LAPORAN PENELITIAN
Judul Penelitian:
POLA TUMBUH RUMAH TIPE 36
DI KOTA DENPASAR
Peneliti:
NI KETUT AGUSINTADEWI
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2016
DAFTAR ISI
halaman Daftar Isi ……..……….……….………... i Ringkasan ……….……… ii Prakata ……….……….………. iii A. Pendahuluan ……… 1 B. Perumusan Masalah ………... 2 C. Tujuan Penelitian ………... 2 D. Manfaat Penelitian ………... 4 E. Tinjauan Pustaka ………... 51. Rumah dan Rumah Tumbuh ..………... 5
2. Perumahan untuk Masyarakat Perkotaan ……… . 7
3. Standar Arsitektur di Bidang Perumahan ………. 8
4. Hunian Tradisional Bali ………. 10
F. Metode Penelitian ……… 14
1. Ekspetasi Awal ..………... 14
2. Populasi Penelitian ……… ... 14
3. Teknik Pengambilan Sampel ………. 14
4. Model Penelitian ………... 14
5. Jenis dan Sumber Data ……… 15
6. Instrumen Penelitian ………... 15
7. Teknis Analisis Data ………... 15
G. Hasil dan Pembahasan ……… 15
1. Hasil Penelitian ..………...……… 15
2. Pembahasan ……… …... 18
H. Penutup ……….……….………. 25
RINGKASAN
Rumah Tipe 36 dengan luas kapling 80-100 m2 merupakan salah satu tipe rumah yang ditawarkan untuk masyarakat golongan ekonomi ke bawah. Tipe rumah tersebut umumnya akan mengalami pengembangan karena pertambahan jumlah anggota keluarga, adanya aktivitas yang khas serta dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan. Luas lahan yang terbatas akan membutuhkan strategi khusus dalam penataan ruang, sehingga rumah tersebut dapat memenuhi fungsinya sebagai rumah bagi aktivitas penghuninya, khususnya pemeluk agama Hindu. Tentunya memiliki kebutuhan tersendiri dalam melakukan aktivitas harian yang memunculkan tempat suci dan ruang-ruang khusus untuk melaksanakan aktivitas keagamaannya. Penelitian ini bertujuan memaparkan pola tumbuh rumah Tipe 36 terhadap aktivitas harian yang khas tersebut yang dapat menjadi bahan rujukan dalam membuat rancangan rumah tumbuh Tipe 36 yang dapat diterapkan di Kota Denpasar.
Penelitian dilakukan dengan pengolahan data statistik sederhana dan analisa-sintesa data untuk memperoleh pendekatan fungsi dan makna ruang dan pola tumbuh rumah tipe 36 yang dipaparkan dengan metode deskriptif. Sampel rumah diambil berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Pendekatan pola tumbuh berdasarkan evaluasi terhadap sejumlah kebiasaan, kebutuhan, proses adaptasi yang dilakukan masyarakat beragama Hindu, persyaratan arsitektur, dan dalam pengembangan tersebut menerapkan tata nilai rumah arsitektur tradisional Bali dataran yang terdiri atas angkul-angkul, pawon, bale dauh, bale sumanggen, bale meten,
jineng, dan sanggah.
Hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) Berdasarkan aspek kultur, penghuni rumah Tipe 36 etnis Bali yang beragama Hindu di Kota Denpasar masih terikat pada kultur yang kuat; 2) Seluruh penghuni melakukan perubahan pada rumah yang dimilikinya, baik dari tata ruang, dan juga penambahan pada tempat suci. Namun perubahan tersebut masih memperhatikan nilai-nilai yang terkandung dalam arsitektur tradisional Bali; dan 3) Walaupun memiliki perbedaan jenis dan fungsi ruang, rumah modern dan rumah tradisional Bali memiliki hakikat yang sama yaitu sebagai tempat berlindung, membina keluarga, menunjukkan identitas penghuni, mengembangkan hubungan sosial, dan menjaga keseimbangan hubungan jasmani dan rohani.
P R A K A T A
Om Swastyastu
Semoga dalam keadaan baik atas karunia Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
Puji syukur kehadapan Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas asung kerta wara nugraha-Nya sehingga penelitian mandiri ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Ada keinginan untuk menyumbangkan sesuatu bagi perkembangan arsitektur Indonesia di era dunia global saat ini, walaupun akan sangat kecil artinya nanti. Namun di dalam perkembangan dinamika masyarakat, semoga apa yang telah Peneliti lakukan di dalam penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak.
Sebagai manusia biasa, peneliti sadar bahwa penelitian ini masih sangat jauh dari sempurna. Bahwa ada segenap kelemahan dan kekurangan yang banyak ditemukan pada penelitian ini. Penelitian ini adalah hasil proses belajar yang harus senantiasa diperbaiki dan disempurnakan dari hari ke hari, sehingga segala masukan dan saran akan sangat berguna. Akhirnya, sebagai bentuk sumbangan yang sangat kecil, peneliti berharap bahwa penelitian ini dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang riset arsitektur.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
Denpasar, 11 Juli 2016 Peneliti
Ni Ketut Agusintadewi, ST., MT., Ph.D NIP. 197108231997022001
POLA TUMBUH RUMAH TIPE 36
DI KOTA DENPASAR
A. PENDAHULUAN
Kota Denpasar sebagai satu-satunya wilayah kota di Bali dengan luas wilayah 12.398 ha atau 2% dari luas Pulau Bali keseluruhan, memiliki konsentrasi permukiman terpadat di Bali yaitu 39,86%. Kota Denpasar juga menghadapi masalah yang sama dengan daerah lainnya yang berpenduduk padat dibidang penyediaan perumahan. Harga tanah yang sangat tinggi, membuat masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah, mengalami kesulitan untuk mendapatkan harga tanah yang layak dan ideal untuk rumah. Kredit kepemilikan rumah pun menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan papan bagi mereka.
Sejak beberapa tahun terakhir, penyediaan rumah di Kota Denpasar sepenuhnya disediakan oleh pengembang swasta yang menyediakan berbagai alternatif tipe rumah untuk mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah, mulai dari Tipe 15 sampai Tipe 70 m2 dengan luas lahan 60-200 m2. Dari tipe-tipe rumah tersebut, beberapa tipe yang dipilih oleh warga Kota Denpasar adalah Tipe 21, 36, 45, dan 70. Namun sejak 1998, pembangunan Tipe 21 dihentikan karena selain dikhawatirkan tipe kecil tersebut akan menjurus kepada terciptanya rumah kumuh, juga karena harga jual Tipe 21 tidak lagi menguntungkan karena harga tanah yang semakin mahal. Dari keseluruhan tipe rumah yang ditawarkan kepada konsumen, Tipe 36 merupakan salah satu tipe yang paling diminati. Maka, penelitian ini mengambil sampel rumah yang akan dipelajari pola tumbuhnya yaitu Tipe 36. Untuk luas kapling diambil berdasarkan keadaan di lapangan, dimana untuk Tipe 36 luas tanahnya adalah sebesar 80-100 m2.
Tipe rumah tersebut pada umumnya akan mengalami pengembangan karena pertambahan jumlah anggota keluarga, adanya aktivitas yang khas serta dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan. Dalam pengembangannya, perlu diperhatikan peraturan daerah yang membatasi pengembangan tersebut, di antaranya, KDB (koefisien dasar bangunan), sempadan bangunan, penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali, ketinggian bangunan, tanpa mengabaikan kebutuhan penghuni itu sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar rumah-rumah tersebut tidak menjelma menjadi permukiman kumuh, karena sering masyarakat melakukan pengembangan tanpa memperhatikan peraturan-peraturan ataupun penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali, sehingga hasilnya kurang memuaskan, baik secara fisik maupun filosofis. Luas lahan yang terbatas akan membutuhkan strategi khusus dalam penataan ruang, sehingga rumah tersebut dapat memenuhi fungsinya sebagai rumah bagi aktivitas penghuninya. Masyarakat Kota Denpasar, 65% di antaranya memeluk agama
Hindu, tentunya memiliki kebutuhan tersendiri dalam melakukan aktivitas harian. Mereka membutuhkan tempat suci dan ruang-ruang khusus untuk melaksanakan aktivitas keagamaannya.
