• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI DAN IDENTIFIKASI DATA

2.1 Studi Literatur 2.1.1 Desain

Desain berarti pola atau rancangan , kemudian disesuaikan dengan lafal kita menjadi “desain”. Nirmana adalah sesuatu yang telah dirancang, ditata, disusun menjadi sebuah karya yang mengikuti pola kebaikan atau keindahan. Hal dalam mengatur, menata, menyusun dalam kalimat diatas bisa disebut mengkomposisikan. Komposisi mempunyai arti mengatur, menata, menyusun, mengorganisir, unsur-unsur seni rupa sebagai sarana mengungkap ide yang dinyatakan secara utuh menjadi sebuah kesatuan yang tidak terpisah-pisah, selaras, seimbang, memukau, menarik, dan komunikatif (Sakri, 6).

Dalam seni rupa, unsur-unsur tersebut pada dasarnya berupa media yang visualistik yaitu berupa garis, bidang, ruang, warna, dan tekstur. Sebuah karya seni rupa terdiri dari unsur-unsur rupa yang disusun dengan penuh kesadaran dan kejiwaan sebagai hasil transformasi gejolak jiwa yang optimal, kotemplatif, menggunakan dasar-dasar pengetahuan yang diikuti sebagai acuan yang dominan dalam mengembangkan nilai estetiknya.

Prinsip-prinsip atau asas tersebut berupa medium yang digunakan sebagai pendukung arah guna mencapai nilai rasa yang memikat pandangan menjadi kesatuan yang tak terpecah-pecah. Sehingga menghasilkan karya yang estetik, memiliki nilai kesatuan, daya tarik, bermakna dan komunikatif, oleh karena itu asas atau prinsip-prinsip itu sangat mutlak diperlukan sebagai bahan kajian dan pembelajaran.

Pertama nilai kesatuan: berupa cakupan asas yang tidak terpisah-pisah, saling memiliki hubungan, prasarat untuk mencapai sebuah kesatuan berupa asas kontras, variasi, tradisi dan dominant.

Kedua asas keseimbangan: yaitu pengertian mengungkapkan ide yang dapat ditangkap pandangan menjadi karya yang seimbang dan selaras, dengan pengertian bahwa sebuah karya memiliki nilai keserasian yang seimbang.

(2)

Ketiga proposional: yaitu nilai pengukuran dari elemen-elemen yang ditata, diorganisir secara terukur, baik dalam jarak maupun bentuk. Dalam hal ini nilai perbandingan menjadi mutlak untuk dipertimbangkan dalam sebuah karya.

Keempat bahwa sebuah karya sudah dapat dipastikan mempunyai dinamika gerakan yang teratur, yaitu memiliki arah yang sudah dikonsep secara matang menjadi gerakan yang mempunyai nilai komunikatif, mampu menyentuh emosi,dan berupa irama.

2.1.1.1 Unsur Desain

Sebagai media desain visual, unsur-unsur itu wajib dikenali oleh perupa, agar mampu mengekploitasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, untuk mentranformasi idea tau gagasannya ke dalam bidang dua dimensi atau tiga dimensi.

Unsur-unsur desain tersebut menjadi bagian penting untuk dipahami dan diaktualisasikan dengan penuh kesadaran sebagai ajang pelatihan ketrampilan. Apabila hal itu sudah dikuasai maka akan lebih mudah mentransformasikan idenya ke dalam konsep visual secara strategis. Sedang peningkatan pemahaman hanya dapat dilakukan melalui proses panjang.

Pembelajaran dan bahan kajian unsur desain dalam mata kuliah nirmana tidak harus diarahkan kepada sebuah karya optimal semata-mata, namun dititik beratkan pada penguasaan teknik ketrampilannya, pemahaman pengetahuan dasar tentang hakekat nilai estetik, pemaknaan, kreativitas, dan intelenjensia.

a. Garis

Pengertian garis sebagai media ialah sesuatu yang memiliki bentuk yang bersifat memanjang, tanda tepi sebuah bentuk, juga sebagai bentuk yang bersifat tulisan, sebagai ungkapan ekspresi gerakan-gerakan emosional

Menurut Anne Vincent bahwa dengan garis bisa diciptakan: mulai ruang, bentuk, gerakan atau suasana batin. Menurut Rathbun dan Hayers, garis dapat dibedakan menjadi empat macam (Irawan 5-9) yaitu:

• Calligraphic lines • Out lines

(3)

• Countour Lines • Expressive lines

Garis tidak mempunyai ukuran tertentu, hanya memiliki dimensi memanjang dan berarah. Mempunyai sifat-sifat seperti pendek, panjang, vertikal, horizontal, lengkung, berombak, dan sebagainya (Rusmussen 6).

b. Bidang

Beberapa garis lebih dari dua buah yang saling bersimpangan atau melintas pada bagian ujung dan pangkalnya akan membentuk bidang, yaitu bentukan dua dimesi atau dua mantra yang mempunyai ukuran panjang dan lebar saja. Bentukan bidang terdiri dari bidang geometris dan non geometris (organis, pendekatan natural dan abstrak).

Kedudukan bidang dengan bidang-bidang lain dapat dikelompokan sebagai berikut: • Bergandengan/ bersinggungan: artinya sebagian dari sisinya menyentuh sisi

bidang yang lain.

• Bertumpukan: bidang yang satu berada diatas atau menutup bidang yang lain. • Transparan: bidang yang satu bertumpukan dengan yang lain, tetapi bidang

yang ditumpuk masih terlihat.

• Berkaitan: sebagian dari bidang masuk atau menusuk bidang yang lain.

• Berjarak/ berdekatan: posisi satu bidang dengan bidang lain tidak berhubungan atau ada jarak.

• Beranyaman: beberapa bidang bertumpang tindih-berulang-ulang bergantian. Istilah raut/shape/rupa adalah karakteristik awal dari bidang yang ditentukan oleh kontur bidang. Bidang dapat digradasikan sebagaimana unsur-unsur seni rupa yang lain. Dari bentuk lingkaran berangsur-angsur menjadi segi empat disebut roncetan (gradasi). Antara bentuk awal sampai bentuk akhir terjadi bentukan yang mirip, sedang bentuk awal dan bentukan akhir disebut kontras atau cengkah (Irawan 10-15).

(4)

c. Ruang

Beberapa bidang yang sisi-sisinya bersinggungan sehingga membentuk beberapa bidang positif maka disebut ruang dengan pengertian memiliki tampak panjang, tinggi, dan lebar.

Susunan ruang ”dalam taferil” atau dua dimensi sama halnya dengan susunan bidang.

• Berdekatan • Bertumpukan • Transparan

• Berkaitan atau tusukan • Bersinggungan

• Beranyaman Ruang dapat dibedakan:

• Ruang negatif: yaitu ruangan yang bersifat kosong di luar ruang positif.

• Ruang positif: yaitu ruang massif atau ruang yang bersifat padat atau berisi tidak berongga (Irawan 15-18).

d. Warna

Warna adalah salah satu unsur seni rupa yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Oleh karena warna mempunyai kekuatan kesan yang universal. Mulai kebutuhan visual sampai dengan keperluan hidup manusia hampir-hampir tidak meninggalkan penggunaan warna. Baik kebutuhan praktis sampai dengan yang non praktis semuanya menggunakan makna busana, peralatan, industri, seni, rumah sakit, pendidikan, dan sebagainya kebanyakan menggunakan warna sebagai medium yang berpengaruh dan fungsional. Disamping itu warna dapat menjadi medium mengungkap gagasan menjadi bentuk visual yang mampu mempengaruhi jiwa manusia. Sifat-sifat dan kandungan makna universal memantapkan fungsinya dalam kehidupan manusia. Ada dua jenis warna, yaitu warna cahaya dan warna pigmen. Warna cahaya atau spectrum ditemukan pada abad XVII oleh Isaac Newton yaitu warna sinar yang dipantulkan ke sebuah prisma, dari pembiasan itu menghasilkan sinar pelangi.

(5)

Munsell memperkenalkan nada dan kunci nada dalam penggunaannya dalam desain, menguraikan masalah kalasifikasi dalam warna. Klasifikasi warna tersebut yaitu:

• Kualitas warna (hue) atau sifat, nama warna, sehingga dapat dibedakan warna satu dengan warna lainnya.

• Value (nada) nilai warna yang diukur dengan jenjang gelap dan terang, melalui kandungan warna putih atau hitam. Nilai dari sebuah warna tergantung dari cerah dan redupnya. Bukan diukur melalui luas dan kekuatannya.

• Intensitas (khroma) menunjukan kekuatan warna yang diukur dengan banyak sedikitnya pigmen warna. Desain yang ditimbulkan merupakan perbedaan banyak sedikitnya pigmen keluasan obyek dalam warna yang sama.

Lingkaran warna Munsell dengan lima warna pokok, lima warna sekunder, sehingga sejumlah titik dalam diagram warna Munsell menjadi 10 buah.

Gambar 2.1. Lingkaran warna Munsell Sumber : http://www.google.co.id/imgres

imgurl=http://www.igl.net.au/images/MunsellColorWheel.png

Dalam menyusun sebuah desain atau komposisi yang terdiri dari susunan unsur-unsur seni rupa, diperlukan prinsip-prinsip keselarasan, agar mencapai hasil secara maksimal memenuhi ide dan makna yang diharapkan. Untuk mecapai pewarnaan yang harmonis, selaras penuh dengan nilai estetik, disamping nilai yang

(6)

terkandung perupa wajib memahami pengetahuan tentang warna sesuai dengan asas yang diikuti. Beberapa teori menyelaraskan warna dapat diterapkan dalam penciptaan desain antara lain (Irawan 19-31):

• Keselarasan warna tunggal (monochrom) • Keselarasan warna senada (analogus) • Keselarasan warna segitiga (tiga warna)

• Keselarasan warna berlawanan (komplementer)

• Keselarasan warna berlawanan tunggal memancar (split complementer) e. Tekstur

Tekstur adalah nilai raba pada suatu permukaan bidang, jadi jelasnya tekstur adalah nilai raba pada suatu permukaan baik berupa bidang atau bentuk. Tekstur dibedakan menjadi 2 jenis:

• Tekstur nyata yaitu suatu permukaan apabila dilihat nilainya sama dengan apabila diraba (halus-kasarnya).

