HUBUNGAN ANTARA PENGARUH TEMAN SEBAYA DAN KETIDAKPUASAN CITRA TUBUH PADA REMAJA AWAL

134  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

HUBUNGAN ANTARA PENGARUH TEMAN SEBAYA DAN KETIDAKPUASAN CITRA TUBUH PADA REMAJA AWAL

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

Vania Narwastu Mahanani NIM : 079114141

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv MOTTO

"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan

bertekunlah dalam doa

Roma 12 : 12

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya,

sebab Ia yang memelihara kamu

1 Petrus 5 : 7

...kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan

menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan

Roma 5 : 3c-4

Success is the ability to go from one failure to another

with no loss of enthusiasm

(5)

v

KARYA SEDERHANA INI KU PERSEMBAHKAN UNTUK :

TUHAN YESUS KRISTUS

Juru selamatku, pemberi kasih yang tak berkesudahan di sepanjang hidupku. . .

ORANG TUAKU BAPAK WIDIYONO, S.Pd.

DAN IBU GINI MIRANTI

Sumber cinta yang tak terhingga, pelita dalam hidupku. . .

ADIKKU ANNETE RATNAGREHA NANDIN I

Motivator yang memberikan dukungan dan penghiburan di setiap langkahku. . .

MASKU

Pemberi warna dan semangat dalam hidupku. . .

SAHABAT-SAHABATKU

Pendamping dalam suka maupun duka. . .

(6)
(7)

vii

HUBUNGAN ANTARA PENGARUH TEMAN SEBAYA DAN KETIDAKPUASAN CITRA TUBUH PADA REMAJA AWAL

Vania Narwastu Mahanani

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengaruh teman sebaya dan ketidakpuasan citra tubuh pada remaja awal. Peneliti berhipotesis bahwa ada hubungan antara pengaruh teman sebaya dan ketidakpuasan citra tubuh pada remaja awal. Asumsinya adalah semakin besar pengaruh teman sebaya maka semakin besar juga ketidakpuasan citra tubuh yang dimiliki oleh remaja tersebut. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII, VIII, dan IX dari dua sekolah swasta di Yogyakarta yang berjumlah 205 orang yang berusia 12-15 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian korelasional. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan dua macam skala yaitu skala Pengaruh Teman Sebaya dan Contour Drawing Rating Scale. Kedua skala ini merupakan skala adaptasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan korelasiKendall Tau-b.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara antara pengaruh teman sebaya dan ketidakpuasan citra tubuh pada remaja awal. Hal ini dapat dilihat dari koefisien korelasi (r) = 0,269 (p=0,000) dengan probabilitas 1% (p < 0,01). Hal ini berarti bahwa hipotesis yang diajukan diterima.

(8)

viii

THE RELATION BETWEEN PEERS INFLUENCE AND BODY IMAGE DISSATISFACTION IN EARLY ADOLESCENCE

Vania Narwastu Mahanani

ABSTRACT

The aim of this research was to know the relationship between peers influence and body image dissatisfaction in early adolescence. Researcher hypothesis that there was a correlation between peers influence and body image dissatisfaction in early adolescence. There assumption that the bigger peers influence will also has bigger body image dissatisfaction by those teenagers. Subjects in this research are 205 students of the 7th, 8th, and 9thgrade from two private school at Yogyakarta, that age 12-15 years old. Correlation method was used in this study as the research method. The data in this study was collected by using two scale that is Peers Influence Scale skala and Contour Drawing Rating Scale. Data was analyzed uses Kendall Tau-b correlation. The results were shown that there is a significant positive relationship between peers influence and body image dissatisfaction in early adolescence. It can be seen from coefficient correlation (r) = 0,269 (p=0,000) with 1% probability (p < 0,01). It’s means that the porposed hypotesis is accepted.

(9)
(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan berkat, kurnia, dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Dr. Christina Siwi Handayani, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi., selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran telah memberikan bantuan, bimbingan, dan saran selama proses penulisan skripsi ini.

3. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah memberikan pengetahuan dan ilmunya kepada penulis baik selama kuliah maupun dalam mengerjakan skripsi.

4. Seluruh staf karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah banyak membantu penulis ketika masih menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(11)

xi

6. Adikku tersayang yang selalu mencereweti penulis untuk segera penyelesaikan skripsi ini dan juga seluruh keluarga yang selalu memberikan semangat dan mendokan penulis.

7. Masku tercinta yang selalu memberikan semangat, dorongan, dan perhatian kepada penulis serta menemani dengan setia.

8. Sahabat-sahabat tersayang, Ita, Those, Mami Mel, Nenek Anas, Uyut Ika, Elis, Ika, dan Dhoti yang memberikan dukungan yang besar bagi penulis. Makasih ya Guy’s udah mau berbagi suka dan duka. Kehadiran kalian sangat berarti buatku dan tidak akan terlupakan.

9. Mbak Haksi yang telah bersedia membaca skipsi ini dan memberikan kritik juga saran.

10. Teman-teman yang lain, Putri Ringgo, Inang Kiki, Inno, Widi, Kakek Iqin, Kakek Fendi, Mas Dwi, dan juga teman seperjuangan terutama teman satu bimbingan dan psi’07 USD. Terima kasih atas semangat yang selalu diberikan kepada penulis.

11. Bapak Kepala Sekolah SMP BOPKRI 3 Yogyakarta dan SMP Pangudi Luhur I Yogyakarta yang telah berkenan memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah. Terima kasih juga kepada siswa siswi yang telah berkenan menjadi responden dalam penelitian ini.

(12)

xii

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan baik berupa saran maupun kritik yang membangun dari semua pihak guna menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Penulis,

(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI... xiii

DAFTAR TABEL... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian... 8

D. Manfaat Penelitian... 8

1. Manfaat Teoritis ... 8

2. Manfaat Praktis... 8

BAB II LANDASAN TEORI ... 10

(14)

xiv

1. Pengertian Citra Tubuh ... 10

2. Ketidakpuasan Citra Tubuh... 11

3. Faktor yang Mempengaruhi Ketidakpuasan Citra tubuh ... 15

4. Pengukuran Citra tubuh... 27

5. Citra Tubuh pada Remaja Awal ... 28

B. Teman Sebaya ... 29

1. Pengertian Teman Sebaya ... 29

2. Pengaruh Teman Sebaya ... 31

3. Pengaruh Teman Sebaya pada Kekhawatiran terhadap Tubuh dan Makan... 35

C. Remaja... 36

1. Pengertian dan Batasan Remaja ... 36

2. Ciri Khas Perkembangan pada Masa Remaja Awal... 38

D. Dinamika Hubungan Antara Pengaruh Teman Sebaya danKetidakpuasan Tubuh pada Remaja Awal... 41

E. Hipotesis ... 45

BAB III METODE PENELITIAN ... 46

A. Jenis Penelitian ... 46

B. Variabel Penelitian ... 46

C. Definisi Operasional ... 47

1. Ketidakpuasan Citra Tubuh... 47

2. Pengaruh Teman Sebaya ... 47

(15)

xv

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data... 48

1. Contour Drawing Rating Scale... 49

2. Skala Pengaruh Teman Sebaya ... 50

F. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpul Data ... 53

1. Validitas Alat Ukur ... 53

2. Reliabilitas Alat Ukur... 55

G. Metode Analisis Data ... 57

1. Uji Asumsi... 57

2. Uji Hipotesis... 58

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 59

A. Pelaksanaan Penelitian ... 59

B. Karakteristik Subjek Penelitian ... 60

C. Hasil Analisis Data Penelitian ... 61

1. Hasil Uji Asumsi ... 61

2. Hasil Uji Hipotesis ... 62

D. Analisis Tambahan ... 64

E. Pembahasan ... 69

BAB V PENUTUP ... 77

A. Kesimpulan... 77

B. Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 79

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 1BlueprintSkala Pengaruh Teman Sebaya ... 53

Tabel 2 Deskripsi Usia Subjek... 60

Tabel 3 Deskripsi Jenis Kelamin Subjek ... 61

Tabel 4 Hasil Uji Normalitas ... 61

Tabel 5 Hasil Uji Linearitas ... 62

Tabel 6 Hasil Uji Korelasi ... 63

Tabel 7Output Group Statistics... 65

Tabel 8Output Independent Sample Test ...65

Tabel 9 Hasil Uji Normalitas pada Remaja Perempuan dan Laki-laki ... 66

Tabel 10 Hasil Uji Linearitas pada Remaja Perempuan dan Laki-laki ... 67

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu ciri bahwa seseorang memasuki usia remaja dalam

perkembangan hidupnya adalah perubahan fisik. Al-Mighwar (2006)

menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa pesatnya pertumbuhan dan

mencoloknya perubahan dalam ukuran dan proporsi tubuh. Perubahan yang

terjadi ini akibat dari perubahan hormonal yang terjadi dalam diri seseorang

yang juga menandai bahwa orang tersebut telah memasuki pubertas.

