• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anak dalam Belenggu Hukum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Anak dalam Belenggu Hukum"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Anak dalam Belenggu Hukum

Oleh : Achmad Fauzi

Hakim Pengadilan Agama Kotabaru, Kalimantan Selatan

Artikel ini dimuat di Koran “Jurnal Nasional” tanggal 21 Februari 2012

Lazimnya kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) belakangan ini

menambah panjang deret cacat regulasi negara yang alpa memberikan perlindungan

secara adil terhadap anak. Kepolisian, penuntut umum, pengadilan dan lembaga

pemasyarakatan anak belum memiliki formula yang tepat untuk menyinergikan

prosedur penyelesaian ABH yang lebih berperspektif anak. Akibatnya hukum

cenderung bersemangat memenjarakan anak dan memperlakukan mereka layaknya

orang dewasa. Kepolisian mengabaikan upaya diversi karena tidak ada ruang diskresi

dalam materi hukum yang memberikan landasan kerja penyidikan. Jaksa berpedoman

kepada KUHP dan KUHAP dengan dalih mematuhi prosedur. Karena tidak mengenal

mediasi penal, hakim pun tidak memiliki pembenaran hukum untuk mengembalikan

perkara anak, sehingga harus mengadili dan mempertimbangkan kasus ABH

berdasarkan puncak kearifan. Begitupula balai pemasyarakatan, karena sistem hukum

kita tidak memberikan kewenangan yang besar, hakim tidak bisa mempertimbangkan

rekomendasi dari balai pemasyarakatan seperti halnya negara-negara lain, Australia

dan Jepang.

Sistem peradilan pidana anak saat ini diakui masih banyak mengandung

(2)

peradilan pidana anak di Indonesia keluar dari semangat perlindungan anak. UU No. 3

Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dan UU No. 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak yang diharapkan memberikan keadilan restoratif bagi anak justru

menjadi instrumen yang sangat kental dengan pendekatan hukum. Meskipun ketentuan

pidana penjara bagi anak menetapkan batas setengah dari ancaman pidana orang

dewasa (pasal 26 Ayat 1 UU No. 3/1997) namun hak mendapat bimbingan dan kasih

sayang orang tua, keberlangsungan hidup, perkembangan mental dan kemerdekaan

menentukan masa depan anak terampas. Anak berada di lembaga pemasyarakatan

menghadapi lingkungan yang eksklusif, bergaul dengan narapidana dengan berbagai

jenis kejahatan dan jika telah bebas akan mendapatkan stigma sebagai anak nakal

yang sulit direhabilitasi dalam sepanjang hidupnya.

Sejatinya banyak instrumen hukum dan dokumen internasional yang menjamin

hak-hak anak ketika berhadapan dengan hukum. Itu karena anak memiliki karakteristik

khusus di mana dari segi fisik dan mental masih dalam taraf perkembangan. Konvensi

Hak Anak Tahun 1989 yang diratifikasi dengan Keppres No. 36 Tahun 1990

menegaskan jaminan kemerdekaan anak dari unsur perampasan hak, perlakuan tidak

manusiawi dan tindak sewenang-wenang. UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan

Anak juga mengakomodir hak anak atas kesejahteraan, pemeliharaan, pengasuhan

dan bimbingan. Namun tafsir hukum yang kaku dan latar belakang sosial-ekonomi anak

yang menjadi korban belenggu ketidakadilan banyak yang luput dari sorotan.

Sebagai korban

Anak identik dengan sosok lemah, labil dan perlu pendampingan. Latar belakang

itulah maka seorang anak wajib mendapat perlindungan oleh orang dewasa yang

notabene memiliki kecakapan berfikir dan kematangan mental. Pasal 20 UU

Perlindungan Anak menyebutkan bahwa negara, pemerintah, masyarakat, keluarga,

dan orang tua berkewajiban dan bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan

perlindungan anak. Namun realitanya anak berhadapan dengan hukum selalu menjadi

korban (victim) karena tindakannya di bawah kemampuan dan tanggungjawab orang

(3)

Anak yang kelaparan misalnya, meski dinyatakan secara sah dan meyakinkan

melakukan perbuatan mencuri, sama sekali tidak memberikan efek jera dan nilai

edukasi jika tidak diperbaiki hulu persoalannya, yakni kemiskinan. Anak menjadi

pengedar dan pemakai narkoba karena menjadi korban ketidakberdayaan pendidikan

keluarga dan masyarakat. Anak terseret kasus asusila karena aparat tidak mampu

memberantas peredaran kaset porno. Wajar jika angka ABH yang kini medekam di

hotel prodeo terus meningkat mengingat perlakuan hukum terhadap anak bersifat

reaktif, tuna-keadilan dan tidak menyentuh akar masalahnya. Semestinya anak

pengguna narkoba direhabilitasi, anak korban kemiskinan dibina di lembaga sosial

untuk dibekali keterampilan bekerja, anak asusila dimasukkan pesantren yang

terakreditasi pemerintah, bukan ramai-ramai dijebloskan ke lembaga pemasyarakatan

(Kompas, 20/1).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat setiap tahun sekitar

7.000 anak terlibat kasus pidana dan diadili di pengadilan. Pada bulan Juli 2010

terdapat 6.273 anak dalam tahanan dan lapas seluruh Indonesia. Jenis tindak pidana

yang dominan adalah pencurian, narkotika, asusila dan perampokan. Di penghujung

2011 terdapat 7.000 lebih anak didakwa melakukan tindak pidana dan disidang di

pengadilan. 90% di antaranya telah menghuni lembaga pemasyarakatan anak.

Perspektif anak

Mengatasi jamaknya kasus ABH, kini DPR tengah merumuskan RUU Sistem

Peradilan Pidana Anak sebagai revisi UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

Ruh perumusannya berakar dari karut marut kondisi sosial anak-anak Indonesia yang

terjerat hukum di satu sisi, sementara peraturan yang ada tidak memberikan jaminan

keadilan melalui pemulihan dan diversi. RUU tersebut mendapat sambutan positif di

kalangan masyarakat karena berupaya menegakkan keadilan restoratif dengan metode

penyelesaian kasus yang melibatkan pelaku, keluarga, korban dan pihak terkait yang

orientasinya untuk pemulihan keadaan sebagaimana tujuan tertinggi hukum. Ke depan

jika RUU tersebut disahkan, karena penegakan hukum pada kasus anak merupakan

suatu rangkaian proses, maka harus ada upaya memperkuat hubungan administrasi

(4)

Namun memperbaiki aspek substansi hukum saja tidak cukup. Sebaik apapun

peraturan perundangan jika dipegang oleh aparat hukum yang bermental menindas,

tujuan hukum sebagaimana dicita-citakan tidak akan tercapai. Karena itu dibutuhkan

reformasi paradigma, peningkatan sumber daya dan moral aparatur hukum sehingga

melihat kasus ABH tidak dengan kacamata kuda belaka. Di samping itu, budaya hukum

yang berpihak pada kehidupan anak harus dirintis karena di situlah muara kasus-kasus

anak bersinggungan dengan hukum berkembang biak. Negara, kultur masyarakat dan

pendidikan keluarga menjadi garda depan dalam membentuk dan mengembangkan

karakter ideal anak. Hanya dengan demikian angka ABH di Indonesia bisa bergeser

dari bandulnya.

PENGALAMAN KEPENULISAN

• Aktif menulis di berbagai media nasional maupun lokal, seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Koran Jakarta, Jurnal Nasional, Koran Kontan, Republika,

Pikiran Rakyat, Suara Karya, Lampung Post, Radar Surabaya, Sriwijaya Post,

Banjarmasin Post, Pontianak Post, Bangka Post, Tribun Kaltim, Kaltim Post,

Referensi

Dokumen terkait

MPEG-4 Visual provides a highly flexible toolkit of coding techniques and resources, making it possible to deal with a wide range of types of visual data including rectangular

Bagi pembangunan pertanian, sistem-sistem agroforestri menyediakan model pertanian komersil, menguntungkan dan berkesinambungan dan sesuai dengan keadaan petani,

Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister. Program

Bakt i sosial yang dilakukan oleh OSIS SM P Kreat if Harapan Bangsa unt uk korban banjir di Tasik dan Padang.. Bakt i sosial OSIS SM P Kreat if Harapan Bangsa unt uk korban longsor

5 nomor 1 Juni 2012 ini antara lain membicarakan tentang pembelajaran geometri dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kecerdasan emosional, pembelajaran yang

9. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat. Kedua

1) Pemberian pretes untuk mengetahui pemahaman konsep IPS dan prestasi belajar siswa ranah kognitif. 2) Impelementasi metode pembelajaran kooperatif tipe TBI sesuai

Hasil penelitian adalah (1) eksistensi dari tanah-tanah milik pura pada saat ini sudah memiliki dasar hukum yang jelas yaitu dengan adanya Surat Keputusan Menteri Dalam