• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diafragma Wall Basemant

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Diafragma Wall Basemant"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

I.

I. PENDAHULUANPENDAHULUAN

Harga tanah yang makin tinggi, mendorong pemilik memanfaatkan semaksimal mungkin Harga tanah yang makin tinggi, mendorong pemilik memanfaatkan semaksimal mungkin lahannya. Bukan saja bangunan menjadi semakin tinggi, juga makin dirasakan perlunya lahannya. Bukan saja bangunan menjadi semakin tinggi, juga makin dirasakan perlunya  pembuatan

 pembuatan besmen besmen yang yang lebih lebih dalam dalam lagi. lagi. Saat Saat ini, ini, di di Jakarta Jakarta maksimal maksimal baru baru ada ada 3 3 lantailantai  besmen,

 besmen, tapi tapi konon konon ada ada bangunan bangunan yang yang merencanakan merencanakan untuk untuk membangun membangun 6 6 lantai lantai besmen.besmen. Semakin dalam besmen dituntut penggunaan teknologi ekskavasi yang lebih canggih, baik dari Semakin dalam besmen dituntut penggunaan teknologi ekskavasi yang lebih canggih, baik dari  pertimbangan kepraktisan pelaksanaan maupun cost-nya.

 pertimbangan kepraktisan pelaksanaan maupun cost-nya.

Penggunaan struktur penahan tanah (retaining wall) dengan sheet-piling merupakan Penggunaan struktur penahan tanah (retaining wall) dengan sheet-piling merupakan sistem yang biasa dijumpai. Retaining wall merupakan sebuah keharusan untuk pembangunan sistem yang biasa dijumpai. Retaining wall merupakan sebuah keharusan untuk pembangunan sebuah gedung bertingkat tinggi dengan jumlah basement lebih dari dua lapis. Munculnya galian sebuah gedung bertingkat tinggi dengan jumlah basement lebih dari dua lapis. Munculnya galian tanah basement akan membuat perubahan struktur tanah di sekitarnya. Resiko yang paling awal tanah basement akan membuat perubahan struktur tanah di sekitarnya. Resiko yang paling awal adalah runtuhnya tanah di sekitar lokasi galian, sehingga akan ada pergerakan gedung di adalah runtuhnya tanah di sekitar lokasi galian, sehingga akan ada pergerakan gedung di sekitarnya. Bahayanya adalah, gedung akan bergeser. Pergerakan gedung di sekitar lokasi galiian sekitarnya. Bahayanya adalah, gedung akan bergeser. Pergerakan gedung di sekitar lokasi galiian  biasanya

 biasanya terlihat terlihat dari dari adanya adanya retakan retakan tanah tanah di di sekitar sekitar gedung. gedung. Selanjutnya Selanjutnya akan akan diikuti diikuti dengandengan miringnya gedung tersebut.

miringnya gedung tersebut.

Kejadian seperti ini tentulah tidak dikehendaki. Untuk mengantisipasi faktor tersebut dan Kejadian seperti ini tentulah tidak dikehendaki. Untuk mengantisipasi faktor tersebut dan demi kelancaran pekerjaan pembangunan, maka dibuatlah dinding penahan tanah atau retaining demi kelancaran pekerjaan pembangunan, maka dibuatlah dinding penahan tanah atau retaining wall. Ada dua jenis dinding penahan tanah, salah satunya yaitu dinding diafragma.

(2)

II.

II. KONSTRUKSI DIAFRAGMA WALLKONSTRUKSI DIAFRAGMA WALL

2.1.

2.1. PENGERTIAN DIAFRAGMA WALLPENGERTIAN DIAFRAGMA WALL

Diafragma Wall sebenarnya adalah merupakan konstruksi dinding penahan tanah Diafragma Wall sebenarnya adalah merupakan konstruksi dinding penahan tanah (retaining wall ), yang membedakan dengan konvensional retaining wall adalah pada (retaining wall ), yang membedakan dengan konvensional retaining wall adalah pada metoda pelaksanaan dan kelebihan lain yang tidak diperoleh pada dinding penahan metoda pelaksanaan dan kelebihan lain yang tidak diperoleh pada dinding penahan tanah sistem konvensional. Namun demikian terdapat beberapa kelemahan yang harus tanah sistem konvensional. Namun demikian terdapat beberapa kelemahan yang harus diperhatikan sehingga tidak mengakibatkan terjadinya gangguan pada saat bangunan diperhatikan sehingga tidak mengakibatkan terjadinya gangguan pada saat bangunan dioperasikan.

dioperasikan.

