• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA

2.1. Studi Literatur 2.1.1. Definisi Film

Film merupakan sebuah karya cipta seni yang merupakan salah satu media komunikasi massa yang terdiri dari elemen audio dan visual yang dibuat sesuai dengan asas sinematografi. Saat ini film berkembang dan terbagi menjadi beberapa jenis antara lain: film drama, komedi, horor, dokumenter dan lainnya.

2.1.2. Tahap-tahap Produksi Film

Dibutuhkan 3 tahap dalam meproduksi sebuah film. Tahap-tahap pembuatan film antara lain praproduksi (pre-production), produksi

(production) dan pascaproduksi (post-production). Tahap praproduksi

merupakan sebuah tahap persiapan dalam pembuatan film, tetapi dalam tahap ini sebaiknya pembuat film harus dapat memikirkan hal-hal apa saja yang nantinya dibutuhkan dalam proses pascaproduksi. Dan hal yang perlu diperhatikan adalah, bahwa proses praproduksi merupakan 70 persen dari keseluruhan pros es syuting, jadi sejumlah rencana yang disusun harus dapat disusun dengan benar-benar rinci, sehingga hal-hal yang diluar prediksi awal masih dapat di antisipasi dengan baik (Effendy 6).

2.1.2.1.Tahap Pra Produksi

• Menyusun Skenario

Sebuah film secara utuhnya semuanya pasti berawal dari sebuah ide cerita atau topik yang ingin diangkat menjadi sebuah film. Dan semua hal tersebut harus diwujudkan dalam bentuk sebuah skenario yang nantinya berfungsi sebagai panduan atau tulang punggung dalam pembuatan sebuah film. Ruang, waktu, peran dan aksi semua dibungkus dalam dalam sebuah skenario.

(2)

• Format Film atau Video

Ada dua buah format syuting yang dapat dipilih yakni film atau video. Film pertama kali lahir di paruh kedua abad 19, dibuat dengan bahan dasar seluloid yang sangat mudah terbakar, bahkan oleh percikan abu rokok sekalipun. Saat ini ada tiga macam ukuran film yang diproduksi secara massal, yakni 35mm, 16mm dan 8mm. Angka dalam millimeter tersebut menunjukkan ukuran lebar pita seluloid. Semakin lebar ukuran pita seluloid, semakin baik pula kualitas gambar yang dihasilkan. Untuk keperluan khusus, film 65 mm dan 70 mm bias digunakan. Film yang ditayangkan di teater IMAX Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah contoh film yang diproduksi dan ditayangkan dalam format 65 mm, kualitas gambar yang dihasilkan lebih baik ketimbang format 35 mm yang lazim ditayangkan di gedung bioskop (Effendy 21).

Video, format berbahan dasar pita magnetic ini mulai dikenal luas di seluruh dunia pada paruh kedua periode 1970-an, baik untuk kerpeluan profesional seperti stasiun televisi maupun keperluan pribadi. Pita magnetic yang terdapat dalam kaset video bias merekam gambar dan suara dengan baik, sementara film hanya dapat merekam gambar. Untuk suara digunakan medium / alat rekam lain seperti DAT (Digital Audio Tape). Tetapi jika dilihat dari segi kualitas gambar yang direkam, film dapat merekam gambar lebih baik dibanding rata-rata format video.

Jika dilihat dari segi biaya, format video lebih unggul dibandingkan dengan format film. Baik bahan baku kaset maupun kamera video harganya lebih murah. Satu can (satuan bahan baku film, dikemas dalam kaleng) film 16 mm merekam gambar selama maksimal 10 menit. Sementara satu kaset video professional, contohnya kaset format Betacam SP dapat merekam gambar dan suara hingga dalam jangka waktu yang cukup lama yaitu 30 menit. Dan sebagai perbandingan dalam segi professional.

Dari segi waktu, format video memiliki kelebihan yang unggul dibandingkan film. Apabila ingin melihat hasil syuting dalam format video, dapat lebih cepat dilakukan dengan playback. Sementara untuk

(3)

format film, harus terlebih dulu memproses film yang dipakai untuk merekam gambar tersebut di laboratorium untuk dibuatkan positif filmny agar bias ditonton di ruang proyeksi. Untuk melihat hasil syuting, format film membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan format video. Dengan perkembangan teknologi, maka sekarang tidak perlu lagi membuat rush copy untuk bisa melihat hasil syuting format film. Setelah melalui proses negative development, exposed film bisa ditransfer ke format video (telecine) seperti Betacam SP, Digital Betacam atau VHS untuk bisa ditonton lewat pesawat televisi. Artinya, dari segi kepraktisan format video jauh lebih unggul dibandingkan dengan format film.

• Menyusun Tim Produksi

Dalam proses produksi pembuatan sebuah film, tim kerja film tersebut dibagi-bagi dalam beberapa departemen. Tiap kepala departemen bertanggung jawab atas semua hasil kerja yang dilakukan oleh anak buah yang tergabung dalam departemennya. Untuk itu, komunikasi antar departemen dan atar kru sangat dibutuhkan agar dapat terjalin sebuah komunikasi yang tepat.

Dari sekian banyak kru yang terlibat, ada yang disebut sebagai tim inti (mereka yang sejak awal terlibat dalam produksi film dan kerjanya menjadi acuan rekan kerja yang lainnya). Setidaknya ada enam peran yang dibutuhkan dalam tim inti pembuatan sebuah film, dimana setiap peran dalam tim tersebut memiliki fungsi kerja yang berbeda dan saling berkaitan. Tim inti tersebut terdiri dari produser, sutradara (director), manajer produksi, art director, director of photography dan asst. director. Seorang produser harus memimpin seluruh tim produksi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi sesuai dengan anggaran yang telah disepakati bersama.

Seorang sutradara membuat sebuah director’s treatment yang dibuat berdasarkan dengan skenario yang telah dibuat. Director’s treatment adalah sebuah konsep kreatif sutradara tentang arahan gaya pengambilan

(4)

gambar. Selanjutnya seorang sutradara menguraikan setiap adegan ke dalam sejumlah shot dan membuat shot list, yakni uraian arah pengambilan gambar pada tiap adegannya. Selanjutnya, shot list tersebut dterjemahkan ke dalam bentuk story board, yakni rangkaian gambar seperti komik yang membuat informasi tentang ruang dan blocking yang nantinya akan direkam menjadi sebuah film. Setelah membuat sebuah

director’s treatment, shot list dan story board, maka script breakdown

dapat dikerjakan. Sutradara juga harus terus berkomunikasi dengan desainer produksi, asisten sutradara, penata fotografi, penata artistic, penata suara dan editor untuk memberikan pengarah tentang film apa yang akan dibuat.

Manajer produksi bertugas untuk harus memaksimalkan potensi seluruh departemen yang ada dalam sebuah produksi film. Manajer produksi juga harus bertanggung jawab dalam operasional produksi mulai dari tahap praproduksi hingga produksi film tersebut selesai, baik dari urusan administrasi, anggaran, perlengkapan syuting, logistik, transportasi maupun akomodasi.

Tugas utama seorang desainer produksi adalah membantu seorang sutradara untuk menentukan suasana dan warna apa yang aka tampil di dalam film yang akan dibuat. Seorang desainer produksi menerjemahkan apa yang jadi keinginan kreatif seorang sutradara dan merancangnya. Selanjutnya, desainer produksi berhubungan langsung dengan seorang

story board artist untuk dapat menghasilkan sebuah story board yang

sesuai.

Setelah story board disepakati, kini giliran penata fotografi yang bekerja. Dengan melakukan sebuah diskusi dengan desainer produksi, sutradara, asisten sutradara dan penata artistik, penata fotografi mendapatkan gambaran lengkap tentang hal-hal apa saja yang akan berlangsung di dalam set, bagaimana sebuah adegan yang telah dirancang akan berlangsung dan efek apa saja yang ingin dicapai. Lalu penata fotografi membuat rancangan yang berhubungan dengan penataan cahaya dan tata kamera yang sesuai. Secara teknis, penata fotografi bertugas untuk

(5)

mengambil gambar dan menentukan kualitas gambar yang terekam dalam film yang akan dibuat.

