• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suwawa Makalah Geokimia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Suwawa Makalah Geokimia"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

GEOKIMIA DAERAH PANAS BUMI SUWAWA KAB. BONE BOLANGO - GORONTALO

Oleh:

Bangbang Sulaeman, Asngari SUB DIT. PANAS BUMI

S A R I

Daerah penyelidikan geokimia panas bumi Suwawa secara administrative termasuk Wilayah Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas daerah penyelidikan mencapai ± 15,0 X 20,0 kilometer2 dan berada pada posisi geografis di antara 123o 57’ 16’’- 123o 05’24” BT dan 0o 30’21” – 0o 42’ 00” LU, atau koordinat X= 495.000 – 510.000 m BT dan Y= 56.000 – 77.000 m LS.

Kenampakan langsung di lapangan menunjukkan adanya pemunculan mata air panas serta dijumpai adanya endapan air panas / sinter berwarna ke-putih putihan, oksida besi berwarna kecoklatan

Karakteristik mata air panas daerah Suwawa relatif bersifat netral (pH = 7.40 – 7.90 ) yang sebagian besar bertipe air klorida-sulfat seperti diperlihatkan pada mata air panas Libungo dan Pangi sedangkan bertipe air sulfat di perlihatkan pada mata air panas Lombongo dengan temperatur yang relatif cukup tinggi terutama di Libungo (81.0 – 82.6° C) dan debit antara 1.20 – 4.50 liter/ menit dan temperatur mata air panas di Lombongo dan Pangi (41.4 – 52.6° C) dengan debit antara 1.20 – 6.20 liter/ menit dan berada di daerah “ immature waters”. , dapat diperkirakan bahwa sistem air panas yang muncul di daerah panas bumi Suwawa seperti Libungo, Lombongo dan Pangi dan terletak pada zona “upflow” dengan suhu bawah permukaan sebesar 150-188 º C dan merupakan sistem reservoar dominasi air panas (“water heated reservoir”). sedangkan dari data Isotop Oksigen-18 dan Deuterium mengindikasikan bahwa mata air panas tersebut kemungkinan adanya pengaruh oleh air meteoric relatif sangat kecil.

Konsentrasi cukup tinggi untuk kandungan Hg dalam tanah di atas nilai background 259 ppb dan CO2 di atas nilai background 0.80 % di jumpai pada lokasi titik amat daerah Suwawa terutama di

sekitar lokasi daerah manifestasi panasbumi Libungo, Lombongo , Pangi dan diperkirakan berhubungan dengan adanya pola struktur geologi yang muncul didaerah penyelidikan yang dicerminkan oleh bentuk depresi, dinding/ tebing patahan,kelurusan sungai, bukit dan topografi dan serta pemunculan manifestasi panas bumi berupa kelompok mata air panas dan tanah panas. Dari peta kontur sebaran Hg dan C02 didapatkan luas daerah prospek di Suwawa ± 2,5 km2 dan

dengan penghitungan Potensi Cadangan Hipotesis di daerah Suwawa adalah sebesar ± 18 Mwe/30 tahun.

1. PENDAHULUAN

Gorontalo sebagai salah satu daerah Provinsi yang relatif baru dan masih muda terletak di bagian tengah tangan utara P. Sulawesi. Provinsi ini tidak mempunyai sumber energi fosil seperti minyak bumi, gas dan batubara sehingga untuk konsumsi energi di daerahnya harus dipasok bahan bakar dari daerah lain yang menyebabkan nilai subsidi yang diberikan akan menjadi lebih mahal.

Untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin hari semakin meningkat, perlu diusahakan sumber energi yang bisa dihasilkan dari daerah sendiri. Salah satu

energi alternatif yang bisa dimanfaatkan dan berasal dari daerah sendiri yaitu energi panas bumi.

(2)

Daerah penyelidikan panas bumi Suwawa secara administrative termasuk Wilayah Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas daerah penyelidikan mencapai ± 15,0 X 20,0 kilometer2 dan berada pada posisi geografis di antara 123o 57’ 16’’- 123o 05’24” BT dan 0o 30’21” – 0o 42’ 00” LU, atau koordinat X= 495.000 – 510.000 m BT dan Y= 56.000 – 77.000 m LS. yang termasuk dalam Peta Rupa Bumi Indonesia (Bakosurtanal) skala 1 : 50.000 edisi I tahun 1991, lembar peta Gorontalo, Modulio, Bilungala dan lembar peta Taludaa/ 2216 yang keempat lembar peta tersebut masuk dalam zone 51 N.

