BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Majid (1997:2) dalam Syihabuddin (2002:1) mengatakan bahwa suatu kebudayaan tidak lahir dari kekosongan. Ia didahului oleh kebudayaan-kebudayaan lain yang menjadi unsur pembentuknya. Kebudayaan suatu bangsa selalu merupakan ikhtisar dari kebudayaan sebelumnya atau seleksi dari berbagai kebudayaan lain. Dengan demikian, kebudayaan dapat dipandang sebagai proses memberi dan menerima.
Proses di atas terjadi dan berkembang melalui berbagai sarana, di antaranya melalui penerjemahan. Catatan sejarah menegaskan bahwa peradaban Islam pertama-tama berkembang melalui penerjemahan karya-karya lama Yunani, Persia, India, dan Mesir dalam bidang ilmu eksakta dan kedokteran. Kegiatan ini dimulai pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far al-Mansur (137-159H / 757-775M.), Seorang khalifah dari Dinasti Abbasiah. Upayanya ini mencapai kegairahan yang menakjubkan pada masa khalifah Al-ma’mun sehingga mengantarkan umat Islam ke masa keemasan. (Majid, 1997:98-99)
Yunus (1989:4) dalam Syihabuddin (2002:2) mengatakan, kegiatan penerjemahan (terutama nas keagamaan) sebagai transfer budaya juga dilakukan oleh bangsa Indonesia sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) di Aceh. Hal ini di tandai dengan dijumpainya karya-karya terjemahan ulama Indonesia terdahulu. Upaya penerjemahan terus berlanjut hingga saat ini, bahkan semakin digencarkan. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya kegiatan penerjemahan sebagai sarana pembinaan peradaban umat manusia untuk mencapai suatu kemajuan dan kesejahteraan. (Syihabuddin, 2002: 2).
Dalam bahasa Indonesia, istilah terjemah dipungut dari bahasa Arab, tarjamah. bahasa Arab sendiri memungut istilah tersebut dari bahasa Armenia, turjuman (Didawi,
Tarjuman yang berarti orang yang mengalihkan tuturan dari satu bahasa ke bahasa lain
(Manzhur, t.t.:66) dalam Syihabuddin (2002:6).
Newmark (1993: 4) memberikan defenisi tentang terjemahan : “rendering the
meaning of text into another language in the way that the author intended the text .
‘Menerjemahkan makna suatu teks ke dalam bahasa lain sesuai dengan yang dimaksud pengarang’
Syihabuddin (2002:7) menyatakan , secara terminologis, menerjemah didefinisikan seperti berikut :
”
/at-ta‘bîru ‘an ma‘nâ kalâmi fî lughatin bi kalâmi âkhar min lughati ukhrâ ma‘a al-wafâ‘i
bijamî‘i ma‘ânîhi wa maqâşidihi/
‘menerjemah berarti mengungkapkan makna tuturan suatu bahasa di dalam bahasa lain dengan memenuhi seluruh makna dan maksud tuturan itu’.
Terjemahan adalah interpretasi makna suatu teks dalam suatu bahasa (teks sumber) dan penghasilan teks yang merupakan padanan dalam bahasa lain (teks sasaran atau
terjemahan.) yang mengkomunikasikan pesan serupa. (http://id.wikipedia.org/wiki/terjemahan)
Dalam proses penerjemahan terdapat tahapan-tahapan, yakni : Metode, Prosedur, dan
Teknik terjemahan (Syihabuddin, 2002:77). Metode merupakan cara penerjemahan nas
sumber secara keseluruhan. Sedangkan Prosedur adalah cara penerjemahan kalimat yang merupakan bagian dari nas tersebut. Adapun Teknik merupakan cara penerjemahan kata atau frase yang merupakan bagian dari sebuah kalimat.
