• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Pengorganisasian Hiv

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pedoman Pengorganisasian Hiv"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN PENGORGANISASIAN BAB I

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Rumah Sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.

Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Koesma Kabupaten Tuban adalah rumah sakit umum pemerintah yang berada di Kabupaten Tuban. Dalam perkembangan perumahsakitan yang kompetitif ini, Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tuban juga harus mengembangkan keunggulan kompetitifnya. Fasilitas yang tersedia di Rumah Sakit Umum daerah Kabupaten Tuban antara lain Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Instalasi Gawat Darurat, Rehabilitasi Medik, Instalasi Bedah Sentral, Instalasi Perawatan Intensif dan lain-lain.

Hingga saat ini HIV masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai sekarang , kasus HIV terindentifikasi tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Berdasarkan data terbaru, kejadian penularan infeksi HIV terbanyak adalah melelui hubungan seksual dengan orang terinfeksi tanpa menggunakan kondom. Diikuti oleh penggunaan alat suntik yang tercemar darah yang mengandung HIV (karena penggunaan alat suntik secara bersamaan diantara pengguna NAPZA suntik), dan ditularkan melalui ibu pengidap HIV kepada anaknya, baik selama kehamilan, persalinan atau selama menyusui. Cara penularan lain adalah melalui transfusi darah yang tercemar, alat tusuk dan peralatan lainnya (tatto dan lain-lain) dan adanya infeksi menular seperti IMS.

Salah satu program prioritas pembengunan pemerintahan Indonesia adalah upaya peningkatan derajad kesehatan masyarakat sebagai unsur dari MDGs ( MellineumDevelopment Goals ).Berbagai upaya kesehatanpun diarahkan mendukung program ini, tidak terkecuali perang , melawan penyakit infeksi seperti HIV AIDS dan penyakit menular lainnya seperti yang tercantum dalam MDGs-6. Searah dengan MDGs-6, UNSAID juga memendu dengan visinya agar

(2)

di tahun 2015 tidak ada lagi penyebaran ( zero new infection), kematian (zero AIDS-related deaths ), dan stigma (zero discriminatioan ) akibat HIV AIDS.

RSUD dr R Koesma Tuban berparisipasi aktif dalam mensukseskan MDGs tersebut dengan membentuk suatu Tim Penanggulangan HIV AIDS di lingkungan RSUD dr R Koesma Tuban.

B. MAKSUD DAN TUJUAN  Tujuan umum

Menjadi pedoman dalam melaksanakan layanan komprehensif HIV AIDS di lingkungan RSUD dr R Koesma Tuban .

 Tujuan khusus

 Menjadi acuan praktis dalam melaksanakan kegiatan program pengendalian dan pengelolaan HIV AIDS di RSUD dr R Koesma Tuban.

 Meningkatkan dan menjaga kualitas layanan kesehatan di RSUD dr R Koesma Tuban.

 Mendukung keberlangsungan layanan kesehatan komprehensif.  Membangun jejaring dan sistem rujukan antara RSUD dr R

Koesma Tuban dengan layanan kesehatan serta institusi terkait.

C. SASARAN

Pedoman HIV AIDS ini disusun untuk di aplikasikan oleh para pihak terkait yang berkepentingan dengan program dan layanan kesehatan khususnya HIV AIDS di RSUD dr R Koesma Tuban diantaranya :

1. Tim HIV AIDS

2. Instalasi Rawat Jalan 3. Instalasi rawat Inap 4. Instalasi Bedah Sentral 5. Instalasi Laboratorium 6. Instalasi Farmasi

D. ASAS

1. Azas Sukarela adalah individu secara sukarela memilih di test untuk mengetahui status HIV nya. VCT berbasis pada kebutuhan dan memerlukan

(3)

informed concent dari orang yang akan di test. Test HIV harus selalu atas keputusan klien untuk mendukung kelancaran direkomendasikan bahwa test selalu didahului dengan konseling, penting bagi petugas kesehatan (konselor)untuk memberikan informasi dalam pra test. Informasi harus disampaikan secara jelas, dimengerti dan klien merasa mendapat keuntungan dari konseling. Persetujuaan tertulis harus dilakukan sebelum test dilakukan.

