• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ISTIQ HIDAYAH LAELANI PPKn'16

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II ISTIQ HIDAYAH LAELANI PPKn'16"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hasil Belajar

Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,

sikap-sikap, apresiasi dan kertampilan . Merujuk pemikiran Gegne (Suprijono,

2015:5), hasil belajar berupa:

1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam

bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.

2. Ketrampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan

lambang.

3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas

kognitifnya sendiri.

4. Ketrampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak

jasmani dalam urusan dam koordinasi, sehingga terwujud otomatisme

gerak jasmani.

5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan

penilaian terhadap objek tersebut.

Menurut Bloom (Suprijono, 2015:5) hasil belajar mencakup

(2)

knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan,

meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan,

menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan,

membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah

receiving (sikap menerima), responding (memebrikan respons), valuing

(nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain

psikomotor mencakup ketrampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial,

dan intelektual. Taksonomi Bloom (Arifin, 2009:23), kemampuan peserta

didik dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu tingkat tinggi dan tingkat

rendah. Kemampuan tingkat rendah terdiri atas pengetahuan, pemahaman dan

aplikasi, sedangkan kemampuan tingkat tinggi meliputi analisis, sintetis,

evaluasi dan kreativitas.

Menurut Sudjana (2010:39) Hasil belajar yang dicapai siswa

dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan

faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang

datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor

kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang

dicapai. Hasil belajar siswa 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30%

dipengaruhi oleh lingkungan. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki

siswa, juga ada faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap

dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

Adanya pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar,

(3)

diniati dan disadarinya. Siswa harus merasakan, adanya suatu kebutuhan

untuk belajar dan berprestasi dan mengarahkan segala daya dan upaya untuk

dapat mencapainya.

Hasil yang dapat diraih oleh siswa juga bergantung dari lingkungan,

artinya ada faktor-faktor yang berada diluar dirinya yang dapat menentukan

atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Salah satu lingkungan belajar

yang paling dominan mempengaruhin hasil belajar di sekolah, ialah kualitas

pengajaran. Kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya

proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran. Hasil belajar pada

hakekatnya tersirat dalam tujuan pengajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa

di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pegajaran. Kedua

faktor tersebut (kemampuan siswa dan kualitas pengajaran) mempunyai

hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa, artinya makin tinggi

kemampuan siswa dan kualitas pengajaran, makin tinggi pula hasil belajar

siswa.

Berdasarkan teori diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah

perubahan yang terjadi pada individu atau siswa setelah melakukan proses

pembelajaran, bukan pengetahuan saja tatapi juga perilaku secara keseluruhan

(4)

B. Pendidikan Kewarganegaraan

1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan usaha untuk

membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemapuan dasar

berkenaan dengan hubungan antar warga negara dengan negara serta

pendidikan pendahuluan bela negara menjadi warga negara yang dapat

diandalkan oleh bangsa dan negara. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal

37 dijelaskan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib

memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa,

matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan

budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan, dan

muatan lokal, sedangkan kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat

pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa.

Pendidikan Kewarganegaraan menurut Zamroni (Taniredja, 2013 : 2)

adalah ” pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan warga

masyarakat berpikir kritis dan bertindak demokratis, melalui aktifitas

menanamkan kesadaran kepada generasi baru bahwa demokrasi adalah

bentuk kehidupan masyarakat yang paling menjamin hak-hak warga

masyarakat. Selain itu pendidikan kewarganegaraan adalah suatu proses

yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dimana seseorang mempelajari

orientasi, sikap dan perilaku politik sehingga yang bersangkutan memiliki

(5)

participation, serta kemampuan mengambil keputusan politik secara

rasional dan menguntungkan bagi dirinya juga bagi masyarakat dan bangsa.

Pendidikan Kewarganegaraan menurut Azra (Taniredja, 2009 : 2)

adalah pendidikan yang cakupannya lebih luas dari pada Pendidikan

Demokrasi dan Pendidikan HAM. Karena, Pendidikan Kewarganegaraan

mencakup kajian dan pembahasan tentang pemerintahan, konstitusi dan

lembaga-lembaga demokrasi, rule of law, hak dan kewajiban warga negara,

proses demokrasi, pertisipasi aktif fan keterlibatan warga negara dalam

masyarakat madani, pengetahuan tentang lembaga-lembaga dan sistem yang

terdapat dalam pemerintahan, warisan politik, administrasi publik dan sistem

hukum, pengetahuan tentang proses seperti kewarganegaraan aktif, refleksi

kritis, penyelidikan dan kerjasama, keadilan sosial, pengertian antar budaya

dan kelestarian lingkungan hidup dan hak asasi manusia.

