Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro - Semarang 3)

Teks penuh

(1)

KAJIAN DAYA DUKUNG KAPASITAS PERAIRAN DAN STATUS KEBERLANJUTAN DIMENSI EKOLOGI PADA KAWASAN SUB ZONA PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT SISTEM KARAMBA JARING APUNG

(KJA) DI PERAIRAN TELUK EKAS KABUPATEN LOMBOK TIMUR-NTB

Cocon 1),) Muh. Yusuf2), Sutrisno Anggoro3

1)Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Diponegoro - Semarang 2) Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas

Diponegoro - Semarang

3) Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai, Universitas Diponegoro - Semarang

ABSTRAK

Kawasan perairan Teluk Ekas Kabupaten Lombok Timur telah ditetapkan sebagai salah satu sentral pengembangan budidaya laut nasional sebagaimana yang diatur dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir, Laut dan Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi NTB. Kegiatan budidaya laut di perairan Teluk Ekas telah secara langsung memberikan kontribusi cukup besar terhadap capaian produksi perikanan budidaya secara nasional. Fenomena penurunan kualitas lingkungan perairan baik yang disebabkan oleh faktor internal yaitu aktivitas budidaya laut yang tak terkendali, maupun faktor eksternal yang berkaitan dengan kegiatan pemanfaatan ruang lainnya dan aktivitas di inland (daratan) dikhawatirkan justru akan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan kegiatan usaha budidaya laut maupun ekosistem perairan secara umum. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung daya dukung melalui pendekatan kapasitas perairan dan menganalisis status keberlanjutan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA ditinjau dari dimensi ekologi.

Penentuan lokasi penelitian mengacu pada Rencana Zonasi Wilayah Pesisir, Laut dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi NTB, dimana lokasi penelitian difokuskan di Dusun Ekas, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini bertipe deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan titik sampling kualitas air dilakukan secara purposive sampling pada 12 (dua belas) titik stasiun yang mewakili keseluruhan kawasan sub zona budidaya laut. Analisis kesesuaian lahan perairan dilakukan melalui pendekatan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan perangkat lunak ArcGIS yang selanjutnya digunakan dalam menghitung daya dukung kapasitas perairan untuk pengembangan budidaya laut sistem KJA. Pengukuran status keberlanjutan dilakukan melalui pendekatan dengan metode Multidimensional Scalling dengan teknik ordinasi Rapfish untuk melakukan analisa status keberlanjutan. Sedangkan penentuan faktor/atribut sensitif dimensi ekologi dilakukan melalui analisis laverage dan pareto.

Hasil analisis kesesuaian perairan menunjukan bahwa secara umum karakteristik perairan Teluk Ekas telah memenuhi persyaratan bioteknis untuk budidaya laut. Total luas area untuk budidaya sistem KJA yang bisa dimanfaatkan pada sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA adalah seluas 58,44 ha atau sekitar 20 % dari

(2)

total luas perairan yang sesuai pada kawasan sub zona pengembangan budidaya laut yang mencapai 292,2 ha. Berdasarkan nilai tersebut, didapatkan jumlah kapasitas unit KJA yang mampu ditampung pada kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA sebanyak 16.222 unit KJA atau rata-rata 278 unit KJA per ha, dengan potensi volume produksi optimum untuk budidaya ikan kerapu sebanyak 8.111 ton/siklus dan sebanyak 2.433 ton/siklus untuk budidaya lobster. Hasil analisis status keberlanjutan dimensi ekologi menyimpulkan bahwa kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sisitem KJA berada pada kategori “kurang berkelanjutan” dengan nilai indeks keberlanjutan sebesar 44,62. Sedangkan faktor-faktor sensitif yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi ekologi masing-masing berturut-turut yaitu (a) Tingkat daya dukung kapasitas perairan; (b) Penggunaan sumber benih; (c) Penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologis (OIKB); (d) Jenis dan ketelusuran pakan; (e) Tingkat efesiensi pakan atau FCR (Food Conversion ratio); (f) Pemenuhan sertifikasi lingkungan; (g) Ketelusuran benih; (h) Ketersediaan benih berkualitas; (i) Perubahan iklim (climate change); dan (j) Kejadian hama penyakit ikan (HPI) dan phatogen transfer.

Sebagai upaya dalam memperbaiki kinerja pengelolaan kawasan budidaya laut secara berkelanjutan, maka diperlukan strategi konkrit khususnya perbaikan kinerja terhadap faktor-faktor sensitif dimensi ekologi.

Kata Kunci : budidaya laut, daya duukung, karamba jaring apung, kesesuaian perairan, status keberlanjutan.

Pendahuluan

Pengembangan budidaya laut di satu sisi menjadi sangat penting sebagai bagian dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat yang kian meningkat dari tahun ke tahun, namun disisi lain harus dihadapkan pada suatu kondisi, dimana telah terjadi degradasi kualitas sumberdaya alam dan lingkungan yang meningkat secara signifikan. Ancaman terhadap ekosistem perairan menjadi sangat mengkhawatirkan manakala tidak ada antisipasi dini dalam memperbaiki pola pengelolaan yang saat ini dilakukan. Beberapa potensi ancaman tersebut yaitu berkaitan dengan land conversion, biodiversity, emisi, limbah, konflik pemanfaatan ruang, potensi cemaran dari inland, dan potensi acaman dari aktivitas sosial yang bersifat detruktif. Pengembangan budidaya laut di KJA yang tidak memperhatikan kapasitas daya dukung lingkungan akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan perairan hingga kerusakan ekosistem perairan di sekitarnya.