Berpijak dari hal tersebut, penelitian ini bertujuan memaparkan pola tumbuh rumah Tipe 36 terhadap aktivitas harian yang khas tersebut. Pola tumbuh merujuk pada pola masyarakat yang tinggal di rumah sederhana tersebut, kemampuan ekonomi, dan kebutuhan akan fungsi akibat pertambahan jumlah anggota keluarga, serta pengaruh muatan lokal, yaitu aktivitas ritual masyarakat Bali dan penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali. Pola tumbuh ini dapat menjadi bahan rujukan dalam membuat rancangan rumah tumbuh Tipe 36 yang dapat diterapkan di Kota Denpasar, sehingga dapat mendukung upaya Kota Denpasar sebagai Kota Berwawasan Budaya.
B. PERUMUSAN MASALAH
Terkait dengan latar belakang, ada beberapa permasalahan pokok yang akan diidentifikasi pada penelitian ini, diantaranya:
1. Bagaimanakah pola aktivitas penghuni rumah tipe 36 yang beragama Hindu?
2. Bagaimanakah adaptasi masyarakat Bali beragama Hindu yang memiliki kebiasaan khas dalam melakukan kegiatan ritual setelah menempati rumah tipe 36 dengan luas lahan terbatas?
3. Bagaimanakah penyesuaian fungsi dan makna ruang dalam hunian tradisional Bali ke dalam rumah tipe 36 tersebut?
4. Bagaimanakah pola tumbuh rumah tipe 36 tersebut?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi pola aktivitas penghuni rumah tipe 36 yang beragama Hindu.
2. Mengidentifikasi penyesuaian fungsi dan makna ruang dalam hunian tradisional Bali ke dalam rumah tipe 36 tersebut.
3. Mengidentifikasi pola tumbuh rumah tipe 36 dari denah dasar menjadi denah pengembangan.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak sebagai berikut:
1. Bagi ilmu pengetahuan, memperkaya ilmu arsitektur, khususnya desain dibidang perumahan untuk masyarakat kota berpenghasilan menengah ke bawah yang tetap memperhatikan nilai-nilai budaya lokal;
2. Bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa arsitektur, menjadi kasus studi yang menarik dalam pengembangan pemaduan desain rumah kapling siap bangun dengan rancangan rumah tumbuh yang dapat memenuhi perkembangan kebutuhan penghuninya.
3. Bagi peneliti, memperkaya referensi dalam meneliti pola tumbuh rumah kapling siap bangun tipe 36 sebagai denah awal, sehingga dapat ditarik informasi mengenai identifikasi pola tumbuh tersebut hingga kepada rancangan yang sesuai dengan kebutuhan penghuninya.
4. Bagi Pemerintah dan pengembang perumahan, menambah wawasan di bidang perumahan dan permukiman untuk masyarakat kota berpenghasilan menengah ke bawah dengan tetap memperhatikan nilai budaya lokal penghuninya.
5. Bagi masyarakat umum, menambah pengetahuan mengenai pola tumbuh rumah tipe 36 kepada masyarakat umum yang akan memiliki maupun mengembangkan bangunan tersebut.
E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Rumah dan Rumah Tumbuh
Rumah memiliki arti lebih dari hanya sekedar bangunan. Dalam rumah dan lingkungannya, penghuni dibentuk dan dikembangkan menjadi manusia yang berkepribadian. Dari segi sosial, manusia memandang fungsi rumah dalam lingkup pemenuhan kebutuhan kehidupan sosial budayanya dalam bermasyarakat. Meganada (1990:23) mengemukakan konsep rumah, di antaranya:
1. Rumah sebagai pengejawantahan jati diri: rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai selera pribadi penghuninya;
2. Rumah sebagai wadah keakraban: rasa memiliki, kebersamaan, kehangatan, kasih, dan rasa aman;
3. Rumah sebagai tempat menyendiri dan menyepi: tempat melepaskan diri dari dunia luar dan rutinitas;
4. Rumah sebagai akar dan kesinambungan: rumah atau kampung halaman dilihat sebagai tempat untuk kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan.
Studi tentang perilaku manusia menyebutkan bahwa kebutuhan seorang individu adalah untuk merasakan privacy dan keamanan dalam teritorial tempat tinggalnya (Untermann & Small, 1983:35). Kenyamanan rumah akan dikaitkan dengan rumah dan kesesuaian. Kebutuhan penghuni menjadi penentu kualitas rumah tersebut. Kebutuhan-kebutuhan penghuni yang dimaksud adalah:
1. Kebutuhan akan teritorial, untuk membatasi ruang-ruang perorangan/teritorial individual, sehingga terjadi interaksi sosial yang baik.
2. Kebutuhan akan orientasi, berguna untuk pemanfaatan terhadap lintasan matahari, pergerakan angin dalam ruangan, dan yang paling penting adalah mudahnya pandangan keluar yang menjadi penentu orientasi rumah.
3. Kebutuhan akan keleluasaan pribadi (privacy), diciptakan oleh pembatas-pembatas setempat (barrier) untuk kebebasan pribadi, baik di dalam rumah maupun di luar rumah dalam batas teritorial penghuni.
4. Kebutuhan akan identitas, memilih rumah, langgam rumah, dan cara yang dilakukan dalam memelihara rumah adalah salah satu alat penting untuk mengungkapkan identitas pemilik. Cara ini telah menggejala serta memperlihatkan kecenderungan yang semakin meningkat. Umumnya manusia akan mengorbankan dirinya sendiri dalam hal mempertahankan identitas tersebut.
5. Kebutuhan akan kemudahan (convenience), terutama derajat kemudahan fisik atau berkurangnya kesulitan dalam melakukan rangkaian kegiatan sehari-hari oleh penghuni. Kemudahan ini sangat tergantung pada dari sudut pandang si penghuni rumah tersebut.
6. Kebutuhan akan aksesibilitas, kemudahan dalam pencapaian semua-semua bagian dalam lingkungan unit rumah oleh semua anggota keluarga, terutama pencapaian oleh orang dewasa, termasuk kelompok defeable people.
7. Kebutuhan akan keselamatan, perlindungan terhadap berbagai gangguan yang mengancam keselamatan penghuni, baik dari bencana alam maupun kejahatan.
Dalam pengadaan perumahan untuk golongan menengah ke bawah, pengembang haruslah mempertimbangkan daya beli masyarakat. Dari harga rumah yang ditawarkan kepada masyarakat, hampir 50% harga tersebut merupakan harga tanah yang semakin hari semakin mahal. Selain berharga murah, masyarakat cenderung memilih tipe rumah kecil karena ada pendapat bahwa mereka lebih baik memiliki rumah kecil sendiri daripada menyewa, walaupun kondisinya tidak terlalu baik, dengan harapan suatu saat nanti dapat diperbaiki menjadi rumah yang lebih layak bila keadaan ekonomi sudah bertambah baik.
Disinilah sangat disadari pentingnya penerapan rumah tumbuh tersebut. Rumah tumbuh adalah cara yang tepat dan ringan bagi mereka yang berpenghasilan kecil dan berminat untuk membangun rumahnya sendiri secara berangsur-angsur atau bertahap (Zainal, 1981:16).
Rumah apapun bentuknya sangat terikat dengan letak dan ruang. Dilihat dari sudut kejiwaan (psikologis) rumah merupakan basis bagi terbentuknya kepribadian manusia, rumah merupakan ekspresi dari eksistensi manusia hidup, di rumah pulalah perilaku manusia dibentuk. Karena itu, membangun rumah berarti harus mengantisipasi kehidupan manusia di masa depan, sehingga membangun rumah tumbuh hendaknya mulai dipikirkan pada saat awal pembuatan rumah. Denah dasar yang menjadi awal rumah tersebut haruslah dipikirkan agar dalam pengembangannya pemilik rumah tidak mengalami kesulitan untuk mengembanngkannya. Dalam mengembangkan rumah tumbuh tersebut, haruslah memperhatikan peraturan setempat, seperti peraturan sempadan, ketinggian bangunan, penggunaan bahan bangunan, serta tradisi setempat, tanpa mengorbankan kepuasan penghuninya.
