SUMBERDAYA DALAM PE
SUMBERDAYA DALAM PENANGGULAN
NANGGULANGAN BENCANA
GAN BENCANA
Oleh: Danang Insita PutraOleh: Danang Insita Putra
Mahasiswa Pasca Sarjana Manajemen Bencana Mahasiswa Pasca Sarjana Manajemen Bencana
Universitas Pertahanan Indonesia Universitas Pertahanan Indonesia
ABSTRAK ABSTRAK
Penanggulangan bencana memerlukan penanganan yang lintas sektor, lintas Penanggulangan bencana memerlukan penanganan yang lintas sektor, lintas pelaku, dan
pelaku, dan lintas disiplin lintas disiplin yang terkoordinasi. Kerjayang terkoordinasi. Kerjasama ini sama ini membutuhkanmembutuhkan komitmen bersama agar tidak terjadi
komitmen bersama agar tidak terjadi overlapoverlap atau tumpang tindih dalamatau tumpang tindih dalam pelaksanaannya. Disamping itu kerjasama ini digunakan sebagai upaya untuk pelaksanaannya. Disamping itu kerjasama ini digunakan sebagai upaya untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk kepentingan bersama dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk kepentingan bersama dalam penanggulangan bencana
penanggulangan bencana. . Pembentukan suatu lembaga yang kPembentukan suatu lembaga yang khusushusus menangani kebencanaan di suatu negara (misalnya BNPB di Indonesia) tidak menangani kebencanaan di suatu negara (misalnya BNPB di Indonesia) tidak bertujuan untuk mengambil alih semua sumberdaya yang ada dalam bertujuan untuk mengambil alih semua sumberdaya yang ada dalam Penanggulangan B
Penanggulangan Bencana, namun encana, namun lebih pada lebih pada aspek koordinasi aaspek koordinasi agar gar pelaksanaannya lebih terstruktur dan terorganisasi.
pelaksanaannya lebih terstruktur dan terorganisasi. Kata Kunci:
Kata Kunci: bencana, sumberdayabencana, sumberdaya PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Sejak akhir abad 20, paradigma manajemen bencana di dunia ini mulai Sejak akhir abad 20, paradigma manajemen bencana di dunia ini mulai bergeser dari
bergeser dari pendekatan penanggulangan pendekatan penanggulangan yang bersifat responsif yang bersifat responsif (tanggap(tanggap darurat) ke arah preventif yakni pencegahan dan pengurangan risiko bencana. darurat) ke arah preventif yakni pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan pelajaran yang Hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan pelajaran yang dapat diambil dari penanganan bencana yang belakangan ini cenderung dapat diambil dari penanganan bencana yang belakangan ini cenderung meningkat dengan korban yang semakin banyak.United Nations International meningkat dengan korban yang semakin banyak.United Nations International Decade for Natural Disaster Reduction (IDNDR), yang berakhir pada 1999, Decade for Natural Disaster Reduction (IDNDR), yang berakhir pada 1999, memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan kepedulian memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan kepedulian masyarakat internasional
masyarakat internasional akan pemakan pemahaman pentingnya ahaman pentingnya pengurangan pengurangan risikorisiko bencana. Dekade penguran
bencana. Dekade pengurangan bencana tersebut dicanangkan pada 1989gan bencana tersebut dicanangkan pada 1989 dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa melalui Resolusi 44/236. dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa melalui Resolusi 44/236. Langkah ini berkembang terus dan telah diterapkan di berbagai negara, Langkah ini berkembang terus dan telah diterapkan di berbagai negara, sehingga pada Konferensi Dunia Pengurangan Risiko Bencana di Kobe, sehingga pada Konferensi Dunia Pengurangan Risiko Bencana di Kobe, Jepang tahun 2005 dirum
Jepang tahun 2005 dirumuskan prioritasuskan prioritas-prioritas aksi yang dituangkan dalam-prioritas aksi yang dituangkan dalam Hy
Hy ogo Framework for Actionogo Framework for Action (HFA).(HFA).
Beberapa rumusan strategi Internasional dalam Pengurangan Risiko Bencana Beberapa rumusan strategi Internasional dalam Pengurangan Risiko Bencana dilakukan dengan tujuan antara lain:
dilakukan dengan tujuan antara lain: 1.