Dari pertimbangan di atas, maka strategi pengelolaan budidaya laut harus dilakukan secara komprehensif, dan terpadu dalam kerangka prinsip pembangunan berkelanjutan. Prinsip berkelanjutan harus diarahkan melalui pola pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan yang dapat menyeimbangkan pemanfaatan sumberdaya ekonomi yang ada dengan tidak mengabaikan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Perencanaan dan pengembangan budidaya laut berkelanjutan mensyaratkan informasi yang komfrehensif didukung oleh data kondisi biofisik perairan yang sesuai dengan daya dukung perairan, kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar,

(3)

ketersediaan sarana dan prasarana, serta akses pasar untuk menopang produksi komoditas budidaya secara optimal (Khoram et al,.2006).

Implimentasi pengelolaan budidaya laut keberlanjutan ialah kebijakan pemanfaatan yang berbasis daya dukung perairan dan didasarkan pada aspek keterpaduan wilayah dan dimensi. Keterpaduan antara wilayah perairan teluk dengan daerah daratan (upland), antara stakeholder dalam sistem tersebut dan antara berbagai dimensi seperti ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan harus menjadi dasar dalam pengelolaan. Dengan demikian melalui desain pengelolaan yang dibangun atas dasar landasan tersebut maka pengelolaan budidaya laut diyakini dapat memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakatnya secara berkelanjutan.

Metode Penelitian

Penelitian ini bertipe deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada Kawasan perairan Teluk Ekas yang secara administratif difokuskan di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pertimbangan penentuan lokasi penelitian yaitu mengacu pada Rencana Zonasi Wilayah Pesisir, Laut dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Nusa Tenggara Barat dan masterplan minapolitan perikanan budidaya Kabupaten Lombok Timur.

Pengukuran kesesuaian perairan dilakukan untuk melakukan pendugaan terhadap daya dukung melalui pendekatan kapsitas perairan. Penentuan titik sampling dilakukan berdasarkan sistem informasi geografis (SIG). Titik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling (Nasution, 2001), yang mengacu pada fisiografi lokasi, interpretasi peta batimetri, peta sebaran terumbu karang dan lamun, dan kondisi eksisting budidaya laut sehingga sedapat mungkin bisa mewakili atau menggambarkan keadaan perairan tersebut. Koordinat pengambilan sampel dicatat dengan bantuan Global Positioning System (GPS) tipe Garmin 76csx dengan format UTM (Universal Transverse Mercator). Sampling dilakukan pada 12 (dua belas) stasiun pengamatan yang diharapkan dapat mewakili seluruh karakteristik kawasan perairan pada sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA (Tabel 1).

Tabel 4. Lokasi titik pengambilan sampel

No Lokasi Sandi

Lokasi Jenis Sampel Koordinat

1 Ekas Buana STA-01 Air Laut 50 L 0439517 UTM 9018385 2 Ekas Buana STA- 02 Air Laut 50 L 0439238 UTM 9018196 3 Ekas Buana STA-03 Air Laut 50 L 0439424 UTM 9019290 4 Ekas Buana STA-04 Air Laut 50 L 0439406 UTM 9019578 5 Ekas Buana STA-05 Air Laut 50 L 0439587 UTM 9020166 6 Ekas Buana STA-06 Air Laut 50 L 0439463 UTM 9017628

(4)

7 Ekas Buana STA-07 Air Laut 50 L 0439088 UTM 9017586 8 Ekas Buana STA-08 Air Laut 50 L 0438859 UTM 9018057 9 Ekas Buana STA-09 Air Laut 50 L 0438836 UTM 9018942 10 Ekas Buana STA-10 Air Laut 50 L 0440335 UTM 9020470 11 Ekas Buana STA-11 Air Laut 50 L 0440356 UTM 9020198 12 Ekas Buana STA-12 Air Laut 50 L 0440039 UTM 9019437

Secara lebih rinci jenis data, sumber data primer dan sekunder yang dikumpulkan untuk analisis kesesuaian perairan disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 2. Parameter, alat, dan metode pengukuran fisika kimia perairan

No Parameter Satuan Alat Metode

Parameter Fisika

1 Kedalaman meter Meteran In-situ

2 Kecerahan meter Secci disk In-situ

3 Kekeruhan NTU multiparameter water quality type Horiba/AP 200

In-situ

4 Kecepatan Arus cm/detik curren meter In-situ

5 Suhu oC Multiparameter water

quality type Horiba/AP 200

In-situ

6 Substrat Dasar - - In-situ

Parameter Kimia 1 Oksigen terlarut

(DO)