Berdasarkan teori diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan

kewarganegaraan adalah pendidikan yang tidak hanya mempelajari tentang

negara dan warga negara saja tetapi memiliki cakupan yang luas seperti

mempelajari tentang politik, hak asasi manusia, demokrasi, dan juga

mengatur hubungan antar warga negara dengan negara untuk menjadikan

warga negara yang baik.

2. Konsep Pendidikan Kewarganegaraan

Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional Pasal 3 yang mencantumkan tujuan pendidikan

(6)

menusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mendiri, dan menjadi warga

negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Pendidikan

kewarganegaraan (Civic Education) merupakan salah satu bidang kajuan

yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa

Indonesia melalui koridor “value-based education” dengan kerangka

sistemik sebagai berikut:

a. Secara kurikuler bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar

menjadi warga negara Indonesia yang berakhlak mulia, cerdas,

partisipatif, dan bertanggung jawab.

b. Secara teoritik memuat dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan

psikomotorik (Civic Knowledge, Civic Disposition, dan Civic Skill) yang

bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks

substansi ide, nilai, konsep, dan moral pancasila, kewarganegaraan yang

demokratis, dan bela negara.

c. Secara programatik menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai

(content embedding values) dan pengalaman belajar (learning

experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diiwujudkan

dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga

negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

sebagai penjabaran lebih lanjut dari ide, nilai, konsep, dan moral

Pancasila, kewarganegaraan yang demokratis, dan bela negara

(7)

Menurut Winataputra (Komalasari, 2013:265) Pendidikan

Kewarganegaraan dalam paradigma baru mengusung tujuan utama

mengembangkan ”civic competences” yakni civic knowledge (pengetahuan

dan wawasan kewarganegaraan), civic disposition (nilai, komitmen, dan

sikap kewarganegaraan), dan civic skills (perangkat ketrampilan intelektual,

sosial, dan personal kewarganegaraan) yang seyogianya dikuasai oleh setiap

individu warga negara. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.22 tahun

2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah

dijelaskan bahwa tujuan pembelajaran PKn adalah agar siswa memiliki

kemampuan sebagai berikut:

a. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu

kewarganegaraan.

b. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan bertindak

secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, bernegara.

c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri

berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat indonesia agar dapat

hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.

d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara

langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi

dan komunikasi.

3. Maksud dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan

Menurut Ditjen Dikti Depdiknas RI Pasal 3 No 267/DIKTI/2000

(8)

Pengembangan Kepribadian (MKPK) pendidikan kewarganegaraan pada

perguruan tinggi di Indonesia bahwa PKn dirancang dengan maksud untuk

memberikan pengertian kepada mahasiswa tentang pengetahuan dan

kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan

negara serta pendidikan pendahuluan bela negara sebagai bekal agar menjadi

warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan Pasal 4 Kepustusan Ditjen Dikti

Depdiknas RI Pasal 3 no 267/DIKTI/2000 tentang penyempurnaan Garis

Besar Proses Pembelajaran Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian

(MKPK) menyebutkan bahwa PKn di perguruan tinggi bertujuan untuk:

1. Dapat memahami dan mampu melaksanakan hak dan kewajiban secara

santun, jujur, dan demokratis serta ikhlas sebagai warga negara terdidik

dalam kehidupannya selaku warga negara Republik Indonesia yang

bertanggung jawab.

2. Menguasai pengetahuan dan pemahaman tentang beragam masalah dasar

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang hendak diatasi

dengan penerapan pemikiran yang berlandaskan Pancasila, wawasan

Nusantara dan ketahanan nasional secara kritis dan bertanggung jawab.

3. Mempupuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan

dan patriotisme yang cinta tanah air, rela berkorban bagi nusa dan

(9)

C. Hak Asasi Manusia

1. Pengertian Hak Asasi Manusia

Hak asasi manusia adalah hak sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa

yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrat, universal dan abadi, berkait

dengan harkat dan martabat manusia ( Tap. MPRRI No. XVII/MPR/1998

tentang HAM). HAM menurut UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi

Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan

manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan

anugerahNya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh

negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta

perlindungan harkat dan martabat manusia. Menurut Budiardjo ( Taniredja,

2013:93) memberikan pengertian bahwa hak asasi manusia merupakan hak

yang dimiliki manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersaman

dengan kelahiran atau kehadirannya di dalam kehidupan masyarakat.

