• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. satunya adalah kebutuhan akan modal usaha dan investasi sebagai penunjang bisnis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. satunya adalah kebutuhan akan modal usaha dan investasi sebagai penunjang bisnis"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang

Kemajuan zaman pada saat sekarang ini diikuti pula dengan kemajuan di berbagai bidang, termasuk pula pada bidang ekonomi, bisnis dan kemasyarakatan. Semakin banyak kebutuhan masyarakat yang diharapkan dapat terpenuhi, salah satunya adalah kebutuhan akan modal usaha dan investasi sebagai penunjang bisnis maupun kebutuhan konsumtif sehari-hari. Dengan adanya hal tersebut, maka semakin dibutuhkanlah bank sebagai suatu wadah yang dapat menampung dana dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkan dana tersebut kepada pihak-pihak yang membutuhkan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Bank sebagaimana fungsinya sebagai lembaga intermediasi, yang mana bertugas menampung dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan, maka dapat dikatakan bahwa bank merupakan faktor utama lembaga keuangan, yang bertindak sebagai penggerak bagi perkembangan ekonomi masyarakat, serta berperan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Bank mempunyai fungsi lain pula berupa jasa bagi kelancaran lalu lintas dan peredaran uang baik nasional maupun antar negara.1

1

Hermansyah, 2005, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hlm 3.

(2)

Apabila dilihat ketentuan dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (selanjutnya disebut dengan Undang-Undang Perbankan), dikemukakan bahwa dalam memberikan kredit bank wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan. Meskipun tidak disebutkan secara tegas bahwa setiap pemberian kredit, debitur wajib memberikan jaminan (collateral) kepada kreditur. Dalam Penjelasan Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Perbankan ditegaskan bahwa untuk meperoleh keyakinan sebagaimana disebutkan diatas, maka bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha dari debitur.

Kondisi ini merupakan suatu implementasi dari prinsip kehati-hatian

(prudential banking) yang selama ini telah menjadi pedoman bank-bank dalam melakukan pemberian kredit, tercermin dari prosedur pemberian kredit yang harus dilakukan secara hati-hati dan selektif. Sebagai upaya untuk mengeliminasi risiko kredit, bank senantiasa memperhatikan aspek jaminan (collateral) sebagai dasar dalam pemberian kredit, disamping juga melalui penilaian watak, kemampuan, modal, dan prospek usaha debitur. Dalam dunia perbankan, hal ini dikenal dengan istilah Five C’s yaitu : Character (watak), Capacity (kemampuan), Capital (modal),

(3)

Prinsip kehati-hatian adalah suatu asas yang menyatakan bahwa bank dalam menjalankan fungsi dan kegiatan usahanya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam rangka melindungi dana masyarakat2. Hal ini disebutkan dalam Pasal 2 Undang-Undang Perbankan bahwa perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Kemudian disebutkan pula dalam Pasal 29 Undang-Undang Perbankan ayat (2) bahwa bank wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan ayat (3) bahwa bank dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank.

Prinsip kehati-hatian ini bertujuan agar bank dalam menjalankan usahanya secara baik dan benar dengan mematuhi ketentuan-ketentuan dan norma-norma hukum yang berlaku dalam dunia perbankan, agar bank yang bersangkutan dalam keadaan sehat sehingga masyarakat semakin mempercayainya, yang pada gilirannya akan mewujudkan sistem perbankan yang sehat dan efisien, dalam arti sempit dapat memelihara kepentingan masyarakat dengan baik, berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi perkembangan ekonomi nasional3.

2

Rachmadi Usman, 2001, Aspek-aspek Hukum Perbankan Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm 18

3

(4)

Bank Indonesia sebagai pemegang regulasi perbankan sebagaimana diatur dalam Pasal 25 (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia juga mengatur perbankan dengan ketentuan-ketentuan perbankan yang memuat prinsip kehati-hatian. Dalam penjelasan pasal tersebut disebutkan bahwa prinsip kehati-hatian bertujuan untuk memberikan rambu-rambu bagi penyelenggaraan kegiatan usaha perbankan, guna mewujudkan sistem perbankan yang sehat.

Penerapan prinsip kehati-hatian mutlak harus diimplementasikan bagi perbankan dalam menjalankan usahanya salah satunya memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah. Penyaluran kredit disini dapat dilakukan ke berbagai sektor ekonomi dimana salah satu sektor ekonominya adalah jasa angkutan laut. Pengertian dari jasa angkutan laut menurut Martono dan Tjahjono4 adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat tempat pemuatan ke tempat tujuan dan menurunkan penumpang dan atau barang dari alat angkut ke tempat yang telah ditetapkan dengan menggunakan sarana kapal laut. Adapun salah satu jaminan yang dapat digunakan sebagai jaminan kredit di perbankan adalah kapal yang merupakan alat transportasi laut.