Pertumbuhan tersebut antara lain seperti bertambahnya berat badan dan tinggi

badan secara pesat, juga melebarnya pinggul pada anak perempuan dan bahu

pada anak laki-laki (Santrocks, 2007).

Perubahan fisik yang terjadi secara pesat menjadi perhatian bagi

para remaja, terutama remaja awal. Oleh sebab itu, remaja menjadi lebih

peduli terhadap dirinya dan lebih memperhatikan tubuh mereka. Salah satu

aspek psikologis dari pubertas yang pasti muncul pada remaja adalah

praokupasi (perhatian) terhadap tubuhnya (McCabe dan Ricciardelli dalam

Santrocks, 2007). Dengan demikian, perubahan fisik yang terjadi akan

mempengaruhi perkembangan psikologis remaja. Sarwono (2003)

menyatakan bahwa perubahan fisik yang terjadi merupakan gejala primer

dalam pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan psikologis muncul antara

(18)

Meningkatnya perhatian dan kesadaran akan tubuhnya

mengakibatkan gambaran dan penilaian terhadap tubuh juga mulai terbentuk

dalam diri remaja. Jersild (1965) menyatakan bahwa keadaan dan sifat

bawaan pada tubuh seorang remaja memiliki peran penting pada gambaran

dan pikiran mereka pada diri mereka. Penilaian yang muncul terhadap tubuh

itulah yang disebut sebagai citra tubuh. Citra tubuh merupakan persepsi,

pikiran, dan perasaan seseorang tentang tubuhnya (Grogan, 1999). Hal ini

meliputi penilaian terhadap ukuran tubuh, berat badan, ataupun aspek-aspek

lainnya dari tubuh yang berhubungan dengan penampilan fisik (Thompson &

Altabe, 1993).

Remaja membangun citranya sendiri mengenai bagaimana tubuh

mereka (Santrocks, 2003). Penilaian yang muncul terhadap tubuhnya tersebut

dapat berupa penilaian positif maupun negatif. Remaja dengan citra tubuh

yang positif akan dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupannya

sehari-hari. Berscheid dalam Papalia, Olds, dan Feldman (2008) menyatakan bahwa

remaja yang memiliki persepsi positif terhadap citra tubuhnya lebih mampu

menghargai dirinya. Selain itu, Witari (1997) dalam penelitiannya juga

menyatakan bahwa remaja yang memiliki citra tubuh positif tidak hanya akan

memiliki harga diri yang tinggi tetapi juga merasa mampu dan penuh percaya

diri. Oleh sebab itu, citra tubuh yang positif sangat penting dimiliki oleh

seorang remaja.

Akan tetapi, fokus yang lebih intens pada tubuhnya dapat

(19)

Hal ini menyebabkan perasaan tidak nyaman pada diri remaja terhadap tubuh

dan penampilan mereka. Graber dan Brooks-Gunn (2001) menyatakan bahwa

perasaan negatif yang muncul biasa terjadi ketika remaja menjalani masa

pubertas. Perasaan tidak nyaman akan bentuk tubuhnya sendiri muncul

karena remaja menilai bahwa pada kenyataannya bentuk tubuh yang dimiliki

tidak sesuai dengan bentuk tubuh ideal yang diinginkan. Hal ini

mengakibatkan adanya ketidakpuasan citra tubuh dalam diri remaja awal.

Semakin tinggi perbedaan antara bentuk tubuh sebenarnya dengan bentuk

tubuh ideal yang diinginkan maka akan semakin besar ketidakpuasan citra

tubuh seseorang (Thomposon, Heinberg, Altabe & Stacey, 1999).

Ketidakpuasan citra tubuh merupakan pikiran dan perasaan

negatif seseorang mengenai tubuhnya (Grogan, 1999). Dacey dan Kenny

(2001) menyatakan bahwa remaja sering merasa tidak puas akan perubahan

dan penampilan mereka. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan

tubuhnya (Hurlock, 1999). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Sri

Adiningsih (2002), mengenai citra tubuh remaja pada siswa SMP di

Surabaya. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa banyak remaja merasa

belum mencapai tubuh yang ideal, yaitu remaja perempuan (87,4%) lebih

tinggi dibandingkan dengan laki-laki (11,3%). Pada remaja putri mayoritas

berpendapat tubuh idaman mereka adalah tinggi langsing (63,2%) dan tinggi

sepadan berat badan (21,4%).

Ketika seseorang merasa tidak puas dengan citra tubuhnya maka

(20)

tubuh selama masa remaja merupakan faktor risiko dalam memprediksi

depresi, gangguan makan, dan rendah diri (Byely, Archibald, Graber, &

Brooks-Gunn, 2000; Thompson, Heinberg, Altabe, & Stacey, 1999). Sebagai

contoh analisis lain oleh Johnson dan Wardle (2005) menemukan bahwa

ketidakpuasan citra tubuh secara signifikan memprediksi rendahnya harga diri

di kalangan remaja. Secara khusus, ditemukan bahwa remaja perempuan

dengan tingkat diet dan ketidakpuasan citra tubuh yang lebih tinggi memiliki

harga diri yang rendah.

Standar ideal bagi tubuh yang ada pada diri seseorang

dipengaruhi oleh masyarakat atau budaya tertentu. Sebagian besar peneliti

menyetujui bahwa dampak terkuat dari berkembangnya ketidakpuasan citra

tubuh di masyarakat barat adalah faktor sosiokultural (Thompson, 1996).

Keindahan tubuh dan standar tentang tubuh ditentukan oleh masyarakat.

Dengan kata lain, masyarakat memiliki penilaian tentang apa yang dikatakan

indah, ideal, dan apa yang tidak (Thompson, 1996). Selain itu, diketahui

bahwa pengaruh sosial budaya yang paling sering terlibat adalah orang tua,

teman sebaya, dan media massa (Thompson, Heinberg, Altabe, & Stacey,

1999).

Teman sebaya, orang tua, dan media diketahui memiliki peran

dalam pembentukan ketidakpuasan citra tubuh dan gangguan makan pada

remaja perempuan (Shroff & Thompson, 2006). Ketiga hal tersebut terbukti

(21)

yang tadinya tidak mempedulikan tentang tubuhnya bisa jadi terganggu dan

terpengaruh oleh sindiran dari keluarga atau ejekan dari temannya.

Pada masa remaja, teman sebaya memiliki peran yang sangat

besar bagi kehidupan remaja. Papalia, Olds, dan Feldman (2008) menyatakan

bahwa teman sebaya adalah sumber kasih sayang dan pengertian, tempat

untuk melakukan eksperimen, serta saran untuk mencapai otonomi dan

kemandirian dari orang tua. Pada masa remaja keterlibatan dengan teman

sebaya meningkat karena remaja merasa mendapatkan dukungan emosional

selama masa peralihan yang rumit. Remaja yang mengalami perubahan fisik

yang cepat juga merasa lebih nyaman dengan teman sebaya yang juga

mengalami perubahan fisik serupa.

Teman sebaya diketahui menjadi hal yang berpengaruh pada

pembentukan ketidakpuasan citra tubuh seseorang. Teman sebaya merupakan

sumber yang sangat relevan dalam hal mengembangkan keyakinan seseorang

remaja tentang dirinya. Jones (2004) menemukan bahwa percakapan dan

perbandingan sosial dengan teman sebaya tentang penampilan dan massa

tubuh adalah prediktor signifikan dari perubahan ketidakpuasan citra tubuh

pada remaja perempuan. Selain itu, penelitian lain pada remaja baik

perempuan maupun laki-laki menemukan bahwa semakin sering mereka

melakukan percakapan dengan teman-teman mereka tentang penampilan ideal

maka semakin besar juga ketidakpuasan citra tubuh dan internalisasi

(22)

Di samping hal tersebut, gambaran remaja pada dirirnya

dipengaruhi juga oleh bagaimana teman sebaya menilai mereka. Ruff dalam

Jersild (1965) menilai bahwa agar diterima oleh kelompok teman sebaya,

seorang remaja harus tidak jauh berbeda dari teman-temannya pada

penampilan fisik. Jika seseorang berbeda dengan teman yang lain

kemungkinan dia akan dihindari oleh yang lain atau menerima panggilan

hinaan, seperti gemuk, si pendek, dan sebagainya.

