ANALISIS DAN OPTIMASI KINERJA BANK SAMPAH DAN UNIT PENGOLAHAN SAMPAH (UPS) DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN BEJI, DEPOK

20 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ANALISIS DAN OPTIMASI KINERJA BANK SAMPAH DAN UNIT

PENGOLAHAN SAMPAH (UPS) DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI

KELURAHAN BEJI, DEPOK

Vincent, Gabriel S.B. Andari Kristanto, Evi Novita Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

Vincent_yu4@yahoo.co.id

ABSTRAK

Pemerintah Kota Depok mendirikan UPS untuk mengatasi timbulan sampah yang meningkat setiap tahunnya, sedangkan masyarakat Kota Depok mendirikan bank sampah untuk mengatasi permasalahan timbulan sampah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai recycling rate dan recovery rate dari bank sampah dan UPS serta timbulan dan karakteristik sampah di Kelurahan Beji. Selain itu, dilakukan pula peninjauan manfaat ekonomi langsung dari dua model pengelolaan sampah yaitu bank sampah dan UPS serta optimasi kedua model pengelolaan tersebut dengan menggunakan analisis SWOT. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran timbulan dan komposisi sampah yang sesuai dengan SNI 19-3964-1994. Penelitian ini memberikan hasil berupa nilai recycling rate dan recovery rate dari bank sampah yang nilainya sama yaitu 0,17%. Nilai recycling rate dan recovery rate dari UPS adalah sebesar 7,7% dan 53%. Keuntungan dari penjualan material daur ulang oleh bank sampah adalah sebesar Rp.4.055.560,00/tahun, sedangkan perhitungan keuntungan penjualan material daur ulang di UPS tidak dilakukan. Melalui optimasi analisis SWOT diperoleh strategi S-O yang disarankan untuk mengoptimasikan kedua jenis pengolahan sampah tersebut. Pengurangan sampah yang masuk ke TPA dapat dilakukan dengan meningkatkan participation rate dari bank sampah dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan sampah di UPS dengan batas maksimal 30m3/hari juga dapat membantu mengurangi sampah yang masuk ke TPA.

ANALYSIS AND OPTIMIZATION OF WASTE BANK AND MATERIAL

RECOVERY FACILITY (MRF) PERFORMANCE IN SOLID WASTE

MANAGEMENT AT BEJI SUB-DISTRICT, CITY OF DEPOK

ABSTRACT

The City of Depok’s government build MRF to solve the increasing of annual waste generation. Meanwhile, the community is attempting to build a waste bank to reduce their own waste. The objectives of this research are to determine the value of recycling rate and recovery rate of waste banks and MRF as well as waste characteristics in Beji sub-district. Moreover, this research also attempts to observe economic benefits along with the optimalization of the two models through SWOT analysis. The data of this research were collected through the measurement of waste generation and composition in accordance with SNI 19-3964-1994. This research revealed that the value of recycling rate and recovery rate is 0.17% for waste bank, while the value for MRF is 7.7% and 53%. The profit gained through the sale of recycled materials from waste bank is Rp4.055.560,00/year. However, the sale for MRF is not calculated. The S-O strategy gained through SWOT analysis could be used to optimalize both models. Furthermore, the reduction of waste could be achieved by increasing the participation rate of waste bank supported by the socialization to the community. The research showed that the waste processing in MRF with the maximum value of 30m3/day was able to reduce the amount of waste.

(2)

1. Pendahuluan

Kota Depok merupakan salah satu kota di Indonesia yang terletak di provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk sebanyak 1.736.565 jiwa berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 serta menghasilkan timbulan sampah sebanyak 1.650 ton atau 4.950 m3 per hari (DKP Depok, 2012).

Pengelolaan sampah di Kota Depok dilakukan dengan menggunakan UPS (Unit Pengolahan Sampah). Sampah yang masuk ke UPS berasal dari perumahan, perkantoran serta kegiatan komersil di sekitar UPS. Di dalam UPS pengelolaan sampah yang dilakukan berupa pemilahan sampah, pencacahan sampah, pengomposan, pemadatan sampah daur ulang dan sebagainya. Hanya sisa sampah yang tidak dapat dikomposkan atau didaur ulang (residu) dari UPS yang dibawa ke TPA dengan jumlah yang sudah jauh berkurang.

Depok hanya memiliki satu buah TPA (Tempat Pemrosesan Akhir Sampah) yang terletak di Kecamatan Cipayung. TPA Cipayung menampung sampah sebanyak 1.200 m3 sampah per hari atau sekitar 400 ton/hari (DKP Depok, 2012). Luas TPA Cipayung adalah seluas 11,2 hektar dan luas area landfill adalah seluas 5,1 hektar. Kondisi TPA Cipayung saat ini hanya dapat menampung sampah sampai dengan pertengahan 2013.

Cakupan pelayanan persampahan Kota Depok saat ini kurang dari 30% yang dihitung dari jumlah sampah yang masuk ke TPA dan total timbulan sampah yang ditimbulkan Kota Depok sebesar 4.950 m3/1.650 ton (DKP Depok, 2012). Rendahnya tingkat pelayanan ini menyebabkan beberapa komunitas masyarakat berinisiatif untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Beberapa cara yang dilakukan oleh komunitas tersebut seperti/berupa bank sampah, membuat kerajinan dari sampah, menggiatkan pembuatan kompos, melakukan pengumpulan dan pemilahan sampah secara mandiri yang kemudian dijual ke lapak sampah.. Pengelolaan sampah dengan menggunakan bank sampah ini diperkirakan dapat mengurangi sampah yang masuk ke TPA dan dapat melayani daerah atau wilayah yang belum mendapatkan pelayanan persampahan di Kota Depok.

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Beji, Depok. Penelitian ini dilakukan di sana karena di Kelurahan Beji memiliki bank sampah dan UPS sebagai alternative pengolahan sampah di kelurahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui timbulan dan komposisi sampah Kelurahan Beji, dan mengetahui recycling rate dan recovery rate dari bank sampah dan UPS di

(3)

Kelurahan Beji. Penelitian ini juga menghitung manfaat ekonomi dan optimasi dari bank sampah dan UPS.

2. Tinjauan Teoritis

Recycling atau daur ulang adalah kegiatan mengumpulkan dan memilah barang yang tidak terpakai dan mengkonversikannya menjadi bahan baku produksi untuk menghasilkan produk baru (EPA,1994). Recycling rate adalah banyaknya sampah yang dapat didaur-ulang dibagi dengan timbulan sampah yang dihasilkan (EPA,1994). Recycling rate tidak termasuk sampah pada pengomposan, dan sampah yang digunakan untuk menghasilkan energi.

Recovered waste adalah jumlah sampah yang didaur-ulang dan sampah yang dikomposkan, serta sampah yang menjadi bahan baku untuk energi (EPA,1994). Recovery rate

adalah jumlah total sampah yang didaur-ulang dan sampah yang dikomposkan serta sampah yang menjadi bahan baku untuk energi dibagi dengan jumlah timbulan sampah (EPA,1994).

3. Data dan Metedologi Penelitian

Data yang diambil dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer dari penelitian ini adalah data timbulan dan komposisi sampah dari rumah tangga, dan bank sampah. Sedangkan data sekunder dari penelitian ini adalah jumlah penduduk yang terletak di kawasan atau wilayah penelitian, timbulan dan komposisi sampah di UPS

Tabel 2.1 Data Yang Diperlukan Dalam Penelitian

No Data Jenis Data Metode pengambilan Data

1 Jumlah penduduk sekunder Studi literatur

2 Timbulan sampah masyarakat primer Pengukuran langsung

3 Biaya operasional primer Wawancara

4 Harga beli sampah primer Wawancara

5 Harga jual sampah primer Wawancara

6 Jumlah pengangkut sampah primer dan

sekunder Wawancara dan survei instansi 7 Komposisi sampah di bank

sampah primer Pengukuran

8 Komposisi sampah di UPS sekunder Studi literatur

9 Jumlah truk sampah sekunder Survei instansi

(4)

Pengambilan data pada penelitian di rumah tangga didasarkan atas SNI-19-3694-1994 tentang “Metode Pengambilan Dan Pengukuran Contoh Timbulan Dan Komposisi Sampah Perkotaan“ yaitu dengan memanfaatkan rumus 𝑆= √ dan . Dimana. S = Jumlah contoh (jiwa), 𝑑= Koefisien kota, asumsi Kota Depok merupakan kota besar dengan koefisien 1, 𝑥 = Populasi (jiwa), K =Jumlah sampel (KK) dan N = Rata-rata jumlah jiwa per keluarga.

Perhitungan menggunakan rumus ini diperoleh jumlah sampel untuk jumlah penduduk sebanyak ±2400 jiwa/RW adalah 10 KK/RW. Penelitian ini dilakukan terhadap dua RW sehingga jumlah total sampel rumah tangga dalam penelitian ini adalah 20 KK.

Pengambilan data timbulan dan komposisi sampah rumah tangga dilakukan dengan menentukan rumah warga yang dijadikan sampel dalam penelitian, melakukan pengukuran selama 8 hari, mempersiapkan alat yang diperlukan dalam pengukuran yang berupa kantong plastik kresek, sarung tangan, timbangan, pengukuran timbulan sampah sesuai dengan SNI 19-3964-1994, dan memilah sampah berdasarkan kategori sampah primer dan sekunder. Sampah kategori primer yaitu plastik, kertas, organik, logam, kaca, tekstil, dan residu. Sementara itu kategori sekunder merupakan penjabaran dari kategori primer meliputi dupleks, kertas fotokopi, kardus, kertas lainnya, dan kemasan Tetrapack yang merupakan kategori sekunder yang dijabarkan dari sampah kertas. Kemudian terdapat juga terdapat kategori sekunder sampah dari kategori sampah plastik yang meliputi gelas warna, Gelas bening, bodong bening atau botol PET bening, bodong warna/botol PET warna, campuran/emberan (HDPE), plastik bening, plastik kresek, plastik kemasan, karung plastik

Pengambilan data di bank sampah dilakukan dengan mengikuti proses penimbangan dan pengukuran dari sampah/material daur ulang yang disetorkan ke bank sampah. Hasil penimbangan tersebut kemudian dicatat dan diolah datanya.

Data yang diperoleh tersebut kemudian diolah dengan menggunakan metode analisis dan rumus-rumus sebagai berikut

 Persentase komposisi sampah

Persentase komposisi sampah dapat dilakukan dengan cara:

%komposisi sampah =

𝑥

(5)

 Menghitung laju timbulan sampah dalam kg/orang/hari dan m3/orang/hari Kg/orang/hari = (3.2) m3/orang/hari = (3.3)  Recycling rate %Recycling rate = 𝑥 (3.4)  Recovery rate %Recovery rate = 𝑥 (3.5)  Participation Rate %Participation rate = 𝑥 (3.6)  Optimasi pengelolaan sampah menggunakan analisis SWOT dan analisis ekonomi terhadap

model pengelolaan sampah.

- Optimasi kedua model pengelolaan sampah dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT adalah instrumen perencanaan strategis yang klasik. Analisis SWOT adalah sebuah analisis yang digunakan mengevaluasi suatu kegiatan berdasarkan

strength, weakness,opportunity, threat. (Start,2004)

Strength : karakteristik dari suatu kegiatan yang memberikan keuntungan

Weakness: karakteristik dari kegiatan yang membuat organisasi/kegiatan dalam keadaan yang merugikan

Opportunity : kesempatan atau peluang yang ada yang dapat digunakan untuk memanfaatkan performa

Threat : ancaman yang dapat menyebabkan masalah bagi suatu kegiatan.

Dengan meningkatkan strength, dan memanfaatkan opportunity dapat mengatasi

weakness dan threat maka tercapai keadaan optimum suatu model pengelolaaan sampah. Pendekatan analisis SWOT pada penelitian ini dilakukan secara kuantitatif .

(6)

 Menghitung Biaya Operasional

Biaya disini adalah total biaya operasional dari aspek pengangkutan yang diperlukan untuk melaksanakan suatu model pengelolaan sampah.

Biaya operasional = Upah pekerja + (jumlah truk x biaya yang dikeluarkan untuk satu truk) + (ritasi pengangkutan x dengan biaya yang dikeluarkan untuk sekali pengangkutan)

(3.7)  Menghitung manfaat ekonomi

Manfaat ekonomi dihitung dengan meninjau laba yang didapatkan dari masing-masing model pengelolaan sampah.

Laba (Rp) = (Pendapatan yang diperoleh dari penjualan sampah) – (Biaya operasional yang

dikeluarkan) (3.8) B/C = (3.9) NPV = jangkawaktut i cashflow ) 1 (  (3.10)

4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Timbulan Sampah

Pengukuran timbulan sampah dilakukan pada dua RW di Kelurahan Beji yaitu RW 04 dan RW 15. Kedua RW yang dipilih ini memiliki perbedaan dalam pengelolaan sampah. RW 04 memiliki bank sampah dan UPS dalam pengelolaan sampahnya sedangkan RW 15 hanya mengandalkan UPS. Pengukuran sampah dilakukan selama 8 hari. Pengukuran sampah di rumah tangga ini dilakukan dengan membagikan kantong plastik kepada warga sehari sebelum pengukuran dilakukan. Sampah yang telah dikumpulkan warga kemudian diambil langsung dari tangan warga, hal ini mengurangi kemungkinan perubahan berat dari sampah akibat hujan. Sampah yang diserahkan oleh warga pada umumnya belum mewakili keseluruhan sampah yang ditimbulkan oleh warga.

(7)

Hasil pengukuran sampah yang dilakukan selama 8 hari di RW04 menunjukan bahwa besarnya timbulan sampah berbeda-beda tiap harinya. Timbulan sampah RW 04 ini disajikan pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1 yang menyajikan besarnya timbulan sampah RW 04.

Tabel 4-1-Hasil Pengukuran Sampah di RW04

No Variabel Satuan Jumlah

1

Berat sampah yang

diukur/diterima kg 776,28

2 Jumlah sampel KK 12

3

Jumlah rata-rata penghuni

1 KK orang 4

4 Timbulan sampah kg/org/hari 0,25

Sumber: Hasil Pengukuran (2013)

Gambar 4.1 Timbulan Sampah di RW 04 Sumber: Hasil Pengukuran (2013)

Dari Tabel 4.1 diketahui bahwa besarnya timbulan sampah RW 04 adalah sebesar 0,25 kg/orang/hari. Pada Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa timbulan sampah yang dihasilkan tersebut berfluktuasi tiap harinya. Timbulan sampah sampah yang fluktuatif dan laju timbulan sampah sebesar 0,25 kg/orang/hari terjadi karena berbagai faktor seperti kebiasaan masyarakat, faktor ekonomi, musim buah, jumlah penghuni dalam satu rumah, aktivitas masyarakat dan lain-lain.

Pada Gambar 4.1 dapat dilihat bahwa pada Hari Selasa diperoleh timbulan sampah yang paling tinggi dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Kondisi ini disebabkan karena pada hari tersebut sampah dari RW04 tidak diangkut untuk dibuang. Pengangkutan sampah RW 04 dilakukan sebanyak 3 kali seminggu atau setiap Hari Senin, Rabu dan Jumat. Pengangkutan yang tidak dilakukan setiap hari ini karena terdapat jadwal yang diberikan oleh pihak UPS. UPS Jalan

Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Senin 0 10000 20000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berat (gr ) Hari

(8)

Jawa yang bertugas mengolah sampah di Kelurahan Beji tersebut tidak dapat mengolah keseluruhan sampah dari satu kelurahan, maka dilakukan penjadwalan untuk pengangkutan sampah dari masing-masing RW. Oleh karena sampah tidak diangkut pada Hari Selasa, maka sampah yang terukur pada Hari Selasa tinggi.

Hasil Pengukuran sampah di RW 15 disajikan pada tabel 4.2 dan Gambar 4.3.

Tabel 4- 2 Hasil Pengukuran Sampah di RW 15

No Variabel Satuan Jumlah

1

Berat sampah yang

diukur/diterima kg 322,49

2 Jumlah sampel KK 12

3

Jumlah penghuni rata-rata 1

KK orang 4

4 Timbulan sampah kg/org/hari 0,17

Sumber : Hasil Pengukuran (2013)

Gambar 4.1 Timbulan Sampah RW 15 Per Hari Sumber : Hasil Olahan Data (2013)

Dilihat dari Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa besar timbulan sampah untuk RW 15 adalah sebesar 0,17 kg/orang/hari. Kemudian pada Gambar 5.3 dapat dilihat bahwa sampah yang dihasilkan oleh RW 15 ini berfluktuatif. Laju timbulan sampah RW 15 sebesar 0,17 kg/orang/hari dan timbulan sampah yang fluktuatif ini dapat disebabkan beberapa faktor seperti faktor ekonomi, kebiasaan masyarakat, jumlah penghuni dalam satu rumah, aktivitas masyarakat dan lain-lain.

Gambar 4.2 memperlihatkan bahwa timbulan sampah yang dihasilkan paling tinggi terdapat pada hari pertama pengukuran yaitu Hari Selasa. Hasil pengukuran yang tinggi di Hari

Selasa

Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Senin Selasa 0 5000 10000 15000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berat (gr ) Hari ke-

(9)

Selasa dapat disebabkan oleh sampah sebagian masyarakat RW 15 tidak diangkut pada hari tersebut. Jadwal pengumpulan/unloading sampah RW 15 ke UPS Jalan jawa dilakukan setiap dua hari sekali yaitu Senin, Rabu dan Jumat. Pengaruh jadwal pengangkutan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.2 bahwa jumlah sampah lebih banyak saat sampah belum diangkut ke UPS. Selain hal tersebut, hasil pengukuran yang tinggi pada Hari Selasa dapat disebabkan oleh karena pengukuran sampah yang seharusnya dilakukan hari Senin tidak jadi dilakukan dan akhirnya dilaksanakan pada Hari Selasa. Pengukuran pada Hari Senin tidak dilakukan karena pada hari tersebut kebanyakan responden di RW 15 tidak berada di rumah. Pengukuran sampah yang batal dilakukan pada hari Senin menyebabkan akumulasi sampah terjadi pada Hari Selasa.

4.2. Komposisi Sampah

Komposisi sampah yang diukur pada kedua RW tersebut didasarkan pada jenis-jenis sampah yang laku dijual ke lapak sampah dan bank sampah serta yang tidak laku untuk dijual berupa sampah organik dan residunya. Komposisi sampah ini diukur untuk mengetahui besarnya potensi sampah yang dapat didaur ulang

Komposisi sampah RW 04 berdasarkan hasil pengukuran dapat dilihat pada Gambar 4.3 sebagai berikut:

Gambar 4.3 Komposisi Sampah RW 04 Sumber : Hasil Olahan Data (2013)

Gambar 4.3 memperlihatkan mengenai komposisi sampah kategori primer dan jenis sampah organik memiliki porsi terbesar dari total sampah yang ditimbulkan yaitu sebesar 75,6%. Hal ini dapat disebabkan karena sampah organik berasal dari sisa makanan, dimana sisa makanan tersebut berada dalam keadaan basah ketika diberikan untuk diukur sehingga berat sampah jenis

Kertas 5,0% Plastik 15,2% Organik 75,6% Logam 0,5% Kaca 0,6% Tekstil 0,1% Residu 3,0%

(10)

organik akan menjadi lebih berat. Selain itu, sampah organik yang banyak ini dapat disebabkan oleh keadaan ekonomi masyarakat RW 04. Kondisi ekonomi dari golongan rendah sampai menengah akan menghasilkan sampah organik yang lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat yang kondisi ekonominya tinggi sesuai dengan teori-teori yang ada. Selain itu banyaknya warga yang berprofesi sebagai penjual makanan turut memengaruhi komposisi dan timbulan sampah di RW 04.

Secara keseluruhan dapat terlihat bahwa sampah anorganik sangat sedikit yaitu hanya 24,37% dari total sampah yang dihasilkan. Hal ini bisa disebabkan karena sampah anorganik memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan sebagian dari masyarakat RW 04 merupakan nasabah bank sampah sehingga banyak sampah anorganik yang disimpan untuk disetorkan ke bank sampah. Dari data komposisi di atas diperoleh bahwa total jumlah sampah yang berpotensi untuk didaur ulang adalah sekitar 18,86%. Jumlah sampah yang dapat dapat didaur ulang ini mencakup 78% dari total sampah anorganik yang dihasilkan oleh RW 04.

Komposisi sampah RW 15 disajikan pada Gambar 4.4 sebagai berikut

Gambar 4.4 Komposisi Sampah RW 15 Sumber : Hasil Olahan Data (2013)

Gambar 5.6 dan Tabel 5.4 menunjukan komposisi sampah RW 15 yang bervariatif. Gambar 5.6 dan Tabel 5.4 menunjukan bahwa sampah organik merupakan sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat RW 15 yaitu sebesar 64,1% dari total sampah yang dihasilkan. Sampah organik yang banyak ini berasal dari sisa makanan yang masih basah sehingga dapat memengaruhi berat timbulan sampah organik yang dihasilkan serta sedang

Kertas 11,8% Plastik 18,5% Organik 64,1% Logam

(11)

berlangsungnya musim buah rambutan sehingga terdapat kulit buah yang memengaruhi berat sampah organik tersebut.

Sampah anorganik yang dihasilkan dari RW 15 adalah sebesar 36% dari total sampah yang dihasilkan oleh RW 15. Persentase yang hanya 36 % ini dapat disebabkan karena kebiasaan masyarakat yang suka menumpuk sampah anorganik yang masih bisa dipakai seperti koran dan kardus sehingga tidak diserahkan untuk diukur. Dari data komposisi di atas dapat diketahui bahwa potensi sampah yang dapat didaur ulang adalah sebesar 28,94% dari total sampah yang dihasilkan atau sekitar 80% dari sampah anorganik yang dihasilkan.

4.3. Recycling Rate dan Recovery Rate dari Bank Sampah

Bank sampah di Kelurahan Beji merupakan bagian dari pengelolaan sampah di Kelurahan Beji. Bank sampah ini menerima sampah dari warga berupa sampah anorganik yang dapat didaur ulang seperti dupleks, kertas fotocopy, koran, kardus, PET, HDPE, besi, tembaga, aluminium dan lain-lain. Oleh karena itu, pada tingkat bank sampah, sampah yang diterima akan disebut sebagai material daur ulang.

Penimbangan atau pengumpulan material daur ulang dari warga dilaksanakan minimal dua kali dalam satu bulan. Material daur ulang yang disetorkan oleh masyarakat harus dipilah terlebih dahulu sesuai dengan nilai ekonomis dari masing-masing material tersebut. Material daur ulang yang tidak dipisahkan dengan sampah atau bukan merupakan material daur ulang tidak akan diterima oleh bank sampah. Hal ini dilakukan agar masyarakat mengerti bahwa dengan memilah material daur ulang itu memiliki keuntungan dan juga dapat mendidik masyarakat untuk memilah sampahnya sendiri.

Hasil pengukuran material daur ulang di bank sampah diperlihatkan pada Tabel 4.3 sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Material Daur Ulang di Bank Sampah

Pengukuran Hasil

Total material daur

ulang per bulan 378,2 kg

Recyling Rate 0,17%

Recovery Rate 0,17%

Jumlah nasabah 30 KK

Participation Rate 0,44%

(12)

Hasil perhitungan diperoleh recycling rate dari bank sampah untuk satu Kelurahan Beji adalah sebesar 0,17% dan recoveryrate dari bank sampah adalah sebesar 0,17%. Nilai recycling rate dan recovery rate dari bank sampah yang sama ini dikarenakan dalam proses pengelolaan sampah dengan bank sampah tidak memasukan proses pengomposan pada sampah organik. Proses pembuatan kompos dan limbah menjadi energi merupakan salah satu parameter yang diperhitungkan dalam penghitungan recovery rate. Karena bank sampah tidak terdapat kegiatan pengomposan dan pemanfaatan limbah menjadi energi maka nilai recovery rate dari bank sampah sama dengan nilai recycling rate bank sampah.

. Pada penelitian ini participation rate dihitung dari banyaknya nasabah bank sampah berbanding dengan jumlah penduduk Kelurahan Beji. Participation rate yang diperoleh adalah sebesar 0,44% dari total masyarakat Kelurahan Beji. Participation rate yang kecil ini disebabkan karena jumlah nasabah bank sampah yang sangat kecil yaitu sekitar 30 KK. Nasabah bank sampah hanya mencakup warga RT01 pada RW 04 Kelurahan Beji .

4.4 Recycling Rate dan Recovery Rate Unit Pengolahan Sampah (UPS)

Unit Pengolahan Sampah (UPS) merupakan pengolahan sampah yang secara formal digunakan oleh Kelurahan Beji untuk menangani sampah di kelurahan tersebut. UPS di Kelurahan Beji ini terletak di Jalan Jawa dan melayani 17 RW yang ada di Kelurahan Beji dan beroperasi selama enam hari dalam seminggu. UPS Jalan Jawa mengolah sampah sebanyak 20 m3/hari atau sekitar 3930 kg/hari atau 53% dari total sampah di Kelurahan Beji yang sebesar 7325,78 kg/hari.

Pelayanan pengolahan sampah di UPS Jalan Jawa tidak dapat mengolah keseluruhan sampah di Keluruhan Beji yang sebesar 7325,78 kg/hari atau sekitar 37,28 m3/hari. Hal ini disebabkan oleh kapasitas UPS yang hanya mampu mengolah sampah sebesar 30 m3/hari. Pemenuhan pelayanan persampahan di Kelurahan Beji ini akhirnya membuat UPS Jalan Jawa membagi 17 RW ini menjadi kelompok A dan kelompok B dimana masing-masing kelompok terdiri dari 8-9 RW. Kemudian sampah dari masing kelompok saling bergiliran diangkut ke UPS Jalan Jawa setiap harinya selama seminggu.

Hasil pengukuran sampah di Unit Pengolahan Sampah (UPS) di Tabel 4.4 sebagai berikut:

(13)

Tabel 4.4 Hasil Pengukuran di UPS Jalan Jawa

Pengukuran Hasil

Total material daur

ulang per hari 82,4 kg

Recyling Rate 7,7%

Recovery Rate 53,0%

Sumber: Hasil Pengolahan Data (2013)

Hasil perhitungan diperoleh recycling rate sebesar 7,7 % dan recovery rate sebesar 53 %. Recycling rate tersebut hanya dihitung dari jenis sampah yang dapat didaur ulang sedangkan

recovery rate dihitung dari berat sampah yang dapat didaur ulang dan sampah yang dikomposkan. Nilai recovery rate yang tinggi ini dipengaruhi oleh persentase sampah organik yang dikomposkan sangat dominan pada sampah-sampah yang masuk ke UPS.

4.5 Analisis Ekonomi Bank Sampah dan UPS

Perhitungan keuntungan bank sampah dihitung dari selisih penjualan material daur ulang rata-rata per bulan dengan pembelian material daur ulang yang disetorkan oleh nasabah ke bank sampah dan biaya operasional yang dikeluarkan oleh bank sampah. Hasil perhitungan manfaat ekonomis dari bank sampah dari bank sampah disajikan dalam Tabel 4.5

Tabel 4-5 Perhitungan Manfaat Ekonomis Dari Bank Sampah

Biaya Operasional

Banyak Barang

Pema

kaian Harga Satuan

Nilai Total (Rupiah/tahun) Harga dari material daur

ulang yang diterima

4.538

kg/tahun Rp 5.204.152,00 Bensin 12 bulan Rp 20.000,00 / bulan Rp 240.000,00 Total Biaya Operasional Rp 5.444.152,00

Biaya investasi

Buku tabungan 30 buah

1

tahun Rp 500,00 /buah Rp 15.000,00 Timbangan 20 kg 1 buah

5

tahun Rp 135.000,00 / buah Rp 27.000,00 Total Biaya Investasi Rp 42.000,00 Total Pengeluaran Rp 5.486.152,00

Pendapatan

Penjualan Material Daur Ulang

4.538

kg/tahun Rp 9.019.612,00 Total biaya investasi Rp 3.533.460,00

i 6%

NPV Rp 3.095.716,98

B/C 0,64

(14)

Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa keuntungan bank sampah per tahun adalah sebesar Rp 3.533.460,00 dan nilai B/C sebesar 0,64 serta NPV sebesar Rp.3.095.716,98. Nilai B/C sebesar 0,68 menunjukan bahwa progam bank sampah ini tidak memberikan manfaat secara ekonomi. Secara teoritis nilai B/C di bawah 1 menyatakan suatu proyek atau kegiatan tidak layak untuk dilaksanakan karena tidak menguntungkan secara ekonomi. Nilai NPV bank sampah yang lebih besar dari 0 menunjukan bahwa kegiatan bank sampah ini layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan teori Benefit Cost Analysis, suatu proyek/kegiatan layak dilakukan atau tidak didasarkan atas nilai NPV. Hal ini disebabkan karena perhitungan NPV didasarkan atas berbagai parameter seperti

interest rate, jangka waktu pelaksanaan, biaya investasi, biaya operasional, pendapatan selama pelaksanaan kegiatan atau proyek, sedangkan Benefit Cost Ratio hanya memperhitungkan keuntungan dan biaya yang dikeluarkan selama pelaksanaan kegiatan atau proyek.

Pengelolaan sampah menggunakan UPS juga melakukan kegiatan pengumpulan dan penjualan material daur ulang. Pengumpulan material daur ulang dilakukan dengan memilah material tersebut dari sampah yang masuk ke UPS. Material yang telah dipilah tersebut dikumpulkan dan kemudian dijual kepada pemilik lapak sampah. Hasil penjualan material daur ulang tersebut kemudian dijadikan sebagai tambahan pendapatan para pekerja di UPS.

Hasil perhitungan ekonomi di UPS disajikan dalam Tabel 4.6

Tabel 4-3 Perhitungan Manfaat Ekonomi dari UPS

Biaya Operasional Jumlah Harga Satuan

Nilai Total per bulan

Gaji pekerja 14 Rp. 924.000/orang Rp 12.936.000

Pengangkutan Sampah 72 Rp 70.000/ritasi Rp 5.040.000

Total biaya operasional

per bulan Rp17.976.000

Penjualan material daur

ulang per bulan Rp 9.444.021

Sumber : Hasil Olahan Data (2013)

Tabel 4.6 memperlihatkan biaya operasional per bulan yang hanya didasarkan atas gaji pekerja dan biaya pengangkutan sampah cukup besar yaitu sebesar Rp. 17.976.000,00. Biaya sebesar ini yang dikeluarkan oleh pemerintah kota Depok setiap bulannya untuk mengelola sampah. Oleh karena biaya operasional di UPS termasuk dalam anggaran pemerintah Kota Depok dan hasil penjualan material daur ulang oleh UPS bukan merupakan pendapatan dari pemerintah Kota Depok sebagai pengelola, maka perhitungan keuntungan dan B/C serta NPV dari UPS tidak

(15)

dilakukan. Pengelolaan sampah dengan UPS ini tidak memberikan keuntungan dalam sisi ekonomi bagi pengelola yaitu pemerintah Kota Depok.

4.6. Optimasi Pengelolaan Sampah Dengan Analisis SWOT

Analisis SWOT ini dilaksanakan terhadap pengelolaan sampah yang memanfaatkan bank sampah dan Unit Pengolah Sampah (UPS) sebagai pengolah sampah. Analisis SWOT ini dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap bank sampah dan UPS dan wawancara dengan pengurus bank sampah dan pekerja/koordinator UPS.

Tabel 4-7Analisis SWOT UPS (Strength dan Opportunity)

Strength Opportunity

1. Merupakan sektor formal dalam pengelolaan sampah Kota Depok

1. Masih banyak masyarakat lainnya yang belum tahu dan tertarik dengan bank sampah

2. Mendapatkan dukungan finansial, alat dan manajemen dari dinas kebersihan Kota Depok

2. Sejalan dengan progam pemerintah Kota Depok yang sedang menggiatkan kegiatan pemilahan sampah 3. Melakukan pengelolaan terhadap sampah

organik dan anorganik

3.Tingkat pelayanan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota Depok masih terbatas sekitar ±30%

4. Memiliki prasarana dan sarana yang memadai 4. Jumlah penduduk dan timbulan sampah Kota Depok yang memiliki kecenderungan terus bertambah setiap tahunnya

5. Memiliki jumlah pekerja yang banyak dalam melaksanakan pengolahan sampah

5. Kemampuan TPA yang sudah sangat terbatas untuk menampung sampah Kota Depok.

6. Para pekerja memiliki tambahan pemasukan dari penjualan material daur ulang

6. Pengelolaan sampah dengan bank sampah dapat diintegrasikan Unit Pengolahan Sampah (UPS). 7. Mengurangi sampah yang masuk ke TPA. 7. Adanya PP no 81 tahun 2012 yang mewajibkan

masyarakat menangani sampahnya sendiri 8. Melayani pengolahan sampah untuk satu

kelurahan yaitu sekitar 17 RW

Tabel 4-8 Analisis SWOT UPS (Weakness dan Threat)

Weakness Threat

1. Manajemen tenaga kerja tidak baik sehingga jumlah tenaga kerja yang mencukupi masih tetap dirasa kurang

1.Adanya gangguan teknis seperti kerusakan alat angkut dan alat lainnya yang digunakan di dalam UPS

2. K3 di UPS tidak berjalan dengan baik 2. Tidak ditemukan pembeli dari kompos sehingga banyak kompos yang tertumpuk di UPS

3. Kapasitas pelayanan UPS hanya terbatas sebesar 30 m3/hari

3. Lahan untuk pengembangan UPS terbatas karena tidak banyak warga yang rela di sekitar rumahnya terdapat UPS.

4. Layout UPS yang kurang baik

4.Tukang sampah yang enggan mengangkut sampahnya ke UPS karena kondisi layout dari UPS

5. Kurangnya kesadaran dari pekerja untuk merawat atau menjaga kondisi UPS.

5. Dana maintenance dan operasional alat alat di UPS kurang sehingga alat-alat tersebut tidak terawat dengan baik.

(16)

Tabel 4-8 Analisis SWOT UPS (Weakness dan Threat) (Lanjutan)

Weakness Threat

6. Sampah yang masuk ke UPS dalam keadaan tercampur sehingga sulit untuk dipilah dan menurunkan kualitas material daur ulang.