Asisten sutradara membantu tugas seorang sutradara menerjemahkan hasil director’s treatment ke dalam bentuk script breakdown dan shooting

schedule. Asisten sutradara ini juga yang mendiskusikan segala keperluan

shooting dengan manajer produksi.

Dalam menentukan siapa saja kru produksi yang ikut bergabung, tidak ada Patokan tersendiri jumlah kru produksi yang mutlak. Sebuah film documenter bias diproduksi dengan tiga orang saja, seorang produser yang juga merangkap sutradara sekaligus penulis skenario, dan dibantu dengan seorang operator kamera dan penata suara yang juga berfungsi sebagai asisten sutradara. Sementara, sebuah film cerita panjang di Indonesia dapat melibatkan kru antara 30 – 100 orang bahkan lebih.

• Menyusun Script Breakdown

Dengan menyusun Script Breakdown maka dalam proses pembuatan film dapat diketahui rincian kebutuhan syuting dan biaya yang dibutuhkan serta memungkinkan mengatur jadwal syuting. Untuk menyusunnya, dibutuhkan script breakdown sheet, yakni lembaran berisi informasi tentang setiap adegan yang ada di film. Tiap lembar dari script breakdown berisi tentang setiap adegan yang ada di film. Berikut penjelasan informasi yang dimuat pada tiap lembarnya:

1. Date

2. Script Version Date (versi skenario yang dipakai untuk menyiapkan

syuting)

3. Production Company (nama dan nomer telepon rumah produksi)

4. Breakdown Page No (nomer halaman dari lembar breakdown yang

dibuat)

5. Title / No of Episodes (judul film yang diproduksi)

6. Page Count (panjang atau porsi dari adegan dalam sebuah skenario)

7. Location or Set (lokasi sesuai dengan skenario)

(6)

9. Int. / Ext. (di mana suatu adegan terjadi, di dalam ruangan ataukah di luar ruangan)

10.Day / Night (waktu adegan)

11. Description (kejadian spesifik yang ada di dalam adegan untuk

mempermudah ingatan sehingga tidak membolak-balik skenario)

12.Cast (semua pemeran yang melakukan dialog termasuk peran

pendukung, diurutkan berdasarkan pentingnya peran)

13.Wardrobe (catatan pakaian yang akan digunakan oleh cast ataupun

crowd)

14.Extras / Atmosphere (jumlah orang-orang yang dibutuhkan untuk

mendukung suasana dalam sebuah adegan)

15.Make Up / Hair Do (catatan khusus tentang tata rias dan tata rambut

untuk tiap peran dan crowd)

16.Extras / Silent Bits (para pemeran yang tidak melakukan dialog yang

tidak tergabung dalam crowd)

17.Stunt / Stand Ins (pemeran pengganti untuk adegan berbahaya atau

untuk mempertahankan wajah si pemeran utama)

18.Vehicles (segala informasi tentang kendaraan yang tampak pada frame)

19.Props, Set Dressing, Greenery (props = semua benda yang diapakai

atau dibawa oleh cast dan extras. Set dressing = tata lokasi dimana lokasi syuting diatur dan dihias. Greenery = semua tanaman yang dipinjam, disewa atau dibeli)

20.Sound Effects / Music (beberapa adegan mungkin membutuhkan efek

suara tertentu untuk membangun suasana yang diinginkan)

21.Security (petugas keamanan untuk memastikan kelancaran syuting

untuk adegan atau lokasi tertentu)

22.Special Effect (semua kebutuhan efek khusus seperti ledakan,

penghancuran, pembakaran, tat arias khusus dan sebagainya)

23.Estimated No. of Set Ups (perkiraan berapa sudut pengambilan gambar

untuk sebuah adegan)

24.Estimated Production Time (waktu yang diperlukan untuk menyiapkan

(7)

25.Special Equipment (peralatan syuting khusus yang dibutuhkan, seperti

steadycam, under water camera, car mounting dan lainnya)

26.Production Notes (semua keperluan yang belum tersebut di

bagian-bagian sebelumnya yang membutuhkan waktu, tenaga dan biaya khusus)

• Menyusun Shooting Schedule dan Call Sheet

Jadwal syuting disusun seuai dengan pengelompokan sejumlah informasi yang diperoleh dari script breakdown. Jadwal ini berfungsi sebagai patokan / pedoman kerja semua pihak yang terlibat dalam proses produksi. Jika ada sebuah jadwal yang tidak diprediksi sebelumnya, maka keputusan diambil oleh asisten sutradara bersama-sama dengan manajer produksi.

Setelah shooting schedule sudah ditetapkan, maka call sheet bias segera dibuat. Call sheet adalah lembaran yang memuat informasi harian tentang adegan yang akan diambil / direkam pada hari tersebut. Setiap syuting selesai, call sheet untuk hari berikutnya diedarkan ke semua orang yang diperlukan untuk syuting berikutnya.

2.1.2.2. Tahap Produksi

Dalam tahap produksi, tiap kru yang andil dalam proses pembuatan film, harus bertindak sesuai dengan apa yang sudah disepakati sebelumnya pada tahap pra produksi. Selama syuting berlangsung, ada beberapa laporan yang harus dikerjakan. Laporan-laporan tersebut sangat berperan penting dalam tahap pascaproduksi.

1. Script continuity report – pedoman untuk mengetahui shot mana yang

dipilih oleh sutradara

2. Camera report – acuan untuk mencari shot yang telah direkam dan

dianggap baik untuk keperluan editing

3. Sound sheet report – acuan dalam mengedit suara dalam tahap pasca

produksi

(8)

mengambil keputusan tentang pelaksanaan syuting pada hari-hari berikutnya

2.1.1.3. Tahap Pascaproduksi

Dalam tahap pascaproduksi, ada beberapa hal penting yang harus dilakukan, antara lain:

1. Menentukan urutan proses editing 2. Memilih tempat editing

3. Mengumpulkan report

2.1.3. Film Dokumenter

Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan hal-hal yang terjadi secara nyata. Tema yang diangkat dalam film documenter menyajikan fakta mengenai tokoh atau peristiwa, sosial maupun budaya. Istilah “dokumenter” pertama digunakan dalam resensi film Moana (1926) oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John

Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926. Pendapat lain

tentang film dokumenter adalah sebagai rekaman adegan nyata dan factual (tidak boleh merekayasa sedikitpun) untuk kemudian dibentuk menjadi sefiksi mungkin menjadi sebuah cerita yang menarik (Nugroho 36).

Dalam istilah perfilman di Perancis, istilah dokumenter digunakan untuk semua film non-fiksi, termasuk film-film mengenai sebuah perjalanan dan film tentang pendidikan. Berdasarkan definisi ini, film-film pertama semua adalah film dokumenter. Mereka merekam hal sehari-hari, misalnya aktifitas kereta api saat masuk ke dalam stasiun. Pada dasarnya, film dokumenter mem]representasikan kenyataan. Artinya film dokumenter menampilkan kembali fakta yang ada dalam kehidupan.

(www.manualbook.com). Di Indonesia, produksi film dokumenter awalnya

dipelopori oleh stasiun televisi pertama di Indonesia yaitu TVRI. TVRI telah menghasilkan beragam film dokumenter dengan tema-tema yang berbeda seperti flora fauna dan kebudayaan. Pada awal tahun 1990, stasiun televise swasta sudah mulai berdiri dan pembuatan film dokumenter

(9)

televisi tidak lagi dimonopoli oleh TVRI. Saat itu semua televisi swasta menayangkan program film dokumenter, baik yang mereka produksi sendiri maupun yang mereka beli dari rumah-rumah produksi film. Salah satu film dokumenter yang banyak dikenal orang salah satunya karena ditayangkan secara serentak oleh lima stasiun televisi swasta dan TVRI adalah Anak Seribu Pulau (Miles Production, 1995). Dokudrama ini ternyata disukai oleh banyak kalangan sehingga sekitar enam tahun kemudian program yang hampir sama dengan judul Pustaka Anak Nusantara (Yayasan SET, 2001) diproduksi untuk konsumsi televisi.