Pengaruh teman sebaya terhadap citra tubuh secara lebih spesifik

telah dilihat pada kelompok usia anak-anak. Thompson, Heinberg, Altabe,

dan Stacey (1999) menyatakan bahwa anak-anak (sama seperti orang dewasa)

memiliki kriteria tentang hal-hal yang menjadi daya tarik pada diri teman

mereka. Anak-anak memiliki penilaian terhadap siapa dan bukan siapa yang

menarik bagi mereka. Hal ini membuat mereka memberikan perlakuan

istimewa terhadap teman sebaya yang menarik dan diskriminasi terhadap

teman-teman sebaya yang kurang menarik. Hal tersebut akan membentuk

keyakinan mereka bahwa menjadi kurus akan membuat mereka lebih disukai

oleh teman sebaya mereka. Hal tersebut menjadikan dasar perkembangan dari

citra tubuh negatif dan upaya yang tidak sehat untuk meningkatkan daya

tarik. Selain itu pada penelitian yang lain, ketidakpuasan citra tubuh yang

buruk pada anak-anak juga telah dikaitkan dengan ejekan oleh teman sebaya

dan percakapan dengan teman sebaya tentang topik yang terkait penampilan

(23)

Pada usia remaja akhir, pengaruh teman sebaya juga telah

dikaitkan dengan ketidakpuasan citra tubuh. Sebagai contoh, dalam Paxton,

Schutz, Wertheim, & Muir (1999) menemukan bahwa anak perempuan pada

bangku SMA yang berpikir bahwa hubungan dengan teman sebaya mereka

akan meningkatkan melalui penurunan berat badan juga merasa negatif

tentang tubuh mereka. Dengan demikian, penerimaan oleh teman sebaya

dikaitkan dengan tampilan ideal. Remaja merasa bahwa dengan memiliki

tubuh kurus ideal mereka lebih bisa menjalin hubungan dan diterima oleh

teman sebaya mereka.

Pengaruh teman sebaya juga dapat dilihat pada masa dewasa

awal. Schwats, Thompson, Johnson (1981) dalam Thompson, Heinberg,

Altabe, dan Stacey (1999) menemukan bahwa mahasiswi yang memiliki lebih

banyak teman yang diet cenderung lebih memiliki simptom gangguan makan.

Sebagai tambahan, mahasiswi yang terkadang muntah mengetahui bahwa

teman perempuan lain juga muntah.

Dari penelitian-penelitian sebelumnya yang telah dikemukakan

dapat dilihat bahwa teman sebaya berperan dalam membentuk ketidakpuasan

citra tubuh seseorang. Hal tersebut sudah diketahui pada masa anak-anak,

remaja akhir, dan usia yang lebih tua yaitu pada kelompok dewasa awal. Dari

sini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada kelompok usia yang

lain yaitu pada kelompok remaja awal untuk melihat apakah teman sebaya

(24)

peran teman sebaya justru paling kuat disaat remaja awal dan biasanya

memuncak di usia 12-13 tahun (Papalia, Olds, & Feldman, 2008).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah yang akan

diteliti yaitu apakah ada hubungan antara ketidakpuasan citra tubuh dengan

pengaruh teman sebaya pada kelompok usia remaja awal?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara

ketidakpuasan citra tubuh dengan pengaruh teman sebaya pada kelompok usia

remaja awal.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan

sumbangan informasi bagi bidang psikologi secara umum dan secara

khusus dalam bidang psikologi perkembangan dan kepribadian. Serta

dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi remaja, memberikan pemahaman mengenai ketidakpuasan citra

tubuh agar remaja khususnya kelompok remaja awal semakin

(25)

termasuk juga dalam menyikapi hubungan dengan teman sebaya

mereka sehingga dapat bertumbuh menjadi pribadi yang lebih

matang.

b. Bagi peneliti, dapat memperkaya pengetahuan dan informasi

berkaitan dengan citra tubuh sehingga dapat dilakukan penelitian

lanjutan.

c. Bagi pembaca terutama orang tua dan guru, penelitian ini dapat

memberikan informasi dan pengetahuan yang berkaitan dengan citra

tubuh sehingga dapat membantu dalam pencegahan dan upaya

intervensi terhadap anak dan anak didik terkait dengan citra tubuh

(26)

10

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Citra Tubuh

1. Pengertian Citra Tubuh

Citra tubuh merupakan persepsi, pikiran, dan perasaan seseorang tentang tubuhnya (Grogan, 1999). Citra tubuh meliputi penilaian terhadap ukuran tubuh, berat badan, ataupun aspek-aspek lainnya dari tubuh yang berhubungan dengan penampilan fisik (Thompson & Altabe, 1993).

(27)

tubuhnya, bagaimana kepuasan dan ketidakpuasan seseorang terhadap tubuhnya. Threes (1996) mengatakan bahwa gambaran seseorang pada dirinya sendiri akan mempengaruhi proses berfikir, perasaan, keinginan, nilai, maupun perilakunya.

Citra tubuh juga merupakan gambaran mental yang tertuju kepada perasaan yang kita alami tentang tubuh dan bentuk tubuh kita yang berupa penilaian positif dan negatif (Schludt & Johnson, 1990). Masing-masing orang memiliki penilaian sendiri akan bentuk tubuhnya. Sebagai contoh, ada orang yang merasa tubuhnya gemuk padahal kenyataannya kurus. Orang seperti ini disebut memiliki citra tubuh negatif. Di samping itu, menurut ensiklopedia psikologi (Corsini, 1994) yang mengatakan bahwa citra tubuh adalah evaluasi dari tubuh seseorang dan dipengaruhi oleh standar budaya terhadap penampilannya saat itu.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa citra tubuh adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk tubuhnya secara keseluruhan, termasuk karakteristik fisik dari tubuhnya sendiri, dan juga persepsi, pikiran, serta perasaan terhadap tubuhnya. Gambaran mental tersebut dapat berupa gambaran yang positif maupun negatif yang dipengaruhi oleh standar budaya.

2. Ketidakpuasan Citra Tubuh

(28)

terpenuhi hasratnya, sedangkan kepuasan diartikan sebagai kesenangan atau kelegaan. Selain itu, menurut Gie (1991) kepuasan adalah perasaan bahagia di dalam diri seseorang tanpa ada kerisauan, ketakutan, kecemasan, ataupun pertentangan dalam batinnya. Dengan kata lain jika seseorang tidak terpenuhi hasrat dan keinginannya maka akan mengalami ketidakpuasan. Menurut Locke dalam Gundersen et all. (1996) perasaan puas merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, yang diperoleh dari kesesuaian persepsi seseorang yaitu antara keinginan dengan keadaan yang didapatkannya secara nyata. Oleh sebab itu, jika terdapat adanya ketidaksesuaian antara dua hal tesebut maka akan terjadi ketidakpuasan pada diri seseorang.

(29)

peneliti menyetujui bahwa dampak terkuat dari berkembangnya ketidakpuasan citra tubuh di masyarakat barat adalah faktor sosiokultural (Thompson, 1996).

Ketidakpuasan citra tubuh merupakan pikiran dan perasaan negatif seseorang mengenai tubuhnya (Grogan, 1999). Hal ini diperkuat oleh Rosen dan Reiter dalam Asri dan Setiasih (2004) yang menyatakan ketidakpuasan citra tubuh adalah keterpakuan pikiran akan penilaian yang negatif terhadap tampilan fisik dan adanya perasaan malu dengan keadaan fisik ketika berada di lingkungan sosial. Selain itu, ketidakpuasan citra tubuh dimaknai sebagai evaluasi subyektif dan negatif terhadap tubuh terkait dengan bentuk tubuh dan berat badan (Troisi, dkk., 2006). Apa yang dipikirkan dan dirasakan mengenai keadaan tubuh belum tentu benar-benar merepresentasikan keadaan yang aktual, namun lebih merupakan hasil penilaian diri yang subyektif. Oleh sebab itu, ketidakpuasan citra tubuh tidak hanya terjadi pada orang yang memiliki fisik yang buruk, namun hal ini juga dapat terjadi pada orang yang sebetulnya secara obyektif memiliki tubuh yang ideal. Seseorang bisa saja memandang tubuhnya terlalu kurus, gendut, atau tidak 'memuaskan' meskipun secara obyektif jika dilihat oleh orang lain tubuhnya termasuk ideal.

(30)

secara psikologis menekankan dan mementingkan penampilan mereka (Thompson, 1996). Individu yang mengalami ketidakpuasan terhadap tubuh akan merasa kurang percaya diri dan timbul rasa cemas ketika individu tersebut mengalami konflik batin serta perasaan yang tertekan (Daradjat dalam Asri & Setiasih, 2004). Hal itu dapat membawa orang tersebut kepada perilaku yang tidak sehat sebagai upaya untuk lebih dekat dengan gambaran ideal yang diinginkan. Selain itu, ketidakpuasan citra tubuh merupakan faktor risiko dalam memprediksi depresi, gangguan makan, dan rendah diri (Thompson, Heinberg, Altabe, & Stacey, 1999; Wertheim, Koerner, & Paxton, 2001).

Ketidakpuasan citra tubuh mengindikasikan hal yang negatif. Apabila ketidakpuasan tersebut berlangsung parah dapat membuat seseorang tidak dapat melakukan kegiatan sosial ataupun pekerjaan sehari-hari (Thompson, Heinberg, Altabe, & Stacey, 1999). Orang yang selalu merasa tidak puas terhadap tubuh dan penampilan mereka sendiri secara individu maupun sosial mereka tidak dapat berfungsi secara normal.

(31)

menjadi gaya hidup dapat berguna dalam waktu jangka panjang (Thompson, Heinberg, Altabe, & Stacey, 1999).

3. Faktor yang Mempengaruhi Ketidakpuasan Citra Tubuh

Faktor yang mempengaruhi ketidakpuasan citra tubuh dikelompokkan menjadi :

a. Faktor Biologis i. Jenis Kelamin

Pada umumnya, perempuan terutama pada usia remaja memiliki citra tubuh yang buruk dari pada laki-laki (Graber, Petersen, & Brooks-Gunn, 1996). Pada usia remaja, perempuan jauh tidak puas pada tubuhnya sehingga kemungkinan untuk melakukan perilaku berisiko yang berhubungan dengan tubuh menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Misalnya, penelitian yang dilakukan Dunn (1992) menemukan bahwa 11 milyar perempuan di Amerika mengalami gangguan makan (anorexia nervosa dan bulimia nervosa) dan hanya 1 milyar laki-laki yang mengalami gangguan tersebut. Hal tersebut disebabkan perempuan mengalami kekhawatiran yang lebih besar mengenai berat badan dan penampilan (Thompson, 1996).

(32)

individu dalam tingkat perkembangan mereka dapat meningkatkan sensitivitas pada masalah tubuh. Dalam gender, individu pun memulai pubertas pada waktu yang berbeda. Perempuan biasanya memulai perkembangan ini 1 atau 2 tahun lebih cepat daripada laki-laki (Papalia, Olds, & Feldman, 2009). Pada usia remaja, tubuh remaja perempuan lebih berlemak daripada remaja laki-laki. Selama masa pubertas, lemak tubuh remaja laki-laki menurun dari sekitar 18-19 % menjadi 11 % dari bobot tubuh. Sementara pada remaja perempuan, justru meningkat dari sekitar 21 % menjadi sekitar 26-27 % (Sinclair dalam Seifert & Hoffnung, 1987). Hal ini menyebabkan ketidakpuasan pada remaja perempuan dengan tubuh mereka.

(33)

ii. Pubertas dan Waktu Pematangan

Ketidakpuasaan remaja pada tubuhnya meningkat pada awal hingga pertengahan usia remaja (Papalia, Olds, & Feldman, 2009; Santrock, 2003). Hal ini disebabkan remaja mengalami pubertas yang juga menjadikan perubahan pada tubuh remaja. Namun, untuk sebagian remaja perasaan negatif tentang tubuh mereka menghilang setelah masa pubertas berakhir dan akan terus meningkat setelah satu dekade (Graber, Petersen, & Brooks-Gunn, 1996).

(34)

mendukung penelitian sebelumnya yaitu perempuan dengan keterlambatan pematangan lebih sedikit mengalami ketidakpuasan citra tubuh, gangguan makan, dari pada perempuan yang mengalami pematangan pada waktunya atau lebih cepat (Brooks-Gunn & Warren, 1985). Hal ini menjelaskan bahwa anak-anak perempuan yang dewasa lebih cepat memiliki reaksi yang lebih negatif terhadap tubuhnya dibandingankan dengan anak perempuan yang dewasa lebih lambat atau di usia rata-rata.

Sebaliknya, laki-laki yang dewasa lebih awal cenderung memiliki perasaan yang positif tentang tubuh mereka. Mereka lebih tinggi dan memperoleh masa otot. Selama pubertas, laki-laki dengan dewasa yg lebih awal bergerak lebih dekat pada budaya ideal (Graber, Petersen, and Brooks-Gun, 1996).

iii. Massa Tubuh

(35)

yang ideal memiliki dampak yang kuat pada pengalaman ketidakpuasan citra tubuh.

(36)

b. Faktor Sosial Budaya i. Etnis Budaya

Perempuan kulit putih lebih suka dibandingkan dengan perempuan dari ras dan latar belakang etnis lain untuk mengevaluasi dirinya dan membandingkan dirinya terutama dengan tubuh kurus ideal. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh utama dari model kulit putih dan citra pada media (Graber & Brooks-Gunn, 2001). Dari wawancara yang dilakukan terhadap perempuan American African diketahui bahwa mereka kurang sensitif dibandingkan dengan perempuan kulit putih tentang berat badan mereka. Para perempuan tersebut cenderung melihat sisi positif ketika berpikir tentang tubuh mereka (Parker et al. dalam Graber & Brooks-Gunn, 2001).

(37)

ketidakpuasan citra tubuh yang lebih rendah jika dibandingkan dengan individu Kaukasia (Thompson, 1996).

ii. Media Massa

Media massa memiliki peran yang kuat dalam membentuk standar tubuh ideal dan secara spesifik berperan dalam mengkomunikasikan hal tersebut pada masyarakat (Thompson, 1996). Citra yang muncul di media massa menjadi objek yang menarik untuk diamati dan dijadikan standar sosial mengenai kriteria daya tarik. Informasi yang disampaikan media massa ikut memberi kontribusi terhadap pandangan dan nilai-nilai mengenai tubuh yang berkembang di masyarakat.

(38)

(1996) menekankan bahwa televisi dan majalah memiliki efek negatif karena model dalam media ini dilihat sebagai representasi yang sebenarnya yaitu sebagai wanita dalam kehidupan sehari-hari, bukan sebagai gambar yang sudah dimanipulasi dan dikembangkan secara hati-hati. Wanita bisa gagal untuk melihat bahwa model dalam televisi atau media cetak menghabiskan banyak waktu dengan make-up dan perawatan rambut untuk sesi pemotretan dan juga berdiet secara ketat dengan program olah raga yang juga ketat, dan melihat model ini sebagai figur yang nyata dan pantas untuk dijadikan perbandingan. Hal inilah yang seringkali menimbulkan ketidakpuasan citra tubuh karena seseorang merasa jauh dari tubuh ideal yang muncul di media.

iii. Keluarga

(39)

langsung orang tua kepada anak mereka tentang berat badan anak berhubungan signifikan dengan harga tubuh.

Selain itu, ditemukan bahwa remaja dengan BMI yang tinggi merasa sangat kuat bahwa ibu mereka mendukung mereka untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan massa otot. Remaja perempuan lebih banyak daripada remaja laki-laki merasa bahwa ibu mereka mendorong mereka melakukan strategi untuk mengubah tubuh mereka semakin dekat dengan ideal sosial (McCabe & Ricciardelli, 2001).

iv. Teman Sebaya

Teman sebaya memainkan peran yang penting dalam kehidupan seorang remaja, termasuk dalam perkembangan citra tubuh. Diketahui bahwa remaja yang memiliki riwayat pernah diganggu dan diejek oleh teman sebaya tentang tubuh dan penampilan diketahui juga memiliki gangguan makan (Thompson, 1996). Komentar negatif tentang tubuh dan penampilan dari teman sebaya diidentifikasi menjadi penyebab munculnya keinginan untuk melakukan penurunan berat badan yang dapat mengarah pada gangguan makan seperti Anorexsia NervosadanBulimia Nervosa.

(40)

dan perbandingan sosial dengan teman sebaya tentang penampilan dan massa tubuh adalah prediktor signifikan dari perubahan ketidakpuasan citra tubuh pada remaja perempuan. Percakapan dengan teman sebaya tentang penampilan membuat seseorang lebih memperhatikan dan menafsirkan informasi yang terkait dengan masalah penampilan.

Di samping hal tersebut, gambaran remaja pada dirinya dipengaruhi juga oleh bagaimana bagaimana penilaian teman sebaya terhadap mereka. Ruff dalam Jersild (1965) menemukan bahwa agar diterima oleh kelompok teman sebaya, seorang remaja harus tidak jauh berbeda dari teman-temannya pada penampilan fisik. Jika seseorang dinilai berbeda dengan teman yang lain kemungkinan dia akan dihindari oleh yang lain atau menerima panggilan hinaan. Sebagian besar remaja mengetahui jika mereka mengunakan model pakaian yang sama dengan pakaian anggota kelompok lain yang sedang populer, maka kesempatan baginya untuk diterima oleh kelompok menjadi lebih besar.

(41)

remaja perempuan daripada remaja laki-laki. Teman sebaya dirasa menekan para remaja perempuan untuk berubah semakin dekat dengan ideal sosial, akan tetapi tekanan tersebut tidak tertalu tampak pada remaja lak-laki yaitu untuk berubah menjadi lebih berotot dan meningkatkan ukuran tubuh.

v. Kebudayaan

Norma budaya memiliki peran yang cukup besar dalam mempengaruhi perkembangan sikap dan tingkah laku yang berhubungan dengan diri dan citra tubuh. Bahkan sebagian besar peneliti setuju bahwa faktor terkuat dari berkembangnya ketidakpuasan citra tubuh di masyarakat barat adalah faktor sosial budaya (Thompson, 1996). Konformitas dengan tubuh ideal sedikit banyaknya dipengaruhi oleh standar budaya setempat atau penampilan yang seperti apa yang dinilai pantas dan yang tidak pantas (Arkoff, 1975). Masyarakat memiliki penilaian mengenai apa yang baik dan apa yang tidak, tidak terkecuali dalam masalah kecantikan.

(42)

dibenci dan ditakuti. Budaya yang dianut adalah bentuk ideal wanita adalah kurus.

Teori feminis menjelaskan bahwa kebanyakan wanita terlalu mengidentifikasi dirinya dengan tubuhnya. Hal tersebut menyebabkan mereka mengikuti sosok ideal yang ada di masyarakat. Mereka akan dianggap menarik jika tubuh mereka menarik sesuai dengan budaya yang ada (Striegel-Moore & Marcus dalam Thompon, 1996).

vi. Orientasi Seksual

Wanita heteroseks dan pria gay memiliki risiko lebih besar untuk mengalami ketidakpuasaan citra tubuh (Brand, Rothblum, & Solomon dalam Thompson, 1996). Mereka memiliki standar mengenai tubuh ideal dan fokus pada berat badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria heteroseks dan lesbian.

(43)

4. Pengukuran Citra Tubuh

(44)

5. Citra Tubuh pada Remaja Awal

Pesatnya pertumbuhan fisik pada masa awal remaja menimbulkan perubahan pada aspek psikologis seorang remaja (Santrock, 2007). Santrock mengemukakan bahwa pada masa pubertas, remaja menjadi lebih memperhatikan tubuh mereka dan membangun citranya sendiri mengenai bagaimana tubuh mereka. Hal ini berarti bahwa pada masa tersebut, remaja mengalami peningkatan kesadaran akan tubuhnya.

(45)

akhir masa remaja (Hamburg, 1974; Wright, 1989 dalam Santrock, 2003).

Selain itu, pada umumnya remaja perempuan cenderung tidak bahagia dengan tubuh dan penampilan mereka dibandingkan dengan remaja laki-laki, (Roseblum & Lewis dalam Papalia, Olds, dan Feldman, 2009). Remaja perempuan memiliki lebih banyak citra tubuh yang negatif dibanding dengan remaja putra selama masa puberitas (Brooks-Gunn & Paikoff, 1993; Henderson & Zivian, 1995; Richards, dkk, dalam Santrock, 2003). Ketika bercermin, mereka melihat bahwa tubuhnya lebih gemuk dibandingkan dengan tubuh orang lain. Selain itu, paha yang besar, pantat yang besar, dan perut yang buncit membuat para remaja perempuan merasa stres. Hal ini dikarenakan lemak tubuh yang bertambah pada remaja perempuan, sedangkan pada remaja putra menjadi lebih puas karena massa otot mereka yang meningkat (Santrock, 2003; Papalia, Olds, dan Feldman, 2009).

B. Teman Sebaya

1. Pengertian Teman Sebaya

(46)

sama. Selain secara umum berusia sama, teman sebaya adalah anak-anak atau remaja yang memiliki minat yang sama juga (Claeke dan Koch, 1983). Dari kesamaan yang ada itu, terutama remaja merasa bahwa teman sebaya merupakan sumber penting bagi dukungan emosional selama masa peralihan yang rumit dan juga tekanan yang mereka alami. Hal ini menjadikan keterlibatan remaja dengan teman sebaya meningkat (Papalia, Olds, & Feldman, 2009).

(47)

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa teman sebaya adalah individu yang memiliki kesaman ciri-ciri atau fungsi dan juga merupakan sumber penting bagi dukungan emosional terutama pada remaja yang sedang mengalami masa peralihan yang rumit.

2. Pengaruh Teman Sebaya

Teman sebaya mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan remaja (Monk, dkk, 2006). Peran teman sebaya paling kuat pada masa remaja terutama di saat masa remaja awal dan biasanya memuncak di usia 12-13 tahun. Setelah itu, peran tersebut akan menurun selama masa remaja pertengahan dan akhir (Papalia, Olds, dan Feldman, 2009). Pada masa tersebut, interaksi dengan teman sebaya meningkat. Hal ini terlihat dari sebagian besar waktu remaja dihabiskan bersama dengan teman sebayanya. Selama satu minggu, remaja baik laki-laki maupun perempuan menghabiskan waktu 2 kali lebih banyak dengan teman sebaya dari pada dengan orang tua. (Condry, Asimon, & Bronffenbrenner dalam Santrock, 2003). Remaja mulai memasuki lingkungan pergaulan sosial yang lebih luas dan di dalam lingkungan yang baru inilah para remaja membentuk kelompok teman sebaya.

(48)

tempat untuk melakukan eksperimen, serta saran untuk mencapai otonomi dan kemandirian dari orang tua. Teman sebaya merupakan sumber penting bagi dukungan emosional selama masa peralihan yang rumit dan juga tekanan yang mereka alami (Papalia, Olds, & Feldman, 2009). Selain itu, teman sebaya adalah tempat untuk menyediakan berbagai informasi mengenai dunia di luar keluarga (Santrock, 2003). Teman sebaya tidak hanya memberikan kebutuhan secara emosional, tetapi juga dapat melakukan kemampuan sosial. Hartup dalam Desmita (2009) mencatat bahwa pengaruh teman sebaya memberikan fungsi-fungsi sosial dan psikologis yang penting bagi remaja.

Seorang remaja akan merasa lebih bebas untuk mencoba ide-ide dan perilaku baru ketika berinteraksi dengan individu lain yang memiliki status yang sama. Hal ini mengakibatkan remaja merasa lebih nyaman berada bersama dengan teman sebayanya daripada berada berasa dengan orang dewasa. Remaja merasa lebih dimengerti oleh kelompok teman sebayanya sebab mereka mengalami hal yang sama. Oleh sebab itu, remaja akan merasa aman dan bahagia bila bisa menjadi bagian dalam suatu kelompok tertentu (Santrock, 2003).

(49)

terhadap tidak adanya penerimaan sosial (Soekadji, 1986). Tidak ada pengalaman yang lebih menyakitkan bagi seorang remaja daripada ditolak dan diasingkan oleh kelompok teman sebaya. Bagi remaja, dikucilkan oleh teman sebaya akan menimbulakan stres, frustasi, dan kesedihan (Santrock, 2003). Selain itu, menurut Santrock, ditolak atau tidak diperhatikan oleh teman sebaya dapat mengakibatkan remaja merasa kesepian, rendah diri, dan timbul rasa permusuhan. Hal tersebut berhubungan dengan kesehatan mental individu dan masalah kriminal. Oleh sebab itu, beberapa remaja akan melakukan apapun agar dapat dimasukkan sebagai anggota kelompok.