Ppm multiparameter water

quality type Horiba/AP 200

In-situ

2 Salinitas Ppt multiparameter water quality type Horiba/AP 200

In-situ

3 pH - multiparameter water

quality type Horiba/AP 200

In-situ

4 Nitrat mg/l water Quality Analysis type Photo meter PF-12

Analisa laboratorium

5 Nitrit mg/l water Quality Analysis type Photo meter PF-12

Analisa laboratorium

6 Posfat mg/l water Quality Analysis type Photo meter PF-12

Analisa laboratorium

(5)

type Photo meter PF-12

8 BOD mg/l water Quality Analysis type Photo meter PF-12

Analisa laboratorium

Tabel 3. Jenis data, sumber data dan metode pengumpulan data sekunder

No Jenis Data Sumber Data Metode

Pengumpulan Data 1 Peta Bathimeteri Dishidros TNI AL Survey institusional 2 Peta Zonasi Wilayah Pesisir,

laut dan pulau-pulau kecil

Dinas Kelautan dan Perikanan NTB

Studi dokumen

3 Peta adminsitrasi BPS Kabupaten

Lombok Timur

Survey institusional

4 Peta sebaran substrat dasar perairan

Dinas Kelautan dan Perikanan NTB

Survey institusional

5 Peta sebaran arus Dinas Kelautan dan Perikanan NTB

Survey institusional

5 Peta sebaran eksosistem Dinas Kelautan dan Perikanan NTB

Survey institusional

Penentuan kesesuaian perairan untuk kegiatan budidaya laut sistem KJA di kawasan sub zona pengembangan budidaya laut Teluk ekas dilakukan dengan analisis pembobotan spasial SIG (Sistim Informasi Geografis), yang menggunakan alat bantu (tool) perangkat lunak (software) Sistem Informasi Geospasial (SIG) versi ArcGIS 9.3. Guna memperoleh kelas kesesuaian dilakukan dengan penyusunan matrik kesesuaian perairan melalui skoring dan pembobotan. Analisis spasial dilakukan dengan melakukan interpolasi terhadap titik-titik stasiun pengamatan yang merupakan suatu metode pengelolaan data titik menjadi area (polygon). Hasil interpolasi dari masing-masing data kualitas air dan data sekunder disusun menjadi sebuah peta tematik. Luasan perairan yang sesuai / layak bagi kegiatan budidaya laut dengan sistem keramba jaring apung yang dihasilkan setelah seluruh data parameter utama pembobotan dalam bentuk peta tematik dilakukan overlay (tumpang susun).

Matrik kesesuaian perairan disusun melalui kajian pustaka. Variabel yang dianggap penting dan dominan menjadi dasar pertimbangan pemberian bobot yang lebih besar. Penentuan skor didasarkan pada rentang nilai hasil pengukuran lapangan terhadap 14 (empat belas) parameter kemampuan perairan (site capability) dan 5 (lima) parameter kesesuaian perairan (site suitability). Kemampuan perairan (site capability) merupakan segala parameter yang terkait dengan parameter fisika kimia perairan, sedangkan kesesuaian lokasi (site suitability) adalah aspek ekstrinsik dari lingkungan sekitar perairan. Untuk memperoleh nilai kelayakan atau kesesuaian setiap parameter, maka nilai bobot dikalikan dengan skor untuk masing-masing parameter pada setiap stasiun yang diperoleh dari hasil pengukuran lapangan.

Interval kelas kesesuaian perairan diperoleh berdasarkan metode Equal Interval, yaitu selang tiap-tiap kelas diperoleh dari jumlah perkalian nilai maksimum tiap bobot dan skor dikurangi jumlah perkalian nilai minimumnya yang kemudian dibagi dengan jumlah kelas (Prahasta, 2013). Kelas kesesuaian dibagi menjadi tiga kelas, yaitu sangat sesuai (S1), sesuai (S2) dan tidak sesuai (N).

(6)

Penentuan skor masing-masing kelas kesesuaian sebagai berikut : Kelas Sangat Sesuai (S1) = >(∑maks – x)

Kelas Sesuai (S2) = (∑maks – 2x) – (∑maks – x) Kelas Tidak Sesuai (N) = < (∑maks – 2x)

Parameter yang menjadi acuan dalam penentuan daya dukung berdasarkan kapasitas perairan adalah luas perairan yang sangat sesuai dan sesuai (S dan S1) untuk budidaya laut dengan sistem keramba jaring apung berdasarkan analisis SIG, kapasitas perairan, luas unit budidaya dan daya dukung perairan untuk budidaya (Rauf, 2007). Proses dalam penentuan analisis daya dukung berdasarkan pendekatan kapasitas perairan untuk budidaya laut dengan sistem keramba jaring apung mengacu pada penelitian sebelumnya.

Dalam menentukan daya dukung budidaya laut dengan sistem keramba jaring apung berdasarkan kapasitas perairan ditentukan berdasarkan luas perairan yang sesuai untuk budidaya laut dengan sistem keramba jaring apung dikalikan dengan persentase kapasitas perairan. Persentase kapasitas perairan yang disarankan adalah 20% dari luasan perairan yang optimal yang dapat digunakan sebagai daerah penyangga (DKP, 2002a). Daya dukung kapasitas perairan merupakan hasil perkalian antara luas perairan yang sesuai denganpersentase kapsitas perairan.

Analisis keberlanjutan dilakukan untuk mengetahui nilai indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA di wilayah penelitian. Penggunaan Rap-Fish untuk mengevaluasi sustainability atau keberlanjutan dari perikanan secara multidisipliner didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur) dengan menggunakan pendekatan Multidimensional Scalling (MDS). Adapun pendekatan ini merupakan modifikasi dari program Rap-Fish (Rapid Appraissal for Fisheries) yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Columbia (Kavanagh and Pitcher, 2004; Pitcher and Preikshot, 2001), menjadi pendekatan Rap-Insus-Mariculture (Rapid Appraissal – Index Sustainability of Mariculture).