Pada umumnya dinding penahan tanah dipakai untuk kontruksi bangunan dibawah Pada umumnya dinding penahan tanah dipakai untuk kontruksi bangunan dibawah  permukaan

 permukaan tanah tanah (basement (basement ) ) atau atau penahan penahan tebing tebing supaya supaya tidak tidak longsor longsor atas atas bebanbeban diatasnya dan mungkin bangunan khusus misalnya bunker.

diatasnya dan mungkin bangunan khusus misalnya bunker.

2.2.

2.2. METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI DIAFRAGMA WALLMETODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI DIAFRAGMA WALL A.

A. PERSIAPANPERSIAPAN 1.

1. Melakukan marking area yang akan dikerjakan diafragma wall.Melakukan marking area yang akan dikerjakan diafragma wall. 2.

2. Jika pada proses marking sudah benar dan mendapat persetujuan pihak yangJika pada proses marking sudah benar dan mendapat persetujuan pihak yang terkait pada proyek tersebut, maka dilanjutkan dengan membuat

terkait pada proyek tersebut, maka dilanjutkan dengan membuat guide  guide lineline,, yaitu mengali pada area marking dengan kedalam sekitar 100 cm dan yaitu mengali pada area marking dengan kedalam sekitar 100 cm dan memberikan perkuatan dengan

memberikan perkuatan dengan beton mutu rendah beton mutu rendah ( K125) ( K125) dengan tebal 20dengan tebal 20 –  –  30 cm.

30 cm. Guide line Guide line ini diperlukan agar ini diperlukan agar alat pengali alat pengali ( yaitu ( yaitu mesin Grab mesin Grab ) dapat) dapat mudah mengikuti alur galian yang ditentukan .Seperti pada gambar dibawah mudah mengikuti alur galian yang ditentukan .Seperti pada gambar dibawah ini.

(3)

3. Menentukan tempat pembuatan pembesian jika diafragma wall dilakukan metoda cor in situ, atau menentukan tempat perletakan untuk pemakaian  precast sistem.

4. Menentukan tempat pencampuran antara air dan bentonite. Campuran ini akan dialirkan pada galian diafragma wall untuk menghindari terjadinya keruntuhan galian.

5. Karena pekerjaan diaframa wall ini biasanya diikuti dengan pondasi yang memakai bor pile maka harus ditentukan juga urutan kerja antara pekerjaan diafragma wall dan bor pile agar selalu silmultan.

6. Peralatan terkait harus sudah tersedia dilapangan. Alat tersebut seperti : Mobil Crane minimal 2 buah ( 1 untuk pengalian diafragma wall dan 1 untuk bor  pile), Mesin Grab, Mesin Bor , Casing bor pile, pompa air untuk sirkulasi campuran bentonite , ultra sonic sonding dan peralatan lain yang terkait  pekerjaan pembesian.

(4)

B. PELAKSANAAN

Seperti halnya pekerjaan dinding penahan pada umumnya maka step  pertama adalah melakukan penggalian. Penggalian dengan mengunakan mesin grab.Lebar galian adalah setebal dinding diafragma antara 30 –  50 cm sedangkan  panjang galian adalah sekitar 5 meter. Kedalaman galian disesuaikan dengan

kebutuhan kedalaman basement.Misalnya untuk 2 basement maka kedalaman minimal adalah 10 meter.Bersamaan dengan melakukan pengalian ini harus juga dialirkan campuran air + bentonite secara continue, agar tidak terjadi keruntuhan.Sebelum rangkaian pembesian dimasukkan ( untuk cor insitu ) atau  panel precast masuk, harus dicek dulu dengan ultrasonic sonding untuk diketahui adanya keruntuhan atau tidak.Sistem pengalian dilakukan secara selang-seling. (misalnya galian diberi nomor 1,2, 3 dst maka pengalian pertama adalah nomor 1,  pengalian kedua adalah nomor 3 dst ).Hal ini dilakukan untuk meminimalkan

terjadinya keruntuhan pada dinding galian.

