BAB III
LANDASAN TEORI
3.1. Ergonomi
Peranan ergonomi sebagai disiplin ilmu tidak lepas dari aspek - aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi,
engineering, manajemen dan desain (perancangan). Ergonomi adalah suatu studi
tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya berinteraksi untuk saling menyesuaikan dengan tujuan mencapai optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan ketika bekerja.
Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun (desain) ataupun rancang ulang desain (re-desain). Perancangan tersebut meliputi perangkat keras seperti misalnya perkakas kerja (tools), bangku kerja, patform, kursi, pegangan alat keja dan lain sebagainya. Penerapan ergonomi dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja dalam hal perancangan
fasilitas kerja adalah syarat utama dalam menciptakan keserasian sistem kerja dengan manusia sebagai pengendalinya (man-machine system).
Perancangan fasilitas yang ideal harus menyesuaikan peranan dan fungsi pokok dari komponen–komponen yang terlibat dalam sistem kerja tersebut. Salah satu definisi ergonomi yang menitikberatkan pada penyesuaian desain terhadap manusia didasarkan pada kemampuan dan keterbatasan manusia dengan pekerjaannya terutama yang berkaitan dengan aspek pengamatan, kognitif, fisik maupun psikologisnya (Nurmianto, 2008).
3.2. Keluhan Musculoskeletal
Keluhan musculoskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon.
Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan
Musculoskeletal disorsders (MSDs) atau cedera pada sistem muskuloskeletal.
Apabila pekerjaan berulang tersebut dilakukan dengan cara yang nyaman, sehat dan sesuai dengan standar yang ergonomis, maka tidak akan menyebabkan gangguan muskuloskeletal dan semua pekerjaan akan berlangsung dengan efektif dan efisien. Secara garis besar keluhan otot yang terjadi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan hilang apabila pembebanan dihentikan.
2. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut.
Studi tentang MSDs pada berbagai jenis industri telah banyak dilakukan dan hasil studi menunjukkan bahwa bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot rangka (skeletal) yang meliputi leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Diantara keluhan otot skeletal tersebut, yang paling banyak dialami oleh pekerja adalah otot bagian pinggang (low back
pain = LBP).
Keluhan otot skeletal pada umumnya terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan akibat pemberian beban kerja yang terlalu berat dengan durasi pembebanan yang panjang. Sebaliknya, keluhan otot kemungkinan tidak terjadi apabila kontraksi otot hanya berkisar antara 15-20%. Peredaran darah ke otot berkurang menurut tingkat kontraksi yang dipengaruhi oleh besarnya tenaga yang diperlukan. Bila suplai oksigen ke otot menurun, proses metabolisme karbohidrat terhambat dan sebagai akibatnya terjadi penimbunan asam laktat yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri otot.
Faktor yang dapat menyebabkan terjadi keluhan musculoskeletal sebagai berikut.
Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya sering dikeluhakan oleh para pekerja dimana aktivitas kerjanya menuntut pengerahan tenaga yang besar seperti aktivitas mengangkat, menarik, mendorong dan menahan beban yang berat. Peregangan otot yang berlebihan ini terjadi karena pengerahan otot yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal serupa sering dilakukan, maka dapat mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot, bahkan dapat menyebabkan terjadinya keluhan otot skeletal.
2. Aktivitas berulang
Aktivitas berulang merupakan pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus seperti pekerjaan mencangkul, membelah kayu besar, angkut dan sebagainya. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja secara terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk relaksasi.
3. Sikap kerja tidak alamiah
Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi bagian bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala terangkat dan sebagainya. Semakin jauh posisi tubuh dari pusat gravitasi tubuh, maka semakin tinggi pula resiko terjadinya keluhan otot skeletal.
4. Faktor penyebab sekunder
Faktor penyebab sekunder ini adalah berupa tekanan langsung dari jaringan otot yang lunak atau getaran dengan frekuensi tinggi yang menyebabkan kontraksi otot bertambah (Peter Vi, 2000).
Ada beberapa cara yang telah diperkenalkan dalam melakukan evaluasi ergonomi untuk mengetahui hubungan antara tekanan fisik dengan resiko keluhan otot skeletal. Pengukuran terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena melibatkan berbagai faktor subjektif seperti kinerja, motivasi, harapan dan toleransi kelelahan. Alat ukur yang digunakan dpat dilakukan dengan berbagai cara mulai metode yang sederhana sampai menggunakan sistem komputer. Salah satu dari metode tersebut adalah melalui Standard Nordic Questionnaire (Tarwaka dkk, 2004).
3.3. Standard Nordic Quetionnaire (SNQ)
Standard Nordic Questionnaire (SNQ) merupakan alat yang dapat
mengetahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari Tidak Sakit (TS), agak sakit (AS), Sakit (S) dan Sangat Sakit (SS). Dengan melihat dan menganalisis peta tubuh seperti pada Gambar 3.1. maka dapat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh pekerja (Santoso, 2004).
Keterangan
No Jenis Keluhan
0 Sakit kaku di bagian leher
bagian atas
1 Sakit kaku di bagian leher
bagian bawah 2 Sakit di bahu kiri
3 Sakit di bahu kanan
4 Sakit lengan atas kiri
7 Sakit pada pinggang
8 Sakit pada bokong
9 Sakit pada pantat
10 Sakit pada siku kiri
11 Sakit pada siku kanan
12 Sakit pada lengan bawah kiri
13 Sakit pada lengan bawah kanan
14 Sakit pada pergelangan tangan kiri
15 Sakit pada pergelangan tangan kanan
16 Sakit pada tangan kiri
17 Sakit pada tangan kanan
18 Sakit pada paha kiri
19 Sakit pada paha kanan
20 Sakit pada lutut kiri
21 Sakit pada lutut kanan
22 Sakit pada betis kiri
23 Sakit pada betis kanan
24 Sakit pada pergelangan kaki kiri
25 Sakit pada pergelangan kaki kanan
26 Sakit pada kaki kiri
27 Sakit pada kaki kanan Sumber : Buku Ergonomi Manusia, Peralataan dan Lingkungan (Santoso, 2004)
Gambar 3.1. Standard Nordic Questionnaire (SNQ) 3.4. Postur Kerja
Posisi tubuh dalam kerja sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan yang dilakukan. Masing-masing posisi kerja mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap tubuh. Bekerja dengan posisi duduk mempunyai keuntungan antara lain: 1. Pembebanan pada kaki
2. Pemakaian energi dapat dikurangi
3. Keperluan untuk sirkulasi darah dapat dikurangi (Grandjean, 1993)
Namun demikian kerja dengan sikap duduk terlalu lama dapat menyebabkan otot perut melembek dan tulang belakang akan melengkung
sehingga cepat lelah. Mengingat posisi duduk mempunyai keuntungan dan kerugian, maka untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik tanpa pengaruh buruk pada tubuh, perlu dipertimbangkan pada jenis pekerjaan apa saja sesuai diterapkan posisi duduk. Pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi duduk antara lain:
1. Pekerjaan yang memerlukan kontrol dengan teliti pada kaki
2. Pekerjaan utama adalah menulis atau memerlukan ketelitian pada tangan 3. Tidak diperlukan tenaga dorong yang besar
4. Objek yang dipegang tidak memerlukan tangan bekerja pada ketinggian lebih dari 15 cm dari landasan kerja
5. Diperlukan tingkat kestabilan tubuh yang tinggi 6. Pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama
7. Seluruh objek yang dikerjakan atau disuplai masih dalam jangkauan dengan posisi duduk (Pulat, 1992)
Selain posisi kerja duduk, posisi berdiri juga banyak ditemukan di perusahaan. Seperti halnya posisi duduk, posisi kerja berdiri juga mempunyai keuntungan maupun kerugian. Sikap berdiri merupakan sikap siaga baik fisik maupun mental, sehingga aktivitas kerja yang dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti (Sutalaksana, 2000).
Pada dasarnya, berdiri lebih lelah dari pada duduk dan energi yang dikeluarkan untuk berdiri lebih banyak 10-15% dibandingkan dengan duduk. Untuk meminimalkan pengaruh kelelahan dan keluhan subjektif maka pekerjaan harus didesain agar tidak terlalu banyak menjangkau, membungkuk, atau
melakukan gerakan dengan posisi kepala yang tidak alamiah. Pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi berdiri antara lain: 1. Tidak tersedia tempat untuk kaki dan lutut
2. Harus memegang objek yang berat (lebih dari 4,5 kg) 3. Sering menjangkau ke atas, ke bawah dan ke samping. 4. Sering melakukan pekerjaan dengan menekan ke bawah 5. Memerlukan mobilitas tinggi (Pulat, 1992)
3.5. ManTRA (Manual Task Risk Assessment) Tool
ManTRA (Manual Task Risk Assessment) tool merupakan alat penilaian postur kerja yang dirancang oleh Burgess-Limerick et al, pada tahun 2000. Metode ini secara konseptual digunakan untuk menilai postur tubuh saat bekerja berdasarkan indeks anggota tubuh bagian atas. Peneliti menggunakan alat ini sebagai bagian dari objek permasalahan yang dibutuhkan untuk mengumpulkan informasi mengenai total waktu untuk suatu tugas yang sedang dilakukan dan menentukan penilaian menggunakan 5 skala poin dari lima karakteristik suatu pekerjaan yakni waktu siklus (pengulangan), gaya yang dibutuhkan, kecepatan, kekakuan postur, dan getaran.