Indikator keberlanjutan sistem yang dikaji pada setiap dimensi diturunkan dari gabungan antara konsep perikanan budidaya yang bertanggungjawab dan berkelanjutan yang diperoleh dari berbagai sumber, antara lain: FAO-Code of Conduct for Fisheries Responsibility (1997); GFCM-Indicator to Sustainable Development Finfish Aquaculture (FAO 2011), IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resource), Indo-GAP (Indonesian Good Aquaculture Practices), Pedoman Zonasi Kawasan Budidaya Laut, Juknis Budidaya Laut serta mengacu hasil review dari beberapa literatur untuk masing-masing dimensi keberlanjutan yang relevan dengan penelitian ini (Alder et al., 2000; Marzuki, 2013; Pitcher and Preikshot, 2001; Sitorus, 2013; Tesfamichael and Pitcher, 2006).

Nilai indeks dan status keberlanjutan dikelompokkan ke dalam 4 kategori, seperti ditunjukkan sebagaimana pada Tabel 4.

(7)

Tabel 4. Nilai indeks dan kategori keberlanjutan

Nilai Indeks Kategori Berkelanjutan

00,00 – 25,00 Buruk; Tidak Berkelanjutan

25,01 – 50,00 Kurang; Kurang Berkelanjutan

50,01 – 75,00 Cukup; Cukup Berkelanjutan

75,01 – 100,00 Baik; Sangat Berkelanjutan

Hasil dan Pembahasan

1) Pengukuran parameter site capability (fisika-fimia)

Hasil pengamatan terhadap parameter site capability (fisika,kimia) pada kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA di perairan Teluk Ekas sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rekapitulasi rerata nilai parameter kesesuaian perairan (site capability)

Arus

Keterangan : P = Pasir ; PB = Pasir Berlumpur, PK = Pecahan Karang

a. Kecepatan arus

Hasil pengukuran kecepatan arus pada 12 (dua belas) titik sampling dengan menggunakan alat pengukur arus (floating drought) menunjukkan bahwa kecepatan arus

(8)

perairan pada lokasi penelitian berkisar antara 19,00 – 22,00 cm/dtk dengan rata-rata mencapai 21,00 cm/dtk ± 0,981.

Menurut Rachmansyah (2004) bahwa kecapatan arus untuk pengembangan budidaya laut di KJA berkisar antara 20,00 – 40,00 cm/dtk. Sedangkan menurut Gufron (2005) dan DKP (2002) menyebutkan bahwa kecepatan arus yanag layak untuk budidaya ikan kerapu di KJA berkisar antara 20,00 – 50,00 cm/detik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kecepatan arus di kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA memiliki kisaran nilai yang layak untuk mendukung pengembangan budidaya laut.

b. Kecerahan

Berdasarkan hasil pengukuran lapangan di lokasi penelitian menunjukkan bahwa kecerahan perairan berkisar antara 7,3 meter – 7,8 meter, dengan rata-rata mencapai 7,5 meter ± 0,187.

Berdasarkan nilai parameter kesesuaian kualitas perairan, menyebutkan bahwa kisaran kecerahan perairan yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan biota laut

yaitu ≥ 5 meter (Buitrago et al, 2005). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai Gambar 1. Grafik sebaran kecepatan arus di lokasi penelitian

(9)

parameter kecerahan perairan pada sub zona budidaya laut di KJA berada pada kisaran layak untuk pertumbuhan kultivan yang dibudidayakan.

c. Kekeruhan (Turbiditas)

Hasil pengukuran selama penelitian pada 12 (dua belas) titik sampling menunjukkan bahwa tingkat kekeruhan kawasan perairan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA berkisar antara 2,38 – 2,46 NTU, dengan rata-rata mencapai 2,40 NTU ± 0,032.

Merujuk pada nilai parameter kesesuaian perairan untuk budidaya laut yang dikeluarkan oleh Kepmen LH No. 51 tahun 2004, dapat disimpulkan bahwa kisaran nilai kekeruhan pada lokasi penelitian masih berada pada kisaran optimun untuk

kegiatan budidaya laut yaitu ≤5 NTU. d. Suhu

Hasil pengukuran suhu pada lokasi sampling menunjukkan bahwa suhu perairan berada pada kisaran 31,97oC – 32,42oC, dengan rata-rata mencapai 32,24oC±0,124.

Gambar 3. Grafik sebaran kekeruhan di lokasi penelitian

(10)

Berdasarkan nilai parameter kesesuaian parameter kualitas air menyebutkan bahwa kisaran suhu optimal untuk mendukung kehidupan budidaya laut berada pada kisaran 28oC – 30oC dengan batas toleransi antara 31oC – 33oC (KKP, 2013b). Sedangkan untuk pertumbuhan optimal budidaya ikan kerapu di KJA membutuhkan suhu berkisar 28oC – 30ºC (DKP, 2003). Dari hasil pengukuran di atas, dapat disimpulkan bahwa suhu perairan pada lokasi penelitian walaupun belum dikatakan optimal bagi pertumbuhan ikan, namun masih berada pada batas nilai toleransi untuk kehidupan kultivan yang dibudidayakan.

e. Derajat keasaman (pH)

Hasil pengukuran di lokasi penelitian menunjukkan bahwa nilah pH perairan berkisar antara 7,38 – 8,24, dengan rata-rata sebesar 7,97 ± 0,297.

