PERILAKU KAWIN KUPU-KUPU Papilio peranthus (Lepidoptera : Papilionidae) DI KANDANG PENANGKARAN. (Skripsi) Oleh Luna Lukvitasari

Teks penuh

(1)

ii

PERILAKU KAWIN KUPU-KUPU Papilio peranthus (Lepidoptera : Papilionidae) DI KANDANG PENANGKARAN

(Skripsi)

Oleh Luna Lukvitasari

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2016

(2)

ii

ABSTRAK

PERILAKU KAWIN KUPU-KUPU Papilio peranthus (Lepidoptera : Papilionidae) DI KANDANG PENANGKARAN

Oleh Luna Lukvitasari

Perilaku kawin merupakan bagian dari perkembangbiakan kupu-kupu dan merupakan hal penting untuk diketahui guna melestarikan kupu-kupu. Kupu-kupu

Papilio peranthus merupakan kupu-kupu Papilionidae dengan sayap berwarna

hitam dan biru metalik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus di kandang penangkaran. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2016 di Taman Kupu-kupu Gita Persada Lampung. Bahan penelitian yang digunakan berupa 16 ekor kupu – kupu P.

peranthus virgin hasil penangkaran dengan rincian delapan ekor kupu-kupu jantan dan delapan ekor kupu-kupu betina. Metode penelitian menggunakan metode observasi dengan mengamati secara terpisah perilaku kawin dengan empat seri perlakuan pelepasan hewan uji ke kandang penangkaran, yaitu (1 ♂, 1 ♀), (3 ♂, 3 ♀), (3 ♂, 1 ♀) dan (1 ♂, 3 ♀). Hasil dianalisis dengun menggunakan ethogram. Perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus memiliki empat tahapan kawin, yaitu menemukan dan mengenali pasangan, percumbuan, kawin dan pasca kawin. Pada tahap menemukan dan mengenali pasangan, rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh kupu-kupu adalah ± 15ꞌ 03ꞌꞌ. Setelah kupu-kupu menemukan dan mengenali pasangan, kupu-kupu akan melakukan percumbuan dengan rata-rata waktu ± 3ꞌ 64ꞌꞌ. Pada saat kawin kupu-kupu P. peranthus membutuhkan waktu rata-rata ± 56ꞌ 21 ꞌꞌ. Pasca kawin, kupu-kupu P. peranthus akan melakukan aktivitasnya masing-masing seperti makan dan bertelur sehingga membutuhkan waktu ± 374ꞌ 18ꞌꞌ.Perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus adalah monogami. Hasil penelitian menunjukkan semakin banyak jumlah kupu-kupu yang dikawinkan di dalam kandang penangkaran, maka semakin panjang durasi yang dibutuhkan dalam masing-masing tahapan perilaku kawin.

(3)

PERILAKU KAWIN KUPU-KUPU Papilio peranthus (Lepidoptera : Papilionidae) DI KANDANG PENANGKARAN

Oleh Luna Lukvitasari

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA SAINS

Pada Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2016

(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 12 Desember 1994, sebagai anak Pertama dari dua

bersaudara, buah cinta dari pasangan Bapak Mayardi, ST dan Ibu Sri Hartati.

Penulis mulai menempuh pendidikan pertamanya di Taman Kanak-Kanak (TK) Al- Azhar 4 Bandar Lampung pada tahun 1999. Pada tahun 2000, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Al-Azhar 1 Bandar Lampung. Kemudian, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2006. Setelah itu, pada tahun 2009 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SM) Al-Kautsar Bandar Lampung.

Pada tahun 2012, penulis tercatat sebagai salah satu mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Lampung melalui Jalur Tertulis SNMPTN. Penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Sains Dasar, Biologi Umum, Entomologi dan Struktur Perkembangan Hewan di Jurusan Biologi. Penulis juga aktif di beberapa organisasi dan komunitas Provinsi Lampung, diantaranya Organisasi Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) FMIPA Unila sebagai Anggota Bidang Kaderisasi dan Kepemimpinan 2013-2015. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Matematika

(7)

dan Ilmu Pengetahuan Alam (BEM FMIPA) Unila Sebagai Kepala Deputi Pengembangan Sains dan Lingkungan Hidup (PSLH) 2013-2014. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM U KBM) Unila sebagai Anggota

Kementrian Hukum Advokasi dan Perundang-undangan (Kemenhan). Komunitas Earth Hour Lampung sebagai Bendahara Kota, Provinsi Lampung. Saat menjadi mahasiswa penulis pernah memperoleh beasiswa PPA/BBP.

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata pada bulan Juli - September 2015 di Tunas Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Pada tahun 2016 bulan Januari - Maret, penulis melaksanakan Kerja Praktik di Taman Kupu-Kupu Gita Persada, Lampung dengan judul “Pembibitan dan Pemeliharaan Tanaman Pakan Larva Kupu-kupu Papilio peranthus di Taman Kupu-kupu Gita Persada”.

(8)

Bismillahirohmannirohim

Alhamdulillahirobil alamin, dengan menyebut nama Allah

yang maha pengasih dan maha penyayang, kupersembahkan

hasil karya kecilku ini kepada :

Ibunda Sri Hartati tersayang, tercinta, yang selalu mengiringi

langkahku dengan doa dan restumu, yang selalu menguatkan

aku dikala aku berada pada titik terendah dalam hidup.

Terimakasih atas segala cinta dan kasih sayangmu kepadaku

ma, sehingga aku dapat berdiri tegar dan dewasa dalam

menghadapi segala hal.

Ayahanda Mayardi, ST., tersayang, tercinta, yang selalu

mengajarkanku kerja keras dan mandiri dalam segala hal,

yang selalu mengulurkan tangan dikala aku terjatuh.

Terimakasih selalu mengiringi langkahku dengan doa dan kerja

kerasmu pa, kesabaran dan cinta kasihmu membuatku

mengerti akan adanya ketulusan yang murni.