2. Azas kerahasiaan adalah dalam melaksanakan tugas di klinik VCT selalu harus mengedepankan kerahasiaan. Setiap pelayanan VCT perlu mengembangkan kebijakan yang melindungi kerahasiaan klien. Setiap staf pada setiap lini perlu mengetahui kebijakan dan alasan adanya kebijakan ini. Ketika informasi perlu di buka untuk kepentingan rujukan haruslah dimintakan persetujuan tertulis dari klien. Persetujuan ini berisi informasi spesifik, seperti bagaimana dari informasi yang tak boleh diberikan kepada siapa, dan bagian mana yang boleh serta kepada siapa. Meskipun ada keuntungan untuk memberikan status HIV , mereka yang akan di test harus diyakinkan hasil test bersifat rahasia. Resiko dan keuntungan perlu didiskusikan dan dipertimbangkan.

E. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup buku pedoman penyelenggaraan pengorganisasian klinik VCT di Instalasi Rawat Jalan mencakup proses perencanaan pola ketenagaan, uraian jabatan, monitoring, kegiatan orientasi dan pelaporan kegiatan pelayanan klinik VCT di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah dr. R Koesma Kabupaten Tuban.

F. PENGERTIAN

1. Konseling adalah suatu komunikasi nyang bersifat rahasia antara klien dan konselor bertujuan meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan dengan HIV/AIDS.Proses konseling termasuk evaluasi resiko personal penularan HIV , fasilitasi pencegahan perilaku dan evaluasi penyesuaian diri ketika klien menghadap hasil test positif. (World Health Organisation, 2011).

2. Klinik VCT adalah suatu unit khusus di bawah instalasi Rawat Jalan RSUD dr R Koesma Tuban. VCT digunakan untuk melakukan setiap intervensi,

(4)

minimum terdiri atas konseling pre dan pasca test HIV, VCT juga menyediakan konseling berkelanjutan jangka panjang dan konseling dukungan.

3. Instalasi Rawat Jalan adalah instalasi pelayanan rumah sakit yang memberikan layanan rawat jalan dengan melibatkan berbagai multidisiplin. 4. Kepala Instalasi Rawat Jalan adalah seorang dokter gigi yang diangkat oleh

Direktur Rumah Sakit

5. Ketua Tim Bedah adalah seorang perawat yang diangkat oleh Direktur Rumah Sakit.

BAB II

GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT

RSUD dr. R. Koesma merupakan Rumah Sakit milik Pemerintah Kabupaten Tubanyang pada awal berdirinya bernama RSUD Tuban berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 51/Menkes/SK/II/1979 tanggal22 Februari 1979sebagai Rumah Sakit Kelas D yang terletak di Jalan Brawijaya dengan lahan seluas 31.101 m2

dan masih menjadi satu dengan kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban. Untuk operasional pelaksanaan pelayanan di Rumah Sakit saat itu masih menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban. Pada saat itu fasilitas tempat tidur yang tersedia sejumlah kurang lebih 50 (lima puluh) buah dengan jenis peralatan yang dimiliki masih bersifat sederhana antara lain alat pemeriksaan gizi dan alat pemeriksaan laboratorium sederhana. Jumlah tenaga yang ada saat itu sejumlah 28 (dua puluh delapan) orang dengan tenaga medis dokter umum sejumlah 3 (tiga) orang dan merangkap tugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, sedangkan tenaga dokter spesialis baru ada pada tahun 1982 yaitu spesialis obsgin sebanyak 1 (satu) orang dan spesialis anak sebanyak 1 (satu) orang. Seiring perkembangan pelayanan serta fasilitas yang ada, pada tahun 1983 status RSUD Tuban dinaikkan kelasnya menjadi Rumah Sakit kelas C melalui keputusan Menteri Kesehatan Nomor 233/Menkes/SK/VI/1983 tanggal 11 Juni 1983 yang ditindak lanjuti dengan Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Timur Nomor26 Tahun 1983. Kemudian nama RSUD Tuban diganti menjadi RSUD dr. R. Koesma Kabupaten Tuban berdasarkan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Tuban Nomor 153 Tahun 1984 tanggal 24 Nopember 1984yang disetujui DPRD Tingkat II Tuban tanggal 1 Desember 1984 dengan Keputusan Nomor 26-DPRD-82/84.