(50)

diantara anggota kelompok sebayanya. Mereka saling mempengaruhi sikap, cara berbicara, minat, penampilan, dan perilaku mereka (Grinder, 1987; Hurlock, 1980).

Semakin dekat remaja dengan teman kelompoknya akan semakin besar pengaruhnya terhadap kehidupan remaja itu sendiri. Pengaruh teman sebaya dapat menjadi positif adan negatif. Dampak positif dari pengaruh teman sebaya adalah dapat membentuk pribadi remaja menjadi lebih mandiri dan berkembang. Pada penelitian tentang remaja menunjukkan bahwa interaksi yang positif dengan teman sebaya berhubungan dengan kesehatan mental yang positif pada usia pertengahan (Santrock, 2003).

(51)

3. Pengaruh Teman Sebaya pada Kekhawatiran terhadap Tubuh dan

Makan

Remaja diketahui saling mempengaruhi sikap, cara berbicara, minat, penampilan, dan perilaku mereka (Grinder, 1987; Hurlock, 1980). Begitu juga dalam hal yang berkaitan dengan kekhawatiran terhadap tubuh dan makan. Pengaruh tersebut terdiri dari :

a. Messages, berupa pesan negatif dari teman sebaya tentang tubuh atau kebiasaan makan. Ruff dalam Jersild (1965) menilai bahwa agar diterima oleh kelompok teman sebaya, seorang remaja harus tidak jauh berbeda dari teman-temannya pada penampilan fisik. Jika seseorang berbeda dengan teman yang lain kemungkinan dia akan dihindari oleh yang lain atau menerima panggilan hinaan. Diketahui bahwa remaja yang memiliki riwayat pernah mendapat komentar negatif dari teman sebaya tentang tubuh dan penampilan diketahui juga memiliki gangguan makan (Thompson, 1996) dan menjadi penyebab munculnya keinginan untuk melakukan penurunan berat badan yang dapat mengarah pada gangguan makan sepertiAnorexsia NervosadanBulimia Nervosa.

(52)

ketidakpuasan citra tubuh (Jones, 2004; Jones, Vigfusdottir, & Lee, 2004). Percakapan dan perbandingan sosial tersebut mengakibatkan remaja mengevaluasi penampilan mereka dan membandingkan apakah tubuh mereka sudah sesuai dengan standar yang berkembang dalam masyarakat atau budaya.

c. Likability, merupakan tingkat kepercayaan bahwa menjadi kurus meningkatkan likability dengan teman sebaya. Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa remaja merasa akan lebih diterima jika mereka memiliki tubuh yang ideal (Paxton dkk, 1991). Oleh sebab itu, remaja akan berusaha untuk lebih dekat dengan tubuh yang ideal agar lebih disukuai oleh teman sebayanya. Remaja akan melakukan apapun untuk diterima oleh teman sebaya.

C. REMAJA

1. Pengertian dan Batasan Remaja

(53)

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia, Olds, & Feldman 2001). Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Santrock (2003) bahwa remaja merupakan masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan fisik, kognitif, dan sosio-emosional.

Banyak batasan usia yang diungkapkan oleh para ahli, di antaranya adalah Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Monks, dkk. (2006) yang membagi fase-fase masa remaja menjadi tiga tahap yang sama yaitu : remaja awal (12 sampai 15 tahun), remaja tengah (15 sampai 18 tahun), dan remaja akhir (18 sampai 21 tahun).

(54)

(2006) bahwa batasan usia remaja awal adalah 12 sampai 15 tahun, batasan usia remaja tengah adalah 15 sampai 18 tahun, dan batasan usia remaja akhir adalah 18 sampai 21 tahun.

2. Ciri Khas Perkembangan pada Masa Remaja Awal

a. Perkembangan Fisik

(55)

dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. b. Perkembangan Kognitif

Pada masa remaja awal, perubahan pada otak menyebabkan struktur otak semakin sempurna sehingga meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia, Olds, dan Feldman, 2001). Interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget dalam Papalia & Olds (2001) menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasional formal.

(56)

memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya. Akan tetapi, remaja awal sering membantah secara terang-terangan pendapat orang lain yang dipikirnya tidak masuk akal tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Hal ini dikarenakan kuatnya egosentris pada masa tersebut (Mappiare, 1994).

c. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial pada masa remaja awal lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua. Peran teman sebaya paling kuat pada masa remaja terutama di saat masa remaja awal dan biasanya memuncak di usia 12-13 tahun. (Papalia, Olds, dan Feldman, 2009). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler, dan bermain dengan teman. Dengan demikian, pada masa tersebut peran kelompok teman sebaya adalah besar.

(57)

kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Conger, 1991; Papalia, Olds, & Feldman, 2001). Kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991). Kondisi ini membuat remaja sangat rentan terhadap pengaruh teman dalam hal minat, sikap, dan perilaku. Di samping itu, sikap solider, simpati, dan merasakan perasaan orang lain mulai berkembang dalam usia remaja awal (Mappiare, 1994). Remaja ingin diterima, diperhatikan dan dicintai oleh kelompoknya. Perasaan yang sangat ditakuti oleh remaja adalah takut dikucilkan atau tersingkir dari kelompoknya.

D. Dinamika Hubungan Antara Pengaruh Teman Sebaya dan

Ketidakpuasan Citra Tubuh pada Remaja Awal

(58)

sebaya dari pada dengan orang tua (Condry, Asimon, & Bronffenbrenner dalam Santrock, 2003). Remaja awal yang sedang mengalami berbagai macam perubahan termasuk perubahan fisik yang cepat, merasa lebih nyaman dengan teman sebaya yang juga mengalami perubahan fisik serupa. Hal tersebut membuat remaja dekat dengan teman sebaya. Oleh sebab itu, pada masa ini interaksi dengan teman sebaya juga meningkat.

(59)

mencocokan dengan standar ‘seharusnya’ yang berkembang dalam suatu masyarakat atau budaya (Thompson, 1996).

Dalam suatu kelompok teman sebaya memiliki nilai-nilai unik dan juga memiliki standar perilaku (Berk dalam Ruhidawati, 2005). Di samping itu, dalam kelompok teman sebaya juga terdapat norma kelompok. Norma merupakan aturan yang berlaku pada seluruh anggota kelompok (Santrock, 2003). Remaja belajar menyesuaikan diri dengan norma kelompoknya. Remaja berusaha untuk mengadopsi keyakinan yang dirasakan dan perilaku yang dipraktekkan oleh teman sebaya mereka. Remaja biasanyanya lebih mengutamakan norma-norma yang ada di dalam kelompoknya daripada norma keluarga (Jersild, 1965). Hal ini dikarenakan pada sebagian besar remaja bagaimana mereka dipandang oleh teman sebaya merupakan aspek penting dalam kehidupan mereka.

(60)

melakukan penurunan berat badan yang dapat mengarah pada gangguan makan.

Penerimaan teman sebaya merupakan salah satu perhatian utama bagi remaja. Remaja ingin diterima, diperhatikan, dan dicintai oleh kelompoknya. Perasaan yang sangat ditakuti oleh remaja adalah takut dikucilkan atau tersingkir dari kelompoknya (Mappiare, 1992). Oleh sebab itu, remaja akan melakukan hal apa saja agar diterima oleh kelompok. Remaja merasa akan lebih diterima jika mereka memiliki tubuh yang ideal (Paxton dkk, 1991). Hal ini menyebabkan remaja yang merasa tidak memiliki tubuh yang ideal akan mengalami ketidakpuasan terhadap tubuh. Oleh sebab itu, remaja akan berusaha untuk lebih dekat dengan tubuh yang ideal agar dapat diterima oleh kelompok teman sebaya. Hal ini berarti bahwa teman sebaya merupakan sumber yang dirasa dapat menekan para remaja terutama untuk remaja perempuan untuk berubah semakin dekat dengan ideal sosial. Teman sebaya mendukung seorang remaja untuk menurunkan berat badan bagi remaja perempuan dan meningkatkan massa otot bagi remaja laki-laki (McCabe & Ricciardelli, 2001).

(61)

tidak sesuai dengan konsep diri ideal yang pada pada kelompok teman sebayanya.