Merujuk pada nilai baku mutu pH yang ditetapkan dalam Kepmen LH No. 51 tahun 2004 dan SNI 01-6487.4-2014, maka dapat disimpulkan bahwa nilai pH di perairan sub zona budidaya laut di KJA masih berada dalam kisaran yang sesuai untuk kegiatan budidaya laut. Menurut Romomihtarto (2003) menyebutkkan bahwa kisaran pH bagi pertumbuhan optimal ikan kerapu di KJA berkisar antara 6,5-8,5.

f. Oksigen terlarut (DO)

Hasil pengukuran oksigen terlarut pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi oksigen terlarut dalam air berkisar antara 6,59 ppm – 7,03 ppm, dengan angka rata-rata mencapai 6,72 ppm ± 0,134.

Gambar 5. Grafik sebaran pH di lokasi penelitian

(11)

Jika merujuk pada nilai baku mutu oksigen terlarut untuk kehidupan optiimum biota laut yang ditetapkan dalam Kepmen LH No. 51 tahun 2004, maka dapat disimpulkan kisaran nilai oksigen terlarut pada lokasi penelitian masih dalam kisaran yang layak untuk mendukung pengembangan budidaya laut di KJA, yaitu masih pada

kisaran ≥ 5 ppm. Sedangkan menurut Wibisono (2005) menyatakan bahwa

pertumbuhan optimal budidaya ikan kerapu di KJA memerlukan kadar oksigen terlarut > 6 ppm.

g. Nitrit

Hasil pengukuran di lokasi penelitian menunjukkan bahwa kadar nitrit berada pada kisaran 0,011 mg/l – 0,015 mg/l dengan rata-rata sebesar 0,012 mg/l ± 0,002.

Berdasarkan nilai baku mutu parameter nitrit untuk kehidupan biota laut, menyatakan bahwa kisaran yang diperbolehkan adalah <0,1 mg/l. Dengan begitu konsentrasi nitrit pada kawasan pengembangan zona budidaya laut sistem KJA berada pada batas toleransi yang diperbolehkan.

h. Nitrat

Hasil pengukuran kadar nitrat pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa kadar nitrat berada pada kisaran 0,115 mg/l – 0,153 mg/l, dengan kadar rata-rata mencapai 0,142 mg/l ± 0,016.

Gambar 7. Grafik sebaran nitrit di lokasi penelitian

(12)

Hasil ini juga tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan Krisanti (2006) di perairan sekitar Batu Nampar Teluk Ekas, dimana kisaran kadar nitrat pada lokasi sebesar 0,522 mg/l – 0,936 mg/l. Tingkat kesuburan perairan Teluk Ekas berdasarkan kadar nitrat yang mengacu pada kriteria yang ditetapkan oleh Hakanson and Bryhn (2008) berada pada kisaran <1,1 mg/l sehingga dikategorikan dalam perairan oligotrofik. Merujuk pada nilai baku mutu optimal kadar nitrat untuk kehidupan laut sebagaimana dalam Kepmen LH no. 51 tahun 2004, dapat disimpulkan bahwa kadar nitrat pada perairan kawasan pengembangan zona budidaya laut melebihi baku mutu

optimal yang seharusnya sebesar ≤ 0,008 mg/l i. Amonia

Hasil analisa laboratorium terhadap parameter amonia total (NH3-N) di lokasi penelitian menunjukkan bahwa kadar amonia berkisar antara 0,040 mg/l – 0,045 mg/l dengan rata-rata sebesar 0,042 mg/l ± 0,001.

Konsentrasi amonia-nitrogen di perairan Teluk Ekas masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan oleh Kepmen LH No 51 Tahun 2004 yaitu sebesar <0,3 mg/l.

j. Ortofosfat

Hasil pengukuran di lokasi penelitian terhadap konsentrasi fosfat menunjukkan bahwa konsentrasi fosfat berada pada kisaran 0,230 mg/l – 0,470 mg/l dengan kadar rata-rata sebesar 0,400 mg/l ± 0,065. Nilai ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Ramdhan (2015), dimana konsentrasi fosfat pada perairan Teluk Ekas mencapai rata-rata 0,41 mg/l. Sebaran nilai fosfat di perairan Teluk Ekas yaitu pada kawasan sub zona pengembangan budidaya laut di KJA menunjukkan nilai yang masih

sesuai untuk budidaya laut yaitu ≤0,8 mg/l, meskipun nilai ini di atas nilai optimum yang diharapkan sesuai baku mutu untuk biota laut dalam Kepmen LH No 51 tahun

2004 yaitu ≤0,015 mg/l.

(13)

k. Biologycal Oxigen Demand (BOD)

Konsentrasi parameter BOD di lokasi penelitian berkisar antara 0,953 mg/l – 1,040 mg/l, dengan rata-rata sebesar 0,987 mg/l ± 0,023. Merujuk pada baku mutu air laut untuk biota laut yang tertuang dalam Kepmen LH No. 51 tahun 2004, maka nilai konsentrasi BOD pada kawasan pengembangan zona budidaya laut di KJA masih berada di bawah Baku Mutu yang ditetapkan dalam peraturan tersebut yaitu < 20 mg/l.

Parameter BOD menggambarkan keberadaan bahan organik di suatu perairan, termasuk menjadi indikator pencemaran organik pada suatu perairan. Semakin tinggi nilai BOD memberikan gambaran semakin besarnya bahan organik yang akan terdekomposisi dengan menggunakan jumlah oksigen di perairan.