2.1.3.1. Tahap Produksi Film Dokumenter

Berikut tahap-tahap dalam proses produksi film documenter : a. Tahap Pra Produksi

• Menentukan tema dan objek yang akan kita angkat

• Melakukan riset terhadap tema yang sudah terpilih. Riset yang dilakukan dapat berupa riset lapangan maupun riset kepustakaan. Sekalipun kalau perlu juga dapat menghubungi narasumber – narasumber yang berhubungan dengan objek agar mendapatkan data yang lebih valid.

• Menulis sinopsis dalam bentuk sebuah kerangka pemikiran. • Membuat treatment yang di dalamnya berisi seluruh

perencanaan dan rincian setiap scene ditulis dengan jelas. Yang nantinya akan dipakai sebagai pegangan dalam pengambilan gambar di lapangan dan mempersiapkan semua hal-hal yang berhubungan dengan proses produksi.

b. Tahap Produksi

• Pengambilan gambar sangat berhubungan dengan treatment

yang sudah dibuat. c. Tahap Pasca Produksi

Setelah semua gambar telah di dapatkan, maka dilakukanlah tahap seleksi gambar dan dimulai offline editing.

(10)

adanya narasi, uraian itu juga ditulis dalam naskah. Naskah lengkap yang berisi susunan gambar dan narasi disebut script editing.

• Berdasarkan editing script kemudian dibuat editing online.

Dalam editing ini semuanya harus sudah pasti.

• Setelah editing online prose’s berikutnya adalah mixing. Di

dalam mixing, narasi dan musik ilustrasi dimasukkan dan dicampur dengan gambar yang sudah diambil.

• Setelah mixing selesai, siaplah sebuah film dokumenter.

Dalam film dokumenter ada tiga cara untuk meyakinkan penonton bahwa apa yang mereka lihat adalah nyata. Berikut caranya:

a. Re – enacment. Film dokumenter jenis ini meminta orang-orang /

pemeran lain untuk memerankan kembali sesuai dengan kejadian sesungguhnya di depan kamera.

b. Rekonstruksi sosial. Bentuk dokumenter ini umumnya dipakai dalam berita televisi, termasuk di dalamnya wawancara dengan orang-orang yang berhubungan langsung dengan kejadian asli. Pihak yang berwenang ditampilkan untuk memberi informasi langsung kepada penonton. Materi pendukung visual banyak dipakai, seperti peta, bagan dan grafik. Umumnya film jenis ini menampilkan data-data untuk mengarah kepada sebuah kesimpulan sosial yang jelas.

c. Cinema truth. Proses dimana seseorang benar-benar menyuting

peristiwa yang sedang terjadi. Berikut beberapa teknik untuk

cinema truth meliputi:

• Penggunaan hand-held camera yang menghasilkan gambar

tidak terlalu stabil.

• Penggunan zoom.

• Gambar yang kasar dan berbintik-bintik sebagai hasil dari

level pencahayaan rendah yang menuntut film dengan kecepatan lebih besar.

(11)

ucapan-ucapan tidak selalu dapat terdengar dengan jelas.

2.2. Identifikasi Data Produk 2.2.1. Data Produk

Jalan pemikiran dalam data produk yang digunakan dalam perancangan ini diambil dari jurnal desain interior Universitas Kristen Petra berjudul “Studi Interior pada Rumah Abu Han di Surabaya” oleh Maria Ernawati.

2.2.1.1. Sejarah Penduduk di Surabaya

Sekitar abad 12, penduduk kota Surabaya terdiri dari beberapa macam etnis, antara lain Melayu, Arab dan Cina. Mereka secara turun temurun menetap dan aktif bergerak dalam dunia perdagangan di Surabaya. Pemerintah kolonial Belanda, menetapkan daerah-daerah khusus yang ditetapkan menjadi daerah mereka. Pembagian tersebut dilakukan berdasarkan masing-masing etnis. Setiap wilayah memiliki nama antara lain, Malesiche Camp untuk etnis Melayu, Chinese Camp untuk etnis Cina dan Arab Camp untuk etnis Arab. Setiap wilayah tersebut memiliki ciri khas masing-masing sesuai dengan kebudayaannya.

Etnis Cina atau orang-orag Tionghoa telah lama datang dan bermukim di Surabaya, yakni sejak tahun 1411 M (Lilanda, 1998:3). Awal kedatangan mereka di Surabaya, mereka tinggal di daerah sebelah timur Kali Mas dan sekitar Jembatan Merah. Pemerintah kolonial Belanda memberlakukan undang-undang wijkenstelsel (sistem surat jalan) yang melarang orang Cina untuk berpergian ke luar wilayah yang telah ditetapkan tanpa dilengkapi dengan surat jalan (Lilananda, 1998:4). Dengan adanya undang-undang dari kolonial Beland tersebut, menyebabkan seluruh aktifitas seperti perdagangan, pendidikan, keagamaan, politik dan kegiatan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa, hanya berkisar pada area Chineezen Camp. Hal ini sangat berpengaruh pada kondisi fisik yang terbentuk pada daerah tersebut,

(12)

khususnya bentuk bangunan yang berfungsi sebagai wadah kegiatan dan aktivitas bagi masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, saat ini dapat dilihat dimana bangunan dengan arsitektur berkarakteristik Cina banyak terdapat di kawasan kampung Cina atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pecinan.

2.2.1.2 Bangunan Berarsitektur Cina di Surabaya

Munculnya bangunan-bangunan baru di Surabaya, membuat banyak bangunan lama bekas peninggalan sejarah di Surabaya mulai terabaikan. Munculnya bangunan baru memberikan dampak bagi bangunan-bangunan lama, khususnya banguna berarsitektur Cina yang masih ada dan tersebar di daerah kota lama Surabaya. Banyak bangunan-bangunan peninggalan Cina yang cenderung diterlantarkan dan tidak dipelihara dengan baik, sehingga akhirnya bangunan tersebut hancur seinring dengan berjalannya waktu. Ada pula beberapa bangunan yang dengan sengaja di hancurkan dan digantikan dengan bangunan yang baru dengan fungsi yang berbeda dan lebih modern.

Bangunan dengan arsitektur Cina memiliki nilai-nilai historis, budaya dan nilai religi yang tinggi, sehingga keberadaan bangunan-bangunan tersebut tetap perlu dipelihara dan dilestarikan sebagai salah satu peninggalan budaya di Indonesia. Bangunan-bangunan berarsitektur Cina yang masih ada di Surabaya saat ini antara lain adalah Kelenteng (tempat ibadah), rumah abu, rumah took dan rumah tinggal. Kondisi bangunannya ada yang masih utuh, dan ada pula yang telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi dari fungsi aslinya. Kelenteng memiliki nilai-nilai kebudayaan Cina yang melekat sehingga bangunan ini mempunyai ciri arsitektur budaya Cina yang sangat kuat. Keberadaan bangunan kelenteng sudah sangat banyak dan sangat mudah di jumpai kerna tampilan fisiknya yang sangat menonjol. Bangunan rumah toko dan rumah tinggal berarsitektur Cina di Surabaya yang masih ada cenderung dalam kondisi tidak terpelihara dengan baik, atau telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi dari bangunan aslinya.

(13)

Sehingga ciri khas arsitektur Cina sudah tidak terlalu terlihat pada fisik bangunannya.

Rumah abu adalah bangunan yang didirikan oleh keluarga semarga dan digunakan sebagai tempat sembahyang untuk menghormati leluhur mereka. Meskipun disebut rumah abu, tetapi sebenarnya rumah ini tidak berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu. Rumah abu umumnya hanya dimiliki oleh keluarga-keluarga yang mampu, sedangkan bagi keluarga yang kurang mampu, mereka hanya menyediakan sebuah meja altar yang ditaruh pada ruangan depan rumah mereka masing-masing. Meja altar tersebut berupa meja sembahyang yang berfungsi untuk meletakkan papan nama dan foto-foto leluhur mereka.