E. Hipotesis

(62)

46 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian pada penelitian ini adalah penelitian korelasi dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian korelasi merupakan penelitian yang melihat hubungan antar variabel. Dua atau lebih variabel diteliti untuk melihat hubungan yang terjadi di antara mereka tanpa coba untuk merubah atau mengadakan perlakuan terhadap variabel-variabel tersebut (Kountur, 2003). Adanya hubungan antara dua variabel atau lebih, tidak berarti ada pengaruh atau hubungan sebab - akibat dari suatu variabel terhadap variabel lainnya (Sukmadinata, 2011).

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang berati bahwa data atau informasi yang dikumpulkan diwujudkan dalam bentuk angka yang kemudian diolah dengan menggunakan metoda statistik (Azwar, 2009). Selain itu, pendekatan kuantitatif dilakukan dalam rangka pengujian hipotesis.

B. Variabel Penelitian

(63)

,

C. Definisi Operasional

1. Ketidakpuasan Citra tubuh

Ketidakpuasan citra tubuh merupakan kesenjangan antara bentuk tubuh ideal yang didasarkan budaya aktual dengan keadaan tubuh yang dimiliki (Asri & Setiasih, 2004). Ketidakpuasan Citra tubuh dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Contour Drawing Rating Scale (Thompson & Gray, 1995). Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek dalam skala ini menunjukkan semakin besar ketidakpuasan tubuh yang dimiliki subjek. Demikian sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh subjek dalam skala ini menunjukkan semakin kecil ketidakpuasan tubuh yang dimiliki subjek.

2. Pengaruh Teman Sebaya

Pengaruh teman sebaya dalam penelitian ini merupakan pengaruh teman sebaya pada kekhawatiran terhadap tubuh dan makan yang diukur dengan mengunakan skala pengaruh teman sebaya yang diadaptasi dariInventory of Peer Influence on Eating Concerns (I-PIEC) (Oliver & Thelen, 1996), yang berdasarkan pada 3constructsyaitu : a. Messages

b. Interactions c. Likability

(64)

,

sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh subjek dalam skala ini menunjukkan semakin kecil pengaruh teman sebaya.

D. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah remaja awal dengan batasan usia 12-15 tahun (Monks, dkk., 2006). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik convenience sampling, dimana subjek dipilih karena kemudahan untuk diakses. Teknik ini umum digunakan dalam suatu penelitian karena cepat,

murah, dan mudah digunakan karena subjek telah tersedia (Castillo, 2009). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sekolah untuk memperoleh subjek. Sekolah

yang digunakan merupakan dua sekolah swasta yang ada di Yogyakarta. Peneliti menggunakan kelas VI, VII, dan IX. Hal ini disebabkan pada kelas tersebut sebagian besar remaja yang berusia antara 12-15 tahun. Sekolah yang peneliti pilih merupakan sekolah umum. Oleh sebab itu, subjek dalam penelitian ini tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu, etnis tertentu, golongan ekonomi tertentu maupun jurusan tertentu.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

(65)

,

Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua macam, yaitu :

1. Contour Drawing Rating Scale

Skala berupa gambar bentuk tubuh sembilan perempuan (bagian atas) dan sembilan laki-laki (bagian bawah), yang diurutkan dari tubuh yang paling kurus hingga paling gemuk dan disajikan dengan urutan nomor 1 sampai 9. Subjek diminta untuk memilih figur mana yang sesuai dengan bentuk tubuh mereka dan figur mana yang menurut mereka ideal. Subjek diminta memberikan 2 buah tanda pada figur yang sesuai dengan jenis kelamin mereka. Pertama-tama, subjek memberikan tanda lingkaran pada nomor yang menurut mereka paling sesuai dengan bentuk tubuh mereka (sosok tubuh nyata). Setelah itu, memberikan tanda silang pada nomor gambar tubuh yang mereka ingini (sosok tubuh ideal). Selisih antara nomor pada figur sosok tubuh nyata dan sosok tubuh ideal kemudian dihitung dan memberikan skor ketidakpuasan citra tubuh.

Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek dalam skala ini menunjukkan semakin besar ketidakpuasan tubuh yang dimiliki subjek. Demikian sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh subjek dalam skala ini menunjukkan semakin kecil ketidakpuasan tubuh yang dimiliki subjek.

(66)

,

silhouettes of incremental sizesyang mudah untuk dilakukan dan terbukti valid dan reliabel (Thompson & Gray, 1995).

2. Skala Pengaruh Teman Sebaya

Skala pengaruh teman sebaya yang digunakan adalah skala yang diadaptasi dari Inventory of Peer Influence on Eating Concerns (I-PIEC) yang disusun Oliver dan Thelen (1996), yang merupakan pengukuran berupa laporan diri tentang pengaruh teman sebaya pada pada concern tubuh dan makan. Item-item dalam alat ukur ini berdasarkan pada 3constructsyaitu :

a. Messages, menunjukkan frekuensi mendapatkan pesan negatif dari teman laki-laki dan perempuan tentang tubuh atau kebiasaan makan. b. Interactions, menunjukkan frekuensi berinteraksi (misalnya bicara,

olahraga, membandingkan tubuh) dengan teman laki-laki dan perempuan tentang makan dan masalah tubuh, dibagi menjadi 2 yaitu :interactions girlsdaninteractions boys.

c. Likability, menunjukkan tingkat kepercayaan bahwa menjadi kurus meningkatkan likability dengan teman laki-laki dan perempuan, dibagi menjadi 2 yaitu :likability girlsdanlikability boys

(67)

,

1. Menerjemahkan skala dari bahasa asli (Bahasa Inggris) ke dalam bahasa Indonesia. Proses menerjemahkan ini dibantu oleh tenaga yang ahli dalam bidangnya. Hasil terjemahan ini kemudian didiskusikan dengan dosen pembimbing sebagai professional judgement sampai disepakati bentuk terjemahan yang paling sesuai dengan maksud aslinya.

2. Melihat kesesuaian bahasa dengan konteks tempat subjek berada dan kesesuaian isi dengan kondisi subjek sebagai remaja awal. Hal ini dilakukan dengan melakukan survei awal. Survei awal yang dilakukan dengan menyebarkan angket berupa 3 buah pertanyaan dengan jawaban ya (Y) dan tidak (T). Angket tersebut diisi setelah responden (termasuk dalam usia remaja awal) mencoba untuk mengerjakan skala pengaruh teman sebaya. Responden berjumlah 20 orang.

a. Kesesuaian bahasa dengan konteks tempat subjek berada.

- Apakah kamu merasa kesulitan untuk memahami kalimat-kalimat yang ada pada skala tersebut? Jika iya, pada no. berapa? 4 orang menjawab Y (pada no. 28, 9, 13, 7) dan 16 orang menjawab T.

b. Kesesuaian isi dengan kondisi subjek sebagai remaja awal. - Apakah menurutmu teman-temanmu mengalami hal-hal

(68)

,

- Apakah kamu mengalami hal-hal yang disebutkan pada skala? 9 orang menjawab Y dan 11 orang menjawab T Dari petanyaan pertama diketahui sebagian responden tidak mengalami kesulitan dalam memahami kalimat-kalimat yang ada pada skala. Akan tetapi terdapat 4 orang yang mengalami kesulitan yaitu pada item no. 28, 9, 13, 7. Oleh karena itu, peneliti melihat kembali kalimat pada item-item tersebut dan menyusun ulang kalimat agar lebih mudah untuk dipahami tanpa mengubah arti yang sebenarnya. Kemudian dari jawaban pada pertanyaan no. 2 dan 3, peneliti menyimpulkan bahwa skala tersebut masih mempresentasikan dan masih cocok digunakan bagi usia remaja awal. Hal tersebut memang tidak sepenuhnya karena terdapat 9 orang yang merasa tidak mengalami hal-hal yang disebutkan pada skala.

(69)

,

Tabel 1BlueprintSkala Pengaruh Teman Sebaya

Aspek Item Total

F. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpul Data

1. Validitas Alat Ukur

(70)

,

1. Contour Drawing Rating Scale

Validitas pada skala ini telah ditetapkan dengan menggunakan validitas konkruen. Validitas konkruen merupakan validitas yang melihat sejauh mana kesesuaian antara hasil ukur instrumen tersebut dengan hasil ukur instrumen lain yang sudah teruji kualitasnya atau dengan ukuran-ukuran yang dianggap dapat menggambarkan aspek yang diukur tersebut secara reliabel (Azwar, 2008). Validitas ini merupakan salah satu jenis validitas kriteria Apabila skor tes (dari intrumen yang sedang diukur) dan skor kriteria (dari instrumen lain) diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antera kedua skor tersebut merupakan koefisien validitas konkruen.