2. Perumahan untuk Masyarakat di Perkotaan
Bila dikaji melalui pengertian yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.
Bagi sebuah lingkungan perkotaan, kehadiran lingkungan perumahan sangatlah penting dan berarti karena bagian terbesar pembentuk struktur ruang perkotaan adalah lingkungan permukiman. Oleh karena itu, munculnya permasalahan pada suatu permukiman akan menimbulkan dampak langsung terhadap permasalahan perkotaan secara menyeluruh. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa baik atau buruknya sistem perkotaan dipengaruhi oleh baik-buruknya lingkungan permukiman.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan di wilayah perkotaan, Pemerintah melakukan program pengadaan rumah baru, program perbaikan kampung, program peremajaan kota, program rumah sewa, dan program rehabilitasi permukiman. Untuk program pengadaan perumahan baru dapat dilaksanakan baik oleh Pemerintah (Perum Perumnas) maupun pihak swasta. Selain itu, untuk mendukung kemampuan pemilikan rumah oleh masyarakat berpenghasilan rendah, program ini didukung oleh lembaga perbankan (misalnya BTN) dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan suku bunga lunak. Lembaga perbankan swasta pun saat ini sudah banyak yang ikut aktif mendukung program pembangunan perumahan.
Berdasarkan budaya dan lingkungannya, masyarakat yang hidup di wilayah perkotaan mempunyai karakter spesifik yang berbeda dengan karakter masyarakat yang hidup di wilayah perdesaan. Pada umumnya masyarakat perkotaan memiliki tuntutan yang lebih tinggi sehubungan dengan rumah sebagai hunian. Setelah kebutuhan jasmaninya terpenuhi (sandang, pangan, kesehatan), maka rumah akan menjadi salah satu kebutuhan yang memotivasi manusia untuk mengembangkan diri ke arah kehidupan yang lebih baik. Keberadaan rumah, walaupun kecil, akan memberikan dampak psikologis yang besar terhadap perkembangan mental pemiliknya. Pemilik akan merasakan kepemilikan ruang secara hakiki, yang benar-benar dapat dikuasai untuk menunjukkan teritori dan eksistensi dirinya.
Pada perkembangan selanjutnya, rumah akan menyatu dengan kehidupan penghuninya, yang berarti bahwa manusia telah menciptakan mikrokosmos yang terpadu dengan makrokosmos (lingkungan kota) yang secara harmonis akan terus saling mempengaruhi satu sama lain. Hubungan antara manusia, mikrokosmos, dan makrokosmos yang tidak serasi akan mempengaruhi ketenangan dan kestabilan hidup manusia itu.
3. Standar Arsitektur di Bidang Perumahan
Ditinjau dari sisi arsitektur, rumah merupakan wadah bagi kegiatan manusia dimana di dalam wadah tersebut dapat dilakukan fungsi menghuni. Menghuni atau bertempat tinggal meliputi serangkaian aktivitas yang dilakukan dalam rentang waktu 24 jam (harian), meliputi beristirahat, makan, berinteraksi sosial, buang air kecil/buang air besar, beribadah, dan bekerja/berkarya.
Berdasarkan aktivitas-aktivitas tersebut, maka ruang-ruang di dalam rumah dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Area Permukiman (living area)
Area ini merupakan kelompok ruang yang dapat terdiri atas:
a. Ruang tamu, berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu. Ruang ini dapat pula menampung fungsi-fungsi lain sesuai dengan kebutuhan aktivitas penghuni, misalnya untuk pertemuan atau perjamuan. Biasanya ruang ini terletak pada area yang paling mudah diakses oleh tamu/orang luar. Pada umumnya ruang tamu ini berada di bagian depan bangunan.
b. Ruang makan, merupakan tempat untuk makan seluruh anggota keluarga. Sesuai fungsinya, ruang ini sebaiknya diletakkan berdekatan dengan area persiapan makan (dapur). Biasanya saat makan bersama, maka seluruh atau sebagian besar anggota keluarga berkumpul, sehingga aktivitas ini juga merupakan sarana interaksi antar anggota keluarga. Karenanya ruang makan sebaiknya dapat
menampung dua aktivitas tersebut. Ruang makan sebaiknya direncanakan agar bersuasana santai namun dapat meningkatkan keakraban.
c. Ruang keluarga, merupakan tempat berkumpul dan berinteraksi antar anggota keluarga. Di ruang ini seringkali dilakukan aktivitas rekreasi (nonton televisi, mendengarkan musik, dll.) dan bersantai. Ruang ini merupakan area privat yang sebaiknya diletakkan di area privat dan direncanakan dengan suasana yang intim dan akrab.
d. Ruang belajar/kerja, adalah bagian dari rumah yang digunakan untuk aktivitas belajar atau bekerja. Karenanya, ruang ini harus dilengkapi dengan berbagai sarana yang diperlukan untuk belajar/bekerja. Biasanya tatanan ruang ini cenderung formal dan membutuhkan privacy yang sangat tinggi.
2. Area Peristirahatan (sleeping area)
a. Ruang tidur, merupakan tempat beristirahat setelah seharian beraktivitas. Karenanya, ruang ini harus direncanakan dengan perlengkapan istirahat dan suasana santai serta tenang agar penghuni dapat beristirahat dengan nyaman. Ruang ini harus dihindarkan dari kebisingan, polusi, cukup sinar matahari, dan memiliki sirkulasi udara yang lancar.
b. Kamar mandi, merupakan area untuk membersihkan diri.
3. Area Pelayanan (service area)
Area ini merupakan kelompok ruang dengan fungsi-fungsi pelayanan bagi seluruh aktivitas di dalam rumah, yaitu:
a. Dapur, merupakan ruang untuk memasak dan mempersiapkan makanan.
b. Ruang penyimpanan (gudang), yang digunakan untuk menyimpan berbagai peralatan dan perlengkapan rumah tangga, baik yang belum digunakan, akan, maupun yang sudah tidak digunakan.
c. Garasi, yaitu area untuk menyimpan kendaraan.
Idealnya, sebuah rumah memang harus dapat memenuhi kebutuhan aktivitas harian penghuninya. Namun demikian, bukan berarti bahwa semua ruang tersebut harus diadakan. Pada kasus-kasus tertentu beberapa fungsi dapat saja ditampung sekaligus dalam satu ruangan, misalnya ruang keluarga sekaligus menjadi ruang tamu, yang juga sekaligus menampung aktivitas makan anggota keluarga. Penyediaan ruang ini sangat dipengaruhi kondisi ekonomi pemilik rumah. Kelengkapan ruang-ruang ini pun bervariasi, dari yang sederhana, yang sekedar ada agar aktivitas yang direncanakan dapat berlangsung.
Secara arsitektural, besarnya ruangan pada sebuah rumah harus memenuhi standar kebutuhan ruang gerak bagi penghuni untuk melakukan aktivitas tertentu. Ruang
melakukan aktivitas sosial. Selain itu, ukuran ruang tersebut juga harus melihat kapasitas atau daya tampung ruang yang direncanakan.
Secara umum, dilihat dari rancangan rumah tipe 36 dan tipe 45 yang diadakan oleh pengembang swasta tidak menunjukkan suatu pola ruang yang khas. Yang membedakannya adalah dimana bangunan tersebut diletakkan di dalam kapling. Apakah terletak di tengah kapling dengan menyisakan ruang kiri kanannya, atau lebih menjorok ke belakang, ataukah berhimpit ke depan dengan mentaati peraturan sempadan depan. Perletakan ruang-ruangnya juga tidak memiliki aturan yang spesifik. Pada umumnya ruang tamu berada di tengah-tengah dan ruang tidur berada di depan, dan dapur berada di belakang bersama-sama dengan kamar mandi.