2) Kesesuaian perairan dan daya dukung kapasitas perairan

Hasil analisis secara spasial terhadap kesesuaian lahan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut dengan sistem KJA dibagi menjadi tiga tingkatan kelayakan yaitu sangat sesuai (S1), sesuai (S2), dan tidak sesuai (N). Berdasarkan perhitungan menggunakan metode SIG diperoleh total luas lahan perairan kawasan sub

Gambar 10. Grafik sebaran ortofosfat di lokasi penelitian

(14)

zona pengembangan budidaya laut sistem KJA seluas 350,78 ha. Dari luas tersebut kemudian dilakukan penghitungan luas lahan berdasarkan tingkat kesesuaian perairan masing-masing untuk kategori tidak sesuai (N) seluas 58,59 ha; kategori sesuai (S1) seluas 272,58 ha; dan kategori sangat sesuai (S1) seluas 19,62 ha. Adapun sebaran tingkat kesesuaian perairan pada masing-masing stasiun pengamatan dapat di lihat pada Gambar 12 dan Tabel 6.

Tabel 6. Tingkat kelayakan/kesesuaian pada masing-masing stasiun pengamatan Stasiun Pengamatan Tingkat Kelayakan/Kesesuaiann

Tidak Sesuai (N) Sesuai (S1) Sangat Sesuai (S2)

Stasiun 1 ** Stasiun 2 * Stasiun 3 ** Stasiun 4 ** Stasiun 5 ** Stasiun 6 ** Stasiun 7 *** Stasiun 8 *** Stasiun 9 * Stasiun 10 ** Stasiun 11 * Stasiun 12 ** Keterangan : (*) = N; (**) = S1; (***) = S2

(15)

Kebutuhan ruang untuk kegiatan budidaya laut diperoleh melalui analisa terhadap kesesuaian lokasi budidaya berdasarkan analisis Geospatial Information System (GIS). Hasil analisis GIS pada perairan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sisitem menghasilkan luasan perairan yang sesuai untuk budidaya seluas 292,2 ha (kategori sesuai dan sangat sesuai) atau 83,3% dari keseluruhan total luas perairan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA yang mencapai 350,78 ha. Jika mengacu pada rekomendasi pemanfaatan lahan sebesar 20% dari luasan yang sesuai (DKP, 2002), maka luas lahan budidaya optimum yang dapat dikembangkan pada sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA adalah seluas 58,44 ha.

Berdasarkan analisa daya dukung dengan pendekatan kapasitas perairan dapat dijelaskan bahwa potensi efektif luas lahan yang direkomendasikan untuk pengembangan KJA seluas 58,44 ha. Berdasarkan pengukuran di lapangan luas lahan KJA per petak 9 m2 (3 x 3 meter) , atau dengan kata lain luas lahan per unit KJA (4 petak) seluas 36 m2, maka didapatkan jumlah unit KJA yang dapat ditampung dan direkomendasikan pada sub zona pengembangan budidaya laut khususnya untuk komoditas ikan kerapu dan lobster adalah sebanyak 16.222 unit KJA atau 64.888 petak KJA, dengan kapsitas per ha sebanyak 278 unit KJA. Adapun total potensi volume produksi optimum sebanyak 8.111 ton per siklus (jika semua dibudidayakan ikan kerapu hybrid), dan 2.433 ton per siklus (jika semua dibudidayakan untuk komoditas lobster). 3) Indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi

Hasil analisis multidimension scalling dengan teknik ordinasi Rapfish untuk status keberlanjutan pada dimensi ekologi terhadap 17 (tujuh belas) atribut yang berpengaruh menunjukkan nilai indeks keberlanjutan sebesar “44,62”. Berdasarkan kategori nilai indeks status keberlanjutan, menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada kisaran nilai 25,00 – 50,00 yang menyimpulkan bahwa status keberlanjutan dimensi ekologi memiliki kategori “Kurang Berkelanjutan”. Hasil analisis keberlanjutan pengelolaan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA disajikan sebagaimana Gambar 13..

Gambar 13. Nilai indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi pengelolaan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA di Teluk Ekas

(16)

Nilai indeks tersebut menggambarkan bahwa pengelolaan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA di perairan Teluk Ekas kurang optimal dalam memenuhi syarat secara ekologi. Beberapa pertimbangan kepentingan ekologi diduga belum menjadi fokus perhatian dalam pengelolaan budidaya, disamping tentunya adanya faktor eksternal yaitu faktor alami dan dampak dari kegiatan di luar on farm yang kurang terkendali, sehingga berpotensi menggangu terhadap kegiatan budidaya, maupun pada ekosistem secara umum. Hal ini berkaitan dengan karaketeristik wilayah pesisir dan laut yang cenderung tidak bisa terlepas dari pengaruh multi sektor dalam pemanfaatan ruang yang ada.

Analisis untuk menghasilkan atribut-atribut sensistif status keberlanjutan pada dimensi ekologi dilakukan dengan metode Analisis leverage (pengungkit) terhadap 17 (tujuh belas) atribut. Atribut sensitif dimensi ekologi merupakan faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh signifikan terhadap status keberlanjutan dimensi ekologi pada pengelolaan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA di perairan Teluk Ekas. Disamping itu, guna menentukan atribut pengungkit yang paling sensitif pada setiap dimensi dilakukan analisis pareto, yaitu mengurutkan atribut dengan nilai RMS (Root Mean Square) terbesar hingga terkecil dan dilakukan pembobotan dalam bentuk persentase dan diakumulasikan.