1. Meningkatkan kepedulian Meningkatkan kepedulian masyarakat termasyarakat terhadhadap bencana ap bencana alam,alam, teknologi,lingkungan dan bencana sosial
teknologi,lingkungan dan bencana sosial 2.
2. Mewujudkan komitmen pemerintah Mewujudkan komitmen pemerintah dalam mengurangi dalam mengurangi risiko bencanarisiko bencana terhadap manusia, kehidupan manusia, infrastruktur sosial dan terhadap manusia, kehidupan manusia, infrastruktur sosial dan ekonomi serta sumber daya lingkungan
ekonomi serta sumber daya lingkungan
3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan 3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko bencana melalui peningkatan kemitraan dan pengurangan risiko bencana melalui peningkatan kemitraan dan perluasan jaringan upaya pengurangan risiko bencana
perluasan jaringan upaya pengurangan risiko bencana 4.
anggaran dalam penanggulangan bencana dapat dijadikan ukuran anggaran dalam penanggulangan bencana dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kapasitas/kemampuan suatu lembaga dalam untuk menentukan kapasitas/kemampuan suatu lembaga dalam penanggulangan bencana.
penanggulangan bencana.
b.
b. AvailaAvailabbilitilit adalah adalah bagaimana bagaimana mengukur mengukur tingkat tingkat ketersedianketersedian
infrastruktur dalam penanggulangan
infrastruktur dalam penanggulangan bencana. Karebencana. Karena masingna masing -masing-masing lembaga juga melaksanakan sektor tertentu, maka ukuran tingkat lembaga juga melaksanakan sektor tertentu, maka ukuran tingkat ³ketersediaan´ ini adalah tergantung pada sektor tersebut juga. ³ketersediaan´ ini adalah tergantung pada sektor tersebut juga. Misalnya bagaimana kesiapan infrastruktur suatu rumah sakit untuk Misalnya bagaimana kesiapan infrastruktur suatu rumah sakit untuk menerima korban bencana di sekitarnya. Monitoring dan laporan aset menerima korban bencana di sekitarnya. Monitoring dan laporan aset yang dilaksanakan secara rutin dapat menjadi solusi untuk mengukur yang dilaksanakan secara rutin dapat menjadi solusi untuk mengukur kapasitas suatu lembaga ini.
kapasitas suatu lembaga ini. c
c.. DuraDurabbilitilit adalah untuk mengukur sejauh mana suatu lembaga dapatadalah untuk mengukur sejauh mana suatu lembaga dapat
berperan aktif dalam suatu operasi penanggulangan bencana dan berperan aktif dalam suatu operasi penanggulangan bencana dan kapan harus bekerjasama dengan pihak lain.
kapan harus bekerjasama dengan pihak lain. d
d.. Operational Operational IntegritIntegrit adalah adalah bagaimana bagaimana suatu suatu lembagalembaga
mempertanggungjawabkan pemanfaatan
mempertanggungjawabkan pemanfaatan sumberdaya yang ada sumberdaya yang ada pp ascaasca dilaksanakannya kegiatan penanggulangan bencana. dilaksanakannya kegiatan penanggulangan bencana. Pengadministrasian serta pelaporan yang tepat dapat menghindari Pengadministrasian serta pelaporan yang tepat dapat menghindari masalah yang dapat terjadi di kemudian hari.
masalah yang dapat terjadi di kemudian hari.
PENATAAN KELEMBAGAAN PENANGGULANGAN BENCANA PENATAAN KELEMBAGAAN PENANGGULANGAN BENCANA Berdasarkan
Berdasarkan Undang-undang Undang-undang Nomor Nomor 24 24 ahun ahun 2007 2007 tete ntangntang Penanggulangan Bencana, lembaga utama yang khusus menangani Penanggulangan Bencana, lembaga utama yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB merupakan Lembaga Pemerintah Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB merupakan Lembaga Pemerintah non-Kementerian yang dipimpin o
non-Kementerian yang dipimpin oleh pejabat sleh pejabat setingkat menterietingkat menteri . Lembaga ini. Lembaga ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat, bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat, efektif dan efisien, serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan efektif dan efisien, serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan
penanggulangan bencana secara terebencana secara tere ncana, terpadu, dan menyeluruh.ncana, terpadu, dan menyeluruh.
Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian, Lembaga dan instansi sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian, Lembaga dan instansi terkait. Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana, BNPB bekerja terkait. Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana, BNPB bekerja sama
sama dengan dengan entara Nasional entara Nasional Indonesia, KepolIndonesia, Kepolisian isian Republik Republik Indonesia,Indonesia, Basarnas dan PMI. Untuk penanganan pengungsi, BNPB bekerja sama Basarnas dan PMI. Untuk penanganan pengungsi, BNPB bekerja sama dengan Kementerian Sosial. Untuk
dengan Kementerian Sosial. Untuk pemetaan daerahpemetaan daerah - daerah rawan, BNPB- daerah rawan, BNPB bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara khusus menangani ancaman tertentu. Untuk pengembangan sistem khusus menangani ancaman tertentu. Untuk pengembangan sistem peringatan dini, BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber peringatan dini, BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya
Daya MinerMineral dal dan an BMK BMK untuk untuk bencana-bencabencana-bencana gna geologieologis, des, denganngan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian, Kementerian Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehuta
Kehutanan, nan, LAPANLAPAN, dan , dan BMK BMK untuk beuntuk bencana-bencana ncana-bencana hidrohidrometeometeorologrologis,is, dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti Kemen
Kementerian terian Riset Riset dan dan eknologeknologi, i, BPPBPP , LI, LIPI sPI serta erta didukudidukung ng juga juga oleholeh perguruan tinggi.
Dalam dokumen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 Dalam dokumen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 secara garis besar dirumuskan peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga secara garis besar dirumuskan peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut:
Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut: 1.
1. Kementerian Kementerian Koordinator Koordinator Bidang Bidang Kesejahteraan Kesejahteraan RakyatRakyat
mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan
mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan
bencana lintas kementerian dan lembaga.
bencana lintas kementerian dan lembaga.
2. Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan
2. Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan
pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.
pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.
3.
3. Kementerian Kementerian Luar NLuar Negeri mendukung egeri mendukung programprogram-program dan -program dan kegiatankegiatan
penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional.
penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional.
4.
4. Kementerian Kementerian Pertahanan Pertahanan mendukung mendukung pengamanan pengamanan daerahdaerah- - daerah daerah yangyang
terkena bencana, baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana.
terkena bencana, baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana.
5.
5. Kementerian Kementerian HukuHukum m dan dan HAM HAM mendorong mendorong peningkatan peningkatan dandan
penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan.
penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan.
6.
6. Kementerian Kementerian Keuangan Keuangan penyiapan penyiapan anggaran anggaran biaya biaya kegiatankegiatan
penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra, saat dan
penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra, saat dan
pasca bencana.
pasca bencana.
7.
7. Kementerian Energi dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan danSumber Daya Mineral merencanakan dan
mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana
mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana
akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi.
akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi.
8.
8. Kementerian Kementerian Pertanian Pertanian merencanakan merencanakan dan dan mengendalikan mengendalikan upaya upaya mitigasimitigasi
di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian.
di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian.
9. Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya
9. Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya
mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan.
mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan.
10. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan
10. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan
kebutuhan transportasi.
kebutuhan transportasi.
11. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan
11. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan
upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai.
upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai.
12. Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang
12. Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang
peka terhadap risiko bencana, penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan
peka terhadap risiko bencana, penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan
kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik.
kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik.
13. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik
13. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik
termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis.
termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis.
14.
14. Kementerian Pendidikan Kementerian Pendidikan Nasional merencanakan Nasional merencanakan dan mengendalikandan mengendalikan
penyelenggaraan pendidik
penyelenggaraan pendidikan darurat an darurat untuk daerahuntuk daerah-daerah terkena-daerah terkena
bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan, serta
bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan, serta
mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana.
mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana.
15.
15. Kementerian Sosial Kementerian Sosial merencanakan kebutuhan merencanakan kebutuhan pangan, sandang, danpangan, sandang, dan
kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi.
kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi.
16.
16. Kementerian Kementerian Komunikasi Komunikasi dan dan Informatika Informatika merencanakan merencanakan dandan
mengendalikan pengadaan
mengendalikan pengadaan fasilitas dan fasilitas dan sarana komunikasi darurat untuksarana komunikasi darurat untuk
mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana.
mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana.
17.
17. Kementerian Kementerian enaga enaga Kerja Kerja dan dan ransmigrasi ransmigrasi merencanakanmerencanakan
pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman
pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman
bencana.
bencana.
18.
