. Error correction yang dilakukan dosen diatas, telah memberikan kesempatan belajar grammar secara tidak lansung. Dosen memberikan pemahaman pola kalimat dalam interaksi komunikatif bukan secara lansung lewat teori.

b. Pengulangan

Sekuel 2

1. S : ooo ?? ...how long ….. how long you travil? 2. L : ahaah ?! How long...

3. T : did you

4. L&T : did you travel !

T yang telah berhasil mencapai level transisi kognitif tertinggi dalam sekuel 1 diatas menunjukkan perkembangan kognitif yang konsisten dalam sekuel 2 diatas. L (no.2) melakukan koreksi kesalahan bentuk ‘pengulangan’ atas kesalahan tata bahasa S (no.1). Namun S belum mampu meningkatkan tingkat kognitifnya. T (no.3 & 4) mengaktifasi proses level kognitif tertingginya, other-regulation, tentang pola kalimat

(8)

8

past tense sehingga mampu memberikan jawaban yang benar untuk melengkapi kalimat yang dibuat oleh S.

c. Umpan balik meta-linguistik

Sekuel 3

1. L : Did you notice 'Lion' and 'Lioness' ?... Ya ?! Lion is a man, Lioness is the woman, 'e' double 's', Ya ?!

2. Ss : hmmmmmm ??

3. L : Do you think any other words ? 4. Ss : …... (silent)

5. L : Do you think any other words to make the female with 'e' double 's' ?

6. E : Readiness

7. K : Hehehe...noooo....

8. L : Actor ?

9. T : Ya

10.L : Actress, isn't it, Ya ?! So, 'e' double 's' means woman or female. Think any more ?

11.K : Waiter

12.L : Waiter … and waitress, Ya ?! 13.K & E : Ya

14.L : Very good ! waiter and waitress ! Yap !!!

Dalam sekuel diatas, dosen (L) menjelaskan aturan perbedaan gender dalam suatu kata (no.1). Kemudian L (no.3 & 5) meminta siswa membuat contoh lain, namun ZPD

siswa belum berkembang sehingga tidak mampu membuat contoh (no. 2, 4 & 6). Akhirnya ZPD K berkembang (no.7) yang mampu mengatakan salah atas jawaban E (no.6). Bentuk error correction ‘umpan balik meta-linguistik’ dilakukan guru pada no.8. Jawaban siswa T (no. 9) mengindikasikan adanya perkembangan kognitifnya. Lalu L (no.10) kembali melakukan ‘umpan-balik meta-linguistik’ karena siswa masih membutuhkan bimbingan untuk memahami pemakaian ‘es’. Akhirnya K (no.11) mampu mengembangkan ZPD nya pada level tertinggi- self regulation.

(9)

9

4. Kesimpulan

Berdasarkan data observasi di kelas Speaking 3, ditemukan 3 bentuk error correction dilakukan dosen terhadap kesalahan linguistik siswa. Kognitif siswa berhasil berkembang setelah menerima beberapa kali koreksi kesalahan - error correction. Ketika satu error correction belum berhasil membuat kognitif siswa meningkat, dosen terus memberikan error correction tipe lain sampai siswa dapat mencapai level perkembangan kognitif tertinggi yaitu other-regulation. Ketika kognitif siswa mencapai level tertinggi artinya siswa memiliki potensi penguasaan bahasa Inggris; memahami grammar dan menguasai kosakata, dan mampu menggunakannya dalam interaksi komunikatif. Tiga tipe error correction yangberhasil membantu siswa kelas Speaking 3 meningkatkan level kognitifnya adalah; klarifikasi, pengulangan, dan umpan balik meta-liunguistik. Error correction berdampak terhadap perkembangan kognitif siswa ketika dosen menggunakan bentuk errorcorrection yang tepat dan diberikan dalam suatu interaksi komunikatif.

DAFTAR PUSTAKA

Aljaafreh, A., & Lantolf, J.P. 1994. 'Negative Feedback as regulation and second language learning in the zone of proximal developmen' The Modern Language Journal.

<online> 78, 465-487. Available from http://www.jstor.ezproxy.lib.le.ac.uk

Butler, C. 2008. A window of learning opportunity: peer interaction in the classroom. MA. Dissertation, University of Leicester

Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. 2007. Research Methods in Education. 6th edition. London: Routledge

Ellis, R. 2008. The Study of Second Language Acquisition. 2nd ed. Oxford: Oxford University Press

Lyster, R. 1998. 'Negotiation of form, recast, and explicit correction in relation to error types and learner repair in immersion classrooms' Language Learning <online> 48:2, 183-218. Available from http://www.jstor.org.ezproxy.lib.le.ac.uk

Nunan, D. 1992. Research Methods in Language Learning. Cambridge: Cambridge University Press

Ohta, A. 1995. 'Applying sociocultural theory to an analysis of learner discourse: Learner-learner collaborative interaction in the zone of proximal development' Issues in

(10)

10

Applied Linguistics. <online> 6(2): 93-121. Available from http://www.jstor.exproxy.lib.le.ac.uk

Van Lier, L. 1991. 'Inside the classroom: learning processes and teaching procedures'

Applied Language Learning. 2: 29-69.

Vygotsky, L.S. 1978. Mind In Society. England: Harvard University Press

Wertsch, J.V. 1985. Vygotsky and the Social Formation of Mind. England: Harvard University Press

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Bupati Nomor 44 Tahun 2018 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Fungsi dan Tata Kerja Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset

Kadar air yang optimal berkisar antar 21 - 27 % yang mana kondisi tersebut atau di bawah itu benih bisa berkecambah dengan baik hal ini sesuai dengan kutipan di

mereka bukan sahaja mengalami diskriminasi di tangan kerajaan penjajah British, tetapi juga mendapati sukar untuk bersaing dengan orang Cina yang telah menetap,

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang mebangun sangat penulis harapkan dari semua

Bencana alam yang terjadi selalu menyisakan kepedihan yang mendalam. Baik berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir, gunung meletus, ataupun tsunami. Bencana menyebabkan korban

1) Sebagian masyarakat memandang bahwa perjudian adalah budaya masyarakat yang lazim, dan bukan merupakan pelanggaran hukum. Kalau kebijakan hukum tidak ada, hanya saja

best of each other a good father-daughter relationship can be established. Fortunately that is what happens to Dr. Manette and his daughter Lucie Manette. Both of

Tujuan Kegiatan Pengiriman Peserta Pembekalan Pensiun Luar Daerah bagi PNS Pemerintah Kota Salatiga adalah mempersiapkan mental dalam menghadapi masa purnabakti, meningkatkan