Potensi kelautan yang ada menunjukkan bahwa Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia (Largest Archipelago)5 dimana menurut data dari dinas kelautan bahwa Indonesia memiliki luas 1,9 miliar km2 dan dua per tiganya

4

HK Martono dan Eka Tjahjono, 2011, Transportasi di Perairan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008, PT. Rajagrafindo, Jakarta, hlm.15

5

Kadin Batam, Ekonomi lintas batas, www.kadinbatam.or.id diakses pada tanggal 16 Juni 2011.

(5)

merupakan daerah laut dan pantai. Selain itu Indonesia juga memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km dimana Indonesia merupakan negara keempat dengan garis pantai terpanjang setelah Kanada, Amerika dan Rusia. Selain itu Indonesia memiliki kurang lebih 13.579 pulau besar dan kecil yang dipisahkan oleh laut dan beberapa pulau-pulau di Indonesia hanya dapat dilalui dengan transportasi laut6. Hal ini sangat menunjukkan bahwa Indonesia dalam setiap hubungan transportasinya sangat membutuhkan Kapal. Dari fakta di lapangan pula bahwa 77% total volume barang di dunia diangkut melalui transportasi angkutan laut, 16% diangkut melalui angkutan darat, 6,7% barang cair disalurkan melalui pipa dan hanya 0,3% diangkut melalui udara7.

Dukungan pemerintah terhadap industri perkapalan di Indonesia ketika diaturnya pemberdayaan industri pelayaran nasional dengan Instruksi Presiden No.5 tahun 2005 dimana pemerintah mengambil langkah untuk menerapkan asas cabotage8

dimana diatur untuk muatan pelayaran antar pelabuhan di dalam negeri wajib diangkut dengan kapal berbendera Indonesia dan dioperasikan oleh perusahaan pelayaran nasional. Seiring dengan diterapkannya asas cabotage tersebut maka pertumbuhan jumlah kapal dan muatan domestik yang berhasil diangkut kapal nasional oleh perusahaan pelayaran nasional juga meningkat. Jika pada 2005 tercatat

6

Wartini Soegeng, 2000, Pengukuran Kapal Indonesia (Aspek Hukum), Refika Aditama, Bandung, hlm 3.

7

Budhi Halim, 2011, Outlook Bisnis Perkapalan, Seminar Faba Shipping Business tanggal 22 Februari 2011, Surabaya, hlm 8.

8

Pemberdayaan angkutan laut nasional yang memberikan iklim kondusif guna memajukan industri angkutan di perairan, antara lain adanya kemudahan di bidang perpajakan, dan permodalan dalam pengadaan kapal serta adanya kontrak jangka panjang untuk angkutan. (Martono dan Tjahjono,2011,hlm.15)

(6)

sebanyak 1.453 perusahaan, baik pemegang SIUPAL (Surat Ijin Usaha Perusahaan Angkutan Laut) maupun SIOPSUS (Surat Ijin Operasi Perusahaan Angkutan Laut Khusus), pada tahun 2009 bertambah 687 perusahaan menjadi 2.140 perusahaan. Dalam instruksi presiden itu pula pemerintah mendorong perbankan nasional untuk berperan aktif dalam rangka pendanaan untuk mengembangkan industri pelayaran nasional.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Februari 2010 mencatat pembiayaan ke sektor maritim masih tergolong sangat kecil hanya 1,53% dari total kredit perbankan nasional. Per Februari 2010, kredit disalurkan ke sektor maritim mencapai Rp 22,8 triliun dari sekitar Rp 1.500 triliun kredit yang disalurkan industri perbankan. Dari posisi Desember 2008 mengalami peningkatan sebesar 22.5% yakni dari 18.6 triliun. Apabila dibandingkan dengan nilai impor kapal pada tahun 2009, impor kapal mencapai US$ 2.70 miliar, atau setara dengan Rp.24.3 triliun, naik 94.2% dibandingkan dengan periode 2008 sebesar US$ 1.39 miliar atau Rp.12.5 triliun. Dengan demikian, nilai pembiayaan yang dikucurkan perbankan nasional ke sektor maritim selama 2009 baru menutupi 16% dari nilai impor kapal. Artinya perbankan dalam negeri masih membiarkan potensi pembiayaan yang begitu besar dari sektor pelayaran dan lepas ke perbankan luar negeri9. Menurut Deputi Gubernur BI dibandingkan dengan industri lainnya porsi pembiayaan perbankan domestik ke industri maritim itu sangatlah kecil. Dikemukakan ada sejumlah kendala belum

9

Paulis A. Djohan, 2010, Beyond Cabotage, Artikel Insa (Indonesian National Shipowner Association) diakses dari insa.or.id pada tanggal 16 Juli 2011.

(7)

optimalnya penyaluran kredit tersebut, yaitu perbankan masih banyak yang kurang paham soal peluang, prospek usaha, dan risiko pembiayaan industri maritim. Selain itu, jangka waktu kontrak yang menjadi underlying kredit lebih pendek dibandingkan jangka waktu kredit sehingga menimbulkan risiko bagi perbankan. Faktor lain seperti komponen atau peralatan kapal masih banyak yang harus diimpor terutama untuk kapal besar serta kurangnya dukungan riset untuk pengembangan industri perkapalan membuat perbankan agak enggan menyalurkan kredit ke sektor ini10. Secara historis, tingkat kredit bermasalah industri perkapalan untuk memproduksi kapal domestik mencapai 4% sedangkan kapal pelayaran internasional mencapai 6% sementara rata-rata industri hanya sebesar 2%. Dari data Bank Indonesia per kelompok bank, penyaluran kredit ke sektor maritim terbesar dari kelompok bank devisa Rp 9,4 triliun (per Februari 2010) dan terkecil dari bank non devisa Rp 269 miliar. Secara rata-rata realisasi kredit ke sektor maritim per Februari 2010 adalah 82,8%. Realisasi tertinggi pada kelompok bank devisa 98,5% dan terendah pada kelompok bank asing 60,1% 11.

Pada saat ini pemerintah sedang mengembangkan industri maritim dengan Konsep MP3EI12 yang dicanangkan menunjuk pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara sebagai Alternatif Pelabuhan Internasional Hub bersama dengan pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Pelabuhan Internasional Hub 13 adalah pelabuhan utama

10

Indomaritimeinstitute, Industri Perikanan dan Perkapalan Perlu Dukungan Perbankan, www.indomaritimeinstitute.org diakses pada tanggal 16 Juli 2011.

11

Ibid

12

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, www.ekon.go.id, diakses pada tanggal 19 Mei 2012.

13

Penjelasan Pasal 5 huruf a Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan, telah dirubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang

(8)

primer yang berfungsi melayani kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional dalam jumlah besar dan jangkauan pelayanan yang sangat luas serta merupakan simpul dalam jaringan transportasi laut internasional, disini berfungsi sebagai pengumpan Pelabuhan Internasional di Indonesia yaitu Tanjung Priok, Jakarta dan Tanjung Perak, Surabaya.

Disamping potensi yang ada terdapat pula “risiko yang tinggi” terhadap penggunaan kapal laut sebagai jaminan kredit14, karena kapal laut mempunyai karakteristik yang berbeda dengan tanah sebagaimana jaminan yang biasa diterima oleh bank. Terdapat sepuluh perbedaan karakteristik antara kapal laut dengan tanah sebagai jaminan kredit diungkapkan oleh Ginting15 sebagai berikut :

Kapal laut Tanah

Nilai kapal laut cenderung menurun Nilai tanah selalu meningkat. Nilai kapal laut sulit ditentukan

mengingat belum adanya harga pasar untuk kapal laut.

Nilai tanah lebih mudah ditentukan karena sudah ada harga pasar untuk tanah (Nilai Jual Obyek Pajak untuk Pajak Bumi dan Bangunan).

Kapal laut merupakan benda tetap yang dapat bergerak sehingga pengeksekusian kapal laut cukup sulit untuk dilakukan apabila debitur gagal bayar.

Tanah adalah benda tidak bergerak dan pengeksekusiannya relatif lebih mudah dibandingkan dengan kapal laut.

Risiko musnahnya kapal laut cukup besar.

Resiko musnahnya tanah relatif sangat kecil.

Ketentuan hukum mengenai kapal laut dan hipotek terhadap kapal masih

Ketentuan hukum mengenai tanah lebih jelas.

Kepelabuhanan. Istilah pelabuhan internasional hub telah dirubah menjadi pelabuhan utama yang terbuka bagi perdagangan luar negeri.

14

Ramlan Ginting, 2008, Tinjauan terhadap RUU tentang Hipotek Kapal, Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan, 02 Agustus 2008, hlm.32

15

(9)

Kapal laut Tanah belum komprehensif

Peminat kapal laut dan perusahaan perkapalan di Indonesia sangatlah terbatas. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses penjualan kapal.