Teknik berfungsi untuk menjabarkan tahapan-tahapan pekerjaan yang mesti dilalui oleh sebuah prosedur, sedangkan prosedur berfungsi sebagai penjabaran dari metode penerjemahan sebuah nas (Syihabuddin, 2002:77). Karena objek prosedur adalah berupa
kalimat, dan kalimat itu sendiri sangat banyak jenisnya dan sangat variatif, maka tidaklah mengherankan jika prosedur penerjemahan pun sangat banyak dan variatif (Syihabuddin, 2002:67). Namun, meskipun jumlah prosedur itu banyak, ada jenis prosedur yang dianggap sangat pokok dan sering digunakan oleh penerjemah. Diantara proses penerjemahan yang pokok tersebut ialah yang dikemukakan oleh Newmark (1988: 81-93), yaitu prosedur literal, prosedur transfer dan naturalisasi, prosedur ekuivalensi, prosedur modulasi, dan prosedur transposisi. (Syihabuddin, 2002 : 67-76). Prosedur literal adalah prosedur yang digunakan jika makna bahasa sumber berkorespondensi dengan makna bahasa penerima atau mendekatinya, dan kata itu hanya mengacu pada benda yang sama, bahkan memiliki asosiasi yang sama pula. (Syihabuddin, 2002:667). Prosedur transfer dan naturalisasi difahami sebagai prosedur pengalihan suatu unit linguistik dari bahasa sumber kedalam nas bahasa penerima dengan menyalin huruf atau melakukan transliterasi. (Syihabuddin, 2002:70). Prosedur modulasi dipahami sebagai pengubahan pandangan atau perspektif yang berkaitan dengan kategori pemkiran atau pengubahan unsure leksis suatu unit linguistik dengan unsur linguistik yang berbeda dalam bahasa penerima. (Syihabuddin, 2002:73). Prosedur Transposisi berkaitan dengan pengubahan dan penyesuaian struktur bahasa sumber dengan struktur bahasa sasaran. (Syihabuddin, 2002:74). Prosedur Penerjemahan yang akan peneliti bahas dalam tulisan ini adalah prosedur ekuivalensi beserta penjabarannya.
Syihabuddin (2002:107) mengatakan bahwa, dalam bidang terjemahan, istilah ekuivalensi yang bersinonim dengan padanan mengacu pada beberapa konsep. Antara lain :
pertama, ekuivalensi merupakan tujuan atau produk dari proses penerjemahan. Karena
penerjemahan itu merupakan proses pencarian ekuivalensi, yaitu padanan yang paling wajar antara bahasa sumber dan bahasa penerima. Kedua, ekuivalensi merujuk pada salah satu prosedur penerjemahan sebagaimana dikemukakan Newmark (1998), bahwa prosedur ini
digunakan untuk menerjemahkan kosa kata kebudayaan di dalam bahasa penerima dengan cara yang sedapat mungkin mendekati makna yang sebenarnya di dalam bahasa sumber.
Prosedur Ekuivalensi adalah cara penerjemahan istilah bahasa sumber, tentang apa saja, kedalam bahasa penerima. (Syihabuddin, 2002:109). Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas di bidang tertentu. (Hasan Alwi dkk, 2007:446). Kamus bahasa Indonesia mengartikan Istilah dengan Kata atau gabungan kata, yang dengan cermat mengungkapkan suatu makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. (Sugono, dkk., 2008: 584).
Syihabuddin (2002 :127) dalam bukunya “Teori dan Praktik Penerjemahan Arab-Indonesia” mengatakan bahwa, dalam proses penerjemahan dengan prosedur ekuivalensi ini, terdapat tiga teknik, yaitu : Teknik korespondensi, Teknik deskripsi, dan Teknik integratif.
Teknik korespondensi adalah teknik penyamaan konsep bahasa sumber (BS) dengan bahasa penerima (BP) melalui penerjemahan kata dengan kata dan frase dengan frase, yang berlandaskan asumsi bahwa ada kesamaan konseptual antara keduanya. (Syihabuddin, 2002 : 118). Dalam Kamus Bahasa Indonesia, Kata diartikan sebagai satuan (unsur) bahasa yang terkecil, yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. (Sugono, dkk. 2008 : 648). Frase diartikan sebagai Bagian kalimat yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi. Artinya satu frase maksimal hanya menduduki gatra subjek (S), predikat (P) atau objek (O) atau keterangan (K). (http://bagas.wordpress.com/2007/10/ 25/frase/)
Teknik deskripsi adalah teknik penerjemahan dengan menjelaskan makna kata bahasa sumber (BS) di dalam bahasa penerima (BP) seperti tampak pada perubahan kata menjadi frase atau frase yang sederhana menjadi frase yang kompleks. (Syihabuddin, 2002 : 124)
Teknik Integratif adalah pemakaian dua teknik sekaligus dalam memproduksi makna bahasa sumber (BS) di dalam bahasa penerima (BP). (Syihabuddin, 2002 : 126).
Dengan demikian, dalam tulisan ini penulis akan membahas dan menunjukkan proses penerjemahan yang memakai ketiga teknik di atas sebagai penjabaran dari prosedur Ekuivalensi. Objek kajian yang penulis teliti adalah surah Al-kahfi, pada Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia yang telah ditashih pada tahun 2005, diterbitkan oleh PT.Syamil Cipta Media.
Penulis memilih surah Al-Kahfi sebagai objek penelitian karena :
1. Pembahasan tentang teknik penerjemahan sebagai penjabaran prosedur ekuivalensi pada surah Al-kahfi belum pernah diteliti sebelumnya.
2. Surah tersebut juga memiliki beberapa keutamaan, di antaranya ; ”
/man hafiza ‘asyra āyātin min awwali sūrati al-kahfi ‘uşima min ad-dajjāl/
‘Barangsiapa meghafal sepuluh ayat diawal surah Al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari (fitnah) Dajjal’ (diriwayatkan oleh Bukhari (4462) dan Muslim(1325)). (Muhammad Albani, 2008:49)
/man qara’a al-‘asyru al-awākhira min sūrati al-kahfi ‘uşima min fitnati ad-dajjāl/
‘Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari fitnah Dajjal’. (diriwayatkan oleh Muslim (1342) dan Nasa’i dari Qatadah r.a). (Muhammad Albani, 2008:49)
Dengan semua keutamaan yang ada, diharapkan umat muslim dapat lebih memahami makna dari isi surah Al-Kahfi tersebut.
Penulis tertarik untuk membahas Prosedur Ekuivalensi karena :
1. Prosedur Ekuivalensi merupakan cara penerjemahan yang paling akurat dan tepat dalam menyampaikan maksud dalam bahasa sumber kedalam bahasa penerima. Sebagaimana dikatakan oleh Newmark : “This Procedure, which is a cultural
componential analysis, is the most accurate way of translating… “(Newmark,
1998:83)
2. Untuk menemukan contoh penerapan teknik-teknik penjabaran prosedur ekuivalensi karya Syihabuddin dalam penerjemahan Al-Quran, khususnya pada surah Al-kahfi. Dan tidak tertutup kemungkinan akan menemukan pola dan kesimpulan baru dalam teknik menerjemahkan ayat-ayat Al-Quran, agar maksud yang diinginkan dalam BS dapat diterima dengan tepat oleh pemakai BP tanpa perubahan makna.
3. Masalah ini belum pernah diteliti sebelumnya, padahal masalah ini merupakan salah satu penentu berhasil atau tidaknya seorang penerjemah dalam menyampaikan pesan (budaya) yang dimaksud didalam bahasa sumber (BS) kedalam bahasa penerima (BP) dengan tepat, tanpa ada pengurangan, penambahan atau pergeseran makna.
1.2 Batasan masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Teknik apa sajakah yang digunakan dalam menerjemahkan surah kahfi pada
Al-Quran terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia tahun 2005, sebagai penjabaran prosedur ekuivalensi?
2. Apakah teknik penerjemahan sebagai penjabaran prosedur Ekuivalensi pada terjemahan surah Al-kahfi Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia mampu mengungkapkan secara tepat makna yang dimaksud pada Bahasa Sumber didalam Bahasa Penerima?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui teknik apa saja yang digunakan dalam menerjemahkan surah Al-kahfi pada Al-Quran terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia tahun 2005, sebagai penjabaran prosedur ekuivalensi.
2. Untuk Mendeskripsikan ketepatan makna pada terjemahan surah Al-Kahfi dengan teknik penjabaran prosedur ekuivalensi pada Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia..
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk melihat apakah teknik penerjemahan sebagai penjabaran prosedur ekuivalensi dipakai dalam menerjemahkan Al-Qur’an kedalam bahasa Indonesia, khususnya pada surah Al-kahfi.
2. Untuk menghasilkan tejemahan yang terbaik, di mana pesan yang dimaksud dalam Bahasa Sumber dapat diterima dengan tepat oleh pemakai Bahasa Penerima.
3. Secara teoritis, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian dalam bidang terjemah Arab-Indonesia, untuk menghasilkan penerjemahan yang terbaik dalam kegiatan penerjemahan.
4. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu referensi tambahan, yang mungkin berguna bagi mahasiswa fakultas Sastra, khususnya bagi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Arab.
5. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti sendiri, pembaca, dan para penerjemah dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, agar hasil terjemahan yang akan dihasilkan tepat sesuai harapan bahasa sumber. Yang
dengannya, diharapkan akan terjadi kemajuan-kemajuan di berbagai bidang kehidupan.
1.5 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan melakukan studi kepustakaan (Library Research), dan telaah cara penerjemahan surah Al-Kahfi terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia, dengan tahapan sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data pustaka atau referensi yang berhubungan dengan judul penelitian 2. Data yang terkumpul segera diidentifikasi, dipelajari, dan diklasifikasikan.
3. Menelaah cara dan teknik yang dipakai oleh departemen Agama dalam menerjemahkan surah Al-Kahfi.
4. Menulis hasil laporan tersebut dalam bentuk karya ilmiah sebagai laporan penelitian.
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengambil objek data utama dari Al Qur’an dan Terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia yang telah ditashih pada tahun 2005 yang diterbitkan oleh PT.Syamil Cipta Media.
Dalam menganalisis data, peneliti memakai teori terjemahan Syihabuddin dalam bukunya “Teori dan Praktik penerjemahan Arab-Indonesia” yang diterbitkan oleh Departemen pendidikan nasional, tahun 2002. kemudian menelaah teknik yang dipakai Departemen Agama dalam menerjemahkan surah Al-kahfi pada Al Qur’an dan Terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia yang telah ditashih pada tahun 2005 berdasarkan teori yang ada dalam buku sumber teori utama. Dalam menentukan ketepatan makna, penulis menggunakan berbagai sumber sebagai penentunya, di antaranya kitab tafsir Al-Qur’an perkata karya Ahmad Hatta, Tafsir Ibnu Katsir Juz 16, Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka tahun 2007, Kamus Munawwir terbitan Pustaka Progresif tahun 1997, kamus
Al-Akbar terbitan Lintas media, Kamus Umum Bahasa Indonesia penerbit Balai Pustaka tahun 1986, Kamus Arab-Indonesia Mahmud yunus terbitan PT.Hidakarya agung, sumber data dari Internet, dan sumber data lainnya.
Metode yang digunakan peneliti dalam menentukan ketepatan makna adalah dengan mencari arti kata/istilah yang diteliti didalam kamus-kamus Arab-Indonesia. Untuk selanjutnya arti dalam bahasa Indonesia tersebut disesuaikan pemahamannya dengan apa yang ada dan dipahami dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, dan ditambah dengan kamus-kamus Bahasa ndonesia lainnya.