• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA

2.1. Studi Literatur

2.1.1. Tari Tradisional Tiongkok 2.1.1.1. Sejarah

Tari tradisional Tiongkok telah ada sejak 5000 tahun yang lalu. Seperti kebudayaan pada umumnya, tari tradisional Tiongkok juga banyak dipengaruhi oleh kehidupan keseharian dari masyarakat Tiongkok sendiri ( New York Chinese Cultural center, par.1 ). Dalam kebudayaan Tiongkok, menari adalah suatu cara untuk mengungkapkan emosi dan perasaan yang tidak hanya pada individu saja namun juga karakter suatu bangsa. Melalui gerakan tubuh penari, sang koreografer mengekspresikan buah pikirannya. Itulah sebabnya mengapa perpaduan bentuk dan gerakan, yang disebut juga sebagai teknik tubuh (body teknik), dipengaruhi sepenuhnya oleh perasaan penari terhadap makna yang ingin disampaikan. ( Cap Go Meh ).

Pada jaman dahulu, penari adalah pekerjaan bagi kaum budak di mana tugas mereka adalah untuk tampil di istana bagi para raja dan juga kaum bangsawan. Pada masa dinasti Tang (618-907 M) “jalan sutra” terkenal sering dilewati oleh para pedagang dari India, Persia, dan Negara lain yang datang untuk berdagang sutra. Pada masa itu, agama Buddha juga mulai masuk ke daratan Tiongkok, dan memberikan pengaruh besar pada kebudayaan Tiongkok, dan kemudian juga memberikan pengaruh pada tari klasik Tiongkok ( New York Chinese Cultural center, par.2 ).

Adapun perjalanan seni tari tradisional Tiongkok dapat dijabarkan sebagai berikut :

Dimulai dari era Dinasti Zhou yang memerintah dari 1122 SM hingga 256 SM, terus turun temurun hingga periode lima dinasti (907 – 960 M). Istana kerajaan memiliki satu agen khusus yang bertanggung jawab atas seni musik dan tari, para penari maupun pemusiknya dilatih secara khusus. Sebagai tambahan, agen ini juga berperan mengorganisasi secara sistematis, mencari kreasi baru, menyaringnya dan akhirnya mengembangkan tarian rakyat, tarian religius serta

(2)

memulai seni tari didaerah lain. Demikian asal mulanya bagaimana timbul pertunjukan pentas tari. Sejak pertunjukan yang kebanyakan diciptakan oleh artis dengan berdasarkan tarian rakyat Tiongkok, seni tariannya semakin kaya dan akhirnya berasimilasi dalam bentuk kesenian tradisional Tiongkok.

Seperti telah disebutkan di atas, saat Zaman Dinasti Tang (618 – 907 M) adalah titik puncak kejayaan tarian tradional Tiongkok. Namun disaat masa peperangan lima dinasti, telah sangat mengacaukan tatanan sosial masyarakat sehingga banyak sekali tarian yang terkenal telah hilang atau menjadi tidak lengkap.

Setelah Dinasti Song (960 – 1279 M) opera rakyat menggantikan tarian asli sebagai bentuk kesenian yang berkembang pesat. Tentu saja, formasi dan perkembangannya opera rakyat pasti juga mewarisi dan bercampur dengan banyak bentuk kesenian sebelumnya. Tarian dan musik dari Dinasti Sui (581 – 618 M) dan Dinasti Tang menjadi unsur penting dari opera rakyat.

Meskipun penggabungan tarian rakyat ke dalam bentuk opera rakyat adalah berdasarkan kebutuhan opera tersebut, namun di dalamnya mengandung berbagai macam kesenian tradisional. Banyak peninggalan dari zaman dahulu memperlihatkan gambar penari dari berbagai zaman dinasti. Peninggalan ini menunjukkan hubungan yang sangat jelas antara opera dan tarian. Itulah sebabnya mengapa meskipun opera telah menggantikan tarian dan musik sebagai bentuk kesenian yang lazim di masyarakat saat itu, opera zaman dahulu masih tetap membawa karakteristik tarian Tiongkok kuno. ( Cap Go Meh ).

2.1.1.2. Jenis tarian tradisional Tiongkok

Secara garis besar tarian tradisional Tiongkok dibagi menjadi lima jenis, yaitu :

a. Festival and seasonal dances

Adalah tarian yang dilakukan pada festival tertentu, berkaitan dengan peringatan hari raya, atau pergantian musim.

(3)

Berikut adalah beberapa contoh jenis tari tradisional Tiongkok yang termasuk dalam jenis ini :

- Guzi Yangge

Gambar 2.1. Tarian Guzi Yangge

Sumber: “Festival and seasonal dances.”( 2003 )

Tarian ini terkenal di Propinsi dan kota – kota Shanghe, Huimin, Leling, Lingxian, Yangxin, Jiyang, dan linyi yang merupakan bagian dari Propinsi Shangdong. Tarian ini ditampilkan pada perayaan musim semi atau beberapa perayaan penting lainnya. Ada empat jenis peralatan yang digunakan dalam tarian Guzi Yangge ini: payung, gendang, tongkat, dan bunga. Bunga dibawa oleh seorang penari wanita. Gerakan payung membentuk lingkaran, rata, berdiri tegak, dan stabil. Gerakan gendang terkesan berani dan menimbulkan rasa segan, gerakan tongkat pemukul keras, seakan-akan shidup, cepat, bersih dan jelas. Sedangkan gerakan bunga bergelora dan penuh kekuatan, bersukacita dan terkesan manis.

Menurut catatan sejarah, sejarah tarian Guzi Yangge dapat ditelusuri kembali mulai Raja Jiajing memerintah pada jaman dinasti Ming ( 1522 – 1566 ) ( Chinaculture, par.3 ).

- Farmer’s dance

Tarian petani atau farmer’s dance ini terkenal di area kongregasi dari etnis korean di daerah utara timur China. Karakteristik dari tarian ini adalah

(4)

pukulan tamburin dan mengayunkan “topi gajah”. Gerakan para pemukul tamburin beragam, terkesan kuat dan teguh, mereka berpose seperti layaknya penunggang kuda dan pemanah sementara para pengayun “topi gajah” menggunakan leher mereka sebagai poros untuk mengayunkan pita sepanjang 12 meter yang terikat pada topi, dimana gerakan tersebut tampak seperti roda yang mengelilingi para penari dan menyilaukan para penontonnya. Tarian ini biasanya terdiri dari 60 orang penari, dan memegang sebuah panji bertuliskan “Agrikultur adalah dasar dari seluruh dunia” tulisan ini menyampaikan tujuan dari tarian partikular ini adalah untuk menaruh perhatian lebih kepada bidang agrikultur, dan juga menghibur para petani ( Chinaculture, par.1 )

- Cap dance of the Hani Ethnic Group

Gambar 2.2. Tarian topi suku Hani

Sumber: “Festival and seasonal dances.” ( 2003 )

Cap dance of the Hani Ethnic Group atau Tarian topi suku Hani populer di Jinghong, daerah Xishuangbana, Propinsi Yunnan. Merupakan salah satu bentuk tarian festival masyarakat Aini (Bagian dari suku Hani) dan ditarikan dalam acara-acara seperti; Swing Festival (Festival Mengayun), Bamboo Shoot Fair (pasar malam menembak bambu), Rice Seed Festival (Festival Benih Beras). Saat menari bersama, kaum pria dan wanita membentuk lingkaran dan tidak ada batasan jumlah penari yang

(5)

diperbolehkan, sehingga siapapun bisa ikut serta. Para pria memainkan musik untuk membantu para wanita membentuk formasi, sementara pada bagian terakhir para penari utama dengan topi yang berbentuk unik di tangan mereka bergerak maju dan ke samping, bahkan di atas kepala, dengan sekonyong-konyong dan lutut yang sedikit gemetar menjadikan seluruh bagian tarian terasa alami dan hidup ( Chinaculture, par.2 ).

- Stilt Yangge

Gambar 2.3. Tarian Stilt Yangge

Sumber: “Festival and seasonal dances.” ( 2003 )

Stilt Yangge atau egrang Yangge terkenal luas di bagian Utara China, sementara salah satu jenisnya di bagian Selatan Propinsi Liaoning telah terbukti sebagai salah satu tari tradisional Tiongkok yang terbaik. Dalam tarian jangkungan / egrang Yangge bagian Selatan Propinsi Liaoning ini terdapat banyak karakter, antara lain ; “Jangkungan / egrang Pertama”,

“Jangkungan / egrang Kedua”, “Nelayan”, “mei po (Mak comblang)”,

“Sarjana”, “ Tokoh Wanita”, “Badut”. Sedangkan jenis tarian ini antara lain meliputi ; Jietang, Jiaxiang, Dadrang, dan Xiaochang. Jietang adalah tarian kelompok yang dipertunjukkan di jalanan, Jiaxiang berarti perdamaian yang dilambangkan dengan menggunakan bentukan fisik piramid dalam berbagai macam pose yang berbeda, Dachang adalah tarian kelompok yang menggambarkan gairah dan semangat, tarian dipertunjukkan di ruangan terbuka yang besar, sedangkan ciri khas dari

(6)

Xiaochang adalah kisah percintaan yang dipertunjukkan lewat tarian.

Singkatnya, tarian ini tidak hanya sangat lucu, namun juga sarat akan kehangatan kehidupan keseharian, membuatnya sangat populer di kalangan masyarakat setempat ( Chinaculture, par.3 ).

- Waking Lion Dance

Gambar 2.3. Waking Lion Dance

Sumber: “Festival and seasonal dances.” ( 2003 )

Di Indonesia, Lion Dance lebih dikenal sebagai Barongsai. Seekor “singa”

terdiri dari dua orang, salah satunya berada di bagian depan dan memegang bagian kepala, sedangkan seorang lainnya berada di bagian belakang dan menjadi bagian tubuh “singa”. Tarian ini sangat populer di bagian Selatan China, antara lain di Propinsi Guangdong dan juga di daerah – daerah lainnya.

Tarian ini memiliki karakteristik pada ekspresi yang unik dan penuh semangat, gerakan-gerakan yang dilakukan layaknya gerakan seekor singa yang lincah, bersemangat, dan cerdik. Atraksi yang paling menarik adalah bagian “Singa mengambil sayuran”. Sebuah hongbao atau angpao berisi sejumlah uang sebagai bentuk penghargaan diikatkan bersama dengan sayuran, dan digantungkan di bagian yang lebih tinggi, tujuannya adalah untuk mengundang si singa untuk melompat tinggi dan meraih sayuran tersebut. Penari yang berperan sebagai singa bertumpu pada segenap kebijaksanaan dan kemampuannya untuk meraih sayuran tersebut.

Meskipun adegan ini sulit untuk dilakukan, namun penari yang pintar dan

(7)

cerdik selalu dapat melakukan atraksi ini dengan baik, dan mendapat sambutan yang meriah dari para penontonnya ( Chinaculture, par.4 ).

- Phoenix Lantern

Gambar 2.4. Tarian Phoenix Lantern Sumber: “Festival and seasonal dances.” ( 2003 )

Tarian Phoenix Lantern (lampion Phoenix) juga dikenal sebagai “Bermain bersama Phoenix”, atau “Tarian Phoenix” populer di daerah Yun, Kota Shiyan, Kota Danjiangkou, serta di daerah Wuchang. Tarian ini dipertunjukkan pada Perayaan Musim Semi dan Festival Lampion yang dirayakan setiap tahun di China. Menurut kepercayaan Tiongkok, burung Phoenix adalah burung pembawa keberuntungan. Dan menari bersama burung Phoenix dapat membawa keberuntungan bagi seseorang tersebut di masa depan. Tarian Lampion Phoenix menggambarkan “3 cinta” yaitu cinta untuk kedamaian, cinta untuk peoni, dan cinta untuk matahari.

Sepanjang tarian, sang penari dan sosok burung Phoenix bagai terintegrasi menjadi satu : saat hinggap di cabang, Phoenix terlihat manis dan elegan, saat melihat peoni, gerakan Phoenix mencium bau peoni dan mengamati peoni terkesan halus, dan saat melihat matahari, dia terbang bebas dengan gerakan penuh sukacita dan semangat. Tarian ini ditampilkan dengan sebuah lampion indah yang berhiaskan gambar burung Phoenix sebagai pendukung, dan didukung pula oleh musik yang simpel dan merdu, secara keseluruhan memberikan sentuhan rasa lokal yang unik ( Chinaculture, par.5 ).

(8)

- Huagudeng (Flower Drum Lantern)

Huagudeng (Flower Drum Lantern) terkenal di lebih dari 20 kota dan daerah seperti Huainian, Fengtai, Huaiyuan, dll. Merupakan bentuk seni tradisional yang luas, meliputi tarian, nyanyian, pukulan gong dan gendang, serta seni bertarung dan akrobat yang ditampilkan pada festival dan perayaan musiman tertentu. Tarian menjadi elemen utama dalam kesenian Huagudeng ini. Adapun kesenian Huagudeng dibagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu: Dachang (tarian kelompok), Xiaochang (tarian terdiri dari dua sampai tiga oeang penari), dan Pangu yang mempertunjukkan sebuah kombinasi dari tarian, seni bertarung, dan atraksi lainnya ( Chinaculture, par.6 ).

- Yingge

Gambar 2.5. Tarian Yingge

Sumber: “Festival and seasonal dances.” ( 2003 )

Yingge juga disebut sebagai Yinge, Yangge, Yingge, populer di beberapa daerah di propinsi Guangdong, antara lain di Chaozhou, Shantou, dan juga berkembang di daerah kota Puning dan Chaoyang.

Banyaknya jumlah penari ditentukan berdasarkan dongeng kepercayaan kuno setempat, 36 orang penari untuk menampilkan cerita “Dewa-dewa langit”, 72 orang penari untuk menampilkan cerita “Dewa-dewa bumi”, dan 108 orang penari untuk menampilkan cerita “Para pahlawan di gunung Liangshan”. Para penari menggunakan kostum dan berdandan berdasarkan imajinasi mereka akan tokoh-tokoh pahlawan seperti yang digambarkan dalam kisah-kisah tersebut. Biasanya para penari berdandan mengikuti

(9)

gaya kota Chaozhou atau Shantou. Adapun gerakan dalam tarian Yingge juga terdiri dari tiga macam; stabil, rumit, seperti layaknya orang yang sedang mabuk, fleksibel, dan gerakan cepat namun tidak terkesan rumit ( Chinaculture par.7 ).

b. Life dances

Adalah tarian yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Biasanya diadakan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah beberapa contoh jenis tari tradisional Tiongkok yang termasuk dalam jenis ini :

- Axitiaoyue

Gambar 2.6. Tarian Axitiaoyue Sumber: “Life dances.” ( 2003 )

Axitiaoyue atau Axi menari kepada bulan adalah tarian suku Yi.

Merupakan tarian yang menyatakan kegembiraan, ucapan syukur dan sukacita, banyak ditarikan oleh orang-orang Axi dan Sani, yang juga merupakan anak suku Yi. Di Propinsi Yunnan. Tarian ini sangat terkenal di beberapa daerah di Yunnan, seperti; Mile, Lunan, Luxi, Yiliang, Qiubi, Luliang, dll. Sambil menari, para penari pria juga memainkan sebuah alat musik Tiongkok yang disebut Dasanxian atau instrument tiga senar, atau meniup seruling bambu sementara para penari wanita manyambut penari

(10)

pasangannya dengan bertepuk tangan. Sambil menari mereka juga membentuk formasi lingkaran atau membentuk dua barisan yang saling berhadapan. Diwarnai musik yang meriah, gerakan yang lincah dan bersemangat menjadikan tarian ini disukai oleh masyarakat ( Chinaculture, par.1 ).

- Bawangbian

Gambar 2.7. Tarian Bawangbian Sumber: “Lifedances.” ( 2003 )

Bawangbian merupakan salah satu tarian suku Bai yang paling representatif dan dikenal luas, gerakannya kaya dan beragam. Tidak hanya dipertunjukkan dalam acara-acara seperti “Raosanling” , “Perayaan bulan pertama Lunar”, “Perayaan petani”, namun juga dalam acara-acara seperti pembangunan rumah, pernikahan, dan perayaan-perayaan lainnya. Tarian ini memiliki sejarah yang panjang dan dicatat jelas dalam sebuah puisi berjudul “Raosanling Zhuzhici” dari jaman dinasti Qing ( Chinaculture, par.2 ).

(11)

- Waterdrum dance

Gambar 2.8. Tarian Waterdrum Sumber: “Life dances.” ( 2003 )

Waterdrum dance atau tarian gendang terkenal di desa-desa masyarakat suku De’ang dan suku Dai di Bawanxiang, kota Baoshan, Propinsi Yunnan. Tarian ini dipertunjukkan pada acara-acara yang bersifat religius atau perayaan tertentu. Dipertunjukkan di tengah kerumunan masyarakat, di area kuil Buddha, atau di desa-desa masing-masing. Tarian ini sangat meriah dan menarik, Dilengkapi dengan irama gendang air, Xiangjiaogu atau tambur yang berbentuk seperti kaki gajah, simbal, dan gong “Mang”

dengan berbagai ukuran. Gerakan dari para penari tenang dan perlahan, karena gendang dan tambur yang dibawa cukup berat, memberikan gaya tersendiri pada tarian ini ( Chinaculture, par.3 ).

(12)

- Peacock dance

Gambar 2.9. Tarian Merak Sumber: “Life dances.” ( 2003 )

Peacock Dance atau Tarian Burung Merak merupakan tarian yang sangat populer dari suku Dai di Propinsi Yunnan. Tarian ini biasanya dipertunjukkan pada tahun baru suku Dai di dalam “Festival menyiram air” (Salah satu ritual Perayaan tahun baru suku Dai), dan beberapa perayaan religius penting lainnya. Dipercaya sebagai simbol keberuntungan, menunjukkan harapan untuk kehidupan yang bahagia.

Penari menggunakan kostum dengan elemen yang menyerupai burung merak, sesuai namanya gerakan tarian ini juga banyak diadaptasi dari gerakan burung Merak ( Chinaculture, par.4 ).