Validitas Contour Drawing Rating Scale diperoleh dengan alat ukur lain (Thompson & Gray, 1995), yaitu :

1. Individual’s reported weight, diperoleh hasil : r = 0,71, p < 0,0005.

2. Self ratings and quetelet’s body mass index (BMI), diperoleh hasil : r = 0, 59, p < 0,0005.

2. Skala Pengaruh Teman Sebaya

(71)

,

(Azwar, 2008). Atau dengan kata lain, validitas konvergen terjadi ketika skor yang dihasilkan oleh dua buah instrumen yang mengukur konsep yang sama memiliki korelasi yang tinggi. Diketahui bahwa skala ini memiliki interkorelasi yang cukup tinggi sehingga memenuhi validitas konvergen (Oliver & Thelen, 1996).

Selain validitas konvergen, peneliti juga menggunakan validitas isi. Validitas isi merupakan validitas yang didapat melalui pengujian terhadap isi tes, yaitu dengan melihat sejauh mana item-item dalam alat ukur mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur oleh alat ukur tersebut (Azwar, 2008). Validitas isi ini dilakukan melalui pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau melalui professional judgement, dimana dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing. Oleh sebab itu, pengukuran validitas isi pada skala yang digunakan peneliti tidak melibatkan perhitungan statistik (Azwar, 2008). Setelah skala ini disusun kembali melalui proses adaptasi maka selanjutnya dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Kemudian skala dikoreksi oleh dosen pembimbng dan telah dilakukan berbagai perbaikan, maka uji coba skala dapat dilakukan.

2. Reliabilitas Alat Ukur

(72)

,

menunjukkan skor yang relatif sama bila sejumlah orang : a) dites pada dua kesempatang yang berbeda menggunakan alat tes yang sama, b) dites dengan dua versi berbeda dari tes yang sama, dan c) dites dengan kelompok-kelompok aitem berlainan dari tes yang sama (Supratiknya, 1998).

Koefisien reliabilitas (rxx) yang berkisar antara 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya, koefisien reliabilitas yang semakin rendah mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2008). Kriteria pengujian instrumen dikatakan reliabel apabila r hitung lebih besar dari r tabel pada taraf signifikasi 5%

1. Contour Drawing Rating Scale

(73)

,

2. Skala Pengaruh Teman Sebaya

Dari penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa koefisien reliabilitas sebesar 0,80 (Oliver dan Thelen, 1996). Angka tersebut mendekati 1,00 yang berarti bahwa skala tersebut reliabel untuk digunakan dalam penelitian.

G. Metode Analisis Data

Pada penelitian ini data akan dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson melalui bantuan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 16.0. Akan tetapi untuk memperoleh kesimpulan yang tidak menyimpang dari tujuan penelitian, maka sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji asumsi data penelitian.

1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

(74)

,

b. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk melihat pola hubungan antara variabel bebas (pengaruh teman sebaya) dan variabel tergantung (citra tubuh) merupakan garis linear atau tidak. Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan test of linearity dalam program SPSS for windows versi 16. Kedua variabel dikatakan berhubungan secara linear jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas kurang dari 0,05 (p < 0,05).

2. Uji Hipotesis

(75)

59

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksananan Penelitian

Pelaksanaan penelitian dilakukan di dua sekolah swasta di

Yogyakarta. Jumlah keseluruhan subjek penelitian adalah 205 siswa kelas

VII, VIII, dan IX. Penggunaan kelas VII, VIII, dan IX disebabkan pada kelas

tersebut umumnya siswa berada pada rentang usia 12-15 tahun sehingga

dapat mewakili subjek penelitian.

Penelitian dilakukan setelah surat ijin penelitian dari Fakultas

Psikologi Universitas Sanata Dharma dengan nomor

97a/D/KP/Psi/USD/VI/2012, diterima oleh Kepala Sekolah pada kedua

sekolah. Setelah disetujui oleh masing-masing Kepala Sekolah, peneliti

mendapatkan izin dengan adanya surat keterangan telah melakukan penelitian

dari sekolah pertama dengan nomor 480/I.13.1/SMP.B.3/H/2011 dan dari

sekolah kedua dengan nomor 3998/SMP PL1/XI/2011. Penelitian

dilaksanakan pada tanggal 14 dan 24 November 2011.

Pengambilan data penelitian pada masing-masing sekolah

dilakukan dengan membagikan skala berupa Contour Drawing Rating Scale

dan Skala Pengaruh Teman Sebaya kepada subjek penelitian. Pengambilan

data ini dilakukan secara klasikal dengan menggunakan jam pelajaran

bimbingan konseling setelah mendapatkan ijin dari guru yang mengampu

(76)

Sebelum siswa mengerjakan skala yang diberikan, peneliti

terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan

diadakan penelitian tersebut. Peneliti meminta siswa menjadi sukarelawan

untuk mengisi skala yang telah disediakan. Setelah itu peneliti menjelaskan

cara pengisian skala penelitian. Selama subjek mengerjakan, peneliti tetap

berada dalam ruang kelas. Setelah selesai, subjek mengumpulkan skala

kembali pada peneliti.

B. Karakteristik Subjek Penelitian

Dari 205 subjek penelitian diperoleh gambaran subjek sebagai

berikut :

1. Usia Subjek Penelitian

Tabel 2 Deskripsi Usia Subjek

Usia N %

12 tahun 10 4,88

13 tahun 29 14,14

14 tahun 119 58,05

15 tahun 47 22,93

Total 205 orang 100

Berdasarkan data pada tabel 2, maka subjek yang paling

banyak adalah subjek dengan usia 14 tahun berjumlah 119 orang

(58,05%), sedangkan yang paling sedikit adalah subjek dengan usia 12

(77)

2. Jenis Kelamin Subjek Penelitian

Tabel 3 Deskripsi Jenis Kelamin Subjek

Jenis Kelamin N %

Laki-laki 103 50,24

Perempuan 102 49,76

Total 205 orang 100

Berdasarkan data pada tabel 3, diketahui bahwa subjek

berjenis kelamin laki-laki berjumlah 103 orang (50,24%), dan subjek

berjenis kelamin perempuan berjumlah 102 orang (49,76%).

C. Hasil Analisis Data Penelitian

1. Hasil Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Hasil uji normalitas yang dilakukan dapat dilihat pada tabel

berikut ini :

citra tubuh 2,465 0,000 Tidak normal Pengaruh teman

sebaya 0,968 0,306 Normal Pada tabel di atas menunjukkan bahwa dari hasil uji

normalitas pada variabel ketidakpuasan citra tubuh diperoleh nilai Z

(78)

data bersifat tidak normal (p<0,05). Pada variabel pengaruh teman

sebaya diperoleh nilai Z sebesar 0,968 dan taraf signifikansi 0,306.

Hal ini menunjukkan sebaran data bersifat normal (p>0,05).

b. Uji Linearitas

Hasil uji linearitas yang dilakukan dapat dilihat pada

tabel berikut ini : Pada tabel di atas menunjukkan bahwa dari hasil uji

linearitas diperoleh nilai signifikansi = 0. Hal ini berarti bahwa

hubungan antara kedua variabel adalah linear (p < 0,05).

2. Hasil Uji Hipotesis

Uji hipotesis penelitian dilakukan untuk menguji hipotesis

yang telah ditentukan sebelumnya pada bab II dapat diterima atau tidak.

Pengujian hipotesis menggunakan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson tidak dapat digunakan dalam penelitian ini. Hal ini

disebabkan teknik tersebut kurang dapat menggambarkan korelasi bila

Figur

Tabel 1 Blueprint Skala Pengaruh Teman Sebaya

Tabel 1

Blueprint Skala Pengaruh Teman Sebaya p.69
Tabel 2 Deskripsi Usia Subjek

Tabel 2

Deskripsi Usia Subjek p.76
Tabel 3 Deskripsi Jenis Kelamin Subjek

Tabel 3

Deskripsi Jenis Kelamin Subjek p.77
tabel berikut ini :

tabel berikut

ini : p.78
Tabel 6 Hasil Uji Korelasi

Tabel 6

Hasil Uji Korelasi p.79
Tabel 7 Output Group Statistics

Tabel 7

Output Group Statistics p.81
tabel berikut ini :

tabel berikut

ini : p.82
tabel berikut ini :

tabel berikut

ini : p.83
tabel berikut ini :

tabel berikut

ini : p.84
gambar tubuh yang anda inginkan.

gambar tubuh

yang anda inginkan. p.106

Referensi

Memperbarui...