Proses penjualan tanah lebih mudah karena jumlah pembeli relatif banyak.

Pemahaman tentang hukum perkapalan dan usaha perkapalan masih terbatas.

Masyarakat umum relatif telah memahami proses jual beli tanah. Dalam praktek, adanya kemungkinan

satu kapal dimiliki oleh beberapa orang sehingga dapat menimbulkan kesulitan dalam proses eksekusi.

Tanah hanya dapat didaftarkan atas satu nama.

Belum banyak dilakukan di Indonesia. Merupakan agunan yang paling banyak digunakan di Indonesia.

Mengingat risikonya yang tinggi maka potensi terjadinya risiko kredit semakin besar apabila kapal digunakan sebagai jaminan kredit. Adapun risiko kredit menurut Fahmi16 adalah merupakan bentuk ketidakmampuan suatu perusahaan, institusi, lembaga maupun pribadi dalam menyelesaian kewajiban-kewajibannya secara tepat waktu baik pada saat jatuh tempo maupun sesudah jatuh tempo dan itu semua sesuai dengan aturan dan kesepakatan yang berlaku.

Berdasarkan potensi dan peluang yang ada, perbankan dalam mengembangkan bisnisnya selalu mengikuti potensi dari daerah sekitar lokasi usaha masing-masing bank. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (disebut juga BRI Kanwil Manado) yang mempunyai area wilayah Sulawesi utara, Maluku Utara,

16

Irham Fahmi, 2011, Manajemen Risiko Teori, Kasus dan Solusi, Alfabeta, Bandung, hlm 18.

(10)

Gorontalo dan Sulawesi Tengah mempunyai potensi kelautan yang besar, dimana terdapat potensi perikanan, pengangkutan barang dan penumpang antar pulau serta industri galangan kapal. Pelabuhan Kota Bitung, Sulawesi Utara merupakan pelabuhan terbesar kedua di Sulawesi setelah pelabuhan Makasar, Selain berfungsi sebagai Pelabuhan Internasional Hub juga berfungsi sebagai pelabuhan perintis pengangkutan penumpang dan barang antar pulau-pulau disekitar seperti kepulauan di Maluku Utara, Ternate, Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, hingga ke Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Selain itu pula potensi perikanan di Bitung merupakan produk unggulan dari Provinsi Sulawesi Utara. Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan pada Januari 2012 terdapat 53 unit perusahaan pengolahan ikan dan 32 unit perusahaan penangkapan ikan dimana diantaranya merupakan perusahaan asing, dimana komoditas terbesar untuk ekspor ke luar negeri.

Mengingat risikonya yang tinggi agunan kapal dan potensi yang besar di bidang kelautan maka dalam penyaluran kredit perlu dilakukan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit dengan jaminan hipotek kapal laut. BRI Kanwil Manado merupakan salah satu diantara beberapa bank yang mengembangkan kredit menengahnya ke sektor angkutan laut, perikanan serta industri perkapalan.

Berdasarkan latar belakang permasalahan dimaksud, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penerapan prinsip kehati-hatian dari pemberian kredit dengan jaminan kapal serta akibat hukum dari tidak diterapkannya prinsip kehati-hatian dengan judul yang peneliti angkat adalah “Penerapan Prinsip

(11)

Kehati-hatian Dalam Pemberian Kredit Dengan Jaminan Hipotek Kapal Laut Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Manado”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang sebagaimana telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang timbul adalah :

1. Bagaimana penerapan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit dengan jaminan kapal laut di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Manado ?

2. Bagaimana akibat hukum atas pelanggaran prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit dengan jaminan kapal laut di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Manado ?

C. Keaslian Penelitian

Sepengetahuan penulis setelah dilakukan penelusuran kepustakaan di lingkungan Fakultas Hukum khususnya Program Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada, ternyata yang menulis tentang Jaminan Kapal Laut diantaranya :

1. Putri Kartini Karlina (07/261793/PHK/4433) dari Magister Kenotariatan, dengan judul tesis “ KAJIAN TENTANG HIPOTEK KAPAL LAUT SEBAGAI JAMINAN DALAM PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT INVESTASI ANTARA PT. PSAP DENGAN BANK PENJAMIN “.