Adikku Fausta Herlambang tersayang, terimakasih selalu

memberikan keceriaan dan semangat dikala aku merasa lelah.

Semoga kelak kamu dapat menjadi orang yang sukses dan

dapat membuat bahagia serta bangga kepadamu

Seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupku.

(9)

“Happiness is a choice, not a result. Nothing will

make you happy until you choose to be happy. No

person will make you happy unless you decide to be

happy. Your happiness will not come to you. It can

only came from you”

(Ralph Marston)

“Jangan Mengeluh bila ujianmu berat, bersyukurlah

karena kamu sedang diperkuat”

(Luna Lukvitasari)

“Aku Tidak Sebaik yang Engkau Ucapkan, tetapi Aku

Tidak Seburuk Apa yang Terlintas di Hatimu”

(10)

SANWACANA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur atas rahmat Allah SWT dengan segala karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan salah satu syarat dalam menempuh pendidikan strata satu dalam bidang sains yaitu skripsi yang berjudul “PERILAKU KAWIN KUPU-KUPU Papilio peranthus (Lepidoptera : Papilionidae) DI KANDANG PENANGKARAN”.

Dengan terselesaikannya skripsi ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kedua orangtuaku tercinta, Mayardi, ST dan S. Hartati Soedarto terima kasih yang teramat dalam atas doa, kasih sayang, kesabaran, semangat, dukungan, dan nasehatnya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

2. Adikku tersayang, Fausta Herlambang yang selalu memberikan bantuan, dukungan, keceriaan dan motivasi hingga terselesaikannya skripsi ini 3. Ibu Dr. Herawati Soekardi, M.S., selaku pembimbing I yang telah

membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan memberikan arahan, saran, motivasi, serta kepercayaan bagi penulis hingga terselesainya skripsi ini.

(11)

4. Ibu Nismah Nukmal, Ph.D., selaku pembimbing II yang telah membantu, membimbing dengan penuh kesabaran, dan memberikan nasihat, arahan, motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Drs. M. Kanedi, M.Si., selaku pembahas yang telah banyak

memberikan saran dan bantuan dalam pelaksanaan dan perbaikan skripsi ini. 6. Ibu Nismah Nukmal, Ph.D., selaku Pembimbing Akademik atas kesabaran,

cinta dan kasih sayangnya selayaknya seorang ibu bagi penulis dalam menempuh pendidikan di Jurusan Biologi.

7. Dra. Nuning Nurcahyani, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

8. Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

9. Bapak dan ibu Dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Unila terimakasih atas ilmu, bimbingan, dan bantuannya kepada penulis.

10. Karyawan dan staff Laboran Jurusan Biologi serta seluruh pihak, terima kasih yang sebesar-besarnya telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

11. Sahabat dan partner terbaik Williyanda Rio Frastowo, S.A.B., terimakasih atas segala bantuan, dukungan, keceriaan, kesabaran, perhatian, motivasi, kasih sayang dan doanya bagi penulis sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini. 12. Teman terbaik (Anes Yuwita, Andreina Tifany Yuz, Gita Oxtaria, Ninda Eka

Andini OJ, Empratikta Zulpicha, Chandra Mustofa, Dimas Putra Suendra) terimakasih atas dukungan, motivasi, saran, kebersamaan baik suka dan duka, dan semangat dari dulu hingga sekarang untuk penulis.

(12)

13. Adik-adik kesayangan M. Roynaldi Prabowo dan Osline Cindelege O.P terimakasih atas kebersamaan dan keceriaannya bagi penulis.

14. Teman-teman KKN Arum Nilasari, Fransiska Meiliyana, Ivan Alfatih, M. Chalid Fansury, Netti Handayani, Rizky Aptriani terimakasih atas

Kebersamaan, pengalaman, canda tawa, suka duka dan kebersamaan dari penulis melaksanakan KKN hingga terselesaikannya skripsi ini.

15. Teman-teman Earth Hour Lampung, Sivam, Winal, Rio, Dharma, Aji, Andri, Isol, Panji, Yogi, Meli, terimakasih atas bantuan dan kebersamaannya yang luar biasa bagi penulis.

16. Pimpinan dan keluarga besar BEM FMIPA Unila,terimakasih atas

pengalaman, kerjasamana, canda tawa, suka duka dan kebersamaannya yang luar biasa bagi penulis.

17. Keluarga besar Kemenhan BEM U KBM Unila Kak Luthfi, Kak Aji, Mba Tata, Machfudz, Vita, Dina, Trinita, Jajang, Rudi, Priyan, Lutfi terimakasih atas pengalaman, kerjasamana, canda tawa, suka duka dan kebersamaannya yang luar biasa bagi penulis.

18. Seluruh sahabat seperjuangan dan keluarga Biologi angkatan 2012 yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu. Terimakasih atas dukungan, bantuan, saran, semangat, dan kebersamaan untuk penulis.

19. Kakak tingkat 2008, 2009, 2010, adik-adik tingkat 2013, 2014, 2015 dan seluruh Wadya Balad HIMBIO terimakasih atas kebersamaan dan pembelajaran yang sangat berarti bagi penulis.

(13)

20. Keluarga Besar Taman Kupu-Kupu Gita Persada, terimakasih atas pembelajaran dan pengalaman selama melaksanakan kerja praktik dan penelitian.