Aplikasi manTRA mampu mengevaluasi resiko cedera (baik yang bersifat mendadak maupun kumulatif) yang dialami oleh pekerja saat melakukan pekerjaannya. Kesimpulan dari penilaian ini hanya dapat diterapkan pada individu yang diteliti, bukan pada populasinya.
Penerapan metode ManTRA dilakukan dengan mengikuti prosedur penilaian berdasarkan pengukuran total waktu (durasi) kerja, pengukuran faktor resiko yang berulang, pengukuran faktor resiko akibat pengerahan tenaga, pengukuran faktor resiko kekakuan, pengukuran faktor resiko getaran. Setelah mendapatkan nilai-nilai penilaian dari setiap kriteria faktor resiko lalu dilakukan interpretasi penilaian untuk menentukan tindakan lebih lanjut yang akan dilakukan.
1. Pengukuran Total Waktu
Total waktu merupakan rata-rata dari total waktu suatu pekerjaan dilakukan dalam suatu hari tertentu. Penilaian rata-rata total waktu dapat dilihat dalam Tabel 3.1
Tabel 3.1. Tabel Penilaian Resiko Waktu Siklus Jam/hari 0-2 jam/hari 2-4 4-6 jam/hari 6-8 jam/hari > 8 jam/hari Skor 1 2 3 4 5
Sumber : Manual Tasks Risk Assessment (ManTRA) V 2.0 (Burgess, 2000)
2. Pengukuran Resiko Waktu Siklus Berulang
Pengulangan dinilai dengan mengevaluasi waktu siklus dan durasi suatu tugas pada setiap bagian tubuh. Waktu siklus merupakan durasi waktu dari suatu tugas yang dikerjakan lebih dari satu kalitan tanpa adanya gangguan. Penilaian resiko waktu siklus berulang dapat dilihat dalam Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Tabel Penilaian Resiko Waktu Siklus Berulang Waktu Siklus > 5 menit 15 menit 30 dtk– 1min 10 dtk– 30dtk < 10 dtk Skor 1 2 3 4 5
Durasi adalah waktu dimana tugas yang memilki siklus berulang dilakukan tanpa satu atau banyak gangguan. Kode durasi akan selalu sama untuk setiap bagian dari tugas tertentu. Waktu siklus dan kode durasi dicantumkan dalam tabel untuk menentukan nilai dari resiko yang berulang. Penilaian resiko durasi kerja dapat dilihat dalam Tabel 3.3
Tabel 3.3. Tabel Penilaian Resiko Durasi Kerja Wakt u Dura si < 10mi n 10 mi n – 30 mi n 30 mi n – 1 ja m 1 jam -2 Ja m > 2 h r Skor 1 2 3 4 5
Sumber : Manual Tasks Risk Assessment (ManTRA) V 2.0 (Burgess, 2000)
Faktor resiko yang berulang ditentukan dengan mencantumkan skor dari waktu siklus dan durasi pada tabel resiko yang berulang. Penilaian resiko durasi waktu dan waktu siklus dapat dilihat dalam Tabel 3.4.
Tabel 3.4. Tabel Penilaian Resiko Durasi Waktu dan Waktu Siklus Skor
Waktu Siklus
Skor Durasi Waktu
1 2 3 4 5 1 1 1 2 3 4 2 1 2 3 4 4 3 2 3 4 4 5 4 2 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5
3. Pengukuran Resiko Akibat Pengerahan Tenaga
Resiko pengerahan tenaga dapat dinilai dengan mengevaluasi gaya akibat adanya kecepatan setiap bagian tubuh. Sama halnya dengan resiko berulang dengan durasi waktu dan waktu siklus, nilai dari resiko akibat pengerahan tenaga ditentukan dari skor gaya dan kecepatan yang dicantumkan dalam Tabel 3.5.
Tabel 3.5. Tabel Penilaian Faktor Resiko Gaya (Force)
Kategori Gaya Minimal Sedang Maksimal
Skor 1-2 3-4 5
Sumber : Manual Tasks Risk Assessment (ManTRA) V 2.0 (Burgess, 2000)
Gaya merupakan penilaian dari usaha penggunaan otot pada suatu bagian tubuh selama pekerjaan dilakukan dengan gaya maksimum yang dapat digunakan oleh seseorang saat bekerja. Pekerjaan yang dilakukan dalam waktu yang singkat dengan gaya yang sedang dinilai sama dengan pekerjaan yang dilakukan dalam durasi yang lama dengan gaya yang sedang, karena pengukuran durasi dilakukan secara terpisah. Kecepatan dinilai dari rata-rata keseluruhan gerakan saat melakukan suatu pekerjaan. Contohnya, bila suatu tugas kebanyakan membutuhkan gerakan yang lambat dengan beberapa elemen cepat, itu akan dinilai sebagai langkah sedang dan akan mendapatkan skor 2. Skor 3 akan diberikan hanya pada pekerjaan statis utama. Penilaian resiko kecepatan dapat dilihat dalam Tabel 3.6.
Tabel 3.6. Tabel Penilaian Resiko Kecepatan (Speed) Katergori Kecepatan Pergerakan Lambat Cukup Cepat Sedikit atau Statis Cepat dan Lancar Cepat dan Tersentak-sentak Skor 1 2 3 4 5
Resiko akibat pengerahan tenaga (resiko gabungan) ditentukan dengan mencantumkan skor-skor dari gaya dan kecepatan dalam tabel resiko akibat pengerahan tenaga. Penilaian resiko gabungan dapat dilihat dalam Tabel 3.7.
Tabel 3.7. Tabel Penilaian Resiko Gabungan (Gaya dan Kecepatan) Skor Gaya Skor Kecepatan 1 2 3 4 5 1 1 1 2 3 4 2 1 2 3 4 4 3 2 3 4 4 5 4 2 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5
Sumber : Manual Tasks Risk Assessment (ManTRA) V 2.0 (Burgess, 2000)
4. Pengukuran Resiko Kekakuan
Kekakuan didefinisikan sebagai derajat deviasi dari tulang sendi. Semakin besar deviasi, semakin besar pula tingkat bahayanya. Penilaian dilakukan untuk keseluruhan tugas, oleh karena itu harus menampilkan rata-rata dari berbagai posisi tubuh untuk setiap bagian tubuh ketika melakukan pekerjaan. Penilaian resiko kekakuan dapat dilihat dalam Tabel 3.8.
Tabel 3.8. Tabel Penilaian Faktor Resiko Kekakuan Amount of
Awardness A B C D E
Skor 1 2 3 4 5
Sumber : Manual Tasks Risk Assessment (ManTRA) V 2.0 (Burgess, 2000) Keterangan:
A = Postur tubuh mendekati netral
B = Penyimpangan kecil dari kondisi netral ke satu arah C = Penyimpangan kecil dari kondisi netral lebihdari satu arah
D = Penyimpangan melebihi dari jarak normal dari kondisi netral ke satu arah E = Penyimpangan melebihi dari jarak normal dari kondisi netral lebih dari satu arah
Pekerjaan yang menimbulkan resiko getaran harus mempertimbangkan kedua faktor berikut: keseluruhan tubuh dan getaran bagian tubuh. Getaran pada keseluruhan tubuh akan berdampak pada lengan bawah dan tulang belakang ketika getaran pada bagian tubuh menyerang kaki dan tangan bagian atas. Penilaian dilakukan untuk keseluruhan tugas, oleh karena itu harus ditampilkan durasi rata-rata dan tugas tersebut. Penilaian resiko getaran dapat dilihat dalam Tabel 3.9.
Tabel 3.9. Tabel Penilaian Resiko Getaran Amount of
Vibration None Minimal
Moderate Amplitude Large Amplitude Severe amplitude Skor 1 2 3 4 5
Sumber : Manual Tasks Risk Assessment (ManTRA) V 2.0 (Burgess, 2000)
Setelah mendapatkan semua penilaian untuk setiap karakteristik penilaian selanjutnya dilakukan interpretasi nilai. Untuk setiap bagian tubuh, skor untuk total waktu, pengulangan, pengerahan tenaga, kekakuan dan getaran dijumlahkan. Jumlah dari skor untuk setiap bagian tubuh disebut resiko kumulatif, dan memiliki rentang antara 5-25. Tindakan lebih lanjut perlu dilakukan bila salah satu bagian tubuh memiliki :
1. Nilai faktor resiko untuk pengerahan tenaga sebesar 5
2. Jumlah dari nilai pengerahan tenaga dan kekakuan sebesar 8 atau lebih 3. Nilai kumulatif resiko dari keseluruhan tubuh sebesar 15 atau lebih.