Lopa ( Taniredja, 2009:122) mengartikan HAM cukup singkat yaitu

hak-hak yang melekat pada manusia, yang tanpa dengannya manusia

mustahil dapat hidup sebagai manusia. Sedangkan Ubaidillah

mendefinisikan HAM adalah hak-hak dasar atau hak pokok manusia yang

dibawa sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa bukan

pemberian manusia atau penguasa. HAM juga berarti sebagai hak dasar

(asasi) yang dimiliki dan melekat pada manusia, karena kedudukannya

sebagai manusia, tanpa adanya hak tersebut manusia akan kehilangan harkat

(10)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa HAM adalah hak

pokok atau hak dasar yang dimiliki setiap manusia yang merupakan

pemberian dari Tuhan yang Maha Esa sejak manusia itu lahir. Hak asasi

manusia yang termaktub dalam Undang-undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945 terdapat pada Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J,

yang meliputi: (1) hak untuk hidup serta mempertahankan kehidupan, (2)

hak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan

yang sah, (3) hak kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta hak

perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi bagi anak, (4) hak

mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, mendapatkan

pendidikan dan memperoleh manfaat lmu pengetahuan dan teknologi, seni

dan budaya, (5) hak memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya

secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya, (6)

hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil

serta perlakuan yang sama di hadapan hukum dan sebagainya.

2. Sejarah Hak Asasi Manusia

a. Naskah-naskah tentang hak asasi manusia pada abad ke-17 dan ke-18

Hak-hak yang dirumuskan pada abad ke-17 dan ke-18 menurut

Budiardjo (1982:121) dalam buku (Taniredja, 2013:95) sangat

dipengaruhi oleh gagasan mengenai hukum alam (nartural law), seperti

yang dirumuskan oleh John Locke dan Jean Jaques Rousseau dan hanya

terbatas pada hak-hak yang bersifat politis saja seperti kesamaan hak, hak

(11)

manusia tidak lepas dari sejarah perjuangan manusia untuk

memperjuangkan hak asasi mereka yang dianggap suci dan harus ada

jaminan. Dalam hal lahirnya hak-hak asasi manusia ini lahirlah beberapa

naskah yang mendasari kehidupan manusia. Secara berturut-turut naskah

yang dimaksud adalah:

1) Magna Charta (Piagam Agung, 1215), yang merupakan dokumen

yang mencatat beberapa hak yang diberikan oleh Raja John dari

Inggris kepada beberapa bangsawan dan atas tuntutan mereka.

Dengan lahirnya naskah ini sekaligus membatasi kekuasaan Raja

John.

2) Bill of Right ( Undang-undang Hak, 1689), merupakan

undang-undang yang diterima oleh parlemen Inggris sesudah berhasil dalam

tahun sebelumnya mengadakan perlawanan terhadap Raja James II,

dalam suatu revolusi tak berdarah ( The Glorio us Revolution of

1688).

3) Declaration des drolts de I’home et du citoyen (pernyataan hak-hak

manusia dan warga negara, 1789), merupakan suatu naskah yang

dicetuskan pada permulaan Revolusi Prancis, sebagai perlawanan

terhadap kesewenangan dari rezim lama.

4) Bill of Right ( Undang-undang Hak), yaitu suatu naskah yang disusun

oleh rakyat Amerika pada 1789, dan yang menjadi bagian dari

(12)

b. Lahirnya The Four Freedoms ( Empat Kebebasan) abad ke-20

Pada saat terjadinya Perang Dunia II. Nazi – Jerman telah

menginjak-injak hak asasi manusia. Melihat kenyataan ini Presiden Amerika Serikat

Franklin D. Roosevelt menganggap bahwa hak asasi manusia yang lahir

pada abad ke-17 dan ke-18 yang hanya mengatur tentang hak politik saja

tidaklah cukup, perlu juga dirumuskan hak-hak lain yang lebih luas. Maka

lahirlah the four freedoms (empat kebebasan), yang meliputi:

1). Kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of

speach);

2). Kebebasan beragama (freedom of religion);

3). Kebebasan dari rasa ketakutan (freedom for fear);

4). Kebebasan dari kemelaratan (freedom for want) (Taniredja, 2013:96).