Untuk pencapaian ke lokasi kerja dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat udara dari Jakarta - Bandung – Makasar/ Balikpappan – Manado - Gorontalo selama 2 hari.. Kalau dengan menggunakan kapal Laut dari Surabaya – Makasar - Palu – Manado - Gorontalo akan memakan waktu sekitar 4-5 hari. Sedangkan dari Gorontalo ke Kecamatan-Kecamatan di wilayah Kabupaten Bone Bolango dapat ditempuh dengan mengunakan kendaraan roda empat atau kendaraan roda dua hingga ke lokasi-lokasi mata air panas di Libungo (Desa Buata), Lombongo (Kampung, Desa Lombongo), Pangi (Kampung Dumaya Bubu) dan Hungoyono (Desa Talabula) Kecamatan Suwawa. Sedangkan pencapaian ke beberapa lokasi yang terletak di pedalaman untuk dan pengambilan sample geokimia harus memakai kendaraan ojek dan berjalan kaki.

Maksud dilakukannya penyelidikan ini adalah untuk menperoleh suatu gambaran secara ilmu geokimia yang berkaitan dengan pemunculan gejala panas bumi di permukaan. Di samping itu untuk mengetahui karasteristik dari: sifat fisika maupun sifat kimia air panas atau gas dan kandungan serta luas sebaran merkuri tanah (Hg soil) dan karbon dioksida udara tanah (CO2 udara soil) yang terbentuk didaerah ini

pada kedalaman ± 1,0 m yang berhubungan dengan perangkap sistim panas bumi. Adapun tujuannya adalah untuk melokalisir luasnya daerah pemunculan manifestasi panas bumi dan untuk mengetahui temperatur fluida panas bumi di bawah permukaan yang berkaitan dengan kegiatan

manifestasi panas di permukaan. Hasil penyelidikan ini akan dapat memberikan gambaran mengenai: tipe panas bumi, sistim panas bumi, perangkap panas bumi serta jumlah potensi sumber daya hipotesis dari kelompok manifestasi yang ada di daerah Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo agar dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

2. METODA PENYELIDIKAN

Beberapa parameter dan metoda yang terpakai dalam melakukan penyelidikan geokimia di daerah potensi panasbumi dapat diuraikan sebagai berikut :

Metoda Cl-SO4-HCO2, Cl/100-Li-B/4 dan Na/1000-K/100-Mg manfaatnya untuk mempelajari latar belakang (asal) air panas yang erat hubungannya dengan batuan di daerah tersebut serta mengetahui tipe dan klasifikasi dari air panas dengan mempergunakan diagram segitiga. (Giggenbach, 1988).

Metoda Pendugaan Temperatur Bawah Permukaan dengan Geothermometer SiO2,

Na/K, Na-K-Ca dan K-Mg (Fournier, Giggenbach) yang dapat memberikan gambaran suhu teoritis bawah permukaan (wadah atau pembawa air panas).

Metoda Hg dalam tanah untuk menentukan daerah anomali Hg dengan melakukan pengambilan conto tanah (horizon B) untuk analisis kandungan Hg dalam tanah dan pH tanah dengan menggunakan bor tangan pada kedalaman kurang lebih 1 meter yang merupakan indikasi untuk menunjukkan adanya pola struktur yang berhubungan dengan sumber panas bumi yang ada di bawah permukaan (M. Capriano, 1978).

Metoda CO2 dalam udara tanah dengan melalui "absorption tube" yang didalamnya terdapat larutan NaOH 4N (25%) dan menggunakan alat Kimoto Handy sampler untuk menentukan daerah anomali CO2 yang

menunjukan adanya bocoran fluida panas berupa air panas atau uap dari sistim hidrotermal yang melepaskan sejumlah CO2

(3)

Metoda kandungan gas untuk mengetahui komposisi kimia gas dan memperkirakan pendugaan suhu bawah permukaan, menggunakan metoda gas – methan (CH4)

suhu dan amonia (NH3) (D’Amore –

Panichi).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Data hasil pengamatan lapangan Dari hasil penyelidikan geokimia ditemukan kenampakan gejala panas bumi berupa mata air panas yang muncul di beberapa lokasi yang termasuk kedalam wilayah Suwawa dan meliputi Desa Libungo, Desa Duano, Desa Lombongo dan Desa Lumbayabulan, Kecamatan Suwawa,Kabupaten DT.II Bone Bolango yaitu:

Mata Air panas Libungo -1 berada di Dusun Air Panas , Desa Libungo. Secara geografis mata air panas tersebut terletak pada posisi 113o 35’ 40””Bujur Timur dan 07o 55’ 14” Lintang Selatan atau koordinat UTM (x= 516102.000 ; y=57425.000) ditemukan pada ketinggian 44.00 m dpl, Pemunculan mata air panas berada pada dinding /tebing dengan temperatur air panas terukur di lapangan sekitar 82.6 0 C pada temperatur udara setempat 30.0 o C, pH terukur di lapangan 7.80 dengan debit sekitar 1.20 liter/detik. Mata air panas tersebut muncul melalui rekahan-rekahan yang ada pada batuan vulkanik. Kondisi fisik dari air panas tersebut jernih, tidak berbau, tidak berasa, dijumpai endapan oksida besi warna kuning kecoklatan dan sinter serta endapan garam yang warna keputih-putihan.

Mata air panas Libungo-2 berada di Dusun Air Panas dan dekat mata air panas Libungo 1 . Secara geografis mata air panas tersebut terletak pada posisi 113o 35’ 40””Bujur Timur dan 07o 55’ 14” Lintang Selatan atau koordinat UTM (x= 5175520.000 ; y=57988.000) ditemukan pada ketinggian 30.00 m dpl, Temperatur air panas terukur di lapangan sekitar 81.0 0 C pada temperatur udara setempat 32.0 o C, pH terukur di lapangan 7.80 dengan debit sekitar 4.50 liter/detik . Mata air panas tersebut muncul melalui rekahan batuan vulkanik dan menyebar dengan luas lebih kurang dari 30 x 20 m2 . Kondisi fisik dari air panas tersebut jernih, tidak berbau, tidak berasa dan endapan oksida besi warna kecoklatan muncul di sepanjang aliran mata

air panas serta dijumpai adanya sinter dan endapan garam warna keputih-putihan.

Mata Air panas Lombongo -1 berada di Dusun Lombongo, Desa Lombongo. Secara geografis mata air panas tersebut terletak pada posisi 113o 35’ 40””Bujur Timur dan 07o 55’ 14” Lintang Selatan atau koordinat UTM (x= 520184.000; y=60711.000) ditemukan pada ketinggian 81.00 m dpl, Pemunculan mata air panas berada pada dinding /tebing di atas sungai Lombongo dengan temperatur air panas terukur di lapangan sekitar 48.7 0 C pada temperatur udara setempat 28.0 o C, pH terukur di lapangan 7.70 dengan debit sekitar 6.20 liter/detik. Mata air panas tersebut muncul melalui rekahan-rekahan yang ada pada batuan vulkanik dan ditampung dalam bak penampungan oleh pemerintah daerah setempat untuk dialirkan ke kolam rekreasi pemandian airpanas. Kondisi fisik dari air panas tersebut jernih, tidak berbau, tidak berasa, dijumpai sedikit endapan oksida besi warna kuning kecoklatan.

Mata air panas Lombongo-2 berada dekat mata air panas Lombongo 1 . Secara geografis mata air panas tersebut terletak pada posisi 113o 35’ 40””Bujur Timur dan 07o 55’ 14” Lintang Selatan atau koordinat UTM (x= 5519842.000 ; y=60578.000) ditemukan pada ketinggian 85.00 m dpl, Temperatur air panas terukur di lapangan sekitar 41.40 C pada temperatur udara setempat 27o C, pH terukur di lapangan 7.80 dengan debit sekitar 2.40 liter/detik . Mata air panas tersebut muncul melalui rekahan batuan vulkanik dan mengalir masuk ke sungai Lombongo . Kondisi fisik dari air panas tersebut jernih, tidak berbau, tidak berasa dan endapan oksida besi, warna kuning kecoklatan.

(4)

setempat 29 o C, pH terukur di lapangan 7.40 dengan debit sekitar 1.20 liter/detik. Mata air panas tersebut muncul melalui rekahan-rekahan yang ada pada batuan vulkanik. Kondisi fisik dari air panas tersebut jernih, tidak berbau dan tidak berasa.

Hasil analisis kimia dari air panas daerah Suwawa diperlihatkan dalam lampiran.

3.2 Karakteristik kimia dan tipe air panas

Komposisi kimia air panas yang diperoleh selanjutnya diplot ke dalam diagram segitiga Cl-SO4--HCO3,

Na/1000-K/100-√Mg dan B-Li-Cl untuk menentukan tipe air panas, sifat dan kondisi kesetimbangan air panas serta asosiasi air panas dengan lingkungan (batuan) sekitarnya.

Dalam diagram segitiga Cl-SO4--HCO3

(Giggenbach,1988), Na-K-Mg dan B-Li-Cl tampak bahwa mata air panas Libungo-1 , Libungo-2 dan Pangi mempunyai tipe air klorida-sulfat, sedangkan mata air panas Lombongo-1 dan Lombongo-2 mempunyai tipe air sulfat (Gambar.3.1) serta berada di daerah “ immature waters” (Gambar.3.2) yang mengindikasikan adanya pengaruh air meteorik atau air permukaan relatif kecil hal ini ditunjang oleh data isotop dan di tampilkan dalam bentuk diagram hubungan isotop Oksigen –18 dengan Deuterium (Gambar.3.4) yang menunjukkan mata air panas Libungo, Lombongo dan Pangi berada menjauhi garis meteoric (“meteoric line”) yang merupakan indikasi bahwa kondisi air meteorik yang muncul di daerah Suwawa relatif kurang berpengaruh terhadap kondisi pemunculan manifestasi mata air panas Libungo, Lombongo, dan Pangi .

Terdjadinya mata air panas berada di daerah “immature waters” disebabkan oleh adanya interaksi antara fluida hidrotermal dengan unsur-unsur seperti Silica, Na & K dari batuan reservoar pada kondisi temperatur dan tekanan yang tinggi dimana sebelum mencapai ke permukaan telah mengalami pengenceran oleh air meteorik terhadap fluida panas di kedalaman .

Tinggi rendahnya konsentrasi unsur-unsur Na & K dalam mata air panas Libungo, Lombongo dan Pangi kemungkinan terkontaminasi oleh air laut maupun air meteorik, dimana penggunaan diagram

segitiga B-Li-Cl (Gambar.3.3) dan diagram hubungan Isotop Oksigen-18 terhadap Deuterium (Gambar.3.4) mengindikasikan bahwa posisi mata air panas tersebut di atas kemungkinan dipengaruh air laut dan air meteorik atau air panas daerah Suwawa kemungkinan adanya kontaminasi dengan air laut dan sisanya merupakan campuran dari air meteorik dan “brine water”.

Berdasarkan data di lapangan dan hasil analisis di laboratorium, sistem panas bumi di daerah penyelidikan kemungkinan sebagai berikut :

Karakteristik mata air panas daerah Suwawa bersifat netral (pH = 7.40 – 7.90 ) yang sebagian besar bertipe air klorida-sulfat seperti mata air panas Libungo dan Pangi serta bertipe air sulfat seperti mata air panas Lombongo dengan temperatur relatif cukup tinggi di Libungo (81.0 – 82.6° C) dan debit antara 1.20 – 4.50 liter/ menit dan di Lombongo dan Pangi (41.4 – 52.6° C) dan debit antara 1.20 – 6.20 liter/ menit dengan pemunculan berupa bualan mata air panas serta dijumpai adanya endapan air panas / sinter, oksida besi maka dapat disimpulkan bahwa sistem air panas yang muncul di daerah panas bumi Suwawa seperti Libungo, Lombongo dan Pangi terletak pada zona “upflow” dan merupakan sistem reservoar dominasi air panas (“water heated

reservoir”). Lazimnya gejala kenampakan

panas bumi pada sistem reservoar dominasi air panas dicirikan oleh adanya sinter silika (SiO2), tetapi tampaknya kurang terdeteksi /

(5)

pendidihan (densiti fluida mengecil) sehingga menerobos kepermukaan (up flow) berupa semburan fluida panas. Berdasarkan diagram segitiga plot Cl-SO4--HCO3

(Giggenbach,1988) bahwa sistem reservoir panas bumi daerah Suwawa merupakan dominasi air (“water heated reservoir”). Pada mata air panas di daerah Suwawa mungkin untuk terbentuknya sinter karbonat di sekitar pemunculan mata air panas boleh jadi disebabkan pengaruh batu gamping yang larut dalam fluida hidrotermal saat menerobos ke permukaan.

Hasil Analisis Isotop 18O dan Deuterium Berdasarkan hasil Isotop 18O dan Deuterium yang diperoleh dari contoh mata air panas daerah Libungo, Lombongo dan Pangi cenderung menjauhi garis air meteorik (Gambar. 4) hal ini menunjukkan kemungkinan pengaruh air permukaan atau meteorik terhadap mata air panas yang muncul di daerah Huu dan sekitarnya relatif sedikit.

3.3 Pendugaan Temperatur Bawah Permukaan

Geothermometer kimia tergantung dari adanya kesetimbangan antara mineral dan cairan yang dipengaruhi oleh temperatur serta batuan yang dilewatinya sampai fluida tersebut muncul di permukaan. Hasil analisis air panas di daerah penyelidikan dominan bertipe air bikarbonat dan sebagian bertipe air sulfat-klorida dan bertipe air klorida maka untuk menentukan pendugaan temperatur bawah permukaan walaupun bukan berasal langsung dari kedalaman “deep waters”, tetapi untuk memperoleh gambaran maka dilakukan perhitungan/pendugaan temperatur bawah permukaan dengan meggunakan rumus SiO2, NaK, NaKCa (Giggenbach, Fournier). Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus-rumus geotermometer tersebut di atas maka diperoleh data pendugaan temperatur bawah permukaan di daerah Bone Bolango dan sekitarnya dengan memperhatikan faktor-faktor yang memungkinkan dalam pendugaan temperatur bawah permukaan di daerah Suwawa-Bone Bolango adalah temperatur minimum menunjukan kisaran temperatur minimum antara 97 –187 °C ( dipergunakan geotermometer “SiO2

conductive cooling dan adiabatic cooling”

dan kisaran temperatur antara 99 – 188 o C ( dipergunakan geothermometer Na/K Fournier dan Giggenbach ) dan termasuk ke dalam “Intermediate Entalphy”..

3.4 Hasil Analisis Tanah dan Udara Tanah

Pengambilan conto tanah dan CO2 dalam

udara tanah dilakukan pada 129 lokasi titik amat yaitu di daerah penyelidikan panasbumi Suwawa Kabupaten Bone Bolango yang tersebar di sekitar lokasi manifestasi panasbumi Libungo, Lombongo dan Pangi dimana hasil analisis pH, Hg dalam tanah, temperatur dan CO2 dalam

udara tanah yang ditampilkan dalam lampiran

Pengambilan conto tanah dan udara tanah di daerah penyelidikan dilakukan pada kedalaman ± 1,0 meter . Hasil yang diperoleh di daerah Suwawa menunjukkan pH tanah terukur antara 6.40-7.90 dengan kandungan CO2 dalam udara tanah antara

0.09-2.16 % dan kandungan unsur Hg dalam tanah antara 27 - 581 ppb.

Hasil analisis kandungan Hg dalam tanah dan CO2 udara tanah di daerah Suwawa

selanjutnya di plot dan dibuat pola kontur sebaran Hg serta sebaran CO2 dan kontur

sebaran pH-tanah dengan peta sebaran temperatur di kedalaman ± 1,0 meter untuk daerah Suwawa ditampilkan dalam gambar lampiran

Adanya konsentrasi cukup tinggi untuk kandungan Hg dalam tanah dan CO2 di

lokasi titik amat daerah Suwawa terutama di sekitar lokasi daerah manifestasi panasbumi Libungo, Lombongo dan Pangi yang berada di wilayah Desa Libungo, Lombongo, Duano dan Dumbayabulan , Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango .

Dari kontur sebaran Hg dan C02 diharapkan

memperoleh luas daerah prospek di daerah Suwawa dan sekitarnya .

Hasil analisis conto tanah menunjukkan pH tanah antara 6.30 – 7.90 dengan kandungan unsur Hg tanah antara 27- 681 ppb dan kandungan CO2 dalam udara tanah antara

0.09 – 1.39 %.

Dari kedua peta kontur sebaran Hg dan C02

(6)

C5500 di daerah Libungo anatara 304 – 399 ppb dan kandungan Hg cukup tinggi dijumpai pula di daerah Lombongo-Duano antara 425 -681 ppb (E5000, F6000) . Pola penyebarannya menunjukan arah hampir Utara-Selatan atau hampir tegak lurus arah aliran sungai Bone. Demikian pula dari peta kontur sebaran C02 terlihat adanya

kelompok lokasi yang menunjukkan adanya konsentrasi C02 cukup tinggi 0.79 – 1.39 %

yaitu sebelah barat-utara daerah manifestasi air panas Libungo pada lintasan B-2450, A-4550 dan A-5500. Pola penyebaran dari daerah anomali Hg dan C02 menunjukan

kesamaan arah yaitu hampir Utara-Selatan atau hampir tegak lurus arah aliran sungai Bone.

Daerah anomali kandungan Hg dan CO2 dan

berada di atas nilai background dijumpai pada lokasi sekitar manifestasi mata air panas Libungo yang merupakan zona-zona lemah yang berhubungan dengan pola struktur yang muncul di daerah Libungo. Sedangkan daerah anomali kandungan Hg yang lainnya berada pada lokasi sekitar manifestasi mata air panas Lombongo arah barat-utara yang berhubungan dengan zona-zona lemah akibat adanya pola struktur yang muncul di daerah Lombongo dan adanya mineralisasi yang muncul di daerah Lombongo, hal ini diperlihatkan dari adanya kegiatan penambangan emas oleh penduduk setempat di sekitar lokasi penyelidikan. Dari peta distribusi sebaran pH daerah Suwawa menunjukkan penyebaran yang merata dengan derajat keasaman yang relatif normal (6.30 –7.90) dijumpai hampir semua lokasi titik amat baik di didaerah Libungo maupun di daerah Lombongo dan Pangi. Sedangkan distribusi penyebaran temperatur udara tanah pada kedalaman 1 meter menunjukkan daerah anomali temperatur dijumpai di daerah Libungo tepatnya dekat manifestasi mata air panas Libungo di atas nilai background 32.8 oC sampai temperatur 48.5oC di tlokasi

3.5. Pembahasan

Gejala panas bumi yang terindikasi di permukaan di daerah penyelidikan Suwawa terdapat di Libungo-Desa Libungo, Lombongo-Desa Lombongo, Pangi-Desa Lumbaya bulan semuanya termasuk dalam Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone

Bolango. Kenampakannya di permukaan berupa pemunculan kelompok mata air panas melalui batuan dan terdapat endapan garam dan oksida besi serta batuan ubahan berintensitas lemah dengan penyebarannya berada di sekitar manifestasi mata air panas Libungo, Lombongo, dan Pangi,

Karakteristik manifestasi panas bumi yang terdapat di daerah Suwawa adalah sebagai berikut: Berupa mata air panas, berbau belerang lemah-sedang, berwarna bening dan jernih, sifat keasaman netral (pH = 7.40– 7.80), suhu permukaan antara 41.4-82.6 °C, terdapat bualan gas dan endapan air panas berupa garam di perkirakan garam NaCl dan endapan oksida besi serta terdapat batuan ubahan dengan tingkat ringan.

Hidrogeologi dan Sistim Panas Bumi. Daerah re-charge di daerah Suwawa berada pada daerah struktur horst yang terletak di sisi utara dan selatan lembah depresi dengan ketinggian mencapai hingga 1600 m dpl. Air hujan sebagian akan meresap pada daerah morfologi perbukitan bergelombang dan perbukitan tajam. Selanjutnya air tadi akan muncul di lembah depresi berupa mata air-mata air di dataran depresi, sedangkan sebagian lagi akan mengalir di permukaan menuju arah lembah depresi sebagai air aliran permukaan (run off water).

Di daerah penyelidikan daerah dis-charge ada di daerah depresi yang mencakup ± 45-50 % dari luas daerah penelitian. Air hujan/

meteoric water sebagian besar meresap

kebawah permukaan melalui struktur, rekahan (fractures) dan porositas batuan menjadi air tanah, Daerah ini menjadi daerah kantong air (catcment area), sedangkan di bawah permukaannya menjadi daerah akumulasi air tanah. Air permukaan di daerah penyelidikan, sebagian kecilnya teralirkan di permukaan sungai Bone, sebagiannya lagi mengalir menuju laut. Untuk mengetahui sistim panas bumi didaerah Suwawa, baik; Heat source (sumber panas), Zone reservoar, Batuan penudung dan Batuan konduktif perlu dilakukan survey/ penyelidikan terpadu panas bumi berupa; penyelidikan geologi, geokimia dan geofisika.

Potensi Panas Bumi.

(7)

patahan Limboto selatan. Di antara kedua patahan tersebut terdapat manifestasi panas bumi berupa: mata air panas yang diperkirakan merupakan sistim panas bumi up flow dengan Luas daerah prospek panas bumi Suwawa ± 3,5 Km2.

Berdasarkan Formula Penghitungan Estimasi Potensi Panas bumi, Direktorat Jenderal Geologi Dan Sumber Daya Mineral tahun 1999. Cadangan panas bumi “Hipotetis” daerah penyelidikan dapat dikertahui sehingga Potensi Cadangan Hipotesis daerah Suwawa adalah sebesar ± 17 Mwe/30 tahun.

4.KESIMPULAN DAN SARAN

Daerah penyelidikan panas bumi Suwawa secara administrative termasuk Wilayah Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas daerah penyelidikan mencapai ± 15,0 X 20,0 kilometer2 dan berada pada posisi geografis di antara 123o 57’ 16’’- 123o 05’24” BT dan 0o 30’21” – 0o 42’ 00” LU, atau koordinat X= 495.000 – 510.000 m BT dan Y= 56.000 – 77.000 m LS.

Struktur geologi daerah penyelidikan dicerminkan oleh bentuk depresi (horst dan

graben), kelurusan, paset segi tiga, dinding/

tebing patahan (gawir sesar), kekar, offset batuan dan topografi, kelurusan sungai, bukit dan tofografi, zona fraktur dan hancuran batuan (breksiasi), bidang gerus/ cermion sesar (slicken side), milonitisasi dan pemunculan manifestasi panas bumi berupa kelompok mata air panas.

Dari indikasi sesar seperti yang disebutkan tersebut, maka patahan geologi di daerah penyelidikan terdapat di 4 (empat) lokasi, yaitu: Sesar Limboto Utara: ada di bagian utara danau Limboto; SesaLimboto Selatan: ada di bagian selatan danau Limboto; Sesar orde kedua (second order, di utara paling sedikit terdapat empat (4) buah sesar generasi kedua dan di selatan setidaknya terdapat juga 4 sesar orde kedua; dan kelurusan-kelurusan yang berarah timur laut-barat daya dan di timur laut-tenggara, yang berada di daerah selatan danau Limboto.

Hasil diagram segitiga Cl-SO4--HCO3

(Giggenbach,1988), Na-K-Mg dan B-Li-Cl

menunjukkan bahwa mata air panas daerah Suwawa seperti Libungo mempunyai tipe air klorida sedangkan Lombongo mempunyai tipe air sulfat dan Pangi mempunyai tipe klorida - sulfat dan berada di daerah “

immature waters”. Dari data Isotop

Oksigen-18 dan Deuterium mengindikasikan bahwa mata air panas tersebut dipengaruh oleh air meteorik.

Berdasarkan data tersebut disimpulkan bahwa sistem air panas daerah Suwawa terletak pada zona “up flow”, dengan suhu bawah permukaan sebesar 150-188 º C. Peta kontur sebaran Hg tanah dan C02 udara

tanah menunjukkan adanya konsentrasi cukup tinggi di daerah Libungo, Lombongo, pada daerah penyelidikan panasbumi Suwawa. Dari kontur sebaran Hg dan C02

didapatkan luas daerah prospek di Suwawa ± 2,5 km2 .

Sistim panas bumi di daerah Suwawa merupakan sistim up flow, dengan luas daerah prospek ± 2,5 Km2. Penghitungan Potensi Cadangan Hipotesis daerah Suwawa adalah sebesar ± 18 Mwe/30 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Fournier, R.O., (1981) : Application of Water Geochemistry GeothermalExploration and Reservoir Engineering,“Geothermal System : Principles and CaseHistories”. John Willey & Sons, New York.

Giggenbach,W.F.,(1988): Geothermal Solute Equilibria Derivation of Na-K-Mg Ca Geoindicators,Geochemica et

Cosmochemica, Acta 52, 2749 – 2765.

Koga,A.,(1978):HydrothermalGeochemistry , A text for the 9thInternational Group Training Course on GeothermalEnergy heald at Kyushu University.

Lawless, J., (1995) : Guidebook An Introduction to Geothermal system, short course, Unocal Ltd., Jakarta.

(8)

% Cl

HCO3/Cl

% SO4 20

20

40 40

60 60

80 80

Cl

SO4 HCO3

Cl

SO4 HCO3

M a

tu re

w a

te rs

P he

riph e

ra l w

a te

rs

Vo lca

nic w

ate rs

Steam heated waters

Immature waters Partial equilibrium

Full equilibrium

K/100

ROCK

Na/1000

% Na K

% Mg

20 20

40 40

60 60

220°

wei r box

160° 100°

80 80

Mg

T Km T Kn

Gb 3.1 Pengelompokan Tipe Airpanas Daerah Suwawa , Bone Bolango, Gorontalo

(9)

Cl/100

B/4

Li 20

20

40 40

60 60

80 80

G a m b a r . D a t a D i s t r i b u s i I s m a t a a i r p a n a s d a - 8 0

- 7 0 - 6 0 - 5 0 - 4 0 - 3 0 - 2 0 - 1 0 0 1 0 2 0

- 1 2 - 1 0 - 8 - 6 - 4

δ

D ( H

2

O )

Ga mba r 3.3 Dia gra m Cl, Li a nd B

da era h Suwa wa -Bone Bola ngo, Goronta lo

Li le ss o

r Cl a bsor

ption

Rhy olite

Basa lt

δD = 8 δ1 8

O + 1 4

o t o p 1 8

O a n d D e u t e r i u m D i s t r i b u t i o n d a r i e r a h S u w a w a , B o n e B o l a n g - G o r o n t a l o

- 2 0 2 4 6 8 1 0

δ 1 8

O ( H2O )

M e t e o r ic W a t e r L in e

A p . L o m b o n g o

A p . P a n g i

A p . L ib u n g o

L

o

w B

/Cl

s

te

a

m

Low B/C

l steam

A

bs

or

p

tion

of

Absorp

tion of

(10)

512000 514000 516000 518000 520000 522000 524000 526000 Ilo lu neta Ratu wa ngi

O lu huta L uwohu Manawa

Pade ngo

Po tabohe ngo Mootind apo

Lumbaya Po tiwu nduwa

Bin ggele Be ndung Alala

Bali

Huidu MandulangiH uidu Pan gg utob ulon tala H uidu Po huloto

Hu id u T otuw oto DAERAH PANAS BUMI SUWAWA

KABUPATEN BONE BOLANGO PROVINSI GORONTALO

0 1000 2000 3000

A .25 00

Jalan Kontur interval 25 m

Sungai dan anak sungai Titik pengamatan Peta Indeks

Lo kasi Pe nyelid ikan

512000 514000 516000 518000 520000 522000 524000 526000 52000 Ilo lu neta Ra tu wan gi L uwohu Manawa

Pade ngo

Helumo Mou tong

Boidu

Kintali O liyed aata Pe ypata Hunto ngo Pan gimba

Bilududu Ben dung Alala

Bali Huidu Mandulangi H uidu Pan gg uto bulon tala

H uidu Po huloto

H uid u T otuw oto

PETA DISTRIBUSI pH DAERAH PANAS BUMI SUWAWA

KABUPATEN BONE BOLANGO PROVINSI GORONTALO

0 1000 2000 3000

A .2 500

Jalan Kontur interval 25 m

(11)

512000 514000 516000 518000 520000 522000 524000 526000

Kintali Oliyeda ata Peyp ata Bulobu la nto Ba tuwongg ubo

Pota bohe ngo Mootind apo

Lumbaya Pot iwu nduwa

Bing gele Bend ung Alala

Bali Pot ona

Tapa daa

Da uto

Bat unobu tao Kin tal Bo tudua nga Tot opo Bibito

Huidu Balangga Huidu Mandulangi Huidu Panggutobulontala

H uidu Poh uloto

PETA DISTRIBUSI Hg DAERAH PANAS BUMI SUWAWA

KABUPATEN BONE BOLANGO PROVINSI GORONTALO

0 10 00 20 00 3000 KETERANGAN ; Konsentrasi Hg ( ppb )

A.2 50 0

Jalan Kontur interval 25 m

Sungai dan anak sungai Titik pengamatan

PETA DISTRIBUSI TEMPERATUR UDARA TANAH DAERAH PANAS BUMI SUWAWA

KABUPATEN BONE BOLANGO PROVINSI GORONTALO

0 1000 2000 3000

KETERANGAN : TEMPERATUR ( ° C )

512000 514000 516000 518000 520000 522000 524000 526000

52000 Bendun g Alala

Bali Huidu Mandulangi Hu id u Pang gutob ulontala

Huidu Pohuloto

Huidu Tot uwoto

Huidu Mogi Kontur interval 25 m

Sungai dan anak sungai Titik pengamatan kilo me ters

200

Peta In deks

(12)

Ga

m

bar 1. Peta lokasi daerah penyelidikan

an Lapangan Su

bdit

Panas Bumi 2005

13

Gambar

Gambar 1. Peta lokasi daerah penyelidikan

Referensi

Dokumen terkait

Air panas Ieseum temperatur (67.4-71.0oC), berupa air panas tipe air bikarbonat dengan konsentrasi SO4 dan klorida cukup signifikan , namun klorida rendah, sedangkan air panas

terjadi pada mata air panas Lombok-4 dengan suhu permukaan relatif tinggi (63 o C) yang merupakan air panas bertipe bikarbonat-sulfat, walaupun keberadaannya di daerah immature

Kelompok resistiviti tinggi umumnya dijumpai pada bagian utara dan timur laut (seperti di sebelah timur laut mata air panas Lombongo) daerah penyelidikan.Resistiviti sedang

Pada mata air panas Akesahu,Tomadou, Tanjungputus di jumpai adanya endapan garam yang berwarna keputih-putihan yang diperkirakan sebagai endapan garam NaCl terutama pada

Manifestasi panas bumi permukaan berupa mata air panas Kura dengan temperatur 58-81°C dan batuan ubahan di Kawah Karitemang pada bagian tengah daerah penyelidikan diindikasikan

Pada daerah penelitian, air panas yang merupakan tipe campuran klorida dan sulfat keluar sebagai mata air panas Pulosari, sedangkan air yang telah mengalami pelarutan

Di dekat permukaan, fluida panas bumi akan mengalami kondensasi dan membentuk air klorida sulfat yang keluar sebagai manifestasi mata air hangat Rajabasa dan

Air panas di sekitar daerah Gunung Kapur pada umumnya termasuk ke dalam tipe air panas klorida dimana keberadaan mata air panas ini yang berada pada zona partial dan full