TINJAUAN PUSTAKA
Karakteristik Tanaman Duku
Duku merupakan tanaman tropika yang termasuk famili Meliaceae. Tanaman ini berasal dari semenanjung Malaya dan India. Sumber lain menyatakan duku berasal dari Asia Tenggara bagian barat, dari semenanjung Thailand di sebelah barat sampai Kalimantan di sebelah timur, bahkan ada yang menyatakan duku merupakan tanaman asli Indonesia (Winarno et al. 1990; Verheij dan Coronel 1997)
Duku termasuk tanaman tahunan (parennial crop) yang masa hidupnya dapat mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Tanamannya berbentuk pohon, rindang, berukuran sedang. Pohon duku berbatang kuat dan besar, dengan penampang 30-40 cm, dapat mencapai tinggi 15-20 meter .
Batang bercabang, kulit batang tipis berwarna coklat kehijauan atau keabuan dan agak sukar dilepas dari kayunya. Batang menghasilkan cairan seperti susu, sepanjang kulit batang terdapat celah-celah dangkal yang memanjang. Mahkota tanaman terbuka, teratur dan atau tidak teratur, berbentuk bulat (Deptan, 2000).
Daun tanaman duku berselang-seling bersirip ganjil dengan 5-7 anak daun. Panjang rakhis 30-50 cm, dengan pangkal yang membesar. Helaian daun bertangkai berbentuk elips, bulat panjang atau lonjong. Pangkal daun sempit, agak meruncing dan agak miring (tidak simetris). Warna helaian daun sisi atas hijau tua dan mengkilat sedangkan sisi bawah daun tidak mengkilat berwarna hijau muda. Kedua permukaan daun licin. Panjang helaian daun 12-15 cm dan lebar daun 7-12,5 cm. Panjang tangkai daun 0,8-1,2 cm dan membesar pada pangkalnya (Verheij dan Coronel, 1997).
Tandan bunga terletak pada cabang atau batang yang besar, menggantung, berdiri sendiri atau dalam berkas 2-5, pada pangkal kerap bercabang dengan panjang 10-30 cm dan berambut. Bunga tanaman duku biseksual, ukurannya kecil, daun mahkota 4-5 helai tidak pernah membuka lebar, dan berwarna putih atau kuning pucat. Benangsari tersusun dalam satu berkas, kepala sari merupakan lingkaran. Tangkai putik pendek dan tebal.
Duku memiliki bentuk buah bulat sampai lonjong berbulu pendek. Panjang buah antara 2-4 cm dengan bekas style yang jelas. Kulit buah berwarna kuning muda keabu-abuan, tipis dan mengandung cairan seperti susu. Buah beruang lima, mempunyai dua biji yang rasanya pahit, masing-masing biji mempunyai dua embrio, terbungkus transparan, berdaging dan melekat erat pada biji.
Tanaman duku dapat tumbuh pada daerah dengan kisaran ketinggian 0-650 meter di atas permukaan laut, di daerah beriklim lembab dengan curah hujan 1500-2500 mm pertahun dan merata sepanjang tahun dengan suhu optimum 24-27oC. Tanaman duku ini tidak tahan terhadap sinar matahari yang terik, karena dalam keadaan terbuka dan terik daunnya mudah terbakar dan tumbuhnya lambat. Tanah yang kaya humus dan drainasenya baik (tanah lempung berpasir) dengan pH 6-7 sesuai untuk pertumbuhan tanaman duku (Deptan, 2000).