Hasil analisis atribut pengungkit (leverage attributes) untuk dimensi ekologi terlihat dalam Gambar 14.

Sedangkan hasil analisis pareto terhadap atribut-atribut dalam dimensi ekologi, menunjukkan bahwa terdapat 10 atribut sensitif yang berpengaruh terhadap indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi, masing-masing yaitu : (a) Tingkat daya dukung kapsitas perairan dengan nilai 3,91; (b) Penggunaan sumber benih dengan nilai indeks 3,91; (c) Penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologis (OIKB) dengan nilai indeks 3,76; (d) Jenis dan ketelusuran pakan dengan nilai indeks 3,21; (e) Tingkat efesiensi pakan atau FCR (Food Conversion ratio) dengan nilai indeks 3,21; (f) Pemenuhan sertifikasi lingkungan dengann nilai 2,76 indeks ; (g) Ketelusuran benih dengan nilai indeks 2,76 ; (h) Ketersediaan benih berkualitas dengan nilai indeks 2,35;

Gambar 14. Hasil analisis atribut pengungkit (Leverage atributes) dimensi ekologi.

(17)

(i) Perubahan iklim (climate change) dengan nilai indeks 1,85; dan (j) Kejadian hama penyakit ikan (HPI) dan phatogen transfer dengan nilai indeks 1,63.

Kesimpulan

1. Secara umum kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA di Perairan Teluk Ekas memiliki karakteristik biofisik maupun kemampuan lokasi (site suitability) yang masih layak untuk pengembangan budidaya laut sistem KJA, dengan indikator kesesuaian parameter utama lebih dari 80%.

2. Berdasarkan pendugaan daya dukung melalui pendekatan kapasitas perairan diperoleh total luas area budidaya yang dapat ditampung pada kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA yaitu seluas 58,44 ha (20% dari total luas perairan yang sesuai) dengan jumlah optimal kapasitas unit KJA yang dapat dikembangkan sebanyak 16.222 unit KJA atau 64.888 petak KJA

3. Hasil analisis terhadap indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi pengelolaan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA dapat disimpulkan bahwa dimensi ekologi berada pada kategori “Kurang Berkelanjutan” dengan indeks keberlanjutan 44,62.

4. Sedangkan hasil analisis laverage dan pareto terhadap atribut-atribut dalam dimensi ekologi, menunjukkan bahwa terdapat 10 atribut sensitif yang berpengaruh terhadap indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi, masing-masing yaitu : (a) Tingkat daya dukung kapsitas perairan dengan nilai 3,91; (b) Penggunaan sumber benih dengan nilai indeks 3,91; (c) Penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologis (OIKB) dengan nilai indeks 3,76; (d) Jenis dan ketelusuran pakan dengan nilai indeks 3,21; (e) Tingkat efesiensi pakan atau FCR (Food Conversion ratio) dengan nilai indeks 3,21; (f) Pemenuhan sertifikasi lingkungan dengann nilai 2,76 indeks ; (g) Ketelusuran benih dengan

Gambar 15. Hasil analisis pareto terhadap atribut pengungkit pada dimensi ekologi

(18)

nilai indeks 2,76 ; (h) Ketersediaan benih berkualitas dengan nilai indeks 2,35; (i) Perubahan iklim (climate change) dengan nilai indeks 1,85; dan (j) Kejadian hama penyakit ikan (HPI) dan phatogen transfer dengan nilai indeks 1,63.

Daftar Pustaka

Alder, J., Tony J. Pitcher, D. Preikshot., K. Kaschner., and B. Feriss. 2000. How Good is Good? : A Rapid Appraisal Technique for Evaluation of The Sustainability Status of Fisheries of The North Atlantic. Sea Around Us Methodology Review. Fisheries Center. University of British Columbia. Vencouver Canada. 132-182

Buitrago, J., Rada, M., Hernandez, H., Buitrago, E., 2005. A Single-Use Site Selection Technique , Using GIS , for Aquaculture Planning : Choosing Locations for Mangrove Oyster Raft Culture in Margarita Island , Venezuela. Environmental Management 35 (5), 544–556. doi:10.1007/s00267-004-0087-9

DKP, 2002a. Profil Perikanan Budidaya Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

DKP Ambon, 2003. Data dan Informasi serta Profil Potensi Perikanan dan Kelautan Kota Ambon. Kerjasama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon, Ambon. p 19.

Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). 1997. Aquaculture development. FAO Tech. Guidel. Responsible Fisheries, (5):40 pp.

General Fisheries Commission for the Mediterranean. 2013. Indicators for Sustainable Development of Aquaculture and Guidelines for their use in the Mediterranean“ Background information. Regional Workshops on The Identification of Reference Points for Economic, Enviromental, Social and Governance Indicators on Aquaculture. Izmir 9-19 December 2013

Hakanson, L., Bryhn, A.C., 2008. Eutrophication in the Baltic Sea, Nutrien Transport Processes, Remedial Strategies., 1st ed. Springer-Verlag Berlin Heidelberg, Berlin. 261 p.

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). 2007. Guide for the Sustainable Development of Mediterranean Aquaculture. Interaction between Aquaculture and the Environment. IUCN, Gland, Switzerland and Malaga, Spain. 107 pages.