4. Hunian Tradisional Bali
Konteks kehidupan pribadi yang terdapat dalam hunian tradisional Bali antara lain:
1. Penentuan ukuran pada dimensi pekarangan dan proporsi bangunan diambil dari ukuran bagian-bagian tubuh penghuni/pemilik bangunan yang tertua di keluarga tersebut, sehingga secara psikologis, keakraban antara pemilik rumah dengan rumahnya tentu akan terjalin erat;
2. Aspek kepercayaan yang dianut: penyelarasan antara makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (tubuh manusia) yang menumbuhkan sikap menghormati semua ciptaan Tuhan, termasuk bangunan rumah, karena rumah dianggap tidak ubahnya seperti suatu kehidupan sebagaimana halnya manusia;
3. Keleluasaan pribadi dan rasa aman, diwujudkan dengan tembok pekarangan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga mudah melihat keluar, namun dari luar tidak mudah melihat ke dalam;
4. Status dan peran penghuni dalam suatu kelompok atau dalam hubungannya dengan kelompok lain (Gelebet, 1986:35; Horton & Hunt, 1990:65).
Unsur-unsur hunian tradisional Bali meliputi:
1. Penyengker, merupakan batas kepemilikan sebidang tanah dimana berkumpul unsur-unsur fisik pembentuk hunian beserta penghuninya;
2. Pekarangan/tapak hunian, sebidang tanah kosong tempat diletakkannya gugus massa dalam pola tertentu yang memiliki orientasi kaja-kelod dan kangin-kauh (gunung-laut dan matahari terbit-terbenam), memunculkan pembagian sembilan tata nilai daerah/zoning yang disebut dengan Sanga Mandala.
Pada areal tengah terdapat natah yang memiliki fungsi serbaguna, sebagai orientasi pengikat gugus bangunan, tempat upacara, lintasan kegiatan, tempat menjemur hasil bumi, menerima tamu, dan lain-lain. Natah merupakan ruang tanpa atap yang
dibentuk oleh gugus bangunan yaitu paon, bale dauh, bale dangin, bale meten,
jineng, dan sanggah. Pada setiap pekarangan memiliki tiga jenis natah, yaitu natah paon terletak di depan dapur dengan nilai nista/profan, natah umah di pusat
pekarangan dengan nilai madya, dan natah merajan/sanggah, tempat suci keluarga dengan nilai utama.
3. Bale, merupakan gugus bangunan dalam pekarangan, meliputi a) bale daja (meten) yang terletak di bagian utara untuk tempat tidur anak gadis/wanita, atau disebut juga
bale gedong bila difungsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka atau
benda sakral; b) bale dauh yang terletak di bagian barat, bersebelahan dengan paon, untuk tempat tidur orang tua di malam hari, sedangkan di siang hari untuk menerima tamu; c) bale sumanggen di bagian selatan, dekat jineng, untuk tempat upacara yang paling sakral, sedangkan pada malam hari digunakan untuk tempat tidur anak laki-laki; d) paon untuk kegiatan memasak, dekat dengan pintu pekarangan; e)
lumbung/jineng untuk menyimpan padi dan hasil bumi lainnya; serta f) sanggah/pemerajan untuk tempat suci/sembahyang keluarga yang terletak di bagian
timur laut pekarangan. (Gomudha, 1999:I-24; Surata, 2002:82).
Gambar 1. Hunian tradisional Bali dengan pola massa yang khas
(Sumber: http://www..pu.go.id/publik/bencana/SIATI/simtradisional.html, diakses 12 Pebruari 2006)
Pola tata ruang hunian tradisional Bali dilandasi oleh penyelarasan antara unsur-unsur makro kosmos dengan mikro kosmos yaitu antara alam semesta dengan manusianya, sehingga lahir konsep Tri Angga dan Tri Hita Karana (Kaler, 1983:43). Secara harfiah Tri
Angga adalah Tri (tiga) dan Angga (badan) yang maksudnya tiga bagian susunan badan,
sedangkan Tri Hita Karana adalah Tri (tiga), Hita (kebaikan), dan Karana (penyebab) yang artinya tiga yang menyebabkan kebaikan/kesempurnaan. Struktur Tri Hita Karana dapat diuraikan pada dan Tabel 1.
Tabel 1. Struktur Tri Hita Karana
Susunan Jiwa Tenaga Fisik Alam semesta Parama Atman (Tuhan) Semua tenaga yang
menggerakkan alam
Unsur-unsur Panca Maha Bhuta (lima unsur alam: air, tanah, udara, api, dan panas)
Pola desa Kahyangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem)
Pawongan/manusia penghuni
Palemahan/areal tanah desa
Pola rumah Sanggah/Pamerajan Manusia penghuni rumah di wilayah desa
Areal tanah rumah
Manusia Atman/jiwanya manusia Perana/tenaga manusia
Sarira/badan manusia
Sumber: I Gusti Ketut Kaler, 1983:45
Perwujudan perumahan Bali merupakan perwujudan landasan dan tata ruang, tata letak, dan tata bangunan yang dapat dibagi dalam:
1. Keseimbangan alam, wujud perumahan Bali menunjukkan bentuk keseimbangan alam antara alam Dewa, alam manusia dan alam Bhuta (lingkungan) yang diwujudkan dalam satu perumahan terdapat tempat pemujaan tempat tinggal dan pekarangan dengan penunggun karangnya yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana;
2. Rwa Bhinneda, hulu-teben, purusa-pradana, diwujudkan dalam bentuk hulu-teben
(hulu-hilir). Yang dimaksud dengan hulu adalah arah terbit matahari, arah gunung, dan arah jalan raya (margi agung) atau kombinasi daripadanya. Perwujudan
purusa-pradana adalah dalam bentuk penyediaan natar, sebagai ruang yang merupakan
pertemuan antara akasa dan pertiwi. 3. Tri Angga dan Tri Mandala.
Pekarangan rumah Bali secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian (Tri Mandala) yaitu utama mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai utama (seperti tempat pemujaan), madhyana mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai madya (tempat tinggal penghuni), dan kanista mandala.
Secara vertikal, masing-masing bangunan dibagi menjadi tiga bagian (Tri Angga), yaitu utama angga adalah atap, madhyana angga adalah badan bangunan yang terdiri dari tiang dan dinding, serta kanista angga adalah batur (pondasi). Tri Angga (tiga strata pada manusia) dituangkan kepada penataan fisik bangunan yaitu utama
angga, madya angga, dan nista angga.
Tri Angga sebagai pedoman tata nilai secara vertikal utama-madya-nista merupakan
dasar-dasar filosofi yang bersumber pada agama Hindu yang mampu menstabilkan arsitektur tradisional Bali. Tata letak dan komposisi bangunan, tata ruang, dan tata rias merupakan gubahan etika pada perwujudan arsitektur yang dapat mempengaruhi pemakai ruang arsitektur.
4. Harmonisasi dengan lingkungan diwujudkan dengan memanfaatkan potensi setempat, seperti bahan bangunan dan prinsip-prinsip bangunan arsitektur tradisional Bali.
F. METODE PENELITIAN
1. Eskpetasi Awal
Rumah tumbuh tipe 36 merupakan rumah tinggal yang berkembang secara bertahap dari tipe 36 sebagai denah awal menjadi rumah yang lebih kompleks/sempurna. Pola pengembangan/pertumbuhannya diadopsi dari pola kegiatan penghuni rumah dengan luas lahan terbatas. Pola ini dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi dan kebutuhan akan fungsi, pertambahan jumlah anggota keluarga, dan budaya setempat, yaitu penerapan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali. Pengembangan rumah tumbuh ini dapat memberikan alternatif pengembangan rumah kepada masyarakat, baik untuk rumah yang sudah dibangun ataupun rumah yang belum dibangun, dimana pengembangannya tetap mengacu pada peraturan dan muatan lokal setempat, sehingga rancangan rumah ini bersifat fleksibel dan memungkinkan pemberian indentitas kepada pemilik.
Dari hasil observasi awal, beberapa pengembang sesungguhnya telah mempertimbangkan penyediaan ruang untuk mewadahi aktivitas ritual penghuni rumah, namun luas lahan sangat terbatas, sehingga tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan penghuninya. Karena pola pertumbuhan rumah tersebut umumnya ke arah lahan kosong, maka pengembang perlu mempertimbangkan pengembangan denah awal yang mampu mewadahi aktivitas penghuni sesuai dengan standar kenyamanan ruang.