Pekerjaan rangkaian pembesian harus disiapkan secara simultan dengan  penggalian, sehingga saat galian sudah siap maka rangkaian pembesian juga sudah siap.( Karena galian hanya boleh dibiarkan maximal 2 x 24 ).Model rangkaian pembesian adalah double reinforced ( tulangan rangkap ) yang  berfungsi menahan gaya geser dan momen lentur pada diafragma wall.Rangkaian  pembesian ini pada sisi-sisi tebalnya diberi end plate yang berfungsi untuk  penyambung antar diafragma wall. Setelah pengecekan dengan ultrasonic dilakukan dan menunjukan tidak ada keruntuhan pada dinding galian maka melangkah pada tahap berikutnya yaitu: Untuk Cor In Situ.

- Memasukkan rangkaian pembesian.Rangkaian pembesian pada sisi yang nantinya menjadi dinding dalam basement dipasang juga terpal supaya tampilan

(5)

Untuk pemakaian dengan sistem precast maka setelah galian siap langsung memasukan panel Precast diafgrama wall. Gambar yang diambil dari Brasfond dibawah ini mungkin dapat memperjelas uraian diatas.

2.3. KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN DIAFRAGMA WALL

1. Biasanya pada lokasi bangunan yang sangat padat ( pemukiman atau gedung lainnya), kendala untuk membuat basement adalah pada pekerjaan galiannya.Dengan diafragma wall ini maka hal ini dapat diatasi, karena metoda penggalian dengan mesin grab ini tidak akan terlalu menggangu terhadap lingkungan sekitar ( dari kebisingan, kerawanan longsor, MAT yang turun dll ).Pekerjaan pemasangan sheet  pile dari baja yang berisik dan rawan terjadi pergeseran lapisan tanah tidak ada pada  pekerjaan difragma wall ini. Begitu juga dewatering, belum diperlukan pada  pelaksaanaan awal diafragma wall ini.Dengan demikian maka akan “ reliable”  pengunaan konstruksi diafragma wall untuk bangunan basement pada lingkungan

yang padat.

2. Memungkinkan tercapainya penyelesaian yang lebih cepat dibandingkan dengan metoda konvesional karena dapat diterapkan sistem “ top-down construction”, yaitu  pekerjaan struktur ke atas dan ke bawah bisa dilaksanakan secara bersamaan.

(6)

3. Tingkat untuk basement bisa lebih banyak, karena dengan diafragma wall ini kedalaman galian bisa lebih dalam dibandingkan dengan dinding penahan tanah konvensional.

2.4. KEKURANGAN MENGGUNAKAN DIAFRAGMA WALL

1. Biaya konstruksi “ relative “ lebih mahal dibandingkan metoda konvensional.

2. Untuk diafragma wall dengan metoda cor in situ, jika pekerjaan galian tidak hati-hati rawan terjadi ketidak rataan permukaan dinding sisi dalam.

3. Masih diperlukan pekerjaaninjection grouting pada sambungan untuk mengatasi kebocoran ( sistem cor in situ maupun precast ).

4. Tidak bisa diterapkan untuk pekerjaan dinding penahan tanah pada tepi tebing.

5. Diperlukan tim lapangan yang handal, untuk menjaga simultan dengan pekerjaan  pondasi bore pile dan pemasangan “king post” serta “ strutting” sebagai penahan diafragma wall ini saat dilakukan pengalian tanah untuk sisi dalam ( yang dipakai untuk basement).

(7)

III. KONSTRUKSI BASEMENT 3.1. PENGERTIAN BASEMENT

Basement adalah sebuah tingkat atau beberapa tingkat dari bangunan yang keseluruhan atau sebagian terletak di bawah tanah. Basement adalah ruang bawah tanah yang merupakan bagian dari bangunan gedung. Pada masa ini basement dibuat sebagai usaha untuk mengoptimalkan penggunaan lahan yang semakin padat dan mahal. Tidak semua bangunan memiliki basement. Untuk bangunan yang memilikinya, tungku perapian ( furnace), alat pemanas air (water heater ), pelataran mobil dan sistem pengaturan suhu dari satu rumah atau bangunan secara khas terlokasi pada tingkatan terbawah bangunan ini; sehingga menjadi suatu kenyamanan tersendiri untuk pemasangan dan aplikasi bagian seperti sistem distribusi elektrik, dan titik distribusi televisi kabel .