• Tekstur semu yaitu suatu permukaan apabila dilihat tidak sama dengan nilai rabanya.

Tujuan membuat tekstur semata-mata tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan artistik akan tetapi juga untuk keperluan fungsional mempertegas atau mendukung suasana. Untuk memperluas atau mempersempit kesan suatu ruang atau bidang (Irawan 32-34).

f. Tipografi

Tidak dapat dipungkiri bahwa huruf merupakan bagian terkecil dari suatu struktur bahasa tulis. Huruf juga merupaka elemen dasar untuk membangun sebuah kata dan kalimat. Rangkaian huruf dalam sebuah kata dan kalimat dapat memberikan suatu makna yang mengacu kepada sebuah objek atau gagasan, tetapi juga memiliki kekmampuan untuk menyuarakan suatu citra secara visual.

Tipografi adalah pengetahuan mengenai huruf yang dipelajari memalu sebuah disiplin seni (Sihombing 3). Seperti halnya tubuh manusia, huruf juga memiliki organ yang berbeda. Setiap bentuk huruf dalam sebuah alfabet memiliki keunikan fisik yang menyebabkan mata kita dapat membedakan antara huruf ‘m’ dengan ‘p’ atau dengan

(7)

‘b’. Keunikan ini disebabkan oleh cara mata kita melihat korelasi antara komponen visual yang satu dengan yang lain. Sekelompok pakar psikologi dari Jerman dan Austia memformulasikan sebuah teori yang dikenal dengan teori Gestalt. Salah satu hukum persepsi dari teori ini membuktikan bahwa untuk mengenal sebuah gambar diperlukan adanya kontras antara ruang positif (figure) dan ruang negatif (ground).

Langkah awal untuk mempelajari sebuah tipografi adalah mngenali atau memahami anatomi huruf. Gabungan seluruh komponen dari suatu huruf merupakan identifikasi visual yang dapat membedakan antara huruf yang satu dengan yang lain. Apabila kita telah memahami anatomi huruf secara baik, dengan mudah kita dapat mengenal sifat dan karakteristik dari setiap jenis huruf. Berikut ini adalah komponen visual yang terstruktur dalam fisik huruf, antara lain:

• Baseline adalah sebuah garis maya lurus horisontal yang menjadi batas dari bagian terbawah dari setiap huruf besar.

• Capline adalah sebuah garis maya lurus horisontal yang menjadi batas dari bagian teratas dari setiap huruf besar.

• Meanline adalah sebuah garis maya lurus horisontal yang menjadi batas dari bagian teratas dari setiap huruf kecil.

• Height adalah jarak ketinggian dari baseline sampai ke meanline.

X-Height merupakan tinggi dari badan huruf kecil. Cara yang termudah

mengukur ketinggian badan huruf kecil adalah dengan menggunakan huruf ‘x’.

• Ascender adalah bagian dari huruf kecil yang posisinya tepat berada di antara meanline dan capline.

• Descender adalah bagian dari huruf kecil yang posisinya tepat berada dibawah baseline.

Berikut ini beberapa jenis huruf berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig (Sihombing 5), antara lain:

a. Roman

Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Huruf Roman memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada

(8)

garis-garis hurufnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.

b. Egyptian

adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan adalah kokh, kuat, kekar dan stabil.

c. Sans Serif

Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern dan kontemporer.

d. Script

Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifat pribadi dan akrab.

e. Miscellaneous

Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.

2.1.2 Tinjauan Promosi 2.1.2.1 Pengertian Promosi

Promosi adalah semua yang dilakukan untuk membantu penjualan suatu produk atau jasa di tiap tempat jaringan penjualan, mulai dari bahan-bahan presentasi yang digunakan seorang tenaga penjualan ketika melakukan penawaran hingga siaran niaga di televisi atau iklan di surat kabar yang mencoba memikat pelanggan agar memperoleh kesan yang menyenangkan terhadap apa yang diiklankan (Mangun 4).

Philip Kotler (1997:142) mendefinisikan promosi sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengomunikasikan manfaat dari produknya dan untuk meyakinkan konsumen agar membeli. Sedangkan Rambat Lupiyaadi (2001:108) mendefinisikan promosi sebagai salah satu variable dalam bauran

(9)

pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaaan dalam memasarkan produk jasa. Selain itu, Julian Cummins (1991:11) mendefinisikan promosi sebagai serangkaian teknik yang digunakan untuk mencapai sasaran penjualan atau pemasaran dengan penggunaan biaya yang efektif, dengan memberikan nilai tambah pada produk atau jasa baik kepada para perantara maupun pemakai langsung, biasanya tidak dibatasi dalam jangka waktu tertentu.

Ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan promosi bukan saja berfungsi sebgai alat komunikasi antara perusahaan dan konsumen melainkan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian sesuai keinginan dan kebutuhannya. Hal ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat promosi.

2.1.2.2 Bauran Promosi

Pemasar mengembangkan promosi (promotion) untuk mengkomunikasikan informasi mengenai produk mereka dan mempengaruhi konsumen untuk membelinya. Untuk menciptakan dan memelihara keunggulan pembeda (differential

advantage) dari apa yang ditawarkan pesaing maka sebagian besar produk dan merek

yang berhasil membutuhkan promosi. Keempat jenis promosi (Peter dan Olson 181-185). adalah :

a. Iklan

Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan publik untuk berpikir atau bertindak, sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.

Iklan (advertising) adalah penyajian informasi nonpesonal mengenai produk, merek, perusahaaan atau toko yang dilakukan dengan bayaran tertentu. Pada iklan biasanya ditampakkan organisasi yang mensponsorinya. Iklan ditujukan untuk mempengaruhi afeksi dan kognisi konsumen. Dalam praktiknya, iklan telah dianggap sebagai manajemen citra (image management), menciptakan dan memelihara citra

(10)

dan makna dalam benak konsumen. Walaupun pertama-tama iklan akan memengaruhi perilaku pembelian konsumen.

Iklan dapat disajikan melalui berbagai macam media (TV, radio, cetakan majalah, surat kabar, papan billboard, papan tanda, macam-macam media).

b. Promosi Penjualan

Promosi penjualan (sales promotion) adalah rangsangan langsung yang ditujukan kepada konsumen untuk melakukan pembelian. Banyaknya jenis promosi penjualan termasuk di dalamnya penurunan harga temporer melalui kupon, rabat, penjualan multi kardus, kontes dan undian, perangko dagang, pameran dagang, dan eksibisi.

c. Penjualan Personal

Penjualan personal (personal selling) melibatkan interaksi personal langsung antara seorang pembeli potensial dan seorang salesmen. Penjualan personal dapat menjadi metode promosi yang hebat untuk 2 alasan berikut.

Pertama, komunikasi personal dengan salesmandapat meningkatkan keterlibatan konsumen dengan produk dan atau proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu, konsumen dapat lebih termotivasi untuk masuk dan memahami informasi yang disajikan salesman tentang suatu produk. Kedua, situasi komunikasi saling silang/interaktif memungkinkan salesman mengadaptasi apa yang disajikan agar sesuai dengan kebutuhan informasi setiap pembeli potensial. Beberapa produk konsumsi tertentu biasanya dipromosikan melalui penjualan personal seperti produk asuransi.

d. Publisitas

Publisitas (publicity) adalah bentuk-bentuk komunikasi tentang perusahaan, produk, atau merek si pemasar yang tidak membutuhkan pembayar. Misalnya, penjabaran produk atau merek baru, perbandingan merek di jurnal dagang, surat kabar, majalah berita, diskusi di radio dan talk show di TV semuanya menyajikan berbagai informasi produk bagi para konsumen. Kadangkala publisitas dapat lebih efektif daripada iklan karena konsumen dapat dikatakan telah siap untuk menerima

(11)

pesan yang disampaikan. Di samping itu, komunikasi publisitas dapat dianggap lebih berwibawa karena tidak disajikan oleh organisasi pemasaran.

2.1.2.3 Strategi Promosi

Telah terjadi perubahan signifikasi dalam era persaingan global saat ini. Media iklan tidak lagi bersifat satu arah tetapi dua arah dengan melibatkan target

audience dalam berbagai bentuk komunikasi, media yang semula bersifat masal

menjadi lebih spesifik, dominasi produsen dalam mengendalikan pasar telah berubah menjadi dominasi retailer yang dipengaruhi oleh konsumen, dan promosi melalui iklan yang bersifat umum bergeser menjadi data-based marketing. Menghadapi perubahan-perubahan ini, perusahaan mau tidak mau harus terus berinovasi dan kreatif dalam menyusun strategi dan program promosinya.

Integrated Marketing Communication (IMC) merupakan strategi promosi

yang kreatif untuk memperoleh dampak penjualan yang luar biasa. Implementasi IMC telah terbukti jauh lebih efektif dibandingkan penggunaan alat-alat promosi tradisional secara terpisah. Dalam dunia digital saat ini, konsep IMC menggabungkan berbagai kekuatan online marketing seperti search engine optimization (SEO),

pay-per-click, banner, webinar, dan blog maupun offline marketing melalui koran,

majalah, billboard, radio, dan TV secara seimbang (Rangkuti 7).

2.1.3 Tinjauan Batik

2.1.3.1. Sejarah Batik di Indonesia

Sejarah perkembangan batik Indonesia merupakan sejarah warisan leluhur dari generasi ke generasi. Istilah batik berasal dari “amba”(Jawa), yang artinya menulis dan “nitik”. Kata batik sendiri merunjuk pada teknik pembuatan corak menggunakan canting atau cap dan pencelupan kain, dengan menggunakan bahan perintang warna corak, bernama “malam” (lilin) yang diaplikasikan di atas kain. Sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris, teknik ini dikenal dengan istilah “wax-resist dyeing”. Jadi, kain batik adalah kain yang

(12)

memiliki ragam hias (corak) yang diproses dengan “malam” menggunakan canting atau cap sebagai media gambarnya.

Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami, seperti katun, sutra, wol. Dan tidak bisa diterapkan di atas kain polyester (serat buatan). Sementara, kain yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik perintang warna dikenal sebagai kain bermotif batik. Biasanya kain-kain seperti itu dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (print). Karena itu tidak bisa disebut kain batik.

Batik, kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Di masa lampau, para perempuan Jawa menjadikan keterampilan membatik mereka sebagai mata pencaharian. Karena itu kerja membatik menjadi kerja eksklusif para perempuan sampai ditemukannya batik cap yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang dapat dilihat pada corak mega mendung. Di beberapa daerah pesisir, pekerjaan membatik lazim bagi kaum lelaki.

Sejarah pembatikan di Indonesia terkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, yang dilanjutkan pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi, kerajinan batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan dan raja-raja berikutnya. Batik menjadi semacam tradisi bagi msyarakat Indonesia, khususnya Jawa, akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Mulanya, hanya dikenal batik tulis, hingga awal abad ke-20 mulai berkembang batik kreasi baru, yakni batik cap. Adapun kaitannya dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah pusat batik di Jawa adalah daerah-daerah santri. Selanjutnya batik menjadi penguat perjuangan tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda dan Cina.

Kerajian batik merupakan suatu kerajinan gambar di atas kain untuk pakaian. Dalam perkembangan selanjutnya, batik merupakan salah satu ikon budaya keluarga

(13)

bangsawan Indonesia pada zamn dahulu. Awalnya batik dikerjakan terbatas di dalam keraton saja. Hasilnyapun hanya untuk dipakai raja, keluarga, dan para abdi dalemnya. Karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar kraton, proses mengerjakan kerajinan ini dibawa dan dikerjakan di rumah masing-masing. Lama- kelamaan, masyarakat di luar kraton banyak yang menjadi pengrajin batik. Dan selanjutnya, meluas menjadi pekerjaan rumahan kaum perempuan untuk mengisi waktu senggang.

Terjadilah perubahan, batik yang awalnya hanya dijadikan pakaian keluarga kraton, kini menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik perempuan maupun pria.

Untuk diketahui mori (bahan kain putih) yang dipakai membatik pada waktu itu hasil tenunan sendiri. Mengenai ragam corak dan warna batik pada perkembangannya banyak dipengaruhi berbagai pengaruh asing.

Pada awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas. Beberapa corak bahkan hanya diperbolehkan dipakai oleh karangan tertentu, khususnya lingkungan kraton saja, tetapi para pedagang asing, termasuk para penjajah, memepengaruhi corak-corak lokal sehingga corak-corak tersebut mulai berubah. Seperti halnya bati di daerah pesisir yang banyak menyerap pengaruh-pengaruh itu.

Contohnya, corak-corak yang terpengaruh oleh budaya tionghoa, banyak memakai warna merah cerah, yang dinamakan corak phoenix. Corak-corak batik yang terpengaruh Eropa, terpengaruh corak bebungaan yang sebelumnya tak dikenal (seperti bunga tulip), juga benda-benda bawaan penjajah (seperti kereta kuda atau gedung). Pilihan warna dominan pada batik yang terpengaruh Eropa adalah biru.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa para pedagang India. Kini, batik dapat ditemukan di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Srilanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara Afrika. Batik yang paling terkenal di dunia adalah batik Indonesia, khususnya batik Jawa.

(14)

Bahan-bahan pewarna yang dipakai untuk membatik, biasanya dari pewarna alami. Terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri, antara lain : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan tradisional lainnya.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (terutama Jawa) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. Pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan bahwa batik Indonesia merupakan warisan budaya Indonesia (Hamidin 7-9).

2.1.3.2. Pengertian Batik

Batik merupakan salah satu bentuk ekspresi kesenian tradisi dari hari ke hari semakin menampakkan jejak kebermaknaannya dalam khazanah kebudayaan Indonesia. Batik sebagai seni tradisi merupakan ekspresi kultur dari kreativitas individual dan kolektif yang lahir dari kristalisasi pengalaman manusia hingga pada akhirnya membentuk identitas kepribadian. Kiranya batik sebagai salah satu jenis tekstil pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari ekspresi budaya suatu masyarakat pendukungnya. Batik tumbuh dan berkembang di bumi Indonesia sebagai manifestai dari kekayaan budaya daerah-daerah perbatikan, seperti Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Indramayu, Lasem, Sukoharjo, dan daerah perbatikan lainnya.

Batik sebagai sebuah kesenian, bukan sekedar kain-kain lainnya yang berisikan keragaman motif, hiasan, dengan pewarnaan dan teknik yang khas. Ragam hias dan juga pewarnaan yang dituangkan pada batik merupakan refleksi estetis dan berkesenian masyarakat Indonesia. Batik sebagai salah satu seni tradisional Indonesia menyimpan konsep artistik yang tidak dibuat semata-mata hanya untuk keindahan. Batik juga berfungsi sebagai pilihan busana sehari-hari, untuk keperluan upacara, adat, tradisi, kepercayaan, agama, bahkan status sosial. Batik bukan hanya indah, tetapi juga bermakna. Indahnya bukan hanya sebagai pemuas mata, melainkan juga berhubungan dengan nilai-nilai moral, adat, tabu, agama.

Karya batik merupakan karya yang tumbuh secara universal yang ditemukan di Jawa, India, Mesir, Jepang, Srilanka, Cina, Turki, dan Afrika dengan karakteristik

(15)

dan coraknya yang khas, memiliki ciri sendiri-sendiri. Kekhasan batik Indonesia dalam pandangan Brandes dinilai sebagai salah satu budaya asli Indonesia.

Batik adalah kain yang dibuat secara printing dengan penggunaan lilin untuk bagian yang tidak diberi pewarna. Cara pemberian pewarna seperti ini sudah dikenal orang sejak abad kedelapan. Pembuatan batik dengan motif-motif yang khas merupakan kerajinan Indonesia yang sanagat terkenal. Teknik ini terutama sangat maju di pulau Jawa. Beberapa pusat pembuatan batik yang terkenal ialah Pekalongan, Solo, Yogjakarta, Ponorogo, Tasikamalaya, Banyumas, dan beberapa kota lain di Jawa (Hamidin 7).

2.1.3.3. Ragam Hias Batik

Budaya batik dikenal hampir oleh semua suku di Indonesia, ragam hias batik juga banyak sekali macamnya. Ragam hias (motif) batik ada yang dibuat hanya untuk memenuhi selera keindahan, tetapi ada pula yang dibuat dengan tujuan lain. Di Pulau Jawa hampir seluruh motif batik diciptakan dengan suatu harapan. Misalnya, motif batik sido mukti mempunyai garis-garis corak yang merupakan pengungkapan harapan agar pemakainya dapat mengalami hidup mulia dan berkecukupan.

Di Pulau Jawa ragam batik dapat dibagi dalam dua golongan besar, yakni motif batik Solo-Jogja, dan pesisir. Ragam hias batik Solo-Jogja bersifat simbolis atau perlambang, dengan latar belakang kebudayaan Hindu dan Kejawen. Antara lain ada motif sawat atau lar yang melambangkan mahkota atau penguasa tinggi. Motif

meru atau pagoda melambangkan alam, bumi atau gunung. Gambaran

melambangkan air. Burung melambangkan dunia atas atau angin. Modang atau lidah api melambangkan panas atau nyala api. Batik Solo-Jogja juga ditandai dengan warna-warna yang dominan, yakni coklat sogan, biru wedelan (indigo), hitam dan putih.

Motif batik pesisir banyak dipengaruhi oleh ragam hias yang berasal dari budaya asing, terutama Cina. Bentuk gambarnya lebih bersifat naturalis. Warna batik itu juga lebih beraneka ragam. Bati pesisiran yang terkenal adalah batik Pekalongan, Lasem, Madura dan Cirebon.

(16)

Pembagian batik atas dua golongan besar itu, masih dapat dibagi lagi menurut ciri daerah masing-masing. Masing-masing memiliki ciri khusus, baik pada ragam hias maupun pada warnanya.

Pola-pola gambar yang akan tetap putih dilapisi lilin kemudian kain itu dicelupkan kedalam zat warna yang dikehendaki dan dikeringkan. Lilin kemudian dihilangkan dengan cara penggodokan atau dengan menggunakan pelarut seperti benzena. Proses ini harus diulangi untuk setiap warna yang digunakan dan ada beberapa contoh batik yang mengguankan enam belas macam untuk memperoleh pola akhir. Lilin itu dilekatkan dengan tangan menggunakan “canting” atau “cap” berupa blok-blok yang di buat dari kayu yang diberi potongan- potongan tembaga hingga diperoleh gambaran-gambaran yang menonjol. Blok-blok itu kemudian dicelupkan ke dalam lilin yang panas (cair) dan ditempelkan pada kain itu.

