BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dikemukakan analisis dan pembahasan hasil penelitian dari data yang telah diperoleh dan diolah. Adapun analisis data pembahasan tersebut digunakan untuk menjawab persoalan penelitian yang ada. 4.1. Gambaran Singkat Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M.
Haulussy Ambon 4.1.1. Sejarah Rumah Sakit
Rencana pembangunan Rumah Sakit diprakarsai oleh tiga orang dokter, masing-masing Dr. D. P. Tahitu, Dr. K. A. Staa, dan Dr. L. Huliselan tahun 1946. Pada tahun 1947 dimulai dengan penggusuran tanah, sedangkan pembangunan baru dimulai tahun 1948. Pada tahun 1950 dibangun ruangan lelaki, ruangan wanita, dan ruangan menular, masing-masing 391,56 m2.
Belum sempat rumah sakit difungsikan, terjadi pendaratan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Ambon, sehingga rakyat di daerah Kudamati, Benteng, dan sekitarnya mengungsi dan tinggal di rumah sakit. Setelah keadaan pulih, rakyat yang mengungsi kembali ke rumah mereka. Bangunan rumah sakit ini dimanfaatkan lagi oleh TNI dan keluarganya sebagai asrama. Tahun 1951 bangunan rumah sakit dikosongkan namun dalam keadaan rusak berat sehinga perlu diperbaiki lagi.
Di samping perbaikan dibangun pula asrama bagi siswa juru rawat lelaki dan kantor tata usaha sementara
seluas 391,56 m2, asrama siswa juru rawat wanita, laboratorium, klinik OK, ruang interen sementara seluas 391,56 m2, dapur, gudang, tempat cuci, ruangan rontgen, kamar operasi sementara seluas 627,40 m2, kamar mayat seluas 78 m2, garasi seluas 72 m2 dan kamar mesin listrik seluas 35 m2.
Rumah sakit baru diresmikan pada tanggal 3 Maret 1954 dengan nama Rumah Sakit Umum Ambon dan dipimpin oleh Dr.L. Huliselan sebagai Kepala Rumah Sakit Umum Ambon yang pertama. Dengan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 51/Men.Kes/SK/II/79 tanggal 22 Februari 1979, Rumah Sakit Umum Ambon ditetapkan menjadi rumah sakit kelas C. Kemudian dalam perkembangannya setelah dilengkapi dengan berbagai fasilitas baik peralatan maupun tenaga spesialis, maka terhitung mulai tanggal 22 Desember 1994, kelas rumah sakit ditingkatkan menjadi kelas B sesuai SK Menteri Kesehatan Nomor 1069/Menkes/SK/XI/1992 dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Propinsi Dati I Maluku (PERDA) Nomor: 06 Tahun 1994 tanggal 22 Desember 1994. Namun sebelumnya pada tanggal 14 Desember 1994 Rumah Sakit Umum Ambon dirubah namanya menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Haulussy (Keputusan DPRD Tingkat I Maluku tanggal 14 Desember (1994).
4.1.2. Keberhasilan yang Dicapai a. Akreditasi Rumah Sakit
Terakreditasi penuh 12 bidang pelayanan pada tahun 2009, setelah 3 tahun akreditasi lima bidang
Pelayanan Tahun 2006. Akreditasi 12 bidang pelayanan meliputi: Administrasi Manajamen, Pelayanan Medis, Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan, Pelayanan Rekam Medis, Farmasi, Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana, Pelayanan Radiologi, Laboratorium, Kamar Operasi, Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit, Pelayanan Perinatal ResikoTinggi.