(12)

Dalam tesisnya membahas mengenai upaya hukum apa yang dilakukan oleh Bank guna melindungi haknya dalam hal nasabah PT. PSAP mengalami kredit macet dengan jaminan hipotek kapal laut. Disebutkan bahwa setelah melakukan serangkaian proses negosiasi yang gagal dengan debitur, maka bank telah melakukan lelang eksekusi jaminan hipotek kapal laut milik PT. PSAP namun hasil lelang tidak dapat memenuhi seluruh kewajiban hutang. Dalam penjelasannya Bank tersebut tidak melakukan penagihan kembali atas sisa hutang yang belum terbayar tersebut dari PT. PSAP. Dalam hasil penelitiannya disebutkan bahwa Bank tidak melindungi serta tidak segera menggunakan haknya atas adanya jaminan tambahan berupa hipotek sebesar Rp. 3 miliar serta Pasal 1131 KUH Perdata tentang jaminan umum tidak dipergunakan juga. 2. Yahya Junaedi, SE (07/261911/PHK/4551) dari Magister Kenotariatan, dengan

judul tesis “ PEMBEBANAN KAPAL SEBAGAI JAMINAN KREDIT DI KOTA SURABAYA “.

Dalam tesisnya membahas mengenai alasan beberapa bank di kota Surabaya tidak mau memberikan kredit dengan jaminan kapal. Penelitian dilakukan di Kantor Syahbandar pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan beberapa bank di Kota Surabaya yang tidak mau memberikan kredit dengan jaminan kapal. Hasil penelitiannya adalah beberapa alasan beberapa bank yang tidak mau memberikan kredit kapal adalah kurang marketable dan sulit dijual, risiko tinggi, mobilitas tinggi serta tidak adanya tenaga ahli penilai kapal.

(13)

Berdasarkan judul dan permasalahan tersebut di atas penelitian yang dilakukan oleh penulis ada persamaan maupun perbedaannya. Persamaannya adalah kesamaan obyek yang diteliti yaitu tentang kapal yang digunakan sebagai jaminan kredit. Perbedaannya dengan penelitian pertama adalah penelitian pertama menekankan pada studi kasus tentang eksekusi kredit macet dengan jaminan hipotek kapal laut antara PT. PSAP dengan Bank penjamin sedangkan penelitian yang dilakukan penulis adalah penerapan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit dengan jaminan hipotek kapal laut. Sedangkan perbedaan dengan penelitian kedua adalah penelitian kedua menekankan pada alasan beberapa bank di kota Surabaya tidak mau memberikan kredit dengan jaminan kapal dan sebagai hasilnya muncul empat macam alasan. Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis adalah penerapan prinsip kehati-hatian yang dilakukan oleh Bank BRI Kanwil Manado yang telah memberikan kredit dengan jaminan hipotek kapal laut serta meneliti tentang akibat hukum tidak dipenuhinya prinsip kehati-hatian tersebut. Sehingga dapat dinyatakan bahwa penelitian ini adalah suatu penelitian yang asli.

D. Kegunaan Penelitian

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah dan melengkapi khasanah ilmu hukum khususnya dalam bidang hukum jaminan, hukum perbankan, hukum perdata serta hukum di bidang perkapalan.

(14)

Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dengan jaminan hipotek kapal laut. Kemudian mengetahui akibat hukum dari pelanggaran prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit dengan agunan Kapal laut.

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain :

1. Untuk mengetahui penerapan prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit kepada debitur dengan jaminan kapal laut di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Manado.

2. Untuk mengetahui akibat hukum atas pelanggaran prinsip kehati-hatian dalam memberikan kredit dengan jaminan kapal laut di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Manado.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Sobar, nama “Kampung Gerabah” diperoleh dari pemerintah sehingga desa Anjun Gempol tersebut mulai dikenal dengan nama Kampung Gerabah, namun Kampung

Tabel 2 menunjukkan nilai validitas pada aspek kelayakan isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafisan sebesar 1,00 yang berarti LKS berbasis inkuiri terbimbing sangat

Teknologi semi intensif dilakukan pada pembesaran udang windu dan udang vaname di tambak lining dengan persyaratan sebagai berikut: a. 2) Desain dan tata letak dibangun

Perizinan mengenai pengangkutan laut diatur dalam Pasal 27 UU Pelayaran, namun pada tahun 2020 Pemerintah mengesahkan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta

Pada tahun 2012 Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Surabaya telah melaksanakan program dan kegiatan untuk mencapai 1 sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam

Peneliti merancang alat ukur yang akan digunakan untuk mengambil data dalam penelitian, berupa pertanyaan- pertanyaan yang terkait dengan pembelajaran bahasa inggris

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penggunaan teknologi PMS dalam peternakan ayam petelur disalah satu perusahaan berdasarkan model prototipe e-voting yang