Khorram O, Helliwell JP, Katz S, Bonpane CM, Jaramillo L. Two weeks of metformin improves clomiphene citrate-induced ovulation and metabolic profiles in women with polycystic ovary syndrome. Fertil Steril. 2006; 85 :1448–1451.

Kristanti et al.,2006. Daya Dukung Lingkungan Perairan Teluk Ekas Untuk Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu di KJA. Jakarta. JII.Pert.Indon.Vol.11(2). KKP, 2013b. Pedoman Teknis Penyusunan Peta Rencana Zonasi WP3K Provinsi dan

Kabupaten/Kota. Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Diektorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004, Tanggal 8 April 2004 tentang Baku Mutu Air Laut. Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta, 11 hlm.

(19)

Marzuki, M.,2013. Desain Pengelolaan Budidaya Laut Berkelanjutan di Teluk Saleh Kabupaten Sumbawa. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.p281.

Nasution. M.N. (2001). Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta : Ghalia Indonesia Prahasta. 2009. Sistem Informasi Geografis. Penerbit Informatika. Bandung

Rachmansyah, R., 2004. Analisis Daya Dukung Lingkungan Perairan Teluk Awarange Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan bagi Pengembangan Budidaya Bandeng dalam Keramba Jaring Apung. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. p 274.

Sitorus, S.W., 2013. Analisis Keberlanjutan Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Dalam Pengembangan Kawasan Minapolitan di Beberapa Desa Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. Tesis. Program Pascasarjana, Magister Ilmu Lingkungan. Universitas Diponegoro. Semarang. p 171.

Ramdhan. 2015. Studi Kualitas Perairan Teluk Ekas Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia. Balitbang KP. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Romimohtarto, K. Dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta

Tesfamichael, D. and Pitcher, T.J. (2006) Multidisciplinary Evaluation of the Sustainability Of Red Sea Fisheries Using Rapfish. Fisheries Research 78: 227-235 Wibisono, M.S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana

Figur

Tabel 4. Lokasi titik pengambilan sampel

Tabel 4.

Lokasi titik pengambilan sampel p.3
Tabel 2.  Parameter, alat, dan metode pengukuran fisika kimia perairan

Tabel 2.

Parameter, alat, dan metode pengukuran fisika kimia perairan p.4
Tabel 3.  Jenis data, sumber data dan metode pengumpulan data sekunder

Tabel 3.

Jenis data, sumber data dan metode pengumpulan data sekunder p.5
Tabel 4.  Nilai indeks dan kategori keberlanjutan

Tabel 4.

Nilai indeks dan kategori keberlanjutan p.7
Gambar 1. Grafik sebaran kecepatan arus di lokasi penelitian

Gambar 1.

Grafik sebaran kecepatan arus di lokasi penelitian p.8
Gambar 2. Grafik sebaran kecerahan  di lokasi penelitian

Gambar 2.

Grafik sebaran kecerahan di lokasi penelitian p.8
Gambar 3. Grafik sebaran kekeruhan di lokasi penelitian

Gambar 3.

Grafik sebaran kekeruhan di lokasi penelitian p.9
Gambar 4. Grafik sebaran suhu di lokasi penelitian

Gambar 4.

Grafik sebaran suhu di lokasi penelitian p.9
Gambar 6. Grafik sebaran DO di lokasi penelitian

Gambar 6.

Grafik sebaran DO di lokasi penelitian p.10
Gambar 5. Grafik sebaran pH di lokasi penelitian

Gambar 5.

Grafik sebaran pH di lokasi penelitian p.10
Gambar 8. Grafik sebaran nitrat di lokasi penelitian

Gambar 8.

Grafik sebaran nitrat di lokasi penelitian p.11
Gambar 7. Grafik sebaran nitrit di lokasi penelitian

Gambar 7.

Grafik sebaran nitrit di lokasi penelitian p.11
Gambar 9. Grafik sebaran Amonia  di lokasi penelitian

Gambar 9.

Grafik sebaran Amonia di lokasi penelitian p.12
Gambar 11. Grafik sebaran BOD di lokasi penelitian

Gambar 11.

Grafik sebaran BOD di lokasi penelitian p.13
Gambar 10. Grafik sebaran ortofosfat  di lokasi penelitian

Gambar 10.

Grafik sebaran ortofosfat di lokasi penelitian p.13
Tabel 6. Tingkat kelayakan/kesesuaian pada masing-masing stasiun pengamatan

Tabel 6.

Tingkat kelayakan/kesesuaian pada masing-masing stasiun pengamatan p.14
Gambar 12. Peta tingkat kesesuaian perairan pada tiap stasiun

Gambar 12.

Peta tingkat kesesuaian perairan pada tiap stasiun p.14
Gambar 13. Nilai indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi  pengelolaan   kawasan sub zona pengembangan budidaya laut  sistem KJA di Teluk Ekas

Gambar 13.

Nilai indeks dan status keberlanjutan dimensi ekologi pengelolaan kawasan sub zona pengembangan budidaya laut sistem KJA di Teluk Ekas p.15
Gambar 14.  Hasil analisis atribut pengungkit (Leverage atributes)  dimensi ekologi.

Gambar 14.

Hasil analisis atribut pengungkit (Leverage atributes) dimensi ekologi. p.16
Gambar 15.  Hasil analisis pareto terhadap atribut pengungkit pada  dimensi ekologi

Gambar 15.

Hasil analisis pareto terhadap atribut pengungkit pada dimensi ekologi p.17

Referensi

Memperbarui...