Surabaya hanya memiliki tiga rumah abu. Ketiga rumah abu tersebut berada di jalan yang sama, yaitu jalan Karet. Rumah abu tersebut yaitu rumah abu Han, Tjoa dan The.

2.2.1.3 Sejarah Rumah Abu Han

Rumah abu Han merupakan rumah abu terbesar dan tertua di Surabaya. Fisik bangunan rumah abu Han masih utuh dan dalam kondisi terpelihara dengan baik. Selain itu, rumah abu Han belum mengalami perubahan fungsi dan bentuk fisik sejak pertama kali dibangun.

Sejarah rumah abu Han di Surabaya diawali dengan kedatangan Han Siong Kong ke Indonesia pada tahun 1673. Salah satu keturunannya Han Bwee Koo datang ke Surabaya dan diangkat menjadi wakil pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi pemimpin orang-orang Cina di Surabaya atau yang disebut dengan julukan Kapiten der Chineezen. Ia mendirikan sebuah rumah tinggal di Chineezen Voostraat atau Pecinan Kulon yang sekarang bernama jalan Karet. Rumah tinggal inilah yang kemudian menjadi rumah abu keluarga Han. Pada rumah abu ini dapat dilihat silsilah keturunan keluarga Han Siong Kong sampai dengan keturunan yang ke-7. Saat ini keturunan keluarga Han sudah mencapai generasi ke-10. Generasi yang baru kebanyakan sudah tidak mau untuk menempati rumah tinggal ini, sehingga akhirnya rumah ini dipakai

(14)

menjadi rumah sembahyangan oleh keluarga Han pada waktu-waktu tertentu. Meskipun rumah ini tidak menjadi rumah tinggal, namun beberapa anggota keluarga Han masih terus mengurus dan memelihara rumah tersebut agar keberadaanya masih tetap baik. Rumah abu Han terletak pada jalan Karet 72, masih memiliki kondisi yang utuh dan baik. Rumah abu Han masih digunakan sebagai tempat bersembahyang bersama dan menjadi tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga Han pada acara-acara hari peringatan tertentu.

2.2.1.4 Tipologi Bangunan Rumah Abu Han

Pada abad 19, bentuk bangunan rumah tinggal gaya kolonial Belanda di Surabaya yang disebut landhuis banyak mempengaruhi arsitektur rumah abu Han. Terutama terlihat pada bentuk denah bangunan berbentuk persegi panjang, lebar sempit, berbentuk memanjang ke belakang, simetris dan terdiri dari satu lantai dengan deretan kolom memanjang pada serambi depan yang luas. Perbedaan antara rumah abu Han dengan rumah arsitektur Belanda atau yang disebut landhuis, rumah abu Han tidak dikelilingi oleh taman yang luas seperti yang ada pada rumah Belanda tipe landhuis akibat semakin terbatasnya lahan yang tersedia. Selain gaya kolonial Belanda, pengaruh gaya Cina tampak kuat pada bentukan hubungan atap rumah abu yang khas yakni melengkung ke atas menyerupai ekor burung layang-layang.

Gambar 2.1. Bentuk atap rumah abu Han. melengkung ke atas mengadopsi bentuk atap swallow’s tail gaya Cina.

(15)

Rumah kolonial Belanda banyak dipengaruhi oleh konsep bangunan rumah tinggal tradisional jawa yang berciri tropis sebagai upaya penyesuaian terhadap kondisi lingkungan setempat yaitu iklim tropis basah yang ada di Surabaya. Salah satu bentuk penyesuaian terhadap kondisi tersebut dengan membuat teras depan yang luas, terlindungi dari panas matahari menggunakan atap gantung yang lebar, mengembang ke segala sudut, mirip atap joglo pada rumah tinggal tradisional Jawa, yang ditopang oleh kolom-kolom bergaya klasik Eropa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa bangunan rumah abu Han juga mendapat pengaruh rumah tinggal tradisional Jawa sehingga memiliki kesamaan karakteristik. Pengaruh konsep rumah tinggal Jawa semakin terlihat pada organisasi ruang yang terdapat di dalamnya.

Studi Organisasi Ruang

Prinsip yang diterapkan pada tata ruang rumah abu Han, mirip dengan cara tata ruang dalam ruamh tinggal gaya arsitektur Jawa. Hal tersebut terlihat pada pola susunan ruang yang sama antara keduanya, baik ditinjau dari hirarki ruang maupun fungsi ruang yang ada di dalamnya. Prinsip hirarki ruang yang diterapkan, terlihat dari pola penataan ruang yang ditandai dengan adanya tingkatan atau perbedaan nilai masing-masing ruang yang terbagi dalam gradasi berurutan mulai dari depan yang bersifat umum dan dalam yang bersifat lebih khusus, privat dan sakral. Secara umum, rumah abu Han dibagi menjadi dua bagian, yaitu area ruang sembahyang di bagian depan dan area ruang tinggal di bagian belakang rumah. Area ruang sembahyang meliputi teras, hall tamu, hall keluarga dan hall sembahyang itu sendiri. Area ruang tinggal meliputi ruang tidur, ruang keluarga, ruang makan dan ruang pelayanan yang terdiri dari dapur dan toilet. Pola penataan ruang pada area ruang sembahyang, sama dengan rumah tinggal tradisional Jawa. Perbandingan pola tata ruang rumah abu Han dan rumah tinggal Jawa:

(16)

Gambar 2.2.Organisasi ruang tradisional Jawa (kiri) dan rumah abu Han. Sumber: Sastrowardoyo, Schoppert, (1997,36, dalam Ernawati, 114) Area Sembahyang

1. Teras

Teras rumah abu dan pelataran rumah tinggal tradisional Jawa memiliki peranan sama sebagai area peralihan dari luar menuju ke dalam rumah. Keduanya terletak pada bagian depan rumah dan bersifat public tetapi perwujudan keduanya berbeda. Perbedaannya adalah teras rumah abu berupa ruang terbuka terlindung oleh atap, sedangkan pelataran rumah tinggal tradisional Jawa berupa ruang terbuka tanpa atap. Selain itu, permukaan lantai teras rumah abu mempunyai kenaikan setinggi 50 cm dari permukaan jalan, yang mendapat pengaruh dari bangunan gaya kolonial Belanda sedangkan

(17)

lantai pelataran rumah tinggal tradisional Jawa mempunyai ketinggian yang sama dengan jalan di depan rumah.

2. Hall Tamu

Hall tamu rumah abu berfungsi sama dengan pendopo rumah tinggal tradisional Jawa, yaitu sebagai ruang penerima tamu dan ruang duduk. Tata letak ruang keduanya berada pada area publik, terletak setelah teras dan pelataran.

Perbedaan tampak pada bentuk ruang dimana hall tamu berbentuk persegi panjang, memanjang kearah belakang/dalam, berupa selasar terbuka dengan teras samping di kanan dan kirinya. Bentuk denah pendopo umunya persegi, dimana denah berbentuk segi empat selalu diletakkan dengan sisi panjang kearah kanan-kiri rumah sehingga tidak memanjang kearah dalam tetapi melebar ke samping. Selain itu perbedaan juga tampak pada konstruksi berupa empat buah kolom utama (soko guru) terdapat di tengah-tengah pendopo yang tidak dijumpai pada hall tamu rumah abu. Pada rumah abu, deretan kolom memanjang terdapat apda kedua sisi memanjang. Pendopo pada rumah Jawa terbuka tanpa pembatas pada keempat sisinya, melambangkan sikap keterbukaan pemilik rumah terhadap siapa saja yang datang, sedangkan hall tamu rumah abu terbuka pada sisi samping kanan dan kiri, pada bagian depan dibatasi dengan dinding pembatas dengan bagian teras, sedangkan pada bagian tengah dibatasi dengan dinding pembatas dengan hall keluarga. Selanjutnya, pada hall tamu mempunyai ketinggian lantai yang sama dengan teras yang telah mengalami kenaikan sebanyak 50 cm dari jalan, sedangkan pendopo pada umumnya dibuat lebih tinggi dari halaman karena dinaikkan setinggi kurang lebih 1 meter. Maksudnya untuk memudahkan penghuni menerima tamu, mengobrol sambil duduk bersila di lantai berlaskan tikar sesuai dengan tradisi masyarakat Jawa yang mencerminkan suasana akrba dan rukun. Terlihat adanya perbedaan konsep filosofis antara rumah abu Han dengan arsitektur

pendopo yang bergaya arsitektur Jawa. Dimana pada pendopo lebih

mengangkat makna sebagai perwujudan konsep kerukunan dalam gaya hidup masyarakat Jawa tdak terdapat pada hall tamu rumah abu. Pendopo tidak hanya