18. Kementerian Riset dan Kementerian Riset dan eknologi melakukan kajian dan penelitianeknologi melakukan kajian dan penelitian
sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan
sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan
bencana pada situasi tidak terjadi bencana, tahap tanggap darurat, dan
bencana pada situasi tidak terjadi bencana, tahap tanggap darurat, dan
tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
19.
19. Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan prograKementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan program- programm- program
usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat
usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat
miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan.
miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan.
20.
20. Kementerian Kementerian Lingkungan Lingkungan Hidup Hidup merencanakan merencanakan dan dan mengendalikanmengendalikan
upaya yang bersifat preventif, advokasi dan deteksi d
upaya yang bersifat preventif, advokasi dan deteksi dini dalamini dalam
pencegahan bencana terkait lingkungan hidup.
pencegahan bencana terkait lingkungan hidup.
21.
21. Kementerian Pembangunan Daerah Kementerian Pembangunan Daerah ertinggal merencanakan danertinggal merencanakan dan
mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang
mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang
berdasarkan kajian risiko bencana.
berdasarkan kajian risiko bencana.
22.
22. Kementerian Kementerian Perencanaan Perencanaan Pembangunan Pembangunan Nasional Nasional mendukungmendukung
perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana.
perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana.
23.
23. Kementerian Kementerian Perumahan Perumahan Rakyat Rakyat mengkoordinasikan mengkoordinasikan pengadaanpengadaan
perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana.
perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana.
24.
24. entara entara Nasional Nasional Indonesia Indonesia membantu membantu dalam dalam kegiatan kegiatan pencarpencarian ian dandan
penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap
penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap
darurat bencana.
darurat bencana.
25.
25. Kepolisian Republik Kepolisian Republik Indonesia membantu Indonesia membantu dalam kegiatan dalam kegiatan SAR danSAR dan
pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang
pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang
ditinggalkan karena penghuninya mengungsi.
ditinggalkan karena penghuninya mengungsi.
26.
26. Basarnas Basarnas mendukung mendukung BNPB BNPB dalam dalam mengkoordinasikan mengkoordinasikan dandan
menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR).
menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR).
27.
27. Bakosurtanal Bakosurtanal merencanakan merencanakan dan dan mengendalikan mengendalikan pemetaan pemetaan risikorisiko
bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis.
bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis.
28.
28. BMK BMK membanmembantu dalam btu dalam bidang pidang pemanemanttauan poauan potensi betensi bencana yancana yangng
terkait dengan meteorologi, klimatologi dan geofisika.
terkait dengan meteorologi, klimatologi dan geofisika.
29.
29. BPP BPP membmembantu dalam bidanantu dalam bidang pengkajig pengkajian dan peneran dan penerapan teknoloapan teknologigi
khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.
khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.
30. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik.
30. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik.
31.
31. BPN membantu dalam BPN membantu dalam bidang penyediaan bidang penyediaan datadata-data pertanahan.-data pertanahan.
32.
32. LIPI LIPI membantu membantu dalam bidang dalam bidang pengkajian ilmu pengkajian ilmu pengetahuan pengetahuan yangyang
berkaitan dengan
berkaitan dengan penanggulangan bencana.penanggulangan bencana.
33. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial
33. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial
khususnya dari satelit.
khususnya dari satelit.
34. BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun
34. BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun
panduan penanggulangan bencana.
panduan penanggulangan bencana.
35.
35. Bapeten Bapeten membantu membantu dalam dalam bidang bidang pemantauan, pemantauan, pemanfaatan pemanfaatan dandan
pengendalian bahaya nuklir.
pengendalian bahaya nuklir.
36.
36. BABA AN AN membanmembantu dalam bidang pemantauan, pemanfaatu dalam bidang pemantauan, pemanfaatan dantan dan
pengendalian bahaya akibat tenaga atom.
pengendalian bahaya akibat tenaga atom.
Dalam situasi normal atau dalam
Dalam situasi normal atau dalam situasi tidak terdapat bencana, programsituasi tidak terdapat bencana, program-
-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat pusat
program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat pusat
dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan
dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan
kewenangan masing-masing.
