Ringkasan Materi Kuliah Ringkasan Materi Kuliah
SAP 7 SAP 7
Pengertian Investasi, Jenis Investasi, Menaksir Aliran Kas, dan Metode Penilaian Investasi Pengertian Investasi, Jenis Investasi, Menaksir Aliran Kas, dan Metode Penilaian Investasi
1.
1. Pengertian InvestasiPengertian Investasi
Investasi berarti pengeluaran dana saat ini dengan harapan memperoleh hasil atau Investasi berarti pengeluaran dana saat ini dengan harapan memperoleh hasil atau keuntungan di masa datang. Dilihat dari dimensi waktu, investasi dapat dikelompokkan keuntungan di masa datang. Dilihat dari dimensi waktu, investasi dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu :
menjadi 2, yaitu : 1.
1. Investasi jangka pendek (satu tahun atau kurang), yaitu investasi pada aktiva lancarInvestasi jangka pendek (satu tahun atau kurang), yaitu investasi pada aktiva lancar (modal kerja), seperti : kas, piutang, inventori, surat-surat berharga.
(modal kerja), seperti : kas, piutang, inventori, surat-surat berharga. 2.
2. Investasi jangka panjang (lebih dari satu tahun), yaitu investasi pada assetInvestasi jangka panjang (lebih dari satu tahun), yaitu investasi pada asset riilriil , seperti, seperti : tanah, bangunan, peralatan kantor, kendaraan, aset riil lainnya, dan investasi pada : tanah, bangunan, peralatan kantor, kendaraan, aset riil lainnya, dan investasi pada aset financial seperti : investasi pada saham dan obligasi.
aset financial seperti : investasi pada saham dan obligasi.
Materi ini difokuskan pada investasi jangka panjang, kususnya aset riil, sehingga dalam Materi ini difokuskan pada investasi jangka panjang, kususnya aset riil, sehingga dalam penilaian
penilaian investasi investasi ini ini konsep konsep nilai nilai waktu waktu uang uang menjadi menjadi penting penting untuk untuk diperhatikan.diperhatikan. Perusahaan memutuskan untuk melakukan investasi saat ini dengan harapan mendapat Perusahaan memutuskan untuk melakukan investasi saat ini dengan harapan mendapat keuntungan dimasa di masa yang akan datang. Seperti misalnya investasi pada perlengkapan keuntungan dimasa di masa yang akan datang. Seperti misalnya investasi pada perlengkapan sistem distribusi, bangunan, sarana produksi yang lebih baik, penelitian dan pengembangan sistem distribusi, bangunan, sarana produksi yang lebih baik, penelitian dan pengembangan produk
produk baru baru dan dan aktiva aktiva tetap tetap lainnya. lainnya. Berdasarkan Berdasarkan tujuan tujuan utama utama perusahaan, perusahaan, yaituyaitu memaksimumkan kemakmuran pemilik (pemegang saham), maka dalam menilai keputusan memaksimumkan kemakmuran pemilik (pemegang saham), maka dalam menilai keputusan investasi jangka panjang juga harus mengacu pada tujuan tersebut.
investasi jangka panjang juga harus mengacu pada tujuan tersebut. Beberapa informasi yang diperlukan dalam
Beberapa informasi yang diperlukan dalam
ana
analilisi
sis ca
s capital b
pital budget
udgetiing
ng
, yakni :, yakni : 1.1. Alternatif kesempatan investasiAlternatif kesempatan investasi 2.
2. Estimasi aliran kasEstimasi aliran kas 3.
3. Metode Penilaian Profitabilitas InvestasiMetode Penilaian Profitabilitas Investasi 4.
4. Perbandingan Metode-metode Penilaian Profitabilitas InvestasiPerbandingan Metode-metode Penilaian Profitabilitas Investasi
1.2 Alternatif Investasi 1.2 Alternatif Investasi
Secara umum investasi jangka panjang menyangkut salah satu dari klasifikasi berikut : Secara umum investasi jangka panjang menyangkut salah satu dari klasifikasi berikut : 1.
1. Investasi penggantian aktiva tetap, seperti : gedung, mesin-mesin, kendaraan danInvestasi penggantian aktiva tetap, seperti : gedung, mesin-mesin, kendaraan dan sebagainya.
2.
2. Investasi perluasan (ekspansi)Investasi perluasan (ekspansi) 3.
3. Investasi penambahan produk baru, dapat berupa perluasan atau diversifikasi produkInvestasi penambahan produk baru, dapat berupa perluasan atau diversifikasi produk yang sudah ada.
yang sudah ada. 4.
4. Investasi jangka panjang lainnya yang tidak termasuk dalam salah satu dari klasifikasiInvestasi jangka panjang lainnya yang tidak termasuk dalam salah satu dari klasifikasi di atas. Misalnya, investasi pada peralatan pengendalian polusi, investasi untuk di atas. Misalnya, investasi pada peralatan pengendalian polusi, investasi untuk keamanan, eksplorasi sumber alam dan sebagainya.
keamanan, eksplorasi sumber alam dan sebagainya.
2.
2. Menaksir Aliran KasMenaksir Aliran Kas
Tugas yang paling penting dalam penganggaran modal adalah estimasi aliran kas. Tugas yang paling penting dalam penganggaran modal adalah estimasi aliran kas. Estimasi atau proyeksi aliran kas melibatkan berbagai variabel, individu, dan berbagai bagian Estimasi atau proyeksi aliran kas melibatkan berbagai variabel, individu, dan berbagai bagian atau departemen dalam perusahaan. Peran manajer keuangan adalah mengkoordinasikan atau departemen dalam perusahaan. Peran manajer keuangan adalah mengkoordinasikan informasi berbagai departemen dan mengendalikan proses estimasi untuk meyakinkan bahwa informasi berbagai departemen dan mengendalikan proses estimasi untuk meyakinkan bahwa bagian atau individu mengun
bagian atau individu mengunakan metode secara konsisten dan asumsi yang rasional.akan metode secara konsisten dan asumsi yang rasional.
Aliran kas sangat penting dalam analisis investasi, bukan laba yang dilaporkan Aliran kas sangat penting dalam analisis investasi, bukan laba yang dilaporkan menurut catatan akuntansi, hal ini disebabkan karena :
menurut catatan akuntansi, hal ini disebabkan karena : a.
a. Laba dalam pengertian akuntansi tidak sama dengan kas masuk bersih.Laba dalam pengertian akuntansi tidak sama dengan kas masuk bersih. b.
b. Para inventor dan manajemen lebih tertarik mengetahui aliran kas bersih yang benar-Para inventor dan manajemen lebih tertarik mengetahui aliran kas bersih yang benar- benar akan diterima.
benar akan diterima.
Proyeksi atau menaksir aliran kas, disamping akurasi, juga penting diperhatikan masalah Proyeksi atau menaksir aliran kas, disamping akurasi, juga penting diperhatikan masalah relevansi. Untuk estimasi aliran kas yang relevan, diperlukan perhatian atas hal-hal penting relevansi. Untuk estimasi aliran kas yang relevan, diperlukan perhatian atas hal-hal penting berikut ini :
berikut ini : a.
a. Estimasi aliran kas harus atas dasar setelah pajak, karena, yang menjadi hak dan dapatEstimasi aliran kas harus atas dasar setelah pajak, karena, yang menjadi hak dan dapat dinikmati oleh pemilik perusahaan adalah aliran kas bersih setelah pajak.
dinikmati oleh pemilik perusahaan adalah aliran kas bersih setelah pajak. b.
b. Taksirlah aliran kas atas dasarTaksirlah aliran kas atas dasar incrementalincremental atau selisih. Misalnya, untuk rencanaatau selisih. Misalnya, untuk rencana peluncuran produk baru mungkin akan mengakibatkan pengurangan penjualan produk peluncuran produk baru mungkin akan mengakibatkan pengurangan penjualan produk lama. Dengan demikian perlu diperhatikan penurunan penjualan produk lama karena lama. Dengan demikian perlu diperhatikan penurunan penjualan produk lama karena peluncuran produk baru d
peluncuran produk baru dalam menaksir aliran kas.alam menaksir aliran kas. c.
c. Pemisahan aliran kas karena keputusan investasi dan keputusan pendanaanPemisahan aliran kas karena keputusan investasi dan keputusan pendanaan (pembelanjaan). Aliran kas karena keputusan pembelanjaan seperti, pembayaran (pembelanjaan). Aliran kas karena keputusan pembelanjaan seperti, pembayaran bunga,
bunga, angsuran angsuran pokok pokok pinjaman, pinjaman, dan dan pembayaran pembayaran dividen dividen tidak tidak perlu perlu diperhatikan.diperhatikan. Yang dianalisis dalam penilaian investasi adalah profitabilitas investasi.
Aliran kas dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu : 2.1 Aliran Kas Permulaan
Aliran kas permulaan (initial cash flow) atau juga diistilahkan capital outlays juga disebut investment : adalah merupakan aliran kas keluar perusahaan pada awal suatu proyek, yang pada umumnya nilainya sebesar nilai proyek yang akan dibiayai. Untuk menentukan aliran kas permulaan perlu diidentifikasi aliran kas yang berhubungan dengan pengeluaran investasi. Ini berarti harus diketahui berapa besar pengeluaran untuk tanah, pembuatan bangunan dengan perlengkapannya dan sebagainya. Ditambah juga dengan pengeluaran- pengeluaran untuk biaya-biaya pendahuluan dan sebelum operasi, termasuk penyedian modal kerja. Karena itulah untuk proyek-proyek yang besar, aliran kas permulaan ini tidak hanya terjadi pada awal periode, tetapi bisa beberapa kali ; pada tahun 1, tahun 2 dan sebagainya.
2.2 Aliran Kas Operasional
Aliran kas operasional (operational cash flow) juga diistilahkan dengan aliran kas masuk bersih atau Proceeds. Estimasi tentang besarnya aliran kas operasional tahunan merupakan titik permulaan untuk penilaian profitabilitas usulan investasi. Kebanyakan cara yang dipergunakan untuk menaksir aliran kas operasional tahunan adalah dengan menyesuaikan taksiran rugi laba yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi dan menambahkannya dengan biaya-biaya yang sifatnya bukan tunai (penyusutan). Karena itu, dalam praktek cara yang sering dijumpai dalam menaksir aliran kas operasional atau proceedsini adalah menggunakan rumus :
Aliran Kas masuk bersih = laba setelah pajak + penyusutan
Contoh :
Misalkan ada suatu investasi yang dibelanjai dengan 10% modal sendiri, senilai Rp 100 juta. Umur ekonomisnya 2 tahun, tidak mempunyai nilai sisa. Kalau penyusutan dilakukan dengan metode garis lurus, maka penyusutan per tahunnya adalah sebagai berikut :
Perhitungan diatas adalah benar apabila pengakuan terhadap biaya dan penghasilan menurut akuntansi tidak banyak berbeda dengan terjadinya pengeluaran dan penerimaan kas. Sekarang kalau misalkan proyek tersebut dibelanjai dengan 100% pinjaman (contoh ini hanya untuk menyedarhanakan saja, karena mungkin tidak pernah ada proyek yang dibelanjai dengan 100% pinjaman). Katakan bahwa bunga pinjaman adalah 20% per tahun. Taksiran laba rugi menjadi sebagai berikut :
Proceeds = laba setelah pajak + penyusutan = Rp 5 juta + Rp 50 juta
= Rp 55 juta
Penghasilan Rp. 150 juta
Biaya-biaya : Tunai Rp. 70 juta
Penyusutan Rp. 50 juta
Total biaya Rp .120 juta
Laba sebelum pajak Rp. 30 juta
Pajak (50%) Rp. 15 juta
Laba setelah pajak Rp. 15 juta
Aliran kas bersih/proceeds = Rp. 65 juta (Rp 15 juta + Rp 50 juta)
Penghasilan Rp. 150 juta
Biaya-biaya : Tunai Rp. 70 juta
Penyusutan Rp. 50 juta
(Rp. 120 juta)
Laba sebelum bunga dan pajak Rp. 30 juta
Bunga (Rp. 20 juta)
Laba sebelum pajak Rp. 10 juta
Pajak (50%) (Rp. 5 juta)
Untuk keperluan penaksiran operational cash flow atau proceeds, cara semacam ini membuat kesalahan dalam hal mencampur-adukkan cash flow karena keputusan pembelanjaan (yaitu pembayaran bunga) dan cash flow karena keputusan investasi (penghasilan, pengeluaran biaya tunai, pajak). Untuk itu cara menaksir aliran kas operasional yang benar adalah :
Dengan memperhatikan rumus tersebut maka :
Proceeds = Rp 5 juta + Rp 50 juta + Rp 20 juta (1-0,50) = Rp 65 juta
Perhatikan bahwa hasil perhitungan tersebut, yaitu Rp 65 juta, adalah sama dengan hasil yang diperoleh kalau menganggap bahwa investasi tersebut dibelanjai dengan modal sendiri. Kalau misalnya investasi tersebut, dibelanjai dengan 50% hutang dan 50% modal sendiri, maka kalau digunakan cara seperti tersebut diatas, aliran kas masuk bersihnya juga tetap 65 juta. Penaksiran aliran kas bersih semacam ini terutama penting, kalau investasi nantinya dihubungkan dengan biaya modal (cost of capital ).
Misalkan sebuah perusahaan memiliki laporan perhitungan laba rugi performa sebagai berikut :
Pendapatan penjualan Rp 145 juta
Biaya tunai :
Biaya variabel Rp 90 juta
Biaya tunai tetap Rp 10 juta
Penyusutan Rp 15 juta
Laba sebelum bunga dan pajak Rp 30 juta
Bunga Rp 5 juta
Laba sebelum pajak Rp 25 juta
Pajak (40%) Rp 10 juta
Berdasarkan data tersebut, taksiran aliran kas operasional / proceeds o Aliran kas operasional
= ( 1- T ) (EBDIT) – (T x Dep)
= ( 1 – 0,4 ) (45 juta) + (0,4) x 15 juta) = 33 juta
o Aliran kas operasional = ( 1 – T ) (EBIT) + Dep
= ( 1 – 0,4 ) (30 juta) + 15 juta = 33 juta
o Aliran kas operasional
= ( 1 – T ) (EBIT) + (1 – T)(bunga) + Dep = ( 1 – 0,4 )(25juta) + (1 – 0,4) (5juta) + 15 juta = 33 juta
o Aliran kas operasional = EAT + Dep. + ( 1-T ) (Bunga) = (15juta + 15 juta + (1 – 0,4)(5 juta) = 33 juta
2.3 Aliran Kas pada Akhir Umum Investasi
Aliran kas pada akhir umur investasi (terminal cash flow) umumnya terdiri dari cash flow nilai sisa (residu) investasi tersebut, dan pengembalian modal kerja. Aliran kas dari nilai sisa ini juga perlu di hubungkan dengan pajak yang munkin dikenakan. Sebagai missal, nilai buku dari suatu aktiva tetap adalah Rp 10 juta. Tetapi saat dijual, laku seharga Rp 12 juta.
Berarti perusahaan memperoleh laba sebesar Rp 2 juta (laba ini sebenarnya merupakan capital gain). Kalau misalkan perusahaan dikenakan pajak 20% atas capital gain tersebut, maka aliran kas dari nilai sisa ini adalah Rp 12 juta – (Rp 2juta x 0,2) = Rp 11,60 juta.
Berbagai contoh menaksir aliran kas
Contoh 1
Suatu proyek memerlukan investasi sebesar Rp 1.000 juta, dan ditaksir memberikan kas masuk bersih sebesar Rp 200 juta setiap tahun. Investasi sebesar Rp 1.000 juta tersebut terdiri dari aktiva tetap yang ditaksir berusia ekonomis 8 tahun sebesar Rp 800 juta, dan modal kerja sebesar Rp 200 juta. Misalkan aktiva-aktiva tetap tersebut ditaksir mempunyai nilai sisa Rp 50 juta pada akhir tahun ke 8. Akan tetapi, dengan adanya proyek tersebut mengakibatkan berkurangnya penjualan dari produk lama sehingga menyebabkan penurunan aliran kas produk lama sebesar Rp 50 juta per tahun. Dengan demikian taksiran aliran kas adalah
sebagai berikut :
Dimana initial cash flow merupakan aliran kas keluar, sedangkan operational cash flow dan terminal cash flow merupakan aliran kas masuk.
Contoh 2
Misalkan suatu perusahaan sedang mempertimbangkan untuk mengganti mesin lama dengan mesin baru yang lebih efisien. Nilai buku mesin lama adalah Rp 80 juta dan masih bisa dipergunakan dalam 4 tahun lagi, tanpa nilai sisa. Mesin baru harganya Rp 120 juta dengan umur ekonomis 4 tahun tanpa nilai sisa, anggap perusahaan memakai penyusutan dengan metode garis lurus. Kalau mesin baru dipakai perusahaan bisa menghemat biaya operasi tunai per tahun sebesar Rp 25 juta. Misalkan mesin lamakalau dijual saat ini masih
Initial cash flow Rp 1.000 juta
Operational cash flow (tahun ke-1 S/d
Ke-8 per tahun (Rp 200 juta –Rp 50 juta) Rp 150 juta
Terminal cash flow :
Modal kerja Rp 200 juta
Nilai sisa Rp 50 juta
laku Rp 80 juta, tariff pajak yang dikenakan, baik untuk laba operasional maupun capital garis, sebesar 30%. Bagaimana penaksiran aliran kasnya ?
Penaksiran aliran kas yang digunakan adalah dengan menggunakan taksiran selisih (incremental). Kalau perusahaan mengganti mesin lama dengan mesin baru, maka perlu tambahan investasi sebesar Rp 120 juta – Rp 80 juta = 40 juta. Taksiran operational cash flow per tahun adalah :
Dengan demikian, maka rencana penggantian mesin tersebut akan mengakibatkan penambahan investasi (yang merupakan kas keluar) Rp 40 juta, dan memberikan tambahan kas masuk operasional setiap tahun Rp 20,5 juta selama 4 tahun. Karena dalam hal ini tidak ada nilai sisa, maka tidak ada terminal cash flow.
3. Metode Penelitian Profitabilitas Investasi
Setelah informasi yang relevan terkumpul, barulah dapat dilakukan evaluasi terhadap layaknya ( favourable) tidaknya suatu usulan investasi. Dalam keputusan investasi hanya ada dua alternatif, menolak atau menerima usulan investasi. Ada beberapa metode dapat digunakan untuk mengevaluasi keputusan investasi, yaitu :
1. Payback method
2. Net Present Value(NPV) 3. Internal Rate of Return (IRR) 4. Profitability Index (PI)
Tambahan keuntungan karena Rp 25 juta
Penghematan biaya operasional
Tambahan penyusutan :
Mesin baru Rp 30 juta
Mesin lama Rp 20 juta
Rp 10 juta
Tambahan laba sebelum pajak Rp 15 juta
Tambahan pajak Rp 4,5 juta
Tambahan laba setelah pajak Rp 10,5 juta
3.1 Metode
Payback
PeriodeMetode ini mencoba mengukur seberapa cepat suatu investasi bisa kembali. Karena itu satuan hasilnya adalah waktu (tahun atau bulan). Kalau periode payback suatu usulan investasi lebih pendek dari yang disyaratkan, maka usulan investasi (proyek) dinyatakan diterima., bila sebaliknya proyek ditolak. Problem utama dalam metode payback adalah sulitnya menentukan periode payback maksimum yang disyaratkan sebagai pembanding. Secara normatif memang tidak ada pedoman yang bisa dipakai untuk menentukan periode payback maksimum. Dalam kenyataannya, yang umum digunakan adalah periode payback dari investasi yang sejenis. Periode payback dapat dihitung dengan menjumlahkan aliran kas tahunan hingga mencapai jumlah sama dengan nilai investasi awal. Jadi dalam jangka waktu kapan investasi bisa kembali.
3.2 Metode
Net Present Value
(NPV
)Metode ini menghitung selisih present value (nilai sekarang) investasi dengan present value kas masuk bersih ( proceeds). Untuk menghitung present value tersebut perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang relevan. Net Present Value ( NPV ) yang positif menunjukkan bahwa PV proceeds lebih besar dari PV investasi (initial cash flow). Karena itu NPV yang positif berarti investasi yang diharapkan akan meningkatkan kekayaan pemodal atau pemilik. Karenanya investasi dinilai menguntungkan. Dengan demikian decision rule nya adalah : terima suatu usulan investasi yang diharapkan memberikan NPV positif, dan tolak kalau memberikan NPV negatif.
Perhitungan NPV menggunakan rumus sebagai berikut:
[ 1
1
1
2
………
1
]
atau ∑ ( 1
1
)
=
I
Dimana:
A = kas masuk bersih ( proceeds) r = suku bunga
t = waktu (tahun) sampai n n = umur investasi
3.3 Metode
Profitability I ndex
(PI)Profitability Index menunjukan perbandingan antara PV proceeds dengan PV investasi. Kriteria yang digunakan: terima investasi yang diharapkan memberikan PI > 1
Rumus:
3.4I nternal R ate of Return (IRR)
IRR menunjukkan tingkat bunga yang menyamakan PV proceeds dan PV investasi.
Decision rule metode ini adalah terima investasi yang diharapkan memberikan IRR > tingkat bunga yang dipandang layak.
Rumus :
Dimana:r 1 = suku bunga yang menghasilkan PV positif
r 2 = suku bunga yang menghasilkan PV negatif
PV1 = PV pada suku bunga r 1
PV2 = PV pada suku bunga r 2
NPV1 = Net Present Value pada bunga r 1
Contoh :
Suatu perusahaan transportasi akan membuka divisi baru, yaitu divisi taksi. Divisi akan dimulai dengan 50 buah taksi, dan karena akan dipergunakan untuk usaha taksi, mobil-mobil tersebut dapat dibeli dengan harga Rp 30 juta pe r unit. Ditaksir usia ekonomis selama 4 tahun dengan nilai sisa sebesar Rp 4 juta per unit. Untuk mempermudah analisis dipergunakan metode penyusutan garis lurus.
Taksi tersebut akan dioperasikan selama 300 hari dalam setahun, setiap hari pengemudi dikenakan setoran Rp 50.000. Berbagai biaya tunai seperti penggantian ban, kopling, rem, penggantian oli, biaya perpanjangan STNK, dan sebagainya ditaksir sebesar Rp 3.000.000 per unit taksi. Perusahaan dikenakan pajak 35% . Tingkat keuntungan yang disyaratkan 16%. Berdasarkan informasi tersebut apakah pembukaan divisi taksi ini layak?
Jawab :
Taksiran rugi laba per tahun
Biaya-biaya:
Tunai (50 × Rp 3 juta) Rp 150,00 juta
Penyusutan (50 × Rp 6,5 juta) Rp 325,00 juta
Total biaya Rp 475,00 juta
Laba operasi Rp 275,00 juta
Pajak (35%) Rp 92,25 juta
Laba setelah pajak Rp 178,75 juta
Operational cash flow per tahun = Rp 178,75 juta + Rp 325 juta = Rp 503,75 juta. Pada tahun ke-4 aliran kas masuk karena nilai sisa sebesar 50 × Rp 4 juta = Rp 200 juta
Dengan demikian aliran kas dari investasi tersebut diperkirakan sebagai berikut:
Tahun Kas Keluar Kas Masuk
0 Rp 1.500 juta -1 - Rp 503,75 juta 2 - Rp 503,75 juta 3 - Rp 503,75 juta 4 - Rp 503,75 juta Rp 200 juta
Payback Period
Investasi awal Rp 1.500,00 juta
Proceed tahun 1 Rp 503,75 juta
Sisa investasi tahun 2 Rp 996,25 juta
Proceed tahun 2 Rp 503,75 juta
Sisa investasi tahun 3 Rp 492,50 juta
Karena pada tahun ke-3 kas masuk bersih Rp 503,75 juta, maka sisa sebesar Rp 492,50 diharapkan akan kembali dalam waktu : (492,50/503,750 ×12 bulan = 11,73 bulan. Dengan demikian periode payback investasi ini adalah 2 tahun 11,73 bulan.
Net Pr esent Value
(NPV) 503,75
10,16
10,16
200
1.500
503,75 2,798 200 0,552 1.500
1.519,891.50019,89
Jadi NPV positif sebesar Rp 19,89 maka investasi ini menguntungkan atau dapat dilaksanakan
Pr ovitability I ndex
(PI) 1.519,89
1,500 1,0113
Karena PI > 1 investasi dapat diterima.
I nternal R ate of Return
(IRR)Pada tingkat bunga 16%
PV penerimaan positif sebesar Rp 1.519,89 PV penerimaan pada tingkat bunga 17%
503,75
10,17
10,17
200
503,75 2,743 200 0,534
1.381,79 106,80 1488,59
16
1.519,891.488,59 × 1716
19,89
= 16 + 0,51 = 16,51Karena IRR > dari tingkat keuntungan yang disyaratkan (16%) maka investasi diterima.
4. Perbandingan Metode-Metode Penilaian Profitabilitas Investasi
Dengan berbagai kelemahan metode payback, sekarang tinggal 3 pilihan yaitu NPV, PI dan IRR. Ketiga metode ini memiliki kesamaan yaitu, diperhatikannya time value of money dan menggunakan dasar aliran kas. Pertanyaannya sekarang adalah mana dari ketiga metode tersebut memberikan arah keputusan yang konsisten baik dalam penilaian suatu usulan investasi maupun pemilihan dari beberapa alternatif usulan yang ada.
1. Perbandingan
NPV
denganPI
Bila menilai suatu usulan investasi menggunakan metode NPV dan PI hasilnya akan selalu konsisten. Artinya kalau NPV menyimpulkan suatu usulan investasi diterima (menguntungkan), maka PI juga menyimpulkan diterima, demikian sebaliknya. Hal ini nampak jelas dengan mengamati mekanisme kedua metode tersebut. Kalau PV penerimaan- penerimaan kas bersih di masa datang ( PV proceeds) lebih besar dari PV investasi maka NPV positif, berarti investasi diterima. Dengan demikian berarti perbandingan PV proceeds dengan PV investasi (PI) akan lebih besar dari satu. PI lebih besar dari satu berarti investasi diterima.
Tetapi bila dihadapkan pada pemilihan salah satu atau beberapa usulan investasi dari berbagai alternatif, hasilnya bisa tidak konsisten.
Hal ini dapat dibuktikan dari contoh berikut ini. Misal kan ada dua usulan yaitu proyek A dan proyek B dengan karakteristik sebagai berikut:
Usulan Nilai investasi PI NPV
A Rp 800 juta 1,08 Rp 64 juta
B Rp 300 juta 1,15 Rp 45 juta
Bila dihadapkan pada pemilihan ini berarti anda memiliki dana Rp 800 juta, sebab kalau tidak maka tidak bisa memilih usulan A. Kalau demikian usulan mana yang akan dipilih? Kalau menggunakan metode PI maka ususlan B yang akan dipilih karena PI nya lebih besar dari usulan A. Tetapi kalau menggunakan metode NPV maka akan menguntungkan memilih usulan A karena NPV nya lebih besar dari usulan B.
Berarti anda akan lebih diuntungkan bila memilih usulan A, karena kekayaan riil anda akan bertambah Rp 64 juta. Bila memilih usulan B, kekayaan riil anda hanya akan meningkat Rp
45 juta karena sisa dana Rp 500 juta tidak dapat dimafaatkan.
Dengan demikian, penggunaan metode NPV memberikan hasil keputusan yang lebih baik dari pada metode PI. Hal ini disebabkan karena dengan menggunakan metode NPV yang dilihat adalah nilai absolut, bukan perbandingan (relatif) seperti dalam metode PI . Karena itu, bila dibandingkan kedua metode tersebut maka metode NPV lebih baik.
2. Perbandingan
NPV
denganI RR
Kalau metode NPV dan IRR digunakan untuk menilai suatu usulan investasi yang sama, maka hasilnya umumnya akan sama, dalam arti bila NPV menyatakan usulan diterima maka IRR juga menyatakan diterima, demikian pula sebaliknya. Terkecuali, bila suatu usulan memiliki pola aliran kas yang tidak normal, kedua metode tersebut bisa menghasilkan keputusan yang tidak sama.
Contoh berikut akan memperjelas persoalan ini.
Misalkan ada dua usulan investasi, yaitu usulan A dan usulan B dengan nilai investasi masing-masing Rp 1.100 juta. Aliran kas masuk bersih ( proceeds) kedua usulan tersebut adalah sebagai berikut:
Tahun Aliran Kas Bersih (dalam jutaan)
Usulan A Usulan B
1 Rp 1.300 Rp 300
3 Rp 100 Rp 1.300
Bila keuntungan yang disyaratkan adalah 18%, maka NPV usulan tersebut adalah :
1.300
10,18
10,18
100
10,18
100
1.100 134,43
300
10,18
10,18
300
10,18
300
1.100 160,89
Dengan melihat NPV maka lebih menguntungkan memilih Usulan B karena NPV B
lebih besar dari NPV A. Kalau dihitung IRR kedua usulan tersebut diperoleh:
IRRA = 30,53% IRRB = 25,09%
Bila melihat IRR maka usulan A yang dipilih karena IRR lebih besar.
Dengan demikian, timbul pertanyaan, usulan mana yang akan dipilih? Bila memakai NPV usulan B yang dipilih, bila memakai IRR usulan A yang dipilih.
Untuk mengatasi persoalan ini maka digunakan analisis incremental (selisih), yaitu dengan menghitung IRR dari selisih aliran kas kedua usulan tersebut.
Aliran kas bersih (jutaan rupiah)
Usulan 0 1 2 3 IRR A -1.100 1.300 100 100 42% B -1.100 300 300 1.300 30% B minus 0 -1.000 +200 +1200 IRR Incremental A = 20,16%
Dengan melihat perhitungan selisih tersebut maka bila memilih B akan diperoleh kas masuk lebih kecil Rp 1.000 juta tahun ke-1 tetapi menerima lebih besar Rp 200 juta pada tahun ke-2 dan Rp 1.200 juta pada tahun ke-3. Tingkat bunga yang menyamakan aliran kas incremental adalah 20,16%. Berarti IRR incremental adalah 20,16% yang mana lebih besar dari tingkat keuntungan yang disyaratkan yaitu 18%. Dengan demikian maka lebih menguntungkan memilih usulan B karena IRR incremental lebih besar dari tingkat keuntungan yang disyaratkan. Keputusan ini konsisten dengan metode NPV , yang menganjurkan memilih B karena NPVlebih besar.
Dari perbandingan metode-metode penilaian investasi tersebut maka dapat dsimpulkan bahwa metode NPV selalu dapat memberikan keputusan yang lebih tepat, sehingga dalam pengambilan keputusan investasi sebaiknya menggunakan metode NPV .
Referensi
Wiagustini, Ni Luh Putu. 2010. Dasar-dasar manajemen keuangan. Denpasar: Udayana University Press.
Ringkasan Materi Kuliah SAP 6
Nilai Waktu Uang dan Konsep Dasar Penilaian Pendahuluan
Sebagaimana telah ditegaskan pada bagian awal dari materi manjemen keuangan, bahwa salah satu tugas atau fungsi seorang manajer keuangan adalah mengambil keputusan dalam bidang investasi. Investasi berarti pengeluaran dana saat ini dimana pengembaliannya terjadi di waktu yang akan datang. Dalam sektor publik investasi ini diistilahkan dengan proyek yaitu merupakan suatu rangkaian aktivitas (activities) yang dapat direncanakan, yang didalamnya menggunakan sumber - sumber (inputs) misalkan uang dan tenaga kerja, untuk mendapatkan manfaat (benefits) atau hasil (return) di masa yang akan datang. Aktivitas proyek ini mempunyai saat mulai ( starting point ) dan saat berakhir (ending point)
Mengenai investasi ini, dapat dilihat sebagai :
1) Autonomous Investment, yaitu macam investasi yang tidak dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Misalkan saja investasi pada rehabilitasi prasarana jalan, irigasi, dan
sebagainya
2) Induce Investment, yaitu macam investasi yang mempunyai kaitan dengan tingkat pendapatan. Misalkan, adanya kenaikan pendapat pada masyarakat disuatu tempat
atau daerah menyebabkan kenaikan kebutuhan akan barang atau jasa tertentu
3) Investasi yang sifatnya dipengaruhi oleh adanya tingkat bunga uang atau modal yang berlaku di masyarakat. Seperti misalnya investasi pada suatu badan usaha atau perusahaan dan kegiatan lainnya yang dapat menguntungkan.
Banyak investasi point (a) akan lebih banyak dilakukan oleh sektor pmerintah, karena investasi ini akan menyangkut aspek sosial-budaya yang ada di masyarakat. Sementara macam investasi point b dan c akan lebih banyak melibatkan sektor swasta, walaupun kenyataannya juga banyak usaha pemerintah yang terlibat di dalam investasi tersebut.
Adapun faktor yang melandasi konsep ini adalah preferensi waktu yang menyatakan bahwa sejumlah sumber daya yang tersedia saat ini untuk dinikmati lebih disenangi orang
daripada sejumlah sumber daya yang sama tetapi baru tersedia dalam beberapa tahun yang akan datang (misalkan baru tersedia dua tahun yang akan datang)
Pemikiran tersebut secara ekonomi didasarkan atas alasan - alasan sebagai berikut :
1. Alasan inflasi, yaitu bahwa dengan adanya tingkat inflasi akan dapat menurunkan nilai uang
2. Alasan konsumsi, yaitu bahwa dengan yang sama, apabila dikonsumsikan akan memberikan tingkat kenikmatan yang lebih, dibandingkan dengan jika dikonsumsikan dia masa yang akan datang
3. Alasan risiko penyimpanan, yaitu bahwa adanya risiko yang tidak diketahui di waktu yang akan datang, maka praktis nilai uang di masa yang akan datang memerlukan jumlah yang lebih besar
Konsep - konsep yang dibahas adalah : 1) Future Value
2) Present Value
3) Future Value suatu anuitas 4) Present value suatu anuitas 1.1 Nilai Masa yang Akan Datang
Konsep nilai yang akan datang ( future value) (nilai akan datang) akan dijelaskan melalui ilustrasi berikut ini. Misalkan Anda meminjam uang sebesar Rp. 1.000.000 dengan tingkat bunga 12% setahun. Sesudah satu tahun maka Anda harus mengembalikan sebesar:
Rp 1.000.000 (1+12%)(1+12%) = Rp 1.000.000 (1+12%)2
= Rp 1.000.000 x 1,2544 = Rp 1.254.400
Kalau jumlah semula (Rp 1.000.000,00) itu disebut P ( present amount ), jumlah tahun selama uang itu dipinjam adalah n, jumlah uang yang harus dikembalikan disebut F ( future amount ), tingkat bunga adalah i maka jumlah yang harus dikembalikan dapat dihitung dengan rumus:
F = P (1+i)
n(1+i)
n disebut compounding factor for 1, adalah suatu bilangan lebih besar dari satu (1,0) yang dapat dipakai untuk mengalikan suatu jumlah yang ada sekarang untuk menentukan nilainya di waktu yang akan datang, setelah diberi bunga pada akhir setiap tahun.Misalkan: n = 5 tahun ; i = 12% , maka pinjaman Rp 1.000.000 harus dikembalikan sebesar :
F = Rp 1.000.000 (1,12)5 = Rp 1.000.000 x 1,7623 = Rp 1.762.300
Angka 1,7623 dapat dicari pada tabel bunga Future value dengan memilih tingkat bunga (12%) pada garis horizontal dan n periode (5) pada garis vertikal. Pada kordinat kedua angka tersebut akan diperoleh angka 1,7623.
1.2 Nilai Sekarang
Seringkali yang diketahui bukan besarnya P, melainkan besarnya F yaitu besarnya nilai di waktu yang akan datang. Jika demikian, halnya untuk mencari nilai sekarang (P) atau
present value, dari jumlah tersebut (F), maka rumus future value di atas dapat ditransformasikan sebagai berikut:
F=P(1+i)
n=
+
= F
+
Istilah
+
ini disebut discount factor, yaitu suatu bilangan kurang dari satu (1,0) yang dapat dipakai untuk mengalikan suatu jumlah di waktu yang akan datang (F) supaya menjadi nilai sakarang (P). Discount factor ini juga tersedia dalam Tabel Bunga.Misalkan Anda akan mendapatkan uang banyak Rp 1.000.000 yang akan diterima pada akhir tahun pertama (F). Jika tingkat bunga 15%, maka nilai sekarang (P) uang Rp 1.000.000 adalah:
P = Rp. 1.000.000
+
= Rp. 869,569Jika uang Rp. 1.000.000akan diterima akhir tahun kedua, maka nilai sekarang: P = Rp. 1.000.000
+
= Rp . 756,144Kalau uang tersebut akan diterima akhir tahun kelima dengan menggunakan Tabel Bunga (A-1), dapat dilihat Table Discount Factor (Present Value), cari tingkat bunga 15% dan
periode 5 akan ditemukan angka sebesar 0,4972. Dengan demikian Rp 1.000.000,00 yang akan diterima 5 tahun yang akan datang, nilai sekarangnya adalah
P = Rp. 1.000.000 x 0,4972 = Rp . 497,200
2.1 Anuitas
Konsep time evolution, disamping konsep Present Value (P) dan Future Value (F) yang sudah dibicarakan, ada satu konsep lagi yaitu annuity atau uniform series. Antusias ( Annuity) adalah serangkaian pembayaran atau penerimaan yang jumlahnya sama (A) setiap kali pembayaran atau penerimaan selama beberapa periode tertentu. Annuity ini mempunyai beberapa sifat yaitu:
1) Jumlahnya sama (equal payments)
2) Panjangnya periode antara angsuran sama (equal periods between payments) 3) Pembayaran pertama dilakukan pada akhir periode periode pertama
2.2 Nilai Masa yang Akan Datang Suatu Anuitas
Misalkan anda dijanjikan akan menerima Rp. 1.000.000 setiap tahun selama tiga tahun. Jika suku bunga yang relevan sebesar 10% berapa nilai penerimaan tersebut pada akhir tahun ke-3. Pembayaran dilakukan setiap akhir tahun.
Nilai akhir dari Seri penerimaan dapat digambarkan sebagai berikut :
Akhir tahun ke 0 1 2 3 Pembayaran 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.100.000 1.210.000 3.310.000
Formula umum
F uture Value
dari suatu:F n
=
A
+
−
+
−
merupakan faktor bunga nilai akhir suatu anuitas yang nilai sudah tersedia pada Tabel Bunga.Dengan demikian ; Fn = A x (faktor bunga Anuitas)
Contoh di atas faktor bunga anuitas untuk i = 10% , n = 3 dapat dilihat dengan mudah pada Tabel A-4 yaitu yaitu Rate 10% ditelusuri kebawah hingga baris tahun ke-3, diperoleh
angka 3,310000 dengan demikian nilai anuitas Rp. 1.000.000,00 selama 3 tahun adalah :
Rp. 1.000.000 x 3,3100 = Rp. 3.310.000.
Contoh lain misalkan sebuah perusahaan harus membayar royalti sebesar Rp. 2.500.000,00 setiap akhir tahun selama 5 tahun berturut-turut. Lalu diadakan perjanjian bahwa jumlah tersebut tidak dibayarkan tiap akhir tahun, melainkan sekaligus pada akhir tahun kelima, dengan tingkat bunga 15% setahun untuk tiap pembayaran yang ditahan. Berapa jumlah yang harus dibayar pada akhir tahun ke-5 ?
Jadi: A = Rp. 2.500.000 ; i= 15% ; n= 5 ; F=…?
F= Rp. 2.500.000 x 6,7424 = Rp. 16.856.000.
Jumlah yang harus dibayar adalah sebesar Rp. 16.856.000.
2.3 Nilai Sekarang Suatu Anuitas
Misalkan kepada anda ditawarkan dua alternative berikut: anuitas 3 tahun sebesar Rp. 1.000.000 per tahun atau pembayaran kontan sekarang. Selama 3 tahun mendatang Anda tidak memerlukan uang tersebut,sehingga jika anda menerima anuitas maka anda akan mendepositokan dana tersebut dan mendapat bunga 10%. Berapa pembayaran kontan yang harus diterima sekarang yang jumlahnya equivalen dengan pembayaran anuitas tersebut.
Persoalan ini dapat digambarkan sebagai berikut :
0 1 2 3
Penerimaan 909.010 826.400 751.300 2.486.800
Jadi nilai sekarang dari seri penerimaan selama 3 tahun tersebut adalah Rp. 2.486.800,00
Rumus PV anuitas adalah:
PV = A
+
+
−
+
+
−
a
dalah discout factor anuitas yang nilai sudah tersedia pada Table A-2Persoalan diatas dengan mudah dapat diketahui discount factor -nya pada Tabel A-2, yaitu lihat lajur 10% periode 3, didapat 2,4869.
PV = Rp. 1.000.000 + 2,4869
= Rp. 2.486.900. (ada pembulatan)
Misalkan untuk perusahaan yang harus membayar royalti sebesar Rp. 2.500.000,00 setiap akhir tahun selama 5 tahun berturut-turut dalam contoh sebelumnya setuju membayar sekaligus pada permulaan tahun pertama. Jika tingkat bunga 15%, berapa jumlah yang harus dibayar
A = Rp. 2.500.000 ; i= 15% ; n= 5 ; P=…?
P = Rp. 2.500.000 x 3,3522 = Rp. 8.580.500
Jadi bila dibayar sekaligus pada permulaan akhir tahun, maka jumlah yang harus dibayar adalah sebesar Rp. 8.580.500.
REFERENSI
Wiagustini, Ni Luh Putu. 2010. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Denpasar: Udayana University Press.