2. Populasi Penelitian
Kota Denpasar merupakan kota yang sedang mengalami perkembangan, baik sektor ekonomi, pariwisata, maupun pendidikan. Kota ini memiliki konsentrasi permukiman terpadat di Bali yaitu 39,86%. Kota Denpasar menghadapi masalah yang sama dengan kota lainnya yang berpenduduk padat dibidang penyediaan perumahan. Harga tanah yang sangat tinggi menyebabkan masyarakat, terutama yang berpenghasilan menengah ke bawah, mengalami kesulitan untuk mendapatkan harga tanah yang layak dan ideal untuk membangun rumahnya.
Oleh karena itu, lokasi penelitian dilakukan di Kota Denpasar. Kompleks perumahan yang akan diambil sebagai populasi adalah beberapa kompleks perumahan yang disediakan oleh pengembang swasta yang menyediakan berbagai alternatif tipe rumah untuk mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah, mulai dari tipe 15 sampai
Penelitian ini mengambil populasi pada dua kompleks perumahan yaitu: 1. Perumahan Nuansa Kori di Kecamatan Denpasar Barat; dan 2. Perumahan Nuansa Hijau di Kecamatan Denpasar Barat.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Sampel rumah Tipe 36/120 diambil berdasarkan kriteria: a) perumahan berada di perempatan jalan karena mewakili semua orientasi rumah; b) penghuninya beragama Hindu; c) rumah awal dirancang untuk keluarga baru atau keluarga kecil dengan 2 anak maksimal umur 12 tahun; dan d) rumah tidak digunakan untuk tempat usaha.
4. Model Penelitian
Diagram 1. Model penelitian
5. Jenis dan Sumber Data
Data primer diperoleh dari informasi pertama, yaitu kondisi eksisting rumah tipe 36. Hal ini dilakukan melalui prosedur dan teknik pengambilan data berupa wawancara terstruktur terhadap pemilik/penghuni rumah, pengedaran kuesioner kepada penghuni/pemilik rumah, serta teknik observasi langsung. Data sekunder dipilih melalui sumber tidak langsung, berupa literatur yang terkait dengan fokus penelitian, dokumen, dan laporan penelitian lainnya, baik cetak maupun elektronik.
Topik Penelitian
POLA TUMBUH RUMAH TIPE 36 DI KOTA DENPASAR
Metode Wawancara Kuesioner Observasi dan dokumentasi Penentuan Sampel Tinjauan Pustaka Rumah Perilaku penghuni rumah Rumah tumbuh Hunian tradisional Bali Kondisi sosial budaya
masyarakat Bali Objek Penelitian Pola aktivitas Fungsi dan makna ruang Penerapan nilai lokal Pola tumbuh rumah Analisis Simpulan
Pola tumbuh rumah tipe 36 di Kota Denpasar
Metode Deskriptif kualitatif Metode Random sampling Metode Studi literatur
6. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner, pedoman wawancara, kamera, dan perekam. Wawancara dilakukan pada nara sumber yang dianggap berkompeten, seperti pihak pengembang perumahan, serta pemilik/penghuni rumah yang menempati rumah sebagai sampel penelitian. Di dalamnya memuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan rumusan masalah dan sasaran pada penelitian yang dilaksanakan.
7. Teknik Analisis Data
Dilakukan dengan pengolahan data statistik sederhana dan analisa-sintesa data untuk memperoleh pendekatan fungsi dan makna ruang dan pola tumbuh rumah tipe 36 yang dipaparkan dengan metode deskriptif.
Batasan Nonarsitektural
1. Pendekatan pola pengembangan/tumbuh yang digunakan berdasarkan evaluasi terhadap kebiasaan-kebiasaan, kebutuhan, proses adaptasi yang dilakukan masyarakat beragama Hindu, persyaratan arsitektur, dan dalam pengembangan tersebut menerapkan tata nilai rumah arsitektur tradisional Bali daerah dataran (Bali
Arya) yang terdiri atas angkul-angkul, pawon, bale dauh, bale sumanggen, bale meten, jineng, dan sanggah.
2. Kriteria penilaian terhadap perubahan rumah yang dilakukan oleh responden:
0 - 25% (baik) : menunjukkan bahwa bagian-bagian rumah tersebut tidak mengalami banyak perubahan, dirasakan cocok oleh penghuninya;
25 – 50% (cukup) : menunjukkan bahwa bangunan tersebut masih dapat ditolerir oleh penghuni dengan melakukan perubahan yang tidak terlalu banyak;
50 100% (gagal) : menunjukkan bahwa bagian dari bangunan tersebut perlu untuk dikaji ulang karena banyaknya perubahan yang dilakukan oleh penghuni.
G. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian
A. Perubahan yang Dilakukan oleh Responden
Dari hasil pengedaran kuesioner, observasi, dan wawancara terstruktur dengan pemilik rumah, seluruh responden melakukan perubahan pada rumah yang dimilikinya, baik dari segi tata ruang, tampak dan juga penambahan pada tempat suci.
Dari data berikut, diperoleh rata-rata penilaian rumah adalah 45,7%, sehingga berdasarkan interval yang telah ditetapkan sebelumnya dapat dikategorikan cukup. Artinya, penghuni rumah yang distudi masih mentolerir bangunan yang telah ada dan melakukan penyesuaian. Tetapi yang perlu diperhatikan oleh pengembang adalah letak pintu pekarangan agar tidak mengganggu bila penghuni rumah akan membuat sanggah. Beberapa rumah tidak memungkinkan membuat sanggah karena pada zona kaja-kangin (timur laut) telah digunakan untuk pintu keluar dan masuk pekarangan.
Tabel 1. Perubahan yang dilakukan oleh responden No. Perubahan Persentase
(%) Keterangan
1. Tempat suci 100 Belum disediakan oleh pengembang
2. Perubahan tata ruang
Penambahan ruang tidur 41,5
Penambahan ruang makan 60
Penambahan garasi 100 Belum disediakan oleh pengembang
Alih fungsi ruang 17
Perubahan pada letak pintu masuk pekarangan
50
Perubahan pada pintu ruangan 60 3. Perubahan penampilan bangunan dan
bahan bangunan
60
Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh responden adalah:
1. Pola Tata Ruang Denah Asal dan Pengembangan
Denah yang dipelajari adalah denah awal rumah dan denah pengembangannya, sehingga dapat diketahui kecenderungan arah pengembangan rumah-rumah tersebut. Secara umum dapat dilihat bahwa pengembangan rumah dengan memanfaatkan ruang kosong yang berada pada lahan tersebut. Hal ini dapat ditemukan pada kedua kompleks perumahan tersebut.
Pada Perempatan B dengan luas lahan ± 90-110 m2 (kecuali rumah nomor 5) kesempatan mengembangkan rumah ke arah horisontal sangatlah tidak memungkinkan, dan bila akan dikembangkan, 100% responden di Perempatan B memilih untuk mengembangkan rumah mereka ke arah vertikal.
Adanya ruang untuk tempat suci (sanggah/pemerajan) merupakan keharusan bagi pemilik rumah. Seluruh responden menyatakan sangat cocok bila letak KM/WC dan dapur tidak berdekatan dengan tempat suci. Sebesar 75% responden merasa cocok dengan posisi pintu masuk pekarangan bila mengikuti aturan arsitektur tradisional Bali.
Setiap rumah memiliki sanggah dan penunggu karang, namun keberadaan pelinggih di masing-masing rumah berbeda-beda. Sebesar 50% responden mendirikan padma
sari, 33% mendirikan taksu dan rong tiga, dan 17% memiliki sanggah dengan pelinggih rong tiga, pengrurah, dan taksu.
Penambahan dan perubahan banyak dilakukan oleh pemilik rumah. Sebesar 66% responden menambah 1-2 ruang tidur, 17% menambah 2-4 ruang tidur, dan 17% tidak menambah ruang tidur. Sebesar 60% responden menambah dan memperluas ruang makan dan ruang keluarga. Penambahan garasi dilakukan oleh seluruh responden. Perubahan terhadap pintu masuk rumah dilakukan oleh 50% pemilik rumah, sedangkan 60% pemilik rumah menambah jumlah kamar mandi. Sejumlah 17% pemilik memindahkan letak dapurnya yang berdekatan dengan tempat suci dan mengganti fungsi ruang tersebut menjadi kamar suci.
2. Bahan Bangunan, Penampilan Bangunan Asal, dan Pengembangannya
Sejumlah 40% responden tetap mempertahankan penampilan bangunan. Seluruh responden tetap menginginkan penampilan rumahnya mencerminkan langgam arsitektur tradisional Bali. 60% dari pemilik rumah mengubah penampilan rumahnya agar mencerminkan langgam lokal, dengan menggunakan bahan-bahan bangunan yang khas, seperti paras taro dan ornamen. Penggunaan ventilasi ukir kayu menjadi salah satu alternatif penerapan langgam tersebut.
B. Keinginan Responden terhadap Rumah Mereka
Keinginan para responden untuk rumah mereka adalah sebagai berikut:
1. Tempat Suci:
Harus tersedia ruang yang memadai untuk pembuatan tempat suci dan ruang di depan tempat suci, sehingga memungkinkan untuk melakukan persembahyangan.
Pelinggih yang ada di sanggah tidak mutlak lengkap (kemulan, taksu, dan pengrurah), dapat kemulan saja karena mengacu pada rumah asal.
2. Pola Tata Ruang:
Seluruh responden mengadakan perubahan pada pola tata ruangnya.
Letak kamar mandi dan dapur tidak diletakkan di dekat sanggah.
Pintu kamar sebaiknya tidak berhadapan.
Letak pintu pekarangan sebaiknya tidak berhadapan langsung dengan pintu pekarangan tetangga di depannya dan sebaiknya menerapkan perhitungan peletakan pintu berdasarkan aturan-aturan arsitektur tradisional Bali.
Karena pola pertumbuhan rumah tersebut umumnya ke arah lahan yang kosong, sehingga diharapkan dari denah asal sudah dipertimbangkan oleh pihak pengembang agar denah yang akan dikembangkan nantinya mampu mewadahi
Pengembangan yang dilakukan adalah penambahan ruang tidur, dan perluasan ruang makan, ruang keluarga, kamar mandi, dan garasi. Tahap kedua pengembangan umumnya responden menambah ruang tidur, ruang tidur pembantu, ruang cuci, dan ruang setrika tersendiri.
Tersedia ruang yang cukup untuk carport/garasi.
Pengembangan rumah mereka umumnya terjadi dalam dua tahap seperti pada Gambar 3 berikut:
Gambar 2. Pola Pengembangan Rumah Tipe 36
(Sumber: Hasil Analisis Peneliti, Nopember 2007)
3. Penampilan Bangunan dan Bahan yang Digunakan:
Penampilan bangunan tetap mencerminkan kekhasan arsitektur tradisional Bali.
Penggunaan ukiran sebaiknya sesuai keperluan agar tidak mengurangi luasan ruang.
Bahan bangunan yang digunakan sebaiknya bahan-bahan lokal.
2. Pembahasan
A. Adaptasi Penghuni terhadap Fungsi dan Makna Rumah
Secara umum, rumah yang menjadi kasus studi yang dibangun oleh pengembang telah menggunakan Standar Arsitektur Bidang Perumahan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum, seperti tabel berikut:
Tabel 2. Perbandingan Standar Luas Ruang
dan Luas Ruang yang Dibangun oleh Pengembang
Jenis Ruang Standar Arsitektur
Bidang Perumahan (m2) dan Dibuat oleh Pengembang (mRumah yang Distudi 2)
Ruang tidur utama 9.30 9
Ruang tidur anak 6 6
Ruang keluarga 9 7.50
Ruang tamu 4.50 7.50
Dapur 4 4
Kamar mandi 2.52 2.70
Pengembangan Tahap 1 Pengembangan Tahap 2
Denah Awal
Ruang tamu Ruang keluarga Ruang tidur utama
Ruang tidur anak Dapur Kamar mandi/WC Penambahan Ruang Ruang makan Garasi/carport Kamar mandi/WC pembantu Ruang tidur pembantu Perluasan ruang keluarga
Sanggah permanen Penambahan Ruang Ruang tidur Ruang setrika Ruang cuci Gudang Ruang jemur Kamar mandi/WC
Terlihat hampir seluruh rumah yang dibangun oleh pengembang telah memenuhi standar-standar ruang yang ditetapkan oleh Pemerintah. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: “bagaimanakah penghuni rumah beradaptasi dengan ruang-ruang yang telah ada?”. Rata-rata jumlah anggota keluarga responden adalah empat orang yang tergolong keluarga muda, sehingga pengembangan rumah masih mungkin dilakukan bila dikaitkan dengan pertambahan jumlah anggota keluarga.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengidentifikasi pola adaptasi yang dilakukan oleh penghuni dalam mentransformasi fungsi dan makna ruang pada rumah arsitektur tradisional Bali ke dalam fungsi dan makna ruang pada rumah tipe 36 mereka adalah:
1. Pendekatan fungsi ruang dalam arsitektur tradisional Bali dan ruang dalam rumah tipe 36 dilakukan dengan pendekatan perilaku penghuni rumah, sehingga didapatkan pola adaptasi penghuni. Walaupun memiliki perbedaan jenis dan fungsi ruang, rumah modern dan rumah tradisional Bali memiliki hakikat yang sama yaitu sebagai tempat berlindung, membina keluarga, identitas, mengembangkan hubungan sosial, dan menjaga keseimbangan hubungan jasmani dan rohani.
2. Pendekatan terhadap tata nilai ruang berdasarkan aspek kultur pada konsep teritori bahwa masyarakat yang masih terikat pada kulturnya akan tetap mempertahankan ruang suci (sakral) dan profan (umum) (Haryadi, 1996:38). Timur laut sebagai orientasi tertinggi masih dipertahankan oleh penghuni dan dijadikan pedoman dalam membangun rumah. Acuan lainnya adalah letak kamar mandi dan dapur tidak berdekatan dengan tempat suci.
3. Pendekatan terhadap tata nilai natah (ruang orientasi) dan bale (massa bangunan), dimana natah sanggah dipertahankan karena masyarakat masih memegang konsep tempat suci, walaupun dalam rumah sederhana.
4. Pendekatan terhadap tata nilai pintu masuk pekarangan (angkul-angkul) yang diletakkan di posisi zone nista (hirarki terendah pekarangan) di sisi barat daya agar tidak bertentangan dengan zone utama (hirarki tertinggi pekarangan) di sisi timur laut yang difungsikan untuk tempat suci.
Melalui pendekatan-pendekatan tersebut dapat diidentifikasi pola adaptasi penghuni sebagai berikut:
Tabel 3. Pola Adaptasi Penghuni dalam Mentransformasi Fungsi dan Makna Ruang
pada Rumah Arsitektur Tradisional Bali ke Rumah Sederhana Tipe 36
Ruang dalam Arsitektur Tradisional Bali Ruang dalam Rumah Sederhana Ruang Fungsi Ruang Fungsi Tempat suci
(sanggah)
Sarana untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan untuk memuja leluhur dalam segala tingkatannya Terdiri atas beberapa
pelinggih (tugu)
Tempat suci (sanggah)
Sarana untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan untuk memuja leluhur dalam segala tingkatannya
Terdiri atas satu pelinggih (tugu)
Bale daja Ruang tidur anak perempuan Ruang tidur
Ruang tidur utama
Umumnya digunakan untuk ruang tidur orang tua
Ruang tidur anak
Digunakan oleh anak. Bisa dipergunakan untuk 1-2 anak
Bale sumanggen
Tempat upacara ritual yang bersifat horisontal (sesama manusia)
Tempat tidur anak laki-laki, tempat belajar, dan tempat menerima tamu yang dihormati
Ruang tamu Untuk menerima tamu, agar tidak
terkesan sempit, ruang tamu dan ruang keluarga biasanya tidak disekat. Jika menggunakan pembatas, biasanya menggunakan pembatas tidak permanen
Tabel 3. Pola Adaptasi Penghuni dalam Mentransformasi Fungsi dan Makna Ruang
pada Rumah Arsitektur Tradisional Bali ke Rumah Sederhana Tipe 36 (lanjutan)
Ruang dalam Arsitektur Tradisional Bali Ruang dalam Rumah Sederhana Ruang Fungsi Ruang Fungsi Bale dauh Tempat tidur orang tua,
tempat menerima tamu, tempat bekerja di siang hari
Ruang keluarga
Digunakan untuk berkumpul bersama keluarga (multifungsi), seperti ruang nonton TV, ruang berkumpul bersama keluarga, ruang makan, dan ruang belajar
Fungsi tambahan: ruang persiapan untuk sarana upacara
persembahyangan (metanding)
Pawon Tempat memasak (pusat aktivitas sehari-hari bagi ibu), berfungsi sebagai tempat peleburan berbagai macam kemalangan
Dapur terletak di depan bangunan memungkinkan terciptanya kontak visual dan kontak fisik antara tamu dan penghuni (Ibu)
Dapur Tempat memasak (pusat aktivitas sehari-hari bagi pembantu rumah tangga) dan menyimpan bahan makanan
Dapur terletak di belakang hanya dipandang sebagai kontak visual untuk mengawasi tamu yang datang, tanpa memperkenankan orang lain untuk melihat bagian dalam dapur
Jineng Tempat melakukan aktivitas sosial dan tempat menyimpan padi (hasil bumi)
Kamar mandi dan WC
Tempat melakukan kegiatan mandi, cuci, dan buang hajat
Teras Tempat melakukan kegiatan santai, merupakan ruang transisi antara ruang luar dengan ruang dalam
Natah Berfungsi sebagai pengikat
ruang-ruang di sekitarnya. Terdapat tiga ruang pengikat,
antara lain: natah sanggah (di tempat suci), natah umah (di pekarangan), dan natah pawon (di dapur)
Natah Sanggah
Karena luas lahan yang terbatas, natah umah dan natah pawon sangat sulit diterapkan Natah sanggah masih dapat
dipertahankan walaupun dalam luasan terbatas, karena penghuni rumah masih kuat memegang konsep ruang suci
Ruang keluarga
Ruang keluarga diasumsikan sekaligus sebagai natah umah dan natah pawon karena keberadaannya sebagai pusat aktivitas penghuni dan pengikat ruang-ruang di sekitarnya
Sebagai keluarga yang beragama Hindu, penghuni juga melakukan penyesuaian elemen pekarangan rumah yang ditempatinya, di antaranya:
1. Posisi Utamaning Utama (kaja-kangin/timur laut)
Seringkali posisi kaja-kangin telah terdapat pintu masuk pekarangan oleh pengembang, sehingga menyulitkan penghuni dalam membuat sanggah. Salah seorang responden, karena membeli rumah yang telah mengalami pengembangan dan area kaja-kangin sudah tidak dapat dibangun untuk sanggah (digunakan untuk kamar mandi oleh penghuni sebelumnya), maka sanggah dibuat dengan mengambil poros jalan yang mengarah ke gunung sebagai sumbu utama. Seluruh responden tetap menginginkan agar zona suci (kaja-kangin) dipertahankan dan digunakan untuk
sanggah. Jika luas lahan tidak memungkinkan, beberapa responden membangun sanggah di lantai atas, namun mereka tetap meletakkannya di zona kaja-kangin.
Mereka juga menginginkan memiliki sanggah di bawah agar dapat langsung berhubungan dengan pertiwi (tanah).
2. Posisi Pelinggih Pengijeng Karang (tugu penjaga pekarangan)
Setiap rumah memiliki pelinggih pengijeng karang, namun letaknya tidak lagi berada di barat laut. Beberapa responden meletakkan pelinggih tersebut berdekatan dengan
pelinggih lain pada zona sanggah karena penghuni ingin memanfaatkan lahan secara
maksimal.
3. Posisi Pintu Pekarangan
Hanya 12% responden yang mengubah letak pintu pekarangan karena jika memindahkan letak pintu tersebut, maka akan memindahkan ruang-ruang lain dalam rumah yang tentu saja akan menimbulkan biaya yang cukup besar. Yang dilakukan oleh responden adalah menambah pintu pekarangan, namun ukurannya tidak selebar pintu asal yang sudah ada sebelumnya. Tata letak pintu tambahan ini berdasarkan tata nilai arsitektur tradisional Bali. Pintu masuk pekarangan pertama difungsikan untuk sirkulasi kendaraan bermotor penghuni dari garasi/carport ke jalan, sedangkan pintu tambahan digunakan untuk sirkulasi orang (penghuni dan tamu).
B. Pola Tumbuh Rumah
Pola tumbuh rumah tipe 36 memiliki lima tahapan berdasarkan pertambahan jumlah aktivitas dan jumlah anggota keluarga. Hirarki kebutuhan ruang disusun berdasarkan teori Hirarki Kebutuhan akan Ruang menurut Abraham Maslow yang disesuaikan dengan kebutuhan penghuni etnis Bali yang beragama Hindu.
Tabel 4. Pola Tumbuh Rumah Tipe 36 Denah
Awal
Denah Pengembangan
1 2 3 4 5
1-2 ruang tidur Sanggah (tempat suci)
1 ruang tidur tambahan
1 ruang tidur 1 ruang setrika Pagar dan angkul-angkul
Ruang tamu Garasi 1 kamar mandi 1 ruang makan 1 ruang jemur
Ruang keluarga Alih fungsi per-luasan Sanggah permanen 1 ruang cuci Kamar mandi dan WC
Dapur Gudang alat
upacara
Gudang
Teras Dapur
Hirarki Kebutuhan akan Ruang (Abraham Maslow) Kebutuhan fisiologis: rasa aman,
kehormatan, harga diri, ego
Kebutuhan fisiologis:
rasa aman, kehormatan, harga diri, ego
Kebutuhan fisiologis: rasa aman,
kehormatan, harga diri, ego, kebutuhan sosial
Kebutuhan fisiologis:
rasa aman, kehormatan, harga diri, ego,
kebutuhan sosial, aktualisasi diri
Pada pengembangan tahap pertama hingga ketiga, penghuni memprioritaskan penambahan ruang tidur, ruang makan, dan kamar mandi. Apabila penghuni adalah orang tua yang keduanya bekerja, penambahan ruang tidur pembantu merupakan keharusan karena umumnya mereka memperkerjakan pembantu/pramuwisma untuk mengawasi anak-anak di siang hari dan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Maka, kebutuhan akan ruang pembantu merupakan keharusan. Letak kamar mandi umumnya berada di sekitar ruang servis, yaitu berdekatan dengan dapur dan ruang makan. Bila zone kaja kangin berada di bagian hulu rumah, maka ruang pembantu diletakkan di bagian
teben.
Pengembangan tahap keempat, penghuni mengutamakan penambahan ruang-ruang servis, terutama ruang-ruang setrika dan ruang-ruang jemur. Untuk ruang-ruang cuci, sebagian besar penghuni memanfaatkan kamar mandi sekaligus sebagai ruang cuci. Bila memiliki mesin cuci, maka mesin tersebut diletakkan berdekatan dengan kamar mandi, sehingga memudahkan dalam beraktivitas. Beberapa penghuni juga menyediakan ruang setrika agar ruang-ruang lainnya tampak lebih rapi.
Penambahan ruang tidur terjadi bila ada penambahan jumlah anggota keluarga. Jika penghuni memperluas rumahnya ke arah vertikal (bertingkat), maka mereka melengkapinya dengan hall dengan memanfaatkan sirkulasi ruang yang ada. Hall ini kemudian juga dimanfaatkan sebagai sirkulasi antar ruang atau sebagai pengikat ruang-ruang yang ada di lantai dua. Untuk gudang, beberapa penghuni menyediakan dua buah gudang dengan fungsi yang berbeda. Gudang yang pertama digunakan untuk menyimpan barang-barang yang diperlukan, sedangkan gudang yang kedua diperuntukkan untuk menyimpan alat-alat upacara. Gudang alat-alat upacara diletakkan berdekatan dengan
sanggah, atau diletakkan di tempat yang biasanya digunakan untuk kegiatan metanding
(tahap persiapan untuk persembahyangan).
Berdasarkan pendekatan arsitektur perilaku, penghuni yang beragama Hindu cenderung menginginkan rumah yang dapat menjaga privasinya. Oleh penghuni, penataan ruang diupayakan dapat memberikan kenyamanan, walaupun luas bangunan dan luas pekarangan sangat terbatas. Terdapat perbedaan dengan rumah tradisional Bali berpola natah dengan sistem open plan (ruang terbuka), sehingga privasi para penghuni kurang terjaga. Terkait dengan penyesuaian tersebut, maka beberapa ruang memiliki pergeseran dan penambahan fungsi, antara lain:
1. Penambahan fungsi ruang makan, untuk aktivitas sehari-hari, ruang makan berfungsi mewadahi aktivitas makan bersama bagi penghuni rumah. Namun, pada saat-saat tertentu, ruang makan digunakan untuk mempersiapkan banten/sarana
persembahyangan. Demikian juga dapur memiliki akses langsung dengan ruang luar agar lebih memudahkan dalam kegiatan persiapan upacara (mebat).
2. Pergeseran fungsi dapur terhadap penghuni. Bila pada rumah berarsitektur tradisional Bali, dapur merupakan pusat aktivitas sehari-hari bagi ibu yang kesehariannya lebih banyak di rumah. Maka saat ini, bagi Ibu yang bekerja, dapur tidaklah sebagai pusat aktivitas rumah tangga lagi. Dapur tidak mengalami perubahan aktivitas yang diwadahinya, tetapi dari civitasnya. Saat ini civitas yang lebih banyak bekerja di dapur adalah pembantu rumah tangga.
3. Perubahan pandangan terhadap tata letak dapur menyebabkan perubahan posisi dapur. Dalam rumah tradisional Bali, dapur yang diletakkan di depan memungkinkan terciptanya kontak visual dan kontak fisik antara tamu dan ibu (penghuni). Namun dalam rumah tipe sederhana, ada keinginan untuk mendapatkan privasi penghuni rumah, sehingga dapur dipandang hanya sebagai kontak visual untuk mengawasi bila ada yang bertamu dan menjaga rumah tanpa memperkenankan orang lain untuk melihat bagian dalam dapur. Letak dapur di depan juga menuntut agar ruang selalu bersih karena berada di bagian depan bangunan yang mudah dilihat oleh tamu. 4. Ruang keluarga merupakan ruang yang sangat penting sebagai tempat berkumpul
seluruh anggota keluarga. Karena kesibukan kedua orang tua dan anak-anak mereka oleh pekerjaan dan kegiatan sekolah, maka waktu berkumpul mereka sangat sedikit, sehingga ruang keluarga menjadi penting sebagai wadah komunikasi antar anggota keluarga. Sebagai pengikat ruang-ruang yang ada di sekitarnya, maka ruang keluarga memiliki fungsi yang sama dengan natah pada rumah tradisional Bali.
Penambahan angkul-angkul dan tembok penyengker merupakan tahap kelima pada pertumbuhan rumah tipe 36 ini. Penyengker (pagar pekarangan) pada rumah
tradisional Bali memiliki fungsi yang sama dengan rumah tipe 36 yaitu sebagai penjaga dan pelindung privasi bagi pemiliknya untuk tanda hak milik. Namun perbedaannya,
penyengker dan angkul-angkul pada rumah tradisional Bali menunjukkan status/warna
bagi penghuninya, sedangkan pada rumah tipe 36, simbol ini tidak digunakan. Kedua elemen pekarangan ini memiliki makna sesuai fungsinya untuk seluruh rumah pada umumnya. Hanya tampilan dan bahan yang digunakan menunjukkan tingkat kemampuan ekonomi dan ekspresi diri penghuninya. Semakin menarik tampilan dan semakin mahal bahan yang digunakan, maka menunjukkan semakin berada penghuni rumah tersebut.
Angkul-angkul dan penyengker menjadi aktualisasi diri dan kebutuhan sosial bagi
penghuninya.
PENUTUP
Berdasarkan aspek kultur, penghuni rumah Tipe 36 etnis Bali yang beragama Hindu di Kota Denpasar masih terikat pada kultur. Mereka tetap mempertahankan ruang suci (sakral) dan profan (umum) dalam pengembangan rumah tinggalnya. Timur laut sebagai orientasi tertinggi untuk tempat suci (sanggah/pemerajan) masih dipertahankan oleh penghuni dan dijadikan pedoman dalam membangun rumah. Acuan lainnya adalah letak kamar mandi dan dapur tidak berdekatan dengan tempat suci.
Seluruh penghuni melakukan perubahan pada rumah yang dimilikinya, baik dari tata ruang, dan juga penambahan pada tempat suci. Namun perubahan-perubahan tersebut masih memperhatikan nilai-nilai yang terkandung dalam arsitektur tradisional Bali, seperti konsep Tri Hita Karana, Tri Angga, dan Tri Mandala, di antaranya, letak kamar mandi dan dapur tidak diletakkan berdekatan dengan tempat suci, pintu kamar tidak saling berhadapan, dan letak pintu pekarangan tidak berhadapan langsung dengan pintu pekarangan tetangga.
Pendekatan fungsi ruang dalam arsitektur tradisional Bali dan ruang dalam rumah tipe 36 dilakukan dengan pendekatan perilaku penghuni rumah, sehingga didapatkan pola adaptasi penghuni. Walaupun memiliki perbedaan jenis dan fungsi ruang, rumah modern dan rumah tradisional Bali memiliki hakikat yang sama yaitu sebagai tempat berlindung, membina keluarga, menunjukkan identitas penghuni, mengembangkan hubungan sosial, dan menjaga keseimbangan hubungan jasmani dan rohani.
DAFTAR PUSTAKA
Altman, Irwin, & Chemers, Martin M.; Cultural Aspects of Environmental-Behavior
Relationships; dalam H. C. Triandis & R.W. Brislin (Eds.), Handbook of Cross-Cultural Psychology (Vol. 5); Boston: Allyn & Bacon: 1980.
Bochner, S.; The House Form as a Cornerstone of Culture; dalam R.W. Brislin (Ed.), Topics in
Culture Learning (Vol. 3); Honolulu, HI: East-West Centre, 1975.
Gelebet, Nyoman, (editor: Puja); Arsitektur Tradisional Daerah Bali; Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982.
Gomudha, I Wayan. Identifikasi Nilai Nilai Arsitektur Tradisional Bali dan Arsitektur
Kontemporer, Tesis Bidang Keahlian Perancangan dan Kritik Arsitektur. Surabaya:
Program Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 1999. Haryadi, dkk. Arsitektur Lingkungan dan Perilaku. Jakarta: PP-PSL, 1996.
Meganada, I Wayan; Pola Tata Ruang Arsitektur Tradisional dalam Perumahan KPR BTN di
Bali, Tesis Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung. Bandung: 1990.
Rapoport, Amos; House Form and Culture; Milwaukee: University of Winconsin, 1969. ______________; Theory, Culture, and Housing; Housing, Theory and Society, 17, 2001. Sastra, Suparno; Endy Marlina; Perencanaan dan Pengembangan Perumahan: Sebuah
Konsep, Pedoman Strategi Perencanaan dan Pengembangan Perumahan. Yogyakarta:
Penerbit Andi, 2005.
Surata, I Nyoman. Pemahaman Ruang dalam Arsitektur Rumah Bali, Tesis Bidang Keahlian Perancangan dan Kritik Arsitektur. Surabaya: Program Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2002.
Triandis, H. C.; Culture and Social Behavior; New York: McGraw-Hill, 1994.
Untermann, Richard dan Robert Small; Perencanaan Tapak untuk Perumahan (Terj.). Bandung: Intermatra, 1986.