(18)

sekedar sebuah tempat tetapi mempunyai makna filosofis yang lebih mendalam, yaitu sebagai tempat untuk mengaktualisasi suatu bentuk kerukunan antara penghuni dengan kerabat dan masyarakat sekitarnya (Hidayatun, 1999:7)

3. Ruang Perantara

Berdasarkan bentuk dan peletakannya, ruang peralihan dari area publik menuju ke area yang lebih privat pada rumah abu sama dengan rumah tinggal tradisional Jawa pada umumnya, yaitu berbentuk persegi panjang yang melebar ke samping mengikuti ruang, dimana pada rumah abu terletak antara hall tamu dan hall keluarga, sedangkan pada rumah tinggal tradisional Jawa terletak antara pendopo dan dalem ageng yang bersifat lebih privat.

Terdapat perbedaan konsep yang mendasar antara keduanya yaitu ruang peralihan dari hall tamu menuju hal keluarga pada rumah abu yang hanya berfungsi sebagai penghubung, tanpa ada makna filosofis tertentu, sedangkan pada rumah tinggal tradisional Jawa, ruang peralihan dari pendopo menuju ke

dalem ageng disebut dengan peringgitan, yang berfungsi sebagai tempat

mengadakan pertunjukan wayang kulit pada acara-acara tertentu. 4. Hall Keluarga

Ditinjau dari segi fungsi utamanya, terdapat persamaan konsep antara hall keluarga rumah abu dengan dalem ageng pada rumah tinggal tradisional Jawa. Keduanya merupakan ruang privat yang berfungsi sebagai ruang keluarga, tempat duduk dan ruang berkumpulnya seluruh anggota keluarga.

Tetapi jika dilihat dari segi bentuk ruangan, terdapat perbedaan diantara keduanya. Hall keluarga berbentuk persegi panjang, memanjang kearah belakang atau dalam, berupa selasar terbuka dengan teras di kanankirinya, sedangkan pada dalem ageng rumah tinggal tradisional Jawa merupakan bagian terpenting, berbentuk persegi dan dilingkupi oleh dinding pada keempat sisinya. Perbedaan keduanya juga terlihat pada ruang-ruang yang ada di sekitar hall keluarga maupun dalem ageng. Hall keluarga memiliki ruang tambahan yang terletak pada kedua sisi sumbu utama selasar, yaitu ruang rapat pada sisi

(19)

kiri dan gudang pada sisi kanan. Kedua ruang ini merupakan bagian dari hall keluarga, saling berhubungan dan memiliki akses langsung ke hall keluarga. Sedangkan dalem ageng pada rumah Jawa tidak memiliki ruang lain pada kedua sisinya.

5. Hall Sembahyang

Hall sembahyang terdapat pada bagian belakang hall keluarga, terbuka dan berhubungan langsung dengan hall keluarga, bersifat sangat provat dan suci. Pada pembagian simetris terdapat dua ruang persiapan sembahyang yang mengapit hall sembahyang. Fungsi dari kedua ruang tersebut adalah untuk ruang persiapan untuk menunjang segala kebutuhan aktivitas bersembahyang.

Pada rumah tinggal tradisional Jawa, terdapat bagian rumah yang bernama

senthong. Senthong merupakan bagian dari dalem ageng, terdiri dari tiga buah

ruang berjajar yang berbentuk dan berukuran sama besar, yaitu snethong kiwa,

senthong tengah dan senthong tengen. Pembagian ruang-ruang ini simetris

dengan senthong tengah, karena letaknya yang diapit oleh kedua senthong yang lain. Senthong tengah adalah ruang paling privat di antara kedua senthong lainnya, bersifat suci dan lebih tertutup karena digunakan sebagai tempat pemujaan kepada Dewi Sri (dewi padi) yang merupakan sumber kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Senthong

kiwa dan senthong tengen berfungsi sebagai ruang tidur anggot keluarga,

dimana senthong kiwa untuk laki-laki dan senthong tengen untuk wanita, serta tempat menyimpan barang-barang berharga atau harta benda pemilik rumah.

Hall sembahyang dalam rumah abu mempunyai peranan yang sama dengan

senthong tengah pada rumah tinggal tradisional Jawa, dimana hall sembahyang

digunakan sebagai tempat untuk melakukan pemujaan kepada para leluhur keluarga Han, sedangkan senthong tengah dipakai sebagai tempat pemujaan kepada Dewi Sri. Dilihat dari tata cara peletakannya terdapat kesamaan, dimana keduanya merupakan bagian dari ruang depan dan terletak pada bagian belakang ruang tersebut. Dalam hal ini, hall sembahyang terdapat di bagian belakang hall keluarga, sedangkan senthong tengah terdapat pada bagian belakang dalem ageng. Persamaan keduanya juga terlihat dari susunan

(20)

ruang-ruang yang ada dimana hall sembahyang terletak diantar ruang-ruang kanan dan kiri, sama seperti posisi ruangan yang ada pada rumah tinggal tradisional Jawa.

Perbedaan tampak pada bentuk dan besaran ruang di mana ruang persiapan berbentuk persegi panjang, memanjang dengan ukuran lebar lebih kecil dibandingkan lebar hall sembahyang sedangkan kedua senthong mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis dengan senthong tengah. Jika dilihat dari segi fungsi, keduanya juga memiliki perbedaan, kedua senthong yang mengapit berfungsi sebagai ruang tidur, sedangkan dua ruang yang mengapit hall sembahyang berfungsi sebagai ruang persiapan. Perbedaan fungsi kedua ruang tidak lain disebabkan perbedaan fungsi rumah secara keseluruhan dimana fungsi utama rumah abu sebagai rumah sembahyang sedangkan rumah tradisional Jawa berfungsi sebagai rumah tinggal. Penentuan fungsi ruang samping hall sembahyang lebih didasarkan pada pertimbangan kebutuh dan efektivitas penggunaan ruang sebagai ruang persiapan yang di dalamnya berisi peralatan dan perlengkapan sembahyang.

Area Ruang Tinggal

Area ini terletak pada bagian belakang hall sembahyang yang dipisahkan oleh teras dan jalan setapak. Area ruang tinggal bersifat privat dan hanya diperuntukkan bagi anggota keluarga saja. Ruang-ruang utama yang ada meliputi ruang tidur, ruang keluarga dan ruang makan yang dihubungkan dengan ruang penunjang untuk pelayanan berupa dapur dan toilet yang terletak di bagian belakang dan terpisah dari ruang-ruang utama. Pada rumah tradisional Jawa, pawon berfungsi sebagai dapur dan sekaligus ruang makan sedangkan pekiwan berfungsi sebagai kamar mandi/wc. Keduanya terdapat pada bagian paling belakang rumah dan merupakan ruang penunjang untuk kebutuhan pelayanan.

Jika ditinjau dari prinsip pembagian area berdasarkan hirarkinya, maka terdapat kesamaan antara rumah abu dan rumah Jawa, dimana ruangruang yang penting seperti ruang tidur, ruang keluarga dan ruang makan selalu diletakkan pada bagian depan, sementara ruang pelayanan seperti dapur dan toilet yang dianggap “kotor” selalu diletakkan sejauh mungkin dan terpisah. Namun

(21)

konsep pada peletakkan ruang tidur terdapat perbedaan, dimana ruang tidur oada rumah abu terdapat area pada ruang tinggal tersediri, sedangkan pada rumah tinggal tradisional Jawa terdapat di dalam dalem ageng yaitu senthong

kiwa dan senthong tengen. Perbedaan ini disebabkan olehperbedaan fungsi

utama bangunan dimana rumah abu merupakan rumah sebahyang dengan adanya rumah tinggal pada bagian belakangnya, sedangkan rumah tradisional Jawa sepenuhnya dipakai sebagai tempat/rumah tinggal.