21. Almamater Tercinta.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat

kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penulisan di masa yang akan datang. Akhir kata, penulis berharap hasil tulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Wassalamualaikum Wr. Wb. Bandar Lampung, 2016 Penulis,

(14)

i

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan Penelitian ... 3

1.3. Manfaat Penelitian ... 3

1.4. Kerangka Pemikiran ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Kupu-kupu ... 6

2.1.1. Morfologi Kupu-kupu ... 6

2.1.2. Perilaku Harian Kup-kupu ... 7

2.2. Perilaku Kawin Kupu-kupu ... 7

2.3. Klasifikasi dan Gambaran Umum Papilio peranthus ... 11

2.4. Morfologi Papilio peranthus ... 12

III. METODE PENELITIAN ... 14

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian... 14

3.2. Alat dan Bahan ... 14

3.3. Pelaksanaan Penelitian ... 15

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19

4.1. Hasil Pengamatan ... 19

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 42

5.1. Simpulan ... 42

5.2. Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

(15)

ii

v DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Perilaku kawin kupu-kupu Papilio peranthus ... 20 Tabel 2. Perilaku kawin sepasang kupu-kupu P. peranthus ... 47 Tabel 3. Perilaku kawin tiga pasang kupu-kupu P. peranthus... 47 Tabel 4. Perilaku kawin tiga ekor kupu-kupu P. peranthus jantan, satu ekor

kupu-kupu P. peranthus betina ... 48 Tabel 5. Perilaku kawin satu ekor kupu-kupu P. peranthus jantan, tiga ekor

(16)

iii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Clausena excavata... 12

Gambar 2. Kupu-kupu Papilio peranthus... 12

Gambar 3. Abdomen kupu-kupu P. peranthus jantan dan betina (a) Clasper (b) Ovipositor ... 13

Gambar 4. Bagan alir penelitian perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus ... 18

Gambar 5. Menemukan dan mengenali pasangan (1 ♂, 1 ♀)... 23

Gambar 6. Proses percumbuan kupu-kupu P. peranthus (1 ♂, 1 ♀) ... 24

Gambar 7. Posisi kawin kupu-kupu P. peranthus (1 ♂, 1 ♀) ... 26

Gambar 8. Kupu-kupu P. peranthus betina menghisap nektar pasca kawin.. 26

Gambar 9. Ethogram perilaku kawin 1 ekor kupu ♂ dan 1 ekor kupu-kupu ♀... 27

Gambar 10.Menemukan dan mengenali pasangan (3 ♂, 3 ♀)... 28

Gambar 11.Proses percumbuan kupu-kupu P. peranthus ( ♂ A dan ♀ B ) pada pengamatan (3 ♂, 3 ♀) ... 29

Gambar 12.Posisi kawin kupu-kupu P. peranthus ( ♂ A dan ♀ B ) pada pengamatan (3 ♂, 3 ♀)... 30

Gambar 13.Kupu-kupu P. peranthus ♀ B menghisap nektar pasca kawin ... 31

Gambar 14.Ethogram perilaku kawin 3 ekor kupu ♂ dan 3 ekor kupu-kupu ♀... 32

Gambar 15.Menemukan dan mengenali pasangan (♂ A ♂ C dan ♀) pada pengamatan(3 ♂, 1 ♀)... 33

Gambar 16.Proses percumbuan kupu-kupu P. peranthus (♂ C dan ♀) pada pengamatan (3 ♂, 1 ♀)... 33

Gambar 17.Posisi kawin kupu-kupu P. peranthus (♂ C dan ♀) pada pengamatan (3 ♂, 1 ♀)... 34

(17)

iv

Gambar 18.Kupu-kupu P. peranthus ♀ menghisap nektar setelah kawin ... 35 Gambar 19.Ethogram perilaku kawin 3 ekor kupu ♂ dan 1 ekor

kupu-kupu ♀... 36 Gambar 20.Menemukan dan mengenali pasangan pada pengamatan

(1 ♂, 3 ♀) ... 37 Gambar 21.Proses percumbuan kupu-kupu P. peranthus (♂ dan ♀ B) pada

pengamatan (1 ♂, 3 ♀)... 38 Gambar 22.Posisi kawin kupu-kupu P. peranthus (♂ dan ♀ B) pada

pengamatan (1 ♂, 3 ♀)... 38 Gambar 23.Kupu-kupu P. peranthus betina menghisap nektar setelah kawin.. 39 Gambar 24.Ethogram perilaku kawin 1 ekor kupu ♂ dan 3 ekor

(18)

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kupu-kupu merupakan salah satu serangga yang keberadaannya penting di alam sebagai penyerbukan tumbuhan berbiji (Busnia, 2006). Kupu-kupu berperan sebagai polinator pada proses penyerbukan bunga, sehingga membantu perbanyakan tumbuhan secara alami dalam suatu ekosistem. (Rizal, 2007). Jika jenis kupu-kupu dapat berperan sebagai penyerbuk tanaman buah atau tanaman potensial lainnya, maka keberadaan kupu-kupu sangat diperlukan dalam membantu produksi tanaman (Soekardi, 2000).

Kupu-kupu digolongkan ke dalam Ordo Lepidoptera dengan Subordo

Rhopalocera. Salah satu famili dari Lepidoptera adalah Papilionidae. Pallister (1999) mengatakan bahwa pada umumnya kupu-kupu Papilionidae

menempati kawasan tropis tetapi ada juga yang terdapat di kawasan subtropis dan iklim sedang. Kupu-kupu famili Papilionidae sebagian besar merupakan jenis yang berukuran besar dengan pola warna dominan yang indah. Beberapa jenis memiliki sayap belakang yang memanjang membentuk bangunan mirip ekor (Noerdjito, 2003).

(19)

2

Salah satu ciri makhluk hidup adalah berkembang biak. Oleh sebab itu, makhluk hidup memiliki cara masing-masing untuk dapat memperbanyak diri dan untuk dapat bertahan di dunia (Organisasi, 2010).

Proses kawin merupakan bagian dari perkembangbiakan kupu-kupu dan merupakan hal penting untuk melestarikan kupu-kupu, karena lama hidup kupu-kupu hanya satu sampai dua minggu (Scott, 1974). Pada kupu-kupu Troides helena betina biasanya hanya kawin sekali selama hidupnya karena di dalam tubuh kupu-kupu T. helena betina terdapat spermateka yang hanya dapat diinjeksi satu kali oleh kupu-kupu T. helena jantan (Oktarini, 2011).

Menurut Soekardi (2015) kupu Papilio peranthus merupakan kupu-kupu dari Sumatera dan termasuk ke dalam famili Papilionidae yang bagian bawah sayapnya membentuk seperti ekor “swallowtail”. Secara morfologi, sayap kupu-kupu P. peranthus merupakan efek pencampuran warna hijau dan biru yang berasal dari lapisan struktur sisik yang menutupi sayap. Perbedaan campuran warna antara warna hijau dan biru yang dihasilkan dikaitkan dengan degradasi warna di sayap kupu-kupu (Liu et al, 2010).

Smart (1975) mengatakan kupu-kupu P. peranthus hanya terdapat di pulau Jawa. Namun menurut Soekardi (2015) kupu-kupu P. peranthus dapat di jumpai di Pulau Tegal dan sudah dapat dikonservasi di Taman Kupu-kupu Gita Persada, Lampung.

(20)

3

Kupu-kupu P. peranthus merupakan kupu-kupu yang indah dan jarang ditemukan. Selain itu, di dalam ekosistem, kupu-kupu P. peranthus

merupakan penyedia makanan karena perannya sebagai herbivora dan juga sumber makanan bagi hewan-hewan karnivora. Peranan dan keberadaannya inilah yang mendukung alasan dilakukannya pengamatan perilaku kawin sebagai salah satu usaha konservasi kupu-kupu P. Peranthus. Akan tetapi pengamatan perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus belum pernah diteliti. Oleh karena itu diperlukan penelitian tentang perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus di kandang penangkaran.

1.2. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku kawin kupu-kupu Papilio peranthus di kandang penangkaran.

1.3. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus dan membantu dalam upaya

konservasi kupu-kupu P. peranthus.

1.4. Kerangka Pemikiran

Keberadaan kupu – kupu memiliki arti yang sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem, karena kupu – kupu dapat berperan sebagai herbivora dan penyedia makanan bagi tingkat berikutnya

(21)

4

dalam jaring – jaring makanan serta sebagai polinator dalam penyerbukan bunga dan tumbuhan berbiji. Apabila tidak terdapat kupu – kupu, maka keanekaragaman dan kemelimpahan organisme lain akan ikut terpengaruh. Sehingga diperlukan adanya pelestarian bagi kelangsungan hidup kupu – kupu dalam menjaga kelestariannya. Salah satu upaya dalam

mempertahankan populasi kupu-kupu adalah dengan melakukan proses perkawinan.

Terdapat beberapa tahapan kawin pada kupu-kupu, yaitu menemukan dan mengenali pasangan, percumbuan, kawin dan pasca kawin. Perilaku kawin dapat diamati di dalam kandang penangkaran.

Kupu – kupu P. peranthus merupakan hewan monomorfis, yang artinya sulit dibedakan antara kupu - kupu jantan dan kupu – kupu betina. Sehingga untuk membedakan antara kupu-kupu jantan dan kupu-kupu betina diperlukan pemberian tanda saat mereka baru menetas dari pupa nya. Hal ini dilakukan agar mempermudah pengamatan perilaku kawin P. peranthus. Metode yang digunakan dalam mengamati perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus adalah dengan menggunakan metode observasi.

Tahap awal dari penelitian ini adalah dengan menyiapkan hewan uji P. peranthus dalam keadaan virgin. Hal ini ini diperoleh dengan cara

menangkarkan larvanya. Larva diperoleh dari hasil mengumpulkan di area Taman Kupu – kupu Gita Persada, lalu dilakukan pemeliharaan terhadap larva di dalam kandang penangkaran sampai tahap pupa. Setelah pupa

(22)

5

menetas menjadi kupu-kupu, maka harus segera di pisahkan ke dalam kotak penangkaran yang berbeda agar antara kupu-kupu jantan dan betina tidak terjadi perkawinan dan masih dalam keadaan virgin.

Untuk pengamatan perilaku kawin kupu – kupu P. peranthus menggunakan metode pengamatan langsung dengan beberapa seri perlakuan. Seri perlakuan yang dirancang adalah: Pertama, melepaskan sepasang kupu-kupu jantan dan betina. Kedua, melepaskan tiga pasang kupu-kupu jantan dan betina. Ketiga, melepaskan tiga ekor kupu-kupu jantan dan satu ekor kupu-kupu betina. Keempat, melepaskan satu ekor kupu-kupu jantan dan tiga ekor kupu-kupu betina.

Dengan melakukan tahapan penelitian seperti diatas maka akan dapat diketahui perilaku kawin P. peranthus yang berguna dalam hal konservasi kupu-kupu P. peranthus.

(23)

6

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kupu–kupu

2.1.1. Morfologi Kupu-kupu

Menurut Sihombing (2002), tubuh kupu–kupu terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala (caput), dada (thorax) dan perut (abdomen). Pada bagian kepala terdapat sepasang antena, mata majemuk dan alat mulut. Bagian dada kupu–kupu memiliki tiga pasang tungkai dan dua sayap. Sedangkan pada perut terdapat organ genetalia (Busnia, 2006). Pada umumnya antena kupu-kupu berbentuk filiform yaitu silindris dan membonggol pada bagian ujungnya. Antena berfungsi sebagai organ peraba dan pembau (Lilies, 2006).

Menurut Salmah dkk (2002), Papilionidae merupakan kupu-kupu yang memiliki sayap yang kuat. Pada umumnya sayap berwarna hitam dengan variasi warna yang terang. Sebagian besar kupu-kupu Papilionidae memiliki warna sayap yang berbeda antara jantan dan betina. Sedangkan untuk spesies tertentu kupu-kupu Papilionidae memiliki bentuk, ukuran dan warna yang sama atau hampir sama antara kupu-kupu jantan dan betina (Soekardi, 2005).

(24)

7

2.1.2. Perilaku Harian Kupu-kupu

Kupu-kupu memiliki perilaku harian yang kompleks, antara lain perilaku makan, berjemur, puddling, hinggap, bertelur dan migrasi (Uky, 2010)

Pada tahap larva, kupu-kupu memakan daun tertentu sesuai dengan spesiesnya. Sedangkan pada tahap imago, kupu-kupu menghisap nektar. Kedua jenis makanan harus tersedia agar kupu-kupu dapat melengkapi siklus hidupnya (Uky, 2010)

Menurut Soekardi (2007) Kupu-kupu merupakan serangga yang umumnya melakukan aktivitas pada siang hari, dan pada malam hari digunakan untuk beristirahat. Aktivitas kupu-kupu sangat dipengaruhi oleh cuaca, pada cuaca mendung atau hujan akan membuat kupu-kupu enggan untuk terbang.

2.2. Perilaku Kawin Kupu-kupu

Kupu-kupu imago adalah fase (dewasa) yang merupakan tahap menghasilkan keturunan (In’am, 2009). Fase imago dimulai setelah fase pupa berakhir (Soekardi, 2005). Dalam hal reproduksi, kupu-kupu dapat melakukan aktivitas kawin beberapa saat setelah iakeluar dari pupa.

Kupu-kupu yang akan kawin dapat dilihat dari cara terbang untuk menemukan pasangan. Pada Troides helena kupu-kupu tebang secara

(25)

8

terbang kupu-kupu T. helena betina (Oktarini, 2011). Ketika terjadi

perkawinan maka kupu-kupu jantan dan betina akan terbang mencari tempat yang teduh atau hinggap di daun supaya dapat melakukan kopulasi. Hal ini sesuai dengan Animalcorner (2010) yang menyebutkan bahwa kupu-kupu jantan dan kupu-kupu betina siap untuk kawin, mereka hinggap di daun atau permukaan lainnya dan saling menempelkan abdomennya. Terdapat beberapa tahapan yang digunakan kupu-kupu jantan dalam menemukan dan mengenali pasangannya terlebih dahulu, lalu terbang memutar dengan pasangan,

bertengger, bercumbu dan mengeluarkan feromon (Scott,1974 ; Rutowski, 1991).

Tahapan kawin kupu-kupu dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut :

1. Menemukan dan Mengenali Pasangan

Menurut Oktarini (2011) kupu-kupu memulai aktivitas kawinnya dengan menemukan dan mengenali pasangan terlebih dahulu. Penentuan lokasi kawin kupu berbeda-beda antar spesies (Dennis, 1988). Pada kupu-kupu T. helena membutuhkan waktu sekitar 14,54 menit untuk mengenali dan mencari pasangan kawinnya. Waktu tersebut diperkirakan digunakan kupu-kupu T. helena jantan untuk mendeteksi adanya feromon yang dilepaskan oleh kupu-kupu T. helena betina (Oktarini, 2011). Karena atraktan feromon dihasilkan oleh serangga betina dan dirasakan di udara oleh antena jantan (Smithsonian, 2010). Ketika kupu-kupu jantan telah menemukan kupu betina sebagai pasangan kawinnya, maka

(26)

kupu-9

kupu jantan akan terbang dibelakang atau diatas mendekati kupu-kupu betina (Uky, 2010).

2. Percumbuan

Beberapa spesies kupu-kupu menunjukkan adanya perilaku karakteristik dalam perkembangan, walaupun tidak semua spesies melakukannya (Smithsonian, 2010). Kupu-kupu menunjukkan perilaku karakteristik pada saat akan kawin, salah satunya bercumbu dengan pasangannya. Pada T. helena tahap awal percumbuan dengan cara melakukan gerakan terbang dimana jantan mengikuti arah terbang betina dengan jarak yang

berdekatan. Ketika kupu-kupu betina mulai hinggap, namun kupu-kupu jantan akan tetap terbang mendekati kupu-kupu betina (Oktarini, 2011).

Pada kupu-kupu T. helena proses percumbuan memerlukan waktu 2,82 menit. Tahapan ini merupakan tahapan dengan durasi yang singkat. Hal ini diperkirakan kupu-kupu T. helena betina telah menerima keberadaan kupu-kupu jantan dan siap untuk kawin (Oktarini, 2011).

3. Kawin

Dalam pemilihan pasangan kawin, kupu-kupu jantan akan dipengaruhi oleh isyarat penciuman visual. Kupu-kupu betina akan menghasilkan bau (feromon) dan melepaskannya saat akan melakukan proses kawin

(Anderson et al,2007). Biasanya bau yang diproduksi akan dilepaskan dari punggung atau bagian ventral sayap kupu-kupu jantan yang bertindak sebagai penarik pasangan (Rauser, 2003). Bau yang dikeluarkan dapat

(27)

10

digunakan juga sebagai penentu kualitas kupu-kupu jantan dan sebagai alat memanipulasi kupu-kupu betina (Iyengar et al, 2001).

Ketika kupu-kupu jantan dan betina siap untuk kawin, mereka akan menempelkan abdomennya saat hinggap di daun atau permukaan lainnya. Proses kopulasi ini akan berlangsung selama beberapa jam. Kemudian kupu-kupu jantan akan mengeluarkan spermatophore untuk membuahi sel telur betina yang fertil (Animalcorner, 2010). Pembuahan terjadi setelah selesai proses ovulasi, dimulai dari kupu-kupu jantan menginjeksi

spermatozoa ke kupu-kupu betina di dalam sistem reproduksinya pada saat kopulasi. Pada saat spermatozoa di keluarkan dari spermateka, maka terjadi peleburan antara spermatozoa dan telur menjadi zigot. Setelah proses pembuahan selesai maka kupu-kupu betina akan mencari tanaman inang untuk meletakkan telurnya (Hidayat, 2010).

Menurut Oktarini (2011) kupu-kupu T. helena memerlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan tahapan kawinnya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 267 menit, hal ini diperkirakan digunakan kupu-kupu T. helena jantan untuk menginjeksikan spermanya kedalam spermateka hingga penuh. Sehingga kecil kemungkinannya kupu-kupu T. helena betina untuk kawin kembali dengan pasangan lainnya.

Proses kawin yang lama pada kupu-kupu terkait dengan proses penyampaian spermatozoa ke dalam spermateka di dalam tubuh kupu-kupu betina. Kupu-kupu-kupu jantan akan terus menginjeksikan spermatozoa

(28)

11

kedalam vagina sebanyak-banyaknya untuk memenuhi spermateka, yaitu tempat penyimpanan sperma sementara yang berada pada vagina.

Spermatozoa yang ada didalam vagina kemudian di transfer ke dalam spermateka. Proses inilah yang menyebabkan kupu-kupu mebutuhkan waktu yang lama saat kawin atau kopulasi (Hidayat, 2010).

2.3. Klasifikasi dan Gambaran Umum Papilio peranthus

Klasifikasi kupu kupu Papilio peranthus adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Arthopoda Class : Insecta Order : Lepidoptera Suborder : Rhopalocera Family : Papilionoidea Genus : Papilio

Spesies : Papilio peranthus (Butterflycorner, 2010)

Papilio peranthus merupakan kupu-kupu indah yang pertama kali ditemukan oleh Fabricus pada tahun 1787 (Butterflycorner, 2010). Pakan larva dari kupu-kupu P. peranthus adalah tumbuhan Clausena excavata (Soekardi, 2015). Tumbuhan pakan larva P. peranthus dapat dilihat pada Gambar 1.

(29)

12

Gambar 1. Clausena excavata (Koleksi Pribadi, 2016)

2.4. Morfologi Papilio peranthus

Kupu-kupu ini berwarna hitam dengan campuran warna hiijau. P. peranthus disebut juga sebagai kupu-kupu biru karena pada daerah basal sayap depan sampai daerah dorsal sayap belakang berwarna hijau kebiruan. Kupu-kupu P. peranthus merupakan kupu-kupu dari Famili Papilionidae yang memiliki lebar sayap 70 – 90 milimeter. Sayap belakang memiliki ekor. Kupu-kupu P. peranthus besifat diurnal (aktif di siang hari (Butterflycorner, 2010). Morfologi P. peranthus dapat dilihat pada Gambar 2.

(30)

13

Kupu-kupu P. peranthus merupakan kupu-kupu yang tidak dapat dibedakan antara jantan dan betina (monomorfis). Untuk membedakan antara kupu-kupu jantan dan kupu-kupu betina dapat dilihat pada bagian abdomennya

(Butterflycorner, 2010). Abdomen merupakan bagian yang lebih lunak dibandingkan caput dan torax. Abdomen terdiri dari 10 segmen yang terdiri dari tergum pada bagian dorsal dan sternum pada bagian ventral. Pada segmen pertama sampai ketujuh abdomen terdapat bukaan (spiracle) yang berfungsi sebagai jalan masuknya udara. Dua atau tiga segmen terakhir abdomen mengalami modifikasi membentuk alat genitalia. Alat genitalia eksternal jantan dan betina serta saluran alat kelamin betina sering

dipergunakan sebagai karakter identifikasi jenis kupu-kupu (Braby, 2000). Pada kupu-kupu jantan abdomen berupa valva atau clasper di ujung abdomen dan pada kupu-kupu betina berupa lubang di ruas kedua sebelum ruas terakhir (Ovipositor).Abdomen kupu-kupu P. peranthus jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar 3.

(a) (b)

(Jantan) (Betina)

Gambar 3. Abdomen kupu-kupu P. peranthus jantan dan betina (a) Clasper, (b) ovipositor (Koleksi Pribadi, 2016)

(31)

14

III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Januari sampai bulan Maret 2016 yang berlokasi di Taman Kupu-kupu Gita Persada Lampung. Taman kupu-kupu Gita Persada terletak di Desa Tanjung Gedong, Kelurahan Kedaung, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung.

3.2. Alat dan Bahan

Dalam penelitian ini alat yang digunakan berupa dome atau kandang penangkaran berukuran 2,5 x 2 x 2,5 m, sebagai tempat untuk mengamati proses dan perilaku kawin kupu-kupu P. peranthus. Dua kotak penangkaran ukuran 90 x 60 x 60 cm untuk memisahkan kupu-kupu jantan dan betina. Kamera digital, untuk mengambil gambar dan merekam aktivitas yang dilakukan oleh kupu-kupu P. peranthus. Termometer, untuk mengukur suhu di lokasi penelitian. Stopwatch, untuk menghitung lamanya proses bercumbu dan kawin kupu-kupu P. peranthus. Kertas dan alat tulis, untuk mencatat dan menulis data yang diperoleh selama penelitian.

Bahan yang digunakan pada penelitian ini berupa Enam belas kupu – kupu P.peranthus virgin hasil penangkaran dengan rincian delapan ekor

(32)

kupu-15

kupu jantan dan delapan ekor kupu-kupu betina yang diperoleh dari Taman Kupu – kupu Gita Persada.

3.3. Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Hewan Uji

Hewan uji kupu-kupu P. peranthus di persiapkan melalui penangkaran di Taman Kupu-kupu Gita Persada. Penangkaran dimulai dengan mencari larva P. peranthus di tanaman inangnya, yaitu Daun Murraya (Clausena excavata). Setelah didapatkan larva lalu dipelihara di dalam laboratorium penangkaran sampai tahap imago dan siap sebagai hewan uji. Jumlah hewan uji yang dipersiapkan adalah sebanyak 8 ekor jantan dan 8 ekor betina dengan umur yang hampir sama.

2. Karantina Kupu-kupu Jantan dan Betina

Sesaat setelah hewan uji menetas maka akan langsung di pindahkan ke dalam kotak penangkaran untuk dipisahkan antara kupu-kupu jantan dan kupu-kupu betina. Namun sebelum melakukan pemindahan, kupu-kupu diberi tanda terlebih dahulu untuk membedakan mana yang kupu-kupu jantan dan kupu-kupu betina. Pemberian tanda di lakukan pada kupu-kupu jantan.

(33)

16

3. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan perilaku kawin di lakukan secara bergantian dengan rancangan sebagai berikut : Metode pertama melepaskan sepasang kupu-kupu kedalam kandang penangkaran. Kedua, melepaskan tiga pasang kupu-kupu kedalam kandang penangkaran. Ketiga, melepaskan tiga ekor kupu-kupu jantan dan satu ekor kupu-kupu betina secara bersamaan. Keempat, melepaskan satuekor kupu-kupu jantan dan tiga ekor kupu-kupu betina secara bersamaan. Proses pengamatan dilakukan dengan

menggunakan bantuan kamera video dan stopwatch. Parameter yang diamati antara lain posisi, durasi dan gerakan pada masing – masing tahapan kawin.

4. Pengujian Perilaku Kawin

Setelah kupu – kupu di lepaskan ke dalam dome atau kandang uji, maka dimulai pengamatan perilaku kawin kupu – kupu P. peranthus.

Pengamatan dilakukan pada setiap masing-masing metode di dalam penangkaran menggunakan metode pengamatan langsung objek yang akan diamati. Di dalam penangkaran telah diberikan pakan imago berupa bunga Asoka jawa (Ixora javanica), Saliara atau Tembelekan (Lantana camara) dan Pecut kuda (Stachytarpheta indica) untuk menunjang kelangsungan hidupnya selama proses perkawinan.

Penelitian perilaku kawin kupu – kupu P. peranthus dilakukan setiap hari saat cuaca cerah antara pukul 07.00 – 17.00 WIB sampai kupu – kupu

(34)

17

selesai kopulasi. Proses pengamatan dilakukan dengan menggunakan bantuan kamera dan stopwatch untuk melihat tahapan kawin, antara lain menemukan dan mengenali pasangan, percumbuan dan kawin. Parameter yang digunakan yaitu posisi, gerakan dan durasi pada masing - masing tahapan kawin.

5. Analisis Data

Data yang diperoleh merupakan data deskriptif yang berisi keterangan mengenai tahapan kawin dan parameter yang diamati dan disajikan dalam tabel ethogram. Tahapan penelitian ditunjukkan pada Gambar 4.

(35)

18

 Hewan uji, n= 16

 Kupu-kupu hasil penangkaran dipisahkan antara jantan dan betina di dalam dua kandang yang berbeda

 1 Pasang kupu-kupu  3 Pasang kupu-kupu

 1 Kupu-kupu Jantan dan 3 kupu-kupu Betina  3 Kupu-kupu Jantan dan 1 kupu-kupu Betina

 Parameter yang diamati antara lain posisi, durasi dan gerakan pada masing-masing tahapan kawin.

Gambar 4. Bagan alir penelitian perilaku kawin kupu-kupu Papilio peranthus Persiapan hewan uji

dengan penangkaran

Pelepasan kupu – kupu Papilio peranthus untuk

pengamatan

Pengamatan perilaku kawin

Perilaku kawin Kupu – kupu Papilio peranthus

(36)

42

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

Pola perilaku kawin kupu-kupu Papilio peranthus adalah monogami. Perilaku kawin terjadi pada waktu antara pukul 08.30 – 11.50 yang terdiri dari tiga tahap, yaitu menemukan pasangan rata-rata selama 15' 03", tahap

percumbuan rata-rata selama 4' 14" dan kopulasi rata-rata selama 55' 31". Semakin banyak jumlah kupu-kupu yang dikawinkan di dalam kandang penangkaran, maka semakin panjang durasi yang dibutuhkan dalam masing-masing tahapan perilaku kawin.

1.2. Saran

Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh kehadiran spesies lain didalam kandang penangkaran terhadap perilaku kawin kupu-kupu Papilio peranthus.

(37)

43

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, J., Borg-Karlson, A. K., Vongvanich, N., & Wiklund, C. (2007).Male sex pheromone release and femalemate choice in a butterfly.Journal of Experimental Biologi, 210(6), 964-970.

Animal Corner. 2010. Butterflies

Lifecycleshttp://www.animalcorner.co.uk/insect/butterflies_lifecycle.html

. Diakses pada tanggal 26 November pukul 11.26

Braby, M.F. (2000).Buttetflies of Australia, their identification,biology and distribution. Volume 2. Melboume, Australia:cstRo

Busnia, M. 2006. Entomologi.Andalas University Press. Padang.

Butterflycorner.2010.Papilio peranthus. Http://en.butterflycorner.net/Papilio-peranthus. Diakses pada tanggal 1 Januari 2016 pada pukul 17.20 Campbell, N. A., J, B. Reece and L. G. Mitchell. 2005. Biologi Jilid 3.

Diterjemahkan oleh Wasmen Manalu. Edisi Kelima. Erlangga Jakarta. Dennis R. L. H. & Shreeve T. G. (1988).Hostplant-habitat structure and the

evolution of butterfly mate-locating behaviour. Zoological Journal of the Linnean Society 94: 301–318.

Hadley, D. 2010. Courtship Ritual in Insect

Mating.http://insect.about.com/od/matingreproduction/p/courtship_rituals .htm. Diakses pada tanggal 26 November 2015 pukul 16.05

Hidayat. 2010. Reproduksi dan Pertumbuhan.

Http://web.ipb.ac.id/~phidayat/entomologi/bab04%20reproduksi%20pertu mbuhan%20edited%20fin.htm. Diakses pada tanggal 13 desember 2015 pukul 17.05

In’am. 2009. Menangkarkan Kupu-kupu.

http://lorelindu.wordpress.com/2009/05/11/menangkarkann-kupu-kupu/. Diakses pada tanggal 13 desember 2015 pada pukul 08.00

Iyengar, V. K., Rossini, C. and Eisner, T. (2001). Precopulatory assessment of malequality in an arctid moth (Utetheisa ornatrix): hydroxydanaidal is the onlycriterion of choice. Behav. Ecol. Sociobiol. 49, 283-288.

(38)

44

Lilies, C. 2006.Kunci Determinasi Serangga. Kanisius. Yogyakarta

Liu, F, Wang, G, Jiang, L and Dong B.2010.Structural colouration and optical effects in the wings of Papilio peranthus.Journal of optics. Vol. 12:6

Noerdjito WA & P Aswari. 2003. Metode Survei dan Pemantauan Populasi Satwa Seri Keempat Kupu-kupu Papilionidae. Cibinong: Bidang Zoologi Puslit Biologi-LIPI

Oktarini, A. 2011.Perilaku Kawin Kupu-kupu Troides helena Di Kandang Penangkaran. Universitas Lampung. Lampung

Organisasi. 2010. Ciri-ciri Makhluk Hidup. http://organisasi.org/ciri-ciri- makhluk-hidup-seperti-manusia-hewan-dan-tumbuhan-syarat-makhluk-benda-hidup-biologi. Diakses pada tanggal 23 November 2015, pukul 03.00

Pallister, J. C. 1999. Ilmu Pengetahuan Populer. PT Widyadara. Jakarta

Rauser, C. L. and Rutowski, R. L. (2003). Male-specific structures on the wings of the Gulf Fritillary butterfly, Agraulis vanillae (Nymphalidae). J. Lepid. Soc. 57,279-283.

Rizal S. 2007. Populasi Kupu-kupu di Kawasan Cagar Alam Rimbo Panti dan Kawasan Wisata Lubuk Minturun Sumatera Barat. Mandiri (3): 177-237. On line at http://bdpunib.org/artikel/2007.pdfdi akses pada tanggal 1 mei 2016 pukul 16.05

Rutowski, R. L. (1984). Sexual selection and the evolution of butterfly mating behaviour. J. Res. Lepid, 23, 125-142.

Rutowski, R. L. (1991). The evolution of male mate-locating behavior in butterflies. American Naturalist, 1121-1139.

Salmah, S., I Abbas dan Dahelmi. 2002. Kupu – kupu Papilionidaei di Taman Nasional Kerinci Seblat. Kerjasama Taman Nasional Kerinci Seblat, Kehati dan Dinas Kehutanan. Padana.

Scott, J. A. (1974). Mate-locating behavior of butterflies. American Midland Naturalist, 91, 103–117.

Sihombing, D. T. H. 2002. Pengantar Ilmu dan Teknologi Budidaya. Seri Satwa I. Penerbit Pustaka Wira Usaha Muda. Bogor.

Smart, P. 1975. The Illustrated Encyclopedia of yhe Butterfly World. Salamander Books Limited. London.

(39)

45

Smithsonian. 2010. Smithsonian Ensyclopedia, BugInfo.

http://www.si.edu/ensyclopediasi/nmnh/buginfo/mating.htm. Diakses pada tanggal 23 November 2015, pukul 03.16

Soekardi, H. 2000. Keterkaitan Keanekaragaman Spesies Kupu-kupu dengan Tumbuhan Inang. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Biologi XVI yang diselenggarakn oleh Mahasiswa Biologi FMIPA ITB Tnggal 25-26 Juli 2000

Soekardi, H. 2005. Keanekaragaman Papilionidae di Hutan Gunung Betung, Lampung Sumatra: Penangkaran serta Rekayasa Habitat Sebagai Dasar Konservasi. Disertasi Doktor Entomologi Institut Teknologi Bandung. Bandung

Soekardi, H. 2007. Kupu-kupu di Kampus Unila. Universitas Lampung. Lampung Soekardi, H. 2015. Upaya Konservasi Kupu-kupu Papilio peranthus Dengan

Metode Pengayaan Habitat di Taman Kupu-kupu Gita Persada, Gunung Betung, Lampung. Malah disajikan dalam seminar nasional biologi XVI yang diselenggarakan oleh mahasiswa Biologi FMIPA ITB.2015

Uky. 2010. Betterfly

Info.http://www.uky.edu/Ag/Holticulture/butterflypages/butterflyinfo.ht m. Diakses pada tanggal 25 November 2015 pada pukul 08.01

Figur

Gambar 2. Kupu-kupu Papilio peranthus (Butterflycorner, 2010)

Gambar 2.

Kupu-kupu Papilio peranthus (Butterflycorner, 2010) p.29
Gambar 1. Clausena excavata (Koleksi Pribadi, 2016)

Gambar 1.

Clausena excavata (Koleksi Pribadi, 2016) p.29
Gambar 3.  Abdomen kupu-kupu P. peranthus jantan dan betina (a) Clasper,  (b) ovipositor (Koleksi Pribadi, 2016)

Gambar 3.

Abdomen kupu-kupu P. peranthus jantan dan betina (a) Clasper, (b) ovipositor (Koleksi Pribadi, 2016) p.30
Gambar 4. Bagan alir penelitian perilaku kawin kupu-kupu Papilio peranthus Persiapan hewan uji

Gambar 4.

Bagan alir penelitian perilaku kawin kupu-kupu Papilio peranthus Persiapan hewan uji p.35
Related subjects :