b. Piagam “Citra Pelayanan Prima” Tingkat Propinsi empat kali berturut–turut yang dilaksanakan oleh Kementerian Negara Pendaya Gunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada Tahun 2006 s/d 2009
c. Piagam” Citra Pelayanan Prima” Tingkat Nasional Tahun 2010 yang dilaksanakan oleh Kementerian Negara Pendaya Gunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
d. Pelaksanaan Pelayanan Program Keluarga Berencana pasca persalinan dan pasca keguguran Tingkat Nasional padaTahun, 2011 dari Menteri Pemberdayaan Perempuan
e. Pelaksanaan program Rumah Sakit Sanyang Ibu dan bayi RI ( PHI ) ke – 83 pada Tahun 2011
RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon mempunyai filosofi yaitu: melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara
serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.”. Visi RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon adalah “ Rumah Sakit Mandiri dengan Pelayanan Profesional 2013“ sedangkan misi RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon di antaranya adalah: (1) Sumber daya manusia yang berkualitas, (2) Kerja sama antar profesi, (3) Penerapan sistem informasi terpadu, (4) Sarana dan prasarana yang memadai, (5) Konsep bersih dan ramah lingkungan, (6) Kemandirian organisasi, (7) Kerja sama lintas sektor dan lintas program. Motto RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon ”Kami ada untuk melayani”
Fasilitas-fasilitas yang ada di rumah sakit RSU Ambon untuk menunjang pelayanan kepada masyarakat diantaranya adalah: Instalasi Pengolahan Air Limbah 1 unit, Incenerator 1 buah, Mobil Sampah 1 buah, WC Umum 2 buah, 1 buah mobil jenazah, 1 buah mobil sampah, 2 buah mobil ambulance bantuan Depkes tahun 2007 dan 2010, 4 buah mobil ambulance, 3 buah mobil dinas operasional , Kapasitas tenaga listrik (PLN) = 240 KW, Genset 2 unit, 1 unit kapasitas = 140 KW, 1 unit kapasitas = 100 KVA, Perusahaan Air Minum PDAM kapasitas debit air 8 L/detik , Sumur Bor kapasitas debit air 6 L/detik, Alat pemadam kebakaran 37 buah, Hydran 3 buah , Hostel, Tempat parker, Garasi, Peralatan Medis maupun non Medis dan perkantoran tersedia pada masing- masing unit kerja.
RSUD Dr M Haulussy Ambon memiliki jumlah tenaga medis dan non medis serta administrasi secara keseluruhan
berjumlah 749 orang. Perinciaannya dapat dilihat pada tabel 4.1. berikut ini :
Tabel 4.1 Jumlah Tenaga Kerja
No Jenis Keterangan Jumlah
1 Dokter Gigi 3 orang
2 Dokter Umum 32 orang
3 Dokter Spesialis 17 orang
4 Manajemen
Kesehatan/Keuangan 5 orang
5 Tenaga Keperawatan 418 orang
6 Tenaga Farmasi 23 orang
7 Kesehatan Masyarakat 9 orang
8 Tenaga Gizi 29 orang
9 Tenaga Kesehatan Fisik 5 orang 10 Tenaga Kesehatan Lingkungan 17 orang
11 Tenaga Rontgen 6 orang
12 Tenaga Teknis Medis 11 orang 13 Tenaga Perekam Medis 3 orang 14 Tenaga Non Kesehatan 171 orang
Jumlah 749 orang
(Sumber: Data SDM Personalia RSUD, 2013)
4.2. Gambaran Profil Responden
Untuk mendapat data dan informasi dalam penelitian ini adalah dengan cara membagikan kuisioner kepada responden perawat wanita yang telah menikah atau pernah menikah dan memiliki anak di RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon secara keseluruhan berjumlah 332. Dari kuisioner yang dibagikan kepada 157 perawat, yang dikembalikan dan terisi lengkap sebanyak 94 kuisioner.
Dalam deskripsi karakteristik responden tersebut disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Table 4.2.1 Data Karakteristik Responden berdasarkan Usia
No Usia Jumlah Presentase % 1 2 3 3 25-34 35-44 45-54 55-64 20 37 26 11 21 % 39 % 28 % 12 % Jumlah 94 100 %
Sumber pengolahan Data SPSS, 2014
Berdasarkan data yang terkumpul, sebanyak 20 responden (21%) berusia 25-34 tahun, 37 responden (39%) berusia 35-44 tahun, 26 responden (28%) berusia 45-54 tahun dan 11 responden (12%) berusia 55-64 tahun. Seperti yang dilihat pada tabel 4.2.1 di atas dapat diketahui hampir sebagian besar dari perawat wanita yang bekerja di RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon berada pada rentang usia matang yaitu antara usia 35-44 tahun. Wanita dalam usia ini seharusnya sedikit yang mengalami stres kerja dan sudah memiliki kemampuan mengendalikan emosi yang lebih baik di bandingkan wanita pada usia yang lebih mudah.