Basement memberikan satu kesempatan untuk ahli bangunan untuk mencapai suatu titik balik dalam pengeluarannya, dan customer/klien untuk mendapatkan keuntungan dengan membangun sebuah bagunan yang bernilai potensi lebih. Dalam  pelaksanaan konstruksi basement, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yakni

(8)

3.2.PEMILIHAN TIPE BASEMENT

Sebelum menentukan tipe basement seperti apa yang akan dibangun, terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan demi kesempurnaan bangunan. Faktor –   faktor tersebut antara lain:

 Ketinggian air tanah di lokasi

 Kemungkinan kontaminasi dari air tanah  Drainase alami

 Jenis tanah  Akses ke lokasi

3.3. TIPE-TIPE BASEMENT

1. Tipe A –  Perlindungan Tanki (Tanked Protection)

Struktur tidak memiliki perlindungan integral untuk melawan penetrasi air tanah dan selanjutnya sangat bergantung pada lapisan membran kedap air (waterproofing membrane). Sistem struktur anti air yang dipilih harus dapat mengatasi tekanan hidrostatik dari air bawah tanah, bersama dengan lapisan yang ada sesuai dengan  beban yang ditumpu.

(9)

Struktur tembok dapat menggunakan pratekan ( prestressed ), beton yang dikuatkan atau beton polos ataupun batuan keras dengan sistem struktural kedap air digabungkan secara eksternal selama konstruksi. Atau dapat diterapkan secara internal pada basement yang telah selesai dibangun. Tembok batuan keras (masonry)  bisa jadi memerlukan penambahan semen untuk menghasilkan permukaan yang

cukup bagus untuk mendapatkan sistem kedap air yang diharapkan. Bentuk konstruksi ini cukup mumpuni tergantung dari sistem kedap air (waterproofing ) yang dipakai, juga menghasilkan ketahanan yang tingggi dari pergerakan air tanah.

2. Tipe B –  Perlindungan integral terstruktrur (structurally integral protection)

Struktur membutuhkan pembangunan struktur itu sendiri untuk dibangun sebagai kulit integral tahan air. Pembangunan beton yang dikuatkan atau pratekan yang tanpa alternatif lain, struktur basement haruslah dirancang dengan parameter yang pasti dan ketat untuk memastikan ketahanan airnya. Kebanyakan rancangan harus dibangun sesuai dengan rekomendasi BS 8007 atau BS 8110, yang memberikan petunjuk kwalitas beton dan jarak antar tulangan. Tanpa adanya tambahan membran yang terpisah, bentuk konstruksi ini bisa dikatakan tidak sama tahannya terhadap air dan  pergerakan uap air seperti tipe A atau C.

(10)

3. Tipe C –  Perlindungan dengan pengaliran (drained protection)

Struktur menggabungkan rongga alir di antara struktur basement. Ketergantungan  permanen daripada rongga ini untuk mengumpulkan air tanah sepanjang palung

rembesan struktur dan langsung meneruskan air tersebut ke pembuangan air dari drainase atau dengan pemompaan.

(11)

Struktur tembok dapat menggunakan pratekan ( prestressed ), beton yang dikuatkan atau beton polos ataupun batuan keras. Tembok basement bagian luar harus memiliki ketahanan yang cukup terhadap air untuk memastikan rongga air yang ada hanya mendapatkan limpahan air yang terkontrol. Jika tidak, sistem rongga ini tidak dapat mengatasi air bah melewati batas limpahan air terutama selama kondisi badai/banjir.

Bentuk konstruksi ini cukup mumpuni tergantung dari sistem kedap air (waterproofing ) yang dipakai, juga menghasilkan ketahanan yang tingggi dari  pergerakan air tanah.

(12)

3.4. STRUKTUR BASEMENT

Struktur basement gedung bertingkat (tidak termasuk pondasi tiang), secara garis  besar terdiri dari :

1. Raft foundation

Raft foundation adalah salah satu tipe pondasi bangunan gedung bertingkat. Jika pada umumnya, pondasi gedung merupakan gabungan antara tiang  pancang/ bored pile, pile cap/ poor dan tie beam, maka sistem raft foundation menghilangkan pile cap dan tie beam diganti dengan sebuah  pondasi masif yang menyatukan seluruh pile cap atau bored pile yang ada. Jika disederhanakan, raft foundation bisa juga disebut sebagai pile cap raksasa, yang menggabungkan bukan hanya 4/5 tiang pancang/ bored pile, melainkan semua bagian gedung.