(13)

- Dachai

Gambar 2.10. Tarian Dachai Sumber: “Life dances.” ( 2003 )

Disebut juga sebagai “melompat diantara rangkaian bambu”, sangat terkenal di daerah kongregasi suku Li di Propinsi Yunnan. Rangkaian bambu digerak-gerakkan sementara para penari melompat di atasnya.

Formasi dari rangkaian bambu ini diubah-ubah, dan para penari harus terus melompat agar tidak terjepit bambu. Pada suku Xiao, salah satu turunan dari suku Li, ada sebuah tradisi untuk mengantarkan kematian seseorang dengan gembira, oleh karena itu saat ada seseorang meninggal, keluarganya yang masih hidup harus menarikan tarian ini ( Chinaculture, par.5 ).

(14)

- Tiaoyue

Gambar 2.11. Tarian Tiaoyue Sumber: “Life dances.” 2003

Tarian ini berasal dari suku Miao, dan terkenal di daerah Changtianxiang, Baijinzhen di daerah Huishui Propinsi Guizhou. Mulai dari malam ke-tiga sampai malam ke-tiga belas dari bulan pertama di tahun baru lunar, masyarakat suku Miao akan berdandan, menggunakan pakaian yang indah dan membawakan tarian ini. Jumlah penarinya bisa mencapai puluhan bahkan sampai ratusan, setiap tim penari dipimpin oleh seorang pria muda yang meniup lusheng dan diikuti oleh para penari wanita. Para penari wanita membawa saputangan, gerakan dan kostum yang digunakan menunjukkan kelembutan wanita suku Miao ( Chinaculture, par.6 ).

(15)

- Kalajiaoleha

Gambar 2.12. Tarian Kalajiaoleha Sumber: “Life dances.” ( 2003 )

Kalajiaoleha berarti “kuda hitam yang berjalan” dalam bahasa Hazak.

Merupakan tarian khas suku Hazak dan sangat populer di daerah Xinjiang Uygur. Menurut pepatah suku Hazak “nyanyian dan kuda adalah dua sayap orang Hazak” gerakan penari pria tegas dan sekaligus mengandung kesan humor, sedangkan gerakan penari wanita lincah, manis, dan elegan, dikombinasikan dengan permainan mimik dan raut wajah serta ekspresi yang mendukung ( Chinaculture, par.7 ).

c. Ritual dances

Adalah tarian yang digunakan sebagai sebuah ritual / pemujaan, atau sebagai pelengkap dan pendukung dalam pelaksanaan sebuah upacara, seperti memperingati kelahiran, atau upacara memohon keselamatan, dll.

Beberapa tarian yang termasuk dalam jenis tarian ini adalah :

(16)

- Tiaopanwang

Gambar 2.13. Tarian Tiaopanwang Sumber: “Ritual dances.” ( 2003 )

Tiaopanwang adalah sebuah tarian ritual memenuhi sumpah kepada Panwang di Propinsi Yunnan. Menurut catatan sejarah, suku Yao menyukai “Pingwangquandie” lagu kuno “Piaoyangguohai”. Panwang adalah nenek moyang suku Yao dan juga dikenal sebagai pahlawan hebat, dan dipercaya arwahnya masih tetap melindungi dan menjaga masyarakat Yao. Untuk mengenang dan menghormatinya, masyarakat suku Yao mengadakan ritual yang dilakukan sebagai tradisi setiap tiga dan lima tahun yang diberi nama “memenuhi sumpah kepada Panwang”. Dalam ritual inilah tarian Tiaopanwang dipertunjukkan ( Chinaculture, par.1 ).

- Attacking An Ox Dance

Tarian menyerang sapi jantan suku Dulang di Propinsi Yunnan dan masih tetap eksis hingga saat ini sebagai upacara tradisional. “Menyerang sapi jantan untuk dikorbankan kepada langit”. Upacara tradisional ini dilakukan selama tiga hingga tujuh atau sembilan hari lamanya, dan selama upacara ini dilaksanakan, tarian ini juga harus mengiringinya setiap hari.

(17)

d. Belief dances

Tarian yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan.

Beberapa contoh tarian jenis belief dance ini adalah :

- Big drum dance of the Jinuo Ethnic Group

Gambar 2.14. Big drum dance Sumber: “Belief dances.” ( 2003 )

Tarian ini populer di kalangan suku Jinuo di daerah Propinsi Yunnan.

Ditarikan saat upacara pengorbanan pada nenek moyang, upacara pengorbanan untuk keluarga dan juga perayaan pembangunan rumah.

Tarian ini bersifat tenang dan mengkombinasikan kelembutan dan kekuatan dengan baik ( Chinaculture, par.2 ).

(18)

- Qiangmu of the Tibetan Ethnic Group

Gambar 2.15. Qiangmu of the Tibetan Ethnic Group Sumber: “Belief dances.” ( 2003 )

Qiangmu adalah salah satu tarian kaum Buddha di Tibet, merupakan bentuk kombinasi seni pertunjukkan yang indah, menggabungkan secara selaras pujian kitab suci dengan musik dan tarian, ditampilkan di kuil-kuil oleh para rahib dengan atmosfir yang meriah dan indah sekali.

Tarian Qiangmu terdiri dari seorang Qiangmu dan asisten Qiangmu, pada bagian awal iringan musik drum yang menjadi instrumen utama sangat lambat dan lembut, pada bagian akhir sangat bersemangat dan penuh gelora dengan iringan alat musik tiup tembaga ( Chinaculture, par.3 ).

e. Work based dances

Tarian yang berdasarkan pada pekerjaan sehari-hari. Biasanya berkaitan dengan harapan masyarakat untuk keberhasilan panen, berkaitan dengan agrikultural.

(19)

Adapun contoh tarian jenis ini adalah :

- Thrush neatening its nest

Gambar 2.16. Thrush neatening its nest Sumber: “Work based dances.” ( 2003 )

Thrush neatening its nest, atau tarian “burung Thrush merapikan sarangnya”. Terkenal di bagian Barat Propinsi Anhui di sekeliling daerah Liu’an. Adalah sebuah tarian yang menggambarkan harapan untuk keberhasilan panen dan dipertunjukkan di ladang selama masa menyiangi rumput untuk tanaman bibit. Burung Thrush hidup di sekitar lading bibit dan mengeluarkan suara seperti “ge-dong”, para petani menganggap Thrush sebagai burung pembawa keberuntungan bagi mereka. Tarian ini dipertunjukkan oleh dua orang penari yang memainkan peran sebagai dua ekor burung Thrush yang menarikan Yangge dan menyanyikan nyanyian gong dan gendang. Tarian ini sederhana dan sarat akan makna kehidupan ( Chinaculture, par.1 ).

(20)

2.1.2. Tari tradisional Tiongkok di Indonesia 2.1.2.1 Sejarah

Menurut catatan sejarah, hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok telah dimulai sejak tahun 1950. Hubungan persahabatan dan kerjasama serta pertukaran Budaya Indonesia - Tiongkok sudah berlangsung selama kurang lebih 59 tahun lamanya ( INTI, par.1 ).

Adapun tari Tiongkok dan Indonesia yang sama-sama tergolong kategori tari Timur memiliki banyak persamaan, seperti Tari Piring Putri mirip dengan tarian daerah yang dijumpai di Fengyang, Tiongkok. Kedua tangan penari memegang piring, dengan cincin di jari tengah memukul irama, dan di belakangnya dua orang pria dan lima orang wanita mengiringinya dengan memainkan musik yang merdu ( Kong 310 ). Bahkan dalam tari klasik Jawa yang berasal dari Keraton Yogyakarta, ada tarian bersama antara putri Tiongkok dan putri Jawa. Gerak tarinya indah dan anggun, diiringi musik gamelan. Tari ini mengisahkan legenda rakyat tentang seorang putri raja Tiongkok jaman kuno yang dinikahkan ke pulau Jawa. Tarian ini sempat disaksikan langsung oleh Kong pada kunjungan delegasi Tiongkok, 13 Januari 1995 ( Kong 311). Catatan-catatan dan data sejarah menunjukkan bahwa sejak masa lalu, seni tari tradisional Tiongkok dan kesenian Tiongkok lainnya telah masuk di wilayah Nusantara, dan kemudian turut mempengaruhi kesenian Indonesia, demikian sebaliknya tarian dan kesenian Indonesia yang dibawa oleh para delegasi Indonesia ke Tiongkok juga memberikan pengaruh pada kesenian Tiongkok.