3. Lembaga perlindungan HAM

Lembaga Perlindungan HAM di Indonesia, meliputi:

a. Kementerian hukum dan Hak asasi manusia (Kemenkumham) RI , dalam

kementrian hukum dan HAM terdapat direktorat Jenderal Peraturan

Perlindungan HAM yang mempunyai tugas merumuskan dan

melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis dibidang perlindungan

HAM.

b. Komisi Nasional Hak asasi Manusia (Komnas HAM), Komnas HAM pada

awalnya dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993

untuk melaksanakan fungsi pengkajian dan penelitian, penyuluhan,

(13)

c. Pengadilan Hak Asasi Manusia , pengadilan HAM merupakan pengadilan

khusus yang berada dilingkungan peradilan umum yang menangani kasus

pelanggaran HAM yang bersifat berat. Pengadilan HAM ini ditetapkan

dengan UU nomor 26 tahun 2000.

d. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan , komisi ini

dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 181 Tahun 1998 untuk

menangani kasus pelanggaran HAM terhadap perempuan.

e. Komisi Nasional Perlindungan Anak, komisi ini dibentuk pada tanggal 26

Oktober 1998 sebagai organisasi independen dibidang pemenuhan dan

perlindungan hak anak di Indonesia.

f. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, Komisi ini dibentuk berdasarkan UU

Nomor 27 tahun 2004 yang tugasnya memberikan alternatif penyelesaian

pelanggaran HAM berat diluar pengadilan HAM dan sebagai mediasi

antara pelaku dengan korban pelanggaran HAM berat. ( Priyanto 2008:

79-85).

D. Model Pembelajaran Scramble

1. Pengertian Pembelajaran Scramble

Metode scramble adalah salah satu permainan bahasa,yang pada

hakikatnya permainan bahasa merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh

keterampilan tertentu dengan cara menggembirakan. Scramble merupakan

metode mengajar dengan membagikan lembar soal dengan lembar

(14)

cara penyelesaian dari soal yang ada. Scramble dipakai untuk jenis

permainan anak-anak yang merupakan latihan pengembangan dan

peningkatan wawasan pemikiran kosakata. Sesuai dengan sifat jawabannya

scramble terdiri atas bermacam-macam bentuk yakni:

a. Scramble kata, yakni sebuah permainan menyusun kata-kata dan

huruf-huruf yang telah dikacaukan letaknya sehingga membentuk suatu kata

tertentu yang bermakna misalnya alpjera = pelajar, kubu = buku.

b. Scramble kalimat , yakni sebuah permainan menyusun kalimat kata-kata

acak . bentuk kalimat hendaknya logis, bermakna,tepat,dan benar.

c. Scramble wacana, yakni sebuah permainan menyusun wacana logis

berdasarkan kalimat- kalimat acak. Hasil susunan wacana hendaknya

logis ,bermakna.

Melalui pembelajaran kooperatif metode scramble , siswa dapat

dilatih berkreasi menyusun kata,kalimat atau wacana yang acak susunannya

dengan susunan yang bermakna dan mungkin lebih baik dari susunan

aslinya. Pembelajaran kooperatif metode scramble adalah sebuah metode

yang menggunakan penekanan latihan soal berupa permainan yang

dikerjakan secara berkelompok. Dalam metode pembelajaran ini perlu

adanya kerja sama antar anggota kelompok untuk saling membantu teman

sekelompok dapat berpikir kritis sehingga dapat lebih mudah dalam

mencari penyelesaian soal. Metode pembelajaran ini diharapkan dapat

memacu minat siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran scramble

(15)

tidak dituliskan di dalam kotak- kotak jawaban, tetapi sudah dituliskan

namun dengan susunan yang acak, peserta didik yang nanti bertugas

mengkoreksi (membolak-balik huruf) jawaban tersebut sehingga menjadi

jawaban yang tepat/benar. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan

bahwa metode scramble merupakan metode yang berbentuk permainan

acak kata , kalimat atau paragraf.