2. Kolom

Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang

(13)

merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996). SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil. Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh  bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh

manusia yang memastikan sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti  beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin.

Kolom berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh.

3. Dinding Basement

Dinding pada basement harus dirancang agar kokoh dan kuat, mengingat fungsinya sebagairetaining wall (penahan beban tekanan tanah dan air). Ketebalan dinding betonnya berkisar antara 15-17.5 cm, bergantung pada

(14)

4. Balok dan Plat Lantai

Balok dan pelat adalah elemen dari sebuah bangunan. Kegagalan dalam merencanakan dimensi dan penulangan dapat menyebabkan keruntuhan dari  bangunan tersebut.

(15)

3.5. METODE PELAKASANAAN KONSTRUKSI BASEMENT

3.5.1. SISTEM KONVENSIONAL (BOTTOM UP)

1. Pada sistem ini, struktur basement dilaksanakan setelah seluruh  pekerjaan galian selesai mencapai elevasi rencana

2. Raft foundation dicor dengan metode papan catur, kemudian basement diselesaikan dari bawah ke atas dengan menggunakan scafolding

3. Kolom, balok dan slab dicor di tempat

4. Pada sistem ini sering tidak menggunakan dewatering cut off, tetapi menggunakan dewatering sitem predrainage dan struktur dinding  penahan tanahnya menggunakan steel sheet pile

5. Bila pekerjaan dewatering akan diberhentikan, harus dihitung lebih dulu apakah struktur basement yang telah selesai dibangun mampu menahan tekanan ke atas dari air tanah yang ada, agar tidak terjadi deformasi dari bangunan yang dapat menyebabkan keretakan struktur 6. Kebocoran yang terjadi pada basement merupakan masalah yang tidak

mudah mengatasinya dan bahkan memakan biaya yang besar. Oleh karena itu proses pengecoran pada struktur basement harus dilakukan dengan teliti dalam mencegah terjadinya kebocoran pada dinding atau lantai.

(16)

7. Proses pengecoran, baik lantai maupun dinding basement biasanya tidak mungkin dilakukan sekaligus, disamping luas arealnya juga volumenya cukup besar. Disini masalah kebocoran yang sering timbul sebagai akibat tidak rapatnya hubungan antara permukaan beton tahap  pengecoran sebelumnya dengan permukaan beton tahap pengecoran  berikutnya

8. Semakin banyak tahapan pengecorannya, maka semakin banyak titik lemah terhadap kemungkinan kebocoran Untuk mengatasi kebocoran  biasanya dilakukan 2 hal yaitu :

1.Penggunaan water stop pada setiap sambungan tahap pengecoran 2.Menggunakan additive beton untuk waterprofing

9. Posisi water stop biasanya ada 2 jenis yaitu dipasang ditengah ketebalan beton (central), dan dipasang rata dengan permukaan beton (external)

10. Material water stop terbuat dari karet/pvc, dan mudah disambung di lapangan dengan menggunakan alat pemanas saja

11. Fungsi water stop ada 2 yaitu untuk expansion joint dan construction  joint

(17)

12. Sistem pemasangan water stop harus direncanakan dengan baik agar dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Water stop harus dipasang pada tempat yang direncanakan sebelum proses pengecoran  beton dimulai. Oleh karena itu, letak water stop harus dikaitkan dengan kemampuan pengecoran yang ada, dan selama proses pengecoran letak water stop harus senantiasa dijaga.

3.5.2. SISTEM TOP DOWN

1. Pada sistem ini, struktur basement dilaksanakan bersamaan dengan  pekerjaan galian basement

2. Urutan penyelesaian balok dan plat lantainya dimulai dari atas ke  bawah, dan selama proses pelaksanaan, struktur pelat dan balok tersebut didukung oleh tiang baja yang disebut King Post (yang dipasang bersamaan dengan bored pile)

3. Sedang dinding basement dicor lebih dulu dengan sistem diaphragm wall, dan sekaligus diaphragm wall tersebut berfungsi sebagai cut off dewatering.

4. Pada tahap 1 :

•Pengecoran bored pile dan pemasangan king post •Pengecoran diaphragm wall

(18)

5. Pada tahap 2 dan seterusnya :

•Lantai basement 1 dicor di atas tanah dengan lantai kerja

•Galian basement 1 dilaksanakan setelah lantai basement 1 cukup kekuatannya, menggunakan excavator kecil. Disediakan lubang lantai dan ramp sementara untuk pembuangan tanah galian

•Lantai basement 2 dicor di atas tanah dengan lantai kerja

•Galian basement 2 dilaksanakan seperti galian basement 1, begitu seterusnya

•Terakhir mengecor raft foundation •King post dicor sebagai kolom struktur

•Bila diperlukan, pada saat pelaksanaan basement dapat dimulai struktur atas, sesuai dengan kemampuan dari king post yang ada (sistem up & down)

(19)

6. Biasanya untuk penggalian basement digunakan alat khusus, seperti excavator ukuran kecil.

7. Bila jumlah lantai basement banyak, misal 5 lantai, maka untuk kelancaran pekerjaan, galian dilakukan langsung untuk 2 lantai sekaligus, sehingga space cukup tinggi untuk kebebasan proses  penggalian

8. Lantai yang dilalui, nantinya dilaksanakan dengan cara biasa, menggunakan scafolding (seperti pada sistem bottom up )

9. Bila struktur basement telah selesai, maka tiang king post di cor beton dan bila diperlukan dapat ditambah penulangannya.

10. Lubang-lubang lantai basement yang dipergunakan untuk  pengangkutan tanah galian ditutup kembali.

11. Pengecoran struktur atas dilaksanakan seperti biasa yaitu dari bawah ke atas

(20)

12. Salah satu detail king post dapat dijelaskan sbb :

•Lantai pertama dan sebagian kolom dicor, dengan memasang starter  bar untuk kolom

•Lantai berikutnya juga dicor dengan cara yang sama. Kemudian starter  bar kolom bawah dan atasnya disambung, kemudian kolom yang  bersangkutan dicor

(21)

IV. PENUTUP

1. KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa diafragma wall sangat penting fungsinya yaitu sebagai dinding penahan tanah sebelum membangun basement (bangunan bawah tanah) dengan tujuan untuk memperlancar pembangunan.

2. SARAN

Mengingat akan pentingnya diafragma wall dalam pembangunan basement maka saran kami, mengenai segala sesuatu cara maupun metode pelaksanaan yang terdapat pada makalah ini dapat di pelajari dan dipahami agar dalam  pelaksanaannya sesuai dengan tata cara yang berkaitan dengan ma kalah ini.

(22)

V. DAFTAR PUSTAKA  https://www.google.co.id/search?q=balok+dan+plat+lantai&newwindow.html%3B9 44%3B517  http://digilib.unimed.ac.id/UNIMED-Undergraduate-SK130680/28149  http://referensiproyek.blogspot.com/2012/06/basement.html  http://muharrikyanuar.wordpress.com/2009/07/14/kolom-beton-dalam-kontruksi-bangunan/  http://dmercy-corporation.blogspot.com/2012/02/apakah-itu-raft-foundation.html  http://tukangbata.blogspot.com/2013/01/pengertian-basement-dan-tipe-tipenya.html  http://teknologikonstruksi.blogspot.com/2012/03/konstruksi-diafragma-wall.html

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa penambahan gypsum, abu sekam padi, pupuk kandang, dan penggunaan secara bersamaan

keserjanaan di bidang umum apalagi sampai tingkat megister. Namun demikian kami akan tetap berupaya untuk memenuhi standar yang telah di tetapkan dengan cara seegera mungkin

Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa ada relevansi yang jelas terkait pelaksanaan wakaf tunai dengan pemberdayaan pendidikan pesantren dalam konteks

Dengan kata lain pengintegrasian (penyatuan) terhadap semua komponen dalam perusahaan.Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu entitas adalah:

1) Penentuan siapa yang akan diwawancarai. 2) Penentuan topik atau tema sebagai wujud bahan wawancara. 3) Membuat dan mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan dipakai.

Namun secara keseluruhan sikap mahasiswa TTUC Ban dung ini terhadap materi bidang studi MPT mempunyai hubung an positif yang sangat signifikan dengan prestasi belajar nya^

Dapat ditujukkan misalnya sebagian besar kontraktor logging ijin pemanfaatan hasil hutan kayu (IPHHK) yang diberikan kepada masyarakat lokal diantaranya adalah

TARGET OPERASI JALAN TOL DAN LANJUTAN TAHUN 2017 TRANS SUMATERA TRANS JAWA 1. Dan lain-lain OPERASIONAL LANJUTAN