Pertumbuhan Tanaman Duku
Pohon duku tumbuh lambat, lebih menyukai berada di bawah naungan, yang dapat dikurangi setelah 2-3 tahun. Pohonnya memiliki perakaran yang dangkal, dan bergantung kepada adanya lapisan serasah yang dapat melindungi berbagai akar yang mengambil hara dari permukaan tanah. Pohon duku mulai berproduksi lambat, umumnya 10-15 tahun, bahkan ada yang baru berbuah pada umur 25 tahun, dari mulai benih disemaikan, tetapi dengan pemeliharaan yang memadai tanaman ini dapat mulai berbuah pada umur 7-8 tahun, sedangkan tanaman yang berasal dari sambungan hanya memerlukan 5-6 tahun (Verheij dan Coronel, 1997). Menurut Soeseno (2000), dengan perawatan yang baik (disiram dan dipupuk secara teratur) dan senantiasa dibersihkan gulma pengganggunya, duku sambungan dapat berbuah 4 tahun kemudian. Perbungaan muncul sebagai suatu kuncup kecil, biasanya pada awal musim kemarau. Perkembangan selanjutnya dapat terhambat beberapa bulan, tetapi jika pertumbuhannya aktif kembali, pembungaan maksimal dicapai dalam jangka waktu 7 minggu. Buahnya matang 14-17 minggu kemudian. Sebagian besar bunga akan menjadi buah, tetapi hasil buahnya
seringkali sangat sedikit, karena banyak buah kecil yang rontok, seperti diperlihatkan oleh penelitian-penelitian di Filipina dan Malaysia. Pengamatan fenologi di beberapa daerah sentra duku seperti Jambi, Palembang dan Jawa Barat menunjukkan bahwa pembungaan jelek sekali pada pohon yang tumbuhnya cukup subur, dan pada cabang-cabang yang terkena sinar matahari. Pohon-pohon yang subur itu menghasilkan daun tiga kali lipat daripada pohon-pohon pada kelompok lain, yang kehilangan kesempatan berbunga karena jeleknya retensi buah.
Pohon duku tumbuh baik terutama pada tanah yang drainasenya baik, juga retensi airnya, misalnya di pinggir sungai. Duku tidak menyenangi tanah pantai berpasir dan tanah alkalis. Tanah yang bertekstur sedang yang kaya akan bahan organik dan sedikit asam itulah yang disenangi (Verheij dan Coronel, 1997).
Pohan duku umumnya ditanam di pekarangan pada daerah-daerah tertentu, atau sebagai tanaman tumpang sari dengan durian, manggis, atau pohon lain (di Thailand dan Indonesia). Jarak tanam yang dianjurkan sangat bervariasi, jarak tanam ini ditentukan dengan memperhatikan adanya pohon-pohon pendampingnya, dianjurkan 7x8m, 8x8m, 8x9m, 9x9m, 9x10m atau 10x10m dalam lubang berukukuran 60x60x50 atau 80x80x70 cm (Deptan, 2000 ; Sunarjono, 2005 ; Widyastuti dan Paimin, 1993 ; Verheij dan Coronel, 1997 ).
Pohon duku muda hendaknya dinaungi dengan baik dan disirami selama beberapa tahun pertama. Pucuk utama duku yang bertipe tegak harus dipenggal, dan cabang-cabang lateral yang tumbuh diikat supaya tumbuh mendatar, agar perawakannya lebih memencar. Pada pohon yang lebih tua, hanya pucuk-pucuk air dan cabang-cabang yang kena penyakit yang perlu dipangkas. Pengairan dapat digunakan untuk mempercepat pembungaan satu atau dua bulan, asalkan calon bunga telah muncul selama periode kering sebelumnya. Perbungaan mulai tumbuh 7-10 hari setelah penyiraman. Suatu masa kering yang pendek, yang terjadi ketika buah masih menempel di pohonnya akan menimbulkan bahaya turunnya panen secara serius. Hal ini disebabkan oleh pecahnya buah jika kekurangan air itu tiba-tiba dipulihkan (Widyastuti dan Kristiawati, 2000).
Evaluasi Lahan
Kebutuhan lahan yang semakin meningkat, langkanya lahan pertanian yang subur dan potensial, serta adanya persaingan penggunaan lahan antara sektor pertanian dan non-pertanian memerlukan teknologi tepat guna dalam upaya mengoptimalkan penggunaan lahan secara berkelanjutan. Untuk dapat memanfaatkan sumberdaya lahan secara terarah dan efisien diperlukan tersedianya data dan informasi yang lengkap mengenai keadaan iklim, tanah dan sifat lingkungan fisik lainnya, serta persyaratan tumbuh tanaman yang diusahakan, terutama tanaman-tanaman yang mempunyai arti ekonomi dan peluang pasar yang baik (Djaenudin et al. 2003)
Data iklim, tanah, dan sifat fisik lingkungan lainnya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman perlu diidentifikasi melalui kegiatan evaluasi lahan. Evaluasi lahan sangat diperlukan untuk perencanaan penggunaan lahan yang produktif dan lestari. Potensi dan kendala penggunaan lahan dapat diidentifikasi sejak awal sehingga pengelolaan lahan dapat dilakukan lebih baik dan terarah sesuai dengan komoditas yang akan dikembangkan (FAO, 1976).
Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi atau kelas kesesuaian suatu lahan untuk tujuan penggunaan lahan tertentu. Penilaian kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara membandingkan persyaratan yang diminta oleh tipe penggunaan lahan yang diterapkan dengan karakteristik atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan yang akan digunakan (FAO, 1976). Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya selain dapat menimbulkan terjadinya kerusakan lahan dan lingkungannya, juga dapat menimbulkan masalah kemiskinan dan masalah-masalah sosial dan ekonomi lainnya. Di dalam kegiatan Evaluasi Lahan, sering dijumpai perbedaan dalam hasil penilaian kesesuaian lahan tersebut. Hal ini antara lain disebabkan oleh: (1) perbedaan terhadap faktor-faktor yang dinilai yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, (2) perbedaan pengharkatan dalam penilaian karakteristik lahan, (3) perbedaan dalam sistem yang digunakan dan (4) perbedaan dalam metode pengambilan keputusan, antara lain dengan metode penghambat maksimum atau parametrik (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007).
Kualitas dan Karakteristik Lahan
Kualitas lahan adalah sifat-sifat atau atribut yang kompleks dari suatu lahan. Masing-masing kualitas lahan mempunyai keragaan (performance) tertentu yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan dari pengertian karakteristik lahan/kualitas lahan yang dapat berperan positif (sifatnya menguntungkan bagi suatu penggunaan) atau negatif (keberadaannya akan merugikan terhadap penggunaan tertentu), sehingga bisa merupakan faktor penghambat/pembatas (Sitorus, 2004).
Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007), kualitas lahan adalah sifat lahan yang berpengaruh langsung terhadap penggunaan lahan di suatu wilayah. Kualitas lahan ini dapat dipengaruhi oleh satu atau beberapa karakteristik lahan misalnya ketersediaan hara dapat ditentukan berdasar ketersediaan P dan K-dapat ditukar, dan sebagainya.
Karakteristik lahan adalah atribut atau keadaan unsur -unsur lahan yang dapat diukur/diperkirakan, seperti tekstur tanah, struktur tanah, kedalaman tanah, jumah curah hujan, distribusi hujan, temperatur, drainase tanah, jenis vegetasi dan sebagainya (Arsyad, 2007).
Karakteristik lahan (land characteristics) mencakup faktor-faktor lahan yang dapat diukur atau ditaksir besarnya, seperti lereng, curah hujan, tekstur tanah, air tersedia, dan sebagainya. Satu jenis karakteristik lahan dapat berpengaruh terhadap lebih dari satu jenis kualitas lahan, misalnya tekstur tanah dapat berpengaruh terhadap ketersediaan air, mudah tidaknya tanah diolah, kepekaan erosi, dan lain-lain. Bila karakteristik lahan digunakan secara langsung dalam evaluasi lahan, maka kesulitan dapat timbul karena kecuali dapat berpengaruh terhadap lebih dari satu jenis kualitas lahan, juga karena adanya interaksi dari beberapa karakteristik lahan (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007).
Persyaratan penggunaan lahan dalam pengertian kualitas lahan meliputi persyaratan tumbuh tanaman, persyaratan pengelolaan dan konservasi lahan. Setiap tipe penggunaan lahan memerlukan persyaratan penggunaan lahan yang berbeda untuk dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal.
Pemilihan kualitas dan karakteristik lahan yang dibutuhkan untuk evaluasi kesesuaian lahan sangat ditentukan oleh tujuan evaluasi, relevansi, ketersediaan data dan kualitas data yang dihasilkan dari penelitian. FAO (1983) secara umum telah menginventarisasi sejumlah 25 kualitas lahan beserta karakteristik lahannya. Sedangkan dalam referensi kriteria kesesuaian lahan yang lain seperti pada Djaenudin et al. (2003), baru sebagian kualitas lahan saja dari yang dikemukakan pada FAO (1983). Namun demikian untuk keperluan evaluasi lahan yang lebih spesifik lokasinya perlu dipilih kualitas/karakteristik lahan yang relevan dengan tujuan evaluasi dan ketersediaan data di suatu wilayah. Dalam Djaenudin et al. (2003) telah disusun kriteria kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas pertanian berdasarkan kualitas/karakteristik lahan yang relevan dengan kondisi lahan di Indonesia.
Karakteristik Lahan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Duku
Ada tiga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman duku yaitu: iklim, tanah dan topografi. Ketiganya merupakan faktor penting , masing-masing saling berkaitan dalam mempengaruhi fungsi fisiologis dan morfologi tanaman duku (Widyastuti dan Kristiawati, 2000).
Menurut Widyastuti dan Paimin (1993), tanaman duku yang ditanam pada lokasi yang tidak cocok dengan lingkungan hidupnya akan mengalami perubahan morfologi dan fisiologis. Hal ini akan berpengaruh pada mutu buah yang dihasilkannya. Dapat dipastikan, orang yang menanam tanaman duku pada tanah yang kondisinya tidak cocok akan mengalami kerugian, berupa biaya, waktu maupun tenaga yang dikeluarkan. Pada dasarnya tanaman duku tumbuh baik di daerah-daerah yang bercurah hujan sebagai berikut:
- Daerah yang memiliki 12 bulan basah dengan permukaan air tanah antara 50 – 200 cm.
- Daerah yang memiliki 9 bulan basah dan 2 bulan kering atau 7 – 8 bulan basah dan 4 bulan kering dengan permukaan air tanah antara 50 – 150 cm.
- Daerah yang memiliki 7 bulan basah dan 4 bulan kering atau 5- 6 bulan basah dan 6 bulan kering dengan permukaan air tanah antara 50 – 100 cm.
Tanaman duku menghendaki tanah yang gembur dan berdrainase baik, namun mampu menahan air, tanaman duku tidak suka dengan tanah yang becek dan tergenang air. Duku dapat tumbuh dan berbuah baik pada berbagai jenis tanah, antara lain Aluvial, Latosol dan Podsolik. Pada tanah Latosol, produksi duku lebih tinggi bila dibandingkan dengan produksi duku pada tanah Podsolik, namun lebih rendah bila dibandingkan dengan pada jenis tanah Aluvial (BPPT, 2009).
Faktor bahan induk merupakan faktor pembentuk tanah yang paling dominan pengaruhnya terhadap sifat dan ciri tanah yang terbentuk serta potensinya untuk pertanian (Buol et al. 1980). Keanekaragaman bahan induk tanah memberikan keanekaragaman sifat dan jenis tanah yang terbentuk. Sifat induk dari bahan volkanik dan batuan sedimen dapat dibedakan berdasarkan komposisi dan cadangan mineralnya. Secara umum, batuan volkanik mengandung banyak feldspar dan sedikit kuarsa, sedangkan batuan sedimen tersusun dari banyak mineral kuarsa keruh dan sangat sedikit feldspar. Pengaruh bahan induk tanah terhadap sifat-sifat tanah lebih terlihat jelas pada tanah-tanah di daerah kering atau tanah-tanah muda, sedangkan pada tanah lebih basah atau tanah-tanah tua, hubungan bahan induk dengan sifat-sifat tanahnya menjadi kurang jelas (Hardjowigeno, 1993).
Tingkat perkembangan tanah digambarkan oleh diferensiasi horison, tingkat pelapukan batuan induk dan muatan koloid tanah serta umur pembentukan tanah. Pada tingkat perkembangan tanah lanjut, pelapukan bahan induk mencapai tingkat akhir, dicirikan oleh differensiasi horison yang jelas, solum yang dalam, kandungan liat tinggi, cadangan mineral sangat rendah dan hanya mineral resisten yang tertinggal, KTK liat sangat rendah, kandungan besi dan aluminium bebas meningkat tinggi, susunan mineral liat didominasi oleh kaolinit, goethit, disertai dengan meningkatnya muatan tergantung pH.
Semakin lanjut tingkat perkembangan tanah cenderung menurunkan kualitas lahan dan tingkat kesesuaiannya untuk pertanian. Tanah yang terlapuk
lanjut memiliki daya dukung yang lebih rendah bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Sys (1978) melaporkan pengaruh tingkat pelapukan bahan induk tanah terhadap penurunan kualitas lahan yang mengakibatkan terjadinya penurunan produksi pada beberapa tanaman di daerah tropika.
Menurut Ritung et al. (2007) topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. Dalam kaitannya dengan tanaman, secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700 m dpl.) dan dataran tinggi (> 700 m dpl.). Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut, maka temperatur semakin menurun. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. Tanaman duku dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 0-650 meter di atas permukaan laut (Deptan 2000).
Metode Peneraan Umur Tanaman
Pertumbuhan dan produktivitas tanaman dipengaruhi umur tanaman dan kegiatan budidaya. Setiap tanaman secara genetik mempunyai usia optimum untuk berproduksi secara maksimal. Produktivitas akan meningkat dengan semakin bertambahnya umur tanaman sampai usia optimum tertentu, selanjutnya produksi menurun dengan semakin bertambahnya umur tanaman. Untuk melakukan peneraan, maka terlebih dahulu dicari persamaan korelasi antara umur tanaman dan faktor jarak tanam dengan berbagai parameter pertumbuhan dan produktifitas tanaman yang telah diukur (parameter aktual). Persamaan korelasi yang diperoleh kemudian menjadi dasar di dalam melakukan peneraan (Hikmat, 2010)
Menurut Sutandi dan Baba Barus (2007), peneraan terhadap umur tanaman perlu dilakukan karena sampel tanaman di lapang tidak sama umurnya maka
setiap komponen produksi apakah itu biomasa atau kandungan bahan aktif, maka terlebih dahulu ditera dengan umur agar produksi sampel yang satu dengan lainnya dapat diperbandingkan. Dengan demikian pengaruh umur harus dihilangkan yaitu dengan menera produksi terhadap umur dengan persamaan sebagai berikut :
Yt = Yi + (Y – Y^) Dimana Yt = produksi teraan
Yi = produksi aktual dari pengamatan Y = rataan umum dan
Y^= produksi dugaan tergantung umur; yaitu produksi sebagai fungsi dari umur, Y^= f(u)
Metode Garis Batas (Boundary line Method)
Metode Boundary Line merupakan salah satu metode untuk menentukan produktivitas suatu komoditas. Boundary line methods adalah metode garis batas, dimana garis membungkus diagram sebar hubungan antara produksi dan kadar hara. Garis tersebut membatasi data aktual, sehingga sangat kecil peluangnya akan ditemukannya data yang terletak di luar garis pembungkus tersebut. Garis batas ini terdapat di bagian atas sebelah kiri dan kanan sebaran data serta mengerucut keatas, artinya semakin tinggi pertumbuhan atau produksi semakin kecil selang kadar hara atau ekspresi hara (sumbu x). Dengan kata lain semakin tinggi kadar hara, produksi semakin tinggi sampai tingkat tertentu, kemudian produksi turun kembali dengan semakin tingginya kadar hara. Penggambaran seperti ini sangat bermanfaat dalam mendiagnosis kemungkinan perolehan produksi maksimum yang konsisten dengan nilai apapun dari faktor pertumbuhan yang dapat ditentukan (Walworth, et al. 1986)
Metode garis batas (boundary line) ini mengadopsi system DRIS (Diagnostic Recommended Integrated System) dimana yang pertama dilakukan adalah penetapan nilai standar (norm). Satu set data yang menggambarkan hubungan antara produksi dengan kadar hara yang dikumpulkan dari lingkungan geografis yang luas diplot ke dalam diagram sebaran seperti pada Gambar 1 dibawah ini.
Gambar 1. Ilustrasi data dengan menggunakan boundary line (dikutip dari Walworth et al. 1986)
Kelompok produksi tinggi merupakan cerminan dari kondisi yang optimal yang faktor pembatasnya sudah banyak berkurang dibanding pada kelompok produksi rendah. Keadaan ini diilustrasikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram Skematik Respon Tanaman terhadap Sejumlah Faktor Pembatas (Dikutip dari Sumner dan Farina, 1986).
Dari gambar tersebut terlihat sejumlah n faktor pembatas yang membatasi produksi pada tingkat rendah, kemudian semakin dikurangi faktor pembatas tersebut
maka produksi bertambah tinggi.
Metode ini menggunakan pendekatan survey untuk penetapan norm yang didasarkan pada respons tanaman terhadap faktor-faktor lingkungannya. Jika suatu set data telah dikumpulkan, data-data produksi dapat diplot terhadap status hara atau faktor-faktor lingkungan dalam sebuah atau beberapa grafik. Sebaran atau distribusi titik-titik observasi tersebut akan patuh terhadap suatu model. Dalam model ini, ketika sebuah faktor pembatas dikurangi (misalnya dengan pemupukan, pengapuran, dan lain-lain), produksi akan meningkat. Hal ini mirip dengan berlakunya hukum minimum J.V. Liebig. Dengan demikian garis paling atas akan merepresentasikan batas, pada kondisi mana produksi aktual dibatasi oleh variable yang di plot pada absis. Puncak (peak) observasi menunjukkan nilai optimal bagi kombinasi produksi - faktor yang di plot pada absis. Sebaliknya, garis paling bawah merepresentasikan respons produksi pada kondisi yang paling tidak optimal. Data di atas kurva paling atas dalam model ini tidak dapat diperoleh hanya dengan menggunakan faktor tunggal eksperimen karena tingkat optimal dari variabel lain akan senantiasa berubah melalui interaksi secara dinamis. Dengan demikian pendekatan survey merupakan pendekatan yang paling memungkinkan untuk menetapkan norm pada metode ini (Sutandi, 1996).
Menurut Walworth et al. (1987); Jones et al. (1991); Rathfon dan Burger (1991) dan Sutandi (1996), sekat produksi digunakan untuk membagi sub populasi produksi tinggi dan rendah, ditetapkan dengan:
(1) Produksi yang lebih baik yang biasa dicapai petani atau
(2) Kelompok produksi tinggi adalah 10 % dari populasi pengamatan yang mempunyai produksi tertinggi atau
(3) Tingkat produksi yang diharapkan dengan pertimbangan ekonomi atau (4) Tingkat produksi yang dikombinasikan dengan tingkat kualitas
yang diinginkan.
Hasil penelitian Poovarodom dan Chatupote (2002), Pendekatan garis batas (boundary line) digunakan untuk memperbaiki kriteria diagnostik untuk standar nutrisi daun durian, Pada setiap lokasi, dipilih 3 - 5 kebun dari setiap kategori rendah, menengah dan tinggi. Di setiap kebun, dipilih 8 -10 pohon yang dianggap seragam dan mewakili untuk pengambilan sampel, dimana diperoleh bahwa
pendekatan garis batas dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi pengujian tanaman, karena penafsirannya yang lebih tepat dan nilai kritis yang lebih sempit. Keuntungan lain dari kecukupan rentang atas konsentrasi kritis adalah bahwa hal itu bisa mengidentifikasi gejala kehilangan atau kekurangan konsentrasi hara yang mungkin tidak menunjukkan gejala-gejala kekurangan dan mungkin menyebabkan penurunan hasil di masa depan.