Antara tahun 1955 sampai dengan tahun 1965 banyak delegasi budaya dari Tiongkok yang datang ke Indonesia untuk pertunjukkan seni tari dan kesenian tradisional lainnya, sebaliknya delegasi Indonesia juga mengunjungi Tiongkok untuk misi yang sama, yaitu mengenalkan budaya bangsa. kunjungan timbal balik antara rombongan nyanyi dan tari Tiongkok dan Indonesia sekurang-kurangnya sudah berlangsung lebih dari 70 Tahun. Dari pihak Tiongkok yang pernah berkunjung ke Indonesia, antara lain Misi Kebudayaan Tiongkok yang dipimpin oleh Zheng Zhenduo (Juni 1955, dengan pertunjukkan nyanyi dan tari, musik nasional, dan opera Peking), Rombongan Akrobat Beijing Tiongkok (Agustus 1956), Misi Kesenian Tiongkok yang dipimpin oleh Sa Kongliao (Maret 1961,

(21)

Presiden Soekarno berkenan menontonnya), Rombongan Akrobat Shanghai yang dipimpin oleh Sima Wenshen (Oktober 1963), serta Ansambel Tari dan Nyanyi Qianxian (April 1965) (Kong 312). Sedangkan misi-misi kesenian Indonesia yang mengadakan pertunjukkan di Tiongkok antara lain, Misi Kesenian Indonesia (Agustus 1954), Delegasi Persahabatan Kesenian Bali Indonesia (September 1956), Delegasi Persahabatan Kesenian Maluku Indonesia (September 1961), Misi Kesenian Indonesia (September 1961), Ansambel Tari dan Nyanyi Lekra Indonesia (September 1963), serta Misi Kebudayaan dan Kesenian Khusus Presiden Indonesia (Juni 1965, Presiden Liu Shaoqi berkenan menyaksikan pertunjukkan) ( Kong 313). Catatan sejarah membuktikan bahwa proses silang budaya yang berlangsung telah memberikan sumbangsih yang besar pada kesenian Indonesia dan Tiongkok Sayangnya, karena alasan politik selama masa pemerintahan Orde Baru segala jenis kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan Tiongkok dihentikan, hal ini mengakibatkan banyak nilai budaya yang sebenarnya bisa menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa menghilang.

Sampai pada Era Reformasi dimana peraturan dan larangan untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan Tiongkok dicabut, yayasan-yayasan yang peduli akan kelestarian budaya Tiongkok pun bermunculan. Satu masalah besar yang dihadapi saat ini adalah masalah regenerasi. Selama tiga puluh dua tahun lamanya kesenian dan kebudayaan tersebut telah berhenti, stagnan, dan tidak memiliki kesempatan untuk diwariskan pada generasi muda, sehingga saat ini butuh kerja keras untuk mewariskan hasil kesenian dan kebudayaan tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, perlahan-lahan upaya pelestarian seni dan budaya Tiongkok telah membuahkan hasil. Beberapa tahun ini seni tari tradisional Tiongkok di Indonesia telah banyak mengalami perkembangan. Di Surabaya sendiri, dan juga di beberapa kota besar lain di Indonesia banyak yayasan yang menyediakan sarana untuk mempelajari tari-tarian tradisional Tiongkok, dan tidak hanya yayasan, grup – grup tari komersil pun banyak bermunculan, dan hampir setiap grup memiliki tarian oriental. Selain tampil di acara-acara perayaan tertentu, tari tradisional Tiongkok juga tampil di acara-acara pernikahan, ulang tahun yayasan, acara-acara budaya, dan bahkan acara resmi yang bersifat Nasional, acara-acara publik dan ditampilkan di berbagai media.

(22)

Selain itu, pertukaran delegasi kebudayaan dengan Tiongkok pun kembali diadakan dalam rangka memperkaya khasanah budaya, dan tentunya mengenalkan budaya bangsa Indonesia kepada masyarakat Internasional.

2.1.2.2. Perkembangan

Seperti kebudayaan lainnya, tari tradisional Tiongkok di Indonesia telah mengalami perjalanan panjang hingga saat ini, tidak hanya terbatas pada masyarakat keturunan Tionghoa saja yang mempelajari seni tari tradisional Tiongkok, namun juga kalangan masyarakat yang lain.

Adapun setiap daerah memiliki tata cara, kebudayaan dan ciri khas yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman agar bisa menarikan sebuah tarian daerah dengan baik. Dewasa ini dengan didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mempelajari seni tari tradisional Tiongkok menjadi lebih mudah, mulai dari media VCD sampai buku panduan tentang tari tradisional Tiongkok juga telah tersedia, namun sayangnya saat ini khususnya di Surabaya banyak grup tari yang asal-asalan dalam memadukan gerakan dan kostum tari Tradisional Tiongkok, sehingga ciri khas daerah yang seharusnya ditampilkan dalam sebuah tarian menjadi kabur. Angkawidjaja, salah satu pimpinan Sanggar tari Wijaya Kusuma Surabaya yang telah berdiri sejak tahun 1982 dan berorientasi pada tari Indonesia kreasi baru dan tari tradisional Tiongkok mengatakan bahwa di Surabaya banyak grup tari yang salah kaprah dalam menampilkan sebuah tarian, tidak hanya tarian tradisional Tiongkok, namun juga tarian tradisional Indonesia sendiri. Menurutnya, sebuah tarian bersifat universal. Dapat di kreasi dan dikembangkan, asal jangan sampai kehilangan ciri khasnya ( percakapan pribadi, 12 Maret 2009 ).

Tari tradisional Tiongkok yang banyak dipelajari di Indonesia antara lain tarian suku Han, Tibet, Korean, suku-suku minoritas dari daerah Yunnan, suku Dai, dan juga beberapa jenis tarian kontemporer yang merupakan bentuk pengembangan dari tari tradisional Tiongkok sendiri. Dalam penerapannya juga menekankan pada ciri khas dan keunikan gerakan yang dimiliki oleh masing- masing suku, selain itu juga dilakukan penuesuaian kostum dan juga properti tarian. Biasanya jika kostum atau properti tertentu tidak terdapat di Indonesia,

(23)

maka akan diganti dengan properti lain yang mirip / serupa atau mendatangkan langsung dari Tiongkok.

Pada proses perkembangan kesenian dan kebudayaan yang masih terus berlangsung, dibutuhkan pemahaman yang baik akan kesenian dan kebudayaan tersebut, agar dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya dan tetap terjaga kelestariannya.

2.1.3. Identifikasi Data Teori

2.1.3.1. Teori Integrated Marketing Communication

Menurut four As ( The American Association of Advertising Agency ), Komunikasi Pemasaran Terpadu atau Integrated Marketing Communication ( IMC ) adalah :

Konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah rencana komprehensif yang mengkaji peran strategis masing-masing bentuk komunikasi, misalnya iklan, direct response, promosi penjualan, dan humas dan memadukannya untuk meraih kejelasan, konsistensi, dan dampak komunikasi maksimal melalui pengintegrasian pesan ( dalam Sulaksana 30 ).

Konsep IMC telah diperluas dari sekedar untuk kepentingan pemasaran, menjadi lebih komprehensif dan menyentuh berbagai aspek terkait perusahaan.

Adapun IMC mencakup empat jenjang, yaitu : aspek filosofis, mulai dari visi yang dijabarkan menjadi misi, hingga dirumuskan menjadi sasaran korporat yang menjadi pedoman semua fungsi dalam perusahaan. Kedua, menyangkut keterkaitan kerja antar fungsi ( operasi, Sumber Daya Manusia, litbang, pemasaran, distribusi, penjualan ). Ketiga, menjaga keterpaduan atau integrasi berbagai fungsi tersebut untuk mewujudkan tiga hal: konsistensi positioning untuk meraih reputasi yang diharapkan, memelihara interaksi sehingga terjalin ikatan hubungan yang kokoh dengan, dan menerapkan pemasaran berbasis misi untuk mendongkrak nilai tambah di mata stakeholder. Keempat, memantapkan jalinan hubungan untuk membina loyalitas dan memperkuat ekuitas merek (produk dan korporat) terhadap stakeholder ( Sulaksana 31 ).

(24)

2.1.3.2. Teori Komunikasi

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata latin communis yang berarti “sama”, communico, communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” ( Mulyana 41 ). Secara sederhana dapat didefinisikan sebagai proses pengiriman sebuah pesan dari pengirim kepada penerima.

Berikut adalah tiga konseptualisasi komunikasi : - Komunikasi sebagai tindakan satu arah

Menurut Michael Burgoon disebut sebagai “definisi berorientasi sumber” ( source oriented definition ) ( dalam Mulyana 61). Definisi seperti ini mengisyaratkan komunikasi sebagai semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respons orang lain. dalam konteks ini komunikasi dianggap suatu tindakan yang disengaja (intentional act) untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator.

- Komunikasi sebagai interaksi

Konseptualisasi ini sering diterapkan pada komunikasi. Pandangan ini menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebab-akibat atau aksi- reaksi yang arahnya bergantian. Dua pihak berfungsi secara berbeda, salah satunya sebagai pengirim dan salah satunya sebagai penerima. Komunikasi sebagai interaksi dipandang sedikit lebih dinamis daripada komunikasi sebagai tindakan satu-arah. Salah satu unsur yang dapat ditambahkan dalam konseptualisai kedua ini adalah umpan balik (feedback) yakni apa yang disampaikan peerima pesan kepada sumber pesan ( Mulyana 65 ).

- Komunikasi sebagai transaksi

Dalam konteks ini komunikasi adalah suatu proses personal karena makna atau pemahaman yang diperoleh pada dasarnya bersifat pribadi. Proses penyandian (encoding) dan penyandian balik (decoding) bersifat spontan dan simultan di antara orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Dalam pandangan ini komunikasi tampak bersifat dinamis, lebih sesuai untuk komunikasi tatap-muka yang memungkinkan pesan atau respon verbal dan non-verbal bisa diketahui secara langsung ( Mulyana 67 ).

(25)

Adapun Model proses komunikasi sederhana digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.17. Proses Komunikasi Pemasaran

- Sumber ( Source ) pesan yang menentukan tujuan komunikasi dan menetapkan sasaran komunikasi. Pemasar membuat tujuan kampanye iklan dan promosi dan menyasarkan kampanye tersebut pada segmen sasaran tertentu.

- Proses Encoding adalah penyandian tujuan menjadi sebuah pesan.

Agensi iklan merancang pesan yang disandikan dalam bentuk iklan.

Pesan disandikan wiraniaga dalam bentuk presentasi penjualan.

- Pengiriman ( Transmission ) pesan melalui media agar dapat menjangkau audiens sasaran. Penyebaran komunikasi pemasaran bisa lewat media massa, komunikasi getok tular dari wiraniaga, atau selebaran direct-mail yang dikirimkan kepada rumah sasaran.

- Proses Decoding oleh penerima agar pesan dapat dipahami dan mungkin untuk disimpan dalam memori nantinya. Dua pertanyaan utama adalah apakah konsumen menafsirkan pesan seperti yang diinginkan pengiklan, dan apakah pesan berdampak positif pada sikap dan perilaku konsumen.

- Umpan balik ( Feedback ) atas efektivitas komunikasi pemasaran kepada sumber ( Sulaksana 34 ).

Dalam proses komunikasi bisa terjadi gangguan ( noise ) atau hambatan ( barrier ). Hambatan komunikasi dapat terjadi pada sumber, proses encoding, proses pengiriman, atau terhadaap penerima saat mengartikan pesan.

Source Encoding Transmission Decoding Action

UMPAN BALIK

UMPAN BALIK tidak langsung

UMPAN BALIK langsung

Pemasaran Biro Iklan/ Pemasar / Tenaga penjual

Media masa/ Toko / Tenaga penjual

Konsumen

(26)

- Hambatan pada sumber

Hambatan pada sumber umumnya berupa perumusan tujuan yang kurang jelas ( Sulaksana 36 ).

- Hambatan dalam proses encoding

Hambatan dalam proses encoding berupa penyandian yang kurang tepat terhadap suatu pesan, sehingga pesan yang disampaikan menjadi gagal.

- Hambatan dalam transmisi pesan

Dalam tahap pengiriman pesan, hambatan yang umumnya ditemui komunikator adalah competitive clutter, kekusutan yang terjadi karena banyaknya iklan ( Sulaksana 37 ).

- Hambatan dalam proses decoding

Buruknya konsep produk dan kegagalan dalam mengembangkan pesan iklan yang relevan dengan kebutuhan konsumen bisa menimbulkan hambatan pada proses decoding. Selain itu hambatan pada proses decoding juga mungkin terjadi karena kurangnya perhatian pada pesan ( Sulaksana 38 ).

2.1.3.3. Teori Pemasaran

Pemasaran didefinisikan sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan, lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain ( Kotler, Armstrong 8 ). Sedangkan konsep paling dasar yang melandasi pemasaran adalah kebutuhan manusia. Kebutuhan didefinisikan sebagai pernyataan dari perasaan kekurangan, keinginan adalah kebutuhan manusia yang dibentuk oleh budaya dan kepribadian seseorang, sedangkan permintaan terjadi ketika keinginan didukung oleh daya beli. Pemasaran juga berarti mengelola pasar untuk menghasilkan pertukaran dan hubungan, dengan tujuan menciptakan nilai dan memuaskan kebutuhan dan keinginan ( Kotler, Armstrong 17 ).

Secara ringkas, dirumuskan bahwa konsep pemasaran adalah untuk mencapai tujuan organisasi tergantung pada penentuan kebutuhan dan keinginan

(27)

target market dan memuaskan pelanggan secara lebih efektif dan efisien daripada yang dilakukan oleh kompetitor.

Proses pemasaran adalah proses yang : - menganalisis peluang pemasaran - menyeleksi pasar sasaran

- mengembangkan bauran pemasaran, dan

- mengatur usaha pemasaran ( Kotler, Armstrong 67 ).

Untuk mencapai kesuksesan dalam persaingan saat ini, perusahaan harus berorientasi pada pelanggan, memenangkan pelanggan dari pesaing dan mempertahankannya dengan memberi nilai yang lebih besar. Namun sebelum dapat memuaskan konsumen, terlebih dulu sebuah perusahaan harus memahami kebutuhan dan keinginan konsumen, hal ini dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

- Segmentasi pasar

Membagi suatu pasar ke dalam kelompok-kelompok pembeli yang berbeda-beda berdasarkan kebutuhan pasar, karakteristik, atau perilaku yang mungkin memerlukan produk atau bauran pemasaran yang berbeda ( Kotler, Armstrong 68 ).

- Menetapkan pasar sasaran ( market targeting )

Proses mengevaluasi daya tarik dari masing-masing segmen pasar dan memilih satu segmen atau lebih untuk dimasuki ( Kotler, Armstrong 68 ).

- Menempatkan posisi pasar ( market positioning )

Mengatur sebuah produk agar mendapatkan tempat yang jelas, dapat dibedakan, serta lebih diharapkan daripada produk pesaing dalam benak konsumen sasaran ( Kotler, Armstrong 69 ).

Seluruh program pemasaran perusahaan harus mendukung strategi penempatan posisi yang sudah diputuskan.

Sedangkan bauran pemasaran ( marketing mix ) didefinisikan sebagai seperangkat alat pemasaran teknis dan terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan oleh pasar sasaran ( Kotler, Armstrong 71 ). Marketing mix kemudian lebih dikenal sebagai “empat P” : product, price, place, promotion ( produk, harga, distribusi, dan promosi ). Produk

(28)

(product) adalah kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan kepada pasar sasaran. Harga (price) adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh produk. Distribusi (place) meliputi aktivitas perusahaan agar produk mudah didapatkan konsumen sasarannya, sedangkan promosi (promotion) adalah aktivitas mengkomunikasikan keunggulan produk serta membujuk pelanggan sasaran untuk membeli ( Kotler, Armstrong 74 ).

Program pemasaran yang efektif memadukan seluruh elemen pemasaran ke dalam suatu program koordinasi yang dirancang untuk meraih tujuan pemasaran perusahaan dengan mempersembahkan nilai kepada konsumen. Bauran pemasaran menciptakan seperangkat alat untuk membangun posisi yang kuat dalam pasar sasaran.

Meskipun memiliki perencanaan yang matang dalam masing-masing bagian dari “empat P” (4P) sangat penting, namun hal itu belum cukup, perusahaan perlu melakukan diferensiasi yang membedakan produk dengan produk sejenis milik pesaing. Diferensiasi bertujuan agar strategi 4P yang diterapkan bisa membuat produk dipersepsi secara berbeda di benak calon pelanggan. Diferensiasi yang bisa dilakukan tidak terbatas pada marketing mix, tetapi juga bisa menerapkan beberapa hal tertentu untuk bisa menunjang diferensiasi seperti yang diinginkan ( Kartajaya 31 ).

2.1.3.4. Teori Promosi

Secara luas, promosi penjualan dapat didefinisikan sebagai bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai insentif, umumnya berjangka pendek, yang dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera atau meningkatkan jumlah barang yang dibeli konsumen atau pedagang ( Sulaksana 109 ). Promosi penjualan mendorong konsumen untuk membeli dengan memberikan insentif. Promosi penjualan atau sering disebut sebagai promo merupakan unsur utama dalam kampanye pemasaran. Cakupan promosi penjualan begitu luas, meliputi promosi bagi konsumen lewat media pemberian sampel, kupon, cash refund, potongan harga, premium, hadiah, patronage reward, coba produk gratis, garansi, tie-in promotion, promosi silang, demonstrasi produk, dan point-of-purchase display. Promosi bagi pedagang meliputi potongan harga,

(29)

subsidi iklan dan display, dan barang gratis. Serta promosi bisnis dan pramuniaga (pameran dagang dan konvensi, kontes untuk pramuniaga, dan speciality advertising) ( Sulaksana 110 ).

Adapun secara teoritis, aktivitas promosi langsung di tempat belanja mempunyai beberapa keuntungan, antara lain :

- Membuat produk atau merek yang bersangkutan “keluar dari keramaian” artinya produk atau merek tersebut menjadi menonjol di antara produk atau merek lain dari kategori yang sama.

- Merupakan penghubung ke media lain. dengan menggunakan kreativitas yang sama, konsumen akan bisa mengingat kembali iklan yang pernah dilihatnya di televisi, media cetak, atau media lain.

- Mendorong terjadinya trial-purchase. Dalam mencoba sesuatu yang baru, konsumen selalu mempunyai resiko. Karena itu perlu dilakukan bujukan yang lebih dari sekedar beriklan di media massa.

- Mempunyai dampak reminding terutama untuk merek-merek yang sudah mapan dan punya tujuan untuk mempertahankan diri dari serangan merek-merek baru.

- Penguatan pesan komunikasi promosi point-of-purchase bisa memperkuat komunikasi pemasaran yang dilakukan lewat media lain dengan memberikan tambahan penjelasan yang sulit dilakukan lewat media lain. selain itu, jika promosi tersebut dilakukan oleh sales promotion girl, akan terjadi komunikasi dua arah ( Kartajaya 142 ).