Nilai tersebut dapat membantu memprioritaskan tugas untuk penilaian/ pengontrolan yang dianjurkan. Demikian juga, skor merefleksikan resiko terbesar sehingga dapat memperhatikan bagian tubuh yang harus diperhatikan dan dikontrol (Burgess, 2000).
3.6. Antropometri
3.6.1. Definisi Antropometri
Istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri”
yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia Antropometri adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain (Nurmianto,1991).
3.6.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengukuran Antropometri
Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Di sini ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga sudah semestinya seorang perancang produk harus memperhatikan faktor-faktor tersebut yang antara lain adalah:
a. Umur. Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar, seiring dengan bertambahnya waktu, yaitu sejak awal kelahirannya sampai dengan umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu penelitian yang dilakukan oleh A.F.Roche dan G.H.Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki akan tumbuh dan berkembang naik sampai dengan usia 21,2 tahun, sedangkan wanita 17,3 tahun, meskipun ada sekitar 10 % yang masih terus bertambah tinggi sampai usia 23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita) Setelah itu, tidak akan terjadi pertumbuhan bahkan akan cenderung berubah
menjadi penurunan ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahunan.
b. Jenis kelamin (sex). Dimensi ukuran tubuh laki-laki umunya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul, dan sebagainya.
c. Suku/bangsa (ethnic). Setiap suku, bangsa ataupun kelompok etnik akan memilki karakteristik fisik yang akan berbeda satu dengan yang lainya.
d. Jenis pekerjaan. Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan/stafnya. Misalnya buruh dermaga/pelabuhan adalah harus mempunyai postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada umumnya. Apalagi dibandingkan dengan jenis pekerjaan militer.
e. Cacat tubuh, dimana data antropometri disini akan diperlukan untuk perancangan produk bagi orang-orang cacat (kursi roda, kaki/tangan palsu, dan lain-lain).
f. Tebal/tipisnya pakaian yang harus dikenakan, dimana faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda-beda pula dalam pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Dengan demikian dimensi tubuh orang akan berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain.
g. Kehamilan (pregnancy), dimana kondisi semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh (khusus perempuan). Hal tersebut jelas memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmentasi seperti ini (Sritomo, 1995).
Tahapan perancangan sistem kerja work space design dengan memperhatikan faktor antropometri secara umum adalah sebagai berikut (Roevuck, 1995) :
1. Menentukan kebutuhan perancangan (establish requirement) 2. Mendefinisikan dan mendeskripsikan populasi pemakai
3. Pemilihan sampel yang akan diambil datanya
4. Penentuan sumber data (dimensi tubuh yang akan diambil) 5. Penyiapan alat ukur yang akan dipakai
6. Pengambilan data 7. Pengolahan data
a. Uji kecukupan data b. Uji normalitas data c. Uji keseragaman data d. Penentuan persentil
3.6.3. Dimensi Antropometri
Dimensi antropometri merupakan ukuran tubuh pada posisi tertentu. Data ini dapat dimanfaatkan guna menetapkan dimensi ukuran produk yang akan dirancang dan disesuaikan dengan dimensi tubuh manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakannya. Data antropometri tubuh yang diukur dalam panduan survei data antropometri dapat dilihat pada Tabel 3.10 (Hartono, 2004).
Tabel 3.10. Pengukuran Dimensi Tubuh No Data yang Diukur Cara Pengukuran
1 Tinggi tubuh Jarak vertikal dari lantai ke bagian paling atas kepala.
2 Tinggi mata Jarak vertikal dari lantai ke bagian luar sudut mata kanan.
3 Tinggi bahu Jarak vertikal dari lantai ke bagian atas bahu kanan (acromion) atau ujung tulang bahu kanan
4 Tinggi siku Jarak vertikal dari lantai ke titik terbawah di sudut siku bagian kanan.
5 Tinggi pinggul Jarak vertikal dari lantai ke bagian pinggul kanan.
6 Tinggi tulang ruas Jarak vertikal dari lantai ke bagian tulang ruas/buku jari tangan kanan
(metacarpals).
7 Tinggi ujung jari Jarak vertikal dari lantai ke ujung jari tengah tangan kanan (dactylion).
8 Tinggi dalam posisi duduk Jarak vertikal dari alas duduk ke bagian paling atas kepala.
9 Tinggi mata dalam posisi duduk
Jarak vertikal dari alas duduk ke bagian luar sudut mata kanan.
10 Tinggi bahu dalam posisi duduk
Jarak vertikal dari alas duduk ke bagian atas bahu kanan
11 Tinggi siku dalam posisi duduk
Jarak vertikal dari alas duduk ke bagian bawah lengan bawah tangan kanan. 12 Tebal paha Jarak vertikal dari alas duduk ke bagian
paling atas dari paha kanan.
13 Panjang lutut Jarak horizontal dari bagian belakang pantat (pinggul) kebagian depan lulut kaki kanan.
14 Panjang popliteal Jarak horizontal dari bagian belakang pantat (pinggul) kebagian belakang lutut kanan.
15 Tinggi lutut Jarak vertikal dari lantai ke tempurung lutut kanan.
16 Tinggi popliteal Jarak vertikal dari lantai ke sudut
popliteal yang terletak di bawah paha,
tepat di bagian belakang lutut kaki kanan. Sumber: Panduan Survei Data Antropometri (Hartono, 2004)
Tabel 3.10. Pengukuran Dimensi Tubuh (Lanjutan) No Data yang Diukur Cara Pengukuran
17 Lebar sisi bahu Jarak horizontal antara sisi paling luar bahu kiri dan sisi paling luar bahu kanan. 18 Lebar bahu bagian atas Jarak horizontal antara bahu atas kanan
dan bahu atas kiri.
19 Lebar pinggul Jarak horizontal antara sisi luar pinggul kiri dan sisi luar pinggul kanan.
20 Tebal dada Jarak horizontal dari bagian belakang tubuh ke bagian dada
21 Tebal perut Jarak horizontal dari bagian belakang tubuh ke bagian yang paling menonjol di bagian perut.
22 Panjang lengan atas Jarak vertikal dari bagian bawah lengan bawah kanan ke bagian atas bahu kanan. 23 Panjang lengan bawah Jarak horizontal dari lengan bawah
diukur dari bagian belakang siku kanan ke bagian ujung dari jari tengah.
24 Panjang rentang tangan ke depan
Jarak dari bagian atas bahu kanan
(acromion) ke ujung jari tengah tangan
kanan dengan siku pergelangan tangan kanan lurus.
25 Panjang bahu - genggaman tangan ke depan
Jarak dari bagian atas bahu kanan
(acromion) ke pusat batang silinder yang
digenggam oleh tangan kanan, dengan siku dan pergelangan tangan lurus.
26 Panjang kepala Jarak horizontal dari bagian paling depan dahi (bagian tengah antara dua alis) ke bagian tengah kepala.
27 Lebar kepala Jarak horizontal dari sisi kepala bagian kiri ke sisi kepala bagian kanan, tepat di atas telinga.
28 Panjang tangan Jarak dari lipatan pergelangan tangan ke ujung jari tengah tangan kanan dengan posisi tangan dan seluruh jari lurus dan terbuka.
29 Lebar tangan Jarak antara kedua sisi luar empat buku jari tangan kanan yang diposisikan lurus dan rapat.
30 Panjang kaki Jarak horizontal dari bagian belakang kaki (tumit) ke bagian paling ujung dari jari kaki kanan.
31 Lebar kaki Jarak antara kedua sisi paling luar kaki. Sumber: Panduan Survei Data Antropometri (Hartono, 2004)
Tabel 3.10. Pengukuran Dimensi Tubuh (Lanjutan) No Data yang Diukur Cara Pengukuran
32 Panjang rentangan tangan ke samping
Jarak maksimum ujung jari tengah tangan kanan ke ujung jari tengah tangan kiri. 33 Panjang rentangan siku Jarak yang diukur dari ujung siku tangan
kanan ke ujung siku tangan kiri. 34 Tinggi genggaman tangan ke
atas dalam posisi berdiri
Jarak vertikal dari lantai ke pusat batang silinder (centre of acylindrical rod)
35 Tinggi genggaman ke atas dalam posisi duduk
Jarak vertikal dari alas duduk ke pusat batang silinder.
36 Panjang genggaman tangan ke Depan
Jarak yang diukur dari bagian belakang bahu kanan (tulang belikat) ke genggaman telapak tangan kanan.
Sumber: Panduan Survei Data Antropometri (Hartono, 2004)
Pengukuran data antropometri dapat dilihat pada Gambar 3.2. yang merupakan kelompok dimensi tubuh yang diukur dalam posisi berdiri sedangkan Gambar 3.3. merupakan kelompok dimensi tubuh yang diukur dalam posisi duduk.
Sumber : Jurnal Panduan Survei Data Antropometri (Hartono, 2012)
Sumber : Jurnal Panduan Survei Data Antropometri (Hartono, 2012)
Gambar 3.3. Kelompok Dimensi Tubuh Posisi Duduk
3.6.4. Alat Ukur Tubuh “Martin” Model YM-17
Satu set alat ukur tubuh “martin” ini terdiri atas:
1. Martin Statue – Meter (Meter pengukur tinggi)
Panjang 2 meter, dapat dipisah menjadi 4 bagian untuk mengukur tinggi, tinggi duduk, tungkai dan lengan dan lain-lain. Alat ini bukan hanya untuk mengukur tinggi tubuh manusia tetapi juga untuk panjang atau diameter bagian tubuh lainnya. Skala pipa baja adalah dari 0 – 200 mm dapat dipisah sesuai dengan keinginan.
2. Skala Pengukur (Lurus)
Alat ini juga diukur dengan meter pengukur tinggi. Dapat digunakan dengan 1 atau 2 potong, tergantung bagian mana yang diukur
3. Skala Pengukur (Kurva)
Alat ini juga dirakit dengan meter pengukur tinggi. Untuk mengukur lebar tubuh dan bagian yang relatif pendek seperti leher, diameter kepala dan panjang kaki.
4. Martin goniometer
Dua kurva yang disambung pada satu ujung yang dapat dibuka dan ditutup, dilengkapi dengan skala yang digunakan untuk mengukur dari 1 mm – 450 mm. Alat ini digunakan untuk mengukur kepala, lipatan lemak atau bagian kecil tubuh.
5. Metal Penggaris
Metal penggaris berukuran 150 mm dengan minimum skala 1 mm untuk mengukur bagian kecil secara linier.
6. Martin Caliper
Untuk mengukur bagian kecil dari telinga, wajah, jari kaki atau sudut-sudutnya. Skala samping adalah tetap pada satu sisi dengan ukuran 200 mm x 1 mm dan pada sisi lain skala dapat digeser.
Caliper mempunyai skala 250 mm didepaknn dan dibelakang. Panjang sisi
lengan adalah tetap pada sudut kanan ke titik nol dan panjangnya 120 mm. Satu ujung dari sisi lengan adalah tajam di sisi lain tumpul dan datar. Skala pada sisi juga sama seperti diatas, namun dapat digeser sepanjang caliper. Gabungkan kedua ujung lengan dan baca langsung skala. Ujung yang tajam biasanya digunakan untuk kerangka sedang yang tumpul dan datar untuk tubuh hidup.
7. Kantong Kapas Alkohol
Letakkan kapas penyerap dan alkohol ke dalam kantong untuk mensterilkan
ujung alat sebelum pengukuran dilakukan. 8. Pita Pengukur
Alat ini digunakan untuk mengukur keliling dada atau kepala. Terbuat dari metal, pemutaran otomatis. Panjang adalah 2 meter dengan skala pertambahan 1 mm (Poerwanto, dkk. 2008).
3.6.5. Aplikasi Distribusi Normal dalam Data Antropometri
Pemakaian distribusi normal dalam penetapan data antropometri sangat umum diterapkan. Distribusi normal dapat diformulasikan berdasarkan harga rata-rata (mean,X) dan simpangan standarnya (standard deviation, X) dari data yang ada. Dari nilai yang ada maka persentil dapat ditetapkan sesuai dengan tabel probabilitas distribusi normal. Sebagai contoh 95-th persentil akan menunjukkan 95% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran tersebut, sedangkan 5-th persentil akan menunjukkan 5% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran itu. Data antropometri ukuran 95-th akan menggambarkan ukuran manusia yang terbesar dan 5-th persentil sebaliknya akan menunjukkan ukuran terkecil. Pemakaian nilai-nilai persentil yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data antopometri dapat dijelaskan dalam Gambar 3.4. dan Tabel 3 (Sritomo, 1995).
Sumber: Buku Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya (Nurmianto, 1998)
Gambar 3.4. Distribusi Normal dengan Data Antropometri
Pada Gambar 3.4 dapat dilakukan perhitungan persentil dengan rumus berdasarkan distribusi normal yang dapat dilihat pada Tabel 3.11.
Tabel 3.11. Macam Persentil dan Cara Perhitungan dalam Distribusi Normal Persentil Perhitungan 1 - St Χ - 2,325 x 2,5 – th Χ - 1,96 δ x 5 – th Χ - 1,645 δ x 10 – th Χ - 1,28 δ x 50 – th Χ 90 – th Χ + 1,28 δ x 95 – th Χ + 1,645 δ x 97,5 – th Χ + 1,96 δ x 99 - th Χ + 2,325 x
Sumber: Buku Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya (Nurmianto, 1998)
3.7. Teknik Perancangan Sistematis
Teknik perancangan bukanlah sesuatu yang mudah didefinisikan. Definisi umum mengenai teknik perancangan kecuali teknik tersebut menggunakan pendekatan metodologi untuk menyelesaikan beberapa masalah pada tingkat/level tertentu. Hal ini dikemukakan karena fitur dari suatu penyelesaian masalah yang
sering muncul diperoleh tanpa perhatian suatu langkah yang terlibat dalam suatu proses (Hyman, 1998). Teknik perancangan berkenaan antara apa yang diinginkan dengan bagaimana memperolehnya (Suh, 1990). Teknik perancangan adalah proses untuk mengenal suatu kebutuhan dan membuat sebuah sistem untuk mencapai kebutuhan tersebut (Hales, 1993).
SEED (Sharing Experience in Engineering Design) mendefinisikan teknik perancangan adalah total aktivitas yang dibutuhkan untuk menetapkan dan menentukan solusi untuk suatu masalah yang belum diselesaikan sebelumnya, atau membuat solusi baru untuk suatu masalah yang sama yang mana telah diselesaikan sebelumnya dengan cara yang berbeda. Perancang menggunakan kemampuan intelektual dan kreatifitasnya untuk menggunakan pengetahuan umum dan memastikan spesifikasi produk dapat memenuhi kebutuhan pasar dan kepuasan pelanggan agar dapat dihasilkan dengan metode yang optimum.
Suatu perancangan adalah suatu proses kreatifitas tetapi jika tidak diarahkan secara sistematis maka kemungkinan untuk mengeluarkan hasil rancangan melalui proses kreatifitas tersebut akan terbatas (Pahl and Beitz, 1996). Metode yang digunakan menggunakan pendekatan sistematis yang direkomendasikan untuk memperoleh proses perancangan dengan tahapan-tahapan aktivitas yang diperlukan pada setiap tingkatan perancangan (Nigel, 1994).
Perancangan dengan pendekatan sistematis dapat dikelompokan menjadi dua yaitu perancangan deskriptif dan preskriptif. Model deskriptif sebagai penyelesaian masalah berdasarkan penekanan dalam menghasilkan solusi lebih awal dari proses (Nigel, 1994). Salah satu kelemahan yang ditemukan pada perancangan deskriptif, jika solusi yang diterapkan lebih awal tidak dapat diwujudkan secara fisik maka konsep rancangan yang baru akan dihasilkan untuk mengulang siklus rancangan. Proses ini biasanya disajikan dalam bentuk aliran diagram yang menunjukan proses secara berulang.
Sebaliknya, model perancangan preskriptif mencoba untuk mendorong perancang untuk bekerja pada suatu metodologi perancangan yang lebih sistematis. Model ini lebih berfokus dalam menghasilkan kemampuan spesifikasi sehingga permasalahan rancangan dapat ditentukan tanpa adanya elemen-elemen lain yang perlu diabaikan. Pembangkitan beberapa konsep alternatif didorong dengan pilihan akhir yang dibuat dengan seleksi alternatif perancangan yang rasional. Salah satu sistem yang sangat direkomendasikan untuk model perancangan preskriptif adalah metode Pahl dan Beitz yang telah berhasil dan banyak digunakan para perancang dalam aspek rekayasa.
Pahl dan Beitz (1996) mengusulkan cara merancang produk yang terdiri dari 4 kegiatan atau tahapan, masing-masing tahapan terdiri dari beberapa langkah. Keempat tahapan tersebut adalah :
1. Perencanaan dan penjelasan
Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengumpulkan informasi dari kebutuhan perancangan yang harus dipenuhi oleh produk. Beragam teknik
digunakan untuk menentukan fungsi dari produk dan batasan sistem dari rancangan yang baru. Aktifitas ini mengacu kepada penyusunan daftar kebutuhan part dari produk rancangan dan spesifikasi rancangan produk (berdasarkan
demand dan wish).
2. Rancangan Konseptual Produk
Setelah spesifikasi rancangan telah dikembangkan, perancang dapat menuangkan ide-ide kreatifnya terhadap produk. Pemikiran konvergen (tradisional) yang mengedepankan keterampilan dari klarifikasi tugas berubah menjadi divergen (modern) yang mengedepankan analisis dan evaluasi melalui tahap konseptual, yang melibatkan perluasan lingkup untuk mengumpulkan ide sebanyak mungkin. Tahap rancangan konseptual terdiri atas dua komponen utama yakni sintesa terhadap solusi untuk menemukan kebutuhan (need) dan evaluasi solusi untuk menentukan salah satu yang paling layak untuk menyelesaikan masalah melalui spesifikasi rancangan.
3. Rancangan Fisik (Secara Visual)
Perwujudan rancangan (rancangan fisik) dtentukan dan dirancang berdasarkan solusi utama yang dipilih pada tahap konseptual. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengembangkan kriteria fisik rancangan menjadi lebih detail dari pada konseptualnya dan untuk menyempurnakan bentuk secara geometris, dinamis dan dilakukan proses yang berulang-ulang secara alami sehingga analisis dan sintesis yang digunakan saling melengkapi selama langkah-langkah perbaikan banyak dilakukan. Tahap rancangan fisik diibaratkan sebagai jembatan antara tahap rancangan konseptual dengan tahap rancangan detail. Input dari tahapan ini
biasanya tidak lebih dari sebuah sketsa dan dokumen spesifikasi rancangan produk. Tujuan dari tahap ini adalah untuk memperhalus informasi awal dan mengembangkannya kepada titik dimana rancangan detail dan perencanaan produksi dapat dimulai. Jadi tahap ini meliputi pemodelan secara defenitif yang diikuti dengan kalkulasi dimensi, batas toleransi, material yang diharapkan dan proses perakitannya.
4. Rancangan Detail
Tahap akhir dari proses perancangan Pahl dan Beitz adalah rancangan detail, dimana keputusan yang paling penting telah ditentukan. Rancangan dari setiap kompoen harus diverifikasi dan informasi yang berhubungan dengan proses pembuatan harus diselesaikan. Rancangan detail secara umum berhubungan dengan rancangan dari subsistem dan komponen-komponen yang membuat rancangan akhir.
Setiap tahapan proses perancangan berakhir pada hasil tahapan, seperti tahapan pertama menghasilkan daftar persyaratan dan spesifikasi perancangan. Hasil setiap tahapan tersebut kemudian menjadi masukan untuk tahapan berikutnya dan menjadi umpan balik untuk tahapan yang mendahului. Perlu dicatat pula bahwa hasil tahapan itu sendiri setiap saat dapat berubah oleh umpan balik yang diterima dari hasil tahapan-tahapan berikutnya seperti pada Gambar 3.5.
In fo rm as i : A da pt as i d ar i s pe sif ik as i Pe re nc an aa n da n pe nje la sa n pr od uk Pe ra nc an ga n ko ns ep p ro du k Pe ra nc an ga n be nt uk Pe ra nc an ga n de ta il Pe ny em pu rn aa n Pr in sip P ro du k Pe ny em pu rn aa n La yo ut d an B en tu k Tugas Penjelasan tugas Menentukan spesifikasi Spesifikasi
Identifikasi masalah utama Mengembangkan struktur fungsi Mencari prinsip-prinsip solusi
Evaluasi terhadap kriteria teknis dan ekonomis
Konsep
Mengembangkan layout awal dan bentuk desain Memilih layout terbaik
Memperbaiki dan mengevaluasi kriteria teknis dan ekonomi
Layout Awal
Optimalisasi dan Melengkapi bentuk desain Cek kesalahan dan harga yang efektif
Persiapkan komponen awal dan dokumen produksi
Layout Akhir
Gambar detail
Melengkapi gambar detail dan dokumen produksi Cek semua dokumen
Dokumentasi
Solusi
Sumber: Engineering Design, Systematic Approach (Gerhard, Pahl dkk, 1998) Gambar 3.5. Proses Perancangan Pahl dan Beitz
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di UKM Cahaya Bakery Jl. Pelita VI No. 44, Medan Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2016 sampai Juli 2016.
4.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif yaitu penelitian untuk mendeskripsikan secara sistematik, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat suatu objek tertentu (Sukaria, 2011). Penelitian deskriptif ini berbentuk survey reasearch yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta dari gejala yang ada secara langsung dari orang-orang tertentu yang dijadikan objek penelitian dan mencari suatu solusi yang akan diaplikasikan pada UKM Cahaya Bakery untuk dapat merancang fasilitas kerja pada stasiun pemanggangan guna menghindari resiko cedera kerja.
4.3. Objek Penelitian
Objek yang diamati adalah operator yang bekerja pada bagian tungku pemanggangan di UKM Cahaya Bakery dimana proses pemanggangan yang
dilakukan operator masih secara manual, untuk itu perlu dirancang suatu fasilitas kerja yang baru.
4.4. Kerangka Berfikir
Keluhan musculoskeletal operator stasiun pemanggangan di pengaruhi oleh postur kerja dan prosedur kerja pemanggangan. Keluhan musculoskeletal disebabkan oleh fasilitas kerja tidak ergonomis . Fasilitas kerja usulan dirancang untuk mendapatkan fasilitas kerja ergonomis untuk mengurangi resiko cidera saat bekerja. Kerangka berfikir dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Kerangka Berfikir Penelitian
4.5. Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah:
a. Keluhan musculoskeletal: Keluhan rasa nyeri pada bagian tubuh operator b. Deskripsi kerja : Tata urutan kerja pemanggangan
c. Postur kerja : Sikap tubuh saat bekerja
d. Dimensi antropometri : Ukuran bagian tubuh operator
f. Waktu siklus : Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu-satuan produksi
4.6. Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen untuk membantu dalam pengumpulan data, seperti :
1. Standard Nordic Qustionare (SNQ) yang diberikan kepada operator pemanggangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas dengan tujuan untuk mengidentifikasi keluhan pada saaat bekerja.
2. ManTRA checklist merupakan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai nilai level faktor resiko postur kerja operator pemanggangan.
3. Human Body Martin Model YM-17 merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mendapatkan dimensi antropometri pada posisi berdiri. 4. Meteran merupakan instrumen untuk mengukur dimensi stasiun kerja aktual 5. Kamera atau vidio recorder merupakan instrumen untuk mengambil gambar
dan merekam kegiatan operator pemanggangan.
6. Stopwatch merupakan instrumen pengukuran waktu yang digunakan untuk mendapatkan waktu total dan waktu siklus pemanggangan
4.7. Metode Pengumpulan Data
Data penelitian ini diperoleh dengan cara :
a. Data musculoskeletal : Menggunakan kuisioner SNQ sebelum dan sesudah bekerja.
b. Data mantra : Menggunakan kuisioner mantra checklist.
c. Data antropometri: Pengukuran antropometri operator menggunakan alat
human body martin.
d. Dimensi fasilitas kerja : Pengukuran luas area kerja aktual dan peralatan kerja menggunakan meteran.
e. Waktu siklus : Pengukuran waktu menggunakan stopwatch
4.8. Pengolahan Data
Data yang diperoleh selanjutnya diolah untuk mendapatkan suatu gambaran mengenai perancangan standar prosedur kerja dan fasilitas kerja berdasarkan permasalahan yang ada. Tahapan pengolahan data penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Tahapan Pengolahan Data Penentuan Modus Keluhan Operator Berdasarkan SNQ
Penilaian Postur Kerja dengan Mantra Checklist
Perancangan Fasilitas Kerja dengan Prinsip-Prinsip Pahl dan Beitz
Setiap tahapan-tahapan pengolahan data tersebut akan dikaji berdasarkan langkah-langkah pengolahan data. Adapun tahapan pengolahan data tersebut dapat dilihat pada blok diagram pengolahan data.
4.8.1. Tahapan Pengolahan Data ManTRA
Tahapan pengolahan data mantra dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3. Blok Diagram Pengolahan Data ManTRA
4.8.2. Tahapan Pengolahan Data Antropometri
Tahapan pegolahan data antropometri dapat dilihat pada Gambar 4.4
Gambar 4.4. Blok Diagram Pengolahan Data Antropometri Penentuan Skor Resiko Berulang
Penentuan Skor Resiko Pengerahan Tenaga
Menghitung Skor Resiko Berulang
Menghitung Skor Resiko Pengerahan Tenaga
Menghitung Skor Resiko Kumulatif
Penentuan Rata-Rata, Xmin dan Xmaks
Uji Keseragaman Data Antropometri
Uji Kecukupan Data Antropometri
Uji Kenormalan Data
4.8.3. Tahapan Perancangan Pahl dan Beitz
Tahapan perancangan pahl dan beitz dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Gambar 4.5. Blok Diagram Pengolahan Data Pahl dan Beitz
4.9. Analisis dan Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah dalam penelitian ini dilakukan melalui rancangan fasilitas kerja untuk meningkatkan kenyamanan operator di bagian pemanggangan roti di UKM Cahaya Bakery. Analisis akan dilakukan untuk melihat sejauh mana pemecahan masalah yang diusulkan dapat mengatasi permasalahan yang dikaji. Langkah-langkah proses penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.6.
Perencanaan dan Penjelasan Tugas
Perancangan Konsep Produk Perancangan Bentuk Produk
Mulai
Studi Pendahuluan Studi Literatur
Identifikasi Masalah Awal
Postur Kerja Operator dalam Proses Produksi yang tidak baik
Pengumpulan Data
1. Data primer - Kuesioner SNQ
- Data postur kerja operator menggunakan ManTRA checklist - Data dimensi tubuh dengan antropometri
- Data dimensi stasiun kerja aktual - Data dimensi fasilitas kerja 2. Data sekunder
- Gambaran umum perusahaan - Sejarah Usaha
- Pengelolaan Usaha
Pengolahan Data
1. Penentuan modus keluhan operator berdasarkan SNQ
2. Pengolahan data Mantra - Penentuan skor resiko berulang - Penentuan skor resiko pengerahan tenaga - Menghitung skor resiko berulang - Menghitung skor resiko pengerahan tenaga - Menghitung skor kumulatif
3. Pengolahan data Antropometri
- Menenentukan rata-rata,standar deviasi, Xmin dan Xmak - Uji keseragaman data
- Uji kecukupan data - Uji kenormalan data - Penentuan persentil
4. Perancangan fasilitas kerja dengan prinsip-prinsip Pahl dan Beitz - Perencanaan dan penjelasan tugas - Perancangan konsep produk - Perancangan bentuk produk - Perancangan detail
Analisis Pemecahan Masalah
Rancangan Fasilitas Kerja pada Stasiun Pemanggangan
Kesimpulan dan Saran
BAB V
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
5.1. Pengumpulan Data
5.1.1. Deskripsi Kerja Operator
Deskripsi kerja yang diakukan oleh operator stasiun pemanggangan ditunjukkan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator
No. Uraian Deskripsi Kerja Gambar
1 Operator mengambil loyang dengan tangan kanan dengan sikap tubuh membungkuk ke
kanan lalu
meletakkannya ke dalam pallet besi yang berputar didalam tungku satu-persatu untuk dipanggang kemudian tungku ditutup. Kapasitas 1 loyang berisi 12 roti. Kapasitas tungku 10 loyang. Proses pemanggangan berlangsung selama ±10 menit.
BAB V
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
5.1. Pengumpulan Data
5.1.1. Deskripsi Kerja Operator
Deskripsi kerja yang diakukan oleh operator stasiun pemanggangan ditunjukkan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator
No. Uraian Deskripsi Kerja Gambar
1 Operator mengambil loyang dengan tangan kanan dengan sikap tubuh membungkuk ke
kanan lalu
meletakkannya ke dalam pallet besi yang berputar didalam tungku satu-persatu untuk dipanggang kemudian tungku ditutup. Kapasitas 1 loyang berisi 12 roti. Kapasitas tungku 10 loyang. Proses pemanggangan berlangsung selama ±10 menit.
BAB V
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
5.1. Pengumpulan Data
5.1.1. Deskripsi Kerja Operator
Deskripsi kerja yang diakukan oleh operator stasiun pemanggangan ditunjukkan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator
No. Uraian Deskripsi Kerja Gambar
1 Operator mengambil loyang dengan tangan kanan dengan sikap tubuh membungkuk ke
kanan lalu
meletakkannya ke dalam pallet besi yang berputar didalam tungku satu-persatu untuk dipanggang kemudian tungku ditutup. Kapasitas 1 loyang berisi 12 roti. Kapasitas tungku 10 loyang. Proses pemanggangan
berlangsung selama ±10 menit.
2 Operator mengambil koran dengan sikap tubuh membungkuk, membawanya dan kemudian meletakkan koran didalam loyang yang lebih besar sebagai alas roti yang telah jadi dengan sikap tubuh kembali membungkuk
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator (Lanjutan)
No Uraian Deskripsi Kerja Gambar
3 Operator mengisi loyang lebih besar dengan roti yang telah matang dengan sikap tubuh berjongkok dan menjangkau loyang-loyang disekitar loyang-loyang yang lebih besar. Kapasitas 1 loyang besar berisi 70 roti.
4 Operator memindahkan loyang besar berisi 70 roti dengan kedua tangan ke tempat penumpukan dengan sikap tubuh membungkuk. Berat 2 Operator mengambil
koran dengan sikap tubuh membungkuk, membawanya dan kemudian meletakkan koran didalam loyang yang lebih besar sebagai alas roti yang telah jadi dengan sikap tubuh kembali membungkuk
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator (Lanjutan)
No Uraian Deskripsi Kerja Gambar
3 Operator mengisi loyang lebih besar dengan roti yang telah matang dengan sikap tubuh berjongkok dan menjangkau loyang-loyang disekitar loyang-loyang yang lebih besar. Kapasitas 1 loyang besar berisi 70 roti.
4 Operator memindahkan loyang besar berisi 70 roti dengan kedua tangan ke tempat penumpukan dengan sikap tubuh membungkuk. Berat 2 Operator mengambil
koran dengan sikap tubuh membungkuk, membawanya dan kemudian meletakkan koran didalam loyang yang lebih besar sebagai alas roti yang telah jadi dengan sikap tubuh kembali membungkuk
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator (Lanjutan)
No Uraian Deskripsi Kerja Gambar
3 Operator mengisi loyang lebih besar dengan roti yang telah matang dengan sikap tubuh berjongkok dan menjangkau loyang-loyang disekitar loyang-loyang yang lebih besar. Kapasitas 1 loyang besar berisi 70 roti.
4 Operator memindahkan loyang besar berisi 70 roti dengan kedua tangan ke tempat penumpukan dengan sikap tubuh membungkuk. Berat
loyang mencapai 35 kg.
5 Operator memindahkan loyang-loyang yang telah kosong yang berjumlah 10 loyang dengan sikap tubuh membungkuk ke stasiun pemotongan. Berat loyang mencapai 11 kg untuk 7 loyang.
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator (Lanjutan)
No Uraian Deskripsi Kerja Gambar
loyang mencapai 35 kg.
5 Operator memindahkan loyang-loyang yang telah kosong yang berjumlah 10 loyang dengan sikap tubuh membungkuk ke stasiun pemotongan. Berat loyang mencapai 11 kg untuk 7 loyang.
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator (Lanjutan)
No Uraian Deskripsi Kerja Gambar
loyang mencapai 35 kg.
5 Operator memindahkan loyang-loyang yang telah kosong yang berjumlah 10 loyang dengan sikap tubuh membungkuk ke stasiun pemotongan. Berat loyang mencapai 11 kg untuk 7 loyang.
Tabel 5.1. Elemen Kegiatan Operator (Lanjutan)
6 Setelah roti matang, operatormembuka tungku lalu mengeluarkan loyang dengan tangan kanan lalu meletakkan loyang dengan sikap tubuh membungkuk.
Sumber : Hasil Pengamatan
5.1.2. Fasilitas Kerja Stasiun Pemanggangan
Fasilitas kerja stasiun pemanggangan menggunakan 2 jenis loyang sebagai tempat adonan yang akan dipanggang dan tempat roti, yang masing-masing memiliki dimensi yang berbeda. Loyang yang kecil (tempat adonan) berukuran 86 x 36 x 6 cm, sedangkan loyang besar berukuran 62 x 51 x 18 cm. Ilustrasi masing-masing loyang dapat dilihat seperti pada Gambar 5.1.
6 Setelah roti matang, operatormembuka tungku lalu mengeluarkan loyang dengan tangan kanan lalu meletakkan loyang dengan sikap tubuh membungkuk.
Sumber : Hasil Pengamatan
5.1.2. Fasilitas Kerja Stasiun Pemanggangan
Fasilitas kerja stasiun pemanggangan menggunakan 2 jenis loyang sebagai tempat adonan yang akan dipanggang dan tempat roti, yang masing-masing memiliki dimensi yang berbeda. Loyang yang kecil (tempat adonan) berukuran 86 x 36 x 6 cm, sedangkan loyang besar berukuran 62 x 51 x 18 cm. Ilustrasi masing-masing loyang dapat dilihat seperti pada Gambar 5.1.
6 Setelah roti matang, operatormembuka tungku lalu mengeluarkan loyang dengan tangan kanan lalu meletakkan loyang dengan sikap tubuh membungkuk.
Sumber : Hasil Pengamatan
5.1.2. Fasilitas Kerja Stasiun Pemanggangan
Fasilitas kerja stasiun pemanggangan menggunakan 2 jenis loyang sebagai tempat adonan yang akan dipanggang dan tempat roti, yang masing-masing memiliki dimensi yang berbeda. Loyang yang kecil (tempat adonan) berukuran 86 x 36 x 6 cm, sedangkan loyang besar berukuran 62 x 51 x 18 cm. Ilustrasi masing-masing loyang dapat dilihat seperti pada Gambar 5.1.
Gambar 5.1. Loyang Roti 5.1.3. Sketsa Stasiun Pemanggangan
Sketsa stasiun pemanggangan dapat dilihat dalam Gambar 5.2
Sumber: Hasil Pengamatan
Gambar 5.2. Sketsa Stasiun Pemanggangan
5.1.4. Data Standard Nordic Questionnaire (SNQ)
Standard Nordic Questionnaire (SNQ) dibuat untuk mengetahui keluhan
yang dialami oleh operator selama melaksanakan proses pemanggangan roti. Kuesioner diberikan sebelum dan sesudah bekerja untuk melihat pengaruh aktifitas pemanggangan terhadap keluhan operator. Kuesioner SNQ operator stasiun pemanggangan dapat dilihat dalam Lampiran 1. Hasil rekapituasi data SNQ dapat dilihat dalam Tabel 5.2. dan Tabel 5.3.
Tabel 5.2. Rekapitulasi Data SNQ Operator Stasiun Pemanggangan (Sebelum)
1 2 1 2 0 0 0 14 0 0 1 0 0 15 0 0 2 0 0 16 0 0 3 0 0 17 0 0 4 0 0 18 1 1 5 0 0 19 1 1 6 0 0 20 0 0 7 0 0 21 0 0 8 0 0 22 1 1 9 0 0 23 1 1 10 0 0 24 0 0 11 0 0 25 0 0 12 1 0 26 0 0 13 1 0 27 0 0 Sumber : Kuesioner SNQ
Tabel 5.3. Rekapitulasi Data SNQ Operator Stasiun Pemanggangan (Sesudah) No. Dimensi Tingkat Keluhan No. Dimensi Tingkat Keluhan Operator 1 Operator 2 Operator 1 Operator 2 0 2 2 14 0 0 1 2 2 15 0 0 2 1 2 16 2 1 3 2 2 17 2 2 4 2 1 18 3 3 5 2 2 19 3 3 6 3 2 20 1 2 7 3 3 21 2 2 8 2 2 22 3 2 9 0 0 23 3 2 10 0 0 24 1 1 11 1 0 25 1 1 12 2 1 26 2 1 13 2 1 27 2 2 Sumber : Kuesioner SNQ
Tingkat keluhan 0, 1, 2, 3 menunjukkan kondisi tidak sakit, agak sakit, sakit dan sangat sakit.
Postur kerja dalam hal ini adalah sikap tubuh operator ketika melakukan aktifitas pemanggangan. Kuisioner mantra checklist dapat dilihat dalam Lampiran 2. Prosedur kerja yang dinilai menggunakan mantra checklist dibagi menjadi 3 elemen kerja yaitu:
1. Elemen kerja mengambil dan meletakkan loyang
2. Elemen kerja mengambil dan mengisi roti ke loyang yang lebih besar 3. Memindahkan loyang besar dan memindahkan loyang kosong
Deskripsi kerja masing-masing adalah sebagai berikut:
a. Pekerjaan yang dilakukan operator adalah pekerjaan repetitif (berulang) dan berlangsung mulai jam 08.30 – 16.30 WIB atau ±7jam. Waktu pengambilan dan peletakan loyang untuk 10 loyang adalah 2,15 menit. Durasi mengambil dan meletakkan 1 loyang 7 detik untuk semua bagian tubuh yang dinilai. Pada elemen kerja ini operator membungkuk 40-60˚ saat mengambil loyang, dengan berat loyang 4-4,5 kg lalu membawa loyang untuk di letakkan ke dalam tungku dengan jarak ±2-5 meter (semua loyang tidak tersusun dengan rapi). Sikap tubuh yang membungkuk dan posisi tangan saat menjangkau yang disebabkkan kegiatan secara manual dan tidak menggunakan alat yang mendukung menyebabkan penyimpangan postur tubuh melebihi jarak normal. Tidak ada getaran yang disebabkan oleh mesin maupun peralatan saat mengambil dan meletakkan loyang.
b. Waktu mengambil dan mengisi 70 roti ke loyang adalah ±45 detik untuk semua bagian tubuh yang dinilai. Durasi mengambil dan mengisi 1 roti
dalam loyang besar ±2 detik untuk semua bagian tubuh yang dinilai. Pada elemen kerja ini operator membungkuk 20-40˚ selama proses kegiatan, tungkai bawah menahan seluruh berat badan, dan lengan beberapa kali berusaha menjangkau loyang-loyang yang berada diluar jangkauan operator. Bagian leher/bahu berada posisi statis sedangkan tangan mengisi roti dengan sangat cepat. Penyimpangan postur tubuh bagian tungkai bawah dan punggung melebihi jarak normal, sikap menjangkau menyebabkan salah tungkai bawah mendapat beban maksimal dari berat tubuh, sedangkan pada bahu dan tangan mendapat penyimpangan kecil namun lebih dari satu arah karena letak loyang-loyang tidak tepat. Tidak ada getaran yang disebabkan oleh mesin maupun peralatan saat mengambil dan meletakkan loyang.
c. Waktu memindahkan loyang besar berisi 70 roti ±5 detik dan memindahkan loyang kosong adalah ±30 detik ke stasiun pemotongan, sehingga durasi pemindahkan loyang ±35 detik. Pada elemen kerja ini operator membungkuk 40˚ untuk mengangkat loyang seberat 35 kg dengan jarak 4-3 meter, tungkai bawah menahan tubuh agar stabil, punggung menahan beban dan selama proses berada dalam sikap membungkuk, bahu/leher menahan berat kepala, sedangkan tangan menahan berat beban. Kegiatan pemindahan dilakukan dengan cepat namun bahu/leher berada pada sikap statis. Sikap tubuh tungkai bawah dan punggung selama proses melebihi jarak sikap normal ke satu arah sedangkan leher/bahu dan tangan penyimpangan dikategorikan kecil karena bahu statis dan letak
penumpukan loyang berada dalam jangkauan tangan. Tidak ada getaran yang disebabkan oleh mesin maupun peralatan saat mengambil dan meletakkan loyang.
5.1.6. Data Antropometri Operator
Data antropometri operator yang diukur dalam penelitian ini berupa tinggi mata tegak (TMT), jangkauan tangan (JT), tinggi siku berdiri (TSB), dan diameter genggam (DG). Data antropometri operator dapat dilihat dalam Tabel 5.4.
Tabel 5.4. Dimensi Tubuh Operator
No Nama TMT Dimensi TubuhJT TSB DG
1 Sutrisno 163.5 80 110.5 4.8
2 Arianto 167 75.5 111 4
3 Rahmat 148.5 66 101.3 4
4 Daeli 149.4 76.4 100.1 4
5 Rizki 152.3 78.6 99.7 4.1
Sumber: Pengukuran Antropometri Tubuh Dengan Human Body Martin 17
Data dimensi tubuh operator pada UKM Cahaya Bakery tidak cukup untuk digunakan sebagai acuan dalam perancangan fasilitas kerja, sehingga dilakukan penambahan data dimensi tubuh dari laboratorium E dan APK untuk praktikan laki-laki dapat dilihat pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5 Data Dimensi Tubuh
No TMT Dimensi TubuhJT TSB DG
1 163.5 80 110.5 4.8
2 167 75.5 111 4
4 149.4 76.4 100.1 4 5 152.3 78.6 99.7 4.1 6 147.8 68 102 3.9 7 142.5 66 100.5 4.3 8 160.4 79 103.4 3.6 9 153.4 75 110.2 3.6 10 162 77 101.5 4.3 11 157.5 77 109 4.4 12 156 78 104 3.8 13 157.5 75 107 4.2 14 145.3 66.7 98.8 3.8 15 153.8 73 104 4.2 16 150 68.4 99.8 4.2 17 148.5 66.3 107.8 4 18 151.5 76.4 105 4.8 19 152 67 101 4.5 20 149.2 68 99.9 3.9 21 166.7 78 108.8 3.7 22 154.6 70 103.1 4.7
Sumber: Laboratorium E & APK dan Pengukuran Antropometri
5.2. Pengolahan Data
5.2.1. Pengolahan Data Hasil Checklist Standard Nordic Questionnaire
Data hasil standard nordic questionnaire ditunjukkan dalam Tabel 5.6. Adapun histogram dan grafik batang standard nordic questionnaire dapat dilihat pada Gambar 5.3 dan Gambar 5.4.
Tabel 5.6. Pengolahan Data Standard Nordic Questionnaire O p e r a t o r Nomor Keluhan 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 2 2 1 2 2 2 3 3 2 2 0 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 3 2 0 0 0 1 1 2
Tabel 5.6. Pengolahan Data Standard Nordic Questionnaire (Lanjutan) O p e r a t o r Nomor Keluhan T o t a l 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7 1 0 1 2 2 2 2 1 2 3 3 1 1 2 4 9 2 0 0 1 2 3 3 2 2 2 2 1 1 1 4 2 Sumber: Pengolahan Data
Sumber: Pengolahan Data
Gambar 5.3. Grafik Batang Presentase Keluhan Berdasarkan Katagori 0 5 10 15 20 25 30 35
Tidak sakit Agak sakit Sakit Sangat sakit
Operator 1 Operator 2
Sumber: Pengolahan Data
Gambar 5.4. Histogram Keluhan Musculoskeletal Operator 1 5.2.2. Pengolahan Mantra Checklist
Data penilaian postur mengunakan Mantra checklist ditunjukkan pada masing elemen kerja dalam bentuk tabel dengan resiko penilaian masing-masing bagian tubuh dapat dilihat dalam Tabel 5.7.
Tabel 5.7. Mantra Checklist
Karakteristik Pekerjaan S k o r Bagian Tubuh T u n g k a i B a w a h Pu ng gu ng L e h e r / B a h u Lengan /Pergelangan Tangan/Tang an Wa ktu Tot al (Ja m/ 0-2 1 2-4 2 4-6 3 6-8 4 >8 5 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 le h er … le h er … b ah u … b ah u …
Data Musculoskeletal Operator 1
Sumber: Pengolahan Data
Gambar 5.4. Histogram Keluhan Musculoskeletal Operator 1 5.2.2. Pengolahan Mantra Checklist
Data penilaian postur mengunakan Mantra checklist ditunjukkan pada masing elemen kerja dalam bentuk tabel dengan resiko penilaian masing-masing bagian tubuh dapat dilihat dalam Tabel 5.7.
Tabel 5.7. Mantra Checklist
Karakteristik Pekerjaan S k o r Bagian Tubuh T u n g k a i B a w a h Pu ng gu ng L e h e r / B a h u Lengan /Pergelangan Tangan/Tang an Wa ktu Tot al (Ja m/ 0-2 1 2-4 2 4-6 3 6-8 4 >8 5 b ah u … le n g a … p u n g g … le n g a … p in g g … b o k o n g p an ta t si k u k ir i si k u … le n g a … le n g a … p er g el … p er g el … ta n g a… ta n g a… p ah a… p ah a… lu tu t k ir i lu tu t… b et is … b et is …
Data Musculoskeletal Operator 1
Sumber: Pengolahan Data
Gambar 5.4. Histogram Keluhan Musculoskeletal Operator 1 5.2.2. Pengolahan Mantra Checklist
Data penilaian postur mengunakan Mantra checklist ditunjukkan pada masing elemen kerja dalam bentuk tabel dengan resiko penilaian masing-masing bagian tubuh dapat dilihat dalam Tabel 5.7.
Tabel 5.7. Mantra Checklist
Karakteristik Pekerjaan S k o r Bagian Tubuh T u n g k a i B a w a h Pu ng gu ng L e h e r / B a h u Lengan /Pergelangan Tangan/Tang an Wa ktu Tot al (Ja m/ 0-2 1 2-4 2 4-6 3 6-8 4 >8 5 b et is … p er g el … p er g el … k ak i k ir i k ak i…
) Wa ktu Sik lus >5 mn t 1 1-5 mn t 2 0,5 -1 mn t 3 10-30 sec 4 <1 0 sec 5 Dur asi <1 0 mn t 1 10-3 mn t 2 0,5 -1 ja m 3 1-2 ja m 4 >2 ja m 5 Ga ya Mi ni ma l 1 2 Se da ng 3 4 Ma
ma l Ke cep ata n La mb at 1 Se da ng 2 Sta tis 3 Ce pat 4 Sa ng at Ce pat 5
Tabel 5.7. Mantra Checklist (Lanjutan)
Karakteristik Pekerjaan S k o r Bagian Tubuh T u n g k ai B a w a h Pu ng gu ng L e h e r / B a h u Lengan /Pergela ngan Tangan/ Tangan Amou nt of Awkw ardne ss All pos tur e clo se to 1
utr al Mo der ate dev iati ons fro m ne utr al in on e dir ect ion onl y 2 Mo der ate dev iati ons in mo re tha n on e dir ect ion 3 Ne ar en d ran ge of mo 4
n pos tur e in on e dir ect ion Ne ar en d ran ge of mo tio n in tha n on e dir ect ion 5 Getar an Tid ak ada 1 Ke cil 2 Se da ng 3 Be sar 4 Sa ng at bes ar 5
Hasil Rekapitulasi mantra checklist dapat dilihat pada Tabel 5.8, Tabel 5.9 dan Tabel 5.10.
Tabel 5.8. Mengambil dan Meletakkan Loyang
Karak teristik Pekerj
aan
Skor Bagian Tubuh Tu ng kai Ba wa h Pun ggu ng Leher /Bahu Lengan/Per gelangan Tangan/Ta ngan Waktu Total 4 4 4 4 Waktu Siklus 2 4 4 2 Durasi 1 1 1 1 Gaya 2 3 2 3 Kecep atan 4 4 3 4 Kekak uan 3 5 3 5 Getara n 1 1 1 1
Tabel 5.9. Mengambil dan Mengisi Roti ke Loyang yang Lebih Besar
Karak teristik Pekerj
aan
Skor Bagian Tubuh Tu ng kai Ba wa h Pun ggu ng Leher /Bahu Lengan/Per gelangan Tangan/Ta ngan Waktu Total 4 4 4 4 Waktu Siklus 4 4 4 4 Durasi 1 1 1 1 Gaya 5 4 2 3 Kecep 4 4 3 5
Kekak
uan 5 5 3 3
Getara
n 1 1 1 1
Tabel 5.10. Memindahkan Loyang Besar dan Memindahkan Loyang Kosong
Karak teristik Pekerj
aan
Skor Bagian Tubuh Tu ng kai Ba wa h Pun ggu ng Leher /Bahu Lengan/Per gelangan Tangan/Ta ngan Waktu Total 4 4 4 4 Waktu Siklus 4 4 4 4 Durasi 1 1 1 1 Gaya 3 5 3 4 Kecep atan 4 4 3 4 Kekak uan 4 4 2 2 Getara n 1 1 1 1
Sumber : Kuisioner Mantra Checklist
5.2.2.1.Penentuan Skor Resiko Berulang (Repetitif Task)
Pengulangan dalam hal ini dinilai dengan mengevaluasi skor waktu siklus dan durasi waktu yang diperoleh melalui mantra checklist pada suatu tugas yang dikerjakan lebih dari satu kali tanpa adanya ganguan. Di bawah ini merupakan Tabel skor penilaian resiko berulang pada stasiun kerja pemanggangan pada
mengambil dan mengisi roti ke loyang yang lebih besar tertera pada Tabel 5.12, memindahkan loyang besar dan memindahkan loyang kosong ditunjukkan pada Tabel 5.13.
Tabel 5.11. Skor Resiko Berulang Mengambil dan Meletakkan Loyang Skor
Waktu Siklus
Skor Durasi
Tungkai Bawah Punggung Leher/Bahu Lengan/Pergelangan Tangan/Tangan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 2 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 3 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 4 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5
Tabel 5.12. Skor Berulang Mengambil dan Mengisi Roti ke Loyang yang Lebih Besar
Skor Waktu
Siklus
Skor Durasi
Tungkai Bawah Punggung Leher/Bahu Lengan/Pergelangan Tangan/Tangan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 2 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 3 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 4 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5
Tabel 5.13. Skor Berulang Memindahkan Loyang Besar dan Memindahan Loyang Kosong
Skor Waktu
Siklus
Skor Durasi
Tungkai Bawah Punggung Leher/Bahu Lengan/Pergelangan Tangan/Tangan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 1 1 2 3 4 2 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 1 2 3 4 4 3 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 2 3 4 4 5 4 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 2 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5 3 4 5 5 5
Sumber: Pengolahan Data