PERAN PERGURUAN TINGGI DAN NON-GOVERNMENT
PERAN PERGURUAN TINGGI DAN NON-GOVERNMENT
ORGANISATIONS (NGOs) DALAM PB ORGANISATIONS (NGOs) DALAM PB Perguruan
Perguruan inggi inggi sebagai pusat sebagai pusat ilmu ilmu pengetahuan pengetahuan harus terlibat harus terlibat aktif dalamaktif dalam
kegiatan Penanggulangan Bencana dengan memfasilitasi peningkatan
kegiatan Penanggulangan Bencana dengan memfasilitasi peningkatan
kapasitas penanggulangan
kapasitas penanggulangan bencana dan bencana dan mengembangkan pengetahuanmengembangkan pengetahuan
serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. Dalam era
serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. Dalam era
desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat, dalam hal ini BNPB,
desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat, dalam hal ini BNPB,
menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas
menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas
penanggulangan bencana bagi daerah.
penanggulangan bencana bagi daerah. Oleh karena itu, BNPB akanOleh karena itu, BNPB akan
membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah
membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah
dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana.
dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana.
Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan
Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah
teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah
masing-masing.
masing-masing.
Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini, Lembaga Swadaya
Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini, Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM), baik LSM lokal, nasional maupun internasional kian
Masyarakat (LSM), baik LSM lokal, nasional maupun internasional kian
berperan besar
berperan besar terutama pada saat tanggaterutama pada saat tanggap darurat dan p darurat dan pasca bencana.pasca bencana.
Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi, terutama untuk
Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi, terutama untuk
mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat
mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat
masyarakat. Pemerintah akan bekerja sama
masyarakat. Pemerintah akan bekerja sama lebih erat denglebih erat dengan lembagaan lembaga-
-lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mit
lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mitra lainnya dalamra lainnya dalam
meningkatkan
meningkatkan ketangguhan ketangguhan masyarakat masyarakat dalam dalam menghadapi menghadapi bencana. bencana. erkaiterkait
dengan itu, pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar
dengan itu, pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar
dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang
dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang
relawan
relawan dan dan mendorong mendorong kerelakerelawanan wanan dalam dalam penanggulangan penanggulangan bencana.bencana.
PERAN MILITER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA PERAN MILITER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA
Militer telah berperan secara aktif dalam penanggulangan bencana di Militer telah berperan secara aktif dalam penanggulangan bencana di beberapa negara. Peran militer ini adalah sebagai salah satu operasi di luar beberapa negara. Peran militer ini adalah sebagai salah satu operasi di luar perang. Kenapa militer harus
perang. Kenapa militer harus ikut serta dalam penanggulangan bencana,ikut serta dalam penanggulangan bencana, terutama pada saat tanggap darurat? Pertanyaan ini selalu diajukan terutama pada saat tanggap darurat? Pertanyaan ini selalu diajukan pihak-pihak yang beranggapan bahwa militer tidak boleh terlalu aktif terlibat dalam pihak yang beranggapan bahwa militer tidak boleh terlalu aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan diluar kewenangan mereka. Militer adalah organisasi yang kegiatan-kegiatan diluar kewenangan mereka. Militer adalah organisasi yang paling sigap, lengkap, soli
paling sigap, lengkap, solid, dan memiliki tugas khusus dalam suatu negarad, dan memiliki tugas khusus dalam suatu negara .. ugas tradisional militer adalah mempertahankan kedaulatan negara. Karena ugas tradisional militer adalah mempertahankan kedaulatan negara. Karena itu, militer memiliki kemampuan mengerahkan personel dan perlengkapannya itu, militer memiliki kemampuan mengerahkan personel dan perlengkapannya untuk melakukan misi perang (
untuk melakukan misi perang (combat mi combat mi ionion ) dalam segala kesempatan) dalam segala kesempatan dengan taruhan nyawa sekalipun. Lalu, apakah militer dapat digunakan untuk dengan taruhan nyawa sekalipun. Lalu, apakah militer dapat digunakan untuk membantu menangani bencana? Jawabannya tentu bisa, namun tergantung membantu menangani bencana? Jawabannya tentu bisa, namun tergantung dari kemauan
dari kemauan pemerintah suatu negara pemerintah suatu negara dalam membekali mdalam membekali militernya uiliternya u ntukntuk melakukan misi bukan perang (
melakukan misi bukan perang (non-combat mi non-combat mi ionion ) yang juga untuk) yang juga untuk keselamatan negara.
keselamatan negara. Saat
Saat gempa gempa Sichuan Sichuan tahun tahun 2008, 2008, entara entara Pembebasan Pembebasan Rakyat Rakyat inaina mengirimkan bantuan segera ke daerah bencana. Helikopter militer mengirimkan bantuan segera ke daerah bencana. Helikopter militer dikerahkan untuk mengirimkan makanan, obat-obatan, dan tenda bagi dikerahkan untuk mengirimkan makanan, obat-obatan, dan tenda bagi korban
korban gempa. Hal yang gempa. Hal yang sama dilakukan pula sama dilakukan pula oleh serdadu oleh serdadu Amerika SerikatAmerika Serikat saat terjadi bencana di dalam negerinya, seperti Hurricane Katrina tahun saat terjadi bencana di dalam negerinya, seperti Hurricane Katrina tahun
§§ § § § §
2005. Bahkan, bagi pem
2005. Bahkan, bagi pemerintah AS, nonerintah AS, non -combat missions atau humanitarian-combat missions atau humanitarian works menjadi µtrade mark¶ baru dalam memanfaatkan militernya di luar works menjadi µtrade mark¶ baru dalam memanfaatkan militernya di luar negeri, seperti saat gempa dan tsunami Aceh tahun 2004. Walaupun negeri, seperti saat gempa dan tsunami Aceh tahun 2004. Walaupun disinyalir kalau misi non-perang ini adalah bagian dari strategi baru politik AS disinyalir kalau misi non-perang ini adalah bagian dari strategi baru politik AS selain perang. Di l
selain perang. Di lain pihak, bencana angin puyuh ain pihak, bencana angin puyuh Nargis di Myanmar tidakNargis di Myanmar tidak disikapi dengan baik
disikapi dengan baik oleh junta militernya. Mereka tidak moleh junta militernya. Mereka tidak m emiliki kemampuanemiliki kemampuan (atau kemauan) yang memadai untuk mengerahkan energi perangnya untuk (atau kemauan) yang memadai untuk mengerahkan energi perangnya untuk membantu korban. Yang lebih menyedihkan, bantuan luar negeri pun ditolak membantu korban. Yang lebih menyedihkan, bantuan luar negeri pun ditolak dengan alasan politis yang kental.Sejauh mana peran militer dalam dengan alasan politis yang kental.Sejauh mana peran militer dalam penanggulangan bencana adalah tergantung dari peraturan perundangan penanggulangan bencana adalah tergantung dari peraturan perundangan yang berlaku di negara yang bersangkutan. Peraturan tersebut juga mengatur yang berlaku di negara yang bersangkutan. Peraturan tersebut juga mengatur bagaimana hubungan
bagaimana hubungan antara sipil dan mantara sipil dan militer dalam penanggulaniliter dalam penanggulan gan bencana.gan bencana. Pada banyak negara, pada fase tanggap darurat adalah dimana militer Pada banyak negara, pada fase tanggap darurat adalah dimana militer berperan penting terutama untuk penyaluran logistik serta evakuasi korban. berperan penting terutama untuk penyaluran logistik serta evakuasi korban. BANTUAN MILITER DARI NEGARA LAIN
BANTUAN MILITER DARI NEGARA LAIN Seb
Sebagaagai i acuacuan, an, terterdapdapat at he he ³³ uiduidelielines nes on on the the UsUse e of of MiMilitalitary ry and and ivilivil Defence
Defence Assets Assets in in Disaster RelDisaster Relief´ ief´ (Oslo (Oslo uidelines) uidelines) yang yang disusun disusun padapada tahun
tahun 1994 1994 berdasarkan berdasarkan harter PBB harter PBB dan rdan resolusi Majelis esolusi Majelis Umum PBB. Umum PBB. OsloOslo uidelines (Pedoman Oslo) adalah suatu panduan yang tidak mengikat tetapi uidelines (Pedoman Oslo) adalah suatu panduan yang tidak mengikat tetapi menyediakan suatu model kerangka kerja hukum penggunaan aset (personil, menyediakan suatu model kerangka kerja hukum penggunaan aset (personil, peralatan, barang dan jasa) militer untuk keperluan penanggulangan bencana peralatan, barang dan jasa) militer untuk keperluan penanggulangan bencana alam, teknologi dan lingkungan serta bencana kompleks dalam konteks alam, teknologi dan lingkungan serta bencana kompleks dalam konteks keadaan damai dan melibatkan suatu pemerintahan yang stabil.Bantuan keadaan damai dan melibatkan suatu pemerintahan yang stabil.Bantuan internasional dapat meliputi barang,