Cara pembuatannya pun sudah mengalami perkembangan pula. Kini, selain batik yang dibuat dengan cara tradisional, yakni di tulis tangan, ada pula batik yang diproduksi secara besar-besaran di pabrik dengan teknologi modern.

Kain batik ada beberapa macam. Yang paling baik dan paling tradisional adalah kain batik tulis. Selain itu ada pula batik cap. Ada lagi batik yang merupakan perpaduan antara batik tulis dengan batik cap, yang biasanya disebut juga dengan batik kombinasi. Kemudian sejak tahun 1960-an dikenal pula dengan batik sablon. Jenis batik ini kemudian disusul dengan batik printing. Dari jenis-jenis batik itu yang paling mahal adalah batik tulis, karena kain batik tulis terbuat dari bahan yang bermutu tinggi dan dirawat dengan cara tradisional dan dapat bertahan lama. Ada yang masih tetap bagus penampilannya setelah 75 tahun.

Mode pakaian wanita Indonesia banyak dipengauhi oleh perkembangan mode pakaian dari luar negeri. Selain itu, untuk keperluan sehari-hari, biaya berkain kebaya juga lebih besar dibandingkan dengan rok atau daster. Karena itu, sejak beberapa puluh tahun terakhir ini wanita Indonesia hanya mengenakan kain kebaya pada acara-acara tertentu saja.

Berbagai cara sudah ditempuh pemerintah untuk melestarikan budaya batik. Antara lain dengan mengharuskan pengenaan pakaian seragam batik bagi anak-anak

(17)

sekolah pada hari-hari tertentu. Pegawai negeri, melalui Korp Pegawai Negeri (Korpri) juga harus mengenakan kemeja batik lengan panjang pada setiap tanggal 17 dan hari-hari besar nasional.

Namun sebenarnya usaha pemerintah mengenai keharusan berseragam batik itu agak kurang mengena. Batik yang digunakan untuk pakaian seragam selau merupakan produk pabrik. Dengan demikian peraturan itu sama sekali sama sekali tidak menyentuh para pengrajin batik tardisional, terutama pengrajin batik tulis. Sementara itu, bimbingan dan pengarahan dari Departemen Perindustrian juga lebih banyak diarahkan untuk menyehatkan usaha batik pada skala besar. Begitu pula bantuan permodalan, hingga kini masih belum mengarah pada para pengrajin, terutama yang ada di desa-desa. (Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid 3 139-140).

2.1.3.4. Motif-Motif Batik

Indonesia merupakan wilayah yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan batik yang sangat pesat, terlebih yang terjadi di pulau Jawa. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa selembar batik tidak sekedar menyimpan nilai-nilai estetis dari jalinan ragam hias dan paduan tata warnanya saja. Akan tetapi, lebih dari itu juga menyimpan sistem nilai, simbol, dan strategi adaptasi masyarakat pendukungnya.

Oleh karena itu, karena sistem perbedaan sistem nilai, simbol dan strategi adaptasi. Maka, ungkapan karya batik yang dibuat masyarakat yang satu akan berbeda dengan masyarakat lainnya. Perbedaan itu menjadi sangat unik dan khas serta dalam konteks Indonesia menjadi sebuah mozaik budaya yang kaya. Setiap sentral perbatikan yang ada di Indonesia memiliki karakteristik perbatikannya masing-masing seperti yang terjadi pada batik Solo, batik Yogyakarta, batik Pekalongan, batik Tuban, batik Sidoharjo, batik Indramayu, batik Garut, batik Tasikamalaya, batik Bali, batik Palembang, dan beberapa sentral perbatikan lainnya.

(18)

a. Motif Batik Solo

Corak batik-batik dari Solo sangat kental dengan makna-makna simbolis yang dipengaruhi kebudayaan Hindu. Beberapa cara untuk mengetahui ciri khas batik Solo di antaranya adalah banyak ditemukan motif-motif seperti sawat, meru, naga, burung, dan modang.

Secara umum, corak batik Solo menggunakan perpaduan bentuk-bentuk geometris yang ukurannya kecil-kecil.

Ciri khas yang terlihat pada batik Solo tampak dalam pewarnaannya. Misalnya saja, warna batik hitam, tidak sepenuhnya hitam, namun cenderung kecoklatan. Hampir serupa dengan warna hitamnya, dalam pewarnaan warna putih batik, unsur cokelatnya tetap menonjol dan kuat.

Motif batik Solo paling terkenal, diantaranya : truntum, sidoluhur, alas-alasan, dan lain sebagainya.

b. Motif Batik Yogyakarta

Serupa dengan batik Solo, batik Yogyakarta juga memiliki makna-makna simbolis kebudayaan Hindu di tiap-tiap motifnya. Bahkan, sedikit lebih ekstrem, di Yogyakarta ada larangan memakai batik-batik yang coraknya sudah dipakai keluarga sultan atau keturunan kraton.

Secara garis besar, motif batik Yogyakarta banyak memadukan bentuk-bentuk geometris dan nongeometris yang ukurannya berbanding terbalik dengan motif batik Solo.

Soal pewarnaan, batik Yogyakarta sangat jauh berbeda dengan batik Solo. Apabila, batik solo cenderung memakai warna-warna cokelat yang mengarah gelap, pada batik Yogyakarta justru sebaliknya. Pewarnaan batik Yogyakarta kebanyakan memakai warna-warna terang dan bersih. Di mana hitamnya cenderung kebiruan.

Motif batik paling terkenal dari batik Yogyakarta, di antaranya : Sumbagen Huk, Kawung, dan Parang.

c. Motif Batik Pekalongan

Batik Pekalongan tergolong ke alam batik Pesisiran. Jenis-jenis batik di daerah ini sangat dipengaruhi tingkat kesukaan konsumen terhadap dinamika

(19)

perkembangan dunia perbatikan. Karena itu, tata warna dan motif dari batik Pekalongan berani mengeksplorasi keragaman corak, demi mencapai kepuasan konsumen. Akan tetapi, kedinamisan tersebut bukan berarti batik Pekalongan tidak memiliki kekhasannya. Ada ciri-ciri khusus dari batik Pekalongan, yakni gambaran motif serta pewarnaannya bersifat naturalis.

Di Pekalongan tumbuh genre batik Encim. Genre batik ini dikembangkan oleh para pengusaha Cina, dan bisanya batik Pekalongan disukai oleh orang-orang Belanda. Sementara, batik Pekalongan yang disukai konsumen pribumi, karena memiliki pola warna yang lebih semarak.

Batik Pekalongan memiliki corak serta komposisi warna yang lebih kaya. Motifnya kebanyakan bernuansa pesisisr. Misalnya, motif bunga laut dan binatang laut. Ini berbeda dengan batik Solo ataupun batik Yogyakarta motif berdominan bentuk garis, kotak-kotak, dan konstruksi geometris lainnya. Walau bentuk tangkai, bunga, atau hewan lebih mendominasi.

d. Motif Batik Tuban

Batik Tuban banyak menerima pengaruh dari budaya Cina. Motif lok chan begitu akrab dengan daerah perbatikan ini. Motif batik Tuban yang terkenal di antaranya adalah guntingan dan macanan.

Tata warna batik Tuban pada mulanya terbatas pada warna biru indigo, merah mengkudu, hitam dan putih, serta kekuning-kuningan (akar mengkudu). Belakangan muncul tata warna putihan (latar putih dengan corak hiasan berwarna biru tua atau hitam), pipitan (latar putih corak berwarna merah atau biru tua), dan bangrod (latar putih dengan motif berwarna merah).

e. Motif Batik Sidoarjo

Batik Sidoarjo menunjukan pengaruh dari batik Madura, hal ini disebabkan karena di daerah ini banyak ddatangi oleh para pendatang yang berasal dari Madura. Karakteristik batik Sidoarjo adalaha tegas, jelas, dan ekspresif dengan pewarnaan yang mencolok dari warna hitam, coklat, dan merah.

(20)

f. Motif Batik Cirebon

Seperti halnya batik Solo dan batik Yogyakarta, batik Cirebon pun menyimpan makna-makna simbolis pada setiap motifnya. Motif batik Cirebon termasuk motif batik Pesisiran, yang pada umumnya ditandai dengan sistem pembabaran (rekavisual) yang lebih dinamis, meriah dengan banyak warna dan sangat ditentukan oleh permintaan pasar. Akan tetapi, juga memiliki perkembangan batik kraton. Beberapa motif batik yang tergolong batik Cirebon di antaranya adalah taman arum sunyaragian, wadas singa, patran kangkung, mega mendung, ayam alas, supit urang, taman teratai dan naga seba.

Dalam sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang menegmbangkan dengan seorang putri Cina bernama Ong Tie. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif pada keramik yang dibawa dari negeri Cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina.

Salah satu motif yang paling terkenal dari daerah Cirebon adalah batik mega mendung atau awan-awanan. Pada motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya bergaya selera Cina. Motif mega mendung melambangkan pembawa hujan yang di nanti-nantikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingga biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan (Hamidin 26-40).

Masih banyak batik nusantara lagi lainnya, diantaranya batik Garut, Tasikmalaya, Gresik, batik Ponorogo, batik Banyumas, batik Pacitan, batik Trenggalek, batik Demak-Kudus, batik Rembang-Juwana-Pati, batik Madura, batik Bali, batik Kalimantan, batik Irian dan batik Sumatra. Semuanya memiliki kekhasannya masing-masing sebagai khazanah kekayaan budaya bangsa.

Di Surabaya pun terdapat batik khas Surabaya yang bernama batik mangrove adalah batik yang bahannya terbuat dari alam. Yakni dibuat dari bahan tumbuhan

(21)

g. Motif Batik Mangrove

Motif batik mangrove sangat beraneka ragam. Motif batik ini terinspirasi dari

ekosistem yang terdapat di hutan mangrove, selain daun, bunga, juga terdapat motif ekosistem hewan yang terdapat di hutan mangrove. Seperti : ikan, kepiting, udang, dan siput. Serta ekosistem lainnya yang terdapat di hutan mangrove tersebut. Nama motif batik mangrove tersebut juga kebanyakan diambil dari bagian-bagian dari tumbuhan mangrove yang beraneka ragam itu, contohnya : motif mange kasihan, motif tanjung putih, motif bogem, motif nyamplung, motif widuri, dan masih banyak motif-motif lainnya yang sudah dibuat pakemnya oleh si produsen.

2.1.3.5. Batik dan Pemakainya

Dalam budaya pakaian adat di Pulau Jawa, terutama di lingkungan keraton, ada motif-motif batik tertentu yang terlarang bagi rakyat kebanyakan. Misalnya, di lingkungan sekitar keraton Yogya da Solo, motif batik parang barong hanya boleh dikenakan oleh raja dan pangeran. Rakyat biasa dan orang kaya seklipun, dilarang mengenakannya. Pada jaman dahulu pelanggaran ketentuan adat ini mendapat sanksi, karena dianggap ingin menyamai kedudukan raja. Tetapi kini, orang yang mengenakannya paling-paling hanya ditertawakan orang.

Karena motif batik diciptakan dengan bentuk gambaran simbolik yang melambangkan harapan dan doa, pemakaiannya juga disesuaikan dengan isi perlambangan itu. Misalnya, kain batik motif parang tak boleh dikenakan oleh pengantin. Pengantin harus mengenakan kain dengan motif sido mukti, sido luhur,

sido mulyo atau sido asih. Pada upacara pernikahan, orang tua pengantin, baik yang

laki-laki maupun yang perempuan, mengenakan motif kain batik truntum, karena motif batik itu melambangkan tuntunan orang tua pada anaknya. Sementara itu orang-orang golongan tua lainnya, selain orang-orang tua kandung si pengantin, mengenakan kain batik dengan motif wirasat.

(22)

2.1.3.6. Usaha Batik

Di lingkungan usaha pembatikan masa kini, dikenal tiga jenis bahan kain mori. Yang paling halus dan dinilai paling tinggi kualitasnya adalah mori primissima, biasanya disingkat dengan sebutan primis. Yang kualitasnya di bawah itu adalah kain mori prima, dan yang kualitas menengah adalah mori biru. Untuk jenis kasar, terkadang kain blaco juga dipakai sebagai bahan kain batik. Namun, penggunaan blanco biasanya hanya pada masa sulit, misalnya pada jaman pendudukan balatentara jepang dulu.

Sejak sekitar tahun 1960-an, ada pula merek kain mori lainnya yang masuk ke Indonesia. Misalnya kain mori yang disebut cambric dan white cambric. Jenis yang ini jarang digunakan untuk bahan kain batik yang halus dan batik tulis.

Dikalangan pengusaha batik, ukuran panjang dan lebar mori menggunakan

yard dan inci. Tetapi di kalangan masyarakat pemakai dan pedagang eceran, dipakai

ukuran kacu. Ukuran kacu adalah ukuran kain selebar 42 inci yang kemudian mengalami pengerutan akibat proses pembuatan batik sehingga menjadi sekitar 105 sentimeter. Seperti diketahui, 1 inci sama dengan 2,54 sentimeter.

2.1.3.7. Proses Pembuatan Batik

Sebelum menjadi kain batik yang siap pakai, mori harus melalui beberapa proses pembuatan. Proses dan tahapan pembuatannya pun ada beberapa macam, tergantung daerah pembuatannya. Tahap pengerjaan kain batik yang dibuat dengan teknik tradisional, meliputi :

a. Mencuci

Kain mori yang akan digunakan, sehingga kotoran dan bahan yang membuat kain kaku, semacam kanji, larut dalam air. Untuk mencuci dipakai air bersih saja, dibilas berulang kali. Khusus untuk bahan kain jenis primissima, tidak usah dicuci dulu. Sesudah kain itu dianggap bersih, dilakukan penganjian.

b. Mengaji

Kain mori harus dilakukan hati-hati. Selain agar kain menjadi agak kaku, kanji juga dimaksudkan untuk memudahkan menggambar motif batiknya nanti. Kalau kanjinya

(23)

terlalu pekat, malam batik yang digunakan untuk menggambari kain itu akan sukar menempel sehingga mutu gambar menurun. Kanji yang terlalu encer akan menyebabkan gambar mudah membelobor. Lagi pula, kanji yang encer akan menyulitkan proses penghilangan malam batik pada tahap selanjutnya.

c. Pengemplongan

Hal ini dilakukan dengan maksud agar kain itu menjadi pulen, tak terlalu kaku dan tak terlalu lemas, lagi pula mudah dibatik. Kain yang akan dikemplong, digulung dan dilipat, ditaruh di atas kayu, kemudian dipukuli dengan martil atau gada kayu. Agar pengemplongan itu dapat rata betul, susunan lipatan dan gulungan kain itu pun harus beberapa kali dibalik. Selain itu, gulungan dan lipatan kain mori itu juga dibanting-banting dilandasan kayu.

d. Ngelowong

Ngelowong adalah proses pembuatan motif dasar dari gambaran batik. Dengan menggunakan canting atau cap batik, kain mori itu digambari dengan motif batik yang dikehendaki. Menggambari motif batik pada suatu sisi ini disebut ngengreng. Karena penggambaran motif batik itu hanya dapat dilakukan pada satu sisi saja, menggambar ulang motif itu pada sisi lainnya merupakan pekerjaan tersendiri. Ini disebut nerusi.Pada proses ngelowong ini, malam batik yang digunakan adalah jenis yang nanti akan mudah dikerok.

e. Nembok

Nembok adalah proses menutup bagian-bagian mori yang nanti akan berwarna putih. Bagian itu ditutup dengan malam khusus, sehingga zat pewarna yang pada proses selanjutnya akan diberikan tidak merembes ke bagian itu. Jika proses nembok ini kurang cermat, atau jenis malamnya kurang tepat, kelak kain itu akan kotor dan kurang rapi.

f. Medel

Medel adalah proses mewarna mori yng telah diberi gambaran batik dengan zat pewarna yang disebut wedel, atau tom.Zat pewarna ini dibuat dari tanaman indigo yang warnanya biru, mirip biru tinta tulis. Proses ini agak lama. Pekerjaannya harus sabar dan teliti agar warna birunya cukup matang dan merata. Zat pewarna wedel ini

(24)

lambat sekali meresap ke kain mori. Jadi harus dilakukan berulang kali, sampai kebiruannya dianggap cukup.

Kini, dengan zat pewarna sintesis, pekerjaan medel dapat lebih mudah dan lebih cepat. Warna birunya pun ada berbagai macam, sehingga memungkinkan lebih banyak pilihan. Karena proses pembiruannya lebih cepat, para pengusaha batik lebih suka menggunakan zat pewarna sintesis ini. Namun para penggemar kain batik tulis umumnya lebih suka memproses dengan bahan tradisional, karena kebiruannya lebih serasi dengan bahan warna tradisional lainnya. Lagipula warna wedel lebih tahan lama.

g. Ngerok

Ngerok adalah membuang bagian-bagian malam batik yang menempel pada mori, setelah proses wedelan. Bagian motif batik yang hendak diberi warna coklat, dibuang

malam batiknya dengan cara mengeroknya dengan pisau. Orang yang mengerok

harus mengetahui motif gambaran batiknya agar tidak keliru mengerok bagian yang salah.

h. Menyoga

Menyoga atau nyoga, proses memberi warna cokelat, paling banyak menyita waktu dalam pembuatan batik secara tradisional. Warna cokelat secara tradisional diperoleh dari ramuan sejenis kulit pohon soga yang direbus bersama dengan beberapa ramuan lainnya. Proses pewarnaan ini harus dilakukan berulang-ulang, karena zat pewarna itu lambat meresap ke dalam serat-serat mori. Lebih lambat dibandingkan dengan zat warna wedel. Lagi pula, sebelum pencelupan ulang, kain yang baru saja disoga harus dikeringkan dulu dengan dianginkan, tidak boleh dijemur di sinar matahari. Akibatnya, prose ini memakan waktu sampai berminggu-minggu.

Dengan zat pewarna sintesis, proses menyoga ini kini dapat dilakukan jauh lebih cepat. Kini, perusahaan batik hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk menyoga batik warna gelap , dan hanya 30 menit untuk batik biasa. Namun hasilnya belum dapat menyamai keindahan zat pewarna tradisional.

(25)

i. Ngelorod

Ngelorod adalah membuang atau melepaskan seluruh malam batik yang menempel pada kain, pada proses akhir pembuatan batik. Caranya adalah dengan mencelup-celupkan kain batik itu pada air mendidih, berulang-ulang, dibantu dengan penggosokan. Karena panas, untuk menggosok-gosok permukaan kain itu digunakan sebilah kayu. Pada perusahaan batik yang besar, ngelorod dilakukan dengasn menyemprotkan air panas pada kain yang digelar melebar pada sebuah palang bambu.

Malam batik atau lilin yang digunakan dalam proses pembatikan merupakan campuran atau ramuan dari berbagai jenis bahan. Setelah dicampur dan dipanaskan, bahan-bahan itu didinginkan sampai beku. Bahan utama pembuatan malam batik adalah gondorukem (biasanya didatangkan dari daerah Aceh atau diimport), damar mata kucing, malam tawon atau kote, lemak minyak kelapa, parafin dan mikrowas. Parafin yang dipakai biasanya berwarna putih atau kuning pucat.

Lilin bekas pakai kadang-kadang masih digunakan untuk proses pembatikan kain batik berkualitas rendah. Malam bekas ini biasanya disebut malam lorodan atau

lilin lanceng . Malam batik semacam ini mudah dikenali dengan warnanya yang

cokelat tua kehitaman dan banyak kotorannya. Agar tidak terlalu rendah kualitasnya, lilin lanceng itu umumnya hanya dipakai sebagai pencampur malam batik yang masih baik. Tujuannya adalah untuk merendahkan ongkos produksi.

Merek dan Label untuk kelancaran perdagangan berbagai jenis batik di dalam negeri maupun yang untuk ekspor, Menteri Perindustrian menetapkan semua batik yang dipasarkan harus memakai merek dan label. Ketetapan itu juga dimaksudkan untuk melindungi konsumen batik. Pada setiap batik yang ditulis tangan, bagian tepinya diharuskan memakai tulisan BATIK TULIS, sedangkan pada batik cap ditulis BATIK CAP. Begitu pula yang merupakan kombinasi antara tulis dan cap. Tekstil bermotif batik juga harus membubuhi pada pinggiran kainnya, tulisan : TEKSTIL MOTIF BATIK. Dengan ketentuan itu diharapkan para konsumen yang bukan ahli tentang batik tidak akan salah pilih (Ensiklopedia Nasional

(26)

2.1.3.8 Perkembangan Fungsi Batik

Kegunaan batik selanjutnya berkembang ke dalam berbagai bidang kebutuhan busana, perlengkapan rumah tangga, dan arsitektur.

Sebagai hasil peradaban batik mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi, lingkaran, dan pergeseran nilai-nilai budaya. Hal itu memperluas lingkup gerak perkembangan dunia perbatikan. Penggunaan batik dalam berbagai kreasi busana modern, juga untuk kebutuhan interior dan rumah tangga sebagaimana telah disebutkan, memberi gambaran yang nyata. Meluasnya area fungsi batik pun membuka banyak kemungkinan bagi peran baru batik di dalam masyarakat penggunanya (Heriyanto 16).

2.1.4. Pengertian Bakau

Bakau ialah sekelompok tumbuh-tumbuhan yang hidup di tepi pantai. Berbagi jenis tersebar luas di Indonesia, pada daerah-daerah yang disebut hutan payau atau mangrove. Hasil utama dari jenis-jenis bakau ini adalah kayu, selain kayu yang merupakan hasil utama, jenis-jenis bakau ini menghasilkan juga kulit kayu yang mengandung bahan penyamak. Bagi masyarkat nelayan, buah muda bakau jenis Rhizophora banyak dimanfaatkan sebagai sayuran. Karena memiliki sistem perakaran yang khas, bakau mampu menahan lumpur yang diendapkan di tempat tumbuhnya. Juga karena perakarannya itu, bakau mampu menahan pantai dan tepi sungai dari hempasan gelombang dari pengaruh arus pasang surut. Bakau mampu mengambil unsur-unsur logam berat, misalnya unsur Hg, sehingga dapat berfungsi pula sebagai penyaring pengaruh pencemaran. Bakau juga dapat memberikan bahan-bahan organik yang berfungsi sebagai sumber daya makanan pada beberapa jenis ikan. Akibatnya, daerah hutan bakau punn berfungsi sebahgai tempat berkembang biak pelbagai jenis ikan. Selain itu, pelbagai jenis burung dan kalong menggunakan hutan bakau sebagai tempat bersarang dan beristirahat. Dengan demikian hutan bakau dapat juga berfungsi sebagai suakamargasatwa(Ensiklopedia Nasional Indonesia jilid 3 68-69).

(27)

2.2. Identifikasi Data Perusahaan 2.2.1. Data Perusahaan

Batik Mangrove merupakan batik jumputan dan tulis dengan menggunakan

desain motif mangrove dan bahan warna dari limbah UKM olahan mangrove dan hasil penjualan batik mangrove ini disisihkan sebagian untuk penanaman mangrove. Demi menjaga keaslian batik, maka disertakan sertifikat dalam paket pembelian batik

mangrove. Batik mangrove ini kemudian diberi nama Batik Seru (Seni Batik Motif Mangrove Rungkut Surabaya) Batik Seru alami Lulut adalah batik mangrove khas

Surabaya digagas dan tercipta Desember 2007 karena adanya pembalakan liar di hutan mangrove pantai Timur Surabaya.

2.2.1.1. Nama Perusahaan : Batik Seru

2.2.1.2. Pengelola Perusahaan : Lulut Sri Yuliani, Dra, MM

2.2.1.3. Produk-produk yang Dipasarkan :

Sabun Cair Mangrove, batik mangrove, Tempe Mangrove, Pasta Sabun cair Mangrove, Tepung Mangrove, Bordir Mangrove, Kerupuk Mangrove, Wedang Mangrove, Bakom(Bakteri Antagonis Kompositing), Pewarna Dekorasi Mangrove.

2.2.1.4. Potensi Perusahaan :

Batik Mangrove ini sudah sampai dikirim ke mancanegara seperti : Amerika,

Australia, Jepang, Singapura, dan Bangkok.

2.2.1.5. Lokasi Perusahaan

Produsen batik Mangrove ini belokasi di jalan Wisma Kedung Asem Indah

(28)

2.2.2. Data Produk

Sabun Cair Mangrove, Sabun ini diciptakan tahun 2005 dari hasil eksperimen selama satu tahun dan diproduksi bersama masyarakat tahun 2006. Pada waktu itu, produsen batik mangrove menjadi instruktur BPHM WILAYAH I Bali pada tanggal 5 maret 2009, ditugaskan oleh Walikota Surabaya untuk belajar mengenai mangrove di BPHM WILAYAH I Bali, Dan diminta untuk mengajarkan cara membuat olahan mangrove dan menuliskannya ke dalam buku yang berjudul “Oleh-oleh Olahan Mangrove” yang dibagikan kepada peserta pelatihan untuk dibawa pulang ke daerah asalnya masing-masing di seluruh Indonesia. Pada tahun 2009-2010 disosialisasikan ke seluruh Indonesia bersama BPHM Wilayah II Medan, Sumatera Utara serta Departement Kelautan dan Perikanan RI.

Batik Mangrove, Batik jumputan dan tulis menggunakan desain motif

mangrove dan bahan warna dari limbah UKM olahan mangrove serta hasil penjualan

disisihkan sebagian untuk penanaman mangrove. Demi menjaga keaslian batik, maka disertakan sertifikat dalam paket pembelian batik mangrove.

Batik mangrove digagas dan diciptakan pada tahun 2007, disosialisasikan ke Masyarakat Rungkut pada tanggal 22-27 maret 2009 bersamaan dengan pelatihan dari Dinas Tenaga Kerja Surabaya untuk Gakin dan pelatihan dari Bappemas Surabaya dan langsung ditindak lanjuti untuk produksi masal pada April 2009.

Batik Seru sudah dipatenkan merk dagangnya oleh Pemerintah Kota Surabaya pada tanggal 22 Desember 2009 no. D00 2009034031 Dep.HUKUM & HAM.Tahun 2009 terbangun Komunitas batik Seru dengan kegiatan yang cukup padat, diantaranya : mengikuti pameran di seluruh Indonesia, Kunjungan tamu yang ingin belajar dari berbagai daerah di Indonesia dan pada tanggal 4 agustus 2010 akan dikunjungi tamu dari USA, Jepang, Singapore, dan Australia. Serta produksi untuk memenuhi permintaan produk baik untuk domestik maupun manca negara.

Dampak komunitas batik Seru Alami Lulut dapat menambah penghasilan keluarga pra sejahtera yang tergabung dalam komunitas dengan omset rata-rata sebesar 20-30 juta/bulan.

(29)

Batik mangrove sudah berbadan hukum Koperasi Kampung Unggulan No.286/BK/XVI.37/2010 yang disahkan oleh Menteri Negara Urusan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Repblik Indonesia dan Walikota Surabaya.

Tempe Mangrove (Tempe Khas Surabaya), Tempe mangrove terdiri dari 2 versi digagas pada bulan Maret 2009: Tempe daun dan bungkus plastik berbahan ragi

Hibiscus Tilisislus dengan kedelai murni tanpa campuran memiliki rasa lebih gurih

dari tempe biasa. Setelah diteliti Forum Tempe Indonesia ternyata tempe ini sehat dan bermanfaat untuk memperpanjang masa menopouse, mengobati penyakit jantung koroner, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah osteoporosis. Jika dimakan mentah dapat bermanfaat untuk mengobati diare, maag, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Tempe daun, dibungkus dengan daun Hibiscus Tilisiauslus berbentuk segitiga, sedangkan tempe yang dibungkus plastik berbentuk kotak.

Tempe mangrove sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia bahkan Singapore.

Rencana akan dipasarkan juga ke Jepang dan negara-negara lain. Hak paten sedang dalam proses.

Tepung Mangrove, Eksperimen tahun 2010 disosialisasikan juga pada tahun 2010 ke seluruh wilayah pesisir bersama BPHM Wil. I dan II. Hak paten sedang dalam proses.

Bordir Mangrove, Eksperimen tahun 2007-2009, yang dipersembahkan oleh kelurahan Kedung Baruk untuk produk unggulan daerah Surabaya, disosialisasikan ke warga pada tahun 2009. Persiapan tempat produksi, karena anggota komunitas merupakan penghuni kos-kosan/rumah petak yang tidak memungkinkan untuk produksi di tempat tinggal, maka produksi akan dilakukan secara masal pada bulan september 2010 dengan menyewa sebuah tempat yang memungkinkan. Desain khusus motif mangrove sudah dipersiapkan sejak tahun 2008-2009 oleh produsen batik mangrove itu sendiri dengan bahan kain dan benang bercorak mangrove. Pakem Suroboyoan dipersiapkan menjadi produk unggulan Jawa Timur, khususnya Surabaya. Hak paten sedang dalam proses.

(30)

Kerupuk Mangrove, Disosialisasikan tahun 2009-2010 di BPHM Wil. I Bali dan BPHM Wil. II Medan, disosialisasikan dan diproduksi oleh Kel. Kedung Baruk tahun 2009-2010. Produk Kerupuk Mangrove adalah antara lain :

Kerupuk Mujair, Kerupuk Alur, Kerupuk Acanthus Ilicifolius, Kerupuk

Sesuvium Portulacastrum, Kerupuk Bruguiera Sp, Kerupuk Avecennia Sp, Kerupuk Sonneratia Sp, Kerupuk Jijibus Mauritiana (Bekul), Kerupuk Nypa Fruitiicans,

Kerupuk Beluntas, Kerupuk Mengkudu, Kerupuk Yuyu Bekalsium, Kerupuk Jangkang, Kerupuk Ebi.

Wedang Mangrove, Pada tahun 2009, disosialisasikan dan diproduksi oleh kelurahan Kedung Baruk sebagai produk unggulan.

Bakom (Bakteri Antagonis Komposting), Pada tahun 2008, dilakukan eksperimen selama 2 minggu dan disosialisasikan kepada warga Kedung Baruk yang kemudian dilakukan kegiatan produksi. Dan disosialisasikan pula melaui BPHM I Bali bagi peserta pelestarian dan pemanfaatan mangrove seluruh Indonesia, MARES 2009, selain itu disosialisasikan pula ke warga Surabaya dan Jawa Timur tahun 2008-2010.

Pewarna Dekorasi Mangrove, digunakan untuk cat dekorasi kayu, kain, dan sebagainya.

2.2.2.1. Jenis Produk : Kain

2.2.2.2. Nama Brand/Merek : Batik Seru (Seni Batik Motif Mangrove Rungkut Surabaya)

2.2.2.3. Spesifikasi Produk :

Sabun Cair Mangrove terbuat dari Sonneratia Caseolaris, Sonneratia Alba,

Sonneratia Ovata, Vitex Ovata, bunga Cerbera Mangas, Jijibus Mauritiana, Calophyllum Inophyllum, bunga Calophyllum Inophyllum, bunga Caleptropis Gigantea.

(31)

Batik Mangrove yang terbuat dari pewarna alami dari tumbuhan

mangrove(Limbah UKM Mangrove) seperti : Calophyllum Inophyllum (Nyamplung)

memberikan warna kuning, Hibiscus (Waru laut) dan bunga achantus memberikan warna biru, Bruguiera Gymnorizha (tanjang merah) memberikan warna merah,

Rhizopora(api-api) dan Nypa Fruiticans(buyuk) memberikan warna coklat, Suedia Maritima (alur) dan Carbera Mangas(bintaro) memberikan warna tua atau

kehitaman, Caloptropis (widuri) memberikan warna ungu muda atau warna muda,

Bringtonia Asitican (Bringtonia atau bogem) memberikan warna coklat muda, Daun achantus, beluntaas, dan buah avecenia memberikan warna hijau, dan masih banyak

bagian dari mangrove yang dapat dimanfaatkan.

Tempe Mangrove, Terdiri dari 2 versi. Tempe daun dan dibungkus plastik terbuat dari ragi Hibiscus Tilisislus dengan kedelai murni tanpa campuran. Sedangkan, tempe daun dibungkus dengan daun Hibiscus Tilisiaslus berbentuk segitiga. Tempe mangrove berbahan ragi Hibiscus Tilisiasius dan Avecennia sp. Berwarna hijau kehitaman, diproduksi waktu panen saja. Dikemas bentuk keripik tempe mangrove, tempe segi tiga dan kotak dalam plastik.

Tepung Mangrove, terbuat dari berbagai macam bagian dari limbah

mangrove, diantaranya : tepung Nypa Fruitican, tepung Avicennia Sp, tepung Sonneratia Sp, tepung tempe mangrove, tepung Bruguiera Sp, tepung Sueda Maritima, tepung Jijibus Mauritiana, tepung Sexuvium Portulacastrum, tepung Acanthus Ilicifolius, tepung Acrostichum Aureum, tepung ikan berkalsium, tepung

beluntas, tepung mengkudu, tepung kepiting, tepung rajungan, tepung jangkang, tepung yuyu(ketam).

Kerupuk Mangrove, terbuat dari bahan utama tepung mangrove seperti : 1. Kerupuk Mujair

Bahan : Ikan mujair plus tulang, Sueda maritima, tepung tapioka, rempah-rmpah 2. Kerupuk Alur

(32)

3. Kerupuk Acanthus Ilicifolius

Bahan : Acanthus Ilicifolius (Jerujun muda tanpa duri), teoung tapioka, rempah-rempah.

4. Kerupuk Acrostuchum Aureum

Bahan : Acrostichu Aureum (paku laut), tepung tapioka, rempah-rempah. 5. Kerupuk Sesuvium Portulacastrum

Bahan : Sesuvium Portulacastrum (kerokot laut), tepung tapioka, rempah-rempah. 6. Kerupuk Bruguiera Sp

Bahan : Tepung Bruguiera Sp., tepung tapioka, rempah-rempah, Ebi kering. 7. Kerupuk Avecennia Sp

Bahan : Tepung Avecennia Sp., Tepung tapioka, rempah-rempah, jangkang. 8. Kerupuk Sonneratia Sp

Bahan : Tepung Sonneratia Sp, tepung tapioka, rempah-rempah, jangkang. 9. Kerupuk Jijibus Mauritiana (Bekul)

ahan : Tepung Jijibus Mauritiana, tepung tapioka, rempah-rempah, jangkang. 10. Kerupuk Nypa Fruitiicans

Bahan : Tepung nypa Fruitiicans, tepung tapioka, rempah-rempah, kerang. 11. Kerupuk Beluntas

Bahan : Tepung beluntas, tepung tapioka, rempah-rempah, jangkang. 12. Kerupuk Mengkudu

Bahan : Tepung Mengkudu, tepung tapioka, rempah-rempah, yuyu 13. Kerupuk Yuyu Bekalsium

Bahan : Tepung yuyu, tepung tapioka, rempah-rempah. 14. Kerupuk Jangkang

Bahan : tepung jangkang, tepung tapioka, rempah-rempah. 15. Kerupuk Ebi

(33)

2.2.2.4. Harga Produk : Batik mangrove (Batik Seru) tergantung jenis kain dan motif yang dibuat. Kainnya menggunakan kain katun, rayon, dan sutera berukuran 2 meter. Harganya berkisar dari Rp 125.000- Rp 300.000.

2.2.2.5. Positioning Produk : Batik mangrove merupakan produk batik yang ramah lingkungan,karena berbahan dasar alam. Dalam soal harga yang ditawarkan memang lebih tinggi dari batik-batik lainnya, hal tersebut dapat dikarenakan batik ini memakan waktu yang cukup lama dalam proses pembuatannya.

2.2.2.6. Target Audience Produk : Semua golongan terutama golongan menengah ke atas, laki-laki maupun perempuan semua usia

2.2.2.7. Foto produk

Gambar 2.1. Kain sutera batik mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.2.Kain katun dan rayon batik mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

(34)

Gambar 2.3. Batik mangrove motif sia-sia Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.4. Batik mangrove motif ikan Sumber : Dokumentasi pribadi

(35)

Gambar 2.5. Batik mangrove motif kerang Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.6. Batik mangrove motif prapat Sumber : Dokumentasi pribadi

(36)

Gambar 2.7. Batik mangrove motif nipah Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.8. Batik mangrove motif Saman sigi Sumber : Dokumentasi pribadi

(37)

Gambar 2.9. Bahan limbah mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.10. Proses pewarnaan batik mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.11. Bordiran mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

(38)

Gambar 2.12. Packaging batik mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.13. Keripik pisang mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

(39)

Gambar 2.14. Sirup mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.15. Sabun cair mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

(40)

Gambar 2.16. Tempe mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.17. Kerupuk mujair mangrove Sumber : Dokumentasi pribadi

(41)

2.2.3. Data Pemasaran

2.2.3.1. Strategi Pemasaran : Pemasaran batik mangrove ini dipasarkan melalui bantuan dan kerjasama dari pemertintah daerah kota Surabaya, dengan mengundang wartawan dan para media massa untuk meliput industri batik mangrove tersebut.

2.2.3.2. Wilayah Pemasaran : Batik mangrove ini sudah dipasarkan di propinsi Aceh, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara dan lampung. Masing-masing 30 orang binaan. Batik mangrove ini juga sudah mencapai luar negeri, seperti di negara Amerika, Australia, Jepang, dan Singapura, bahkan rencananya sebentar lagi akan dipasarkan di negara Thailand.

2.2.3.3. Potensi Pasar : Batik mangrove Surabaya ini sudah mencapai pasar mancanegara atas bantuan dan kerja sama dengan pemerintah daerah Surabaya.