Bahan-bahan promosi atau disebut juga sebagai Point of Sale Materials memiliki bentuk-bentuk yang beragam, antara lain :

- Leaflet (Selebaran)

Lembaran kertas cetak yang dilipat menjadi dua halaman atau lebih.

- Folder

Lembaran bahan cetakan yang dilipat menjadi dua bagian menyerupai map atau buku agar mudah dibawa. Bisa juga dilipat dengan gaya concertina sehingga membentuk beberapa halaman terpisah tanpa perlu dipotong.

Alasan perlunya folder agar mudah dimasukkan ke dalam amplop untuk diposkan atau dimasukkan ke dalam saku.

(30)

- Booklet (brosur)

Bahan cetakan yang terdiri dari beberapa halaman yang dijilid sehingga menyerupai buku.

- Katalog

Sejenis brosur yang berisi informasi rincian jenis produk/layanan usaha dan kadang-kadang dilengkapi dengan gambar-gambar. Ukurannya bermacam-macam mulai dari sebesar saku sampai sebesar buku telepon, tergantung pada keperluan bisnisnya.

- Kartu Pos

Media kartu pos yang menarik dapat menjadi publisitas yang bermanfaat.

Menghadiahkan kartu pos kepada konsumen sudah umum dilakukan oleh manajemen hotel, maskapai penerbangan, dan juga café-café. Biasanya konsumen menyukainya dan bahkan banyak yang mengkoleksinya.

- Stationery

Meliputi amplop, ballpoint, kop surat, dll. Stasioneri yang ditempatkan di dalam kamar hotel bukan hanya berfungsi sebagai service tool melainkan juga berfungsi sebagai Point of Sale Materials karena terdapat nama produk/jasa lengkap dengan alamat dan nomor telepon.

- Stufler (sisipan)

Adalah leaflet yang disisipkan atau ditempatkan di dalam kotak kemasan suatu produk, biasanya berisi tentang penjelasan atau cara penggunaan produk tersebut, atau berisi info tentang produk-produk lain yang diproduksi oleh perusahaan yang sama.

- Hanging Mobile

Sesuai namanya, hanging mobile merupakan alat pajangan yang bergerak apabila terkena angin, penempatannya dengan cara digantung. Biasanya berupa gambar atau identitas lain dari produk terkait. Hanging mobile bisa berbentuk 2 dimensi atau 3 dimensi.

- Wobler

Merupakan alat pejangan yang cara penempatannya ditempel di dinding atau di rak penjualan dengan menggunakan plastik mika atau bahan

(31)

sejenis, sehingga gambar menjadi lentur dan bergerak. Wobler biasanya dibuat dalam bentuk 2 dimensi.

- Self Talker

Media cetak yang mempromosikan suatu produk dengan cara penempatan langsung di rak tempat produk tersebut berada.

- Flag Chain

Rangkaian bendera kecil yang menampilkan gambar produk, merek,slogan, atau gabungan dari ketiga elemen tersebut. Bahan yang digunakan beragam, antara lain kertas, plastik, PVC, atau bahan sejenis.

- Poster

Poster bergambar dan full color biasanya dipakai sebagai dekorasi ruangan untuk ditempel di dinding, pintu, jendela toko, atau di dinding ruang pameran.

- Stiker

Merupakan bahan promosi yang paling banyak dan sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk mempromosikan produknya, karena sifatnya yang sangat fleksibel, bisa ditempel dimana saja. Kadangkala, stiker mempunyai kebanggaan tersendiri bagi si pemasangnya (konsumen).

- Kotak dispenser

Biasanya digunakan sebagai tempat meletakkan atau memajang leaflet atau brosur. Kebanyakan terbuat dari acrylic, straw board, atau kayu triplek. Selain itu juga dapat digunakan untuk produk-produk dengan kemasan praktis, seperti rokok dan permen.

- Model

Model disini lebih cenderung berfungsi sebagai hiasan atau pajangan dan biasanya dalam bentuk miniatur. Kebanyakan digunakan oleh biro-biro perjalanan atau perusahaan penerbangan, misalnya model pesawat terbang atau kapal laut dalam bentuk mini.

- Berbagai macam bentuk lainnya, antara lain jam, asbak, korek, gantungan kunci, kalender, T-shirt, topi, payung, dll.

(32)

2.1.3.5. Teori Media

Media diartikan sebagai metode komunikasi umum yang membawa pesan, misalnya: TV, Surat Kabar, Majalah, dll. Dalam dunia periklanan dikenal media primer dan media sekunder. Sesuai dengan namanya, media primer adalah media yang diutamakan dalam sebuah kampanye iklan, sedangkan media sekunder adalah media-media yang sifatnya menunjang atau melengkapi media primer.

Selain itu juga dikenal istilah Above The Line (ATL) dan Below The Line (BTL).

Menurut Frank Jeffkins ATL atau media lini atas merupakan media yang berhak mengatur pengakuan dan pembayaran komisi kepada biro iklan, sedangkan BTL atau media lini bawah tidak memberikannya. Dengan kata lain, biro iklan tidak berhak menerima komisi dari biaya operasional media-media BTL.

Media ATL bersifat tak langsung mengena pada audience, dan terbatas pada penerimaan audience sedangkan media BTL bersifat langsung mengena pada audience karena sifatnya yang memudahkan audience langsung menyerap satu produk/pesan saja.

Berikut adalah beberapa media yang termasuk dalam media ATL : - Surat Kabar

- Majalah - Televisi - Radio

- Media luar ruang (outdoor) - Bioskop, dll.

Sedangkan yang termasuk dalam media BTL antara lain : - directmail

- Katalog

- Point of Purchase - Pameran

- Brosur, dll.

Selain media ATL dan BTL, saat ini media Through The Line (TTL) juga banyak digunakan dalam periklanan. TTL merupakan media yang sifatnya menetap dan menyesuaikan dengan media di sekelilingnya, langsung berinteraksi dengan audience dan memiliki daya stopping power yang kuat. Masing-masing

(33)

jenis media memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri, tidak ada media yang benar-benar sempurna atau efektif. Oleh karena itu penentuan media sangat tergantung pada strategi dalam melakukan proses perencanaan media.

2.2. Identifikasi Data Grup Tari 2.2.1. Data Grup Tari

2.2.1.1. Nama Grup Tari

Gambar 2.18. Logo PA CHHS dan Logo Grup Remaja Tari tradisional Tiongkok PA CHHS

Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS lebih dikenal dengan nama “Zhong-Zhong Xiao you hui Qing shao zu wu dao” atau “Zhong-Zhong Qing shao zu wu dao” jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti kelompok penari remaja Perhimpunan Alumni Chung Hua High School Surabaya. Tampak dalam logo grup tari tradisional tiongkok PA CHHS, karakter “中中青少组舞蹈”

(dibaca “Zhong-Zhong Qing shao zu wu dao”) digunakan sebagai elemen logotype Utama untuk menunjukkan identitas dan kesan tradisional. Semenjak didirikan pada tahun 2001 hingga saat ini, nama ini masih tetap digunakan sebagai identitas grup baik pada acara-acara yang diadakan sendiri oleh perkumpulan, maupun pada acara-acara yang bersifat umum di luar perkumpulan.

(34)

2.2.1.2. Pengelola Grup Tari

Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS dikelola langsung oleh Perhimpunan Alumni, dan berada di bawah naungan bagian kesenian dan kebudayaan (wen yu bu), bagian kesenian dan kebudayaan sendiri memiliki ketua dan tiga orang penanggung jawab yaitu : penanggung jawab tari tradisional Tiongkok grup dewasa, penanggung jawab seni musik tradisional Tiongkok (meliputi seni alat musik tradisional dan nyanyian), dan penanggung jawab seni tari tradisional Tiongkok grup anak-anak dan remaja. Penanggung jawab seni tari tradisional Tiongkok grup anak-anak dan remaja adalah Bapak Tirta Purnama Sidharta, Beliau bertanggung jawab atas jadwal latihan, pemilihan pengajar, seleksi penari, mempersiapkan kostum dan juga menjadi contact person.

2.2.1.3. Jenis-jenis Tarian yang Diajarkan

Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS berorientasi terutama pada tari tradisional Tiongkok (Chinese folk dances). Adapun selain jenis tarian tradisional Tiongkok, juga diajarkan tarian Tiongkok kontemporer, yang kebanyakan merupakan bentuk pengembangan dari tari tradisional Tiongkok sendiri. Beberapa jenis tarian yang diajarkan antara lain : tarian suku Tibet, tarian suku minoritas Yunnan, tarian suku Han, tarian suku meng gu, tarian suku Yi, tarian suku chao xian yang kostum dan gerakannya mirip dengan tarian Korea, tarian Xin jiang, sedangkan beberapa tarian kontemporer berupa tarian tematik seperti olimpiade Beijing 2008, tarian “Selamat tahun baru” tarian kontemporer seperti “Bahasa musim semi” yang mengisahkan seorang petani yang gembira saat melihat benih yang ditaburnya telah bersemi. Menurut penanggung jawab Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS, tarian suku Tibet menjadi salah satu tarian yang selama ini banyak diminta untuk tampil di berbagai acara, baik acara arisan yayasan lain, maupun acara-acara seperti pernikahan dan ulang tahun.

2.2.1.4. Potensi Grup Tari

Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS memiliki sarana tempat latihan yang mendukung; studio yang luas dan nyaman dilengkapi cermin-cermin besar dan perlengkapan audio visual yang menunjang membuat proses pengajaran

(35)

menjadi lebih mudah, selain itu sistem pengajaran yang diterapkan tidak semata- mata menuntun para anggotanya agar bisa menari, tetapi juga mengenalkan ciri dan budaya tradisional Tiongkok lewat tarian. Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS juga memiliki penari laki-laki dalam jumlah yang banyak, sehingga memungkinkan untuk mempelajari dan menampilkan tarian yang lebih beragam. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki, Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan dan dikenalkan lebih luas kepada masyarakat di Surabaya.

2.2.1.5. Lokasi Grup Tari

Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS berlokasi di sekretariat perkumpulan, yang juga menjadi lokasi pusat kegiatan PA CHHS yaitu di Jln.

Undaan Kulon No.1 Surabaya (untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut) :

Gambar 2.19. Alamat Sekretariat PA CHHS

(36)

2.2.1.6. Foto Grup Tari

Berikut ini adalah dokumentasi pribadi dari anggota Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS, adapun foto-foto ini diambil pada saat pertunjukkan.

Gambar 2.20. Tarian “Diao qing wu” Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS

(37)

Gambar 2.21. Tarian “Yi qian ling yi ye” Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS

2.2.1.7. Harga

Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS tidak sepenuhnya berorientasi keuntungan, melainkan lebih terorientasi kepada tujuan sosial dan kebudayaan, karena itu Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS menetapkan harga sesuai dengan tingkat kemampuan konsumennya. Bahkan grup ini tidak mematok harga tertentu untuk tampil di acara-acara yayasan lain atau kegiatan yang bertujuan sosial dan kebudayaan. Untuk acara-acara seperti pesta pernikahan, ulang tahun, dan pertunangan biasanya harga ditetapkan berdasarkan

(38)

tempat dimana pesta tersebut diadakan, jika pesta dilangsungkan di tempat yang mewah harga yang ditetapkan juga lebih tinggi. Biasanya berkisar antara Rp.1.500.000,- untuk tiga tarian sampai Rp.4.000.000,- untuk lima tarian.

2.2.2 Data Pemasaran 2.2.2.1. Strategi Pemasaran

Walaupun sejak tahun 2007 Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS sudah diijinkan untuk tampil di berbagai macam acara umum (termasuk pernikahan) namun hingga saat ini Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS belum memiliki strategi pemasaran khusus. Selama ini pemasaran berlangsung dari mulut ke mulut (getok tular), tanpa dukungan dari media pemasaran seperti kartu nama, brosur, dll.

2.2.2.2. Wilayah Pemasaran

Selama ini kebanyakan konsumen yang mengundang Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS untuk tampil berasal kota Surabaya sendiri dan juga daerah sekitar Surabaya seperti Jombang, Batu, dan Sidoarjo. Adapun demikian mayoritas konsumen adalah masyarakat Surabaya sendiri.

2.2.2.3. Potensi Pasar

Dalam setiap acara / pesta yang diadakan oleh masyarakat Tionghoa di Surabaya, baik acara-acara yang diadakan oleh yayasan tertentu maupun acara yang bersifat lebih personal seperti ulang tahun pernikahan, pertunangan, dan pernikahan, tari-tarian dan nyanyian menjadi hiburan yang selalu ada dan diminati oleh para tamu pesta. Terlebih lagi di era reformasi, kebebasan bagi masyarakat untuk mengembangkan kesenian dan kebudayaan Tiongkok juga tak terbatas sehingga mendukung grup-grup tari sejenis Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS untuk mengembangkan dan memajukan diri. Dengan demikian, potensi pasar yang dimiliki oleh Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS juga cukup tinggi.

(39)

2.2.2.4. Visi dan Misi Grup Tari

Tidak ada visi dan misi yang dirumuskan secara khusus oleh Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS, namun tujuan utamanya adalah untuk mengenalkan kebudayaan Tiongkok terutama seni tari tradisional Tiongkok kepada masyarakat Surabaya dan terutama kepada generasi muda, dan juga mengedepankan rasa kebersamaan serta kekeluargaan antar anggotanya.

2.2.3. Data Komunikasi Visual yang Ada 2.2.3.1. Sarana Komunikasi Visual Eksternal

Sarana komunikasi visual eksternal yang dimiliki oleh Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS adalah foto dokumentasi pribadi milik anggota yang digunakan sebagai media untuk mengkomunikasikan jenis tarian kepada calon konsumen, jika diperlukan. Sarana lainnya adalah tas kostum berupa koper hitam bertuliskan logo “CHHS”. Selain itu, masing-masing anggota juga memiliki sebuah jaket hitam bertuliskan logo “CHHS” yang digunakan saat berada di lokasi pertunjukkan sebagai identitas grup.

(40)

2.3. Identifikasi Data Kompetitor 2.3.1. Data Sanggar Tari

2.3.1.1. Nama Sanggar Tari

Gambar 2.22. Logo Sanggar Tari Wijaya Kusuma Surabaya

Sanggar tari Wijaya Kusuma Surabaya berdiri pada tahun 1982, selama kurun waktu 27 tahun sanggar tari Wijaya Kusuma telah menghasilkan banyak penari yang berbakat, dan tidak sedikit yang saat ini telah menjadi pengajar atau membuka sanggar tari sendiri. Pada mulanya, anggota sanggar tari Wijaya Kusuma kebanyakan telah berusia dewasa, namun lama kelamaan banyak anak muda yang menjadi anggotanya, hingga hari ini sanggar tari Wijaya Kusuma kurang lebih telah memiliki 100 anggota, mulai dari usia anak-anak hingga dewasa.

2.3.1.2. Pengelola Sanggar Tari

Sama seperti Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS, sanggar tari Wijaya Kusuma didirikan oleh perkumpulan alumni dari beberapa sekolah di Surabaya, adapun yang menjadi pimpinan sekaligus pelatih sanggar adalah Bapak Angkawidjaja dan Bapak Siswanto Gondo Purnomo.

(41)

2.3.1.3 Jenis-jenis Tarian yang Diajarkan

Pada awal berdirinya, sanggar tari Wijaya Kusuma berorientasi khusus pada tarian Indonesia, baru mulai tahun 1985 juga mempelajari berbagai macam jenis tarian Asia, mulai tarian Malaysia, India, Thailand, Jepang, Korea, dll. Saat ini sanggar tari Wijaya Kusuma berorientasi pada tari tradisional Indonesia kreasi baru dan juga tari tradisional Tiongkok. Selain itu juga diajarkan tarian modern dance hanya saja porsi pengajarannya lebih sedikit.

2.3.1.4. Potensi Sanggar Tari

Sanggar tari Wijaya Kusuma telah melintas di dunia seni tari Surabaya semenjak era tahun 80-an. Baik brand maupun kualitas penampilan telah melekat pada benak konsumennya. Terlebih sanggar tari Wijaya Kusuma juga telah berulang kali tampil di acara resmi kenegaraan bersama Presiden Indonesia, acara resmi kedutaan, Pesta seni taraf Internasional di Ibukota, dan bahkan telah beberapa kali berangkat ke Tiongkok sebagai duta kebudayaan Indonesia, semua ini menjadi nilai lebih dan menunjukkan dengan jelas potensi yang dimiliki oleh sanggar tari Wijaya Kusuma.

2.3.1.5. Lokasi Sanggar Tari

Sekretariat sanggar tari Wijaya Kusuma terletak di Jln. Pandegiling No.

224 Surabaya, yang juga adalah rumah pribadi dari Bapak Angkawidjaja.

Sedangkan sanggar tari Wijaya Kusuma berlokasi di Lt.2 Gedung Wushu YASANIS Surabaya.

2.3.1.6. Harga

Sama seperti Grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS, dalam menentukan tarif, sanggar tari Wijaya Kusuma juga bersikap fleksibel, tarif yang ditentukan disesuaikan dengan konsumennya. Untuk acara-acara Yayasan lain atau untuk acara seni dan kebudayaan yang bertujuan sosial, sanggar tari Wijaya Kusuma tidak menentukan tarif, sedangkan untuk acara-acara pribadi seperti pesta pernikahan, pertunangan, ulang tahun, tarif yang ditentukan juga berbeda, ditentukan berdasarkan tempat pesta tersebut diadakan.

(42)

2.3.2 Data Pemasaran 2.3.2.1. Strategi Pemasaran

Sanggar tari Wijaya Kusuma tidak memiliki strategi pemasaran khusus, karena sanggar tari Wijaya Kusuma lebih berorientasi pada pelestarian budaya terutama seni tari, dan selama ini kegiatan promosi hanya dilakukan dari mulut ke mulut.

2.3.2.2. Wilayah Pemasaran

Mayoritas pengguna jasa sanggar tari Wijaya Kusuma berasal dari daerah Surabaya dan sekitarnya. Selain itu, banyak juga pengguna jasa yang berasal dari berbagai wilayah di Nusantara seperti; Jakarta, Bali, Sumatera, dll. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sanggar tari Wijaya Kusuma tidak memiliki batasan wilayah pemasaran.

2.3.2.3. Potensi Pasar

Dalam setiap acara / pesta yang diadakan oleh masyarakat Tionghoa di Surabaya, baik acara-acara yang diadakan oleh yayasan tertentu maupun acara yang bersifat lebih personal seperti ulang tahun pernikahan, pertunangan, dan pernikahan, tari-tarian dan nyanyian menjadi hiburan yang selalu ada dan diminati oleh para tamu pesta sehingga sanggar atau grup tari memiliki potensi pasar yang cukup besar untuk dikembangkan.

2.3.2.4. Visi dan Misi Sanggar Tari

Bapak Angkawidjaja, salah satu pendiri sekaligus pelatih sanggar tari Wijaya Kusuma mengatakan bahwa sanggar yang dipimpinnya tidak memiliki visi dan misi yang dirumuskan secara khusus, namun sanggar tari Wijaya Kusuma berusaha untuk memberikan suatu hiburan yang kaya akan nilai kebudayaan, dan terutama untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia.

(43)

2.3.3. Data Komunikasi Visual Yang Ada 2.3.3.1. Sarana Komunikasi Visual Eksternal

Sarana komunikasi visual eksternal yang dimiliki oleh sanggar tari Wijaya Kusuma berupa jaket yang dikenakan oleh anggotanya saat berada di lokasi pertunjukkan, digunakan sebagai identitas sanggar.

2.3.4. Data Grup Tari 2.3.4.1. Nama Grup Tari

Gambar 2.23. Logo Center Stage Studio

Center Stage studio berdiri pada tahun 2006, merupakan grup tari yang berorientasi pada tarian Indonesia kreasi baru, tari tradisional Tiongkok dan juga modern dance. Berbeda dengan grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS dan sanggar tari Wijaya Kusuma, Center Stage studio merupakan grup tari milik perseorangan, pemilik sekaligus pelatihnya adalah Sianne. Berangkat dari hobi dan kecintaan pada seni tari, Sianne mendirikan Center Stage studio dan hingga saat ini telah memiliki kurang lebih dua puluh orang penari.

2.3.4.2. Pengelola Grup Tari

Center Stage studio dipimpin dan dikelola sendiri oleh Sianne.

(44)

2.3.4.3. Jenis-jenis Tarian yang Diajarkan

Jenis tari yang diajarkan di Center Stage studio bermacam-macam, antara lain adalah tarian Indonesia kreasi baru, tari tradisional Tiongkok, modern dance, tari kabaret, tari tematis, dll.

2.3.4.4. Potensi Grup Tari

Dengan kualitas pengajar yang dimiliki, dan juga kemampuan menari yang dimiliki oleh anggotanya, Center Stage studio memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Terlebih brand Center Stage studio telah memiliki tempat tersendiri di benak target audience nya, Center Stage studio juga telah beberapa kali tampil di acara-acara besar dan telah menjangkau konsumen di luar daerah Surabaya.

2.3.4.5. Lokasi Grup Tari

Center Stage studio berlokasi di Jln. Sindoro No.2 Surabaya, sedangkan untuk tempat latihan, center Stage studio memiliki lokasi tersendiri.

2.3.4.6. Harga

Meskipun lebih berorientasi pada tujuan komersil, Center Stage studio juga menyesuaikan dengan konsumennya dalam menentukan tarif. Untuk acara Yayasan, tarif yang ditentukan berbeda dengan tarif tampil di acara-acara yang bersifat pribadi seperti pesta pernikahan, pertunangan, dan ulang tahun.

2.3.5 Data Pemasaran 2.3.5.1. Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran yang digunakan oleh Center Stage studio selain berpromosi dari mulut ke mulut adalah dengan mengikuti pameran. Di Surabaya sering diadakan pameran wedding yang melibatkan banyak vendor perusahaan penyedia keperluan dan perlengkapan pernikahan, Center Stage studio termasuk rajin menjadi peserta pameran. Selain itu, Center Stage studio juga menyebarkan brosur dan kartu nama dalam acara-acara yang menggunakan jasanya, untuk mengenalkan keberadaan Center Stage studio kepada masyarakat luas yang mungkin suatu ketika akan menjadi konsumennya.

(45)

2.3.5.2. Wilayah Pemasaran

Sebagian besar konsumen pengguna jasa Center Stage studio berasal dari daerah Surabaya dan sekitarnya. Selain itu juga beberapa kota di wilayah Jawa Tengah seperti Solo, Semarang, dan Jogjakarta, dll. Wilayah pemasaran Center Stage studio meliputi daerah-daerah di Jawa, namun terutama di daerah Surabaya dan sekitarnya.

2.3.5.3. Potensi Pasar

Dalam setiap acara / pesta yang diadakan oleh masyarakat Tionghoa di Surabaya, baik acara-acara yang diadakan oleh yayasan tertentu maupun acara yang bersifat lebih personal seperti ulang tahun pernikahan, pertunangan, dan pernikahan, tari-tarian dan nyanyian menjadi hiburan yang selalu ada dan diminati oleh para tamu pesta sehingga sanggar atau grup tari memiliki potensi pasar yang cukup besar untuk dikembangkan. Terlebih, Center Stage studio memiliki keragaman jenis tarian yang memungkinkan untuk menjangkau konsumen yang lebih beragam.

2.3.5.4. Visi dan Misi Grup Tari

Center Stage studio tidak memiliki visi dan misi yang dirumuskan secara khusus.

(46)

2.3.6. Data Komunikasi Visual yang Ada 2.3.6.1. Sarana Komunikasi Visual Eksternal

Center Stage studio memiliki sarana komunikasi visual eksternal yang menunjang kegiatan pemasarannya, antara lain :

- Kartu nama - Brosur

- Iklan cetak (beriklan di majalah katalog “Best Wedding”)

Gambar 2.24. Iklan Majalah Center Stage Studio

(47)

2.4. Data Survey

2.4.1. Tabulasi dan Analisa Data Survey

Survey dilakukan dengan menyebar angket / kuesioner. Sesuai dengan terget perancangan, responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok remaja (responden berusia antara 15-30 tahun) dan kelompok dewasa (responden berusia antara 31-55 tahun). Dari masing-masing kelompok diambil 50 orang responden, sehingga total responden adalah 100 orang. Kepada masing-masing kelompok diberikan pertanyaan yang berbeda, untuk kelompok remaja pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan perekrutan, sedangkan untuk kelompok dewasa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan promosi grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS.

Kuesioner disebarkan di beberapa lokasi di Surabaya yang banyak didatangi oleh target audience. Beberapa lokasi penyebaran kuesioner ini adalah : Radio STRATO FM (yang mengadakan acara karaoke rutin setiap hari Kamis), tempat-tempat kursus bahasa Tionghoa, grup-grup paduan suara dan karaoke di Surabaya, dll.

Adapun hasil data survey kepada responden kelompok usia dewasa dijabarkan lewat diagram-diagram di bawah ini :

Tabel 2.1. Jumlah Responden yang Mengetahui / Pernah Mendengar Tentang Grup Remaja Tari Tradisional Tiongkok PA CHHS

1. Apakah Anda mengetahui / pernah mendengar tentang grup remaja tari tradisional Tiongkok PA CHHS (Zhong-Zhong Qing shao

zu wu dao) ?

64%

36%

YA (32) TIDAK (18)

Gambar

Gambar 2.7. Tarian Bawangbian  Sumber: “Lifedances.” ( 2003 )
Gambar 2.11. Tarian Tiaoyue  Sumber: “Life dances.” 2003
Gambar 2.12. Tarian Kalajiaoleha   Sumber: “Life dances.” ( 2003 )
Gambar 2.14. Big drum dance  Sumber: “Belief dances.”  ( 2003 )
+7

Referensi

Dokumen terkait

1 diş sarımsak (ince ince kıyılmış) 1 adet yeşil soğan (ince ince kıyılmış) 1 su bardağı maydonoz (ince ince kıyılmış) 1 su bardağı dereotu (ince ince kıyılmış)

kekayaan benda tidak bergerak berupa tanah dan bangunan, hak kekayaan intelektual, kendaraan bermotor dan penyertaan saham pada perusahaan lain atau anak perusahaan.

Hal ini menunjukkan bahwa atribut pelayanan ‘keramahan dokter dan perawat yang menangani pasien’, ‘respon dokter yang cepat tanggap’, dan ‘kebersihan ruangan

Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Retmonojati (2007) menunjukkan bahwa penambahan KAl(SO 4 ) 2 dan Al(OH) 3 pada vaksin polivalen vibrio memberikan

Karena siswa kurang memahami konsep segi tiga dan siswa tidak dapat mengerjakan soal-soalnya untuk membantu dan meningkatkan prestasi siswa dalam belajar

Penelitian ini menggunakan CDA untuk menguliti bias-bias maskulinitas media terhadap perempuan dalam pemberitaan. Model analisis wacana kritis yang dipakai ialah model analisis

Laporan skripsi dengan judul “Sistem Informasi Layanan Perhitungan Zakat Berbasis Web” telah dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah sistem layanan

kepada perawi-perawi hadits. Dengan kerjasama tersebut akhirnya lahirlah karya- karya jurnalistik islam yang terkenal, langgeng hingga akhir zaman. Dan dakwah lewat