Dengan melihat perbadingan tersebut, terlihat bahwa pola organisasi ruang yang ada pada area ruang sembahyang rumah abu mengadopsi pola organisasi ruang utama pada rumah tinggal tradisional Jawa. Pola organisasi ruang secara linier, yaitu terdiri dari ruang linier tunggal yang menurut panjangnya mengorganisir sederetan ruang-ruang sepanjang bentangnya. Pola linier ini juga ditandai dengan adanya dominasi sebuah sumbu utama bangunan yang menunjang sebagai pengorganisir deretan ruang-ruang yang ada dan berklimaks pada sebuah ruang yang paling dominan. (Ching, 2000:198)

Pola organisasi ruang dalam area sembahyang rumah abu Han juga mengikuti pola penataan ruang pada rumah tinggal tradisional Jawa yaitu berdasarkan tingkatan atau nilai masing-masing ruang yang urut mulai dari area publik menuju area privat atau sakral. Pembagian ruang simetris dan menganut pola closed ended plan yaitu simetris keseimbangan yang berhenti dalam satu ruang, dalam hal ini adalah hall sembahyang pada rumah abu Han dan

senthong tengah pada rumah tinggal tradisional Jawa. Prinsip kesimetrian dan

keseimbangan melalui adanya sebuah sumbu dominan dalam pengorganisasian ruang-ruang pada rumah abu Han mencerminkan ciri atau karakteristik bangunan Cina pada umunya, dengan sumbu longitudinal atau vertical sebagai sumbu utama, sementara sumbu horisontal sebagai sumbu minor bangunan.

Studi dan Analisis Elemen Interior

Analisis lapangan mengenai kondisi fisik bangunan bertujuan untuk mendapatkan gambaran penerapan meupun perwujudan konsep filosofis arsitektur dan interior Cina, pengaruh budaya setempat maupun budaya asing yang turut mempengaruhi perwujudan fisik interior rumah abu Han secara

(22)

utuh, khususnya pada area ruang sembahyang. Hall sembahyang merupakan ruang paling utama dalam rumah abu Han. Hall sembahyang yang ada dalam rumah abu Han termasuk dalam bagian ruangan privat, dimana ruang tersebut berfungsi sebagai tempat melakukan upacara sembahyang atau pemujaan kepada para leluhur keluarga Han. Hall sembahyang ini berhubungan langsung dengan hall keluarga, dipisahkan oleh pembatas maya yang berupa perbedaan ketinggian lantai diantara keduanya. Terletak simetris, di mana sisi kirakanannya terdapat ruang-ruang persiapan untuk keperluan sembahyang yang berbentuk memanjang ke belakang dan berukuran sama besar.

Berikut penjelasan dari analisis interior hall sembahyang di rumah abu Han.

Gambar 2.3.Hall Sembahyang rumah abu Han. Sumber: Ernawati (2005,151)

1. Lantai

Lantai pada hall sembahyang menggunakan marmer berukuran 70x70cm, sedangkan lantai ruang persiapan hanya diplester semen. Perbedaan bahan lantai yang dipakai antara hall sembahyang dengan kedua ruang persiapan di sebelahnya, mengindikasikan adanya perbedaan tingkatan ruang berdasarkan fungsi dan aktifitas. Saat itu, bahan lantai marmer dianggap paling mewah dan relatif memiliki harga yang cukup mahal sehingga pemakaiannya masih sangat jarang. Penggunaan marmer dalam rumah abu Han menunjukkan status sosial keluarga Han sebagai

(23)

keluarga kaya dan terpandang pada waktu itu.

Pemakaian bahan lantai marmer khususnya pada hall sembahyang menunjukkan bahwa ruang ini paling penting dalam rumah abu Han, bersifat privat dan suci, karena berfungsi sebagai tempat melakukan upacara sembahyangan dan penghormatan kepada para leluhur keluarga. Bahan lantai kedua ruang persiapan hanya diplester semen menunjukkan bahwa ruang-ruang tersebut tidak begitu penting dan hanya berfungsi sebagai ruang penunjang keperluan sembahyang.

2. Dinding

Dinding hall sembahyang terbuat dari batu bata plester, dilapisi cat warna kuning, bertekstur halus. Permukaan bawah dinding diberi penutup menggunakan panel kayu jati (wood paneling) dilapisi pelitur warna cokelat tua. Penggunaan panel kayu polos maupun berukir motif sulur - suluran dan floral sebagai bahan penutup dinding merupakan cirri gaya Art

Nouveau, dengan aksen motif hias khas Cina yang berbeda-beda di bagian

tengah yaitu motif pedang sebagai symbol keberanian dan perlindungan pada panel pertama, tempat arak simbol tradisi orang Cina pada panel kedua dan uang koin Cina simbol kemakmuran pada panel ketiga. Pengaruh Cina dalam hall sembahyang semakin menonjol karena adanya elemen dekoratif sederhana dengan penataan simetris pada kedua dindingnya. Elemen dekoratif tersebut berupa lukisan foto Han berukuran besar yang terdapat di tengah-tengah bidang dinding dengan sebuah papan kayu jati lebar berwarna hitam berukir kaligrafi Cina warna emas digantung diatasnya. Lukisan ini diapit oleh dua papan kayu jati hitam, berbentuk memanjang, berukir kaligrafi Cina warna emas yang digantung vertical, serta lukisan-lukisan kecil yang ditata simteris di kedua sisinya.

Dinding hall sembahyang berbeda dari ruang-ruang lain karena menggunakan dekorasi panel kayu jati berukir dan warna dinding dicat warna mecolok yaitu kuning. Maksudnya untuk menonjolkan keberadaan hall sembahyang sebagai ruang terpenting dibandingkan ruang-ruang lain.

(24)

Gambar 2.4.Dinding hall sembahyang Gambar 2.5.Ukiran pada panel kayu. Sumber: Ernawati (2005,153)

3. Plafond

Tinggi plafond hall sembahyang 4 m. Plafond menggunakan bahan

gypsumboard yang dilapisi cat warna kuning. Plafond yang tinggi

menunjukkan adanya pengaruh plafond bangunan gaya kolonial Belanda,sebagai salah satu bentuk penyesuaian bangunan terhadap kondisi iklim tropis lembab Surabaya. Permukaan dan sekeliling tepi plafond ‘ramai’ dipenuhi dekorasi merupakan pengaruh dari gaya kolonial Belanda. Selain itu, untuk menunjukkan kedudukan ruang tersebut sebagai ruang utama sekaligus menunjukkan status sosial pemilik.

Gaya Art Nouveau yang terinspirasi dari bentukan alam ikut berpengaruh sehingga plafond ini menggunakan motif sulur-suluran dan floral. Ada dua motif dekorasi yang dipakai pada permukaan plafond, yaitu motif perulangan bentuk geometris berupa daun-daunan simetris pada bagian tengah permukaan plafond dan motif sulur-suluran dalam pola linear berulang pada bagian pinggir plafond, terbuat dari bahan gypsum yang dilapisi cat warna cokelat tua. Dekorasi berbentuk lingkaran (medallion) pada plafond gaya kolonial Belanda juga dipakai pada bagian tengah plafond, terbuat dari gypsum bermotif floral dilapis sewarna dengan plafond. Pada sekeliling plafond diberi 3 lapisan lis profil penutup dari bahan gypsum yang juga dilapis sewarna dengan plafond masing-masing

(25)

permukaan lis profil tersebut berukir motif floral, meander dan motif geometris kotak yang menonjol dengan dilapis cat warna cokelat tua.

Gambar 2.6.Plafon bagian tengah hall sembahyang. Sumber: Ernawati (2005,155)

4. Pintu

Pengaruh motif hias khas Cina tampak pada elemen dekoratif berupa detail ukir-ukiran yang memenuhi permukaan pintu panel kayu. Dekorasi ukiran bermotif matahari dan sulur-suluran terdapat pada kedua sisi bagian bawah panel. Sebuah papan kayu jati warna hitam berbentuk memanjang berukir kaligrafi Cina warna emas digantung vertical atasnya. Aksen berupa dua ornamen kepala harimau diletakkan pada kedua sisi bagian atas pintu panel sebagai symbol penjaga dan pelindung. Sedangkan pada sekeliling bagian atas dan samping bukaan panel dihiasi detail ukiranukiran bermotif sulur-suluran dan phoenix. Dalam budaya dan kepercayaan Cina, phoenix dikenal sebagai raja burung sekaligus burung terindah di alam semesta.

Phoenix menyimbolkan kehangatan dan keberuntungan dalam kehidupan.

Pintu untuk menuju ke ruang persiapan di samping kanan kiri hall sembahyang hanya berupa satu lapis pintu panel dengan dua daun bergaya kolonial Belanda dan berbentuk persegi panjang meninggi. Pengaruh pintu gaya kolonial Belanda juga terlihat pada bentuk lubang ventilasi yang melengkung setengah lingkaran (bovenlicht), dengan teralis dari kayu yang dilapisi cat warna biru tua dan ditutup dengan kaca polos.

(26)

Gambar 2.7.Pintu Hall Sembahyang Gambar 2.8.Pintu Ruang Persiapan Sumber: Ernawati (2005,156) Sumber: Ernawati (2005,157) 5. Perabot

Penataan perabot di depan ruang persiapan sangat simetris, terdiri atas sebuah meja yang diletakkan di tengah dan diapit dua buah kursi. Meja terbuat dari bahan kayu jati dilapisi pelitur warna cokelat tua. Top table berbentuk setengah lingkaran dengan 4 buah kaki meja berbentuk kotak, mengadopsi dari bentuk meja gaya Neoklasik dan Empire Style yang umumnya berfungsi sebagai console table. Pengaruh Cina tampak menonjol pada elemen dekorasi yang terdapat di sekeliling depan dan samping pada pertemuan antara top table dan kaki-kaki meja, berupa ukirukiran bermotif floral, sulur-suluran dan burung phoenix yang menyimbolkan keberuntungan dan kebahagiaan. Selain itu pada bagian bawah keempat kaki meja terdapat aksen berupa ornamen kepala naga symbol kekuasaan dan kekuatan.

Kursi terbuat dari kayu jati dilapis cat pelitur warna hitam. Kursi mengadopsi bentuk perabot dinasti Ming berupa horse-shoe chair. Tampak pada bentuk dudukan kotak dan bagian tengah sandaran punggun berupa bidang melengkung. Pada permukaan sandaran punggung terdapat aksen ukiran bermotif sulur-suluran. Bagian sandaran tangan telah mengalami sedikit modifikasi sehingga tidak lagi dinamis berbentuk melengkung yang menyatu dengan sandaran punggung tetapi dibuat lurus, kaku, dengan

(27)

bagian depan agak melengkung ke dalam.

Gambar 2.9.Ukiran pada perabot rumah abu Han. Sumber: Ernawati (2005,157)

Perabot utama berupa altar sembahyang khas Cina. Ada 3 buah altar dengan ukuran berbeda dan diletakkan di tengah-tengah hall. Altar ditata secara urut mulai dari ukurna terkecil bagian paling depan dan terbesar bagian paling belakang. Ketiga altar tersebut berupa meja berbentuk geometris persegi panjang yang sederhana, berkaki 4, terbuat dari kayu jati yang dilapis pelitur warna cokelat tua. Pada bagian siku dan sekeliling pertemuan antara top table dan kaki-kaki meja dipenuhi detail ukiran motif sulur-suluran dan 2 ekor naga yang mengapit sebuah mutiara (pearl) symbol matahari (terang) melambangkan kekuatan, kekuasaan dan keberuntungan. Sebagai aksen, pada bagian bawag keempat kaki meja diberi ornamen berupa ukiran kepala naga yang menghadap ke luar. Di belakang altar ketiga, terdapat dinding penyekat berupa panel kayu setinggi plafond, dipenuhi ukiran bermotif floral dan phoenix.

Gambar 2.10.Altar di dalam rumah abu Han. Sumber: Ernawati (2005,159)

Pada dinding panel kayu jati kedua sisi altar terdapat dua pintu sebagai akses menuju ke ruang penyimpanan di belakangnya. Permukaanya dihiasi ukiran bermotif phoenix dan floral berbentuk segitiga pada bagian atas daun pintu. Terlihat adanya kaligrafi Cina warna emas yang diukir pada

(28)

permukaan papan kayu jati berlapis cat hitam, digantung vertikal dan simetris pada kedua sisi samping pintu serta secara horizontal di atas pintu.

2.2.2. Potensi Pasar Film Dokumenter

Film dokumenter dapat menjadi salah satu media pembelajaran untuk mengembangkan wawasan lebih luas lagi. Selain itu film documenter menjadi salah satu bentuk pelestarian tempat-tempat bersejarah dan secara tidak langsung menjadi media promosi. Film dokumenter tentang sebuah peninggalan sejarah dapat menjadi arsip komunitas-komunitas ataupun lembaga yang bergerak dalam bidang pelestarian kebudayaan dan sebagai salah satu sumber informasi bagi lembaga-lembaga pendidikan yang berkonsentrasi dalam bidang sejarah. Beberapa lembaga yang bergerak di bidang pelestarian sejarah di Surabaya adalah Surabaya Herittage dan

Surabaya Memory, selain itu Center for Chinese Indonesia Studies yang

berada di bawah naungan Universitas Kristen Petra merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berkonsetrasi pada pembelajaran kebudayaan Cina di Indonesia.

Dengan adanya perkembangan teknologi saat ini, banyak situs-situs internet yang berfungsi sebagai media streaming untuk menyiarkan film dokumenter kita kepada siapa saja yang tertarik. Dengan adanya internet, maka video kita memiliki peluang yang lebih besar untuk dilihat oleh masyarakat luas. Selain memiliki biaya yang lebih murah, internet dapat menjangkau market yang lebih luas. Beberapa situs untuk sebagai media

streaming video antara lain: youtube.com dan vimeo.com.

Film dokumenter juga dapat diikut sertakan dalam ajang festival film. Salah satu contoh festival film khusus film dokumenter adalah Eagle

Award yang tiap tahunnya diselenggarakan oleh Metro tv.

Beberapa bangunan bersejarah atau peninggalan sejarah diluar Indonesia seperti di Negara Taiwan. Terdapat sebuah televisi yang memutar video film dokumenter tentang bangunan atau peninggalan bersejarah tersebut. Hal ini berfungsi sebagai salah satu media informasi bagi para wisatawan yang berkunjung ke bangunan bersejarah tersebut. Sehingga

(29)

pengunjung dapat lebih mengerti tentang sejarah dan detail- detail peninggalan sejarah yang mereka kunjungi.

2.2.3. Potensi Produk Film Dokumenter

Film dokumenter menjadi sebuah tren tersendiri dalam perfilman dunia. Beberapa program televisi kabel seperti program National

Geographic atau Discovery Channel terus menayangkan film documenter

yang menceritakan berbagai hal dari penjuru dunia. Film documenter memberikan banyak informasi dan memperluas wawasan para penontonnya.

Media audio visual menjadi favorit karena media ini dapat menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas yakni dengan gambar yang bergerak, suara, informasi secara lisan, iformasi dari para ahli, bahkan dapat juga menggunakan teks. Dengan menggunakan media audio visual, maka proses pembelajaran dapat menjadi lebih efektif dan informasi yang ingin disampaikan dan tersampaikan dengan utuh kepada khalayak penonton. Lewat gambar dan suara yang mewakilkan suasana suatu tempat atau keadaan maka proses untuk menjelaskan menjadi lebih mudah dimengerti. Lewat gambar dan suara yang mewakilkan suasana suatu tempat atau keadaan maka proses menjelaskan dan memahami dapat berjalan dengan lebih baik.