(5)

sampai sekarang menempati lahan seluas 47.236 m2. Pada lokasi ini RSUD dr. R.

Koesma Kabupaten Tuban mempunyai letak yang sangat strategis, berada di tengah kota yang mudah dijangkau transportasi umum dan berada dijalur jalan raya Surabaya-Semarang. Adapun fasilitas sarana yang dimiliki saat ini berpindah ini antara lain : ruang rawat inap dan satu ruang bersalin dimana kapasitas tempat tidurnya sebanyak 150 (seratus lima puluh) buah, instalasi radiologi, instalasi laboratorium, dan instalasi bedah sentral.

Pada tahun 1999 RSUD dr. R. Koesma Kabupaten Tuban telah lulus akreditasi untuk 5 (lima) kelompok pelayanan dan selanjutnya dari hasil visitasi Tim Kementerian Kesehatan pada tanggal 9 Oktober 2010 RSUD dr. R. Koesma Kabupaten Tuban ditingkatkan kelasnya menjadi Rumah Sakit kelas B berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.03.05/I/517/2012 tanggal 12 Februari 2012. Pada tahun 2012 juga RSUD dr. R. Koesma Kabupaten Tuban mendapat Ijin Operasional Tetap Rumah Sakit Umum Pemerintah Kelas B Non Pendidikan yang berlaku selama 5 (lima) tahun dari Gubernur Jawa Timur dengan surat ijin Nomor P2T/2/03.23/III/2012 pada tanggal 25 Maret 2012.

Untuk memenuhi standar mutu pelayanan pada tanggal 29 Maret 2011RSUD dr. R. Koesma Kabupaten Tuban telah disurvei oleh Tim Surveior dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Kementerian Kesehatan dan lulus Akreditasi Penuh Tingkat Lanjut untuk 12 (dua belas) Pelayanan dengan berdasar Keputusan Direktorat Jendral Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Nomor YM.02.10/III/1414/2011 tanggal 10 Juni 2011. Dan pada tanggal 19-20 Desember 2013 telah dilakukan survey oleh SAI Global untuk Sistem Manajemen Mutu ISO 9001-2008 untuk 16 Pelayanan dan dinyatakan lulus pada tanggal 17 Januari 2014 dengan nomor sertifikat QMS 40495.

Pelayanan pada RSUD dr. R. Koesma Kabupaten Tubantelah berkembang dengan baik, dimana saat ini telah ada 18 (delapan belas) tenaga medis spesialis dan 6 (enam) tenaga medis spesialis penunjang dan dapat memberikan 12 (dua belas) pelayanan medis spesialis dan 3 (tiga) pelayanan medis spesialis penunjang.Untuk Rawat Inap saat ini memeliki kapasitas 321TT denganrata-rata penggunaan tempat tidur (bad occupation rate, BOR) mencapai 63,32% pada tahun 2014.

Sehubungan dengan status sebagai Rumah Sakit kelas B, maka RSUD dr. R. Koesma Kabupaten Tuban merupakan Rumah Sakit rujukan bagi Rumah Sakit - Rumah Sakit swasta dan pemerintah di Wilayah Tuban dan sekitarnya yang kelasnya masih lebih rendah dibawahnya. Hal ini menuntut agar RSUD dr. R. Koesma

(6)

Kabupaten Tuban dapat memberikan pelayanan yang bermutu dan terjangkau masyarakat, sehingga dapat mendekatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Tuban dan sekitarnya yaitu dengan meminimalkan rujukan ke Rumah Sakit provinsi.

BAB III

VISI, MISI, FALSAFAH, NILAI DAN TUJUAN RUMAH SAKIT

A. Visi

Menjadi pusat rujukan dan pelayanan kesehatan yang profesional dengan mengutamakan kepuasan dan keselamatan pasien.

B. Misi

1) Meningkatkan pelayanan yang berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.

2) Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan sumber daya manusia.

3) Meningkatkan sarana prasarana dan peralatan kesehatan yang canggih dan berkualitas sesuai dengan standar.

4) Menyelenggarakan pengelolaan Rumah Sakit secara transparan, akuntabel, efisien dan efektif.

C. Falsafah

Mengabdi dan Melayani dengan ikhlas. D. Nilai 1) Jujur 2) Inovatif 3) Kreatif 4) Amanah E. Tujuan

1) Tercapainya kepuasan pelanggan melalui peningkatan mutu pelayanan yang terakreditasi.

2) Terpenuhinya pelayanan sesuai standar melalui tenaga profesional dan terlatih.

3) Tercapainya RSUD dr. R. Koesma menjadi pusat rujukan daerah sekitar. 4) Terwujudnya tarif layanan yang kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat. F. Motto

(7)

BAB IV

STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT

(8)
(9)

B. Tugas Pokok Dan Fungsi

Susunan Organisasi RSUD dr.R.Koesma Tuban adalah: 1. Direktur

Mempunyai tugas memimpin, menyusun kebijakan, membina mengkoordinasikan,mengawasi serta melaksanakan pengendali terhadap pelaksanaan tugas rumah sakit.

2. Wakil Direktur Umum dan Keuangan

Wakil Direktur Umum dan Keuangan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pembinaan, pengawasan dan pengendalian pengelolaan kegiatan pelayanan administrasi umum, keuangan dan program rumah sakit. Wakil Direktur Umum dan Keuangan membawahi dan mengkoordinasikan : a. Bagian administrasi dan umum

b. Bagian Keuangan

c. Bagian Program dan Pelaporan

3. Wakil Direktur Pelayanan

Wakil Direktur Pelayanan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian pengelolaan pelayanan medik dan non medik. Wakil Direktur Pelayanan membawahi dan mengkoordinasikan :

a. Bidang Medik

b. Bidang Pelayanan Penunjang c. Bidang Keperawatan

4. Bagian Administrasi dan Umum

Bagian Administrasi dan Umum mempunyai tugas menyelenggarakan penyiapan perumusan kebijakan , koordinasi, pembinaan dan pengendalian pelaksanaan pelayanan administrasi dan perlengkapan serta rumah tangga, kepegawaian, pendidikan dan penelitian dan pengembangan sumber daya rumah sakit, hukum dan humas.

(10)

5. Bagian Keuangan

Bagian keuangan mempunyai tugas melaksanakan penyusunsn rencana belanja dan anggaran, penatausahaan keuangan meliputi penganggaran, perbendaharaan, mobilisasi dana, akuntansi dan verifikasi serta remunerasi. Bagian keuangan membawahi dan mengkoordinasikan:

a. Sub bagian anggaran

b. Sub bagian perbendaharaan dan mobilisasi dana c. Sub bagian Akuntansi dan verifikasi

6. Bagian Program dan Pelaporan

Bagian program dan pelaporan mempunyai tugas penyusunan rencana kegiatan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM-RS). Bagian Program dan pelaporan membawahi dan mengkoordinasikan :

a. Sub Bagian Perencanaan Program

b. Sub Bagian Monitoring, Evaluasi, Pelaporan dan Sistem Manajemen Informasi Rumah Sakit (SIM-RS)

7. Bidang Medik

Bidang Medik mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pembinaan, pengawasan, pengendalian pelayanan dan penggunaan fasilitas pelayanan serta kegiatan pada instalasi rawat jalan, rawat inap.

Bidang Medik membawahi dan mengkoordinasikan:

a. Seksi Perencanaan dan Pengembangan Pelayanan Medik b. Seksi Monitoring dan Evaluasi Pelayanan Medik

8. Bidang Pelayanan dan Penunjang

Bidang Pelayanan Penunjang mempunyai tugas mengkoordinasikan semua kebutuhan penunjang medis, memantau, mengawasi fasilitas dan kegiatan pelayanan pada Instalasi Sarana dan Prasarana, Laundry, Pemulasaran Jenazah, Ambulan dan Pengelolaan Limbah. Bidang Pelayanan Penunjang membawahi dan mengkoordinasikan:

(11)

a. Seksi Penunjang Medik b. Seksi Penunjang Non Medik

9. Bidang Keperawatan

Bidang Keperawatan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, pembinaan, pengawasan dan pengendalian pelayanan keperawatan, penggunaan fasilitas pelayanan Keperawatan dan kegiatan pelayanan Keperawatan pada Instalasi Rawat jalan, Rawat Inap. Bidang Keperawatan membawahi dan mengkoordinasikan:

a. Seksi Perencanaan dan Pengembangan Pelayanan Keperawatan b. Seksi Monitoring dan Evaluasi Pelayanan Keperawatan

10. Instalasi/Unit Pelayanan Non Struktur

Di Lingkungan Wakil Direktur Umum dan Keuangan dibentuk Instalasi dan atau Unit yang merupakan unsur pelaksana non Struktural yang terdiri dari:

a. Instalasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM-RS) b. Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Lingkungan Rumah Sakit

Di Lingkungan Wakil Direktur Pelayanan dibentuk Instalasi dan/ Unit yang merupakan unsur pelaksana non struktural, terdiri dari:

a. Instalasi Rawat Jalan b. Instalasi Rawat Inap c. Instalasi Gawat Darurat d. Instalasi Bedah Sentral e. Instalasi Farmasi

f. Instalasi Laboratorium g. Instalasi Radiologi

h. Central Sterile Supply Department (CSSD) i. Instalasi Gizi

j. Instalasi Rekam Medis k. Unit Pemulasaran Jenazah l. Unit Laundry

m. Unit Ambulan

(12)

BAB V

STRUKTUR ORGANISASI UNIT KERJA

DIREKTUR WADIR PELAYANAN BIDANG KEPERAWATAN BIDANG MEDIK KA. IR JA PENANGGUNG JAWAB KLINIK DOKTER KLINIK TIM RM TIM FARMASI PERAWAT PELAKSANA PERAWAT PELAKSANA TIM LAB

(13)

BAB VI

URAIAN JABATAN

Uraian jabatan struktur organisasi klinik VCT di instalasi rawat jalan / tim penanggulangan HIV AIDS di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tuban :

A. Penanggung jawab klinik VCT

1. Menyusun rancangan kebijakan dan prosedur pelayanan sesuai SPO. 2. Menyusun rencana kerja klinik VCT.

3. Menyusun usulan kebutuhan fasilitas, tenaga, pemeliharaan sarana dan prasarana, serta pendidikan dan pelatihan pegawai di RSUD dr R Koesma khususnya sebagai bahan penyusunan rencana kegiatan Bidang Medik dan Keperawatan.

4. Menyusun jadwal kegiatan di klinik VCT.

5. Melakukan koordinasi kegiatan pelayanan dengan bagian / SMF dari berbagai disiplin ilmu dan unit kerja terkait .

6. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan di klinik VCT.

7. Menyusun monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan di klinik VCT. 8. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh direktur dalam rangka

kelancaran pelaksanaan tugas dilingkungan Rumah sakit.

9. Mengadakan konsultasi dengan dokter penanggung jawab klinik VCT pada pasien baru dan meng evaluasi perkembangan kesehatan ODHA.

10. Koordinasi dengan klinik lain dan ruangan rawat inap dimana penderita aids dirawat , memberikan konseling pasien dan keluarga.

B. Dokter Pelaksana di klinik VCT.

1. Melakukan pemeriksaan penderita baru setelah di berikan konseling oleh konselor di klinik VCT.

2. Memberikan advis ARV untuk penderita baru dengan HIV AIDS yang memenuhi syarat untuk ARV

3. Mengkoordinasikan dengan perawat untuk mengevaluasi perkembangan pasien HIV AIDS / ODHA dengan therapy ARV.

C. Ketua Tim Penanggulangan HIV AIDS.

1. Mengkoordinir semua anggota tim HIV AIDS.

2. Berkoordinasi dengan tim untuk pemerikasaan , perawatan ,therapy lanjutan dan pencatatan pelaporan.

(14)

BAB VII

TATA HUBUNGAN KERJA

A. Bagan Hubungan Kerja

B. Keterangan Hubungan Kerja :

1. Hubungan kerja dengan Wakil Direktur Pelayanan :

a. Pelaporan dari Instalasi rawat jalan bila ditemukan kasus barU

2. Hubungan Kerja Dengan Instalasi Gawat Darurat

Berkoordinasi berkaitan dengan tindakan pemerikasaan

laboratorium bila ditemukan kasus baru untuk konseling dan kelengkapan informed concent.