2. Kelebihan dan Kekurangan Scramble

Metode pembelajaran scramble adalah sebuah metode pembelajaran

yang berbentuk permainan acak kata, kalimat, atau paragraf. Sama seperti

metode pembelajaran yang lain, metode pembelajaran scramble juga

memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihan yang dimiliki model

pembelajaran scramble :

a. Dalam model pembelajaran scramble , tidak ada siswa atau anggota

kelompok yang pasif atau hanya diam, hal ini dikarenakan setiap

anggota kelompok memiliki tanggung jawab untuk keberhasilan

kelompoknya. Setiap anggota kelompok diharuskan untuk mengetahui

segala hal yang dikerjakan didalam ke kelompoknya, mengetahui

bahwa semua anggota memiliki tujuan yang sama, membagi tugas dan

juga tanggung jawab yang sama diantara anggotanya, semua anggota

akan dikenai evaluasi, setiap anggota juga harus siap menjadi

pemimpin dan dapat berbagi dalam belajar bersama-sama. Selain itu

setiap anggota juga akan dimintai pertanggungjawabanya secara

(16)

b. Model pembelajaran scramble membuat siswa lebih kreatif dalam

belajar dan berpikir, mempelajari materi secara lebih santai dan tanpa

tekanan karena model pembelajaran scramble memungkinkan para

siswa untuk belajar sambil bermain.

c. Model pembelajaran scramble dapat menumbuhkan rasa solidaritas

diantara anggota kelompoknya.

d. Materi yang diberikan menjadi mengesankan dan selalu diingat siswa.

e. Model pembelajaran scramble juga mendorong siswa lebih kompetitif

dan semangat untuk lebih maju.

Model pembelajaran scramble memiliki kelemahan atau kekurangan

sebagai berikut: :

a. Model pembelajaran ini sulit dalam hal perencanaanya karena belum

terbiasa dengan kebiasaan siswa dalam belajar.

b. Memerlukan waktu yang panjang dalam pengimplementasiannya,

sehingga guru susah menyesuaikan waktu yang sudah ditetapkan.

c. Model pembelajaran ini sulit diimplementasikan apabila kriteria

keberhasilan belajar masih ditentukan oleh kemampuan siswa.

d. Karena menggunakan metode permainan, model pembelajaran ini sering

menimbulkan kegaduhan yang bisa mengganggu kelas disebelahnya.

(http://aresearch.upi.edu/operator/s_jrm_0607790_chapter2%281%29.pdf)

3. Langkah-langkah Model Scramble

Komalasari (2013:84) menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam

(17)

a. Guru menyajikan materi sesuai kompetensi yang ingin di capai.

b. Guru membagi siswa kedalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari

4 siswa.

c. Guru membagikan lembar kerja, dimana di buat menjadi dua kolom

yaitu kolom A berisi pertanyaan dan kolom B merupakan kata kunci

dengan kata-kata yang di acak.

d. Guru membimbing siswa berdiskusi, setelah diskusi selesai maka

siswa mempresentasikan hasil diskusi.

e. Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban.

E. Hasil Penelitian Yang Relevan

1. Penelitian oleh Nur Septian, Tomi. 2015. Penerapan Model Pembelajaran

Scramble Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran

PPKn Di SMPN 03 Tulungagung.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model

pembelajaran Scramble dilaksanakan selama dua siklus dengan dua

pertemuan disetiap siklusnya, pembelajaran Scramble dilaksanakan dengan

langkah-langkah yaitu: (a) Siswa membentuk kelompok terdiri dari 4 siswa

secara heterogen; (b) Siswa mendapat media model soal Scramble; (c) Siswa

bekerjasama secara berkelompok untuk menemukan jawaban yang benar;

(d) Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok; (e) Siswa dengan

bantuan guru menyimpulkan apa yang telah dipelajari (f) Evaluasi hasil

(18)

Hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn saat menerapkan model

pembelajaran Scramble yaitu pada pertemuan pertama siklus 1 dari 32 siswa

terdapat 13 siswa yang belum tuntas. Nilai rata-rata kelas yaitu 73,6 dan

nilai klasikal ketuntasan hasil belajar siswa 56,3%, Pada pertemuan kedua

siklus satu telah mengalami peningkatan dari 32 siswa terdapat 6 siswa yang

belum tuntas. Nilai rata-rata kelas pada pertemuan ke dua siklus 1 yaitu 80,3

dan nilai klasikal ketuntasan hasil belajar siswa 78,1%. Nilai rata-rata kelas

dari pertemuan pertama dan kedua meningkat 6.7 sedangkan nilai klasikal

ketuntasan belajar siswa meningkat sebesar 21,8%. Pada Siklus II pertemuan

pertama, 28 siswa tuntas belajar sedangkan 4 siswa belum tuntas belajar,

Nilai rata-rata kelas pada pertemuan pertama siklus II yaitu 81,1 dan nilai

klasikal ketuntasan hasil belajar siswa 87,5%, Pada Siklus II pertemuan

keempat dari 32 siswa hanya 3 siswa yang belum tuntas. Kemudian nilai

rata-rata kelas pada pertemuan keempat siklus II yaitu 86,6 dan nilai klasikal

ketuntasan hasil belajar siswa 90,6%. Peneliti akan mengungkap bahwa

penelitian penerapan model Pembelajaran Scramble dapat meningkatkan

hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn di SMP Negeri 03

Tulungagung.

2. Penelitian oleh Desriya Aprilia Ali “Penerapan Model Pembelajaran

Scramble Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran

Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Di Kelas VIIA SMP Negeri 1

(19)

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siswa kelas VIIA SMP

Negeri 1 Kabila bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata

pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan khususnya

pemahaman siswa tentang pengertian PPKI yang dibelajarkan menggunakan

model pembelajaran scramble. Pada pertemuan pertama rentang nilai 95-100

berjumlah 14 siswa atau 47% dari 30 siswa. Kemudian pada pertemuan

kedua mengalami sedikit penurunan yaitu berkurang 3 orang siswa menjadi

11 orang siswa atau 36.66%. Rentang nilai 75-94 pada pertemuan pertama

berjumlah 4 siswa atau 13% dan pertemuan kedua naik menjadi 15 siswa

atau 50% artinya bertambah menjadi 11 siswa. Rentang Nilai 55-74 pada

pertemuan pertama berjumlah 10 siswa atau 33% dan pada pertemuan kedua

turun menjadi 4 siswa atau 13.33% karena rentang nilai 55-74 berpindah

menjadi rentang nilai 75-94. Dan terakhir rentang nilai 0-54 pada pertemuan

pertama berjumlah 2 siswa atau 7% dan pada pertemuan kedua tidak ada

atau 0% siswa yang mendapatkan nilai dalam rentang nilai 0-54. Hasil

penelitian untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model

pembelajaran scramble sukses dalam satu siklus dua kali pertemuan siswa

sudah bisa mencapai kriteria ketuntasan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sudah

tercapai peningkatan hasil belajar siswa sebesar 86.66% melalui penggunaan

model pembelajaran scramble. Pada pertemuan pertama penggunaan model

pembelajaran scramble digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa

(20)

Kondisi Akhir

Hasil belajar meningkat kedua peningkatan hasil belajar siswa menjadi 86.66%. Peneliti akan

mengungkap bahwa penelitian menggunakan model pembelajaran scramble

di kelas VII A SMP Negeri 1 Kabila, dapat meningkatkan hasil belajar

siswa.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dalam penelitian ini akan diteliti

mengenai upaya meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan

melalui model pembelajaran scramble pada kompetensi dasar hak asasi

manusia di kelas VII D SMP Negeri 5 Purwokerto semester genap tahun

pelajaran 2015/2016.

F. Kerangka Berpikir

Pada kondisi awal hasil belajar siswa masih kurang maksimal. Pada

rencana tindakan dalam siklus I dan siklus II dengan menerapkan model

pembelajaran scramble siswa akan mengalami peningkatan dalam

pembelajaran.

Kondisi Awal Tindakan

Guru belum menerapkan Siklus I. Guru menerapkan Model Scramble Model Scramble

(21)

G. Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir diatas, maka dapat dirumuskan

hipotesis sebagai berikut:

Pembelajaran menggunakan model scramble dapat meningkatkan hasil belajar

Pendidikan kewarganegaraan pada kompetensi dasar hak asasi manusia di

kelas VII D SMP Negeri 5 Purwokerto semester genap tahun pelajaran

Referensi

Dokumen terkait

39 tahun 1999 pasal 2 tentang asas-asas dasar yang menyatakan “Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak

penelitian dengan udul yaitu : “ Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan Menerapkan Model Pembelajaran Teams

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar melalui strategi pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kompetensi Dasar

“Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat pada dan tidak

)ak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia secara kodrati sebagai anugerah dari tuhan, mencangkup hak hidup,hak kemerdekaan5kebebasan dan hak

Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani. Jakarta: Prenada

Dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Make-A Match dapat meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan kompetensi dasar menganalisis pelaksanaan

Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator