4 2.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian yang dilakukan Muhammad Fandi (2011) yaitu membandingkan penggunaan metode bekisting yang berbeda yaitu metode bekisting sistem table form dengan metode semi sistem yang di tinjau dari aspek waktu dan biaya. Dari analisis perhitungan perbandingan kedua metode di proyek FMIPA – ITS Surabaya didapatkan bahwa pada pekerjaan bekisting menggunakan metode table form lebih cepat dibandingkan metode semi sistem dengan selisih waktu 42 hari. Sedangkan untuk biaya metodetable formjuga lebih murah daripada metode semi sistem dengan selisih Rp. 194.228.703.
Penelitian yang dilakukan Rosyid Ambar Muhadi yaitu menganalisis penerapan penggunaan bekisting precast half slab dengan bekisting konvensional ditinjau dari aspek biaya, waktu dan tahap pelaksanaan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan penggunaan bekistingprecast half slab pada bangunan proyek X mampu mengurangi biaya seluruhnya sebesar Rp. 1.924.338.186,24 atau ± 22,07% dan mampu mengurangi waktu pelaksanaan pekerjaan 26 hari kalender atau sekitar 9,10% terhadap waktu total pelaksanaan pekerjaan.
Penelitian yang dilakukan Yevi Novi Dewi Saraswati (2012) yaitu analisis perbandingan penggunaan bekisting semi konvensional dengan bekisting sistem
table form pada konstruksi gedung bertingkat dimana masing-masing bekisting
untuk kedua tipe gedung dihitung waktu pelaksanaan dan biaya pelaksanaan untuk
low rise building dan high rise building. Dari hasil perhitungan akan dilakukan
analisis perbandingan dengan menggunakan metode matriks evaluasi untuk menentukan bekisting mana yang lebih baik untuk low rise buildingdan high rise
building berdasarkan kriteria biaya dan waktu pelaksanaan. Digunakan 5 ( lima )
skenario perbandingan antara biaya dan waktu yaitu 30%:70%, 40%:60%, 50%:50%, 60%:40%, 60%:40% dan 70%:30%. Gedung Sekolah Anak Panah
digunakan sebagai contoh kasus low rise building. Hotel Ibis digunakan sebagai contoh kasus high rise building. Dari analisis perbandingan pada gedung Sekolah Anak Panah didapatkan bekisting yang terbaik untuk skenario 1, 2 dan 3 adalah bekisting semi konvensional, dan skenario 4 dan 5 adalah bekisting sistem table form. Dari analisis pada gedung Hotel Ibis didapatkan bekisting yang terbaik untuk skenario 1 dan 2 adalah bekisting semi konvensional, skenario 3 adalah keduanya, dan skenario 4 dan 5 adalah bekisting sistemtable form.
Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode Analytic Hierarchy
Process (AHP) oleh Anisa’ Wahyu Tri Utami (2013) yaitu analisis Value
Engineering dengan metode deskriptif evaluatif studi kasus Hotel Aziza Solo
yang kemudian dilakukan perbandingan berpasangan dibantu dengan software
Expert Chice. Hasil analisis, desail pelat atao yang terpilih yait tipe pelat full
precast. Penggunaan tipe pelat full precast yang direkomendasikan dalam
pekerjaan item pelat dapat menghemat biaya sebesar Rp 45.199.194,60 atau sebesar 12,82% dari desain awal. Setelah dilakukan analisis Value Enggineering
pada pekerjaan pelat dihasilkan perbedaan biaya sebesar Rp 45.199.194,60 atau sebesar 0,15% dari total biaya proyek.
2.2 Dasar Teori
2.2.1. Pengenalan Perancah Baja
Perancah baja merupakan komponen utama dalam pekerjaan bekisting yang digunakan untuk menyangga bekisting sebelum dilakukan pemasangan besi tulangan dan pengecoran. Perancah baja adalah merupakan suatu konstruksi pendukung pada suatu pekerjaan sebuah proyek yang terbuat dari rangka besi yang berbentuk khusus buatan pabrik dengan daya dukung tertentu, dimana pada pekerjaan ringan dapat dipakai sebagai penyangga untuk pekerja, pada pekerjaan yang lebih tinggi.
Menurut Peraturan Menakertrans No.1 Per/Men/1980 tentang keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi bangunan, perancah baja adalah bangunan pelataran
kerja, bahan-bahan serta alat-alat pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan termasuk pekerjaan pemeliharaan dan pembongkaran.
Persyaratan – persyaratan suatu konstruksi acuan perancah baja adalah :
1. Kuat menahan berat beton segar, getaran vibrator, peralatan yang digunakan, berat sendiri, berat orang yang bekerja dan pengaruh kejutan.
2. Kaku, terutama akibat dari beban horizontal yang membuat cetakan mudah goyang atau labil. Selain itu acuan perancah tidak boleh melebihi deformasi yang dizinkan.
3. Kokoh, sehingga mampu menghasilkan bentuk penampang beton seperti yang diharapkan, tanpa mengalami perubahan bentuk yang berarti, oleh karena itu maka ukuran dan kedudukan cetakan harus teliti atau sesuai dengan gambar perencanaan.
4. Bersih, karena dalam pengecoran kotoran mungkin akan naik dan masuk ke dalam adukan beton sehingga akan mengurangi mutu beton, dan jika kotoran tidak naik maka akan melekat pada permukaan beton dan sulit dibersihkan. 5. Mudah dibongkar, agar tidak merusak beton yang sudah jadi dan dapat
digunakan berkali – kali.
6. Rapat, sambungan – sambungan pada cetakan harus rapat dan lubang – lubang yang disebabkan oleh serangga harus ditutup, sehingga cairan semen dan agregat tidak keluar dari celah – celah sambungan.
7. Material atau bahan yang digunakan harus mudah dipaku atau sekrup dan dalam membuat bagian cetakan harus mudah dirangkai sehingga dapat dilaksanakan dengan tenaga kerja minimal yang pada akhirnya akan memperoleh efisiensi waktu yang maksimal.
8. Optimal, kebutuhan bahan dan tenaga kerja harus seefektif dan seefisien mungkin yang akhirnya menguntungkan semua pihak.
2.2.2.Fungsi Perancah Baja
Perancah baja sangat erat kaitannya dengan proses konstruksi karena perancah baja digunakan untuk membantu menyangga material maupun pekerja.
adalah sebagai struktur sementara yang digunakan untuk menahan beban yang belum mampu memikul beratnya sendiri. Biasanya digunakan saat pengecoran. Manfaat yang kedua adalah sebagai struktur sementara yang digunakan untuk membantu pelaksanaan pemasangan besi – besi atau material lainnya dalam suatu proyek konstruksi.
Selain itu, dari segi fungsinya, Perancah baja memiliki dua fungsi meliputi fungsi sebagaisupport(pendukung) dan sebagaiaccess(akses).
1. Fungsi perancah baja sebagaisupport(pendukung)
Yaitu menyediakan tatakan elevasi yang dapat menahan suatu beban atau gaya tertentu pada sebuah area tertentu dan sebagai penompang atau penyangga bekisting.
2. Fungsi sebagaiaccess(akses)
Yaitu menyediakan akses atau mampu mengakomodasi dan sebagai landasan untuk para pekerja yang digunakan untuk membantu pelaksanaan pekerjaan. 2.2.3. Jenis Material Perancah
Jenis material perancah yang sering digunakan : 1. Kayu dan Bambu
Menurut PBI tahun 1971 bab 5 ayat 1, memberikan pedoman bahwa acuan perancah harus terbuat dari bahan – bahan baik yang tidak mudah meresap air dan direncanakan sedemikian rupa, sehingga mudah dilepas dari beton tanpa menyebabkan kerusakan pada beton.
Kayu yang akan digunakan harus memenuhi syarat – syarat sebagai berikut : a. Sebaiknya kayu yang dipergunakan dengan kadar air 10% s/d 20%. b. Partikel – partikel yang dikandung kayu reaktif dan tidak merusak beton. c. Perubahan bentuk kayu akibat temperatur maupun kelembaban udara
setempat
sekecil mungkin. d. Kuat dan ekonomis.
Untuk perancah dari bambu atau kayu pada pangkalnya harus > ø 7 cm yang menentukan kekuatan pada batang panjang ini adalah faktor tekuk. Untuk mengatasi hal tersebut, tiang perancah diikat pada setiap batang pegangan dan batang memanjang horizontal untuk lantai kerja perancah sehingga kekokohan perancah terjamin. Bagian kaki tiang selalu harus ditanam dalam tanah atau diikat sehingga tidak bergeseran. Bambu harus tua, berwarna kuning jernih atau hijau tua, berbintik-bintik putih pada pangkalnya, berserat padat, permukaannya mengkilat .
2. Kayu lapis(plywood)
Untuk pekerjaan yang cukup besar, kayu lapis banyak dipergunakan sebagai bahan papan acuan (cetakan).
Pada acuan yang menggunakan kayu lapis diusahakan meminimalisir penggunaan paku, agar pembongkarannya dapat dengan mudah dilakukan dan dapat meminimalisir kerusakan bahan akibat metode pembongkaran yang salah. Keuntungan dari kayu lapis adalah bahwa kayu lapis dapat dibengkokkan dan ditempatkan pada kerangka / cetakan untuk pengecoran, dan dapat digunakan berulang – ulang.
3. Aluminium
Karena adanya sifat – sifat tertentu yang lebih menguntungkan seperti berat dan biaya pemeliharaannya yang ringan, menyebabkan aluminium cenderung lebih digunakan pada konstruksi acuan perancah bila dibandingkan dengan logam lain. Tetapi karena harganya yang lebih mahal, menyebabkan penggunaannya yang sangat dibatasi. Campuran aluminium yang paling sesuai untuk konstruksi acuan perancah adalah tipe Al-Mg-Si (campuran dengan kadar silisium yang rendah). Kadar patahnya dapat dikatakan cukup baik (250 N/mm2 – 400 N/mm2) dan ketahanan terhadap korosi hampir sama dengan aluminium murni.
4. Pipa Baja
Pipa baja yang disebut dengan perancah baja digunakan untuk membangun berukuran minimal 1½'' (garis tengah luar 48,3 mm dengan tebal dinding 3,25 mm). Ukuran ini dapat diperkecil ( 1¼'') jika digunakan kerangka perancah
dari pipa baja yang dapat di sambung-pasang dan yang penggunaannya terbatas pada ketinggian 6,00 m terdiri dari 3 elemen (Heinz Frick, 1996 ).
Penggunaan baja sebagai acuan perancah pada konstruksi untuk beton dengan syarat tertentu. Pemilihan baja sebagai acuan perancah dikarenakan oleh : a. Pemakaian dalam jumlah yang sangat banyak.
b. Membutuhkan toleransi kesalahan yang sangat kecil. c. Melibatkan tegangan (stress) yang tinggi.
d. Memerlukan beberapa tingkat mekanisasi pada sistem pekerjaan konstruksi.
2.2.4. Jenis Perancah Baja
Menurut Gunanusa Utama Fabricators (2010), ada banyak jenis perancah baja yang saat ini banyak digunakan pada pekerjaan konstruksi bangunan, antara lain :
a. Modular Scaffold
Perancah baja yang seluruh perlengkapannya dibuat melalui pabrikasi termasuk rangka yang menyilang.
Gambar 2.1. Modular Scaffold
b. Frame Scaffold
Rangka perancah baja yang dibuat secara pabrikasi termasuk rangka menyilang dan perlengkapannya.
Gambar 2.2. Frame Scaffold
c. Independent Scaffold
Perancah baja yang dilengkapi dengan tiang sebanyak dua atau lebih dihubungkan satu dengan yang lain secara melintang dan membujur.
Gambar 2.3. Independent Scaffold
d. Hanging Scaffold
Perancah baja independent yang digantungkan pada salah satu struktur tetap dan tidak dapat diangkat dan diturunkan.
e. Mobile scaffold
Perancah baja yang berdiri sendiri dan dapat berpindah dan dilengkapi roda pada bagian bawah tiang.
Gambar 2.5. Mobile Scaffold
f. Single Pole Scaffold
Perancah baja terdiri dari tiang satu deret yang disambung dengan ledger,
putlogdiikat pada ledgerdan diperkuat pada salah satu dinding struktur tetap
atau bangunan.
Gambar 2.6. Single Pole Scaffold
g. Tube Scaffold
Perancah baja yang mempergunakan pipa sebagai tiang, rangka menyilang, pengikat dan lain-lain, yang disambung dengan klam.
Gambar 2.7. Tube Scaffold
h. Perancah bajaOverhead
Perancah baja yang dipasang disuatu ketinggian tertentu pada bagian luar suatu bangunan yang sifatnya dibangun keatas atau kebawah yang berdiri sendiri dengan bantuan batang penopang.
Gambar 2.8.Perancah BajaOverhead
2.2.5. Komponen-komponen Perancah Baja Konvensional
Menurut Alkon (1997) dalam struktur pendirian perancah baja ada banyak macam bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perancah baja, komponen-komponen tersebut, antara lain:
1. Tiang vertikal(standart)
Adalah merupakan tiang utama dari konstruksi perancah baja, tiang vertikal harus berdiri dengan dilandasi/di atas Base Plates atau Jack Base pada dasar yang tidak rata, pipa harus lurus dengan ukuran medium (22mm x 1ó x 6m)
2. Ledger(Gelagar Memanjang)
Ledgerberfungsi sebagai pengikat antara tiang vertikal dan untuk membentuk
lift pada perancah baja dan sebagai tumpuan transom, antara standart dan
ledger harus diikat dengan klam mati (right angle coupler). Jarak standart
denganledger1,60 meter.
3. Transom(Gelagar Melintang)
Transom terpasang di atas ledger gunanya untuk penumpu platform
(pelataran kerja). Jarak standar dari transom adalah 3,4 feet (1 meter) pada ketebalan papan 38 mm, tidak diperbolehkan memasang transom di bawah
ledger,dan harus menggunakan klam mati(right angle coupler).
4. Bracing(Pipa Silang)
Adalah pipa silang yang harus disediakan pada setiap konstruksi perancah baja, yang berfungsi sebagai penguat / membuat kekakuan pada konstruksi perancah baja. Harus diikat dengan klam hidup(Swivel Coupler).
5. Guardrail / Handrail(Palang Pengaman)
Handrail dipasang di atas midrail dan harus diikat dengan klam mati (Right
angle couple), berfungsi sebagai palang pengaman agar orang tidak jatuh saat
berada di atas pelataran.
6. Midrail(Palang Tengah)
Midrail terpasang pada guardrailpost di bawah dari handraildan di atas toe
board, fungsinya adalah untuk menjaga agar orang tidak jatuh pada saat
berada di bawahhandrail.
7. Toe Board(Papan Kaki)
Toe Boardditempatkan di atasplatformatau pelataran kerja di bawahmidrail,
minimum ketinggian toe board adalah 15 cm dari lantai kerja. Fungsinya adalah untuk menjaga agar peralatan atau material yang berada di atas
platformtidak jatuh apabila tidak sengaja tertendang.
8. Timber Sole / Sole plate(Papan Alas)
Timber sole ditempatkan di bawah dari tiang vertikal, di bawah base plates
atau jack base. Fungsinya adalah untuk menahan agar tiang vertikal tidak
ambles pada permukaan yang lembek, dan juga berfungsi untuk menyalurkan beban pada tiang vertikal, tersebar merata kelandasan yang lebih luas.
9. Base Plates(Plat Dasar)
Base Plates dipasang di atas timber sole dan di bawah sebagai alas tiang vertikal. Fungsinya adalah untuk menjaga kerusakan pada ujung tiang vertikal dan menjaga agar tiang vertikal tidak bergeser dan dipakukan ketimber sole.
10. Jack Base
Jack Base digunakan untuk landasan tiang vertikal apabila dasar dari
perancah baja tidak rata, karena jack base bisa di atas untuk menaikkan dan menurunkan tiang vertikal.
11. Swivel Coupler(Klam Hidup)
Swivel Coupler hanya digunakan untuk mengikat pipa silang atau
menyambung perbolehkan untuk mengikat pipa horizontal dengan pipa vertikal.
12. Right Angle Coupler(Klam Mati)
Right Angle Couplerhanya digunakan untuk mengikat pipa horizontal dengan
pipa vertikal, tidak diperbolehkan untuk mengikat pipa silang.
13. Joint Pin(Penyambung)
Joint Pindigunakan sebagai penyambung antara ujung pipa.
Menurut I. Ervianto (2006), komponen utama dari sistem penyangga perancah baja konvensional terdiri dari rangka (main frame) dengan berbagai bentuk dan ukuran, diagonal bracing ataucross brace, walk thru frame, adjustable jack, atau
jack base, U-heads. Selain komponen -komponen utama di atas, pemakaian
perancah baja di lapangan biasanya dibantu dengan beberapa komponen tambahan yang berfungsi untuk meningkatkan kegunaan atau menjamin kekuatan alat ini.
Main frameatau rangka dari perancah terdiri dari berbagai tipe dengan ukuran dan
1. Adjustable Base Jack
Merupakan pangkal dari perancah baja, berfungsi sebagai kaki yang dapat diatur ketinggiannya.
Gambar 2.9.DetailAdjustableBase
(CV.Multi Sarana Gitatama, 2009)
2. Walk Thru Frame
Merupakan komponen inti dalam bagian perancah baja, karena fungsinya untuk mengatur ketinggian dan lebar pada bangunan perancah baja. Bila tinggi kurang memenuhi dapat digunakandouble main frameke arah vertikal. Bila lebar kurang mencukupi dapat juga dilakukan double main frame pada arah horizontal. Dapat juga digunakan sebagai akses lalu lintas kerja vertikal (tangga darurat).
Gambar 2.10.Jenis dan DetailWalk Thru Frame
(CV.Multi Sarana Gitatama, 2009)
3. Cross brace
Sebagai penghubung antaramain framevertikal dan horizontal supaya tegak lurus dan terjaga kekokohannya.
(CV.Multi Sarana Gitatama, 2009)
4. Adjustable U-head
Berhubungan langsung dengan bekisting, dapat diatur kekencangannya sehingga pada saat pengecoran bekisting kestabilan bekisting dapat terjaga.
Gambar 2.12.DetailAdjustable U-Head
(CV.Multi Sarana Gitatama, 2009)
Perancah baja memiliki beberapa kelebihan dibanding penyangga tradisional yang menggunakan kayu dolken. Perancah baja ini dapat digunakan berulang kali, dapat digunakan di luar maupun di dalam ruangan, lebih ekonomis karena mengurangi upah tukang kayu dan memiliki bentuk yang relatif lebih rapi. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut di atas maka penggunaan perancah sebagai alat bantu serta alat penyangga dan penopang semakin luas dan disukai kontraktor. Pemilihan material perancah dilakukan berdasarkan besarnya beban yang akan dipikul, biaya yang ekonomis, waktu yang efektif (kemudahan dalam pemasangan), ketahanan terhadap korosi, kemudahan pengadaan barang serta keselamatan kerja.
2.2.6. Tipe Konstruksi Acuan Perancah Baja
Sejalan dengan perkembangan pemakaian beton, konstruksi acuan perancah juga mengalami perkembangan menjadi 3 sistem:
1. Sistem Tradisional
Acuan perancah sistem sederhana biasanya digunakan satu kali pakai. Bahan yang digunakan dapat berupa bahan organis, bahan buatan, dan / atau gabungan keduanya. Depresiasi acuan perancah jenis ini sangat tinggi, karena banyak volume bahan terbuang pada proses pembuatan serta membutuhkan volume tenaga kerja yang cukup besar serta berpengalaman.
2. Semi Sistem Modern
Sistem ini dirancang untuk suatu pekerjaan dan ukuran – ukuran untuk komponen tertentu dengan masa penggunaan satu kali atau lebih. Karena kemungkinan dapat digunakan secara berulang, maka biaya investasi yang diperlukan dan upah kerja yang tidak terlalu tinggi.
3. Sistem Modern
Perkembangan terakhir dalam pemanfaatan acuan perancah adalah perancangan acuan perancah baja untuk memudahkan penggunaan dalam berbagai bentuk komponen struktur. Sistem ini dapat memudahkan dan mempercepat proses pemasangan dan pembongkaran. Dengan kualitas hasil yang lebih baik dibandingkan dengan sistem lain, acuan perancah dengan sistem ini dapat dimanfaatkan untuk beberapa kali masa penggunaan. Untuk meningkatkan kecepatan kerja, sistem ini telah dilengkapi dengan berbagai alat bantu yang disesuaikan dengan tujuan penggunaan.
Gambar 2.13.Potongan Sistem Perancah Baja Konvensional (PT. PP (Persero) Tbk., 2015)
2.3 Perencanaan Modifikasi Perancah Baja
2.3.1. Permasalahan yang Mendasari Perencanaan Perancah Baja Modifikasi
Biaya perancah baja dan bekisting merupakan komponen biaya yang memiliki prosentase yang cukup besar terhadap keseluruhan biaya bekisting dan memiliki resiko cost overrunyang tinggi. Menurut Budi Suanda (2012), perhitungan biaya perancah baja dijelaskan mengikuti rumus berikut ini :
Biayaperancah baja = jumlah sediaanperancah baja×harga satuan × durasi....(1)
Sediaanperancah baja= durasi 1 siklus / durasi floor to floor...(2)
Biaya perancah baja = (durasi 1 siklus / durasi floor to floor)×harga
Pada persamaan (3), jika dianggap bahwa durasi floor to floor dan durasi adalah tetap dan harga satuan tidak berubah, maka variabel yang paling menentukan biaya adalah durasi 1 siklus.
Pekerjaan perancah baja dalam siklus bekisting merupakan pekerjaan yang mengalami pengulangan proses bongkar dan pasang. Pengulangan proses tersebut terjadi sepanjang pelaksanaan pekerjaan bekisting. Dilihat dari hal tersebut di atas menginspirasi tim proyek untuk membuat modifikasi perancah baja agar dapat menekan biaya pengeluaran pada pekerjaan bekisting serta dapat mempercepat waktu pelaksanaan pekerjaan.
2.3.2. Faktor Pemilihan Penggunaan Perancah Baja Modifikasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan perancah baja modifikasi yaitu jika perancah baja modifikasi tersebut lebih baik dalam pengerjaannya. Hal tersebut dapat dilihat dari segi jenis material perancah baja, metode pelaksanaan dan pekerjaan, biaya, waktu serta mutu. Faktor efisiensi biaya adalah hal yang paling dilihat oleh kontraktor. Usaha yang dilakukan adalah bagaimana kontraktor bisa menekan pengeluaran biaya proyek tanpa mengurangi mutu dan kualitas pekerjaan.
Faktor pemilihan penggunaan perancah baja yang lain yaitu dikarenakan durasi waktu pekerjaan yang diberikan oleh owner. Jika waktu yang diberikan mepet maka dicari cara agar pekerjaan cepat selesai tanpa mengurangi mutu dan kualitas pekerjaan.
2.3.3. Sistem Perencanaan Produk Perancah Baja Modifikasi
Perencanaan sistem modifikasi perancah baja ditujukan pada dua pihak yaitu produsen dan konsumen. Proses umum perencanaan dalam sistem modifikasi perancah baja ini dimulai dari perencanaan produk dilihat dari aspek struktur, aspek arsitektur, sistem produksi, mobilisasi, pemasangan, keselamatan pekerja, pemasangan dan kontrol kualitas.
Pengujian di atas bertujuan untuk menilai kelayakan teknis dan ekonomis produk yang dihasilkan. Pada intinya modifikasi merupakan proses dimana suatu barang yang sudah ada diperbaharui agar kualitasnya lebih baik, lebih efiesien dalam penggunaan dan lebih ekonomis dari produk sebelumnya.
Gambar 2.14.Potongan Sistem Perancah baja Modifikasi (PT. PP (Persero) Tbk., 2015)
2.3.4. Perencanaan Struktur Perancah Baja Modifikasi
Persyaratan utama pada struktur yaitu dimana perancah baja harus memenuhi syarat kekuatan, kekakuan dan kestabilan pada masa layannya.
Seiring dengan adanya perkembangan perancah sebagai upaya untuk mendapatkan cara kerja yang lebih cepat (mudah), hemat dan memiliki bobot
yang ringan namun mampu memikul beban yang lebih berat, suatu perancah harus memiliki persyaratan-persyaratan teknis yang mendasar. Persayaratan tersebut bertujuan untuk mendukung dalam upaya meningkatkan efisisensi dan efektivitas pekerjaan kontruksi. Adapun persyaratan tersebut antara lain:
1. Kuat, perancah dengan bobot yang relatif ringan namun mampu memikul beban yang lebih besar.
2. Awet, dengan penggunaan bongkar-pasang perancah yang berlangsung terus menerus namun perancah dapat digunakan dalam waktu yang lama dan masih dalam keadaan baik.
3. Mudah dipasang (sederhana), dengan bobot perancah yang relatif ringan dan ditambah dengan sistem pendukung yang sederhana maka akan memudahkan dalam pemasangan.
Menurut Gunanusa Utama Fabricators (2010) Rancang Bangun Perancah baja, yaitu:
1. Prinsip-Prinsip Umum
Rancang bangun perancah baja harus disesuaikan dengan : a. Kekuatan, stabilitas, dan kekokohan rangka penguat
b. Penanganan pekerjaan secara normal dengan menggunakan perancah baja c. Keselamatan kerja personel di dalam melaksanakan pekerjaan :
Pemasangan, perubahan dan pembongkaran perancah baja
Penggunaan perancah baja
Hal yang berkaitan dengan pekerjaan perancah baja 2. Beban Rancang Bangun / desain, yaitu :
AS 1576-1 mengenalkan 3 (tiga) elemen beban dengan melibatkan perhitungan beban desain, yaitu :
a. Beban Mati (Dead Loads)
Beban ini adalah berat perancah baja dan perlengkapannya, seperti landasan/dek, pengaman tepi landasan, tali gantungan, pegangan tangan, tangga, jala pengaman, tali berjalan, komponen pengikat/kunci, hoist, kabel-kabel listrik dan lain- lain yang terkait.
b. Beban Tambahan(Environmental Loads)
Beban yang timbul akibat pengaruh dari luar terhadap perancah baja, yaitu kekencangan angin, beban hujan, beban salju dan lain-lain. Dalam prakteknya beban tambahan ini dapat di perhitungkan seorang praktisi yang telah memiliki pengalaman yang luas.
c. Beban Hidup(Live Loads)
Beban hidup yang dimaksudkan dalam penggunaan perancah baja adalah :
Berat pelaksana / pekerja yang tidak boleh lebih dari 80 kg setiap orang
Berat barang / material dan komponen yang diperlukan
Berat perkakas dan peralatan yang digunakan oleh pekerja
Berat beban tumbukan / benturan
Adapun kategori berat beban hidup yang dapat ditanggung oleh perancah baja sesuai dengan schedule 6 AS1575-1 (Australia Standart) adalah sebagai berikut:
Perancah baja penggunaan ringan (Light duty) dengan beban maksimum 225 kg/bay perancah baja penggunaan sedang (medium
duty)dengan beban maksimum 450 kg/bay
Perancah baja penggunaan berat (heavy duty) dengan beban maksimum 675 kg/bay
Menurut Alkon (1997) hal-hal terpenting yang harus dilakukan dalam penggunaan perancah baja,adalah :
1. Distribusi gaya muatan untuk perancah baja harus merata, untuk mencegah bahaya dan menjaga keseimbangan
2. Dalam penggunaan perancah baja, harus dijaga bahwa beban/gaya muatan tidak boleh melebihi kapasitas yang ditentukan(over loaded)
3. Perancah baja tidak boleh dipakai untuk menyimpan bahan-bahan (material) kecuali bahan-bahan yang akan segera dipakai/dipasang
4. Karyawan tidak boleh bekerja di dekat bangunan perancah baja sewaktu angin kencang
Menurut Gunanusa Utama Fabricators (2010), Agar proses pendirian dan pemakaian perancah baja aman dan tidak mengalami kecelakaan pada pekerja yang bekerja pada/di atas perancah baja, maka prosedur keselamatan kerja perancah baja harus diterapkan yaitu :
1. memakai pakaian kerja yang rapi, tidak sempit atau terlampau longgar 2. memakai topi pengaman(safety helmet)
3. memakai sepatu keselamatan(safety shoes)
4. memakai sarung tangan kulit(hand gloves)
5. memakai sarung kunci perancah baja(scaffold key house)
6. memakaifull body harness
Sedangkan tiga persyaratan dasar yang harus dipenuhi oleh perancah baja adalah mampu member daya dukung yang aman, tidak menimbulkan goyangan, dan memiliki biaya yang terendah. (CJ. Wishere, 1983).
Untuk mencapai kondisi daya dukung aman dan tidak menimbulkan goyangan, maka perlu diperhatikan cara perletakan base daripada perancah yang bergantung pada daya dukung tanah di bawahnya.
Secara teori menurut C.J Wilshere (1983), beban harus disalurkan secara lateral pada base, untuk base yang diletakkan pada permukaan dengan kapasitas tinggi seperti beton atau baja, masalah tidak akan terjadi. Lain halnya untuk base yang berhubungan langsung dengan tanah diperlukan pelat-pelat dari kayu sebagai tumpuannya.
Terdapat empat cara perletakkanbasepada perancah baja yaitu :
1. Basediletakkan pada sebuah tempat yang diisi penuh dengan pasir.
2. Base diletakkan di atas tumpuan beton dengan pengaku horizontal supaya tidak bergoyang.
3. Base diletakkan di atas tumpuan pada lubang yang sudah digali lalu diisi tanah urugan yang dipadamkan.
4. Base dimasukkan langsung, dimasukkan kedalam tanah dengan kedalaman tertentu (untuk tanah keras).
Pentingnya peran perancah baja dalam proses pembangunan suatu proyek maka perlu diperhatikan pula ketepatan dalam pemilihan untuk pemakaian suatu perancah baja. Pemilihan perancah baja harus dilaksanakan dengan baik dan tepat agar tidak terjadi kegagalan perancah baja yang dapat menyebabkan pembekakan pengeluaran biaya dan waktu. Kegagalan perancah seringkali disebabkan hal-hal berikut :
1. Material yang gagal
Kegagalan ini disebabkan oleh pemakaian kembali suatu perancah baja yang tidak layak pakai dalam hal untuk mengurangi biaya proyek. Perancah baja yang tidak layak ini seperti berkarat dan perancah baja yang melengkung atau tidak lurus.
2. Kurangnya komponen yang diperlukan
Hal ini pada umumnya disebabkan oleh para pekerja yang teledor selama pemasangan. Juga dapat disebabkan oleh kurangnya komponen dalam suatu perancah baja.
3. Beban yang berlebihan
Penggunaan platform sebagai peletakan material dan peralatan sementara yang menyebabkan perancah baja memikul beban terlalu berat.
4. Renovasi tak memenuhi syarat
Modifikasi tanpa seizin konsultan selama pelaksanaan. Hal ini akan dapat menyebabkan struktur menjadi tidak stabil dan mengalami perubahan bentuk dan fungsi.
5. Peristiwa yang tidak terduga
Hal ini disebabkan oleh pengaturan setlay-outyang tidak seimbang (biasanya terjadi pada base yang miring, hal ini jarang menjadi perhatian atau sering diabaikan) pada lokasi konstruksi.
6. Cuaca
Faktor cuaca sangat penting karena perancah baja dari besi mempunyai kelemahan yaitu korosi, sehingga harus diberi pelindung
7. Kondisi tanah
Berhubungan denganbearing capacity. 8. Ikatan pada dinding yang kurang kuat.
2.3.5. Metode Pelaksanaan Penggunaan Perancah Baja Modifikasi
Dalam sebuah proyek konstruksi ada beberapa permasalahan yang sering terjadi salah satu diantaranya yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan perancah baja. Terlebih lagi apabila proyek yang dikerjakan terhitung sebagai proyek dalam skala besar dengan luas bangunan yang sangat luas. Agar tidak terjadi penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan perancah baja maka dilakukan metode zoning. Metode tersebut bertujuan untuk menekan kebutuhan perancah tanpa menambah waktu pelaksanaan pekerjaan perancah baja serta mempermudah dalam kontrol pemasangan dan pembongkaran pada pekerjaan perancah baja. Metodezoning ini dilakukan dengan cara membagi luas per lantai bangunan menjadi beberapa zona dapat diambil kesimpulan bahwa semakin luas sebuah bangunan maka semakin banyak dibuat zona.
Metode pelaksanaan pada suatu proyek telah ditetapkan dan tertuang pada buku panduan proyek tersebut. Tugas dari tim proyek adalah me-reviewkembali apakah pelaksanaan pekerjaan di lapangan sudah sesuai dengan metode pelaksanaan yang sudah ditetapkan.
Review bertujuan untuk melihat perbandingan kesesuaian metode pelaksanaan
dengan pelaksanaan di lapangan. Dalam hal ini dimaksudkan untuk mencari metode alternatif sehingga dapat menghasilkan total biaya yang paling rendah dan mudah dilaksanakan tanpa mengurangiperformance(Ir. Daryatmo, 1991).
Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam me-reviewantara lain: 1. Aspek biaya, hasil darireviewharus tercapai biaya yang lebih murah.
2. Aspek kemudahan, bahan, peralatan, dan cara pengerjaannya harus lebih mudah diaplikasikan.
3. Aspek kecepatan, waktu pelaksanaan harus lebih cepat.
4. Seleksi, mengidentifikasi metode-metode yang biayanya tinggi.
5. Informasi, dengan menentukan fungsi primernya, kemudian kumpulkan informasi sumber dayanya (biaya, bahan, alat, dan cara).
6. Analisis, menyeleksi alternatif yang ada, bandingkan fungsi dan biayanya, cari alternatif yang baik.
7. Presentasi, mengusulkan metode untuk dilaksanakan, dengan memberikan penjelasan mengapa alternatif ini yang terbaik, dan berapa biaya yang dapat dihemat.
8. Pelaksanaan, setelah sepakat, laksanakan metode sesuai rencana.
2.3.6. Biaya Pengadaan Perancah Baja Modifikasi
Biaya pengadaan suatu alat pada sebuah proyek konstruksi mempunyai bobot yang cukup besar. Menurut Ir. Daryatmo (2001), peralatan merupakan unsur pendukung utama dalam pelaksanaan suatu proyek. Untuk proyek bendungan dan irigasi, nilai bobot biaya alat berkisar 20% sampai 40%, sedangkan untuk bangunan gedung bertingkat tinggi, nilainya 3% sampai 6%.
Pengadaan perancah baja modifikasi harus benar-benar diperhitungkan kelayakannya serta dilihat dari penggunaannya sehingga alat yang ada tidak menganggur karena pembelian alat baru memerlukan biaya investasi yang sangat tinggi.
Cara pengadaan perancah baja modifikasi antara lain : 1. Pengadaan dengan Cara Sewa Alat
Gambar 2.15.Grafik Hubungan Biaya dan Waktu Pengadaan Perancah Baja dengan Cara Sewa Alat
2. Pengadaan dengan Cara Investasi Alat
Gambar 2.16.Grafik Hubungan Biaya dan Waktu Pengadaan Perancah Baja dengan Cara Investasi Alat
2.3.7. Waktu Pelaksanaan Penggunanaan Perancah Baja Modifikasi
Tujuan dibuatnya penyusunan schedule pada suatu proyek yaitu untuk menghasilkan schedule yang realistis berdasarkan estimasi yang wajar dikarenakan dalam menyusun schedule sebuah proyek konstruksi belum tentu meghasilkan sebuah schedule yang ideal.
Durasi suatu proyek yang telah ditetapkan oleh pemilik proyek (owner) tanpa mempertimbangkan jenis pekerjaan pada proyek tersebut membuat tim proyek berusaha untuk mereduksi durasi suatu pekerjaan agar hal tersebut dapat mempercepat waktu penyelesaian proyek. Dengan melakukan hal di atas tim proyek dapat memperoleh keuntungan langsung dari segi biaya dan waktu tanpa harus mengurangi mutu dan kualitas proyek tersebut.
Menurut Edward M (1986), ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempercepat pekerjaan proyek, antara lain:
1. Dengan mengadakanshiftpekerjaan
Jika dilakukan shift,maka harus mempertimbangkan berbagai hal, misalnya : penerangan, layanan pendukung, keamanan, dan produktivitas. Sehingga biaya yang dikeluarkan akan melampaui rencana anggaran yang ditetapkan, namun secara dramatis dapat mereduksi durasi pekerjaan hingga mencapai 50% dari durasi yang ditetapkan.
2. Dengan memperpanjang waktu kerja (lembur)
Memperpanjang waktu kerja membantu mengurangi waktu dari keseluruhan dari suatu kegiatan. Pekerja dipekerjakan hingga 10-12 jam sehari, sedangkan biasanya 8 jam sehari, hal ini dapat mengurangi durasi dari suatu kegiatan sampai 33%.
3. Dengan menggunakan alat bantu yang lebih produktif, menambah jumlah pekerja, penggunaan material yang lebih cepat, penerapan modifikasi dalam konstruksi dapat mereduksi durasi dari suatu pekerjaan.
2.3.8. Kontrol Mutu dan Kualitas Perancah Baja Modifikasi
Selama berjalannya proses proyek konstruksi yang dimulai dari perencanaan dan diakhiri dengan serah terima dibutuhkan beberapa aspek teknik yang berkaitan dengan proses tersebut diantaranya : perencanaan (planning), penjadwalan
(scheduling) dan pengendalian (controlling). Hal ini bertujuan untuk
menghasilkan suatu bangunan fisik yang mempunyai nilai biaya, waktu dan mutu yang optimal. Ketiga variabel tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi seperti yang digambarkan pada gambar di berikut ini.
Gambar 2.17.Segitiga Variabel Biaya-Waktu-Mutu (Rodney, 1991)
Dari gambar tersebut di atas dapat diambil contoh misalkan Kualitas mutu berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan, besar, kecilnya biaya secara umum menunjukkan tinggi rendahnya mutu untuk suatu pekerjaan yang sama dengan
spesifikasi yang sama pula. Demikian pula dengan waktu pelaksanaan, tinggi rendahya mutu secara tidak langsung berkaitan dengan lamanya waktu pelaksanaan.
Menurut Ir. Daryanto, mutu adalah karakteristik produk, sesuai dengan keinginan pemilik proyek, dimana standar yang diminta dituangkan dalam dokumen kontrak. Salah satu manejemen mutu yang telah diakui oleh banyak negara adalah standar ISO 9000. Beberapa pemilik proyek, terutama investor asing, mensyaratkan kontraktor yang akan mengikuti prakualifikasi, diharuskan sudah mempunyai sertifikat ISO 9000. ISO 9000 adalah suatu standar sistem, bukan standar produk, dimana dalam melaksanakan proyek , kontraktor mempunyai sistem tertentu untuk memastikan bahwa persyaratan standar produk yang ditentukan dalam dokumen kontrak dapat terpenuhi.
Adapun sistem tertentu yang dimaksud adalahQuality systemyang mencakup :
1. Quality manual, yang berisi uraian latar belakang perusahaan, struktur
organisasi & tanggung jawab, kebijakan, sasaran mutu, statement atas seluruh elemen-elemen ISO 9000 serta daftar dokumennya.
2. Prosedur, yang berisi mekanisme kerja sesuai dengan ketentuan sistem manajemen ISO 9000.
3. Instruksi kerja, yang berisi detail mekanisme pelaksanaan masing-masing elemen kerja.
Jaminan mutu umumnya merupakan istilah yang lebih luas dan lebih mencakup semua hal untuk penerapan dari standar dan prosedur dalam upaya untuk menjamin bahwa suatu produk atau fasilitas itu dapat memenuhi ataupun melebihi kriteria yang dikehendaki. Hal itu lazimnya juga mencakup dokumentasi yang diperlukan untuk memeriksa bahwa ke semua tahapan dalam prosedur telah diselesaikan. Pada tahap pertama hal itu mencakup suatu produk dimana kualitasnya adalah ekonomis menurut penilaian hasil akhirnya dan pada tahap kedua hal itu mencakup pengembangan dan penerapan prosedur yang menurut tingkat ekonomisnya dapat menjamin tercapainya kualitas yang telah ditentukan.
Unsur dasar dari mutu/ kualitas mencakup : 1. Karakteristik kualitas
Istilah karakteristik kualitas untuk satu sifat atau lebih yang memberikan batasan mengenai sifat suatu produk untuk tujuan pengendalian kualitas. Mencakup dimensi, kekuatan dan lain-lain.
2. Kualitas desain
Kualitas dari suatu desain mengacu pada spesifikasi yang digunakan untuk karakteristik suatu produk.
3. Kualitas kesesuaian
Kualitas kesesuaian merupakan suatu tingkat dimana pekerjaan fisik yang dihasilkan adalah sesuai standar, terdapat suatu toleransi yang erat antara standar kesesuaian dengan biaya yang dikeluarkan.
Hubungan antara unsur-unsur kualitas, kebutuhan pemilik dinyatakan dalam criteria desain yang akan memandu proses rekayasa dan desain yang akan menghasilkan spesifikasi teknis untuk proyek itu. Hal ini sebenarnya adalah untuk menetapkan kualitas dari desain. Selanjutnya kualitas desain serta kualitas kesesuaiannya akan menentukan kualitas dari fasilitas yang dibangun.
Gambar 2.18.Unsur-unsur Kualitas (Wiley & Sons, 1970)
2.4 Perbandingan Perancah Baja Konvensional dan Perancah Baja Modifikasi
Kelebihan dan kekurangan pada penggunaan perancah baja konvensional dan perancah baja Modifikasi (Sistem PCH) secara umum menurut Ir. Trijeti dan Bambang Hermawan, Sumber : Panduan Pengenalan Material, PT. PJA
2.4.1. Kelebihan Dan Kekurangan Perancah Baja Konvensional Tabel 2.1.Kelebihan dan Kekurangan Perancah Baja Konvensional
No Pekerjaan Kelebihan Kekurangan
1 Slab dan
Balok
a. Pemakaian lebih cepat, karena lebih terbiasa dalam pemasangannya b. Unit variasi materialnya
lebih sedikit dari perancah baja PCH
c. Jenis material accesories
sedikit
d. Fleksible material dalam
pelaksanaannya
e. Material kuat, terbuat dari bahan besi cor
f. Bahan bantunya berupa balok atau kaso yang lebih bersifat fleksible dalam penyesuaian ukuran, tetapi kualitas jauh berbeda dengan kayu LVL
a. Pada gedung bertingkat tinggi, pemakaian vertikal standar kurang efisien, perlu pipa support selain
cross brace sebagai
penyangga kekuatan utama lebih banyak
b. Pada plat perlu ada bodemen balok sebagai penyanga perancah baja ke plat
c. Penampilan kurang rapi, dan jalur untuk sirkulasi dan evakuasi jauh lebih sempit
d. Material kayu yang digunakan kadang tidak presisi atau rata sehingga sering menimbulkan permasalahan dalam penyesuaian pemakaian dan mempengaruhi kekuatan
disesuaikan dengan dimensi dan ukuran lapangan
b. Pemakaian atau
penggunaan kayu sebagai bodemen dinding harus lebih diperhatikan, untuk mengurangi terjadinya pemekaran saat terjadi pengecoran (sabuk kolom perlu perhatian besar) c. Pemakaian paku untuk
mengikat kayu sebagai bodemen dinding ke multiplek perlu dilakukan berkali kali, karena posisi yang tidak sesuai dapat menyebabkan kelonggaran
yang akhirnya
menimbulkan pemekaran
3 Table Foam Dengan perancah baja, sulit
membuat table foam sebagai metode tercepat dalam pengecoran slab atau plat yang presisi (gedung yang berupa tower)
2.4.2. Kelebihan Dan Kekurangan Perancah Baja Modifikasi Tabel 2.2. Kelebihan dan Kekurangan Perancah Baja Modifikasi
No Pekerjaan Kelebihan Kekurangan
1 Slab dan
Balok
a. Pemasangan cepat
b. Tenaga pemasangan lebih sedikit
c. Material kuat (mutu dan daya dukung bebannya) d. Penampilan rapi dan
teratur sehingga jalur evaluasi dan sirkulasi lebih lega
e. Fleksibleuntuk pemakaian
gedung yang tinggi (lantai ke lantai yang mencapai 5 M) dan lebarnya lantai dan gedung
f. Tanpa rangka bodemen untuk bekisting baloknya g. Adanya sistem Beam
Bracket yang memperluas
jalus evakuasi dan sirkulasi
h. Material LVL terjamin mutunya (ukurannya yang presisi dan seragam)
a. LVL rawan dipaku dan dipotong
2 Kolom a. Material Props, Waller dan accesoriesnya, kuat dan mutu terjamin (data kekuatan terlampir)
a. Membutuhkan waktu dalam pabrikasi kolom (accesories lebih mudah hilang (± 30 jenis))
b. Material LVL terjamin mutunya (ukurannya yang presisi dan seragam) (data kekuatan terlampir)
b. Banyak melakukan pabrikasi kolom karena perubahan dimensi dan penggantian multiplek c. LVL harus dilubangi dalam
setiap pabrikasi atau pemakaian, sehingga mempengaruhi umur dan kekuatan bahan untuk pemakaian berikutnya d. Pemakaian coach screw
clam (paku yang umum digunakan pada perancah baja untuk penjepit waller
ke LVL sering longgar pada saat pembongkaran kolom e. Hasil pengecoran
tergantung pada kondisi multiplek dan lama pemakaian
3 Table Foam a. Material LVL terjamin mutunya (ukurannya yang presisi dan seragam) (data kekuatan terlampir)
b. Pemasangan cepat
c. Penampilan rapi dan teratur sehingga jalur evaluasi dan sirkulasi lebih lega d. Fleksible untuk variasi tinggi lantai
a. Sistem bongkar yang dilakukan secara manual dengan sistem menurunkan drat pada adjustable jack
sehingga sering
menimbulkan gaya kejut, sehingga sedikit banyaknya sangat mempengaruhi umur beton yang baru saja di cor
b. Loading plat form sangat
berat (beban mencapai 3,2 ton)
2.5 Analisis Perbandingan Pemakaian Penggunaan Perancah Baja Konvensional dan Perancah Baja Modifikasi dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
2.5.1. Pengenalan Metode AHP
Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L. Saaty merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam sistem pengambilan keputusan dengan memperhatikan faktor – faktor persepsi, preferensi, pengalaman dan intuisi. AHP menggabungkan penilaian – penilaian dan nilai – nilai pribadi ke dalam satu cara yang logis.
Metode AHP dapat menyelesaikan masalah multikriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Masalah yang kompleks dapat di artikan bahwa kriteria dari suatu masalah yang begitu banyak (multikriteria),struktur masalah yang belum jelas, ketidakpastian pendapat dari pengambil keputusan, pengambil keputusan lebih dari satu orang, serta ketidakakuratan data yang tersedia. Menurut Saaty, hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis.
AHP mempertimbangkan aspek kualitatif dan kuantitatif dari suatu keputusan dan mengurangi kompleksitas suatu keputusan dengan membuat perbandingan satu-satu dari berbagai kriteria yang dipilih untuk kemudian mengolah dan memperoleh hasilnya. Teknik ini tidak hanya membantu para pengambil keputusan untuk memperoleh alternatif solusi yang terbaik, tetapi juga memberikan pemahaman rasional yang jelas untuk pilihan yang diambil.
Metode AHP mempunyai landasan aksiomatik yang terdiri dari :
1. Reciprocal Comparison,yang mengandung arti si pengambil keputusan harus
bisa membuat perbandingan dan menyatakan preferensinya. Preferensinya itu sendiri harus memenuhi syarat resiprokal yaitu kalau A lebih disukai dari B dengan skalax, maka B lebih disukai dari A dengan skala .
2. Homogenity, yang mengandung arti preferensi seseorang harus dapat
dinyatakan dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu sama lain. Kalau aksioma ini tidak dapat dipenuhi maka elemen-elemen yang dibandingkan tersebut tidak homogenous dan harus dibentuk suatu’cluster’(kelompok elemen-elemen) yang baru.
3. Independence, yang berarti preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan
bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif yang ada melainkan oleh objektif secara keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan atau pengaruh dalam model AHP adalah searah ke atas, artinya perbandingan antara elemen-elemen dalam satu level dipengaruhi atau tergantung oleh elemen-elemen dalam level di atasnya.
4. Expectations, artinya untuk tujuan pengambilan keputusan, struktur hirarki
diasumsikan lengkap. Apabila asumsi ini tidak dipenuhi maka si pengambil keputusan tidak memakai seluruh kriteria dan atau objektif yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang diambil dianggap tidak lengkap.
2.5.2. Prinsip Dasar Metode AHP
Dalam menyelesaikan persoalan dengan metode AHP ada beberapa prinsip dasar yang harus dipahami antara lain :
1. Decomposition
Pengertian decomposition adalah memecahkan atau membagi problema yang utuh menjadi unsur – unsurnya ke bentuk hirarki proses pengambilan keputusan, dimana setiap unsur atau elemen saling berhubungan. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan dilakukan terhadap unsur – unsur sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan yang hendak dipecahkan. Struktur hirarki
keputusan tersebut dapat dikategorikan sebagai complete dan incomplete.
Suatu hirarki keputusan disebut complete jika semua elemen pada suatu tingkat memiliki hubungan terhadap semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya, sementara hirarki keputusan incomplete kebalikan dari hirarki
complete. Bentuk strukturdekomposisiyakni :
Tingkat pertama : Tujuan keputusan(Goal)
Tingkat kedua : Kriteria – kriteria
Tingkat ketiga : Alternatif – alternatif
2. Comparative Judgement
Comparative judgement dilakukan dengan penilaian tentang kepentingan
relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkatan di atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP karena akan berpengaruh terhadap urutan prioritas dari elemen – elemennya. Hasil dari penilaian ini lebih mudah disajikan dalam bentuk matriks pairwise
comparisons yaitu matriks perbandingan berpasangan memuat tingkat
preferensi beberapa alternatif untuk tiap kriteria. Skala preferensi yang digunakan yaitu skala 1 yang menunjukkan tingkat yang paling rendah (equal
importance) sampai dengan skala 9 yang menujukkan tingkatan paling tinggi
(extreme importance).
3. Synthesis of Priority
Synthesis of priority dilakukan dengan menggunakan eigen vector method
untuk mendapatkan bobot relatif bagi unsur – unsur pengambilan keputusan.
4. Logical Consistency
Logical consistency merupakan karakteristik penting AHP. Hal ini dicapai
dengan mengagresikan seluruh eigen vector yang diperoleh dari berbagai tingkatan hirarki dan selanjutnya diperoleh suatu vektorcompositetertimbang yang menghasilkan urutan pengambilan keputusan.
2.5.3. Tahapan Pengambilan Keputusan dalam Metode AHP
Gambar 2.19.Tahapan AHP menurut Thomas L. Saaty Keterangan :
1. Tahap 1 = Mendefinisikan struktur hirarki masalah.
Pada tahap ini yaitu mendekomposisikan permasalahan ke dalam bentuk pohon hirarki yang menunjukkan hubungan antara permasalahan, kriteria, alternatif dan solusi.
2. Tahap 2 = Melakukan pembobotan kriteria pada setiap tingkat hirarki
Pada tahapan ini, seluruh kriteria yang berada pada setiap tingkat hirarki diberikan penilaian kepentingan relatif antara satu kriteria dengan kriteria lainnya. Penilaian tersebut menggunakan standar pembobotan Saaty dengan skala berkisar dari 1 hingga 9 dan kebalikannya. Keterangan mengenai skala tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.3.Penilaian Kepentingan Relatif Kriteria Menggunakan Skala Saaty
Skala ai , j Keterangan
1 Kedua criteria sama penting
3 Kriteriaiagak(weakly)lebih penting dari kriteriaj
5 Kriteriaicukup(strongly)lebih penting dari kriteriaj
7 Kriteriaisangat(very strongly)lebih penting dari kriteriaj
9 Kriteria i memiliki kepentingan yang ekstrim (absolutely) dari kriteriaj
2,4,6,8 Kriteria i dan kriteria j memiliki nilai tengah diantara dua nilai keputusan yang berdekatan
Berkebalikan (αi , j= 1/aj , i)
Kriteria imempunyai nilai kepentingan yang lebih dari kriteria
j, maka kriteriajmemiliki nilai berkebalikan
Sumber: T.L Saaty, 1980.
Berdasarkan nilai-nilai kriteria tersebut dapat disusun sebuah matriks
pairwise comparisonsebagai berikut:
a1,1 a1,2 a1,3 … … … a1, j
a2,1 a2,2 a2,3 … … … a2 , j
a3,1 a3,2 a3,3 … … … a3,j
A= … … … …
ai ,1 ai ,2 ai ,3 … … … ai ,j
ai ,j menyatakan elemen matriksAbaris ke –i kolom ke –j.