6.Kondisi UPS yang kotor memengaruhi kesehatan dari pekerja UPS.

7. Bau yang ditimbulkan oleh sampah tersebut tidak dapat

dikendalikan

Tabel 4-9 Analisis SWOT Bank Sampah

Strength Opportunity

1. Nasabah bank sampah dididik untuk memilah sampahnya sendiri

1.Masih banyak masyarakat lainnya yang belum tahu dan tertarik dengan bank sampah

2. Masyarakat yang menjadi nasabah bank sampah mengerti bahwa sampah masih memiliki nilai ekonomis

2. Sejalan dengan progam pemerintah Kota Depok yang sedang menggiatkan kegiatan pemilahan sampah 3. Nasabah bank sampah dapat langsung

merasakan dampak dari pengelolaan sampah melalui uang yang didapatkan dari menabung sampah di bank sampah

3.Tingkat pelayanan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota Depok masih terbatas sekitar ±30%

4. Sebagai salah satu wadah bagi masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri

4. Jumlah penduduk dan timbulan sampah Kota Depok yang memiliki kecenderungan terus bertambah setiap tahunnya

5. Dapat mengurangi sampah yang masuk ke UPS dan TPA

5. Kemampuan TPA yang sudah sangat terbatas untuk menampung sampah Kota Depok.

6. Dapat mendidik masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan

6.Pengelolaan sampah dengan bank sampah dapat diintegrasikan Unit Pengolahan Sampah (UPS). 7. Mengurangi pencemaran lingkungan akibat

penanganan atau pengelolaan sampah yang tidak baik

7. Adanya PP no 81 tahun 2012 yang mewajibkan masyarakat menangani sampahnya sendiri 8. Meningkatkan kebersihan lingkungan dan

sanitasi di lingkungan sekitarnya 9. Adanya tokoh masyarakat yang menjadi pengurus secara sukarela

Weakness Threat

1. Sosialisasi mengenai bank sampah masih kurang

1. Hasil penimbangan yang berbeda antara pengurus bank sampah dan pemilik lapak mitra bank sampah 2. Semangat untuk terus ikut serta dalam

kegiatan bank sampah ini sulit dipertahankan.

2. Kondisi cuaca memengaruhi penimbangan bank sampah

3. Pengelolaan sampah dengan bank sampah sangat bergantung pada nasabah dan pengurus bank sampah.

3. Masyarakat belum mengerti tentang pentingnya pengelolaan sampah

4. Saat ini bank sampah diperuntukkan hanya untuk mengelola sampah anorganik

4. Kegiatan-kegiatan atau acara-acara yang banyak dilakukan pada hari penimbangan bank sampah menyebabkan penimbangan sampah sering tidak dilakukan

5. Bank sampah merupakan sektor pengelolaan sampah yang bersifat informal.

5. Nasabah malas untuk memilah sampah 6.Penimbangan sampah dilakukan di tempat

terbuka.

6. Adanya intimidasi dari pemulung yang merasa lahan pekerjaannya diambil.

7. Bank sampah tidak memiliki gudang untuk

(17)

Weakness Threat 8. Bank sampah tidak memiliki kantor untuk

melakukan kegiatan administrasi dari bank

sampah

9. Nasabah malas untuk memilah sampah

10 Pengurus bank sampah yang memilki

keterbatasan waktu

Sumber : Hasil Olahan Data (2013)

Analisis SWOT UPS dan bank sampah ini kemudian didekatkan secara kuantitatif sehingga diperoleh posisi UPS berada pada posisi progresif atau kuadran 1 yaitu pada titik (0,36;0,67). Bank sampah juga berada pada posisi progresif atau kuadran 1 yaitu pada titik (0,1392;0,431).Posisi progresif ini menunjukan bahwa kedua model pengelolaan sampah tersebut disarankan untuk memanfaatkan strategi S-O (Strength-Opportunity).

Strategi S-O ini berfungsi untuk memanfaatkan kekuatan yang dimiliki oleh bank sampah untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Strategi ini berfungsi untuk membuat bank sampah berkembang lebih cepat. Strategi S-O yang disarankan yaitu melakukan sosialisasi bank sampah ke warga untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan bank sampah sehingga masyarakat dapat mengelola sampahnya sendiri. Strategi S-O lain yang disarankan yaitu peningkatan jumlah bank sampah untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Bank sampah berfungsi untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA dan merupakan pengelolaan sampah di sumber yaitu rumah tangga.

Selain kedua strategi yang disebutkan di atas, masih terdapat strategi S-O lainnya yaitu memasukan bank sampah ke dalam progam pengelolaan sampah DKP sehingga terarah dan memiliki pembinaan yang jelas. Pemerintah Kota Depok disarankan untuk memasukan bank sampah ke dalam progamnya sehingga bank sampah tersebut mendapat pembinaan yang jelas dan konsisten. Pembinaan yang tepat dan jelas akan menjaga konsistensi dari keberadaan bank sampah tersebut.

Strategi S-O lainnya yang disarankan untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah dengan bank sampah adalah mengsinergiskan bank sampah dengan UPS. Strategi ini bermaksud untuk meningkatkan kinerja bank sampah dan UPS untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA.

Strategi S-O dari UPS adalah meningkatkan kinerja UPS dalam pengolahan sampah sampai batas maksimum UPS yaitu sebesar 30 m3/hari. Strategi ini dapat terwujud dengan memanfaatkan jumlah pekerja di UPS yang banyak. Strategi S-O UPS yang lain yaitu

(18)

memaksimalkan pemilahan sampah di UPS. UPS dengan jumlah pekerja yang banyak seharusnya dapat memilah sampah dengan lebih baik. Pemilahan sampah yang baik dapat membantu mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Jumlah pekerja yang banyak tersebut dimanajemen dengan baik sehingga pemilahan sampah di UPS dapat maksimal.

5. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan hasil penelitian yang diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Timbulan sampah Kelurahan Beji adalah sebesar 0,2147 kg/orang/hari dengan timbulan sampah RW04 Kelurahan Beji sebesar 0,25 kg/orang/hari dan RW 15 Kelurahan Beji sebesar 0,17 kg/orang/hari.

2. Komposisi sampah di Kelurahan Beji yang ditinjau dari RW 04 dan RW 15 Kelurahan Beji cukup bervariatif dan menempatkan sampah organik sebagai sampah dengan persentase komposisi sampah terbesar.

3. Recycling rate di bank sampah RW04 Kelurahan Beji adalah sebesar 0,17% dan recovery rate sebesar 0,17% juga.

4. Recycling rate di Unit Pengolahan Sampah (UPS) Jalan Jawa, Kelurahan Beji adalah sebesar 7,7% dan recovery rate sebesar 52%.

5. Kegiatan bank sampah secara finansial kurang layak untuk dilaksanakan karena nilai B/C di bank sampah kurang dari 1, sedangkan perhitungan kelayakan finansial/manfaat ekonomi di UPS tidak dapat dihitung karena semua biaya dikeluarkan oleh Pemkot Depok dan Pemkot tidak memperoleh pendapatan dari penjualan material daur ulang.

6. Analisis SWOT dari bank sampah dan UPS sama-sama menunjukan kondisi UPS dan bank sampah berada pada posisi “Progresif” atau kondisi yang baik sehingga disarankan untuk menggunakan strategi S-O/strategi yang progresif. Strategi S-O bank sampah yaitu melakukan sosialisasi bank sampah ke warga untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan bank sampah, meningkatkan jumlah bank sampah untuk mengurangi timbulan sampah yang masuk ke TPA, memasukan bank sampah ke dalam progam pengelolaan sampah DKP Depok sehingga lebih terarah dan memiliki pembinaan yang jelas, mensinergiskan bank sampah dan UPS dalam pengelolaan sampah Kota Depok. Strategi S-O UPS yaitu mensinergiskan bank sampah dan UPS dalam hal pengelolaan sampah, meningkatkan kinerja bank sampah dan UPS dalam hal pengelolaan sampah,

(19)

memaksimalkan pemilahan sampah di UPS dengan cara memanajemen pekerja dengan baik. Kedua strategi S-O tersebut merupakan strategi yang dapat diterapkan untuk mengoptimasi model pengelolaan sampah dengan UPS dan bank sampah.

6. Saran

Penelitian yang ini menghasilkan beberapa saran yang dapat membantu meningkatkan kinerja pengelolaan sampah di Kelurahan Beji yaitu sebagai berikut:

 .Peningkatan participation rate dapat dilakukan dengan melakukan intensifikasi sosialisasi ke masyarakat mengenai bank sampah. Sosialisasi bank sampah dapat diintegrasikan dengan progam “Gerakan Depok Memilah” dari Pemerintah Kota.

 Pengurangan sampah di Kelurahan Beji dapat dilakukan dengan meningkatkan kapasitas pengolahan sampah di Unit Pengolahan Sampah (UPS) sampai batas maksimum yaitu sebesar 30 m3/hari. Peningkatan pengolahan sampah ini dapat dilakukan dengan memanajemen pekerja yang lebih baik yaitu dengan memberikan jobdesc yang jelas bagi para pekerja.

 Mensinergiskan bank sampah dengan UPS dalam pengelolaan sampah dengan memasukan bank sampah ke dalam progam pengelolaan sampah DKP Depok sehingga pembagian tugas dalam pengelolaan sampah oleh bank sampah dan UPS menjadi jelas.

Daftar Referensi

Becker, G. (1995). The Economic Way of Looking at Behavior. Dalam R. Febrero dan P Schwartz. (2000). The Essence of Becker. Standford University, California: Hoover Institution Press

DKP Depok. (2012). Pengelolaan Sampah di TPA Cipayung. Biological Treatment of Municipial Solid Waste Management In Indonesia.

EPA. (2003). MATERIAL RECOVERY FACILITY Recycling Marketing Cooperative for Tennessee, (December).

EPA. (1994). Waste Prevention , Recycling , and Composting Options : Lessons from 30 US

Communities

Hartono, D. M., Gusniani, I., & Kristanto, G. A. (2011). Panduan Penyusunan Standar Operasi Prosedur Unit Pengolahan Sampah (UPS).

(20)

Singhirunnusorn, W., Donlakorn, K., & Kaewhanin, W. (2012). Contextual Factors Influencing Household Recycling Behaviours: A Case of Waste Bank Project in Mahasarakham Municipality. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 36(June 2011), 688–697. doi:10.1016/j.sbspro.2012.03.075

Singhirunnusorn, W., Donlakorn, K., Kaewhanin, W., Kpxguvkicvgu, U., Kpƀwgpekpi, H., Tge, J., & Dgjcxkqwt, E. (n.d.). Household Recycling Behaviours and Attitudes toward Waste Bank Project : Mahasarakham Municipality.

SK SNI S-04- 1993-03 tentang Spesifikasi timbulan sampah untuk kota kecil dan kota sedang

SNI 19-3964-1994 dan SNI M 36-1991-03 Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan

Start, D. and In. H. (2004). Tools For Policy Impact: A Handbook for Researcher. London: Overseas Development Institute.

Tchobanoglous, G. (1993). Integrated Solid Waste Management. New York: McGraw-Hill. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008. Tentang Pengelolaan Sampah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :