• Tidak ada hasil yang ditemukan

SK Kebijakan Farmasi_cetak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SK Kebijakan Farmasi_cetak"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT YASMIN Nomor : SKK0491/RSY/IFRS/X/2017

Tentang :

KEBIJAKAN PELAYANAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT YASMIN BANYUWANGI

Bismillahirrahmanirrahim

DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT YASMIN BANYUWANGI

Menimbang : 1. Bahwa pelayanan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi yang telah berjalan saat ini mengacu pada kebijakan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi.

2. Bahwa kebijakan tersebut, berdasarkan evaluasi dari Instalasi Farmasi dan pembinaan akreditasi, mengalami beberapa perubahan terkait dengan muatan pengawasan penggunaan dan pengamanan obat, serta peresepan.

3. Bahwa perubahan kebijakan sebagaimana dimaksud, perlu ditetapkan melalui Surat Keputusan Direktur.

Mengingat : 1. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Undang-Undang No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 3. SK Menkes RI No. 436/Menkes/SK/VI/l 993 tentang

Berlakunya Standar Pelayanan Rumah Sakit dan Standar Pelayanan Medis Di Rumah Sakit.

4. Keputusan Menkes RI No. 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit.

5. Keputusan Menkes RI No. 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.

6. Permenkes RI No 1691/Menkes/PER/VII 1/2011 tentang Keselamatan Pasien.

7. Permenkes Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit

M E M U T U S K A N MENETAPKAN :

Pertama : MENETAPKAN KEBIJAKAN PELAYANAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT YASMIN BANYUWANGI Kedua : Memberlakukan Kebijakan Pelayanan Instalasi Farmasi Rumah

Sakit Yasmin Banyuwangi sebagai mana terlampir.

Ketiga : Mengamanatkan kepada Supervisor Instalasi Farmasi dan staf yang terkait untuk mempedomani kebijakan ini sebagaimana mestinya.

Keempat : Melaksanakan Kebijakan Pelayanan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi.

(2)

Kelima : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan akan dilakukan penyempurnaan dan atau evaluasi sekurang-kurangnya sekali dalam masa berlakunya.

Ditetapkan di : Banyuwangi Pada Tanggal : 03 Shafar 1439 H

23 Oktober 2017 M Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi

dr. Wahyu Irawan,M.M Direktur Utama

(3)

Lampiran : Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi Nomor : SKK0491/RSY/IFRS/X/2017

Tentang : Kebijakan Pelayanan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi

A. Kebijakan Umum

1. Pelayanan Farmasi harus selalu berorientasi kepada mutu dan keselamatan pasien.

2. Setiap petugas di Instalasi Farmasi harus bekerja sesuai dengan standard profesi, standar prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, dan menghormati hak pasien.

3. Setiap Apoteker/Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang bekerja di Instalasi Farmasi harus memiliki STRA/STRTTK, dan SIPA/SIKTTK yang masih berlaku.

4. Instalasi Farmasi menerapkan sistem satu pintu, yaitu Instalasi Farmasi mengelola semua perbekalan farmasi yang ada di rumah sakit meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, produksi obat sederhana, penyimpanan, distribusi, pengendalian, penghapusan, administrasi, dan pelaporan serta evaluasi.

5. Instalasi Farmasi melakukan Pelayanan Farmasi Klinik yang meliputi konseling, MESO (Monitoring Efek Samping Obat), Pemantauan Terapi Obat (PTO), Pelayanan Informasi Obat (PIO), dan rekonsiliasi obat.

6. Instalasi Farmasi tidak melaksanakan Pelayanan Pencampuran Obat Kemoterapi, Pelayanan Obat Radioaktif, dan Penggunaan Obat sampel. 7. Instalasi Farmasi melakukan pelayanan 24 jam di Depo Farmasi Rawat Inap. 8. Ruang penyimpanan perbekalan farmasi Instalasi Farmasi harus terkunci

untuk menjaga keamanan.

9. Obat-obatan yang dipergunakan di RS Yasmin Banyuwangi diusulkan oleh Kelompok-Kelompok Staf Medis melalui pembahasan di rapat Panitia Farmasi dan Terapi.

B. Kebijakan Khusus Pemilihan Obat

1. Revisi Formularium RS dilakukan setiap tahun dengan mempertimbangkan usulan obat baru dari Kelompok Staf Medis Fungsional dan obat yang dihapus dari Formularium.

2. Kriteria pemilihan Obat untuk masuk Formularium Rumah Sakit: a. Mengutamakan penggunaan Obat generik;

b. Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan penderita;

c. Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas; d. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan;

e. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan;

f. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien; g. Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi

berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung; dan

h. Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence based medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga yang terjangkau.

3. Kriteria penghapusan Obat dari Formularium Rumah Sakit adalah : a. Obat-obat yang jarang digunakan (slow moving)

b. Obat-obatan yang tidak digunakan (death stock) dalam waktu 3 (tiga) bulan dan akan diingatkan kepada dokter-dokter terkait untuk menggunakan obat

(4)

tersebut. Apabila 3 (tiga) bulan berikutnya tetap tidak/ kurang digunakan, maka obat tersebut dikeluarkan dari buku formularium.

c. Obat-obat yang dalam proses penarikan oleh pemerintah/ BPOM atau dari pabrikan.

4. Obat-obat yang baru masuk dalam formularium RS dilakukan pemantauan untuk mengantisipasi kejadian Tidak Diharapkan (KTD) dengan mengisi formulir Monitoring Obat Baru dan Antisipasi KTD.

Perencanaan Kebutuhan

5. Perencanaan perbekalan farmasi disusun berdasarkan Formularium Rumah Sakit dengan mempertimbangkan pola konsumsi dan epidemiologi.

Pengadaan

6. Pengadaan perbekalan farmasi harus dilakukan melalui distributor resmi. 7. Pengadaan di Instalasi Farmasi dapat dilakukan melalui :

a. Pembelian

b. Produksi Sediaan Farmasi (salicyl talk) c. Sumbangan/Dropping/Hibah

8. Instalasi Farmasi dapat memproduksi sediaan obat sederhana sesuai formula standar dan formula khusus yang diminta dokter, atau melakukan pengemasan kembali sediaan yang sudah ada.

Penerimaan

9. Obat-obat dari pemasok diterima oleh Apoteker/Staf di Logistik Medis. 10. Barang yang dapat diterima di Instalasi Farmasi harus sesuai permintaan dari

pelayanan di instalasi farmasi. Penyimpanan

11. Penyimpanan sediaan farmasi maupun alat kesehatan harus dapat menjamin kualitas dan keamanannya.

12. Perbekalan farmasi disimpan didalam gudang logistik medis.

13. Penyimpanan dilakukan dengan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out), dikelompokkan sesuai bentuk sediaan dan disusun secara alfabetis, dan ditempatkan pada suhu sesuai sifat sediaannya.

14. Produk nutrisi disimpan sesuai dengan spesifikasi suhu dan kelembaban yang tertera pada petunjuk penyimpanan masing-masing produk, dihindarkan dari paparan cahaya matahari langsung, diberi alas palet, dan dijauhkan dari bahan-bahan beracun dan berbahaya.

Pelabelan

15. Obat yang termasuk dalam kategori High Alert harus diberi stiker khusus bertuliskan “High Alert” dengan warna merah.

16. Bahan yang termasuk dalam Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) harus diberi label khusus B3 yang sesuai dengan sifat zatnya.

17. Obat yang termasuk kategori LASA (Look Alike Sound Alike) atau obat yang mirip pengucapan maupun rupanya tidak boleh ditempatkan bersebelahan dan diberi stiker LASA di kotak penyimpanannya dan diberikan penulisan dengan menggunakan cara “tallman lettering”.

18. Obat lepasan yang dikeluarkan dari wadah aslinya untuk kebutuhan peresepan diberikan label dengan keterangan nama obat, dosis obat serta tanggal kadaluarsa obat tersebut.

Distribusi Obat

19. Distribusi perbekalan farmasi ke pasien menggunakan sistem resep perorangan untuk pasien rawat jalan dan dosis unit untuk pasien rawat inap. 20. Distribusi Perbekalan Faramasi ke pasien rawat jalan dan rawat inap dilakukan oleh Apoteker atau TTK disertai dengan bukti serah terima perbekalan farmasi.

21. Distribusi Perbekalan Farmasi dilakukan secara akurat dan tepat waktu sesuai dengan standar waktu yang ditetapkan, yaitu :

(5)

a. Pelayanan farmasi rawat jalan dan rawat inap Obat jadi ≤ 30 menit

Obat racikan ≤ 60 menit

b. Pelayanan UDD (Unit Dose Dispensing)

Pagi obat diantar ke ruangan pukul 6.30, paling lambat pukul 07.30 Siang obat diantar ke ruangan pukul 10.00, paling lambat pukul 11.00 Sore obat diantar ke ruangan pukul 16.00, paling lambat pukul 17.00 Malam obat diantar ke ruangan pukul 19.00, paling lambat pukul 20.00

Penarikan dan Pemusnahan

22. Obat-obat yang sudah rusak, kadaluarsa, atau ketinggalan jaman (tidak digunakan lagi) harus segera ditarik dari tempat penyimpanannya dan diganti dengan obat baru dengan masa kadaluarsa lebih panjang.

23. Obat-obat yang sudah rusak, kadaluarsa, dan atau ketinggalan jaman dimusnahkan dengan persetujuan Direktur RS dan koordinasi dengan Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit.

Pengawasan

24. Pengawasan Perbekalan Farmasi dilakukan dengan inspeksi secara berkala oleh Apoteker/TTK dengan staf accounting ke semua unit penyimpanan obat dan alkes, pelaksanaan stok opname setiap bulan, pencatatan pemakaian di kartu stok, dan pemasangan Closed Circuit Television (CCTV) untuk mengamankan dari pencurian dan kehilangan.

Pelaporan

25. Instalasi Farmasi membuat laporan bulanan berupa : a. Laporan Penggunaan obat sesuai formularium b. Laporan Penggunaan obat narkotika dan psikotropika Penulisan Resep

26. Resep yang dapat dilayani di Instalasi Farmasi RS PMI Bogor adalah resep yang ditulis oleh dokter/dokter gigi yang berpraktek di RS PMI Bogor, memiliki Surat Tanda Registrasi (STR), Surat Ijin Praktek (SIP),Surat Penugasan Klinik (SPK), dan Rincian Kewenangan Klinik (RKK) yang ditetapkan oleh direktur.

27. Resep harus ditulis lengkap dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Mencantumkan data identitas pasien (nama jelas, usia/tanggal lahir) b. Mencantumkan data berat badan atau luas permukaan tubuh untuk

kelompok pasien anak.

c. Menuliskan elemen pemesanan/penulisan resep, yaitu dengan menuliskan tanda R/ untuk setiap item obat dan setiap satu item racikan. d. Menuliskan nama generik atau nama dagang bila diperlukan.

e. Menuliskan nama obat dengan jelas dan lengkap/tidak menggunakan singkatan.

f. Kekuatan sediaan obat atau dengan Tall Man Letters untuk pemesanan obat LASA/NORUM.

g. Informasi pemberian obat, contohnya prn (pro re nata) atau bila perlu, disertai dengan jumlah pemberian maksimal per hari.

h. Informasi tambahan pada resep bilamana obat dibutuhkan cepat, ataupun penggunaan obat yang ditunda.

i. Pemesanan obat secara verbal atau melalui telepon harus melalui proses tulis lengkap, baca ulang, dan konfirmasi.

28. Resep Obat Narkotika dan Psiktropika hanya boleh dilayani jika resep ditulis oleh dokter yang berpraktek di RS PMI Bogor yang memiliki STR, SIP, SPK, dan RKK, atau copy resep yang resep aslinya ada di RS PMI Bogor, ditulis lengkap dan jelas dengan menyertakan tanda tangan dokter penulisnya.

(6)

29. Pada saat dokter meresepkan obat/alkes yang tidak ada kesetaraan generik/kelas terapinya di Formularium RS maupun Formularium Nasional, dokter harus mengisi Lembar Permintaan Obat Non Formularium yang ditandatangani oleh Ketua Komite Medik dan Direktur.

Telaah Resep dan Pemberian Obat

30. Petugas yang berwenang memberikan obat adalah Apoteker atau Tenaga Teknis Kefarmasian yang memiliki STRA/STRTTK, SIPA/SIKTTK, Surat Penugasan Klinis (SPK) dan Rincian Kewenangan Klinis (RKK) yang ditetapkan oleh direktur.

31. Setiap resep yang masuk harus ditelaah ketepatannya oleh Apoteker atau Tenaga Teknis Kefarmasian Tingkat Ahli yang memiliki STRA/STRTTK, SIPA/SIKTTK, Surat Penugasan Klinis (SPK) dan Rincian Kewenangan Klinis (RKK) yang ditetapkan oleh direktur.

32. Telaah Resep dilakukan untuk menjamin 5 Benar Pemberian Obat yaitu Benar Pasien, Benar Obat, Benar Dosis Obat, Benar Waktu dan Frekuensi Pemberian, serta Benar Rute Pemberian.

33. Pengecekan interaksi obat dalam proses verifikasi resep menggunakan bantuan software/aplikasi Medscape.

34. Pemberian obat High Alert harus dilakukan double pengecekan sebelum diserahkan kepada pasien/perawat.

35. Pada saat terjadi kekosongan obat dan alkes yang diresepkan oleh dokter, instalasi farmasi dapat membeli obat/alkes yang dimaksud di Apotek lain yang sudah bekerja sama dengan RS PMI Bogor.

36. Pelayanan Obat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebagai indikator mutu Instalasi Farmasi.

37. Penyiapan obat harus dilakukan dalam area yang bersih dan aman, dengan peralatan dan supply yang memadai.

38. Pencampuran obat suntik dilakukan dengan teknis aseptis yang pelaksanaannya didelegasikan kepada perawat.

Rekonsiliasi Obat

39. Penggunaan obat milik pasien yang dibawa dari tempat asal ke dalam rumah sakit baru dapat digunakan jika disetujui dokter yang merawat setelah melakukan proses rekonsiliasi obat sebelum pasien masuk rumah sakit. 40. Obat Pasien rawat inap dapat dikembalikan ke Instalasi Farmasi bila pasien

sudah tidak memerlukan obat tersebut. Pemantauan Terapi Obat

41. Pemantauan Terapi Obat dilakukan dengan melihat kriteria pasien dengan gangguan fungsi organ hati atau ginjal, atau obat dengan resiko tinggi antara lain obat indeks terapi sempit, nefrotoksik, sitotoksik, menimbulkan Reaksi Obat Tidak Diinginkan (ROTD).

Konseling

42. Kriteria pasien yang mendapatkan konseling adalah : a. Pasien rujukan dokter.

b. Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi ginjal, ibu hamil dan menyusui).

c. Pasien dengan terapi penyakit kronis. Contoh: tuberkulosis, diabetes melitus, epilepsi, dan lainnya.

d. Pasien yang menggunakan banyak obat/polifarmasi atau dengan regimen penggunaan obat yang kompleks. Contoh: penggunaan hari tertentu.

Pelayanan Informasi Obat (PIO)

43. Pelayanan Informasi Obat diberikan kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien dan pihak lain di luar rumah sakit.

(7)

44. Instalasi farmasi membuat leaflet dan poster mengenai obat serta pemberian informasi obat pada pasien rawat jalan dan rawat inap.

Monitoring Efek Samping Obat

45. Apoteker ataupun perawat ruangan yang menjumpai adanya gejala Efek Samping Obat melaporkan kepada Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP)

Ditetapkan di : Banyuwangi Pada Tanggal : 03 Shafar 1439 H

23 Oktober 2017 M Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi

dr. Wahyu Irawan,M.M Direktur Utama

Referensi

Dokumen terkait

mengingatkan pasien untuk membuang sisa bungkus obat pada tong pembuangan rumah sakit. ISDN Simpan pada tempat

Menjelaskan efek samping obat Melakukan pemberian informasi pada pasien untuk obat tanpa resep dokter.

Lampiran Surat Keputusan Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Kediri Nomor. KEBI%AKAN PELAYANAN &ARMASI RUMAH SAKIT

Peresepan adalah proses pesanan atau permintaan obat tertulis dari dokter, dokter gigi, dan praktisi lainnya yang berijin kepada pengelola obat di Puskesmas Tigaraksa

Ruang Lingkup Pelayanan Farmasi Rumah Sakit Pendistribusian Penyimpanan Pengadaan Perencanaan Pemilihan Pengkajian resep Rekonsiliasi Obat Konseling Obat.. Monitoring Efek

Pada pasien yang tidak kompeten, yang lebih penting untuk dipikirkan oleh seorang dokter adalah bahwa tindakan permintaan DNR tidak dapat disetujui oleh dokter yang

Peresepan adalah proses pesanan atau permintaan obat tertulis dari dokter, dokter gigi, dan praktisi lainnya yang berijin kepada pengelola obat di Puskesmas Picung untuk menyediakan atau membuatkan obat dan menyerahkannya kepada

31 dokter yang merawat pasien Ketepatan penulisan diagnosis dengan singkatan Penulisan diagnosis pasien pada dokumen rekam medis menggunakan singkatan pada pasien rawat inap kasus