2.3. Analisis Data

2.3.1. Analisa Data dengan Metode 5W+1H

What (Apa itu film dokumenter rumah abu Han?) Sebuah film

dokumenter bertema arsitektur rumah abu Han yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan yang ada di Surabaya. Film dokumenter rumah abu Han menceritakan tentang sejarah singkat datangnya keturunan Han dari Cina ke Indonesia dan menjelaskan gaya arsitektur rumah abu Han yang merupakan perpaduan gaya arsitektur Jawa, Cina dan Belanda. Film dokumenter rumah abu Han juga menjelaskan makna filosofis yang terkandung di dalam setiap ornament yang ada di

(30)

dalam rumah abu Han dan fungsi rumah abu Han hingga saat ini.

Who (Siapa target dari film dokumenter rumah abu Han?) Semua

masyarakat pada umumnya, tidak terkecuali masyarakat internasional dengan kisaran umur remaja - dewasa.

Where (Dimana film dokumenter rumah abu Han akan ditayangkan?)

Film dokumenter rumah abu Han akan menjadi arsip lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang pelestarian kebudayaan di Surabaya seperti Surabaya Heritage, Surabaya Memory dan Center for Chinese

Indonesian Studies yang merupakan lembaga pendidikan yang

mempelajari tentang kebudayaan Cina yang ada di Indonesia. Selain itu film dokumenter rumah abu Han akan ditayangkan di rumah abu Han sendiri saat rumah abu Han menjadi tuan rumah berlangsungnya seminar kebudayaan, acara bedah buku dan pameran kebudayaan seperti yang pernah berlangsung sebelumnya. Film dokumenter rumah abu Han juga akan di-upload ke situs-situs yang menampung karya audio visual seperti vimeo.com. Selain itu, film dokumenter rumah abu Han dapat menjadi salah satu karya yang diikut sertakan ke dalam festival film dokumenter tahunan Eagle Award yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi nasional yaitu Metro TV.

Why (Mengapa dibuat perancangan film dokumenter rumah abu Han?)

Sesuai dengan hasil wawancara bersama beberapa nara sumber seperti Ketua lembaga Surabaya Heritage Society Bapak Freddy H. Istanto mengatakan bahwa rumah abu Han merupakan salah satu peninggalan sejarah yang kondisinya masih utuh hingga saat ini, sebuah rumah yang memiliki gaya arsitektur yang unik dan kaya akan makna filosofis di dalamnya. Tetapi sangat sedikit masyarakat yang mendokumentasikan rumah abu Han dengan serius. Pemilik rumah abu Han sendiri Bapak Robert W. Rosihan. Beliau mengatakan bahwa banyak lembaga dan perseorangan dari luar Indonesia yang meneliti tentang keberadaan rumah abu Han dan silsilah keluarga Han, dan sangat sedikit masyarakat local yang berinisiatif untuk membuat sebuah dokumentasi tentang rumah abu Han sebagai bentuk pelestarian

(31)

budaya yang ada di Surabaya . Untuk itu dibuat sebuah perancangan film dokumenter yang mengangkat tema rumah abu Han sebagai bentuk pelestarian peninggalan kebudayaan yang ada di Surabaya. Dengan adanya film dokumenter rumah abu Han, diharapkan dapat menjadi saah satu media promosi peninggalan kebudayaan yang ada di Surabaya.

When (Kapan film dokumenter rumah abu Han akan dipublikasikan?)

Film dokumenter rumah abu Han akan dipublikasikan sekitar bulan Juni- Juli tahun 2011.

How (Bagaimana proses pembuatan film dokumenter rumah abu Han?) 1. Pra Produksi

- Menentukan tema film yaitu rumah abu Han (sejarah dan arsitektur)

- Melakukan wawancara dan pencarian data - Membuat treatment

- Persiapan proses produksi dengan melakukan survey lokasi - Membuat skrip

2. Produksi

- Melakukan pengambilan gambar sesuai dengan skrip yang telah dibuat

- Dokumentasi rumah abu Han dalam bentuk foto dan video - Mempersiapkan gambar-gambar pendukung yang dibutuhkan

seperti: peta Surabaya, foto-foto Surabaya kuno dan lainnya 3. Pasca Produksi

− Melakukan seleksi gambar yang akan dimasukkan ke dalam

proses editing.

Editing sesuai dengan skrip yang telah dibuat

− Melakukan rekam suara untuk narasi film − Menggabungkan antara gambar dan suara − Film yang telah jadi dikemas dengan baik

(32)

2.3.2. Kesimpulan Analisis Data

Rumah abu Han merupakan rumah abu terbesar dan tertua di Surabaya. Rumah abu Han berfungsi sebagai tempat sembahyangan keluarga Han untuk menghormati leluhur mereka. Detail-detail interior seperti kursi, guci, ukiran pada pintu dan beberapa sudut ruangan memiliki gaya khas Cina yang sangat kuat. Gaya penataan ruangan seperti rumah tinggal Jawa dan juga beberapa bahan-bahan bangunan yang impor dari Eropa, perpaduan gaya arsitektur antara arsitektur Jawa, Cina dan Belanda atau Eropa menjadikan rumah abu Han memiliki sebuah gaya arsitektur yang unik. Dan saat ini dilihat masih kurangnya pelestarian dalam bentuk dokumentasi yang dibuat tentang rumah abu Han. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan rumah abu Han.

Melihat potensi-potensi yang dimiliki rumah abu Han, film dokumenter dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkenalkannya kepada masyarakat. Dengan menceritakan sejarah singkat dan lebih mengutamakan tentang arsitektur dan makna-makna filosofis yang terkandung di dalam arsitekturnya, maka dapat dibuat sebuah film dokumenter yang mengangkat tema tersebut. Masyarakat dapat mempelajari dan memperkaya wawasan tentang perpaduan gaya arsitektur yang dimiliki rumah abu Han. Sekaligus dapat menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Surabaya dan mengunjungi peninggalan kebudayaan yang ada di Surabaya khususnya rumah abu Han.

Gambar

Gambar 2.1. Bentuk atap rumah abu Han. melengkung ke atas mengadopsi bentuk  atap swallow’s tail gaya Cina
Gambar 2.2. Organisasi ruang tradisional Jawa (kiri) dan rumah abu Han.
Gambar 2.3. Hall Sembahyang rumah abu Han.
Gambar 2.4. Dinding hall sembahyang       Gambar 2.5. Ukiran pada panel kayu.
+4

Referensi

Dokumen terkait

Konsep Regionalisme dari arsitektur tradisional Jawa (Rumah Joglo) dan arsitektur tradisional Nusa Tenggara Timur (Ume Kbubu) diterapkan pada tata ruang, tata massa,

penyimpanan troli menyimpan troli bersih PRIVAT INDOOR Ruang distribusi mendistribusikan linen PUBLIK INDOOR Ruang istirahat Semua. pengguna

indoor Mencari informasi yang diperlukan Resepsionis/ foyer Publik/ servis Indoor Jasa fotografi, berfoto Ruang studio foto sewa Semi privat Indoor Pelatihan dan

Secara umumnya Shinto adalah sebuah kata yang dipakai untuk mewakili kepercayaan tradisional orang Jepang yang berbasis kepercayaan terhadap dewa dan roh.. Dan bukan hanya itu

4. Privat: dirinya sendiri dalam lingkungan fisik dan dalam lingkungan spiritual. Pola organisasi ruang rumah Sasono Mulyo dimulai dari area publik terdiri dari halaman

Developer adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan rumah tinggal dan atau ruang usaha dengan cara pengalihan hak atas produk

Konsep desain taman rumah tinggal tradisional Madura adalah adanya ruang publik ( taneyan ) berbentuk axis yang menghubungkan pintu masuk dengan ruang semi publik ( langghar )

Secara umum, Arsitektur tradisional Jawa mempunyai tipologi atau bentuk keseluruhan rumah tempat tinggal yang dapat dilihat dalam denah berupa bujur sangkar atau persegi panjang,