Table 4.2.2
Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan Terakhir
No Pendidikan
terakhir Jumlah Presentase % 1 2 3 4 SPK D3 S1 S2 10 63 18 3 11 % 67 % 19 % 3 % Jumlah 94 100%
Dari tabel di atas terlihat bahwa responden dengan tingkat pendidikan D3 sebanyak 63 perawat (67%), yang berpendidikan S1 sebanyak 18 (19%), SPK jumlah respondenya 10 (11%) dan responden yang memiliki pendidikan S2 sebanyak 3 (3%). Dari data yang tersaji pada tabel 4.2.2 disimpulkan bahwa lebih dari separuh perawat yang bekerja di RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon baru menyandang pendidikan sampai dengan D3 dengan demikian secara umum perawat yang bekerja di RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon masuk dalam kategori pendidikan sedang.
Table 4.2.3
Karakteristik Responden berdasarkan Masa Kerja
No Masa kerja Jumlah Presentase (%) 1 2 3 4 1-10 11-20 21-30 31-40 10 47 34 3 11 % 50 % 36 % 3 % Jumlah 94 100%
Sumber pengolahan Data SPSS, 2014
Perawat yang telah bekerja selama 1-10 tahun sebanyak 10 orang (11%), 11-20 tahun sebanyak 47 orang (50%), 21-30 tahun sebanyak 34 orang (36%) dan 31-40 tahun sebanyak 3 0rang (3%). Berdasarkan tabel di atas perawat wanita yang lama bekerja di RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon sangat mendominasi yaitu responden berada pada rentang masa kerja 11-20 tahun dan 21-30 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa perawat wanita yang bekerja di RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon sebagian besar sudah bekerja lama. Dengan bertolak dari tabel di atas
dapat dikatakan bahwa pengalaman setiap perawat wanita di RSU Daerah Dr. M. Haulussy Ambon sudah sangat matang sehingga perawat wanita tersebut dapat mengelolah konflik peran ganda dan stres kerja dengan baik sehingga hal ini tidak berpengaruh pada kinerja perawat tersebut.
Table 4.2.4
Karakteristik Responden berdasarkan Ruangan Kerja
Sumber pengolahan Data SPSS, 2014
Dalam penelitian ini sebagian besar responden perawat wanita berada pada ruang beda wanita dan ruang cendrawasi sebanyak 15 orang (16%), interen laki-laki 13 orang (14%), ruang obstetric 12 orang(13%) interen wanita 11 orang (11%) 10 orang (11%) ruang bayi 9 orang(10%), poliklinik 6 orang (6%), dan responden yang relatif kecil ada
No Ruangan Kerja Jumlah Presentase (%) 1 2 3 Ruang lelaki - Beda lelaki - Interen lelaki Ruang wanita - Bedah wanta - Interen wanita - Cendrawasi (ibu hamil) - Anak bayi Ruang menular - Paru – paru - Obstetri - Poliklinik (kulit) 10 13 15 11 15 9 3 12 6 11% 14% 16% 11% 16% 10% 3% 13% 6% Jumlah 94 100%
pada ruang paru-paru dengan jumlah responden sebanyak 3 orang (3%).
4.3. Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas 4.3.1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuisioner. Suatu alat ukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut mampu menunjukan fungsi ukurnya dan mampu memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksut dilakukannya pengukuran tersebut. Validitas alat ukur diketahui dengan mengkorelasikan skor item dengan skala total. Sedangkan untuk kriteria validitas digunakan kriteria yang menyebutkan bahwa suatu alat tes dikatakan valid jika koefisien korelasi item total lebih besar dari 0,25 (Anzwer, 2005).
Dalam tahap ini dilakukan seleksi item pada skala konflik peran ganda yang terdiri dari 13 item pertanyaan berdasarkan hasil analisis, koefisien korelasi item bergerak antara -.087-594. Dari 13 item pertanyaan ternyata item yang dinyatakan valid 10 dan 3 item yang tidak valid/gugur. Item yang dinyatakan gugur adalah item no 1,12, dan 13. Selanjutnya seleksi item pada skala stres kerja yang terdiri dari 12 item pertanyaan berdasarkan hasil analisis, koefisien korelasi item bergerak antara -.019-497, dari 12 item pertanyaan ternyata item yang dinyatakan valid 9 dan 3 item yang tidak valid/gugur, item yang dinyatakan gugur adalah item no 2, 10, dan 11. Demikian pula seleksi item pada
skala kinerja perawat wanita yang terdiri dari 17 item pertanyaan berdasarkan hasil analisis, koefisien korelasi item bergerak antara -.046-649, dari 17 item pertanyaan, ternyata item yang dinyatakan valid 11 dan 6 item yang tidak valid/gugur, item yang dinyatakan gugur adalah item no 2, 11-14, dan 16. Selanjutnya seleksi item pada skala dukungan sosial merupakan variabel keempat yang terdiri dari 17 item pertanyaan berdasarkan hasil analisis, koefisien korelasi item bergerak antara -.060-594. Dari 17 item pertanyaan ternyata item yang dinyatakan valid 12 dan 5 item yang tidak valid/gugur, item yang dinyatakan gugur adalah item no 2,6, 11,14 dan 15.
4.3.2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas diperlukan untuk mengetahui konsistensi suatu alat ukur di dalam mengukur gejala-gejala yang sama terhadap masing-masing butir pertanyaan kuisioner. Pengujian reliabilitas menggunakan nilai cronbach alpha di mana dasar pengambilan keputusannya adalah bahwa variabel dikatakan reliable jika cronbach alpha ˃0,6 (Ghozali, 2005). Dengan demikian uji reliabitas dapat disajikan pada tabel 4.3.2 pada halaman berikut:
Tabel 4.3.2 Item Reliabilitas Variabel Nilai Cronbach
Alpha Keterangan
Konflik Peran Ganda 0.762 Reliabel
Stres Kerja 0.669 Reliabel
Kinerja Perawat Wanita 0.786 Reliabel
4.4. Analisis Statistik Deskriptif
Dalam analisis ini akan dijelaskan mengenai data deskriptif yang menggambarkan tentang nilai minimum, maksimum dan nilai rata-rata (mean). Data deskriptif ini didasarkan dari tanggapan responden terhadap pertanyaan dari variabel konflik peran ganda, stres kerja, kinerja perawat wanita dan dukungan sosial. Statistik deskriptif jawaban responden untuk masing-masing variabel penelitian yang dipaparkan pada uraian berikut dengan penentuan kriteria atas skor rata-rata jawaban menggunakan skala numerik sebagai berikut:
Tabel 4.4
Analisis Statistik Deskriptif Kriteria Interprestasi Interval
rata-rata jawaban Sangat tidak setuju Sangat rendah 1.00-1.80 Tidak setuju Rendah 1.81-2.60 Ragu-ragu Netral 2.61-3.40 Setuju Tinggi 3.41-4.20 Sangat
setuju Sangat tinggi 4.21-5.00
4.4.1. Statistik Deskriptif konflik Peran Ganda
Konflik peran ganda adalah kesulitan-kesulitan yang dirasakan dalam menjalankan kewajiban atau tuntutan peran yang berbeda secara bersamaan. Seorang perawat wanita dituntut dapat menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai perawat dan juga sebagai ibu rumah tangga.
Tabel 4.4.1
Statistik Deskriptif Konflik Peran Ganda N Minimum Maximum Mean
KPG2 94 1.00 5.00 3.063 KPG3 94 2.00 5.00 3.744 KPG4 94 1.00 5.00 3.393 KPG5 94 1.00 5.00 3.308 KPG6 94 1.00 5.00 4.010 KPG7 94 1.00 5.00 3.276 KPG8 94 1.00 5.00 3.361 KPG9 94 1.00 5.00 3.436 KPG10 94 1.00 5.00 3.319 KPG11 94 1.00 5.00 3.074 Rata-rata 3.398
Dari tabel 4.4.1 di atas tampak bahwa skor rata-rata jawaban responden pada 10 item indikator empirik untuk variabel konflik peran ganda sebesar 3.398 dan masuk dalam kategori netral. Angka rata-rata terendah pada variabel konflik peran ganda yaitu item pertanyaan no 2 dengan nilai mean 3.063 dan angka rata-rata tertinggi pada variabel konflik peran ganda yaitu item pertanyaan no 6 dengan nilai mean 4.010.
4.4.2. Statistik Deskriptif Stres Kerja
Stres kerja adalah pengalaman yang bersifat eksternal yang menciptakan adanya ketidak seimbangan fisik dan pisikis dalam diri seseorang akibat dari faktor lingkungan eksternal, organisasi atau orang lain.
Tabel 4.4.2
Statistik Deskriptif Stres Kerja N Minimum Maximum Mean
SK1 94 1.00 5.00 3.351 SK3 94 1.00 5.00 3.117 SK4 94 1.00 5.00 3.170 SK5 94 1.00 5.00 3.021 SK6 94 1.00 5.00 3.020 SK7 94 1.00 5.00 3.138 SK8 94 1.00 5.00 3.223 SK9 94 1.00 5.00 3.138 SK12 94 1.00 5.00 3.117 Rata-rata 3.143
Dari tabel 4.4.2 di atas dapat dilihat bahwa skor rata-rata jawaban responden pada 9 item indikator empirik untuk variabel stres kerja sebesar 3.143 dan masuk dalam kategori netral. Angka rata-rata terendah pada variabel stres kerja yaitu item pertanyaan no 6 dengan nilai mean 3.020 dan angka rata-rata tertinggi pada variabel stres kerja yaitu item pertanyaan no 1 dengan nilai mean 3.351.
4.4.3. Statistik Deskriptif Kinerja Perawat
Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.
Tabel 4.4.3
Statistik Deskriptif Kinerja Perawat N Minimum Maximum Mean
KP1 94 1.00 5.00 3.729 KP3 94 1.00 5.00 3.595 KP4 94 1.00 5.00 3.648 KP5 94 1.00 5.00 3.606 KP6 94 1.00 5.00 3.170 KP7 94 1.00 4.00 3.106 KP8 94 1.00 5.00 3.425 KP9 94 2.00 5.00 3.755 KP10 94 2.00 5.00 3.468 KP15 94 2.00 5.00 3.340 KP17 94 1.00 4.00 3.000 Rata-rata 94 3.449
Tabel 4.4.3 menunjukan bahwa skor rata-rata jawaban responden pada 11 item indikator empirik untuk variabel kinerja perawat sebesar 3.449 dan masuk dalam kategori tinggi. Angka rata-rata terendah pada variabel kinerja perawat yaitu item pertanyaan no 17 dengan nilai mean 3.000 dan angka rata-rata tertinggi pada variabel kinerja perawat yaitu item pertanyaan no 1 dengan nilai mean 3.755 4.4.4. Statistik Deskriptif Dukungan Sosial
Dukungan sosial adalah suatu transaksi interpersonal yang melibatkan perhatian emosional, bantuan instrumental informasi dan penilaian. Dengan adanya dukungan sosial baik itu yang berasal dari pasangan hidup/keluarga, atasan dan rekan kerja yang tinggi dapat menurunya gejala stres yang diakibatkan oleh konflik peran ganda, sebaliknya jika dukungan sosialnya menurun maka stres kerja yang
diakibatkan oleh konflik peran gandi menjadi semakin meningkat.
Tabel 4.4.4
Statistik Deskriptif Dukungan Sosial N Minimum Maximum Mean
DS1 94 2.00 5.00 3.308 DS3 94 2.00 5.00 3.606 DS4 94 2.00 5.00 3.627 DS5 94 2.00 5.00 3.659 DS7 94 2.00 5.00 3.414 DS8 94 2.00 5.00 3.595 DS9 94 2.00 5.00 3.766 DS10 94 2.00 5.00 2.606 DS12 94 2.00 5.00 3.468 DS13 94 2.00 5.00 3.436 DS16 94 2.00 5.00 3.297 DS17 94 2.00 5.00 3.202 Rata-rata 3.415
Dari tabel 4.4.4 terlihat bahwa skor rata-rata jawaban responden pada 12 item indikator empirik untuk variabel dukungan sosial sebesar 3.415 dan masuk dalam kategori tinggi. Angka rata-rata terendah pada variabel dukungan sosial yaitu item pertanyaan no 17 dengan nilai mean 2.202 dan angka rata-rata tertinggi pada variabel dukungan sosial yaitu item pertanyaan no 9 dengan nilai mean 3.766.
4.5. Uji Normalitas
Model regresi tahap pertama dapat diuji normalitas distribusi variabel dependen dan variabel independennya dengan melihat pola penyebaran datanya, seperti yang ditunjukan pada gambar 4.1. Berdasarkan tampilan grafik histogram maupun grafik normal p-plot dapat disimpulkan
bahwa pola distribusi data normal. Grafik normal p-plot of regression standardized juga menunjukkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal tersebut, maka model regresi sederhana tahap pertama tersebut memenuhi asumsi normalitas.
Gambar 4.1
Uji Normaliatas dengan histrogram dan p-plot of regressional standardized variabel dependen Kinerja
Perawat Wanita
4.6. Pengujian Hipotesis
Setelah asumsi-asumsi dasar dapat dipenuhi maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis sebagai berikut:
H1 : Konflik pekerjaan-keluarga berpengaruh signifikan positif terhadap terjadinya stres kerja perawat
H2 : Stres kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja Perawat
H.3.1 : Pengaruh konflik pekerjaan-keluarga terhadap stres kerja dimoderasi oleh variabel dukungan sosial yang berasal dari pasangan hidup dan keluarga.
H.3.2 : Pengaruh konflik pekerjaan-keluarga terhadap stres kerja dimoderasi oleh variabel dukungan sosial yang berasal dari atasan.
H.3.3 : Pengaruh konflik pekerjaan-keluarga terhadap stres kerja dimoderasi oleh variabel dukungan sosial yang berasal dari rekan kerja.
Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan regresi linier sederhana, konflik peran ganda (X1) Stres kerja (X2) sebagai variabel independen, Kinerja Perawat (Y) sebagai variabel dependen dan dukungan sosial (X3) sebagai variabel moderasi. 4.6.1 Pengujian Hipotesis 1 Tabel 4.6.1 Pengujian Hipotesis 1 Model Summaryb Mod
el R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 .705a .497 .491 4.18441 1.958
a. Predictors: (Constant), KPG b. Dependent Variable: SK
ANOVAa
Model Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regressi on 1588.643 1 1588.643 90.731 .000 b Residual 1610.857 92 17.509 Total 3199.500 93 a. Dependent Variable: SK b. Predictors: (Constant), KPG
Berdasarkan pengelolaan data SPSS dihasilkan persamaan regresi linier Y=12.271+.705 X1+ e, yang menunjukan nilai koefisien regresi yang positif sebesar 12.271 hal ini berarti konflik pekerjaan keluarga memiliki pengaruh yang positif terhadap stres kerja, atau dengan kata lain semakin besar konflik yang terjadi antara pekerjaan- keluarga maka semakin meningkat stres kerja pada perawat wanita. Hasil ini diperkuat oleh hasil uji t hitung = 9.525 (positif) dan angka signifikan sebesar 0.000 (lebih kecil dari 0.05). Hal ini berarti variabel konflik peran ganda memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stres kerja. Nilai dari adjusted R Square adalah 0,497, artinya bahwa 49,7% variabel stres kerja dapat dijelaskan oleh variabel konflik peran ganda sedangakan sisanya 50,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Hasil uji F sebesar 90.731 dengan tingkat signifikan = 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi stres kerja.
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Consta nt) 12.271 2.580 4.756 .000 KPG .586 .061 .705 9.525 .000 a. Dependent Variable: SK
4.6.2. Pengujian Hipotesis 2 Table 4.6.2 Uji Hipotesis 2 Model Summaryb Mode l R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .620a .384 .378 5.88244 1.212 a. Predictors: (Constant), SK b. Dependent Variable: KPW ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 1986.386 1 1986.386 57.40 5 .000b Residual 3183.487 92 34.603 Total 5169.872 93 a. Dependent Variable: KPW b. Predictors: (Constant), SK Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 28.496 3.844 7.413 .000 SK .788 .104 .620 7.577 .000 a. Dependent Variable: KPW
Berdasarkan pengelolaan data SPSS yang dihasilkan maka hipotesis kedua yaitu persamaan regresi linier Y= 28.496 +620 X1+ e, yang menunjukkan nilai koefisien regresi yang positif sebesar 28.496. Hal ini berarti stres kerja memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja perawat
wanita atau dengan kata lain semakin besar stres kerja yang terjadi maka akan meningkatkan kinerja perawat wanita. Hasil ini diperkuat oleh hasil uji t hitung = 7.577 (positif) dan angka signifikan sebesar 0.000 (lebih kecil dari 0.05) Nilai dari adjusted R Square adalah 0,384, Hasil uji F sebesar 57.405 dengan tingkat signifikan = 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi kinerja perawat.
4.6.3. Pengujian Hipotesis 3
Hipotesis ketiga terdiri dari tiga rumusan yakni 3.1 pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari pasangan hidup/keluarga, 3.2 pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari atasan, dan 3.3 pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari rekan kerja.
Pengambilan keputusan untuk variabel moderasi adalah jika nilai koefisien regresi bernilai negatif dan angka signifikan menujukan hasil yang signifikan (lebih kecil dari 0,05). Hasil pengolahan data SPSS pengujian hipotesis 3.1 ditunjukkan pada tabel 4.6.3
Tabel 4.6.3 Uji Hipotesis 3.1 Model Summary Mode l R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .843a .711 .704 3.83720 a. Predictors: (Constant), X1X4, X1 ANOVAa Model Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression 3289.807 2 1644.903 111.715 .000b
Residual 1339.895 91 14.724
Total 4629.702 93
a. Dependent Variable: YSTRESS b. Predictors: (Constant), X1X4, X1 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 27.862 3.287 8.476 .000 X1 -.395 .166 -.328 -2.380 .019 X1X4 .030 .004 1.132 8.204 .000
a. Dependent Variable: YSTRESS
Berdasarkan hasil pengololaan data SPSS untuk konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari pasangan hidup/keluarga menunjukan nilai koefisien yang positif sebesar 27.862 dan angka signifikan sebesar 0.000 (lebih kecil dari 0.05), dengan berdasarkan pada hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial dari pasangan hidup/keluarga diterima.
Tabel 4.6.4 Uji Hipotesis 3.2
Model Summary
Mode
l R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .725a .525 .514 4.91632
a. Predictors: (Constant), X1X2, X1
ANOVAa
Model Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression 2430.213 2 1215.106 50.273 .000b
Residual 2199.489 91 24.170
Total 4629.702 93
a. Dependent Variable: YSTRESS b. Predictors: (Constant), X1X2, X1
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta
1
(Constant) 13.428 3.462 3.879 .000
X1 .499 .173 .414 2.880 .005
X1X2 .012 .005 .336 2.332 .022
a. Dependent Variable: YSTRESS
Berdasarkan hasil pengolahan data SPSS untuk konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari atasan, hasil pengujian menunjukkan nilai koefisien yang positif sebesar 13.428 dan angka signifikan sebesar 0.022 (lebih kecil dari 0.05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial dari atasan diterima.
Tabel 4.6.5 Uji Hipotesis 3.3 Model Summary Mode l R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .705a .497 .485 5.06095 a. Predictors: (Constant), X1X3, X1 ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean
Square F Sig. 1 Regression 2298.902 2 1149.451 44.877 .000b Residual 2330.800 91 25.613 Total 4629.702 93
a. Dependent Variable: YSTRESS b. Predictors: (Constant), X1X3, X1 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 10.467 3.368 3.108 .003 X1 .857 .162 .712 5.296 .000 X1X3 -.001 .008 -.009 -.069 .945
a. Dependent Variable: YSTRESS
Berdasarkan hasil pengololaan data SPSS untuk konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari rekan kerja menunjukan nilai koefisien yang positif sebesar 10.467 dan angka signifikan sebesar 0.945 (lebih besar dari 0.05), dengan dilihat pada hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial dari rekan kerja ditolak.
Pada tabel 4.6.6. dibawah ini akan disajikan kesimpulan pengujian hipotesis pertama hingga hipotesis yang ketiga (3.1, 3.2 dan 3.3)
Tabel 4.6.6
Kesimpulan Pengujian Hipotesis
Rumusan Hipotesis Keputusan H1 Konflik peran ganda berpengaruh
signifikan positif terhadap stres kerja
Diterima
H2 Stres kerja berpengaruh signifikan
negatif terhadap kinerja perawat Ditolak
H3.1 Pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari pasangan hidup dan keluarga
Diterima
H3.2 Pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari atasan
Diterima
H3.3 Pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari rekan kerja
Ditolak
4.7. Pembahasan dan Analisis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan dan positif, hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi konflik peran ganda yang terjadi dalam diri perawat wanita maka akan meningkatkan stres kerja. Seorang perawat wanita seharusnya mampu menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan keluarga sehingga tidak terjadi konflik peran ganda dan akibatnya menibulkan stres. Seorang perawat yang selalu melayani berbagai tipe pasien dengan berbagai sifat dan karakteristik yang berbeda-beda perlu memiliki kondisi fisik dan pisikis yang baik sehingga dapat melayani pasien dengan baik pula. Hasil penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian
terdahulu oleh Rozikin (2006) yang menyimpulkan bahwa konflik peran ganda berpengaruh signifikan dan positif terhadap stres kerja. Selain temuan-temuan tersebut berdasarkan hasil penelitian ditemukan nilai R Square sebesar 0,497 artinya bahwa adanya konflik peran ganda dalam diri perawat sehingga menimbulkan stres kerja pada perawat wanita yang bekerja di RSU Ambon dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Persoalan penelitian yang kedua yaitu apakah stres kerja berpengaruh terhadap kinerja perawat wanita. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh signifikan positif terhadap kinerja perawat. Profesi perawat merupakan profesi yang rentang menimbulkan stres jika tidak mampu dikendalikan secara baik. Hal ini bisa dipahami mengingat setiap harinya dalam melaksanakan pengabdiannya, seorang perawat tidak hanya berhubungan dengan pasien saja, tetapi juga dengan keluarga pasien, teman pasien, peraturan yang ada di tempat kerja, beban kerja yang kadangkala dinilai tidak sesuai dengan kondisi fisik, pisikis dan emosionalnya.
Stres kerja yang dialami oleh perawat wanita di RSU Ambon memberikan dampak positif bagi kinerja mereka. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Robbins (2003) bahwa tingkat stres yang mampu dikendalikan dapat membuat karyawan melakukan pekerjaannya dengan baik, karena membuat mereka mampu meningkatkan intensitas
kerja, kewaspadaan, dan kemampuan berkreasi. Walaupun stres kerja meningkat, ternyata kinerja perawat juga meningkat, yang artinya para perawat mampu mengelola stres mereka dengan baik sehingga semakin tinggi stres maka kinerja merekapun semakin tinggi.
Persoalan penelitian yang ketiga yaitu apakah ada pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial baik yang berasal dari pasangan hidup/keluarga, atasan, dan rekan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari pasangan hidup memiliki nilai koefisien regresi positif sebesar 8.476 dan angka signifikan sebesar 0,000. Dukungan sosial yang berasal dari atasan nilai koefisien regresiya bernilai positif sebesar 3.879 dan angka signifikannya sebesar 0,02. Hal ini berarti pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja dimoderasi oleh dukungan sosial yang berasal dari pasangan hidup dan atasan dapat diterima. Hasil pengolahan data di atas sejalan dengan pendapat Thomas (2003) yang mengatakan bahwa dukungan pasangan hidup/keluarga dan atsan dapat membantu menurunya stres kerja yang disebabkan karena konflik peran ganda. Dalam sistim dual career family seorang istri yang bekerja diharuskan untuk dapat menyimbangkan antara urusan pekerjaan dan urusan keluarga sehingga tidak menimbulkan konflik peran ganda. Tekanan untuk menyimbangkan dua peran sekaligus dapat
menimbulkan stres dan berakibat pada masalah kesehatan. Dukungan sosial dari pasangan hidup/keluarga dan atasan yang tinggi dapat menurunkan stres kerja dan masalah kesehatan yang dihadapi, dukungan pasangan hidup/keluarga ini dapat disebut dengan sebagian sikap penuh perhatian yang ditunjukkan dalam berbagai bentuk kerja sama yang positif, berbagi dalam menyelesaikan urusan pekerjaan dan keluarga.
Nilai koefisien hasil regresi pengaruh dukungan sosial yang berasal dari rekan kerja adalah positif sebesar 3.108 dan nilai signifikannya sebesar 0,945. Hal ini berarti peran moderasi dukungan sosial yang berasal dari rekan kerja ditolak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dukungan sosial dari rekan kerja tidak akan memperkuat ataupun memperlemah pengaruh konflik peran ganda terhadap stres kerja para perawat.