internasional dapat meliputi barang, personil dan jasa personil dan jasa pelayanan pelayanan yangyang disediakan oleh masyarakat internasional kepada suatu negara penerima disediakan oleh masyarakat internasional kepada suatu negara penerima utnuk memenuhi kebutuhan mereka yang terkena dampak bencana. Ini utnuk memenuhi kebutuhan mereka yang terkena dampak bencana. Ini termasuk semua tindakan yang diperlukan untuk mengijinkan dan termasuk semua tindakan yang diperlukan untuk mengijinkan dan memudahkan gerakan diatas wilayah, termasuk kawasan perairan dan udara, memudahkan gerakan diatas wilayah, termasuk kawasan perairan dan udara, dari negara tansit. Bantuan ini
dari negara tansit. Bantuan ini bersifat sematabersifat semata -mata kemanusiaan dan berciri-mata kemanusiaan dan berciri tidak memihak. Mereka didasarkan pada prinsip-prinsip kedaulatan negara tidak memihak. Mereka didasarkan pada prinsip-prinsip kedaulatan negara dan dilaksanakan tanpa m
dan dilaksanakan tanpa membedaembeda kan ras, warna kulit, jender, bahasa, politikkan ras, warna kulit, jender, bahasa, politik maupun keagamaan.
maupun keagamaan.
Bantuan aset militer adalah personil, peralatan, pasokan barang, dan Bantuan aset militer adalah personil, peralatan, pasokan barang, dan pelayanan yang disediakan oleh angkatan militer dan pertahanan sipil dari pelayanan yang disediakan oleh angkatan militer dan pertahanan sipil dari negara lain u
negara lain untuk operasi kemanusiaan penanggulanntuk operasi kemanusiaan penanggulan gan bencana. Bergan bencana. Berdasar dasar konvensi
konvensi eneva eneva 1949, 1949, aset aset semacam semacam itu itu diberikan diberikan kekebalan kekebalan dari dari prosesproses hukum terhadap tindakan mereka selama dalam tugas resmi dalam hukum terhadap tindakan mereka selama dalam tugas resmi dalam menyampaikan bantuan internasional, dan pengecualian dari bea dan pajak menyampaikan bantuan internasional, dan pengecualian dari bea dan pajak langsung maupun tidak langsung. Kemudahan semacam ini berlaku ketika langsung maupun tidak langsung. Kemudahan semacam ini berlaku ketika aset militer memasuki wilayah dan berada dalam payung kendali operasi aset militer memasuki wilayah dan berada dalam payung kendali operasi internasional. Negara penerima dapat meminta negara pembantu untuk internasional. Negara penerima dapat meminta negara pembantu untuk menarik aset militernya kapan saja.
Prinsip-prinsip bantuan aset m
Prinsip-prinsip bantuan aset militer iliter dalam operasi dalam operasi internasional adalahinternasional adalah :: 1. Berdasarkan permintaan atau atas persetujuan negara penerima 1. Berdasarkan permintaan atau atas persetujuan negara penerima 2.
2. idak idak menimbulkan menimbulkan ongkos ongkos pada pada negara negara penerimapenerima
3. Merupakan dukungan terhadap penanggulangan bencana setempat 3. Merupakan dukungan terhadap penanggulangan bencana setempat 4.
4. Merupakan unsur Merupakan unsur penambah atau pelpenambah atau pelengkap darengkap dari pemeri pemer intah setempatintah setempat 5.
5. Berdasarkan kebutuhan, Berdasarkan kebutuhan, tidak berpitidak berpihak, dan hak, dan tidak membedakantidak membedakan 6.
6. idak idak bersenjata bersenjata dan dan mengenakan mengenakan seragam seragam nasionalnasional
KESIMPULAN KESIMPULAN
Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan penanggulangan be
penanggulangan bencana. Ibarat proses pendidikan ncana. Ibarat proses pendidikan di sekolah, upayadi sekolah, upaya pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses belajar, sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. belajar, sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja tetapi
tetapi juga juga rehabilitasi rehabilitasi dan dan rekonrekon struksi. struksi. antangan antangan pada pada fase tanggapfase tanggap darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik pelaku penanggulangan bencana. Sedang tantangan pada rehabilitasi dan pelaku penanggulangan bencana. Sedang tantangan pada rehabilitasi dan rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip membangun kembali lebih baik (