2.2.3.4. Visi dan Misi Perusahaaan :

Batik Seru Alami Lulut adalah batik mangrove khas Surabaya, Visi dari UKM ini adalah mengurangi kemiskinan dan berkarya dimulai dari teras rumah (Griya Karya Tiara Kusuma) demi mengerakkan ekonomi bangsa.

Misi UKM ini adalah :

1. Tanpa mengenal lelah mencurahkan seluruh daya upaya untuk mensejahterahkan masyarakat pra sejahtera.

2. Rela berkorban dan selalu menyediakan waktu untuk UKM yang dibentuk. 3. Tidak pelit untuk memberikan ilmu pengetahuan dan selalu berinovasi produk

unggulan bila berhubungan dengan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

4. Maju terus untuk melakukan eksperimen dan inovasi teknologi tepat guna sederhana untuk masyarakat.

5. Memotivasi masyarakat untuk tidak mudah putus asa dalam membangun usaha.

(42)

2.3 Identifikasi Data Kompetitor

2.3.1 Data Perusahaan : Kampung Batik tercipta sejak dari zaman Belanda, Kampung tersebut dinamai kampung batik karena di daerah tersebut terdapat rumah-rumah yang rata-rata berusaha batik. Rumah yang kebetulan penulis teliti adalah rumah bapak M.Yazid yang sudah memulai usaha batiknya semenjak tahun 1965.

2.3.1.1. Nama Perusahaan : Kerajinan Batik Tulis Rahmad

2.3.1.2. Pengelola Perusahaan : M.Yazid

2.3.1.3. Produk-produk yang Dipasarkan : Kain Batik Sidoarjo, Sprei Batik, Selendang batik, Sarung batik, Vas, dan taplak bunga batik.

2.3.1.4. Potensi Perusahaaan : Batik Sidoarjo ini sudah sampai dikirim ke luar negeri. Seperti : Belanda, Inggris, dan Jepang.

2.3.1.5. Lokasi Perusahaaan : Batik Sidoarjo ini berlokasi di jalan Jetis Gg IV No. 150, Sidoarjo

2.3.2. Data Produk

2.3.2.1. Jenis Produk : Kain

2.3.2.2. Nama Brand/Merek : Batik Tulis Rahmad

2.3.2.3. Spesifikasi Produk : Batik jetis ini dibuat menggunakan pewarna kimia dan semua batik yang dibuat berjenis batik tulis. Dibuat dengan diberi minyak kacang.

2.3.2.4. Harga Produk : Kain batik berbahan Prima ukuran 2 m 110 ribu/buah

Kain batik berbahan Primis ukuran 2m 250 ribu/kain tergantung motif yang digunakan, jika semakin rumit motifnya maka harganya semakin mahal.

(43)

2.3.2.5. Positioning Produk : Batik jetis ini merupakan batik khas sidoarjo memiliki corak warna yang hampir sama dengan batik madura, sehingga konsumen batik ini kebanyakan orang madura.

2.3.2.6.Target Audience Produk : Semua golongan terutama golongan menengah ke atas, laki-laki maupun perempuan semua usia. Kebanyakan konsumennya berasal dari madura, bugis, dan ujung pandang.

2.3.2.7. Foto produk

Gambar 2.18. Kain batik Sidoarjo motif kupu Sumber : Dokumentasi pribadi

(44)

Gambar 2.19. Kain batik Sidoarjo motif daun (sebelum pewarnaan) Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.20. Kain batik Sidoarjo motif daun (sesudah pewarnaan) Sumber : Dokumentasi pribadi

(45)

Gambar 2.21. Kain batik Sidoarjo motif merak (pesanan terbanyak) Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.22. Berbagai motif dan jenis batik Sidoarjo Sumber : Dokumentasi pribadi

(46)

Gambar 2.23. Proses pewarnaan Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.24. Tempat proses perebusan kain batik Sidoarjo Sumber : Dokumentasi pribadi

(47)

Gambar 2.25. Tempat proses pencucian kain batik Sidoarjo Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 2.26. Proses pencucian batik Sidoarjo lebih Lanjut Sumber : Dokumentasi pribadi

(48)

2.3.2. Data Pemasaran

2.3.2.1. Strategi Pemasaran : Pemasaran batik jetis ini sama dengan batik mangrove yaitu dipasarkan melalui bantuan dan kerjasama dari pemertintah daerah Sidoarjo, dengan mengundang wartawan dan para media massa untuk meliput industri batik Jetis yang terdapat di kampun batik tersebut.

2.3.2.2. Wilayah Pemasaran : Batik Jetis ini sudah dipasarkan di berbagai propinsi di Indonesia. Batik Jetis ini juga sudah mencapai luar negeri, seperti di negara Belanda, Inggris, dan Jepang.

2.3.2.3. Potensi Pasar : Batik Jetis Sidoarjo ini sudah mencapai pasar mancanegara atas bantuan dan kerja sama dengan pemerintah daerah Sidoarjo.

2.3.2.4. Visi dan Misi Perusahaaan : Visi dan misi perusahaaan ini adalah berharap agar batik Indonesia lebih maju dan berkembang lagi.

2.4. Data Survey dan Wawancara 2.4.1. Analisis Data Survey

Berdasarkan survey yag telah dilakukan diperoleh sejumlah fakta tentang keberadaan dan keeksistensian batik mangrove Surabaya di tengah pasar batik dalam negeri. Dimana dari fakta-fakta tersebut dapat diperoleh gambaran secara nyata tentang posisi dari batik mangrove tersebut.

Dari pengamatan yang dilakukan, diperoleh beberapa fakta, yaitu : Batik

mangrove adalah batik yang berpusat di Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan

Rungkut, Kota Surabaya. Pusat batik mangrove ini sering dikunjungi oleh wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara. Wisatawan dalam negeri yang kebanyakan berkunjung adalah wisatawan dari Kediri, Sidoarjo, Lampung, dan Bali. Sedangkan wisatawan luar negeri yang berkunjung adalah USA, Jepang, Singapura, dan Australia. Pemasaran batik mangrove ini kurang luas, tidak seperti batik Solo, batik Pekalongan dan batik Jojya yang sudah dikenal hampir di seluruh penjara tanah air.

(49)

Keberadaan batik mangrove ini masih kurang dikenal dan populer, hal ini

dapat disebutkan karena ketika menanyakan tentang batik mangrove orang-orang kurang mengetahui tentang batik mangrove tersebut. Padahal diketahui bahwa batik

mangrove Surabaya merupakan batik ramah lingkungan yang paling khas di kota

Surabaya. Tetapi tidak semua orang mengetahui batik mangrove, hanya orang-orang tertentu yang memiliki sifat behavioral menyukai kain-kain tradisional yang tahu dan mengenal batik mangrove Surabaya.

2.4.2. Analisa Data Wawancara

Selain survei atau pengamatan. Dilakukan pula wawancara dengan narasumber ibu Lulut selaku pemilik batik alami SERU, yang merupakan produsen serta distributor terbesar di sentra industri batik mangrove Surabaya di kecamatan Rungkut ini.

2.5 Analisa Data

2.5.1. Analisa SWOT, USP, POSITIONING 2.5.1.1. Analisa SWOT

Strength :

− Dibuat secara manual/handmade dan ramah lingkungan. − Motif khas mangrove

− Pewarnaan yang khas dari bahan limbah mangrove − Teknik pembuatan batik yang hanya melalui batik tulis − Batik khas Surabaya

− Mampu menembus pasar batik di luar negeri yaitu : Amerika, Singapura, Jepang, dan Australia.

Weakness :

− Kurang dikenal masyarakat − Tidak ada label yang menarik

− Promosi yang dilakukan kurang efektif − Proses pembuatannya yang relatif lebih lama

Gambar

Gambar 2.1. Lingkaran warna Munsell  Sumber : http://www.google.co.id/imgres
Gambar 2.1. Kain sutera batik mangrove  Sumber : Dokumentasi pribadi
Gambar 2.4. Batik mangrove motif ikan  Sumber : Dokumentasi pribadi
Gambar 2.5. Batik mangrove motif kerang  Sumber : Dokumentasi pribadi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bahkan, kebiasaan untuk membelikan baju atau sepatu yang seragam untuk seluruh keluarga juga bisa menimbulkan rasa iri pada salah satu anak yang mungkin kebetulan tidak

banyak cara untuk menyimpan citra digital di dalam memori, cara penyimpanan menentukan jenis citra digital yang berbentuk, beberapa jenis citra digital yang sering digunakan

Ancaman terbesar justru dari dalam sendiri, ini disebabkan bila tempat wisata perkebunan ini tidak segera memperbaiki sarana umum yang ada dan tidak lebih melengkapi sarana

Penyebab kekalahan cergam dan komik lokal tidak hanya pada penggarapan ilustrasi saja tetapi cergam maupun komik impor memiliki pasaran yang lebih luas

Beberapa dari konsumen yang telah menikmati masakan Korea Selatan akan memberikan sebuah data untuk perancangan buku ini dalam memeperkuat untuk proses pembuatan buku ini,

Dari data yang dikumpulkan, foto beauty shot yang baik merupakan penggabungan dari perancangan konsep yang menarik dan unik disertai dengan tampilan tata rias wajah dan rambut

Kesimpulan Sinar Surya Pelangi memiliki kelemahan selain dari waktu yang merupakan faktor penghambat, dikarenakan sudah membuang waktu tanpa promosi, sehingga menjadikan

Tetapi dilihat dari program di televisi dan film bioskop yang masih banyak sekali bertaburan dengan tema horor, baik itu drama horor ataupun religi horor, dapat disimpulkan