3. Tahap 3 = Menghitung pembobotan kriteria dan konsistensi pembobotan Pada tahap ini yaitu menghitung prioritas pembobotan dengan mencari nilai
eigenvector dari matriksAmelalui proses sebagai berikut :
a) Kuadratkan matriksA. Nilai elemen matriksA2dengan menggunakan rumus:
n k ai k ak j aij 1 2 , ,ai , k , menyatakan elemen matriks A baris ke- i kolom ke- k dan ak , j ,
menyatakan elemen matriksAbaris ke-kkolom ke-j.
b) Jumlahkan elemen setiap baris matriksA2sehingga diperoleh suatu matriksB dengan menggunakan rumus :
n
j ai j ai ai ai ai j
bi 1 , ,1 ,2 ,3 ... ,
bi menyatakan elemen matriks B baris ke-i. Matriks B disusun
menggunakan elemenbiseperti berikut ini: b1 b2 b3 B = b4 … … … bi
Jumlahkan seluruh elemen matriks menggunakan rumus berikut:
n i i b b b b bi 1 , ... 3 , 2 , 1 ,c) Dari matriks B yang telah diperoleh pada langkah 2 di atas, selanjutnya dilakukan normalisasi terhadap matriks B untuk memperoleh nilai
eigenvector dari matriks B tersebut. Nilai eigenvector dari matriks B ini
digambarkan dalam bentuk matriksEsebagai berikut:
e1 menyatakan elemen matriks E
baris ke-i. e1=b1/ e2=b1/ E = ………. ………. ei=b1/
d) Ketiga proses di atas dilakukan berulang-ulang dan pada setiap akhir iterasi dicari selisih nilai eigenvector matriks E yang diperoleh dengan nilai
eigenvector matriks E sebelumnya sampai diperoleh angka yang mendekati
nol. Matriks E yang diperoleh pada langkah terakhir menunjukkan prioritas kriteria yang ditunjukkan oleh koefisien nilaieigenvector.
4. Tahap 4 = Menghitung pembobotan alternatif
Pada tahap ini yaitu melakukan pembobotan alternatif untuk setiap kriteria dalam matriks pairwise comparison. Proses untuk melakukan pembobotan alternatif ini sama dengan proses yang dilakukan untuk menghitung pembobotan kriteria.
5. Tahap 5 = Menampilkan urutan alternatif yang dipertimbangkan dan memilih alternatif
Pada tahap ini yaitu menghitung nilai eigenvector yang diperoleh pada pembobotan alternatif untuk setiap kriteria dengan nilai eigenvector yang diperoleh pada pembobotan kriteria. Hal ini dilakukan untuk menentukan pilihan dari alternatif yang tersedia. Jumlah nilai terbesar merupakan pilihan yang terbaik. Penghitungan tersebut ditunjukkan sebagai berikut:
R = Alt × E
Alt1,1 Alt1,2 … … Alt1,b E1
Alt2,1 Alt2,2 … … … E2
R = … … … … … …
Alta,1 Alta,2 … … Alta,b a× b Eb b× 1
R1 R1
Ra = …
…
Ra diperoleh dengan rumus :
n b ab Eb Alt Ra 1 ,Alt, menyatakan elemen matriksAltbaris ke-akolom ke-bdanb E
menyatakan elemen matriksEbaris ke-b.
Menurut Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani (1998), dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
Dalam tahap ini kita berusaha menentukan masalah yang akan kita pecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada kita coba tentukan solusi yang mungkin cocok bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih dari satu. Solusi tersebut nantinya kita kembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya.
2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.
Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun level hirarki yang berada di bawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau menilai alternatif yang kita berikan dan menentukan alternatif tersebut. Tiap kriteria mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika mungkin diperlukan).
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya.
Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment
dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya E1,E2,E3,E4,E5.
4. Mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.
Hasil perbandingan dari masing-masing elemen akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisa membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan. Skala perbandingan perbandingan berpasangan dan maknanya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di bawah.
Intensitas Kepentingan
1 = Kedua elemen sama pentingnya, Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar
3 = Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya, Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya
5 = Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya, Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya
7 = Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya, Satu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek
9 = Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya, Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memeliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan.
2,4,6,8 = Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang berdekatan, Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara 2 pilihan
Kebalikan = Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka dibanding dengan aktivitas j , maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding dengan i
5. Menghitung nilaieigendan menguji konsistensinya. Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung vektoreigendari setiap matriks perbandingan berpasangan Merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks, membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan rata-rata. 8. Memeriksa konsistensi hirarki.
Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %
2.5.4. Konsistensi Metode AHP
Penilaian antara satu kriteria dengan kriteria lain tidak bisa sepenuhnya konsisten. Inkonsistensi ini dapat disebabkan oleh kesalahan memasukkan penilaian ke dalam sistem, kurangnya informasi, kurangnya konsentrasi, dunia nyata yang tidak selalu konsisten, atau model struktur hirarki yang kurang sesuai. Metode AHP mengijinkan terjadinya inkonsistensi penilaian kriteria, tetapi inkonsistensi penilaian tersebut tidak boleh melebihi nilai rasio konsistensi sebesar 10%.
Rasio konsistensi ini dapat diperoleh dengan langkah sebagai berikut :
1. Menghitung λmax dari setiap matriks berorde n dengan cara menjumlahkan hasil perkalian antara jumlah bobot seluruh kriteria pada masing-masing kolom matriks dengan nilaieigenvectorutama dari matriks.
2. Menghitung nilai indeks konsistensi untuk setiap matriks berorde n dengan menggunakan rumus: 1 max n n CI Keterangan :
CI = consistency index(indeks konsistensi)
n =orde dari matriks
λmax =nilaieigenvectorterbesar dari matriks berorden
Apabila CI bernilai nol, maka matriks tersebut konsisten. Batas ketidak konsistenan (inconsistency) yang telah ditetapkan oleh Thomas L. Saaty ditentukan dengan menggunakan Rasio Konsistensi (CR), yaitu perbandingan indeks konsistensi dengan nilai Random Indeks (RI) yang didapatkan dari suatu eksperimen oleh Oak Ridge National Laboratory kemudian dikembangkan olehWharton Schooldan diperlihatkan seperti Tabel 2.2. Nilai ini bergantung pada ordo matriksn.
Rasio konsistensi dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
RI CI CR
Keterangan:
CR=consistency ratio(rasio konsistensi)
Tabel 2.4.Nilai Indeks Acak Orde RI Orde RI 1 0 9 1,45 2 0 10 1,49 3 0,52 11 1,51 4 0,89 12 1,48 5 1,11 13 1,56 6 1,25 14 1,57 7 1,35 15 1,59 8 1,40
Tabel di atas menunjukkan nilai indeks acak untuk setiap matriks berorde 1 hingga 15.
2.5.5. Kelebihan dan Kekurangan Metode AHP
Metode AHP memiliki kelebihan dan kelemahan dalam sistem analisisnya. Kelebihan-kelebihan analisis ini adalah :
1. Kesatuan(Unity)
AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.
2. Kompleksitas(Complexity)
AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatan sistem dan pengintegrasian secara deduktif.
3. Saling ketergantungan(Inter Dependence)
AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling bebas dan tidak memerlukan hubungan linier.
4. Struktur Hirarki(Hierarchy Structuring)
AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda dari masing-masing level berisi elemen yang serupa.
5. Pengukuran(Measurement)
AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkan prioritas.
6. Konsistensi(Consistency)
AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yang digunakan untuk menentukan prioritas.
7. Sintesis(Synthesis)
AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa diinginkannya masing-masing alternatif.
8. Trade Off
AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada sistem sehingga orang mampu memilih altenatif terbaik berdasarkan tujuan mereka.
9. Penilaian dan Konsensus(Judgement and Consensus)
AHP tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi menggabungkan hasil penilaian yang berbeda.
10. Pengulangan Proses(Process Repetition)
AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu permasalahan dan mengembangkan penilaian serta pengertian mereka melalui proses pengulangan.
Sedangkan kelemahan metode AHP adalah sebagai berikut:
1. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan subyektivitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
2. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk.