326
Pumpkin Substitution Pie Cake
Ratnawati. T1, Syamsidah2, Besse Qurani3 Universitas Negeri Makassar
Email: [email protected]
Abstract. Pumpkin is a fruit that can be used as a basic ingredient in the manufacture of food, beverages and various kinds of cakes. Pumpkin not only contains many vitamins and minerals for health but is also easy to obtain. Therefore, it is very potential to be developed into processed food products based on local food, to support the national food security program. This research was conducted in the Family Welfare Education laboratory to make products as well as panelist testing, then the best formula would be trained on mothers and young girls in Bulue Village, Soppeng Regency. This type of research is a descriptive study using experimental methods related to making pies with pumpkin substitution. The objectives of this study were: 1) To determine the process of making pumpkin puree. 2) To know the process of making pumpkin pie. 3) To determine the panelist's acceptance of pumpkin pie. 4) To find out the responses of the trainees to pumpkin pie. The best organoleptic test results were trained in Lejja, Bulue Village. The data collection techniques used were documentation and questionnaires. The data analysis technique used is descriptive analysis. The results showed that the process of making pumpkin pie through several stages: preparation of tools and materials, weighing, making pumpkin puree, mixing, shaping, roasting. In the organoleptic test for the hedonic test of panelist acceptance of the pumpkin substitution pie, the selected color aspects were F1 3,6, aroma F1 3,4, texture F1 3,4, taste F1 3,3. Furthermore, the response of the training participants regarding the prospect of pumpkin pie is feasible to be marketed, the average answer is 75% and states that the innovation of making pumpkin pie is considered very good so it is hoped that in the future it can open small businesses to improve the family economy.
Keywords: Pie, substitution, pumpkin.
PENDAHULUAN
Labu merupakan salah satu buah yang banyak tumbuh di Indonesia. Labu tergolong tumbuhan lokal yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk makanan, minuman, kue dan sebagainya. Dari aspek kesehatan labu mengandung antioksidan yang bermanfaat sebagai anti kanker, bahkan labu kuning juga dapat digunakan untuk pengobatan radang, jantung, diabetes, disentri, ginjal, demam dan diare. Selain itu kandungan kalium pada labu kuning dapat menunjang kelancaran metabolisme tubuh. Labu kuning juga mengandung karotenoid (betakaroten), Vitamin A dan C, mineral, dan karbohidrat, yang paling penting bahwa labu kuning
327
memiliki lemak dan kolesterol yang rendah sehingga aman dikonsumsi oleh masyarakat.
Kandungan gizi yang cukup tinggi, dapat dimanfaatkan menjadi bahan dasar berbagai jenis makanan, minuman dan kue serta harganya yang relatif terjangkau, labu kuning sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk pangan olahan berbasis pangan lokal. Pemanfaatan pangan berbasis bahan pangan lokal, ini sangat diperlukan untuk menunjang program ketahanan pangan nasional. Salah satu keunggulan dari labu kuning karena ketersediaannya diberbagai tempat, termasuk di Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan. Hasil panen yang melimpah dan mudah diperoleh, demikian juga kandungan gizi yang terkandung di dalamnya, maka upaya pemanfaatannya perlu dilakukan antara lain dengan mengolah labu kuning menjadi pie. Jenis kue ini dibuat dengan substitusi puree labu. Desa Bulue Kecamatan Marioriawa, merupakan salah satu tempat yang menarik dijadikan lokasi praktik bagi ibu-ibu yang ingin meningkatkan keterampilannya, salah satu pertimbangannya karena Desa ini merupakan salah satu penghasil labu terbesar di Kabupaten Soppeng dan masyarakatnya memang sejak lama gemar membuat aneka macam kue. (Kecamatan Marioriawa dalam Angka, 2019). Penelitian ini dilakukan di masa pandemi covid 19, peneliti dituntut kreatif dan inovatif, olehnya itu dalam pengumpulan data dilakukan pendekatan blanded method (daring dan luring).
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana proses pembuatan puree labu?, 2) Bagaimana proses pembuatan pie dengan substitusi labu?, 3) Bagaimana penerimaan panelis terhadap pie dengan substitusi labu?, 4) Bagaimana tanggapan peserta pelatihan terhadap pie substitusi labu?
Pie adalah cemilan ukuran kecil dengan bentuk yang unik, bundar dan berdiameter 4-7 cm dengan isian yang bervariasi. Pie biasanya dihidangkan sebagai hidangan penutup. Pie dibuat dari jenis adonan asin yang masuk dalam kelompok short pastry. Isi pie dapat berupa buah, daging, ikan, sayur, coklat dan kacang. Pie yang berisi buah biasanya biasanya diberikan terlebih dahulu pastry cream kemudian aneka buah yang diiriris dadu kecil dan terakhir diberi glase dari agar agar bening (Samsir, E, 2010; Suprapti, L. 2003). Bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan pie antara lain adalah: 1)Tepung Terigu, 2) Telur. 3) Garam, 4) Mentega, 5) Air Es.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode eksperimen. Penelitian eksperimen ini pada umumnya dilakukan pada laboratorium (Sugiyono, 2016). Penelitian eksperimen adalah penelitian yang digunakan terhadap variabel yang data-datanya belum ada sehingga perlu dilakukan proses manipulasi melalui pemberian treatment/perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian yang kemudian diamati/diukur dampaknya. Penelitian eksperimen yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pembuatan pie dengan substitusi labu kuning.
328
Lokasi atau tempat penelitian tahap formulasi dan uji organoleptik dilakukan di Laboratorium Pendidikan Kesejahteraan Keluarga FT UNM, dan tempat pelatihan di Desa Bulue Kabupaten Soppeng. Pemilihan Desa Bulue sebagai tempat pelatihan, karena banyak ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri yang sangat membutuhkan keterampilan. Selanjutnya Desa Bulue merupakan salah satu Desa Wisata binaan Universitas Negeri Makassar.
Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada penginderaan. Uji penerimaan menggunakan uji organoleptik dengan mengkaji mutu hedonik. Adapun penentuan panelis untuk mencoba hasil eksperimen yang ditentukan yaitu:
1. Panelis terlatih dalam hal ini adalah dosen Tata Boga Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Universitas Negeri Makassar sebanyak 5 orang.
2. Panelis semi terlatih adalah mahasiswa tata boga sebanyak 5 orang.
3. Panelis tidak terlatih adalah mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga sebanyak 10 orang (Prodi Tata Busana/Tata Rias).
Setelah melakukan uji organoleptik pada produk pie labu, didapatkan hasil uji mutu hedonik yang terbaik (Formula F1) akan dilakukan pelatihan pada ibu-ibu rumah tangga di Desa Bulue Kabupaten Soppeng.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan angket (Score sheet). Dokumentasi merupakan metode dalam pengumpulan data. Dokumentasi bentuknya terdiri dari (Artikel, jurnal, foto, dokumen pengolahan, dokumen kegiatan uji organoleptik. Score sheet digunakan untuk mendapatkan data uji organoleptik terdiri dari mutu kulit pie (mutu hedonik) meliputi warna, aroma, tekstur, dan rasa.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada proses pembuatan puree labu kuning, pertama-tama dilakukan pemilihan labu kuning yang tua, kemudian pencucian labu untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada kulit labu kuning. Kemudian pengupasan, pengirisan menjadi ukuran yang lebih kecil agar proses pematangan lebih cepat, kemudian proses pengukusan sekitar 15 menit. Setelah labu kuning matang lalu penghalusan. Setelah labu kuning diolah menjadi pure kemudian dibuat kulit pie menjadi tiga formulasi (15%, 30% dan 45%).
Pemilihan labu kuning yang tua dimaksudkan karena labu kuning yang sudah tua dipastikan kurang mengandung air, jadi sangat baik dalam proses pengolahan, artinya dengan memilih labu yang tua dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar dan bahan-bahan lainnya. Oleh sebab itu, memilih bahan erat kaitannya dengan efisiensi. Selanjutnya labu tersebut harus dibersihkan dengan jalan menghilangkan kotoran yang melekat, ini penting agar produk tetap terjaga dari aspek kesehatan dan higenis, dengan cara ini, baik untuk konsumsi maupun bisnis, akan meningkatkan mutu dan penjualan, hal ini sejalan dari pendapat (Sunita, 2009) bahwa hasil olah bahan makanan yang baik apabila prosesnya juga baik dan bersih.
329
Proses pembuatan puree labu untuk menjadi kue pie, penting juga memperhatikan pengupasan, ini penting agar dapat menghasilkan irisan labu ukuran yang lebih kecil dan cepat proses pematangannya, kemudian proses pengukusan sekitar 15 menit lalu penghalusan. Proses ini dimaksudkan agar setiap produk terjamin rasa dan teksturnya, demikian juga penampilannya sehingga bukan saja enak dikonsumsi, akan tetapi akan tertarik orang untuk membelinya (Apri Bulaeng, 2018).
Proses pembuatan pie labu kuning yaitu siapkan semua bahan dan alat dan timbang semua bahan untuk setiap formulasi lalu campur semua bahan dan uleni hingga tercampur rata masukkan adonan kedalam cetakan pie lalu panggang sampai matang (berwarna kuning kecoklatan). Setelah itu dapat dibuatkan vla dengan aneka buah ditata di atas pie tersebut. Penyajiannya sama dengan pie pada umumnya.
Proses pembuatan pie labu kuning yaitu siapkan semua bahan dan alat dan timbang semua bahan untuk setiap formulasi lalu campur semua bahan dan uleni hingga tercampur rata masukkan adonan kedalam cetakan pie lalu panggang sampai matang (berwarna kuning kecoklatan). Setelah itu dapat dibuatkan vla dengan aneka buah ditata di atas pie tersebut. Penyajiannya sama dengan pie pada umumnya.
Proses pembuatan labu sebaiknya memperhatikan ha-hal yang dapat memperlancar proses produksi, bukan saja bahan bakunya akan tetapi juga alat-alat produk. Setelah itu timbang semua bahan untuk setiap formulasi lalu campur semua bahan dan uleni hingga tercampur rata masukkan adonan kedalam cetakan pie lalu panggang sampai matang (berwarna kuning kecoklatan). Setelah itu dapat dibuatkan vla dan aneka buah di tata di pie tersebut. Melakukan penimbangan dalam proses produksi penting agar ada kepastian ukuran, baik berat, besar maupun penampilannya, ini urgen agar proses produksi berikutnya terjadi kesamaan dan tentu menghindari kesalahan-kesalahan dalam hal cita dan rasa. Semakin bagus proses penimbangan dilakukan semakin ada jaminan bahwa produk tersebut mempunyai stadarisasi dan ada jaminan dilihat dari aspek kualitas maupun kuantitasnya. Selama ini produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat, lebih banyak menggunakan unsur rasa dibanding dengan rasio, dalam arti tidak punya alat ukur dan takaran sehingga setiap prouduk tidak seragam, malah cenderung berbeda-beda. (Fatmamia Aulia, 2015).
330
Warna
Gambar 1 Warna
Uji prasyarat Anova untuk uji organoleptik warna menunjukkan data berdistrubusi normal dan homogen. Sehingga uji ANOVA layak untuk dilanjutkan. Hasil uji organoleptik untuk parameter warna menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 rasa dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan mengindikasikna bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 rata 3,6), kemudian F2 (rata-rata = 2,75) dan F3 ((rata-rata-(rata-rata 2,2).
Gambar trendline dengan persamaan linieritas Y = 0,7X + 4,25. Menunjukkan bahwa tiga substitusi tersebut (F1, F2, dan F3) mengalami penurunan tingkat penerimaan dari panelis tentang warna.
Aroma
Gambar 2 Aroma
Uji prasyarat Anova untuk organoleptik aroma menunjukan data berdistrubusi normal dan homogen. Sehingga uji ANOVA layak untuk dilanjutkan. Hasil uji organoleptik untuk parameter aroma menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 warna dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan
y = -0.7x + 4.25 0 2 4 0 50 100 1 2 3 4 5 A xis Tit le Jum la sk o r re spo n d e n Axis Title
ORGANOLEPTIK WARNA
Series1 Series2 Linear (Series2)
Linear (Series2) Linear (Series2) Linear (Series2)
y = -0.625x + 4.0333 0 1 2 3 4 0 20 40 60 80 1 2 3
ORGANOLEPTIK AROMA
331 y = -0.625x + 3.95 0 1 2 3 4 0 20 40 60 80 1 2 3
ORGANOLEPTIK RASA
Series1 Series2 Linear (Series2)
mengindikasikna bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 (rata-rata 3,4), kemudian F2 (rata-rata = 2,8) dan F3 (rata-rata 2,15).
Gambar trendline dengan persamaan linieritas Y = 0,625X + 4,0333. Menunjukkan bahwa tiga substitusi tersebut (F1, F2, dan F3) mengalami penurunan tingkat penerimaan dari panelis tentang aroma.
Tekstur
Gambar 3 Tekstur
Uji prasyarat Anova untuk organoleptik tekstur menunjukkan data berdistrubusi normal dan homogen. Sehingga uji ANOVA layak untuk dilanjutkan. Hasil uji organoleptik untuk parameter tekstur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 tekstur dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan mengindikasikan bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 rata 3,45), kemudian F2 (rata-rata = 2,6) dan F3 ((rata-rata-(rata-rata 2,05). Gambar trendline dengan persamaan linieritas Y = 14 X + 82. Menunjukkan bahwa tiga substitusi tersebut (F1, F2, dan F3) mengalami penurunan tingkat penerimaan dari panelis tentang tekstur.
Rasa Gambar 4 y = -14x + 82 0 2 4 0 50 100 1 2 3
ORGANOLEPTIK TEKSTUR
332
Uji prasyarat Anova untuk organoleptik rasa menunjukkan data berdistrubusi normal dan homogen. Sehingga uji ANOVA layak untuk dilanjutkan. Hasil uji organoleptik untuk parameter rasa menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 rasa dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan mengindikasikna bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 (rata-rata 3,35), kemudian F2 (rata-rata = 2,65) dan F3 (rata-rata 2,1).
Gambar trendline dengan persamaan linieritas Y = 0,625X + 3,05. Menunjukkan bahwa tiga substitusi tersebut (F1, F2, dan F3) mengalami penurunan tingkat penerimaan dari panelis tentang rasa.
Dalam penelitian ini pengujian organoleptik yang dilakukan adalah uji hedonik dan uji mutu hedonik. Panelis yang digunakan dalam uji organoleptik 5 panelis dan 15 panelis yang terdiri dari uji dosen sebagai panelis terlatih dan mahasiswa pendidikan kesejahteraan keluarga sebagai panelis semi terlatih. Produk pie labu yang diuji organoleptikkan 3 formula yang terdiri dari F1, F2, dan F3 dengan masing masing Hasil uji organoleptik terhadap warna pie labu kuning pada ketiga produk menunjukkan bahwa bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 rasa dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan mengindikasikan bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 (rata-rata 3,6), kemudian F2 (rata-rata = 2,75) dan F3 (rata-rata 2,2).
Gambar trendline dengan persamaan linieritas Y = 0,7X + 4,25. Menunjukkan bahwa tiga substitusi tersebut (F1, F2, dan F3) mengalami penurunan tingkat penerimaan dari panelis tentang warna. Artinya penambahan puree labu kuning (15%, 30% dan 45%). bahwa semakin banyak penambahan puree labu kuning akan menghasilkan warna yang semakin kuning meskipun perbedaan ketiga formula tersebut tidak terlalu jauh.
Hasil uji organoleptik untuk parameter aroma menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 warna dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan mengindikasikan bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 rata 3,4), kemudian F2 (rata-rata = 2,8) dan F3 ((rata-rata-(rata-rata 2,15). Hasil pada uji aroma pie labu kuning yaitu bahwa semakin banyak penambahan puree labu maka mutu aroma yang dihasilkan semakin harum.
Hasil uji organoleptik untuk parameter tekstur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 tekstur dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan mengindikasikan bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 rata 3,45), kemudian F2 (rata-rata = 2,6) dan F3 ((rata-rata-(rata-rata 2,05).
333
Hasil uji organoleptik untuk parameter tekstur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 tekstur dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan mengindikasikan bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 rata 3,45), kemudian F2 (rata-rata = 2,6) dan F3 ((rata-rata-(rata-rata 2,05). Artinya bahwa semakin sedikit penambahan puree labu kuning maka semakin renyah, hal ini sejalan dengan Fatma Mia Aulia (2015) mengatakan bahwa“Ciri-ciri Kulit Pie adalah pada alas Kulit Pie berasa gurih, bertekstur kering dan renyah”.
Hasil uji organoleptik untuk parameter rasa menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil uji ANOVA (F =31,95) sig (0,000) antara 3 rasa dari pie labu dengan F1 (subt. 15% labu) F2 (sub 30%) dan F3 (sub 45%). Uji lanjut dengan Duncan mengindikasikan bahwa ketiga substitusi tersebut berbeda dengan tingkat penerimaan panelis paling baik adalah F1 rata 3,35), kemudian F2 (rata-rata = 2,65) dan F3 ((rata-rata-(rata-rata 2,1). Indera pengecapan berperan dalam menentukan rasa suatu produk, rasa yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh aroma. Rata-rata panelis menilai pie labu kuning semakin enak dengan formula (F1) 15% .
Hasil penelitian terhadap mutu produk pie labu kuning dengan tiga formula dapat disimpulkan formula yang terbaik menurut panelis adalah formula F1 dengan klasifikasi warna kuning tua, aroma harum, tekstur keras, rasa enak, dan
over all mutu baik. Adapun klasifikasi untuk uji hedonik atau uji tingkat kesukaan
yaitu suka. Penilaian formula yang terbaik dilihat dari segi mutu over all dan uji hedonik.
Berdasarkan hasil angket responden yang mengikuti pelatihan pembuatan pie labu dari segi kemudahan bahan diperoleh disajikan pada tabel berikut:
Tabel 1. Kemudahan memperoleh bahan Pie labu
Option Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
Mudah diperoleh A 14 70% Agak mudah diperoleh B 6 30% Susah diperoleh C - - Sangat susah D - - Total 20 100%
Tabel 1 mengindikasikan bahwa bahan pie labu relatif mudah diperoleh dari pola jawaban responden sebesar 70% mengatakan mudah dan 30% agak mudah. Hasil angket responden yang mengikuti pelatihan pembuatan pie labu dari segi kemudahan memperoleh alat untuk pembuatan pie labu disajikan pada berikut:
334
Tabel 2. Kemudahan alat untuk pembuatan Pie labu
Option Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
Mudah diperoleh A 10 50% Agak mudah diperoleh B 10 50% Susah diperoleh C - - Sangat susah D - - Total 20 100%
Tabel 2 mengindikasikan bahwa alat untuk membuat pie labu relatif mudah diperoleh dari pola jawaban responden sebesar 50% mengatakan mudah dan 50 % agak mudah .
Tabel 3 Proses Pengolahan Pie labu
Option Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
Sangat gampang A 11 55%
Gampang B 9 45%
Agak susah C - -
Sangat susah D - -
Total 20 100%
Tabel 3 mengindikasikan bahwa proses pengolahan pie labu relatif mudah diperoleh dari pola jawaban responden sebesar 55% mengatakan sangat gampang dan 45 % mengatakan gampang.
Tabel 4 Respon Peserta terhadap Pelatihan Pie labu
Option Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
Sangat baik A 8 40%
Baik B 12 60%
Kurang baik C - -
Tidak baik D - -
Total 20 100%
Tabel 4 mengindikasikan bahwa respon peserta terhadap pelatihan pie labu diperoleh dari pola jawaban responden sebesar 40% mengatakan sangat baik dan 60 % mengatakan baik.
335
Tabel 5 Pie Labu dapat menjadi pekerjaan sampingan dalam menambah ekonomi keluarga.
Option Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
Sangat setuju A 6 30%
Setuju B 14 70%
Kurang setuju C - -
Tidak setuju D - -
Total 20 100%
Tabel 5 mengindikasikan bahwa pie labu dapat menjadi pekerjaan sampingan dalam menambah ekonomi keluarga dari pola jawaban responden sebesar 30% mengatakan sangat setuju dan 70 % setuju .
Tabel 6 Rasa Pie Labu Hasil Pelatihan.
Option Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
Sangat enak A 7 35%
Enak B 13 65%
Kurang enak C - -
Tidak enak D - -
Total 20 100%
Tabel 6 mengindikasikan bahwa rasa pie labu hasil pelatihan diperoleh dari pola jawaban responden sebesar 35 % mengatakan sangat enak dan 65 % mengatakan enak.
Tabel 7 Warna Pie Labu Hasil Pelatihan.
Option Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
Sangat baik A 10 50%
Baik B 10 50%
Kurang baik C - -
Tidak baik D - -
Total 20 100%
Tabel 7 mengindikasikan bahwa warna pie labu hasil pelatihan dari pola jawaban responden sebesar 50% mengatakan sangat baik dan 50 % baik.
Tabel 8 Tekstur Pie Labu Hasil Pelatihan.
Option Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
Sangat baik A 8 40%
Baik B 12 60%
Kurang baik C - -
Tidak baik D - -
336
Tabel 8 mengindikasikan bahwa tekstur pie labu, diperoleh dari pola jawaban responden sebesar 40% mengatakan sangat baik dan 60 % baik.
Respon dan minat ibu-ibu rumah tangga terhadap pelatihan pie labu sangat baik, memberikan gambaran akan adanya dukungan, bukan saja karena mudah pengolahannya, akan tetapi juga karena alat dan bahannya gampang diperoleh. Lebih dari itu peserta pelatihan umumnya menyebut bahwa pie labu kuning layak untuk dipasarkan, sehingga diharapkan ke depannya dapat membuka usaha-usaha kecil untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Hal ini sangat sejalan dengan program pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja, apalagi berbasis potensi lokal, baik itu bahannya maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. (Hasibuan, 2010).
Mengembangkan labu dengan aneka macam kue, termasuk Pie, sangat penting, apalagi labu sebagai salah satu buah yang banyak tumbuh di Indonesia, termasuk di Desa Bulue Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng. Manfaatnya labu kinung sangat banyak dilihat dari banyak aspek, misalnya dari aspek kesehatan, labu mengandung antioksidan yang bermanfaat sebagai anti kanker, bahkan labu kuning juga dapat digunakan untuk pengobatan radang, jantung, diabetes, disentri, ginjal, demam dan diare. Selain itu kandungan kalium pada labu kuning dapat menunjang kelancaran metabolisme tubuh. Labu kuning juga mengandung karotenoid (betakaroten), vitamin A dan C, mineral, dan karbohidrat, yang paling penting bahwa labu kuning memiliki lemak dan kolesterol yang rendah sehingga aman dikonsumsi oleh masyarakat.
Buah labu, terutama dagingnya, biasa diolah menjadi campuran puding hingga bubur bayi. Bahkan sering sekali ditemukan beragam jajanan tradisional dengan campuran labu kuning seperti kue putu labu kuning, kue talam labu kuning, hingga kolak labu kuning. Memang banyak sekali hidangan yang dapat dikreasikan dengan labu kuning, bahkan buah ini dapat memberikan pewarna alami, teksturnya yang mudah dihaluskan dan lembut, hingga rasanya yang manis segar (Adelia, 2017). Dilihat dari aspek pengembangan daerah dan ketahanan pangan, labu kuning sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk olahan berbasis lokal. Kalau ini dapat dilaksanakan dengan maksimal, bukan tidak mungkin labu kuning akan menjadi primadona dan memberi kontribusi pada program ketahanan pangan nasional.
KESIMPULAN
Proses pembuatan puree labu kuning adalah pertama-tama, pilih labu kuning yang tua, kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada kulit labu kuning. Selanjutnya labu dikupas, dan iris menjadi ukuran yang lebih kecil agar proses pematangan lebih cepat, kemudian proses pengukusan sekitar 15 menit lalu dihaluskan. Proses Pembuatan Pie Labu kuning dilakukan dengan cara : Siapkan semua bahan dan alat lalu timbang semua bahan untuk setiap formulasi; campur semua bahan dan uleni hingga rata, masukkan adonan ke dalam cetakan pie lalu panggang sampai matang (berwarna kuning tua),
337
Buatkan vla dan aneka buah, lalu ditata di atas pie tersebut.
Hasil penelitian terhadap mutu produk pie labu kuning dengan tiga formula dapat disimpulkan bahwa formula yang terbaik menurut panelis adalah formula F1 (15%) dengan klasifikasi warna kuning tua, aroma harum, tekstur keras, rasa enak, dan over all mutu baik.
Respon masyarakat terhadap pelatihan pembuatan pie labu adalah baik dan menyatakan bahwa pie labu kuning layak untuk dikembangkan, bukan saja karena bahannya mudah diperoleh, akan tetapi juga mudah proses pembuatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Adelya. 2017. Teknologi Suplementasi Pangan. Online: diakses tanggal 05, 2017. Adelyadesi.lecture.ub.ac.id.
Apri Bulaeng. 2018. 350 Resep Jajanan yang Paling Dicari. Jakarta: Demedia Pustaka. Badan Pusat Statistik. 2019. Marioriawa dalam Angka. Soppeng: Badan pusat Statistik Fatma, Mia Aulia. 2015. Eksperimen Pembuatan Kulit PieLabu Kuning. Skripsi
diterbitkan. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Hasibuan, 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
Sunita, 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Suprapti, L. 2003. Awetan Kering dan Kulit Pie Waluh. Yogyakarta: Kanisius
Syamsir, E. dan Prita D.L.S. 2010. Pengembangan Kulit Pie Sebagai Produk Pangan