TIM PENANGGULA NGAN HIV AIDS Kamar jenazah Farmasi Rawat jalan Laboratori um Rekam Medis Wadir Pelayanan IGD Administrasi dan Umum Rawat Inap Operator Telepon Laundry Loket pendaftaran

(15)

3. Hubungan kerja dengan Instalasi Rawat Inap

Memberikan konseling pada pasien bila hasil sudah dinyatakan positif dan konseling lanjutan untuk keluarga, bersama tim ruangan merencanakan pengobatan tindak lanjut.

4. Hubungan kerja dengan Instalasi Rawat Jalan :

Berkoordinasi dengan loket pendaftaran dan masuk ke klinik untuk konseling dan memberikan pengantar pemeriksaan ke laboratorium setelah imformed concent.

5. Hubungan Kerja dengan Instalasi Farmasi

Berkoordinasi berkaitan dengan pengambilan obat ARV.

6. Hubungan Kerja dengan Operator Telepon

a. Berkoordinasi berkaitan dengan rawat inap bila ada penderita HIV meninggal dunia.

b. Bagian/instalasi yang membutuhkan tim menghubungi melalui operator.

7. Hubungan Kerja dengan Administrasi dan Umum

a. Berkoordinasi berkaitan dengan administrasi kepegawaian

b. Berkoordinasi berkaitan kegiatan pendidikan dan latihan pegawai c. Berkoordinasi dalam penilaian karyawan

8. Hubungan Kerja dengan Laundry

Berkoordinasi berkaitan dengan pencucian linen infecsius.

9. Hubungan Kerja dengan Instalasi Rekam Medis

Berkoordinasi berkaitan dengan penderita HIV AIDS, penemuan penderita baru dan kematian. Dalam pencatatan dan pelaporan serta kegiatan monev.

(16)

BAB VIII

POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI PERSONIL

No Jabatan Pendidikan Sertifikasi Jumlah

Kebutuhan 1 Ketua tim penanggulangan HIV AIDS Dokter Spesialis Penyakit Dalam - 1

2 Dokter konsultan Dokter Spesialist

Penyakit Dalam

- Minimal satu

tiap-tiap spesialistik

3 Dokter Umum Sarjana

Kedokteran CST Minimal satu 4 Penanggung Jawab Klinik / Konselor Sarjana Keperawatan - CST - Koselor

5 Tim laboratorium Minimal D3

Keperawatan - CST 2

6 Perawat CST Minimal D3

Keperawatan

- CST Minimal 4

7 Rekam Medik D3 Rekam Medik - Diklat RR 1

8 Penanggung Jawab Farmasi Apoteker - Diklat 1 BAB IX KEGIATAN ORIENTASI NO MATERI WAKTU/ TANGGAL METODA PENANGGUNG JAWAB 1 Orientasi secara garis besar: • Tentang pengertian Instalasi Bedah Sentral • Sosialisasi struktur organisasi Instalasi Bedah Sentral dan uraian jabatan • Jadwal dinas Hari 1 - Pembelajaran - Tanya jawab Ka.Perawatan Instalasi Bedah Sentral

(17)

2 Prosedur penerimaan pasien operasi dari instalasi rawat inap Hari 1 - Pembelajaran - Tanya jawab - Survey lapangan Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten

3 Prosedur penerimaan pasien operasi dari instalasi rawat jalan Hari 1 - Pembelajaran - Tanya jawab - Survey lapangan Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten 4 Prosedur penerimaan pasien operasi dari instalasi gawat darurat

Hari 1 - Pembelajaran - Tanya jawab - Survey

Ka. Perawatan/ perawat IBS yang berkompeten 5 Prosedur penerimaan pasien ODC Hari 1 - Pembelajaran - Tanya jawab - Survey lapangan Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten

6 Prosedur tugas dinas pagi, sore dan on call

Hari 2 - Pembelajaran - Tanya jawab

Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten 7 Prosedur alur masuk pasien Hari 2 - Pembelajaran - Tanya jawab Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten

8 Prosedur alur keluar pasien

Hari 2 - Pembelajaran - Tanya jawab

Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten

9 Prosedur alur masuk alat steril

Hari 3 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek

Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten

10 Prosedur keluar alat kotor

Hari 3 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek

Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten 11 Prosedur serah terima pasien Hari 3 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten

(18)

12 Prosedur penggunaan cauter Hari 4 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten 13 Prosedur penggunaan suction Hari 4 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten 14 Prosedur penggunaan auto clave Hari 4 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten 15 Prosedur pembersihan instrumen Hari 5 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten

16 Prosedur penataan instrument di meja besar dan meja mayo

Hari 5 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek

Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten 17 Penggunaan alat untuk bermacam- macam operasi Hari 5 - Pembelajaran - Tanya jawab - Praktek Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten Evaluasi Hari 6 - Ujian tulis

- Ujian lisan

Ka. Perawatan / perawat IBS yang berkompeten

BAB X

PERTEMUAN/ RAPAT

Rapat berkala terdiri dari : 1. Rapat Rutin

Rapat Rutin diselenggarakan pada : Waktu : Sabtu ( 1 bulan sekali ) Jam : 7.30 - selesai

Tempat : Ruang Rapat IBS

Peserta : Semua tenaga di Instalasi Bedah Sentral Materi :

(19)

b. Pembacaan hasil Raker

c. Pembahasan laporan mingguan d. Evaluasi kendala dan solusi 2. Rapat Kerja Mingguan

Rapat Rutin diselenggarakan pada : Waktu : Setiap hari jum’at Jam : 07.30 - selesai

Tempat : Ruang Rapat Kantor lantai 2

Peserta : Direksi, manajer, ketua komite, ka. Instalasi, ka. bagian Materi :

a. Pembacaan notulen raker minggu lalu dan tindak lanjut b. Presentasi laporan kinerja unit kerja

c. Evaluasi kendala dan solusi 3. Rapat Insidentil

Rapat Insidentil diselenggarakan sewaktu-waktu bila ada masalah atau sesuatu hal yang perlu dibahas segera.

BAB XI PELAPORAN

1. Laporan harian

a) Laporan tertulis, jumlah kunjungan baru dan lama.

b) Laporan insidentil : bila ada masalah / hal yang perlu dibahas segera. c) Laporan bila ditemukan penderita baru yang terinfeksi, dengan hasil

laboratorium diserahkan ke rekam medik (tim penanggulangan HIV AIDS). Selanjutnya di serahkan ke bagian Propel (program dan pelaporan).

2. Laporan bulanan

Laporan tertulis berupa sensus harian kunjungan pasien baru dan lama per tanggal 25 di serahkan ke bagian rekam medik.

3. Laporan tahunan

Laporan dibuat berdasarkan rekapan tahunan dan diserahkan ke sekretaris direktur untuk di presentasikan di instansi terkait (lintas sektoral)

(20)

KABUPATEN TUBAN

Dr. H. ZAINUL ARIFIN, Sp.PK Pembina Tk. I

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai unit kerja STAIN Watampone yang memiliki tugas dan fungsi penyusunan regulasi, koordinasi, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi di bidang

Kegiatan dalam pelaksanaan Modul ini diberikan dalam bentuk real case di Puskesmas dimana mahasiswa akan diberikan masalah kesehatan yang benar- benar ada di wilayah

Pada penelitian sebelumnya, risiko TI pada level organisasi pada kategori risiko perubahan adalah (1) Kekurangan rantai fleksibilitas, (2) Kekurangan proses yang

Pada bagian timur laut terdapat struktur utama yaitu sesar mendatar menganan dan mengiri dengan orientasi relative timur laut – barat daya, bagian utara berupa

Perencanaan Strategis Mensinergikan Kebijakan Energi Nasional, dengan menyusun Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebagai pedoman dalam menyusun Rencana Umum Energi

yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) disusun secara sistematis, sehingga informasi arsip dalam daftar ini dapat diakses dan dimanfaatkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) modul kimia berbasis saintifik 5M dengan panduan mind map pada materi koloid yang dikembangkan telah divalidasi dan

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perbedaan genotipe tanaman merupakan faktor penentu dominan dalam berbagai variabel yang diamati, yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan, umur